0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan125 halaman

Peningkatan Hasil Belajar Matematika Kelas V

Ringkasan dokumen tersebut adalah: 1. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar siswa dalam pembelajaran matematika tentang sifat-sifat bangun datar menggunakan pendekatan numbered heads together. 2. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan metode numbered heads dapat meningkatkan hasil belajar matematika siswa sebesar 49,01%. Pembelajaran dengan metode ini juga meningkatkan aspek pembelajaran

Diunggah oleh

Black Eze FC
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan125 halaman

Peningkatan Hasil Belajar Matematika Kelas V

Ringkasan dokumen tersebut adalah: 1. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar siswa dalam pembelajaran matematika tentang sifat-sifat bangun datar menggunakan pendekatan numbered heads together. 2. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan metode numbered heads dapat meningkatkan hasil belajar matematika siswa sebesar 49,01%. Pembelajaran dengan metode ini juga meningkatkan aspek pembelajaran

Diunggah oleh

Black Eze FC
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PADA MATA PELAJARAN

MATEMATIKA TENTANG SIFAT - SIFAT BANGUN DATAR DENGAN


PENDEKATAN NUMBERED HEADS TOGETHER DAN ALAT PERAGA
MODEL BANGUN DATAR PADA KELAS V SEMESTER I
SEKOLAH DASAR NEGERI MEKARSARI I
KECAMATAN CIMANGGIS KOTA DEPOK

Oleh:
HENDRI PRATOMO, [Link]
NIP. 198908112014031001

ABSTRAK

Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan hasil belajar siswa


dalam pembelajaran matematika tentang sifat-sifat bangun datar
menggunakan pendekatan numbered heads together pada siswa kelas V SD
N Mekarsari 1. Hipotesis tindakan dalam penelitian ini adalah
menggunakan metode Pendeketan Numbered Heads Together dapat
meningkatkan hasil belajar siswa pada pembelajaran matematika kelas V
SD Negeri Mekarsari 1 Cimanggis tahun pelajaran 2020/2021.
Jenis penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas
(PTK). Proses Penelitian yang digunakan adalah penelitian yang
dikemukakan oleh Kemmis dan Taggart yang menggunakan siklus sistem
spiral yang maing-masing siklus terdiri dari rencana, tindakan, observasi,
dan refleksi. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas V SD Negeri
mekarsari 1 Cimanggis yang berjumlah 37 orang. Sedangkan obyek
penelitian adalah keseluruhan proses pada penerapan Numbered heds di SD
Mekarsari 1 Cimanggis. Data hasil penelitian diperoleh dari hasil
observasi, tes akhir siklus dan dokumentasi. Untuk analisis data kuantitatif
diolah dengan rumus-rumus statistik, sedangkan analisis data kualitatif
dilakukan dengan mendeskripsikan seluruh data yang tersedia dari lembar
observasi dan dokumentasi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil belajar matematika
siswa dengan menggunakan metode Numbered Heads mengalami
peningkatan. Hal ini ditunjukkan dengan adanya peningkatan rata-rata hasil
belajar Matematika siswa kelas V sebesar 49,01%. Selain itu dari hasil
analisis data observasi mengalami peningkatan yaitu dari 46,7% aspek
terpenuhi menjadi 86,7% aspek. Karena pembelajaran dengan
menggunakan metode Numbered Heads together dapat meningkatkan hasil
belajar matematika siswa, maka diharapkan guru dapat menerapkan
pembelajaran tersebut.

Kata Kunci:Hasil Belajar Matematika, Pendekatan Numbered Heads, Kelas V

i
LEMBAR PERNYATAAN BEBAS PLAGIAT

Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa laporan Penelitian Tindakan Kelas


(PTK) yang saya susun sebagai salah satu syarat penetapan angka kredit, seluruhnya
merupakan hasil karya saya sendiri.

Adapun bagian-bagian tertentu dalam penulisan laporan PTK yang saya kutip dari
hasil karya orang lain telah dituliskan dalam sumbernya secara jelas sesuai dengan
norma, kaidah, dan etika penulisan karya ilmiah.

Apabila di kemudian hari ditemukan seluruh atau sebagian laporan PTK ini bukan
hasil karya sendiri atau adanya plagiasi dalam bagian-bagian tertentu, saya bersedia
menerima sanksi, sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku.

Depok, 15 Juni 2022


Yang membuat pernyataan

Hendri Pratomo, [Link]


NIP. 198908112014031001

ii
LEMBAR PENGESAHAN

Yang bertanda tangan di bawah ini:


Nama : Hendri Pratomo, [Link]
NIP : 198908112014031001
Pangkat/ Gol. Ruang : Penata Muda Tk.I / III B
Jabatan : Guru Kelas
Unit Kerja : SD Negeri Mekarsari 1 Cimanggis

Telah melakukan penelitian dengan judul: UPAYA MENINGKATKAN HASIL


BELAJAR PADA MATA PELAJARAN
MATEMATIKA TENTANG SIFAT - SIFAT BANGUN DATAR DENGAN
PENDEKATAN NUMBERED HEADS TOGETHER DAN ALAT PERAGA
MODEL BANGUN DATAR PADA KELAS V SEMESTER I
SEKOLAH DASAR NEGERI MEKARSARI I
KECAMATAN CIMANGGIS KOTA DEPOK.

Depok,
Mengetahui,
Kepala Sekolah Guru Pustaka Guru Kelas

Suratman, [Link] Rita Yuni Dwi Astuti, [Link] Hendri Pratomo, [Link]
NIP.19720710 200501 1010 NIP. 19680602 200801 2 007 NIP. 198908112014031001

iii
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas rahmat dan hidayahNya,
sehingga penulis dapat menyelesaikan PTK yang berjudul " Upaya Meningkatkan Hasil
Belajar Matematika Bangun Ruang Menggunakan Metode Mind Map Pada Siswa Kelas
V SD N Pasirgunung Selatan 1 Kecamatan Cimanggis Tahun Ajaran 2021/2022"
Penyusunan laporan Penelitian Tindakan Kelas ini tidak akan terwujud tanpa adan
ya pemberian kesempatan, dukungan dan bantuan dari berbagai pihak baik secara langsun
g maupun tidak langsung. Untuk itu penulis menyampaikan terima kasih yang sebesar-be
sarnya kepada
1. Ibu Hj. Ani Suhartini, [Link] selaku Kepala Sekolah SDN Pasirgunung Selatan
1.
2. Rekan sejawat yang telah meluangkan waktunya untuk menjadi observer dan
teman diskusi.
3. Orang tua yang senantiasa mendoakan penulis.
4. Istri dan anak-anakku tercinta yang telah memberikan support sehingga penulis
dapat menyelesaikan laporan PTK dengan baik.

Kami menyadari sepenuhnya bahwa laporan PTK ini masih jauh dari sempurna. Oleh
karena itu, kami sangat mengharapkan adanya kritik, saran, dan masukan yang dapat
kami gunakan untuk menyempurnakan penulisan hasil penelitian mendatang.

Semoga Allah SWT selalu mencurahkan rahmat, bimbingan dan petunjukNya kepada
kita semua, Amin.

Depok,

Penulis

iv
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL i
……………………………………………………………… ii
ABSTRAK ………………………………………………………………………...
LEMBAR PERNYATAAN BEBAS PLAGIAT …………………………………. iii
LEMBAR PENGESAHAN ………………………………………………………. iv
KATA PENGANTAR ……………………………………………………………. v
DAFTAR ISI ……………………………………………………………………… vi
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah 1

…………………………………………………... 5

B. Identifikasi Masalah 6

………………………………………………………... 6
C. Pembatasan Masalah 6
……………………………………………………….. 6
D. Rumusan Masalah 6
………………………………………………………….. 7
E. Tujuan Penelitian 8
…………………………………………………………..
F. Manfaat Penelitian
………………………………………………………
1. Manfaat Teoritis
……………………………………………………
2. Manfaat Praktis …………………………………………………….
G. Definisi Operasional
……………………………………………………….
BAB II KAJIAN PUSTAKA
A. Kajian Belajar 10
……………………………………………………………... 10

1. Pengertian Belajar 11

v
………………………………………………… 11
2. Faktor yang mempengaruhi Belajar 13
……………………………………. 13
3. Pengertian Hasil Belajar 14
……………………………………………….. 16
B. Pembelajaran Matematika 17
…………………………………………………
1. Matematika
…………………………………………………………….
2. Pembelajaran Matematika
…………………………………………
3. Pengertian Bangun Ruang
…………………………………………..
4. Karakteristik Pelajaran Matematika
………………………………..
BAB III METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian 26
…………………………………………………………... 26

B. Setting Penelitian 27
………………………………………………………….. 28

C. Subjek dan Objek Penelitian


29
……………………………………………….
29
D. Desaain Penelitian ………………………………………………………….
31
E. Tahap Penelitian
31
1. Siklus I …………………………………………………………………
32
a. Perencanaan ………………………………………………………..
33
b. Tindakan ……………………………………………………………
34
c. Pengamatan (observasi)
34
…………………………………………….
34
d. Refleksi ……………………………………………………………
36
2. Siklus II ………………………………………………………………...
37
F. Teknik Pengumpulan Data

vi
………………………………………………... 37
G. Instrumen Penelitian 37
………………………………………………………. 39
1. Observasi ………………………………………………………… 40
2. Tes ……………………………………………………………………..
3. Dokumentasi …………………………………………………………..
H. Teknik Analisis Data
………………………………………………………
1. Analisis Kuantitatif
…………………………………………………….
2. Analisis Kualitatif
………………………………………………………
I. Kriteria Keberhasilan Tindakan
…………………………………………
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Deskripsi Lokasi Penelitian 41
……………………………………………….. 41

B. Deskripsi Awal Siswa Sebelum Tindakan 46


………………………………….
47
C. Implementasi Mind Map dalam Pembelajaran Matematika
47
………………..
48
1. Kegiatan pada Siklus I
a. Perencanaan Tindakan
50
……………………………………………..
50
b. Pelaksanaan Tindakan …………………………………………
51
c. Refleksi ……………………………………………………………
52
2. Kegiatan pada Siklus II
52
a. Perencanaan Tindakan
53
……………………………………………..
56
b. Pelaksanaan Tindakan …………………………………………
56
c. Refleksi ……………………………………………………………
58
D. Deskripsi Hasil Penelitian

vii
…………………………………………………. 61
1. Siklus I 62
………………………………………………………………… 62
a. Nilai Test ………………………………………………………….. 64
b. Hasil Observasi
…………………………………………………….
2. Siklus II ………………………………………………………………...
a. Nilai Test …………………………………………………………..
b. Hasil Observasi
…………………………………………………….
E. Pembahasan
………………………………………………………………..
1. Peningkatan Hasil Belajar Matematika ………………………………...
F. Keterbatasan Penelitian
……………………………………………………
BAB V SIMPULAN DAN SARAN
A. Simpulan …………………………………………………………………... 65
B. Saran ………………………………………………………………………. 65
DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………………. 67
LAMPIRAN ………………………………………………………………………. 70

viii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah

Perkembangan pada era globalisasi sekarang ini menuntut adanya

sumber daya manusia yang berkualitas tinggi dimana hal ini merupakan

kunci untuk mencapai tujuan pembangunan. Salah satu wadah untuk

mengusahakan peningkatan kualitas sumber daya manusia tersebut adalah

dengan pendidikan. Sumitro, dkk (2006:17-19) menyatakan pendidikan

merupakan proses pengembangan dan perilaku manusia secara keseluruhan.

Selanjutnya pendidikan berguna untuk mengembangkan nilai-nilai baru dalam

menghadapi tantangan ilmu, teknologi dan dunia modern.

Pembelajaran merupakan suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsur-

unsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan dan prosedur dan yang saling

mempengaruhi tujuan pembelajaran (Oemar Hamalik, 2005:57). Selanjutnya Ety

Syarifah (2009:6-8) memaparkan Pembelajaran memiliki tiga komponen yang

saling berkaitan. Ketiga komponen tersebut adalah tujuan pembelajaran, proses

pembelajaran dan penilaian pembelajaran.

Dalam lampiran peraturan Menteri Pendidikan Nasional No 22 tentang

Standar Isi pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) Departemen

Pendidikan Nasional (2006) Pembelajaran Matemetika diarahkan untuk : a)

memahami konsep Matematika, menjelaskan keterkaitan antar konsep dan

mengaplikasikan konsep atau algoritma secara luwes, akurat, efisien dan tepat

ix
dalam pemecahan masalah, b) memiliki sikap menghargai kegunaan

Matematika

x
dalam kehidupan, yaitu memiliki rasa ingin tahu, perhatian, dan minat

dalam mempelajari Matematika, serta sikap ulet dan percaya diri dalam

pemecahan masalah.

Selanjutnya dikatakan bahwa mata pelajaraan Matematika perlu diberikan

kepada peserta didik mulai Sekolah Dasar untuk membekali peserta didik

memiliki kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis dan kreatif serta

kemampuan bekerja sama. Hal ini sesuai dengan karakteristik mata

pelajaran Matematika.

Setiap terjadi perubahan kurikulum pembelajaran Matematika selalu

ditekankan pada pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif dan

Menyenangkan (PAIKEM). Akan tetapi pada prakteknya guru kesulitan

menghadirkan PAIKEM tersebut dalam kelas. Proses pembelajaran saat ini

terlalu mementingkan perkembangan pada tataran pengetahuan, sehingga

persoalan kreativitas pada taraf pemahaman konsep, prinsip dan kemampuan

menyelesaikan masalah masih perlu ditingkatkan (Suyanto dan Djihad Hisyam,

2000:160-161).

Dalam pembelajaran pemilihan Strategi dan metode pembelajaran adalah

langkah yang harus diperhatikan. Menurut David (Wina Sanjaya, 2006:126)

Startegi pembelajaran dapat diartikan sebagai perencanaan yang berisi tentang

rangkaian kegiatan yang didesain untuk mencapai tujuan tertentu.

Sedangkan metode pembelajaran merupakan langkah penting yang dapat

11
menentukan keberhasilan pencapaian tujuan. Untuk itu dalam pemilihan

metode haruslah

12
kreatif dalam penyesuaiannya dengan tujuan pembelajaran (Sumiati dan Asra,

2007:11).

Dari hasil observasi proses pembelajaran Matematika kelas V SD N

Pasirgunung Selatan 1 pada tanggal 11 Februari 2020 siswa kurang

memperhatikan penjelasan dari guru. Hal tersebut nampak ketika guru sedang

menjelaskan masih ada beberapa siswa yang sibuk dengan teman sebangku dan

tidak bisa menjawab ketika diberi pertanyaan oleh guru. Bila ditilik lebih

lanjut, strategi yang diterapkan oleh guru dirasa kurang tepat sehingga materi

yang akan diberikan tidak dapat tersampaikan dengan baik.

Selain itu, metode pembelajaran yang digunakan oleh guru SD N

Pasirgunung Selatan 1 Kecamatan Cimanggis masih menggunakan metode

ceramah. Menurut Sumiati dan Asra (2007:98) dalam metode ini komunikasi

antar guru dan siswa pada umumnya searah. Hal ini menyebabkan kurangnya

keaktifan siswa dalam pembelajaran.

Mata pelajaran Matematika umumnya dipandang sulit bagi siswa karena

susah dimengerti, penuh dengan simbol dan pendekatan pembelajaran

matematika yang kurang menarik. Hal ini mengakibatkan siswa cepat bosan

dalam pembelajaran sehingga hasil belajar siswa tidak maksimal. Terbukti

dengan rata- rata nilai matematika yang masih rendah dan sebagian besar (58%)

nilai siswa masih berada di bawah kriteria ketuntasan minimal (KKM) yaitu 62.

Selain itu, rata-rata hasil belajar Matematika dalam ulangan tengah semester

(UTS) dan ulangan akhir semester (UAS) siswa kelas V SD Negeri

13
Pasirgunung Selatan 1 paling rendah bila dibandingkan dengan mata pelajaran

lain. Terlihat dari rata-rata nilai UTS dan UAS berturut-turut adalah 65 dan 68.

Sarana dan pra sarana dapat menunjang tercapainya sebuah tujuan

pembelajaran secara lebih maksimal. Kelengkapan dan keterbatasan sarana

dan pra sarana dapat mempengaruhi proses dan hasil dalam pembelajaran.

dengan sarana yang lebih lengkap maka pembelajaran dapat disampaikan secara

menarik sehingga menarik perhatian siswa. Sarana di SD N Pasirgunung Selatan

1 dapat dikatakan sudah cukup lengkap. Akan tetapi dalam pemanfaatannya

kurang maksimal. Sebagai contoh masih kurangnya guru yang menggunakan

media elektronik dalam pembelajaran.

Dalam proses pembelajaran Matematika tampak bahwa siswa belum siap

menerima pelajaran yang disampaikan oleh guru. Siswa baru mampu

mempelajari (baca: menghafal) fakta, konsep, prinsip, hukum, teori dan gagasan

lainnya pada tingkat ingatan. Oleh karena itu, diperlukan sebuah inovasi dan

kreativitas dalam pembelajaran Matematika SD kelas V agar peserta didik

mampu memaksimalkan potensi yang dimiliki. Dengan potensi yang tergali

secara maksimal dalam sebuah proses pembelajaran akan meningkat pula

ketercapaian tujuan dan penilaian. Dari berbagai permasalahan yang ditemukan

perlu adanya penerapan metode pembelajaran yang diharapkan mampu

melahirkan sebuah inovasi dalam pembelajaran matematika.

Piaget (Rita Eka Izzaty : 2008) skema kognitif menunjukkan struktur

mental, pola berpikir yang orang gunakan untuk mengatasi situasi tertentu

di
14
lingkungan. Misalnya, bayi melihat benda yang diinginkan kemudian menangkap

benda yang dilihat tersebut sehingga membentuk skema yang tepat. Tony Buzan

(2007 : 4) mengemukakan bahwa Mind Map adalah cara terbaik untuk

mendapatkan ide baru dan merencanakan proyek. Mind Map adalah bentuk

penulisan catatan yang penuh warna dan bersifat visual, yang bisa dikerjakan

oleh satu orang atau sebuah tim terdiri atas beberapa orang. Di pusatnya

terdapat sebuah gagasan atau gambaran sentral. Kemudian gagasan utama ini

dieksplorasi melalui cabang-cabang yang mewakili gagasan-gagasan utama, yang

kesemuanya terhubung pada gagasan sentral ini. Disetiap cabang gagasan utama

ada cabang- cabang “sub-gagasan” yang mengeksplorasi tema-tema tersebut

secara lebih mendalam. Dan pada cabang-sub-gagasan ini anda dapat

menambahkan lebih banyak sub-cabang, sambil terus mengeksplorasi gagasan

secara lebih mendalam lagi. Faktor ini membuat Mind Map memiliki ruang

lingkup yang dalam dan luas, yang tidak dimiliki oleh daftar gagasan biasa. Dari

pendapat yang telah dikemukakan ahli, diketahui bahwa skema kognitif dan

metode Mind Map menempatkan daya visual dalam proses belajar. Dalam hal

ini, maka metode Mind Map diharapkan mampu meningkatkan hasil belajar

dalam pembelajaran Matematika kelas V SD Negeri Pasirgunung Selatan 1.

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan Latar Belakang Masalah di atas, permasalahan yang

dihadapi di Kelas VSD Negeri Pasirgunung Selatan 1 dapat diididentifikasi

sebagai berikut :

1. Guru kesulitan menerapkan PAIKEM di kelas.


15
2. Strategi dan metode pembelajaran yang kurang sesuai dengan materi

dan tujuan pembelajaran.

3. Rendahnya rata-rata nilai ujian tengah semester dan ujian akhir semester

mata pelajaran Matematika.

4. Kurangnya pemanfaatan sarana dan prasarana yang ada di sekolah.

5. Sebagian siswa belum siap belajar sewaktu terjadi proses

pembelajaran matematika.

C. Pembatasan Masalah

Berdasarkan identifikasi masalah di atas, maka dalam penelitian ini

akan dibatasi pada masalah rendahnya rata-rata nilai ujian tengah semester

dan ujian akhir semester mata pelajaran Matematika pada siswa kelas V SD

Negeri Pasirgunung Selatan 1.

D. Rumusan Masalah

Berdasarkan pembatasan masalah maka rumusan masalah dalam

penelitian ini adalah bagaimana meningkatkan hasil belajar Matematika

menggunakan metode mind map pada siswa kelas V SD Negeri Pasirgunung

Selatan 1.

E. Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk meningkatkan hasil

belajar Matematika menggunakan metode pembelajaran Mind Map pada

siswa kelas V SD Negeri Pasirgunung Selatan 1.

F. Manfaat Penelitian

16
1. Manfaat Teoritis

17
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi pemikiran dalam usaha-

usaha yang mengarah pada pengembangan pembelajaran Matematika di tingkat

Sekolah Dasar. Hasil penelitian ini diharapkan juga dapat menjadi bahan kajian

bagi usaha penelitian lanjutan, perbandingan maupun tujuan lain yang relevan.

2. Manfaat Praktis

Penelitian ini diharapkan akan memberikan manfaat bagi siswa, guru dan

sekolah.

a. Bagi siswa :

1) Meningkatkan kreativitas siswa, karena dibutuhkan kemampuan

untuk mengkreasikan catatan dalam Metode Pembelajaran Mind

Map.

2) Memperdalam pemahaman, karena dalam Metode Pembelajaran

Mind Map siswa harus mengetahui konsep dari materi himpunan

untuk menentukan pokok pikiran dari materi tersebut.

3) Meningkatkan daya ingat terhadap materi yang diajarkan, karena

dalam Metode pembelajaran Mind Map dituntut untuk membaca

dan merangkum kembali catatan konvensional yang telah siswa

lakukan sebelumnya.

b. Bagi guru

1) Mendapatkan strategi pembelajaran Matematika dengan metode

pembelajaran “Mind Map” sebagai suatu alternatif dalam upaya

mengaktifkan siswa dalam pembelajaran dan meningkatkan hasil

belajar siswa.

18
2) Membantu guru untuk melaksanakan kurikulum dan kegiatan

belajar mengajar secara efektif dan efisien.

3) Mendapatkan pendekatan pembelajaran yang efektif dan efisien

dalam pembelajaran Matematika.

c. Bagi sekolah

Memberikan sumbangan dalam perbaikan proses pembelajaran

untuk meningkatkan potensi belajar siswa yang akhirnya berpengaruh

pada mutu sekolah.

G. Definisi Operasional

Definisi Operasional dalam penelitian ini dimaksudkan untuk

menyamakan pandangan mengenai beberapa istilah yang digunakan sebagai

berikut :

1. Belajar

Belajar adalah usaha merubah tingkah laku yang berkaitan dengan

penambahan ilmu, kecakapan, keterampilan sikap, pengertian,harga diri,

minat, watak dan penyesuaian diri yang dalam prosesnya terjadi interaksi

dengan lingkungan sebagai hasil dari pengalaman. Dalam penelitian ini

digunakan metofe Mind Map untuk merealisasikan definisi belajar yang

telah disebutkan.

2. Hasil Belajar

Hasil Belajar merupakan perubahan yang terjadi yang artinya ada

perubahan tingkat kemampuan setelah dilakukan kegiatan belajar. Hasil

19
belajar dalam peneltian ini setelah dilakukan pembelajaran

Matematika

20
dengan menggunakan metode Mind Map siswa mencapai target sesuai

Kriteria Keberhasilan
Tindakan.

3. Pembelajaran Matematika

Serangkaian proses kegiatan belajar yang tersusun meliputi unsur-unsur

manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan, dan prosedur yang

saling mempengaruhi serta memungkinkan siswa membangun sendiri

pengetahuannya dalam usaha mencapai perubahan-perubahan yang relatif

konstan dalam pengetahuan, pemahaman, ketrampilan, dan lainnya

tentang Matematika. Pembelajaran Matematika dalam penelitian ini

mendorong siswa untuk membangun sendiri kreasi dan pengetahunnya

menggunakan metode Mind Map yang diharapkan mampu meningkatkan

hasil belajar.

4. Mind Map

Metode yang dirancang oleh guru untuk membantu proses belajar siswa,

menyimpan informasi berupa materi pelajaran yang diterima oleh siswa,

dan membantu siswa menyusun inti-inti yang penting dari materi

pelajaran kedalam bentuk peta atau grafik. Dalam penelitian ini, Peneliti

membantu siswa menyusun inti-inti materi pembelajaran Matematika

mengenai bangun ruang dengan pemetaan materi yang terstruktur.

21
BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Kajian Belajar

1. Pengertian Belajar

Menurut Slameto (2010:2) belajar ialah suatu proses usaha yang

dilakukan seseorang untuk memperoleh tingkah laku yang baru secara

keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan

lingkungan. Herman Hudojo (2005:83) juga mengatakan belajar

merupakan proses dalam memperoleh pengetahuan baru sehingga

mengakibatkan terjadinya perubahan tingkah laku. Perubahan tingkah

laku dalam proses belajar terjadi karena interaksi dengan lingkungan.

Menurut Sardiman (2006:21) belajar adalah berubah. Dalam hal

ini yang dimaksudkan belajar berarti usaha untuk mengubah tingkah laku.

Artinya belajar akan membawa suatu perubahan pada individu-individu

yang belajar. Selanjutnya Fontana (Erman Suherman, 2001:8) belajar

adalah proses perubahan tingkah laku individu yang relatif tetap sebagai

hasil dari pengalaman.

Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan belajar adalah

usaha merubah tingkah laku yang berkaitan dengan penambahan ilmu,

kecakapan, keterampilan sikap, pengertian,harga diri, minat, watak dan

penyesuaian diri yang dalam prosesnya terjadi interaksi dengan

lingkungan sebagai hasil dari pengalaman.


2. Faktor yang mempengaruhi Belajar

Slameto (2010:54) mengemukakan faktor-faktor yang

mempengaruhi belajar banyak jenisnya, tetapi dapat digolongkan menjadi

dua yaitu faktor intern dan faktor ekstern. Faktor intern adalah faktor

yang ada dalam diri individu yang sedang belajar, sedangkan faktor

ekstern adalah faktor yang ada diluar individu. Faktor intern belajar

terdiri dari faktor Jasmaniah, faktor Psikologis, dan faktor kelelahan.

Sementara faktor ekstern belajar terdiri dari faktor keluarga, faktor

sekolah, dan faktor masyarakat.

Menurut Muhibbinsyah (Sugihartono, 2007:77) ada 3 macam

faktor yang mempengaruhi belajar.

a. Faktor internal yang meliputi keadaan jasmani dan rohani

siswa. b. Faktor eksternal yaitu kondisi lingkungan di sekitar

siswa.

c. Faktor pendekatan belajar yang merupakan jenis upaya belajar siswa

yang meliputi strategi dan metode yang digunakan siswa untuk

melakukan kegiatan mempelajari materi pembelajaran.

Dalam Penelitian ini faktor yang mempengaruhi belajar siswa adalah

faktor internal yang mencakup kondisi siswa dan faktor pendekatan belajar

yang dalam hal ini digunakan metode Mind Map sebagai objek penelitian.

3. Pengertian Hasil Belajar

Menurut Syaiful Bahri Djamarah (2002:141) hasil belajar adalah

perubahan yang terjadi sebagai akibat dari kegiatan belajar yang telah

dilakukan oleh individu. Hasil belajar merupakan realisasi atau

pemakaran
dari kecakapan-kecakapan potensial atau kapasitas yang dimiliki dan

dapat dilihat dari perilakunya dalam bentuk penguasaan pengetahuan,

keterapilan berpikir dan keterampilan motorik (Nana Syaodih

Sukmadinata,2004:102-103).

Nana Sudjana (2001:22) mendefinisikan hasil belajar sebagai

kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menemukan pengalaman

belajar. Hardward kingsley dalam Nana Sudjana (2001:22) membagi 3

macam hasil belajar sebagai yaitu: (1) Ketrampilan dan kebiasaan, (2)

Pengetahuan dan pengertian, (3) sikap dan cita-cita.

Sedangkan Hardward Kingsley (dalam Nana Sudjana, 2001:22)

membagi 3 macam hasil belajar sebagai


berukut:

a. Informasi verbal

b. Ketrampilan Intelektual

c. Strategi kognitif

d. Sikap

e. Ketrampilan motoris

Menurut Benjamn S. Bloom yang dikutip oleh Asep Jihad dan

Abdul Haris (2009:14-15) berpendapat hasil belajar dikelompokkan

menjadi dua macam, yaitu pengetahuan dan ketrampilan.

Pengetahuan terdiri dari empat kategori, yaitu pengetahuan tentang fakta,

pengetahuan tentang prosedural, pengetahuan tentang konsep, dan

pengetahuan tentang prinsip. Ketrampilan juga terdiri dari empat

kategori, yaitu ketrampilan untuk berpikir, ketrampilan untuk bertindak,

ketrampilan untuk bersikap,


dan ketrampilan untuk berinteraksi. Hasil belajar diperoleh dengan

melakukan evaluasi atau penilaian yang merupakan tindak lanjut atau

cara untuk mengukur tingkat penguasaan siswa.

Setiap proses belajar mengajar keberhasilannya diukur dari hasil

belajar yang dicapai siswa. Semakin baik proses pembelajaran dan

keaktifan siswa dalam mengikuti proses pembelajaran, maka seharusnya

hasil belajar yang diperoleh siswa akan semakin tinggi sesuai

dengan tujuan yang telah dirumuskan sebelumnya (Asep Jihad dan

Abdul Haris,

2009:20).

Purwanto (2011 : 46) mengemukakan hasil belajar merupakan

perubahan perilaku disebabkan karena pencapaian penguasaan atas

sejumlah bahan yang diberikan dalam proses belajar mengajar yang

hasil itu dapat berupa perubahan aspek kognitif, afektif maupun

psikomotorik. Dalam penelitian ini, bentuk hasil belajar yang di lihat

adalah nilai yang didapat subjek dalam ranah kognitif.

B. Pembelajaran Matematika

1. Matematika

Matematika adalah pola berpikir, pola mengorganisasikan,

pembuktian yang logis, matematika itu adalah bahasa yang menggunakan

istilah yang didefinisikan dengan cermat, jelas dan akurat,

representasianya dengan simbol dan padat, lebih berupa bahasa simbol

mengenai ide dari pada mengenai bunyi Johnson dan Rising (Erman

Suherman, 2001:18). Lebih lanjut Reys (Erman Suherman, 2001:18)


mengemukakan Matematika adalah tentang pola dan hubungan.

Suatu jalan atau pola berpikir suatu seni, suatu bahasa dan suatu alat.

Dari pengertian Matenatika diatas dapat disimpulkan bahwa

Matematika merupakan pola berpikir, pola mengorganisasikan dan

pembuktian yang logis yang berkaitan dengan angka, simbol maupun

gambar.

2. Pembelajaran Matematika

Pembelajaran merupakan suatu kombinasi yang tersusun meliputi

unsur-unsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan dan prosedur

yang saling mempengaruhi mencapai tujuan pembelajaran (Oemar

Hamalik, 2005:57).

Herman Hudojo (2005:135) menyatakan bahwa pembelajaran

Matematika berarti pembelajaran tentang konsep-konsep atau struktur-

struktur yang terdapat dalam bahasan yang dipelajari serta mencari

hubungan-hubungan antara konsep-konsep atau struktur-struktur tersebut.

Dalam pembelajaran Matematika di sekolah, guru hendaknya

memilih dan menggunakan strategi, pendekatan, metode teknik yang

melibatkan siswa aktif dalam belajar, baik secara mental, fisik maupun

sosial (Erman Suherman, 2003:63). Pernyataan ini menunjukkan bahwa

pembelajaran Matematika dapat disimpulkan sebagai serangkaian proses

kegiatan belajar yang tersusun meliputi unsur-unsur manusiawi, material,

fasilitas, perlengkapan, dan prosedur yang saling mempengaruhi serta

memungkinkan siswa membangun sendiri pengetahuannya dalam

usaha
mencapai perubahan-perubahan yang relatif konstan dalam pengetahuan,

pemahaman, ketrampilan, dan lainnya tentang Matematika.

Tujuan pembelajaran Matematika menurut Arini (2008)


adalah:
a. Melatih cara berpikir dan menggunakan penalaran pada pola dan
sifat, melakukan manipulasi matematika dalam membuat
generalisasi,
menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan dan pernyataan
Matematika.
b. Mengembangkan aktivitas kreatif dalam memahami konsep
Matematika, menjelaskan keterkaitan antar konsep dan
mengaplikasikan konsep atau algoritma secara luwes, akurat, efisien,
dan tepat dalam pemecahan masalah.
c. Mengembangkan kemampuan memecahkan masalah yang meliputi
kemampuan memahami masalah, merencanakan model Matematika,
menyelesaikan model dan menafsirkan solusi yang diperoleh.
d. Mengembangkan kemampuan menyampaikan informasi
atau
mengkomunikasikan gagasan antara lain melalui pembicaraan
lisan, grafik, peta, diagram, dalam menjelaskan gagasan.

Dalam Kurikulum tahun 2006 tujuan dari pelajaran


Matematika adalah sebagai berikut :
a. Memahami Konsep Matematika, menjelaskan keterkaitan antar
konsep dan mengaplikasikan konsep atau algoritma secara luwes,
akurat, efisien dan tepat dala pemecahan masalah.
b. Menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan
manipulasi matematika dalam membuat generalisasi, menyusun
bukti, atau menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika.
c. Memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami
masalah, merancang model matematika, menyelesaikan model
dan
menafsirkan solusi yang
diperoleh.
d. Mengkomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel, diagram, atau
media lain untuk memperjelas keadaan atau
masalah.
e. Memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam
kehidupan, yaitu memiliki rasa ingin tahu, perhatian, dan minat
dalam mempelajari matematika, sertasikap ulet dan percaya diri
dalam pemecahan masalah.
Dari berbagai pendapat mengenai pengembelajaran Matematika,

dapat disimpulkan bahwa pembelajaran Matematika merupakan

serangkaian kegiatan yang melibatkan pendidik dan peserta didik secara


aktif untuk memperoleh pengalaman dan pengetahuan

matematika.
Pembelajaran matematika juga merupakan proses pembentukan

pengetahuan dan pemahaman matematika oleh siswa yang berkembang

secara optimal untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Untuk dapat

mencapai tujuan pembelajaran yang ditetapkan, siswa dituntut aktif,

memiliki kemandirian, dan bertanggungjawab selama mengikuti proses

pembelajaran matematika. Di mana guru sebagai perencana pembelajaran,

pelaksana pembelajaran yang mendidik, dan penilai proses hasil

pembelajaran.

3. Pengertian Bangun Ruang

Desi (2011) bangun ruang adalah bangun Matematika yang

memiliki isi atau volume. Lebih lanjut Desi (2011) mengemukakan

bagian-bagian bangun ruang antara lain :

a. Sisi merupakan bidang pada bangun ruang yang membatasi

antara bangun ruang dengan ruangan di sekitarnya.

b. Rusuk adalah pertemuan dua sisi yang berupa ruas garis pada bangun

ruang.

c. Titik sudut adalah titik hasil pertemuan rusuk yang berjumlah tiga

atau lebih.

Dari definisi di atas disimpulkan bahwa bangun ruang

merupakan bangun Matematika yang mempunyai sisi, rusuk, titik sudut

dan volume.
4. Karakteristik Pelajaran Matematika
Menurut Asep Jihad (2008:152-153) karakteristik yang

membedakan matematika dengan pelajaran yang lain adalah :

a. Objek pembicaraannya abstrak sekalipun dalam pengajaran di sekolah


anak diajarkan benda konkrit. Artinya siswa didorong untuk
melakukan abstraksi.
b. Pembahasan mengandalkan tata nalar, artinya info awal pengertian
dibuat seefisien mungkin. Kemudian pengertian lain harus
dijelaskan kebenarannya dengan tata nalar yang logis.
c. Pengertian atau konsep atau pernyataan sangat jelas berjenjang
sehingga terjaga konsistensinya.
d. Melibatkan perhitungan (operasi).

Dalam Penelitian ini, materi dalam pelajaran matematika

adalah bangun ruang. Kaitannya dengan karakteristik pelajaran

matematika diatas adalah bangun ruang merupakan salah satu materi

yang diajarkan di Sekolah Dasar. Dalam penelitian ini siswa atau

subjek didorong untuk memahami tentang konsep yang berjenjang.

C. Karakteristik Siswa Sekolah Dasar

Menurut Piaget (Suharjo, (2006:37) tahap perkembangan anak secara

hierarkis terdiri empat tahap, yaitu sensori motorik, pra operasional, operasi

konkrit dan operasi formal. Tahap sensori motorik tergolong anak berusia

antara 0-2 tahun. Pada tahap ini anak belum mempunyai konsep tentang

objek yang tetap. Artinya anak hanya mengetahui apa yang ditangkap

oleh inderanya saja. Tahap pra operasional tergolong anak berusia 2-6/7

tahun. Pada tahap ini pada anak mulai timbul pertumbuhan kognitif. Tetapi

terbatas pasa apa yang dijumpainya. Tahap operasi kongkrit tergolong anak

berusia 6/7
-12 tahun. Pada tahap ini anak sudah mengetahui simbol-simbol

matematis. Tetapi anak pada tahap ini belum mampu menghadapi hal yang

anstrak. Selain
itu, egosentrisme anak mulai berkurang dan terlihat kecenderungan

sosiosentris. Sementara pada tahap operasi formal, anak sudah mampu

menghadapi pemikiran dengan bentuk yang lebih kompleks.

Lebih lanjut Suharjo (2006:37-38) mengemukakan anak sekolah

dasar berusia antara 6-12 tahun yang memiliki karakteristik sebagai berikut :

1. Perubahan fisik dan motorik cepat. Sehingga hal tersebut sangat


mendukung pengembangan dasar yang dibutuhkan sebagai makhluk
individu dan makhluk sosial.
2. Kehidupan sosialnya selain kemampuan kerjasama ada
kemampuan
bersaing dan kehidupan kelompok teman sebaya.
3. Semakin menyadari diri mulai tumbuhnya minat tertentu di
samping
keinginan dan perasaan tertentu.
4. Kemampuan berfikir masih dalam tingkat
persepsional.
5. Dalam bergaul, bekerja sama dan kegiatan bersama tidak
membedakan jenis, tetapi lebih memperhatikan pengalaman yang sama.
6. Mempunyai kesanggupan untuk memahami hubungan sebab
akibat.
7. Ketergantungan kepada orang dewasa semakin berkurang. Selain itu
anak
juga kurang memerlukan perlindungan orang dewasa.
Usia anak Sekolah Dasar adalah 6-12 tahun. Pada usia itu anak sedang

mengalami pertumbuhan baik emosional, intelektual maupun jasmani.

Menurut Syamsu Yusuf (2006:178) pada usia Sekolah Dasar, daya pikir anak

sudah berkembang ke arah berfikir konkret dan rasional. Pada masa ini cara

berfikir egosentris mulai berkurang menjadi desentralisasi, yaitu sudah

mampu memperhatikan lebih dari satu dimensi (multi dimention) dalam waktu

seketika (Sri Rumini, 2002:30).

Ciri-ciri anak menurut Muhibbinsyah (2002:51) adalah


:

1. Memiliki dorongan untuk keluar rumah dan memasuki kelompok


sebaya.

2. Keadaan fisik yang memungkinkan anak memasuki dunia permainan dan

pekerjaan yang membutuhkan jasmani.


3. Memiliki dorongan mental untuk memasuki dunia konsep, symbol dan

komunikasi yang luas.

Pada masa ini, kemampuan intelektual anak sudah cukup untuk

diberikan berbagai kecakapan yang dapat memicu berkembangnya pola pikir

anak. Anak sudah bisa diberikan dasar-dasar keilmuan seperti membaca,

menulis dan berhitug.

Menurut Syaiful Bahri Djamarah (2002:91), ada beberapa sifat khas

pada anak kelas tinggi di sekolah dasar yaitu :

1. Adanya minat terhadap kehidupan praktis sehari-hari yang


kongkrit, sehingga menimbulkan kecenderungan pekerjaan-pekerjaan
yang praktis.
2. Amat realistik, ingin tahu dan ingin
belajar.
3. Menjelang akhir masa ini telah ada minat terhadap hal-hal dan
mata
pelajaran khusus yang oleh para ahli ditafsirkan sebagai
mulai menonjolnya faktor-faktor.
4. Sampai kira-kira umur 11 tahun anak membutuhkan guru atau orang-
orang dewasa lainnya.
5. Gemar membentuk kelompok, biasanya untuk bermain
bersama.
Anak usia Sekolah Dasar memiliki karakter yang khas seperti yang

sudah diuraikan beberapa ahli di atas. Sementara dalam penelitian ini

menggunakan subjek siswa kelas V SD yang dikategorikan kelas tinggi.

Karakter anak yang telah disebutkan menjadi acuan dalam pengambilan data.

D. Mind Map

1. Pengertian Mind Map

Menurut Tony Buzan (2004:6) Mind Map adalah bentuk penulisan

catatan yang penuh warna dan bersifat visual, yang bisa dikerjakan oleh satu

orang atau sebuah tim terdiri atas beberapa orang. Di pusatnya terdapat

sebuah gagasan atau gambaran sentral. Kemudian gagasan utama ini

dieksplorasi melalui cabang-cabang yang mewakili gagasan-gagasan

utama, yang
kesemuanya terhubung pada gagasan sentral ini. Disetiap cabang

gagasan utama ada cabang-cabang “sub-gagasan” yang mengeksplorasi tema-

tema tersebut secara lebih mendalam. Dan pada cabang-sub-gagasan ini anda

dapat menambahkan lebih banyak sub-cabang, sambil terus mengeksplorasi

gagasan secara lebih mendalam lagi. Faktor ini membuat Mind Map memiliki

ruang lingkup yang dalam dan luas, yang tidak dimiliki oleh daftar gagasan

biasa.

Iwan Sugiarto (2004:75) menerangkan bahwa Mind Map (peta

pemikiran) merupakan suatu metode pembelajaran yang sangat baik

digunakan oleh guru untuk meningkatkan daya hafal siswa dan pemahaman

konsep siswa yang kuat, siswa juga dapat meningkatkan daya kreatifitas

melalui kebebasan berimajinasi. Lebih lanjut Iwan Sugiarto (2004:76)

menerangkan bahwa Mind Map (peta pemikiran) adalah eksplorasi kreatif

yang dilakukan oleh individu tentang suatu konsep secara keseluruhan,

dengan membentangkan subtopik-subtopik dan landasan yang berkaitan

dengan konsep tersebut dalam satu presentasi utuh pada selembar

kertas,melalui penggambaran symbol, kata-kata, garis, dan tanda panah.

Menurut Tony Buzan, (2004:68) Mind Map (peta pemikiran) adalah

metode untuk menyimpan suatu informasi yang diterima oleh seseorang dan

mengingat kembali informasi yang diterima tersebut. Mind Map (peta

pemikiran) juga merupakan teknik meringkas bahan yang akan dipelajari

dam memproyeksikan masalah yang dihadapi ke dalam bentuk peta atau

teknik grafik sehingga lebih mudah memahaminya. Mind Map (peta

pemikiran)
merupakan satu bentuk metode pembelajaran yang efektif untuk

memahami kerangka konsep suatu materi pelajaran.

Menurut Eric Jensen (2002:95) Mind Map (peta pemikiran) sangat

bermanfaat untuk memahami materi, terutama materi yang telah diterima

oleh siswa dalam proses pembelajaran. Mind Map (peta pemikiran)

bertujuan membuat materi pembelajaran terpola secara visual dan grafis yang

akhirnya dapat membantu merekam, memperkuat, dan mengingat kembali

informasi yang telah dipelajari. Menurut Tony Buzan (2004:68) Mind Map

(peta pemikiran) dapat menghubungkan konsep yang baru diperoleh siswa

dengan konsep yang sudah didapat dalam proses pembelajaran, sehingga

akan menciptakan suatu hasil peta pemikiran berupa konsep materi yang beru

dan berbeda. Peta pemikiran merupakan salah satu produk kreatif yang

dihasilkan oleh siswa dalam kegiatan belajar.

Dalam kegiatan belajar mengguanakan metode Mind Map ini, siswa

aktif menyusun inti-inti dari suatu materi pembelajaran menjadi

peta pemikiran. Menurut Tony Buzan (2008:171) Dalam bukunya yang

berjudul “Buku Pintar Mind Map” menunjukkan bahwa Mind Map (peta

Pemikiran) ini akan membantu anak: (1) mudah mengingat sesuatu; (2)

mengingat fakta, angka, dan rumus dengan mudah; (3) meningkatkan

motivasi dan konsentrasi; (4) mengingat dan menghafal menjadi lebih cepat.

Tony Buzan juga menunjukkan bahwa siswa akan menghafal dengan cepat

dan mudah berkonsentrasi dengan teknik peta pemikiran sehingga

menimbulkan keinginan untuk memperoleh pengetahuan serta keinginan

untuk berhasil.
Dari uraian diatas, dapat diketahui bahwa metode Mind Map (peta

pemikiran) adalah metode yang dirancang oleh guru untuk membantu proses

belajar siswa, menyimpan informasi berupa materi pelajaran yang

diterima oleh siswa, dan membantu siswa menyusun inti-inti yang penting

dari materi pelajaran kedalam bentuk peta atau grafik.

2. Kelebihan Mind Map

Menurut Tony Buzan (2005:71-72) manfaat atau kelebihan Mind Map


adalah :
a. Memberi Tinjauan menyeluruh atas sebuah subjek.
b. Membuat mampu merencanakan rute serta arah dan keberadaan.
c. Menghimpun dan menyimpan sejumlah data.
d. Mendukung proses pemecahan masalah dengan jalan baru yang kreatif.
e. Membuat bersikap sangat efisien.
f. Enak dilihat, dibaca, direnungkan dan diingat.
g. Menarik dan menahan perhatian mata atau otak.
Menurut Miyazaki Annisha (2012) kelebihan Mind Map antara lain:
a. Dapat mengemukakan pendapat secara bebas
b. Dapat bekerjasama dengan teman lainnya
c. Catatan lebih padat dan jelas
d. Lebih mudah mencari catatan jika diperlukan
e. Catatan lebih focus pada inti materi
f. Mudah melihat gambaran keseluruhan
g. Membantu otak untuk mengatur, mengingat, membandingkan
dan membuat hubungan
h. Memudahkan penambahan informasi
baru i. Pengkajian ulang bisa lebih cepat
j. Setiap peta bersifat unik
Menurut Yovan (Mahmudin, 2009) keutamaan metode Mind Map
antara lain:
a. Tema utama terdefinisi secara sangat jelas karena dinyatakan ditengah
b. Level keutamaan informasi teridentifikasi secara lebih baik
c. Hubungan masing-masing informasi secara mudah dapat dikenali
d. Lebih mudah dipahami dan diingat
e. Informasi baru setelahnya dapat segera digabungkan tanpa merusak
keseluruhan Mind Map sehingga mempermudah proses pengingatan
f. Masing-masing Mind Map sangat unik, sehingga mempermudah proses
pengingatan
g. Mempercepat proses pencatatan karena hanya menggunakan kata kunci.
Dengan berbagai pemaparan diatas, dapat disimpulkan bahwa

kelebihan Mind Map antara lain; (1) catatan lebih padat, jelas dan terfokus

pada inti materi, (2) tema utama terdefinisi secara sangat jelas karena

dinyatakan ditengah, (3) mempercepat proses pencatatan karena hanya

menggunakan kata kunci, (4) level keutamaan informasi terdefinisi secara

lebih baik, (5) informasi baru setelahnya dapat segera digabungkan tanpa

merusak keseluruhan struktur Mind Map, sehingga mempermudah proses

mengingat, (6) Enak dilihat, dibaca, direnungkan dan diingat dan (7) Menarik

dan menahan perhatian mata atau otak.

Mengacu pada kelebihan Mind Map di atas, maka peneliti memilih

metode Mind Map pada penelitian ini, dengan pertimbangan siswa akan

lebih mudah dalam mengingat materi yang disampaikan karena catatan

yang dibuat lebih ringkas, jelas dan terstruktur.

3. Langkah-langkah penggunaan Mind Map

Langkah-langkah penggunaan Mind Map menurut Tony Buzan


(2007 : 10) adalah :
a. Pergunakan selembar tanpa garis dan beberapa pulpen berwarna.
b. Buatlah sebuah gambar yang merangkum subjek utama di tengah-
tengah kertas.
c. Buatlah garis tebal berlekuk-lekuk yang menyambung gambar
ditengah kertas, masing-masing untuk setiap ide utama yang ada
mengenai subjek dimana cabang-cabang utama tersebut
melambangkan topik utama.
d. Beri nama pada setiap ide tersebut.
e. Dari setiap ide ditarik garis penghubung yang menyebar
seperti cabang pohon.
Adapun langkah-langkah penggunaan Mind Map dalam penelitian

ini adalah :

a. Siswa menggunakan kertas putih tanpa garis dan alat tulis.


b. Siswa membuat gambar dan tulisan sebagai subjek utama di tengah-

tengah kertas.

c. Siswa membuat garis berlekuk yang menyambung subjek utama, dan

memberi nama pada setiap lekuk garis yang dibuat tentang bangun

ruang.

E. Penelitian yang Relevan

Penelitian yang dilakukan oleh Agung Aji Tapantoko dari Universitas

Negeri Depok dengan judul “Penggunaan Metode Mind Map (Peta

Pemikiran) untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa kelas VIII SMP

Negeri 4 Depok” menunjukkan bahwa pelaksanaan pembelajaran

Matematika dengan menggunakan Mind Map (Peta Pemikiran) dapat

meningkatkan motivasi belajar siswa. Hal ini dapat dilihat dari: (1) data

hasil observasi motivasi belajar siswa yang mengalami peningkatan dari

siklus I ke siklus II sebesar 56,25% menjadi 71,25% dengan kategori tinggi.

(2) Data hasil angket motivasi siswa mengalami peningkatan dari siklus I

ke siklus II sebesar

66,70% menjadi 79,94% dengan kategori tinggi. (3) Rata-rata hasil tes siklus

mengalami peningkatan, rata-rata pada siklus I yaitu 75,18 meningkat

menjasii 90,18 pada siklus II. (4) Dari hasil wawancara diperoleh keterangan

bahwa secara umum siswa termotivasi dalam belajar.

F. Kerangka Berpikir

Catatan adalah instrumen penting dalam belajar pada seluruh jenjang

pendidikan. Dengan catatan siswa akan lebih mudah mengingat apa

yang
disampaikan guru. Dahulu sebelum tugas pendidik beragam seperti sekarang,

banyak guru yang menempatkan aktivitas memeriksa catatan sebagai

kegiatan untuk mengukur kesungguhan siswa belajar. Namun, setelah

pendidik makin sibuk dengan kewajiban mengelola administrasi

pembelajaran dan semakin variatifnya sumber belajar yang digunakan siswa,

banyak sekolah yang kurang peduli terhadap catatan siswa dan kurang

menyadari betapa pentingnya catatan bagi siswa dalam mengingat materi

yang diajarkan.

Mind Map atau pemetaan pikiran merupakan satu bentuk metode

belajar yang efektif untuk memahami kerangka konsep materi

pelajaran. Sehingga daya ingat siswa terhadap materi yang diajarkan akan

lebih kuat. Hal tersebut tentu akan berakibat pada meningkatnya hasil belajar

siswa.

G. Hipotesis Tindakan

Berdasarkan kerangka berpikir di atas, maka hipotesis tindakan dalam

penelitian ini adalah: Menggunakan pembelajaran metode Mind Map dapat

meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran Matematika kelas V

semester 2 SD Negeri Pasirgunung Selatan 1 Cimanggis tahun pelajaran

2019/2020.
BAB III
METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan kelas (PTK).

Wina Sanjaya (2009:26) PTK diartikan sebagai proses pengkajian masalah

pembelajaran di dalam kelas melalui refleksi diri dalam upaya untuk

memecahkan masalah tersebut dengan cara melakukan berbagai tindakan

yang terencana dalam situasi nyata serta menganalisis setiap pengaruh

dari perlakuan tersebut. Selanjutnya Suharsimi Arikunto (2007:3) Penelitian

Tindakan Kelas merupakan suatu pencermatan terhadap kegiatan belajar

berupa sebuah tindakan, yang sengaja dimunculkan dan terjadi di dalam

sebuah kelas secara bersama.

Dari pengertian Penelitian Tindakan Kelas di atas, Penelitian ini

dilakukan untuk meningkatkan hasil belajar matematika melalui metode

Mind Map. Artinya dalam penelitian ini terdapat proses kegiatan guru dan

siswa untuk meningkatkan pembelajaran ke arah yang lebih baik.

Model penelitian yang dipilih adalah model siklus yang dilakukan

secara berulang dan berkelanjutan (Siklus Spiral) artinya pembelajaran yang

semakin lama semakin meningkat hasil belajarnya (mampu mengatasi

masalah yang muncul di kelas).

B. Setting Penelitian

Suharsimi Arikunto (2007:39) setting penelitian menjelaskan tentang

lokasi dan gambaran tentang kelompok subjek yang dikenai tindakan. Jenis

penelitian yang dilakukan adalah Penelitian Tindakan Kelas

yang
dilaksanakan di SD Negeri Pasirgunung Selatan 1 pada semester 2 tahun

ajaran 2019/2020 tepatnaya bulan Maret-Agustus 2020 dengan rincian

sebagai berikut :

Tabel 1: Jadwal Penelitian

No. Kegiatan Waktu Pelaksanaan


1. Penyusunan Proposal Minggu pertama Maret
2020 sampai minggu ke empat
April 2020
2. Penyempurnaan Proposal Minggu pertama bulan Mei 2020
3. Pelaksanaan Peneltian
a. Pengumpulan data Minggu kedua bulan Mei 2020
b. Tindakan siklus I Minggu ketiga bulan Mei 2020
c. Tindakan siklus II Minggu keempat bulan Mei 2020
4. Pengolahan dan Minggu pertama bulan
analisis data Juni 2020
5. Penyusunan dan Revisi Minggu kedua bulan Juni 2020
laporan

C. Subjek dan Objek Penelitian

Suharsimi Arikunto (2005:99) subjek penelitian adalah benda, hal,

atau orang tempat variabel penelitian melekat. Subjek Penelitian ini adalah

siswa kelas V SD Negeri Pasirgunung Selatan 1. Sedangkan objek dari

penelitian ini adalah proses penerapan metode Mind Map (peta pemikiran)

pada pembelajaran matematika siswa kelas V SD Negeri Pasirgunung Selatan

1.
D. Desain Penelitian

Desain penelitian digunakan untuk mendapatkan gambaran yang jelas

tentang penelitian yang akan peneliti laksanakan. Desain penelitian

yang digunakan menunjukkan pada proses pelaksanaan penelitian yang

dikemukakan oleh Kemmis dan Taggart dalam Suharsimi Arikunto (2008:84)

yang menggunakan siklus sistem spiral, yang masing-masing siklus terdiri

dari rencana, tindakan, observasi, dan refleksi. Komponen tersebut

merupakan rangkaian dalam satu siklus dan jumlah siklus yang dilakukan

tergantung permasalahan yang diselesaikan.

Adapun skema alur tindakan dapat dilihat seperti berikut:

Siklus 1

Perencanaan

Tindakan

Refleksi

Siklus 2

Perencanaan

Tindakan

Refleksi

Gambar 1. Proses Penelitian Tindakan


(Suharsimi Arikunto,2002:84)

Skema ini dapat berlanjut ke siklus selanjutnya bila target yang

ditetapkan belum tercapai secara maksimal.


E. Tahap Penelitian
1. Siklus I

a. Perencanan

Suharsimi Arikunto (2007:75) tahapan perencanaan terdiri dari

kegiatan sebagai berikut:

Mengidentifikasi dan menganalisis masalah, yaitu secara jelas

dapat dimengerti masalah apa yang akan diteliti.

1) Menetapkan alasan mengapa penelitian tersebut dilakukan.

2) Merumuskan masalah secara jelas.

3) Menetapkan cara yang akan dilakukan untuk menemukan

jawaban, berupa hipotesis tindakan.

4) Menentukan cara untuk menguji hipotesis tindakan.

5) Membuat secara rinci rancangan tindakan.

Dalam Penelitian ini perencanaan meliputi pengidentifikasian dan

penganalisisan masalah serta menetapkan tindakan pemecahannya.

Beberapa kegiatan yang dilakukan dalam observasi awal untuk

mengidentifikasi masalah yaitu menganalisis nilai mata pelajaran

matematika siswa kelas V SD Negeri Pasirgunung Selatan 1 tahun

pelajaran 2019/2020. Berdasarkan analisis terhadap masalah yang

ditemukan kemudian ditentukan metode yang akan digunakan yaitu melalui

pemanfaatan metode Mind Map.

Langkah-langkah persiapan selanjutnya adalah membuat skenario

pembelajaran dengan menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)

yang di dalamnya memuat metode “Mind Map”

Adapun Rincian rancangan tindakannya adalah sebagai berikut :


1. Identifikasi masalah

Setelah melakukan observasi, peneliti mengidentifikasi masalah

yang ada di kelas V SD N Pasirgunung Selatan 1. Dari beberapa

masalah yang ditemukan, peneliti dan guru memilih satu masalah

yaitu tentang rendahnya rata-rata nilai ujian tengah semester dan

ujian akhir semester mata pelajaran Matematika. Karena

masalah ini kami anggap sangat penting untuk segera

diselesaikan dan dengan menyelesaikan masalah yang satu ini,

kami berharap masalah yang lain juga ikut terselesaikan.

2. Menentukan strategi pembelajaran yang akan digunakan untuk

meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa dalam

pembelajaran matematika di kelas V SDN Pasirgunung Selatan 1.

3. Peneliti dan guru sebagai kolaborator menyiapkan materi yang

akan dibahas dalam pertemuan pada waktu penelitian dilaksanakan.

4. Menyiapkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran yang didesain

sesuai dengan penerapan metode Mind Map.

5. Meyiapkan lembar observasi yang akan digunakan peneliti untuk

mengamati proses pembelajaran dan aktivitas siswa di kelas.

6. Memberikan penjelasan kepada guru sebagai kolaborator tentang

metode Mind Map dan menjelaskan point-point penting yang harus

dikerjakan guru dalam proses pembelajaran.


b. Tindakan

Suharsimi Arikunto (2010:139) pelaksanaan tindakan merupakan

implementasi atau penerapan isi rancangan. Pada tahap ini proses

pembelajaran dilakukan sesuai dengan rencana yang sudah disusun yaitu

pembelajaran Matematika dengan menggunakan metode Mind Map.

Adapun rinciannya adalah sebagai berikut :

1) Melaksanakan tindakan sesuai dengan rencana yang telah

disusun pada tahap perencanaan tindakan seperti langkah-

langkah pembelajaran, sesuai dengan silabus dan RPP.

2) Menerapkan metode Mind Map dalam pembelajaran

matematika.

3) Mengadakan evaluasi belajar terkait dengan meningkatkan

hasil belajar siswa.

4) Menggunakan instrument penelitian yang telah dibuat sebagai

alat pengukur untuk melihat dan merekam atau mencatat

aktivitas siswa ketika metode Mind Map diterapkan dalam

kegiatan pembelajaran.

c. Pengamatan (observasi)

Suharsimi Arikunto (2007:78) peneliti melakukan pengamatan dan

mencatat semua hal yang diperlukan dan terjadi selama pelaksanaan

tindakan berlangsung.

Pada penelitian ini peneliti dibantu oleh satu orang observer bernama

Galuh Ayuningtyas untuk melaksanakan observasi terhadap pelaksanaan


tindakan untuk mengetahui sejauh mana efek dari tindakan pembelajaran

dengan metode ”Mind Map”. Observasi dilaksanakan bersamaan

pelaksanaan tindakan dengan menggunakan lembar observasi yang

telah dibuat. Aspek-aspek yang diamati adalah keaktivan siswa dan kinerja

guru selama proses pembelajaran berlangsung serta hasil tes pada akhir

siklus. Hasil analisis data yang dilaksanakan dalam tahap ini digunakan

sebagai acuan untuk melaksanakan siklus berikutnya. Langkah-langkah

observasi yang akan dilakukan antara lain :

1) Melakukan pemantauan (observasi) terhadap setiap langkah

sesaui dengan rencana.

2) Melakukan pengamatan proses pembelajaran matematika

dengan menggunakan metode Mind Map dengan sasaran

pengamatan: a) memahami masalah, b) merencanakan

pemecahan masalah dengan menggunakan Mind Map, c)

menyelesaikan masalah dengan Mind Map dan d) memeriksa

kembali hasil yang diperoleh sebagai refleksi.

d. Refleksi

Hopkins dalam Suharsimi Arikunto (2007:80) refleksi dalam PTK

mencakup analisis, sintesis dan penilaian terhadap hasil pengamatan atas

tindakan yang [Link] terdapat masalah dari proses refleksi maka

dilakukan prosespengkajian ulang melalui siklus berikutnya yang meliputi

kegiatan : perencanaan ulang, tindakan ulang, dan prengamatan ulang

sehingga permasalahan dapat teratasi.


Hasil dari observasi yang meliputi aktivitas siswa selama proses

belajar mengajar, hasil tes pada akhir siklus juga kendala-kendala

yang dihadapi selama kegiatan pembelajaran dikumpulkan serta dikaji

sehingga diperoleh hasil refleksi kegiatan untuk mengetahui perubahan

yang terjadi selama menerapkan pembelajaran ini. Hasil analisis data yang

dilaksanakan dalam tahap ini digunakan sebagai acuan untuk melaksanakan

siklus berikutnya. Secara rinci kegiatan refleksi dari siklus ini antara lain :

1) Catatan di lapangan sebagai hasil pengamatan.

2) Mengkaji data yang terkumpul secara komprehensif.

3) Melakukan diskusi dengan guru kelas serta menganalisis

kelemahan dan keberhasilan guru dalam penerapan metode

Mind Map dalam pembelajaran matematika

4) Menganalisis hasil belajar siswa dalam pembelajaran

matematika.

5) Hasil refleksi dijadikan bahan untuk merevisi rencana tindakan

selanjutnya.

6) Kolaborator memberikan masukan dan bersama-sama dengan

peneliti melakukan langkah-langkah perbaikan untuk

dilaksanakan pada siklus berikutnya.


2. Siklus II

Setelah dilakukan siklus I apabila belum mencapai target maka

dilaksanakan siklus II dengan tahap-tahap yang serupa dengan siklus [Link]

pada siklus II sama dengan pada siklus I yaitu meliputi perencanaan,

pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi.

F. Teknik Pengumpulan Data

Suharsimi Arikunto, (2005:100) teknik pengumpulan data adalah cara

yang digunakan oleh peneliti untuk memperoleh data yang dibutuhkan.

Dalam penelitian ini teknik pengumpulan data dilakukan dengan 3

macam yaitu observasi, tes dan dokumentasi.

G. Instrumen Penelitian

Suhasimi Arikunto, (2005:101) mengemukakan bahwa instrumen

merupakan alat bantu yang dipilih dan digunakan oleh peneliti dalam

kegiatannya mengumpulkan data. Dalam penelitian ini instrument penelitian

yang digunakan dalam penelitian ini sebelum terapkan terleih dahulu

dilakukan pengujian validitas. Adapun hasil dari pengujian validitas ini

adalah dengan meminta pendapat dosen ahli sebagai validator expert

judgement. Mekanismenya instrumen yang digunakan dikonstruksi tentang

aspek yang akan diukur dengan berlandaskan pada teori tertentu. Ahli

mengarahkan agar instrumen diperbaiki dalam menyeimbangkan pernyataan

dan pertanyaan. Setelah ahli memberikan persetujuan dengan membubuhkan

tanda tangan dalam surat keterangan expert judgement maka instrumen

penelitian tersebut
dapat digunakan. Adapun teknik pengumpulan data yang akan digunakan

yang terdiri sebagai berikut :

1. Observasi

Nana Syaodih Sukmadinata(2005:220) observasi atau pengamatan

merupakan suatu teknik atau cara mengumpulkan data dengan jalan

mengadakan pengamatan terhadap kegiatan yang sedang berlangsung.

Instrumen yang digunakan selama pengamatan adalah lembar observasi

yang berisi kisi-kisi pengamatan agar pencatatan pengamatan lebih

sistematis. Lembar observasi meliputi pengamatan terhadap siswa

berbagai aktivitas belajar baik di dalam kelas maupun di luar kelas.

Observasi dilakukan oleh peneliti dan mitra peneliti dengan menggunakan

pedoman observasi yang telah disiapkan. Adapun lembar observasi yang

digunakan dalam penelitian ini sebelumnya telah dilakukan expert

judgement. Sedangkan kisi-kisi atau pedoman observasi yang digunakan

dalam penelitian ini adalah :

Tabel 1. PEDOMAN OBSERVASI PELAKSANAAN PEMBELAJARAN


MATEMATIKA DENGAN METODE MIND MAP
No. Aspek yang diamati Indikator Ya tidak Keterangan

Memahami Masalah Menyederhana


. kan masalah
dengan
menuliskan
yang diketahui
dan yang
ditanyakan
dari soal
Merencanakan Merencanaka
. Pemecahan Masalah n masalah
secara kreatif
Menyelesaikan Menyelesaikan
. Masalah sesuai pemecahan
Rencana masalah yang
berkaitan
dengan bangun
datar dan
bangun ruang
sederhana
dengan
perhitungan
yang tepat
Memeriksa kembali Memeriksa
Hasil yang diperoleh kembali hasil
. yang diperoleh

2. Tes

Suharsimi Arikunto (2006:150) Tes adalah serentetan pertanyaan

atau pelatihan serta alat lain yang digunakan untuk mengukur

keterampilan, pengetahuan intelegensi, kemampuan atau bakat

yang dimiliki individu atau kelompok. Instrumen ini digunakan untuk

mengukur hasil belajar siswa melalui kegiatan penilaian proses yang

dilakukan setiap akhir siklus penelitian. Ety Syarifah (2010:81)

mengungkapkan, tes hasil belajar dapat menggunakan bentuk objektif dan

subjektif. Dalam penelitian ini yang akan diberikan adalah tes objektif

yang telah divalidasi oleh validator dengan cara expert judgement

sebelum instrumen digunakan dengan kisi-kisi sebagai berikut :


Tabel 2. Kisi-kisi Instrumen

SK : Memahami sifat-sifat bangun dan hubungan antar bangun .

Kompetensi Dasar Indikator Jumlah Soal Nomor Soal

- Mengidentifikasi - Mampu menentukan 7 1, 2, 3, 4, 5,


sifat-sifat sifat-sifat bangun 6, 7,
bangun ruang ruang
- Mampu menentukan 3 8,9,10
hubungan antar
bangun

- Menentukan - Mampu membuat


jaring-jaring jaring-jaring berbagai 10 1, 2, 3, 4, 5
berbagai bangun bangun ruang ,6, 7, 8, 9, 10
ruang sederhana sederhana

3. Dokumentasi

Dokumentasi digunakan untuk memperkuat data yang diperoleh

dalam observasi. Dokumentasi dalam penelitian ini berupa nilai Ulangan

Matematika siswa kelas V SD N Tamanagung 4. Untuk memberi

gambaran secara konkret mengenai kegiatan pembelajaran digunakan

dokumentasi foto.

H. Teknik Analisis Data

Metode analisis data yang digunakan dala penelitian ini adalah

secara kualitatif dan kuantitatif.

1. Analisis Kuantitatif

Analisis Kuantitatif dilakukan untuk menganalisis data yang

diperoleh dari hasil tes secara tertulis. Hasil analisis tes secara kuantitatif

dihitung secara prosentase dengan langkah-lngkah sebagai berikut:


a. Merekap nilai yang diperoleh siswa

b. Menghitung nilai masing-masing

aspek c. Menghitung nilai rata-rata

Untuk menghitung nilai rata-rata kelas digunakan rumus

sebagai berikut :
∑‫ݔ‬
Nilai rata-rata = , dimana ∑ ‫= ݔ‬jumlah skor dan
n=banyaknya ݊

subyek yang memiliki nilai, x = Nilai mentah yang dimiliki

subjek. (Suharsimi Arikunto. 2005:262)

Sedangkan pedoman yang digunakan untuk menggolongkan nilai

rata-rata tersebut ke dalam kategori sangat rendah, rendah, cukup, atau

tinggi digunakan pedoman sebagai berikut :

Table 3. Penggolongan Nilai Rata-rata Kelas

No Persentase Kategori

1. 76≤ nilai rata-rata ≤ 100 Tinggi

2. 51≤ nilai rata-rata ≤ 75 Cukup

3. 26≤ nilai rata-rata ≤ 50 Rendah

4. 0≤ nilai rata-rata ≤ 25 Sangat rendah

Adapun Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang ditetapkan

pada mata pelajaran matematika Kelas V SD N Pasirgunung Selatan 1

adalah 62.

d. Menghitung persentase nilai

Nilai dihitung dengan menggunakan persentase atau disebut

percentages correction yaitu sebagai berikut:


NP =ܵ‫ ܯ‬x 100

NP : Nilai presentase yang dicari

R : Skor yang diperoleh siswa

SM : Skor maksimum ideal dari tes yang bersangkutan

100 : Bilangan tetap

e. Menghitung data observasi

Pedoman Observasi digunakan untuk mengetahui pelaksanaan

pembelajaran. Pernyataan dalam pedoman observasi mempunyai dua

alternatif jawaban yaitu’ya’ dan ‘tidak’.

Setelah semua butir pernyataan terisi semua maka langkah

selanjutnya adalah memberi skor setiap butir. Jika ‘ya’ maka butir

tersebut diberi skor 1 dan jika ‘tidak’ maka diberi skor 0. Kemudian

dihitung persentasenya sebagai berikut :


݈݁‫ݕ݊݃ ݅݀݌݁ݎ݋‬
ܽ ‫ݏ݋ ݎ‬ ݇ ℎ
P= ݈݅݉ܽ‫ݏ݋ݎ ܽ݉݇ݏ‬݇
x 100%

Persentase yang diperoleh kemudian dikategorikan

berdasarkan pedoman sebagai berikut :

Tabel 4. Kriteria hasil observasi


No Persentase Kategori

1. 76%≤ p ≤ 100% Tinggi

2. 51%≤ p ≤ 75% Cukup

3. 26%≤ p ≤ 50% Rendah

4. 0%≤ p ≤ 25% Sangat rendah


2. Analisis Kualitatif

Analisis data secara kualitatif dilakukan untuk menganalisis data

nontes yang diperoleh dari siswa selama proses pembelajaran

berlangsung. Untuk memperoleh data nontes dari responden,

digunakan lembar observasi dan dokumentasi.

Analisis data secara kualitatif ini digunakakn untuk

mengetahui perubahan perilaku siswa. Selain itu data nontes juga

digunakan untuk mengetahui tanggapan siswa terhadap kegiatan

pembelajaran.

Analisis data secara kualitatif dilakukan dengan langkah-langkah

sebagai berikut:

a. Menelaan seluruh data yang diperoleh dari hasil

nontes. b. Menyusun dalam satuan-satuan

c. Mengkategorisasikan

I. Kriteria Keberhasilan Tindakan

Komponen-komponen yang menjadi kriteria keberhasilan

dalam penelitian ini antara lain :

1. Hasil belajar siswa dalam pembelajaran matematika minimal meningkat

pada kategori “tuntas” yaitu jika nilai yang diperoleh siswa ≥ 62 setelah

diterapkan pembelajaran matematika dengan metode Mind Map.

2. Aspek pada lembar observasi pembelajaran matematika terpenuhi yang

ditandai dengan kriteria hasil observasi pada rentang cukup.


BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Deskripsi Lokasi Penelitian

Penelitian Tindakan Kelas ini dilakukan di kelas V SD Negeri

Pasirgunung Selatan 1 Kecamatan Cimanggis Kota Depok pada tahun ajaran

2019/2020 dengan jumlah siswa 37 orang. Suasana kelas V sangat

mendukung untuk diterapkan Metode Mind Map. Hal ini ditandai dengan

suasana kelas yang cukup kondusif dan tersedia sarana prasarana yang

memadai untuk diterapkannya metode tersebut antara lain papan tulis, media

pembelajaran, dan lain-lain.

Dengan kondisi kelas yang demikian peneliti berasumsi bahwa

metode Mind Map sesuai bila diterapkan di Kelas V SD Negeri Pasirgunung

Selatan 1. Dengan fasilitas yang cukup memadai tentunya metode Mind

Map bisa diterapkan dengan variasi yang lebih baik. Untuk itu peneliti

memilih kelas V SD Negeri Pasirgunung Selatan 1 sebagai subjek penelitian

dan penerapan metode Mind Map (peta pemikiran) pada pembelajaran

matematika siswa kelas V SD Negeri Pasirgunung Selatan 1. sebagai objek

Penelitian.

B. Deskripsi Awal Siswa Sebelum Tindakan

Pemilihan Kelas V sebagai subjek penelitian dengan alasan bahwa:

(1) memiliki karakterstik berupa hasil belajar Matematika yang lebih

rendah dibanding lima mata pelajaran yang lain, (2) hasil pengamatan

sekaligus diskusi dengan kolaborator terhadap siswa yang masih rendah

dalam pelajaran Matematika, sehingga diperlukan upaya meningkatkan mutu

pembelajaran melalui metode yang variatif.


4
Obyek penelitian adalah keseluruhan proses pada penerapan metode

Mind Map (peta pemikiran) pada pembelajaran matematika siswa kelas V

SD Negeri Pasirgunung Selatan 1. Penelitian tindakan kelas dilaksanakan

pada bulan Mei 2020 sampai selesai, yaitu didapatkan target hasil belajar

dengan penerapan pembelajaran Mind Map pada pelajaran Matematika

semua siswa tuntas. Adapun batas ketuntasan pada penelitian ini ditentukan

>62 dengan rentang skor 0 sampai 100.

Sebelum melakukan penelitian, terlebih dahulu melakukan observasi

secara langsung. Adapun kegiatan sebelum penelitian tindakan kelas

terperinci pada tabel di bawah ini.

Tabel 5. Kegiatan sebelum penelitian

No. Waktu Kegiatan


1  Melakukan observasi kegiatan
Sabtu,9 Februari
pembelajaran di Kelas V SD N
2020
Pasirgunung Selatan 1

2  Bertanya kepada guru tentang hasil


belajar matematika kelas V
Senin,11 Februari
 Menjelaskan rencana penelitian dengan
2020
metode Mind Map kepada guru yang
bersangkutan

Dari hasil observasi di SD Negeri Pasirgunung Selatan 1, kegiatan

pembelajaran matematika di kelas V dengan materi menjumlahkan dan

mengurangkan berbagai bentuk pecahan diperoleh bahwa pembelajaran

matematika dilaksanakan dengan metode konvensional. Hal ini menjadikan

siswa kurang tertarik dengan materi pembelajaran yang disampaikan. Ketika

materi pembelajaran disampaikan guru sebagian siswa yang tidak

memperhatikan, bahkan ada yang sesekali membuat gaduh.

4
Saat proses pembelajaran berlangsung guru berkeliling memeriksa

dan membimbing para siswa. Guru bertanya kepada siswa sudah paham

atau belum materi pelajaran yang diberikan kepada siswa. Namun sebagian

besar siswa hanya diam dan tidak mengemukakan jawabannya. Siswa

cenderung malu untuk bertanya jika siswa mengalami kesulitan dalam

pembelajaran. Selain itu, ketika siswa diberi soal latihan tidak semua

siswa mengerjakan soal atau tugas yang diberikan oleh guru. Sebagian

hanya mencatat pekerjaan teman yang telah dikerjakan di white board.

Berdasarkan observasi yang telah dilakukan, peneliti bermaksud

untuk melakukan penelitian terhadap hasil belajar matematika dengan

metode Mind Map pada siswa kelas V SD Negeri Pasirgunung Selatan 1.

Untuk mengukur hasil belajar siswa kelas V dilakukan dengan

memberikan tes pra tindakan. Adapun Tabulasi data kondisi awal nilai

kompetensi Mengidentifikasi sifat-sifat bangun datar. secara ringkas

disajikan pada tabel berikut ini.

Tabel 6
Nilai Kondisi Awal
Kompetensi Mengidentifikasi sifat-sifat bangun ruang sederhana Siswa Kelas
V
SD Negeri Pasirgunung
Selatan 1

Nilai Ketuntasan
No responden Pre-test (>62)
1 70 Tuntas
2 60 Tidak Tuntas
3 40 Tidak Tuntas
4 80 Tuntas
5 70 Tuntas
6 50 Tidak Tuntas
7 60 Tidak Tuntas
8 50 Tidak Tuntas

4
Nilai Ketuntasan
No responden
Pre-test (>62)
9 70 Tuntas
10 50 Tidak Tuntas
11 50 Tidak Tuntas
12 50 Tidak Tuntas
13 60 Tidak Tuntas
14 60 Tidak Tuntas
15 90 Tuntas
16 50 Tidak Tuntas
17 60 Tidak Tuntas
18 60 Tidak Tuntas
19 60 Tidak Tuntas
20 70 Tuntas
21 50 Tidak Tuntas
22 50 Tidak Tuntas
23 60 Tidak Tuntas
24 50 Tidak Tuntas
25 80 Tuntas
26 60 Tidak Tuntas
27 60 Tidak Tuntas
28 70 Tuntas
29 70 Tuntas
30 70 Tuntas
31 70 Tuntas
32 70 Tuntas
34 40 Tidak Tuntas
35 40 Tidak Tuntas
36 60 Tidak Tuntas
37 60 Tidak Tuntas

Ketuntasan kompetensi Mengidentifikasi sifat-sifat bangun ruang

sederhana sebelum dilakukan tindakan kelas, secara visual disajikan pada grafik

berikut ini:

4
Tuntas
32,4%

Tidak Tuntas
67,6%

Gambar 2
Kentuntasan Kompetensi (Kondisi Awal)
Siswa Kelas V SD Negeri Pasirgunung
Selatan 1

Berdasarkan tabel dan histogram di atas menunjukkan bahwa dari 37

siswa kelas V SD Negeri Pasirgunung Selatan 1 sebagai subjek penelitian,

hanya 12 (32,4%) yang tuntas dalam kompetensi Mengidentifikasi sifat-sifat

bangun ruang sederhana dan 25 (67,6%) belum tuntas dalam kompetensi

mengidentifikasi sifat-sifat bangun ruang sederhana. Hal ini menunjukkan

bahwa mayoritas siswa (67,6%) belum tuntas dalam kompetensi

Mengidentifikasi sifat-sifat bangun ruang sederhana pada mata pelajaran

Matematika.

Berdasarkan kesepakatan dengan guru yang bersangkutan, penelitian

dilakukan sesuai dengan jam pelajaran matematika kelas V. Adapun jadwal

penelitian sebagai berikut:

4
Tabel 7 Jadwal Pelajaran Matematika Kelas V

Hari Pertemuan ke- Waktu


Senin 1-2 09.15 – 10.20
Rabu 3-4 09.15 – 10.20
Sabtu 6-7 10.20 – 11.45
C. Implementasi Mind Map dalam Pembelajaran Matematika

Metode Mind Map adalah metode yang dirancang oleh guru untuk

membantu proses belajar siswa, menyimpan informasi berupa materi

pelajaran yang diterima oleh siswa, dan membantu siswa menyusun inti-inti

yang penting dari materi pelajaran kedalam bentuk peta atau grafik.

Penelitian tindakan kelas dimulai dari tanggal Rabu, 22 Mei 2020.

Penelitian dilaksanakan pada 2 siklus dengan waktu penelitian disajikan

dalam tabel berikut:

Tabel 8 Waktu Pelaksanaan Penelitian

Siklus
Hari/ tanggal Keterangan
Ke
 Siswa mengidentifikasi sifat-sifat bangun
ruang sederhana.
Rabu, 22 Mei  Siswa membuat catatan materi
2020 mengidentifikasi sifat-sifat bangun
ruang
I sederhana dengan Metode Mind Map
 Siswa mengerjakan LKS
 Siswa mengulang materi siklus pertama
Sabtu, 25 Mei secara ringkas
2020
 Siswa mengerjakan soal evaluasi siklus I

 Siswa mempelajari materi Menentukan


jaring-jaring berbagai bangun ruang
Senin, 27 Mei sederhana
II  Siswa membuat catatan materi
2020
Menentukan jaring-jaring berbagai
bangun ruang sederhana dengan Metode

4
Siklus
Hari/ tanggal Keterangan
Ke
Mind Map
 Siswa mengerjakan LKS yang diberikan
menggunakan metode Mind Map.
 Siswa mengulang materi menentukan
Rabu, 29 Mei jaring-jaring bangun ruang sederhana
2020 secara ringkas
 Siswa mengerjakan soal evaluasi siklus II
 Tes akhir Siklus II
1. Kegiatan Pada Siklus 1

a. Perencanaan Tindakan

Sebelum pelaksanaan tindakan menggunakan Metode Mind

Map, peneliti terlebih dahulu mempersiapkan instrumen yang akan

digunakan dalam pelaksanaan tindakan. Adapun hal-hal yang peneliti

lakukan antara lain:

1) Mempersiapkan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) tentang

materi mengidentifikasi sifat-sifat bangun ruang sederhana yang

akan diajarkan pada siklus I sesuai Metode Mind Map.

2) Mempersiapkan LKS yang akan digunakan dalam pelaksanaan

pembelajaran.

3) Menyusun tes akhir siklus I untuk mengetahui hasil belajar

setelah dilaksanakan pembelajaran menggunakan Metode Mind

Map.

b. Pelaksanaan Tindakan

Pelaksanaan siklus I dimulai pada hari Rabu 22 Mei 2020.

Dalam pelaksanaannya guru kelas berlaku sebagai pendamping dan

peneliti sebagai guru.

4
Kegiatan pembelajaran dilaksanakan sesuai dengan rencana

pelaksanaan yang telah disusun sebelumnya, yaitu dengan

menerapkan Metode Mind Map.

Pertemuan pertama pada siklus I diawali dengan pengarahan

peneliti. Pada pertemuan ini, peneliti menginformasikan tujuan

pembelajaran, langkah pembelajaran dengan menggunakan metode

Mind Map. Kemudian peneliti menjelaskan materi mengenai

mengidentifikasi sifat-sifat bangun ruang sederhana. Materi ini

disampaikan menggunakan metode Mind Map. Siswa berkreasi dalam

mencatat materi pembelajaran bangun ruang menggunakan metode

Mind Map. Catatan Mind Map siswa satu sama lain berbeda

tergantung kreativitasnya masing-masing. Selanjutnya siswa

mengerjakan LKS yang diberikan Guru (peneliti).

Pada pertemuan kedua, siswa melakukan Tanya jawab materi

mengidentifikasi sifat-sifat bangun ruang sederhana yang

telah dibahas pada pertemuan pertama. Setelah itu, peneliti

memberikan soal evaluasi siklus I dan meminta siswa untuk

mengerjakannya.

c. Refleksi

Setelah dilaksanakan perencanaan dan pelaksanaan dilakukan

Refleksi terhadap pembelajaran Matematika menggunakan metode

Mind Map. Refleksi merupakan analisis kendala dan permasalahan

yang ditemukan di siklus I agar dalam siklus II dapat diatasi dengan

4
perencanaan yang dapat mengatasi masalah tyang ditemukan.

Adapun

4
permasalahan-permasalahan yang muncul ketika

dilaksanakan tindakan siklus I antara lain:

1) Siswa merasa takut dan malu bertanya dan menyampaikan

jawabannya. Hanya ada beberapa siswa yang aktif menjawab

pertanyaan dan siswa lain hanya bersedia jika ditunjuk oleh guru.

2) Siswa merasa bosan karena harus terus memperhatikan papan tulis

dan tidak aktif dalam proses pembelajaran

3) Siswa belum cukup memahami konsep-konsep materi yang

diajarkan.

4) Siswa kurang tertarik dengan catatan Mind Map yang di berikan

peneliti.

Berdasarkan refleksi di atas, guru dan peneliti sepakat untuk

melakukan perbaikan pembelajaran. Adapun alternatif tindakan pada

siklus II adalah sebagai berikut:

1) Guru melakukan pendekatan dengan siswa dan selalu memberikan

motivasi, arahan dan perhatian kepada siswa

2) Guru memberikan tugas kepada siswa untuk membuat catatan

sendiri dengan Metode Mind Map

3) Guru menyampaikan materi dengan bahasa-bahasa yang

mudah dimengerti siswa, sehingga siswa benar-benar mengerti

konsep dasar dalam materi menentukan jaring-jaring bangun

ruang sederhana.

5
4) Guru memanfaatkan penggunaan alat tulis dengan variasi warna

agar menarik perhatian siswa

2. Kegiatan Pada Siklus 2

a. Perencanaan Tindakan

Sebelum pelaksanaan tindakan pada siklus 2 dengan

menggunakan Metode Mind Map, peneliti terlebih dahulu

mempersiapkan instrumen yang akan digunakan dalam pelaksanaan

tindakan. Adapun hal-hal yang peneliti lakukan antara lain:

1) Mempersiapkan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) tentang

materi menggunakan konsep himpunan dalam pemecahan masalah

yang akan diajarkan pada siklus II sesuai Metode Mind Map.

2) Mempersiapkan LKS yang akan digunakan dalam pelaksanaan

pembelajaran.

3) Menyusun tes akhir siklus II untuk mengetahui hasil belajar

setelah dilaksanakan pembelajaran menggunakan Metode Mind

Map.

4) Menyiapkan spidol dengan beragam warna

b. Pelaksanaan Tindakan

Pelaksanaan siklus II dimulai pada hari Senin,27 Mei 2020.

Dalam pelaksanaannya guru Kelas berlaku sebagai pendamping dan

peneliti sebagai guru.

Kegiatan pembelajaran dilaksanakan sesuai dengan rencana

pelaksanaan yang telah disusun sebelumnya, yaitu dengan

menerapkan Metode Mind Map.

5
Pertemuan pertama pada siklus II diawali dengan pengarahan

peneliti. Pada pertemuan ini, peneliti menginformasikan tujuan

pembelajaran, langkah pembelajaran dengan menggunakan metode

Mind Map. Kemudian peneliti menjelaskan materi menggunakan

Mind Map. Materi ini disampaikan dengan ceramah dan tanya jawab.

Pada pertemuan kedua, siswa diajak membuat catatan materi

yang telah dibahas pada pertemuan pertama dengan Metode

Mind Map yang menggunakan variasi warna pada tulisan yang

disajikan. Setelah itu, peneliti memberikan LKS dan meminta siswa

untuk menyelesaikannya. Dengan LKS yang diberikan, diharapkan

siswa memahami materi yang telah disampaikan. Pada akhir

pertemuan siswa diberikan soal evaluasi siklus II untuk mengetahui

peningkatan hasil belajar siswa dari siklus I

c. Refleksi

Setelah tindakan yang dilakukan pada siklus II berakhir,

peneliti dan guru mengkaji kembali data yang telah diperoleh selama

proses pembelajaran berlangsung. Pada siklus II ini guru lebih

mendekatkan diri dengan siswa dan selalu memberikan motivasi,

arahan, dan perhatian kepada siswa. Dengan cara ini, siswa menjadi

tidak malu lagi untuk bertanya kepada guru maupun peneliti sehingga

terjalin kedekatan antara siswa dengan guru dan peneliti.

Guru sebagai human resourches harus mampu menciptakan

suasana belajar yang menyenangkan. Dengan memanfaatkan

metode

5
yang bervariasi dan media belajar yang ada dikelas, siswa dapat

menerima materi yang disampaikan guru dengan perasaan senang.

Tugas dan tanggung jawab guru tidak hanya menyampaikan materi,

tetapi yang paling penting adalah bagaimana caranya agar materi

tersebut dapat diterima siswa, sehingga dapat berguna bagi kehidupan

siswa selanjutnya.

Guru meningkatkan pengawasan pada saat tes berlangsung,

serta memberikan latihan soal pada siswa agar siswa lebih percaya

diri dan tidak melakukan kecurangan dalam mengerjakan tes.

D. Deskripsi Hasil Penelitian

Hasil Penelitian pada pembelajaran Matematika Kelas V SD

Negeri Pasirgunung Selatan 1 setelah diterapkan metode Mind

Map dilihat dari nilai Tes akhir siklus dan data hasil observasi.

1. Siklus I

Pada siklus I ini peneliti mengawali penelitian dengan

mempersiapkan ruang, dan alat yang dibutuhkan untuk menerapkan

metode Mind Map. Selanjutnya peneliti membuka kelas dengan

memberikan apersepsi yang berkaitan dengan partisipasi siswa dalam

pembelajaran yang dilanjutkan dengan pemberian materi mengidentifikasi

sifat-sifat bangun ruang sederhana menggunakan metode Mind Map.

Penyampaian materi tersebut sekaligus memberikan contoh kepada siswa

cara membuat catatan dengan Metode Mind Map. Selanjutnya peneliti

menanyakan kepada siswa mengenai apa yang belum dipahami.

Dengan

5
demikian peneliti tahu apa saja yang masih belum dipahami. Siswa

diberikan LKS setelah semua siswa benar-benar paham dengan

materi yang disampaikan. Dalam LKS siswa diminta mengerjakan dengan

Mind Map. Karena penginformasian kepada siswa yang belum diterima

dengan baik maka masih ada beberapa siswa yang mengerjakan tidak

sesuai dengan arahan. Setelah dilakukan pembahasan peneliti mengulang

materi yang sudah disampaikan agar siswa benar-benar mengerti dengan

materi pembelajaran. Tes siklus I diberikan setelah semua kegiatan

tersebut dilalui untuk mengukur hasil belajar siswa siklus I. Adapun

perhitungan nilai tes siklus 1 dan data hasil observasi dideskripsikan

sebagai berikut;

a. Nilai Test

Untuk mengukur prestasi belajar siswa kelas V SD Negeri

Pasirgunung Selatan 1 dilakukan dengan memberikan tes siklus 1.

Adapun Tabulasi data setelah siklus 1 kompetensi mengidentifikasi

sifat-sifat bangun ruang sederhana, secara ringkas disajikan pada

tabel berikut ini.

Tabel 9
Nilai Tes Siklus 1
Kompetensi Mengidentifikasi sifat-sifat bangun ruang sederhana Siswa Kelas
V
SD Negeri Pasirgunung Selatan 1, Setelah
Siklus I

Nilai Peningkatan
No responden Ketuntasan
Pre-test Siklus I (%)
1 70 80 14,29 Tuntas
2 60 80 33,33 Tuntas
3 40 50 25,00 Tidak Tuntas
4 80 100 25,00 Tuntas

5
5 70 90 28,57 Tuntas
6 50 70 40,00 Tuntas
7 60 90 50,00 Tuntas

5
Nilai Peningkatan
No responden Ketuntasan
Pre-test Siklus I (%)
8 50 60 20,00 Tidak Tuntas
9 70 90 28,57 Tuntas
10 50 100 100,00 Tuntas
11 50 50 0,00 Tidak Tuntas
12 50 80 60,00 Tuntas
13 60 90 50,00 Tuntas
14 60 90 50,00 Tuntas
15 90 90 0,00 Tuntas
16 50 70 40,00 Tuntas
17 60 80 33,33 Tuntas
18 60 90 50,00 Tuntas
19 60 90 50,00 Tuntas
20 70 80 14,29 Tuntas
21 50 70 40,00 Tuntas
22 50 80 60,00 Tuntas
23 60 80 33,33 Tuntas
24 50 70 40,00 Tuntas
25 80 90 12,50 Tuntas
26 60 80 33,33 Tuntas
27 60 80 33,33 Tuntas
28 70 90 28,57 Tuntas
29 70 90 28,57 Tuntas
30 70 80 14,29 Tuntas
31 70 90 28,57 Tuntas
32 70 90 28,57 Tuntas
33 40 50 25,00 Tidak Tuntas
34 40 50 25,00 Tidak Tuntas
35 60 70 16,67 Tuntas
36 60 70 16,67 Tuntas
37 60 90 50,00 Tuntas

Ketuntasan kompetensi mengidentifikasi sifat-sifat bangun ruang

setelah dilakukan tindakan kelas pada siklus I, secara visual disajikan pada

grafik berikut ini:

5
Tidak Tuntas
13,5%

Tuntas
86,5%

Gambar 3
Ketuntasan Kompetensi (setelah siklus 1) Mengidentifikasi sifat-sifat
bangun ruang pada siswa kelas V SD Negeri
Pasirgunung Selatan 1

Berdasarkan tabel dan histogram di atas setelah dilakukan

tindakan kelas dengan penggunaan metode Mind Map pada siklus pertama,

diketahui bahwa dari 37 siswa kelas V SD Negeri Pasirgunung Selatan 1

sebagai subjek penelitian, 32 (86,5%) tuntas dalam kompetensi

mengidentifikasi sifat-sifat bangun ruang dan 5 (13,5%) belum tuntas

dalam kompetensi mengidentifikasi sifat-sifat bangun ruang.

Mengacu pada data yang diperoleh pada Siklus I tindakan kelas

dengan penggunaan metode pembelajaran Mind Map menunjukan hasil

yang cukup signifikan terjadi peningkatan kompetensi mengidentifikasi

sifat-sifat bangun ruang sederhana pada siswa kelas V SD Negeri

Tamanagung 4, dari kondisi awal 32,4% siswa yang tuntas meningkat

5
menjadi 86,5% atau terjadi penurunan siswa yang tidak tuntas, yang tadinya

67,6% siswa tidak tuntas menurun menjadi 13,5% siswa siswa.

Hasil tersebut sudah mencapai target yang diharapkan, akan tetapi

kenaikan tersebut dirasa belum cukup memuaskan karena masih ada siswa

yang belum tuntas dengan KKM atau nilai ketuntasan minimal adalah 62.

b. Hasil Observasi

Berdasarkan observasi yang dilakukan oleh observer sebagai

kolaborator peneliti, menunjukkan bahwa kegiatan pembelajaran pada

siklus pertama berada pada rentang ’kurang’. Dikatakan demikan karena

dari 15 item yang diamati hanya 7 item (46,7%) saja yang sudah terpenuhi.

Hasil ini tentu masih jauh dari batas keberhasilan yaitu pada

rentang ’cukup’. Oleh karena itu, peneliti melakukan persiapan pada

tindakan siklus kedua dengan lebih baik lagi.

2. Siklus II

Pada siklus II ini peneliti mengawali dengan mempersiapkan

ruang, dan alat yang dibutuhkan untuk menerapkan metode Mind Map.

Dalam mengawali siklus II peneliti mengkondisikan siswa sebelum

pembelajaran dimulai. Selanjutnya peneliti membuka kelas dengan

menginformasikan metode yang akan digunakan adalah metode Mind Map

dan memberikan apersepsi yang berkaitan dengan partisipasi siswa dalam

pembelajaran. Dilanjutkan dengan pemelajaran materi menentukan jaring-

jaring berbagai bangun ruang sederhana menggunakan metode Mind Map.

Penyampaian materi tersebut sekaligus memberikan contoh kepada siswa

5
cara membuat catatan dengan Metode Mind Map disertai dengan

mengerjakan contoh-contoh soal yang diberikan guru.

Dalam siklus II ini peneliti memberikan inovasi berupa

penggunaan variasi warna pada catatan Mind Map yang pada siklus I belum

diterapkan. Siswa juga membuat catatan Mind Map sesuai dengan ide dari

siswa dalam buku masing-masing anak. Selanjutnya peneliti menanyakan

kepada siswa mengenai apa yang belum dipahami. Dengan demikian

peneliti tahu apa saja yang masih belum dipahami.

Siswa diberikan LKS setelah semua siswa benar-benar paham

dengan materi yang disampaikan. Dalam LKS siswa diminta mengerjakan

dengan Mind Map yang sebelumnya telah disampaikan kepada siswa cara

pengerjaannya. Selanjutnya siswa secara mengerjakan LKS yang telah

diberikan dengan Mind Map. Pembahasan LKS dilaksanakan ketika semua

siswa telah selesai dalam mengerjakan LKS.

Dari hasil pengerjaan LKS tersebut diketahui bahwa semua siswa

mampu membuat catatan Mind Map. Setelah dilakukan pembahasan LKS

peneliti mengulang materi yang sudah disampaikan agar siswa benar-benar

mengerti dengan materi pembelajaran. Sehingga siswa dapat mengi

dentifikasi sifat-sifat bangun ruang sederhana. Contohnya, siswa mampu

mengidentifikasi bahwa sifat-sifat kerucut adalah alas berbentuk lingkaran

dan mempunyai selimut serta titik puncak. Selanjutnya peneliti dan siswa

menarik kesimpulan dari materi yang telah diberikan mengenai

bangun ruang.

5
Tes siklus II diberikan setelah semua kegiatan tersebut dilalui

untuk mengukur hasil belajar siswa siklus II. Sebelum mengakhiri

pembelajaran peneliti memberikan motivasi kepada siswa untuk selalu

mempertahankan konsistensi dan meningkatkan semangat belajar baik

disekolah ataupun dirumah.

Adapun perhitungan nilai tes akhir siklus 2 dan data hasil

observasi dideskripsikan sebagai berikut;

a. Nilai Test

Untuk mengukur prestasi belajar siswa kelas V SD Negeri

Pasirgunung Selatan 1 dilakukan dengan memberikan tes siklus 2. Adapun

Tabulasi data setelah siklus 2 kompetensi menentukan jaring-jaring bangun

ruang sederhana, secara ringkas disajikan pada tabel berikut ini.

Tabel 10
Nilai Tes Siklus 2
Kompetensi Menentukan Jaring-jaring berbagai bangun ruang sederhana
Siswa
Kelas V SD Negeri Pasirgunung
Selatan 1

No Nilai Peningkatan
Ketuntasan
responden Pre-test Siklus I Siklus II (%)
1 70 80 100 25,00 Tuntas
2 60 80 100 25,00 Tuntas
3 40 50 70 40,00 Tuntas
4 80 100 90 -10,00 Tuntas
5 70 90 90 0,00 Tuntas
6 50 70 70 0,00 Tuntas
7 60 90 90 0,00 Tuntas
8 50 60 90 50,00 Tuntas
9 70 90 100 11,11 Tuntas
10 50 100 80 -20,00 Tuntas
11 50 50 70 40,00 Tuntas
12 50 80 100 25,00 Tuntas
13 60 90 80 -11,11 Tuntas
14 60 90 90 0,00 Tuntas
5
No Nilai Peningkatan
Ketuntasan
responden Pre-test Siklus I Siklus II (%)
15 90 90 90 0,00 Tuntas
16 50 70 80 14,29 Tuntas
17 60 80 90 12,50 Tuntas
18 60 90 80 -11,11 Tuntas
19 60 90 70 -22,22 Tuntas
20 70 80 90 12,50 Tuntas
21 50 70 80 14,29 Tuntas
22 50 80 100 25,00 Tuntas
23 60 80 100 25,00 Tuntas
24 50 70 100 42,86 Tuntas
25 80 90 80 -11,11 Tuntas
26 60 80 80 0,00 Tuntas
27 60 80 90 12,50 Tuntas
28 70 90 70 -22,22 Tuntas
29 70 90 90 0,00 Tuntas
30 70 80 100 25,00 Tuntas
31 70 90 90 0,00 Tuntas
32 70 90 100 11,11 Tuntas
33 40 50 70 40,00 Tuntas
34 40 50 90 80,00 Tuntas
35 60 70 90 28,57 Tuntas
36 60 70 80 14,29 Tuntas
37 60 90 100 11,11 Tuntas

Adapun ketuntasan kompetensi menentukan berbagai jaring-

jaring bangun ruang sederhana setelah dilakukan tindakan kelas pada

siklus II, secara visual disajikan pada grafik berikut ini:

6
Tidak Tuntas
0,0%

Tuntas
100,0%

Gambar 5
Ketuntasan Kompetensi (setelah siklus 2)
Menentukan jaring-jaring berbagai bangun ruang sederhana Siswa Kelas V SD
Negeri Pasirgunung
Selatan 1

Berdasarkan tabel dan histogram di atas setelah dilakukan

tindakan kelas dengan penggunaan metode pembelajaran Mind Map pada

siklus kedua, diketahui bahwa dari 37 siswa kelas V SD Negeri

Pasirgunung Selatan 1 sebagai subjek penelitian, semuanya atau 100%

tuntas dalam kompetensi menentukan jaring-jaring berbagai bangun ruang

sederhana.

Mengacu pada analisis data pada Siklus II tindakan kelas

dengan penggunaan metode Mind Map pada penelitian ini diketahui

bahwa terdapat peningkatan yang signifikan kompetensi mengidentifikasi

sifat- sifat bangun ruang dan menentukan jaring-jaring bangun ruang

sederhana SD Negeri Pasirgunung Selatan 1, dari kondisi awal 13,5%

siswa yang tuntas dan pada siklus satu 86,5% siswa yang tuntas; pada

6
akhir siklus II ini semua (100%) siswa tuntas dalam kompetensi

menentukan jaring-jaring berbagai

6
bangun ruang sederhana. Peningkatan tersebut secara visual disajikan

dalam diagram batang berikut:

100
90
80
70
60 kondisi awal
50
setelah siklus 1
40
setelah siklus 2 setelah siklus 2
30
20 setelah siklus 1
10
0 kondisi awal

persentase
ketuntasan

Hasil hasil tersebut sudah mencapai target yang diharapkan

yakni seluruh siswa (100%) tuntas dalam pembelajaran Matematika

kompetensi menentukan jaring-jaring berbagai bangun ruang sederhana

dengan Metode Mind Map.

b. Hasil observasi

Berdasarkan observasi yang dilakukan oleh observer sebagai

kolaborator peneliti, pada siklus II ini menunjukkan kegiatan pembelajaran

mengalami peningkatan. Pada siklus I hasil observasi berada pada kategori

’kurang’. Sementara hasil observasi pada siklus II ini menunjukkan dari 15

item yang diamati sejumlah 13 item sudah tercapai (86,7%). Dengan

demikian hasil observasi pada siklus II sudah memenuhi target karena berada

pada kategori ’tinggi’.

6
E. Pembahasan

Penelitian tindakan kelas yang telah dilakukan ini menunjukkan

hasil yang meningkat, terbukti metode pembelajaran Mind Map mampu

meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran Matematika kelas V

semester 2 SD Negeri Pasirgunung Selatan 1 tahun pelajaran 2019/2020.

1. Peningkatan Hasil Belajar Matematika

Hasil belajar Matematika kelas V semester 2 SD Negeri

Pasirgunung Selatan 1 pada kondisi awal dengan rata-rata sebesar 60,27.

Rata-rata ini masih dibawah dari ketuntasan (KKM) yang ditentukan,

yaitu 62,00. Pada awal sebelum dilakukan tindakan kelas, sebanyak 25

(67,6%) siswa belum tuntas dalam pembelajaran matematika pada

kompetensi mengidentifikasi sifat-sifat bangun ruang sederhana dan

hanya sebanyak

12 (32,4%) siswa yang tuntas.

Berdasarkan hasil analisis pada data akhir siklus I diperoleh rata-

rata hasil belajar matematika kompetensi mengidentifikasi sifat-sifat

bangun ruang sederhana sebesar 79,46. Angka ini memang sudah di atas

nilai ketuntasan yang ditentukan, yaitu 62. Akan tetapi dari 37 orang

siswa, masih terdapat 5 orang siswa yang belum tuntas pada kompetensi

mengidentifikasi sifat-sifat bangun ruang sederhana. Pada siklus

I perhatian siswa belum sepenuhnya fokus ketika pembelajaran

berlangsung. Ketika diminta untuk bertanya atau mengemukakan

pendapat oleh guru beberapa siswa cenderung diam karena malu. Bahkan

ketika pembelajaran

6
berlangsung ada sebagian anak yang berbuat gaduh dikelas

sehingga mengganggu teman yang lain.

Dilihat dari prosentase peningkatan skor, dari kondisi awal

(sebelum perlakukan tindakan kelas) ke hasil siklus I, meningkat sebesar

33,16%. Peningkatan ini cukup baik, meskipun belum seluruh siswa

tuntas.

Hasil analisis data pada akhir siklus II diperoleh rata-rata hasil

matematika kompetensi menentukan jaring-jaring berbagai bangun ruang

sederhana sebesar 87,30. Dari 37 orang siswa, semuanya (100%)

dinyatakan tuntas pada kompetensi menentukan jaring-jaring berbagai

bangun ruang sederhana kelas V semester 2 SD Negeri Pasirgunung

Selatan 1. Dalam siklus II, terjadi peningkatan kualitas ketika

pembelajaran berlangsung. Pada siklus I yang cenderung tidak fokus

terhadap pembelajaran, di siklus II ini mereka menunjukkan minat

yang bagus terhadap pembelajaran. Siswa lebih aktif dalam bertanya

kepada guru, dan terjadi lebih sedikit kegaduhan di kelas

sewaktu pembelajaran berlangsung di siklus II ini disbanding siklus I.

Dilihat dari peningkatannya, rata-rata terjadi peningkatan dari

pre-test (sebelum tindakan kelas) sebesar 49,01%. Peningkatan ini cukup

signifikan, karena dari 67,6% siswa yang belum tuntas menjadi 100%

siswa tuntas pada kompetensi menentukan jaring-jaring berbagai bangun

ruang sederhana.

6
Selain itu, data observasi pun mengalami peningkatan yang

cukup signifikan. Pada siklus 1 hasil observasi menunjukkan data 46,7%

yakni berada pada kategori ‘sedang’. Sementara hasil olah data observasi

siklus

2 menunjukkan angka 86,7% yakni berada pada kategori ‘tinggi’.

Dari hasil-hasil tersebut di atas, terbukti bahwa metode Mind

Map mampu meningkatkan prestasi belajar pada mata pelajaran

Matematika kelas V semester 2 SD Negeri Pasirgunung Selatan 1 tahun

pelajaran 2019/2020.

F. Keterbatasan Penelitian

Penelitian yang dilakukan pada siswa kelas V SD Negeri

Pasirgunung Selatan 1 telah diupayakan untuk memperoleh hasil yang

maksimal, namun pada kenyataannya masih terdapat kekurangan-kekurangan

yang disebabkan oleh beberapa keterbatasan, diantaranya sebagai berikut:

1) Pembelajaran Matematika dalam penelitian ini masih sebatas

peningkatan hasil belajar siswa dalam ranah kogntif tingkatan

pemahaman atau C2

2) Penilaian Mind Map masih dilakukan secara kurang objektif.

6
BAB V

SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan

Dari penelitian dan pembahasan yang dilakukan pembelajaran

Matematika menggunakan Metode Mind Map dapat meningkatkan hasil

belajar matematika siswa kelas V SD Negeri Pasirgunung Selatan 1

pada tiap siklusnya. Rata-rata peningkatan hasil belajar matematika

siswa kelas V SD Negeri Pasirgunung Selatan 1 sebesar 49,01% dari

prasiklus sampai akhir siklus 2.

Pembahasan setelah dilakukan observasi dalam penelitian

mengalami peningkatan dari siklus I ke siklus II. Pada siklus I persentase

yang dicapai dari keseluruhan aspek yang diamati menghasilkan

data

46,7% aspek terpenuhi. Setelah dilanjutkan pada siklus II persentase

pemenuhan aspek menjadi 86,7% atau berada pada kategori tinggi.

Dengan Dari hasil penelitian dan pembahasan diketahui bahwa

pembelajaran matematika menggunakan metode Mind Map dapat

meningkatkan hasil belajar Matematika siswa kelas V SD N

Tamanagung

4.

B. Saran

Mengacu pada hasil penelitian dan simpulan di atas, beberapa saran

yang dapat disampaikan antara lain:

6
1. Diharapkan kepada guru kelas supaya menggunakan metode Mind

Map agar dapat memudahkan siswa dalam memahami materi

pelajaran, terutama pembelajaran matematika dengan materi pokok

bangun ruang.

2. Pembelajaran menggunakan Mind Map membutuhkan kreativitas yang

tinggi. Oleh karena itu guru harus berlatih secara berkesinambungan

dalam penggunaan metode Mind Map terutama dalam pembelajaran

Matematika.

3. Perlu dilakukannya penelitian lain dengan menggunakan metode-metode

yang lain untuk dapat diabndingkan agar diperoleh media yang

efektif dalam meningkatkan hasil belajar matematika materi memahami

sifat-sifat bangun dan hubungan antar bangun.

6
DAFTAR PUSTAKA

Arinimath. (2008). Definisi Matematika. [Link]


definisi-matemat [Link] ml. pada tanggal 10 Oktober 2012 jam 14.00.

Asep Jihad. (2008). Pengembangan Kurikulum Matematika. Jakarta: Multi


Pressindo.

Buzan. Tony dan Barry. (2004) . Mind Map: untuk Meningkatkan Kreativitas.
Jakarta Gramedia: Pustaka Utama.

Buzan. Tony. (2004). Memahami Peta Pemikiran : The Mind Map Book. Batam:
Interaksa.

[Link]. (2004). Buku Pintar Mind Map. Jakarta: PT Gramedia Pustaka


Utama, cet VI.

[Link]. (2005). Brain Child Cara Pintar membuat Anak jadi Pintar. Jakarta:
Gramedia.

Erman Suherman, dkk. (2003). Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer.


Bandung: JICA UPI.

Erman Suherman,dkk. (2001). Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer.


Bandung: JICA UPI.

Herman Hudojo. (2005). Pengembangan Kurikulum dan Pembelajaran


Matematika. Cetakan I. Malang: Universitas Negeri Malang (UM Pres).

Desi. (2011). [Link] pada


11 september 2020 jam 16.00.

Jensen. Eric dan Karen Makowitz. (2002). Otak Sejuta Gygabite: Buku Pintar
Membangun Ingatan Super. Kaifa: Bandung.

Mahmudin. (2009). Pembelajaran Berbasis Peta Pikiran. [Link]


[Link]. Pada tanggal 26 Maret 2020 jam 14.35.

Miyazaki An Nisha. (2012). Tentang Mind Mapping. [Link]


com. Pada tanggal 26 Maret 2020 jam 14.30.

Muhibbinsyah. (2005). Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru. Bandung:


Remaja Rosdakarya.

Nana Syaodih Sukmadinata. (2005). Metode Penelitian Pendidikan. Bandung:


Remaja Rosdakarya.

6
Oemar Hamalik. (2005). Kurikulum dan Pembelaqjaran. Jakarta: Bumi Aksara.

Purwanto. (2011). Evaluasi Hasil Belajar. Jakarta: Pustaka Pelajar.

Rita Eka Izzaty,dkk. (2008). Perkembangan Peserta Didik. Depok: Uny


Press.

Rumini Sri. (2002). Psikologi Pendidikan. Depok: UPP IKIP Depok. Sugiarto.

Iwan. (2004). Mengoptimalkan Daya Kerja Otak Dengan Berpikir


Holistik dan Kreatif. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Sugihartono, dkk. (2007). Psikologi Pendidikan. Depok: UNY Press. Sugiyono.

(2001). Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung:


Alfabeta.

Suharjo. (2006). Mengenal Pendidikan Sekolah Dasar Teori dan Praktek. Jalarta:
Dirjen Dikti.

Suharsimi Arikunto,dkk. (2007). Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Bumi


Aksara.

Suharsimi Arikunto. (2005). Manajemen [Link]: Rineka Cipta.

Suharsimi Arikunto. (2010). Prosedur Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta.

Suharsimi Arikunto. (2007). Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Bumi

Aksara.

Sumitro, Dwi S,dkk. (2006). Pengantar Ilmu Pendidikan. Depok: Fakultas


Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Depok.

Sumiyati, Asra. (2007). Metode Pembelajaran. Bandung: CV Wacana Prima.

Suyanto, Djihad Hasyim. (2000). Pendidikan Indonesia menanti Milenium III.


Depok: Adi Cipta Karya.

Syaiful Bahri Djamarah. (2002). Psikologi Belajar. Jakarta: Rineka Cipta.

Syamsu Yusuf Ln. (2006). Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung:
PT Remaja Rosdakarya.

Syarifah Ety. (2009). Analisis dan Interpretasi Data dalam Penelitian Tindakan
Kelas. Semarang: Bandungan Institute.

Tim Penyusun KTSP. (2007). Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).

6
Wina Sanjaya. (2009). Penelitian Tindakan Kelas. Bandung: Kencana Prenada.

69
Lampiran 2 Soal Pra Siklus

Nama :

Kelas :

Nomor :

Soal Evaluasi!

Pilihlah jawaban a, b, c atau d dengan member tanda silang (x) pada jawaban
yang tepat!

1. Sebuah benda ruang yang dibatasi oleh tiga pasang (enam buah)
persegi berukuran sama disebut ....
a. limas
b. tabung
c. kubus
d. Balok
2. Nama lain dari Kubus adalah…
a. Limas Segi Empat
b. Prisma Segi Empat
c. Prisma Segitiga
d. Limas Segitiga
3. Berikut nama benda yang berbentuk kubus adalah…
a. Mainan rubrik
b. Almari
c. Televisi
d. Piramid
4. Dari nama-nama berikut yang berbentuk Balok adalah
.... a. Gelas
b. Roda
c. Guling
d. Almari
5. Limas segi 4 mempunyai titik sudut sebanyak . . . .
a. 4
b. 5
c. 16
d. 24
6. Limas segi 4 mempunyai sisi-sisi berbentuk segitiga sebanyak . . . .
a. 4
b. 6
c. 8

7
d. 10
7. Benda berikut yang berbentuk limas segi empat adalah…
a. Mainan Rubrik
b. Almari
c. Televisi
d. Piramid
8. Yang merupakan sifat limas adalah kecuali . . . .
a. Terdiri atas sisi alas dan sisi
miring.
b. Terdiri atas sisi alas, sisi atas dan sisi
tegak.
c. Sisi miring berbentuk
segitiga.
d. Memiliki tinggi yang merupakan jarak dari alas ke titik
puncak.
9. Bangun ruang yang tidak memiliki rusuk adalah . .
. a. Limas.
b. Kerucut.
c. Tabung.
d. Bola.

10. Berdasarkan gambar di samping sisi yang sejajar


Dengan sisi ADHE adalah ….

a. ABFE
b. EFGH
c. BCGF
d. BCHF

7
Kunci Jawaban Soal Pra Siklus

1. C
2. B
3. A
4. D
5. B
6. A
7. D
8. B
9. D
10. C

7
Lampiran 3
3.1 RPP Siklus I
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(RPP)

Sekolah Dasar : SD Negeri Pasirgunung Selatan 1


Mata Pelajaran : Matematika
Kelas/Semester : V/ 2 (dua)
Materi : Bangun Ruang
Alokasi Waktu : 2 X 70 menit

A. Standar Kompetensi
Memahami sifat-sifat bangun dan hubungan antar bangun.
B. Kompetensi Dasar
6.2 Mengidentifikasi sifat-sifat bangun ruang.
C. Indikator
1. Kognitif
Mampu mengidentifikasi sifat- sifat bangun ruang
2. Afektif
Bertanggung jawab terhadap tugas.
3. Psikomotor
Mencatat dengan Mind Map
D. Tujuan Pembelajaran
1. Kognitif
a. Melalui penjelasan dari guru dan contoh yang diberikan, siswa dapat
mengidentifikasi sifat-sifat bangun ruang dengan benar.
b. Melalui penjelasan dari guru dan tugas yang diberikan, siswa dapat
memahami sifat-sifat bangun ruang dengan benar.
c. Melalui kegiatan tanya jawab, siswa dapat menyebutkan sifat –
sifat bangun ruang dengan benar.
2. Afektif

8
Melalui tugas yang diberikan, siswa dapat bertanggung jawab
terhadap tugas dengan baik.
3. Psikomotor
Melalui metode Mind Map, siswa dapat menyebutkan dan menuliskan
sifat-sifat bangun ruang dengan baik.
E. Materi Pembelajaran
Bangun Ruang
F. Metode Pembelajaran
Ceramah, Mind Map, tanya jawab, dan tugas
G. Kegiatan Pembelajaran
No Kegiatan Waktu
(menit)
1. Kegiatan Awal
 Guru mengkondisikan kelas.
 Guru membuka pelajaran dengan mengucap salam.
 Salah satu siswa untuk memimpin berdoa.
 Siswa melakukan presensi.
 Siswa menjawab pertanyaan guru : “Anak-anak, ayo
sebutkan barang-barang yang pernah kalian lihat
yang ada disekitarmu? (siswa menyebutkan macam-
macam benda di kelas, misalnya kardus kapur, kaleng,
dll).
 Siswa mengaitkan apersepsi dangan materi pelajaran.
 Siswa mendengarkan penjelasan guru tentang tujuan
pembelajaran yang akan dicapai.
2. Kegiatan Inti
Eksplorasi:
 Siswa melakukan tanya jawab dengan guru tentang
materi.
 Siswa menggunakan kertas putih tanpa garis dan alat
tulis.

8
 Siswa membuat gambar dan tulisan sebagai subjek
utama di tengah-tengah kertas.
 Siswa membuat garis berlekuk yang menyambung
subjek utama, dan memberi nama pada setiap lekuk
garis yang dibuat tentang bangun ruang.
Elaborasi:
 Siswa diminta berkelompok dengan 3 orang temannya.
 Siswa diberi LKS oleh guru.
 Secara berkelompok, siswa mengerjakan LKS yang
dibagiakan oleh guru.
 Guru membimbing siswa dalam kerja kelompok.
 Siswa diminta menuliskan jawaban hasil pekerjaannya.
 Siswa bersama guru mengoreksi jawaban.
Konfirmasi
 Siswa diberi kesempatan untuk bertanya.
 Guru memberikan penekanan pada materi sifat-sifat
bangun ruang yang belum dimengerti siswa.

 Siswa bersama guru menyimpulkan kegiatan


pembelajaran.
 Siswa mngerjakan soal evaluasi untuk mengetahui
kepahaman siswa terhadap materi.
3. Kegiatan Akhir
 Siswa diberi refleksi dan pesan moral oleh guru.
 Guru menutup pelajaran dengan memberi salam.

H. Sumber dan Media Pembelajaran


1. Sumber
Y.D Sumanto,dkk. 2008. Gemar Matematika 5. Jakarta : Pusat
Perbukuan Nasional.
2. Media

8
a. Spidol atau kapur
I. Penilaian :
1. Penilaian Kognitif
a. Teknik Penilaian : tes tertulis (objektif)
b. Rubrik penilaian :
No Jawaban Skor
1 10
2 10
3 10
4 10
5 10
6 10
7 10
8 10
9 10
10 10
Jumlah 100

Skor : soal berjumlah 10 butir masing-masing bernilai 10


Jika benar semua = 10 X 10 = 100

2. Penilaian Afektif
a. Teknik Penilaian: non tes (pengamatan)
b. Rubrik Penilaian:
No. Aspek Penilaian Skor
1. Bertanggung jawab 1–5

3. Penilaian Psikomotor
a. Teknik Penilaian: non tes (pengamatan)
b. Rubrik Penilaian:
No Aspek Penilaian Skor

1 Kerapian 1–5

Keterangan rentang skor :


1 = sangat kurang

8
2 = kurang
3 = cukup
4 = baik
5 = sangat baik
4. Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM)
Pembelajaran dikatakan berhasil jika 75% siswa mendapatkan nilai ≥
62.

J. Lampiran
1. Ringkasan Materi
2. Lembar Kerja Siswa
3. Kunci Jawaban Lembar Kerja Siswa
4. Soal Evaluasi
5. Kunci Jawaban Soal Evaluasi

Depok, .....,............ 2020


Mengetahui,
Guru Kelas, Praktikan,

................................................ Wildan Masykuri


NIP. ....................................... NIM. 09108244059

8
LEMBAR KERJA SISWA (LKS)

SIKLUS I

Kerjakan Soal-soal berikut dengan jawaban jelas dan tepat!

1. Sebutkan sifat-sifat Kubus!

2. Sebutkan sifat-sifat balok!

3. Sebutkan sifat-sifat tabung!

4. Sebutkan sifat-sifat kerucut!

5. Sebutkan sifat-sifat Limas!

8
86
3.2 RPP Siklus II
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(RPP)

Sekolah Dasar : SD Negeri Pasirgunung Selatan 1


Mata Pelajaran : Matematika
Kelas/Semester : V/ 2 (dua)
Materi : Bangun Ruang
Alokasi Waktu : 2 X 70 menit

A. Standar Kompetensi
Memahami sifat-sifat bangun dan hubungan antar bangun.
B. Kompetensi Dasar
6.3 Menentukan jaring-jaring berbagai bangun ruang sederhana
C. Indikator
1. Kognitif
Mampu Menentukan jaring-jaring berbagai bangun ruang sederhana
2. Afektif
Bertanggung jawab terhadap tugas.
3. Psikomotor
Mencatat dengan Mind Map
D. Tujuan Pembelajaran
1. Kognitif
a. Melalui penjelasan dari guru dan contoh yang diberikan, siswa dapat
mengenal dan mampu menentukan jaring-jaring berbagai bangun
ruang sederhana dengan benar.
b. Melalui penjelasan dari guru dan tugas yang diberikan, siswa dapat
memahami jaring-jaring balok dan kubus dengan benar.
c. Melalui kegiatan tanya jawab, siswa dapat menentukan jaring-jaring
balok dan kubus dengan benar.
2. Afektif

8
Melalui tugas yang diberikan, siswa dapat bertanggung jawab
terhadap tugas dengan baik.
3. Psikomotor
Melalui metode Mind Map, siswa dapat menentukan jaring-jaring
berbagai bangun ruang sederhana dengan baik.
E. Materi Pembelajaran
Bangun Ruang
F. Metode Pembelajaran
Ceramah, Mind Map, tanya jawab, dan tugas
G. Kegiatan Pembelajaran
No Kegiatan Waktu
(menit)
1. Kegiatan Awal
 Guru mengkondisikan kelas.
 Guru membuka pelajaran dengan mengucap salam.
 Salah satu siswa untuk memimpin berdoa.
 Siswa melakukan presensi.
 Siswa menjawab pertanyaan guru : “Anak-anak, ayo
sebutkan barang-barang yang pernah kalian lihat yang
ada disekitarmu? (siswa menyebutkan macam-macam
benda di kelas, misalnya kardus kapur, kaleng, dll).
 Siswa mengaitkan apersepsi dangan materi pelajaran.
 Siswa mendengarkan penjelasan guru tentang tujuan
pembelajaran yang akan dicapai.

2. Kegiatan Inti
Eksplorasi:
 Siswa melakukan tanya jawab dengan guru tentang
materi.
 Siswa menggunakan kertas putih tanpa garis dan alat
tulis berwarna.

8
 Siswa membuat gambar dan tulisan sebagai subjek
utama di tengah-tengah kertas.
 Siswa membuat garis berlekuk yang menyambung
subjek utama, dan memberi nama pada setiap lekuk
garis yang dibuat tentang bangun ruang.
Elaborasi:
 Siswa diminta berkelompok dengan 3 orang temannya.
 Siswa diberi LKS oleh guru.
 Secara berkelompok, siswa mengerjakan LKS yang
dibagiakan oleh guru.
 Guru membimbing siswa dalam kerja kelompok.
 Siswa diminta menuliskan jawaban hasil pekerjaannya.
 Siswa bersama guru mengoreksi jawaban.
Konfirmasi
 Siswa diberi kesempatan untuk bertanya.
 Guru memberikan penekanan pada materi sifat-sifat
bangun ruang yang belum dimengerti siswa.

 Siswa bersama guru menyimpulkan kegiatan


pembelajaran.
 Siswa mngerjakan soal evaluasi untuk mengetahui
kepahaman siswa terhadap materi.
3. Kegiatan Akhir
 Siswa diberi refleksi dan pesan moral oleh guru.
 Guru menutup pelajaran dengan memberi salam.

H. Sumber dan Media Pembelajaran


1. Sumber
Y.D Sumanto,dkk. 2008. Gemar Matematika 5. Jakarta : Pusat
Perbukuan Nasional.
Tim Matematika. 2007. Cerdas Matematika 5B. Bogor : Yudhistira

8
2. Media
b. Spidol atau kapur Warna-warni
I. Penilaian :
1. Penilaian Kognitif
a. Teknik Penilaian : tes tertulis (objektif)

b. Rubrik penilaian :
No Jawaban Skor
1 10
2 10
3 10
4 10
5 10
6 10
7 10
8 10
9 10
10 10
Jumlah 100

Skor : soal berjumlah 10 butir masing-masing bernilai 10


Jika benar semua = 10 X 10 = 100

2. Penilaian Afektif
a. Teknik Penilaian: non tes (pengamatan)
b. Rubrik Penilaian:
No. Aspek Penilaian Skor
1. Bertanggung jawab 1–5

3. Penilaian Psikomotor
a. Teknik Penilaian: non tes (pengamatan)
b. Rubrik Penilaian:
No Aspek Penilaian Skor

1 Kerapian 1-5

9
Keterangan rentang skor :
1 = sangat kurang
2 = kurang
3 = cukup
4 = baik
5 = sangat baik
4. Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM)
Pembelajaran dikatakan berhasil jika 75% siswa mendapatkan nilai ≥
62.

J. Lampiran
1. Ringkasan Materi
2. Lembar Kerja Siswa
3. Soal Evaluasi
4. Kunci Jawaban Soal Evaluasi

Depok, .....,............ 2020


Mengetahui,
Guru Kelas, Praktikan,

................................................ Wildan Masykuri


NIP. ....................................... NIM. 09108244059

9
LEMBAR KERJA SISWA (LKS)

SIKLUS II

Kerjakan soal-soal berikut dengan tepat!

1. Gambarlah jaring-jaring kubus!

2. Gambarlah jaring-jaring balok!

3. Gambarlah jaring-jaring limas segi empat!

4. Gambarlah jaring-jaring tabung!

5. Gambarlah jaring-jaring kerucut!

9
93
3.3 Kisi-kisi Instrumen

SK : Memahami sifat-sifat bangun dan hubungan antar bangun .

Kompetensi Dasar Indikator Jumlah Soal Nomor Soal


- Mengidentifikasi - Mampu 7 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7,
sifat-sifat menentukan
bangun ruang sifat- sifat \
3 8,9,10
bangun ruang
- Mampu
menentukan
Hubungan antar 10 1, 2, 3, 4, 5 ,6, 7,
bangun 8, 9, 10
- Menentukan
jaring-jaring
berbagai bangun
ruang sederhana - Mampu
membuat
jaring-jaring
berbagai
bangun ruang
sederhana

9
3.4 Soal Siklus I

Nama :

Kelas :

Nomor :

Soal Evaluasi!

Pilihlah jawaban a, b, c atau d dengan member tanda silang (x) pada jawaban
yang tepat!

1. Sebuah benda ruang yang dibatasi oleh tiga pasang (enam buah)
persegi panjang di mana setiap pasang persegi panjang sejajar
(berhadapan) berukuran sama disebut ....
a. limas
b. tabung
c. kubus
d. Balok
2. Garis yang merupakan pertemuan dari dua sisi bangun ruang adalah ....
a. Rusuk
b. Sudut
c. Sisi
d. Titik Puncak
3. Balok mempunyai titik sudut sebanyak . . . .
a. 8
b. 12
c. 16
d. 24
4. Limas segi 4 mempunyai sisi-sisi berbentuk segitiga sebanyak . . . .
a. 5
b. 6
c. 8
d. 10
5. Berikut ini merupakan sifat-sifat tabung kecuali…
a. mempunyai sisi sebanyak 3 buah, yaitu sisi alas, tutup dan
selimut b. Tidak mempunyai titik sudut.
c. Sisi-sisi tegak berbentuk
segitiga
d. Bidang atas dan bidang alas berbentuk lingkaran dengan ukuran
sama.
6. Yang merupakan sifat limas adalah . . . .
a. Terdiri atas sisi alas dan sisi miring.
b. Terdiri atas sisi alas, sisi atas dan sisi
tegak.
c. Sisi miring berbentuk persegi.
9
d. Sisi alas berbentuk segitiga, segi empat, segi lima atau yang
lain.

9
7. Bangun ruang yang memiliki rusuk lengkung adalah . .
. a. Limas, segitiga dan bola.
b. Tabung dan kerucut.
c. Tabung dan prisma segitiga.
d. Bola dan kerucut.

8. Berdasarkan gambar di samping sisi yang sejajar


Dengan sisi ABCD adalah ….

a. ABFE
b. EFGH
c. DCGH
d. BCHF

9. Bangun ruang di samping dinamakan kubus ....


a. IJKL. MNOP

b. HIJK. LMNO

c. ABCD. EFGH

d. OPQR. STUV

10. Rusuk yang sejajar dengan rusuk AB adalah ....

a. DC, EF dan HG
b. AE, BF dan DH
c. EH, FG dan BC
d. FG, AE dan EF

9
Kunci Soal siklus 1

1. D

2. A

3. A

4. A

5. C

6. A

7. B

8. B

9. C

10. A

9
3.5 Soal Siklus 2

Nama :

Kelas :

Nomor :

1. Gabungan dari beberapa persegi panjang yang membentuk balok disebut


....
a. Jaring-jaring kubus
b. Jaring-jaring balok
c. Jaring-jaring limas
d. Jaring-jaring
tabung
2. Gabungan dari beberapa persegi yang membentuk kubus disebut
.... a. Jaring-jaring kubus
b. Jaring-jaring balok
c. Jaring-jaring limas
d. Jaring-jaring
tabung
3. Jaring-jaring kubus ada . . . .
a. 11 buah
b. 12 buah
c. 14 buah
d. 16 buah

4. Jaring-jaring yang sesuai dengan gambar di

samping adalah ....

a.

b.

9
c.

d.

5. Jaring-jaring yang sesuai dengan gambar di


samping adalah ....

a.

b.

c.

d.

1
6. Jaring-jaring di bawah ini yang merupakan jaring-jaring kubus, kecuali ....

a.

b.

c.

d.

7. Gambar di bawah ini yang termasuk jaring-jaring tabung adalah

.... a.

b.
c.

d.

8. Aku terdiri dari 1 bidang alas dan 1 selimut. Aku adalah jaring-jaring
.... a. Kubus
b. Kerucut
c. Balok
d. Tabung
9. Gambar di bawah ini yang termasuk jaring-jaring kerucut adalah

.... a.

b.

c.
d.

10. Aku suatu bangun ruang yang mempunyai titik puncak dan
aku mempunyai alas lingkaran. Siapakah aku ....
a. Kubus
b. Kerucut
c. Balok
d. Limas
Kunci Soal Siklus 2

1. B

2. A

3. D

4. A

5. C

6. D

7. A

8. B

9. A

10. B
3.6 Lembar Observasi
PEDOMAN OBSERVASI

PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

MATEMATIKA DENGAN METODE MIND MAP

No. Aspek yang diamati Indikator ya tidak Keterangan


1. Memahami Menyederhanakan √
Masalah masalah dengan
menuliskan yang
diketahui dan
yang ditanyakan
dari soal
2. Merencanakan Merencanakan √
pemecahan masalah masalah secara
kreatif
3. Menyelesaikan Menyelesaikan √
masalah sesuai pemecahan
rencana masalah yang
berkaitan dengan
bangun datar dan
bangun ruang
sederhana dengan
perhitungan yang
tepat
4. Memeriksa kembali Memeriksa √
hasil yang diperoleh kembali hasil
yang diperoleh

Catatan:……………………………………………………………………………
…………….………………………………………………………………………
…………………………....

Depok,……………………..
Lembar Observasi Kegiatan Pembelajaran Matematika Siklus

I Dengan Metode Mind Map (Peta Pikiran)

Nama Sekolah : SD N Pasirgunung Selatan 1

Guru pengampu :

Kelas :

Hari/tanggal :

Siklus Pertemuan ke :

Materi Pokok :

Observer :

Berilah tanda (√) pada salah satu kolom ya atau tidak yang tersedia dan
deskripsikan hasil pengamatan sesuai dengan apa yang anda amati selama
proses pembelajaran berlangsung!

No. Indicator/ aspek yang diamati ya tidak Deskripsi hasil pengamatan


1 Kegiatan awal
1. Persiapan ruang dan alat √
yang dibutuhkan saat
pembelajaran
2. Guru mempersiapkan √
siswa untuk belajar
3. Guru menyampaikan √
materi yang akan
dipelajari dan tujuan
pembelajaran
4. Guru menginformasikan √
metode pembelajaran
yang akan digunakan
yaitu MindMap
5. Guru memberikan √
apersepsi dan memotivasi
siswa untuk turut
berpartisipasi aktif dalam
proses pembelajaran
2 Kegiatan inti
1. Siswa mempelajari materi √
pembelajaran
2. Siswa mengerjakan √
contoh soal serta langkah-
langkah penyelesaiannya
3. Guru memberikan contoh √
membuat catatan dengan
Metode Mind Map
4. Siswa menbuat catatan √
dengan Metode Mind
Map menurut
kreativitasnya masing-
masing
5. Guru memberikan LKS √
dan menginformasikan
cara mengerjakan dengan
Mind Map
6. Siswa mengerjakan LKS √
yang telah diberikan
7. Siswa dan guru bersama- √
sama membahas LKS
yang sudah dikerjakan
dengan MindMap
8. Siswa dibimbing guru √
menarik kesimpulan dari
materi yang telah
diberikan
3. Kegiatan Akhir
1. Guru Memberikan Soal √
Evaluasi pada siswa.
2. Guru memberikan √
motivasi dan penguatan
kepada siswa

Observer

Galuh Ayuningtyas
PEDOMAN OBSERVASI

PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

MATEMATIKA DENGAN METODE MIND MAP

No. Aspek yang diamati Indikator ya tidak Keterangan


1. Memahami Menyederhanakan √
Masalah masalah dengan
menuliskan yang
diketahui dan
yang ditanyakan
dari soal
2. Merencanakan Merencanakan √
pemecahan masalah masalah secara
kreatif
3. Menyelesaikan Menyelesaikan √
masalah sesuai pemecahan
rencana masalah yang
berkaitan dengan
bangun datar dan
bangun ruang
sederhana dengan
perhitungan yang
tepat
4. Memeriksa kembali Memeriksa √
hasil yang diperoleh kembali hasil
yang diperoleh

Catatan:……………………………………………………………………………
…………….………………………………………………………………………
…………………………....

Depok,……………………..
Lembar Observasi Kegiatan Pembelajaran Matematika Siklus

II Dengan Metode Mind Map (Peta Pikiran)

Nama Sekolah : SD N Pasirgunung Selatan 1

Guru pengampu :

Kelas :

Hari/tanggal :

Siklus Pertemuan ke :

Materi Pokok :

Observer :

Berilah tanda (√) pada salah satu kolom ya atau tidak yang tersedia dan
deskripsikan hasil pengamatan sesuai dengan apa yang anda amati selama
proses pembelajaran berlangsung!

No. Indicator/ aspek yang diamati ya tidak Deskripsi hasil pengamatan


1 Kegiatan awal √
1. Persiapan ruang dan alat √
yang dibutuhkan saat
pembelajaran
2. Guru mempersiapkan √
siswa untuk belajar
3. Guru menyampaikan √
materi yang akan
dipelajari dan tujuan
pembelajaran
4. Guru menginformasikan √
metode pembelajaran
yang akan digunakan
yaitu MindMap
5. Guru memberikan √
apersepsi dan memotivasi
siswa untuk turut
berpartisipasi aktif dalam
proses pembelajaran
2 Kegiatan inti
1. Siswa mempelajari materi √
pembelajaran
2. Siswa mengerjakan √
contoh soal serta langkah-
langkah penyelesaiannya
3. Guru memberikan contoh √
membuat catatan dengan
Metode Mind Map
4. Siswa menbuat catatan √
dengan Metode Mind
Map menurut
kreativitasnya masing-
masing
5. Guru memberikan LKS √
dan menginformasikan
cara mengerjakan dengan
Mind Map
6. Siswa mengerjakan LKS
yang telah diberikan
7. Siswa dan guru bersama- √
sama membahas LKS
yang sudah dikerjakan
dengan MindMap
8. Siswa dibimbing guru √
menarik kesimpulan dari
materi yang telah
diberikan
3. Kegiatan Akhir
1. Guru Memberikan Soal √
Evaluasi pada siswa.
2. Guru memberikan √
motivasi dan penguatan
kepada siswa

Observer

11
Lampiran 4

4.1 Analisis Data Nilai

11
111
112
4.2 Analisis Data Observasi

113
114

Anda mungkin juga menyukai