BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Landasan Teori
2.1.1 Pelayanan Publik
Menurut Kotler dan Keller (2018:35) definisi pelayanan adalah setiap
tindakan atau kegiatan yang dapat ditawarkan oleh suatu pihak kepada pihak
lain, yang pada dasarnya tidak berwujud dan tidak mengakibatkan kepemilikan
apapun. Kotler juga mengatakan bahwa perilaku tersebut dapat terjadi pada
saat, sebelum dan sesudah terjadinya transaksi. Pada umumnya pelayanan
yang bertaraf tinggi akan menghasilkan kepuasan yang tinggi serta pembelian
ulang yang lebih sering. Menurut Wickof (Zulian Yamit, 2010:47), bahwa
pengertian kualitas pelayanan adalah tingkat kesempurnaan yang diharapkan
dan pengendalian atas tingkat kesempurnaan tersebut untuk memenuhi
keinginan pelanggan. Pelayanan konsumen dikatakan sebagai customer service
yaitu berbagai aktivitas diseluruh area bisnis yang berusaha mengkombinasikan
antara penjualan jasa untuk memenuhi kepuasan konsumen mulai dari
pemesanan, pemprosesan, hingga pemberian hasil jasa melalui komunikasi
untuk mempererat kerja sama dengan konsumen tujuannya adalah untuk
memperoleh keuntungan (Lupioadi, 2013:119).
Sedangkan menurut Goeth dan Davis dalam (Algifari, 2017:120)
mengartikan kualitas sebagai suatu kondisi dinamis yang berhubungan dengan
produk, jasa, manusia, proses dan lingkungan yang memenuhi atau melebihi
harapan. Hal-hal yang menyangkut tentang pelayanan yaitu faktor manusia yang
melayani, alat atau fasilitas yang digunakan untuk memberikan pelayanan,
mekanisme kerja yang digunakan dan bahkan sikap masing-masing orang yang
memberi pelayanan dan yang dilayani. Pada prinsipnya konsep palayanan
4
5
memilki berbagai macam definisi yang berbeda menurut penjelasan para ahli,
namun pada intinya tetap merujuk pada konsepsi dasar yang sama. Kamus
Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mengertikan kualitas sebagai tingkat baik
buruknya atau taraf deretan sesuatu (Algifari, 2017:120). Berdasarkan pendapat
diatas maka kualitas jasa dapat diartikan sebagai bentuk kesesuaian antara
pelayanan yang diberikan perusahaan dengan tingkat harapan yang diinginkan
konsumen. Pelayanan dapat didefinisikan sebagai segalah bentuk
kegiatan/aktifitas yang diberikan oleh suatu pihak atau lebih kepada pihak lain
yang memiliki hubungan dengan tujuan untuk dapat memberikan kepuasan
kepada kedua yang bersangkutan atas barang dan jasa yang diberikan.
Pelayanan memiliki pengertian yaitu terdapatnya dua unsur atau kelompok orang
masing-masing saling membutuhkan dan memiliki keterkaitan, oleh karena itu
peranan dan fungsi yang melekat pada masing-masing unsur tersebut berbeda.
Menurut Jusuf Suit dan Almasdir (2012:88) untuk melayani pelanggan
secara prima kita diwajibkan untuk memberikan layanan yang pasti handal, cepat
serta lengkap dengan tambahan empati dan penampilan menarik.
2.1.2 Karakteristik Pelayanan
Pelayanan pada dasarnya adalah kegiatan yang ditawarkan oleh
organisasi atau perorangan kepada konsumen (customer) yang bersifat tidak
berwujud dan tidak dapat dimiliki. Hal ini sesuai dengan apa yang disampaikan
oleh Norman dalam (Mhd Rusydi, 2017: 50- 51) mengenai karasteristik
pelayanan, yakni :
1. Pelayanan bersifat tidak dapat diraba, pelayanan sangat berlawanan sifatnya
dengan barang jadi.
2. Pelayanan itu kenyataannya terdiri dari tindakan nyata dan merupakan
pengaruh yang sifatnya adalah tindakan sosial.
6
3. Produksi dan konsumsi dari pelayanan tidak dapat dipisahkan secara nyata,
karena pada umumnya kejadiannya bersamaan dan terjadi di tempat yang
sama.
2.1.3 Dimensi-Dimensi Kualitas Pelayanan
Pelayanan pada dasarnya adalah kegiatan yang ditawarkan oleh
organisasi atau perorangan kepada konsumen (customer) yang bersifat tidak
berwujud dan tidak dapat dimiliki. Hal ini sesuai dengan apa yang disampaikan
oleh Norman dalam (Mhd Rusydi, 2017: 50- 51) mengenai karasteristik
pelayanan, yakni :
Kualitas Pelayanan dapat diketahui dengan cara membandingan persepsi
pelanggan atas layanan yang benar-benar mereka terima dengan layanan
sesungguhnya yang mereka harapkan. Lupiyoadi (2013:182)
mengidentifikasikan lima kelompok karasteristik yang digunakan konsumen
dalam mengevaluasi kualitas pelayanan jasa, antara lain adalah :
1. Tangible
Tangible atau bukti fisik yaitu kemampuan perusahaan (instansi) dalam
menunjukkan eksistensinya kepada pihak eksternal. Yang dimaksud bahwa
penampilan dan kemampuan sarana dan prasarana fisik perusahaan (instansi)
dan keadaan lingkungan sekitarnya adalah bukti nyata dan pelayanan yang
diberikan.
2. Reliability
Reliability atau kehandalan yaitu kemampuan perusahaan (instansi)
untuk memberikan pelayanan sesuai yang dijanjikan secara akurat dan
terpercaya.
7
3. Responsiveness
Responsiveness atau ketanggapan yaitu suatu kemauan untuk
membantu dan memberikan pelayanan yang cepat dan tepat kepada
pelanggan (masyarakat), dengan penyampainan informasi yang jelas.
4. Assurance
Assurance atau jaminan dan kepastian yaitu pengetahuan,
kesopansantunan dan kemampuan para pegawai perusahaan (instansi)
untuk menumbuhkan rasa percaya para pelanggan kepada perusahaan
(instansi).
5. Empathy
Empathy yaitu memberikan perhatian yang tulus dan bersifat individu
atau pribadi yang diberikan kepada para pelanggan (masyarakat) dengan
berupaya memahami keinginan pelanggan (masyarakat).
2.1.4 Kualitas Pelayanan Publik
Kualitas pelayanan publik Secara teoritis, tujuan pelayanan publik pada
dasarnya adalah memuaskan masyarakat. Untuk mencapai kepuasan itu
dituntutkan kualitas pelayanan prima yang tercermin dari (Sinambela,2014:6) :
1. Transparasi
Yakni pelayanan yang bersifat terbuka,mudah dan dapat diakses oleh
semua pihak yang membutuhkan dan mudah di mengerti.
2. Akuntabilitas
Yakni pelayanan yang dapat dipertanggung jawabkan sesuai dengan
ketentuan peraturan perUndang-Undangan.
3. Kondisional
8
Yakni pelayanan yang sesuai dengan kondisi dan kemampuan
pemberi dan penerima pelayanan dengan tetap berpegang pada prinsip
efisiensi dan efektivitas.
4. Partisipatif
Yaitu pelayanan yang dapat mendorong peran serta masyarakat
dalam penyelenggaraan pelayanan publik dengan memperhatikan aspirasi,
kebutuhan, dan harapan masyarakat.
5. Kesamaan Hak
Yaitu pelayanan yang tidak melakukan diskriminasi dilihat dari aspek
apapun khususnya suku, ras, agama, golongan, status sosial,
6. Keseimbangan hak dan kewajiban
Pelayan yang mempertimbangkan aspek keadilan antara pemberi dan
penerima pelayanan.
2.1.5 Jenis-jenis Pelayanan
Menurut Batinggi (2011:21), bahwa terdapat 3 (tiga) jenis layanan yang
bisa dilakukan oleh siapapun, yaitu :
1. Layanan dengan lisan
Agar layanan lisan berhasil sesuai dengan yang diharapkan, ada syarat-
syarat yang harus dipenuhi oleh pelaku layanan, yaitu :
a. Memahami masalah-masalah yang termasuk ke dalam tugasnya.
b. Bertingkah laku sopan dan ramah.
c. Mampu memberikan penjelasan apa yang diperlukan.
2. Layanan dengan tulisan
Layanan melalui tulisan merupakan bentuk layanan yang paling menonjol
dalam melaksanakan [Link] tulisan ini terdiri dari 2 (dua) golongan
yaitu :
9
1. Berupa pentunjuk informasi dan sejenis ditujukan kepada orang-orang
yang berkepentingan, agar memudahkan mereka dalam berurusan
dengan instansi atau lembaga pemerintah.
2. Layanan berupa reaksi tertulis atau permohonan laporan, pemberian/
penyerahan), pemberitahuan dan sebagainya.
3. Layanan dengan perbuatan Dalam kenyataan sehari-hari layanan ini
memang tidak terhindar dari layanan lisan jadi antara layanan perbuatan
dan lisan sering digabung. Hal ini disebabkan karena hubungan
pelayanan banyak dilakukan secara lisan.
2.1.6 Model Kualitas Pelayanan
Berdasarkan hasil sintesis terhadap berbagai riset yang dilakukan
Groongos yang dikutip dalam Fandy Tjiptono (2011:261) mengemukakan enam
kriteria kualitas pelayanan yang dipersepsikan baik, yakni sebagai berikut :
1. Profesionalisme and Skills
Pelanggan mendapati bahwa penyedia jasa, karyawan sistem
operasional, dan sumber daya fisik memiliki pengetahuan untuk memecahkan
adalah mereka secara professional ( outcomerelated criteria).
2. Attitudes and Behavior
Pelanggan merasa bahwa karyawan jasa (Customer contact personel)
menaruh perhatian besar pada mereka dan berusaha membantu memecahkan
masalah mereka secara spontan dan ramah.
3. Accecbility and Flexibility
Pelanggan merasa bahwa penyedia jasa, lokasi, jam operasi karyawan
dan sistem operasionalnya, dirancang dan dioperasikan sedemikian rupa
sehingga pelanggan dapat mengakses jasa tersebut dengan mudah. Selain itu,
10
juga dirancang dengan maksud agar dapat menyesuaikan permintaan dan
keinginan pelanggan secara luwes.
4. Reliability and Trustworthiness
Pelanggan memahami bahwa apapun yang terjadi atau telah disepakati,
mereka bisa mengandalkan penyedia jasa beserta karyawan dan sistemnya
dalam menentukan janji dan melakukan segala sesuatu dengan mengutamakan
kepentingan pelanggan.
5. Recovery
Pelanggan menyadari bahwa bila terjadi kesalahan atau sesuatu yang
tidak diharapkan dan tidak diproduksi, maka jasa akan segera mengambil
tindakan untuk mengendalikan situasi dan mencari solusi yang tepat
6. Repotation and Credibility
Pelanggan meyakini bahwa operasi dari penyedia jasa dapat dipercaya
dan memberikan nilai/imbalan yang sepadan dengan biaya yang dikeluarkan
2.1.7 Pengertian Kepuasan Masyarakat
Kepuasan merupakan respon positif dari pelanggan dimana ditunjukkan
dengan hal seperti perasaan senang, terpenuhinya harapan atas suatu kinerja
dan pelayanan. Menurut Sumarwan (2011:261), kepuasan adalah tingkat
perasaan setelah membandingkan kinerja/hasil yang dirasakan dengan
harapannya. Kepuasan Masyarakat adalah pendapat masyarakat dalam
memperoleh pelayanan dari aparatur penyelenggaraan pelayanan publik dengan
membandingakan antara harapan dan kebutuhannya (Kepmen PAN nomor 16
tahun 2014). Sedangkan Tjiptono (2011:24), mengemukakan bahwa kepuasan
pelanggan ditentukan oleh dua hal yaitu keluhan dan harapan pelanggan
11
terhadap jasa yang diterima dari pemberi layanan. Hal ini menunjukkan
kepuasan merupakan fungsi dari kesan kinerja dan [Link] kinerja berada
dibawah harapan pelanggan akan merasa tidak [Link], jika kinerja
memenuhi harapan pelanggan akan merasa puas.
2.1.8 Tujuan Pemberian Kepuasan Pada Masyarakat
Setiap layanan yang diberikan, senantias berorientasi pada tujuan
member kepuasan kepada masyarakat. Menurut Purnama (2012:208), bahwa
kepuasan seseorang dapat terlihat dari tingkat penerimaan layanan yang
didapatkan. Tanda dari kepuasan tersebut diidentifikasi sebagai berikut :
1. Senang atau kecewa atas perlakuan atau pelayanan yang telah diterima atau
diberikan.
2. Mengeluh atau mengharap atas perlakuan yang semestinya harus diterima
atau diperoleh.
3. Tidak membenarkan atau menyetujui sesuatu yang bertautan dengan
kepentingannya.
4. Menghendaki pemenuhan kebutuhan dan keinginan atas berbagai
pelayanan yang [Link] tanda tersebut dapat berbeda-beda sesuai
dengan bentuk pelayanan jasa yang diterima.
2.1.9 Tingkat Kepuasan Masyarakat
Menurut Philip Kotler dalam (Mhd Rusydi 2017:27-28), pelanggan dapat
mengalami salah satu dari tingkat kepuasan, yaitu :
1. Bila kinerja lebih rendah dari harapan pelanggan, pelanggan akan merasa
tidak puas,
karenanya harapan lebih tinggi dari pada yang diterima pelanggan dari
pemberi jasa
12
2. Bila kinerja sesuai dengan harapan pelanggan, pelanggan akan merasa puas
karena
harapan sesuai dengan apa yang diterima oleh pelanggan dari pemberi
produk.
3. Bila kinerja melebihi dari harapan pelanggan, pelanggan akan sangat merasa
puas
karena apa yang diterimanya melebihi apa yang mereka harapkan.
Jadi, tingkat kepuasan merupakan fungsi dari perbedaan antara kinerja
yang dirasakan dan harapan. Kepuasan merupakan tingkat perasaan pelanggan
yang diperoleh setelah pelanggan melakukan/menikmati sesuatu pelayanan.
2.1.10 Unsur-Unsur Kepuasan Masyarakat
Menurut Kepmen PAN Nomor 16 tahun 2014, ada beberapa dimensi
yang menjelaskan kinerja pegawai pelayanan publik. Dari peraturan tersebut,
ada 14 hal yang berkaitan dengan kepuasan masyarakat dari kualitas pelayanan
yang dilakukan oleh pegawai/petugas pelayanan, yaitu:
1. Prosedur pelayanan
Yaitu kemudahan tahapan pelayanan yang diberikan kepada masyarakat
dilihat dari sisi kesederhanaan alur pelayanan;
2. Persyaratan pelayanan
Yaitu persyaratan teknis dan administrasi yang dibutuhkan untuk
mendapatkan pelayanan sesuai dengan jenis pelayanannya;
3. Kejelasan petugas pelayanan
Yaitu keberadaan dan kepastian petugas yang memberikan pelayanan
(nama,jabatan serta kewenangan dan tanggung jawabnya)
4. Kedisiplinan petugas pelayanan
13
Yaitu kesunguhan petugas dalam memberikan pelayanan terutama
terhadap konsistensi waktu kerja sesuai ketentuan yang berlaku
5. Tanggung jawab petugas pelayanan
Yaitu kejelasan wewenang dan tangung jawab petugas dalam
penyelenggaraan dan penyelesaian palayanan
6. Kemampuan petugas pelayanan
Yaitu tingkat keahlian dan ketrampilan yang memiliki petugas dalam
memberikan/menyelesaikan pelayanan kepada masyarakat
7. Kecepatan pelayanan
Yaitu target waktu pelayanan dapat diselesaikan dalam waktu yang telah
ditentukan oleh unit penyelenggara pelayanan
8. Keadilan pelayanan
Yaitu pelaksanaan pelayanan dengan tidak membedakan
golongan/status masyarakat yang dilayani
9. Kesopanan petugas pelayanan
Yaitu sikap dan perilaku petugas dalam memberikan pelayanan kepada
masyarakat secara sopan dan ramah serta saling menghargai dan menghormati
10. Kewajaran biaya pelayanan
Yaitu keterjangkauan masyarakat terhadap besar biaya yang ditetapkan
oleh unit pelayanan
11. Kepastian biaya pelayanan
Yaitu kesesuaian antara biaya yang dibayarkan dengan biaya yang telah
ditetapkan
12. Kepastian jadwal pelayanan
Yaitu pelaksanaan waktu pelayanan sesuai dengan ketentuan yang telah
ditetapkan
14
13. Kenyamanan lingkungan
Yaitu kondisi sarana dan prasaarana pelayanan yang bersih, rapi, dan
teratur sehingga dapat memberikan rasa nyaman kepada penerima pelayanan
14. Keamanan pelayanan
Yaitu terjaminnya tingkat keamanan lingkungan unit penyelenggara
pelayanan ataupun sarana yang digunakan, sehingga masyarakat merasa
tenang untuk mendapatkan pelayanan terhadap resiko-resiko yang diakibatkan
dari pelaksanaan pelayanan.
2.2 Penelitian Terdahulu
1. Ones Gita Crystalia dan Muslikhah Dwi Hartanti (2015), Kualitas Pelayanan
Publik di Kantor Kecamatan Pengasih Kabupaten Kulon Progo, metode yang
digunakan dalam penelitian ini adalah Deskriptif Kualitatif, hasil penelitian ini
adalah : 1. Kualitas pelayanan publik di Kantor Kecamatan Pengasih Kabupaten
Kulon Progo sudah diterapkan dimensi Tangibel, Realiability, Responsiviness,
Assurance dan Emphaty beserta indikatornya. Namun ada beberapa indikator
yang belum berjalan 22 sesuai dengan keinginan masyarakat, antara lain
ketidaknyamanan tempat pelayanan termasuk sarana dan prasarana yang belum
lengkap, belum ahlinya pegawai dalam menggunakan alat bantu pelayanan, dan
ketidakramahan pegawai dalam proses pelayanan. 2. Faktor penghambat
pelaksanaan pelayanan publik di Kantor Kecamatan Pengasih Kabupaten Kulon
Progo adalah kurangnya sumber daya pegawai dan masih kurangnya sarana
prasarana. Sedangkan faktor pendukungnya adalah semangat yang diberikan
pegawai satu sama lain, mengadakan rapat koordinasi atau semacam evaluasi
setiap tiga bulan kemudian memberikan penanaman kesadaran melayani
15
masyarakat dengan ikhlas dan sesuai dengan hati nurani. Faktor pendukung lain
adalah adanya fasilitas berupa alat bantu untuk memudahkan proses pelayanan.
2. Nova I.E. Tamara, Lisbeth Mananeke, Christoffel Kojo (2018), Pengaruh Kualitas
Pelayanan Terhadap Kepuasan Masyarakat Kawangkoan Bawah Kecamatan
Amurang Barat Di Kabupaten Minahasa Selatan. Metode yang digunakan dalam
penelitian ini adalah Analisis regresi linear berganda. Hasil penelitian adalah : 1.
Secara simultan pengaruh kehandalan, daya tanggap, jaminan, empati dan bukti
langsung signifikan terhadap variable kepuasan masyarakat. 2. Dalam peran
Pemerintahan di Kawangkoan Bawah perlu melihat tentang kualitas pelayanan,
berupa kehandalan, daya tanggap, jaminan, empati dan bukti langsung yang
pada akhirnya akan mempengaruhi kepuasan masyarakat.
3. Slamet Riyadi , Aji Hermawan , dan Ujang Sumarwan (2015). Kepuasan
Masyarakat Terhadap Kualitas Pelayanan Kantor Pertanahan Kabupaten
Indramayu. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Cross sectional.
Hasil penelitian adalah : 1. Tingkat kepuasan masyarakat terhadap
kualitaspelayanan di Kantor Pertanahan Kabupaten Indramayu secara
keseluruhan sudah cukup puas. Hal iniditunjukkan oleh nilai rata-rata respon
masyarakat sebesar 2,85 (dari nilai maksimum 4), 2. Dimensi yang paling
berpengaruh terhadap kepuasan masyarakat, yaitu emphaty dan tangible.
Besarnya kontribusidimensi empathy dan tangible terhadap kepuasan
masyarakat ditunjukan oleh nilai loading factor, dimanamasingmasing dimensi
memiliki nilai sebesar 0,61 dan 0,41 dengan arah positif. Temuan ini
menegaskan bahwapeningkatan kualitas pelayanan pada dimensi empathy dan
tangible maka kepuasan masyarakat akanmeningkat. Dari hasil tersebut dapat
diambil beberapa alternatif kebijakan yang dapat ditempuh oleh Kantorn
Pertanahan Kabupaten Indramayu, yaitu membuat sistem komunikasi yang
16
terintegrasi, penambahan jumlah pegawai loket, dan pembinaan terhadap
pegawai melalui pelatihan
2.3 Kerangka Konseptual
Kerangka pemikiran yang diajukan untuk penelitian ini berdasarkan pada
telaah hasil teoritis seperti yang telah diuraikan di atas. Untuk lebih memudahkan
pemahaman tentang kerangka pemikiran penelitian ini, maka dapat dilihat dalam
gambar 2.1 berikut ini:
Kualitas Kepuasan
Pelayanan Publik Masyarakat
(X) (Y)
Gambar 2.1 : Kerangka Konseptual
Sumber : Data Diolah, 2022
: Secara Simultan
: Secara Parsial
2.4 Hipotesis
Hipotesis dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut :
1. Kualitas Penerimaan Pelayan Aspirasi Publik berpengaruh signifikan secara
simultan terhadap kepuasan masyarakat Pada Kantor Sekretariat DPRD
Kabupaten Tanah Bumbu.
2. Kualitas Penerimaan Pelayan Aspirasi Publik berpengaruh signifikan secara
simultan terhadap kepuasan masyarakat Pada Kantor Sekretariat DPRD
Kabupaten Tanah Bumbu.