0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
35 tayangan46 halaman

Untitled

Diunggah oleh

Elsa
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
35 tayangan46 halaman

Untitled

Diunggah oleh

Elsa
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

HUBUNGAN PENGETAHUAN, SIKAP, DAN DUKUNGAN DENGAN

PERILAKU KONSUMSI TABLET FE SAAT MENSTRUASI PADA


REMAJA PUTRI DI SMAN 5 KOTA JAMBI

Proposal Penelitian

Diajukan oleh:

Elsa Julia Sagala

N1A119190

PROGRAM STUDI ILMU KESEHATAN MASYARAKAT

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS JAMBI

2023
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Remaja di Indonesia saat ini memiliki tiga masalah gizi atau triple burdeon of
malnutrition, diantaranya yaitu kelebihan berat bedan, kekurangan gizi dan
kekurangan zat gizi mikro dengan [Link] putri dikatakan anemia apabila
kadar hemoglobin dalam sel darah merah < 12 gr/dl 1. Remaja Putri adalah
kelompok yang sangat beresiko lebih besar mengalami anemia, hal ini
dikarenakan remaja putri mengalami fase menstruasi setidaknya sebanyak satu
kali dalam satu bulannya. Zat besi yang akan dikeluarkan saat remaja putri
mengalami menstruasi lebih bisa mendorong tingginya potensi kejadian anemia
pada remaja putri. Masa remaja merupakan masa transisi antara anak-anak dan
dewasa antara usia 10-19 tahun. Pada masa ini, remaja mengalami perubahan fisik
yang sangat cepat,sehingga remaja akan selalu memperhatikan perubahan yang
terjadi pada fisiknya2. Pada perempuan, asupan zat besi tidak hanya digunakan
untuk mendukung pertumbuhan tetapi juga digunakan untuk mengganti zat besi
yang hilang melalui darah yang keluar saat menstruasi setiap bulannya. Karena
kebutuhan zat besi perempuan yang sangat tinggi inilah, perempuan beresiko
mengalami kekurangan zat besi yang nantinya akan berkembang menjadi anemia3.

Berdasarkan data BPS pada Februari 2022, remaja usia 15-19 tahun di
Indonesia sebanyak 22.176.543 jiwa4. United Nations Population Fund (UNFPA)
menyatakan bahwa ketika remaja putri diberi kesempatan untuk mengakses
pendidikan dan kesehatan mereka, termasuk kesehatan Reproduksi, akan
menciptakan peluang bagi remaja untuk merealisasikan potensinya sehingga
remaja dapat mengelola dengan baik masa depan diri mereka, keluarga, dan
masyarakat5. Dalam satu kali menstruasi, remaja putri akan mengeluarkan darah
sebanyak 16 sampai 33,2 cc serta kehilangan zat besi (Fe) sebanyak 1,3
mg/harinya6.

1
Remaja putri adalah kelompok yang sangat beresiko lebih besar mengalami
anemia, hal ini dikarenakan remaja putri mengalami fase menstruasi setidaknya
sebanyak satu kali dalam satu bulannya. Zat besi yang akan dikeluarkan saat
remaja putri mengalami menstruasi lebih bisa mendorong tingginya potensi
kejadian anemia pada remaja putri. Remaja putri lebih sering mengalami anemia
dibandingkan dengan remaja putra disebabkan karena remaja putri mengalami
menstruasi setiap bulannya. Peningkatan pengeluaran zat besi di karenakan
adanya percepatan pertumbuhan lebih banyak asupan nutrisi khususnya zat besi 7.

Remaja adalah masa peralihan atau transisi antara tahap anak-anak ke tahap
dewasa, terjadinya masa tumbuh yang cepat (growth spurt), adanya perubahan
fisik terdiri dari ciri-ciri seks sekunder dan primer, mengalami fertilitas dan terjadi
perubahan emosional, fisiologi maupun psikologi. Perubahan secara fisiologi
ditandai dengan adanya fungsi organ reproduksi seperti [Link]
sel darah merah komponen sel dengan jumlah terbesar dalam darah dan memiliki
fungsi penting dalam darah yaitu sebagai sel pengangkut oksigen 9. Sel darah
merah memiliki struktur yang sangat disesuaikan dengan fungsinya yaitu
pengangkutan oksigen. Ada dua proses yang memegang peranan utama dalam
proses pembentukan sel darah merah dari sel induk unipotensial yaitu pembentuk
deoxyribo nucleic acid hematokrit (DNA) dalam inti sel dan pembentuk
hemoglobin dalam plasma eritrosit 10
dan Anemia merupakan suatu keadaan
dimana terjadinya penurunan kadar hemoglobin (Hb), hematokrit, dan jumlah sel
darah merah dibawah nilai normal. Anemia disebabkan kekurangan zat gizi makro
(protein) dan terutama zat gizi mikro terutama zat besi, di dunia diperkirakan
sekitar 50,8% anemia disebabkan oleh defisiensi besi . Apabila terjadi gangguan
pada siklus, lama dan volume darah menstruasi maka akan mempengaruhi jumlah
darah yang keluar. Apabila terjadi gangguan pada siklus menstruasinya, dimana
siklusnya menjadi lebih pendek dari normalnya maka darah yang keluar akan
lebih banyak. Zat besi yang keluar bersamaan darah akan lebih banyak. Hal ini
menyebabkan kadar hemoglobin dalam darah akan rendah. Kemudian bila kadar
hemoglobin sampai dibawah nilai normal terjadilah anemia. Apabila terjadi
gangguan pada lama menstruasinya yaitu lebih lama dari normal, maka darah

2
yang keluar akan lebih banyak. Zat besi yang keluar bersamaan darah akan lebih
banyak. Hal ini menyebabkan kadar hemoglobin dalam darah akan rendah.
Apabila kadar hemoglobin dibawah normal terjadilah anemia. Apabila terjadi
gangguan pada volume darah menstruasi yaitu volume darah menstruasinya lebih
banyak dari normalnya, maka darah yang keluar akan lebih banyak. Zat besi yang
keluar bersamaan darah juga akan lebih banyak. Hal ini menyebabkan kadar
hemoglobin dalam darah akan rendah. Kemudian bila kadar hemoglobin sampai
dibawah nilai normal terjadilah anemia11. Remaja putri memerlukan perhatian
khusus dalam hal kesehatan dikarenakan kebutuhan zat besi pada remaja putri
meningkat karena pertumbuhan dan datangnya menstruasi hal tersebut
menyebabkan remaja putri sangat rentan terjadi anemia 12.

Dampak tidak mengkonsumsi tablet fe akan menyebabkan dampak negatif


yaitu dapat menyebabkan anemia yang disebabkan oleh kurang pengetahuan,
sikap, dan keterampilan remaja akibat kurangnya penyampaian informasi, kurang
kepedulian orang tua, masyarakat, dan pemerintah terhadap kesehatan remaja
serta belum optimalnya pelayanan kesehatan remaja 13. Menurut Persagi (persatuan
Gizi Indonesia,1997) penyebab anemia pada remaja putri yaitu asupan makan
yang salah, penyakit infeksi, perdarahan dan infeksi cacing, tidak cukup
tersedianya pangan, pola asuh anak dan ibu hamil dan juga pelayanan kesehatan
dasar yang memadai rendahnya asupan zat besi makanan sehari-hari baik dari
makanan alami maupun suplemenstasi dan Adapun jangka pendek bagi kesehatan
akibat dari tidak mengkonsumsi tablet fe yaitu lemah dan lesu sehingga dapat
menurunkan produktivitas. Adapun dampak jangka panjangnya yaitu mengganggu
kehamilan, beresiko meningkatkan kematian ibu, dan beresiko melahirkan bayi
premature dan berat badan bayi lahir rendah (BBLR) 14, karena remaja putri
seringkali tidak mengkonsumsi makanan dan kandungan gizi yang cukup serta
setiap bulannya mengalami menstruasi15.

Remaja mengetahui tentang manfaat dari mengkonsumsi tablet Fe pada saat


menstruasi tentu hal tersebut dapat mendorong remaja untuk mengonsumsi tablet
Fe sehingga mengurangi risiko terjadinya anemia. Pengetahuan berpengaruh

3
terhadap sikap dan perilaku dalam mengonsumsi makanan, penggunaan
suplementasi tablet Fe saat menstruasi dalam selanjutnya akan berpengaruh
terhadap keadaan gizi individu yang bersangkutan termasuk status anemia16

Erniawati Pujiningsih dan Kurniatun (2020) Anemia akibat kekurangan zat


gizi besi (Fe) merupakan salah satu masalah gizi utama di Asia termasuk di
Indonesia. Tingginya angka kejadian anemia pada remaja putri dikarenakan masih
banyaknya remaja putri yang tidak terbiasa mengkonsumsi tablet Fe saat
menstruasi. Hal ini menunjukkan bahwa kesadaran dalam mengkonsumsi tablet
Fe saat menstruasi masih rendah. Suharto (2015) dalam penelitian penelitian
Erniawati Pujiningsih dan Kurniatun (2020) Kesadaran konsumsi tablet Fe saat
menstruasi tidak lepas dari informasi dan pengetahuan, hal ini dikarena
pengetahuan merupakan faktor yang mempengaruhi perilaku konsumsi tablet Fe
saat menstruasi 17
.Menurut WHO (2011) Sustainable Development Goals
(SDG’S) remaja putri merupakan calon ibu yang harus dipersiapkan untuk
mengandung dan melahirkan dengan mengurangi resiko dalam kehamilan maupun
saat melahirkan seperti anemia pada kehamilan serta perdarahan pasca persalinan.
WHO menyebutkan bahwa permasalahan utama yang dialami oleh remaja,
khususnya remaja putri di Asia Tenggara termasuk di Indonesia ialah anemia
defisiensi zat besi (Fe) 18.

Menurut Herlinadiyaningsih, remaja putri lebih sering mengalami anemia


dibandingkan dengan remaja putra disebabkan karena remaja putri mengalami
menstruasi setiap bulannya. Peningkatan pengeluaran zat besi di karenakan
adanya percepatan pertumbuhan lebih banyak asupan nutrisi khususnya zat besi19.

Anemia gizi besi merupakan masalah gizi mikro yang banyak terjadi di
seluruh dunia secara global 1,62 miliar orang mengalami anemia, kebanyakan
karena kekurangan zat besi. Satu dari tiga wanita usia subur diperkirakan
mengalami anemia. Wanita tidak hamil merupakan kelompok penduduk yang
paling banyak terkena anemia (468,4 juta jiwa). Penelitian telah menunjukkan
bahwa dengan meningkatkan nutrisi zat besi dan folat, tidak hanya memengaruhi
ibu yang aman dan hasil kelahiran, tetapi juga meningkatkan kesehatan dan

4
kesejahteraan wanita usia subur dengan mengoptimalkan kinerja pendidikan dan
meningkatkan produktivitas secara keseluruhan20. Menurut World Health
Organization penduduk di dunia mengalami anemia lebih dari 30% penduduk di
dunia. Pada negara maju dengan presentase sebesar 4,3-20% dan pada negara
berkembang dengan sebesar 20-48% dengan anemia gizi besi.

Secara global diderita anak-anak sebesar 43%, ibu hamil sebesar 38%,wanita
tidak hamil sebesar 29%,dan semua wanita usia subur didiagnosa anemia sebesar
29% 21. Berdasarkan profil kesehatan Indonesia prevalensi anemia di Indonesia
sebesar 48,9% banyak terjadi pada kelompok umur 15-24 tahun dengan
presentase sebesar 84,6%22. Berdasarkan data dari Dinkes Kesehatan Kota Jambi
Tahun 2020 kasus anemia pada remaja usia 15-19 tahun sebanyak 201 pada
remaja putri dan 7 pada remaja laki-laki 23. Penelitian Kalsum dan Halim (2016)
menunjukkan Prevalensi Anemia di Muaro Jambi kejadian anemia 46,7%, dimana
66,7 % putri dan 23,8% putra 24.

Berdasarkan Riskesdas tahun 2018, proporsi remaja putri yang telah menerima
tablet fe sebesar 80,9% dan yang belum mendapatkan tablet fe sebesar 19,1%.
Dari 80,9 % remaja putri yang telah mendapatkan tablet Fe hanya 1,4% yang
patuh mengkonsumsi tablet Fe sebanyak ≥52 butir tablet Fe dan 98,6% remaja
putri masih belum patuh mengkonsumsi tablet Fe yaitu < 52 butir tablet Fe25.

Berdasarkan hasil survey pendahuluan yang telah dilakukan oleh Yuke


Andani dkk (2020) diketahui bahwa dari 10 orang siswi yang diambil secara acak
sebanyak 6 orang siswi tidak mengetahui tentang mengkonsumsi tablet Fe untuk
mencegah terjadinya Anemia dan sikap tidak rutin meminum tablet Fe satu
minggu sekali dan saat menstruasi serta berpola hidup tidak sehat menyebabkan
turunnya konsentrasi belajar sehingga berdampak pada turunnya prestasi.
Sedangkan 4 orang siswi lainnya memiliki pengetahuan tentang tablet Fe yang
standar dan melakukan minum tablet Fe rutin dari petugas puskesmas26.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Provinsi Jambi tahun 2019, presentase


remaja putri yang telah mendapatkan tablet Fe yaitu sebesar 96%. Pemberian

5
tablet Fe telah di realisasikan di 19 wilayah kerja puskesmas yang ada di kota
Jambi. Jumlah sasaran remaja putri yang diberi tablet Fe ini yaitu sebanyak
32.262. Pemberian tablet Fe diharapkan dapat meningkatkan kesehatan remaja
putri serta dapat menurunkan angka kejadian anemia pada remaja putri 27.

Di Provinsi Jambi, berdasarkan data Dinas Kesehatan Provinsi Jambi tahun


2019, presentase remaja putri yang telah mendapatkan tablet Fe yaitu sebesar
96%. Pemberian tablet Fe telah di realisasikan di 19 wilayah kerja puskesmas
yang ada di kota Jambi. Jumlah sasaran remaja putri yang diberi tablet Fe ini yaitu
sebanyak 32.262. Pemberian tablet Fe diharapkan dapat meningkatkan kesehatan
remaja putri serta dapat menurunkan angka kejadian anemia pada remaja putri 28.

Berdasarkan data Riskesdas Provinsi Jambi alasan penyebab remaja tidak


minum/menghabiskan Tablet Fe yang diperoleh dari sekolah pada remaja putri
umur 10-19 tahun yaitu : Hanya diminum ketika haid sebesar 2,88%,Lupa sebesar
20,28%,Rasa dan bau tidak enak sebesar 48,13%,Ada Efek samping sebesar
7,11%,Belum waktunya habis sebesar 0,57%,Merasa tidak perlu sebesar 18,45%
dan lainnya sebesar 2,59% 27.

Dalam penelitian subiakni memaparkan bahwa faktor-faktor yang


berhubungan dengan kepatuhan remaja putri dalam mengkonsumsi Tablet Fe di
Indonesia yaitu: pengetahuan, sikap, dan dukungan guru, dukungan keluarga.
Kesadaran remaja putri untuk patuh mengkonsumsi tablet fe tidak terlepas dari
informasi dan pengetahuan tentang tablet tambah darah29.

Yusniarita (2020) menyebutkan bahwa telah dilakukan beberapa strategi untuk


mencegah dan menanggulangi kejadian anemia melalui pemberian Tablet Fe.
Tablet Fe merupakan suplemen makanan yang mengandung zat besi dan folat. Zat
besi berperan penting dalam pembuatan sel darah merah yang mengangkut
oksigen dari paru-paru ke jaringan. Sehingga mengkonsumsi tablet Fe setiap
bulannya berguna untuk menganti zat besi yang hilang karena menstruasi dan
untuk memenuhi kebutuhan zat besi yang belum tercukupi dari makanan yang
dikonsumsi setiap harinya.26 .

6
Menurut WHO tahun 2011, satu dari tiga wanita yang tidak hamil hampir 500
juta orang wanita mengalami anemia yang disebabkan karena pemasukan zat besi
yang tidak mencukupi. Remaja putri sangat penting mengkonsumsi tablet fe
karena sangat rentan kekurangan zat besi karena menstruasi, pertumbuhan yang
cepat, dan peningkatan kebutuhan zat besi jaringan30

Berdasarkan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Noviazahra (2017)


menyimpulkan bahwa hasil analisis p-value 0,005 (<0,05) yang menunjukkan
bahwa ada hubungan yang bermakna antara tingkat pengetahuan dengan konsumsi
Tablet Fe . Hal ini dikarenakan bahwa responden yang memiliki tingkat
pengetahuan dalam kategori kurang dan tidak mengonsumsi Tablet Fe 1
tablet/minggu yaitu 39 responden (83,0%). Jumlah tersebut lebih besar jika
dibandingkan dengan responden yang memiliki pengetahuan baik dan
mengkonsumsi Tablet Fe 1 tabet/minggu yang berjumlah 10 responden (41,2%)31.

Berdasarkan penelitian terdahulu oleh DLN Aulia (2019) menyimpulkan


bahwa p-value 0,030 < 0,05 yang berarti bahwa ada hubungan antara pengetahuan
prilaku remaja putri dalam mengkonsumsi tablet besi (Fe) selama menstruasi ,
Dari 38 responden yang berpengetahuan baik 21 responden (55,3%) yang
mengkonsumsi 17 responden (44,7%) yang tidak mengkonsumsi tablet besi
(Fe),sedangkan dari 48 responden yang berpengetahuan Tidak Baik 15 responden
(31,2%) yang mengkonsumsi 33 responden (68,8%) yang tidak mengkonsumsi
tablet besi (Fe) 32

Berdasarkan penelitian nanik dkk (2017)33 dan Akma (2016)34 menyatakan


bahwa pengetahuan dan sikap berhubungan dengan perilaku remaja putri ,
penelitian ini sejalan dengan mempengaruhi tindakan remaja putri dalam
mengkonsumsi tablet fe untuk pencegahan anemia .

Berdasarkan penelitian Nadiyah (2021) mengenai variabel sikap, hasil


menunjukkan bahwa yang mendominasi adalah responden dengan memiliki sikap
positif dan mengkonsumsi tablet tambah darah yaitu 62 responden (95,4%). Hasil
analisis p- value 0,000 (<0,005) yang menunjukkan bahwa ada hubungan yang

7
bermakna antara sikap dengan tingkat kepatuhan konsumsi tablet fe 35. Penelitian
ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Rahfiludin dkk (2016)
hubungan sikap dengan kebiasaan konsumsi tablet tambah darah dengan nilai
p=0,031 (p<0,05) artinya responden dengan sikap baik memiliki kemungkinan
mengkonsumsi tablet fe 2,2 kali lebih besar dibandingkan responden dengan sikap
buruk. Dapat disimpulkan sikap yang baik terbukti dapat menciptakan kepatuhan
yang baik dalam mengkonsumsi tablet fe dikarenakan responden yang memiliki
sikap baik juga memiliki kesadaran yang tinggi mengenai pentingnya
mengkonsumsi tablet fe sebagai upaya mencegah anemia pada remaja putri36.

Berdasarkan penelitian Asnawati dkk (2017) di SMA PGRI 4 Banjarmasin


menyimpulkan bahwa nilai p value = 0,029 < 0,05 yang menunjukkan adanya
hubungan yang bermakna antara dukungan keluarga dan niat konsumsi tablet
tambah darah pada remaja puteri37. Penelitian ini sejalan dengan penelitian
Nurbaiti (2018) di SMAN 4 Kota Jambi bahwa dapat disimpulkan karena p value
= 0,021 < α 0,05 menunjukkan bahwa ada hubungan yang bermakna antara
dukungan keluarga dengan perilaku pencegahan [Link] umumnya remaja
membutuhkan dukungan dari keluarga yang memberikan pengaruh yang
bermakna pada tindakan pencegahan terhadap anemia 38.

Berdasarkan penelitian Mulugeta et al (2015) bahwa sekolah dan guru adalah


tempat yang sangat mendukung remaja putri (anak sekolah) untuk bisa patuh
mengonsumsi TTD. Diharapkan adanya kerja sama sektor kesehatan dan sektor
pendidikan, dalam hal ini guru agar mendapatkan pelatihan tentang gizi. Selain itu
penyuluhan gizi dapat disampaikan sebelum menyanyikan lagu kebangsaan di
pagi hari 39.

Menurut Laporan Riskesdas tahun 2018, remaja putri mendapat TTD


sebanyak 76,2% dengan 80,9% mendapatkan TTD dari sekolah, sebanyak 98,6%
hanya mengonsumsi 25. Berdasarkan Laporan Riskesdas Provinsi Jambi (2018)
Proporsi riwayat menstruasi remaja putri umur 10-19 tahun yang sudah
menstruasi di Kota Jambi yaitu sebesar 70,02% , Proporsi remaja putri umur 10-

8
19 tahun yang memperolah tablet Fe di kota jambi sebesar 23,10% dan
mendapatkan tablet Fe dalam 12 bulan terakhir yaitu sebesar 67,88% 27.

Menurut Dinas Kesehatan Kota Jambi dalam laporan pencapaian indikator


kinerja pembinaan gizi tahun 2020 didapat cakupan pemberian tablet Fe sebesar
23% dari sasaran 18.154 orang remaja putri yang mendapatkan tablet Fe sebanyak
4.120 orang. Berdasarkan data tersebut puskesmas-puskesmas di Kota Jambi
belum mencapai target, akan tetapi puskesmas yang target sasarannya hanya
14,6% dari jumlah remaja putrinya yaitu Puskesmas Simpang IV Sipin dengan
cakupan 14,6% dari jumlah remaja putri sebanyak 4533 orang yang mendapatkan
tablet Fe hanya sebanyak 660 orang 40.

Data dari Puskesmas Simpang IV Sipin cakupan pemberian tablet Fe rendah


di SMPN 7 dan SMPIT Nurul Ilmi sebesar 14,6% ditahun 2020 dan 2021 karena
dari jumlah remaja putri sebanyak 4.533 orang yang mendapatkan tablet Fe
sebanyak 660 orang dan dikarenakan Covid-19 maka tidak diberikan tablet Fe,
Cakupan pemberian Tablet Fe tahun 2022 sebesar 26,7% di SMAN 10, SMAN 5,
SMPN 7, SMPIT Nurul Ilmi, MTS Asas Islamiyah,SMPN 17, Muhammadiyah
dari jumlah remaja putri sebanyak 4533 orang yang mendapatkan tablet fe hanya
1210 orang 41

Menurut Listiana (2016) pengetahuan dan sikap merupakan faktor yang


mempermudah terbentuknya perilaku. Perubahan perilaku akan terbentuk secara
bertahap, diawali dengan perubahan pengetahuan, kemudian sikap. Setelah semua
stimulus tersebut disadari maka munculah perubahan tindakan/ praktik. Sikap
remaja putri terhadap pencegahan anemia merupakan respon remaja putri terhadap
pernyataan mengenai anemia yang terdiri dari gejala,tanda penyebab,dampak serta
upaya dalam pencegahannya 34
. Alasan saya memilih lokasi di SMA yaitu
merupakan remaja putri SMA merupakan sudah mengalami menstruasi
seluruhnya.

Berdasarkan penjelasan di atas maka peneliti tertarik untuk mengetahui lebih


dalam faktor -faktor yang mempengaruhi konsumsi tablet fe seperti pengetahuan,

9
sikap, dukungan dan perilaku. Penelitian ini akan dilakukan di SMAN 5 Kota
Jambi merupakan salah satu sekolah dengan jumlah peserta didik terbanyak di
wilayah kerja Puskesmas Simpang IV Sipin dengan jumlah siswa 1300
merupakan salah satu SMA yang berada di bawah wilayah Puskesmas Simpang
IV Sipin dengan jumlah siswa perempuan [Link] Laporan Indikator
pencapaian kinerja pembinaan gizi Kota Jambi pentingnya konsumsi tablet Fe
pada remaja putri dalam pencegahan dan pegendalian kepada kesehatan remaja.

Menurut survei awal. sepanjang telusuran penelini belum ada penelitian


sejenis . Berdasarkan hal tersebut peneliti tertarik untuk melakukan penelitian
dengan judul Hubungan Pengetahuan, Sikap, Dukungan, dengan Perilaku
Konsumsi tablet Fe saat menstruasi pada remaja putri di SMAN 5 Kota Jambi.

1.2 Rumusan Masalah


Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini adalah apakah ada
hubungan Pengetahuan, Sikap, Dukungan keluarga dengan dukungan guru
dengan Perilaku konsumsi tablet Fe Saat Menstruasi Pada Remaja Putri di
SMA 5 Kota Jambi?
1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui hubungan pengetahuan, sikap, dukungan
keluarga dan dukungan guru dan perilaku konsumsi tablet fe saat
menstruasi pada remaja putri di SMA 5 Kota Jambi
1.3.2 Tujuan Khusus
1. Mengetahui gambaran distribusi frekuensi pengetahuan, sikap, dukungan,
perilaku konsumsi tablet Fe saat menstruasi pada remaja putri di SMAN 5
Kota Jambi
2. Untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan dengan perilaku
konsumsi tablet fe saat menstruasi pada remaja putri di SMAN 5 Kota
Jambi
3. Untuk Mengetahui hubungan antara sikap dengan perilaku konsumsi tablet
fe saat menstruasi pada remaja putri di SMAN 5 Kota Jambi

10
4. Untuk mengetahui hubungan antara dukungan keluarga dengan perilaku
konsumsi tablet fe saat menstruasi pada remaja putri di SMAN 5 Kota
Jambi
5. Untuk mengetahui hubungan antara dukungan guru dengan perilaku
konsumsi tablet fe saat menstruasi pada remaja putri di SMAN 5 Kota
Jambi.

1.4 Manfaat Penelitian


1. Bagi Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Jambi
Hasil Penelitian ini diaharapkan dapat menjadi informasi dan referensi
bagi mahasiswa dan dosen mengenai hubungan pengetahuan, sikap,
dukungan dengan perilaku tablet fe saat menstruasi pada remaja putri di
SMA 5 Kota Jambi.
2. Bagi Remaja
Hasil penelitian ini diharapkan nantinya Untuk menambah wawasan
remaja putri tentang manfaat mengkonsumsi tablet Fe sehingga faktor
risiko kejadian anemia dapat dihindari.
3. Bagi SMAN 5 Kota Jambi
Hasil Penelitian ini dapat dijadikan sebagai masukan bagi sekolah untuk
lebih meningkatkan program pelayanan kesehatan reproduksi pada remaja.
4. Bagi Penulis
Menambah pengetahuan, wawasan peneliti terkait informasi mengenai
Hubungan Pengetahuan, Sikap, Dukungan dengan Perilaku Konsumsi
Tablet Fe Saat Menstruasi Pada Remaja Putri di SMA 5 Kota Jambi

11
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Remaja putri


Menurut Rohan dan Siyito (2013) Remaja putri merupakan Remaja
merupakan masa transisi antara masa anak-anak ke masa dewasa, dimana
terjadi pacu tumbuh (growth spurt), timbul ciri-ciri seks sekunder dan
primer, tercapai fertilitas dan terjadi perubahanperubahan emosional,
fisiologi maupun psikologi. Perubahan fisiologi diantaranya ditandai
dengan berfungsinya organ reproduksi seperti menstruasi.16 Masa remaja
juga dicirikan dengan banyaknya rasa ingin tahu pada diri seseorang dalam
berbagai hal, tidak terkecuali bidang seks. Seiring dengan bertambahnya
usia seseorang, organ reproduksi pun mengalami perkembangan dan pada
akhirnya akan mengalami kematangan. Pada masa pubertas, hormon-
hormon yang mulai berfungsi selain menyebabkan perubahan fisik/ tubuh
juga mempengaruhi dorongan seks remaja. Usia reproduksi sehat untuk
wanita adalah antara 20-30 tahun. Masa remaja meruapakan masa
pertumbuhan yang sangat cepat. Gizi remaja merupakan cerminan masalah
gizi pada usia dini dan banyak remaja memasuki tahap perkembangan
yang penting ini dalam kondisi menderita stunting, dan/atau anemia dan
juga seringkali memiliki berbagai kekurangan zat gizi mikro lainnya.
Kehidupan remaja tidak hanya berpusat pada satu hal, tantangan-
tantangan yang saat ini dihadapi remaja sangat beragam, mulai dari
pergaulan, kesehatan fisik, kesehatan jiwa, perkawinan anak dan lain

12
sebagainya. Oleh karena itu remaja memiliki paparan terhadap 8 isu
kesehatan yaitu gizi, kesehatan reproduksi, HIV/AIDS, kebersihan
personal dan sanitasi, penyakit tidak menular (PTM), penyalahgunaan obat
(NAPZA), kesehatan jiwa, dan kekerasan/ cedera.
Pada remaja putri, puncak pertumbuhan terjadi sekitar 12-18 bulan
sebelum mengalami menstruasi pertama atau sekitar usia 10-14 tahun
(ADB/SCN, 2001 diacu dalam Briawan, 2008). Selama periode remaja,
kebutuhan zat besi meningkat secara dramatis sebagai hasil dari ekspansi
total volume darah, peningkatan massa lemak tubuh, dan terjadinya
menstruasi pada remaja putri (Beard, 2000). Pada wanita, kebutuhan yang
tinggi akan besi terutama disebabkan kehilangan zat besi selama
menstruasi
Secara keseluruhan, kebutuhan zat besi meningkat dari kebutuhan saat
sebelum remaja sebesar 0.7-0.9 mg Fe/hari menjadi 2.2 mg Fe/hari atau
mungkin lebih saat menstruasi berat. Peningkatan kebutuhan ini
berhubungan dengan waktu dan ukuran growth spurt sama seperti
kematangan seksual dan 9 terjadinya menstruasi. Hal ini mengakibatkan
wanita lebih rawan terhadap anemia besi dibandingkan pria 42.
2.2 Pengertian Menstruasi
Dalam Penelitian Ada RC Nwokocha, Josephat M. Chinawa, Agozie C.
Ubesie, Vivian I. Onukwuli and Pius C. Manyike Menyebutkan bahwa
Menstruasi adalah keluarnya darah dan lapisan mukosa rahim secara periodik
melalui vagina. Timbulnya keluarnya cairan ini disebut menarche dan dimulai
pada atau sebelum kematangan seksual dan berhenti saat menopause . Awal
menstruasi menandai dimulainya kehidupan reproduksi. Menstruasi
merupakan fenomena alam yang terjadi sepanjang masa reproduksi setiap
wanita 43

2.1.1 Siklus Menstruasi


Menurut Ety Hadisaputro (2018) Siklus menstruasi merupakan
suatu rangkaian proses yang saling mempengaruhi dan terjadi secara
bersamaan di endometrium, kelenjar hipotalamus, dan hipofisis, serta

13
ovarium. Tujuan siklus menstruasi adalah membawa ovum yang matur dan
memperbarui jaringan uterus untuk persiapan pertumbuhan atau fertilisasi.
Siklus menstruasi normal dapat dibagi menjadi 2 segmen yaitu, siklus
ovarium (indung telur) dan siklus uterus (rahim). Siklus indung telur 15
terbagi lagi menjadi 2 bagian, yaitu siklus folikular dan siklus luteal,
sedangkan siklus uterus dibagi menjadi masa proliferasi (pertumbuhan)
dan masa sekresi. Perubahan di dalam rahim merupakan respon terhadap
perubahan hormonal. Rahim terdiri dari 3 lapisan yaitu perimetrium
(lapisan terluar rahim), miometrium (lapisan otot rahim, terletak di bagian
tengah), dan endometrium (lapisan terdalam rahim). Endometrium adalah
lapisan yang berperan di dalam siklus menstruasi, 2/3 bagian endometrium
disebut desidua fungsionalis yang terdiri dari kelenjar, dan 1/3 bagian
terdalamnya disebut sebagai desidua basalis Sistem hormonal yang
mempengaruhi siklus menstruasi adalah 44 :
1. FSH-RH (Follicle Stimulating Hormone Releasing Hormone) yang
dikeluarkan hipotalamus untuk merangsang hipofisis mengeluarkan FSH
LH-RH (Luteinizing Hormone Releasing Hormone) yang dikeluarkan
hipotalamus untuk merangsang hipofisis mengeluarkan LH.
2. PIH (Prolactine Inhibiting Hormone) yang menghambat hipofisis untuk
mengeluarkan prolaktin. Pada setiap siklus menstruasi, FSH yang
dikeluarkan oleh hipofisis merangsang perkembangan folikel-folikel di
dalam ovarium (indung telur). Pada umumnya hanya 1 (satu) folikel yang
terangsang namun dapat perkembangan dapat menjadi lebih dari 1 (satu),
dan folikel tersebut.44
2.1.2 Gangguan Menstruasi
Menurut Wiyono (2015) memaparkan bahwa:
1. Polimenorea Siklus haid lebih pendek dari normal, yaitu kurang dari 21
hari, perdarahan kurang lebih sama atau lebih banyak daripada haid
normal. Penyebabnya adalah gangguan hormonal, kongesti ovarium
karena peradangan, endometriosis, dan lai-lain. Pada gangguan hormonal
terjadi gangguan ovulasi yang menyebabkan pendeknya masa luteal.

14
Diagnosis dan pengobatan membutuhkan pemeriksaan hormonal dan
laboratorium lain.
2. Oligomenorea Siklus haid lebih panjang dari normal, yaitu lebih dari 35
hari, dengan perdarahan yang lebih sedikit. Umumnya pada kasus ini
kesehatan penderita tidak terganggu dan fertilitas cukup baik.
3. Amenorea Keadaan dimana tidak adanya haid selama minimal 3 bulan
[Link] dibagi menjadi 2, yaitu amenorea primer dan
[Link] primer ialah kondisi dimana seorang perempuan
berumur 18 tahun atau lebih tidak pernah haid, umumnya dihubungkan
dengan kelainan-kelainan kongenital dan [Link] sekunder
adalah kondisi dimana seorang pernah mendapatkan haid, tetapi kemudian
tidak mendapatkan haid, biasanya merujuk pada gangguan gizi, gangguan
metabolisme, tumor, penyakit infeksi, dan lain-lain. Ada pula amenorea
fisiologis yaitu masa sebelum pubertas, masa kehamilan, masa laktasi, dan
setelah menopause.45
2.2 Pengetahuan
2.2.1 Defenisi Pengetahuan
Salah satu faktor yang dapat menyebabkan ketidakpatuhan remaja
putri untuk mengkonsumsi Tablet fe adalah pengetahuan. Pengetahuan ini
terkiat tentang manfaat Tablet fe yang dikonsumsi dan anemia yang
remaja putri derita . Pengetahuan merupakan salah satu faktor
predisposing (predisposisi) yang dapat mempengaruhi perilaku individu
untuk mengkonsumsi Tablet fe karena pengetahuan merupakan faktor
dominan untuk terbentuknya tindakan seseorang. Pengetahuan sering
diperoleh dari pengalaman diri sendiri maupun pengalaman yang diperoleh
dari orang lain. Pengetahuan yang baik akan mendorong untuk
menampilkan sikap yang sesuai dengan pengetahuan yang telah
didapatkannya. Pengalaman sebagai sumber pengetahuan adalah suatu
cara untuk memperoleh kebenaran pengetahuan dengan cara mengulang
kembali pengetahuan yang diperoleh dari pengalaman itulah individu akan
belajar yang dapat mempengaruhi pengatahuan46. Kesadaran untuk

15
mengkonsumsi suplemen Tablet fe tidak lepas dari informasi dan
pengetahuan karena pengetahuan merupakan faktor yang mempengaruhi
perilaku konsumsi seseorang. Pengetahuan dapat mempengaruhi perilaku,
termasuk mempengaruhi pola hidup dan kebiasaan makannya. Perilaku
yang didasari pengetahuan akan bertahan lebih lama. Remaja yang
mempunyai pengetahuan yang baik khususnya tentang TTD tentunya
mengetahui perceived benefit (manfaat yang dirasakan) dan perceived
threat (kerugian yang dirasakan) apabila tidak mengkonsumsi tablet fe
sehingga hal ini akan membuat mereka teratur dalam mengkonsumsi tablet
fe (Utomo,dkk,2020)
2.2.2 Tingkatan Pengetahuan
Menurut Notoatdmojo (2014) pengetahuan mempunyai 6 tingkatan
yang masing-masing individu memiliki tingkatan yang berbeda-beda.
antara lain yaitu:
a. Tahu (know)
Pengetahuan yang dimiliki baru sebatas berupa mengingat kembali apa
yang telah dipelajari sebelumnya, sehingga tingkatan pengetahuan
pada tahap ini merupakan tingkatan yang paling rendah. Kemampuan
pengetahuan pada tingkatan ini adalah seperti menguraikan,
menyebutkan, mendefinisikan, menyatakan. Contoh tahapan ini antara
lain: menyebutkan definisi pengetahuan, menyebutkan definisi rekam
medis, atau menguraikan tanda dan gejala suatu penyakit.
b. Memahami (comprehension)
Pengetahuan yang dimiliki pada tahap ini dapat diartikan sebagai suatu
kemampuan menjelaskan tentang objek atau sesuatu dengan benar.
Seseorang yang telah faham tentang pelajaran atau materi yang telah
diberikan dapat menjelaskan, menyimpulkan, dan menginterpretasikan
objek atau sesuatu yang telah dipelajarinya tersebut. Contohnya dapat
menjelaskan tentang pentingnya dokumen rekam medis.
c. Aplikasi (application)

16
Pengetahuan yang dimiliki pada tahap ini yaitu dapat mengaplikasikan
atau menerapkan materi yang telah dipelajarinya pada situasi kondisi
nyata atau sebenarnya. Misalnya melakukan assembling (merakit)
dokumen rekam medis atau melakukan kegiatan pelayanan
pendaftaran.
d. Analisis (analysis)
Kemampuan menjabarkan materi atau suatu objek ke dalam
komponen-komponen yang ada kaitannya satu sama lain. Kemampuan
analisis yang dimiliki seperti dapat menggambarkan (membuat bagan),
memisahkan dan mengelompokkan, membedakan atau
membandingkan. Contoh tahap ini adalah menganalisis dan
membandingkan kelengkapan dokumen rekam medis menurut metode
Huffman dan metode Hatta.
e. Sintesis (synthesis)
Pengetahuan yang dimiliki adalah kemampuan seseorang dalam
mengaitkan berbagai elemen atau unsur pengetahuan yang ada menjadi
suatu pola baru yang lebih menyeluruh. Kemampuan sintesisini seperti
menyusun, merencanakan, mengkategorikan, mendesain, dan
menciptakan. Contohnya membuat desain form rekam medis dan
menyusun alur rawat jalan atau rawat inap.
f. Evaluasi (evalution)
Pengetahuan yang dimiliki pada tahap ini berupa kemampuan untuk
melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek.
Evaluasi dapat digambarkan sebagai proses merencanakan,
memperoleh, dan menyediakan informasi yang sangat diperlukan
untuk membuat alternatif keputusan.47
2.2.3 Cara Mengukur Tingkat Pengetahuan
Notoatmodjo (2010) menjelaskan bahwa pengetahuan dapat diukur
dengan cara melakukan tes wawancara serta angket kuesioner, di mana tes
tersebut berisikan pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan materi
yang diukur dari subyek penelitian. Pengukuran tingkat pengetahuan

17
bertujuan untuk mengetahui pengetahuan seseorang dan dirangkum dalam
tabel distribusi frekuensi.
Pengukuran tingkat pengetahuan seseorang dapat dikategorikan
sebagai berikut:
1. Tingkat Pengetahuan dikatakan baik jika responden mampu menjawab
pernyataan pada kuesioner dengan benar sebesar ≥ 75% dari seluruh
pernyataan dalam kuesioner.
2. Tingkat Pengetahuan dikatakan cukup jika responden mampu
menjawab pernyataan pada kuesioner dengan benar sebesar 56-74%
dari seluruh pernyataan dalan kuesioner.
3. Tingkat Pengetahuan dikatakan kurang jika responden mampu
menjawab pernyataan pada kuesioner dengan benar sebesar < 55% dari
seluruh pernyataan dalam kuesioner 48.
2.3 Sikap
2.3.1 Defenisi Sikap
Sikap merupakan suatu pandangan dan respon tertutup seseorang
terhadap suatu stimulus atau objek tertentu yang dapat menggambarkan
perasaan suka atau memihak (favorable) maupun perasaan tidak suka atau
tidak memihak (unfavorable) serta merupakan suatu bentuk evaluasi atau
reaksi perasaan. Sikap terhadap anemia defisiensi besi serta tablet fe
berbeda dengan pengetahuan terhadap anemia defisiensi besi serta tablet
fe. Pengetahuan saja belum menjadi penggerak, seperti halnya pada sikap.
Pengetahuan mengenai suatu obyek dapat menjadi sikap apabila
pengetahuan itu disertai kesediaan untuk bertindak sesuai dengan
pengetahuan terhadap obyek itu.
Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi pemebentukan sikap
adalah pengalaman pribadi, pengaruh orang lain yang dianggap penting,
pengaruh kebudayaan, pendidikan, agama, pengaruh faktor emosional, dan
media massa. Berbagai bentuk media massa seperti televisi, radio, surat
kabar, dan majalah mempunyai pengaruh besar dalam pembentukan opini
dan kepercayaan orang 46

18
2.3.2 Komponen Sikap
Notoatmodjo (2012) menyatakan,bahwa sikap mempunyai kelompok
pokok,antara lain:
a. Komponen kognitif merupakan representasi apa ayang dipercayai oleh
individu pemilik sikap, komponen kognitif berisi kepercayaan stereotype
yang memiliki individu mengenai ssuatu dapat disamakan penanganan
(opini) terutama apabila menyangkut maslaah isu atau problem yang
kontroversial.
b. Komponen efektif merupakan perasaan yang mneyangkut aspek
emosional. Aspek emosional inilah yang biasanya berakar paling dalam
sebagai komponen sikap dan merupakan aspek yang paling bertahan
terhadap pengaruh-pengaruh yang mungkin adalah mengubah sikap
seseorang komponen afektif yang disamakan dengan perasaan yang
dimiliki seseorang terhadap sesuatu.
c. Komponen konatif merupakan aspek kecenderungan berperilaku tertentu
sesuai denga sikap yang dimiliki seseorang dan berisi terdensi atau
kecenderungan untuk bertindak dan berkasi terhadap sesuatu dengan cara-
cara tertentu, dan berkaitan dengan objek yang dihadapi adalah logis untuk
mengharapkan bahwa sikap seseorang adalah dicerminkan dalam bentuk
tendensi pelaku.
Ketiga komponen ini secara bersama-sama membentuk sikap yang utuh
(total attitude). Dalam penentuan sikap yang utuh ini
pengetahuan,pikiran,keyakinan,dan emosi memegang peranan penting.
2.3.3 Tingkatan Sikap
Menurut Notoadmodjo (2012), sikap ini terdiri dari berbagai tingkatan:
1. Menerima (receiving)
Menerima diartikan bahwa orang (subjek) mau dan memperhatikan
stimulus yang diberikan (objek). Misalnya sikap orang terhadap gizi
dapat dilihat dari kesediaan dan perhatian orang itu terhadap ceramah –
ceramah tentang gizi.
2. Merespons (responding)

19
Memberikan jawaban apabila ditanya, mengerjakan, dan
menyelesaikan tugas yang diberikan adalah suatu indikasi dari sikap.
Karena dengan suatu usaha untuk menjawab pertanyaan atau
mengerjakan tugas yang diberikan, terlepas dari pekerjaan itu benar
atau salah, adalah berarti bahwa orang menerima ide tersebut.
Misalnya seorang ustadz yang memberikan respons kepada istrinya
ketika sang istri ditawarkan untuk menggunakan kontrasepsi kepada
istrinya.
3. Menghargai (valuing)
Mengajak orang lain untuk mendiskusikan suatu masalah adalah suatu
indikasi sikap tingkat tiga. Misalnya seorang ibu yang mengajak ibu
yang lain (tetangganya, saudaranya dan sebagainya) untuk pergi
menimbangkan anaknya ke posyandu atau mendiskusikan tentang gizi,
adalah suatu bukti bahwa si ibu tersebut telah mempunyai sikap positif
terhadap gizi anak.
4. Bertanggung jawab (responsible)
Bertanggung jawab atas segala sesuatu yang telah dipilihnya dengan
segala risiko merupakan sikap yang paling tinggi. Misalnya seorang
ibu mau menjadi akseptor KB, meskipun mendapat tantangan dari
mertua atau orang tuanya sendiri.49
2.3.4 Cara Mengukur Sikap
Menurut Notoadmodjo (2011) Memaparkan bahwa Pengukuran
sikap dapat dinyatakan dengan komentar secara langsung ataupun
pandangan responden terhadap sesuatu objek tertentu. Berikutnya
cenderung diakhiri dengan sebagian pandangan spekulatif dan setelah itu
memohon guna evaluasi dari responden tentang pandangannya 50.
Penelitan and Dukungan (2021) menjelaskan bahwa Pengukuruan
sikap dapat dibagi dengan beberapa cara, sebagai berikut:
a. Wawancara langsung dilakukan dengan menggunakan daftar pertanyaan
yang ditanyakan langsung kepada responden.

20
b. Observasi langsung dilakukan melalui pengamatan langsung tingkah laku
individu terhadap suatu obyek sikap.
Kuesioner sikap digunakan dengan mengukur nilai tertentu dalam
obyek sikap di setiap pernyataan. Pengukuran sikap dapat diukur dengan
menggunakan Skala Likert. Skala Likert merupakan skala yang sering
digunakan dalam pengukuran sikap. Skala Likert menggunakan kategori
jawaban berkisar sangat setuju hingga sangat tidak setuju. Peneliti dapat
menggunakan 5 kategori tingkat persetujuan (sangat setuju, setuju, ragu-
ragu, tidak setuju, dan sangat tidak setuju). Selain itu peneliti dapat
menggunakan 7 kategori namun ada pula peneliti yang memakai empat
atau enam kategori jawaban dengan alasan menghindari kategori tengah.
Karena pada variabel sikap harus ditentukan apakah responden bersikap
positif atau negatif oleh sebab itu biasanya digunakan skala dengan
kategori jawaban genap.
2.4 Dukungan
2.4.1 Defenisi Dukungan Guru

Dukungan guru adalah faktor reinforcing (penguat) terhadap


kepatuhan konsumsi tablet fe. Faktor reinforcing merupakan
faktor yang memperkuat terjadinya perilaku. Dalam penelitian
Nuradhiani dkk (2017) mayoritas reponden penelitian
mendapatkan dukungan guru yang baik untuk meningkatkan
kepatuhan untuk mengkonsumsi suplemen tablet fe 51
. Sejalan
dengan penelitian Aditianti dkk (2015) peran dan dukungan
pendamping dibutuhkan untuk meningkatkan kepatuhan
mengkonsumsi suplemen tablet fe 52
Keterlibatan guru sebagai
pengawas minum obat (pmo) berhubungan dengan kepatuhan
dalam mengkonsumsi tablet fe 53.

2.4.2 Dukungan Keluarga


Selain faktor pengetahuan, sikap, dan motivasi, dukungan atau
peran serta pihak luar (keluarga, guru,teman, dan petugas

21
kesehatan) memiliki andil yang cukup besar dalam mempengaruhi
kepatuhan konsumsi tablet fe. Dukungan dari pihak keluarga,
terutama orang tua termasuk dalam upaya untuk mengingatkan
individu mengkonsumsi tablet fe sesuai anjuran. Peran dan fungsi
keluarga sangat penting di saat salah satu anggota keluarga
mengalami masalah kesehatan. Mereka dapat memberikan
motivasi, mengingatkan dalam mengkonsumsi tablet fe , dan
memantau kesehatannya 54. Salah satu dukungan keluarga berasal
dari ibu, wujud dukungan ibu terhadap anggota keluarga yakni
dengan memberikan asupan makanan yang bergizi seimbang dan
beragam dan memantau kesehatan anggota keluarga. Remaja putri
dengan tingkat pendidikan ibu rendah lebih beresiko sebesar 2,349
kali untuk menderita anemia34. Sesuai dengan penelitian setyowati
dkk (2017) yang menyebutkan ada hubungan yang bermakna
antara dukungan ibu dengan perilaku makan remaja putri dalam
pencegahan anemia. Dukungan keluarga yang baik menurunkan
resiko sebesar 3,213 kali bagi remaja putri untuk terkena anemia 55.
2.4.3 Cara Pengukuran Dukungan
Menurut Pertiwi ada tiga cara untuk mengukur besarnya dukungan :
1. Pesceived social support: cara pengukuran ini berdasarkan pada
perilaku subjektif yang dirasakan individu mengenai tingkah laku
orang disekitarnya, apakah memberikan dukungan atau tidak.
2. Social embeddnes: cara pengukuran ini berdasarkan ada atau tidaknya
hubungan antara individu dengan orang lain di sekitarnya. Focus
pengukuran ini tidak melihat pada kualitas dan keadekuatan, tetapi
hanya melihat jumlah orang yang berhubungan dengan individu.
3. Enected support: cara pengukuran ini fokus pada seberapa sering
perilaku dari orang sekitar individu yang dapat digolongkan kedalam
pemberian dukungan yang diterima individu. 56
2.5 Perilaku
2.5.1 Faktor-faktor yang mempengaruhi Perilaku Kesehatan

22
Menurut buku Notoatmodjo (2003), menganalisis bahwa perilaku
manusia dari tingkatan kesehatan. Tingkat kesehatan seseorang atau
masyarakat dipengaruhi oleh 2 faktor pokok yakni faktor perilaku
(behaviour causer) dan faktor dari luar perilaku (non behaviour causer).
Selanjutnya perilaku itu sendiri ditentukan atau terbentuk dari 3 faktor
yaitu
Faktor-faktor predisposisi (predisposing factors), yang terwujud
dalam pengetahuan, sikap, kepercayaan, keyakinan, nilai-nilai dan
sebagainya.
Faktor-faktor pendukung (enabling factors), yang terwujud dalam
lingkungan fisik, tersedia atau tidak tersedianya fasilitasfasilitas atau
sarana-sarana kesehatan misalnya Puskesmas, obatobatan, alat-alat
kontrasepsi, jamban dan sebagainya.
Faktor-faktor pendorong (reinforcing factors), yang terwujud
dalam sikap dan perilaku petugas kesehatan atau petugas yang lain, yang
merupakan kelompok referensi dari perilaku masyarakat. Di simpulkan
bahwa perilaku seseorang atau masyarakat tentang kesehatan ditentukan
oleh pengetahuan, sikap, kepercayaan, tradisi dan sebagainya dari orang
atau masyarakat yang bersangkutan. Di samping itu ketersediaan fasilitas,
sikap dan perilaku para petugas kesehatan terhadap kesehatan juga akan
mendukung dan memperkuat terbentuknya perilaku. Menurut Leavel dan
Clark yang disebut pencegahan adalah segala kegiatan yang dilakukan
baik langsung maupun tidak langsung untuk mencegah suatu masalah
kesehatan atau penyakit. Pencegahan berhubungan dengan masalah
kesehatan atau penyakit yang spesifik dan meliputi perilaku menghindar.
2.6 Tablet Fe
2.6.1 Pengertian Tablet Fe
Tablet fe adalah suplemen gizi yang mengandung senyawa zat besi
yang setara dengan 60 mg besi elemental dan 400 mcg asam folat.
Kesetaraan besi elemental dan tingkat bioavaillabilitasnya berbeda

23
berdasarkan senyawa besi yang digunakan. Oleh karenannya, Tablet fe
program dan tablet fe mandiri harus mengacu pada ketentuan tersebut.
Senyawa zat besi setara dengan 60 mg besi elemental

Senyawa besi Komposisi Bioavalibitas zat Kandungan besi


senyawa besi (%) elemental (mg)
besi per
tablet (mg)
Ferro fumarat 180 33 60
Ferro gluconat 500 12 60
Ferro sulfat (7 H20) 300 20 60
Ferro sulfat, 160 37 60
anhydrous
Ferro sulfat 200 30 60
exsiccated (IH20)
Sumber : WHO, 2012 dan adaptasi IN ACG, 1998
2.6.2 Fungsi Zat Besi
Menurut Almatsier (2014) dalam 57
a. Sebagai alat angkut oksigen dari paru-paru ke jaringan
b. Sebagai alat angkut eletron pada metabolisme energi
c. Sebagai enzim pembentuk kekebalan tubuh dan sebagai pelarut obat-
obatan.
2.7 Cara pemberian tablet fe

Pemberian TTD dilakukan secara blanket approach dengan cara


pemberian:

[Link] fe program
Tablet fe program diberikan kepada remaja putri usia 12-18 tahun di
sekolah dengan frekuensi 1 tablet setiap minggu sepanjanag
[Link] tablet fe pada remaja putri di sekolah dapat dilakukan
dengan menentukan hari minum tablet fe bersama setiap minggunya sesuai

24
kesepakatan di masing-masing sekolah. Saat libur sekolah tablet fe
diberikan sebelum libur sekolah.
Tablet fe tidak diberikan pada peserta didik perempuan yang menderita
penyakit, seperti thalasemia, hemosiderosis, atau atas indikasi dokter
lainnya.
3. Tablet fe mandiri
Pemberian tablet fe mandiri dilakukan di tempat kerja dilakukan melalui
klinik perusahaan, UKBM, dan kelompok lainnya seperti karang taruna,
LSM, dan lain-lain. Tablet fe dapat diperoleh secara mandiri dari apotek/
toko obat. Tablet fe dikonsumsi 1 tablet setiap minggu sepanjang tahun.
Pemberian Tablet fe pada remaja putri dan WUS dilakukan setiap 1 kali
seminggu dan seusai dengan Permenkes yang berlaku. Pemberian tablet fe
untuk remaja putri dan WUS diberikan secara blanket approach.
Untuk meningkatkan penyerapan zat besi sebaiknya TTD dikonsumsi
bersama dengan:
1. Buah-buahan sumber vitamin C (jeruk, pepaya, mangga, jambu biji dan
lain-lain).
2. Sumber protein hewani, seperti hati, ikan, unggas dan daging.
Hindari mengonsumsi TTD bersamaan dengan :
1. Teh dan kopi karena mengandung senyawa fitat dan tanin yang dapat
mengikat zat besi menjadi senyawa yang kompleks sehingga tidak dapat
diserap.
2. Tablet Kalsium (kalk) dosis yang tinggi, dapat menghambat penyerapan
zat besi. Susu hewani umumnya mengandung kalsium dalam jumlah yang
tinggi sehingga dapat menurunkan penyerapan zat besi di mukosa usus.
3. Obat sakit maag yang berfungsi melapisi permukaan lambung sehingga
penyerapan zat besi terhambat. Penyerapan zat besi akan semakin
terhambat jika menggunakan obat maag yang mengandung kalsium.58

2.8 Manfaat tablet zat besi


Menurut 59
manfaat Tablet Fe sebagai berikut:

25
a. Pengganti zat besi yang hilang bersama darah pada wanita dan remaja
putri saat haid.
b. Wanita hamil, menyusui, sehingga kebutuhan zat besinya sangat tinggi
yang perlu disediakan sedini mungkin semenjak remaja
c. Mengobati wanita dan remaja putri yang menderita anemia.
d. Meningkatkan kemampuan belajar, kemampuan kerja dan kualitas sumber
daya manusia seta generasi penerus.
e. Meningkatkan status gizi dan kesehatan remaja putri.59
2.9 Anemia Defisiensi Besi
2.9.1 Defenisi Anemia
Menurut WHO-VMNIS (2011), anemia didefinisikan sebagai
konsentrasi Hb dibawah 13 g/dl pada pria ≥ 15 tahun, dibawah 12 g/dl
pada wanita yang tidak hamil dan berumur ≥ 15 tahun, dan dibawah 11
g/dl pada wanita yang hamil.
Sulistiyani (2010) mendefinisikan anemia adalah suatu keadaan
terjadinya kekurangan baik jumlah maupun ukuran eritrosit atau
banyaknya hemoglobin sehingga pertukaran oksigen dan karbondioksida
antara darah dan sel jaringan terbatasi. Anemia tidak pernah menjadi sebab
utama dari suatu penyakit, biasanya anemia selalu menjadi akibat
sampingan dari keadaan patologis suatu penyakit tertentu.
Menurut Kemenkes RI (2016) terdapat tiga penyebab anemia, yaitu:
a. Defisiensi zat gizi
Rendahnya asupan zat gizi dari pangan baik hewani maupun nabati
sebagai sumber zat besi yang berperan penting untuk pembuatan
hemoglobin, dimana hemoglobin merupakan komponen dari sel darah
merah. Zat gizi lain yang berperan penting dalam pembuatan
hemoglobin antara lain asam folat dan vitamin B12. Pada penderita
penyakit infeksi kronis seperti TBC, HIV/AIDS, dan keganasan
seringkali disertai anemia karena kekurangan asupan zat gizi atau
akibat dari infeksi itu sendiri.
b. Perdarahan (loss of blood volume)

26
Perdarahan karena kecacingan dan trauma atau luka yang
mengakibatkan kadar Hb menurun atau perdarahan karena menstruasi
yang lama dan berlebihan.
c. Hemolitik
Perdarahan pada penderita malaria kronis perlu diwaspadai karena
terjadi hemolitik yang mengakibatkan penumpukan zat besi
(hemosiderosis) di organ tubuh, seperti hati dan limpa. Pada penderita
talasemia, kelainan darah terjadi secara genetik yang menyebabkan
anemia karena sel darah merah cepat pecah, sehingga mengakibatkan
akumulasi zat besi dalam tubuh
2.3 Kerangka Teori

Konsumsi TTD

Asupan Zat Besi (Fe) Peningkatan Kebutuhan Zat besi

Konsumsi Makanan Menstruasi


Sumber Fe Kepatuhan

Tumbuh
Pengetahuan Efek Samping Kembang
dan Sikap Minum TTD Remaja

Pendidikan
Pengetahuan
Gizi
dan Sikap
Minum TTD
Dukungan Dukungan
Ketersediaan Keluarga Guru
Makanan Informasi

Distribusi

27
Persediaan TTD Status
Pendidikan
Daya Beli Harga

Penghasilan/ Status
Pendapatan Pekerjaan

Gambar 2.2 Kerangka Teori

Modifikasi UNICEF/WHO 1998

2.3 Kerangka Konsep

Pengetahuan

Sikap
Perilaku Konsumsi Tablet
Fe Saat Menstruasi
Dukungan Keluarga

Dukungan Guru

Gambar 2.2 Kerangka Konsep Hubungan Pengetahuan, Sikap, Dukungan dan Perilaku
Konsumsi Tablet Fe Saat Menstruasi Pada Remaja Putri Di SMA 5 Kota Jambi.

2.4 Hipotesis Penelitian

1. Ada hubungan antara Pengetahuan Remaja dengan perilaku Konsumsi


Tablet Fe di SMAN 5 Kota Jambi.
2. Ada hubungan antara sikap Remaja dengan perilaku Konsumsi Tablet Fe
di SMAN 5 Kota Jambi .

28
3. Ada hubungan antara dukungan Keluarga dengan perilaku konsumsi tablet
Fe di SMAN 5 Kota Jambi.
4. Ada hubungan antara dukungan Guru dengan perilaku konsumsi tablet Fe
di SMAN 5 Kota Jambi.

BAB III

METODE PENELITIAN

2.4 Jenis dan Rancangan Penelitian

Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif analitik dengan pendekatan cross


sectional. Kuantitatif yaitu suatu data yang dijelaskan berwujud angka-angka.
Penelitian analitik bertujuan untuk mengkaji kausa atau determinan dari suatu
fenomena. Kesimpulan yang dapat ditarik dalam penelitian analitik ini dapat
berupa hubungan sebab akibat maupun korelasional. Metode pendekatan cross
sectional merupakan suatu jenis penelitian dengan menekan pada observasi data
variabel independen dan variabel dependen yang dilakukan hanya satu kali dalam
satu waktu.

2.5 Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini akan dilakukan di SMAN 5 Kota Jambi di wilayah kerja


Puskesmas Simpang IV Sipin. Adapun waktu pelaksanaan penelitian ini dimulai

29
dari pengumpulan data, pengolahan data, penyusunan hasil dan pembahasan
penelitian direncanakan pada bulan Maret 2023

2.6 Populasi dan Sampel


2.6.1 Populasi Penelitian

Populasi merupakan keseluruhan dari bagian objek penelitian yang akan


diteliti. Populasi dalam penelitian adalah sejumlah besar subyek yang mempunyai
karakteristik tertentu Populasi target dalam penelitian ini adalah seluruh siswi
perempuan SMAN 5 Kota Jambi sebanyak 718 orang . Populasi sumber adalah
seluruh siswi Perempuan kelas X,XI,XII.

2.6.2 Sampel Penelitian

Sampel merupakan bagian dari populasi yang menjadi populasi terpilih


dengan cara tertentu sehingga dianggap dapat mewakili populasi penelitian subjek
penelitian.

Sampel pada penelitian ini merupakan remaja putri yang memenuhi


kriteria inklusi. Kriteria inklusi merupakan karateristik umum yang harus dipenuhi
oleh peserta agar dapat disertakan dalam penelitian dan kriteria eksklusi
merupakan keadaan yang menyebabkan peserta yang memenuhi kriteria inklusi
tidak dapat diikutsertakan dalam penelitian

Perkiraan besar Sampel yang akan diperlukan penelitian ini dihitung


dalam rumus lemeshow dikarenakan jumlah populasi (N) diketahui:

2
Z P ( 1−P ) N
n=
d 2 ( N −1 )+ Z 2

Keterangan :

n : Besar Sampel

N : Besaran Populasi (718 remaja putri yang berusia 15-19 tahun)

Z : Standar deviasi normal (1,96 dengan CL 95%)

30
P : Target Populasi (0,5)

d: Derajat ketepatan yang digunakan (= 5%)

Perhitungan besar sampel minimum:

2
Z P ( 1−P ) N
n=
d 2 ( N −1 )+ Z 2

( 1,96 )2 0,5 ( 1−0,5 ) 718


n=
0 , 05² (718−1 ) +1 ,96²
689,5672
n=
5,6341
n= 122,39≈ 122

Berdasarkan hasil perhitungan besar sampel minimum, maka besar sampel


minimal yang diperlukan pada penelitian ini adalah 122 orang.

2.6.3 Kriteria Inklusi dan Eksklusi


1. Kriteria Inklusi
Kriteria inklusi yaitu karekteristik populasi yang bisa dijadikan
sampel:
1. Siswi aktif saat melakukan penelitian
2. Sudah Menstruasi
3. Bersedia menjadi responden penelitian
4. Memiliki pengetahuan tentang konsumsi tablet fe
2. Kriteria Eksklusi
Kriteria eksklusi yaitu:
1. Responden sakit pada saat penelitian
2. Siswi yang mempunyai riwayat penyakit kesehatan reproduksi
2.6.4 Teknik Pengambilan Sampel
Pada penelitian ini dilakukan cara pengambilan sampel dengan metode
simple random sampling yakni dengan stratifikasi berdasarkan subjek
memiliki peluang yang sama untuk terpilih sebagai subjek dalam
penelitian.

31
Jumlah responden berdasarkan kelas:

Kelas Distribusi dan


jumlah
X X1 20
X 122 = 5
531
X2 20
X 122 = 5
531
X3 20
X 122 = 5
531
X4 21
X 122 = 5
531
X5 21
X 122 = 5
531
X6 21
X 122 = 5
531
X7 21
X 122 = 5
531
X8 21
X 122 = 5
531
X9 21
X 122 = 5
531
X10 20
X 122 = 5
531
X11 21
X 122 = 5
531
X12 20
X 122 = 5
531
X13 21
X 122 = 5
531
X14 22
X 122 = 5
531
XI XI Sains 1.1 30
X 122 = 7
531
XI Sains 1.2 26
X 122 = 6
531

32
XI Sains 1.3 30
X 122 = 6
531
XI Sains 2 8
X 122=¿
531
2
XI Sains 3.1 17
X 122 = 4
531
XI Sains 3.2 16
X 122 = 4
531
XI Sains 4.1 14
X 122 = 6
531
XI Sains 4.2 27
X 122 = 6
531
XI Soshum 1.1 25
X 122 = 6
531
XI Soshum 1.2 22
X 122 = 5
531
Jumlah 122

2.7 Defenisi Operasional


Tabel 3.1 Defenisi Operasional

No Variabel Definisi Operasional Alat Ukur Hasil Ukur Skala


Ukur
1. Pengetahuan Kemampuan Kuesioner [Link] baik < Ordinal
responden dalam mean/median
menjawab
pertanyaan mengenai 2. Baik ≥
pengertian, Mean/median
penyebab, dampak,
cara pencegahan
anemia serta
makanan yang dapat
menghambat dan
mempermudah
penyerapan zat besi
juga mengenai tablet Arikunto (2003)
fe. 61

2. Sikap Sikap adalah bentuk Kuesioner [Link] < Ordinal


remaja putri Mean/median
menerima dan

33
merespon dengan [Link] ≥
menyatakan dengan
nantinya akan minum Mean/median
tablet fe atau tidak
minum, baik respon
positif maupun
respon negatife untuk
mencegah anemia
Amir Mt (2015)
62

3. Dukungan Pemberian motivasi, Kuesioner [Link]: > Ordinal


Keluarga perhatian, informasi, Mean/Median
serta nasehat orang
tua di rumah untuk 2. Kurang Baik:
konsumsi tablet fe < Mean/ Median
pada remaja putri

Rahayu u (2019)
55

4. Dukungan Pemberian motivasi, Kuesioner [Link] Ordinal


Guru perhatian, informasi, mendukung <
serta nasehat, orang mean/ Median
tua di rumah untuk
konsumsi TTD pada [Link] ≥
remaja putri
Mean/ median

Rahayu u (2019)
55

5. Perilaku -Frekuensi Kuesioner [Link], jika Ordinal


Konsumsi -Durasi tidak
Tablet Fe -Jumlah mengkonsumsi
tablet Fe
2. Ya,jika
mengkonsumsi
Tablet Fe

Dhina n (2017)31

2.8 Instrumen Penelitian


Instrumen penelitian merupakan suatu alat yang digunakan dalam
pengumpulan data atau informasi dalam sebuah penelitian. Pada penelitian
ini pengumpulan data menggunakan data sekunder, lembar observasi dan
kuisioner. Pada saat melakukan wawancara lembar observasi dilakukan
oleh peneliti dengan menanyakan langsung pertanyaan yang ada dilembar

34
observasi begitupula dengan lembar kuesioner. Hasil dari lembar observasi
akan diuji menggunakan uji validitas dan uji reliabilitas.
1. Uji Validitas
Sebelum dilakukannya observasi atau pengamatan maka terlebih
dahulu harus dilakukan uji validitas pada instrumen agar tidak terjadi
kesalahan paada saat pengukuran atau pengambilan data. Validitas
merupakan suatu nilai (indeks) tentang kesesuaian pengukuran data.
Pengukuran validitas data biasanya menggunakan rumus korelasi
product moment pearson yang membandingkan hasil antara r hitung
dan r tabel. Pengukuran data dikatakan valid jika r tabel lebih kecil
dari pada r hitung dimana df = n-2 dengan tingkat kemaknaan (sig)
5%. Pada penelitian ini, pengujiannya dapat dilakukan di pasar
tradisional yang memiliki klasifikasi atau ciri yang sama dengan pasar
tradisional yang akan diteliti oleh peneliti.
2. Uji Reliabilitas
Uji realibilitas data pada kuesioner apakah kuesioner dapat dipercaya
sebagai alat pengumpul data. Reliabilitas adalah suatu indeks (nilai)
untuk menunjukkan alat ukur yang digunakan dapat dipercaya atau
tidak, yang mana uji ini dapat dilihat pada nilai cronbach alpha yang
juga membandingkan antara hasil r tabel dan r hitung, jika r hasil (nilai
Alpha) lebih besar dari konstanta (0,60) maka instrumen pertanyaan
tersebut reliabel.
2.9 Metode Pengumpulan Data
2.9.1 Jenis Data
a. Data Primer
Data primer adalah data yang di kumpulkan langsung oleh peneliti
dari objek yang di teliti . Data primer dalam penelitian ini adalah
berasal dari responden, dengan cara peneliti membagikan lembar
kuesioner tentang pengetahuan,[Link],dan perilaku
remaja terhadap konsumsi tablet fe.
b. Data Sekunder

35
Data sekunder dalam penelitian ini diperoleh dari Dinas Kesehatan
Provinsi Jambi dan data dari puskesmas berupa data pemberian
tablet fe per sekolah pada remaja putri serta data dari pihak
sekolah berupa data jumlah remaja putri kelas X dan XI ,XII
SMA,Daftar Absen Remaja Putri Kelas XI .

2.9.2 Teknik Pengumpulan Data


1. Data Primer
Data primer penelitian ini dikumpulkan dengan cara yaitu
membagikan lembar kuesioner ataupun wawancara kepada
responden untuk mendapatkan data tentang pengetahuan, sikap,
dukungan keluarga, dukungan guru, dan perilaku konsumsi tablet
fe saat menstruasi.
2. Data Sekunder
Penelitian ini menggunakan data sekunder diperoleh dari
pihak lain atau secara tidak langsung untuk membantu penulisan
penelitian. Selain itu data ini diperoleh melalui tulisan ataupun artikel-
artikel terkait media cetak maupun media sosial. Data sekunder
penelitian ini diantaranya jurnal ilmiah, buku, data Kementerian
Kesehatan Indonesia, data Dinas Kesehatan Kota Jambi laporan
pencapaian indikator kinerja pembinaan gizi Kota Jambi dan laporan
kegiatan kesehatan reproduksi (dewasa) TK Kabupaten/Kota dan data
UPTD Puskesmas Simpang IV Sipin laporan pemberian tablet tambah
darah pada remaja tahun 2020, 2021, 2022, dan jumlah anak yang
didapatkan dari catatan bagian kemahasiswaan di SMAN 5 Kota
Jambi.

2.10 Pengolahan dan Analisis Data


2.10.1 Pengolahan Data
Data yang telah dikumpulkan diolah dengan system komputer dengan
beberapa tahap, yaitu:

36
a. Editing
Editing merupakan bentuk kegiatan untuk mengecek
kembali atau perbaikan isi kuesioner. Peneliti meneliti
kembali kelengkapan data yang terkumpul apakah data
tersebut sudah terisi dengan jelas dan lengkap.
b. Coding
Coding adalah kegiatan mengklarifikasikan data dan
diberikannya kode untuk masing-masing variabel yang
digunakan sebagai bahan acuan
1. Pada variabel pengetahuan, diberikan kode 1=
pengetahuan kurang, 2= pengetahuan baik.
2. Pada variabel sikap, diberikan kode 1= sikap negatif
dan 2 = sikap positif.
3. Pada variabel dukungan keluarga, diberikan kode
1=dukungan keluarga kurang dan 2= dukungan
keluarga baik.
4. Pada variabel dukungan guru, diberikan kode 1=
perilaku dukungan guru kurang dan 2 = dukungan
guru baik
5. Pada variabel dukungan perilaku, diberikan kode 1=
perilaku konsumsi tablet fe saat menstruasi buruk
dan 2 = perilaku konsumsi tablet fe saat menstruasi
baik.
c. Scoring
Scoring adalah menetapkan atau memberikan untuk setiap
variabel atau pertanyaan berdasarkan total nilai yang diperoleh.
1. Pada variabel pengetahuan, dikategorikan menjadi 2 yaitu
kurang jika persentase < median, dan baik jika persentase >
median.

37
2. Pada variaabel sikap, dikategorikan menjadi 2 yaitu
negatif jika persentase < median dan positif jika ≥
median.
d. Entry Data
Data yang sudah diperiksa secara cermat lalu dimasukkan
ke dalam program komputer untuk dianalisis.
2.10.2 Analisis Data
Penelitian ini menggunakan 2 analisis, yaitu:
1. Analisis Univariat
Melihat gambaran distribusi frekuensi ataupun karateristik dari
masing-masing variabel yang akan diteliti.
2. Analisis Bivariat
Analisis bivariat dilaksanakan untuk melihat hubungan antara
variabel dependen dan independent dan menggunakan analisis
Chisquare (x² ¿ dengan Confidence Interval (CI) ≤ 95% dan batas
derajat kemaknaan (α) < 0,05 diolah dengan menggunakan system
komputerisasi dengan menggunakan program SPSS. Hasil analisis x ²
yaitu apabila p ≤ 0,05 Ha diterima dan p > 0,05 maka Ha ditolak.
2.11 Etika Penelitian
Etika dalam penelitian ini yaitu sebagai berikut:
a. Persetujuan (Informed Consent)
Adalah bukti persetujuan antara peneliti dan responden dengan
diberikannya lembar persetujuan sebelum penelitian dilakukan
kepada calon responden. Hal ini memiliki tujuan untuk responden
mengerti maksud dari penelitian.
b. Tanpa nama (Anomity)
Kerahasiaan nama ataupun identitas drai calon responden akan
dijaga oleh peneliti yaitu hanya dengan membuat inisial calon
responden pada lembar kuesioner.
c. Kerahasiaan (Confidentiality)

38
Informasi yang didapatkan dari responden dijaga kerahasiannya
oleh peneliti, hanya sebagian data tertentu yang akan dilaporkan
pada hasil penelitian.
d. Perlakuan adil (Fair Treatment)
Berupa Jaminan yang diterima oleh responden agar diperlakukan
secara baik dan adil, hal itu dilakukan baik sebelum, selama
ataupun sesudah terlaksananya penelitian.
2.12 Jalannya Penelitian
Alur jalannya penelitian diantaranya:
1. Tahap Persiapan
a. Peneliti akan meminta izin dengan pihak SMAN 5 Kota Jambi
untuk melakukan penelitian.
b. Mengumpulkan data-data yang terkait dengan identitas
responden.
c. Meminta persetujuan wali kelas.
2. Tahap Pelaksanaan
a. Mengajukan izin penelitian ke SMAN 5 Kota Jambi.
b. Menentukan Sampel penelitian.
c. Membagikan lembar kuesioner kepada responden penelitian.
d. Waktu penelitian dilaksanakan pada bulan April 2023
e. Sebelum pengumpulan data terlebih dahulu dilakukan
pemberian penjelasan terhadap kuesioner dan informed consent
pada responden
f. Meminta responden mengisi pertanyaan pada kuesioner, waktu
yang disediakan yaitu selama 25 menit.
g. Penelitian dilakukan dengan membagikan lembar kuesioner
kepada responden yang dipilih oleh peneliti sesuai dengan
kriteria penelitian. Penelitian berlangsung kurang lebih 1
minggu karena pembagian dan pengisian kuesioner dilakukan
dengan membagi responden berdasarkan kelas.

39
h. Setelah kuesioner diisi dan dikumpulkan, selanjutnya peneliti
memeriksa kembali jawaban di kuesioner. Jika ditemukan data
yang tidak lengkap, maka peneliti meminta responden yang
bersangkutan agar dapat melengkapi kembali kuesioner
tersebut.
3. Tahap Akhir Penelitian
Tahap akhir penelitian yaitu meminta surat penelitian dari pihak
sekolah, Penyusunan skripsi, sidang skripsi dan publikasi.

40
DAFTAR PUSTAKA

1. RI K. Pedoman Pemberian Tablet Tambah Darah ( TTD ) Bagi Remaja


Putri. 2020;
2. World, Organization H. Defenisi Remaja. 2015.
3. Veratemala A. Anemia pada remaja tidak boleh dibiarkan. 2017;
4. Statistik BP. Jumlah Penduduk Usia 15 Tahun Keatas Menurut Golongan
Umur 2021-2022. 2022.
5. BKKBN. Data Survei Kesehatan Republik Indonesia. Jakarta; 2016.
6. Lestari P, Widardo W, Mulyani S. Pengetahuan Berhubungan dengan
Konsumsi Tablet Fe Saat Menstruasi pada Remaja Putri di SMAN 2
Banguntapan Bantul. J Ners dan Kebidanan Indones. 2016;3(3):145.
7. Rusilanti IA. Gizi Terapan. Bandung: [Link] Rosdakarya; 2013.
8. Rahayu A. Buku Ajar: Kesehatan Reproduksi Remaja Dan Lansia. 2018.
9. Rosita L, Pramana AAC, Arfira FR. Hematologi Dasar. Nuevos sistemas de
comunicación e información. 2019. 2013–2015 p.
10. Indriana R. Hubungan Tingkat Kecukupan Fe, Vitamin B9, dan Vitamin
B12 dengan Kadar Hemoglobin Anak Usia 11 Tahun Sekolah Dasar Negeri
02 Pedurungan Kidul Semarang. J Chem Inf Model. 2017;53(9):1689–99.
11. Djunaid U, Hilamuhu F. Studi Literatur: Hubungan Pola Menstruasi dan
Tingkat Konsumsi Zat Besi dengan Kejadian Anemia pada Remaja Putri. J
Komunitas Kesehat Masy. 2021;3(2):1–10.
12. Achmad DS. Ilmu Gizi. Jakarta: Dian Rakyat; 2010.
13. Kesehatan D. Gizi dalam angka. Jakarta: Direktorat Gizi masyarakat
Direktorat Jendral bina Kesehatan Masyarakat Departemen Kesehatan RI.
JAKARTA : EGC; 2008.
14. Lestari D, Arbaen MN, Butar OBB, Sari AR. Penanggulangan Rendahnya
Konsumsi Ttd Remaja Putri Melalui Penyuluhan Dan Pembentukan Duta
Remaja. SELAPARANG J Pengabdi Masy Berkemajuan. 2021;4(3):545.
15. Permatasari T, Briawan D, Madanijah S. Efektifitas Program Suplementasi
Zat Besi pada Remaja Putri di Kota Bogor. Media Kesehat Masy Indones.
2018;14(1):1.
16. Angrainy R, Fitri L, Wulandari V. Pengetahuan Remaja Putri Tentang
Konsumsi Tablet FE Pada Saat Menstruasi Pengan Anemia. J Endur.
2019;4(2):343.
17. Pujiningsih E, Kurniatun K. Deskripsi Pengetahuan Siswi Kelas X tentang
Pentingnya Mengkonsumi Tablet Tambah Darah (TTD) di SMAN 1

41
Pringgasela Lombok Timur. J Ilmu Kesehat dan … [Internet]. 2020;8(2).
Available from: [Link]
18. . Geneva W. The Global Prevanlence Of Anemia In 2011. 2011.
19. Herlinadiyaningsih, Susilo RP. Association BetweenMenstrual Pattern and
Level of Iron Consumtion with Incidence of Anemia Among Adolescent
Girls. J Kebidanan Indones. 2019;10(1):1–11.
20. Kerja EPTLC in PDW iron and folic acid supplementation programmes for
women of reproductive age: an analysis of best programme practices (short
version), 1. Anemia ID and control. 2. I 3. F acid. 4. D supplements., )5.
Women’s health. ISBN 978 92 9061 524 8 (NLM Classification: WA 309,
©. WHO Library Cataloguing in Publication Data Weekly iron and folic
acid supplementation programmes for women of reproductive age: an
analysis of best programme practices (short version) 1. Anemia, Iron-
Deficiency–prevention and control. 2. Iron. 3. Folic a. Angew Chemie Int
Ed 6(11), 951–952. 1967;13(April):15–38.
21. OMS Organización Mundial de la Salud. The global prevalence of anaemia
in 2011. Who. 2011;1–48.
22. Kemenkes RI. Profil Kesehatan Indonesia 2018. Vol. 1, Science as Culture.
2018. 146–147 p.
23. Jambi DKK. Laporan Kegiatan Kesehatan Remaja [Link]/Kota.
2020.
24. Ummi Kalsum & Raden Halim. Dengan Kejadian Anemia Pada Remaja.
2016;18.
25. Riskerdas K. Hasil Utama Riset Kesehatan Dasar (RISKEDAS). J Phys A
Math Theor [Internet]. 2018;8(44):1–200. Available from:
[Link]
26. Andani Y, Esmianti F, Haryani S. HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN
SIKAP REMAJA PUTRI TERHADAP KONSUMSI TABLET TAMBAH
DARAH ( TTD ) DI SMPNEGERI I KEPAHIANG Relationship Of
Knowledge And Attitudes Of Adolescent Private Vocational School , To
The Consumption Of Additional Blood Tablets ( Ttd ) At. J Kebidanan
Besurek [Internet]. 2020;5(2):55–62. Available from:
[Link]
27. Riskesdas PJ. Laporan Riskesdas Provinsi Jambi 2018. Badan Penelit dan
Pengemb Kesehat Jambi [Internet]. 2018;500. Available from:
[Link]
28. Jambi DKP. Presentase Remaja Putri yang mendaptkan tablet Fe. 2019.
29. Hamranani SST, Permatasari D, Subiakni B. Hubungan Pengetahuan Dan
Sikap dengan Kepatuhan Minum Obat Tablet Fe pada Remaja Putri Kelas

42
X di SMKN 1 Klaten. Stikes Muhammadiyah Klaten. 2019;
30. Daily iron supplementation in adult women and adolescent girls.
Geneva:WHO. Guideline Daily Iron. Dly Iron Supplimentation infants
Child. 2016;44.
31. Noviazahra D. Faktor-Faktor Yang Memengaruhi Konsumsi Tablet
Tambah Darah Dalam Program Sekolah Peduli Kasus Anemia Pada Siswi
Sma Negeri Di Kabupaten Bantul Tahun 2017 Dhina. J Chem Inf Model.
2017;53(9):1689–99.
32. Aulia DLN. HUBUNGAN PENGETAHUAN DENGAN PRILAKU
REMAJA PUTRI DALAM MENGKONSUMSI TABLET BESI (FE)
SELAMA MENSTRUASI. 2019;3(3):138–40.
33. Setyowati ND, Riyanti E, Indraswari R. Faktor-Faktor Yang Berhubungan
Dengan Perilaku Makan Remaja Putri Dalam Pencegahan Anemia Di
Wilayah Kerja Puskesmas Ngemplak Simongan. J Kesehat Masy [Internet].
2017;5:2356–3346. Available from:
[Link]
34. Listiana A. Analisis Faktor-Faktor yang Berhubungan Dengan Kejadian
Anemia Gizi Besi pada Remaja Putri di SMKN 1 Terbanggi Besar
Lampung Tengah. J Kesehat. 2016;7(3):455.
35. Nuzrina R. Hubungan, Pengetahuan, D., Terhadap, S., Konsumsi, K.,
Tambah, T., Between, R., Students, F., Compliance, K. O. F., Studi, P.,
Universitas, G., & Unggul, E. (2021). Jurnal Riset Gizi. Ris Gizi.
2021;9(1):22–7.
36. Risva TC, Rahfiludin MZ. Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan
Kebiasaan Konsumsi Tablet Tambah Darah Sebagai Upaya Pencegahan
Anemia Pada Remaja Puteri (Studi Pada Mahasiswa Tahun Pertama Di
Fakultas Kesehatan Masyaratak Universitas Diponegoro). J Kesehat Masy
[Internet]. 2016;4(3):2356–3346. Available from: [Link]
[Link]/[Link]/jkm
37. Savitry NSD, Arifin S, Asnawati A. Hubungan Dukungan Keluarga
Dengan Niat Konsumsi Tablet Tambah Darah Pada Remaja Puteri. Berk
Kedokt. 2017;13(1):113.
38. Nurbaiti N. Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Pencegahan Anemia
pada Remaja Putri di SMA Negeri 4 Kota Jambi Tahun 2018. J Ilm Univ
Batanghari Jambi. 2019;19(1):84.
39. Mulugeta A, Tessema M, H/sellasie K, Seid O, Kidane G, Kebede A.
Examining means of reaching adolescent girls for iron supplementation in
Tigray, Northern Ethiopia. Nutrients. 2015;7(11):9033–45.
40. Jambi DKK. Laporan pencapaian Indikator Kinerja pembinaan gizi
triwulan Kota Jambi Bulan : Triwulan IV.

43
41. SIPIN PSI. Pemberian Tablet tambah Darah Pada Remaja 2020,2021,2022.
2022.
42. Ariana R. Pentingnya Konsumsi tablet Fe. 2016;1–23.
43. Nwokocha ARC, Chinawa JM, Ubesie AC, Onukwuli VI, Manyike PC.
Pattern of teen menstruation among secondary school girls in south east
Nigeria. J Pediatr Endocrinol Metab. 2016;29(3):343–50.
44. Hadisaputro E. Pengaruh Abdominal Stretching Exercise Terhadap
Penurunan Kadar Prostaglandin Pada Dismenore Primer. J Keperawatan
[Internet]. 2018;1–41. Available from:
[Link]
45. Wiyono D. Gangguan Siklus Menstruasi. Gangguan Menstruasi. 2015;7–
29.
46. Indriyani Y. Skripsi Yati Indriyani [Link]. 2020.
47. Notoatmodjo S. Promosi Kesehatan dan Perilaku Kesehatan. Edisi revisi.
Jakarta: Rineka Cipta. 2014.
48. Hombing WOB. Peningkatan Pengetahuan, Sikap dan Tindakan Remaja
Laki-laki di SMK Negeri 4 Kecamatan Umbulharjo Kota Yogyakarta
Tentang Antibiotika Dengan Metode CBIA (Cara Belajar Insan Aktif). Fakl
Farm [Internet]. 2015;2(6):26. Available from:
[Link]
49. Notoadmodjo S. Promosi Kesehatan & Prilaku Kesehatan. Jakarta: EGC.
2012.
50. Notoatmodjo. Ilmu Kesehatan Masyarakat Prinsip-Prinsip Dasar. Rineka
Cipta. 2011.
51. Nuradhiani A, Briawan D, Dwiriani CM. Dukungan guru meningkatkan
kepatuhan konsumsi tablet tambah darah pada remaja putri di Kota Bogor.
J Gizi dan Pangan. 2017;12(3):153–60.
52. Astriandani. Hubungan kejadian anemia dengan prestasi belajar
matematika pada remaja putri kelas 11 di SMAN 1 Sedayu.
53. Uswatun , A & Astri W. Hubungan pengetahuan tentang anemia dengan
mengkonsumsi tablet tambah darah remaja putri di SMA NEGERI 1
Karangadom.
54. Friedman. Keperawatan Kleuarga. JAKARTA : EGC; 1998.
55. Rahayu Utomo ET. Faktor-faktor Yang Berhubungan Dengan Konsumsi
Tablet Tambah Darah Pada Remaja Putri Di SMP 9 Jember. Vol. 2, Public
Health Nutrition. 2019. 38 p.
56. Pertiwi CS. Determinan Perilaku Kepatuhan Konsumsi Tablet Tambah

44
Darah Pada Remaja Putri di Kecamatan Bangsalsari Kabupaten Jember.
Digit Repos Univ Jember [Internet]. 2019;1–120. Available from:
[Link]
57. Sara WA. Pengetahuan Remaja Tentang Manfaat Tablet Fe Saat Kabupaten
Konawe Tahun 2017. 2017;1–60. Available from:
[Link]
58. 2018 KKRIT. Pedoman Pencegahan dan Penanggulangan Anemia Pada
Remaja Putri dan wanita usai subur (WUS).
59. KLAU MS. GAMBARAN PENGETAHUAN, SIKAP DAN
KEPATUHAN TERHADAP KONSUMSI TABLET TAMBAH DARAH
PADA REMAJA PUTRI DI SMA NEGERI 4 KOTA KUPANG. 2019;
60. Taufiq Rohman, [Link].I MP. Anemia Gizi. Psikol Perkemb [Internet]. 2019;
(October 2013):1–224. Available from: [Link]
[Link]/839/4/BAB [Link]
61. Arikunto S. Prosedur Penelitian, Suatu Praktek. Jakarta: Bina Aksara;
2003.
62. Amir MT. Merancang Kuesioner (Konsep dan Panduan untuk Penelitian
Sikap, Kepribadia, & Perilaku). Jakarta: Prenamedia Group; 2015.

45

Anda mungkin juga menyukai