0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
9 tayangan7 halaman

Tren Pariwisata Pasca Pandemi Indonesia

Essai mendeskripsikan tiga pematerian tentang strategi pengembangan pariwisata pasca pandemi dan wellness tourism di Indonesia. Pematerian pertama membahas tentang perubahan perilaku wisatawan dan tren baru dalam pariwisata. Pematerian kedua membahas peluang dan tantangan pengembangan wellness tourism di Indonesia. Pematerian ketiga membahas strategi pengembangan kawasan wisata berbasis literasi geografi untuk mengatasi tantangan internal dan eksternal.

Diunggah oleh

Annisa Aulia
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
9 tayangan7 halaman

Tren Pariwisata Pasca Pandemi Indonesia

Essai mendeskripsikan tiga pematerian tentang strategi pengembangan pariwisata pasca pandemi dan wellness tourism di Indonesia. Pematerian pertama membahas tentang perubahan perilaku wisatawan dan tren baru dalam pariwisata. Pematerian kedua membahas peluang dan tantangan pengembangan wellness tourism di Indonesia. Pematerian ketiga membahas strategi pengembangan kawasan wisata berbasis literasi geografi untuk mengatasi tantangan internal dan eksternal.

Diunggah oleh

Annisa Aulia
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

ESAI BAHASA INDONESIA

Untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Bahasa Indonesia

Dosen Pengampu :
Dally Nur Arif, [Link]. 

Disusun Oleh : 
Rangga Arya Dharma
2102641

PROGRAM STUDI INDUSTRI PARIWISATA


KAMPUS SUMEDANG
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
2022
A. Pemateri 1: Rivaldi A.

1. Suara: Narasumber menjelaskan materi dengan intonasi yang jelas, lantang dan
mudah dipahami. Suara yang diterima tidak terlalu besar tetapi membuat para
hadirin paham akan informasi yang disampaikan oleh narasumber.
2. Pemakaian Bahasa: Bahasa yang digunakan oleh narasumber sangat baik serta
mudah dipahami. Penjelasan setiap materi yang disampaikan menggunakan
Bahasa Indonesia yang baik, jelas dan padat. Tidak ada kata atau penjelasan yang
membuat para pendengarnya kebingungan.
3. Gestur: Berdasarkan berlangsungnya pematerian, pembicara menampilkan gestur
selayaknya menjelaskan sesuatu dengan serius. Tidak ada gestur yang membuat
para pendengar terganggu. Gestur pembicara sangat normal dan tidak membuat
para pendengar merasa bosan tidak bersemangat, dikarenakan gestur yang
diberikan membuat para pendengar bersemangat.
4. Isi
 Latar Belakang:
Berdasarkan yang kita ketahui, bahwa pandemi Covid-19 telah menyerang
sebagian besar sektor industri, khususnya industry pariwisata. Jika dilihat
dampaknya, pandemi ini mengakibatkan data pengunjung wisatawan
domestik bahkan mancanefaea di Indonesia menurun drastis selama 2
tahun terakhir. Di tahun 2022, dengan adanya penyebaran vaksin secara
merata dan menyeluruh, berakibat positif dengan meningkatnya
pembangunan sektor Industri Pariwisata.
Perilaku wisatawan setelah terjadinya pandemi akan mengalami
perubahan dari segi peta industri yang terbesar dalam sejarah peradaban
umat manusia, karena adanya media informasi, maka penyebarannya akan
sangat cepat dan luas. Dunia akan memasuki memasuki a whole new
world. Dimana ada perubahan, peradaban atau baru yang akan dialami
oleh seluruh penjuru dunia. Terakhir, kita akan menghadapi industry
megashift yang terdiri atas; a) MEGA “Changes”, b) MACRO
“Competition”, c) MICRO “Customer”.
 Pertanyaan:
Belakangan ini sangat marak wacana yang euforik tentang tren wisatawan
pasca pandemic ini kedepannya akan sangat berbeda. Bahwa kita akan
menuju quality tourism dan meninggalkan mass tourism lagi. Bagaimana
caranya untuk memberikan pemahaman terhadap masyarakat sekitar
dengan konsep tersebut?
 Metode: Konvensional, pembicara menyampaikan materi dan jawaban
atas pertanyaan dengan metode konvensional. Dalam penyampaian
materinya sangat menarik dan dapat dengan mudah dipahami oleh
pendengar.
 Jawaban: 
Berbicara tentang konsumen pariwisata, quality tourism itu mempunyai
peminatnya masing-masing. Yang namanya mass tourism yang
mengikutsertakan banyak pengunjung di dalamnya itu akan selalu ada dan
tidak akan hilang. Karena hal-hal seperti itu adalah budaya di negara kita.
Mengapa ada mass tourism, karena di pariwisata ada yang namanya pekan
liburan. Dimana semua orang itu pasti akan berencana untuk berlibur.
Sedangkan untuk quality tourism, ini melibatkan beberapa individu atau
sekelompok kecil orang. Untuk persoalan edukasi ke masyarakat itu boleh
saja dilakukan, tetapi kita tidak bisa merubah budaya negara kita dimana
quality tourism maupun mass tourism itu memiliki peminatnya masing-
masing.
 Kesimpulan:
Pariwisata pada masa pandemi mengalami perubahan yang sangat besar.
Sektor industri pariwisata harus dibenahi dan juga diperbaiki untuk
menyesuaikan keadaan pandemi dengan keberlangsungan sektor ini.
Banyak hal yang harus diperbarui dan harus lebih diperhatikan Ketika
berwisata setelah era pandemi berakhir. Sektor pariwisata harus terus
berjalan dengan menerapkan protokol kesehatan, agar ketika terjadinya
transaksi menggunakan digital payment, dan traveling, wisatawan akan
tetap nyaman dalam kegiatan wisatanya. Setelah pandemi berakhir
pastinya banyak tren baru masa kini yang mulai mencuat dan menjadi
patokan untuk berwisata. Contohnya adalah wisata alam. Ini akan menjadi
tren populer yang akan digemari masyarakat dalam kondisi new normal
pasca pandemi nanti. Tentunya masyarakat pasti sangat menantikan untuk
berwisata ke alam.

B. Pemateri 2 (Dr. Irena Novarlia, [Link].)


1. Suara
Pembicara menyampaikan materi dengan suara yang tegas disertai artikulasi yang
jelas dan nada bicara yang tenang sehingga nyaman didengar.
2. Pemakaian Bahasa
Bahasa yang digunakan pembicara tidak berbelit-belit sehingga sangat mudah
dipahami. Pembicara juga menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar
sesuai dengan bahasa yang peserta pahami.
3. Gestur
Selama pematerian, pembicara tidak membuat banyak gestur. Hal itu peserta
maklumi karena pembicara bermaksud agar fokus peserta tidak terganggu selama
menyimak salindia materi. Hal tersebut tentu membuat peserta lebih nyaman
dalam menyimak jalannya pematerian.
4. Isi
• Latar Belakang:
Sejalan dengan urgensi masyarakat mengenai kesehatan dan kebugaran terutama
di masa pasca pandemi ini, wellness tourism yang sebelumnya redup kini punya
kekuatan penuh untuk bangkit. Negara Indonesia sebagai negara yang termasuk
dalam 20 besar market wellness economy dan 10 besar di asia pasifik tentu
memiliki peluang yang besar untuk mengembangkan trend wellness tourism, hal
tersebut juga didukung oleh kekayaan alam dan tradisi kesehatan yang melimpah,
juga keterjangkauan yang menarik banyak minat. Meski begitu tantangan tetap
hadir dalam praktik pengembangannya, seperti dualisme naungan (lembaga
kesehatan dan lembaga pariwisata) yang menimbulkan regulasi mengenai
legalitas wellness tourism ini masih kurang tegas, pajak yang tinggi, pemahaman
masyarakat yang perlu diluruskan, perlu promosi yang baik dan benar, perlu
kemampuan sumber daya manusia yang mumpuni, hingga fasilitas yang
seharusnya memadai.

• Pertanyaan:
Menimbang keadaan sosial yang ada di Indonesia, strategi apa yang baik untuk
diterapkan pada pengembangan wellness tourism di negara ini?
• Metode: pembicara menyampaikan materi dan jawaban atas pertanyaan
dengan metode konvensional. Pembawaan pembicara dalam penyampaiannya
menarik, efektif dan efisien, serta berpedoman pada tujuan sehingga peserta
mudah memahami apa yang pembicara sampaikan.
• Jawaban:
Langkah pertama yang perlu dilakukan sebelum benar-benar ingin mengusung
wellness tourism, yaitu pengembangan riset yang baik. Setelah riset
dikembangkan, perlu ditinjau wilayah-wilayah potensialnya. Jika penerapan
wellness tourism ini sudah terencana dengan sangat matang, maka langkah
selanjutnya yaitu penguatan promosi dengan sasaran dan komponen yang tepat.
Hal tersebut perlu diperhatikan dengan baik karena wellness tourism ini
dikategorikan sebagai wisata minat khusus.
• Kesimpulan:
Seiring kebutuhan pasca pandemi, wellness tourism menjadi potensi dengan minat
yang besar. Untuk mengembangkan trend ini, terutama di Indonesia terdapat lima
peluang dan enam tantangan yang perlu diperhatikan. Lima peluang ini antara lain
yaitu:
1. Keseimbangan antara bekerja dan kebugaran menjadi hal yang cenderung
orang cari di pasca pandemi.
2. Indonesia memiliki kekayaan tradisi kesehatan yang meliputi bidang kuliner,
alam, dll.
3. Indonesia dan asia tenggara menjadi tujuan favorit karena keterjangkauan
harganya.
4. Tingginya tingkat penyakit yang menyebabkan kematian membuat wellness
tourism menjadi langkah yang preventif.
5. Aktivitas yang padat dan tingkat stress yang tinggi membuat wellness tourism
berpeluang besar untuk diusung.
Adapun enam tantangan yang perlu diperhatikan yaitu legalitas, pajak yang tinggi,
pemahaman yang berbeda, promosi, kemampuan sumber daya manusia, dan
ketersediaan fasilitas.

C. Pemateri 3 (Dr. Irena Novarlia, [Link])


1. Suara
Selama penyampaian materi, suara pembicara dalam penuturannya terdengar
lugas, sangat bersemangat, disertai intonasi yang beragam, unik, dan menarik.
2. Pemakaian Bahasa 
hasa yang digunakan pembicara mudah dipahami. Meski sedikit kurang terfokus,
namun setiap pemaparan disertai contoh yang relevan sehingga tetap menarik
untuk diperhatikan.
3. Gestur
Selama pematerian, pembicara membuat gestur yang enerjik namun tidak
berlebihan. Hal tersebut membuat peserta turut bersemangat untuk menyimak.
4. Isi
Tema : Strategi Pengembangan Kawasan Wisata Berbasis Literasi Geografi
a. Latar Belakang
Pada saat ini kita mengalami 2 tantangan dalam bidang pariwisata, yaitu
tantangan internal dan eksternal. Tantangan internal (mikro) sangat
berkaitan erat dangan strategi pengembangan agar dapat mengambil
keputusan atas berbagai masalah keruangan dalam kawasan wisata.
Tantangan eksternal, sangat berkaitann dengan pengembangan kawasan
wisata dalam menghadapi persaingan di era globalisasi dari segala aspek
yang masih bersangkut paut salah satunya kebutuhan akan literasi geografi
dibidang pariwisata khususnya.
b. Pertanyaan 
1. Bagaimana peran sistem informasi geografi terhadap
pengembangan pariwisata khususnya yang ada di sumedang dan
kaitannya serta kebermanfaatannya dengan kondisi bencana alam
yang terjadi di citengah, sumedang?
c. Metode : Metode yang digunakan pembicara ialah konvensional.
pembicara menyampaikan materi dan jawaban atas pertanyaan dengan
metode dengan sangat baik. Penyampaian materi yang disampaikan sangat
jelas dan tegas serta dapat sangat mudah dipahami oleh peserta.
d. Jawaban
1. Mengenai sistem informasi geografis, yaitu sistem yang wajib
dikembangkan dan dipahami saat ini, terutama jika ingin terjun
dalam dunia pariwisata. Sistem informasi geografi seharusnya
dikuasai oleh para pengembang pariwisata, hal ini sayangnya
kurang diterapkan di kota Sumedang. Jika hal yang sama terjadi
seperti di kawasan wisata Citengah, maka harus ada pusat sistem
informasi geografis demi antisipasi kejadian yang sama, melalui
sistem informasi geografis ini diharapkan dapat dipahami. selain
itu, ini juga sangat berkaitan dengan mitigasi bencana
e. Kesimpulan
Adanya literasi geografi, diharapkan para pengembang pariwisata
mendapatkan pemahaman dan ilmu yang benar, guna dapat membangun
ruang tentang kawasan wisata dengan metode yang tepat. Jika hal ini dapat
terlaksana, maka para pengembang dapat memahami tentang posisi dan
perubahan ruang serta antisipasi pengurangan akibat bencana didaerah
kawasan wisata manapun

Anda mungkin juga menyukai