BAB III
TINJAUAN TEORITIKAL ARSITEKTUR NEO-
VERNAKULAR DAN BANGUNAN ADAT SASAK
3.1 Arsitektur Neo-Vernakular
3.1.1 Latar Belakang Munculnya Arsitektur Neo-Vernakular
Istilah arsitektur Vernakular yang berkembang di dunia konstruksi
pada dasarnya merupakan pengembangan dari arsitektur Tradisional yang
terbentuk oleh tradisi turun-temurun, tanpa adanya pengaruh dari luar.
Vernakular memiliki pengertian sebagai bahasa setempat. Pada
lingkup Arsitektur, Vernakular digunakan sebagai istilah untuk
mendefinisikan bentuk-bentuk yang menerapkan unsur-unsur budaya
setempat maupun lingkungan sekitar termasuk iklim yang diungkapkan
dalam bentuk arsitektural baik fisik maupun non fisik (zonasi, blockplan,
struktur, detail, ornamen dan lain-lain) (Sumalyo, 2005).
Seiring berkembangnya teknologi dalam dunia konstruksi pada era
arsitektur Modern, karya arsitektural pun mulai mengedepankan nilai
fungsional dari sebuah bangunan dan tidak lagi menggunakan unsur-unsur
budaya setempat seperti pada arsitektur Vernakular. Namun arsitektur
Modern justru menghasilkan karya arsitektural yang monoton dan tidak
memiliki karakter yang mampu membedakan bangunan yang satu dengan
yang lainnya, seperti misalnya bentuk-bentuk Kubisme dan International
style yang cenderung kotak-kotak. Kondisi ini kemudian menyebabkan
timbulnya suatu sikap dalam bentuk protes dari para arsitek, sehingga
muncul paham baru yaitu arsitektur Post-Modern.
Menurut Charles Jenks, terdapat beberapa penyebab yang
mendasari munculnya era Post Modern diantaranya, perkembangan
teknologi dan komunikasi yang menyebabkan kehidupan ikut
berkembang dari terbatas
1
menjadi tidak terbatas. Namun pada era ini, perkembangan tersebut tetap
diikuti oleh kecenderungan manusia untuk menoleh kebelakang, sehingga
terdapat nilai-nilai tradisional atau daerah setempat di dalamnya.
Dalam perkembangan arsitektur Post-Modern (pertengahan tahun
1960-an), terdapat 6 (enam) aliran yang muncul diantaranya, Historiscism,
Contextualism, Straight Revivalism, Methapor, Neo-Vernacular, dan Post
Modern Space (Jencks, 1984). Terdapat suatu bentuk yang mengacu pada
istilah “bahasa setempat” dengan mengambil elemen-elemen arsitektur
yang sudah ada ke dalam bentuk baru yang lebih modern disebut Neo-
Vernacular.
Neo-Vernacular adalah suatu penerapan elemen arsitektur yang
telah ada, baik fisik (bentuk, konstruksi) maupun non fisik (konsep,
filosofi, tata ruang) dengan tujuan melestarikan unsur-unsur lokal yang
telah terbentuk secara empiris oleh sebuah tradisi yang kemudian sedikit
atau banyaknya mengalami pembaruan menuju suatu karya yang lebih
modern atau maju tanpa mengesampingkan nilai-nilai tradisi setempat
(Tjok Pradnya Putra, 2014)
Berdasarkan definisi tersebut, terdapat beberapa kriteria yang
mempengaruhi arsitektur Neo-Vernacular, diantaranya :
1. Penerapan unsur budaya dan lingkungan setempat pada elemen
fisik bangunan (zonasi, blockplan, detail, struktur, dan ornamen).
2. Penerapan elemen non-fisik seperti budaya pola pikir, kepercayaan,
dan tata letak yang mengacu pada makro kosmos. Elemen non-fisik
ini biasanya diimplementasikan ke dalam konsep perancangan.
3. Prinsip-prinsip bangunan Vernakular tidak diterapkan secara
murni, melainkan mengalami pengaruh perkembangan teknologi
yang menghasilkan karya baru dengan mengutamakan penampilan
visualnya.
2
3.1.2 Ciri-ciri Arsitektur Neo-Vernakular
Menurut Charles Jenks, terdapat beberapa ciri-ciri Arsitektur Neo-
Vernakular sebagai berikut :
1. Menggunakan atap bubungan, atap memiliki tritisan yang
memanjang ke arah permukaan tanah yang menutupi dinding,
sehingga diibaratkan sebagai elemen pelindung dan penyambut.
2. Penggunaan batu bata.
3. Menggunakan bentuk-bentuk tradisional yang ramah lingkungan
dengan proporsi yang lebih vertikal.
4. Kesatuan antara interior dengan ruang luar yang ada disekitarnya.
5. Warna-warna yang kuat dan kontras.
3.1.3 Prinsip-Prinsip Perancangan Arsitektur Neo-Vernakular
Arsitektur Neo-Vernakular memiliki beberapa prinsip-prinsip
perancangan sebagai berikut :
1. Hubungan Langsung, hubungan dengan arsitektur setempat yang
disesuaikan dengan nilai-nilai atau fungsi dari bangunan sekarang.
2. Hubungan Abstrak, meliputi interprestasi ke dalam bentuk
bangunan yang dapat dipakai melalui analisa tradisi budaya dan
peninggalan arsitektur.
3. Hubungan Lansekap, merupakan hubungan dengan lingkungan
sekitar seperti kondisi fisik termasuk topografi dan iklim.
4. Hubungan Kontemporer, meliputi pemilihan penggunaan teknologi
yang sesuai dengan kebutuhan pada masa sekarang.
5. Hubungan Masa Depan, merupakan perancangan yang memiliki
keberlanjutan atau bersifat sustainable dalam mengantisipasi
kondisi yang akan datang.
3
Table 3.1 Perbandingan Arsitektur Tradisional, Vernacular, dan Neo-Vernacular
No Perbandingan Tradisional Vernakular Neo-Vernakular
1 Ideologi Terbentuk Terbentuk oleh Penerapan elemen
oleh tradisi tradisi turun- arsitektur yang
yang temurun tetapi sudah ada dan
diwariskan terdapat kemudian sedikit
secara turun- pengaruh dari atau banyaknya
temurun luar baik fisik mengalami
berdasarkan maupun non- pembaruan menuju
kultur dan fisik, bentuk suatu karya yang
kondisi lokal. perkembangan modern.
arsitektur
tradisional.
2 Prinsip Tertutup dari Berkembang Arsitektur yang
perubahan setiap waktu bertujuan untuk
zaman, terpaut untuk melestarikan unsur-
pada satu merefleksikan unsur lokal yang
kultur lingkungan, telah terbentuk
kedaerahan, budaya dan secara empiris oleh
dan sejarah dari tradisi dan
mempunyai daerah asal mengembangkannya
peraturan arsitektur menjadi suatu
maupun tersebut berada. langgam yang
norma-norma Transformasi modern. Merupakan
keagamaan dari situasi kultur pengembangan dari
yang kental. homogen ke arsitektur
situasi yang lebih Vernacular.
heterogen.
3 Ide Desain Lebih Ornamen sebagai Bentuk desain lebih
mementingkan pelengkap, tidak modern.
4
fasade atau meninggalkan
bentuk, nilai-nilai
ornamen setempat tetapi
sebagai suatu dapat melayani
keharusan. aktifitas
masyarakat di
dalamnya.
Sumber : Sony Susanto, Joko Triyono, Yulianto Sumalyo, diakses pada 20/06/19 4:31 AM dari
[Link]
3.1.4 Metode Eksplorasi untuk Pembaharuan dalam Arsitektur Neo-
Vernakular
Menurut Deddy Erdiono dalam Jurnal Sabua Vol.3, No.3:32-39,
2011 berjudul Arsitektur ‘Modern’ (Neo) Vernacular di Indonesia,
menyatakan bahwa terdapat 4 (empat) pendekatan yang harus diperhatikan
terkait dengan bentuk dan makna dalam merancang bangunan yang
mengambil elemen-elemen fisik maupun non-fisik dari bangunan
tradisional dalam konteks modern atau ke-kini-an, sebagai berikut :
1. Bentuk dan maknanya tetap.
2. Bentuk tetap dengan makna baru.
3. Bentuk baru dengan makna tetap.
4. Bentuk dan maknanya baru.
Pendekatan pada point nomor 3 (tiga), arsitektur Neo-Vernacular
dapat menghadirkan bentuk baru dalam pengertian unsur-unsur lama
mengalami pembaharuan. Hal ini dapat disebabkan oleh penyesuaian
terhadap kebutuhan pada masa kini maupun keinginan untuk melakukan
transformasi bentuk pada bentuk lama, namun tidak lepas sama sekali
dengan makna maupun unsur-unsur sebelumnya, sehingga tidak terjadi
kejutan budaya (culture shock).
5
3.2 Elaborasi Pendekatan Arsitektur Neo-Vernakular dengan Konsep
Bangunan Tradisional Sasak di Desa Sade Khususnya Bale Tani,
Bale Kodong, dan Lumbung
Menurut Tjok Pradnya Putra dalam Pengertian Arsitektur Neo-
Vernacular, menyatakan bahwa Neo-Vernacular adalah suatu penerapan
elemen arsitektur yang telah ada, baik fisik (bentuk, konstruksi) maupun non
fisik (konsep, filosofi, tata ruang) dengan tujuan melestarikan unsur-unsur
lokal yang telah terbentuk secara empiris oleh sebuah tradisi yang kemudian
sedikit atau banyaknya mengalami pembaruan menuju suatu karya yang
lebih modern atau maju tanpa mengesampingkan nilai-nilai tradisi setempat.
Desa Sade merupakan sebuah desa adat yang terletak di dusun Sade,
desa Rembitan, kecamatan Pujut, Lombok Tengah. Desa ini memiliki
elevasi yang lebih tinggi dibandingkan dengan desa di sekitarnya karena
dibangun di atas tanah perbukitan. Hal ini merupakan sebuah aturan atas
dasar kepercayaan bahwa untuk membangun sebuah hunian masyarakat
tidak boleh membangun di dataran rendah yang cenderung lebih subur dan
diperuntukkan untuk bercocok tanam, melainkan harus membangun di atas
perbukitan yang tandus. Jika tanah perbukitan sudah terbangun semua, maka
masyarakat yang ingin membangun rumah harus mencari perbukitan baru
yang ada di sekitarnya.
Gambar 3.1 Bale Tani di Desa Sade
Sumber : [Link] (diakses pada 22 April, 2019)
6
Desa Sade merupakan salah satu desa yang masih mempertahankan
adat istiadat, norma budaya maupun keberadaan arsitektur bangunan yang
ada di dalamnya. Keberadaan arsitektur di tengah masyarakat desa Sade
disebabkan karena arsitektur merupakan bagian dari perkembangan
kebudayaan yang tidak dapat dipisahkan. Arsitektur merupakan buah
daripada kebudayaan itu sendiri (Mario Salvadori/ Ruskin-1974:12).
Desa Sade memiliki beberapa jenis bangunan adat diantaranya, Bale
Tani, Lumbung, Bale Jajar, Berugag/Sekepat, Sekenam, Bale Bonter, Bale
Beleq Becingah, Bale tajuk, Bale Gunung Rate, Bale Balaq, dan Bale
Kodong. Bangunan-bangunan tersebut pada dasarnya memiliki bentuk yang
hampir sama dengan ukuran maupun fungsi yang berbeda, misalnya
Lumbung dan Sekenam memiliki fungsi salah satunya sebagai tempat
berkumpul, Sekenam dan Sekepat atau Bale Tani dan Bale Kodong memiliki
ukuran yang berbeda namun fungsinya sama.
Berdasarkan uraian di atas, penerapan konsep bangunan tradisional
Sasak di desa Sade diperoleh melalui pendekatan arsitektur Neo-Vernakular
dengan mengambil elemen bentuk dan tata ruang dari beberapa bangunan
yang mampu mewakili karakteristik bangunan adat di desa Sade
diantaranya, Bale Tani, Bale Kodong, dan Lumbung.
3.3 Identifikasi Bangunan Adat di Desa Sade
Elemen-elemen yang akan diidentifikasi pada bangunan adat di Desa
Sade yaitu, elemen fisik (bentuk atap, lantai, pintu dan jendela) dan elemen
non-fisik (filosofi dan tata ruang).
3.3.1 Bale Tani dan Bale Kodong
Bale Tani merupakan bangunan utama di desa desa Sade
yang memiliki fungsi sebagai tempat tinggal. Bale ini dihuni oleh
suku Sasak yang memiliki pekerjaan petani, sehingga disebut dengan
Bale Tani. Secara garis besar Bale Tani terbagi menjadi dua bagian
yaitu
7
bale dalem yang berfungsi sebagai tempat tidur anggota keluarga
perempuan sekaligus sebagai dapur dan bale luar yang
diperuntukkan untuk anggota keluarga lainnya sekaligus sebagai
ruang tamu.
Sedangkan, Bale Kodong hampir sama seperti Bale Tani,
yaitu memiliki fungsi sebagai tempat tinggal, namun memiliki
ukuran yang lebih kecil dan diperuntukkan untuk pengantin baru
sebagai tempat untuk berbulan madu. Selain itu bale ini dibangun
dengan tujuan agar anak yang baru saja menikah mampu menjalani
hidup dengan mandiri.
A. Atap
Bale Tani dan Bale Kodong memiliki keunikan pada
bentuk atap yang menjulang tinggi, hal ini berkaitan dengan
kepercayaan masyarakat bahwa atap yang menjulang tinggi
merepresentasikan hubungan manusia dengan Tuhan. Bentuk atap
ini pada dasarnya memiliki kesamaan dengan atap limasan,
namun secara vertikal memiliki proporsi yang lebih tinggi dan
memiliki teritisan yang menukik ke tanah ±1,5 – 2 meter.
Gambar 3.2 Konstruksi Atap Bale Tani
Sumber : kemenpar (diakses pada 22 April 2019)
8
Gambar 3.3 Konstruksi Atap Bale Tani
Berkala Teknik Vol 1 No.6 November 2010
Material pada atap berupa material yang ada di sekitar,
yakni alang-alang yang dikeringan. Struktur pada atap hampir
sama dengan atap-atap limasan pada umumnya dengan konstruksi
kayu sebagai penyangga atap.
B. Lantai
Lantai pada Bale tani memiliki elevasi yang lebih tinggi
dari tanah, dan memiliki perbedaan elevasi pula pada setiap
ruangnya, sehingga membentuk sebuah hirarki yang menunjukkan
kedekatan dengan Tuhan dan bersifat sakral.
Gambar 3.4 Lantai Bale Tani
Sumber : [Link] (dikases pada 22 April 2019)
9
C. Pintu dan Jendela
Keunikan lainnya pada bangunan adat di Desa Sade, yakni
pintu masuk menuju ke dalam rumah. Terdapat satu pintu yang
diletakkan di bagian depan rumah, pintu ini memiliki ketinggian
yang lebih rendah dari standar pintu rumah di Indonesia pada
umumnya, yakni <2.1 meter. Hal ini bertujuan agar tamu
menundukkan kepala ketika ingin memasuki rumah untuk
menghormati pemilik rumah.
Gambar 3.5 Pintu pada Bale Tani
Sumber : [Link]
Jendela pada bangunan adat di desa Sade rata-rata memiliki
ukuran yang kecil dan tidak memiliki penghias atau ornamen,
melainkan hanya pola garis vertikal yang dihasilkan oleh susunan
kayu dan pola yang dihasilkan oleh anyaman bambu.
Gambar 3.6 Jendela pada Bangunan Tradisional di desa Sade
Sumber : Jamal Ramadhan/kumparan
10
3.3.2 Lumbung
Lumbung merupakan salah satu bangunan tradisional di desa
Sade yang berfungsi sebagai tempat menyimpan bahan pangan dan
tempat duduk (berkumpul). Bentuk Lumbung biasanya digunakan
pada bangunan-bangunan instansi pemerintahan di Lombok, namun
saat ini bentuk Lumbung perlahan mulai ditinggalkan.
Gambar 3.7 Lumbung di desa Sade
Sumber : [Link]
Secara vertikal, tata ruang lumbung dibagi menjadi tiga,
diantaranya atas, tengah, dan bawah. Pada bagian bawah merupakan
lantai yang dinaikkan sebagai pijakan lumbung yang dianggap tidak
terlalu penting. Bagian tengah yang memiliki 4 tiang (sekepat)
berfungsi sebagai ruang duduk, tempat menenun, beristirahat, atau
berkumpul. Sedangkan bagian atas merupakan tempat penyimpanan
padi dan bahan-bahan makanan lainnya.
Bagian atas ini kemudian dibagi secara horizontal menjadi 3
bagian, yaitu Impan Kaken (kebutuhan jangka pendek), Sangu Aiq
(kebutuhan jangka menengah), dan Sangu Idup (kebutuhan jangka
panjang). Konsep Lumbung merupakan konsep ketahanan pangan
masyarakat Lombok yang diimplementasikan ke dalam tata ruang
bangunannya.
11