(2) Dalam menggunakan garpu {fork) pada forklift dilarang
memasang alat tambahan untuk memperpanjang
garpu {fork).
Pasal 78
(1) Bak {bucket\ untuk loader, excavator, backhoe, dan
shavel harus;
a. digunakan sesuai jenis, bentuk, dimensi, dan
kapasitasnya;
b. dibuat dari bahan baja karbon sedang, dengan
kadar C : 0,3-0,6% (nol koma tiga sampai dengan
nol koma enam persen) dan faktor keamanan
paling sedikit 6 (enam); dan
c. dilengkapi dengan penahan muatan/barang pada
sisi depan, samping, dan belakang.
(2) Pemasangan bak [bucket] harus sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan atau
standar yang berlaku.
Pasal 79
(1) Dilarang menggunakan bak (bucket) pada kondisi
keropos dan/atau retak.
(2} Setiap orang dilarang:
a. menggunakan bak [bucket^ pada kondisi keropos
dan/atau retak.
b. menggunakan bak [bucket] pada loader,
excavator, backhoe, dan shovel yang tidak
dilengkapi pengunci pin penghubung dengan
linkage pada arm.
Pasal 80
(1) Pencengkram [grapple) harus:
a. dirancang sesuai jenis penggunaan baik bentuk,
dimensi, kapasitas, maupun jenis
material/ muatannya;
b. dibuat dari bahan baja karbon sedang, dengan
kadar C : 0,3-0,6% (nol koma tiga sampai dengan
-42 -
nol koma enam persen) dan faktor keamanan
paling sedikit 5 (enam); dan
c. memiliki baut yang terpasang dengan kuat di
seluruh dudukan.
(2) Pemasangan pencengkram (grapple) harus sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan
atau standar yang berlaku.
(3) Dilarang menggunakan pencengkram {grapple) pada
kondisi:
a. dimensi beban keija atau dimensi muatan tidak
sesuai dengan kapasitas cengkraman; dan
b. baut pengencang tidak lengkap.
Pasal 81
Landasan forklift, lift truck, reach stackers, dan telehandler.
a. harus dikonstruksi cukup kuat dan rata;
b. harus mempunyai tanda area lintasan;
c. tidak mempunyai belokan dengan sudut yang tajam;
dan
d. tidak mempunyai tanjakan atau turunan yang terjal
yang dapat mengganggu keseimbangan.
Pasal 82
Setiap orang dilarang menggunakan forklift, lifttmck, reach
stackers, dan telehandler dengan tenaga penggerak motor
bakar di area keija yang mempunyai bahan mudah
meledak dan/atau dalam ruangan tertutup.
Pasal 83
Sebelum memuat dan membongkar muatan, rem pada
Forklift, reach stacker, telehandler, dan sejenisnya harus
digunakan dan jika di atas tanjakan, roda harus diberi
penahan.
Pasal 84
Jarak bebas sisi lintasan yang dilalui forklift, telehandler,
dan sejenisnya paling sedikit:
-43 -
a. 60 cm (enam puluh sentimeter) diukur dari sisi terluar
pesawat atau sisi terluar muatan yang paling lebar jika
digunakan lalu lintas satu arah; dan
b. 90 cm (sembilan puluh sentimeter) diukur dari sisi
terluar di antara dua pesawat atau sisi terluar di
antara muatan yang paling lebar di kedua pesawat jika
digunakan lalu lintas 2 (dua) arah.
Pasal 85
(1) Forklift pada saat dioperasikan dalam keadaan
berjalan:
a. garpu {fork) atau permukaan bagian bawah
muatan hams beijarak paling tinggi 15 cm (lima
belas sentimeter) diukur deiri permukaan
landasan; dan
b. hams berjarak paling dekat 10 m (sepuluh meter)
dari bagian belakang kendaraan yang ada di
depannya.
(2) Forklift pada saat sedang tidak digunakan hams
diletakkan pada landasan yang rata tanpa ada
kemiringan dengan kondisi rem terkunci dan garpu
sisi terbawah menempel pada permukaan landasan.
(3) Forklift dilarang digunakan untuk tujuan lain selain
untuk mengangkat, mengangkut, dan meletakkan
muatan / barang.
(4) Forklift jenis telehandler dan reach stacker
dikecualikan dari ketentuan pada ayat (1) humf a,
Pasal 86
(1) Pengoperasian loader, excavator, backhoe, shovel, dan
sejenisnya hams:
a. berada pada landasan yang cukup keras untuk
menjaga kestabilan;
b. tetap pada posisi stabil di lokasi keija baik dalam
kondisi tanjakan atau tumnan; dan
- 44 -
c. dihindari pengangkatan/pengisian muatan
melalui atau melintasi kabin truk yang akan diisi
muatan.
(2) Selain ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat
(1), dalam pengoperasian excavator.
a. posisi lengan yang merupakan arm dan boom
hams diatur pada saat berpindah lokasi
pengerukan untuk mencegah ketidakstabilan;
b. bagian depan maupun belakang harus dipastikan
posisinya agar tidak bergerak ke arali yang saiJah
pada saat akan berpindah secara horizontal; dan
c. posisi arm dan boom terpanjang antara sisi
terluar bak (bucket) dengan dinding/struktur
bangunan harus ditempatkan paling dekat 60 cm
(enam puluh sentimeter).
(3) Selain ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat
(1), dalam pengoperasian loader saat mengangkut
muatan, jarak antara sisi terbawah bak (bucket)
dengan permukaan landasan paling rendah 30 cm
(tiga puluh sentimeter) dan paling tinggi 90 cm
(sembilan puluh sentimeter).
(4) Loader pada saat sedang tidak digunakan harus
diletakkan pada landasan yang rata tanpa ada
kemiringan dengan kondisi rem terkunci dan sisi
terluar bak (bucket) menempel pada permukaan
landasan.
(5) Excavator pada saat sedang tidak digunakan harus
diletakkan pada landasan yang rata tanpa ada
kemiringan dengan kondisi rem terkunci dan sisi
terluar bucket menempel pada permukaan landasan
dan kabin pada posisi sejajar dengan kedua kelabang
(crawler).
Pasal 87
Grader pada saat tidak digunakan, pelat penyapu (blade)
dan garpu pembajak {scarifier) harus dalam kondisi
-45-
diletakkan tegak lurus terhadap roda pada landasan dan
dengan kondisi rem terkunci.
Pasal 88
Setiap orang dilarang mengoperasikan excavator, dozer,
backhoe, dan grader pada area terdapat pipa bertekanan
tinggi dan/atau kabel bertegangan tinggi di bawah tanah.
Pasal 89
(1} Pengoperasian concrete paver, asphalt paver, asphalt
sprayer, aspalt finisher, compactor roller/vibrator roller
harus:
a. diberi pembatas dan rambu peringatan pada area
kerja; dan
b. dilengkapi penerangan yang cukup pada malam
hari.
(2) Concrete paver, asphalt paver, asphalt sprayer, aspalt
finisher, compactor roller/vibrator roller pada saat tidak
digunakan harus diparkir pada tempat yang tidak
mengganggu arus lalu lintas, kabin Operator dan rem
dalam kondisi terkunci.
Pasal 90
Alat berat dilarang dioperasikan atau dijalankan secara
melintang pada lintasan miring.
Bagian Ketiga
Kereta
Pasal 91
Kereta sebagaimana dimaksud dalam Pasal 67 huruf b
selain memiliki komponen utama sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 8 dan Pasal 70, juga memiliki roda kereta, tali
kawat baja, rantai penggantung, poros, dan rel/lintasan.
Pasal 92
(1} Roda kereta harus:
-46-
a. terbuat dari baja tuang cukup kuat, tidak cacat
dan memenuhi ketentuan peraturan perundang-
undangan atau standar yang berlaku;
b. memiliki faktor keamanan 8 (delapan); dan
c. tidak terdapat sambungan las.
(2) Pemasangan roda kereta harus menggunakan pasak
antara roda dan poros roda dan dilengkapi dengan pin
pengunci.
Pasal 93
(1) Tali kawat baja penggantung harus:
a. terbuat dari baja yang mempunyai faktor
keamanan paling sedikit 12 (dua belas);
b. memiliki inti tali kawat baja jenis IWRC
(Independent Wire Rope Core);
c. tahan terhadap korosi;
d. fleksibel dan mampu menaihan momen puntir;
dan
e. diperiksa pada waktu pemasangan pertama,
setiap hari sebelum dioperasikan, dan 1 (satu)
kali dalam seminggu.
(2) Pemasangan tali kawat baja penggantung harus
menggunakan klem.
(3) Tali kawat baja dilarang:
a. memiliki sambungan dan simpul; dan
b. digunakan jika terdapat perubahan bentuk
(deformasi) dan putus.
Pasal 94
{1} Rantai penggantung harus:
a. terbuat dari baja paling sedikit grade 80 (delapan
puluh) dengan faktor keamanan paling rendah 5
(lima);
b. tahan terhadap korosi;
c. mampu menahan beban kejut; dan
- 47 -
d. diperiksa pada waktu pemascingan pertama,
setiap hari sebelum dioperasikan, dan 1 (satu)
kali dalam seminggu.
(2) Pemasangan rantai penggantung harus menggunakan
shakle atau alat pengunci sejenis lainnya.
(3) Rantai penggantung dilarang digunakan jika terdapat
perubahan bentuk (deformasi).
Pasal 95
(1) Poros kereta harus:
a. terbuat dari baja dengan faktor keamanan 6
(enam); dan
b. mampu menahan tegangan tumpu, dan momen
puntir.
(2) Poros roda kereta harus:
a. terbuat dari baja dengan faktor keamanan 6
(enam); dan
b. mampu menahan gaya aksial, gaya radial, momen
lengkung, dan momen puntir.
Pasal 96
(1) Rel atau lintasan harus:
a. terbuat dari bahan baja dengan faktor keamanan
6 (enam);
b. kuat menahan gaya gesek dan tegangan tumpu;
c. tahan terhadap korosi;
d. dikonstruksi sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan atau standar yang berlaku;
e. dilakukan pemeriksaan dalam waktu tertentu;
f. dilengkapi dengan jalur lintas bebas pada kedua
sisinya paling sedikit:
1) 2,35 m (dua koma tiga lima meter) di kiri
kanan as jalan rel untuk jalur lurus;
2) 2,55 m (dua koma lima lima meter) untuk
jalur lengkung dengan jari-jari kurang dari
atau sama dengan 300 m (tiga ratus meter);
- 48 -
3) 2,45 m (dua koma empat lima meter) untuk
jalur lengkung dengan jari-jari lebih dari 300
m (tiga ratus meter); dan
4) 2,15 m (dua koma satu lima meter) di kiri
kanan as jalan rel untuk jembatan dan
terowongan pada jalur lurus dan jalur
lengkung.
(2) Rel pemutar kereta harus dilengkapi dengan alat
pengunci untuk mencegah rel pemutar kereta
bergerak.
Pasal 97
(1) Rel harus dipasang rel pengaman pada bagian dalam
rel dengan jarak tidak lebih dari 25 cm (dua puluh
lima sentimeter) dari sisi dalam rel, apabila rel:
a. terpasang di atas jembatan dengan panjang 30 m
(tiga puluh meter) atau lebih dan memiliki
tikungan;
b. memiliki tikungan dengan radius melebihi 250 m
(dua ratus lima puluh meter) dengan lebar 1.435
mm (seribu empat ratus tiga puluh lima
milimeter) atau lebih; dan
c. memiliki tikungan dengan radius melebihi 400 m
(empat ratus meter) dengan lebar kurang dari
1.435 mm (seribu empat ratus tiga puluh lima
milimeter).
(2) Ujung rel harus dipasang balok penahan benturan.
Pasal 98
(1) Pemindahan rel yang menggunakan peralatan tuas
wesel dan kawat sinyal harus dipasang Alat Pengaman
pada peralatan tuas wesel untuk mencegah rel tidak
berbalik.
(2) Tuas wesel harus dikonstruksi dan dipasang dengan
kuat untuk mencegah tuas bergeser pada arah
memanjang rel.
- 49 -
Pasal 99
(1) Rel diupayakan tidak melewati jalan yang digunakan
untuk lalu lintas kendaraan atau pejalan kaki.
(2) Rel yang melintas pada jalan sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) dapat menggunakan jembatan layang
atau terowongan.
(3) Jika jembatan layang atau terowongan sebagaimana
dimaksud pada ayat (2) belum tersedia, persilangan
lintasan rel dan jalan harus dibuat rata dengan
permukaan rel.
(4) Persilangan lintasan rel dan jalan sebagaimana
dimaksud pada ayat (3) hams:
a. dilengkapi Alat Pengaman atau penghalang yang
diwarnai dengan jelas;
b. dilengkapi sirine dan lampu peringatan;
c. dipasang tanda peringatan "BAHAYA" atau
"PERSILANGAN";
d. dijaga oleh petugas khusus; dan
e. diberi cahaya atau penanda yang dapat berpendar
pada tanda pemberi peringatan, alat penghalang,
semboyan wesel, dan perlengkapan lainnya jika
ada penggunaan pada malam hari.
Pasal 100
(1) Jarak antara sisi terluar kereta harus mempunyai
ruang bebas dengan ketentuan:
a. paling sedikit 75 cm (tujuh puluh lima sentimeter)
antara 2 (dua) kereta yang melintas
berdampingan atau terhadap bangunan di sisi rel;
b. secara vertikal paling sedikit:
1. 215 cm (dua ratus lima belas sentimeter) ke
bangunan atau rintangan lainnya; dan
2. 430 cm (empat ratus tiga puluh sentimeter)
ke sumber arus listrik.
c. dipasang tanda ukuran pada tiap sisi bangunan.
(2) Bangunan, rintangan, atau sumber listrik
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b harus
- 50 -
dipasang tanda ukuran jarak vertikal yang mudah
terbaca.
Pasal 101
(1) Jaringan listrik pada kereta listrik harus memenuhi
standar kelistrikan.
(2) Jaringan listrik sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
harus dilengkapi dengan tanda peringatan "BAHAYA"
yang mudah terlihat dan terbaca pada kontak yang
terbuka.
Pasal 102
Kereta gantung, komidi putar, roller coaster, dan kereta
ayun harus:
a. dilakukan pembumian/pentanahan (grounding) sesuai
dengan ketentuan standar kelistrikan; dan
b. memiliki jalan masuk dan keluar yang terpisah, diberi
tanda secara jelas, mudah dibaca, dilengkapi dengan
Alat Pengaman dan Alat Pelindungan.
Bagian Keempat
Personal Basket
Pasal 103
Personal basket sebagaimana dimaksud dalam Pasal 67
huruf c selain memiliki komponen utama sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 8 dan Pasal 70 juga memiliki lengan
yang merupakan boom dan keranjang {basket).
Pasal 104
Lengan yang merupakan boom harus:
a. terbuat dari baja dengan faktor keamanan paling
sedikit 5 (lima); dan
b. memiliki sistem penghenti yang berfungsi secara
otomatis apabila sudut kemiringan mencapai batas
maksimal.
- 51 -
Pasal 105
Keranjang (basket) harus:
a. terbuat dari baja dengan faktor keamanan 5 (lima)
dan/atau bahan lain dengan kekuatan yang sama;
b. konstruksi hams cukup kuat dan aman;
c. dilengkapi dengan pengaman pinggir {toeboard};
d. memiliki pintu penutup yang dapat dikunci dan
dibuka secara aman; dan
e. ketinggian pagar keranjang (basket) paling sedikit 1,25
m (satu koma dua lima meter) dari dasar lantai kerja.
Pasal 106
(1) Pengoperasian personal basket dilakukan dengan
ketentuan:
a. tidak melebihi beban maksimum yang diizinkan;
b. dioperasikan oleh Operator personal basket yang
dilengkapi dengan body harness;
c. dinaikan atau diturunkan secara perlahan, tidak
menimbulkan kejutan; dan
d. bebas dari rintangan/hambatan.
(2) Dilarajig mengoperasikan personal basket
a. pada area atau Tempat Keija yang miring;
dan/atau
b. apabila kecepatan angin melebihi 32 km/jam (tiga
puluh dua kilometer per jam).
Pasal 107
Setiap orang dilarang mengubah dan/atau memodifikasi
personal basket tanpa melaporkan terlebih dahulu kepada
instansi yang bertanggung jawab di bidang pengawasan
ketenagakerjaan.
- 52 -
Bagian Kelima
Truk
Pasal 108
Truk sebagaimana dimaksud dalam Pasal 67 huruf d selain
memiliki komponen utama sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 8 dan Pasal 70 juga memiliki bak dump truck dan
penyambung (tou^.
Pasal 109
(1) Bak dump truck harus:
a. digunakan sesuai dengan jenis muatan dan
kapasitasnya;
b. dibuat dari bahan baja karbon sedang dengan
kadar C : 0,3-0,6% (nol koma tiga sampai dengan
nol koma enam persen) dan faktor keamanan
paling sedikit 6 (enam); dan
c. dilengkapi dengan penahan muatan/barang pada
sisi depan, samping, dan belakang.
(2) Bak dump truck dilarang digunakan apabila:
a. keropos dan/atau retak;
b. tidak dilengkapi pin pengunci pada silinder
hidraulik; dan
c. tidak dilengkapi kanopi pelindung tumpsihan
material.
(3) Pemasangan bak dump truck harus sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan atau
standar yang berlaku.
Pasal 110
(1) Batang penyambung {tow) harus:
a. dirancang sesuai dengan daya tank atau daya
dorong truk meliputi bentuk, dimensi, dan
kapasitas; dan
b. dibuat dari bahan baja dengan faktor keamanan
paling sedikit 5 (lima).
- 53 -
(2) Pemasangan bola pengikat [hitch baltj pada batang
penyambung [tow) truk atau benda yang ditarik atau
didorong harus pada posisi di atas dan dilengkapi baut
atau pin pengunci.
(3) Dilarang menggunakan batang penyambung [tow)
pada kondisi mengalami perubahan bentuk lebih
besar dari 5° (lima derajat) dari pangkal.
(4) Dilarang mengunakan bola pengikat {hitch ball) pada
penyambung bateing [tow) apabila mengaleimi
perubahan posisi horizontal lebih besar dari 1° (satu
derajat) atau 25 mm (dua puluh lima milimeter) diukur
dari permukaan batang penyambung dengan bola
pengikat (hitch baltj.
Pasal 111
(1) Pengoperasian truk harus:
a. dilakukan pada permukaan landasan yang rata
dan tidak miring saat memuat dan menurunkan
muatan; dan
b. dipastikan sisi belakang bebas dari orang pada
saat menurunkan muatan dengan cara
memiringkan bak [bucket).
(2) Muatan pada bak [bucket tidak boleh melebihi tinggi
dinding bak [bucket).
(3) Gerakan bak [bucket) dump truck pada saat
menurunkan muatan harus dilakukan secara
perlahan dengan memperhatikan berat dan volume
muatan.
(4) Dilarang menggerakkan truk pada saat memuat dan
menurunkan muatan.
Bagian Keenam
Robotik dan Konveyor
Pasal 112
(1) Robotik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 67 huruf
e selain memiliki komponen utama sebagaimana
- 54 -
dimaksud dalam Pasal 8 dan Pasal 70 juga memiliki
pita magnetik/lintasan.
(2) Konveyor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 67
huruf e selain memiliki komponen utama sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 8 dan Pasal 70 juga memiliki
ban/sabuk, rantai, dan roller.
Pasal 113
Pita magnetik/lintasan harus:
a. dapat terbaca dengan jelas oleh sensor pada
Automated Guided Vehicle-, dan
b. bebas dari rintangan yang dapat menghalangi sinyal
antara pita magnetik ke sensor pada Automated
Guided Vehicle.
Pasal 114
(1) Automated Guided Vehicle harus:
a. memiliki Alat Pengaman untuk menjaga tetap
berada di atas lintasannya sesuai dengan arah
yang telah ditetapkan;
b. dilengkapi dengan sensor pembaca lokasi (global
positioning system)-, dan
c. dilengkapi dengan sensor {laser scanner] yang
dapat menghentikan secara otomatis apabila
lintasan terhalang oleh manusia atau benda lain.
(2) Area keija Automated Guided Vehicle harus:
a. tersedia kamera pengawas dan monitor yang
dapat menjangkau seluruh area pengoperasian;
b. diawasi oleh Operator melalui monitor; dan
c. diberi rambu dan penanda lintasan operasi.
Pasal 115
(1) Pengoperasian Automated Guided Vehicle harus:
a. diperiksa oleh Operator, khususnya perangkat
keras dan perangkat lunak sebelum dioperasikan;
- 55 -
b. dapat dikendalikan secara manual apabila dalam
pengoperasiannya teijadi kegagalan sistem
operasi otomatis.
(2) Automated Guided Vehicledilarang digunakan untuk:
a. mengangkut bahan berbahaya; dan
b. mengangkut material yang melebihi ukuran yang
direncanakan.
(3) Setiap orang dilarang melewati/menghalangi
Automated Guided Vehicle yang sedang beroperasi.
Pasal 116
(1) Ban /sabuk yang digunakan harus:
a. mempunyai dimensi sesuai dengan jenis dan
kapasitas muatan/barang; dan
b. terbuat dari bahan kuat, tahan terhadap
tegangan tarik dan perubahan bentuk.
(2) Khusus untuk pemindahan makanan, ban/sabuk
harus terbuat dari bahan food grade sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan atau
standar yang berlaku.
{3} Pemasangan ban/sabuk harus dipastikan terpasang
dengan kencang dan tegangan merata untuk
mencegah shp.
(4) Setiap orang dilarang menggunakan ban/sabuk yang
mengalami sobek memanjang lebih besar dari 10%
(sepuluh persen) dari panjang, dan/atau sobek
melintang.
Pasal 117
(1) Rantai yang digunakan harus:
a. mempunyai dimensi sesuai dengan jenis dan
kapasitas muatan/barang;
b. dibuat dari bahan yang kuat dan mampu
menahan muatan/tegangan tumpu; dan
c. dilengkapi dengan pin penghubung dan pengunci.
- 56 -
(2) Pemasangan rantai pada rangka konveyor harus
kencang dan tegangan merata untuk mencegah
lepasnya mata rantai.
(3) Setiap orang dilarang mengunakan rantai apabila
mengalami perubahan bentuk lebih dari 10% (sepuluh
persen) dari panjang rantai yang terpasang.
Pasal 118
(1) /?oHer yang digunakan harus:
a. mempunyai dimensi sesuai dengan jenis dan
kapasitas muatan/barang; dan
b. dibuat dari bahan yang kuat, mampu menahan
muatan/tegangan lengkung, dan memiliki
permukaan yang rata.
(2) Pemasangan roller pada rangka konveyor harus tegak
lurus pada bidang dudukan dan dilengkapi bantalan
{bearing).
(3) Setiap orang dilarang menggunakan roller apabila:
a. mengalami perubahan bentuk lebih dari 10%
(sepuluh persen) dari jumlah roller yang
terpasang; dan
b. bantalan mengalami kerusakan.
Pasal 119
(1) Konstruksi mekanis konveyor harus:
a. kuat dan aman untuk menunjang muatan yang
telah ditetapkan baginya atau beban keija aman;
b. dapat meniadakan titik-titik geser yang berbahaya
antara bagian-bagian yang bergerak dengan
benda kerja atau muatan yang berpindah
ataupun tetap dan/atau dilengkapi Alat
Pelindungan.
(2) Konveyor harus dilengkapi dengan:
a. sistem pengereman yang mampu menahan
dengan aman pada posisi turun, miring, dan
vertikal karena gaya gravitasi;
- 57 -
b. alat penanda beban lebih yang harus berfungsi
dan mudah diketahui; dan
c. sistem pelumasan otomatis.
(3) Konveyor yang tidak tertutup yang dilalui Tenaga
Keija, melewati di atas jalan, Tempat Kerja dan
jembatan, pada bagian bawahnya harus dipasang Alat
Pelindungan berupa tutup pengaman yang mempunyai
ketinggian paling sedikit 2,5 m (dua koma enam
meter).
(4) Jika konveyor membentang sampai pada tempat yang
tidak kelihatan dari pos kontrol, harus dilengkapi
dengan sirine atau lampu rotari dan harus dibunyikan
oleh Operator sebelum menjalankan mesin.
(5) Jika tinggi ujung pengisian konveyor kurang dari 1 m
{satu meter) di atas lantai, harus diberi pagar
pelindung.
Pasal 120
(1) Lantai atau teras kerja konveyor pada tempat bongkar
dan muat harus dalam kondisi anti slip.
(2) Lantai atau teras dan tempat jalan kaki di samping
konveyor harus bersih dari sampah dan bahan lain.
(3) Saluran air pada lantai harus disediakan di sekitar
konveyor.
(4) Penyeberangan pada konveyor harus disediakan
jembatan yang memenuhi syarat pada jarak tidak
lebih dari 300 m (tiga ratus meter).
Pasal 121
(1) Konveyor tertutup yang digunakan untuk membawa
bahan yang dapat terbakar atau meledak harus
dilengkapi dengan lubang pelepas pengaman yang
langsung menuju ke udara luar.
(2) Lubang pelepas pengaman sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) tidak boleh dihubungkan dengan
cerobong, pipa lubang angin atau saluran asap untuk
tujuan lain.
- 58 -
(3) Dalam hal konstruksi pembuangan tidak dapat dibuat,
saluran lubang pelepas pengaman pada konveyor
harus dilengkapi dengan tutup pelepas.
Pasal 122
(1) Konveyor yang digerakan dengan tenaga mekanik pada
tempat bongkar muat, pada akhir peijalanan dan awal
pengambilan dan/atau pada berbagai tempat lain,
harus dilengkapi dengan alat untuk menghentikan
mesin atau motor penggerak ban transport dalam
keadaan darurat.
(2) Konveyor yang membawa muatan pada bidang yang
miring harus dilengkapi dengan alat mekanis yang
dapat mencegah mesin berbalik dan membawa
muatan kembali ke arah tempat memuat, jika sumber
tenaga dihentikan.
(3) Jika 2 (dua) konveyor atau lebih beroperasi bersama
harus dipasang Alat Pengaman yang dapat mengatur
bekerja sedemikian rupa sehingga kedua konveyor
harus berhenti apabila salah satu konveyor tidak
dapat bekerja secara terus menerus.
(4) Konveyor untuk mengangkut semen, pupuk buatan,
serat kayu, pasir atau bahan sejenisnya harus
dilengkapi dengan kilang keruk atau alat lainnya yang
sesuai.
(5) Konveyor yang ditinggalkan dan/atau sering dilalui
orang harus dilengkapi dengan tempat jalan kaki atau
teras pada seluruh panjangnya dengan lebar tidak
kurang dari 45 cm (empat puluh lima sentimeter} dan
mempunyai sandaran standar dan/atau pagar
perlindungan pinggir.
Pasal 123
(1) Setiap orang dilarang menaiki konveyor.
(2) Setiap orang dilarang untuk mencoba menyetel atau
untuk memperbaiki perlengkapan konveyor tanpa
- 59 -
menghentikan dahulu sumber tenaganya dan
mengunci tuas atau tombol dalam keadaan berhenti.
(3) Tenaga Keija dilarang berdiri di kerangka penahan
konveyor terbuka pada saat memuat atau
memindahkan barang atau pada saat membersihkan
rintangan.
BAB V
ALAT BANTU ANGKAT DAN ANGKUT
Bagian Kesatu
Umum
Pasal 124
Alat Bantu Angkat dan Angkut sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 4 huruf b meliputi sling, spreader bar, lifting
beam, personal basket, jaring, dan alat kelengkapan
[shackle, tumbuckle, swivel, eyebolt, eyenuts, eyepad,
hooker, rings, master link, clamp, grapple, dan magnetic
lifter).
Pasal 125
Alat Bantu Angkat dan Angkut harus:
a. dilengkapi keterangan kapasitas beban keija aman
yang diizinkan;
b. dilengkapi kunci pengaman khusus Alat Bantu Angkat
dan Angkut jenis klem pelat dan klem jepit; dan
c. dibuat dengan faktor keamanan paling rendah 5 (lima)
kecuali untuk sling rantai (chain sling).
Pasal 126
(1) Penggunaan Alat Bantu Angkat dan Angkut harus:
a. diperiksa terlebih dahulu oleh Juru Ikat [rigger)
sebclum digunakan untuk pengikatan benda
kerja atau muatan;
b. sesuai dengan jenis dan kapasitas;
- 60 -
c. mempunyai jarak paling sedikit 5 m (lima meter)
dari sumber listrik bertegangan tinggi untuk jenis
personal basket dan yang terbuat dari logam; dan
d. dilakukan pencatatan dengan menggunakan
buku catatan penggunaan (log book) yang
memuat jenis, jumlah, dan tanggal pemeriksaan
dan pengujian.
(2} Alat Bantu Angkat dan Angkut harus:
a. dilakukan perawatan secara berkala sesuai
dengan buku panduan pabrik pembuat;
b. disimpan pada tempat khusus yang melindungi
dari panas, cairan, bahan berbahaya, dan
memiliki sirkulasi udara ysing baik; dan
c. dimusnahkan sesuai dengan prosedur
pemusnahan bila telah mengalami perubahan
bentuk, wama, cacat, kerusakan, dan tidak
memenuhi syarat.
Pasal 127
(1) Alat Bantu Angkat dan Angkut dilarang digunakan
apabila:
a. mengalami perubahan bentuk dan warna;
b. cacat dan/atau rusak; dan/atau
c. kecepatan angin melebihi 38 km/jam (tiga puluh
delapan kilometer per jam).
(2) Setiap orang dilarang membawa/memindahkan Alat
Bantu Angkat dan Angkut dengan cara diseret.
Pasal 128
(1) Pengikatan Alat Bantu Angkat dan Angkut harus kuat,
aman dan seimbang.
(2) Dalam hal pengikatan Alat Bantu Angkat dan Angkut
tidak memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud
pada ayat (1), harus digunakan tambahan dengan alat
kelengkapan berupa shackle, tumhuckle, swivel,
eyebolt, eyenuts, eyepad, hooker, rings, clamp, grapple,
dan magnetic lifter.
- 61 -
Bagian Kedua
Sling
Paragraf 1
Umum
Pasal 129
Sling meliputi sling tali kawat baja [wire rope sling), sling
rantai {chain sling), sling sabuk {webbing sling) dan sling
tali serat.
Pasal 130
(1} Penggunaan sling dedam pengikatan hams sesuai
dengan jenis dan kapasitas.
(2) Pengikatan dengan menggunakan lebih dari 1 (satu)
sling, penempatan sling harus dalam keadaan
seimbang dan sudut kaki sling yang diizinkan paling
besar 120" (seratus dua puluh derajat).
(3) Perpanjangan sling daJeim pengikatan harus
menggunakan alat kelengkapan berupa tumbuckle,
shackle, link dan rings.
(4) Setiap orang dilarang membuat simpul pada sling saat
pengunaan sling dalam pengikatan.
Paragraf 2
Sling Tali Kawat Baja {Wire Rope Sling)
Pasal 131
(1) Sling tali kawat baja {wire rope sling) harus:
a. mempunyai faktor keamanan paling sedikit 5
(lima); dan
b. dibuat pada kedua ujung dengan cara diklem,
dipres dengan soket dan dianyam (spiice).
(2) Pengurangan ukuran diameter sling tali kawat baja
{wire rope sling) tidak boleh melebihi 5% (lima persen)
dari diameter semula.
-62-
(3) Sling tali kawat baja {wire rope sling] dilarang disimpul
dan dibelit.
(4) Sling tali kawat baja {wire rope sling] dilarang
digunakan apabila:
a. tertekuk, kusut, beijumbai dan terkelupas;
b. terdapat aus atau karat (deformasi) sesuai dengan
ketentuan sebagai berikut:
1. 12% (dua belas persen) untuk tali kawat baja
dengan konstruksi pilinan 6x7 (enam kali
tujuh) pada panjang 50 cm (lima puluh
sentimeter);
2. Untuk sling tali kawat baja {wire rope sling)
khusus:
a) 12% (dua belas persen) untuk tali kawat
baja seal pada panjang 50 cm (lima
puluh sentimeter);
b) 15% (lima belas persen) untuk tali
kawat baja lilitan potongan segi tiga
pada panjang 50 cm (lima puluh
sentimeter).
c. mengalami kawat putus untuk tali kawat baja
yang konstruksi pihnannya lebih besar atau sama
dengan 6 x 19 (enam kali sembilan belas) dengan
ketentuan lebih besar atau sama dengan 5 (lima)
kawat dalam 1 (satu) strand dan/atau lebih besar
atau sama dengan 10 (sepuluh) kawat yang
terdistribusi dalam beberapa strand untuk
Pesawat Angkat jenis keran angkat dengan
landasan berpindah;
d. temperatur di atas 204oC (dua ratus empat
derajat celcius) dan di bawah -40oC (minus empat
puluh derajat Celsius); dan
e. teijadi kerusakan pada soket dan klem.
- 63 -
Paragraf 3
Sling rantai [chain sling)
Pasal 132
(1) Sling rantai [chain sling) harus:
a. mcmpunyai faktor keamanan paling sedikit 4
(cmpat); dan
b. dibuat pada kedua ujungnya dengan cara
pengelasan antara mata rantai dengan hook,
hooker, ring atau dengan cara mengunakan pin.
(2) Perubahan panjang mata rantai sling rantai [chain
sling) tidak lebih dari 5% (lima persen) dari ukuran
panjang mata rantai semula.
(3) Pengausan mata rantai satu sama lainnya tidak
melebihi 10% (sepuluh persen) dari diameter rantai
semula.
(4) Sling rantai [chain sling) dilarang:
a. dipukul walaupun untuk maksud meluruskan
atau memasang pada tempatnya;
b. disilang, dipelintir, dikusutkan, untuk dibuat
simpul;
c. ditarik bila terhimpit beban;
d. dijatuhkan dari suatu ketinggian;
e. diberi beban kejutan; dan
f. digunakan pada temperatur di atas 204°C (dua
ratus empat derajat celcius) dan di bawah -40''C
(minus empat puluh derajat Celsius).
(5) Sling rantai {chain sling) yang rusak dapat digunakan
kembali setelah dilakukan perbaikan oleh orang yang
memiliki kompetensi di bidang perbaikan rantai.
Paragraf 4
Sling Sabuk (Webbing Sling)
Pasal 133
(1) Sling sabuk [webbing sling) harus;
- 64 -
a. mempunyai faktor keamanan paling sedikit 5
(lima); dan
b. dianyam atau dijahit pada kedua ujung.
(2) Sling sabuk (webbing sling) dilarang digunakan jika:
a. mengalami perubahan wama, sobek, putus
jahitan, terkikis, berlubang, meleleh atau
kerusakan lainnya;
b. pemah terbakar, terkena zat asam; dan
c. temperatur di atas 90®C (sembilan puluh derajat
celcius) dan di bawah -40°C {minus empat puluh
derajat Celsius).
Paragraf 5
Sling Tali Serat (Synthetic Rope Sling)
Pasal 134
(1) Sling tali serat (synthetic rope sling) harus:
a. mempunyai faktor keamanan paling sedikit 5
(lima); dan
b. dianyam (splice) pada kedua ujungnya.
(2) Pengurangan diameter sling tali serat (synthetic rope
sling) tidak boleh melebihi 10% (sepuluh persen} dari
diameter semula.
(3) Sling tali serat (synthetic rope sling) dilarang
digunakan jika:
a. mengalami perubahan warna, terkikis, meleleh
atau kerusakan lainnya;
b. terkena bagian yang tajam dari thimble atau
komponen lainnya yang berkarat; dan
c. temperatur di atas 90oC (sembilan puluh derajat
celcius) dan di bawah -40®C (minus empat puluh
derajat celsius).
- 65 -
Bagian Ketiga
Batang Balok {Spreader Bar)
Pasal 135
(1) Batang balok (spreader bar) hams:
a. mempunyai faktor keamanan paling sedikit 6
(enam) untuk batang baja dan untuk rantai
mempunyai faktor keamanan paling sedikit 4
(empat); dan
b. dilengkapi pengait pada batang baja bagian atas
maupun bawah sebagai tempat sling rantai [chain
sling).
(2) Penempatan pengait harus pada titik keseimbangan
batang balok {spreader bar).
(3) Batang balok dapat dibuat dari baja pejal, H-beam,
dan direncanakan mampu menahan beban maksimum
yang diizinkan.
(4} Batang balok {spreader bar) dilarang digunakan jika
mengalami retak, melengkung, dan keropos.
(5) Sling rantai [chain sling) pada batang balok [spreader
bar) harus sesuai dengan ketentuan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 132.
Bagian Keempat
Balok Pengangkat {Lifting Beam)
Pasal 136
(1) Balok pengangkat [lifting beam) harus:
a. mempunyai faktor keamanan paling sedikit 6
(enam) untuk balok baja dan untuk rantai
mempunyai faktor keamanan paling sedikit 4
(empat); dan
b. dilengkapi pengait pada balok baja ba^an atas
maupun bawah sebagai tempat hook crane, sling
rantai [chain sling), sling tali kawat baja [wire rope
sling), pencengkram [grapple), kait [hooker), dan
magnetic lifter.
-66-
(2) Penempatan pengait hams pada titik keseimbangan
batang balok pengangkat.
(3) Balok pengangkat (lifting beam) dapat dibuat dari baja
pejal, H-beam, dan direncanakan mampu menahan
beban maksimum yang diizinkan.
(4) Batang balok pengangkat dilarang digunakan jika
mengalami retak, melengkung, dan keropos.
(5) Sling rantai {chain sling) pada balok pengangkat (lifting
beam) hams sesuai dengan ketentuan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 132.
Bagian Kelima
Keranjang Manusia [Personal Basket)
Pasal 137
(1) Keranjang manusia (personal basket) yang terbuat dari
baja hams:
a. mempunyai konstmksi kuat dan aman sesuai
dengan ketentuan peraturan pemndang-
undangan atau standar yang berlaku;
b. mempunyai faktor keamanan paling sedikit 5
(lima);
c. dilengkapi dengan pengaman pinggir (toeboard);
d. memiliki pintu penutup yang dapat dikunci dan
dibuka secara amein;
e. memiliki atap pelindung yang dilengkapi dengan
pengait; dan
f. dirancang dengan tinggi paling sedikit 2 m (dua
meter) dari lantai kerja.
(2) Tenaga Kerja yang berada di dalam keranjang manusia
(personal basket) hams dilengkapi full body harness.
(3) Setiap orang dilarang menggunakan keranjang
manusia {personal basket) yang terbuat dari baja yang
mengalami keropos, karat, retak pada bagian rangka
dan lantai kerjanya.
-67-
Pasal 138
(1) Keranjang manusia {personal basket) yang
mengunakan tali serat sintetis dan digunakan di
permukaan atau di atas air harus:
a. mempunyai faktor keamanan 5 (lima); dan
b. dilengkapi dengan pelampung dan tali pengatur
{tag line).
(2) Tenaga Kerja yang berada di dalam keranjang manusia
{personal basket) yang bekeija di permukaan atau di
atas air harus dilengkapi pelampung.
(3) Setiap orang dilarang menggunakan keranjang
manusia {personal basket) yang memakai tali serat
sintetis jika mengalami:
a. perubahan warna, terkikis, meleleh atau
kerusakan lainnya; dan/atau
b. pengurangan diameter tali melebihi 10% (sepuluh
persen) dari diameter semula.
Bagian Keenam
Alat Kelengkapan
Pasal 139
(1) Alat kelengkapan berupa: shackle, tumbuckle, swivel,
eyebolt, eyenuts, eyepad, hooker, rings, master link,
dan clamp harus:
a. digunakan sesuai dengan jenis, kapasitas, bentuk
muatan; dan
b. dilakukan pemilihan sesuai dengan jenis Alat
Bantu Angkat dan Angkut dalam pengikatan,
kecuali jaring.
(2) Setiap orang dilarang menggunakan alat kelengkapan
berupa shackle, tumbuckle, swivel, eyebolt, eyenuts,
eyepad, hooker, rings, master link, dan clamp jika
mengalami:
a. perubahan dimensi 10% (sepuluh persen) dari
dimensi semula; dan
- 68 -
b. perubahan bentuk, kerusakan ulir, retak, dan
korosi.
(3) Alat kelengkapan sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
harus dimusnahkan.
BAB VI
PERSONEL
Bagian Kesatu
Umum
Pasal 140
(1) Pemasangan dan/atau perakitan, pemakaian atau
pengoperasian, pemeliharaan dan perawatan,
perbaikan, perubahan atau modifikasi, serta
pemeriksaan dan pengujian harus dilakukan oleh
personel yang mempunyai kompetensi dan
kewenangan di bidang K3 Pesawat Angkat dan
Pesawat Angkut.
(2) Personel sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
meliputi:
a. Teknisi;
b. Operator;
c. Juru Ikat (rigger); dan
d. Ahli K3 Bidang Pesawat Angkat dan Pesawat
Angkut.
(3) Kompetensi personel sebagaimana dimaksud pada
ayat (2) harus dibuktikan dengan sertifikat kompetensi
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan.
(4) Kewenangan personel Teknisi, Operator, dan Juru Ikat
[riggei) sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a,
huruf b, dan huruf c harus dibuktikan dengan Lisensi
(5) Kewenangan personel Ahli K3 Bidang Pesawat Angkat
dan Pesawat Angkut sebagaimana dimaksud pada ayat
(2) huruf d dibuktikan dengan surat keputusan
- 69 -
penunjukan dan kartu tanda kewenangan sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pasal 141
(1) Pemasangan dan/atau perakitan, pemeliharaan dan
perawatan, perbaikan, dan perubahan atau modifikasi
Pesawat Angkat dan Pesawat Angkut harus dilaikukan
oleh Teknisi bidang Pesawat Angkat dan Pesawat
Angkut.
(2) Pengoperasian Pesawat Angkat dan Pesawat Angkut
harus dilakukan oleh Operator dengan kualifikasi
sesuai jenis dan kapasitas Pesawat Angkat dan
Pesawat Angkut.
(3) Pengoperasian Pesawat Angkat dan Pesawat Angkut
yang karena kekhususannya harus dibantu oleh Juru
Ikat [rigger).
(4) Pemeriksaan dan pengujian Pesawat Angkat dan
Pesawat Angkut dilakukan oleh Ahli K3 Bidang
Pesawat Angkat dan Pesawat Angkut dan Pengawas
Ketenagakerjaan Spesialis K3 Pesawat Angkat Dan
Pesawat Angkut.
Pasal 142
(1) Operator sebagaimana dimaksud dalam Pasal 141 ayat
(2) meliputi:
a. Operator Pesawat Angkat; dan
b. Operator Pesawat Angkut.
(2} Kualifikasi Operator sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) tercantum dalam Lampiran yang merupakan
bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.
- 70 -
Bagian Kedua
Kompetensi Personel K3
Pasal 143
(1) Kompetensi personel K3 sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 140 ayat (3) sesuai SKKNI yang ditetapkan oleh
Menteri.
(2) Dalam hal SKKNI sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
belum tersedia, Menteri wajib menetapkan SKKNI
paling lama 2 (dua) tahun sejak Peraturan Menteri ini
diundangkan.
Bagian Ketiga
Penunjukan Teknisi
Pasal 144
Teknisi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 141 ayat (1)
hams memenuhi persyaratan:
a. berpendidikan paling rendah SMK jurusan teknik atau
sederajat;
b. memiliki pengalaman paling singkat 2 {dua) tahun di
bidangnya;
c. sehat untuk bekerja menurut keterangan dokter;
d. berumur paling rendah 20 {dua puluh) tahun;
e. memiliki sertifikat kompetensi sesuai bidangnya; dan
f. memiliki Lisensi K3.
Bagian Keempat
Penunjukan Operator Pesawat Angkat
Pasal 145
Operator Pesawat Angkat sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 142 ayat {1} huruf a meliputi Operator:
a. dongkrak yang terdiri atas Operator lier, dongkrak
hidraulik, dongkrak pnumatik, post lift, truck/car lift,
dan peralatan lain yang sejenis;
- 71 -
b. kcran angkat yang terdiri atas Operator overhead
crane, overhead travelling crane, hoist crane, chain
block, monorail crane, wall crane/jib crane, stacker
crane, gantry crane, semi gantry crane, launcher gantry
crane, roller gantry crane, rail mounted gantry crane,
rubber tire gantry crane, ship unloader crane, gantry
luffing crane, container crane, portal crane, ship crane,
barge crane, derrick ship crane, dredging crane, ponton
crane, floating crane, floating derricks crane, floating
ship crane, cargo crane, crawler crane, mobile crane,
lokomotif crane dan/atau railway crane, truck crane,
tractor crane, side boom crane/crab crane, derrick
crane, tower crane, pedestal crane, hidraulik drilling rig,
pilling crane/mesin pancang, dan peralatan lain yang
sejenis;
c. alat angkat pengatur posisi benda kerja, yang terdiri
atas Operator rotator, robotik, takel, dan peralatan lain
yang sejenis; dan
d. personal platform, yang terdiri atas Operator passenger
hoist, gondola, dan peralatan lain yang sejenis.
Pasal 146
Operator dongkrak dan Operator personal platform
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 145 huruf a dan huruf
d harus memenuhi persyaratan:
a. berpendidikan paling rendah SMP atau sederajat;
b. berpengalaman paling singkat 1 (satu) tahun
membantu pelayanan di bidangnya;
c. surat keterangan sehat bekerja dari dokter;
d. berusia paling rendah 19 (sembilan belas) tahun;
e. memiliki sertifikat kompetensi sesuai bidangnya; dan
f. memiliki Lisensi K3.
Pasal 147
(1) Operator keran angkat sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 145 huruf b diklasifikasikan sebagai berikut:
a. Operator kelas III;
- 72 -
b. Operator kelas II; dan
c. Operator kelas I.
(2) Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak
berlaku bagi Operator hidraulik drilling rig, pilling
crane/mesin pancang.
Pasal 148
(1) Operator keran angkat kelas III sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 147 ayat (1) huruf a dan
Operator hidraulik drilling rig, pilling crane/mesin
pancang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 147 ayat
(2) harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:
a. berpendidikan paling rendah SMP atau sederajat;
b. berpengalaman paling singkat 1 (satu) tahun
membantu pelayanan di bidangnya;
c. sehat untuk bekeija menurut keterangan dokter;
d. berusia paling rendah 19 (sembilan belas) tahun;
e. memiliki sertifikat kompetensi di bidangnya; dan
f. memiliki Lisensi K3.
(2) Operator keran angkat kelas II sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 147 ayat (1) huruf b harus memenuhi
persyaratan sebagai berikut:
a. berpendidikan paling rendah SMA atau sederajat;
b. berpengalaman paling singkat 1 (satu) tahun
membantu pelayanan di bidangnya;
c. surat keterangan sehat bekerja dari dokter;
d. berusia paling rendah 19 (sembilan belas) tahun;
e. memiliki sertifikat kompetensi di bidangnya; dan
f. memiliki Lisensi K3.
(3) Operator keran angkat kelas I sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 147 ayat (1) huruf c harus memenuhi
persyaratan sebagai berikut:
a. berpendidikan paling rendah SMA atau sederajat;
b. berpengalaman paling singkat 2 (dua) tahun
membantu pelayanan di bidangnya;
c. surat keterangan sehat bekerja dari dokter;
d. berusia paling rendah 20 (dua puluh) tahun;
- 73 -
e. memiliki sertifikat kompetensi di bidangnya; dan
f. memiliki Lisensi K3.
Pasal 149
Operator keran angkat kelas III yang berpendidikan SMA
atau sederajat dapat ditingkatkan menjadi Operator keran
angkat kelas II dan Operator keran angkat kelas II dapat
ditingkatkan menjadi Operator keran angkat kelas I dengan
persyaratan sebagai berikut:
a. berpengalaman sebagai Operator sesuai dengan
kelasnya paling singkat 2 (dua) tahun terus menerus;
dan
b. lulus uji Operator keran angkat sesuai dengan
kualiflkasinya.
Pasal 150
Operator alat angkat jenis pengatur posisi benda kerja
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 145 huruf c harus
memenuhi persyaratan:
a. berpendidikan paling rendah SMA atau sederajat;
b. berpengalaman paling singkat 2 (dua) tahun
membantu pelayanan di bidangnya;
c. surat keterangan sehat bekerja dari dokter;
d. berusia paling rendah 20 (dua puluh) tahun;
e. memiliki sertifikat kompetensi di bidangnya; dan
f. memiliki Lisensi K3.
Bagian Kelima
Penunjukan Operator Pesawat Angkut
Pasal 151
Operator Pesawat Angkut sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 142 ayat (1) huruf b meliputi Operator:
a. alat berat yang terdiri atas Operator forklifi, lifttruck,
reach stackers, telehandler, hand lift/hand pallet,
excavator, excavator grapple, backhoe, loader, dozer,
traktor, grader, concrete paver, asphalt paver, asphalt
- 74 -
sprayer, aspalt finisher, compactor roller/vibrator roller,
dan peralatan lain yang sejenis;
b. kereta yang terdiri atas Operator kereta gantung,
komidi putar, roller coaster, kereta ayun, lokomotif
beserta rangkaiannya, dan peralatan lain yang sejenis;
c. personal basket yang terdiri atas Operator
manlift/boomlift, scissor lift, hydraulic stairs dan
peralatan lain yang sejenis;
d. truk yang terdiri atas Operator tractor, truk
pengangkut bahan berbahaya, dump truck, cargo truck
lift, trailer, side loader truck, module transporter, axle
transport, car towing, dan peralatan lain yang sejenis;
dan
e. robotik dan konveyor yang terdiri atas Automated
Guided Vehicle, sabuk beijalan, ban berjalan, rantai
berjalan, dan peralatan lain yang sejenis.
Pasal 152
(1) Operator forklift/ lifttruck, rack stackers, reach stackers,
dan telehandler sebagaimana dimaksud dalam Pasal
151 huruf a diklasifikasikan sebagai berikut:
a. Operator kelas II; dan
b. Operator kelas I.
(2) Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak
berlaku bagi Operator hand lift/hand pallet, excavator,
excavator grapple, backhoe, loader, dozer, traktor,
grader, concrete paver, asphalt paver, asphalt sprayer,
aspalt finisher, compactor roller/vibrator roller.
Pasal 153
(1) Operator forklift/lifttruck, rack stackers, reach stackers,
telehandler kelas II sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 152 ayat (1) huruf a harus memenuhi
persyaratan:
a. berpendidikan paling rendah SMP atau sederajat;
b. berpengalaman paling singkat 1 (satu) tahun
membantu pelayanan di bidangnya;
- 75 -
c. sehat untuk bekerja menurut keterangan dokter;
d. berusia paling rendah 19 (sembilan belas) tahun;
e. memiliki sertifikat kompetensi di bidangnya; dan
f. memiliki Lisensi K3.
(2) Operator forklift/lifttruck, rack stackers, reach stackers,
telehandler kelas I sebagaimana dimaksud dalam Pasal
152 ayat (1) huruf b harus memenuhi persyaratan:
a. berpendidikan paling rendah SMA atau sederajat;
b. berpengalaman paling singkat 2 (dua) tahun
membantu pelayanan di bidangnya;
c. sehat untuk bekerja menurut keterangan dokter;
d. berusia paling rendah 20 (dua puluh) tahun;
e. memiliki sertifikat kompetensi di bidangnya; dan
f. memiliki Lisensi K3.
Pasal 154
Operator forklift/lifttruck, rack stackers, reach stackers,
telehandler kelas II yang berpendidikan SMA atau sederajat
dapat ditingkatkan menjadi Operator forklift/lifttruck, rack
stackers, reach stackers, telehandler kelas I dengan
persyaratan:
a. berpengalaman sebagai Operator sesuai dengan
kelasnya paling singkat 2 (dua) tahun terus menerus;
dan
b. lulus uji Operator forklift dan/atau lifttruck sesuai
dengan kualifikasinya.
Pasal 155
Operator sebagaimana dimaksud dalam Pasal 151 huruf c,
Pasal 151 huruf d, dan Pasal 152 ayat (2), harus memenuhi
persyaratan:
a. berpendidikan paling rendah SMP atau sederajat;
b. berpengalaman paling singkat 1 (satu) tahun
membantu pelayanan di bidangnya;
c. sehat untuk bekerja menurut keterangan dokter;
d. berusia paling rendah 19 (sembilan belas) tahun;
e. memiliki sertifikat kompetensi di bidangnya; dan
-76-
f. memiliki Lisensi K3.
Pasal 156
Operator kereta sebagaimana dimaksud dalam Pasal 151
huruf b, dan Operator robotik dan konveyor sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 151 huruf e, harus memenuhi
persyaratan:
a. berpendidikan paling rendah SMA atau sederajat;
b. berpengalaman paling singkat 2 (dua) tahun
membantu pelayanan di bidangnya;
c. sehat untuk bekeija menurut keterangan dokter;
d. berusia paling rendah 20 (dua puluh) tahun;
e. memiliki sertifikat kompetensi di bidangnya; dan
f. memiliki Lisensi K3.
Bagian Keenam
Penunjukan Juru Ikat {Rigger)
Pasal 157
Juru Ikat (rigger) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 141
ayat (4) harus memenuhi persyaratan:
a. paling rendah berpendidikan SMA atau sederajat;
b. memiliki pengalaman paling singkat 1 (satu) tahun
dibidangnya;
c. sehat untuk bekerja menurut keterangan dokter;
d. berusia paling rendah 19 (sembilan belas) tahun;
e. memiliki sertifikat kompetensi di bidangnya; dan
f. memiliki Lisensi K3.
Bagian Ketujuh
Penunjukan Ahli K3 Bidang Pesawat Angkat
Dan Pesawat Angkut
Pasal 158
Ahli K3 Bidang Pesawat Angkat dan Pesawat Angkut
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 141 ayat (5) harus
memenuhi persyaratan:
- 77 -
a. pcndidikan paling rendah diploma HI bidang teknik
atau sederajat;
b. memiliki pengalaman paling singkat 2 (dua) tahun di
bidangnya;
c. sehat untuk bekeija menurut keterangan dokter;
d. berusia paling rendah 23 (dua puluh tiga) tahun; dan
e. memiliki surat keputusan penunjukan oleh Menteri
dan kartu tanda kewenangan.
Bagian Kedelapan
Tata Cara Memperoleh Lisensi Keselamatan dan Kesehatan
Kerja
Pasal 159
(1) Untuk memperoleh Lisensi K3 Teknisi, Operator, atau
Juru Ikat (rigger), Pengurus dan/atau Pengusaha
mengajukan permohonan tertulis kepada Direktur
Jenderal dengan melampirkan:
a. fotokopi ijazah pcndidikan terakhir;
b. surat keterangan berpengalaman kerja scsuai
bidangnya masing-masing yang diterbitkan olch
perusahaan tempat bekcrja;
c. surat keterangan sehat untuk bekerja dari dokter;
d. fotokopi kartu tanda penduduk;
e. fotokopi sertifikat kompetensi sesuai dengan jenis
dan kualifikasinya; dan
f. pas foto berwarna ukuran 2x3 cm (dua kali tiga
sentimeter) sebanyak 3 (tiga) lembar dan ukuran
4x6 cm (empat kali enam sentimeter) sebanyak 2
(dua) lembar.
(2) Permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dilakukan pemeriksaan dokumen dan evaluasi olch
(3) Dalam hal pcrsyaratan sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) dinyatakan Icngkap dan mcmenuhi syarat,
Direktur Jenderal menerbitkan Lisensi K3.
- 78 -
Bagian Kesembilan
Tata Cara Memperoleh Surat Keputusan Penunjukan Dan
Kartu Tanda Kewenangan
Pasal 160
(1) Untuk memperoleh surat keputusan penunjukan dan
kartu tanda kewenangan Ahli K3 Bidang Pesawat
Angkat dan Pesawat Angkut, Pengurus dan/atau
Pengusaha mengajukan permohonan tertulis kepada
Direktur Jenderal dengan melampirkan:
a. fotokopi ijazah pendidikan terakhir;
b. surat keterangan berpengalaman kerja bagi Ahli
K3 Bidang Pesawat Angkat dan Pesawat Angkut
yang diterbitkan oleh perusahaan;
c. surat keterangan sehat untuk bekerja {fit to work)
dari dokter;
d. fotokopi kartu tanda penduduk;
e. fotokopi sertifikat kompetensi;
f. laporan praktek kerja lapangan untuk
pemeriksaan 15 (lima belas) jenis Pesawat Angkat
dan Pesawat Angkut; dan
g. pas foto berwama ukuran 2x3 cm (dua kali tiga
sentimeter) sebanyak 3 (tiga) lembar dan ukuran
4x6 cm (empat kali cnam sentimeter) sebanyak 2
(dua) lembar.
(2) Permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dilakukan pemeriksaan dokumen dan evaluasi oleh
tim.
(3) Dalam hal persyaratan sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) dinyatakan lengkap dan memenuhi syarat,
Direktur Jenderal menerbitkan surat keputusan
penunjukan dan kartu tanda kewenangan.
Pasal 161
(1) Dalam hal sertifikat kompetensi sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 140 ayat (3} belum ada, dapat
menggunakan surat keterangan telah mengikuti
- 79 -
pembinaan K3 yang diterbitkan oleh Direktur
Jenderal.
(2) Pembinaan K3 sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dilakukan sesuai dengan pedoman sebagaimana
tercantum dalam Lampiran yang merupakan bagian
tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.
Bagian Kesepuluh
Perpanjangan Surat Keputusan Penunjukan, Kartu Tanda
Kewenangan dan Lisensi Keselamatan dan Kesehatan Kerja
Pasal 162
(1) Surat Keputusan penunjukan dan kartu tanda
kewenangan Ahli K3 Bidang Pesawat Angkat dan
Pesawat Angkut berlaku untuk jangka waktu 3 (tiga)
tahun dan dapat diperpanjang untuk jangka waktu
yang sama.
(2) Lisensi K3 Teknisi, Operator, dan/atau Juru Ikat
{rigger) berlaku untuk jangka waktu 5 (lima) tahun dan
dapat diperpanjang untuk jangka waktu yang sama.
(3) Permohonan perpanjangan Surat Keputusan
penunjukan dan kartu tanda kewenangan Ahli K3
Bidang Pesawat Angkat dan Pesawat Angkut
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diajukan oleh
Pengurus dan/atau Pengusaha kepada Direktur
Jenderal dengan melampirkan:
a. asli surat keputusan penunjukan Ahh K3 yang
akan diperpanjang;
b. asli kartu tanda kewenangan yang akan
diperpanjang;
c. surat keterangan sehat untuk bekerja dari dokter;
d. fotokopi kartu tanda penduduk;
e. fotokopi sertifikat kompetensi sesuai dengan jenis
dan kualifikasinya;
f. laporan kegiatan selama masa berlaku; dan
g. pas foto berwarna ukuran 2x3 cm (dua kali tiga
sentimeter) sebanyak 3 (tiga) lembar dan ukuran
- 80 -
4x6 cm (empat kali enam sentimeter) sebanyak 2
(dua) lembar.
(4) Permohonan perpanjangan Lisensi K3 Teknisi,
Operator, dan/atau Juru Ikat {riggei) sebagaimana
dimaksud pada ayat (2) diajukan oleh Pengurus
dan/atau Pengusaha kepada Direktur Jenderal
dengan melampirkan:
a. asli Lisensi K3 yang akan diperpanjang;
b. surat keterangan sehat untuk bekerja dari dokter;
c. fotokopi kartu tanda penduduk;
d. fotokopi sertifikat kompetensi sesuai dengan jenis
dan kualifikasinya; dan
e. pas foto berwama ukuran 2x3 cm (dua kali tiga
sentimeter) sebanyak 3 (tiga) lembar dan ukuran
4x6 cm (empat kali enam sentimeter) sebanyak 2
(dua) lembar.
(5} Permohonan perpanjangan sebagaimana dimaksud
pada ayat (3) dan ayat (4) diajukan paling lambat 30
(tiga puluh) hari sebelum masa berlakunya berakhir.
Pasal 163
(1) Surat keputusan penunjukan, kartu tanda
kewenangan, dan Lisensi K3 hanya berlaku selama
yang bersangkutan bekeija di perusahaan yang
mengajukan permohonan.
(2) Dalam hal Operator, Teknisi, Juru Ikat {rigger), dan
Ahli K3 Bidang Pesawat Angkat dan Pesawat Angkut
pindah tempat bekeija sebelum berakhirnya masa
berlaku surat keputusan penunjukan, kartu tanda
kewenangan dan Lisensi K3 maka surat keputusan
penunjukan, kartu tanda kewenangan, dan Lisensi K3
dapat dilakukan perubahan melalui permohonan dari
perusahaan tempat Operator, Teknisi, Juru Ikat
[rigger), dan Ahli K3 Bidang Pesawat Angkat dan
Pesawat Angkut bekeija.