BAB III
LANDASAN TEORI
A. Pengertian Efektivitas
Kata efektif berasal dari bahasa inggris effective yang berarti berhasil
atau sesuatu yang dilakukan berhasil dengan baik. Kamus ilmiyah populer
mendefenisikan efektivitas sebagai ketepatan kegunaan, hasil guna atau
menunjang tujuan.
Menurut steers mengemukan bahwa “Efektivitas adalah jangkaun
usaha suatu program sebagai suatu sistem dengan sumber daya dan sarana
tertentu untuk memenuhi tujuan dan sarananya tanpa melumpuhkan cara dan
sumber daya itu serta tanpa memberi tekanan yang tidak wajar terhadap
pelaksanaannya”.
Menurut Gibson, “Efektivitas adalah pencampaian tujuan dan sasaran
yang telah disepakati untuk mencapai tujuan usaha bersama. Tingkat tujuan
dan sasaran itu menunjukkan tingkat efektivitas. Tercapainya tujuan dan
sasaran itu akan ditentukan oleh tingkat pengorbanan yang telah
dikeluarkan”.1
David J. Lawless dalam Gibson, Invancevich dan Donnelly
mengatakan bahwa efektifitas memeiliki tiga tingkatan yaitu:
1. Efektivitas Individu
Efektivitas individu didasarkan pada pandangan dari segi individu
yang menekankan pada hasil karya karyawan atau anggota dari organisasi.
1
Gibson JL JM Invancevich, JH Donnelly, Organisasi, terjemahan Agus Dharma,
(Jakarta:erlangga,2001), hal 120.
19
20
2. Efektivitas kelompok
Adanya pandangan bahwa pada kenyataannya individu saling
bekerja sama dalam kelompok. Jadi efektifitas kelompok merupakan
jumlah kontribusi dari semua anggota dari organisasi.
3. Efektivitas organisasi terdiri dari efektivitas individu dan kelompok.
Melalui sinergritas, organisasi mampu mendapatkan hasil karya
yang lebih tinggi tingkatannya daripada jumlah hasil karya tiap-tiap
bagiannya. Efektivitas organisasi dapat dirumuskan sebagai tingkat
perwujudan sasaran yang menunjukkkan sejauh mana sasaran telah
tercapai.2
Menurut Sondang P. Siagian memberikan definisi sebagai berikut:
Efektivitas adalah pemanfaatan sumber daya, sarana dan prasarana dalam
jumlah tertentu yang secara sadar ditetapkan sebelumnya untuk menghasilkan
sejumlah barang atas jasa kegiatan yang dijalankannya. Efektivitas
menunjukkan keberhasilan dari segi tercapai tidaknya sasaran yang telah
ditetapkan. Jika hasil kegiatan semkain mendekati sasaran, berarti makin
tinggi efektivitasnya.3
Abdulrahmat Efektivitas adalah pemanfaatan sumber daya, sarana dan
prasarana dalam jumlah tertentu yang secara sadar ditetapkan sebelumnya
untuk menghasilkan sejumlah pekerjaan tepat pada waktunya.4
2
[Link]
3
Sondang P. Siagian, Kiat Meningkatkan Produktivitas kerja, (Jakarta:PT Rineka Cipta,
2002)
4
Abdulrahmat, Efektivitas Implementasi, (Jakarta:PT Rineka Cipta, 2003), hal. 92
21
Menurut mulyasa Efektivias adalah bagaimana suatu organisasi
berhasil mendapatkan dan memanfaatkan sumberdaya dalam usaha
mewujudkan tujuan operasional. Efektifitas berkitan dengan terlaksananya
semua tugas pokok, tercapainya tujuan, ketepatan waktu, dan adanya
partisipasi anggota.5
Dari beberapa pendapat diatas mengenai efektivitas, dapat kita
simpulkan bahwa Efektivitas merupakan unsur pokok untuk mencapai tujuan
atau sasaran yang telah ditentukan didalam setiap organisasi, kegiatan ataupun
progaram. Disebut efektif apabila tercapai tujuan ataupun sasaran seperti yang
telah ditentukan. Hal ini sesuai dengan pendapat H. Emerson yang dikutip
Soewarno Handayaningrat, yang menyatakan bahwa “Efektivitas adalah
pengukuran dalam arti tercapainya tujuan yang telah ditentukan sebelumnya”.6
B. Indikator Efektivitas
Mengukur efektivitas organisasi bukanlah suatu hal yang sangat
sederhana, karena efektivitas dapat dikaji dari berbagai sudut pandang dan
tergantung pada siapa yang menilai serta menginterpretasikannya. Bila
dipandang dari sudut produktivitas, maka seorang manajer produksi
memberikan pemahaman bahwa efektivitas berarti kualitas dan kuantitas
(output) barang dan jasa.
Tingkat efektivitas juga dapat diukur dengan membandingkan antara
rencana yang telah ditentukan dengan hasil nyata yang telah diwujudkan.
5
Mulyasa, Management Berbasis Sekolah Konsep Strategi dan Implementasi, (Bandung:
PT. Remaja Rosdakarya), hal 82
6
Soewarno Handayaningrat, Pengantar Ilmu Administrasi Negara dan Manajemen,
(Jakarta: PT. Gunung Agung, 1996), hal 15
22
Namun, jika usaha atau hasil pekerjaan dan tindakan yang dilakukan tidak
tepat sehingga menyebabkan tujuan tidak tercapai atau sasaran yang
diharapkan, maka hal itu dikatakan tidak efektif.
Adapun kriteria atau ukuran mengenai pencapaian tujuan efektif atau
tidak, sebagaimana dikemukakan oleh S.P. Siagian, yaitu:
a. Kejelasan tujuan yang hendak dicapai, hal ini dimaksdukan supaya
karyawan dalam pelaksanaan tugas mencapai sasaran yang terarah dan
tujuan organisasi dapat tercapai.
b. Kejelasan strategi pencapaian tujuan, telah diketahui bahwa strategi adalah
“pada jalan” yang diikuti dalam melakukan berbagai upaya dalam
mencapai sasaran-sasaran yang ditentukan agar para implementer tidak
tersesat dalam pencapaian tujuan organisasi.
c. Proses analisis dan perumusan kebijakan yang mantap, berkaitan dengan
tujuan yang hendak dicapai dan strategi yang telah ditetapkan artinya
kebijakan harus mampu menjembatani tujuan-tujuan dengan usaha-usaha
pelaksanaan kegiatan operasional.
d. Perencanaan yang matang, pada hakekatnya berarti memutuskan sekarang
apa yang dikerjakan oleh organisasi dimasa depan.
e. Penyusunan program yang tepat suatu rencana yang baik masih perlu
dijabarkan dalam program-program pelaksanaan yang tepat sebab apabila
tidak, para pelaksana akan kurang memiliki pedoman bertindak dan
bekerja.
23
f. Tersedianya sarana dan prasarana kerja, salah satu indikator efektivitas
organisasi adalah kemamapuan bekerja secara produktif. Dengan sarana
dan prasarana yang tersedia dan mungkin disediakan oleh organisasi.
g. Pelaksanaan yang efektif dan efisien, bagaimanapun baiknya suatu
program apabila tidak dilaksanakan secara efektif dan efisien maka
organisasi tersebut tidak akan mencapai sasarannya, karena dengan
pelaksanaan organisasi semakin didekatkan pada tujuannya.
h. Sistem pengawasan dan pengendalian yang bersifat mendidik mengingat
sifat manusia yang tidak sempurna maka efektivitas organisasi menuntut
terdapatnya sistem pengawasan dan pengendalian.7
Sedangkan Duncan yang dikutip Richard M. Steers dalam bukunya
“Efektrivitas Organisasi” mengatakan mengenai ukuran efektivitas, sebagai
berikut:
1. Pencapaian Tujuan
Pencapaian adalah keseluruhan upaya pencapaian tujuan harus
dipandang sebagai suatu proses. Oleh karena itu, agar pencapaian tujuan
akhir semakin terjamin, diperlukan pentahapan, baik dalam arti
pentahapan pencapaian bagian-bagiannya maupun pentahapan dalam arti
periodisasinya. Pencapaian tujuan terdiri dari beberapa faktor, yaitu:
Kurun waktu dan sasaran yang merupakan target kongkrit.
2. Integrasi
Integrasi yaitu pengukuran terhadap tingkat kemampuan suatu
organisasi untuk mengadakan sosialisasi, pengembangan konsensus dan
7
Sondang P. Siagian, Op. cit, hal 77
24
komunikasi dengan berbagai macam organisasi lainnya. Integrasi
menyangkut proses sosialisasi.
3. Adaptasi
Adaptasi adalah kemampuan organisasi untuk menyesuaikan diri
dengan lingkungannya. Untuk itu digunakan tolak ukur proses pengadaan
dan pengisian tenaga kerja.8
Duncan yang di kutip oleh Steers mengemukakan tentang teori
pengukuran efektivitas, yaitu:
1. Pencapaian Tujuan
2. Integrasi
3. Adaptasi
Dengan menggunakan teori ini diharapkan dapat mengukur tingkat
efektivitas. Dalam hal ini adalah Efektivitas Program Pemberdayaan Desa
(PPD) Dalam Mengembangkan Ekonomi Masyarakat di Kecamatan Rambah
Hilir Kabupaten Rokan Hulu di Tinjau Dari Ekonomi Islam
C. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Efektivitas
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi tingkat efektivitas dalam
sebuah organisasi atau perusahaan, faktor-faktor tersebut adalah sebagai
berikut.9
a. Karakteristik Organisasi ( struktur dan organisasi)
Penekanan ciri organisasi oleh Steers adalah terhadap struktur dan
teknologi karena kedua variabel tersebut sangat mempengaruhi efektivitas
8
Steers, M Richard. Efektivitas Organisasi. (Jakarta: Erlangga 1985) hal. 53
9
M. Richard steers, Efektivitas Organisasi, (Jakarta: Air Langga, 1999) hal. 159
25
organisasi. Perubahan yang bersifat inovatif dalam hubungan interaktif
antar anggota-anggota organisasi atau penyusunan hubungan SDM akan
meningkatkan efektivitas organisasi. Dengan tercapainya berbagai
kemajuan di dalam struktur organisasi, misalnya dengan meningkatkan
spesialisasi fungsi, ukuran organisasi, sentralisasi pengambilan keputusan
dan formalisasi akan meningkatkan produktivitas organisasi.
Tercapainya kemajuan di dalam teknologi dapat memperkenalkan
cara-cara yang lebih produktif dengan menggunakan sarana-sarana baru
akan mempengaruhi efektivitas organisasi. Pemanfaatan kedua hal tersebut
secara baik, yakni struktur dan teknologi akan mempermudah organisasi
untuk mencapai tujuannya.
b. Karakteristik Lingkungan (ketepatan atas keadaan lingkungan)
Karakteristik lingkungan ini mencapai dua aspek yang saling
berhubungan yaitu lingkungan ekstern dan lingkungan intern. Lingkungan
ekstern yaitu semua lingkungan kekuatan yang timbul diluar batasan-
batasan organisasi. Lingkungan interen pada umumnya dikenal sebagai
iklim organisasi yang meliputi bermacam-macam atribut lingkungan kerja.
c. Karakteristik Pekerjaan (perbedaan sifat pekerja)
Lingkungan dalam bekerja memiliki pandangan tujuan kebutuhan
dan kemampuan yang berbeda-beda, individu ini memiliki pengaruh
langsung terhadap rasa ketertarikan pada organisasi dan potensi kerja.
Tanpa rasa keterkaitan dan prestasi, efektifitas mustahil akan tercapai.
26
d. Kebijakan dan praktek manajemen
Kebijakan dan praktek manajemen merupakan mekanisme yang
meliputi penetapan tujuan strategi, pencarian dan pemanfaatan sumber
daya secara efisien, menciptakan lingkungan prestasi, proses komunikasi,
kepemimpinan dan pengembalian keputusan serta adaptasi dan inovasi
organisasi. Dalam hal ini, manejer sangat penting untuk mengarahkan
kegiatan-kegiatan secara propesional untuk mencapai tujuan.
D. Program Pemberdayaan Desa
Pemberdayaan yang di istilahkan dengan kata “empowerment” adalah
sebuah upaya untuk membangun kemampuan masyarakat, dengan
memdorong, memotivasi, dan membangkitkan kesadaran akan potensi itu
menjadi tindakan nyata. Kesadaran tersebut akan menjadi sebuah tindakan
nyata apabila individu tersebut dan sadar mau berubah sebagaimana firman
Allah SWT dalam Al-Qur’an Surat Ar Ra’d ayat 11
Artinya : “Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum,
sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka
sendiri”. (QS. Ar Rad:11)10
Pemberdayaan bisa diartikan sebagai perubahan kepada arah yang lebih
baik, dari yang tidak berdaya menjadi yang berdaya. Pemberdayaan terkait
dengan upaya meningkatkan hidup ketingkat yang lebih baik. Pemberdayaan
10
Depertemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya (Bandung PT Syaamil Cipta
Media) hal. 250
27
adalah meningkatkan kemampuan dan rasa percaya diri untuk menggunakan
daya yang dimiliki, tentunya dalam menentukan tindakan kearah yang lebih
baik lagi. Pemberdayaan adalah pemberian wewenang, inti dari pemberdayaan
upaya membangkitkan segala kemampuan yang ada untuk mencapai tujuan.
Pencapaian tujuan melalui pertumbuhan motivasi, inisiatif, kreatif, serta
penghargaan dan pengakuan bagi mereka yang berprestasi.11
Narayan menyatakan ada tiga dimensi pokok kerangka pemberdayaan
yaitu:
1. Inti, investasi untuk meningkatkan asset dan kemampuan masyarakat
miskin, baik sebagai individu maupun secara kolektif. Arahnya adalah
kemampuan memecahkan masalah secara swadaya dan peningkatan daya
tawar dalam hubungan kelembagaan.
2. Penunjang, reformasi kelembagaan kepemerintahan menuju good
governance dan akuntabilitas public baik akibat tuntutan masyarakat
maupun karena keharusan penyesuaian dengan pergeseran paradigm
pembangunn.
3. Mekanisme, merubah tata hubungan, terutama hubungan kekuasaan
melalui proses dialogis/interaktif menuju tata hubungan berdasarkan
kesetaraan, keadilan dan kemartabatan12
Menurut Sumodiningrat Pemberdayaan masyarakat merupakan upaya
pemerintah untuk mendorong akselerasi penurunan angka kemiskinan yang
berbasis partisipasi yang diharapkan dapat menciptakan proses penguatan
11
HAW. Widjaja, Otonomi Daerah Dan Daerah Otonom, (Jakarta: PT. Raja Grafindo
Persada, 2007) hal. 77
12
Narayan, Empowerment and poverty Reduction: A Source Book, (World Bank, 2002)
28
sosial yang dapat mengantar masyarakat miskin menuju masyarakat yang
madani, sejahtera, berkeadilan serta berlandaskan iman dan takwa.13
Berdasarkan teori diatas dapat diambil kesimpulannya bahwa
pemberdayaan masyarakat adalah suatu upaya untuk meningkatkan
kemampuan dan potensi yang dimiliki masyarakat, sehingga masyarakat dapat
menunjukkan jati mereka, harkat dan martabatnya secara maksimal untuk
bertahan dan mengembangkan diri secara mandiri baik dibidang ekonomi
social, agama dan budaya.
Program Pemberdayaan Desa (PPD) adalah satu bentuk program
peningkatan kesejahteraan ekonomi masyarakat, pemerintah daerah
memberikan bantuan sejumlah dana kepada masyarakat desa atau kelurahan
guna merangsang masyarakat untuk ikut serta aktif dalam melaksanakan
pembangunan. Dana bantuan dimaksud diberi nama Dana Usaha
Desa/Kelurahan. Pemanfaatan Dana Usaha Desa/Kelurahan harus
memperhatikan potensi sumber daya alam desa/kelurahan serta disesuaikan
dengan kebutuhan masyarakat setempat.
Program Pemberdayaan Desa (PPD) merupakan salah satu bentuk
program penanggulangan kemiskinan sebagai upaya untuk menyelesaikan
masalah rendahnya kesejahteraan rakyat yang merupakan kewajiban
pemerintah sesuai agenda utama Pembangunan Nasional sebagaimana
tertuang dalam Program Pembangunan Nasional (Propernas), serta dalam
13
Sumodiningrat, Pemberdayaan Daerah dan Pemberdayaan Masyarakat, (Jakarta: Bina
Rena Parawira 1997).
29
keputusan Gubernur Riau Nomor 592/IX/2004 tentang Pembentukan Komite
Penanggulangan Kemiskinan Provinsi Riau.
Program Pemberdayaan Desa (PPD) lebih diarahkan untuk
menubuhkan rasa tanggung jawab bersama antara pemerintah dan masyarakat,
tidak saja dalam hal pengendalian dan pembinaan tetapi juga dalam hal
pembiayaan program. Komitmen dari DPRD dan Pemerintah daerah memiliki
peran penting dalam pemberian dukungan dan pembiayaan. Program
Pemberdayaan Desa (PPD) selalu diarahkan pada penciptaan kondisi dan
lingkungan yang memungkinkan masyarakat dapat menikmati kehidupan yang
lebih baik dan memberikan kesempatan yang lebih luas kepada masyarakat
untuk melakukan pilihan-pilihan secara bebas dan mandiri sesuai dengan
potensi dan karakteristik yang mereka miliki.
Visi Program Pemberdayaan Desa (PPD) adalah untuk mewujudkan
masyarakat Provinsi Riau yang sejahtera dan mandiri sesuia dengan Visi Riau
2022, adapun Misi PPD adalah untuk mempercepat penanggulangan masalah
kemiskinan, kebodohan dan infrastuktur (K2I) bagi masyarakat Riau.
Pengembangan konsep Program Pemberdayaan Desa (PPD) juga diarahkan
kepada penyelenggaara pemerintah yang baik. Seluruh kegiatan dalam
Program Pemberdayaan Desa (PPD) pada hakekatnya memiliki 3 dimensi,
yaitu 1) memberikan wewenang dan kepercayaan kepada masyarakat untuk
menentukan kebutuhannya sendiri, merencanakan dan mengambil keputusan
secara terbuka dan penuh tanggung jawab. 2) menyediakan dukungan
lingkungan yang kondusif untuk mewujudkan peran masyarakat dalam
30
pembangunan, khususnya dalam upaya peningkatan kesejahteraan mereka
sendiri, serta 3) menyediakan modal usaha desa untuk mendanai kegiatan
usaha ekonomi masyarakat.
Tujuan Program Pemberdayaan Desa (PPD) mempercepat
penanggulangan kemiskinan melalui pengembangan ekonomi masyarakat
dengan pemberian Dana Usaha Desa/Kelurahan menuju kemandirian Desa.
Sasaran utama penerima Program Pemberdayaan Desa (PPD) adalah
Desa/Kelurahan yang memiliki relatif lebih banyak penduduk miskin sebagai
lokasi sasaran program, dan berpihak pada masyarakat miskin yang
kekurangan modal usaha.
Program Pemberdayaan Desa menitik beratkan pada pemberdayaan
masyarakat sebagai pendekatan operasional, merupakan wujud nyata
komitmen pemerintah Provinsi Riau untuk meningkatkan kesejahteraan
masyarakat, melalui:
1. Perluasan kesempatan dan peluang bagi orang miskin dalam kegiatan
ekonomi produktif dalam bentuk:
a. Penciptaan iklim pertumbuhan ekonomi yang berpihak pada
masyarakat miskin.
b. Penciptaan lapangan kerja
c. Penyadiaan bantuan permodalan yang berpihak pada masyarakat
miskin.
d. Penguatan peran aparat pemerintah desa/kelurahan.
31
2. Pemberdayaan masyarakat melalui peningkatan kapasitas masyarakat
dalam memanfaatkan sumber daya yang dimilikinya dalam bentuk:
a. Penguatan kelembagaan masyarakat desa/kelurahan.
b. Mendorong partisipasi masyarakat dalam setiap kegiatan
desa/kelurahan.
c. Pembangunan desa/kelurahan secara terencana dan berkelanjutan.
d. Penguatan kapasitas kelompok dan anggota usaha kecil dan
menengah.14
Untuk mendukung tercapainya tujuan program maka dalam
pelaksanaanya harus sejalan dengan prinsip dasar Program Pemberdayaan
Desa (PPD) yaitu transparan, memihak kepada masyarakat, akuntabilitas,
termasuk dalam hal usulan, pemilihan pengelola, sistem pengelolaan serta
penyaluran dana. Segala sesuatu yang berkaitan dengn Dana Usaha
Desa/kelurahan harus dapat diketahui oleh seluruh masyarakat setempat
dengan mudah dan terbuka, dan disebarluaskan melalui papan informasi.
E. Program Ekonomi Kerakyatan
Istilah ekonomi kerakyatan sesungguhnya bukan merupakan istilah
yang baru. Istilah ini sudah digunakan oleh para pendiri negara ini jauh
sebelum Indonesia memproklamirkan kemerdekaaan. Ungkapan lain dari
ekonomi kerakyatan adalah ekonomi yang demokratis atau demokrasi
ekonomi. Berdasakan pasal 33 UUD 1945, maka ekonomi kerakyatan adalah
14
Pemerintah Provinsi Riau Badan Pemberdayaan Masyarakat Dan Pembangunan Desa,
Panduan Pengelolaan Administrasi dan Keuangan UED-SP Program Pemberdayaan Desa(PPD),
(Pekanbaru: 2009), hal 2
32
suatu sistem perekonomian yang didalamnya terselenggara berbagai kegiatan
ekonomi dengan melihat partisipasi semua warga masyarakat.
Menurut Mubyarto ekonomi kerakyatan adalah ekonomi yang
demokratis yang ditujukan untuk kemakmuran rakyat kecil15. Sedangkan
menurut zulkarnain, ekonomi kerakyatan adalah suatu system ekonomi yang
dianut sesuai dengan falsafah negara kita yang menyangkut dua aspek, yakni
keadilan demokrasi ekonomi, dan keberpihakan kepada ekonomi rakyat.16
Program ekonomi kerakyatan adalah program pemberdayaan dimana
masyarakat diberi peluang untuk memamfaatkan modal yang disediakan.
Pemberdayaan rakyat dapat diartikan sebagai upaya yang dilakukan secara
sungguh-sungguh agar rakyat banyak (masyarakat awam) mendapat
kesempatan berusaha secara wajar, sehingga dari usahanya itu mereka mampu
menghasilkan sesuatu yang bermanfaat baik barang atau jasa yang dapat
memberi pendapatan (income) yang wajar bagi kehidupan mereka.
Menurut BAPPED Provinsi Riau, pembangunan ekonomi kerakyatan
di Provinsi Riau pada dasarnya dilaksanakan dengan bertitik tolak pada
permasalahan utama yang dihadapi dalam proses pemberdayaan ekonomi
masyarakat, yaitu kesulitan memperoleh modal usaha/modal kerja. 17 Oleh
karena itu, orientasi pertama yang dilakukan oleh pemerintah daerah dalam
pembangunan ekonomi kerakyatan sejak tahun 2001 adalah bagaimana
15
Mubyarto, Reformasi System Ekonomi, (Dari Kapitalis Menuju Ekonomi Kerakyatan),
(Yogyakarta: Aditya Media, 1999) hal. 81.
16
Zulkarnaini, Membangun Ekonomi Rakyat, (Yogyakarta: AdiCita Karya Nusa, 2003)
hal. 98.
17
Balai pusat penyuluhan. Diktat Panduan Pengembangan masyarakat. (Balai Pusat
Penyuluhan Provinsi riau, Pekanbaru 2004)
33
menyediakan dana bagi masyarakat untuk mempekuat permodalan melalui
kredit pinjaman modal.
Selanjutnya tujuan pinjaman modal PEK ini adalah : 1). Menyediakan
dana bagi pengembangan usaha masyarakat, 2). Membuka peluang
masyarakat mendirikan usaha; 3). Meningkatkan kemampuan dan wawasan
kewirausahaan masyarakat dan aparat; 4). Mendidik masyarakat mengelola
usaha secara professional; 5). Meningkatkan produksi kebutuhan pokok
masyarakat dan memperluas jangkauan masyarakat; 6). Mempercepat
pemulihan dan perbaikan kesejahteraan masyarakat melalui pembangunan
sektor riil masyarakat menengah kebawah. Sasaran pelaksanaan PEK adalah
bergeraknya sektor usaha masyarakat sehingga terjadi peningkatan
kesejahteraan ekonomi sebagai salah satu indikator keberhasilan
pembangunan.18
Berdasarkan tujuan pinjaman modal PEK diatas diharapkan dengan
adanya kegiatan ini akan tercapai pengurangan jumlah angka masyarakat
miskin yang ada di Riau secara bertahap.
F. Usaha Ekonomi Desa-Sinpan Pinjam (UED-SP)
Pada tingkat perkembangan ekonomi masyarakat di pedesaan saat
sekarang ini sangat diperlukan adanya lembaga perkreditan yang dapat
memenuhi dan melayani kebutuhan permodalan masyarakat dipelosok
pedesaan secara nyata dan mampu menyesuaikan diri dengan tingkat dan
kemampuan masyarakat desa pada umumnya.
18
Ibid
34
Salah satu tujuan dari penyaluran dana usaha desa adalah memberikan
kemudahan bagi masyarakat untuk mengakses lembaga keuangan dalam
rangka mengembangkan usaha. Usaha Ekonomi Desa Simpan Pinjam atau
yang lebih dikenal dengan istilah UED-SP adalah salah satu dari Program
Pemberdayaan Desa (PPD) yang dirancangkan pemerintah untuk
memberdayakan masyarakat melalui pemberian dana usaha desa yang
kemudian dimanfaatkan untuk bantuan modal usaha yang diberikan pada
masyarakat yang membutuhkan berdasarkan pedoman dan petunjuk teknis
Program Pemberdayaan Desa (PPD).
UED-SP adalah lembaga keuangan mikro yang dibentuk oleh
desa/kelurahan melalui musyawarah untuk mengelola Dana Usaha Desa dan
dana yang berasal dari kegiatan simpan pinjam masyarakat. UED-SP adalah
kegiatan usaha ekonomi yang bergerak dalam usaha simpan pinjam dan
merupakan milik masyarakat desa/ kelurahan yang diusahakan serta dikelola
oleh masyarakat desa/ kelurahan.
UED-SP merupakan salah satu bentuk kegiatan ekonomi yang bergerak
dibidang perkreditan untuk membantu masyarakat desa dalam mengelola
usaha ekonomi desa. Kehadiran UED-SP ditengah masyarakat desa
diharapkan dapat membantu menyediakan modal usaha bagi para pengelola
usaha-usaha ekonomis produktif.
G. Usaha dalam Pandangan Ekonomi Islam
Didalam kamus bahasa Indonesia dijelaskan bahwa usaha adalah
kegiatan dengan mengarah tenaga, pikiran, dan pekerjaan untuk mencapai
35
sesuatu.19 Secara umum usaha diartikan sebagai sesuatu kegiatan yang
dilakukan oleh manusia untuk memperoleh pendapatan atau penghasilan dan
rizki dalam rangka memenuhi kebutuhan dan keinginan hidupnya dengan cara
mengelola sumber daya ekonomi secara efektif dan efesien.20
Menurut Yusuf Qardhawi, usaha yaitu memfungsikan potensi diri
untuk berusaha secara maksimal yang dilakukan manusia, baik lewat gerakan
anggota tubuh maupun akal untuk menambah kekayaan, baik dilakuakan
secara perseorangan ataupun secara kolektif, baik untuk pribadi maupun orang
lain.21 Jadi dilihat dari defenisi diatas jelas bahwa kita dituntut untuk berusaha
dengan usaha apapun dalam konteks usaha yang halal untuk memenuhi
kebutuhan dalam kehidupan ini. Adapun dalam pandangan Straub dan Attner,
usaha kata lain adalah suatau organisasi yang menjalankan aktivitas produk
dan penjualan barang-barang dan jasa yang dinginkan oleh konsumen untuk
memperoleh profit.22
Banyak ayat Al-Qur’an yang mengupas tentang kewajiban manusia
untuk bekerja dan berusaha mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan
hidup.23 Islam memposisikan bekerja atau berusaha sebagai ibadah dan
mendapatkan pahala apabila dilakukan denagan ikhlas. Dengan berusaha kita
tidak saja menghidupi diri kita sendiri, tetapi juga menghidupi orang-orang
19
M. Relona, Kamus Istilah Ekonomi popular, (Jakarta: Gorga Media, 2006) cet. Ke- 3
20
Muslich, Etika Bisnis Islam : Landasan Filosofis, Normatif, dan Subtansi Implemantif,
(Yogyakarta : Ekonisia Fakultas Ekonomi UII, 2004) hal. 46
21
Yusuf Qadhawi, Norma dan Etika Ekonomi Islam,( Jakarta: Gema Insani Perss, 1997)
hal. 104
22
Muhammad Ismail Yusanto dan M. Karebet Widjaja kusuma, Menggagas Bisnis Islam,
( Jakarta: Gema Insani Press, 2002) hal. 15
23
Husein syahatah, Ekonomi Rumah Tangga Muslim (Jakarta : Gema Insani, 2004) hal.62
36
yang ada dalam tanggung jawab kita dan bahkan bila kita sudah berkecukapan
dapat memberikan sebagian dari hasil usaha kita untuk menolong orang lain
yang memerlukan.24
Hal ini sesuai dengan tujuan ekonomi islam yang bersifat pribadi dan
sosial ekonomi yang besifat pribadi adalah untuk memenuhi kebutuhan pribadi
dan keluarga, sedangkan ekonomi yang bersifat social adalah membrantas
kemiskinan masyarakat, pemberantas dan kemeralatan. 25 Individu-individu
harus mempergunakan kekuatan dan keterampilan sendiri untuk memenuhi
kebutuhan hiodup sebagai tugas pengabdian kepada Allah SWT.
Kewirausahaan, kerja keras, berani mengambilkan resiko, manajemen yang
tepat merupakan watak yang melekat dalam kehidupan, hal ini harus dimiliki
oleh seseorang dalam kebutuhan hidupnya.
1) Prinsi-Prisip Usaha Dalam Islam
Konsep usaha dalam islam adalah untuk mengambil yang halal dan
yang baik (thayyib), halal cara memperoleh ( melalui perniagaan yang
berlaku secara ridha sama ridha, berlaku adil, dan menghindari keraguan),
dan halal cara penggunaan ( saling tolong-menolong dan menghindari
resiko yang berlebihan).26
a. Sama-sama ridha
Pengertian ini tidak hanya dalam makna sempit, suka sama
suka melainkan mencakup pula pengertian bahwa tidak ada pihak yang
24
Ma’ruf Abdullah, Wiarausaha Berbasis Syariah, (Banjarmasin : Antasari Perss 2011)
hal. 29
25
Mawardi, Ekonomi Islam, (Pekanbaru : Alaf Riau Graha UNRI Press, 2007) hal.6
26
Jusmaliani, dkk, Bisnis Berbasis Syariah, (Jakarta : BUmi Askara, 2008), hal. 188
37
terzalimi dan keiklasan dari pihak-pihak yang terlibat. Dalam
perdagangan lebih jauh dari itu, harga yang ditetapkan harus melalui
penilaian oleh masyarakat atau mekanisme pasar yang sesuai kaidah
yang berlaku.
b. Adil
Adil sangat dipelukan dalam kegiatan perniagaan supaya tidak
merugikan salah satu pihak atau bias mengekploitasi orang lain.
Berbuat adil akan dekat pada takwa sehingga akan terhindar dari hal-
hal yang bias mengarah keperbuatan dosa. Dalam al-Qur’an kata adil
disebut berkali-kali. Artinya, islam sangat menjujung tinggi nilai
keadilan, termasuk didalamnya adil ketika melakukan perniagaan.
c. Menghindari keraguan
Islam melarang dalam perniagaan melakukan penipuan, bahkan
sekedar membawa kondisi kepada keraguan yang bisa menyesatkan
(gharar). Kondisi ini dapat terjadi karena adanya gangguan pada
mekanisme pasar atau karena adanya informasi penting mengenai
transaksi yang tidak diketahui oleh salah satu pihak.27
d. Menghindari resiko yang berlebihan
Bumi dan seagala isinya merupakan karunia Allah yang harus
disyukuri dan dimamfaatkan dengan sebaik-baiknya, artinya
pemamfaatannya harus dilakukan seefisien mungkin, tanpa harus
berlebih-lebihan sehingga terhindar dari risiko yang tidak bias
27
Ibid, hal 190
38
ditanggung manusia. Risiko itu pasti ada dalam semua usaha, tetapi
risiko yang dimaksud adalah risiko yang masih berada dalam batas
kewajaran. Pengambilan risiko yang melebihi kemampuan untuk
menanggulanginya sama seperti menghadapi ketidakpastian.
e. Usaha yang Halal dan Baik
Usaha atau kerja ini harus dilakukan dengan cara yang halal,
memakan makanan yang halal dan mengunakan rizki secara halal.
Islam selalu menekankan agar setiap orang mencari nafkah dengan
halal. Semua sarana dalam hal mendapatkan kekayaan secara tidak sah
dilarang, karena pada akhirnya dapat mebinasakan suatu bangsa.
f. Berusaha sesuai dengan batas kemampuan
Tidak jarang manusia berusaha dan bekerja mencari nafkah
untuk keluarganya secara berlebihan karena mengira itu sesuai dengan
perintah, karena kebiasaan seperti itu berakibat buruk pada kehidupan
rumah tangganya.28 Sesungguhnya Allah menegaskan bahwa bekerja
dan berusaha itu hedaknya sesuai dengan batas-batas kemampuan
manusia, sebagaimana firman Allah QS. Al-Baqarah ayat 286 :
Artinya : “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan
kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan)
yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari
28
Ibid, hal. 67
39
kejahatan) yang dikerjakannya.” (QS. Al-Baqarah ayat
286)29
2) Tujuan Usaha Dalam Islam
a. Untuk memenuhi kebutuhan hidup
Kebutuhan manusia dapat digolongkan kedalam tiga kategori,
yaitu kategori daruriyat (primer), bajiyat (sekunder), dan kamaliyat
(tersier-perlengkapan). Dalam terminilogi islam “daruriyat” adalah
kebutuhan secara mutlak tidak dapat dihindari, karena merupakan
kebutuhan-kebutuhan yang sangat mendasar, bersifat elastic bagi
kehidupan manusia. Oleh karena itu fardhu’ain bagi setiap muslim
berusaha memanfaatkan sumber-sumber alami yang tersedia untuk
memenuhi kebutuhan-kebutuhan primer dapat menimbulkan masalah
mendasar bagi manusia karena menyangkut soal kehidupan sehari-hari
dan dapat mempengaruhi ibadah seseorang.
b. Untuk kemaslahatan keluarga
Berusaha dan bekerja diwajibkan keluarga sejahtera. Islam
mensyari’atkan seluruh manusia untuk berusaha dan bekerja, baik laki-
laki maupun perempuan, sesuai dengan profesi masing-masing.30
c. Usaha untuk memakmurkan bumi
Memakmurkan bumi adalah tujuan dari maqasidus syria’ah
yang ditanamkan oleh Islam disinggung oleh Al-Qur’an serta
diperhatikanoleh para ulama. Diantara mereka adalah al-Imam
Arragghib al-Asfahani yang menerangkan bawha manusia diciptakan
29
Depertemen Agama RI, op. cit., hal 49
30
[Link] 67
40
Allah hanya untuk tiga kepintingan. Kalau bukan untuk tiga
kepentingan itu, maka ia tidak akan ada.
1. Memakmurkan bumi, sebagaimana tertera didalam Al-Qur’an surat
Hud ayat 61: “Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah)
menjadikan kamu pemakmurnya”. Maksudnya, manusia dijadikan
penghuni dunia untuk menguasai dan memakmurkan dunia
2. Menyembah Allah SWT, sesuai dengan firman Allah dalam surat
adz-Dzariyat ayat 56 : “Dan aku tidak menciptakan jin dan
manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku”.
3. Khalifah Allah SWT, sesuai dengan firman Allah surat Al-A’raf
ayat 129 : “Dan menjadikan kamu khalifah dibumi-Nya”, maka
Allah melihat bagaimana perbuatanmu”.31
d. Usaha untuk kerja
Menurut Islam, pada hakikatnya setiap muslim diminta untuk
bekerja dan berusaha meskipun hasil dari usahanya belum dapat
dimanfaatkan olehnya, oleh kelurganya,atau oleh masyarakat, juga
meskipun tidak satupun makhluk Allah SWT, termasuk hewan dapat
dimanfaatkannya. Ia tetap wajib berusaha dan bekerja karena berusaha
dan bekerja adalah salah satu cara mendekatkan diri kepadanya.
Suatu kegiatan usaha juga tidak saja berdampak negatif, tetapi juga
akan membawa ekonomi atau akan mendatangkan kontribusi positif kearah
pertumbuhan ekonomi. Pendirian suatu usaha sekecil apapun akan selalu
menimbulkan dampak ekonomi. Dampak ekonomi yang timbul adalah
31
Ibid, hal.111
41
besarnya tenaga kerja yang diserap oleh usaha yang akan didirikan dan
besarnya kontribusi usaha terhadap penambahan pendapatan masyarakat
sekitar.32
Pada dasarnya ekonomi Islam itu sendiri berkaitan erat dengan
kehidupan perekonomian manusia. Baik itu behubungan kesejahteraan
manusia, sember daya, distribusi, tingkah laku manusia, apakah ia sebagai
pedagang atau pengusaha, industri ataupun pemerintah. Islam mendorong
umatnya untuk bekerja dan memproduksi bahkan menjadikannya sebagai
sebuah kewajiban terhadap orang-orang yang mampu. Lebih dari itu Allah
akan memberi balasan yang setimpal sesuai dengan amal atau kerja manusia
itu sendiri. Sesuai dengan firman Allah SWT (Q.S An-Nahl : 97) :
Artinya : Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun
perempuan dalam keadaan beriman, Maka Sesungguhnya akan
kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan Sesungguhnya
akan kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih
baik dari apa yang Telah mereka kerjakan. (Q.S An-Nahl : 97)33
Sebagai khalifah dimuka bumi, manusia ditugaskan Allah SWT
mengelola langit dan bumi beserta isinya untuk kemaslahatan umat. Namun
ditegaskan-Nya bahwa tidak ada yang akan diperoleh manusia kecuali hasil
32
Jumingan, Studi Kelayakan Bisnis, (Jakarta: PT. Bumi Askara, 2009) hal. 161-163
33
Depertemen Agama RI, Op. Cit., hal. 278
42
usahanya sendiri. Kebenaran prinsip tersebut bersumber dari firman Allah
dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah : 29-30 :
Artinya : Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk
kamu dan dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-
Nya tujuh langit. dan dia Maha mengetahui segala sesuatu.
Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat:
"Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka
bumi." mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan
(khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan
padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa
bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?"
Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak
kamu ketahui." (Q.S Al-Baqarah :29-30)34
Dari ayat diatas, dapat diuraikan pemahaman yang berisi manusia
sebagai khalifah dimuka bumi ini dan salah satunya peran manusia selaku
khaliafah adalah mengelola segala yang ada dibumi dan dilangit.
34
Depertemen Agama RI, op. Cit., hal. 5