Sejarah dan Dinamika Kesejahteraan Sosial
Sejarah dan Dinamika Kesejahteraan Sosial
OLEH:
Kelompok 5
1. Septi Yuniartha [220910301049]
2. Cahdanti Nuriah A. [220910301068]
3. Armita Clarita S. [220910301084]
4. Nidia Fara Amelia [220910301115]
5. Moh. Fajar Vanani [220910301125]
6. Luqman Azhari R. [220910301131]
7. Adelia Eka R. [220910301139]
DOSEN PENGAMPU:
Ibu Dr. Kusuma Wulandari, M. Si.
1
DAFTAR ISI
SAMPUL....................................................................................................................................1
DAFTAR ISI..............................................................................................................................2
BAB I
PENDAHULUAN.....................................................................................................................4
1.1. Latar Belakang.............................................................................................................4
1.2. Tujuan..........................................................................................................................5
1.3. Manfaat........................................................................................................................5
1.3.1. Manfaat secara Teoritis........................................................................................5
1.3.2. Manfaat secara Praktis.........................................................................................5
1.4. Lingkup Pembahasan beserta Teori.............................................................................6
BAB II
PEMBAHASAN.......................................................................................................................8
2.1. Dasar-dasar Kesejahteraan Sosial: Dahulu dan Sekarang...............................................8
2.1.1. Definisi Kesejahteraan Sosial dan Hubungannya dengan Pekerjaan Sosial.............9
2.1.2. Pengertian Pekerjaan Sosial dan Kesejahteraan Sosial...........................................10
2.1.3. Basis Nilai Kesejahteraan Sosial.............................................................................10
2.2. Dinamika Perkembangan Kesejahteraan Sosial Di Inggris...........................................12
2.3. Dinamika Perkembangan Kesejahteraan Sosial di Amerika.........................................13
2.3.1. Mengubah Pola Setelah Revolusi............................................................................13
2.3.2. Merawat Kaum Miskin Kota...................................................................................14
2.3.3. Merawat Populasi Tertentu......................................................................................15
2.3.4. Kesepakatan Baru....................................................................................................17
2.4. Produk Kesejahteraan Sosial.........................................................................................18
2.4.1. Asuransi sosial.........................................................................................................18
2.4.2. Bantuan Publik........................................................................................................18
2.4.3. Program Layanan Kesehatan dan Kesejahteraan....................................................19
2.4.4. Respon Masyarakat Terhadap Reformasi Jaminan Sosial dan Kesejahteraan........19
2.4.5. Program Masyarakat Hebat.....................................................................................19
2.5. Konservatisme di Era Reformasi Jaminan Sosial dan Kesejahteraan...........................20
2.5.1. Konservatisme pada Pertengahan 1960-an dan Awal 1970-an...............................21
2.5.2. Pengurangan di Tahun Reagan dan Bush................................................................23
2
2.5.3. Tahun Clinton..........................................................................................................24
2.5.4. Tahun George W. Bush............................................................................................25
BAB III
PENUTUP...............................................................................................................................27
3.1. Kesimpulan....................................................................................................................27
REFERENSI...........................................................................................................................28
3
BAB I
PENDAHULUAN
1.2. Tujuan
Penyusunan paper ini didasarkan atas beberapa tujuan yang ingin dipenuhi,
diantaranya yaitu:
1) Memaparkan dasar-dasar kesejahteraan sosial dan pekerjaan sosial.
2) Mengidentifikasi dinamika perkembangan kesejahteraan sosial di Inggris
3) Mengidentifikasi dinamika perkembangan kesejahteraan sosial di Amerika.
4) Memaparkan ragam bentuk produk kesejahteraan sosial.
5) Memahami aksi konservatisme di era reformasi jaminan sosial dan kesejahteraan.
1.3. Manfaat
Melalui pembahasan dalam paper ini, penulis maupun pembaca dapat memetik
manfaat baik secara teoritis maupun praktis, sebagaimana berikut ini:
1.3.1. Manfaat secara Teoritis
Manfaat secara teoritis dapat diartikan sebagai manfaat pembuatan paper ini
dalam bidang keilmuan, beberapa manfaat secara teoritis ialah sebagai berikut:
1) Sebagai wawasan dan pengetahuan tambahan bagi penulis maupun
pembaca tentang dasar-dasar, rekam sejarah, dan pdinamika perkembangan
kesejhateraan sosial dan pekerjaan sosial dari masa ke masa.
2) Adanya pemaparan mengenai ragam produk kesejahteraan sosial dan
beberapa teknik intervensi dalam penanganan masalah sosial masyarakat
dapat menambah bekal ilmu bagi penulis maupun pembaca.
5
paper ini ialah sebagai berikut:
1) Melalui pemahaman pembahasan dari paper ini dapat menjadi sarana
berpikir kritis bagi penulis maupun pembaca tentang hakikat, nilai, dan
perumusan ragam kebijakan yang bisa diambil pemerintah dalam upaya
membentuk produk kesejahteraan sosial untuk masyarakat.
2) Beberapa teknik penyelesaian masalah yang dilakukan oleh para pekerja
sosial sebagaimana dalam sejarah perkembangan kesejahteraan sosial dari
tahun ke tahun dapat menjadi referensi bagi penulis dan pembaca untuk
diterapkan dalam prkatik intervensinya nanti.
7
BAB II
PEMBAHASAN
9
Dalam Ensiklopedia Pekerjaan Sosial, P. Nelson Reid (1995) mendefinisikan
kesejahteraan sosial sebagai berikut:
“Kesejahteraan sosial... mungkin paling baik dipahami sebagai sebuah gagasan, bahwa
gagasan itu menjadi salah satu masyarakat yang layak yang memberikan peluang untuk
pekerjaan dan makna manusia, memberikan keamanan yang wajar dari keinginan dan
penyerangan, mempromosikan keadilan dan evaluasi berdasarkan prestasi individu, dan
ekonomi produktif dan stabil”.
Gagasan kesejahteraan sosial didasarkan pada asumsi bahwa masyarakat manusia dapat
diatur dan diatur untuk menghasilkan dan menyediakan hal- hal ini, dan karena layak untuk
dilakukan, masyarakat memiliki kewajiban moral untuk mewujudkannya. (hal.2206)
Istilah kesejahteraan sosial, kemudian, mengacu pada berbagai kegiatan terorganisir
publik dan badan-badan sukarela yang berusaha untuk mencegah, meringankan, atau
memberikan kontribusi untuk memecahkan masalah sosial yang dipilih. Bagi sebagian orang
yang memandang kesejahteraan sosial secara luas-dari konsep bahwa masyarakat
mengumpulkan sumber dayanya untuk kesejahteraan umum dari semua-kesejahteraan sosial
meliputi fasilitas umum seperti perpustakaan, taman umum, dan rumah sakit. Lainnya
termasuk dukungan sosial untuk perusahaan, kadang-kadang disebut "kesejahteraan
perusahaan," atau investasi ekstensif yang dilakukan beberapa negara seperti Amerika Serikat
untuk bisnis selain investasi pada orang-orang yang membutuhkan.
10
perubahan dalam berbagai peran di tingkat negara bagian, nasional, dan global. Individu yang
terlibat dalam profesi bantuan lainnya bekerja sama dengan pekerja sosial dalam perubahan
terencana di semua tingkatan. Peran profesional pekerjaan sosial dan profesi pembantu
lainnya dalam sistem kesejahteraan sosial dibahas dalam bab 2.
11
mengonsepkan kesejahteraan sosial memiliki perspektif nilai yang berbeda. Beberapa fokus
pada apakah pandangan seseorang liberal atau konservatif, atau pada kontinum di antara
keduanya. Dari perspektif konservatif, individu bertanggung jawab untuk mengurus dirinya
sendiri, dengan sedikit atau tanpa campur tangan pemerintah. Perspektif ini menunjukkan
bahwa pemerintah harus menyediakan jaring pengaman hanya untuk mereka yang paling
membutuhkan. Dari perspektif liberal, pemerintah bertanggung jawab untuk memastikan
ketersediaan struktur sosial dan ekonomi, termasuk akses yang adil untuk mendukung mereka
yang tidak dapat memenuhi kebutuhan mereka sendiri Karger Stoesz, 2004. Perspektif lain
mengontraskan kesejahteraan sosial residual dan institusional. Perspektif sisa memandang
kesejahteraan sosial hanya melayani mereka yang paling banyak bermasalah atau paling
membutuhkan.
12
solusi, ia pun meminta solusi dari parlemen. Parlemen pun menanggapinya, dan akhirnya
mengesahkan undang undang miskin Elizabethan (elizabeth 43) pada tahun 1601. Undang-
Undang ini sangat penting, karena Undang-undang tersebut berusaha untuk mengubah
undang undang sebelumnya, serta menetapkan kebijakan nasional tentang orang miskin.
Elizabeth poor Law menggambarkan "kategori" bantuan sebuah praktik di pertahankan
dalam Undang-undang kesejahteraan sosial kita saat ini. Orang orang yang dianggap layak ini
adalah orang-orang yang menganggap kemiskinan tidak dipandang sebagai upaya untuk
mendapatkan bantuan mereka yang termasuk orang miskin yaitu orang lanjut usia yang sakit
kronis penyandang disabilitas dan anak-anak yatim piatu. Orang-orang miskin yang layak
biasanya ditempatkan di Almshouses (rumah miskin). Di sana mereka mendapatkan
perawatan minimal Pada masa itu praktik tersebut dinamakan Indo real life karena
memberikan layanan kepada orang-orang miskin di dalam institusi. Dalam beberapa kasus
pada anak-anak mereka ditempatkan dengan keluarga dan sering diminta untuk bekerja untuk
menjaga mereka.
13
2.3.1. Mengubah Pola Setelah Revolusi.
Diantara masa Revolusi Amerika dan perang saudara, beberapa pila kesejahteraan mulai
bermunculan. Semuanya terlihat konsisten dengan menggunakan prinsip dasar Elizabethan
Poor [Link] Doktrin gereja dan negara di Amerika, membuat hubungan antara
paroki dan kantor kesejahteraan lokal terputus.
Namun, pada kenyataanya ada beberapa bagian negara yang tetap mempertahankan
hubungan keagamaanya, dengan persyaratan bahwa setidaknya satu anggota dewan
kesejahteraan harus berlisensi "pengkhotbah " . Namun sayangnya pemerintah daerah enggan
menerima peran penjaga kesejahteraan dan lebih memilih mengikuti persyaratan
kependudukan yang kaku.
Sesuatu yang penting dalam periode ini yaitu, adanya pergeseran bantuan dalam ruangan
ke bantuan luar ruangan dengan memberikan bantuan uang tunai yang memungkinkan
individu atau kelompok untuk tetap tinggal di rumah mereka sendiripergerakan signifikan
yang lainya selama periode yaitu pergeseran kesejahteraan sektor publik ke sektor swasta,
atau yang biasa disebut dengan kesejahteraan sukarela. Oleh karena itu tanggung jawab untuk
kesejahteraan diserahkan kepada lembaga-lembaga amal daripada di serahkan kepada
pemerintah (publik)
Gerakan perubahan setelah revolusi dicirikan dengan penilaian terhadap pemerintah
sebagai penjaga kesejahteraan dan mengadopsi residensi yang kaku dalam upaya
kesejahteraan masayarakat. Oleh karenanya, diupayakan gerakan baru dalam upaya
menyejahterakan masyarakat melalui kegiatan bantuan luar ruangan. Bantuan luar ruangan
adalah pemberian bantuan berupa uang tunai kepada masyarakat yang memungkinkan
mereka untuk tetap bisa tinggal di rumah mereka sendiri. Bantuan luar ruangan lebih efektif
dan adaptif diterapkan pada era gejolak ekonomi pada abad ke-19 karena selain
menggunakan uang tunai dalam wujud pemberian bantuan masyarakat, juga diberikan
bantuan berupa bantuan kerja maupun barang (sembako, dll). Selain itu, keberadaan konsep
‘kesejahteraan sukarela’ juga dibentuk pada masa peralihan ini. Kesejahteraan sukarela dapat
dipahami sebagai pergeseran dari kesejahteraan sektor public ke sektor swasta, dengan
maksud lain tanggung jawab dalam melakukan upaya kesejahteraan masyarakat dialihkan
dari sektor publik kepada lembaga-lembaga amal. Hal ini menimbulkan gerakan program
kesejahteraan sosial masyarakat yang lebih mandiri disetiap lembaga amal.
14
ketidakberhasilan upaya pengentasan kemiskinan pada pengungsi melalui upaya pertama,
maka upaya almshouse menjadi alternative kedua. Upaya almshouse dianggap lebih efektif
karena fokus utama penerapannya ditujukan pada mereka yang telah mengalami kemiskinan
kronis melalui bantuan luar ruangan (bantuan berupa uang tunai) sebagai cara yang paling
efektif dalam mengatasi kemiskinan.
Sebagai upaya menangani masalah kemiskinan di masyarakat, mulai didirikan
beragam organisasi sebagai lembaga pengentasan kemiskinan masyarakat. Seperti halnya
dengan kemunculan New York Society for the Prevention of Pauperism sebagai organisasi
formal pertama yang didirikan pada tahun 1817 dengan tujuan utama untuk mengentas
kondisi kemiskinan pada masyarakat. Sebagaimana yang dituturkan oleh Axinn dan Stern
(2004) bahwa dalam jalannya organisasi ini dikoordinir oleh Thomas Chalmers asal Inggris
yang membagi kota menjadi distrik dengan menugaskan para ‘pengunjung yang ramah’ untuk
bekerja disetiap distrik guna mengidentifikasi, menilai, dan menanggapi hal-hal apa saja yang
menjadi kebutuhan orang miskin. Kemudian disusul dengan berdirinya Association for
Improving the Condition of the Poor didirikan di Kota New York pada tahun 1843. Asosiasi
ini didirikan dengan tujuan untuk mengoordinasikanupaya bantuan yang ditujukan untuk para
pengangguran. Salah satu teknik penanganan masalah kemiskinan pada masyarakat yang
dikenalkan oleh asosiasi ini ialah adanya persyaratan bahwa bantuan yang diberikan tidak
dapat diberikan sampai kebutuhan individu dinilai. Sehingga lembaga yang memberikan
bantuan dapat melaksanakan prinsip tersebut secara lebih efektif. Akhirnya, penggunaan
persyaratan tersebut masih digunakan oleh para pekerja sosial hingga saat ini. Adapun
organisasi lain yang dianggap lebih efektif dijalankan untuk mengentas kondisi kemiskinan
adalah Charity Organization Society (COS) yang didirikan di Buffalo, New York. Charity
Organization Society (COS) merupakan organisasi swasta yang didirikan oleh warga kaya
yang menganut etos kerja, namun mereka memiliki simpati dan empati kepada orang miskin.
COS dijalankan dengan menanamkan efisiensi dan ekonomi dalam program-program yang
dibuat untuk melayani orang miskin, serta mengatur amal dalam upaya mencegah duplikasi
layanan dan mengurangi ketergantungan masyarakat miskin kepada lembaga amal. COS juga
menekankan perlunya menilai kondisi orang miskin dengan melibatkan ‘pengunjung yang
ramah’ dengan klien (orang miskin) sebagai upaya membimbing, merehabilitasi, dan
membantu mempersiapkan kemandirian. Sebab organisasi COS menaruh sedikit simpati
kepada pengemis kronis yang dinilai hanya gelandangan yang butus asa, oleh karenanya COS
mengupayakan adanya kemandirian untuk klien.
15
mengelilingi Amerika Serikat guna melakukan pengamatan atas perawatan yang diberikan
oleh lembaga-lembaga swasta kepada orang-orang dengan masalah kejiawaan. Dix berupaya
meyakinkan Presiden Franklin Pierce agar segera mengalokasikan dan ahibah federal dan
tanah untuk mendirikan lembaga formal yang berfokus pada pelayanan dan perawatan
individu dengan gangguan penyakit kejiwaan. Meskipun upaya tersebut tidak mendapatkan
gerakan yang baik dari pemerintah, namun sepanjang pertengahan hingga akhir tahun 1800-
an, Dix mampu meningkatkan kesadaran publik tentang adanya masalah orang yang
mengalami penyakit mental atau gangguan kejiwaan. Kemudian dimasa akhir abad ke-19,
jalannya kegiatan dalam lembaga amal mulai menjadi fokus awasan pemerintah pusat.
Pemerintah mengupayakan adanya peningkatan kualitas badan amal tersebut agar fokus
dalam menanggulangi masalah kemiskinan (Day, 2005).
Kuota kemiskinan di Amerika Serikat semakin bertambah seiring dengan adanya
imigrasi masyarakat asal Eropa Selatan diakhir tahun 1800-an dan awal tahun 1900-an.
Kondisi masyarakat imigran ini menambah beban pengangguran, tunawisma, dan kemiskinan
di daerah pinggiran Amerika Serikat. Mengetahui permasalahan ini, seorang pekerja sosial
bernama Jane Addams mulai melakukan pergerakan dengan menciptakan gerakan rumah
permukiman guna menyediakan kehidupan yang lebih baik bagi para imigran. Gerakan
rumah permukiman atau Hull House ini didirikan oleh Addams pada tahun 1869 di daerah
Chicago. Rutinitas yang dikembangkan dalam gerakan rumah permukiman buata Addams ini
berupaya menangani masalah kekurangan perumahan, adanya upah rendah yang diterima
imigran, mengurangi kuota dan resiko pekerjaan yang memanfaatkan tenaga anak, masalah
kenakalan remaja, dan penyakit baik penyakit fisik maupun sosial.
Terdapat perbedaan prinsip dari penerapan Charity Organization Society (COS)
dengan program Gerakan Rumah Permukiman dalam menangani masalah kemiskinan
masyarakat imigran. Gerakan Charity Organization Society (COS) mengenut prinsip
Darwinisme sosial sebagai landasan teoritisnya yang dipercaya dapat membantu mengatasi
kemiskinan, dan proses penyelesaian masalah kemiskinan melalui gerakan Charity
Organization Society (COS) dikenal dengan istilah “amal ilmiah”. Selaras dengan pernyataan
Axinn dan Stern (2004) bahwa, Charity Organization Society (COS) berfokus pada aksi
membantu orang dengan masalah kemiskinan untuk menemukan keselamatan sosial dan
ekonomi melalui perolehan pekerjaan yang layak. Yang mana dengan keberadaan gerakan
Charity Organization Society (COS) menjadi cikal bakal munculnya pekerjaan sosial klinis
yang berkonsentrasi pada individu dan keluarga, metode ilmiah yang digunakan untuk
menentukan kebutuhan, dan pelatihan khusus sebagai agen penyedia layanan sosial.
Sementara itu, Gerakan Permukiman Rumah memiliki prinsip bahwa, klien rumah
permukiman dipandang sebagai individu yang mampu dan normal. Dengan kata lain, tidak
ada upaya memisahkan orang miskin yang layak dengan orang miskin yang tidak layak. Akan
tetapi, fokus kegiatan gerakan rumah permukiman lebih kepada penyediaan layanan
lingkungan dan pengembangan masyarakat. Sebagaimana pendapat Axinn dan Stern (2004)
bahwa, misi utama gerakan permukiman rumah ialah untuk mencapai reformasi sosial.
Reformasi sosial yang ingin dicapai ini dilakukan dengan menerapkan metode holistik
melalui penggabungan filosofi pencapaian individu dan hubungan sosial yang memuaskan.
Kemunculan gerakan rumah permukiman ini mengawali munculnya pekerjaan sosial non-
klinis dengan berfokus pada individu sebagai bagian dari komunitas, penilaian kebutuhan
16
sosial, pengorganisasian komunitas, reformasi sosial dan aksi politik, memahami dan
menghargai kekuatan keragaman budaya, dan penelitian pada masyarakat (Axinn dan Stern,
2004).
Meskipun terdapat perbedaan prinsip antara Charity Organization Society (COS)
dengan gerakan rumah permukiman, namun keduanya tetap menjadi warna bagi sejarah
praktik pekerjaan sosial di masa kontemporer. Serta keduanya menjadi sebab kemunculan
pekerjaan sosial klinis (berakar dari Charity Organization Society (COS)) dan pekerjaan
sosial non-klinis (bersumber pada gerakan rumah permukiman).
Masalah kebijakan kesejahteraan social lainnya yang diperdebatkan pada tahun 1800-
an dan masih diperdebatkan hingga saat ini adalah apakah layanan kesejahteraan social harus
disediakan oleh publik atau swasta. Selama tahun 1800-an, parameter program kesejahteraan
public versus swasta didefinisikan lebih jelas. Kesejahteraan public mengandalkan
perpajakan sebagi pendanaan sedangkan kesejahteran swasta didanai melalui kontribusi
sukarela dari individu atau organisasi filantropis. Tidak ada batasan yang jelas yang
menentukan jenis manfaat yang akan ditawarkan oleh lembaga publik atau swasta. Sebagai
hasilnya, layanan sering tumpeng tindih. Instasi publik dan swasta sama-sama menyediakan
banyak sekali layanan sepanjang tahun 1800-an hingga 1900-an. Setelah Perang Dunia I,
bangsa ini memasuki periode perubahan sosial dan kemakmuran yang signifikan. Suasana ini
tiba-tiba berakhir pada tahun 1929 dengan penurunan ekonomi yang menyebabkan depresi
hebat. Dalam waktu singkat, kondisi menjadi parah. Tabungan habis karena bank runtuh dan
bisnis gagal, dan sebagian besar penduduk Amerika tidak punya uang, tunawisma, dan tanpa
sumber daya karena pengangguran. Ketika pekerjaan menjadi langka, para pengangguran
tidak punya tempat untuk berpaling. Pesimisme dan keputusasaan merajalela, dan banyak
yang merasa putus asa. Asuransi pengangguran tidak ada, dan tidak ada jaminan federal
untuk uang yang hilang dalam kegagalan bank. Bencana ekomoni mengakibatkan kekacauan
yang belum pernah dialami sebelumnya di tanah Amerika.
17
tempat tinggal bagi para tunawisma dan pengungsi. Dalam hubungan kerja sama pemerintah
federal menyediakan uang untuk mengelola program bantuan. Negara bertanggung jawab
untuk mendirikan badan-badan dan juga diminta untuk menyumbangkan dana negara jika
memungkinkan untuk memperluas basis sumber daya yang tersedia. Hal ini menjadi “hibah
pendamping” yang kemudian menjadi persyaratan integral dari program bantuan publik.
Undang-Undang Darurat federal tambahan diberlakukan untuk menyediakan pekerjaan
publik bagi mereka yang kehilangan pekerjaan. Works Progress Administration (WPA), dibuat
pada tahun 1935 untuk menyediakan pekerjaan pelayanan publik, akhirnya mempekerjakan
sekitar 8 juta pekerja selama masa depresi. Selain itu banyak sekolah umum, jalan, taman,
gedung kantor pos, gedung perguruan tinggi negeri, dan proyek publik terkait dibangun di
bawah naungan WPA.
Program pemuda juga didirikan seperti Civilian Conservation Corps (CCC) yang
dirancang untuk melindungi sumber daya alam dan untuk meningkatkan serta
mengembangkan sumber daya publik. Pekerja CCC meningkatkan dan mengembangkan
banyak taman nasional. Administrasi Kepemudaan Nasional (NYA), juga didirikan di bawah
WPA, memberikan bantuan studi kerja kepada pemuda sekolah menengah dan perguruan
tinggi sebagai insentif untuk tetap bersekolah. Selain itu, NYA menyediakan pekerjaan paruh
waktu bagi siswa putus sekolah untuk mempelajari keterampilan kerja dan meningkatkan
kemampuan kerja mereka (Axinn & Stern, 2004). Selain itu, program FERA memberikan
pinjaman berbunga rendah kepada petani dan pelaku usaha kecil. Program-program ini
memungkinkan kegiatan tersebut bertahan dan menjadi sumber lapangan kerja bagi para
pengangguran.
Perundang-undangan New Deal menawarkan solusi sementara untuk krisis yang
ditimbulkan oleh Great Depression. Pengangguran mendapatkan pekerjaan, yang lapar diberi
makan, dan tunawisma mendapat tempat tinggal. Mungkin yang lebih penting, bangsa
merasakan dampak penuh dari perubahan sistem. Masalah menyalahkan kemiskinan pada
kemalasan dan kemalasan dihentikan setidaknya untuk sementara.
18
pemberi kerja, dan kelayakan didasarkan pada partisipasi yang diperoleh melalui pekerjaan.
2. Asuransi Pengangguran, dimana pemberi kerja memberikan kontribusi dana, dengan
tujuan memberikan jaminan sumber pendapatan bagi pekerja yang kehilangan pekerjaannya.
Tunjangan yang diperoleh dari program-program ini dianggap sebagai hak karena
penerima dan majikan mereka telah membayar "premi untuk tunjangan yang akan mereka
terima.
19
dilembagakan untuk penerima bantuan publik. Kategori bantuan ADC didefinisikan ulang
sebagai Aid to Families with Dependent Children (AFDC), dan ketentuan AFDC-
Unemployed Parent (AFDC-UP) ditambahkan sehingga negara bagian dapat membantu
keluarga dalam keadaan terbatas ketika laki-laki menganggur yang dapat dipekerjakan berada
di dalam rumah.
20
selalu dipengaruhi oleh iklim politik. Karena sumber daya dan perhatian pemerintah
dialihkan ke Perang Vietnam, “perang” domestik segera diabaikan dan akhirnya dihentikan.
21
standar hidup tertinggi di dunia, diyakini bahwa momok kemiskinan dapat dihilangkan
selamanya. Eufemisme “perang melawan kemiskinan” dipilih untuk menggalang penduduk
pada komitmen skala penuh untuk mengatasi musuh-kemiskinan. Pendukung aksi sosial
menemukan iklim yang dihasilkan oleh Undang-Undang Peluang Ekonomi mendukung
upaya mereka. Itu adalah masa kejayaan perluasan program sosial, dengan pengeluaran yang
seringkali melebihi perencanaan. Tetapi legislasi sosial selalu dipengaruhi oleh iklim politik.
Karena sumber daya dan perhatian pemerintah dialihkan ke Perang Vietnam, “perang”
domestik segera diabaikan dan akhirnya dihentikan.
22
terkait pekerjaan tertentu untuk terus menerima tunjangan kesejahteraan mereka. Harapannya
adalah kegiatan itu, seperti pelatihan kerja. Pembinaan, dan pengalaman kerja baik sebagai
sukarelawan atau dengan bayaran terbatas, akan meningkatkan prospek pekerjaan dan retensi
setelah seseorang dipekerjakan, yang mengarah pada pengurangan daftar kesejahteraan.
Meskipun banyak variasi “biaya kerja” telah dicoba dalam beberapa tahun terakhir, hanya
sedikit yang bekerja dengan baik karena pekerjaan penuh waktu yang membayar upah layak
dan tunjangan perawatan kesehatan sedikit dan jarang, bahkan jika penerima menyelesaikan
semua program terkait pekerjaan yang dibutuhkan. Meskipun banyak perwakilan kongres dan
konstituen mereka menyukai undang-undang yang diusulkan, itu tidak lulus karena tingkat
kebutuhan yang ditentukan jauh di bawah tingkat manfaat yang sudah ada di negara bagian
dengan bayaran lebih tinggi tetapi lebih tinggi daripada manfaat di lebih dari setengah negara.
Pada ketidakcukupan sistem yang ada. Masing-masing dari empat daerah pemilihan telah
memulai upaya reformasi kesejahteraan, dan setiap daerah pemilihan telah gagal mencapai
reformasinya, sebagian besar karena penentangan yang lain. Masalah yang telah menarik
perhatian pada dekade-dekade sebelumnya tetap ada. Biaya kesejahteraan yang berkembang
pesat di tahun-tahun Presiden Richard Nixon dan Gerald Ford, disandingkan dengan
kemiskinan yang sulit diselesaikan, membuat reformasi kesejahteraan menjadi kebutuhan
yang mendesak tetapi tidak menyenangkan.
Reformasi kesejahteraan terus menjadi isu selama pemerintahan Carter, yang
mengusulkan agar $8,8 miliar dialokasikan untuk menciptakan sebanyak 1,4 juta pekerjaan
pelayanan publik. Diharapkan bahwa 2 juta orang akan memegang pekerjaan tersebut pada
tahun tertentu, karena individu diproses melalui pekerjaan ini menuju pekerjaan tetap.
Menurut proposal, sebagian besar pekerjaan akan membayar upah minimum dan menjadi
pekerjaan penuh waktu, setahun penuh, menghasilkan pendapatan tahunan sebesar $6.600.
Selain itu, keluarga akan menerima tambahan penghasilan yang disesuaikan dengan ukuran
keluarga. Pekerjaan tidak akan memenuhi syarat untuk mendapatkan kredit pajak pendapatan
(kredit pajak pendapatan federal yang dapat dikembalikan untuk individu dan keluarga yang
berpenghasilan rendah; jika kredit pajak melebihi jumlah pajak terutang, orang yang
memenuhi syarat yang mengajukan klaim pajak pendapatan menerima pengembalian dana
untuk selisihnya).
Seorang pekerja akan selalu memiliki insentif pendapatan untuk berpindah dari pekerjaan
publik ke pekerjaan tetap di sektor publik atau swasta. Mereka yang memenuhi syarat untuk
pekerjaan itu adalah orang dewasa-satu per keluarga-dalam komponen "diharapkan untuk
bekerja" dari bagian kedua dari program yang tidak dapat menemukan pekerjaan dalam
ekonomi reguler. Pekerjaan ini bukan untuk menggantikan pekerjaan publik yang sudah
mapan, yang menghilangkan keberatan serikat pekerja terhadap rencana tersebut. Akan tetapi,
usulan Carter tidak diadopsi, dan perdebatan tentang cara paling efektif untuk merombak
sistem kesejahteraan terus berlanjut.
23
ekonomi. Inflasi yang meningkat dianggap sebagai hasil dari pengeluaran domestik federal.
Keadaan ekonomi AS yang genting dianggap sebagai pekerjaan kaum progresif sosial yang
telah merekayasa perluasan program kesejahteraan dan, akibatnya, menyebabkan ekonomi
goyah.
Banyak program dukungan sosial dikurangi secara dramatis atau dihilangkan.
Sebagai bagian dari pesan Kenegaraannya pada tahun 1982, Presiden Reagan
mengusulkan versinya tentang reformasi kesejahteraan, "Federalisme Baru". Bagian
tengahnya adalah rencana di mana negara bagian akan memikul tanggung jawab keuangan
dan administrasi untuk kupon makanan dan AFDC sementara pemerintah federal akan
memikul tanggung jawab atas program Medicaid. Reformasi ini dijuluki "pertukaran
kesejahteraan". Rencana tersebut mengalami sejumlah variasi sebelum pemerintah
membatalkannya karena secara politis tidak layak. Menyusul pemilihannya kembali pada
tahun 1984, Presiden Reagan kembali mendorong untuk membentuk kembali tanggung jawab
kesejahteraan di antara berbagai lapisan pemerintahan. Satuan tugas kepresidenan dibentuk.
menunjuk, yaitu mengeluarkan laporannya setelah pemilihan kongres pada tahun 1986.
Pemilihan tersebut mengakibatkan kekalahan telak bagi Demokrat, dan tanggung jawab
untuk reformasi kesejahteraan beralih dari Gedung Putih ke Capitol Hill.
Pemerintahan Presiden George H. W. Bush terus dipengaruhi oleh pandangan konservatif
tentang kesejahteraan. Ketika Perang Dingin berakhir, kaum progresif berharap bahwa uang
yang dialokasikan untuk pembelanjaan pertahanan akan diarahkan untuk program domestik.
Sementara itu, biaya kesejahteraan terus meningkat. Pada tahun 1988, Kongres Demokrat
mengesahkan Undang-Undang Dukungan Keluarga, dipuji oleh para pendukung reformasi
kesejahteraan sebagai bagian paling penting dari undang-undang domestik yang diberlakukan
sejak Undang-Undang Jaminan Sosial pada tahun 1935. Undang-undang Dukungan Keluarga
mengamanatkan bahwa negara menyediakan kesempatan kerja dan program keterampilan
dasar (JOBS) untuk sebagian besar penerima AFDC (beberapa, seperti mereka yang memiliki
anak yang sangat muda dan mereka yang memiliki masalah kesehatan, dibebaskan dari
partisipasi).
Undang- undang tersebut juga memberikan Medicaid (perawatan kesehatan) dan
perawatan anak selama 12 bulan setelah penerima mendapatkan pekerjaan, untuk
memudahkan transisi dari kesejahteraan ke pekerjaan tanpa kehilangan pendapatan. Undang-
undang tersebut juga mengamanatkan bahwa negara bagian memberikan tunjangan AFDC-
UP untuk waktu yang terbatas kepada keluarga dengan laki- laki yang sebelumnya bekerja
yang tidak dapat menemukan pekerjaan. Undang- undang tersebut lebih lanjut membutuhkan
penegakan yang lebih kuat atas pembayaran tunjangan anak oleh orang tua yang tidak hadir.
Negara tidak diharuskan untuk menerapkan beberapa bagian dari undang- undang tersebut
sampai tahun 1992.
Undang- Undang Dukungan Keluarga tidak pernah terwujud sebagai bagian utama dari
undang- undang reformasi kesejahteraan. Pemerintah federal menghabiskan banyak waktu
untuk menerbitkan peraturan yang mengatur undang- undang tersebut, dan dana untuk
programnya tidak memadai. Pekerjaan yang membayar upah layak untuk mantan penerima
kesejahteraan gagal terwujud. Upaya untuk memobilisasi sektor swasta untuk mendukung
program terbukti lebih sulit dari yang diperkirakan. Singkatnya, program itu pasti akan gagal
bahkan sebelum di luncurkan.
24
2.5.3. Tahun Clinton
Pada tahun 1992, lanskap politik reformasi kesejahteraan telah bergeser lagi. Bill
Clinton, calon presiden dari Partai Demokrat, adalah seorang "Demokrat Baru" yang berperan
penting, sebagai gubernur Arkansas, dalam mendukung Undang- Undang Dukungan
Keluarga tahun 1988. Clinton mencari peran yang lebih luas bagi negara bagian dalam
rancangan program kesejahteraan federal. Lebih penting lagi, sebagai seorang "sentris
politik", dia bertujuan untuk menjauhkan diri dari "reformasi Demokratik liberal" yang juga
berperan penting dalam meloloskan undang- undang tahun 1988. Clinton berjanji untuk
"mengakhiri kesejahteraan seperti yang kita ketahui." Tujuan reformasi adalah menjadikan
kesejahteraan sebagai "kesempatan kedua, bukan cara hidup" (Clinton, 1997). Landasan
agenda reformasi Clinton digambarkan sebagai kesiapan kerja, tanggung jawab orang tua,
dan kebijaksanaan negara.
Pembuat undang- undang di semua tingkat pemerintahan dan dari kedua belah pihak
sekarang menuntut agar penerima kesejahteraan diminta untuk mengambil lebih banyak
tanggung jawab untuk mengakhiri, atau setidaknya mengurangi, ketergantungan mereka pada
dukungan publik. Desakan untuk perubahan adalah didorong oleh pergeseran signifikan ke
kanan dalam mood publik dan upaya yang jauh lebih besar untuk mengurangi defisit federal.
Partai Republik memenangkan kedua majelis Kongres dalam pemilihan nasional 1994.
Berbagai koalisi dan masing- masing anggota Kongres memperkenalkan banyak langkah
reformasi dalam sesi kongres ke-104. Hampir semua langkah reformasi mengusulkan
pembatasan masa tinggal kesejahteraan, membatasi hak atas kesejahteraan ibu yang belum
menikah di bawah usia 18 tahun, dan memberlakukan persyaratan kerja yang jauh lebih ketat.
Mungkin yang paling meresahkan anggota komunitas pekerjaan sosial adalah upaya untuk
mengakhiri AFDC sebagai program hak pemerintah nasional.
Undang-undang reformasi kesejahteraan penting yang disahkan pada tahun 1996
melakukan hal itu. Di bawah Undang- Undang Tanggung Jawab Pribadi dan Peluang Kerja
tahun 1996, setiap negara bagian ditugaskan untuk mengelola berbagai program bantuan,
termasuk AFDC, dengan perubahan nama menjadi Bantuan Sementara untuk Keluarga yang
Membutuhkan (TANF), atas arahan badan legislatif negara bagian dengan peraturan federal
minimal. pedoman dan pendanaan federal timbal balik. Dorongan dari langkah- langkah
reformasi adalah untuk memindahkan penerima dari daftar kesejahteraan dan menuju
swasembada dengan terlibat dalam pekerjaan, pelatihan kerja, atau program pendidikan yang
dirancang untuk memungkinkan mereka mengembangkan keterampilan yang penting untuk
pekerjaan.
Namun, banyak negara bagian menerapkan program "bekerja dulu", memindahkan
penerima ke pekerjaan tanpa pelatihan. Meskipun program- program ini mengurangi
gulungan kesejahteraan karena ekonomi kuat. sebagian besar penerima yang pindah dari
TANF memasuki pekerjaan "buntu", dengan upah minimum tanpa perawatan kesehatan atau
tunjangan lainnya. Penerima diizinkan maksimal 2 tahun untuk mencari pekerjaan. Mereka
yang gagal melakukannya menghadapi pengurangan yang signifikan atau penghentian
tunjangan mereka. Pendekatan ini menganggap bahwa persyaratan kerja wajib akan
mengurangi, jika tidak menghilangkan, ketergantungan pada tunjangan kesejahteraan.
25
2.5.4. Tahun George W. Bush
Ketika menjadi Presiden Amerika Serikat pada tahun 2000, George W. Bush
mengantarkan era baru. Bill Calton berargumen bahwa pemerintah tidak dapat menyelesaikan
setiap masalah, tetapi dapat mendorong orang tua dan masyarakat untuk membantu diri
mereka sendiri dan membantu satu sama lain. Menurutnya jenis Welas Asih yang paling sejati
adalah membantu warga dengan membangun kehidupan mereka sendiri, Bill calton juga
menyebutkan bahwa filosofi dan pendekatannya sebagai konservatisme Welas Asih yaitu
secara aktif membantu sesama warga yang membutuhkan namun konservatif untuk menuntut
tanggung jawab dan hasil.
Kampanye bush tentang konservatisme welas Asih beresonansi dengan dengan baik,
Banyak orang Amerika yang sangat terpengaruhi oleh retorika anti kesejahteraan pada akhir
1990-an. tetapi, mereka juga percaya pada kebutuhan untuk menjaga dan membantu mereka
yang kurang beruntung. Prinsip konservatisme Welas Asih mencerminkan prinsip-prinsip
Kesejahteraan Sosial Amerika kolonial. Seperti intervensi pemerintah yang terbatas,
tanggung jawab pribadi, nilai-nilai keluarga, dan peran komunitas agama untuk menangani
kebutuhan kesejahteraan sosial masyarakat dan rakyat. Beberapa penentang gagasan tersebut
berpendapat bahwa konservatisme welas Asih memiliki kedok yang disamarkan dengan hati-
hati guna pendekatan yang jauh lebih menghukum untuk mengatasi kebutuhan kesehatan
sosial negara. hal ini didorong oleh beberapa elemen, yaitu agama konservatif, puritanisme
baru, dan kepentingan negara. Namun tiba-tiba pada bulan September 2001 pencarian
kebenaran tersebut terputus dikarenakan adanya serangan teroris di Amerika dan perang di
Irak.
Dengan kemerosotan ekonomi dalam beberapa tahun terakhir, dana-dana yang
dicurahkan untuk perang Irak semakin meningkat pada tahun 2007. Prioritas pengeluaran
negara menjadi pertahanan, prioritas negara menjadi pendidikan publik anak usia sekolah,
dan prioritas lokal telah menjadi keselamatan publik. Tidak diragukan lagi paradigma
kesejahteraan sosial di Amerika Serikat telah bergeser, baik atau buruknya tergantung pada
perspektif seseorang. Dengan pergeseran tersebut paradigma lama sudah tidak lagi relevan,
hal ini membuat tantangan nyata bagi Pekerja Sosial yaitu bagaimana mengakui perubahan
sambil mempertahankan sistem nilai yang menjadi dasar profesi dan memastikan bahwa
sistem layanan dasar itu tersedia.
Pemerintahan Bill Clinton dan George W. Bush membuat kesimpulan bahwa,
Undang-Undang Reformasi tentang kesejahteraan Amerika Serikat dikatakan sukses karena
mampu mencapai target yang diharapkan seperti, pengurangan daftar kesejahteraan dan
pengeluaran untuk program-program kesejahteraan. Keberhasilan target nampak pada adanya
penurunan daftar kesejahteraan yang lebih dari 50% dibeberapa negara bagian, bahkan
disebagian negara lain mencapai angka penurunan sekitar 80% hingga 85%. Namun,
disamping keberhasilannya dalam mencapai target yang diharapkan untuk mengurangi daftar
kesejahteraan masih terdapat kelompok miskin pinggiran kota yang bergelut dengan
kesusahannya. Meskipun mereka telah mendapatkan pekerjaan, tapi nyatanya pendapatan
yang diterima tidak membuat kondisi ekonominya menjadi lebih baik. Keluarga-keluarga
miskin pinggiran kota ini tidak mendapatkan bantuan dari pemerintah karena tidak memenuhi
26
persyaratan untuk menjadi sasaran bantuan pemerintah. Sehingga mereka tidak mampu
keluar dari kondisi kemiskinan. Maka akhirnya, anak-anak dari keluarga miskin itulah yang
menjadi harapan keluarga agar mampu mentas dari kondisi kemiskinan ketaraf hidup yang
lebih sejahtera.
Disamping masalah kemiskinan keluarga-keluarga pinggiran kota yang tak kunjung
menemukan ujung penyelesaian, terdapat masalah kesejahteraan kontroversional lainnya
berupa sulitnya mencapai solvabilitas sistem janiman sosial negara yang stabil, bertambahnya
populasi tunawisma, kurangnya ruang penitipan anak yang terjangkau bagi masyarakat
miskin, dan masalah jutaaan keluarga miskin yang tidak memiliki jaminan atau asuransi
kesehatan yang memadai. Hingga akhirnya, badai Katrina dan Rita yang menghancurkan
New Orleans dan sekiatr bagian selatannya ditahun 2005 menjadi titik munculnya perhatian
yang mendalam terhadap korelasi kondisi kemiskinan dengan ras. Akan tetapi, bukannya
melakukan identifikasi lebih lanjut mengenai masalah tersebut, masalah kesejahteraan sosial
semakin tidak stabil karena tidak adanya koordinasi yang efektif dalam proses penanganan
masalah tersebut. Masalah domestik lainnya seperti adanya kebijakan luar negeri yang makin
tidak stabil dan adanya perang global melawan terorisme guna mencapai perdamaian di
Timur Tengah menjadi distraksi dalam penyelesaian masalah kemiskinan. Oleh karenanya,
semakin lama masalah sosial domestic tidak segera mendapatkan penyelesaian, maka pekerja
sosial akan semakin sulit untuk menemukan aksi-aksi intervensi yang tepat dalam
menanganinya.
BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Dinamika perkembangan kesejahteraan sosial dari dulu hingga sekarang dihiasi
27
dengan ragam problematika sosial masyarakat. Disinilah peran pekerja sosial
mendominasi upaya intervensi masalah-masalah sosial yang dihadapi oleh masyarakat.
Ragam teknik intervensi dilakukan demi membebaskan masyarakat dari belenggu
permasalahan sosialnya, seperti melalui program Charity Organization Society (COS),
program rumah permukiman, dan lain sebaagainya. Peran pemerintah juga turut andil
dalam upaya menyejahterakan masyarakat dengan ragam produk kesejahteraan sosial
yang dibuat (asuransi sosial, bantuan public, layanan kesehatan, dan lain sebagainya) dan
melalui kebijakan Undang-Undang yang ditulis guna memberikan kepastian pada
masyarakat tentang kesejahteraannya. Meskipun mendapatkan respon yang berbeda dari
masyarakat, akan tetapi dengan pemberian jaminan sosial maupun kepastian tertulis,
serta bantuan langsung dengan adanya peran pekerja sosial sudah mampu menjadi
pergerakan koordinasi pemerintah dengan pekerja sosial dalam upaya mewujudkan
masyarakat sejahtera di dalam negara yang sejahtera.
REFERENSI
Ambrosino Rosalie, dkk. (2008). Social Work and Social Welfare: An Introduction, Sixth
Edition. USA: Thoms Brooks/Cole.
Undang-undang Republik Indonesia No. 11 Tahun 2009 Tentang Kesejahteraan Sosial.
28
[Link]
diakses 28 Maret 2023.
29