Berdasarkan uraian tersebut, Rencana Pola Tanam merupakan salah satu dari
kegiatan operasi jaringan irigasi yang harus dibuat untuk setiap musim tanam
guna pemanfaatan air irigasi secara efektif, efisien, dan berkesinambungan tanpa
konflik pemanfaatan air.
Untuk menentukan Pola Tanam perlu dilakukan Perhitunngan Neraca Air,
Kebutuhan Air Untuk Irigasi, Kebutuhan Air Untuk Penyiapan Lahan, dan
Kebutuhan Air Untuk Pertumbuhan Tanaman Padi . (Ditjen Pengairan, 1982)
2.6.1 Perhitungan Neraca Air
Menurut Direktorat Jendral Pengairan Departemen Pekerjaan Umum
(1982) Neraca Air merupakan perbandingan antara debit air yang tersedia
dengan debit air yang dibutuhkan untuk keperluan irigasi. Dalam perhitungan
neraca air, kebutuhan pengambilan yang dihasilkan untuk pola tanam yang
digunakan akan dibandingkan dengan debit andalan untuk tiap setengah
bulan dan luas daerah yang bisa diairi. Apabila debit sungai melimpah, maka
luas daerah proyek irigasi adalah tetap karena luas maksinum daerah layanan
(command area) dan proyek akan direncanakan sesuai dengan pola tanam
yang dipakai. Bila debit sungai kurang maka ada tiga pilihan yang bisa
dipertimbangkan yaitu : luas daerah irigasi dikurangi, melakukan modifikasi
pola tanam atau pemberian air secara rotasi/giliran.
Perhitungan neraca air dilakukan untuk mengecek apakah air yang tersedia
cukup memadai untuk memenuhi kebutuhan air irigasi atau tidak.
20
Perhitungan neraca air ini menjadi dasar untuk menentukan jadwal tanam
pada Daerah Irigasi Way Ketibung. (Dinas PU KP-01,1986).
Ada dua unsur pokok dalam perhitungan neraca air untuk tanaman padi yaitu:
1. Kebutuhan Air Untuk Irigasi
2. Tersedianya Air Irigasi
Untuk menghitung neraca air digunakan berbagai parameter yang dapat
dilihat pada Tabel 2.1 berikut :
Tabel 2.1 Parameter Neraca Air
Bidang Parameter yang Neraca Air Kesimpulan
dihitung
Meteorologi Evaporasi dan
Curah Hujan
Agronomi dan Pola Tanam Kebutuhan Air
Tanah Koefisien Irigasi Jatah Debit
Tanaman Kebutuhan
Jaringan Irigasi Efisiensi Irigasi Luas Daerah
Tofografi Daerah Layanan Debit Andalan Irigasi Pola
Debit Tanam
Minimum Pengaturan
Hidrolodi Debit Analan persetengah Rotasi
bulan periode 5
th Kering
Bangunan
Utama
(Sumber : Dinas PU KP-01,1986)
2.6.2 Kebutuhan Air Untuk Irigasi
Menurut Dwi, 2006 dalam Susiloputri dan Farida, 2011 ada dua
macam pengertian kebutuhan air menurut jenisnya, yaitu:
21
1. Kebutuhan air bagi tanaman (penggunaan konsumtif), yaitu banyaknya
air yang dibutuhkan tanaman untuk membuat jaring tanaman (batang
dan daun) dan untuk diuapkan (evapotranspirasi), perkolasi, curah hujan,
pengolahan lahan dan pertumbuhan tanaman.
Rumus yang digunakan :
Ir = E + T + ( P + B ) + W – Re …………………. ( 3 )
Dimana :
Ir = Kebutuhan air B = Infiltrasi
E = Evaporasi W = Tinggi genangan
T = Transpirasi Re = Hujan efektif
P = Perkolasi
2. Kebutuhan air untuk irigasi, yaitu kebutuhan air yang digunakan untuk
pengairan pada saluran irigasi sehingga didapat kebutuhan air untuk
masing-masing jaringan.
Kebutuhun air irigasi (IR) untuk suatu tanaman adalah sejumlah air
dibutuhkan pada bangunan pembawa air untuk mengairi sebidang areal,
dimulai dari pengolahan tanah sampai dengan panen. Kebutuhan air irigasi
adalah sama dengan kebutuhan air di sawah ditambah dengan kehilangan
(Dinas PU KP-01,1986).
Kebutuhan air irigasi untuk padi sawah terdiri dari :
(1) Pengolahan Tanah / penyiapan lahan,
22
(2) Kebutuhan Air untuk Pertumbuhan Tanaman yang meliputi :
Penggunaan Konsumtif, Perkolasi (peresapan), Penggantian lapisan air ,
dan dikurangi Curah hujan efektif.
2.6.3 Kebutuhan Air untuk Penyiapan Lahan
Kebutuhan air selama penyiapan lahan dapat dihitung dengan persamaan
sebagai berikut (Dinas PU KP-01,1986) :
NFRp = LP – Re ………………………………………. ( 4 )
Dimana :
NFRp = Net Farm Requirement for Land Preparation , Kebutuhan bersih
air untuk penyiapan lahan (mm/hari)
LP = Land Preparation, Kebutuhan air untuk penyiapan lahan (mm/hari)
Re = Curah hujan efektif (mm/hari)
Perkiraan kebutuhan air selama penyiapan lahan didasarkan pada kedalaman
serta porositas tanah di sawah dengan menggunakan persamaan sebagai
berikut (Dinas PU KP-01,1986) :
PWR
Sa Sb .N.d FL P
d
10 4 …………………………………… ( 5 )
Dimana :
PWR = Puddling Water Requirement, Kebutuhan air untuk penyiapan
lahan ( mm )
Sa = Derajat kejenuhan tanah setelah penyiapan lahan dimulai ( % volume )
23
Sb = Derajat kejenuhan tanah sebelum penyiapan lahan dimulai ( % volume )
N = Porositas tanah rata-rata untuk kedalaman olah tanam ( % )
d = Kedalaman olah tanah ( mm )
FL = Farm Losses, Kehilangan air di sawah dalam satu hari ( mm )
Pd = Kedalaman genangan setelah pekerjaan penyiapan lahan ( mm )
Selain rumus empiris diatas, untuk menentukan kebutuhan air irigasi yang
diperlukan selama penyiapan lahan dikaitkan dengan jangka waktu yang
tersedia untuk pengolahan tanah, dapat pula digunakan metode yang
dikembangkan oleh Van De Goor dan Zijlstra (1968) dalam Dinas PU KP-01
(1986). Metode ini didasarkan pada laju air konstan dalam lt/dt selama
periode penyiapan lahan dan menghasilkan persamaan sebagai berikut :
M ek
LP = …….…….…..………………………………... ( 6 )
ek – 1
M = E0 + P …..…………………….……………………... ( 7)
K =(M.T)/S ……………………………………………….. ( 8 )
Dimana :
LP = Kebutuhan air untuk irigasi dalam penyiapan lahan ( mm/hari )
M = Kebutuhan air untuk mengganti kehilangan air akibat evaporasi dan
perkolasi di sawah yang sudah dijenuhkan ( mm/hari )
24
E0 = Evaporasi air terbuka yang diambil 1,1 ET0 selama penyiapan
lahan ( mm/hari )
P = Perkolasi
T = Jangka waktu penyiapan lahan ( hari )
S = Kebutuhan air untuk penjenuhan ( 250 mm ) ditambah dengan
lapisan air ( 50 mm )
e = Log alam ( 2,7183 )
Tabel 2.2 Koefisien Kebutuhan Air Selama Penyiapan Lahan.
(Sumber : Dinas PU KP-01,1986)
25
2.6.4 Kebutuhan Air untuk Pertumbuhan Tanaman Padi
Kebutuhan air sawah untuk padi ditentukan oleh faktor-faktor
sebagai berikut: penyiapan lahan, penggunaan konsumtif, perkolasi dan
rembesan, pergantian lapisan air dan curah hujan efektif. Pemberian air secara
golongan adalah untuk efisiensi, memperkecil kapasitas saluran pembawa,
dan seringkali untuk menyesuaikan pelayanan irigasi menurut variasi debit
yang tersedia pada tempat penangkap air, misalnya bendung pada sungai
(Sudjarwadi, 1979).
Persamaan untuk menghitung kebutuhan bersih air di sawah untuk padi
(NFR) selama pertumbuhan adalah sebagai berikut (Dinas PU KP-01,1986) :
NFR = ETc + P + LP – Re ………………………………... ( 9 )
Di mana :
NFR = Kebutuhan bersih air di petak sawah ( mm/hari )
ETc = Kebutuhan konsumtif tanaman ( mm/hari )
P = Perkolasi ( mm/hari )
LP = Kebutuhan air untuk untuk penyiapan lahan ( mm/hari )
Re = Curah hujan efektif ( mm/hari )
Perhitungan kebutuhan air irigasi ini dimaksudkan untuk menentukan
besarnya debit yang akan dipakai untuk mengairi daerah irigasi. Setelah
sebelumnya diketahui besarnya efisiensi irigasi. Besarnya efisiensi irigasi
tergantung dari besarnya kehilangan air yang terjadi pada saluran pembawa
26
dari mulut bendung sampai petak sawah. Kehilangan air tersebut disebabkan
karena penguapan, perkolasi, kebocoran dan sadap liar.
a. Evapotranspirasi Tanaman (ETc)
Evapotranspirasi adalah perpaduan dua istilah yakni evaporasi dan
transpirasi. Evaporasi yaitu penguapan di atas permukaan tanah,
sedangkan transpirasi yaitu penguapaan melalui permukaan dari air yang
semula diserapa oleh tanaman. Atau dengan kata lain, evapotranspirasi
adalah banyaknya air yang menguap dari lahan dan tanamn dalam suatu
petakan karena panas matahari (Asdak, 1995 dalam sigit 2001).
Besarnya evapotranspirasi tanaman atau penggunaan konsumtif tanaman
merupakan besarnya kebutuhan air untuk tanaman.
Kemudian untuk menduga besarnya nilai kebutuhan air tanaman
menggunakan rumus (Dinas PU KP-01,1986) :
ETc = ET0 . Kc…………………................................. (10)
Keterangan:
ETc = evapotranspirasi tanaman (mm/hari)
Kc = koefisien tanaman sesuai jenis dan pertumbuhan vegetasinya
ET0 = evapotranspirasi acuan (mm/hari)
27
b. Evapotranspirasi (ETo)
Evapotranspirasi (ETo) adalah proses dimana air berpindah dari
permukaan bumi ke atmosfer termasuk evaporasi air dari tanah dan
transpirasi dari tanaman melalui jaringan tanaman melalui transfer panas
laten persatuan area (Hillel, 1983).
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi evapotranspirasi yaitu faktor
iklim mikro, mencakup radiasi netto, suhu, kelembaban dan angin, faktor
tanaman, mencakup jenis tanaman, derajat penutupannya, struktur
tanaman, stadia perkembangan sampai masak, keteraturan dan banyaknya
stomata, menutup dan membukanya stomata, faktor tanah, mencakup
kondisi tanah, aerasi tanah, potensial air tanah dan kecepatan air tanah
bergerak ke akar tanaman (Linsley dan Joseph,1985).
Salah satu metode yang digunakan untuk menghitung Evapotranspirasi
adalah dengan metode Penmann. Metode ini memerlukan input data
meteorologi berupa : temperatur, kelembapan udara, radiasi matahari dan
kecepatan angin.
Adapun rumus yang digunakan untu menghitung Eto dengaan metode
Penmann adalah sebagai berikut :
Eto = C.[[Link]+(1-W)(f(u)(ea-ed)] ………..…….……….. (11)
Dimana :
Eto = evapotranspirasi (mm/hari)
W = faktor yang mempengaruhi penyinaran matahari
C = faktor penyesuaian kondisi cuaca akibat siang dan malam
(1-W) = faktor berat sebagai pengaruh angin dan kelembab
Rn = radiasi penyinaran matahari (mm/hari)
28
f(u) = faktor yang tergantung dari kecepatan angin / fungsi relatif
angin
ea = tekanan uap jenuh (mbar)
ed = tekanan uap nyata (mbar)
(ea-ed) = perbedaan antara tekanan uap jenuh pada suhu rata-rata dan
tekanan uap rata-rata actual (mbar)
Besarnya evapotranspirasi tanaman ada beberapa tahap harus dilakukan,
yaitu menduga evapotranspirasi acuan; menentukan koefisien tanaman
kemudian memperhatikan kondisi lingkungan setempat; seperti variasi
iklim setiap saat, ketinggian tempat, luas lahan, air tanah tersedia, salinitas,
metode irigasi, dan budidaya pertanian. Menurut Doorenbos dan Pruitt,
(1977) dalam Rosadi (2012) ada beberapa metode pendugaan
evapotranspirasi acuan :
a. Metode Blaney – Cridle
ETo = c [P ( 0,46 T + 8)] ….……….…………… (12)
Keterangan:
c = Koefisien Tanaman Bulanan
p = Presentase Bulanan jam-jam Hari Terang dalam Tahun
T = Rata – rata Suhu Udara (0C)
b. Metode Radiasi
ETo = c ( W .Rs ) mm/hari ..….……………….. (13)
Keterangan:
Rs = Radiasi matahari dlm ekivalen evaporasi mm/hari (1 cal/cm2/hari
=1/59 mm hari)
29
W = Faktor pemberat (weighting factor) tergantung pada suhu dan
elevasi .
C = Faktor penyesuian yang tergantung pada RH rata-rata dan
kondisi angin pada siang hari .
c. Metode Pan Evaporasi
ETo = Kp × Ep ………………………………. (14)
Keterangan:
Kp = Koefisien Panci
Ep = Evaporasi Panci (mm/hari)
d. Metode Penman
ETo = c (W Rn + (1 – W) f(u) (ea – ed) ) .......................... (15)
Metode Penman modifikasi (FAO) digunakan untuk luasan lahan dengan
data pengukuran temperatur, kelembaban, kecepatan angin dan lama
matahari bersinar. Cara Penman menurut Doorenbos dan Pruitt, (1977)
dalam Sigit, (2001), yang diubahsuai nilai ET0 untuk iklim dan tempat
tertentu dihitung dengan rumus :
ET0 = W x Rn + (1 – W) x f(u) x (es - e) ………… (16)
ET0 = uap peluhan tanaman acuan yang tak tersesuaikan, mm/hari
W = factor bobotan terkait suhu
R = sinaran bersih dalam tara uapan, mm/hari
F(u) = fungsi terkait angin
(es – e) = selisih antara tekanan uap jenuh dan tekanan uap udara
sebenarnya
30
ET0 kemudian ditemukan dari ET0 lewat penyesuaian untuk keadaan
cuaca siang dalam hari. Nasabannya disajikan secara grafik untuk berbagai
keadaan angin dan kelembapan yang berbeda-beda.
Setelah ditentukan sebuah nilai ET0 kebutuhan air untuk tanaman ET(tan)
ditemukan dari :
ET(tan) = kc x ET0 …………………………………… (17)
Disini kc adalah koefisien tanaman, menggambarkan hasil penguappeluhan
tanaman tertentu yang tumbuh dalam keadaan optimum (bagi iklim dan
letaknya) dan memberi hasil optimum.
Metode Penman Modifikasi memberikan hasil yang lebih baik
dibandingkan dengan metode-metode yang lain. Sedang metode Panci
Evaporasi lebih banyak digunakan karena mudah dilakukan di tingkat
sawah. (Wilson, 1993)
Perhitungan ET0 dengan menggunakan persamaan Penman Modifikasi,
dilakukan dengan menyelesaikan persamaan sebagai berikut (Dinas PU
KP-01,1986) :
ET0 = c{W . Rn + (1 – W ) . f(u) . ( ea – ed )} …………. ( 18 )
Rn = Rns – Rn1 …………………………………......... ( 19 )
Rns = {(0,25 + 0.50 (n/N))} . Ra ……………………… ( 20 )
Rn1 = f(T) . f(ed) . f(n/N) …………………………….. ( 21 )
f(ed) = 0,34 – 0,044 . ed0,5 …………………………….. ( 22 )
f(n/N) = 0,10 + 0,9 (n/N) ………………………………… ( 23 )
31
f(u) = 0,27 { 1 + (u/100)} …………………………….. ( 24 )
Dimana :
ET0 = Evapotranspirasi potensial (mm/hari)
Ra = Radiasi matahari (mm/hari)
n = Rata-rata lama cahaya matahari yang sebenarnya (jam/hari)
N = Lama matahari maksimum yang mungkin
n/N = Presentasi penyinaran matahari (%)
f(u) = Faktor kecepatan angin
W = Faktor temperatur
f(T) = Pengaruh temperatur
Rn = Kelembaban relatif (%)
ed = Tekanan uap udara dalam keadaan jenuh (mm/Hg)
ea = Tekanan uap udara pada temperatur rata-rata (mm/Hg).
c. Koefisien Tanaman (Kc)
Saat pertunasan nilai Kc didasarkan pada kondisi rata-rata RH
minimum dalam kategori sub-humid dan kondisi kecepatan angin pada
ketinggian dua meter dalam kategori light, sehingga nilai Kc pertunasan
bernilai 1.05 berdasarkan FAO (1998). Evaporasi tanah berfluktuasi setiap
hari karena hujan atau irigasi, Singgle crop coefficient (Kc) hanya
menunjukan rata – rata pengaruh evapotranspirasi tanaman beberapa hari.
Ada tiga nilai Kc yang digunakan yaitu pada fase pertumbuhan awal
32
(inisial stage, Kc ini), fase pertengahan (mod-season stage, Kc mid ), dan fase
akhir musim (late season stage, Kc end ) . Besarnya Kc untuk tanaman padi
ditentukan dengan nilai Kc ini = 1.05, Kc mid = 1.20, Kc end = 0.90 – 0.60
dengan tinggi maksimum tanaman 1 meter. (Rosadi, 2012)
Harga Kc ini diperlukan untuk menghitung kebutuhan air tanaman
(consumtive use) setiap setengah bulan selama masa tanam, dan digunakan
harga-harga koefisien tanaman menurut Standar Perencanan Irigasi Dinas
PU KP-01 Tahun 1986.
Harga – harga koefisien tanaman yang digunakan berdasarkan Standar
Perencanan Irigasi Dinas PU KP-01 Tahun 1986 seperti yang disajikan
pada tabel berikut :
Tabel 2.3 Koefisien Tanaman Setengah Bulanan (Kc)
PERIODE Kc
1 0.00
2 0.00
3 1.10
4 1.10
5 1.05
6 1.05
7 0.95
8 0.00
(Sumber : Dinas PU KP-01,1986)
33