0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
60 tayangan10 halaman

Pendapatan dan Penerimaan Negara

1) Dokumen tersebut membahas tentang penerimaan dan pendapatan negara, meliputi pengertian, jenis, klasifikasi, dan sumber-sumber pendapatan negara.

Diunggah oleh

Inge Amanda
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
60 tayangan10 halaman

Pendapatan dan Penerimaan Negara

1) Dokumen tersebut membahas tentang penerimaan dan pendapatan negara, meliputi pengertian, jenis, klasifikasi, dan sumber-sumber pendapatan negara.

Diunggah oleh

Inge Amanda
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

RESUME MATERI

PENDAPATAN DAN PENERIMAAN NEGARA


Diajukan untuk memenuhi salah satu mata kuliah
Analisis Keuangan Negara
Dosen Pengampu:
Yulia Maris Herdianti, S.E., M.E.

Disusun Oleh:
1. Lilis Tri Wahyuningsih 126402203197
2. Qisma Salsabella 126402203209
3. Syntia Herlista 126402203215
4. Wildan Faizal Imami 126402203228

PROGRAM STUDI EKONOMI SYARIAH


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM
UIN SAYYID ALI RAHMATULLAH TULUNGAGUNG
FEBRUARI 2023
TINJAUAN PUSTAKA

A. PENGERTIAN PENERIMAAN DAN PENDAPATAN NEGARA


Secara yuridis, sesuai dengan Pasal 1 Undang-Undang Nomor 17 tahun
2003 tentang Keuangan Negara, Penerimaan di definisikan sebagai “uang yang
masuk ke kas negara”. Dengan demikian, penerimaan negara tidak
memperhatikan sumber uang yang masuk tersebut. Demikian juga dengan
dampak dari masuknya uang ke kas negara. Semua uang yang masuk ke
rekening kas negara dikatakan sebagai penerimaan negara.
Berbeda halnya dengan pendapatan negara. Undang-Undang Keuangan
Negara mendefinisikannya sebagai “hak pemerintah pusat yang diakui sebagai
penambah nilai kekayaan bersih”. Dalam definisi ini telah disebutkan bahwa
pendapatan negara adalah berupa “hak”. Hal ini berbeda dengan penerimaan
yang dibatasi hanya berupa uang, tetapi semua hak negara yang menambah
kekayaan bersih negara. Kendatipun demikian, hak tersebut harus dapat dinilai
dengan uang sehingga dapat ditatausahakan (dibukukan) sesuai dengan sistem
pengelolaan keuangan yang berlaku. Masuknya pendapatan negara diakui
(berakibat) bertambahnya nilai kekayaan bersih negara, hal ini berbeda dengan
penerimaan negara yang belum tentu berakibat pada pertambahan nilai
kekayaan bersih negara.
B. JENIS PENDAPATAN NEGARA
Pendapatan negara menjadi penopang utama untuk mendanai semua
belanja dalam APBN. Pendapatan negara akan disandingkan dengan "belanja"
guna mengetahui besarnya surplus ataupun defisit anggaran pada suatu tahun
anggaran. Negara yang memiliki kekayaan alam yang melimpah akan
menjadikan hasil sumber daya alamnya sebagai pendapatan negara.
Sedangkan negara yang unggul di bidang industri akan mengandalkan
pendapatan sektor industri yang ada di dalam negaranya. Jenis pendapatan yang
ada di sebuah negara akan bergantung pada bagaimana kebijakan dan
penggolongan pendapatan yang dilakukan oleh pemerintahnya. Indonesia
menggolongkan pendapatan negara menjadi 3 jenis, dari ketiga jenis
pendapatan negara, pajak merupakan pendapatan negara yang paling dominan.

2
Dari tahun ke tahun, pajak selalu memiliki jumlah yang paling besar. Ketiga
jenis pendapatan tersebut yaitu:
1) Pendapatan Pajak
Pajak didefinisikan sebagai iuran warga negara yang bersifat
memaksa dengan didasarkan pada peraturan perundangan, dan kepada
pembayarnya tidak diberikan imbalan secara langsung. 4 syarat pungutan
negara disebut pajak, yaitu:
1. Iuran warga negara
Pembayaran pajak adalah warga negara, baik pajak bersifat
langsung maupun tidak langsung.
2. Bersifat memaksa
Warga negara yang memenuhi ketentuan wajib membayar
pajak dan apabila melanggar maka negara akan memberikanya sanksi.
Semua sanksi yang ada dimaksudkan agar pajak memiliki daya paksa
kepada warga negara agar mentaatinya.
3. Didasarkan pada peraturan perundangan yang berlaku
Di Indonesia, setiap peraturan perpajakan harus didasarkan
pada undang-undang yang disetujui oleh DPR.
4. Pembayarnya tidak mendapatkan imbalan secara langsung
Dalam pemungutan pajak, pemerintah tidak memberikan
imbalan secara langsung kepada pihak yang membayarnya. Tidak
pernah dilakukan, misalnya, warga negara yang membayar pajak
diberi hadiah atau imbalan lain secara langsung. Dengan uang pajak
tersebut pemerintah membangun, jalan, jembatan, sekolah, rumah
sakit, pelabuhan, bandara, dan fasilitas-fasilitas umum lainnya.
Hal ini tidak menjadi masalah, bahkan menjadi salah satu
alasan dari perlunya pemungutan pajak yaitu untuk melakukan
distribusi dan transfer kemampuan ekonomi sehingga sumber daya
ekonomi tidak hanya dinikmati oleh orang-orang kaya saja.
Dilihat dari cara pemungutannya, pajak dapat dibedakan
menjadi pajak langsung dan pajak tidak langsung. Pajak langsung
dipungut kepada warga negara yang secara pasti dapat ditentukan

3
dengan disertai bukti pemungutan. Jenis pajak berikutnya adalah
pajak tidak langsung, yakni pajak yang dipungut karena terjadinya
sebuah transaksi peralihan sumber daya ekonomi dan pemungutannya
tidak disertai dengan bukti pembayaran pajak dari pihak Wajib Pajak.
Yang menjadi pajak tidak langsung adalah Pajak Pertambahan Nilai
(PPN). Beban pajak yang dibayarkan pembeli telah masuk dan
menjadi bagian dari harga barang yang dibelinya sehingga pembeli
sering kali tidak merasa membayar pajak.
2) Pendapatan Bukan Pajak
Pendapatan negara bukan pajak dapat diartikan sebagai semua
pendapatan yang diperoleh negara yang tidak dapat digolongkan sebagai
pendapatan pajak. Negara Bukan Pajak» untuk pendapatan bukan pajak
ini. PNBP memiliki unsur pengertian seperti halnya pada pengertian pajak
sebagaimana telah diuraikan sebelumnya. Namun, antara pajak dan PNBP
terdapat perbedaan yaitu pada adanya imbalan yang diberikan secara
langsung kepada warga negara yang melakukan pembayaran PNBP.
Contoh dari PNBP adalah pendapatan negara yang berupa denda tilang.
Masyarakat yang melakukan pelanggaran terhadap peraturan lalu-lintas
akan di-tilang oleh aparat yang berwajib.
3) Pendapatan Hibah
Sesuai dengan namanya, hibah merupakan pemberian dari pihak
lain kepada negara yang tidak ada konsekuensi untuk mengembalikannya
kepada pihak yang memberikan hibah. Atas hibah yang diterimanya,
negara juga tidak berkewajiban untuk memberikan imbalan kepada
pemberi hibah. Atas hibah beasiswa tersebut, pemerintah dapat
menyekolahkan warga negaranya ke negara pemberi hibah tanpa
membayar biaya pendidikan. Pemerintah juga tidak ada kewajiban untuk
membayar biaya pendidikan tersebut, baik pada saat sekolah sedang
berlangsung maupun sesudahnya. Berbeda dengan hibah, pinjaman harus
dikembalikan pada saat jatuh tempo sesuai dengan perjanjian yang telah
disepakati. Bahkan dalam pemberian pinjaman pemerintah penerima

4
pinjaman juga dikenai beban bunga, commitment fee, dan beban-beban
lain yang disepakati.
C. KLASIFIKASI PENERIMAAN PEMERINTAH
Ketika masyarakat belum banyak menggunakan uang, kegiatan
pemerintah langsung menggunakan barang, tanah, dan aset publik lainnya yang
dimiliki oleh pemerintah dan atau masyarakat. Dengan demikian, pendapatan
pemerintah untuk membiayai kegiatannya bersifat natura. Dalam
perkembangannya, penerimaan negara berubah menjadi bentuk uang seperti
yang dialami saat ini. Pendapatan pemerintah dapat diklasifikasikan dalam
berbagai cara sesuai dengan tujuan, aspek, sifat hukum dan penerimaan
lainnya.
Penerimaan negara menurut jean Bodin:
1) Domein (tanah milik negara)
2) Perampasan harta perang
3) Sumbangan sukarela
4) Hadiah Negara
5) Bea import dan ekspor
6) Perusahaan negara
7) Pajak
Penerimaan negara menurut Von Sonnenfels:
1) Domein
2) Regalia (semacam upeti yang bersifat wajib)
3) Pajak.
D. SUMBER-SUMBER PENERIMAAN NEGARA
Keuangan dari suatu negara dan pemerintahan merupakan sumber
keuangan dana umum dari berbagai penerimaan seperti pajak properti, pajak
penjualan, pajak penghasilan, perizinan, perparkiran, dan beban jasa ataupun
dalam bentuk bantuan dari unit pemerintah lain (donasi dan federal) yang
dikelola dengan hati-hati, cermat, dan akuntabel sehingga dapat dialokasikan
menjadi anggaran yang jelas kemana arahnya. Pengalokasian keuangan negara
bertujuan meningkatkan taraf hidup masyarakat yang berdampak pada

5
pembangunan bangsa materiil, spiritual dan infrastruktural dengan tujuan
kemakmuran dan penyejahteraan masyarakat.
golongan sumber-sumber penerimaan pemerintah ataupun cara yang
dapat dilakukan pemerintah untuk mendapatkan uang :
1. Pajak, pembayaran wajib raktat kepada negara yang terutang oleh orang
pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan Undang-Undang,
tanpa balas jasa secara langsung Contoh: pajak kendaraan bermotor, pajak
penjualan, dan sebagainya.
2. Retribusi, pembayaran dari rakyat kepada pemerintah, dari hubungan atas
jasa atau pemberian izin tertentu yang khusus disediakan oleh
Pemerintah. Contohnya: uang kuliah, uang langganan air minum, dan uang
langganan listrik.
3. Keuntungan dari perusahaan negara yang berasal dari hasil penjualan
barang dari suatu perusahaan negara.
4. Hasil dari denda perampasan yang dilakukan oleh pemerintah.
5. Sumbangan masyarakat untuk jasa-jasa yang diberikan oleh pemerintah,
misalnya toll atau pungutan sumbangan di jalan raya tertentu seperti di
Jagorawi.
6. Pencetakan uang kertas. Pemerintah memiliki kekuasaan untuk mencetak
uang kertas sendiri atau meminta Bank Sentral untuk memberikan pinjaman
kepada pemerintah, walaupun tanpa suatu deking. Namun pencetakan uang
dijalankan hati-hati agar tidak menimbulkan inflasi.
E. SISTEM PENERIMAAN PENDAPATAN NEGARA
Pendapatan negara diatur sesuai dengan undang-undang keuangan
negara, yaitu Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 Tentang Keuangan
Negara, Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 Tentang Perbendaharaan
Negara, dan Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 Tentang Pemeriksaan
Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara. Beberapa hal penting
yang diatur dalam undang-undang tersebut adalah bahwa pendapatan negara
harus disetor ke rekening kas umum negara dan bendahara umum negara
berwenang untuk menyusun sistem penerimaan pendapatan negara.

6
Untuk melaksanakan pengelolaan pendapatan negara, Menteri
Keuangan telah menyusun sistem dan aplikasi berupa Modul Penerimaan
Negara (MPN) yang berlaku hingga saat ini. MPN merupakan sistem yang
digunakan untuk mengatur penerimaan negara dengan mengintegrasikan
semua institusi yang terlibat dalam penerimaan pendapatan negara, seperti
Direktorat Jenderal Pajak, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, dan Direktorat
Jenderal Anggaran. Sistem ini diluncurkan pada 30 Oktober 2006, bertepatan
dengan peringatan Hari Uang yang ke-60, dan efektif diberlakukan mulai tahun
anggaran 2007.
Sistem penerimaan negara terus mengalami perbaikan dan
penyempurnaan setelah diluncurkan pada tahun 2006. Perbaikan terakhir
dilakukan dengan diterbitkannya Peraturan Menteri Keuangan Nomor 32
Tahun 2014 yang mengatur tentang Sistem Penerimaan Negara Secara
Elektronik. Sistem yang semula dikenal sebagai Modul Penerimaan Negara
(MPN) kemudian dikembangkan menjadi Modul Penerimaan Negara Generasi
ke-2 (MPN G2).
Dalam pengembangan terakhir ini, Wajib Pajak atau Wajib Bayar dapat
mengisi kode billing secara mandiri secara online, baik melalui media milik
wajib pajak/bayar sendiri maupun media (komputer) yang disediakan oleh
Kementerian Keuangan. Setelah mendapatkan kode billing, wajib
pajak/bayar/setor dapat melakukan penyetoran dengan tunai di konter bank
(teller) atau melalui payment channel secara elektronik seperti ATM, e-
Banking, Debit/Credit Card, dan Phone Banking.
Untuk membuktikan penyetoran yang telah diterima, wajib pajak atau
pihak yang membayar atau menyetor diberikan Bukti Penerimaan Negara
(BPN) yang sesuai dengan media penyetoran yang digunakan, sebagai bukti
sah atas pembayaran yang dilakukan. MPN G2 tidak hanya digunakan untuk
menerima pendapatan negara seperti pajak, bea cukai, penerimaan negara
bukan pajak, dan hibah, tetapi juga untuk penerimaan selain pendapatan seperti
pengembalian sisa uang persediaan dan pengembalian belanja.
Pendapatan negara merupakan sumber utama untuk membiayai belanja
negara. Diharapkan bahwa penerimaan pendapatan negara yang terealisasi

7
dapat menutup semua belanja di tahun anggaran yang sama. Namun, jika
terjadi kekurangan penerimaan pendapatan (defisit anggaran), maka akan
ditutup dengan penerimaan pembiayaan seperti penerimaan pinjaman.
Sebaliknya, jika terjadi kelebihan penerimaan pendapatan, maka kelebihan
tersebut akan menjadi pengeluaran pembiayaan. Pengeluaran pembiayaan
tersebut dapat digunakan untuk investasi pemerintah seperti pembentukan
BUMN atau penyertaan modal pemerintah, percepatan pelunasan pinjaman,
pembentukan dana cadangan, dan pengeluaran pembiayaan lainnya.
F. ISU TERKINI YANG TERJADI TERKAIT PENDAPATAN DAN
PENERIMAAN NEGARA
(Kinerja Penerimaan Negara Luar Biasa Dua Tahun Berturut-turut)
Jakarta, 04/01/2023 Kemenkeu – Dalam Konferensi Pers Realisasi
APBN 2022 yang diselenggarakan secara daring pada Selasa (03/01), Menteri
Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengatakan bahwa pendapatan
negara APBN Tahun 2022 terealisasi Rp2.626,4 triliun atau 115,9% dari target
berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 98 Tahun 2022 sebesar Rp2.266,2
triliun. Realisasi ini tumbuh 30,6% sejalan dengan pemulihan ekonomi yang
semakin kuat dan terjaga serta dorongan harga komoditas yang relatif masih
tinggi. Dari total realisasi pendapatan negara tersebut, realisasi penerimaan
perpajakan mencapai Rp2.034,5 triliun atau 114% dari target Perpres 98/2022
sebesar Rp1.784 triliun, tumbuh 31,4% dari realisasi tahun 2021 sebesar
Rp1.547,8 triliun. Realisasi penerimaan perpajakan ini didukung oleh
penerimaan pajak dan kepabeanan dan cukai. Penerimaan pajak berhasil
mencapai Rp1.717,8 triliun atau 115,6% berdasarkan target Perpres 98/2022,
tumbuh 34,3% jauh melewati pertumbuhan pajak tahun 2021 sebesar 19,3%.
Hal ini berarti kinerja pajak membaik ditunjukkan oleh realisasi yang
melampaui target selama dua tahun berturut-turut. Sementara itu, penerimaan
kepabeanan dan cukai juga memperlihatkan kinerja yang luar biasa. Setelah
targetnya direvisi ke atas melalui Perpres 98/2022, kinerja penerimaan
kepabeanan dan cukai masih tetap melampaui target dengan mengumpulkan
Rp317,8 triliun atau 106,3% target, tumbuh 18%. Selain itu, penerimaan
negara bukan pajak (PNBP) sebagai komponen pendapatan negara juga

8
menghadirkan cerita yang menggembirakan. Realisasi PNBP tahun 2022
menunjukkan Rp588,3 triliun atau 122,2% dari target Perpres 98/2022, tumbuh
28,3% dari tahun lalu yang juga sudah melonjak naik di level Rp458,5 triliun.
“Jadi kita lihat, memang kinerja penerimaan negara pajak, bea dan cukai, dan
PNBP sungguh luar biasa dua tahun berturut-turut. Pada saat ekonomi pulih,
kita juga memulihkan seluruh penerimaan negara. Pada saat komoditas boom,
kita juga melakukan pengumpulan penerimaan negara dari kenaikan
komoditas. Ini kita gunakan untuk melindungi rakyat dan ekonomi,” ungkap
Menkeu.
TANGGAPAN KELOMPOK
Cerita di atas menyampaikan bahwa pendapatan negara APBN Tahun 2022
terealisasi dengan baik, mencapai Rp2.626,4 triliun atau 115,9% dari target. Kinerja
pajak, kepabeanan, cukai, dan PNBP juga menunjukkan peningkatan yang
signifikan, dengan penerimaan perpajakan mencapai Rp2.034,5 triliun atau 114%
dari target. Hal ini menunjukkan bahwa kebijakan ekonomi yang dilakukan oleh
pemerintah dan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati berhasil dalam
memulihkan ekonomi dan meningkatkan penerimaan negara. Selain itu, realisasi
penerimaan negara yang melebihi target dapat digunakan untuk mendukung
program-program pemerintah dalam melindungi rakyat dan mendukung
pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Namun, peningkatan penerimaan negara juga perlu diimbangi dengan
penggunaan anggaran yang tepat dan efisien, serta peningkatan transparansi dalam
penggunaan anggaran. Dengan demikian, penerimaan negara yang lebih tinggi
dapat memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat Indonesia secara
keseluruhan. Selain itu Berapa lama komoditas maupun pertumbuhan ekonomi
dunia itu yang diperkirakan akan melemah, pasti akan merembes memberikan
dampak ke dalam negeri, dan kemudian akan mempengaruhi penerimaan pajak kita.
Konsistensi dalam melakukan reformasi perpajakan dan pemulihan ekonomi
diharapkan mampu meningkatkan rasio perpajakan secara bertahap.
Sebagaimana kita ketahui bersama, penerimaan perpajakan merupakan
salah satu sumber penerimaan negara dalam menjalankan program pembangunan
yang telah dicanangkan oleh pemerintah. Oleh karena itu, ke depan optimalisasi

9
penerimaan negara yang bersumber dari perpajakan harus terus dioptimalkan dari
tahun ke tahun

DAFTAR PUSTAKA

Subekan Achmat. 2017. Pengantar Keuangan Negara Indonesia. Malang: Dioma


Anggota IKAPI. Hal 58-64
Suparmoko, 2000. Keuangan Negara: Teori dan Praktek. BPFE:Yogyakarta. Hal
94-95
Modul Penerimaan Negara. [Link] diakses 17
Oktober 2017.
[Link]
Penerimaan-Negara-Luar-Biasa

10

Anda mungkin juga menyukai