0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
50 tayangan22 halaman

Manfaat Mindfulness untuk Pasien Paliatif

Ringkasan dokumen tersebut adalah: (1) Dokumen tersebut membahas tentang meditasi mindfulness dan manfaatnya bagi pasien paliatif dan keluarga dalam mengurangi kecemasan dan stres. (2) Terdapat lima komponen mindfulness yaitu observing, describing, acting with awareness, non reactivity to inner experience, dan non judging of inner experience. (3) Meditasi mindfulness dapat memberikan relaksasi bagi pasien paliatif untuk menghadapi gangguan kecemasan.

Diunggah oleh

Yoseph Matui
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
50 tayangan22 halaman

Manfaat Mindfulness untuk Pasien Paliatif

Ringkasan dokumen tersebut adalah: (1) Dokumen tersebut membahas tentang meditasi mindfulness dan manfaatnya bagi pasien paliatif dan keluarga dalam mengurangi kecemasan dan stres. (2) Terdapat lima komponen mindfulness yaitu observing, describing, acting with awareness, non reactivity to inner experience, dan non judging of inner experience. (3) Meditasi mindfulness dapat memberikan relaksasi bagi pasien paliatif untuk menghadapi gangguan kecemasan.

Diunggah oleh

Yoseph Matui
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Paper Penugasan Mindfullness

Mata Kuliah
Keperawatan Paliatif

Dosen Pengampu
Ns. Reni Sulung Utami, [Link]., Msc.

Disusun Oleh
Kelompok 5
Anisa Yuniansyah 22020119140120 Rizca Andriana 22020119140128
Alifia Dian Y. 22020119140121 Ananda Safitri 22020119140129
Milla Arinda Y. 22020119140122 Sausan Ridni F.I 22020119140130
Mutiara Rahma S. 22020119140123 Putri Dessyana F. 22020119140131
Yolanda Arima L. 22020119140124 Okta Dwi Roestanti 22020119140132
Eka Wahyu S. 22020119140126 Rizal Luthfi 22020119140140
Stefana Prodesta 22020119140127 Agnestri Putri H. 22020119140144
Aida Khusnul K. 22020119140119

DEPARTEMEN ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS DIPONEGORO
2021
A. Latar Belakang
Gangguan kecemasan umum dirasakan oleh siapa saja, tidak terkecuali pada
pasien-pasien paliatif. Tingkat gangguan kecemasan yang dirasakan oleh pasien paliatif
berbeda dan bervariasi antara satu pasien dengan pasien lainnya. Gangguan kecemasan
tersebut tentu akan mempengaruhi kondisi pasien baik secara fisik maupun secara
psikologis. Gangguan kecemasan dapat mengganggu kualitas hidup pasien sehingga
dapat mempengaruhi kemampuan pasien untuk menjalankan aktifitas sehari-hari.
Kecemasan merupakan salah satu kondisi psikologis karena adanya pengalaman
tidak menyenangkan yang dialami oleh seseorang. Kecemasan juga dapat diartikan
sebagai keadaan khawatir, gugup, dan takut yang dirasakan ketika berhadapan dengan
pengalaman yang sulit dan menganggap bahwa dari pengalaman sulit tersebut hal buruk
akan menimpa dirinya (Donsu, dkk, 2017). Salah satu tindakan yang dapat dilakukan
untuk mengatasi gangguan kecemasan pasien paliatif adalah dengan memberikan terapi
kognitif-behavioral dengan cara mengembangkan pola berpikir pasien menjadi lebih
adaptif dengan mindfulness.
Mindfulness adalah salah satu bentuk meditasi pikiran yang menggunakan
pemusatan perhatian pada setiap pengalaman yang dialami dari waktu ke waktu tanpa
memperdulikan apakah kejadian tersebut hebat atau biasa saja (Donsu, dkk, 2017).
Dengan kemampuan disposisional untuk sadar akan hal-hal yang terjadi pada dirinya,
individu akan dapat menerima setiap pengalaman yang terjadi dengan reseptif dan
terbuka. Meditasi mindfulness yang diberikan pada pasien terdiri dari tiga elemen
penting yaitu awareness, pengembangan kesadaran melalui metode yang sistematis
dengan melibatkan praktek mindfulness formal (body scan, meditasi duduk, mindful
movement), dan praktik mindfulness informal dengan menumbuhkan kesadaran saat ini.
Meditasi mindfulness memiliki banyak manfaat, salah satunya yaitu mengajarkan
individu untuk berusaha mengembangkan kemampuan dirinya dalam mengatur
pengalihan pusat kesadaran/perhatian dari satu target ke target yang lain serta
mengobservasi keadaan mentalnya (Candra, dkk, 2019).
Meditasi mindfulness memberikan manfaat bagi pasien-pasien paliatif dalam
mencapai relaksasi saat menghadapi gangguan kecemasan. Banyaknya manfaat dari
meditasi mindfulness menjadikan meditasi mindfulness menjadi salah satu intervensi
keperawatan non farmakologi yang banyak digunakan oleh praktisi kesehatan terutama
perawat. Dalam penggunaan intervensi meditasi mindfulness, perawat tentu harus
memperhatikan kebutuhan pasien agar tercapainya derajat kesehatan tertinggi pada
pasien. Selain memperhatikan kebutuhan pasien, perawat juga perlu memahami teknik-
teknik meditasi mindfulness yang sesuai dengan standard operating procedure (SOP)
agar tatalaksana meditasi mindfulness dapat berjalan dengan maksimal.

A. Definisi Mindfulness
Dalam meditasi Budha, mindfulness disebut sebagai hati (the heart). Mindfulness
merupakan inti dari ajaran Budha yang berasal dari bahasa Sansekerta “dharma” yang
berarti ketaatan. Mindfulness merupakan pusat yang menjadi landasan dasar seluruh
aliran praktek meditasi Buddha. Sedangkan dalam bahasa inggris, mindfulness memiliki
makna yang mengindikasikan kesadaran dan pemusatan perhatian (Kabat-Zinn, 2003).
Menurut Brantley dan Millstine, mindfulness merupakan kemampuan utama
manusia dan merujuk pada perhatian serta pengetahuan tentang setiap kondisi yang
terjadi. Definisi mindfulness juga diungkapkan oleh Brown dan Ryan sebagai kualitas
kesadaran diri yang mencakup keadaan sadar terjaga dan perhatian yang harus
dibedakan dari proses mental seperti kognisi. Sedangkan menurut Wood, mindfulness
merupakan kondisi dimana seseorang hadir dalam situasi tertentu dengan penuh
kesadaran dan tidak membiarkan pikiran melayang sehingga fokus pada kegiatan yang
dikerjakan. Dari pendapat para ahli mengenai mindfulness, dapat disimpulkan bahwa
mindfulness merupakan proses pengantar kualitas perhatian dengan penerimaan akan
pikiran, perasaan, dan sensasi individu yang muncul pada pusat keadaan sadar yang
terjaga saat ini. Mindfulness dapat mengendalikan diri seseorang agar tidak merespon
reaktif setiap kejadian baik itu positif, negatif, dan netral sehingga dapat mengatasi
setiap perasaan yang tertekan dan menimbulkan kesejahteraan diri.
B. Manfaat Mindfulness
1. Bagi Keluarga
a. Melatih pikiran dan fokus, teknik mindfulness dapat digunakan untuk melatih
pikiran, agar lebih fokus pada lingkungan dan pikiran.
b. Dapat mengurangi stres, tekanan yang berlebihan tentu tidak baik untuk
kesehatan tubuh baik fisik maupun mental. untuk mengurangi dan
mengendalikan stres dengan lebih baik, mindfulness sangat efektif dalam
membantu klien yang memiliki gangguan fisik dan memiliki banyak manfaat
serta menjadikan mindfulness dapat diterapkan dalam layanan bimbingan
konseling.
c. Mengurangi konflik keluarga, Penerapan mindfulness dapat meningkatkan
hal-hal positif dalam hidup dan mengurangi hal hal negatif sehingga
menciptakan kesejahteraan dan kebahagiaan.
d. Memiliki perhatian dan kesadaran yang baik. Mindfulness ini muncul dari
pikiran yang ingin melanjutkan cara yang sedang dilakukan agar individu
tidak menghakimi, sabar, cara pandang pemula, tidak membantah, menerima,
tidak terpaku, dan melepaskan.
2. Bagi Pasien
a. Sebagai media pendekatan, mindfulness sering digunakan dalam pengobatan
nyeri kronis, stres, depresi, masalah pola makan, dan perilaku bunuh diri,
mindfulness digunakan perawat sebagai tahap pengobatan dan tahap lebih
dekat dengan pasien.
b. Meningkatkan kesejahteraan psikologis, seperti pada pasien kanker Secara
bertahap, mindfulness membantu memproses emosi dengan lebih baik. Pada
akhirnya, akan memberi lebih banyak kendali atas emosi dan memprosesnya
secara berbeda.
c. Memberikan kesadaran kepada individu, bahwa memiliki kendali atas
pilihannya sehingga mendorong munculnya sikap responsif, bukan reaktif
terhadap situasi sekitarnya.
d. Lebih self-awareness, mindfulness mengajak seseorang untuk melihat realitas
apa adanya melalui mengenal diri sendiri, mulai dari pikiran, bagaimana
emosi bisa muncul, dan apa yang dirasakan oleh tubuh Secara bertahap,
mindfulness membantu Anda memproses emosi dengan lebih baik. Pada
akhirnya, ini akan memberi Anda lebih banyak kendali atas emosi Anda dan
memprosesnya secara berbeda.
e. Mengurangi kemungkinan mengalami stres psikologis, Penelitian
menunjukkan bahwa orang dengan gangguan bipolar atau gangguan
kecemasan dapat mengambil manfaat dari perhatian penuh. Pasalnya, latihan
ini akan membantu penderita mengurangi kebutuhan akan obat antidepresan.

C. Komponen Mindfulness
Menurut Baer, Smith, Hopkins, Krietemeyer & Toney (2006), terdapat 5
komponen dalam Mindfullness, yaitu:
1. Observing atau mengobservasi merupakan kemampuan menyadari stimulus
internal maupun eksternal, seperti sensasi tubuh, kognisi, dan emosi. Hal ini
dapat dilakukan dengan cara mengobservasi kesadaran adanya pikiran atau yang
dipikirkan oleh individu sendiri (Maharani, 2016). Tujuan dari komponen ini
adalah untuk membantu individu fokus terhadap hal yang dihadapi sehingga
dapat mengurangi timbulnya keterpecahan pikiran dan perasaan tidak nyaman,
gelisah, dan cemas.
2. Describing merupakan kemampuan mendeskripsikan pikiran dengan kata-kata
(membuat catatan mental) dan memberi label suatu stimulus mental ke dalam
kata-kata (Maharani, 2016). Tujuan dari komponen ini adalah saat seseorang
memahami perasaanya dan mengungkapkannya ke dalam kata-kata diasumsikan
mereka juga dapat mengatur dan melepaskan emosi mereka dan mencegah
timbulnya konflik.
3. Acting with Awareness merupakan kemampuan bertindak dengan penuh
kesadaran (Maharani, 2016). Tujuan dari komponen ini adalah agar seseorang
dapat mengidentifikasi dan merancang suatu solusi atas konflik atau
permasalahannya sehingga keseimbangan pikiran dapat terpenuhi dengan baik.
Dengan arti lain, acting with awareness mampu membuat individu bertindak
secara sadar. Adanya kesadaran yang dimiliki individu dapat meningkatkan
perilaku empati seperti saat berinteraksi, sehingga kesadaran merupakan hal
yang penting untuk mendapatkan perubahan dan pertumbuhan individu (Savitri
& Listiyandini, 2017)
4. Non reactivity to inner experience merupakan kemampuan bersikap non-
reaktif terhadap pengalaman pribadi (Maharani, 2016). Selain itu, Baer, 2006
menjelaskan juga bahwa non reactivity to inner experience merupakan
kemampuan membiarkan pikiran dan perasaan datang dan pergi, tanpa terlarut
ke dalamnya. Sehingga tujuan dari komponen ini adalah dapat berpotensi
terhindar dari pikiran yang mengganggu keseimbangannya.
5. Non judging of inner experience merupakan kemampuan mengamati dan
bersikap tanpa penilaian terhadap pengalaman pribadi (Maharani, 2016). Tujuan
dari tindakan ini adalah agar seseorang tidak memandang sesuatu itu baik atau
buruk sehingga dapat menerima tanpa menilai yang ada dipikiran.

D. Jenis – Jenis Mindfullnes


1. Acceptance Based Behavior Theraphy (ABBT)
Acceptance Based Behavior Theraphy (ABBT) menggunakan strategi
penerimaan dan perhatian serta teknik komitmen aktivitas perilaku untuk
menghasilkan fleksibilitas psikologi yang penuh dengan perhatian. Tujuan
(ABBT) Acceptance Based Behavior Theraphy mendorong penerimaan hal hal
yang termasuk ke dalam pikiran dan perasaan yang tidak diinginkan, dan
menjauh dari penghindaran pengalaman. ABBT menggunakan latihan strategi
(difusi) dengan membantu klien mengurangi sejauh mana mereka menyatukan
pikiran dan perasaan mereka dengan diri mereka sendiri secara keseluruhan,
pasien ABBT didorong untuk mengalami pikiran dan emosi tanpa menilai,
mengevaluasi, atau mencoba untuk mengubah atau menghindarinya, serta
mengonseptualisasikan penerimaan sebagai pelepasan dari pengalaman melalui
jarak dari bahasa dan kognisi ( Monica S, 2021).
2. Mindfullnes Based Relapse Prevention (MBRP)
Mindfullnes Based Relapse Prevention (MBRP) merupakan salah satu
interferensi kontemplatif yang mengintegrasikan pola pikir seperti meditasi dan
komponen pencegahan pencegahan kambuh yang terbukti efektif untuk orang –
orang dalam pemulihan dari gangguan NAPZA dengan membantu mereka
menghindari penyalahgunaan narkoba. MBRP menggabungkan teknik terapeutik
yang konsisten dengan pencegahan kekambuhan perilaku kognitif sambil
mempertahankan fokus utama pada praktik mediasi kesadaran, dengan melatih
pasien dalam strategi koping yang efektif dapat meningkatkan efikasi diri pasien
dengan demikian mengurangi kemungkinan kekambuhan. Adapun upaya untuk
meningkatkan kemungkinan kekambuhan seperti pendekatan penuh kasih,
menekankan penerimaan dan keterbukaan daripada rasa bersalah, mengamati
pengalaman secara sadar dan tanpa adanya penilaian (K.T. Brady et al, 2021).
3. Mindfullnes Based Cancer Recovery (MBCR)
Mindfullnes Based Cancer Recovery (MBCR) merupakan salah satu terapi yang
ditujukan pada pasien kanker, secara umum pasien yang menjalani terapi MBCR
dapat meningkatkan lebih pada gangguan mood, gejala stress dan dukungan
sosial, tetapi tidak kualitas hidup dan perhatian. Latihan yang dapat diberikan
pada tahap ini seperti latihan yoga dan latihan pada meditas dengan tujuan terapi
memfasilitasi dukungan timbal balik dan keluarga, meningkatkan keterbukaan
dan ekspresi emosional, mengintegrasikan citra diri dan tubuh yang berubah ke
dalam pandangan diri, meningkatkan keterampilan mengatasi dan hubungan
dokter-pasien, dan mendetoksifikasi perasaan di sekitar kematian dan kematian (
Schellekens et al, 2016).
4. Mindfullnes Based Childbirth And Parenting (MBCP)
Mindfullnes Based Childbirth And Parenting (MBCP) merupakan program
pendidikan melahirkan yang mengintegrasikan meditasi mindfulness dengan
pengetahuan terkini tentang proses neurobiologis pada periode perinatal. Pola
pikir MBCP mengenai ajaran meditasi formal dan informal sepenuhnya
terintegrasi dengan pengetahuan dan proses psikobiologis (kehamilan, kelahiran,
menyusui, penyesuaian post partum dan kebutuhan psikologis bayi). Nilai – nilai
efektivitas dari terapi MBCP mencakup sebagai berikut:
■ Peningkatan kesadaran penuh perhatian atau kemampuan untuk mengamati
pengalaman internal dan eksternal dari waktu ke waktu dalam tubuh dan
pikiran, untuk menggambarkan pengalaman, untuk merespons daripada
bereaksi terhadap pengalaman atau peristiwa batin, dan lebih menerima.
■ Peningkatan self-compassion/ tergerak oleh seseorang penderitaannya
sendiri, mengalami kebaikan terhadap kekurangan yang melekat, dan
mengakuinya pengalamannya sendiri menjadi bagian dari pengalaman
manusia biasa.
■ Penurunan keyakinan bencana, seperti kekhawatiran tentang peristiwa dan
pengalaman yang diantisipasi ( Veringa et al, 2016)
5. Mindfullness Based Eating Awarness Training (MB – EAT)
Mindfullness Based Eating Awarness Training (MB – EAT) perawatan
komprehensif dan intervensi untuk orang yang kelebihan berat badan atau
obesitas. Teknik dalam tahap ini membantu seseorang yang kelebihan berat
badan dengan meditasi, mampu mengatur pola makan, suasana hati, meregulasi
sistem metabolisme tubuh, dan meningkatkan kontrol internal sehingga
pengendalian diri seseorang dapat meningkat dan dapat mengurangi gejala
depresi (Lattimore P, 2018).
6. MBSR (Mindfulness Based Stress Reduction)
Mindfulness based stress reduction adalah suatu jenis terapi yang menggunakan
mindfulness yang memiliki focus melatih kesadaran yang didapat dengan
melakkukan teknik meditasi (Maharani, 2016). Dalam Germer, Siegel, dan
Fulton (2005) yang dikutip oleh Maharani (2016) individu dapat mencapai
kondisi mindful dalam kehidupan sehari-harinya ketika individu tersebut berlatih
mengobservasi sensasi tubuh (body scan meditation). Hubungan individu dengan
situasi dan pikiran penuh stress dapat diubah dengan MBSR ini. Cara ini bisa
berguna dengan cara menurunkan reaksi emosional serta meningkatkan
penilaian kognitif yang positif.
7. MBCT (Mindfulness-Based Cognitive Therapy)
Menurut Segal, Williams, dan Teasdale (2002) yang dikuti oleh Prameswari dan
Yudiarso MBCT adalah salah satu perawatan yang berbasis grup dan
menggunakan gabungan antara terapi kognitif serta pelatihan meditasi intensif.
MBCT diciptakan khusus untuk mengatasi kerentanan individu terhadap depresi
(Prameswari & Yudiarso, 2021). Treatment ini akan menambahkan komponen
tradisional semacam psikoedukasi dan juga latihan yang bertujuan untuk
membedakan pikiran dan fakta (Maharani, 2016). MBCT ini lebih focus
mengajak klien dengan menggunakan pendekatan decentered mengenai
pengalaman internal individu dari pada membujuk dan mengajarkan klien untuk
berubah pikiran.
8. DBT (Dialectical behavior Therapy)
Dialectical Behavior Therapy atau DBT adalah intervensi psikoterapeutik
yang dapat membantu klien dalam menekan emosi negatifnya, membantu
menerima dirinya apa adanya yang sekarang, serta membatu mengubah perilaku
negative klien yang dilakukan sekarang menjadi perilaku yang lebih positif
(Hidayati dkk, 2021). Perubahan pola piker serta perubahan kebiasaan kebiasaan
yang salah ditambah dengan penyadara diri klien untuk menerima diri sendiri
dan meningkatkan motivasi merubah kebiasaan negatifnya merupakan focus dari
intervensi ini (Hidayati, 2021).
Ada 4 langkah utama dalam implementasi DBT pada klien :
- Mengamankan klien dari kebiasaan beresiko
- Mengajak klien untuk berfokus pada kehidupan yang sekarang
- Dengan meningkatkan toleransi distress mengajak klien untuk
mengontrol emosi negatifnya
- Meningkatkan hubungan interpersonal, melatih kebiasaan positif, dan
memfokuskan klien ke usaha mencapai tujuan.
9. ACT (Acceptence and Commitment Therapy)
ACT termasuk terapi behavioral yang bertujuan untuk membentuk hidup
yang penuh makna dengan cara menerima semua rasa sakit yang turut
menyertainya. Terdapat dua proses utama dalam terapi ACT.
a. Mengembangkan penerimaan pengalaman pribadi yang tidak
diinginkan (acceptance)
b. Komitmen untuk melakukan tindakan atau perilaku yang sesuai
tujuan hidup klien (commitment).
Pada pelaksanaan intervensi ACT klien tidak dapat melakukan
mengurangi, mengubah, menghindari, menekan, atau mengontol
pengalaman pribadi yang traumatis (Elita, Sholihah & Sahiel, 2017).
Malah sebaliknya, klien diajarkan untuk belajar berhenti menolak
pengalaman traumatis dalam hidupnya, memberikan ruang, dan
mengizinkan pengalaman tersebut datang dan pergi tanpa
menghindarinya

E. Metode dan SOP Pelaksanaan Mindfulness


1. MINDFULNESS-BASED ON BREATHING
a. Pembukaan
 Klien duduk secara nyaman dengan posisi punggung tegak, kedua
telapak tangan ditelungkupkan di atas paha, dan berniat dalam hati
melakukan meditasi.
 Menutup kedua mata secara perlahan lalu bernapas dengan rileks.
Hindarkan diri dan pikiran saat ini dan di sini sepenuhnya.
Kemudian hirup nafas secara perlahan.
b. Isi
 Alihkan perhatian pada nafas yang masuk dan keluar.
 Saat napas masuk, katakan dengan hati, “napas masuk”. Kemudian
saat nafas keluar, katakana dengan hati, “napas keluar”. Rasakan
sensasi apapun yang hadir saat memperhatikan dan merasakan napas.
Lakukan terus menerus sampai beberapa detik ke depan.
 Jika ada Jika ada pikiran-pikiran lain yang terlintas, cukup
diperhatikan saja atau katakan dalam hati, “Oh saya memikirkan hal
itu”, lalu taruh perhatian kembali pada nafas.
c. Penutup
 Sambil masih merasakan keberadaan napas, kini perlahan-lahan
alihkan perhatian pada jari-jari tangan. Gerakan secara perlahan.
Kemudian alihkan perhatian pada mata. Izinkan mata perlahan-lahan
untuk membuka kembali dengan penuh kesadaran.
 Rilekskan mata, lalu gosokkan kedua telapak tangan sehingga terasa
sensasi hangat yang muncul. Letakkan kedua telapak tangan pada
kedua mata. Lakukan sekali lagi.
 Pijat bahu sebelah kiri menggunakan telapak tangan kanan dan pijat
bahu sebelah kanan menggunakan telapak tangan kiri. Gerakkan
badan dengan rileks ke samping kanan dan samping kiri. Buat badan
senyaman dan serileks mungkin
2. MINDFULNESS - BASED ON EATING
a. Pembuka
 Klien dianjurkan untuk menutup mata sejenak dan rasakan seberapa
lapar saat ini, berikan nilai 1 sampai 10, jika nilai 1 adalah sangat
lapar dan nilai 10 adalah sangat kenyang, berapakah nilai tingkat
rasa lapar? Jika klien merasa cukup lapar silahkan mulai aktivitas
makan.
 Pertama, bangunlah kesadaran klien pada makanan, silahkan klien
memikirkan bahwa saat klien makan maka hanya melakukan
aktivitas makan.
b. Isi
 Lihatlah makanan yang ada di piring, perhatikan warnanya, tekstur
dan bentuknya, apakah terlihat nikmat dan menarik? Sentuhlah dan
cium aroma makanan yang ada di piring. Kenali aroma makanan,
apakah mengenali aroma tersebut?
 Mulailah mengambil suapan makanan dalam ukuran yang kecil,
letakkan makanan, sendok atau garpu anda saat mulai mengunyah
makanan
 Tahan makanan dalam mulut, kunyah secara perlahan, kunyah lebih
lama, lebih lama lagi, sampai tekstur makanan telah berubah,
rasakan tekstur makanan terasa lebih halus, temukan rasa yang
tersembunyi dalam makanan anda saat makanan bercampur dalam
mulut. Perhatikan perubahan-perubahan rasa yang muncul saat anda
mulai mengunyah.
 Telan secara perlahan dan rasakan makanan mulai memenuhi perut,
tahan dan fokus pada perut anda sejenak sebelum mengambil suapan
selanjutnya.
 Ambil kembali suapan dalam ukuran kecil, letakkan makanan,
sendok atau garpu selama mengunyah, kunyah lebih lama, lebih
lama lagi, nikmati setiap potongan makanan, fokuslah pada tekstur
dan aroma makanan, rasakan tekstur makanan menjadi halus dan
temukan rasa dalam makanan.
 Telan secara perlahan, beri jeda sebelum mengambil suapan
selanjutnya, fokuslah sejenak pada perut anda yang mulai terisi.
 (Setelah 5 menit): Berhentilah sejenak, rasakan makanan yang mulai
memenuhi ruang perut anda, berikan nilai tingkatan rasa kenyang
anda saat ini? Apakah belum kenyang, cukup kenyang, atau sangat
kenyang? Jika masih merasa belum kenyang, ulangi makan makanan
dengan cara seperti ini, ambil suapan kembali dalam ukuran yang
kecil, letakkan sendok/garpu, nikmati setiap gigitannya, rasa, tekstur,
aroma makanan anda. Saat anda merasa kurang konsentrasi,
berhentilah sejenak dan kembali amati makanan kembali, lanjutkan
mengambil suapan kedalam mulut.
c. Penutup
 Lanjutkan proses makan seperti ini sampai seolah-olah anda merasa
kenyang. Ingat ambil suapan makanan dalam ukuran yang kecil,
letakkan makanan, sendok atau garpu anda saat mulai mengunyah
makanan. Tahan makanan dalam mulut anda, kunyah secara
perlahan, kunyah lebih lama, lebih lama lagi, sampai tekstur
makanan telah berubah, rasakan tekstur makanan terasa lebih halus,
temukan rasa yang tersembunyi dalam makanan anda saat makanan
bercampur dalam mulut anda. Perhatikan perubahan-perubahan rasa
yang muncul saat anda mulai mengunyah.
 (Setelah 10 menit): Berhentilah sejenak, rasakan makanan yang
mulai memenuhi ruang perut anda, berikan nilai tingkatan rasa
kenyang anda saat ini? Apakah belum kenyang, cukup kenyang, atau
sangat kenyang? Bila anda telah merasa cukup kenyang dan
bermaksud mengakhiri kegiatan makan pagi ini, mohon letakkan
piring makanan anda dan tinggalkan sisa makanan jika sudah tidak
diinginkan. Akhiri dengan doa setelah makan dan ucapan rasa
syukur.

3. MINDFULNESS - BASED ON BODY DETECTION MEDITATION


a. Pembukaan
 Klien duduk secara nyaman dengan posisi punggung tegak, kedua
telapak tangan ditelungkupkan di atas paha, dan berniat dalam hati
melakukan meditasi.
 Mengambil waktu sejenak untuk hening dan merasakan tubuh secara
keseluruhan dari ujung rambut hingga ujung kaki. Kemudian
merasakan kulit yang melapisi seluruh tubuh.
 Menutup mata dan mengatur pernapasan dengan tarikan dan
hembusan melalui hidung. Kemudian merasakan bagian perut seiring
tarikan dan hembusan napas tersebut. Apabila pikiran mulai melantur,
maka amati pikiran tersebut dan mengarahkan perhatian kembali ke
pernapasan.
b. Isi
 Arahkan perhatian pada seluruh bagian tubuh, dimulai dari ujung
rambut hingga ujung kaki seperti mesin scan yang bergerak dari atas
hingga tubuh bagian bawah dan mungkin akan menemukan bagian
tubuh yang terasa kencang dan tegang. Setelah itu rilekskan bagian
tubuh tersebut, tetapi bila sulit, biarkan rasa tersebut muncul dan
menghilang. Hal ini tidak hanya berlaku pada rasa yang muncul di
tubuh, tetapi juga pada pikiran dan emosi yang dirasakan. Arahkan
juga perhatian ke tubuh, dan sadarilah di setiap emosi atau pikiran
yang muncul. Amati dan biarkanlah emosi atau pikiran tersebut
muncul dan menghilang dengan sendirinya.
 Bawalah kesadaran pada kaki kiri yang bersentuhan dengan lantai.
Lalu rasakan dan sadari jemari kaki kiri, punggung kaki kiri hingga
bagian tumit kaki kiri. Kemudian rasakan sepanjang betis kiri, lutut,
dan tulang kaki hingga persendian yang menghubungkan betis dengan
paha kiri. Arahkan kesadaran dan rasakan pada paha kiri, naik hingga
paha bagian atas yang bersambung dengan tulang pinggul di sebelah
kiri.
 Sekarang bawa kesadaran pada kaki kanan yang bersentuhan dengan
lantai. Lalu rasakan dan sadari jemari kaki kanan, punggung kaki
kanan hingga bagian tumit kaki kanan. Kemudian rasakan sepanjang
betis kanan, lutut, dan tulang kaki hingga persendian yang
menghubungkan betis dengan paha kanan. Arahkan kesadaran dan
rasakan paha kanan, naik hingga paha bagian atas yang bersambung
dengan tulang pinggul di sebelah kanan.
 Pelan-pelan arahkan kesadaran menuju daerah pinggul. Lalu sadari
dan rasakan daerah pinggul tersebut dan sekitarnya. Sadarilah setiap
sensasi, setiap pikiran, atau emosi yang muncul.
 Sekarang arahkan kesadaran naik menuju area perut. Perut merupakan
tempat organ pencernaan dan pernapasan berada. Rasakan dan sadari
jauh ke dalam bagian perut. Bila ada pikiran dan emosi yang muncul,
biarlah mengalir apa adanya. Lalu arahkan perhatian dan kesadaran ke
bagian belakang tubuh di sepanjang tulang belakang. Mulailah
merasakan dan menyadari setiap rasa yang muncul mulai dari bawah,
ke tengah, hingga naik ke tulang punggung bagian atas. Biarkan
semua ketegangan dan rasa kencang yang rasakan menjadi rileks.
 Sekarang arahkan kesadaran kembali ke bagian dada, tempat jantung
dan paru-paru berada. Rasakan setiap rasa yang muncul di tulang
dada, tulang rusuk, dan daerah dada.
 Kemudian perhatian dan kesadaran diarahkan dari dada menuju jemari
tangan kiri. Merasakan semua rasa yang ada pada jemari, telapak
tangan, punggung tangan, pergelangan tangan kiri, lengan kiri bawah,
siku, dan lengan kiri atas.
 Selanjutnya mengarahkan perhatian dan kesadaran dari lengan kiri
menuju jemari tangan kanan. Serta merasakan keberadaan jemari dan
telapak tangan naik ke punggung tangan hingga pergelangan tangan
kanan. Dilanjutkan sampai lengan kanan bawah, siku, dan lengan
kanan atas.
 Kemudian mengarahkan kesadaran menuju kedua bahu dan ketiak,
naik ke leher dan tenggorokan. Serta menyadari dan merasakan setiap
rasa pada tubuh, pikiran, maupun emosi.
 Mengarahkan kesadaran pada rahang dan pelan-pelan diarahkan
menuju gigi, lidah, mulut, dan bibir.
 Merasakan pipi bagian dalam, hidung, area mata, otot sekitar mata,
serta dahi dan pelipis.
 Selanjutnya mengarahkan kesadaran pada otak dan merasakan setiap
rasa yang muncul.
 Kemudian memperluas perhatian dan kesadaran ke seluruh tubuh
mulai dari kepala hingga ujung kaki dan jari tangan. Serta merasakan
tubuh yang terhubung pada kepala, leher, bahu, lengan, tangan, dada,
punggung, perut, pinggul, daerah sekitar pinggul, kaki, dan telapak
kaki.
 Apabila pikiran mulai melantur, maka tetap mengamati pikiran yang
mengalihkan perhatian, kemudian mengarahkan kembali perhatian
pada napas secara perlahan. Selanjutnya, tarik napas dalam melalui
hidung, dan membayangkan napas tersebut mengalir dari ujung kepala
sampai ujung jemari kaki.
 Kemudian ketika menghembuskan napas, maka bayangkan napas
tersebut berada pada jemari kaki dan menghilang bersama rasa yang
telah dirasakan.
c. Penutup
 Merasakan dan menyadari bahwa seluruh tubuh merupakan satu
kesatuan dengan berbagai rasa fisik, pikiran, dan emosi yang
menyertainya. Kemudian menyadarinya bahwa kita hadir di sini dan
saat ini. Selain itu, kita dapat merasakan seluruh tubuh mengembang
ketika menarik napas dan merasakan sekujur tubuh turun serta
berkontraksi pada saat menghembuskan napas. Selanjutnya,
merasakan dan menyadari kembali bahwa sekujur tubuh merupakan
satu kesatuan.
 Setelah tiba pada penghujung latihan, maka mengucapkan syukur
kepada diri sendiri karena telah meluangkan waktu untuk menyadari
kondisi saat ini dan di sini sepenuhnya.
 Selanjutnya, mengalihkan perhatian pada napas secara perlahan-lahan.
Kemudian menairk napas dengan rileks dan nyaman, serta
menghembuskannya secara perlahan-lahan dengan penuh
kebersyukuran.
 Pada saat masih merasakan keberadaan napas, selanjutnya dapat
mengalihkan perhatian pada jari-jari tangan secara perlahan dan
menggerakkannya secara perlahan. Kemudian mengalihkan perhatian
pada mata, dan secara perlahan membukanya dengan penuh
kesadaran.
 Setelah mata rileks, kemudian menggosokkan kedua telapak tangan
sampai terasa sensasi hangat, dan meletakkan tangan kepada kedua
mata.
 Terakhir, memijat bahu sebelah kiri menggunakan telapak tangan
kanan dan memijat bahu sebelah kanan menggunakan telapak tangan
kiri. Serta menggerakkan badan secara rileks ke samping kanan dan
samping kiri. Memposisikan badan dengan nyaman dan rileks.

4. MEDITASI BERJALAN
a. Pembukaan
 Meminta klien berdiri dengan tegak dan rileks. berikan arahan untuk
klien niatkan dalam hati untuk melakukan meditasi jalan.
 Hadirkan diri sepenuhnya dengan merasakan sensasi yang muncul ketika
telapak kaki klien menyentuh lantai. Klien diminta untuk juga sadar
sepenuhnya pada kondisi lingkungan di sekitar (suhu, cahaya, bunyi, dan
segala sensasi lain yang muncul)
b. Inti
 Memandu klien agar klien terus melakukan dengan penuh kesadaran,
Anda mengangkat kaki kanan perlahan-lahan dari lantai, lalu
memindahkannya ke depan, dan menempatkannya kembali di lantai.
Sekarang, secara sadar klien mengangkat kaki kiri perlahan-lahan dari
lantai, lalu memindahkannya ke depan, dan menempatkannya kembali di
lantai.
 Klien berjalan dengan penuh kesadaran selangkah demi selangkah. Klien
juga dapat merasakan segala sensasi yang muncul, baik itu sensasi ketika
kaki menyentuh lantai (suhu lingkungan, cahaya, bunyi, dan sensasi yang
lain). Meskipun berbagai sensasi itu muncul dan dirasakan sepenuhnya
oleh klien, klien tidak terganggu dan terus melangkah ke depan menuju
titik tujuan.
c. Penutup
 Klien tetap berjalan dengan penuh kesadaran, mengalir hingga titik
tujuan semula.
 Memberikan kesempatan kepada klien untuk mengemukakan pendapat,
yaitu pikiran dan perasaannya setelah melakukan meditasi jalan secara
langsung.
 Klien mengungkapkan hal yang telah dipelajari, hal yang dirasakan, dan
manfaat yang diperoleh secara langsung.

F. Hambatan Mindfulness
Dalam pelaksanaan atau praktik mindfulness terdapat beberapa hambatan, seperti:
1. Keraguan
Ketidakpastian seseorang tentang sesuatu akan keberhasilan dalam pelaksanaan
mindfulness akan mengganggu dalam praktik mindfulness. Keraguannya
membuat “ini tidak akan berhasil untuk saya”. Keraguan ini akan membawa
diri untuk menjauh dari pengalaman untuk melakukan mindfulness sehingga
akan menghambat pelaksanaan mindfulness. Kita perlu ingat bahwa pikiran
hanyalah sebuah pikiran, ketika sebuah keraguan memasuki pikiran kita untuk
pelaksanaan mindfulness maka kita perlu membuang rasa keraguan dan
ketakutan yang ada pada diri sendiri.
2. Keengganan
Keengganan yang timbul juga dapat menghambat mindfulness karena dapat
mewujudkan diri seseorang menjadi marah atau sakit hati. Kemarahan sangat
adiktif dan terkadang membuat seseorang tersesat darinya. Karena kemarahan
itulah yang membuat seseorang menjadi enggan untuk melakukan praktik
mindfulness.
3. Penolakan untuk melakukan mindfulness
Dalam pelaksanaan mindfulness pasti terdapat beberapa orang yang menolak
untuk melakukannya. Alasan penolakan biasanya karena mindfulness tidak akan
berpengaruh pada dirinya. Beberapa orang mungkin belum memahami
pentingnya mindfulness untuk diri sendiri sehingga terjadi penolakan.

G. Kesimpulan
Gangguan kecemasan dapat dialami siapa saja termasuk pasien paliatif yang
menyerang kekuatan mental dan fisik seseorang akibat perasaan khawatir dan takut
yang dirasakan. Mindfulness merupakan perwujudan dari intervensi keperawatan
non farmakologi. Kegiatan yang dilakukan dalam meditasi ini adalah menciptakan
ketenangan pikiran dengan merilekskan tubuh tanpa mempedulikan apapun.
Komponen dalam mindfulness antara lain, observing, describing, acting with
awareness, non reactivity to inner experience, dan non judging of inner experience.
Dalam pelaksanaan kegiatan mindfulness inilah perlu diperhatikan metode dan SOP
pelaksanaan mindfulness berdasarkan pernapasan, makanan, meditasi deteksi tubuh
dan berjalan. Selain itu, perlu diperhatikan mengenai halangan dalam melaksanakan
mindfulness seperti keraguan pasien, pasien tidak ingin melakukannya, dan pasien
yang menolak dilakukannya mindfulness. Maka dari itu, sebagai perawat harus
berusaha menghilangkan halangan tersebut sehingga kebutuhan pasien akan derajat
kesehatannya tercapai dan pelaksanaan meditasi mindfulness dapat berjalan dengan
maksimal.

H. Saran
1. Bagi Tenaga Kesehatan yaitu Perawat
Dengan semakin majunya perkembangan metode dan SOP pelaksanaan
mindfulness khususnya dalam meningkatkan pelayanan kesehatan psikologi
pasien paliatif, diharapkan keraguan, keengganan dan penolakan dalam
melakukan mindfulness dapat teratasi.
2. Bagi Mahasiswa
Dengan makalah ini, diharapkan mahasiswa dapat meningkatkan pengetahuan
dan mengembangkan metode dan SOP pelaksanaan mindfulness dalam hal
keperawatan sehingga dapat mengaplikasikannya ke dalam bentuk praktik.
DAFTAR PUSTAKA

Baer, R. A., Smith, G. T., Hopkins, J., Krietemeyer, J., & Toney, L. 2006. Using Self-
report Assessment Methods to Explore Facets of Mindfulness. Assessment,
13(1), 27-45.
Banerjee, M., Cavanagh, K., Strauss, C. (2018). Barriers to Mindfulness: a Path
Analytic Model Exploring the Role of Rumination and Worry in Predicting
Psychological and Physical Engagement in an Online Mindfulness-Based
Intervention. Mindfulness Journal, 9. 980-992.
Elita, Y., Sholihah, A., & Sahiel, S. (2017). Acceptance and Commitment Therapy
(ACT) Bagi Penderita Gangguan Stress Pasca Bencana. Jurnal Konseling Dan
Pendidikan, 5(2), 97-101.
Germer, C.K., Siegel, R.D., & Fulton, P.R. (2005). Mindfulness and Psychotherapy.
New York: The Guilford Press.
Goldstein, E. (2019). Overcome Obstacles to Your Mindfulness Practice. Overcome
These Five Obstacles to Your Mindfulness Practice - Mindful. Diakses pada 7
September 2021
Harmiardillah, S. (2018). Pengaruh Latihan Mindfulness-Based On Eating Dengan
Pendekatan Social Cognitive Theory (Sct) Terhadap Self- Efficacy, Kepatuhan
Diet Dan Kadar Glukosa Darah Pada Diabetes Melitus Tipe 2. Surabaya:
Program Studi Magister Keperawatan Universitas Airlangga.
Hendra, A. (2020). Standar Operasional Prosedur (SOP) Mindfulness Based Stress
Reduction (MBSR). Diakses pada 08 September 2021, dari
[Link]
[Link].
Hidayati, N. O., Badori, A., Zalfa, A., Augusto, C., Saufika, G., Salafi, K. A., ... &
Fauziah, S. R. (2021). Efek Dialectical Behavior Therapy bagi Pasien dengan
Perilaku Kekerasan dan Resiko Bunuh Diri: Studi Literatur. Jurnal Ilmu
Keperawatan Jiwa, 4(1), 99-106.
Kathleen T. Brady et al.2021. Efficacy of mindfulness-based relapse prevention in
veterans with substance use disorders: Design and methodology of a randomized
clinical trial. [Link]
Lattimore P. 2019. Mindfulness-based emotional eating awareness training: taking the
emotional out of eating. Studies on Anorexia, Bulimia and Obesit. 25:649–657.
[Link]
Maharani, E. A. (2016). Pengaruh Pelatihan Berbasis Mindfulness Terhadap Tingkat
Stress Pada Guru Paud. Jurnal Penelitian Ilmu Pendidikan, 9(2): 100-110.
Prameswari, A., & Yudiarso, A. (2021). Efektivitas Mindfulness-Based Cognitive
Therapy untuk Menurunkan Depresi: Meta-Analisis. Psycho Idea, 19(2), 151-
160.
Savitri, W.C., & Listiyandini, R.A. (2017). Mindfulness dan kesejahteraan psikologis
pada remaja. Psikohumaniora: Jurnal Penelitian Psikologi, 2 (1), 43-59.
Shah, M. 2020. Acceptance-Based Therapies and Asian Philosophical Traditions:
Similarities and Diferences in the Concept of Acceptance. Journal of Rational-
Emotive & Cognitive-Behavior Therapy. 39:1–13.
[Link]
Schellekens et al. 2016. Mindfulness-Based Cancer Recovery (MBCR) versus
Supportive Expressive Group Therapy (SET) for distressed breast cancer
survivors: evaluating mindfulness and social support as mediators. J Behav Med.
40:414–422. DOI 10.1007/s10865-016-9799-6
Umniyah & Afiatin. (2009). Pengaruh Pelatihan Pemusatan Perhatian (Mindfulness)
Terhadap Peningkatan Empati Perawat. Jurnal Intervensi Psikologi, 1(1). 17-40.
Veringa et al. 2016. ‘I’ve Changed My Mind’, Mindfulness-Based Childbirth and
Parenting (MBCP) for pregnant women with a high level of fear of childbirth
and their partners: study protocol of the quasi-experimental controlled trial.
BMC Psychiatry. 16:377. DOI 10.1186/s12888-016-1070-8.

Anda mungkin juga menyukai