0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
14 tayangan4 halaman

Integrasi Nanoteknologi dalam Pembelajaran Kimia

Ringkasan dari dokumen tersebut adalah: 1. Dokumen tersebut membahas pentingnya mengintegrasikan konteks nanoteknologi dalam pembelajaran kimia untuk meningkatkan keterampilan proses siswa. 2. Tujuannya adalah agar siswa tidak hanya memiliki pengetahuan kognitif tetapi juga keterampilan proses yang dapat digunakan untuk bersaing di dunia global. 3. Metode yang digunakan adalah

Diunggah oleh

riesylia eva
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
14 tayangan4 halaman

Integrasi Nanoteknologi dalam Pembelajaran Kimia

Ringkasan dari dokumen tersebut adalah: 1. Dokumen tersebut membahas pentingnya mengintegrasikan konteks nanoteknologi dalam pembelajaran kimia untuk meningkatkan keterampilan proses siswa. 2. Tujuannya adalah agar siswa tidak hanya memiliki pengetahuan kognitif tetapi juga keterampilan proses yang dapat digunakan untuk bersaing di dunia global. 3. Metode yang digunakan adalah

Diunggah oleh

riesylia eva
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Prosiding Seminar Nasional XI “Rekayasa Teknologi Industri dan Informasi 2016

Sekolah Tinggi Teknologi Nasional Yogyakarta

Pengintegrasian Konteks Nanoteknologi dalam Pembelajaran


Kimia Melalui Contextual Learning untuk Meningkatkan
Keterampilan Proses Siswa
Navela Rahma Aji1
Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Semarang1
rahmanavela@[Link]

Abstrak

Cepatnya perkembangan nanoteknologi yang terjadi dalam aspek kehidupan manusia, seperti
didalam industri dan penelitian menjadikan kebutuhan akan pengetahuan tentang nanoteknologi sangatlah
penting. Selain itu, pemahaman tentang nanoteknologi juga akan terus berkembang di masa depan, maka
pembelajaran tentang konteks nanoteknologi juga menjadi hal yang penting untuk dilaksanakan di
sekolah khususnya Sekolah Menengah Atas (SMA). Oleh karena itu, diperlukan solusi untuk
meningkatkan keterampilan proses siswa dengan mengintegrasikan konteks nanoteknologi ke dalam
pembelajaran kimia. Tujuan dari penulisan karya ini adalah untuk memberikan solusi dalam
meningkatkan keterampilan proses siswa agar dihasilkan output yang tidak hanya memiliki kemampuan
kognitif saja, tapi memiliki kemampuan dan keterampilan proses yang dapat digunakan dalam bersaing di
dunia global nantinya. Metode yang digunakan dalam penulisan ini adalah deskriptif kualitatif
berdasarkan kajian kepustakaan dengan berdasar pada berbagai sumber referensi, baik jurnal ataupun
buku-buku terkait objek kajian. Diharapkan dengan dilaksanaknnya proses pembelajaran berbasis
contextual learning dengan menggunakan bahan ajar yang terintegrasi dengan konteks nanoteknologi
dapat meningkatkan keterampilan proses siswa.

Kata Kunci : Pembelajaran Kimia, Contextual Learning, Nanoteknologi.

1. Pendahuluan dalam pendidikan sains sebagai multidisiplin


Dewasa ini, perkembangan kemajuan ilmu.
teknologi sudah semakin terlihat. Hal tersebut Untuk dapat bersaing di dalam dunia
dibuktikan dengan dapat ditemukannya banyak global, maka siswa perlu dibekali pengetahuan
sekali produk dan aplikasi yang ada disekitar yang memadai kaitannya tentang aplikasi dari
kita yang berbasis nanoteknologi, seperti kain ilmu pengetahuan yang telah mereka dapatkan
anti-kotor, cat anti bakteri, mobile phone dengan selama menjalani proses pembelajaran di
tampilan OLED, pasta gigi, nano-spray dan institusi pendidikan, baik sekolah atau
lain-lain. Nanoteknologi meliputi berbagai universitas. Namun pada kenyataannya, siswa
bidang, seperti kimia, fisika, teknik, biologi, Indonesia masih mendapatkan peringkat yang
obat-obatan dan lain-lain. Pesatnya rendah dibandingkan dengan siswa dari negara-
perkembangan dan pertumbuhan terkait negara lain. Hal tersebut dibuktikan dari hasil
nanoteknologi dan nanosains telah PISA (Programme for International Student
membangkitkan perhatian pendidikan di seluruh Assessment) tahun 2009 menunjukan bahwa
dunia. Cepatnya perkembangan nanoteknologi Indonesia berada pada peringkat sepuluh besar
yang terjadi dalam aspek kehidupan manusia, dari bawah. Sedangkan berdasarkan laporan dari
seperti didalam industri dan penelitian TIMSS (Trends In Mathematic And Science
menjadikan kebutuhan akan pengetahuan Study) pada tahun 2003 dalam (Nirmalasari,
tentang nanoteknologi sangatlah penting. Selain 2011) menunjukkan bahwa Indonesia
itu, pemahaman tentang nanoteknologi juga menempati peringkat ke-35 dari 46 negara
akan terus berkembang di masa depan, maka peserta, selanjutnya berdasarkan studi yang
pembelajaran tentang konteks nanoteknologi dilakukan oleh UNDP tahun 2005 menunjukkan
juga menjadi hal yang penting untuk bahwa HDI (Human Development Index),
dilaksanakan di sekolah khususnya Sekolah Indonesia menduduki peringkat 110 dari 177
Menengah Atas (SMA). Strategi pembelajaran negara yang disurvei, sementara Singapura,
dengan memasukkan konteks nanoteknologi ke Brunei, Malaysia, dan Thailand masing-masing
dalam kurikulum pembelajaran telah dikenalkan menduduki peringkat ke 25, 33, 61, dan 73.
di dalam pendidikan teknik (Lee, 2005) dan Sains di Indonesia khususnya kimia belum

199
Prosiding Seminar Nasional XI “Rekayasa Teknologi Industri dan Informasi 2016
Sekolah Tinggi Teknologi Nasional Yogyakarta

mampu meningkatkan keterampilan proses sains Seorang guru dituntut untuk dapat
siswa, sehingga berdampak pada rendahnya menyajikan materi ajar dengan berbagai
kemampuan siswa dalam mengaitkan konsep pendekatan dan strategi yang kesemuanya
dengan konteks kehidupan sehari-hari diharapkan mampu mengaktifkan peserta didik
(Rumapea, 2011). dan mampu membentuk pemahaman serta
Rendahnya peringkat yang diperoleh keterampilan proses. Menurut John W. Hansen
siswa Indonesia dari hasil tes PISA dikarenakan & Gerald G. Lovedahl (2004) ”belajar dengan
kurangnya pemahaman siswa terhadap konteks melakukan” merupakan sarana belajar yang
atau aplikasi suatu pengetahuan dalam efektif, artinya seseorang akan belajar efektif
kehidupan sehari-hari. Padahal jika didalami, bila ia melakukan. Confucius menyatakan
ternyata soal-soal PISA tidak hanya bahwa “what I do, I understand” (apa yang saya
menanyakan perihal konten (pengetahuan), lakukan, saya mengerti) (Mel Silberman, 2002),
tetapi juga kepada proses dan konteks. artinya ketika seorang guru banyak memberikan
Kegagalan siswa Indonesia dalam tes PISA aktivitas yang bersifat keterampilan, maka
merupakan salah satu indikator bahwa peserta didik akan memahaminya secara lebih
pembelajaran kimia di Indonesia belum baik.
menyentuh aspek konteks dalam kehidupan. Ada kecenderungan pada pemikiran
Oleh karena itu, diperlukan upaya untuk siswa bahwa ia akan belajar lebih baik jika
meningkatkan pengetahuan siswa terkait dengan lingkungan diciptakan lebih alamiah. Belajar
konteks nanoteknologi dalam pembelajaran akan lebih bermakna jika siswa mengalami apa
kimia, sehingga harapannya siswa atau yang dipelajarinya, bukan mengetahuinya.
mahasiswa dapat memperoleh bekal yang cukup Tugas guru dalam kelas adalah membantu siswa
untuk bersaing di dunia global. dalam mencapai tujuan pembelajaran.
Maksudnya, guru lebih banyak berurusan
dengan strategi daripada memberikan informasi.
2. Tujuan Salah satu cara untuk membantu siswa
Tujuan dari penulisan ini adalah memberikan memahami konsep-konsep dan memudahkan
solusi dalam meningkatkan pengetahuan siswa guru dalam mengajarkan konsep-konsep
tentang nanoteknologi dan membekali siswa tersebut adalah dengan mengaitkan materi
untuk bersaing di dunia kerja nantinya dengan pelajaran dengan pengalaman nyata dalam
cara mengintegrasikan konteks nanoteknologi kehidupan sehari-hari. Salah satu topik
dalam pembelajaran kimia. Sehingga nantinya kontekstual yang dapat dijadikan materi
akan dihasilkan output (siswa) yang tidak hanya pembelajaran kimia adalah penggunaan produk-
memiliki pengetahuan (kognitif) yang tinggi, produk berbasis nanomaterial atau produk
namun juga dilengkapi dengan pengetahuan nanoteknologi.
proses dan konteks (penerapan atau aplikasi) Nanoteknologi adalah satu ilmu atau
dari ilmu yang mereka dapatkan. teknologi yang mempelajari obyek yang
ukurannya sangat kecil (sepersemiliar meter),
kemudian dilakukan manipulasi untuk
3. Metode
menghasilkan benda-benda baru yang menjadi
Metode yang digunakan dalam
karakter khusus seperti yang diinginkan.
penulisan ini adalah deskriptif kualitatif
Nanoteknologi merupakan lompatan teknologi
berdasarkan kajian kepustakaan. Pemilihan
untuk merekayasa benda-benda baru dari benda-
pendekatan ini diharapkan dapat memberikan
benda yang sudah ada. Melalui nanoteknologi
gambaran secara cermat mengenai keadaan atau
dapat ditingkatkan nilai tambah dan efisiensi
gejala tertentu pada objek kajian. Dalam hal ini
sebuah benda. Material yang dihasilkan oleh
penulis berusaha membuat gambaran mengenai
nanoteknologi selanjutnya disebut nanomaterial.
pengintegrasian konteks nanotekologike dalam
Sains dan nanoteknologi menghubungkan aspek
pembelajaran kimia melalui contextual learning.
kimia, fisika, biologi, dan teknologi untuk
menciptakan bidang ilmu antardisiplin (Azizah,
4. Pembahasan
2014).

200
Prosiding Seminar Nasional XI “Rekayasa Teknologi Industri dan Informasi 2016
Sekolah Tinggi Teknologi Nasional Yogyakarta

Proses pengintegrasian konteks Gambar 1. Rancangan penelitian


nanoteknologi di dalam pembelajaran kimia
bertujuan agar siswa dapat lebih mengetahui
Mulai
manfaat dari ilmu pengetahuan yang mereka
pelajari dan proses pembelajaran yang mereka
Analisis kebutuhan
lakukan. Selain itu, proses pembelajaran juga
akan menjadi lebih bermakna. Proses Analisis Media Analisis Materi
pengintegrasian konteks nanoteknologi ini dapat
dilakukan dengan cara membuat modul atau Desain
bahan ajar yang didalamnya berisi materi-materi
Pengumpulan Pembuatan
terkait aplikasi nanoteknologi dan peranannya Referensi desain modul
didalam kehidupan manusia. Dalam pembuatan Materi

modul tersebut, dilakukan beberapa tahapan


seperti analisis kebutuhan yang biasa disebut Sampul Bagian isi Daftar pustaka
tahap pengkajian awal, dan lain-lain. Setelah
perangkat dinyatakan layak digunakan
dilanjutkan dengan pengujian keefektifan Modul terintegrasi konteks Implementasi
nanoteknologi
perangkat pembelajaran dengan menggunakan
desain praeksperimen. Dalam penelitian ini Ahli Materi Ahli Media Evaluasi

akan dikembangkan bahan ajar pembelajaran


Revisi
kimia SMA berupa modul lembar kerja siswa,
dan RPP dengan mengintegrasikan konteks pengembangan model Plomp (1997).
nanoteknologi ke dalam materi pembelajaran Gambar 2. Diagram Alir Pembuatan Modul
kimia. Rancangan pengembangan dilakukan Pembelajaran Kimia Terintegrasi Konteks
melalui model pengembangan pengajaran oleh Nanoteknologi
Plomp (1997) yang terdiri dari empat tahap
yaitu tahap pengkajian awal, tahap perencanaan, Konteks nanoteknologi yang akan
tahap realisasi/konstruksi, dan tahap diintegrasikan ke dalam modul pembelajaran
implementasi seperti terlihat pada gambar 1. kimia yaitu meliputi :
Sedangkan proses diagram alir pembuatan
 Sejarah nanoteknologi,
bahan ajar kimia ini dapat dilihat secara rinci
pada Gambar 2 dibawah ini.  Definisi istilah terkait
nanoteknologi,
 Pentingnya nanoteknologi,
 Aplikasi nanoteknologi dalam
kehidupan,
 Pembuatan nanomaterial,
 Manfaat adanya nanoteknologi.

Uji coba kelayakan perangkat pembelajaran


berbasis implementasi konteks nanoteknologi
Pengkajian awal Uji coba terbatas terhadap perangkat
pembelajaran direncanakan akan dilakukan di
SMA dalam hal usability (keterpakaian)
Tahap perencanaan perangkat pembelajaran berbasis implementasi
konteks nanoteknologi dalam bentuk Modul
disertai lembar kerja siswa (LKS) dan RPP
Realisasi / Kontruksi (Rancangan Proses Pembelajaran) pada salah
satu materi kimia SMA. Usability dan
kepraktisan untuk guru dan siswa dilakukan
Tahap Implementasi dengan pemberian angket kepada guru (angket

201
Prosiding Seminar Nasional XI “Rekayasa Teknologi Industri dan Informasi 2016
Sekolah Tinggi Teknologi Nasional Yogyakarta

pendapat guru) setelah menggunakan perangkat Data yang diperoleh berupa hasil uji
tersebut, serta kepada siswa diberikan angket coba keefektifan pembelajaran Contekstual
pendapat siswa setelah guru yang bersangkutan teaching and learning (CTL) dianalisis dengan
menguji coba perangkat pembelajaran. SPSS for windows 15,0.

Validasi ahli terhadap perangkat 5. Kesimpulan


pembelajaran
Penilaian terhadap perangkat pembelajaran Diharapkan dengan dilaksanaknnya proses
berbasis implementasi konteks nanoteknologi pembelajaran berbasis contextual learning
dianalisis berdasarkan indikator sebagai berikut: dengan menggunakan bahan ajar yang
80% - 100 % (valid), 60% - 79% (cukup valid), terintegrasi dengan konteks nanoteknologi dapat
< 60 % ( tidak valid) (Arikunto dalam Munir, T meningkatkan keterampilan proses siswa dan
2010). pada akhirnya akan dihasilkan output dengan
kompetensi kognitif dan juga keterampilan
Uji Persepsi sikap siswa dan Guru proses yang berguna dalam bersaing di dunia
Data yang terkumpul dari hasil uji coba terbatas global.
berupa angket baik dari siswa maupun guru
dianalisis secara deskriptif dengan teknik 6. Daftar Pustaka
persentase. Arikunto, Suharsimi. 2008. Dasar-Dasar
Evaluasi Pendidikan. Jakarta. Bumi
Angket persepsi siswa memuat indikator :
Aksara.
a) Ketertarikan belajar materi kimia Azizah, R. N. 2014. Pengembangan Bahan Ajar
berbasis implementasi konteks yang Bermuatan Teknologi Nano untuk
nanoteknologi dengan menggunakan Mencapai Literasi Sains Siswa Melalui
perangkat yang telah dibuat. Pendekatan Model Rekonstruksi
b) Kemudahan dalam memahami konsep- Pendidikan. Skripsi. Bandung : UPI
John, W. H. and Gerald, G. L. 2004. Developing
konsep materi kimia dengan
technology teachers : questioning the
pembelajaran berbasis implementasi industrial tool use model. Journal of
konteks nanoteknologi. Technology Education. 15 (2), 20 – 32.
c) Membuat rasa ingin tahu siswa Lee, F. M. 2005. Teaching strategies for
menjadi tinggi. Nanotechnology in Engineering
d) Kemampuan siswa menghubungkan Education. Exploring Innovation in
konsep dengan apa yang telah Education and Research.
Mel, S. 2002. Active learning : 101 strategies to
diketahui dalam kehidupan sehari-hari
teach any subjec (Terjemahan Sarjuli,
mereka. Adzfar Ammar, Sutrisno, et. Al.).
e) Kejelasan contoh-contoh konsep yang Boston : Allyn and Bacon. (buku asli
terkait dengan kehidupan sehari-hari. diterbitkan tahun 1996)
Angket persepsi Guru memuat : Nirmalasari, M. 2011. Pengembangan Model
a) Kemudahan dan kepraktisan perangkat Memorization Learning dalam
(modul) yang dibuat. meningkatkan Pemahaman Peserta
Didik pada Pelajaran Kimia SMA , 1.
b) Kenyamanan dan ketertarikan siswa
Plomp. 1997. Educational and Training System
dalam proses pembelajaran dengan Design. Enschede, The Netherlands:
menggunakan perangkat dan model University of Twente.
pembelajaran berbasis implementasi Programme for International Student
konteks nanoteknologi. Assessment (PISA) 2012 Framework.
c) Kejelasan konsep dengan contoh- RESEARCH AND DEVELOPMENT
DEPARTMENT
dalam kehidupan sehari-hari.
([Link] diakses
d) Kemudahan dalam memahami konsep- 30 Oktober 2016.
konsep materi kimia berbasis Rumapea, I. 2011. Pengembangan Model
implementasi konteks nanoteknologi. Memorization Learning. Online:
([Link]
Pengujian keefektifan model dan perangkat 1/10/21/pengembangan-model-
pembelajaran berbasis CTL memorization-learning) diakses 30
Oktober 2016.

202

Anda mungkin juga menyukai