BAB II
KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN
2.1. Kajian Pustaka
Dalam penelitian ini, penulis menggunakan kajian melalui dua landasan yaitu
landasan empiris dan landasan teoritis.
2.1.1. Landasan Empiris
Landasan empiris merupakan suatu referensi yang didasarkan pada penelitian
sebelumnya. Landasan empiris yang digunakan dalam penyusunan penelitian ini dapat
dilihat pada Tabel II.I sebagai berikut :
Tabel II.1.
Kajian Penelitian Terdahulu
Judul dan Metode
No Nama Peneliti Hasil Penelitian
Penelitian
Perbandingan Keefektifan Dalam penelitian ini dilakukan
Metode Moving Average Dan perbandingan keefektifan
Exponential Smoothing metode peramalan. Metode
Untuk Peramalan Jumlah peramalan yang digunakan
Pengunjung Hotel Merpati, Moving Average dan
(2015) Exponential Smoothing. Dari
Penelitian ini menggunakan kedua metode peramalan
Novianus, Helmi metode Moving Average dan tersebut hasilnya adalah metode
dan Shantika Exponential Smoothing. Moving Average dan
1 Martha Exponential Smothing dapat
Universitas digunakan untuk pengunjung
Tanjungpura hotel Merpati Pontianak
.
Metode peramalan yang paling
efektif untuk melakukan
peramalan jumlah pengunjung
hotel Merpati Pontianak adalah
metode Single Exponential
Smoothing. Kesamaan dalam
penelitian ini jika dikaitkan
dengan penelitian yang
dilakukan oleh penulis sama-
sama menggunakan metode
peramalan Moving Average dan
Exponential Smoothing. Selain
itu penelitian ini sama-sama
membahas mengenai
penggunaan metode peramalan.
Peramalan Jumlah Kunjungan Dalam penelitian ini dilakukan
Wisatawan Mancanegara Di peramalan jumlah kunjungan
Kabupaten Lombok Tengah wisatawan mancanegara di
Pada Tahun 2010-2015
kabupaten Lombok Tengah
Menggunakan Metode
SARIMA (Seasonal pada tahun 2010-2015 dengan
Autoregressive Integrated menggunakan metode
Moving Average), (2015) peramalan SARIMA.
Penelitian ini menggunakan Berdasarkan hasil penelitian
metode analisis deskriptif dan yang dilakukan, bahwa data
Sofyani Ramdhatul menggunakan metode wisatawan mancanegara yang
Ainy peramalan dengan SARIMA
2 berkunjung ke kabupaten
Universitas Islam (Seasonal Autoreggresive
Integrated Moving Average). Lombok Tengah memiliki pola
Indonesia
trend yang terus berlanjut.
Meningkat setiap tahun.
Meskipun ada perbedaan dari
tahun ke tahun. Ada
kecenderungan untuk
meningkatnya jumlah
kunjungan wisatawan
mancanegara dari tahun ke
tahun.
Perbandingan Analisis Trend Dalam penelitian ini dilakukan
dan Hold Double perbandingan analisis Trend dan
Eksponensial Smoothing Hold Double Eksponensial
dalam meramalkan Angka Smoothing dalam meramalkan
Kematian Bayi di Jawa Angka Kematian pada Bayi.
Timur, (2007) Berdasarkan hasil penelitian
Mazro’atul
Penelitian ini menggunakan ditemukan bahwa Analisis
Qoyyimah dan
metode deskriptif dengan Trend dengan menggunakan
3 Lufti Agus Salim
analisis trend, dan metode MAPE merupakan metode
Universitas
Hold Double Eksponensial terbaik dalam meramalkan
Airlangga
Smoothing serta analisis angka kematian pada Bayi di
kesalahan MAPE. Jawa Timur. Hasilnya dapat
bermanfaat sebagai ide dan
informasi awal untuk
perencanaan program
perawatan kesehatan pada Bayi.
Sumber : Hasil Pengolahan data peneliti dari berbagai literatur (2018)
Dapat dilihat pada Tabel II.1 diatas merupakan beberapa hasil penelitian
terdahulu. Dari beberapa kajian penelitian terdahulu diatas terdapat kesamaan yaitu
mengenai metode peramalan Moving Average dan Exponential Smoothing. Yang
membedakan yaitu penulis melakukan penelitian mengenai peramalan jumlah
pengunjung di Ciwangun Indah Camp.
2.1.2. Landasan Teoritis
Di dalam landasan teoritis ini berisi mengenai teori-teori yang berkaitan dengan
tema penelitian yang dibahas.
[Link]. Pengertian Pariwisata
Pariwisata merupakan kegiatan yang tidak dapat dipisahkan dengan
kehidupan manusia terutama menyangkut kegiatan sosial dan ekonomi. Pariwisata
mulai menjadi sebuah kebutuhan bagi masyarakat, ketertarikan masyarakat akan
berbagai destinasi wisata baru menjadi daya tarik tersendiri dalam berkembangnya
industri pariwisata. Secara umum pariwisata merupakan perjalanan seseorang dalam
mengujung suatu tempat maupun objek. Berikut beberapa definisi pariwisata menurut
para ahli :
E. Guyer Freuler dalam Yoeti (2014:115) menurut pendapatnya pariwisata
dalam artian modern merupakan fenomena dari jaman sekarang yang didasarkan atas
kebutuhan akan kesehatan dan pergantian hawa, penilaian yang sadar dan
menumbuhkan cinta terhadap keindahan alam dan pada khususnya disebabkan oleh
bertambahnya pergaulan berbagai bangsa dan kelas masyarakat manusia sebagai hasil
daripada perkembangan perniagaan, industri, perdagangan serta penyempurnaan dari
pada alat-alat pengangkutan.
Sesuai dengan pendapat E. Guyer Freuler berbagai perkembangan yang
terjadi pada saat ini seperti halnya perkembangan teknologi tentu mempengaruhi pula
perubahan perkembangan kebutuhan manusia termasuk terhadap kebutuhan akan
pariwisata. Salah satu contoh pengaruh besar teknologi adalah komunikasi, sesuai
dengan pendapat diatas komunikasi sangat berpengaruh terhadap penyebaran informasi
mengenai sebuah destinasi wisata.
Pariwisata menurut Nyoman S. Pendit dalam Yulianto (2015:255) adalah
“salah satu jenis industri baru yang mampu mempercepat pertumbuhan ekonomi dan
penyediaan lapangan kerja, peningkatan penghasilan, standar hidup serta menstimulasi
sektor-sektor produktif lainnya”. Sesuai dengan pendapat Nyoman S. Pendit pariwisata
memang mampu menjadi kegiatan yang potensial dalam meningkatkan perekonomian
suatu daerah. Sebuah destinasi wisata mampu mengundang banyak masyarakat dari
berbagai negara untuk datang dan mengunjungi destinasi wisata yang ada pada suatu
daerah. Hal ini tentu akan berdampak pada peningkatan pendapatan daerah tersebut.
Menurut James J. Spillane dalam Syarifuddin (2016:56) bahwa pariwisata
adalah kegiatan perjalanan dengan tujuan mendapatkan kenikmatan, mencari
kepuasan, mengetahui sesuatu, memperbaiki kesehatan, menikmati olahraga atau
istirahat menunaikan tugas, berziarah dan lain-lain.
Berdasarkan pengertian tersebut maka, pariwisata adalah suatu kegiatan yang
dilakukan oleh individu maupun suatu kelompok untuk berkunjung ke sebuah tempat
baru dalam rangka menikmati suatu destinasi wisata untuk berlibur maupun untuk
melepaskan kepenatan kerja.
1. Pengertian Wisata
Menurut Utama dan Martina (2013:25) Wisata adalah “kegiatan perjalanan
yang dilakukan oleh seorang atau sekelompok orang dengan mengunjungi tempat
tertentu untuk tujuan rekreasi, pengembangan pribadi, atau mempelajari keunikan daya
tarik wisata yang dikunjungi dalam jangka waktu tertentu. Dalam hal ini wisata rakyat
lebih mendominasi kepada rekreasi yang bersifat sementara, seperti bersantai di suatu
tempat yang murah dan mudah di dapat”.
Berdasarkan pengertian tersebut maka wisata merupakan perjalanan seseorang
ataupun kelompok yang dominan bertujuan untuk berekreasi kesuatu tempat.
Menurut Undang-undang Kepariwisataan nomor 10 tahun 2009 dalam jurnal
Hariyanto (2016:216) “wisata merupakan bagian dari pariwisata, wisata adalah
kegiatan perjalanan yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang
mengunjungi tempat tertentu, dengan tujuan rekreasi, pengembangan diri atau
mempelajari keunikan daya tarik wisata yang dikunjungi dalam jangka waktu
sementara)”.
Berdasarkan pengertian tersebut maka, wisata adalah perjalanan seseorang atau
kelompok dalam mengunjungi suatu tempat baik berdasarkan keunikan maupun tujuan
dalam mengunjungi destinasi wisata tersebut.
2. Jenis – Jenis Wisata
Industri pariwisata terus berkembang secara pesat dari waktu ke waktu.
Berbagai kemajuan dari perkembangan zaman dan teknologi sangat mempengaruhi
kehadiran berbagai jenis objek wisata baru yang muncul. Menurut Suryadana dan
Octavia (2015:32-33) wisata berdasarkan jenis-jenisnya dapat dibagi kedalam dua
kategori, yaitu:
1. Wisata Alam, yang terdiri dari:
a. Wisata pantai (Marine tourism), merupakan kegiatan wisata yang ditunjang
oleh sarana dan prasarana untuk berenang, memancing, menyelam, dan olahraga
air lainnya, termasuk sarana dan prasarana akomodasi, makan dan minum.
b. Wisata Etnik (Etnic tourism), merupakan perjalanan untuk mengamati
perwujudan kebudayaan dan gaya hidup masyarakat yang dianggap me narik.
c. Wisata Cagar Alam (Ecotourism), merupakan wisata yang banyak dikaitkan
dengan kegemaran akan keindahan alam, Kesegaran hawa di pegunungan,
keajaiban hidup binatang (margasatwa) yang langka, serta tumbuh-tumbuhan
yang jarang terdapat di tempat-tempat lain.
d. Wisata Buru, merupakan wisata yang dilakukan di negeri-negeri yang memang
memiliki daerah atau hutan tempat berburu yang dibenarkan oleh pemerintah dan
digalakan oleh berbagai agen atau biro perjalanan.
e. Wisata Agro, merupakan jenis wisata yang mengorganisasikan perjalanan ke
proyek-proyek pertanian, perkebunan, dan ladang pembibitan di mana wisata
rombongan dapat mengadakan kunjungan peninjauan untuk tujuan studi maupun
menikmati segarnya tanaman di sekitarnya.
2. Wisata Sosial-Budaya, yang terdiri dari:
a. Peninggalan sejarah kepurbakalaan dan monumen, wisata ini termasuk
golongan budaya, monumen nasional, gedung bersejarah, kota, desa, bangunan-
bangunan keagamaan, serta tempat-tempat bersejarah lainnya seperti bekas
pertempuran (battle fields) yang merupakan daya tarik wisata utama di banyak
negara.
b. Museum dan fasilitas budaya lainnya, merupakan wisata yang berhubungan
dengan aspek alam dan kebudayaan di suatu kawasan atau daerah tertentu.
Museum dapat dikembangkan berdasarkan pada temanya, anatara lain museum
arkeologi, sejarah, entologi, sejarah alam, seni dan kerajinan, ilmu pengetahuan
dan teknologi, industri, ataupun dengan tema khusus lainnya.
[Link]. Manajemen Operasi
Manajemen Operasi menjadi salah satu komponen penting dalam dunia
Pariwisata. Manajemen Operasi sangat dibutuhkan dalam dunia pariwisata karena
dapat menunjang berbagai operasional dari suatu destinasi wisata. Selain itu
Manajemen Operasi memiliki banyak metode yang bisa digunakan dan dijadikan dasar
sebagai penyusunan rencana operasional yang dapat diaplikasikan dalam dunia
pariwisata. Berikut adalah beberapa definisi Manajemen Operasi menurut berbagai
ahli:
Menurut Handoko dalam Rusdiana (2014:19) merupakan pelaksanaan
kegiatan-kegiatan manajerial yang dibawakan dalam pemilihan, perancangan,
pembaharuan, pengoperasian, dan pengawasan sistem-sistem produktif”. Sesuai
dengan pendapat Handoko manajemen operasi merupakan kegiatan yang sistematis
dalam pegelolaan manajemen, dimulai dengan pemilihan kegiatan hingga pengawasan
kegiatan.
Definisi manajemen operasi menurut Fogarty dalam Herjanto (2008:2)
mendefinisikan manajemen operasi sebagai suatu proses yang secara
berkesinambungan dan efektif menggunakan fungsi-fungsi manajemen untuk
mengintegrasikan berbagai sumber daya secara efisien dalam rangka mencapai tujuan”.
Sesuai dengan pendapat Fogarty setiap manajemen operasi melihat dan memastikan
sumber daya memiliki potensi jika dialokasikan dengan baik melalui fungsi-fungsi
manajemen diharapkan pengintegrasian berbagai sumber daya yang ada akan lebih
optimal.
Pengertian manajemen operasi menurut Heizer dan Render (2015:3)
“merupakan serangkaian aktivitas yang menciptakan nilai dalam bentuk barang dan
jasa dengan mengubah masukan menjadi hasil”. Sesuai dengan pendapat Heizer dan
Render manajemen operasi adalah aktivitas untuk menciptakan sesuatu. Diawali oleh
masukan kemudian diproses menjadi sebuah hasil berupa barang dan jasa yang
kemudian akan menciptakan sebuah nilai”.
Berdasarkan beberapa definisi yang telah dikemukakan sebelumnya penulis
mencoba menarik kesimpulan bahwa manajemen operasi adalah serangkaian kegiatan
untuk merencanakan, mengatur, mengkoordinasikan, dan mengendalikan seluruh
sumber daya dengan efektif dan efisien untuk memproduksi suatu barang atau jasa.
[Link]. Pengertian Peramalan
Peramalan merupakan alat bantu yang sangat penting dalam perencanaan yang
efisien dan efektif. Suatu peramalan dianggap baik apabila mendekati kebenaran.
Dalam setiap rencana hendaknya memperhatikan permalan. Berikut beberapa
pengertian peramalan menurut para ahli :
Menurut Sofyan Assauri dalam Rusdiana (2014:95) mendefinisikan
“peramalan sebagai perkiraan yang ilmiah (educated guess)”. Menurutnya, “setiap
pengambilan keputusan yang menyangkut keadaan pada masa yang akan datang, pasti
ada peramalan yang melandasi pengambilan keputusan tersebut”. Sesuai dengan
pendapat Sofyan Assauri dalam penentuan sebuah keputusan memang harus memiliki
dasar yang kuat agar keputusan tersebut tepat dan dapat dipertanggungjawabkan. Salah
satunya melalui peramalan, yang memprediksi kejadian dimasa yang akan datang
sehingga dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam proses pengambilan
keputusan.
Menurut Pierce dan Robinson dalam Syahputra dkk (2018:115) “peramalan
menjadi salah satu hal yang penting dalam pengambilan keputusan perusahaan. Hal ini
dikarenakan keefektifan sebuah keputusan tergantung pada deretan kejadian yang
diakibatkan keputusan tersebut”. Sesuai dengan pendapat Pierce dan Robinson sebuah
keputusan akan mempengaruhi peristiwa dimasa yang akan datang, tepat atau tidaknya
sebuah keputusan yang diambil bergantung pada kejadian yang muncul dimasa depan
yang merupakan akibat dari pengambilan keputusan tersebut.
Berdasarkan definisi di atas, pada hakikatkanya peramalan merupakan bagian
awal dari proses pengambilan keputusan. Penulis dapat menyimpulkan bahwa
peramalan adalah sebuah prediksi suatu peristiwa di masa yang akan datang dengan
menfaatkan data masa lalu pada periode tertentu untuk dapat mengambil suatu
keputusan.
1. Tujuan Adanya Peramalan
Secara umum yang dimaksud dengan peramalan yaitu suatu kegiatan yang
bertujuan untuk mengetahui atau memperkirakan kejadian di masa yang akan
datang. Peramalan diciptakan agar kejadian dimasa yang akan datang dapat diprediksi
atau diperkirakan sehingga dapat ditentukan berbagai langkah antisipasi untuk
menghindari segala kemungkinan negatif yang mungkin muncul sehingga berbagai
tujuan yang telah ditentukan dapat tercapai dengan baik.
Adapun tujuan peramalan menurut Sofyan (2013:14) “tujuan utama
peramalan adalah untuk meramalkan permintaan dimasa yang akan datang,
sehingga diperoleh suatu perkiraan yang mendekati keadaan yang
[Link] tidak akan pernah sempurna, tetapi meskipun demikian hasil
peramalan akan memberikan arahan bagi suatu perencanaan”.
Suatu perusahaan biasanya menggunakan prosedur peramalan yaitu
diawali dengan melakukan peramalan lingkungan, diikuti dengan peramalan
penjualan pada organisasi dan diakhiri dengan peramalan permintaan pasar.
2. Jenis-Jenis Dari Peramalan
Pada umumnya jenis - jenis peramalan dapat dibedakan menjadi beberapa segi
tergantung bagaimana kita melihatnya. Menurut Heizer dan Render (2015:115)
peramalan dilihat dari perencanaan operasi dimasa depan terbagi menjadi 3 jenis yaitu
a. Peramalan Ekonomi (Economic Forecast)
Merencanakan indikator yang berguna membantu organisasi. Untuk
menyiapkan peramalan jangka menengah hingga jangka panjang, yang
menjelaskan tentang siklus bisnis yang memprediksi tingkat inflasi,
ketersediaan uang, dana yang dibutuhkan untuk membangun indikator
perencanaan lainnya.
b. Peramalan Teknologi (Technologycal Forecast)
Peramalan jangka panjang yang memperhatikan tingkat kemajuan teknologi
yang dapat meluncurkan produk baru.
1) Peramalan Permintaan (Demand Forecast)
Meramalkan penjualan dan permintaan suatu perusahaan pada setiap
periode dalam horizon waktu. Peramalan penjualan yang mengendalikan
produksi, kapasitas, serta sistem penjadwalan dan menjadi input bagi
perencanaan keuangan, pemasaran, dan sumber daya manusianya.
3. Prinsip – Prinsip Yang Terdapat Pada Peramalan
Keberhasilan peramalan terlihat pada saat pengambilan keputusan.
Keputusan yang baik adalah keputusan yang didasarkan atas pertimbanga -
pertimbangan yang akan terjadi pada waktu keputusan akan dilaksanakan dengan
mempertimbangkan peramalan. Menurut Sofyan (2013:14) terdapat beberapa prinsip
peramalan.
a. Peramalan selalu mengandung kesalahan, artinya hampir tidak pernah
ditemukan bahwa hasil peramalan 100 persen sesuai dengan kenyataan
yang terjadi dilapangan, peramal hanya dapat mengurangi faktor
ketidakpastian.
b. Peramalan akan selalu memberikan informasi tentang ukuran kesalahan,
hal ini dikarenakan bahwa peramalan pasti mengandung kesalahan, maka
penting bagi pengguna untuk menginformasikan berapa besar kesalahan
yang terkandung dalam perhitungan yang telah dilakukan.
c. Peramalan untuk jangka pendek selalu lebih akurat jika dibandingkan
dengan peramalan jangka panjang. Hal ini disebabkan karena pada
peramalan jangka pendek, faktor - faktor yang memperngaruhi relatif masih
sedikit dan bersifat konstan dibandingkan dengan peramalan jangka
panjang,sehingga akan semakin kecil pula kemungkinan terjadinya
perubahan pada faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan.
d. Peramalan permintaan berdasarkan perhitungan lebih disukai dari pada
hanya berdasarkan data masa lalu saja. Oleh karena itu sebaiknya jumlah
sumber daya juga dihitung berdasarkan metode peramalan yang sesuai.
4. Faktor-Faktor Yang Berpengaruh Terhadap Peramalan
Dalam sebuah peramalan tentu ada berbagai faktor yang akan mempengaruhi
suatu peramalan, baik faktor internal maupun faktor eksternal. Dalam hal ini berikut
beberapa faktor yang dapat Mempengaruhi aktivitas peramalan menurut Sofyan
(2013:15) adalah :
a. Horizon Waktu
Ada data aspek horizon waktu yang berhubungan dengan masing - masing
metode peramalan. Pertama adalah cakupan waktu dimasa yang akan datang
dari metode yang digunakan sebaiknya disesuaikan. Aspek kedua adalah
periode untuk masa peramalan yang diinginkan.
b. Pola Data
Dasar utama dalam metode peramalan adalah anggapan bahwa macam
dari pola yang didapati didalam data yang diramalkan akan berkelanjutan.
c. Jenis Model
Model - model ini merupakan suatu deret dimana waktu digambarkan
sebagai unsur yang penting untuk menentukan perubahan - perubahan didalam
pola, yang mungkin secara sistematik dapat dijelaskan dengan analisis atau
korelasi. Model yang lain adalah sebab akibat, yang menggambarkan bahwa
ramalan yang dilakukan sangat tergantung pada terjadinya sejumlah peristiwa
yang lain, atau sifatnya merupakan Campuran dari model - model yang
telah disebutkan diatas.
d. Biaya
Umumnya ada empat unsur biaya yang tercakup yaitu biaya
pengembangan, penyimpangan, operasi pelaksanaan, dan kesempatan dalam
penggunaan metode lainnya.
e. Ketepatan
Tingkat ketepatan yang dibutuhkan sangat erat hubungannya dengan tingkat
perincian yang dibutuhkan suatu peramalan.
f. Mudah Tidaknya
Penggunaan Suatu prinsip umum adalah metode - metode yang dapat
dimengerti dan diaplikasikan dalam pengambilan keputusan.
5. Kepentingan Strategis Dalam Peramalan
Peramalan yang baik sangat penting dalam semua aspek bisnis. Termasuk
dalam bisnis pariwisata peramalan sangat penting karena dapat dijadikan sebagai dasar
penetapan persediaan produk wisata untuk memenuhi permintaan pengunjung.
Heizer dan Render (2015:115) mengemukakan bahwa Peramalan yang baik
sangatlah penting dalam semua aspek bisnis. Peramalan merupakan satu-satunya
prediksi mengenai permintaan hingga permintaan yang sebenarnya diketahui.
Peramalan ekonomi dan teknologi adalah teknik khusus yang mungkin bukan
termasuk bagian dari tugas manajer operasi.
Peramalan permintaan mengendalikan keputusan di banyak bidang. Berikut
ini akan dibahas dampak peramalan produk pada tiga aktivitas:
a. Sumber Daya Manusia
Mempekerjakan, melatih dan memberhentikan pekerja bergantung pada
permintaan. Jika departemen sumber daya manusia harus mempekerjakan pekerja
tambahan tanpa adanya persiapan, akibatnya kualitas pelatihan menurun dan
kualitas pekerja juga menurun.
b. Kapasitas
Saat kapasitas tidak mencukupi, kekurangan yang diakibatkannya bisa
berarti tidak terjaminnya pengiriman, kehilangan konsumen dan kehilangan
pangsa pasar.
c. Manajemen Rantai Pasokan
Hubungan yang baik dengan pemasok, serta harga barang dan
komponen yang bersaing bergantung pada peramalan yang akurat.
6. Tujuh Langkah Sistem Dalam Peramalan
Dalam menentukan sebuah peramala tentu terdapat langkah – langkah agar
peramalan tersebut memiliki hasil yang baik. Proses peramalan menurut Heizer dan
Render (2015:117), peramalan terdiri dari tujuh langkah dasar, diantaranya :
a. Menetapkan tujuan peramalan.
Langkah pertama dalam menyusun peramalan adalah penentuan estimasi
yang diinginkan. Sebaliknya, tujuan tergantung pada kebutuhan-kebutuhan
informasi.
b. Memilih unsur apa yang akan diramal.
Setelah tujuan telah ditetapkan, langkah selanjutnya adalah memilih unsur
apa yang akan diramal.
c. Menentukan horizon waktu peramalan.
Apakah ini merupakan peramalan jangka pendek, menengah atau jangka
panjang.
d. Memilih tipe model peramalan.
Masing-masing metode akan memberikan hasil ramalan yang berbeda.
Metode peramalan yang baik adalah yang memberikan hasil tingkat kesalahan
peramalan terkecil.
e. Mengumpulkan data yang diperlukan untuk melakukan peramalan.
Data apabila bila ditinjau dari sumbernya terbagi menjadi dua, yaitu:
1) Data internal
2) Data eksternal
f. Membuat peramalan.
Menghitung peramalan dengan metode yang telah ditentukan.
g. Memvalidasi dan menetapkan hasil peramalan.
Peramalan dikaji kembali untuk memastikan bahwa model, asumsi dan data
yang digunakan sudah valid. Perhitungan kesalahan dilakukan, kemudian
peramalan digunakan untuk mempermudah proses pengambilan keputusan.
7. Karakteristik Dalam Peramalan
Dalam penentuan hasil peramalan tentu terdapat beberapa kriteria – kriteria
yang dapat dijadikan sebagai ukuran untuk sebuah peramalan yang baik. Kriteria –
kriteria ini berlaku secara umum dan harus diperhatikan untuk menilai hasil dari
sebuah peramalan, dan metode peramalan yang digunakan dalam memperoleh hasil
peramalan tersebut.
Menurut Nasution (2003:28) peramalan yang baik mempunyai beberapa
kriteria yang penting, antara lain akurasi, biaya, dan kemudahan. Penjelasan dari
kriteria-kriteria tersebut adalah sebagai berikut:
a. Akurasi.
Akurasi dari suatu hasil peramalan diukur dengan kebiasan dan kekonsistensian
peramalan. Hasil peramalan dikatakan bias bila peramalan tersebut terlalu tinggi
atau terlalu rendah dibanding dengan kenyataan yang sebenarnya terjadi. Hasil
peramalan dikatakan konsisten bila besarnya kesalahan peramalan relatif kecil.
b. Biaya.
Biaya yang diperlukan untuk pembuatan suatu peramalan. Tergantung dari
jumlah item yang diramalkan, lamanya periode peramalan, dan metode
peramalan yang dipakai.
c. Kemudahan.
Penggunaan metode peramalan yang sederhana, mudah dibuat, dan mudah
diaplikasikan akan memberikan keuntungan bagi perusahaan. Dan juga dapat
menggunakan hasil peramalan dengan cepat.
8. Metode Peramalan Kualitatif
Peramalan kualitatif umumnya bersifat subjektif bergantung pada pegalaman,
keahlian dan pendapat seseorang atau ahli. Metode ini lebih menekankan terhadap
pemahaman akan suatu masaah daripada melihat permasalahnya. Metode penelitian
ini menggunakan teknik analisis mendalam untuk mengkaji kasus perkasus, karena
metodologi kualitatif yakin bahwa sifat setiap masalah akan berbeda.
Metode kualitatif menurut Heizer dan Render (2015:118) ada empat teknik
peramalan kualitatif, yaitu:
a. Juri dari Opini Eksekutif
Dalam metode ini, pendapat sekumpulan kecil manajer atau pakar tingkat
tinggi umumnya digabungkan dengan model statistik, dikumpulkan untuk
mendapatkan prediksi permintaan kelompok.
b. Metode Delphi
Dalam metode delphi ada tiga jenis partisipan yaitu pengambil keputusan,
karyawan, dan responden. Pengambil keputusan biasanya terdiri atas lima hingga
sepuluh orang pakar yang akan melakukan peramalan. Karyawan membantu
pengambil keputusan dengan menyiapkan, menyebarkan, mengumpulkan
serta meringkas sejumlah kuesioner dan hasil survey. Responden adalah
sekelompok orang yang biasanya ditempatkan ditempat yang berbeda dimana
penilaian dilakukan. Kelompok ini memberikan input pada pengambil
keputusan sebelum peramalan dibuat.
c. Komposit Tenaga Penjualan (sales force composite)
Dalam pendekatan ini, setiap tenaga penjualan memperkirakan berapa
jumlah penjualan dapat ia capai dalam wilayahnya. Kemudian, peramalan ini
dikaji untuk memastikan apakah peramalan cukup realistis. Kemudian,
peramalan tersebut digabungkan pada tingkat wilayah dan nasional untuk
mendapatkan peramalan secara keseluruhan.
d. Survey Pasar
Metode ini meminta input dari konsumen mengenai rencana pembelian
mereka dimasa depan. Hal ini tidak hanya membantu dalam menyiapkan
peramalan, tetapi juga memperbaiki desain produk dan perencanaan baru. Survei
konsumen dan gabungan tenaga penjualan bisa jadi tidak benar karena
peramalan yang berasal dari input konsumen yang terlalu optimis.
9. Metode Peramalan Kuantitatif
Metode Peramalan Kuantitatif yaitu metode yang menggunakan model
matematis yang beragam dengan berdasarkan data masa lalu untuk meramalkan
permintaan dimasa yang akan datang. Ada tiga kondisi yang diterapkan pada metode
ini, yaitu:
a. Informasi mengenai keadaan pada waktu yang tersedia.
b. Informasi tersebut dapat dikuantitatifkan dalam bentuk data numeric (angka).
c. Waktu yang akan datang (disebut asumsi kontinuitas).
Metode peramalan kuantitatif menurut Heizer dan Render (2015:118) dibagi menjadi
dua, yaitu :
a. Model Deret Waktu (Time-Series)
Model deret waktu membuat prediksi dengan asumsi bahwa masa
depan merupakan fungsi dari masa lalu. Dengan kata lain, mereka melihat
apa yang terjadi selama kurun waktu tertentu dan menggunakan data masa
lalu tersebut untuk melakukan peramalan. Metode ini terdiri dari beberapa
metode yaitu :
1) Metode Pendekatan Naif.
2) Metode Rata-Rata Bergerak (Moving Average).
3) Metode Rata-Rata Tertimbang.
4) Metode Pemulusan Eksponensial (Exponential Smoothing).
5) Proyeksi Tren.
6) Metode Kuadrat Terkecil.
b. Metode kausal
Metode kausal yaitu metode peramalan yang menggunakan analisa pola
hubungan antara variabel yang diperkirakan dengan variabel lain yang
mempengaruhinya. Diantara variabel yang akan diramalkan satu atau lebih.
Metode kausalitas dapat membantu memperkirakan titik belok pada data
deret waktu dan sangat berguna untuk peramalan jangka panjang dan
menengah. Metode Kausalitas terbagi menjadi beberapa bagian :
1) Analisa Regresi.
2) Model Ekonometri.
3) Model Input-Output.
4) Model Simulasi.
10. Empat Pola Data Peramalan
Menurut Hanke dan Wichern (2005:58), ada empat macam tipe pola data yaitu:.
a. Pola Data Horizontal
Pola data horizontal terjadi saat data observasi berfluktuasi di sekitaran suatu
nilai konstan atau mean yang membentuk garis horizontal. Data ini disebut juga dengan
data stasioner. Contoh pola data horizontal dapat dilihat pada Gambar II.1.
(Sumber: Hanke & Wichern, 2005: 434)
Gambar II.1. Plot Contoh Pola Horizontal
b. Pola Data Trend
Pola data trend terjadi bilamana data pengamatan mengalami kenaikan atau
penurunan selama periode jangka panjang. Suatu data pengamatan yang mempunyai
trend disebut data nonstasioner. Contoh dari pola data trend dapat dilihat pada gambar
II.2.
(Sumber: Hanke & Wichern, 2005: 111)
Gambar II.2. Plot Contoh Pola Trend
c. Pola Data Siklis
Pola data siklis terjadi bilamana deret data dipengaruhi oleh fluktuasi ekonomi jangka
panjang seperti yang berhubungan dengan siklus bisnis. Pada kuartalan perulangan terjadi
setiap empat [Link] dari pola data Siklis dapat dilihat pada gambar II.3.
(Sumber: Hanke & Wichern, 2005: 70)
Gambar II.3. Plot Contoh Pola Siklis
d. Pola Data Musiman
Pola data musiman terjadi bilamana suatu deret dipengaruhi oleh faktor musiman.
Pola data musiman dapat mempunyai pola musim yang berulang dari periode ke periode
berikutnya. Misalnya pola yang berulang setiap bulan tertentu, tahun tertentu atau pada
minggu tertentu. Contoh pola data musiman pada gambar II.4.
(Sumber: Hanke & Wichern, 2005: 73)
Gambar II.4. Plot Contoh Pola Musiman
Melalui pendapat Hanken dan Wichern tersebut dapat dilihat bahwa pola data
mampu ditunjukan oleh kenaikan dan penurunan data. Berdasarkan keempat pola data
tersebut disimpulkan bahwa data pengunjung Ciwangun Indah Camp untuk periode
tahun 2013 hingga 2017 termasuk kedalam data dengan pola horizontal.
[Link]. Metode Rata-Rata Bergerak (Moving Average)
Menurut Heizer dan Render (2015:120), Moving Average adalah “sebuah metode
peramalan yang menggunakan rata-rata dari data aktual periode sebelumnya untuk
meramalkan periode selanjutnya”. Metode ini disebut rata - rata bergerak karena setiap kali
data aktual baru tersedia, maka data paling awal atau terdahulu diganti dengan data baru, lalu
dihitung dan hasilnya digunakan sebagai ramalan permintaan untuk periode yang akan datang.
Tujuan utama dari penggunaan rata - rata bergerak adalah untuk menghilangkan atau
mengurangi variasi acak permintaan dalam hubungannya dengan waktu.
Menurut Heizer dan Render (2009:170) “peramalan rata - rata bergerak
(Moving Average) menggunakan sejumlah data aktual masa lalu untuk menghasilkan
peramalan. Rata - rata bergerak berguna jika mengasumsikan bahwa permintaan pasar
akan stabil sepanjang masa yang kita ramalkan”. Secara sistematis, rata - rata
bergerak sederhana ditunjukan sebagai berikut :
∑ Permintaan dalam n Periode Sebelumnya
MAn =
n
Dimana n = jumlah periode dalam rata - rata bergerak
[Link]. Metode Pemulusan Eksponensial (Exponential Smoothing)
Menurut Heizer dan Render (2015:124) “Exponential Smoothing atau
penghalusan eksponensial adalah metode peramalan pergerakan rata-rata bobot lainnya
, dimana poin-poin data ditimbang oleh sebuah fungsi eksponensial”. Metode ini lebih
cocok digunakan untuk pola data yang tidak stabil atau terjadi perubahan data yang
besar dan bergejolak. Dimana α adalah bobot, atau penghalusan konstan (smoothing
constant) yang memiliki nilai lebih tinggi daripada atau setara dengan 0 dan
kurang dari atau setara dengan 1. Rumus dari metode Exponential Smoothing adalah
sebagai berikut :
Ft = Peramalan periode sebelumnya + α (Permintaan aktual periode
sebelumnya - Peramalan periode sebelumnya )
Ft = Ft-1 + α (At-1 – Ft-1)
Dimana :
Ft = peramalan baru
Ft-1 = peramalan sebelumnya
α = konstanta penghalusan
At-1 = permintaan aktual periode lalu
[Link]. Pengukuran Tingkat Kesalahan Peramalan
Suatu metode peramalan tidak menjamin keakuratan bahwa hasil peramalan
akan akurat dan pasti sesuai dengan keadaan yang sesungguhnya dimasa yang akan
datang. Oleh karena itu pengukuran kesalahan peramalan akan sangat membantu dalam
memilih metode peramalan yang tepat untuk digunakan. Tentu saja metode dengan
hasil peramalan yang paling mendekati keadaan yang sesungguhnya adalah metode
yang paling tepat untuk digunakan.
Untuk mengukur keakuratan peramalan perlu memasukan indikasi sejauh
mana ramalan dapat menyimpang dari nilai variabel yang benar - benar terjadi.
Sehingga hal ini akan memberikan perspektif yang lebih baik bagi penggunanya. Ada
beberapa model ukuran kesalahan yang digunakan untuk merangkum kesalahan
peramalan diantaranya :
1. Kesalahan rata - rata AE (Average Error)
Dalam jurnal yang ditulis oleh Hastuti dan Fauzi (2012:122) adalah kesalahan
peramalan (forecast error) yang “merupakan jenis kesalahan bias yaitu rata - rata
perbedaan antara nilai sebenarnya dengan nilai prakiraan”. Secara umum rumus
yang digunakan dalam metode kesalahan ini yaitu :
Σkesalahan peramalan
AE=
n
2. Deviasi rata - rata yang absolut (Mean Absolute Deviation -MAD).
Menurut Heizer dan Render (2014:150) MAD “merupakan ukuran pertama atas
keseluruhan dalam kesalahan peramalan sebuah model”. Nilai ini dihitung dengan
mengambil jumlah nilai absolut kesalahan peramalan individual (deviasi) dan
membaginya dengan jumlah periode data (n), yaitu :
Σ( Aktualt - Ramalant )
MAD=
n
3. (Mean Square Error)
Menurut Heizer dan Render (2014:150) MSE “merupakan cara kedua untuk
mengukur keseluruhan dalam kesalahan [Link] adalah rata - rata perbedaan
yang dikuadratkan di antara nilai yang diramalkan dengan yang diamati”. Rumusnya
adalah sebagai berikut:
ΣΙ Kesalahan Peramalan l2 Σet2
MSE= =
n n
4. Mean Percentage Average Error (MAPE)
Menurut Heizer dan Render (2014:150) MAPE adalah “pengukuran ketelitian
dengan cara rata - rata persentase kesalahan absolut (MAPE, means absolute
percentage error) menunjukan rata - rata kesalahan absolut peramalan dalam bentuk
persentasenya terhadap data aktual”. Rumusnya adalah sebagai berikut :
Aktualt -Ramalant x 100%
MAPE=
n
Dalam menganalisis kesalahan peramalan, MAPE memberikan kemudahan
dalam menginterpretasikan nilainya karena merupakan besaran presentase kesalahan
sebuah peramalan. Interpretasi nilai MAPE menurut Lewis dalam jurnal yang ditulis
oleh Fitri dkk (2017:101) adalah sebagai berikut :
TABEL II.2. INTERPRETASI NILAI MAPE
Nilai MAPE Interpretasi
< 10 Peramalan dengan akurasi tinggi
10 – 20 Peramalan yang baik
20 – 50 Peramalan yang layak
> 50 Peramalan yang tidak akurat
Sumber : Pengolahan data Peneliti 2018
2.2. Kerangka Pemikiran
Teknik peramalan bagi destinasi wisata merupakan suatu alat pendukung dalam
proses pengambilan keputusan, yang dapat dijadikan sebagai dasar pengelolaan sebuah
destinasi wisata, baik dalam penentuan rencana operasional, sumber daya manusia,
pemasaran dan keuangan.
Peramalan menurut Heizer dan Render (2015:113) yaitu Peramalan (forecasting)
adalah suatu seni dan ilmu pengetahuan dalam memprediksi peristiwa pada
masa yang akan datang. Menurut Heizer dan Render (2015:118) terdapat enam
metode peramalan kuantitatif yang termasuk kedalam model deret waktu namun
dalam penelitian ini hanya digunakan dua metode peramalan deret waktu yaitu metode
peramalan Rata – rata Bergerak (Moving Average) dan metode peramalan pemulusan
Eksponensial (Exponential Smoothing). Kerangka pemikiran dari penelitian ini adalah
sebagai berikut :
PERAMALAN
(Heizer dan Render, 2015:113)
Data Kunjungan
Wisatawan CIC
Melakukan
Perhitungan
Moving Average Exponential Smoothing
(Heizer dan Render, (Heizer dan Render,
2015:118) 2015:118)
Menghitung Menghitung
MAD,MSE, dan MAPE
MAD,MSE, dan MAPE
untuk masing-masing
untuk masing-masing
Penentuan metode
Peramalan yang digunakan
Sumber : Data diolah Penulis 2018
Gambar II.5.
Kerangka Pemikiran
Berkembang pesatnya sektor pariwisata tentu meningkatkan persaingan bisnis
pariwisata. Semakin berkembangnya berbagai destinasi wisata menuntut pihak
pengelola wisata memiliki keunggulan bersaing tersendiri dalam rangka menarik minat
dan mempertahankan tingkat pengunjung yang tidak menentu. Ketidakpastian jumlah
pengunjung membuat pihak destinasi wisata membutuhkan peramalan pengunjung,
dalam rangka penentuan langkah antisipasi maupun penetapan kebijakan terhadap
pengelolaan pengunjung.
Dimana untuk membuat peramalan tersebut diperlukan data historis pengunjung
pada beberapa periode sebelumnya. Data jumlah pengunjung masa lalu atau data
jumlah pengunjung periode sebelumnya digunakan untuk meramalkan jumlah
pengujung pada periode yang akan datang. Dalam menghitung data jumlah pengunjung
periode sebelumnya digunakan 2 metode yaitu, metode rata-rata bergerak (Moving
Average) dan metode Pemulusan Eksponensial (Exponential Smoothing).
Setelah dilakukan penghitungan peramalan pengunjung dengan kedua metode
tersebut dari hasil peramalan dicari uji kesalahan peramalan terhadap masing–masing
metode. Uji kesalahan peramalan menggunakan Average Error (AE), Mean Absolut
Deviation (MAD), Mean Square Error (MSE) dan Mean Absolut Percentage Error
(MAPE). Metode peramalan yang paling tepat dipilih setelah dicari tingkat error
terkecil pada masing–masing metode peramalan.
Melalui hasil peramalan tersebut dapat diketahui jumlah pengunjung pada setiap bulan
bagi periode tahun berikutnya. Hasil peramalan tersebut dapat memberikan gambaran
bagi pihak Ciwangun Indah Camp terhadap jumlah pengunjung rata-rata , jumlah
pengunjung tertinggi maupun jumlah pengunjung terendah terdapat pada bulan apa.
Sehingga dapat dijadikan sebagai dasar penyusunan rencana operasional seperti
rencana kerja misalnya disesuaikan dengan kondisi jumlah pengunjung. Setelah
melihat hasil peramalan diharapkan mampu mempermudah proses pengambilan
keputusan.