0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
27 tayangan29 halaman

Sejarah dan Dinamika Kesejahteraan Sosial

BAB I memberikan latar belakang bahwa kesejahteraan sosial dan pekerjaan sosial saling berkaitan dalam menciptakan kondisi masyarakat yang sejahtera. Pembahasan mencakup sejarah upaya pemerintah dan pekerja sosial dalam menangani masalah sosial serta produk-produk kesejahteraan sosial yang dikembangkan. Tujuan paper ini adalah membuka pemahaman tentang perkembangan kesejahteraan sosial dari masa

Diunggah oleh

Nidia Fara
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
27 tayangan29 halaman

Sejarah dan Dinamika Kesejahteraan Sosial

BAB I memberikan latar belakang bahwa kesejahteraan sosial dan pekerjaan sosial saling berkaitan dalam menciptakan kondisi masyarakat yang sejahtera. Pembahasan mencakup sejarah upaya pemerintah dan pekerja sosial dalam menangani masalah sosial serta produk-produk kesejahteraan sosial yang dikembangkan. Tujuan paper ini adalah membuka pemahaman tentang perkembangan kesejahteraan sosial dari masa

Diunggah oleh

Nidia Fara
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

KESEJAHTERAAN SOSIAL: DULU DAN SEKARANG

SOCIAL WELFARE: PAST AND PRESENT (CHAPTER 1)


Diajukan untuk Memenuhi Tugas Kelompok Mata Kuliah Metode Assesment Kelas D2

OLEH:
Kelompok 5
1. Septi Yuniartha [220910301049]
2. Cahdanti Nuriah A. [220910301068]
3. Armita Clarita S. [220910301084]
4. Nidia Fara Amelia [220910301115]
5. Moh. Fajar Vanani [220910301125]
6. Luqman Azhari R. [220910301131]
7. Adelia Eka R. [220910301139]

DOSEN PENGAMPU:
Ibu Dr. Kusuma Wulandari, M. Si.

PROGRAM STUDI S-1 ILMU KESEJAHTERAAN SOSIAL


FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS JEMBER
2022/2023

1
DAFTAR ISI

SAMPUL....................................................................................................................................1
DAFTAR ISI..............................................................................................................................2
BAB I
PENDAHULUAN.....................................................................................................................4
1.1. Latar Belakang.............................................................................................................4
1.2. Tujuan..........................................................................................................................5
1.3. Manfaat........................................................................................................................5
1.3.1. Manfaat secara Teoritis........................................................................................5
1.3.2. Manfaat secara Praktis.........................................................................................5
1.4. Lingkup Pembahasan beserta Teori.............................................................................6
BAB II
PEMBAHASAN.......................................................................................................................8
2.1. Dasar-dasar Kesejahteraan Sosial: Dahulu dan Sekarang...............................................8
2.1.1. Definisi Kesejahteraan Sosial dan Hubungannya dengan Pekerjaan Sosial.............9
2.1.2. Pengertian Pekerjaan Sosial dan Kesejahteraan Sosial...........................................10
2.1.3. Basis Nilai Kesejahteraan Sosial.............................................................................10
2.2. Dinamika Perkembangan Kesejahteraan Sosial Di Inggris...........................................12
2.3. Dinamika Perkembangan Kesejahteraan Sosial di Amerika.........................................13
2.3.1. Mengubah Pola Setelah Revolusi............................................................................13
2.3.2. Merawat Kaum Miskin Kota...................................................................................14
2.3.3. Merawat Populasi Tertentu......................................................................................15
2.3.4. Kesepakatan Baru....................................................................................................17
2.4. Produk Kesejahteraan Sosial.........................................................................................18
2.4.1. Asuransi sosial.........................................................................................................18
2.4.2. Bantuan Publik........................................................................................................18
2.4.3. Program Layanan Kesehatan dan Kesejahteraan....................................................19
2.4.4. Respon Masyarakat Terhadap Reformasi Jaminan Sosial dan Kesejahteraan........19
2.4.5. Program Masyarakat Hebat.....................................................................................19
2.5. Konservatisme di Era Reformasi Jaminan Sosial dan Kesejahteraan...........................20
2.5.1. Konservatisme pada Pertengahan 1960-an dan Awal 1970-an...............................21
2.5.2. Pengurangan di Tahun Reagan dan Bush................................................................23

2
2.5.3. Tahun Clinton..........................................................................................................24
2.5.4. Tahun George W. Bush............................................................................................25
BAB III
PENUTUP...............................................................................................................................27
3.1. Kesimpulan....................................................................................................................27
REFERENSI...........................................................................................................................28

3
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Kesejahteraan sosial adalah kondisi di mana individu dan masyarakat merasa
bahagia, aman, dan sejahtera secara fisik, mental, dan sosial. Kesejahteraan sosial tidak
hanya terbatas pada kebutuhan dasar seperti makanan, pakaian, dan tempat tinggal, tetapi
juga meliputi akses terhadap layanan kesehatan, pendidikan, pekerjaan yang layak, serta
lingkungan yang sehat dan aman. Pentingnya kesejahteraan sosial dalam suatu
masyarakat adalah untuk menciptakan keadilan sosial, mengurangi kesenjangan sosial,
dan meningkatkan kualitas hidup seluruh anggota masyarakat. Dalam konteks global,
kesejahteraan sosial juga berperan penting dalam mencapai tujuan pembangunan
berkelanjutan yang ditetapkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa. Dalam kesejahteraan
sosial juga memiliki keterkaitan yang kuat dengan pekerja sosial. Pekerja sosial adalah
profesi yang bertujuan untuk membantu individu, keluarga, dan masyarakat dalam
mengatasi masalah sosial dan memperbaiki kualitas hidup mereka. Pekerja sosial bekerja
dengan berbagai kelompok seperti anak-anak, orang dewasa, orang tua, orang sakit, dan
orang cacat, serta berbagai isu sosial seperti kemiskinan, kekerasan, penyalahgunaan zat,
dan lain-lain. Pekerja sosial berperan dalam melakukan evaluasi dan intervensi terhadap
masalah sosial yang dihadapi klien, memberikan dukungan emosional dan praktis,
mengkoordinasikan layanan sosial yang tersedia, serta melakukan advokasi untuk hak-
hak klien. Serta melakukan pengembangan kebijakan sosial dan program-program
pelayanan sosial yang lebih baik.
Rekam sejarah menyatakan bahwa pekerja sosial adalah pihak yang berupaya
mewujudkan kondisi yang sejahtera dalam kehidupan individu, keluarga, komunitas,
kelompok, maupun masyarakat yang mengalami masalah sosial. Dimana nantinya pekerja
sosial akan melakukan intervensi yang efektif sesuai dengan masalah yag dihadapi oleh
klien. Penanganan masalah sosial tidak terbatas pada bantuan pekerja sosial saja, namun
juga adanya keikutsertaan pemerintah dalam merumuskan dan menetapkan kebijakan-
kebijakannya tentang upaya kesejahteraan sosial dan menjamin adanya kehidupan
masyarakat yang sejahtera. Namun, meskipun sudah tersedia bantuan pekerja sosial dan
pemerintah dalam menangani masalah yang dihaadapi, kerap kali masalah sosial semakin
bertambah jumlahnya. Sehingga, diperlukan adanya koordinasi yang lebih efektif dan
efisien bagi agen kesejahteraan sosial dalam menanggulangi seluruh masalah sosial dalam
masyarakat.
Upaya perwujudan kondisi masyarakat yang sejahtera terus dijalankan oleh
pemerintah, pekerja sosial, asosiasi pekerja sosial, maupun masyarakat itu sendiri
sepanjang masa. Ragam bentuk intervensi dilakukan melalui teknik konseling yang
efektif dari mereka kepada klien. Beberapa produk kesejahteraan sosial seperti asuransi
sosial, bantuan publik, layanan dan jaminan kesehatan, pendidikan, dan lain sebagainya
sengaja diciptakan untuk membantu masyarakat beralih dari masalah yang dihadapinya.
Pembentukan Undang-Undang tentang Kesejahteraan Sosial juga dibentuk guna
memberikan jaminan tertulis oleh pemerintah akan adanya kesejahteraan dalam
4
kehidupan masyarakat guna mewujudkan negara yang sejahtera. Namun harus tetap
disadari bahwa, masalah akan selalu datang silih berganti, oleh karenanya pekerja sosial
dapat mempertajam kepekaannya dan sigap terhadap individu, komunitas, maupun
masyarakat yang sedang dalam kondisi sulit dan membutuhkan bantuannya. Selain itu,
sebagai individu, komunitas, maupun masyarakat kita juga harus lebih mandiri dalam
menangani masalah sosial yang tengah dihadapi. Sebab utamanya kesejahteraan itu
diciptakan oleh diri sendiri.
Dengan disusunnya paper mengenai bahasan kesejahteraan sosial: dulu dan sekarang
dapat membuka pemahaman baru bagi penulis maupun pembaca mengenai dasar-dasar,
sejarah, dan dinamika perkembangan kessejahteraan sosial dan pekerjaan sosial dari masa
ke masa. Selain itu, penulis maupun pembaca dapat lebih memahami apa saja bentuk
program yang pernah diciptakan oleh pemerintah dan pekrja sosial sebagai upaya
menangani masalah klien. Sehingga, dapat menjadi acuan bagi kita khususnya yang
merupakan calon pekerja sosial dalam memahami, memilah, dan mengaplikasikan kiat-
kiat efektif dalam upaya penanganan masalah klien nantinya.

1.2. Tujuan
Penyusunan paper ini didasarkan atas beberapa tujuan yang ingin dipenuhi,
diantaranya yaitu:
1) Memaparkan dasar-dasar kesejahteraan sosial dan pekerjaan sosial.
2) Mengidentifikasi dinamika perkembangan kesejahteraan sosial di Inggris
3) Mengidentifikasi dinamika perkembangan kesejahteraan sosial di Amerika.
4) Memaparkan ragam bentuk produk kesejahteraan sosial.
5) Memahami aksi konservatisme di era reformasi jaminan sosial dan kesejahteraan.

1.3. Manfaat
Melalui pembahasan dalam paper ini, penulis maupun pembaca dapat memetik
manfaat baik secara teoritis maupun praktis, sebagaimana berikut ini:
1.3.1. Manfaat secara Teoritis
Manfaat secara teoritis dapat diartikan sebagai manfaat pembuatan paper ini
dalam bidang keilmuan, beberapa manfaat secara teoritis ialah sebagai berikut:
1) Sebagai wawasan dan pengetahuan tambahan bagi penulis maupun
pembaca tentang dasar-dasar, rekam sejarah, dan pdinamika perkembangan
kesejhateraan sosial dan pekerjaan sosial dari masa ke masa.
2) Adanya pemaparan mengenai ragam produk kesejahteraan sosial dan
beberapa teknik intervensi dalam penanganan masalah sosial masyarakat
dapat menambah bekal ilmu bagi penulis maupun pembaca.

1.3.2. Manfaat secara Praktis


Manfaat secara praktis dapat dipahami sebagai manfaat yang akan diterima
oleh penulis maupun pembaca dalam hal instrumental atau praktik bidang
keilmuan yang dibahas, adapun beberapa manfaat secara praktis dari disusunnya

5
paper ini ialah sebagai berikut:
1) Melalui pemahaman pembahasan dari paper ini dapat menjadi sarana
berpikir kritis bagi penulis maupun pembaca tentang hakikat, nilai, dan
perumusan ragam kebijakan yang bisa diambil pemerintah dalam upaya
membentuk produk kesejahteraan sosial untuk masyarakat.
2) Beberapa teknik penyelesaian masalah yang dilakukan oleh para pekerja
sosial sebagaimana dalam sejarah perkembangan kesejahteraan sosial dari
tahun ke tahun dapat menjadi referensi bagi penulis dan pembaca untuk
diterapkan dalam prkatik intervensinya nanti.

1.4. Lingkup Pembahasan beserta Teori


Lingkup pembahasan dalam paper ini meliputi sekilas dasar-dasar mengenai
kesejahteraan sosial dan pekerjaan sosial. Selain itu juga membahas mengenai rekam
sejarah dinamika perkembangan kesejahteraan sosial dari masa ke masa, termasuk
dinegara-negara sikal bakal kesejahteraan sosial yakni Inggris dan Amerika Serikat.
Disamping itu, pembahasan juga dilanjut tentang beberapa ragam produk kesejahteraan
sosial yang dimanfaatkan oleh pekerja sosial dalam menangani masalah sosial klien.
Serta memahami adanya konsevatisme jaminan sosial dan kesejahteraan dalam rekam
sejarah.
Menurut Undang-Undang No. 11 Tahun 2009 tentang Kesejahteraan Sosial,
kesejahteraan Sosial adalah kondisi terpenuhinya kebutuhan manusia baik secara
material, spiritual, dan sosial warga negara agar dapat hidup layak dan mampu
mengembangkan diri, sehingga dapat melaksanakan fungsi sosialnya. Hal ini selaras
dengan perspektif Fahrudin (2014) yang menuturkan bahwa, kesejahteraan sosial
diartikan sebagai suatu keadaan seseorang yang dapat mampu memenuhi seluruh
kebutuhan serta mampu melakukan hubungan baik dengan lingkungan sekitar. Maka,
dapat dipahami bahwa, kesejahteraan sosial adalah sebuah kondisi dimana individu
mampu memenuhi seluruh kebutuhan hidupnya baik secara material, spiritual, dan sosial
secara mandiri. Kemudian, istilah kesejahteraan sosial mengacu pada berbagai kegiatan
terorganisir publik dan badan-badan sukarela yang berusaha untuk mencegah,
meringankan, atau memberikan kontribusi untuk memecahkan masalah sosial yang
dipilih.
Sementara itu, pekerjaan sosial adalah profesi utama yang bekerja dalam sistem
kesejahteraan sosial dan dengan sistem yang dilayaninya. Pekerja sosial melaksanakan
kegiatan perubahan sosial terencana yang ditentukan oleh lembaga kesejahteraan sosial.
Mereka memfasilitasi perubahan dengan bekerja bersama individu, keluarga, kelompok,
organisasi, dan komunitas dan ditingkat masyarakat untuk meningkatkan fungsi sosial.
Pekerja sosial mengadvokasi keadilan sosial dan ekonomi dalam sistem kesejahteraan
sosial, membuat sumber daya yang dibutuhkan tersedia untuk anggota populasi yang
rentan - anak-anak, orang lanjut usia, penyandang disabilitas, dan mereka yang hidup
dalamkemiskinan.
Dinamika perkembangan kesejahteraan sosial dari masa ke masa salah satunya
dcirikan dengan kemunculan New York Society for the Prevention of Pauperism sebagai
6
organisasi formal pertama yang didirikan pada tahun 1817 dengan tujuan utama untuk
mengentas kondisi kemiskinan pada masyarakat, organisasi ini dikoordinir oleh Thomas
Chalmers asal Inggris yang membagi kota menjadi distrik dengan menugaskan para
‘pengunjung yang ramah’ untuk bekerja disetiap distrik guna mengidentifikasi, menilai,
dan menanggapi hal-hal apa saja yang menjadi kebutuhan orang miskin. Kemudian
disusul dengan kemunculan organisasi-organisasi lainnya. Organisasi-organisasi tersebut
didirikan dalam rangka menjadi wadah bagi para pekerja sosial.
Lingkup pembahasan juga menjangkau beberapa produk yang dibentuk
pemerintah sebagai wujud upaya menangani masalah sosial dan menyejahterakan
masyarakat. Produk kesejahteraan sosial adalah beberapa program yang ditujukan untuk
membantu masyarakat mencapai kondisi sejahtera, beberapa program diantaranya ialah
asuransi sosial, bantuan public, dan layanan juga jaminan kesehatan. Meskipun
mendapatkan respon positif dan negatif dari masyarakat, pemerintah selalu berupaya
membentuk kebijakan yang dirasa efektif dalam menyelesaikan masalah sosial yang
dihadapi masyarakat.

7
BAB II

PEMBAHASAN

2.1. Dasar-dasar Kesejahteraan Sosial: Dahulu dan Sekarang


Pertimbangkan seperti apa hidup Anda jika Anda hidup di masa lalu—atau di masa
depan. Apa yang akan sama? Apa yang akan berbeda? Mengapa? Bagaimana nilai-nilai dan
kepercayaan pribadi dan agama pada waktu itu, ekonomi, dan kelompok yang berkuasa
membentuk hidup Anda dan pilihan yang tersedia bagi Anda?Pernahkah Anda berpikir
tentang bagaimana nilai dan keyakinan pribadi dan agama, ekonomi, dan kelompok yang
berkuasa di tahun-tahun awal Amerika Serikat memengaruhi kehidupan Anda sekarang dan
pilihan yang tersedia bagi Anda?
Kebijakan kesejahteraan sosial di Amerika Serikat telah mengalami perubahan luar biasa
sejak masa para pemukim awal. Namun, sebagian besar kesejahteraan sosial seperti yang kita
kenal sekarang mencerminkan sistem kepercayaan arus utama yang berlaku selama masa
kolonial Amerika, sebuah sistem yang dipinjam dari Elizabethan Inggris yang pada gilirannya
sebagian besar mencerminkan Hukum Miskin Inggris di awal tahun 1600-an. Banyak
ketentuan Undang-Undang Miskin Inggris, seperti penekanan pada tanggung jawab pribadi,
kendali lokal atas pengambilan keputusan, promosi keluarga, Tidak ada konsensus mengenai
sifat, fokus, dan pengembangan kebijakan sosial atau tanggung jawab-jika ada-pemerintah
dalam mengembangkan program untuk membantu mereka yang membutuhkan. Dalam
diskusi berikut kami mengidentifikasi beberapa faktor yang lebih menonjol yang terlibat
dalam pengembangan.
Kesejahteraan sosial dalam masyarakat kita telah lama menjadi masalah perselisihan dan
kontroversi. Seringkali, kontroversi muncul dari kesalahpahaman tentang kebijakan yang
mengatur kesejahteraan sosial, serta nilai-nilai, keterlibatan pemerintah yang terbatas dalam
program-program kesejahteraan sosial, penyamaan pekerjaan dengan penyelamatan agama,
dan perbedaan antara orang miskin yang “layak” dan orang miskin yang “tidak layak”,
tertanam dalam kebijakan kesejahteraan sosialkontemporer.
Undang-undang reformasi kesejahteraan penting yang disahkan pada tahun 1996
menciptakan kelas bawah pekerja miskin yang sedang berkembang. Bagi banyak orang,
bekerja dalam satu pekerjaan, bahkan dua pekerjaan, tidak lagi menjamin kehidupan yang
bebas dari kemiskinan dan bahkan sebagian kecil dari impian Amerika. Bisakah tren ini
dibalik, atau apakah sistem kepercayaan mendasar tentang kesejahteraan sosial di Amerika
Serikat begitu mengakar sehingga perubahan inkremental yang terbatas adalah yang terbaik
yang dapat kita harapkan? Pelajaran apa yang bisa dipetik dari pengalaman kesejahteraan
sosial Amerika? Apa implikasi dari kegagalan untuk memenuhi kebutuhan dasar sebagian
besar penduduk?
8
Menyelesaikan pertanyaan-pertanyaan ini dan yang serupa adalah inti dari profesi
pekerjaan sosial. Gagal menyelesaikannya bukanlah suatu pilihan. Pendekatan yang
komprehensif untuk kesejahteraan sosial di Amerika Serikat. Namun pertama-tama, ada
beberapa pertanyaan mendasar: Apa itu kesejahteraan sosial? Siapa yang mendapatkannya?
Siapa yang membayarnya? Apakah itu menciptakan ketergantungan? Mengapa sistem
kesejahteraan sosial kita ditata seperti itu?

2.1.1. Definisi Kesejahteraan Sosial dan Hubungannya dengan Pekerjaan Sosial


Kesejahteraan sosial dalam masyarakat kita telah lama menjadi masalah perselisihan dan
kontroversi. Seringkali, kontroversi tersebut diakibatkan oleh kesalahpahaman tentang
kebijakan yang mengatur kesejahteraan sosial, serta informasi yang salah tentang orang-
orang yang berhak menerima tunjangan kesejahteraan sosial. Banyak orang memandang
mereka yang menerima bantuan publik (biasa disebut “kesejahteraan”) sebagai orang yang
malas dan tidak mau bekerja. Ini mengandaikan bahwa kemiskinan, penyakit mental, dan
pengangguran menandakan kegagalan pribadi atau pengabaian pribadi. Yang lain memandang
penerima bantuan public sebagai korban dari masyarakat yang berubah dengan cepat yang
memberikan sedikit bantuan untuk memungkinkan orang menjadi mandiri. Maka dapat
dimengerti bahwa orang-orang dengan pandangan yang berbeda akan memiliki pendapat
yang berbeda tentang sifat dan ruang lingkup program kesejahteraan sosial dan orang-orang
yang mereka layani.
Menentukan siapa yang membutuhkan merupakan salah satu keputusan mendasar yang
terlibat dalam mengembangkan program kesejahteraan sosial masyarakat. Penilaian ini
hampir selalu didasarkan, setidaknya sebagian, oleh seberapa banyak menurut kami
seseorang pantas mendapatkan bantuan. Seringkali, perbedaan dibuat antara orang miskin
yang layak dan orang miskin yang tidak layak. Banyak orang lebih menerima kebutuhan
orang lanjut usia dan penyandang disabilitas serta penyakit kronis daripada kebutuhan orang
yang tampaknya mampu.
Saat ini, siapa yang kita anggap pantas lebih sering ditentukan oleh apakah orang
tersebut mampu bekerja. Kita sering berasumsi bahwa orang miskin telah memilih gaya
hidup tersebut, malas, atau kurang motivasi untuk keluar dari kemiskinan. Penilaian ini
seringkali gagal untuk mempertimbangkan bagaimana perubahan sistem sosial berkontribusi
pada hasil yang mengakibatkan kemiskinan bagi sebagian besar penduduk. Bahkan mereka
yang bekerja di dua atau lebih pekerjaan bisa menjadi miskin. Mengapa kemiskinan di
Amerika Serikat tetap ada? Apa yang dapat dan harus dilakukan tentang hal itu, dan siapa
yang harus bertanggung jawab untuk mengatasi masalah tersebut? Sumber daya apa yang
harus ditanggung, dan siapa yang harus membayarnya?
Apa itu kesejahteraan sosial?
Definisi yang luas mungkin mencakup semua tanggapan masyarakat yang terorganisir
yang mempromosikan kesejahteraan sosial suatu populasi. Ini akan mencakup pendidikan,
kesehatan, rehabilitasi, layanan perlindungan bagi orang dewasa dan anak-anak, bantuan
publik, asuransi sosial, layanan bagi penyandang disabilitas fisik dan mental, program
pelatihan kerja, konseling perkawinan, psikoterapi, konseling kehamilan, adopsi, dan banyak
kegiatan terkait lainnya yang dirancang untuk mempromosikan kesejahteraan sosial.

9
Dalam Ensiklopedia Pekerjaan Sosial, P. Nelson Reid (1995) mendefinisikan
kesejahteraan sosial sebagai berikut:
“Kesejahteraan sosial... mungkin paling baik dipahami sebagai sebuah gagasan, bahwa
gagasan itu menjadi salah satu masyarakat yang layak yang memberikan peluang untuk
pekerjaan dan makna manusia, memberikan keamanan yang wajar dari keinginan dan
penyerangan, mempromosikan keadilan dan evaluasi berdasarkan prestasi individu, dan
ekonomi produktif dan stabil”.
Gagasan kesejahteraan sosial didasarkan pada asumsi bahwa masyarakat manusia dapat
diatur dan diatur untuk menghasilkan dan menyediakan hal- hal ini, dan karena layak untuk
dilakukan, masyarakat memiliki kewajiban moral untuk mewujudkannya. (hal.2206)
Istilah kesejahteraan sosial, kemudian, mengacu pada berbagai kegiatan terorganisir
publik dan badan-badan sukarela yang berusaha untuk mencegah, meringankan, atau
memberikan kontribusi untuk memecahkan masalah sosial yang dipilih. Bagi sebagian orang
yang memandang kesejahteraan sosial secara luas-dari konsep bahwa masyarakat
mengumpulkan sumber dayanya untuk kesejahteraan umum dari semua-kesejahteraan sosial
meliputi fasilitas umum seperti perpustakaan, taman umum, dan rumah sakit. Lainnya
termasuk dukungan sosial untuk perusahaan, kadang-kadang disebut "kesejahteraan
perusahaan," atau investasi ekstensif yang dilakukan beberapa negara seperti Amerika Serikat
untuk bisnis selain investasi pada orang-orang yang membutuhkan.

2.1.2. Pengertian Pekerjaan Sosial dan Kesejahteraan Sosial


Kesejahteraan lebih sempit, terdiri dari program-program yang menangani masalah-
masalah seperti kemiskinan dan penganiayaan anak. Panjang dan luasnya daftar masalah
sosial biasanya bergantung pada perspektif nilai dari orang yang menyusun daftar, waktu
historis di mana daftar tersebut dikembangkan, dan sumber daya ekonomi yang dirasakan
tersedia untuk memenuhi masalah kesejahteraan sosial yang tercantum. Saat membaca,
pertimbangkan bagaimana nilai individu dan profesional membentuk pandangan seseorang
tentang apa yang dimaksud dengan kesejahteraan sosial.
Pekerjaan sosial adalah profesi utama yang bekerja dalam sistem kesejahteraan sosial dan
dengan sistem yang dilayaninya. Pekerja sosial melaksanakan kegiatan perubahan sosial
terencana yang ditentukan oleh lembaga kesejahteraan sosial. Mereka memfasilitasi
perubahan dengan bekerja bersama individu, keluarga, kelompok, organisasi, dan komunitas
dan ditingkat masyarakat untuk meningkatkan fungsi sosial. Pekerja sosial mengadvokasi
keadilan sosial dan ekonomi dalam sistem kesejahteraan sosial, membuat sumber daya yang
dibutuhkan tersedia untuk anggota populasi yang rentan - anak-anak, orang lanjut usia,
penyandang disabilitas, dan mereka yang hidup dalamkemiskinan.
Pekerja sosial dalam sistem kesejahteraan sosial membantu anak-anak yang dilecehkan
dan ditelantarkan serta keluarga mereka, remaja hamil dan mengasuh anak, tunawisma dan
lainnya yang hidup dalam kemiskinan, individu dengan masalah kesehatan dan kesehatan
mental, remaja dan orang dewasa dalam sistem peradilan pidana tem, karyawan di tempat
kerja, pengungsi di seluruh dunia, dan individu dengan segudang kebutuhan lainnya. Mereka
mengatur lingkungan dan komunitas untuk memperkuat atau membuat program dan
kebijakan untuk memenuhi kebutuhan manusia dengan lebih baik, dan mengadvokasi

10
perubahan dalam berbagai peran di tingkat negara bagian, nasional, dan global. Individu yang
terlibat dalam profesi bantuan lainnya bekerja sama dengan pekerja sosial dalam perubahan
terencana di semua tingkatan. Peran profesional pekerjaan sosial dan profesi pembantu
lainnya dalam sistem kesejahteraan sosial dibahas dalam bab 2.

2.1.3. Basis Nilai Kesejahteraan Sosial


Nilai adalah asumsi, keyakinan, atau kepercayaan tentang apa yang baik dan diinginkan
atau bagaimana seharusnya. Nilai seseorang dibentuk oleh pengalaman sosialisasinya.
Banyak nilai yang dominan dan didukung oleh mayoritas penduduk. Misalnya, kebanyakan
orang setuju bahwa hidup itu suci. Hampir semua orang percaya bahwa membunuh orang lain
dengan mengabaikan hidup orang itu adalah tindakan kriminal. Akan tetapi, nilai-nilai lain
yang terkait dengan kesucian hidup tidak dibagikan begitu saja. Misalnya, masyarakat kita
berbeda pendapat tentang isu-isu seperti bunuh diri berbantuan dan hukuman mati.
Perkembangan kesejahteraan sosial dari waktu ke waktu mencerminkan perbedaan nilai
yang berkaitan dengan tanggung jawab sosial bagi mereka yang membutuhkan. Nilai saja,
bagaimanapun, tidak menentukan kebijakan sosial. Ketersediaan sumber daya, ditambah
dengan ekonomi. pengaruh agama, dan politik, menghasilkan kebijakan tanggung jawab
sosial yang terus berkembang bagi anggota masyarakat yang rentan. Satu nilai dominan yang
telah memandu perkembangan Pilihan dari sistem kesejahteraan sosial kita adalah
humanitariisme, sebagian besar berasal dari filosofi dan ajaran Yudeo-Kristen (Marson &
MacLeod.1996). Masyarakat kita juga dipengaruhi oleh doktrin ekonomi laissez-faire,
berdasarkan keterlibatan pemerintah yang terbatas, individualisme dan tanggung jawab
pribadi. Dari perspektif laissez-faire, yaitu:
1) Masalah masyarakat miskin dan terpinggirkan dipahat dianggap sebagai masalah
kegagalan pribadi yang hanya akan diabadikan oleh program kesejahteraan
pemerintah,
2) Pekerjaan dianggap sebagai satu-satunya yang dapat dibenarkan sarana bertahan
hidup karena memberikan kontribusi untuk usaha produktif masyarakat, dan
3) Tanggung jawab sosial bagi anggota yang rentan masyarakat akan dilakukan melalui
voluenter tanggung jawab dan seit-suiciency kesukarelaan yang ditujukan untuk
mendorong tanggung jawab pribadi dan swasembada daripada intervensi formal
pemerintah.
Perspektif yang berbeda mempertahankan bahwa kita semua adalah anggota masyarakat
dan, berdasarkan keanggotaan itu, berhak untuk berbagi dalam upaya produktifnya. Mereka
yang memegang keyakinan ini berpendapat bahwa orang menjadi miskin atau membutuhkan
sebagai akibat dari perubahan institusi sosial seperti globalisasi ekonomi atau pergeseran dari
ekonomi manufaktur ke ekonomi berbasis jasa. Individu-individu bukanlah penyebab dari
kondisi-kondisi ini, melainkan tersapu dan menjadi korban dari kondisi-kondisi tersebut.
Misalnya, anggota dari beberapa kelompok etnis menghadapi hambatan seperti sumber daya
pendidikan yang rendah, kesempatan kerja yang terbatas dan biasanya kasar, perumahan yang
buruk, dan sumber daya kesehatan yang tidak memadai. Analisis dari perspektif ini tidak
akan menyalahkan kondisi ini pada anggota kelompok individu tetapi, sebaliknya,
mengidentifikasi faktor-faktor seperti diskriminasi dan penindasan institusional. Mereka yang

11
mengonsepkan kesejahteraan sosial memiliki perspektif nilai yang berbeda. Beberapa fokus
pada apakah pandangan seseorang liberal atau konservatif, atau pada kontinum di antara
keduanya. Dari perspektif konservatif, individu bertanggung jawab untuk mengurus dirinya
sendiri, dengan sedikit atau tanpa campur tangan pemerintah. Perspektif ini menunjukkan
bahwa pemerintah harus menyediakan jaring pengaman hanya untuk mereka yang paling
membutuhkan. Dari perspektif liberal, pemerintah bertanggung jawab untuk memastikan
ketersediaan struktur sosial dan ekonomi, termasuk akses yang adil untuk mendukung mereka
yang tidak dapat memenuhi kebutuhan mereka sendiri Karger Stoesz, 2004. Perspektif lain
mengontraskan kesejahteraan sosial residual dan institusional. Perspektif sisa memandang
kesejahteraan sosial hanya melayani mereka yang paling banyak bermasalah atau paling
membutuhkan.

2.2. Dinamika Perkembangan Kesejahteraan Sosial Di Inggris


Sebelum adanya merkantilisme di Inggris, kepedulian terhadap orang miskin merupakan
salah satu fungsi utama umat kristen di gereja Inggris. Dengan mengulurkan diri dengan
melakukan amal kepada mereka yang lebih membutuhkan. Sumberdaya yang di miliki oleh
umat gereja pada saat itu cukup untuk memberikan bantuan kepada fakir [Link] samping
itu, sistem federal pada masanya menyediakan struktur yang memenuhi kebutuhan sebagian
besar penduduk. Satu-satunya Undang-undang yang di sahkan, sebagai akbat wabah penyakit
di Inggris. Pada tahun 1349, Raja Edwar III mengamanatkan Statute of Laborer Act, dimana
amanat tersebut mengharuskan semua orang yang berbadan sehat untuk menerima segala
pekerjaan di Negara mereka.
Pada dasarnya hal itu membuat para kaum orang miskin menjadi ketergantungan kepada
umat gereja, sehingga ketika umat gereja mengalami keruntuhan, kaum orang miskin
mengalami kesusahan untuk bertahan hidup. Runtuhnya umat gereja , muncullah undang
undang reformasi hukum miskin yang mengamanatkan bahwa semua bentuk bantuan di
hapuskan dan maksud penuh dari ketentuan undang undang miskin tahun 1601 di tegakkan
secara kaku. Selain itu, undang- undang tersebut menetapkan "prinsip kelayakan paling
rendah", artinya bahwa tidak ada bantuan yang diberikan dalam jumlah yang membuat
penerima lebih baik daripada pekerja dengan bayaran terendah. Prinsip ini juga berfungsi
sebagai prinsip dasar undang- undang kesejahteraan sosial Amerika awal dan program
kesejahteraan publik saat [Link] adanya paroki atau istana federal, orang miskin dibiarkan
untuk mengurus diri sendiri, akibatnya penduduk mengalami kekurangan gizi, kesehatan
yang buruk, keluarga yang hancur , bahkan kematian.
Ketika eropa berjuang dengan transisi dari masyarakat agraris ke masyarakat industry,
jumlah orang-orang yang mengungsi mengalami peningkatan. Banyak orang miskin
menemukan jalan mereka ke kota, hal ini di karenakan di kota tesebut menyediakan prospek
kerja yang baik dan fasilitas manufaktur yang baik juga.
Selanjutnya, sebagian besar dari mereka yang buta huruf dan tidak memiliki ketrampilan
memilih bekerja di lingkungan manufaktur. Sedangkan sebagian kelompok besar yang
menganggur, mereka mengembara di desa-desa tetangga sambil mengemis bantuan apapun
yang bisa mereka dapatkan. Pejabat lokal ditekan untuk menemukan solusi yang sesuai bagi
para tunawisma, orang miskin, dan anak-anak. Di karenakan pejabat lokal tidak menemukan

12
solusi, ia pun meminta solusi dari parlemen. Parlemen pun menanggapinya, dan akhirnya
mengesahkan undang undang miskin Elizabethan (elizabeth 43) pada tahun 1601. Undang-
Undang ini sangat penting, karena Undang-undang tersebut berusaha untuk mengubah
undang undang sebelumnya, serta menetapkan kebijakan nasional tentang orang miskin.
Elizabeth poor Law menggambarkan "kategori" bantuan sebuah praktik di pertahankan
dalam Undang-undang kesejahteraan sosial kita saat ini. Orang orang yang dianggap layak ini
adalah orang-orang yang menganggap kemiskinan tidak dipandang sebagai upaya untuk
mendapatkan bantuan mereka yang termasuk orang miskin yaitu orang lanjut usia yang sakit
kronis penyandang disabilitas dan anak-anak yatim piatu. Orang-orang miskin yang layak
biasanya ditempatkan di Almshouses (rumah miskin). Di sana mereka mendapatkan
perawatan minimal Pada masa itu praktik tersebut dinamakan Indo real life karena
memberikan layanan kepada orang-orang miskin di dalam institusi. Dalam beberapa kasus
pada anak-anak mereka ditempatkan dengan keluarga dan sering diminta untuk bekerja untuk
menjaga mereka.

2.3. Dinamika Perkembangan Kesejahteraan Sosial di Amerika


Kolonial Wilayah Amerika, membawa warisan agama yang menekankan amal dan saling
ketergantungan satu sama lain. Amerika pada saat masa kolonial, adalah tanah yang belum
berkembang dan seringkali perang, sehingga para penduduk diharuskan untuk berhati-hati
untuk berkerja keras untuk bertahan hidup.
Pada saat awal kolonial, Amerika tidak memiliki jaringan pemerintah formal untuk
memberi bantuan kepada penduduk secara signifikan. Sehingga mereka yang sangat
membutuhkan bantuan akan di bantu oleh tetangga atau oleh anggota organisasi
[Link] populasi meningkat, banyak koloni mengeluarkan undang undang
mewajibkan pendatang baru untuk menujukkan kemampuan mereka untuk mempertahankan
diri, jika tidak ada kemampuan tersebut sebagian besar transisi di peringatkan dan
dikembalikan ke tempat tinggal mereka di Inggris. Di karenakan sebagian kolonial amerika di
dasar kan pada sistem feodal, pegawai kontrak di pertengahan koloni mengalami perbudakan,
kelas miskin. tidak memiliki kebebasan. Akan tetapi, yang sering terabaikan adalah
seperangkat hukum yang keras yang di tegakkan secara masuk akal sampai masa
kemerdekaan untuk memenuhi kebutuhan dasar kelangsungnkelangsungan hidup para
pelayan dan budak.
Namun sayangnya ekonomi saat pra-industri, mengalami penurunan sehingga bantuan
publik mengeluarkan anggaran yang sangat besar pada masa revolusi amerika.
Pengembangan kaku filosofi hukum miskin, sangat konsisten dengan kelangkaan ekstrim
dalam ekonomi . hukum kolonial tersendiri menekankan bantuan , di mana bantuan tersebut
diberikan kepada orang yang tidak dapat merawat dirinya sendiri.
Namun pada kenyataannya orang yang benar-benar miskin sering dipisahkan di dalam
rumah-rumah zakat sebagai hukuman karena ia miskin. Tidak hanya itu, kaum orang miskin
juga diberi tugas-tugas yang setidaknya bayarannya digunakan untuk mereka bertahan hidup.
Hal itu dilakukan guna pendewasaan etos kerja dan kepercayaan bahwa kemiskinan adalah
simbol dosa yang terlihat. Sehingga hal itu memungkinkan tanggapan yang keras kepada
mereka yang membutuhkan sebagai sarana untuk bertahan hidup.

13
2.3.1. Mengubah Pola Setelah Revolusi.
Diantara masa Revolusi Amerika dan perang saudara, beberapa pila kesejahteraan mulai
bermunculan. Semuanya terlihat konsisten dengan menggunakan prinsip dasar Elizabethan
Poor [Link] Doktrin gereja dan negara di Amerika, membuat hubungan antara
paroki dan kantor kesejahteraan lokal terputus.
Namun, pada kenyataanya ada beberapa bagian negara yang tetap mempertahankan
hubungan keagamaanya, dengan persyaratan bahwa setidaknya satu anggota dewan
kesejahteraan harus berlisensi "pengkhotbah " . Namun sayangnya pemerintah daerah enggan
menerima peran penjaga kesejahteraan dan lebih memilih mengikuti persyaratan
kependudukan yang kaku.
Sesuatu yang penting dalam periode ini yaitu, adanya pergeseran bantuan dalam ruangan
ke bantuan luar ruangan dengan memberikan bantuan uang tunai yang memungkinkan
individu atau kelompok untuk tetap tinggal di rumah mereka sendiripergerakan signifikan
yang lainya selama periode yaitu pergeseran kesejahteraan sektor publik ke sektor swasta,
atau yang biasa disebut dengan kesejahteraan sukarela. Oleh karena itu tanggung jawab untuk
kesejahteraan diserahkan kepada lembaga-lembaga amal daripada di serahkan kepada
pemerintah (publik)
Gerakan perubahan setelah revolusi dicirikan dengan penilaian terhadap pemerintah
sebagai penjaga kesejahteraan dan mengadopsi residensi yang kaku dalam upaya
kesejahteraan masayarakat. Oleh karenanya, diupayakan gerakan baru dalam upaya
menyejahterakan masyarakat melalui kegiatan bantuan luar ruangan. Bantuan luar ruangan
adalah pemberian bantuan berupa uang tunai kepada masyarakat yang memungkinkan
mereka untuk tetap bisa tinggal di rumah mereka sendiri. Bantuan luar ruangan lebih efektif
dan adaptif diterapkan pada era gejolak ekonomi pada abad ke-19 karena selain
menggunakan uang tunai dalam wujud pemberian bantuan masyarakat, juga diberikan
bantuan berupa bantuan kerja maupun barang (sembako, dll). Selain itu, keberadaan konsep
‘kesejahteraan sukarela’ juga dibentuk pada masa peralihan ini. Kesejahteraan sukarela dapat
dipahami sebagai pergeseran dari kesejahteraan sektor public ke sektor swasta, dengan
maksud lain tanggung jawab dalam melakukan upaya kesejahteraan masyarakat dialihkan
dari sektor publik kepada lembaga-lembaga amal. Hal ini menimbulkan gerakan program
kesejahteraan sosial masyarakat yang lebih mandiri disetiap lembaga amal.

2.3.2. Merawat Kaum Miskin Kota


Disamping euphoria munculnya kota-kota di pesisir kastil pada negara yang baru
tumbuh, terdapat kondisi mengenaskan yang dialami oleh para imigran yang berdatangan.
Mereka seringkali mengalami kesulitan dalam mencari pekerjaan, akibatnya kemungkinan
adanya kemiskinan pada lingkup pengungsi semakin besar. Dalam upaya mengentas kondisi
kemiskinan pada pengungsi, dapat dilakukan melalui dua upaya yakni menempatkan mereka
pada pekerjaan ditingkat subsisten dan digerakkannya program almshouse. Upaya
memberikan kesempatan kerja kepada pengungsi pada tingkat subsisten mulanya dirasa
efektif, namun muncul kekhawatiran mengenai cukup tidaknya pendapatan yang mereka
peroleh untuk memenuhi kebutuhan dasar hidupnya. Oleh karenanya, untuk menanggulangi

14
ketidakberhasilan upaya pengentasan kemiskinan pada pengungsi melalui upaya pertama,
maka upaya almshouse menjadi alternative kedua. Upaya almshouse dianggap lebih efektif
karena fokus utama penerapannya ditujukan pada mereka yang telah mengalami kemiskinan
kronis melalui bantuan luar ruangan (bantuan berupa uang tunai) sebagai cara yang paling
efektif dalam mengatasi kemiskinan.
Sebagai upaya menangani masalah kemiskinan di masyarakat, mulai didirikan
beragam organisasi sebagai lembaga pengentasan kemiskinan masyarakat. Seperti halnya
dengan kemunculan New York Society for the Prevention of Pauperism sebagai organisasi
formal pertama yang didirikan pada tahun 1817 dengan tujuan utama untuk mengentas
kondisi kemiskinan pada masyarakat. Sebagaimana yang dituturkan oleh Axinn dan Stern
(2004) bahwa dalam jalannya organisasi ini dikoordinir oleh Thomas Chalmers asal Inggris
yang membagi kota menjadi distrik dengan menugaskan para ‘pengunjung yang ramah’ untuk
bekerja disetiap distrik guna mengidentifikasi, menilai, dan menanggapi hal-hal apa saja yang
menjadi kebutuhan orang miskin. Kemudian disusul dengan berdirinya Association for
Improving the Condition of the Poor didirikan di Kota New York pada tahun 1843. Asosiasi
ini didirikan dengan tujuan untuk mengoordinasikanupaya bantuan yang ditujukan untuk para
pengangguran. Salah satu teknik penanganan masalah kemiskinan pada masyarakat yang
dikenalkan oleh asosiasi ini ialah adanya persyaratan bahwa bantuan yang diberikan tidak
dapat diberikan sampai kebutuhan individu dinilai. Sehingga lembaga yang memberikan
bantuan dapat melaksanakan prinsip tersebut secara lebih efektif. Akhirnya, penggunaan
persyaratan tersebut masih digunakan oleh para pekerja sosial hingga saat ini. Adapun
organisasi lain yang dianggap lebih efektif dijalankan untuk mengentas kondisi kemiskinan
adalah Charity Organization Society (COS) yang didirikan di Buffalo, New York. Charity
Organization Society (COS) merupakan organisasi swasta yang didirikan oleh warga kaya
yang menganut etos kerja, namun mereka memiliki simpati dan empati kepada orang miskin.
COS dijalankan dengan menanamkan efisiensi dan ekonomi dalam program-program yang
dibuat untuk melayani orang miskin, serta mengatur amal dalam upaya mencegah duplikasi
layanan dan mengurangi ketergantungan masyarakat miskin kepada lembaga amal. COS juga
menekankan perlunya menilai kondisi orang miskin dengan melibatkan ‘pengunjung yang
ramah’ dengan klien (orang miskin) sebagai upaya membimbing, merehabilitasi, dan
membantu mempersiapkan kemandirian. Sebab organisasi COS menaruh sedikit simpati
kepada pengemis kronis yang dinilai hanya gelandangan yang butus asa, oleh karenanya COS
mengupayakan adanya kemandirian untuk klien.

2.3.3. Merawat Populasi Tertentu


Ditahun 1800-an, mulai bermunculan badan amal swasta yang bergerak dalam upaya
penanganan bidang masalah khusus seperti, perawatan anak yatim piatu dan orang tuna
rungu, tuna netra, dan mengalami gangguan kejiwaan. Sebagian besar lembaga amal swasta
ini berdiri dengan adanya dukungan dari pemerintah negara bagian atau lokal. Akibatnya,
mulai bermunculan warga yang aktif secara sosial dalam mengungkapkan keprihatinan yang
mendalam atas perlakuan yang diterima warga dari lembaga-lembaga swasta tersebut.
Dorongan keikutsertaan individu yang aktif dalam lingkungan sosial terlihat pada aksi
Dorothea Dix, seorang dermawan dan pembaharu sosial yang melakukan perjalanan

15
mengelilingi Amerika Serikat guna melakukan pengamatan atas perawatan yang diberikan
oleh lembaga-lembaga swasta kepada orang-orang dengan masalah kejiawaan. Dix berupaya
meyakinkan Presiden Franklin Pierce agar segera mengalokasikan dan ahibah federal dan
tanah untuk mendirikan lembaga formal yang berfokus pada pelayanan dan perawatan
individu dengan gangguan penyakit kejiwaan. Meskipun upaya tersebut tidak mendapatkan
gerakan yang baik dari pemerintah, namun sepanjang pertengahan hingga akhir tahun 1800-
an, Dix mampu meningkatkan kesadaran publik tentang adanya masalah orang yang
mengalami penyakit mental atau gangguan kejiwaan. Kemudian dimasa akhir abad ke-19,
jalannya kegiatan dalam lembaga amal mulai menjadi fokus awasan pemerintah pusat.
Pemerintah mengupayakan adanya peningkatan kualitas badan amal tersebut agar fokus
dalam menanggulangi masalah kemiskinan (Day, 2005).
Kuota kemiskinan di Amerika Serikat semakin bertambah seiring dengan adanya
imigrasi masyarakat asal Eropa Selatan diakhir tahun 1800-an dan awal tahun 1900-an.
Kondisi masyarakat imigran ini menambah beban pengangguran, tunawisma, dan kemiskinan
di daerah pinggiran Amerika Serikat. Mengetahui permasalahan ini, seorang pekerja sosial
bernama Jane Addams mulai melakukan pergerakan dengan menciptakan gerakan rumah
permukiman guna menyediakan kehidupan yang lebih baik bagi para imigran. Gerakan
rumah permukiman atau Hull House ini didirikan oleh Addams pada tahun 1869 di daerah
Chicago. Rutinitas yang dikembangkan dalam gerakan rumah permukiman buata Addams ini
berupaya menangani masalah kekurangan perumahan, adanya upah rendah yang diterima
imigran, mengurangi kuota dan resiko pekerjaan yang memanfaatkan tenaga anak, masalah
kenakalan remaja, dan penyakit baik penyakit fisik maupun sosial.
Terdapat perbedaan prinsip dari penerapan Charity Organization Society (COS)
dengan program Gerakan Rumah Permukiman dalam menangani masalah kemiskinan
masyarakat imigran. Gerakan Charity Organization Society (COS) mengenut prinsip
Darwinisme sosial sebagai landasan teoritisnya yang dipercaya dapat membantu mengatasi
kemiskinan, dan proses penyelesaian masalah kemiskinan melalui gerakan Charity
Organization Society (COS) dikenal dengan istilah “amal ilmiah”. Selaras dengan pernyataan
Axinn dan Stern (2004) bahwa, Charity Organization Society (COS) berfokus pada aksi
membantu orang dengan masalah kemiskinan untuk menemukan keselamatan sosial dan
ekonomi melalui perolehan pekerjaan yang layak. Yang mana dengan keberadaan gerakan
Charity Organization Society (COS) menjadi cikal bakal munculnya pekerjaan sosial klinis
yang berkonsentrasi pada individu dan keluarga, metode ilmiah yang digunakan untuk
menentukan kebutuhan, dan pelatihan khusus sebagai agen penyedia layanan sosial.
Sementara itu, Gerakan Permukiman Rumah memiliki prinsip bahwa, klien rumah
permukiman dipandang sebagai individu yang mampu dan normal. Dengan kata lain, tidak
ada upaya memisahkan orang miskin yang layak dengan orang miskin yang tidak layak. Akan
tetapi, fokus kegiatan gerakan rumah permukiman lebih kepada penyediaan layanan
lingkungan dan pengembangan masyarakat. Sebagaimana pendapat Axinn dan Stern (2004)
bahwa, misi utama gerakan permukiman rumah ialah untuk mencapai reformasi sosial.
Reformasi sosial yang ingin dicapai ini dilakukan dengan menerapkan metode holistik
melalui penggabungan filosofi pencapaian individu dan hubungan sosial yang memuaskan.
Kemunculan gerakan rumah permukiman ini mengawali munculnya pekerjaan sosial non-
klinis dengan berfokus pada individu sebagai bagian dari komunitas, penilaian kebutuhan
16
sosial, pengorganisasian komunitas, reformasi sosial dan aksi politik, memahami dan
menghargai kekuatan keragaman budaya, dan penelitian pada masyarakat (Axinn dan Stern,
2004).
Meskipun terdapat perbedaan prinsip antara Charity Organization Society (COS)
dengan gerakan rumah permukiman, namun keduanya tetap menjadi warna bagi sejarah
praktik pekerjaan sosial di masa kontemporer. Serta keduanya menjadi sebab kemunculan
pekerjaan sosial klinis (berakar dari Charity Organization Society (COS)) dan pekerjaan
sosial non-klinis (bersumber pada gerakan rumah permukiman).
Masalah kebijakan kesejahteraan social lainnya yang diperdebatkan pada tahun 1800-
an dan masih diperdebatkan hingga saat ini adalah apakah layanan kesejahteraan social harus
disediakan oleh publik atau swasta. Selama tahun 1800-an, parameter program kesejahteraan
public versus swasta didefinisikan lebih jelas. Kesejahteraan public mengandalkan
perpajakan sebagi pendanaan sedangkan kesejahteran swasta didanai melalui kontribusi
sukarela dari individu atau organisasi filantropis. Tidak ada batasan yang jelas yang
menentukan jenis manfaat yang akan ditawarkan oleh lembaga publik atau swasta. Sebagai
hasilnya, layanan sering tumpeng tindih. Instasi publik dan swasta sama-sama menyediakan
banyak sekali layanan sepanjang tahun 1800-an hingga 1900-an. Setelah Perang Dunia I,
bangsa ini memasuki periode perubahan sosial dan kemakmuran yang signifikan. Suasana ini
tiba-tiba berakhir pada tahun 1929 dengan penurunan ekonomi yang menyebabkan depresi
hebat. Dalam waktu singkat, kondisi menjadi parah. Tabungan habis karena bank runtuh dan
bisnis gagal, dan sebagian besar penduduk Amerika tidak punya uang, tunawisma, dan tanpa
sumber daya karena pengangguran. Ketika pekerjaan menjadi langka, para pengangguran
tidak punya tempat untuk berpaling. Pesimisme dan keputusasaan merajalela, dan banyak
yang merasa putus asa. Asuransi pengangguran tidak ada, dan tidak ada jaminan federal
untuk uang yang hilang dalam kegagalan bank. Bencana ekomoni mengakibatkan kekacauan
yang belum pernah dialami sebelumnya di tanah Amerika.

2.3.4. Kesepakatan Baru


Di New York, Undang-Undang Bantuan Darurat disahkan, menyediakan pekerjaan
publik, bantuan dalam bentuk barang ( makanan, pakaian, dan tempat tinggal ), dan tunjangan
tunai yan terbatas. Tindakan ini kemudian menjadi model untuk program bantuan federal.
Presiden Herbert Hoover yakin bahwa solusi paling efektif untuk depresi dan
konsekuensinya adalah menawarkan intensif bagi bisnis untuk mendapatkan kembali
pijakannya, memperluas, dan menyediakan lapangan kerja bagi para pengangguran. Pada
tahun 1932, Hoover tersingkir dari jabatannya karena ketidakpuasan public atas kebijakannya
dan digantikan oleh Franklin Delano Roosevelt, mantan gubernur New York. Salah satu
tindakan Roosevelt adalah melembagakan undang-undang darurat. Legislasi ini menciptakan
“kesepakatan baru” yang menandai pertama kalinya dalam sejarah bahwa pemerintah federal
terlibat langsung dalam memberikan bantuan. Kebijakan ini membuka pintu bagi Undang-
Undang federal selanjutnya di bidang hak-hak sipil, praktik ketenagakerjaan yang adil, bus
sekolah, bantuan masyarakat, dan berbagai program sosial lainnya.
Salah satu upaya pertama untuk menyediakanbantuan bagi korban depresi adalah
Federal Emergency Relief Act (FERA) yang menyediakan tunjangan makanan, pakaian, dan

17
tempat tinggal bagi para tunawisma dan pengungsi. Dalam hubungan kerja sama pemerintah
federal menyediakan uang untuk mengelola program bantuan. Negara bertanggung jawab
untuk mendirikan badan-badan dan juga diminta untuk menyumbangkan dana negara jika
memungkinkan untuk memperluas basis sumber daya yang tersedia. Hal ini menjadi “hibah
pendamping” yang kemudian menjadi persyaratan integral dari program bantuan publik.
Undang-Undang Darurat federal tambahan diberlakukan untuk menyediakan pekerjaan
publik bagi mereka yang kehilangan pekerjaan. Works Progress Administration (WPA), dibuat
pada tahun 1935 untuk menyediakan pekerjaan pelayanan publik, akhirnya mempekerjakan
sekitar 8 juta pekerja selama masa depresi. Selain itu banyak sekolah umum, jalan, taman,
gedung kantor pos, gedung perguruan tinggi negeri, dan proyek publik terkait dibangun di
bawah naungan WPA.
Program pemuda juga didirikan seperti Civilian Conservation Corps (CCC) yang
dirancang untuk melindungi sumber daya alam dan untuk meningkatkan serta
mengembangkan sumber daya publik. Pekerja CCC meningkatkan dan mengembangkan
banyak taman nasional. Administrasi Kepemudaan Nasional (NYA), juga didirikan di bawah
WPA, memberikan bantuan studi kerja kepada pemuda sekolah menengah dan perguruan
tinggi sebagai insentif untuk tetap bersekolah. Selain itu, NYA menyediakan pekerjaan paruh
waktu bagi siswa putus sekolah untuk mempelajari keterampilan kerja dan meningkatkan
kemampuan kerja mereka (Axinn & Stern, 2004). Selain itu, program FERA memberikan
pinjaman berbunga rendah kepada petani dan pelaku usaha kecil. Program-program ini
memungkinkan kegiatan tersebut bertahan dan menjadi sumber lapangan kerja bagi para
pengangguran.
Perundang-undangan New Deal menawarkan solusi sementara untuk krisis yang
ditimbulkan oleh Great Depression. Pengangguran mendapatkan pekerjaan, yang lapar diberi
makan, dan tunawisma mendapat tempat tinggal. Mungkin yang lebih penting, bangsa
merasakan dampak penuh dari perubahan sistem. Masalah menyalahkan kemiskinan pada
kemalasan dan kemalasan dihentikan setidaknya untuk sementara.

2.4. Produk Kesejahteraan Sosial


Adapun beberapa produk kesejahteraan sosial yang sengaja dibentuk guna mewujudkan
kondisi masyarakat yang sejahtera, diantaranya ialah sebagai berikut:
2.4.1. Asuransi sosial
Asuransi sosial, biasanya disebut Jaminan Sosial, didasarkan pada premis bahwa
individu dan keluarganya tidak selalu dapat menyediakan sumber daya keuangan yang
diperlukan untuk memenuhi kebutuhan mereka. Asuransi sosial menjadi dasar untuk
dukungan finansial bagi orang lanjut usia, orang yang kesehatannya buruk atau cacat serius,
individu yang cedera dalam pekerjaan, dan tanggungan yang pencari nafkah utamanya
meninggal. Pendanaan untuk program asuransi sosial ini berasal dari karyawan kolektif dan
program pemerintah yang dibiayai oleh pajak.
Asuransi sosial di bawah Undang-Undang Jaminan Sosial pada awalnya memasukkan
dua program tunjangan penting:
1. Asuransi Hari Tua, Penyintas, dan Cacat (OASDI; lihat bab 7); ketiga program ini
didasarkan pada pajak yang dipotong dari gaji karyawan dan disesuaikan dengan kontribusi

18
pemberi kerja, dan kelayakan didasarkan pada partisipasi yang diperoleh melalui pekerjaan.
2. Asuransi Pengangguran, dimana pemberi kerja memberikan kontribusi dana, dengan
tujuan memberikan jaminan sumber pendapatan bagi pekerja yang kehilangan pekerjaannya.
Tunjangan yang diperoleh dari program-program ini dianggap sebagai hak karena
penerima dan majikan mereka telah membayar "premi untuk tunjangan yang akan mereka
terima.

2.4.2. Bantuan Publik


Kategori bantuan publik didasarkan pada "kebutuhan" dan tidak ditetapkan sebagai hak
yang diberikan melalui pekerjaan. Itu dikelola oleh negara bagian dengan uang yang
disediakan oleh negara bagian dan dicocokkan oleh pemerintah federal (hibah yang sesuai).
Pada saat itu, bantuan publik memasukkan tiga komponen:
1. Bantuan Hari Tua,
2. Bantuan kepada Anak-anak yang Menjadi Tanggungan, dan
3. Bantuan kepada Tunanetra.
Persyaratan kelayakan kaku dan ditegakkan dengan ketat. Partisipasi didasarkan pada
"tes kemampuan", yang mengharuskan pelamar untuk menunjukkan bahwa mereka tidak
memiliki sumber daya. Kehidupan pribadi penerima dibuka untuk pengawasan pekerja
kesejahteraan dalam upaya untuk meminimalkan penipuan dan untuk memastikan bahwa
tingkat tunjangan tidak melebihi kebutuhan yang dianggarkan.
Mungkin program bantuan yang paling kontroversial adalah Aid to Dependent Children
(ADC). Program ini membuat dana terbatas tersedia bagi para ibu dengan anak tanggungan
ketika tidak ada laki-laki yang hadir di rumah. Karena tingkat tunjangan disesuaikan dengan
ukuran keluarga (hingga maksimal empat anak), muncul kekhawatiran bahwa hubungan seks
bebas dan anak haram akan dihargai dengan meningkatnya tunjangan seiring bertambahnya
ukuran keluarga. Kebijakan kohabitasi yang kaku diberlakukan, mengamanatkan bahwa ibu
yang bersalah karena kohabitasi akan kehilangan dana hibah mereka sepenuhnya. Karena
sebagian besar penerima ADC berbadan sehat, ada kekhawatiran tambahan bahwa
pembayaran kesejahteraan akan menjadi disinsentif untuk memenuhi kebutuhan finansial
melalui pekerjaan yang menguntungkan. Dalam banyak hal, penerima ADC diperlakukan
sebagai orang miskin yang "tidak layak" pada saat itu dan, akibatnya, sering diperlakukan
dengan cara menghukum. Masyarakat biasanya menyebut bantuan masyarakat sebagai
kesejahteraan. Karena tunjangan didasarkan pada pemiskinan dan tidak diperoleh melalui
pekerjaan, partisipasi dalam program membawa stigma kecerobohan pribadi, kecanggungan,
atau kegagalan.

2.4.3. Program Layanan Kesehatan dan Kesejahteraan


Program yang disahkan di bawah layanan kesehatan dan kesejahteraan disediakan untuk
layanan perawatan ibu dan anak, rehabilitasi kejuruan, kesehatan masyarakat, dan layanan
untuk anak-anak cacat fisik. Layanan ini dibahas lebih lengkap di bab selanjutnya.
Pada tahun-tahun berikutnya, amandemen Undang-Undang Jaminan Sosial memperluas
masing-masing hak ini untuk mencakup lebih banyak orang. Asuransi sosial kemudian
ditambahkan asuransi kesehatan (Medicare); dan program bantuan kesehatan (Medicaid)

19
dilembagakan untuk penerima bantuan publik. Kategori bantuan ADC didefinisikan ulang
sebagai Aid to Families with Dependent Children (AFDC), dan ketentuan AFDC-
Unemployed Parent (AFDC-UP) ditambahkan sehingga negara bagian dapat membantu
keluarga dalam keadaan terbatas ketika laki-laki menganggur yang dapat dipekerjakan berada
di dalam rumah.

2.4.4. Respon Masyarakat Terhadap Reformasi Jaminan Sosial dan Kesejahteraan


Pasca disahkannya Undang-Undang tentang jaminan sosial menimbulkan beragam
respon masyarakat, diantaranya ialah terjadi perang dingin yang berkepanjangan, jatuhnya
komunisme, terjadinya inflasi dan resesi, munculnya ekonomi global, timbul serangan teroris
di Amerika Serikat, serta meningkatnya konflik diseluruh dunia. Selain itu, terdapat
peningkatan jumlah pengangguran, maraknya perceraian, populasi manusia usia tua semakin
melonjak tanpa adanya keturunan yang bisa merawatnya, terjangkaunya perumahan layak
yang tersedia bagi seluruh kalangan, jaminan kesehatan yang tidak merata, serta adanya
peningkatan biaya kesehatan yang cukup signifikan. Maka dari itu, hal ini menambah beban
pemerintah untuk sigap menangani ragam masalah yang timbul dari pengesahan Undang-
Undang yang dibuat. Perintah harus bertanggung jawab dengan seluruh masalah sosial
warganya sebagaimana point-point yang mereka tuliskan dalam Undang-Undang tentang
jaminan sosial tersebut.

2.4.5. Program Masyarakat Hebat


Upaya untuk memperluas kegiatan pemerintah dalam mengamankan hak-hak warga
negara dan menyediakan pengembangan pribadi, sosial, dan ekonomi diperkenalkan melalui
langkah-langkah reformasi sosial yang diberlakukan selama pemerintahan Lyndon Johnson
(1963-1968). Administrasi ini mendasarkan banyak program sosialnya pada premis bahwa
lingkungan tempat tinggal seseorang secara signifikan memengaruhi hasil pribadi. Apa yang
disebut undang-undang Great Society dipromosikan secara maksimal. Kesempatan bagi
mereka yang membutuhkan, memperluas manfaat dari banyak program dan layanan yang ada
yang dirancang untuk membantu orang miskin, orang cacat, dan lanjut usia.
Undang-Undang Jaminan Sosial diamandemen untuk menyediakan manfaat perawatan
kesehatan bagi lanjut usia di bawah Program Asuransi Kesehatan (Medicare) dan penerima
bantuan publik melalui Program Bantuan Kesehatan (Medicaid). Beberapa undang-undang
baru yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan yang tidak secara khusus ditangani melalui
sumber daya yang ada juga disahkan. The Older American Act (1965) menetapkan dasar
hukum untuk mengembangkan program makan siang senior, pemeriksaan kesehatan,
transportasi, program makan di atas roda, dan kegiatan rekreasi. Undang-Undang Hak Sipil
(1964) berusaha untuk mengakhiri diskriminasi dalam pekerjaan dan penggunaan
Di negara yang menyombongkan standar hidup tertinggi di dunia, diyakini bahwa momok
kemiskinan dapat dihilangkan selamanya. Eufemisme “perang melawan kemiskinan” dipilih
untuk menggalang penduduk pada komitmen skala penuh untuk mengatasi musuh-
kemiskinan. Pendukung aksi sosial menemukan iklim yang dihasilkan oleh Undang-Undang
Peluang Ekonomi mendukung upaya mereka. Itu adalah masa kejayaan perluasan program
sosial, dengan pengeluaran yang seringkali melebihi perencanaan. Tetapi legislasi sosial

20
selalu dipengaruhi oleh iklim politik. Karena sumber daya dan perhatian pemerintah
dialihkan ke Perang Vietnam, “perang” domestik segera diabaikan dan akhirnya dihentikan.

2.5. Konservatisme di Era Reformasi Jaminan Sosial dan Kesejahteraan


Waktu sejak pengesahan Undang-Undang Jaminan Sosial penuh gejolak, dengan tiga
perang besar, perang dingin yang berkepanjangan, diikuti oleh jatuhnya komunisme, periode
inflasi dan resesi, munculnya ekonomi global, serangan teroris yang belum pernah terjadi
sebelumnya di Amerika Serikat, dan Fasilitas bisnis publik. Itu juga ditargetkan pada
perpanjangan kredit yang tidak diskriminatif RUU pendidikan disahkan yang berusaha untuk
memperbaiki banyak kekurangan pendidikan yang dialami oleh anak-anak orang miskin.
Mungkin upaya yang paling signifikan dan kontroversial untuk mencapai reformasi sosial
datang melalui Undang-Undang Peluang Ekonomi tahun 1964, yang biasa disebut Perang
Melawan Kemiskinan. Tujuan dari tindakan ini adalah untuk menghilangkan kemiskinan
melalui perubahan kelembagaan. Kemiskinan secara tradisional dipandang sebagai masalah
individu, dan penyebabnya umumnya dianggap sebagai hasil dari kegagalan seseorang,
kurangnya motivasi, atau pilihan pribadi. Mereka yang merancang program Perang Melawan
Kemiskinan sampai pada kesimpulan yang berbeda. Mereka menganggap kemiskinan sebagai
hasil dari institusi sosial yang tidak memadai yang gagal memberikan kesempatan bagi semua
warga negara, dan mereka menyimpulkan bahwa pendekatan tradisional untuk memecahkan
masalah kemiskinan tidak berhasil.
Mengubah status orang miskin tidak akan datang melalui bekerja dengan mereka secara
individual tetapi, lebih tepatnya, melalui modifikasi institusi dalam lingkungan seseorang
yang menghasilkan masalah di tempat pertama. Oleh karena itu, program di bawah Undang-
Undang Peluang Ekonomi disusun untuk menawarkan kemungkinan keberhasilan yang lebih
besar kepada orang miskin dengan menciptakan peluang bagi pengambilan keputusan dan
partisipasi mereka. Program pendidikan seperti Head Start berusaha untuk memperluas
(pengalaman belajar yang relevan untuk anak-anak yang kurang beruntung secara
pendidikan. Lembaga Aksi Masyarakat mendorong orang miskin untuk menjadi lebih vokal
dalam urusan masyarakat dan mengorganisir upaya perbaikan masyarakat. Insentif kerja
khusus dihasilkan untuk mengajarkan keterampilan kerja. Program Youth Job Corps
menyediakan pekerjaan layanan publik yang bergantung pada kaum muda yang masih
bersekolah, sehingga menawarkan potensi pekerjaan yang lebih besar setelah lulus. Pusat Job
Corps mengajarkan keterampilan kerja kepada remaja putus sekolah. Pinjaman usaha kecil
diberikan kepada individu yang memiliki potensi untuk mengembangkan usaha. Program
pedesaan memperluas layanan kesehatan dan sosial bagi masyarakat miskin di daerah
pedesaan.
Penghentian akhirnya-dari program anti-kemiskinan federal. Beberapa program populer,
seperti Head Start dan pelatihan kerja, dipindahkan ke lembaga pemerintah lainnya Di bawah
pemerintahan Richard Nixon, sebuah ukuran reformasi kesejahteraan utama. Program
Bantuan Keluarga (FAP), diajukan untuk persetujuan kongres. Ukuran ini. Yang tidak
diundangkan menjadi undang-undang, akan meningkatkan program bantuan publik dan
menggantikan program yang dirancang untuk memberikan insentif bagi penerima untuk
bekerja tanpa kehilangan semua pemerintahan mereka. Di negara yang menyombongkan

21
standar hidup tertinggi di dunia, diyakini bahwa momok kemiskinan dapat dihilangkan
selamanya. Eufemisme “perang melawan kemiskinan” dipilih untuk menggalang penduduk
pada komitmen skala penuh untuk mengatasi musuh-kemiskinan. Pendukung aksi sosial
menemukan iklim yang dihasilkan oleh Undang-Undang Peluang Ekonomi mendukung
upaya mereka. Itu adalah masa kejayaan perluasan program sosial, dengan pengeluaran yang
seringkali melebihi perencanaan. Tetapi legislasi sosial selalu dipengaruhi oleh iklim politik.
Karena sumber daya dan perhatian pemerintah dialihkan ke Perang Vietnam, “perang”
domestik segera diabaikan dan akhirnya dihentikan.

2.5.1. Konservatisme pada Pertengahan 1960-an dan Awal 1970-an


Periode dari pertengahan 1960-an hingga pertengahan 1970-an adalah salah satu Konflik.
Gerakan anti kemapanan di Amerika Serikat digalakkan oleh Perang Vietnam yang sangat
tidak populer; kerusuhan terjadi di bagian Watts di Los Angeles; di Detroit, Martin Luther
King memperjuangkan penyebab orang Amerika yang dicabut haknya; dan inflasi menguras
daya beli mereka yang bekerja. Sebagai reaksi terhadap perubahan yang membingungkan ini,
gelombang konservatisme muncul di publik Amerika, yang mengarah pada upaya untuk
membongkar banyak program sosial yang diberlakukan selama New Deal dan diperluas
melalui program Great Society. “Pembentukan” kesejahteraan dipandang mahal, tidak efektif,
dan kontraproduktif. Kaum konservatif berpendapat bahwa pemerintah federal terlalu besar
dan tidak praktis dan bahwa negara bagian dapat, dan harus, menjalankan banyak fungsi.
Meskipun keterlibatan federal dalam program kesejahteraan publik telah muncul sebagian
besar karena negara bagian kekurangan sumber daya yang cukup untuk memberikan
dukungan yang dibutuhkan, kaum konservatif yakin bahwa negara bagian dan lokalitas lebih
cocok untuk menentukan kebijakan kesejahteraan sosial dan mengelola program sosial. Salah
satu hasilnya adalah reorganisasi-dan Pengalaman belajar yang relevan untuk anak-anak yang
kurang beruntung secara pendidikan. Lembaga Aksi Komunitas mendorong orang miskin
untuk menjadi lebih vokal dalam urusan masyarakat dan mengorganisir upaya perbaikan
masyarakat.
Insentif kerja khusus dihasilkan untuk mengajarkan keterampilan kerja. Program Youth
Job Corps menyediakan pekerjaan layanan publik yang bergantung pada kaum muda yang
masih bersekolah, sehingga menawarkan potensi pekerjaan yang lebih besar setelah lulus.
Pusat Job Corps mengajarkan keterampilan kerja kepada remaja putus sekolah. Pinjaman
usaha kecil diberikan kepada individu dengan potensi untuk mengembangkan bisnis. Program
pedesaan memperluas layanan kesehatan dan sosial bagi masyarakat miskin di daerah
pedesaan.
Penghentian akhirnya-dari program anti-kemiskinan federal. Beberapa program populer,
seperti Head Start dan pelatihan kerja, dialihkan ke instansi pemerintah lainnya. Di bawah
pemerintahan Richard Nixon, langkah reformasi kesejahteraan utama. Program Bantuan
Keluarga (FAP), diajukan untuk persetujuan kongres. Ukuran ini. Yang tidak diundangkan
menjadi undang-undang, akan menghilangkan program bantuan publik dan menggantinya
dengan program yang dirancang untuk memberikan insentif bagi penerima untuk bekerja
tanpa kehilangan semua tunjangan pemerintah mereka. Sering disebut sebagai “biaya kerja”,
program yang diusulkan seperti FAP mensyaratkan penerima untuk memenuhi persyaratan

22
terkait pekerjaan tertentu untuk terus menerima tunjangan kesejahteraan mereka. Harapannya
adalah kegiatan itu, seperti pelatihan kerja. Pembinaan, dan pengalaman kerja baik sebagai
sukarelawan atau dengan bayaran terbatas, akan meningkatkan prospek pekerjaan dan retensi
setelah seseorang dipekerjakan, yang mengarah pada pengurangan daftar kesejahteraan.
Meskipun banyak variasi “biaya kerja” telah dicoba dalam beberapa tahun terakhir, hanya
sedikit yang bekerja dengan baik karena pekerjaan penuh waktu yang membayar upah layak
dan tunjangan perawatan kesehatan sedikit dan jarang, bahkan jika penerima menyelesaikan
semua program terkait pekerjaan yang dibutuhkan. Meskipun banyak perwakilan kongres dan
konstituen mereka menyukai undang-undang yang diusulkan, itu tidak lulus karena tingkat
kebutuhan yang ditentukan jauh di bawah tingkat manfaat yang sudah ada di negara bagian
dengan bayaran lebih tinggi tetapi lebih tinggi daripada manfaat di lebih dari setengah negara.
Pada ketidakcukupan sistem yang ada. Masing-masing dari empat daerah pemilihan telah
memulai upaya reformasi kesejahteraan, dan setiap daerah pemilihan telah gagal mencapai
reformasinya, sebagian besar karena penentangan yang lain. Masalah yang telah menarik
perhatian pada dekade-dekade sebelumnya tetap ada. Biaya kesejahteraan yang berkembang
pesat di tahun-tahun Presiden Richard Nixon dan Gerald Ford, disandingkan dengan
kemiskinan yang sulit diselesaikan, membuat reformasi kesejahteraan menjadi kebutuhan
yang mendesak tetapi tidak menyenangkan.
Reformasi kesejahteraan terus menjadi isu selama pemerintahan Carter, yang
mengusulkan agar $8,8 miliar dialokasikan untuk menciptakan sebanyak 1,4 juta pekerjaan
pelayanan publik. Diharapkan bahwa 2 juta orang akan memegang pekerjaan tersebut pada
tahun tertentu, karena individu diproses melalui pekerjaan ini menuju pekerjaan tetap.
Menurut proposal, sebagian besar pekerjaan akan membayar upah minimum dan menjadi
pekerjaan penuh waktu, setahun penuh, menghasilkan pendapatan tahunan sebesar $6.600.
Selain itu, keluarga akan menerima tambahan penghasilan yang disesuaikan dengan ukuran
keluarga. Pekerjaan tidak akan memenuhi syarat untuk mendapatkan kredit pajak pendapatan
(kredit pajak pendapatan federal yang dapat dikembalikan untuk individu dan keluarga yang
berpenghasilan rendah; jika kredit pajak melebihi jumlah pajak terutang, orang yang
memenuhi syarat yang mengajukan klaim pajak pendapatan menerima pengembalian dana
untuk selisihnya).
Seorang pekerja akan selalu memiliki insentif pendapatan untuk berpindah dari pekerjaan
publik ke pekerjaan tetap di sektor publik atau swasta. Mereka yang memenuhi syarat untuk
pekerjaan itu adalah orang dewasa-satu per keluarga-dalam komponen "diharapkan untuk
bekerja" dari bagian kedua dari program yang tidak dapat menemukan pekerjaan dalam
ekonomi reguler. Pekerjaan ini bukan untuk menggantikan pekerjaan publik yang sudah
mapan, yang menghilangkan keberatan serikat pekerja terhadap rencana tersebut. Akan tetapi,
usulan Carter tidak diadopsi, dan perdebatan tentang cara paling efektif untuk merombak
sistem kesejahteraan terus berlanjut.

2.5.2. Pengurangan di Tahun Reagan dan Bush


Tahun 1980-an ditandai dengan apa yang disebut devolusi kesejahteraan, atau upaya
tanpa henti untuk mengurangi dan menghilangkan hak sosial pemerintah. program
pemerintah. Pengeluaran public untuk kesejahteraan dipandang berlawanan dengan kemajuan

23
ekonomi. Inflasi yang meningkat dianggap sebagai hasil dari pengeluaran domestik federal.
Keadaan ekonomi AS yang genting dianggap sebagai pekerjaan kaum progresif sosial yang
telah merekayasa perluasan program kesejahteraan dan, akibatnya, menyebabkan ekonomi
goyah.
Banyak program dukungan sosial dikurangi secara dramatis atau dihilangkan.
Sebagai bagian dari pesan Kenegaraannya pada tahun 1982, Presiden Reagan
mengusulkan versinya tentang reformasi kesejahteraan, "Federalisme Baru". Bagian
tengahnya adalah rencana di mana negara bagian akan memikul tanggung jawab keuangan
dan administrasi untuk kupon makanan dan AFDC sementara pemerintah federal akan
memikul tanggung jawab atas program Medicaid. Reformasi ini dijuluki "pertukaran
kesejahteraan". Rencana tersebut mengalami sejumlah variasi sebelum pemerintah
membatalkannya karena secara politis tidak layak. Menyusul pemilihannya kembali pada
tahun 1984, Presiden Reagan kembali mendorong untuk membentuk kembali tanggung jawab
kesejahteraan di antara berbagai lapisan pemerintahan. Satuan tugas kepresidenan dibentuk.
menunjuk, yaitu mengeluarkan laporannya setelah pemilihan kongres pada tahun 1986.
Pemilihan tersebut mengakibatkan kekalahan telak bagi Demokrat, dan tanggung jawab
untuk reformasi kesejahteraan beralih dari Gedung Putih ke Capitol Hill.
Pemerintahan Presiden George H. W. Bush terus dipengaruhi oleh pandangan konservatif
tentang kesejahteraan. Ketika Perang Dingin berakhir, kaum progresif berharap bahwa uang
yang dialokasikan untuk pembelanjaan pertahanan akan diarahkan untuk program domestik.
Sementara itu, biaya kesejahteraan terus meningkat. Pada tahun 1988, Kongres Demokrat
mengesahkan Undang-Undang Dukungan Keluarga, dipuji oleh para pendukung reformasi
kesejahteraan sebagai bagian paling penting dari undang-undang domestik yang diberlakukan
sejak Undang-Undang Jaminan Sosial pada tahun 1935. Undang-undang Dukungan Keluarga
mengamanatkan bahwa negara menyediakan kesempatan kerja dan program keterampilan
dasar (JOBS) untuk sebagian besar penerima AFDC (beberapa, seperti mereka yang memiliki
anak yang sangat muda dan mereka yang memiliki masalah kesehatan, dibebaskan dari
partisipasi).
Undang- undang tersebut juga memberikan Medicaid (perawatan kesehatan) dan
perawatan anak selama 12 bulan setelah penerima mendapatkan pekerjaan, untuk
memudahkan transisi dari kesejahteraan ke pekerjaan tanpa kehilangan pendapatan. Undang-
undang tersebut juga mengamanatkan bahwa negara bagian memberikan tunjangan AFDC-
UP untuk waktu yang terbatas kepada keluarga dengan laki- laki yang sebelumnya bekerja
yang tidak dapat menemukan pekerjaan. Undang- undang tersebut lebih lanjut membutuhkan
penegakan yang lebih kuat atas pembayaran tunjangan anak oleh orang tua yang tidak hadir.
Negara tidak diharuskan untuk menerapkan beberapa bagian dari undang- undang tersebut
sampai tahun 1992.
Undang- Undang Dukungan Keluarga tidak pernah terwujud sebagai bagian utama dari
undang- undang reformasi kesejahteraan. Pemerintah federal menghabiskan banyak waktu
untuk menerbitkan peraturan yang mengatur undang- undang tersebut, dan dana untuk
programnya tidak memadai. Pekerjaan yang membayar upah layak untuk mantan penerima
kesejahteraan gagal terwujud. Upaya untuk memobilisasi sektor swasta untuk mendukung
program terbukti lebih sulit dari yang diperkirakan. Singkatnya, program itu pasti akan gagal
bahkan sebelum di luncurkan.
24
2.5.3. Tahun Clinton
Pada tahun 1992, lanskap politik reformasi kesejahteraan telah bergeser lagi. Bill
Clinton, calon presiden dari Partai Demokrat, adalah seorang "Demokrat Baru" yang berperan
penting, sebagai gubernur Arkansas, dalam mendukung Undang- Undang Dukungan
Keluarga tahun 1988. Clinton mencari peran yang lebih luas bagi negara bagian dalam
rancangan program kesejahteraan federal. Lebih penting lagi, sebagai seorang "sentris
politik", dia bertujuan untuk menjauhkan diri dari "reformasi Demokratik liberal" yang juga
berperan penting dalam meloloskan undang- undang tahun 1988. Clinton berjanji untuk
"mengakhiri kesejahteraan seperti yang kita ketahui." Tujuan reformasi adalah menjadikan
kesejahteraan sebagai "kesempatan kedua, bukan cara hidup" (Clinton, 1997). Landasan
agenda reformasi Clinton digambarkan sebagai kesiapan kerja, tanggung jawab orang tua,
dan kebijaksanaan negara.
Pembuat undang- undang di semua tingkat pemerintahan dan dari kedua belah pihak
sekarang menuntut agar penerima kesejahteraan diminta untuk mengambil lebih banyak
tanggung jawab untuk mengakhiri, atau setidaknya mengurangi, ketergantungan mereka pada
dukungan publik. Desakan untuk perubahan adalah didorong oleh pergeseran signifikan ke
kanan dalam mood publik dan upaya yang jauh lebih besar untuk mengurangi defisit federal.
Partai Republik memenangkan kedua majelis Kongres dalam pemilihan nasional 1994.
Berbagai koalisi dan masing- masing anggota Kongres memperkenalkan banyak langkah
reformasi dalam sesi kongres ke-104. Hampir semua langkah reformasi mengusulkan
pembatasan masa tinggal kesejahteraan, membatasi hak atas kesejahteraan ibu yang belum
menikah di bawah usia 18 tahun, dan memberlakukan persyaratan kerja yang jauh lebih ketat.
Mungkin yang paling meresahkan anggota komunitas pekerjaan sosial adalah upaya untuk
mengakhiri AFDC sebagai program hak pemerintah nasional.
Undang-undang reformasi kesejahteraan penting yang disahkan pada tahun 1996
melakukan hal itu. Di bawah Undang- Undang Tanggung Jawab Pribadi dan Peluang Kerja
tahun 1996, setiap negara bagian ditugaskan untuk mengelola berbagai program bantuan,
termasuk AFDC, dengan perubahan nama menjadi Bantuan Sementara untuk Keluarga yang
Membutuhkan (TANF), atas arahan badan legislatif negara bagian dengan peraturan federal
minimal. pedoman dan pendanaan federal timbal balik. Dorongan dari langkah- langkah
reformasi adalah untuk memindahkan penerima dari daftar kesejahteraan dan menuju
swasembada dengan terlibat dalam pekerjaan, pelatihan kerja, atau program pendidikan yang
dirancang untuk memungkinkan mereka mengembangkan keterampilan yang penting untuk
pekerjaan.
Namun, banyak negara bagian menerapkan program "bekerja dulu", memindahkan
penerima ke pekerjaan tanpa pelatihan. Meskipun program- program ini mengurangi
gulungan kesejahteraan karena ekonomi kuat. sebagian besar penerima yang pindah dari
TANF memasuki pekerjaan "buntu", dengan upah minimum tanpa perawatan kesehatan atau
tunjangan lainnya. Penerima diizinkan maksimal 2 tahun untuk mencari pekerjaan. Mereka
yang gagal melakukannya menghadapi pengurangan yang signifikan atau penghentian
tunjangan mereka. Pendekatan ini menganggap bahwa persyaratan kerja wajib akan
mengurangi, jika tidak menghilangkan, ketergantungan pada tunjangan kesejahteraan.

25
2.5.4. Tahun George W. Bush
Ketika menjadi Presiden Amerika Serikat pada tahun 2000, George W. Bush
mengantarkan era baru. Bill Calton berargumen bahwa pemerintah tidak dapat menyelesaikan
setiap masalah, tetapi dapat mendorong orang tua dan masyarakat untuk membantu diri
mereka sendiri dan membantu satu sama lain. Menurutnya jenis Welas Asih yang paling sejati
adalah membantu warga dengan membangun kehidupan mereka sendiri, Bill calton juga
menyebutkan bahwa filosofi dan pendekatannya sebagai konservatisme Welas Asih yaitu
secara aktif membantu sesama warga yang membutuhkan namun konservatif untuk menuntut
tanggung jawab dan hasil.
Kampanye bush tentang konservatisme welas Asih beresonansi dengan dengan baik,
Banyak orang Amerika yang sangat terpengaruhi oleh retorika anti kesejahteraan pada akhir
1990-an. tetapi, mereka juga percaya pada kebutuhan untuk menjaga dan membantu mereka
yang kurang beruntung. Prinsip konservatisme Welas Asih mencerminkan prinsip-prinsip
Kesejahteraan Sosial Amerika kolonial. Seperti intervensi pemerintah yang terbatas,
tanggung jawab pribadi, nilai-nilai keluarga, dan peran komunitas agama untuk menangani
kebutuhan kesejahteraan sosial masyarakat dan rakyat. Beberapa penentang gagasan tersebut
berpendapat bahwa konservatisme welas Asih memiliki kedok yang disamarkan dengan hati-
hati guna pendekatan yang jauh lebih menghukum untuk mengatasi kebutuhan kesehatan
sosial negara. hal ini didorong oleh beberapa elemen, yaitu agama konservatif, puritanisme
baru, dan kepentingan negara. Namun tiba-tiba pada bulan September 2001 pencarian
kebenaran tersebut terputus dikarenakan adanya serangan teroris di Amerika dan perang di
Irak.
Dengan kemerosotan ekonomi dalam beberapa tahun terakhir, dana-dana yang
dicurahkan untuk perang Irak semakin meningkat pada tahun 2007. Prioritas pengeluaran
negara menjadi pertahanan, prioritas negara menjadi pendidikan publik anak usia sekolah,
dan prioritas lokal telah menjadi keselamatan publik. Tidak diragukan lagi paradigma
kesejahteraan sosial di Amerika Serikat telah bergeser, baik atau buruknya tergantung pada
perspektif seseorang. Dengan pergeseran tersebut paradigma lama sudah tidak lagi relevan,
hal ini membuat tantangan nyata bagi Pekerja Sosial yaitu bagaimana mengakui perubahan
sambil mempertahankan sistem nilai yang menjadi dasar profesi dan memastikan bahwa
sistem layanan dasar itu tersedia.
Pemerintahan Bill Clinton dan George W. Bush membuat kesimpulan bahwa,
Undang-Undang Reformasi tentang kesejahteraan Amerika Serikat dikatakan sukses karena
mampu mencapai target yang diharapkan seperti, pengurangan daftar kesejahteraan dan
pengeluaran untuk program-program kesejahteraan. Keberhasilan target nampak pada adanya
penurunan daftar kesejahteraan yang lebih dari 50% dibeberapa negara bagian, bahkan
disebagian negara lain mencapai angka penurunan sekitar 80% hingga 85%. Namun,
disamping keberhasilannya dalam mencapai target yang diharapkan untuk mengurangi daftar
kesejahteraan masih terdapat kelompok miskin pinggiran kota yang bergelut dengan
kesusahannya. Meskipun mereka telah mendapatkan pekerjaan, tapi nyatanya pendapatan
yang diterima tidak membuat kondisi ekonominya menjadi lebih baik. Keluarga-keluarga
miskin pinggiran kota ini tidak mendapatkan bantuan dari pemerintah karena tidak memenuhi

26
persyaratan untuk menjadi sasaran bantuan pemerintah. Sehingga mereka tidak mampu
keluar dari kondisi kemiskinan. Maka akhirnya, anak-anak dari keluarga miskin itulah yang
menjadi harapan keluarga agar mampu mentas dari kondisi kemiskinan ketaraf hidup yang
lebih sejahtera.
Disamping masalah kemiskinan keluarga-keluarga pinggiran kota yang tak kunjung
menemukan ujung penyelesaian, terdapat masalah kesejahteraan kontroversional lainnya
berupa sulitnya mencapai solvabilitas sistem janiman sosial negara yang stabil, bertambahnya
populasi tunawisma, kurangnya ruang penitipan anak yang terjangkau bagi masyarakat
miskin, dan masalah jutaaan keluarga miskin yang tidak memiliki jaminan atau asuransi
kesehatan yang memadai. Hingga akhirnya, badai Katrina dan Rita yang menghancurkan
New Orleans dan sekiatr bagian selatannya ditahun 2005 menjadi titik munculnya perhatian
yang mendalam terhadap korelasi kondisi kemiskinan dengan ras. Akan tetapi, bukannya
melakukan identifikasi lebih lanjut mengenai masalah tersebut, masalah kesejahteraan sosial
semakin tidak stabil karena tidak adanya koordinasi yang efektif dalam proses penanganan
masalah tersebut. Masalah domestik lainnya seperti adanya kebijakan luar negeri yang makin
tidak stabil dan adanya perang global melawan terorisme guna mencapai perdamaian di
Timur Tengah menjadi distraksi dalam penyelesaian masalah kemiskinan. Oleh karenanya,
semakin lama masalah sosial domestic tidak segera mendapatkan penyelesaian, maka pekerja
sosial akan semakin sulit untuk menemukan aksi-aksi intervensi yang tepat dalam
menanganinya.

BAB III

PENUTUP

3.1. Kesimpulan
Dinamika perkembangan kesejahteraan sosial dari dulu hingga sekarang dihiasi
27
dengan ragam problematika sosial masyarakat. Disinilah peran pekerja sosial
mendominasi upaya intervensi masalah-masalah sosial yang dihadapi oleh masyarakat.
Ragam teknik intervensi dilakukan demi membebaskan masyarakat dari belenggu
permasalahan sosialnya, seperti melalui program Charity Organization Society (COS),
program rumah permukiman, dan lain sebaagainya. Peran pemerintah juga turut andil
dalam upaya menyejahterakan masyarakat dengan ragam produk kesejahteraan sosial
yang dibuat (asuransi sosial, bantuan public, layanan kesehatan, dan lain sebagainya) dan
melalui kebijakan Undang-Undang yang ditulis guna memberikan kepastian pada
masyarakat tentang kesejahteraannya. Meskipun mendapatkan respon yang berbeda dari
masyarakat, akan tetapi dengan pemberian jaminan sosial maupun kepastian tertulis,
serta bantuan langsung dengan adanya peran pekerja sosial sudah mampu menjadi
pergerakan koordinasi pemerintah dengan pekerja sosial dalam upaya mewujudkan
masyarakat sejahtera di dalam negara yang sejahtera.

REFERENSI

Ambrosino Rosalie, dkk. (2008). Social Work and Social Welfare: An Introduction, Sixth
Edition. USA: Thoms Brooks/Cole.
Undang-undang Republik Indonesia No. 11 Tahun 2009 Tentang Kesejahteraan Sosial.
28
[Link]
diakses 28 Maret 2023.

29

Anda mungkin juga menyukai