[Link] [Link].
id
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Landasan Teori
Komunikasi Organisasi itu terdiri dari dua kata yaitu komunikasi dan
organisasi. Objek materiil ilmu komunikasi ialah perilaku manusia, yang dapat
merangkum perilaku individu, kelompok dan masyarakat. Sedangkan objek
formalnya ialah situasi komunikasi yang mengarah pada perubahan sosial
termasuk pikiran, perasaan, sikap dan perilaku individu, masyarakat, dan
pengaturan kelembagaan.
Komunikasi dimaksudkan untuk menyampaikan pesan, pengetahuan,
perasaan, dan pengalaman kepada orang lain, dan komunikasi dapat dikatakan
efektif bila ada kesamaan makna dan bahasa. Sendjaja (2004:25) kesamaan tidak
dimaksudkan menciptakan pemahaman bersama tapi antara dua pihak atau lebih
memiliki kesamaan pada karakteristik tertentu.
Komunikasi adalah penciptaan makna antara dua orang atau lebih lewat
penggunaan simbol-simbol atau tanda-tanda, komunikasi disebut efektif apabila
makna yang tercipta relatif sesuai dengan yang diinginkan komunikator (Mulyana,
1999 : 49)
“Komunikasi adalah upaya yang sistematis untuk merumuskan secara tegas azas-
azas penyampaian pesan dan informasi serta pembentukan pendapat dan sikap.
Lebih khusus lagi bahwa komunikasi adalah proses merubah perilaku orang lain.
(Effendy, 1997:10)
17
[Link] 18
[Link]
Komunikasi mempunyai tujuan dan fungsi. Tujuannya adalah perubahan
sikap, pendapat, perilaku, sosial. Sedangkan fungsinya komunikasi yaitu
menyampaikan informasi, mendidik, menghibur dan mempengaruhi
(Effendy,2000:8).
2.2. Komunikasi Organisasi
S. Bernard Rosenblatt dalam bukunya Communication in Business (l983)
mendefinisikan komunikasi sebagai pertukaran idea, pendapat, maklumat,
perhubungan dan sebagainya yang mempunyai tujuan dan dipersembahkan secara
peribadi atau tidak peribadi melalui simbol atau isyarat yang bertujuan untuk
mencapai matlamat organisasi.
Komunikasi merupakan sesuatu yang sangat pokok dalam setiap hubungan orang-
orang, begitu pula dalam suatu organisasi terjadinya komunikasi tentunya ada
tujuan yang ingin dicapai. Tujuan utama dalam komunikasi adalah pemahaman
karena komunikasi bergantung pada kemampuan kita untuk memahami satu sama
lain dalam penyampaian makna. Hal sesuai dengan pendapat Maman Ukas (dalam
Rejeki 2011, 55) mengemukakan tujuan komunikasi sebagai berikut:
a. Menetapkan dan menyebarkan maksud dari pada suatu usaha.
b. Mengembangkan rencana-rencana untuk mencapai tujuan.
c. Mengorganisasikan sumber-sumber daya manusia dan sumber daya
lainnya seperti efektif dan efisien.
d. Memilih, mengembangkan, menilai anggota organisasi.
e. Memimpin, mengarahkan, memotivasi dan menciptakan suatu
iklim kerja di mana setiap orang mau memberikan kontribusi.
[Link] 19
[Link]
Sesuai dengan tujuan dari komunikasi, maka dalam suatu organisasi komunikasi
mempunyai beberapa fungsi. Adapun fungsi komunikasi tersebut adalah fungsi
informasi, fungsi komando akan perintah, fungsi mempengaruhi dan penyaluran,
dan fungsi integrasi. (Ukas, dalam Rejeki, 2011, 55)
Pada prinsipnya salah satu ciri komunikasi organisasi yang paling nyata
adalah konsep hubungan. Goldhaber (1979) mendefinisikan organisasi sebagai
”sebuah jaringan hubungan yang saling bergantung”. Bila sesuatu saling
bergantung, ini berarti bahwa hal-hal tersebut saling mempengaruhi dan saling
dipengaruhi satu samalain. Pola dan sifat hubungan dalam organisasi dapat
ditentukan oleh jabatan dan peranan yang ditetapkan bagi jabatan tersebut. Ini
memberikan struktur dan stabilitas kepada organisasi.
Ditambahkan pula pendapat dari Weick dalam Littlejhon & Foss (2011:
297-299) yang menyatakan bahwa organisasi sebagai organisme yang hidup yang
harus beradaptasi dalam perubahan lingkungan agar bisa bertahan hidup. Weick
percaya bahwa organisasi bisa bertahan hidup dan berkembang bila anggota
organisasi terlibat dalam informasi yang mengalir dan adanya interaksi
komunikasi.
Teori Weick tentang berorganisasi sangat penting dalam bidang
komunikasi karena teori ini menggunakan komunikasi sebagai sebuah dasar
pengorganisasian dan memberikan pemikiran dalam memahami bagaimana
manusia berorganisasi. Menurut teori ini, organisasi bukanlah susunan yang
terbentuk oleh posisi dan peranan, tetapi oleh aktivitas komunikasi, lebih cocok
dikatakan pengorganisasian daripada organisasi karena organisasi itu sendiri
[Link] 20
[Link]
merupakan sesuatu yang dicapai manusia melalui sebuah proses komunikasi yang
berkelanjutan. Ketika manusia melakukan interaksi sehari-hari, kegiatan mereka
menciptakan organisasi.
Dalam pembentukan interaksi sebuah organisasi mempunyai tiga proses
yaitu tindakan atau sebuah pernyataan atau perilaku, kemudian dikuti oleh respon
dan yang terakhir adanya penyesuain diri terhadap lingkungan organisasi. Weick
percaya bahwa pengorganisasian merupakan sebuah interaksi yang berguna untuk
mendapatkan pemaknaan bahwa setiap individu mempunyai informasi yang
memberikan mekanisme untuk dapat memahami informasi yang mereka dapatkan.
Komunikasi dalam organisasi yang berjalan dengan harmonis dan
terpenuhinya informasi yang diperoleh sesuai dengan yang diharapkan untuk
menyelesaikan pekerjaan akan menimbulkan kepuasan komunikasi dan dorongan
semangat terhadap anggota organisasi sehingga anggota organisasi akan
termotivasi untuk meningkatkan kinerja pegawai atau anggota organisasi yang ada
dalam organisasi. Menurut Pace dan Faules (2009:113) motivasi kerja muncul
dari “proses komunikasi organisasi yang sedang dan telah terjadi, dimana pegawai
ada didalamnya, pegawai terlibat proses komunikasi dengan atasan maupun
sesama dalam keterkaitannya dengan harapan, pemenuhan kebutuhan, peluang
dan kinerja mereka.
Komunikasi yang terjalin dalam organisasi merupakan hal penting dalam
kelancaran mencapai hasil yang optimal dalam pekerjaan. Informasi atau pesan
yang diterima sebagai bahan untuk proses penyelesaikan tugas pekerjaan,
[Link] 21
[Link]
hubungan pimpinan sebagai komunikator dan bawahan sebagai komunikan dalam
mengirim dan menerima informasi hal yang sangat penting untuk diperhatikan.
Menurut Goldbaher dalam Tubbs dan Moss (2005) komunikasi oragnisasi
merupakan arus pesan dalam suatu jaringan hubungan yang saling bergantung,
bergantung dalam mempengaruhi dan dipengaruhi informasi atau pesan tersebut.
Ditambahkan pula pendapat dari Kreps (1990:11) bahwa :“Organizational
communication is the process whereby members gather pertinent information
about their organization and the changes occurring within it”.
Dapat diartikan bahwa komunikasi organisasi merupakan proses dimana anggota
mengumpulkan informasi terkait tentang organisasi dan perubahan yang terjadi
didalamnya. Sehingga dari pendapat –pendapat diatas dapat disatukan
pengertiannya bahwa komunikasi organisasi merupakan proses dimana anggota
mengumpulkan , pengiriman, dan penerimaan informasi atau pesan dalam
jaringan hubungan yang saling bergantung.
2.3. Pola Komunikasi
Pola dalam kamus bahasa Indonesia berarti sistem atau tata kerja. Adapun
istilah sistem secara umum adalah suatu susunan yang terdiri atas pilihan
berdasarkan fungsinya, individu-individu yang mendukung membentuk kesatuan
utuh. Tiap individu dalam sistem saling bergantung dan saling menentukan. “Pola
komunikasi diartikan sebagai bentuk atau pola hubungan dua orang atau lebih
dalam proses pengiriman dan penerimaan cara yang tepat sehingga pesan yang
dimaksud dapat dipahami” (Djamarah, 2004:1). “Dimensi pola komunikasi terdiri
[Link] 22
[Link]
dari dua macam, yaitu pola yang berorientasi pada konsep dan pola yang
berorientasi pada sosial yang mempunyai arah hubungan yang berlainan”
(Sunarto, 2006:1)
Teori tentang pola komunikasi secara jelas belum pernah menjadi kajian
oleh para ilmuan, akan tetapi model komunikasi pernah disinggung oleh Soreno
dan Mortense yang mendefinisikan model komunikasi sebagai deskripsi ideal
mengenai apa yang dibutuhkan untuk komunikasi. Artinya model komunikasi
muncul sebagai bagian dari adanya interaksi komunikasi yang dilakukan individu
maupun kelompok. Beberapa model komunikasi yang dimaksud dalam tulisan ini
merujuk pada dua model komunikasi yakni model komunikasi linear dan sirkular.
Model komunikasi linear ialah model dasar komunikasi yang memiliki ciri
sebuah proses yang hanya terdiri dari satu garis lurus, proses komunikasi berawal
dari komunikator dan berakhir pada komunikan. Model komunikasi ini digunakan
dalam melihat proses komunikasi struktural antara Pimpinan dan Karyawan.
Adapun komunikasi sirkular adalah model dasar komunikasi yang ditandai adanya
unsur feadback. Hal ini berarti proses komunikasi tidak berawal dari satu titik dan
berakhir pada titik yang lain. Model komunikasi tersebut digunakan dalam
melihat hubungan timbal balik dari proses komunikasi petugas perizinan pada
Badan pelayanan perizinan kota Ambon
Pola komunikasi merupakan bentuk-bentuk komunikasi untuk
mempengaruhi melalui sinyal atau simbol yang dikirimkan dengan cara mengajak
secara bertahap maupun sekaligus, pola komunikasi di sini akan lebih mempunyai
arti jauh ketika dikaitkan dengan prinsip-prinsip komunikasi dalam merealisasikan
[Link] 23
[Link]
bentuk komunikasi. Komunikasi berdasarkan bentuknya, dibagi menjadi dua
bahagian::
1) Komunikasi Antar Personal atau yang lebih dikenal dengan
Interpersonal:
komunikasi yang terjadi antar komunikator dengan komunikan secara
langsung dengan cara berhadapan muka atau tidak. Komunikasi seperti ini
lebih efektif karena kedua belah pihak saling melancarkan komunikasinya
dan dengan feedback keduanya melaksanakan fungsi masing-masing,
2) Komunikasi Kelompok :
adalah komunikasi yang terjadi anatara seseorang dan kelompok tertentu.
Komunikasi kelompok dapat dipetakan menjadi 3 kelompok komunikasi
yaitu;
a. Small groups (kelompok yang berjumlah sedikit) Kelompok kecil
merupakan komunikasi yang melibatkan sejumlah orang dalam
interaksi satu dengan yang lain dalam suatu pertemuan yang
bersifat berhadapan. Ciri-ciri kelompok seperti ini adalah
kelompok komunikan dalam situasi berlangsungnya komunikasi
mempunyai kesempatan untuk memberikan tanggapan, dalam hal
ini komunikator dapat berinteraksi atau melakukan komunikasi
antar pribadi.
b. Medium groups (agak banyak):Komunikasi dalam kelompok
sedang lebih mudah karena dapat diorganisir dengan baik dan
[Link] 24
[Link]
terarah, misalnya komunikasi antara satu bidang dengan bidang
yang lain dalam organisasi atau perusahaan.
c. Large groups (jumlah banyak): Kelompok besar merupakan
komunikasi yang melibatkan interaksi antara kelompok dengan
individu, individu dengan kelompok, kelompok dengan kelompok.
Komunikasinya lebih sulit dibandingkan dengan dua kelompok di
atas karena tanggapan yang diberikan komunikan lebih bersifat
emosional.
d. Komunikasi Massa: adalah komunikasi yang menggunakan media
sebagai alat atau sarana bantu, biasanya menggunakan media
elektronik seperti Televisi, Radio, Surat kabar, Majalah dan lain-
lain. Karakteristik media massa antara lain:
a) Pesan-pesan yang disampaikan terbuka untuk umum.
b) Komunikasi bersifat heterogen, baik latar belakang pendidikan,
asal daerah, agama yang berbeda, kepentingan yang berbeda.
c) Media massa menimbulkan keserempakan kontak dengan
sejumlah besar anggota masyarakat dalam jarak yang jauh dari
komunikator.
d) Hubungan komunkator-komunikan bersifat interpersonal dan
non pribadi.
Dari pemaparan yang ada tentang pola dan bentuk komunikasi maka
setidaknya dapat ditarik kesimpulan bahwa unsur-unsur komunikasi harus mampu
menjadi sebuah pemahaman yang berarti ketika kita mencoba untuk
[Link] 25
[Link]
berkomunikasi baik antar pribadi, interpersonal, kelompok atau massa, sisi lain
yang harus diperhatikan dalam menjalankan pola komunikasi harus menggunakan
prinsip-prinsip komunikasi sebagai kajian terhadap kondisi psikologi komunikan
yang kita hadapi.
2.4. Pola Komunikasi dalam Organisasi
Perlu dipahami bahwa dalam organisasi hubungan antara sesama pegawai
di sebuah organisasi lebih berfokus pada aspek–aspek manusiawi dan
kenyamanan dalam berinteraksi dan hal itu memiliki hubungan erat dengan
komunikasi antar anggota organisasi itu sendiri.
Seperti disebutkan di atas bahwa komunikasi merupakan faktor penting
bagi organisasi, karena tanpa adanya komunikasi kegiatan organisasi tidak akan
berjalan dengan baik. Reon Ladlow dan Ferguson Parton (1992,1996) berasumsi
bahwa melalui komunikasi diharapkan dapat membawa hasil pertukaran informasi
dan saling pengertian di antara orang–orang yang terlibat dalam kegiatan tersebut.
Pada teori komunikasi terdapat jenis-jenis komunikasi dapat digolongkan
menjadi 5 katagori jenis komunikasi antara lain yaitu;
1. Komunikasi lisan dan tertulis. Dasar dari penggolongan komunikasi lisan
dan tertulis ini adalah bentuk pesan yang disampaikan, pada komunikasi
antar pribadi komunikasi jenis ini yang paling banyak dilakukan.
2. Komunikasi verbal dan non verbal. Jenis komunikasi ini berlaku apabila
dua orang berinteraksi, maka informasi mengenai perasaan dan gagasan-
[Link] 26
[Link]
gagasan yang timbul akan dikomunikasikan. Informasi mengenai perasaan
seseorang dikemukakan secara lisan melalui apa yang dikatakan dan
bagaimana mengatakannya, arti dan kata atau kalimat diperjelas melalui
intonasi bicara, komunikasi dapat dilihat dari perasaan seseorang ketika
berinteraksi dengan menggunakan bahasa isyarat non verbal atau melalui
bahasa tubuh yaitu, ekspresi, gerakan, isyarat, posisi badan.
3. Komunikasi ke bawah, ke atas dan ke samping. Penggolongan komunikasi
linear ini didasarkan pada arah aliran pesanpesan informasi dalam suatu
organisasi. Dalam komunikasi ini pada umumnya bersifat formal,
menggunkan tata cara dan aturan, sebagaimana dilakukan antara karyawan
dan pimpinan organisasi. Pemimpin dalam komunikasinya menggunakan
instruksi-instruksi, petunjuk-petunjuk, penjelas-penjelas kepada bawahan
dan karyawannya. Sebaliknya karyawan dan juga bawahan dalam
berkomunikasi dengan pimpinannya ketika memberi laporan-laporan,
pengaduan-pengaduan dan lain-lain tidak menghilangkan derajatnya
sebagai bawahan. Sedangkan kesamping, antara karyawan dengan
karyawan komunikasi bisa berlangsung secara formal dan non formal.
4. Komunikasi Formal dan Informal. Komunikasi dalam organisasi juga
dapat digolongkan menjadi formal dan informal, dasar penggolongan ini
adalah gaya, tata krama dan pola aliran informasi di dalam oraganisasi.
Proses komunikasi formal terjadi ketika informasi dikirim kemudian
ditransfer melalui pola hirarki kewenangan organisasi yang sudah
[Link] 27
[Link]
diterapkan dalam struktur organisasi. Sedangkan informal, antara para
karyawan terjadi komunikasi yang tidak terbatas dan bebas.
5. Komunikasi satu arah dan dua arah. Jenis komunikasi ini berbeda dalam
hal ada tidaknya kesempatan bagi komunikan untuk memberi reaksi
maupun respon dan tanggapan terhadap pesan-pesan dan informasi yang
dikirim komunikator.
Komunikasi yang efektif dalam organisasi dapat terbangun terganung pola
komunikasi dan kemamapuan komunikasi yang baik dari pegawai itu sendiri,
begitu juga dengan sistem koordinasi internal atau antar Dinas teknis. Dalam
menghindari sengketa informasi antara anggota organisasi, maupun antara
pegawai pemerintah dan publiknya. Pegawai perizinan harus jeli dalam memilih
pola dan bentuk komunikasi seperti apa yang harus digunakan. Jika suatu
kebijakan pemerintah yang semestinya disampaikan secara jelas dalam suatu
pertemuan atau rapat, namun disampaikan secara lisan kepada seorang demi
seorang dengan harapan bahwa informasi tersebut akan tersebar secara sendirinya,
maka sesungguhnya cara-cara tersebut akan berpotensi menimbulkan sengketa
informasi dalam organisasi itu sendiri dan juga bagi masyarakat sebagai pengguna
pelanan. ”Keberhasilan dalam mencapai ketepatan penyampaian informasi
ditentukan oleh sifat, mutu informasi yang disampaikan di mana hal ini
selanjutnya juga ditentukan oleh pengertian, keterangan, pengaruh sikap,
hubungan yang makin baik serta tindakan”. (Tubbs dan Moss, 1994).
[Link] 28
[Link]
2. 5. Hubungan Pola Komunikasi dengan Peningkatan Kinerja Aparatur
Pelayan Publik
Keberhasilan setiap pegawai pelayanan publik dalam membina hubungan
kerja, tidak terlepas dari kemampuan pegawai tersebut dalam membina
komunikasi. Sehingga peran komunikasi yang dikembangkan oleh setiap pegawai
pelayanan publik akan berdampak pada pencapaian tujuan pemerintah untuk
memberikan pelayanan prima. Oleh sebab itu setiap pegawai pelayan publik perlu
memahami pentingnya membangun suatu komunikasi yang baik dalam
meningkatkan kinerja bagi pelayanan public yang berkualitas bagi seluruh
masyarakat. Komunikasi yang efektif menjadi sangat penting bagi setiap
organisasi pelayanan publik. Dalam bekerja setiap anggota organisasi tentu akan
saling berkomunikasi satu dengan yang lain dengan tujuan untuk saling
berkoordinasi, penyampaikan pesan dan informasi.
Berkomunikasi menciptakan hubungan yang baik antar aparatur Dengan
adanya komunkasi antar aparatur dapat menciptakan hubungan yang baik. Jika
sudah tercipta hubungan yang baik antar aparatur maka aparatur tersebut akan
merasa betah dan nyaman ketika berkerja dalam instansi tersebut sehingga
aparatur tersebut mampu membawa instansi mencapai tujuan.
Berkomunikasi dapat meningkatkan kualitas diri, seorang aparatur mampu
berkomunikasi adalah salah satu soft skill penting yang harus dimiliki oleh
seorang aparatur di [Link] adanya komunikasi seorang aparatur bisa
diliat apakah dia memiliki kualitas atau tidak dalam dirinya. Jika kemampuan
[Link] 29
[Link]
berkomunikasinya baik maka kualitas diri yang dia miliki baik pula, begitu pun
sebaliknya jika kemampuan berkomunikasinya kurang maka kualitas diri yang dia
“Suatu organisasi tidak akan eksis tanpa adanya komunikasi. Tidak akan
memungkinkan terjadinya koordinasi kerja yang diharapkan. Kerjasama baik
antara pimpinan dengan karyawan, maupun antara karyawan dengan karyawan
tidak mungkin tercipta sebab mereka tidak mengkomunikasikan kebutuhan dan
perasaannya satu sama lain. (Sastropoetro, 1982:339).
Dengan komunikasi yang efektif aliran pesan dan informasi dalam suatu
organisasi akan menjadi lebih terbuka dan transparan, dan akan membawa
pengaruh yang baik bagi hubungan kerja antara pimpinan dengan pegawainya
atau bagi sesama anggota organisasi, bahkan antara organisasi dengan publiknya.
Komunikasi yang efektif perlu dikembangkan, dan dipertahankan untuk
memajukan struktur dan stabilitas organisasi menuju tujuan yang sudah
ditentukan.
2.6. Pengertian Kinerja
Pengertian kinerja menurut Kementrian Negara Pendayagunaan Aparatur Negara
dalam ISO 11620:2008: Kinerja adalah unjuk kerja, prestasi kerja, tampilan hasil
kerja, capaian dalam memperoleh hasil kerja, tingkat kecepatan/ efisiensi/
produktivitas/ efektivitas dalam mencapai tujuan. Jadi kinerja merupakan state of
condition dari suatu pelaksanaan kerja dalam mencapai sesuatu yang diinginkan
(tujuan, sasaran, hasil yang diinginkan, kondisi yang diinginkan, perubahan yang
diinginkan). Kinerja adalah keseluaran hasil dari kegiatan/ program yang hendak
[Link] 30
[Link]
atau telah dicapai sehubungan dengan penggunaan anggaran dengan kuantitas dan
kualitas terukur. (Saleh 2013, 2)
Dari definisi diatas dapat diketahui bahwa kinerja adalah hasil kerja
seseorang dalam suatu organisasi selama kurun waktu tertentu sesuai dengan
wewenang dan tanggung jawabnya dalam mencapai tujuan dan sasaran tertentu.
Kinerja merupakan hasil kerja baik secara kualitas maupun kuantitas yang dicapai
oleh seseorang dalam melaksanakan tugas sesuai tanggungjawab yang diberikan
(Mangkunegoro, 2002:22). Kinerja pegawai harus terencana secara
berkesinambungan, sebab peningkatan kinerja pegawai bukan merupakan
peristiwa seketika tetapi memerlukan suatu perencanaa dan tindakan yang tertata
dengan baik untuk kurun waktu tertentu (Engkoswara dalam Sinambela 2012)
Kesimpulan dari pendapat pakar diatas bahwa Kinerja adalah kecepatan atau
responsif, keterbukaan, tertanggungjawab dan rasa empati dalam upaya untuk
mencapai efektifitas /efisiensi aparatur dalam menjalankan tugas pelayanan
publik yang berkualitas.
2.7. Aliran informasi dalam organisasi
Menurut Pace dan Faules (2013:170) dalam bukunya Komunikasi
Organisasi berpendapat bahwa Aliran informasi dalam suatu organisasi
merupakan suatu proses dinamik; artinya proses pesan secara tetap dan
berkesinabungan diciptakan, ditampilkan, dan diinterprestasikan. Informasi tidak
akan tersampai apabila tidak ada yang akan menyampaikannya atau yang
membawanya, informasi dalam suatu organisasi sangat penting dan harus
[Link] 31
[Link]
senantiasa berjalan untuk selalu diciptakan agar organisasi berjalan sesuai dengan
harapan.
Dalam hubungan di dalam organisasi diperlukan bagaimana informasi itu
dapat tersampai dan bagaimana organisasi tersebut bisa mendapatkan informasi.
Komunikasi dalam organisasi sangat diperlukan untuk menyampaikan informasi
ke seluruh bagian organisasi dan bagaimana menerima informasi dari seluruh
bagian organisasi. Penyebaran informasi dalam organisasi dapat disebarkan
dengan tiga cara seperti pendapat Guetzkow dalam Pace dan Faules (2013:71)
bahwa aliran komunikasi dapat terjadi dengan cara serentak, berurutan, atau
kombinasi dari kedua cara. Dengan penjelasan sebagai berikut:
1. Penyebaran pesan secara serentak
Komunikasi organisasi berlangsung dari orang ke orang, atau diadik dan
melibatkan sumber pesan dan penerima yang menginterpretasikan pesan
sebagai tujuan akhir. Bila semua anggota oragnisasi menerima suatu
informasi dalam waktu yang bersamaan, proses ini disebut penyebaran
pesan secara serentak.
2. Penyebaran Pesan secara berurutan.
Menurut Haney (1962) mengemukakan bahwa “ penyampaian pesan
berurutan merupakan bentuk komunikasi yang utama, yang pasti terjadi
dalam organisasi”. Penyebaran berurutan meliputi perluasan bentuk
penyebaran diadik, jadi pesan disampikan dari A kepada si B kepada si C
kepada si D kepada si E dalam searangkaian transaksi dua orang ; dalam
hal ini setiap individu kecuali orang sebagai sumber pesan pertama, mula-
[Link] 32
[Link]
mula menginterprestasikan pesan yang diterimanya dan kemudian
meneruskan hasil interpretasinya kepada orang berikutnya dalam
rangkaian tersebut. Bila pesan disampaikan disebarkan secara berurutan,
penyebaran informasi berlangsung dalam waktu yang tidak beraturan, jadi
informasi tersebut tiba di tempat yang berbeda dan pada waktu yang
berbeda pula.
3. Penyebaran pesan serentak dan berurutan (Kombinasi)
Penyebaran pesan secara kombinasi ini merupakan gabungan dari
penyebaran serentak dan berurutan yaitu pesan di sampaikan kepada
seluruh anggota organisasi melalui jalur dalam struktur organisasi yang
dilaksanakan secara bersamaan agar penyampaian pesan menjadi lebih
efektif dan efisien.
2.8. Komunikasi Informasi Organisasi
Teori Komunikasi Organisasi dikemukakan oleh Karl Weick (1979).
Dalam teori organisasi Karl Weick dijelaskan bahwa struktur sebagai aktivitas
komunikasi dan menekankan pada proses mengorganisasikan. Struktur organisasi
ditentukan oleh perilaku-perilaku yang saling bertautan. Fokus utamanya adalah
pada pertukaran informasi yang terjadi dalam organisasi dan bagaimana anggota
mengambil langkah untuk memahami hal ini (West 2008, 335).
Fokus utama penelitian Weick adalah pada pertukaran informasi yang
terjadi dalam organisasi dan bagaimana anggota mengambil langkah untuk
memahami hal ini. Weick percaya bahwa “orgaanisasi berbicara pada dirinya
[Link] 33
[Link]
sendiri”. Maksud dari pernyataan tersebut adalah anggota-anggota organisasi
adalah penting dalam penciptaan dan pemeliharaan makna pesan.
Weick melihat organisasi sebagai sebuah sistem yang mengambil sebuah
informasi yang membingungkan atau ambigu dari lingkungannya dan membuat
informasi tersebut menjadi masuk akal. Oleh karenanya, menurut Teori Informasi
Organisasi, organisasi akan berevolusi selama mereka masih berusaha untuk
memahami diri mereka dan lingkungannya.
Weick pertama kali memperkenalkan pendekatan teoritis yang menjelaskan
bagaimana organisasi memahami dan menggunakan informasi dalam bukunya
The Social Psyhology Organizing (1969). Ia kemudian memperbarui teorinya
untuk mengklarifikasikan kebingungan yang mungkin muncul (1995). Teorinya
berfokus pada proses yang dilalui organisasi dalam usaha untuk memahami semua
informasi yang membombardir mereka tiap harinya. Weick mengatakan,
“organisasi dan lingkungan mereka berubah begitu cepatnya sehingga sangat tidak
realistis untuk menunjukkan seperti apa mereka saat ini, karena mereka tidak akan
tetap seperti itu nantinya.”(1969).
Fokus dari teori organisasi adalah pengkomunikasian informasi yang
penting bagi suksesnya sebuah oraginsasi. Sangat jarang bahwa seseorang atau
satu departemen dalam sebuah organisasi mempunyai semua informasi penting
untuk menyelesaikan suatu proyek. Tugas pemrosesan informasi tidak
dilaksankan hanya dengan melakukan perolehan informasi, bagian tersulit adalah
dalam mengartikan dan mendistribusikan informasi yang didapatkan.
Asumsi Teori Informasi Organisasi
[Link] 34
[Link]
Asumsi Teori Informasi Organisasi Teori informasi organisasi adalah satu cara
untuk menjelskan bagaimana organisasi membuat informasi yang
membingungkan dan ambigu menjadi masuk akal. Teori ini berfokus pada proses
pengorganisasian anggota organisasi untuk mengelola informasi dari pada
berfokus pada struktur organisasi itu sendiri. Sejumlah asumsi dasar teori ini :
1. Organisasi manusia ada dalam sebuah lingkungan informasi : Asumsi
yang oertama menyatakan bahwa organisasi bergantung pada informasi
agar dapat berfungsi dengan efektif dan mencapai tujuan mereka. Weick
(1979) memandang konsep lingkungan informasi sebagai sesuatu yang
berbeda dari lingkungan fisik dimana organisasi berada. Ia menyatakan
bahwa lingkungan informasi ini diciptakan oleh anggota organisasi.
2. Informasi yang diterima sebuah organisasi berbeda dalam hal
ketidakjelasannya: Asumsi kedua yang diajukan Weick pada ambiguitas
yang ada dalam informasi. Pesan-pesan berbeda dalam hal sejauh mana
mereka dapat dipahami. Setiap organisasi harus menetukan sejauh mana
anggota yang lebih mengetahui dan berpengalaman dalam berurusan
dengan informasi penting yang didapatkan.
3. Organisasi manusia terlibat di dalam pemrosesan informasi untuk
mengurangi ketidak jelasan informasi: dalam teori ini menyatakan bahwa
organisasi mulai dalam aktifitas kerjasama untuk membuat informasi yang
diterima dapat lebih dipahami. Weick (1979) melihat proses mengurangi
ketidak pastian sebagai sebuah aktifitas bersama diantara anggota
[Link] 35
[Link]
organisasi. Ini bukan meruopakan tanggung jawab dari satu orang saja
untuk mengurangi ketidakjelasan.
2.9. Prinsip - prinsip Ketidakjelasan
Ketidak Jelasan Informasi Seperti sudah dinyatakan sebelumnya,
organisasi tergantung pada dan menerima informasi dalam jumlah besar.
Tantangannya terletak pada kemampuan organisasi untuk memahami informasi
yang diterima. Organisasi menerima informasi dari berbagai sumber : mereka
harus mengartikan informasi dan menentukan apakah informasi tersebuat dapat
dipahami. Proses pengurangan ketidakjelasan pada intinya merupakan proses
interpersonal dan terjadi melalui tahapan-tahapan berikut ini : enactment, seleksi,
dan retensi. Enactment :
Enactment: Enactment merujuk pada bagaimana informasi akan
diterima dan diinterpresatasikan oleh organisasi. Pada tahapan ini, organisasi
harus menganalisis input-input yang diterimanya untuk menentukan jumlah
ketidakjelasan yang ada dan untuk memberikan makna pada informasi. Aturan-
aturan yang akan dapat bdilihat kembali dalam pengambilan keputusan mengenai
bagaimana organisasi akan mengatasi ambiguitas itu.
Seleksi : Menginterprestasikan Input Setelah organisasi menggunakan
berbagai aturan dan siklus untuk menginterprestasikan input baru dalam
lingkungan informasinya, organisasi ini harus menganalisis apa yang ia ketahui
dan memilih metode terbaik untuk mendapatkan informasi tambahan dalam
mengurangi ketidakjelasan. Tahapan ini disebut seleksi atau “pemahaman
[Link] 36
[Link]
retrospektif”. Dalam tahapan ini, kelompok diharuskan untuk membuat keputusan
mengenai aturan dan siklus yang akan digunakan.
Retengensi : Ingat Hal-Hal Kecil Setelah organisasi mengkaji ulang
kemampuannya untuk menghadapi ambiguitas, organisasi akan menganalisis
efektifitas dari aturan dan siklus komunikasi dan terlibat dalam retensi. Dalam
tahapan retensi, organisasi menyimpan informasi untuk digunakan kemudian.
Tahapan ini mengharuskan organisasi untuk melihat apa yang harus diatasi atau
apa yang harus diabaikan atau ditinggalkan.
2.10. Fungsi Pengorganisasian
Dalam organisasi perlu adanya pengorganisasian, kenapa diperlukan
pengorganisasian karena dengan pengorganisasian anggota organisasi akan
mengetahui apa tugas dan tanggungjawab masing-masing. Pegawai akan tahu apa
yang akan dikerjakan dan harus dibawa kemana tugas-tugas itu dilaporkan,
sehingga pegawai akan bertanggungjawab pada apa yang mereka terima sebagai
tugasnya.
Seperti yang dinyatakan oleh Robbins dan Judge (2008:6) bahwa
pengorganisasian merupakan proses yang meliputi penentuan tugas yang harus
dikerjakan, siapa yang mengerjakan tugas tersebut, bagaimana tugas tersebut
dikelompokkan, siapa melapor kepada siapa, darimana keputusan-keputusan
dibuat. Apabila pegawai sudah mengerti dan memahami apa yang menjadi tugas
dan tanggungjawabnya tentunya akan terlaksanya fungsi organisasi yang dapat
memperlancar tugas dan tanggungjawab pegawai sesuai dengan alur organisasi
[Link] 37
[Link]
berjalannya aktivitas fungsi pengorganisasian yang mencakup pengelolaan
struktur, proses, dan hubungan –hubungan diantara para anggota maka
perencanaan yang merupakan sebagai awal dan berjalannya suatu manajemen
organisasi akan memudahkan dalam merumuskan tujuan organisasi. Sependapat
dengan pendapat Koontz (1993) bahwa fungsi organisasi berkaitan dengan
perencanaan. Dalam perencanaan pimpinan merumuskan tujuan yang hendak
dicapai dan menentukan cara yang digunakan dalam mencapainya maka
pengorganisasian pimpinan mengatur tugas-tugas yang relevan dengan
pencapaian tujuan dan juga orang-orang yang hendak melaksanakannya termasuk
hubungan diantara pegawai.
Pimpinan akan mudah mengatur tugas-tugas kepada pegawainya dan tetap
menjaga hubungan baik dengan seluruh anggota organisasii. Disinilah letak
informasi bergantung yang artinya bahwa informasi yang diterima oleh anggota
organisasi akan dipengaruhi oleh informasi yang mereka terima dan
mempengaruhi untuk melakukan tugas atau pekerjaan yang menjadi
tanggungjawab anggota organisasi tersebut.
2.11. Komunikasi Internal Organisasi
Komunikasi organisasi merujuk pada proses komunikasi dan interaksi
yang terjadi diantara anggota internal [Link] menyebutkan, fungsi
utama komunikasi internal dalam organisasi adalah sebagai kendali
(kontrol/pengawasan), motivasi, pengungkapan emosional, dan informasi. Deetz
(2001),34 mendeskripsikan dua cara dalam mendefinisikan komunikasi internal.
Pertama, fokus pendekatan terletak pada komunikasi internal sebagai fenomena
[Link] 38
[Link]
yang terjadi dalam organisasi, dimana organisasi merupakan wadah untuk proses
komunikasi yang terjadi. Kedua, komunikasi internal dilihat sebagai cara untuk
mendeskripsikan dan menjelaskan organisasi, dimana komunikasi menjadi proses
utama yang dilakukan oleh anggota untuk berbagi informasi, menciptakan
hubungan, memaknai dan mengkonstruksi budaya serta nilai organisasi.
Shockley-Zalabak (1995),35 menambahkan proses tersebut merupakan kombinasi
atas orang, pesan, makna, proses, dan tujuan.
Richmond dan Mc Crosckey, menjelaskan bahwa secara umum dalam
komunikasi internal, informasi mengalir melalui dua cara, secara vertikal (dari
atas ke bawah atau dari bawah ke atas) dan horisontal (sejajar). Pada dasarnya,
komunikasi internal dimaksudkan untuk proses transfer pemikiran yang baik
antarkomponen organisasi, baik secara vertikal, horisontal, dan diagonal. Dengan
demikian, komunikasi internal dapat membantu organisasi dalam mencapai tujuan
secara efektif dan efisien. Lebih lanjut Richmond dan Mc Crosckey menjelaskan
terdapat enam fungsi komunikasi internal organisasi, yaitu:
a. Fungsi informatif
Fungsi ini memberikan informasi kepada anggota tentang apa yang
mereka butuhkan sehingga dapat mengerjakan pekerjaan dengan efektif
dan efisien. Anggota perlu mendapatkan informasi tentang perubahan
dalam prosedur kerja dan berbagai kebijakan yang berkaitan dengan
pekerjaan. Fungsi ini dijalankan melalui pertemuan-pertemuan rutin
organisasi dan pesan tulis.
b. Fungsi regulasi
[Link] 39
[Link]
Fungsi ini dijalankan untuk mengarahkan anggota dalam menjalankan
peraturan-peraturan yang berlaku dalam organisasi.
c. Fungsi integratif
Fungsi ini difokuskan pada koordinasi dalam unit kerja. Komunikasi
digunakan untuk mengarahkan anggota dalam mengembangkan kerja
sama sehingga pekerjaan dapat berjalan lebih baik.
d. Fungsi manajemen
Fungsi ini berkaitan dengan tiga fungsi sebelumnya. Komunikasi
difokuskan untuk mengarahkan anggota agar mengerjakan pekerjaannya
dengan baik, mengenal anggota lain, dan membangun hubungan
antaranggota.
e. Fungsi persuasi
Fungsi ini merupakan pengembangan dari fungsi manajemen. Manajer
(pimpinan organisasi) berusaha mempengaruhi anggota agar mengerjakan
tugas-tugas mereka dengan lebih baik demi kemajuan organisasi.
f. Fungsi sosialisasi Sosialisasi internal di organisasi sering kali diabaikan.
Fungsi ini sebenarnya dapat menentukan anggota mampu bertahan di
lingkungan organisasi. Fungsi ini berkaitan dengan integrasi anggota di
lingkungan organisasi yang selalu mengalami tuntutat perubahan.
Hal yang penting dalam strategi komunikasi internal adalah bagaimana
caranya agar pesan yang disampaikan dapat berdampak efektif sesuai dengan
yang diharapkan komunikator kepada komunikan. Komunikasi dikatakan efektif
[Link] 40
[Link]
apabila tidak hanya sekadar pesan yang diharapkan komunikator terhadap
komunikan agar komunikan memiliki perilaku tertentu, melainkan juga memiliki
pendapat dan perilaku seperti yang diharapkan oleh komunikator.
2.12. Jaringan Komunikasi Internal
Jaringan komunikasi internal adalah pertukaran pesan dan informasi dalam
suatu organisasi yang dilakukan oleh sejumlah orang dan menduduki posisi atau
peranan tertentu. Pertukaran tersebut dilakukan melalui pola komunikasi di antara
anggota organisasi dan berbagai posisi dalam struktur organisasi. Robbins
menyebutkan bahwa jaringan komunikasi menetapkan saluran-saluran tempat
informasi mengalir. Proses komunikasi internal berlangsung secara dua arah
berdasarkan jaringan komunikasi, yakni jaringan komunikasi formal dan jaringan
komunikasi informal.
2.12.1. Jaringan Komunikasi Formal (formal communication network)
Jaringan komunikasi formal adalah aliran komunikasi internal yang
memiliki struktur dan telah direncanakan sehingga tidak dapat lagi
dihindari oleh organisasi. Menurut Richmond dan Mc Crosckey, jaringan
komunikasi formal berlangsung di antara anggota-anggota organisasi yang
menduduki posisi atau jabatan tertentu secara hierarki dalam sebuah
organisasi. Komunikasi formal ini mencakup susunan tingkah laku
organisasi, pembagian departemen ataupun tanggung jawab tertentu, posisi
jabatan, dan distribusi pekerjaan yang ditetapkan bagi anggota organisasi
yang berbeda-beda.
[Link] 41
[Link]
Jaringan komunikasi formal memiliki alur secara vertikal,
mengikuti rantau wewenang (struktural) dan terbatas pada komunikasi
yang berkaitan dengan tugas. Komunikasi dalam jaringan seperti ini sering
mengalami distorsi pesan dan memungkinkan informasi yang diterima
oleh tiap tingkatan struktur menjadi berubah/berbeda. Berikut merupakan
bagan jaringan komunikasi formal dalam organisasi:
Gambar. 1 Arah Komunikasi Organisasi
Bentuk umum komunikasi internal, informasi dapat mengalir melalui dua cara,
secara horisontal dan vertikal. Komunikasi horisontal adalah komunikasi yang mengalir
di antara karyawan yang memiliki kedudukan sama dalam perusahaan, sedangkan
komunikasi vertikal merupakan komunikasi yang mengalir antara jajaran petinggi
hierarkinya dalam organisasi/perusahaan.
[Link] 42
[Link]
[Link]. Komunikasi Vertikal
Komunikasi vertikal adalah komunikasi dari atas ke bawah
(downward communication), dan komunikasi dari bawah ke atas
(upward communication). Komunikasi ini berlangsung secara timbal
balik dari pimpinan ke anggota dan dari anggota kepada pimpinan
(two way traffic communication).
[Link]. Komunikasi Horisontal
Komunikasi menyamping atau horisontal ialah proses
penyampaian pesan-pesan dari anggota satu kepada anggota lain yang
kedudukannya dalam jenjang organisasi setingkat Komunikasi
horisontal dapat menghemat waktu dan mempermudah koordinasi.
Pola komunikasi ini juga dapat dimanfaatkan untuk saling
memperoleh informasi yang dapat membantu memperbaiki dan
memperlancar pelaksanaan tugas masing-masing anggota. Muchlas
menyebutkan sedikitnya ada empat fungsi penting dari komunikasi
horisontal:
a) Koordinasi berbagai kegiatan yang dilakukan oleh banyak bagian
dalam organisasi
b) Informasi tentang berbagai kegiatan pekerjaan dalam bagian-bagian
organisasi yang sama tingkatannya
c) Persuasi pada orang-orang lain yang sama tingkatannya dalam
organisasi
[Link] 43
[Link]
d) Informasi mengenai perasaan para sejawat tentang pekerjaan dan isu-
isu yang berhubungan dengan pekerjaan
Dalam komunikasi horisontal, informasi mengalami filterisasi yang
lebih sedikit dibandingkan komunikasi vertikal. Keuntungannya,
informasi yang diterima mungkin komplit dan memungkinkan
komunikan menginterpretasikan informasi tersebut sesuai keinginan.
Namun, karena informasi sedikit mengalami filter, komunikan harus
memilihnya sesuai dengan dukungan data yang ada. Jika tidak,
informasi yang diterima akan berlimpah dan menyulitkan komunikan
untuk mengolahnya.
[Link]. Komunikasi Diagonal
Komunikasi silang (cross/diagonal communication) atau lebih
dikenal dengan komunikasi lintas saluran adalah komunikasi antara
pimpinan suatu bagian dengan anggota bagian lain. Dengan kata lain,
komunikasi ini memotong jalur vertikal dan horisontal. Maksud lain
dari komunikasi ini adalah untuk berdiskusi atau bersosialisasi dengan
rekan kerja secara informal dan terkadang terjadi pada waktu luang
atau di luar jam kerja. Komunikasi diagonal dibutuhkan karena dalam
sistem kerja, sebuah organisasi tidak dapat berdiri sendiri. komunikasi
ini berperan dalam fungsi koordinasi dan kerja sama antar divisi untuk
memperoleh data atau informasi dari divisi lain, terkait dengan
penyelesaian tugas dan jalannya kebijakan organisasi. Hal ini
[Link] 44
[Link]
berlangsung karena tidak semua data atau informasi dapat diperoleh di
divisi yang sama.
2.12.2. Jaringan Komunikasi Informal (informal communicationnetwork)
Jaringan komunikasi informal ialah proses penyampaian pesan
menggunakan saluran tidak resmi, yaitu di luar jalur yang sudah
ditentukan dalam struktur organisasi.53 Dalam jaringan komunikasi
informal, informasi tampak mengalir dengan arah yang tidak diduga,
komunikasi yang dilakukan bersifat lebih personal, dan jaringannya
digolongkan sebagai selentingan (grapevine). Stein dalam Pace dan Faules
juga menjelaskan selentingan (grapevne) adalah metode untuk
menyampaikan rahasia dari orang-orang yang tidak dapat diperoleh
melalui jaringan komunikasi formal.
Bentuk jaringan komunikasi informal yang tidak sesuai dengan
struktur formal menumbuhkan asumsi bahwa komunikasi jenis ini
cenderung bersifat negatif. Namun, asumsi tersebut tidak sepenuhnya
benar karena jaringan komunikasi informal juga memiliki kontribusi yang
cukup besar dalam perkembangan organisasi. Selentingan adalah jenis
komunikasi yang kuat tetapi juga berbahaya karena informasi yang
dikandungnya seringkali tidak bisa dipercaya kebenarannya. Komunikasi
informal lebih bersifat manusiawi dan bertujuan untuk memenuhuhi
kebutuhan hubungan yang bersifat pribadi, kemanusiaan, dan sosial.
Dengan pendekatan tersebut, tidak jarang komunikasi informal dapat
memecahkan permasalah organisasi yang tidak dapat diselesaikan melalui
[Link] 45
[Link]
komunikasi formal. Saluran informal yang tidak terkontrol akan muncul
dan menguat apabila saluran formal yang terkontrol tidak bisa memenuhi
kebutuhan dan permintaan akan informasi yang benar.
2.13. Pengertian Pelayanan Publik
Penggunaan istilah pelayanan publik (publik service) di Indonesia
dianggap memiliki kesamaan arti dengan istilah pelayanan umum atau pelayanan
masyarakat. Oleh karenanya ketiga istilah tersebut dipergunakan secara
interchangeable, dan dianggap tidak memiliki perbedaan mendasar. Dalam
Kamus Besar Bahasa Indonesia dinyatakan pengertian pelayanan bahwa
“pelayanan adalah suatu usaha untuk membantu menyiapkan (mengurus) apa
yang diperlukan orang lain. Sedangkan pengertian service dalam Oxford (2000 :
124) didefinisikan sebagai “a system that provides something that the publik
needs, organized by thegovernment or a private company”. Oleh karenanya,
pelayanan berfungsi sebagai sebuah sistem yang menyediakan apa yang
dibutuhkan oleh masyarakat.
Keputusan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara (Meneg
PAN) Nomor 63/KEP/[Link]/7/2003, memberikan pengertian pelayanan publik
yaitu segala kegiatan pelayanan yang dilaksanakan oleh penyelenggara pelayanan
publik sebagai upaya pemenuhan kebutuhan penerima pelayanan maupun
pelaksanaan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pelayanan publik diartikan sebagai pemberian layanan (melayani)
keperluan orang atau masyarakat yang mempunyai kepentingan pada organisasi
itu sesuai dengan aturan pokok dan tata cara yang telah ditetapkan (Kurniawan ;
[Link] 46
[Link]
Sinambela, 2011). jadi pelayanan publik sebagai salah bentuk pelayanan umum
yang diberikan kepada masyarakat luas dalam rangka pemenuhan kebutuhan-
kebutuhan masyarakat serta dapat digunakan sebagai titik tolak landasan dalam
penerapan Good Governance di Indonesia khususnya.
2.14. Pengertian Kinerja Pelayanan Publik
Pengertian kinerja secara sederhana adalah prestasi kerja atau hasil
pelaksanaan kerja. Istilah kinerja berasal dari kata “performance”, sedangkan
pengukuran kinerja disebut dengan “performance measurement”. Kinerja
(performance) adalah catatan hasil (outcomes) yang dihasilkan dari fungsi suatu
pekerjaan atau kegiatan tertentu selama suatu periode waktu tertentu. Sedangkan
pengukuran kinerja adalah sebagai suatu metode untuk menilai kemajuan/hasil
yang telah dicapai dibandingkan dengan tujuan yang telah ditetapkan. Berpijak
dari pengertian tersebut di atas dapat dikatakan bahwa pada dasarnya kinerja
adalah hasil capaian atau prestasi kerja yang diperoleh oleh suatu organisasi dalam
rangka mencapai tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan dan disepakati bersama
dalam kurun waktu tertentu. Sedangkan pengukuran kinerja merupakan alat atau
metode yang digunakan untuk memberikan penilaian seberapa besar tingkat
prestasi kerja atau capaian tujuan dan sasaran yang telah ditentukan. (Bernardin &
Russel dalam Gomes, 1999:146)
Pengertian “performance” atau kinerja adalah hasil kerja yang dapat
dicapai oleh seseorang atau sekelompok orang dalam suatu organisasi, sesuai
dengan wewenang dan tanggung jawab masing-masing, dalam upaya mencapai
[Link] 47
[Link]
tujuan organisasi bersangkutan secara legal, tidak melanggar hukum dan sesuai
dengan moral dan etika. Mengusulkan bahwa paling tidak ada tiga konsep yang
dapat digunakan sebagai indikator kinerja organisasi pemerintah yaitu,
responsibility (responsibilitas), responsiveness (responsif) dan accountability
(akuntabilitas). Dalam mengukur kinerja organisasi pemerintah (birokrasi publik)
disesuaikan dengan tugas dan fungsi yang dijalankan. Selanjutnya dikatakan
bahwa indikator kinerja yang komprehensif karena mencakup dimensi-dimensi:
kualitas layanan, produktivitas, responsivitas, responsibilitas, dan akuntabilitas.
(Sedarmayanti, 2003:147-148)
Bahwa kinerja atau prestasi kerja adalah suatu hasil kerja yang dicapai
seseorang dalam melaksanakan tugas-tugasnya yang didasarkan atas kecakapan,
usaha dan kesempatan. Lebih lanjut dikemukakan bahwa gabungan dari tiga
faktor penting yaitu; kecakapan, usaha, dan kesempatan. Hasibuan (1999: 75)
2.15. Pengertian Pelayanan Perizinan Terpadu
Salah satu usaha dalam menciptakan pelayanan publik adalah menciptakan
pelayanan terpadu satu pintu di setiap daerah Propinsi dan Kabupaten/Kota.
Menurut Peraturan Mentri Dalam Negri (Permendagri) No 24 tahun 2006,
Pelayanan Pelayanan Terpadu Satu Pintu adalah kegiatan penyelenggaraan
perizinan dan non perizinan yang proses pengelolaannya mulai dari tahap
permohonan sarnpai ke tahap terbitnya dokumen dilakukan dalam satu pintu dan
satu tempat. Beberapa hal yang diatur dalam Permendagri ini diantaranya;
persyaratan adanya prasarana yang memadai, yakni loket, tempat proses, tempat
[Link] 48
[Link]
pembayaran. Kemudian pengaturan proses, waktu dan biaya, kompetensi aparatur,
keterbukaan informasi dan pemanfaatan Teknologi Informasi, pengaduan dan
kepuasan langganan, pengawasan dan monitoring evaluasi, dan sebagainya.
Pelayanan perizinan dengan sistem terpadu satu pintu membuat waktu
pembuatan izin menjadi lebih singkat. Dengan adanya kelembagaan pelayanan
terpadu satu pintu, seluruh perizinan dan nonperizinan yang menjadi kewenangan
kabupaten/kota dapat terlayani dalam satu lembaga. Harapan yang ingin dicapai
adalah mendorong pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan investasi dengan
memberikan perhatian yang lebih besar pada peran usaha kecil dan menengah,
dan bertujuan meningkatkan kualitas layanan publik.
2.16. Penelitian Yang Relevan
Beberapa penelitian yang terkait dengan komunikasi organisasi dan
pelayanan publik sudah banyak dijumpai. Dengan menggunakan berbagai
perspektif teori serta pendekatan metodologi yang masing-masing berbeda,
penulis menemukan beberapa penelitian terkait dengan yang akan penulis
lakukan. Penelitian yang akan penulis tunjukan ini, merupakan suatu bukti bahwa
penelitian yang akan dilakuakn di Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan
Terpadu Satu Pintu Kota Ambon ini, memiliki nilai kebaharuan.
1. Dwi Nurina Pitasari ( 2015 ) dengan jurnal yang berjudul Pengaruh Gaya
Komunikasi Pimpinan Terhadap Peningkatan Kinerja Pegawai di
Perpustakaan Institut Teknologi Bandung. Tulisan tersebut menggunakan
teori Informasi Organisasi dari karl Weick (1979) untuk mengkaji tentang
pengaruh gaya komunikasi pimpinan secara formal maupun informal
[Link] 49
[Link]
terhadap peningkatan kinerja pegawai di UPT Perpustakaan ITB. Metode
penelitian yang digunakan adalah survey eksplanatory, dengan teknik
pengumpulan data yang digunakan adalah angket, wawancara, observasi,
dan studi kepustakaan. Hasilnya memperlihatkan bagaimana Gaya
komunikasi pimpinan baik komunikasi formal dan komunikasi informal
yang meliputi komunikasi ke bawah, komunikasi ke atas dan komunikasi
horisontal, berpengaruh terhadap peningkatan kinerja pegawai di UPT
Perpustakaan ITB. Jika aktivitas komunikasi (komunikasi formal dan
informal) volume frekuensinya bertambah maka kinerja pegawai akan
meningkat. Jika aktivitas komunikasi (komunikasi formal dan informal)
volume frekuensinya menurun, maka kinerja pegawai akan menurun.
Aktivitas komunikasi formal dan informal yang dimaksud diantaranya:
membagi dan memberikan informasi yang dibutuhkan kepada pegawai;
memberikan instruksi tugas, pengarahan atau pandanganpandangan yang
lebih luas tentang pekerjaan-pekerjaan yang berhubungan dengan tupoksi,
menyampaikan informasi yang bersifat umum menggunakan papan
pengumuman atau media komunikasi lainnya (email, telepon dan lain-
lain); menyampaikan perintah menggunakan memo/ surat dinas. Tampak
bahwa aktifitas komunikasi formal dan informal secara bersama-sama
memiliki pengaruh terhadap kinerja pegawai, akan tetapi komunikasi
informal tampak memiliki pengaruh yang lebih besar terhadap kinerja
pegawai. Artinya semakin tinggi komunikasi informal yang dilakukan
pimpinan terhadap pegawai, semakin tinggi kinerja pegawai. Komunikasi
[Link] 50
[Link]
horisontal dalam komunikasi formal dan informal di antara pimpinan level
menengah seperti mengkoordinasikan tugas-tugas kerja; berbagi informasi
mengenai rencana dan kegiatan organisasi; memecahkan masalah
bersama-sama dengan pimpinan maupun rekan kerja; dapat menyelesaikan
konflik di antara anggota yang ada dengan baik; memiliki pemahaman
yang sama dengan pimpinan dalam sebuah rapat; dan memiliki hubungan
interpersonal yang baik antar sesama mempengaruhi kinerja diantara
pimpinan level menengah itu sendiri. Hal ini menunjukkan bahwa
kesuksesan komunikasi pimpinan level menengah mampu meningkatkan
kinerja pegawai. Komunikasi ke atas (buttom up) dalam komunikasi
formal dan informal yakni dialog bawahan dan pimpinan dalam dialog-
dialognya, pimpinan senantiasa memberikan respon positif jika ada
masukan-masukan yang berasal dari bawahan. Penelitian ini mempunyai
kesamaan dalam penggunaan teori, namun berbeda dalam objeck serta
latarbelakang masalah.
2. Nindyasari dan MC Ninik Sri Rejeki yang menuliskan jurnal dengan judul
Konstruksi Kebijakan Sistem Boarding Pass di PT KAI (Persero). yang
bertujuan untuk melihat konstruksi kebijakan pada sistem boarding pass.
Pada konstruksi kebijakan sistem boarding pass penelitian dilakukan
dengan dilandasi berdasarkan dari teori informasi organisasi Karl Weick.
Di dalam teori informasi organisasi, anggota organisasi bereaksi terhadap
lingkungan informasi mereka. Perubahan dilakukan oleh PT KAI (Persero)
dalam menyesuaikan diri terhadap lingkungannya dengan cara melakukan
[Link] 51
[Link]
perubahan pada sistem di stasiun menggunakan sistem boarding pass.
Dalam rangka proses konstruksi kebijakan sistem boarding pass, unit
EPMC ditunjuk untuk bertanggung jawab di dalam pembuatannya.
Berbagai informasi yang diterima memunculkan ambiguitas, yaitu orang-
orang menjadi malas atau tidak mau datang ke stasiun. Untuk dapat
mengatasi ambiguitas tersebut dilakukan berbagai proses, sebagai berikut :
a. Enactment
Dilakukan penginterpretasian informasi antara unit EPMC beserta direktur
utama dengan siklus komunikasi yang dipilih, yaitu diskusi. Hasil diskusi
tersebut diperoleh keputusan untuk mengganti sistem di stasiun menjadi
sistem boarding pass. Selanjutnya, sebagai landasan pembuatan kebijakan
unit EPMC menggali berbagai regulasi yang dimiliki.
b. Seleksi
Untuk memperkuat informasi dilakukan pencarian informasi tambahan
dengan membuat aturan dan siklus komunikasi tambahan. Aturan
tambahan adalah dengan dibuatnya aturan yang mengatur mengenai sistem
boarding pass dengan dikeluarkannya SK Direksi pertama dan kedua
sebagai pelengkap. Sementara itu, media eksternal dipilih sebagai siklus
komunikasi [Link] eksternal yang digunakan, seperti facebook,
twitter, instagram, path, dan web corporate. Sesuai dengan job descnya,
PR yang berwenang menangani media di PT KAI (Persero) membantu unit
EPMC dengan memberikan data hasil rekapan mengenai kritik, saran, dan
pendapat dari masyarakat terkait pandangan mereka terhadap PT KAI
[Link] 52
[Link]
(Persero). Unit EPMC juga melakukan wawancara langsung ke lapangan
dengan beberapa komunitas pecinta kereta api.
c. Retensi
Informasi yang telah dikumpulkan saat proses pembuatan kebijakan sistem
boarding pass kemudian digabung dengan informasi lain yang sebelumnya
telah disimpan oleh PT KAI (Persero) yang turut berguna bagi proses
pembuatan kebijakan sistem boarding pass. Informasi yang telah disimpan
adalah mengenai hasil survey sekitar tahun 2005 dengan dibukanya jalan
tol mengakibatkan euforia pada pengguna jasa transportasi yang antusias
menggunakan jalan tol. Selain itu juga berdasarkan pengamatan terhadap
Angkasa Pura yang berhasil menerapkan kebijakan boarding
3. Eva Tariszka- Semegine, PhD dari College of Szolnok Hongaria yang
menuliskan jurnal dengan judul Organisational internal communication as a
means of improving efficiency, menjelaskan bahwa sebagai faktor utama
dalam motivasi dan kinerja staf, komunikasi memainkan peran penting
dalam daya saing organisasi. Dalam praktek organisasi komunikasi
internal dipahami sebagai bagian dari fungsi kepemimpinan. Komunikasi
yang berkelanjutan, dinamis dan informal semakin penting memberikan
pekerjaan manajemen yang efisien di organisasi modern. Makalah yang
ditulis pada komunikasi informal menekankan bahwa budaya, manajemen
dan atmosfer menghambat komunikasi formal.
Menurut penelitian ini, semakin banyak peningkatan teknologi komunikasi
yang dinamis membuat komunikasi lebih mudah yang tidak formal
[Link] 53
[Link]
mengenai komunikasi dalam suatu kelompok atau komunitas. Dengan
terlalu banyak saluran teknologi dalam komunikasi membuat organisasi
menjadi sulit untuk membedakan antara komunikasi yang bersifat formal
dan informal.
Ketika supervisor langsung berkomunikasi dengan staf mereka. Banyak
bukti menunjukkan bahwa peningkatan kekuatan atasan langsung
meningkatkan kepuasan dan kinerja di antara para karyawan. bahwa yang
paling penting bukanlah gaya kepemimpinan pengawas tetapi apakah
atasan memiliki kekuatan. Salah satu cara untuk memberikan kekuatan
pengawas adalah berkomunikasi langsung dengan mereka dan meminta
mereka memberikan masukan untuk keputusan. Memastikan bahwa
supervisor mendapat informasi tentang masalah / perubahan organisasi
sebelum staf pada umumnya, dan kemudian memungkinkan mereka untuk
mengkomunikasikan masalah / perubahan ini kepada staf mereka,
membantu memperkuat posisi kekuasaan mereka. Ketika supervisor
dianggap memiliki kekuasaan, karyawan memiliki kepercayaan yang lebih
besar terhadap supervisor, keinginan yang lebih besar untuk
berkomunikasi dengan supervisor, dan lebih mungkin untuk percaya
bahwa informasi yang datang dari supervisor itu akurat.
Setiap Karyawan dalam berorganisasi akan lebih puas jika dia bisa
mengidentifikasi masalah dan dapat menyelesaikan dengan standar yang
dimiliki, sesuai dengan persyaratan organisasi dan semua itu akan lebih
[Link] 54
[Link]
mudah dikerjakan dengan komunikasi secara langsung dengan sesame
karyawan dan pimpinan organisasi.
Titik awal dari proses langkah demi langkah adalah komunikasi, yang
merupakan prasyarat bagi individu untuk menilai internal sekitarnya.
Komunikasi memungkinkan aliran dan pertukaran informasi yang berasal
dari organisasi. Karyawan dimotivasi oleh pengetahuan yang diperoleh
dengan memiliki informasi yang memungkinkannya untuk bergerak lebih
tinggi dalam hirarki; untuk integrasi dan identifikasi. Sebagian besar waktu
manajer mengidentifikasi komunikasi kerja dengan komunikasi internal,
cara komunikasi dengan karyawan ini dibuat hanya dalam pertemuan,
laporan dan lokakarya. Kurangnya komunikasi internal dapat
menimbulkan pengaruh negatif seperti kehilangan kepercayaan terhadap
manajer, identifikasi tingkat rendah, penyebaran komunikasi informal
(gosip).
2.17. Kerangka Berpikir
Kerangka berpikir ini dimulai dari peran komunikasi dalam organisasi
sangat penting dan menjadi poros berjalannya organisasi. Organisasi dapat
berkembang dan maju dapat dilihat dari interaksi anggota organisasi dalam
meyelesaikan pekerjaannya sehingga dapat mewujudkan suatu kualitas kerja yang
baik saat menjalankan peran dalam organisasi.
Seorang pegawai harus mampu melakukan pekerjaan secara baik, pegawai
harus mempunyai kempuan untuk membangun suasana kerja yang komunikatif
dalam organisasi agar interaksi antar anggota satu dengan yang lain bisa terus
[Link] 55
[Link]
berjalan, setiap anggota organisasi harus memiliki kemampuan untuk
menyampaikan suatu pesan secara baik dan juga menterjemahkan setiap informasi
yang diterima.
Menurut Weick dalam Littlejhon dan Foss (2011:297) organisasi bisa
bertahan hidup dan berkembang bila anggota organisasi terlibat dalam informasi
yang mengalir dan adanya interaksi komunikasi. Sehingga aktivitas organisasi
yang berjalan diperlukan suatu komunikasi dimana didalamnya terdapat informasi
pesan yang saling mempengaruhi eluruh anggota organisasi untuk melakukan
aktivitas. Aktivitas informasi inilah yang dapat mempertahankan hidup organisasi
berkembang dan menghasilkan kinerja pegawai dalam dinamikanya.
Informasi organisasi ini dilihat merujuk pada buku Littlejohn dan Foss
Theories Of Human Communication chapter nine about organization, proces of
organization dengan sub teori informasi organisasi diamana penelitian ini melihat
dan menjabarkan: penghambat dan pendukung komunikasi yang berdampak pada
kinerja dimana Pendukung yaitu Enachment, Seleksi dan retensi dan Penghambat
yaitu Cultur, Lingkungan, Ketidak jelasan, Aturan, siklus.
[Link] 56
[Link]
Kerangka Pikir
Gambar 2
Kerangka pemikiran di atas menggambarkan peneliti menganalisis pola
komunikasi dalam meningkatan kinerja dengan menggunakan teori komunikasi
organisasi. Dalam pola komunikasi yang ada pada Dinas Penanaman Modal dan
Pelayanan Terpadu Satu Pintu Kota Ambon, Ada pola komunikasi dan pertukaran
informasi antara Back office dan front office. Dalam proses tersebut terjadi usaha
pemaknaan atas setiap informasi yang ada. Dengan penyampaian dan pemahaman
yang baik atas setiap informasi dalam pola komunikasi tersebut dapat
meningkatkan kinerja aparatur, terutama dari aspek koordinasi dalam lingkup
organisasi pemerintahan.