KARYA ILMIAH AKHIR
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN Ny.P DENGAN
DIAGNOSIS MEDIS KANKER OVARIUM DI RUANG
IGD RSPAL DR. RAMELAN
SURABAYA
Oleh :
PUPUT KURNIAWATI, [Link].
NIM.2030087
PROGRAM STUDI PROFESI NERS
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN HANG TUAH
SURABAYA
2021
KARYA ILMIAH AKHIR
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN Ny.P DENGAN
DIAGNOSIS MEDIS KANKER OVARIUM DI RUANG
IGD RSPAL DR. RAMELAN
SURABAYA
Karya Tulis Ilmiah ini diajukan sebagai satu syarat
untuk memperoleh gelar Ners (Ns)
Oleh :
PUPUT KURNIAWATI, [Link].
NIM.2030087
PROGRAM STUDI PROFESI NERS
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN HANG TUAH
SURABAYA
2021
i
HALAMAN PERNYATAAN
Saya bertanda tangan dibawah ini dengan sebenarnya menyatakan bahwa karya
ilmiah akhir ini saya susun tanpa melakukan plagiat sesuai dengan peraturan yang
berlaku di STIKES Hang Tuah Surabaya. Berdasarkan pengetahuan dan
keyakinan punulis, semua sumber baik yang dikutip maupun dirujuk, saya
nyatakan dengan benar. Bila ditemukan plagiasi, maka saya akan bertanggung
jawab sepenuhnya menerima sanksi yang dijatuhkan oleh STIKES Hang Tuah
Surabaya.
Surabaya, 22 Juli 2021
Penulis
Puput Kurniawati, [Link]
NIM. 2030087
ii
HALAMAN PERSETUJUAN
Setelah kami periksa dan amati, selaku pembimbing mahasiswa :
Nama : Puput Kurniawati, [Link]
NIM : 2030087
Program Studi : Pendidikan Profesi Ners
Judul : Asuhan Keperawatan Pada Pasien Ny.P dengan Diagnosis Medis
Kanker Ovarium di Ruang IGD RSPAL Dr. Ramelan Surabaya.
Serta perbaikan – perbaikan sepenuhnya, maka kami menganggap dan dapat
menyetujui bahwa karya ilmiah akhir ini diajukan dalam sidang guna memenuhi
sebagai persyaratan untuk memperoleh gelar:
NERS (Ns)
Surabaya, 22 Juli 2021
Pembimbing
Ceria Nurhayati, [Link].,Ns.,[Link].
NIP.03049
Ditetapkan di : STIKES Hang Tuah Surabaya
Tanggal : 22 Juli 2021
iii
HALAMAN PENGESAHAN
Karya Tulis Ilmiah dari :
Nama : Puput Kurniawati, [Link]
NIM : 2030087
Program Studi : Pendidikan Profesi Ners
Judul : Asuhan Keperawatan Pada Pasien Ny.P dengan Diagnosis Medis
Kanker Ovarium di Ruang IGD RSPAL Dr. Ramelan Surabaya.
Telah dipertahankan dihadapan dewan penguji karya ilmiah akhir di Stikes Hang
Tuah Surabaya, dan dinyatakan dapat diterima sebagai salah satu syarat untuk
memperoleh gelar “NERS (Ns.)” pada program studi Pendidikan Profesi Ners
STIKES Hang Tuah Surabaya.
Penguji 1 : Dr. Setiadi, [Link]., Ns., [Link]
NIP.03001
Penguji 2 : Ceria Nurhayati, [Link].,Ns.,[Link].
NIP.03049
Penguji 3 : Nisha Dharmayanti R, [Link]., Ns., [Link]
NIP.03045
Mengetahui,
STIKES Hang Tuah Surabaya
Ka Prodi Pendidikan Profesi Ners
Ns. Nuh Huda, [Link]., [Link].
NIP.03020
Ditetapkan di : STIKES Hang Tuah Surabaya
Tanggal : 23 Juli 2021
iv
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan
hidayah-Nya pada penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan karya ilmiah
akhir ini sesuai dengan waktu yang telah ditentukan. Karya ilmiah akhir ini
disusun sebagai salah satu syarat dalam menyelesaikan program Pendidikan
Profesi Ners.
Penulis menyadari bahwa keberhasilan dan kelancaran karya ilmah akhir
ini bukan hanya karena kemampuan penulis saja, tetapi banyak bantuan dari
berbagai pihak yang telah dengan ikhlas membantu penulis demi terselesaikannya
penulisan, oleh karena itu pada kesempatan ini penulis menyampaikan terima
kasih dan penghargaan yang sebesar-besarnya kepada:
1. Laksamana Pertama (Purn) Dr. AV Sri Suhardiningsih,[Link].,[Link] selaku
Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Hang Tuah Surabaya yang telah
memberikan kesempatan dan fasilitas kepada peneliti untuk mengikuti dan
menyelesaikan pendidikan profesi ners di STIKES Hang Tuah Surabaya.
2. Puket 1, Puket 2, Puket 3 STIKES Hang Tuah Surabaya yang telah
memberikan kesempatan dan fasilitas kepada peneliti untuk mengikuti dan
menyelesaikan pendidikan profesi ners di STIKES Hang Tuah Surabaya.
3. Bapak Ns. Nuh Huda, [Link]., [Link]., selaku Kepala Program Studi
Pendidikan Profesi Ners yang selalu memberikan dorongan penuh dengan
wawasan dalam upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
4. Dr. Setiadi, [Link]., Ns., [Link] selaku Penguji 1 terima kasih atas saran,
kritik dan bimbingan demi kesempurnaan penyusunan karya ilmiah akhir
ini.
v
5. Ibu Nisha Dharmayanti R, [Link]., Ns., [Link] selaku Penguji 3 terima kasih
atas saran, kritik dan bimbingan demi kesempurnaan penyusunan karya
ilmiah akhir ini.
6. Ibu Ceria Nurhayati, [Link].,Ns.,[Link] selaku Pembimbing yang penuh
kesabaran dan penuh perhatian memberikan saran, kritik dan bimbingan
demi kesempurnaan penyusunan karya ilmiah akhir ini.
7. Ibu Winarti, [Link]., Ns selaku Pembimbing Klinik yang penuh kesabaran
dan penuh perhatian memberikan saran, kritik dan bimbingan demi
kesempurnaan penyusunan karya ilmiah akhir ini
8. Seluruh staf dan karyawan STIKES Hang Tuah Surabaya yang telah
memberikan bantuan dalam kelancaran proses belajar di perkuliahan.
9. Teman-teman sealmamater Profesi Ners A11 di STIKES Hang Tuah
Surabaya yang selalu bersama-sama dan menemani dalam pembuatan karya
ilmiah akhir ini.
10. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu, terima kasih
atas bantuannya. Semoga Allah SWT membalas amal baik semua pihak
yang telah membantu dalam proses penyelesaian karya ilmiah akhir ini.
Selanjutnya penulis menyadari bahwa Karya Ilmiah Akhir ini masih banyak
kekurangan dan masih jauh dari kesempurnaan. Maka saran dan kritik yang
konstruktif senantiasa penulis harapkan. Akhirnya penulis berharap, semoga
Karya Tulis Ilmiah ini dapat memberikan manfaat bagi siapa saja yang membaca
terutama Civitas STIKES Hang Tuah Surabaya
Surabaya, 20 Juli 2021
Penulis
vi
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL .............................................................................................. i
HALAMAN PERNYATAAN ............................................................................... ii
HALAMAN PERSETUJUAN ............................................................................. iii
HALAMAN PENGESAHAN .............................................................................. iv
KATA PENGANTAR ........................................................................................... v
DAFTAR ISI ........................................................................................................ vii
DAFTAR TABEL................................................................................................. ix
DAFTAR GAMBAR ............................................................................................. x
DAFTAR LAMPIRAN ........................................................................................ xi
DAFTAR SINGKATAN & SIMBOL ................................................................ xii
BAB 1 PENDAHULUAN...................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang ............................................................................................. 1
1.2 Rumusan Masalah........................................................................................ 4
1.3 Tujuan Penulisan ......................................................................................... 4
1.3.1 Tujuan Umum .............................................................................................. 4
1.3.2 Tujuan Khusus ............................................................................................. 4
1.4 Manfaat Penulisan ....................................................................................... 5
1.5 Metode Penulisan ........................................................................................ 6
1.6 Sistematika Penulisan .................................................................................. 7
BAB 2 TINJAUAN TEORI .................................................................................. 8
2.1 Anatomi dan Fisiologi Sistem Reproduksi Wanita ..................................... 8
2.2 Konsep Penyakit Kanker Ovarium ............................................................ 13
2.2.1 Definisi ...................................................................................................... 13
2.2.2 Etiologi ...................................................................................................... 13
2.2.3 Klasifikasi .................................................................................................. 16
2.2.4 Manifestasi Klinis ...................................................................................... 18
2.2.5 Patofisiologi ............................................................................................... 18
2.2.6 Penatalaksanaan ......................................................................................... 19
2.2.7 Pemeriksaan Penunjang ............................................................................. 20
2.3 Konsep Instalasi Gawat Darurat ................................................................ 20
2.3.1 Definisi ...................................................................................................... 20
2.3.2 Triase ......................................................................................................... 22
2.4 Konsep Asuhan Keperawatan Kanker Ovarium ........................................ 23
2.4.1 Pengkajian ................................................................................................. 23
2.4.2 Diagnosa Keperawatan .............................................................................. 27
2.4.3 Intervensi Keperawatan ............................................................................. 28
2.4.4 Implementasi ............................................................................................. 33
2.4.5 Evaluasi ..................................................................................................... 33
2.5 Kerangka Masalah Keperawatan ............................................................... 34
BAB 3 TINJAUAN KASUS................................................................................ 35
3. 1 Pengkajian ................................................................................................. 35
3.1.1 Identitas Pasien .......................................................................................... 35
3.1.2 Primary Survey .......................................................................................... 35
vii
3.1.3 Secondary Survey ...................................................................................... 36
3.1.4 Pemeriksaan Penunjang ............................................................................. 37
3.1.5 Penatalaksanaan Medis .............................................................................. 39
3. 2 Diagnosa Keperawatan .............................................................................. 39
3.2.1 Analisa Data .............................................................................................. 39
3.2.2 Prioritas Masalah ....................................................................................... 40
3. 3 Intervensi Keperawatan ............................................................................. 41
3. 4 Implementasi & Evaluasi Keperawatan .................................................... 43
BAB 4 PEMBAHASAN ...................................................................................... 46
4.1 Pengkajian ................................................................................................. 46
4.2 Diagnosa Keperawatan .............................................................................. 51
4.3 Intervensi Keperawatan ............................................................................. 55
4.4 Implementasi Keperawatan ....................................................................... 58
4.5 Evaluasi Keperawatan ............................................................................... 62
BAB 5 PENUTUP ................................................................................................ 65
5. 1 Simpulan .................................................................................................... 65
5. 2 Saran .......................................................................................................... 66
DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 67
LAMPIRAN ......................................................................................................... 71
viii
DAFTAR TABEL
Tabel 3.1 Penatalaksanaan Medis ......................................................................... 39
Tabel 3.2 Analisa Data .......................................................................................... 39
Tabel 3.3 Prioritas Masalah Keperawatan............................................................. 40
Tabel 3.4 Intervensi Keperawatan ......................................................................... 41
Tabel 3.5 Implementasi & Evaluasi Keperawatan ................................................ 43
ix
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Organ eksterna wanita ......................................................................... 8
Gambar 2.2 Organ Interna Wanita ........................................................................ 11
Gambar 2. 3 Klasifikasi Kanker Ovarium ............................................................. 18
Gambar 2.4 Kerangka Masalah Keperawatan Pada Kanker Ovarium .................. 34
x
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Curriculum Vitae ............................................................................... 71
Lampiran 2 Motto Dan Persembahan.................................................................... 72
Lampiran 3 Standar Prosedur Operasional (SPO)................................................. 73
Lampiran 4 Standar Prosedur Operasional (SPO)................................................. 76
Lampiran 5 Standar Prosedur Operasional (SPO)................................................. 80
xi
DAFTAR SINGKATAN & SIMBOL
Daftar Singkatan
AGD : Analisis Gas Darah
BAB : Buang Air Besar
BAK : Buang Air Kecil
BPJS : Badan Penyelenggara Jaminan Sosial
CRT : Capillary Refill Time
GCS : Glasgow Coma Scale
GDA : Gula Darah Acak
IGD : Instalasi Gawat Darurat
IV : Intra Venous
KEPMENKES: Keputusan Menteri Kesehatan
Ns : Ners
Ny : Nyonya
RS : Rumah Sakit
SARS : Severe Acute Respiratory Syndrome
SARS-CoV-2 : Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2
SDKI : Standara Diagnosis Keperawatan Indonesia
SIKI : Standar Intervensi Keperawatan Indonesia
SLKI : Standar Luaran Keperawatan Indonesia
SMA : Sekolah Menengah Atas
SOP : Standar Operasional Prosedur
SpO2 : Saturasi oksigen
STIKES : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan
TD : Tekanan Darah
Tpm : Tetes per menit
WHO : World Health Organization
Daftar Simbol
& : Dan
< : Kurang dari
≤ : Kurang dari atau sama dengan
> : Lebih dari
≥ : Lebih dari atau sama dengan
± : Kurang lebih
% : Persen
= : Sama dengan
⁰ : Derajat
C : Celcius
xii
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kanker adalah pertumbuhan jaringan yang ganas yang terdiri dari sel-sel
epitelial yang cenderung menginfiltrasi jaringan sekitarnya dan menimbulkan
metastasis. Kanker terbanyak pada perempuan adalah kanker serviks, lalu kanker
payudara, kanker colon-rektum, kanker paru, dan kanker ovarium. Kanker
ovarium adalah tumor ganas yang berasal dari ovarium dengan berbagai tipe
histologi yang dapat mengenai semua umur. Kanker ovarium menempati posisi
ke-3 dari 10 kanker tersering pada wanita dan diperkirakan 30% terjadi pada
system genetalia wanita (Purwoko, 2018).
Kanker ovarium adalah salah satu penyakit ginekologi yang menyebabkan
kematian dengan 239.000 kasus baru dan 152.000 kasus kematian di dunia pada
tahun 2012 (IARC, 2012). Menurut American Cancer Society (2018), kanker
ovarium menempati urutan kelima dari seluruh penyebab kematian pada wanita di
Amerika Serikat. Insiden kematian wanita akibat kanker ovarium di dunia tahun
2018 sekitar 5% dari semua keganasan pada wanita. Kanker ovarium di Asia
Tenggara sebanyak 47.689 atau sebanyak 5,2% dari seluruh usia pada wanita
(IARC, 2016). Pada tahun 2018 ditemukan 295.414 kasus baru dengan angka
kematian 184.799 (45 %) di asia tenggara. Insiden kanker ganas ovarium di Asia
timur lebih tinggi dibandingkan dengan Eropa timur dan tengah yaitu kurang dari
12 wanita tiap 100.000 penduduk. Insidennya meningkat dengan bertambahnya
usia. Usia rata-rata penderita kanker ovarium adalah 63 tahun dan 70% di
antaranya adalah stadium lanjut (Gibbs RS, Karlan BY, Haney AF, 2013).
1
2
Kejadian kanker ovarium di Indonesia berada di urutan kelima dari berbagai
kanker yang menyebabkan kematian pada wanita, setelah kanker payudara,
serviks, paru, dan kolorektal. Terdapat 10.238 kasus kanker ovarium dengan
jumlah sekitar 7007 kasus dari 92.200 total kematian kasus keganasan pada
wanita (McGuire, 2016). Data nasional selama tahun 2017-2018 terdapat 627
kasus kanker ovarium dari 4.081 kasus genekologi onkologi sehingga kanker
ovarium menempati urutan kedua kanker ginekologi yang mematikan pada wanita
setelah kanker serviks. Kanker ovarium di Indonesia terjadi sebanyak 11.594
kasus atau 7,48 % dengan angka mortalitas 7.031 kasus (Kementerian Kesehatan
RI., 2019).
Tingginya angka kejadian dan kematian akibat kanker ovarium disebabkan
karena karena kanker tidak menunjukkan tanda dan gejala penyakit yang khas
pada stadium awal sehingga menghambat penegakkan diagnosis. Gejala yang
muncul bersifat non spesifik seperti kembung, kehilangan nafsu makan, nyeri
pada panggul atau perut, peningkatan aktivitas di saluran kencing baik urgensi
maupun frekuensi (Simamora, Rian P. A., 2018). Dampak dari kanker ovarium
pada stadium awal tidak dapat diketahui pada diri wanita karena perubahan awal
biasanya hanya mengalami keputihan yang dianggap hal yang biasa. Pada stadium
lanjut yaitu stadium II-IV akan mengalami perubahan pada tubuh karena sudah
bermetastase ke jaringan luar pelvis misalnya jaringan hati, gastrointestinal, dan
paru-paru sehingga akan menyebabkan asites, efusi pleura, nyeri ulu hati,
anoreksia dan anemia (Reeder, 2013).
Kejadian anemia pada kanker ovarium dapat disebabkan oleh beberapa
penyebab, terlebih lagi pada pasien kanker yang menjalani pengobatan
3
kemoterapi. Anemia pada pasien kanker dapat timbul karena efek samping dari
toksisitas obat kemoterapi ataupun dapat timbul karena efek kanker itu sendiri
dimana kanker yang sudah bermetastase akan merusak sel-sel sumsum tulang
yang mengakibatkan penekanan pada sistem pembentukan sel darah sehingga
menyebabkan kejadian anemia (Aminullah & Susilaningsih, 2013).
Anemia dapat mengganggu proses sirkulasi dalam tubuh dimana darah
merupakan komponen pengangkut oksigen ke jaringan yang kemudian akan
disebarkan keseluruh tubuh, maka saat terjadi anemia seseorang dapat mengalami
pusing, rasa mengantuk, lesu, aktivitas menurun, dan cepat lelah. Masalah
keperawatan yang dapat muncul pada kasus kanker ovarium adalah nyeri kronis,
keletihan, defisit nutrisi, pola napas tidak efektif, hipervolemia dan perfusi perifer
tidak efektif (Jitowiyono, 2018).
Salah satu upaya dalam penanganan perfusi perifer tidak efektif dapat
dilakukan dengan penilaian komprehensif terhadap sirkulasi perifer seperti
memeriksa denyut perifer, edema, pengisian kapiler, suhu, dan warna, selain itu
juga dapat dilakukan monitor kemerahan, nyeri atau pembengkakan (Bulechek et
al, 2016). Dalam hal ini perawat sangat berperan dalam memberikan asuhan
keperawatan yang menyeluruh dan memberikan pelayanan secara maksimal
dalam penangan pertama serta mengurangi perburukan pada kondisi pasien.
Selain itu perawat diharuskan mampu melakukan pengkajian keperawatan secara
holistik, menetapkan diagnosis keperawatan, merencanakan tindakan
keperawatan, melaksanakan tindakan keperawatan, mengevaluasi hasil tindakan
keperawatan, melakukan rujukan, memberikan tindakan pada keadaan gawat
darurat sesuai dengan kompetensi, memberikan konsultasi keperawatan dan
4
berkolaborasi dengan dokter dan melakukan penatalaksanaan pemberian obat
kepada klien sesuai dengan resep tenaga medis (Undang Undang RI No.38 Tahun
2014, 2014). Berdasarkan latar belakang diatas, penulis tertarik mengangkat karya
ilmiah akhir dengan judul “Asuhan Keperawatan Pada Ny.P Dengan Diagnosis
Medis Kanker Ovarium di Ruang IGD RSPAL DR. Ramelan Surabaya”.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah dapat dirumuskan permasalah sebagai
berikut “Bagaimanakah pelaksanaan asuhan keperawatan pada pasien dengan
diagnosis medis Kanker Ovarium di Ruang IGD RSPAL Dr. Ramelan Surabaya?”
1.3 Tujuan Penulisan
1.3.1 Tujuan Umum
Mahasiswa mampu menerapkan asuhan keperawatan pada Ny.P dengan
diagnosis medis Kanker Ovarium di Ruang IGD RSPAL Dr. Ramelan Surabaya
1.3.2 Tujuan Khusus
1. Melakukan pengkajian pada Ny.P dengan diagnosis medis Kanker Ovarium
di Ruang IGD RSPAL Dr. Ramelan Surabaya
2. Menegakkan diagnosis keperawatan pada Ny.P dengan diagnosis medis
Kanker Ovarium di Ruang IGD RSPAL Dr. Ramelan Surabaya
3. Menyusun rencana keperawatan pada masing-masing diagnosa keperawatan
pada Ny.P dengan diagnosis medis Kanker Ovarium di Ruang IGD RSPAL
Dr. Ramelan Surabaya
4. Melaksanakan tindakan asuhan keperawatan pada Ny.P dengan diagnosis
medis Kanker Ovarium di Ruang IGD RSPAL Dr. Ramelan Surabaya.
5
5. Melakukan evaluasi tindakan asuhan keperawatan pada Ny.P dengan
diagnosis medis Kanker Ovarium di Ruang IGD RSPAL Dr. Ramelan
Surabaya
6. Mendokumentasikan asuhan keperawatan pada Ny.P dengan diagnosis
medis Kanker Ovarium di Ruang IGD RSPAL Dr. Ramelan Surabaya
1.4 Manfaat Penulisan
Berdasarkan tujuan umum maupun tujuan khusus maka karya ilmiah akhir
ini diharapkan bisa memberikan manfaat baik bagi kepentingan pengembangan
program maupun bagi kepentingan ilmu pengetahuan, adapun manfaat-manfaat
dari karya ilmiah akhir secara teoritis maupun praktis seperti tersebut dibawah ini:
1. Secara Teoritis
Dengan pemberian asuhan keperawatan secara cepat, tepat dan efisien akan
menghasilkan keluaran klinis yang baik, menurunkan angka kejadian morbidity,
disability dan mortalitas pada pasien dengan Kanker Ovarium.
2. Secara Praktis
a. Bagi Institusi Rumah Sakit
Dapat sebagai masukan untuk menyusun kebijakan atau pedoman
pelaksanaan pasien dengan Kanker Ovarium sehingga penatalaksanaan
dini bisa dilakukan dan dapat menghasilkan keluaran klinis yang baik
bagi pasien yang mendapatkan asuhan keperawatan di institusi rumah
sakit yang bersangkutan.
b. Bagi Institusi Pendidikan
Dapat di gunakan dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan tehnologi
serta meningkatkan kualitas asuhan keperawatan pada pasien dengan
6
Kanker Ovarium serta meningkatkan pengembangan profesi
keperawatan.
c. Bagi penulis selanjutnya
Bahan penulisan ini bisa dipergunakan sebagai perbandingan atau
gambaran tentang asuhan keperawatan pasien dengan Kanker Ovarium.
1.5 Metode Penulisan
1. Metoda
Studi kasus yaitu metoda yang memusatkan perhatian pada satu obyek
tertentu yang diangkat sebagai sebuah kasus untuk dikaji secara mendalam
sehingga mampu membongkar realitas di balik fenomena.
2. Tehnik pengumpulan data
a. Wawancara
Data diambil atau diperoleh melalui percakapan baik dengan pasien,
keluarga, maupun tim kesehatan lain.
b. Observasi Data yang diambil melalui pengamatan secara langsung
terhadap keadaan, reaksi, sikap dan perilaku pasien yang dapat diamati.
c. Pemeriksaan Meliputi pemeriksaan fisik dan laboratorium serta
pemeriksaan penunjang lainnya yang dapat menegakkan diagnose dan
penanganan selanjutnya.
3. Sumber data
a. Data Primer
Data primer adalah data yang di peroleh dari pasien.
b. Data Sekunder
7
Data Sekunder adalah data yang diperoleh dari keluarga atau orang
terdekat dengan pasien, catatan medic perawat, hasil-hasil pemeriksaan
dan tim kesehatan lain.
c. Studi kepustakaan
Studi Kepustakaan yaitu mempelajari buku sumber yang berhubungan
dengan judul karya tulis dan masalah yang dibahas.
1.6 Sistematika Penulisan
Supaya lebih jelas dan lebih mudah dalam memahami dan mempelajari studi
kasus ini, secara keseluruhan dibagi menjadi tiga bagian, yaitu :
1. Bagian awal, memuat halaman judul, persetujuan komisi pembimbing,
pengesahan, motto dan persembahan, kata pengantar, daftar isi.
2. Bagian inti terdiri dari lima bab, yang terdiri dari sub bab berikut ini :
BAB 1 : Pendahuluan, berisi tentang latar belakang masalah, rumusan
masalah, tujuan, manfaat penelitian, metode penulisan dan sistematika
penulisan studi kasus.
BAB 2 : Tinjauan pustaka, berisi tentang konsep penyakit dari sudut medis,
dan asuhan keperawatan pasien dengan diagnosis medis Kanker Ovarium.
BAB 3 : Tinjauan kasus berisi tentang diskripsi data hasil pengkajian,
diagnosis, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi keperawatan.
BAB 4 : Pembahasan kasus yang ditemukan yang berisi data, teori dan
opini.
BAB 5 : Penutup: Simpulan dan saran.
3. Bagian akhir, terdiri dari daftar pustaka dam lampiran.
BAB 2
TINJAUAN TEORI
2.1 Anatomi dan Fisiologi Sistem Reproduksi Wanita
Alat reproduksi wanita terdiri dari alat kelamin dalam (genetalia interna)
dan alat kelamin luar (genetalia externa).
1. Genetalia externa (alat kelamin luar)
Genetalia eksternal secara kesatuan disebut vulva atau pudendum. Secara
anatomis genetalia eksterna terdiri dari :
a. Mons Pubis
Mons pubis merupakan bantalan jaringan lemak dan kulit yang terletak
diatas simpisis pubis. Bagian ini tertutup rambut pubis setelah pubertas.
b. Labia Minora
Labia Minora adalah dua lapisan kulit longitudinal yang merentang
kebawah dari mons pubis dan menyatu pada sisi posterior perineum.
Gambar 2.1 Organ eksterna wanita (Hamylton, 2015)
c. Labia Minora
Labia Minora adalah lipatan kulit diantara labium mayora, tetapi
mengandung kelenjar sebasea dan beberapa kelenar keringat. Pertemuan
8
9
lipatan-lipatan labia minora dibawah klittoris disebut prepusium dan area
lipatan dibawah klitoris disebut frenulum.
d. Klitoris
Klitoris terdiri dari dua krura (akar), satu batang dan sati glans klitoris
bundar yang banyak mengandung ujung saraf dan sangat sensitive.
Batang klitoris mengandung dua corpora kavernosum yang tersusun dari
jaringan erektil. Saat mengembung dengan darah selama eksitasi seksual,
bagian ini bertanggung jawab untuk ereksi klitoris.
e. Vestibula
Vestibula adalah area yang dikelilingi oleh labia minora yang menutupi
mulur uretra, mulut vagina dan duktus kelenjar bartholini. Kelenjar ini
memproduksi beberapa tetes sekresi mucus untuk membantu melumasi
orifisium vaginal saat eksitasi vaginal seksual.
f. Orifisium Uretra
Orifisum uretra adalah alur urine dari kandung kemih, tepi lateralnya
mengandung duktus untuk kelenjar parauretral (skene).
g. Mulut Vagina
Terletak bawah orifisium uretra. Hymen (selaput darah) adalah suatu
membrane yang bentuk dan ukurannya bervariasi, melingkari mulut
vagina.
h. Vagina
Vagina adalah saluran elastis, panjangnya 8-10 cm dan berakhir pada
rahim. Vagina dilalui darah pada saat menstruasi dan sebagai jalan lahir.
Karena terbentuk dari otot vagina bisa melebar dan menyempit.
10
i. Perineum
Kulit antara pertemuan dua lipatan labia mayora dan anus yang di sisi
anterior sampai ke koksiks disisi posterior dan ketuberositas iskail disisi
lateral.
2. Genetalia Interna
a. Ovarium (Indung Telur)
Ovarium adalah kelenjar reproduksi utama pada wanita yang berfungsi
untuk menghasilkan ovum (Sel telur) dan penghasil hormon seks utama.
Ovarium berbentuk oval, dengan panjang 2 – 3 cm. Terdapat sepasang
Ovarium yang terletak di kanan dan kiri, dan dihubungkan dengan rahim
oleh tuba fallopi. Umumnya setiap Ovarium pada wanita yang telah
pubertas memiliki 300.000-an, dan sebagian besar sel telur mengalami
kegagalan pematangan, rusak atau mati, sehingga benih sehat yang ada
sekitar 300 - 400-an benih telur dan 1 ovum dikeluarkan setiap 28 hari
oleh ovarium kiri dan kanan secara bergantian melalui proses menstruasi.
Ovarium juga menghasilkan hormon estrogen dan progesteron yang
berperan dalam proses menstruasi.
b. Tuba falopi
Tuba Fallopi adalah organ yang menghubungkan Uterus (Rahim) dengan
Indung Telur (Ovarium). Tuba Fallopi (Oviduk) juga sering disebut
saluran telur karena bentuknya seperti saluran yang berfungsi untuk
saluran spermatozoa dan ovum, penangkap ovum, bisa menjadi tempat
pembuahan (fertilisasi), dam sebagai tempat pertumbuhan hasil
11
pembuahan sebelum mampu masuk ke bagian dalam Uterus (Rahim).
Tuba Fallopi (Oviduk) terdiri atas 4 bagian :
1) Infundibulum, yaitu bagian berbentuk seperti corong yang terletak di
pangkal dan memiliki Fimbriae. Fimbriae berfungsi untuk menangkap
ovum
2) Ampula, yaitu bagian tengah tuba yang sempit
3) Istmus, yaitu bagian tuba yang letaknya dekat dengan uterus
Gambar 2.2 Organ Interna Wanita (Bobak, Jensen, 2015)
c. Uterus
Uterus merupakan organ tunggal muscular dan berongga berbentuk
seperti buah pir terbalik dengan ukuran saat tidak hamil panang 7cm,
lebar 5cm, dan diameter 2,3 cm. organ ini terletak dalam rongga pelvis
diantara rectum dan kandung kemih. Bagian – bagian uterus:
1) Dinding uterus, terdiri dari bagian terluar serosa (perimetrum), bagian
tengah (meometrium) yang merupakan lapisan otot polos dan bagian
terdalam (endometrium), bagian inilah yang menalani perubahan
12
siklus selama menstruasi dan membentuk lokasi implantasi untuk
ovum dibuahi.
2) Fundus uterus, yang merupakan bagian bundar yang letaknya superior
terhadap mulut tuba fallopi.
3) Badan uterus, merupakan luas berdinding tebal yang membungkus
rongga uterus.
4) Serviks, merupakan leher bawah uterus yang terkontriksi.
5) Portio vaginalis, merupakan bagian serviks yang menonol kedalam
ujung bagian atas vagina.
d. Vagina
Vagina adalah tuba fibromuskularis yang dapat berdistansi yang
merupakan jalan lahir bayi dan aliran menstrual yang berfungsi sebagai
organ kopulasi perempuan. Vagina memiliki panjang sekitar 8 – 10 cm,
terletak antara kandung kemih dan rektum, memiliki dinding yang
berlipat – lipat, lapisan terluarnya merupakan selaput lendir, lapisan
tengahnya tersusun atas otot-otot, dan lapisan paling dalam berupa
jaringan ikat yang berserat. Vagina berfungsi sebagai jalan lahir, sebagai
sarana dalam hubungan seksual dan sebagai saluran untuk mengalirkan
darah dan lendir saat menstruasi. Otot pada vagina merupakan otot yang
berasal dari sphingter ani dan levator ani (Otot anus/dubur), sehingga
otot ini dapat dikendalikan dan dilatih. Vagina tidak mempunyai kelenjar
yang dapat menghasilkan cairan, tetapi cairan yang selalu membasahinya
berasal dari kelenjar yang terdapat pada rahim (Setiadi, 2016).
13
2.2 Konsep Penyakit Kanker Ovarium
2.2.1 Definisi
Kanker ovarium adalah kanker ginekologis yang paling mematikan sebab
pada umumnya baru bisa dideteksi ketika sudah parah. Tidak ada tes screening
awal yang terbukti untuk kanker ovarium. Tidak ada tandatanda awal yang pasti.
Beberapa wanita mengalami ketidaknyamanan pada abdomen dan bengkak
(Digiulio Mary, 2014). Kanker ovarium adalah kanker ganas yang berasal dari
ovarium dengan berbagai histologi yang menyerang pada semua umur. Sel tumor
lebih banyak dijumpai pada penderita berusia 50 tahun (Manuaba, 2013).
2.2.2 Etiologi
Menurut (George, Garcia, 2016) menjelaskan tentang etiologi kanker
ovarium diantaranya :
1. Hipotesis incessant ovulation
Siklus ovulasi yang terjadi terus-menerus selama masa produktif pada
wanita meningkatkan faktor risiko terjadinya High-Grade Serous
Carcinoma (HGSC), akibat ovulasi yang terjadi terus-menerus akan
meningkatkan terjadinya inflamasi melalui sekresi sitokin, kemokin,
bradikinin, dan hormon. Hal ini dapat menyebabkan kerusakan DNA
melalui tekanan oksidatif pada cortical inclusion cysts (CIC) di ovarium
2. Hipotesis androgen
Androgen mempunyai peran penting dalam terbentuknya kanker ovarium
yang didasarkan pada hasil percobaan bahwa epitel ovarium mengandung
reseptor androgen (Prawirohardjo, 2010). Beberapa faktor yang dapat
mempengaruhi terjadinya kanker ovarium antara lain :
14
a. Usia
Faktor risiko menderita kanker ovarium menurut bebeapa penelitian
dikatakan meningkat sejalan dengan usia. Di Amerika Serikat, setengah
kasus kanker ovarium didiagnosa pada umur ≥ 63 tahun, dengan insiden
tertinggi pada wanita umur 60-64 tahun. Umur menarche di bawah 12
tahun dapat meningkatkan risiko terkena kanker ovarium, dan
keterlambatan menopause juga dihubungkan dengan peningkatan risiko
kanker ovarium hal ini berhubungan dengan lamanya paparan hormon
esterogen (Fachlevy AF, Abdullah Z, 2015). Namun di Asia kanker
ovarium didiagnosis pada umur lebih awal akibat perbedaan
lingkungan, budaya, dan status ekonomi (Fuh KC,et al, 2019). Kanker
ovarium arang ditemukan pada wanita yang memiliki usia <40 tahun.
Angka kejadian meningkat dengan makin bertambahnya usia,
diperkirakan dari 15-16 per 100.000 orang pada usia 40 – 44 tahun
meningkat menjadi 57 per 100.000 orang pada usia 70 sampai 74 tahun
(Prawirohardjo, 2010).
b. Jumlah Paritas
Wanita yang melahirkan bayi dengan umur kehamilan yang cukup
secara normal dan menyusui, memeiliki risiko lebih kecil untuk
mengalami kanker ovarium jika dibandingkan dengan wanita yang
melahirkan prematur dan tidak menyusui (Luan, 2013). Wanita yang
pernah melahirkan juga memiliki risiko terkena kanker ovarium 29%
lebih rendah daripada wanita yang tidak pernah mekahirkan sama
sekali, dengan pengurangan risiko bertambah 8% untuk tiap kelahiran
15
(Tsilidis, et al, 2011). Pada masa laktasi juga terjadi peningkatan kadar
hormon prolaktin yang menghambat produksi hormon gonadotropin
(Follicle Stimulating Hormone Dan Lutenzing Hormone) sehingga
menghambat ovulasi. Selain itu peningkatan paritas juga dikaitkan
dengan teori hormon gonadotropin, dimana rendahnya konsentrasi
hormon gonadotropin saat masa kehamilan dan menyusui membuat
risiko sel epitel ovarium terperangkap dalam jaringan ikat sekitarnya
dan menyebabkan terbentuknya kista inklusi di ovarium berkurang (Suh
et al, 2018). Jumlah kelahiran janin hidup di luar rahim menentukan
penurunan risiko terjadinya kanker ovarim. Penurunan risiko kasus
kanker ovarium lebih tinggi setelah kelahiran pertama dibandingkan
kelahiran berikutnya, paritas dan pemberian ASI dapat mencegah
terjadinya Ephitelial Ovarian Carcinoma (EOC) (Sung, et al, 2016)
c. Indeks Massa Tubuh (IMT)
Wanita dengan kelebihan berat badan (IMT: 25-29,9), obesitas (IMT:
30- 39,9), dan moribidly obese (IMT: >35) memiliki nilai kelangsungan
hidup yang buruk bila dibandingkan dengan wanita yang memiliki IMT
normal (Nagle C, et al, 2015).
d. Terapi Hormon Menopausal
penggunaan terapi hormon menopausal meningkatkan insidensi dan
kematian pada penderita kanker ovarium. Risiko meningkatkan wanita
yang hanya mengunakan esterogen dalam waktu yang lama (>10 tahun)
dibandingkan penggunaan jangka pendek (<10 tahun) (Trabert, 2012).
16
e. Obesitas
Banyak studi menunjukkan hubungan obesitas dengan kanker ovarium,
wanita dengan obesitas (yang mempunyai body mass index setidaknya
30) mempunyai risiko tinggi terkena kanke ovarium. Peningkatan kasus
kanker ovarium mungkin berhubungan dengan mekanisme hormonal
yang berkaitan dengan obesitas termasuk peningkatan esterogen, insulin
dan insulin-like growth factor dan penurunan progesteron (Partheen,
2011)
f. Usia menarche
Usia menarche yang lebih tua juga dapat menjadi faktor risiko untuk
menurunkan terjadinya kanker ovarium, hal ini disebabkan karena usia
menarche dapat mengurangi jumlah ovulasi, hal ini sesuai dengan
hipotesis ovulasi terus menerus yang menjelaskan semakin sering
terjadinya ovulasi semakin besar kemungkinan terjadinya kanker
ovarium, selain itu usia menarche dini berhubungan dengan onset siklus
ovulasi yang lebih cepat menyebabkan tingginya androgen dapat
meningkatkan apoptosis sel epithelial disaat yang bersamaan androgen
juga dapat merangsang deoxyribonucleic acid (DNA) untuk
mengurangi kematian sel hal inilah yang kemudian akan menyebabkan
terjadinya pertumbuhan kanker akibat kerusakan sekunder pada sel
epithelial (Gong dkk, 2014).
2.2.3 Klasifikasi
Stadium kanker ovarium menurut Figo (Federation International of
Gynecology and Obstetrics) 1987 dalam (Nurarif & Kusuma, 2015) adalah:
1. Stadium I : Pertumbuhan terbatas pada ovarium
17
a. Stadium IA : Pertumbuhan terbatas pada suatu ovarium, tidak ada batas
yang berisi sel ganas, tidak ada pertumbuhan di permukaan luar, kapsul
utuh.
b. Stadium IB : Pertumbuhan terbatas pada kedua ovarium, tidak asietas,
berisi sel ganas, tidak ada tumor di permukaan luar, kapsul intak.
c. Stadium IC : Tumor dengan stadium Ia dan Ib tetapi ada tumor di
permukaan luar atau kedua ovarium atau kapsul pecah atau dengan
berisi sel ganas atau dengan bilasan peritonium positif.
2. Stadium II : Pertumbuhan pada satu atau dua ovarium dengan perluasan ke
panggul.
a. Stadium IIA : Perluasan atau metastasis ke uterus dan atau tuba.
b. Stadium IIB : Perluasan jaringan pelvis lainnya
c. Stadium IIC : Tumor stadium 2A dan 2B tetapi pada tumor dengan
permukaan satu atau kedua ovarium, kapsul pecah atau dengan aktivitas
yang mengandung sel ganas dengan bilasan peritoneum positif.
3. Stadium III : Tumor mengenai satu atau kedua ovarium dengan implant di
peritonium di luar pelvis dan atau retroperitoneal positif.
a. Stadium IIIA : Tumor terbatas di pelvis kecil dengan kelenjar getah
bening negative tetapi secara histologi dan dikonfirmasi secara
mikroskopis terdapat adanya pertumbuhan di permukaan peritonium
abdominal.
b. Stadium IIIB : Tumor mengenai 1/2 kedua ovarium dengan implan di
permukaan peritonium dan terbukti secara mikroskopis,diameter
melebihi 2 cm, dan kelenjar getah bening negatif.
18
c. Stadium IIIC : Implan di abdomen dengan diameter lebih dari 2 cm dan
atau kelenjar getah bening retroperitoneal atau inguinal positif.
4. Stadium IV : Pertumbuhan mengenai satu atau kedua ovarium dengan
metastasis jauh.
Gambar 2. 3 Klasifikasi Kanker Ovarium (Dalley, 2013)
2.2.4 Manifestasi Klinis
Menurut (Prawirohardjo, 2014) manifetasi klinis dari kanker ovarium:
1. Stadium awal : gangguan haid, konstipasi, sering berkemih, nyeri spontan
panggul, nyeri saat bersenggama.
2. Stadium lanjut : asites, penyebaran ke omentum (lemak perut), perut
membuncit, kembung dan mual, gangguan nafsu makan,gangguan BAB dan
BAK, sesak nafas, dyspepsia.
2.2.5 Patofisiologi
Kanker ovarium dapat ditemukan pada semua golongan umur, tetapi lebih
sering pada usia 50 tahun ke atas, pada usia lebih muda jarang ditemukan. Faktor
predisposisi ialah tumor ovarium jinak, pertumbuhan tumor diikuti oleh infiltrasi,
jaringan sekitar yang menyebabkan berbagai keluhan samar-samar.
Kecenderungan untuk melakukan implantasi dirongga perut merupakan ciri khas
suatu tumor ganas ovarium yang menghasilkan asites (Suddart, 2015).
19
Keganasan epiteliel yang paling sering adalah adenomakarsinoma serosa.
Kebanyakan neoplasma epiteliel mulai berkembang dari permukaan epitelium,
atau serosa ovarium. Kanker ovarium bermetastasis dengan invasi langsung
struktur yang berdekatan dengan abdomen dan pelvis. Sel-sel ini mengikuti
sirkulasi cairan peritoneal sehingga dapat mengimplantasi. Keganasan selanjutnya
dapat timbul pada semua permukaan intraperitoneal. Limfasik yang disalurkan ke
ovarium juga merupakan jalur untuk penyebaran sel-sel ganas. Penyebaran awal
kanker ovarium dengan jalur intraperitoneal dan limfatik muncul tanpa gejala atau
tanda spesifik. Gejala tidak pasti akan muncul seiring dengan waktu adalah
perasaan berat pada pelvis, sering berkemih, dan disuria, dan perubahan
gastrointestinal, seperti rasa penuh, mual, tidak enak pada perut, cepat kenyang,
dan konstipasi (Dewi, 2017). Penegakkan diagnosisi kanker ovarium dapat
dilakukan dengan laparotomi, walaupun laparatomi adalaha prosedur primer yang
digunakan untuk menentukan diagnosis, cara-cara lain juga dapat dilakukan
seperti CT-Scan, sonografi abdomen dan pelvis yang sering membantu
menentukan stadium dan luasnya penyebaran (Prawirohardjo, 2010).
2.2.6 Penatalaksanaan
Penatalaksanaan kanker ovarium sangat ditentukan oleh stadium, derajat
diferensiasi, fertilisasi, dan keadaan umum penderita. Pengobatan utama adalah
dengan melakukan operasi pengagkatan tumor primer dan metastasisnya, dan
perlu diberikan terapi tambahan seperti kemoterapi, radioterapi (intraperitoneal
radiocolloid atau whole abdominal radiation), imunoterapi/terapi biologi, dan
terapi hormon (Prawirohardjo, 2010).
20
2.2.7 Pemeriksaan Penunjang
Menurut (Salani Ritu, 2011) yang harus dilakukan pada pasien kanker
ovarium yaitu :
1. Uji asam deoksiribonukleat mengindikasikan mutasi gen yang abnormal
2. Pencitraan USG abdomen, CT scan, atau ronsen menunjukkan ukuran
tumor. Pada stadium awal tumor berada di ovarium, stadium II sudah
menyebar ke rongga panggul, stadium III sudah menyebar ke abdomen, dan
stadium IV sudah menyebar ke organ lain seperti hati, paru-paru, dan
gastrointestinal
3. Prosedur diagnostik Aspirasi cairan asites dapat menunjukkan sel yang tidak
khas. Pada stadium III kanker ovarium cairan asites positif sel kanker.
4. Pemeriksaan lain Laparatomi eksplorasi, termasuk evaluasi nodus limfe dan
reseksi tumor, dibutuhkan untuk diagnosis yang akurat dan penetapan
stadium berapa kanker ovarium tersebut.
2.3 Konsep Instalasi Gawat Darurat
2.3.1 Definisi
Instalasi Gawat Darurat (IGD) adalah unit pelayanan di Rumah Sakit yang
memberi penanganan awal bagi pasien yang menderita sakit dan cidera, yang
membutuhkan perawatan gawat darurat. IGD memiliki tujuan utama diantaranya
adalah menerima, melakukan triage, menstabilisasi, dan memberikan pelayanan
kesehatan akut untuk pasien, termasuk pasien yang membutuhkan resusitasi dan
pasien dengan tingkat kegawatan tertentu (Australasian College For Emergency
Medicine, 2014).
IGD adalah salah satu unit pelayanan di Rumah Sakit yang menyediakan
penanganan awal (bagi pasien yang datang langsung ke rumah sakit)/lanjutan
21
(bagi pasien rujukan dari fasilitas pelayanan kesehatan lain), menderita sakit
ataupun cedera yang dapat mengancam kelangsungan hidupnya (Permenkes RI
No. 47 tahun 2018). IGD berfungsi menerima, menstabilkan dan mengatur pasien
yang membutuhkan penanganan kegawatdaruratan segera, baik dalam kondisi
sehari - hari maupun bencana (Permenkes RI No. 47 tahun 2018) Secara garis
besar kegiatan di IGD rumah sakit dan menjadi tanggung jawab IGD secara
umum terdiri dari:
1. Menyelenggarakan pelayanan kegawatdaruratan yang bertujuan menangani
kondisi akut atau menyelamatkan nyawa dan/atau kecacatan pasien.
2. Menerima pasien rujukan yang memerlukan penanganan lanjutan/definitif
dari fasilitas pelayanan kesehatan lainnya.
3. Merujuk kasus-kasus gawat darurat apabila rumah sakit tersebut tidak mampu
melakukan layanan lanjutan.
IGD rumah sakit harus dikelola dan diintegrasikan dengan instalasi/unit
lainnya di dalam sumah sakit. Kriteria umum IGD rumah sakit (Permenkes RI
No. 47 tahun 2018) :
1. Dokter/dokter gigi sebagai kepala IGD rumah sakit disesuaikan dengan
kategori penanganan.
2. Dokter/dokter gigi penanggungjawab pelayanan kegawatdaruratan ditetapkan
oleh kepala/direktur rumah sakit.
3. Perawat sebagai penanggung jawab pelayanan keperawatan
kegawatdaruratan.
4. Semua dokter, dokter gigi, tenaga kesehatan lain, dan tenaga nonkesehatan
mampu melakukan teknik pertolongan hidup dasar (Basic Life Support).
22
5. Memiliki program penanggulangan pasien massal, bencana (disaster plan)
terhadap kejadian di dalam rumah sakit maupun di luar rumah sakit.
6. Jumlah dan jenis serta kualifikasi tenaga di IGD rumah sakit sesuai dengan
kebutuhan pelayanan
2.3.2 Triase
Triase merupakan proses khusus memilah pasien berdasarkan beratnya
cedera atau penyakit untuk menentukan jenis penanganan/intervensi
kegawatdaruratan. Prinsip triase diberlakukan sistem prioritas yaitu
penentuan/penyeleksian mana yang harus di dahulukan mengenai penanganan
yang mengacu pada tingkat ancaman jiwa yang timbul seperti ancaman jiwa yang
dapat mematikan dalam hitungan menit, dapat mati dalam hitungan jam, trauma
ringan, dan sudah meninggal
Prosedur Triase menurut (Permenkes RI No. 47 tahun 2018) adalah:
1. Pasien datang diterima tenaga kesehatan di IGD rumah sakit
2. Di ruang triase dilakukan pemeriksaan singkat dan cepat untuk menentukan
derajat kegawatdaruratannya oleh tenaga kesehatan dengan cara:
a. Menilai tanda vital dan kondisi umum Pasien
b. Menilai kebutuhan medis
c. Menilai kemungkinan bertahan hidup
d. Menilai bantuan yang memungkinkan
e. Memprioritaskan penanganan definitive
3. Namun bila jumlah pasien lebih dari 50 orang, maka triase dapat dilakukan
di luar ruang triase (di depan gedung IGD rumah sakit).
4. Pasien dibedakan menurut kegawatdaruratannya dengan memberi kode
warna:
23
a. Kategori merah: prioritas pertama (area resusitasi), pasien cedera
berat mengancam jiwa yang kemungkinan besar dapat hidup bila
ditolong segera. Pasien kategori merah dapat langsung diberikan
tindakan di ruang resusitasi, tetapi bila memerlukan tindakan medis
lebih lanjut, pasien dapat dipindahkan ke ruang operasi atau di rujuk
ke rumah sakit lain.
b. Kategori kuning: prioritas kedua (area tindakan), pasien memerlukan
tindakan defenitif tidak ada ancaman jiwa segera. Pasien dengan
kategori kuning yang memerlukan tindakan medis lebih lanjut dapat
dipindahkan ke ruang observasi dan menunggu giliran setelah pasien
dengan kategori merah selesai ditangani.
c. Kategori hijau: prioritas ketiga (area observasi), pasien degan cedera
minimal, dapat berjalan dan menolong diri sendiri atau mencari
pertolongan. Pasien dengan kategori hijau dapat dipindahkan ke
rawat jalan, atau bila sudah memungkinkan untuk dipulangkan,
maka pasien diperbolehkan untuk dipulangkan.
d. Kategori hitam: prioritas nol pasien meninggal atau cedera fatal yang
jelas dan tidak mungkin diresusitasi. Pasien kategori hitam dapat
langsung dipindahkan ke kamar jenazah.
2.4 Konsep Asuhan Keperawatan Kanker Ovarium
2.4.1 Pengkajian
1. Pengkajian Primer
a. Airway
24
Pada pengkajian airway pada pasien kanker ovarium pada airway tidak
ditemukan gangguan pada jalan napas. Jalan napas paten tidak ada suara
snoring atau gurgling.
b. Breathing
Pada pengkajian breathing pada pasien dengan kanker ovarium masalah
yang terjadi apabila perut membesar dan menimbulkan gejala perut
terasa penuh, mengakibatkan pasien mengalami sesak napas karena perut
tertekan oleh besarnya kanker
c. Circulation
Pada pengkajian circulation irama jantung reguler, akral hangat, kering,
merah. Membrane mukosa normal, CRT <2detik, turgor kulit baik, tidak
ada perdarahan. Bisanya juga pasien dengan kanker ovarium juga dapat
mengalami anemia yang disebabkan efek kemoterapi
d. Disability
Pada pengkajian disability dapat dilihat keadaan umum, GCS, tingkat
kesadaran, nyeri atau tidak, adanya trauma atau tidak (Jevon, P., 2013).
2. Pengkajian Sekunder
a. Identitas Pasien
Meliputi nama lengkap, tempat tinggal, jenis kelamin, tanggal lahir,
umur, tempat lahir, asal suku bangsa, nama orang tua, dan pekerjaan
orang tua. Keganasan kanker ovarium sering dijumpai pada usia sebelum
menarche atau di atas 45 tahun (Manuaba, 2010)
25
b. Keluhan Utama
Biasanya mengalami perdarahan abnormal atau menorrhagia pada wanita
usia subur atau wanita diaatas 50 tahun untuk stadium awal. Pada
stadium lanjut akan mengalami pembesaran massa yang disertai asites
(Reeder, 2013).
c. Riwayat Kesehatan sekarang
Menurut Wiliams (2011), yaitu : Gejala kembung, nyeri pada abdomen
atau pelvis, kesulitan makan atau merasa cepat kenyang. Pada stadium
lanjut sering berkemih, konstipasi, ketidaknyamanan pelvis, distensi
abdomen, penurunan berat badan dan nyeri pada abdomen (Reeder,
2013)
d. Riwayat kesehatan dahulu
Riwayat kesehatan dahulu pernah mengalami kanker kolon, kanker
payudara, dan kanker endometrium (Reeder, 2013)
e. Pemeriksaan Fisik
1) Kepala dan rambut : Tidak ada gangguan yaitu bentuk kepala
simetris, tidak ada benjolan, tidak ada hematom dan rambut tidak
rontok.
2) Telinga : Simetris kiri dan kanan, tidak ada gangguan pendengaran
dan tidak ada lesi.
3) Wajah : Pada mata konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik,
reflek pupil +/+, pada hidung tidak ada pernapasan cuping hidung,
pada mulut dan mukosa tidak pucat dan tidak ada sariawan.
26
4) Leher : Tidak ada pembendungan vena jugularis dan pembesaran
kelenjar tiroid.
5) Thoraks : Tidak ada pergerakan otot diafragma, gerakan dada
simetris.
6) Paru-paru
Inspeksi : pernapasan dyspnea, tidak ada tarikan dinding dada
Palpasi : Fremitus kiri dan kanan sama
Perkusi : sonor pada seluruh lapang paru,
Auskultasi : suara napas vesikuler
7) Jantung : Pada pasien kanker ovarium biasanya tidak ada mengalami
masalah
8) Payudara : Simetris kiri dan kanan, aerola mamae hiperpigmentasi,
tidak ada pembengkakan.
9) Abdomen
Inspeksi: Pada stadium awal kanker ovarium, belum adanya
perbesaran mass, sedangkan pada stadium lanjut kanker ovarium di
raba akan terasa seperti karet atau batu massa di abdomen dan
terdapat asites.
Palpasi: Pada stadium awal kanker ovarium, belum adanya
perbesaran massa, sedangkan pada stadium lanjut kanker ovarium
akan terasa seperti karet atau batu massa di abdomen.
Perkusi : Hasilnya suara hipertympani karena adanya massa atau
asites yang telah bermetastase ke organ lain.
Auskultasi : Bising usus normal yaitu 5-30 kali/menit.
27
10) Genetalia : Pada beberapa kasus akan mengalami perdarahan
abnormal akibat hiperplasia dan hormon siklus menstruasi yang
terganggu. Pada stadium lanjut akan dijumpai tidak ada haid lagi.
11) Ekstremitas : Tidak ada edema, tidak ada luka dan CRT <2 detik.
Pada stadium lanjut akan ditandai dengan kaki edema, Pasien
biasanya mengalami kelelahan dan terganggu aktivitas istirahat
karena mengalami nyeri dan ansietas (Reeder, 2013).
2.4.2 Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada pasien kanker ovarium
yaitu:
1. Pola Napas Tidak Efektif berhubungan dengan hambatan upaya napas
(SDKI, 2016) D.0005 hal. 26
2. Perfusi Perifer Tidak Efektif berhubungan dengan penurunan konsentrasi
hemoglobin (SDKI, 2016) D. 0009 hal. 37
3. Hipervolemia berhubungan dengan gangguan mekanisme regulasi (SDKI,
2016) D.0022 hal. 62
4. Keletihan berhubungan dengan kondisi fisiologis (penyakit kronis, anemia)
(SDKI, 2016) D.0057 hal. 130
5. Nyeri Kronis berhubungan dengan penekanan saraf (SDKI, 2016) D.0078
hal.174
6. Defisit Nutrisi berhubungan dengan peningkatan kebutuhan metabolisme
(SDKI, 2016) D.0019 hal.56
28
2.4.3 Intervensi Keperawatan
1. Pola napas tidak efektif berhubungan dengan hambatan upaya
napas (SDKI, 2016) D.0005 hal. 26
Tujuan : Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 24 jam
diharapkan Pola napas membaik
Kriteria hasil: Pola Napas (SLKI, 2017) L.01004
hal.95 1) Dispnea menurun
2) Penggunaan otot bantu napas menurun
3) Perrnapasan cuping hidung menurun
4) Frekuensi napas membaik
5) Kedalaman napas membaik
Intervensi : Manajemen Jalan Napas (SIKI, 2018) 1.01011 hal. 186
Observasi
1) Monitor pola napas (frekuensi, kedalaman, usaha napas)
Rasional: mengidentifikasi terjadinya hipoksia melalui tanda peningkatan
frekuensi, kedalaman dan usaha napas.
2) Monitor sputum (jumlah, warna, bau, konsistensi).
Rasional : Tanda infeksi berupa secret tampak keruh dan berbau. Sekret
kental dapat meningkatkan hipoksemia dan dapat menandakan dehidrasi
Terapeutik
1) Posisikan semi-Fowler atau Fowler
Rasional : meningkatkan ekspansi paru
2) Berikan minum hangat
Rasional : memberikan efek ekspektoran pada jalan napas
3) Lakukan penghisapan lendir kurang dari 15 detik
29
Rasional : mengeluarkan secret jika terdapat batuk tidak efektif
Edukasi
1) Anjurkan asupan cairan 2000 ml/hari jika tidak kontraindikasi
Rasional : meningkatkan aktivitas silia mengeluarkan sekret
2) Ajarkan teknik batuk efektif
Rasional : memfasilitasi pengeluaran secret
Kolaborasi
1) Kolaborasi pemberian bronkodilator, ekspektorn, mukolitik, jika perlu
Rasional : membantu mengeluarkan dahak, melebarkan jalan napas
2. Perfusi perifer tidak efektif berhubungan dengan penurunan
konsentrasi hemoglobin (SDKI, 2016) D. 0009 hal.37
Tujuan : Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 24 jam diharapkan
perfusi perifer meningkat.
1) Denyut nadi perifer meningkat
2) Warna kulit pucat menurun
3) Akral membaik
4) Turgor kulit membaik
5) Pengisian kapiler membaik
Intervensi : Perawatan Sirkulasi (SIKI, 2018) I.02079 hal.345
Observasi
1) Periksa sirkulasi perifer (mis. nadi perifer, edema)
Rasional : mengidentifikasi teradinya penurunan sirkulasi perifer melalui
nadi perifer dan edema
30
Terapeutik
1) Hindari pengukuran tekanan darah pada ekstremitas dengan
keterbatasan perfusi
Rasional : mengihindari penurunan sirkulasi pada perifer
2) Lakukan pencegahan infeksi
Rasional : mencegah teradinya infeksi
3) Lakukan hidrasi
Rasional : hidrasi dapat membantu perbaikan sirkulasi perifer
Edukasi
1) Anjurkan program rehabilitasi vascular
Rasional : membantu perawatan dalam sirkulasi perifer
2) Ajarkan program diet untuk memperbaiki sirkulasi
Rasional : membantu perbaikan sirkulasi
3) Informasikan tanda dan gejala darurat yang harus dilaporkan.
Rasional : mengetahui adanya tanda dan gejala perburukan dari
sirkulasi perifer tidak efektif
3. Hipervolemia berhubungan dengan gangguan mekanisme regulasi
(SDKI, 2016) D.0022 hal. 62
Tujuan: Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 24 jam
diharapkan keseimbangan cairan meningkat
Kriteria hasil: Keseimbangan Cairan (SLKI, 2017) L.03020 hal.41
1) Haluaran urin meningkat
2) Kelembaban membrane mukosa meningkat
3) Edema menurun
31
4) Turgor kulit membaik
5) Asites menurun
Intervensi: Manajemen Hipervolemia (SIKI, 2018) I.03114 hal.181
Observasi
1) Periksa tanda dan gejala hipervolemia (mis. dispnea, edema)
Rasional : mengidentifikasi tanda hipervolemia seperti dispnea dan edema
2) Monitor status hemodinamik (mis. frekuensi jantung, tekanan darah)
Rasional : status hemodinamik dapat menunjukkan adanya hipervolemia
melalui tekanan darah, frekuensi jantung
3) Monitor tanda hemokonsentrasi (mis. kadar natrium, BUN, hematokrit)
Rasional : tanda hipervolemia dapat dipastikan dengan adanya
pemeriksaan hemokonsentrasi seperti albumin, BUN, dan hematokrit
Teraeutik
1) Batasi asupan cairan dan garam
Rasional : membatasi asupan cairan dan garam dapat
mengurangi hipervolemia
2) Timbang berat badan setiap hari pada waktu yang sama
Rasional : mengetahui seberapa banyak kelebihan cairan yang dialami
Edukasi
1) Ajarkan cara mengukur dan mencatat asupan dan haluaran urin
Rasional : mengajarkan untuk memnyeimbangkan asupan dan
haluaran urin agar mengurangi hipervolemia
2) Ajarkan cara membatasi cairan
Rasional : memfasilitasi pembatasan cairan
32
Kolaborasi
1) Kolaborasi pemberian deuretik
Rasional : diuretic dapat membantu mengeluaran cairan yang berlebih
dalam tubuh
4. Keletihan berhubungan dengan kondisi fisiologis (penyakit kronis,
anemia) (SDKI, 2016) D.0057 hal. 130
Tujuan: Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 24 jam diharapkan
tingkat keletihan meningkat.
Kriteria hasil : Tingkat Keletihan (SLKI, 2017) L.05046 hal.141
1) Verbalisasi kepulihan energy meningkat
2) Kemampuan melakukan aktivitas rutin meningkat
3) Verbalisasi lelah menurun
4) Lesu menurun
Intervensi: Manajemen Energi (SIKI, 2018) I.05178 hal.176
Observasi
1) Identifikasi gangguan fungsi tubuh yang mengakibatkan kelelahan
Rasional : mengidentifikasi kelelahan yang disebabkan gangguan fungsi
tubuh
2) Monitor kelelahan fisik
Rasional : mengetahui adanya kelelahan fisik
3) Monitor lokasi dan ketidaknyamanan selama melakukan aktivitas
Rasional : mengidentifikasi dimana lokasi dan ketidaknyamanan saat
beraktivitas
Terapeutik
1) lakukan latihan rentang gerak pasif dan/atau aktif
33
Rasional : membantu dalam meningkatkan rentang gerak dalam
beraktivitas
2) Berikan aktivitas distraksi yang menenangkan
Rasional : mengurangi kelelahan yang dirasa
Edukasi
1) anjurkan tirah baring
Rasional : tirah baring dapat membantu memulihkan tenaga
2) anjurkan melakukan aktivitas secara bertahap
Rasional : memudahkan dalam beraktivitas secara mandiri
Kolaborasi
1) kolaborasi dengan ahli gizi tentang cara meningkatkan asupan makanan
Rasional : peningkatan gizi dapat membantu dalam memulihkan tenaga
2.4.4 Implementasi
Implementasi digunakan untuk membantu klien dalam mencapai tujuan
yang sudah ditetapkan melalui penerapan rencana asuhan keperawatan dalam
bentuk intervensi. Pada tahap ini perawat harus memiliki kemampuan dalam
berkomunikasi yang efektif, mampu menciptakan hubungan saling percaya dan
saling bantu, observasi sistematis, mampu memberikan pendidikan kesehatan,
kemampuan dalam advokasi dan evaluasi. Implementasi adalah tindakan yang
sudah direncanakan dalam rencana perawatan. Tindakan ini mncangkup tindakan
mandiri dan kolaborasi (Tarwoto & Wartonah, 2011)
2.4.5 Evaluasi
Evaluasi bertujuan untuk mencapai tujuan yang sudah disesuaikan dengan
kriteria hasil selama tahap perencanaan yang dapat dilihat melalui kemampuan
klien untuk mencapai tujuan tersebut (Setiadi, 2012)
34
2.5 Kerangka Masalah Keperawatan
Faktor risiko : usia, jumlah
paritas, obesitas, usia menarche
Kadar esterogen meningkat
Pertumbuhan sel-sel abnormal di
ovarium
Kanker ovarium
Metastase jaringan sekitar Menenkan kandung Sel kanker
kemih & pelvis mengimplantasi pada
Supresi sumsum tulang MK : Nyeri rongga perut
belakang Retensi natrium Kronis
& albumin Asites
Sel darah merah
Menekan
menurun Total CES naik Menekan
abdomen
rongga dada
Tekanan kapiler naik
Penurunan Hb, Anemia Perut terasa
Ekspansi paru
berkurang penuh
O2 dalam tubuh Volume intertisial naik
menurun Intake nutrisi
Adanya edema Sesak, kurang
Px lemas CRT > 2 detik RR >20x/menit
MK : Hipervolemia Asam lambung
MK : Pola napas naik
MK: Keletihan
tidak efektif
Mual, muntah
MK : Perfusi perifer
tidak efektif
MK : Defisit
Nutrisi
Gambar 2.4 Kerangka Masalah Keperawatan Pada Kanker Ovarium
(Nurarif .A. H. & Kusuma. H., 2015)
BAB 3
TINJAUAN KASUS
Bab ini membahas mengenai asuhan keperawatan pada Ny. P dengan
diagnosis medis Kanker Ovarium meliputi: 1) Pengkajian, 2) Diagnosis
Keperawatan, 3) Intervensi Keperawatan, 4) Implementasi dan Evaluasi
Keperawatan
3. 1 Pengkajian
3.1.1 Identitas Pasien
Pengkajian dilakukan pada tanggal 21 April 2021 di ruang Instalasi Gawat
Darurat RSPAL Dr. Ramelan Surabaya, terhadap Ny. P, usia 49 tahun, berjenis
kelamin perempuan, beragama islam, suku bangsa jawa/Indonesia, dan bertempat
tinggal di Surabaya. Pendidikan terakhir SMA dan saat ini menjadi ibu rumah
tangga. Penanggung jawab biaya rumah sakit adalah BPJS. Pasien dirawat dengan
Anemia neoplastic disease. Pasien masuk melalui IGD pukul 09.30 dengan
keluhan badan lemas.
3.1.2 Primary Survey
Pasien datang menggunakan mobil pribadi diantar oleh suaminya pada
pukul 09.30 di Intalasi Gawat Darurat RSPAL Dr. Ramelan Surabaya, pasien
masuk IGD dengan menggunakan bed, kondisi pasien saat datang pasien sesak
napas, lemas, akral hangat kering, pucat dan kaki bengkak. Kondisi pasien lemah
kesadaran somnolen, GCS E: 3, V: 5, M: 6, kategori triase P1 warna merah,
dengan klasifikasi kasus medic emergency non trauma.
Hasil pemeriksaan di IGD keluhan utama pasien: sesak napas dan badan
lemas dirasakan sudah seminggu, disertai dengan kaki bengkak dirasa sudah 3
minggu yang lalu. Pasien mengatakan kesulitan dalam beraktivitas karena badan
35
36
terasa lemas dan sesak napas. Sebelum ke IGD RSPAL Dr. Ramelan Surabaya
pasien tidak pernah membawa ke fasilitas yang lain dan belum dilakukan tindakan
apapun selama dirumah, dikarenakan keluhan semakin dirasa memberat suami
pasien memutuskan untuk membawa pasien ke IGD RSPAL Dr. Ramelan
Surabaya.
Riwayat penyakit dahulu, suami pasien mengatakan jika pasien memiliki
riwayat penyakit kanker ovarium dan pernah menjalani operasi pada bulan maret
2020, serta telah menjalani kemoterapi sebanyak 6x yang terakhir pada bulan
September 2020. Suami pasien juga mengatakan telah dilakukan pemasangan DJ-
Stent di RS Brawijaya pada tanggal februari 2021. Pasien tidak memilki alergi
baik obat-obatan atau makanan. Hasil vital sign pasien didapatkan tekanan darah
134/90 mmHg, Nadi 107x/menit (regular), pernapasan 29x/menit, SpO2 94%
tanpa bantuan oksigen, suhu 36,9⁰C, pasien tidak ada keluhan nyeri.
Pemeriksaan Airway jalan nafas pasien paten, tidak ada suara snoring atau
gargling, Breathing didapatkan pergerakan dada simetris, irama pernapasan
regular, suara nafas tambahan tidak ada, pasien diberikan terapi oksigen nasal 3
lpm SpO2 98%. Circulation didapatkan irama jantung reguler, akral hangat,
kering, dan pucat. Membrane mukosa normal, CRT <3detik, turgor kulit baik,
terdapat edema dengan pitting edema derajat dua di tungkai kaki kiri, tidak ada
perdarahan. Disability di dapatkan kesadaran somnolen, GCS E: 3, V:5, M:6
pupil: isokor, ukuran 2mm/2mm reflek cahaya +/+, tidak ada fraktur, tidak ada
paralisis.
3.1.3 Secondary Survey
Hasil pemeriksaan fisik Head to Toe didapatkan kulit teraba hangat, kering,
pucat, ikterik (-/-). Kondisi kepala, rambut bewarna hitam dan sebagian beruban,
37
distribusi merata, tidak ada kelainan. Mata, palpebra edema (-/-), konungtiva
anemis (+/+), sclera ikterik (-/-), reflek cahaya (+/+), pupil: isokor. Telinga: nyeri
tekan (-/-), serumen (-), tidak ada reaksi alergi. Hidung : secret (-/-), tidak ada
reaksi alergi dan pembesaran polip, terdapat pernapasan cuping hidung. Terpasang
oksigen nasal 3lpm. Mulut dan gigi: tidak ada caries gigi, pasien tidak
menggunakan gigi palsu, tidak ada sariawan, tidak ada perdarahan pada gusi, bibir
kering, tidak ada kesulitan dalam menelan. Leher: tidak ada pembesaran pada
kelenjar tiroid, tidak ada nyeri. Thoraks/dada: Bentuk dada normochest, paru-
paru: inspeksi: simetris kanan kiri, tidak ada retraksi dinding dada, palpasi:
fremitus simetris kanan kiri, perkusi: sonor pada seluruh lapang paru, auskultasi:
suara napas vesikuler, rhonci (-), wheezing (-), krepitasi (-). Jantung: inspeksi:
iktus tidak terlihat, palpasi: kecepatan denyut apical 107x/menit, perkusi: batas
jantung dalam batas normal, auskultasi: bunyi jantung S1 S2 tunggal, irama
teratur regular. Abdomen: inspeksi: terdapat asites, palpasi: tidak ada nyeri tekan,
hepar/linen tidak teraba, perkusi: timpani, auskultasi: bising usus (+) 10x/menit.
Genetalia: saat ini pasien terpasang kateter dengan folley cath no.16 balon 15ml,
kondisi genetalia bersih. Musculoskeletal: ada edema di tungkai kaki kiri dengan
pitting edema derajat dua, akral teraba hangat, tidak ada fraktur, turgor kulit
elastic, kontraktur pergerakan tidak ada, pasien terpasang infuse di tangan kiri
dengan iv line 14 tpm, no. 20, CRT <3 detik.
3.1.4 Pemeriksaan Penunjang
1. Laboratorium
Hasil Pemeriksaan Laboratorium 21/04/21
White Blood Cell 5.56 (4.0 – 10.0 10^3/µL)
Neutrophils 75.6 (50.0 – 70.0 %)
Lymphocytes 17.1 (20.0 – 40.0 %)
Monocytes 5.2 (3.0 – 12.0 %)
Easinophiles 2.1 (0.5 – 5.0 %)
38
Basophils 0.0 (0.0 – 1.0 %)
Red Blood Cell 3.08 (3.5 – 5.5 10^6/µL)
Hemoglobin 9.8 (12 – 15 g/dL)
Hematocrit 30.4 (37 –54%)
MCV 98.5 (80 – 100 fL)
MCH 31.9 (27 – 34 pg)
MCHC 32.3 (32 – 36 g/dL)
RDW 14.6 (11 –16%)
Platelet 260 (150 – 450 10^3/µL)
MPV 8.6 (6.5 – 12.0 fL)
Hasil Pemeriksaan Kimia Klinik 21/04/21
Gula Darah Acak 112 (<120 mg/dl)
Blood Urea Nitrogen 11 (10 – 24 mg/dl)
Creatinine 0.9 (0.6 – 1.5 mg/dl)
Albumin 2.99 (3.40 – 4.80 mg/dl)
Natrium 138.3 (135 – 147 mmol/l)
Kalium 3.84 (3 – 5 mmol/l)
Klorida 109.1 (95 – 105 mmol/l)
Rapid Swab Antigen Negative (Negative)
SARS-Cov-2
Hasil Pemeriksaan Analisa Gas Darah 21/04/21
pH 7,471 (7,35 – 7,45)
pCO2 34.2 (35 – 45mmHg)
pO2 155.3 (80 – 100 mmHg)
HCO3 24.4 (22 – 26 mmol/l)
Be 0.8 (-2 - +2 mmol/l)
2. Foto Thorax
Hasil Foto Thorax tanggal 21/04/21
Cor : besar & bentuk normal
Pulmo: infiltrate/perselubungan (-), nodul (-)
Sinus phrenicocostalis kanan tumpul, kiri tajam
Diaphragm kanan kiri baik
Tulang-tulang baik, osteolitik/osteoblastik (-)
Kesimpulan : Metastase proses pada paru & tulang (-), effusi pleura
minimal kanan suspect metastase proses subpleura.
39
3.1.5 Penatalaksanaan Medis
Daftar Terapi yang diberikan yaitu:
Tabel 3.1 Penatalaksanaan Medis
No Obat yang Dosis Rute Indikasi
diberikan
1 NaCl 0.9% 500 ml/14 tpm Infus Pengganti cairan tubuh yang hilang
2 Furosemid 20mg Iv Sebagai diuretic, pengeluar cairan
berlebih dari dalam tubuh
3. 2 Diagnosa Keperawatan
3.2.1 Analisa Data
Penulis mengelompokkan data dari hasil pengkajian kemudian dianalisa
sehingga dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
Tabel 3.2 Analisa Data
Data Etiologi Masalah
DS : Perubahan membran Gangguan pertukaran
Pasien mengeluh sesak alveolus-kapiler gas
DO : (SDKI, 2016)
1. Adanya napas cuping D. 0003
hidung
2. Pernapasan: 29x/menit
(16-20x/menit)
3. Nadi : 107x/menit regular
4. Pasien terpasang O2 nasal
3 lpm
Hasil pemeriksaan BGA
21/04/2021
1. pH : 7.47 (7.35 – 7.45)
2. PCO2 : 34.2 mmHg (35 –
45 mmHg)
3. pO2 : 155.3 mmHg (89 –
116 mmHg)
4. HCO3 : 24.4 mmol/l (22-
26 mmol/l)
DS : Penurunan konsentrasi Perfusi Perifer Tidak
Pasien mengatakan badan hemoglobin efektif
terasa lemas (SDKI, 2016)
DO : D. 0009
1. Nadi : 107x/menit regular
2. Warna kulit pucat
3. Adanya edema pada
40
tungkai kaki kiri dengan
pitting edema derajat dua
Data Penunjang:
Hasil pemeriksaan laborat
21/04/2021:
1. Hb: 9,8 g/dL (12,1 – 15,1
g/dL)
DS: Gangguan mekanisme Hipervolemia
Pasien mengeluh sesak regulasi (SDKI, 2016)
DO: D.0022
1. Dyspnea (sesak)
2. Adanya edema pada kaki
kiri
3. Adanya asites
4. Urin pasien 200cc
5. Pernapasan : 29x/menit
6. Nadi : 107 x/menit regular
Data penunjang:
Hasil pemeriksaan laborat
21/04/2021:
1. Hb: 9,8 g/dL (12,1 – 15,1
g/dL)
2. Hct : 30,4 % (37 – 54 %)
3. Albumin : 2,99 mg/dl
(3.40 – 4.80 mg/dl)
3.2.2 Prioritas Masalah
Tabel 3.3 Prioritas Masalah Keperawatan
TANGGAL
No Diagnosa keperawatan TTD
Ditemukan Teratasi
1. Gangguan Pertukaran Gas 21 April 2021 -
(SDKI, 2016) D. 0003
2. Perfusi Perifer Tidak 21 April 2021 -
Efektif
(SDKI, 2016) D. 0009
3. Hipervolemia 21 April 2021 -
(SDKI, 2016) D.0022
3. 3 Intervensi Keperawatan
Tabel 3.4 Intervensi Keperawatan
No Masalah Tujuan Kriteria Hasil Intervensi
1. Gangguan Setelah dilakukan Pertukaran Gas L.01003 Pemantauan Respirasi I.01014
Pertukaran gas asuhan Kriteria hasil : 1. Monitor frekuensi, irama, kedalaman, dan upaya
(SDKI, 2016) keperawatan 1. Dipsnea menurun napas
D.0003 selama 2 – 4 jam 2. PaCO2 membaik (35-45 2. Monitor pola napas (seperti: bradipnea, takipnea,
diharapkan mmHg) kussmaul)
pertukaran gas 3. PO2 membaik (>80 3. Monitor saturasi oksigen
meningkat. mmHg) 4. Monitor nilai Analisa Gas Darah
4. pH arteri membaik (7.35- 5. Auskultasi bunyi napas
7.45) 6. Berikan oksigen dan monitor kecepatan aliran
5. Pola napas membaik (12- oksigen 3lpm
20 kali/menit) 7. Monitor efektifitas terapi oksigen
6. Napas cuping hidung 8. Jelaskan tujuan dan prosedur pemberian oksigen,
menurun, (SIKI, 2018)
7. Warna kulit membaik
8. Tingkat kesadaran
meningkat
(SLKI, 2018)
41
2. Perfusi perifer setelah dilakukan Perfusi Perifer L.02011 Perawatan Sirkulasi I.02079
tidak efektif asuhan 1. Denyut nadi perifer 1. Periksa sirkulasi perifer (seperti nadi perifer,
(SDKI, 2016) keperawatan meningkat (60 – 100 edema, pengisian kapiler, warna)
D.0009 selama 2 – 4 jam kali/menit) 2. Hindari pemasangan infuse atau pengambilan darah
diharapkan 2. Warna kulit pucat di area keterbatasan perfusi
perfusi perifer menurun, 3. Lakukan pencegahan infeksi
meningkat 3. Edema menurun 4. Lakukan hidrasi sesuai advis dokter
(SLKI, 2018) Nacl 0,9% 15 tpm
5. Informasikan tanda dan gejala darurat yang harus
dilaporkan (seperti rasa sakit yang tidak hilang saat
istirahat, hilangnya rasa)
(SIKI, 2018)
3. Hipervolemia Setelah dilakukan Keseimbangan cairan Pemantauan Cairan I.03121
(SDKI, 2016) asuhan L.03020 1. Monitor frekuensi dan kekuatan nadi
D.0022 keperawatan 1. Kelembaban membrane 2. Monitor waktu pengisian kapiler
selama 2 – 4 jam mukosa meningkat 3. Monitor kadar albumin
diharapkan 2. Edema menurun 4. Memonitor tanda-tanda hipervolemia (seperti
keseimbangan 3. Denyut nadi radial dispnea, edema perifer)
cairan meningkat membaik 5. Jelaskan tujuan dan prosedur pemantauan
4. asites menurun (SIKI, 2018).
(SLKI, 2018)
42
3. 4 Implementasi & Evaluasi Keperawatan
Tabel 3.5 Implementasi & Evaluasi Keperawatan
Hari/Tgl Masalah Waktu Implementasi Paraf Evaluasi formatif SOAPIE Paraf
Keperawatan / Catatan perkembangan
21/04/2021 1,2,3 09.30 - Melakukan pengkajian data serta DX 1: Gangguan Pertukaran
observasi kepada pasien gas
Hasil: GCS E:3 V:5 M:6, tekanan Puput (SDKI. D.0003) hal. 22
darah 134/90 mmHg, Nadi S: pasien mengatakan masih Puput
107x/menit (regular), pernapasan terasa sesak
29x/menit, SpO2 94%, suhu 36,9⁰C O:
1,3 09.35 - Memberikan oksigen dan monitor - Terdapat napas cuping
kecepatan aliran oksigen dan - warna kulit pucat menurun.
efektifitas oksigen (pasien terpasang - Tanda-tanda vital:
nasal 3 lpm dengan SpO2: 98%) TD: 130/80 mmHg,
1,3 09.40 - Menjelaskan tujuan dan prosedur N: 99x/menit (regular),
pemberian oksigen (px mengerti yg RR: 24 x/menit
dijelaskan) SpO2 : 98% dengan nasal
2 09.45 - Memeriksa sirkulasi perifer 3lpm,
meliputi: nadi perifer, edema, S: 36,5 ⁰C (frontal),
pengisian kapiler, warna CRT <2 detik.
Hasil: Nadi 107x/menit, terdapat - Dari hasil pemeriksaan
edema pada kaki kiri, CRT <3detik, Puput BGA 21/04/2021
warna kulit pucat), didapatkan pH : 7.47 (7.35
2 09.55 - Menghindari pemasangan infuse – 7.45), PCO2 : 34.2 mmHg
atau pengambilan darah di area (35 – 45 mmHg), pO2 :
keterbatasan perfusi 155.3 mmHg (89 – 116
2 10.00 - Melakukan pencegahan infeksi mmHg), HCO3 : 24.4
43
(melakukan cuci tangan sebelum mmol/l (22-26 mmol/l)
dan sesudah kontak dengan A: Masalah belum teratasi
pasien, menggunakan handscoon P: Intervensi 1,2,3,4,5,6,7
saat tindakan invasif) dilanjutkan
2 10.05 - Melakukan hidrasi (sesuai advis Puput
dokter pasien diberikan infuse
Nacl 0.9% 500ml), DX 2: Perfusi perifer tidak
3 10.10 - Memberikan injeksi furosemid efektif
20mg (SDKI. D.0009) hal. 37
2 10.20 - Menginformasikan tanda dan gejala S: Pasien mengatakan
darurat yang harus dilaporkan lemas berkurang
meliputi rasa sakit yang tidak hilang O: Puput
saat istirahat, dan hilangnya rasa - Akral: hangat, warna kulit
1,2,3 10.25 - Memonitor waktu pengisian pucat menurun
kapiler Hasil: CRT <3detik - TTV:
3 - Memonitor tanda-tanda Nadi: 99x/menit
hipervolemia meliputi dispnea, RR: 24 x/menit
edema perifer SpO2 : 98% dengan nasal
Hasil: pasien mengalami sesak, RR: 3lpm
29x/menit, terdapat edema pitting Suhu: 36,5 ⁰C (frontal)
edema derajat dua pada tungkai - Hasil laboratorium jumlah
kaki kiri, dan terdapat asites Puput hemoglobin masih
1,2,3 10.30 - Menjelaskan tujuan dan sama yaitu 9,8 g/dL (12,1
prosedur pemantauan – 15,1 g/dL)
1 11.30 - Memonitor hasil analisa gas darah A: Masalah teratasi sebagian
Hasil: pH : 7.47 (7.35 – 7.45), PCO2 P: Intervensi
: 34.2 mmHg (35 – 45 mmHg), pO2 1,3,4,5 dilanjutkan
: 155.3 mmHg (89 – 116 mmHg),
44
HCO3 : 24.4 mmol/l (22-26 DX 3: Hipervolemia
mmol/l)), (SDKI. D.0022) hal. 62
2,3 - Memonitor hasil laboratorium S: Pasien mengatakan
Hasil: albumin : 2,99 (3.40 – Puput masih terasa sesak Puput
4.80 mg/dl), O:
Hb: 9,8 g/dL (12,1 – 15,1 g/dL), - TTV:
Hct : 30,4 % (37 – 54 %) TD: 130/80 mmHg
1,2,3 - Mengkonsultasikan dengan N: 99x/menit (regular)
dokter hasil pemantauan RR: 24x/menit
SpO2 : 98% dengan nasal
3lpm,
Suhu: 36,5 ⁰C (frontal)
CRT <2 detik.
- edema pada tungkai pada
kaki kiri dengan derajat
pitting edema dua
- terdapat asites.
- Hasil pemeriksaan laborat
pada tanggal 21/04/2021
didapatkan Hb: 9,8 g/dL
(12,1 – 15,1 g/dL), Hct :
30,4 % (37 – 54 %),
Albumin : 2,99 mg/dl
(3.40 – 4.80 mg/dl)
A: Masalah belum teratasi
P: Intervensi
1,2,3,4,5 dilanjutkan
45
BAB 4
PEMBAHASAN
Pada bab ini akan disajikan tentang pembahasan mengenai asuhan
keperawatan pada pasien Ny. P dengan diagnosa medis kanker ovarium di Ruang
Instalasi Gawat Darurat RSPAL [Link] Surabaya, melalui pendekatan studi
kasus untuk mendapatkan kesenjangan antara teori dan praktek dilapangan.
Pembahasan terhadap proses asuhan keperawatan ini di mulai dari pengkajian,
rumusan masalah, perencanaan asuhan keperawatan, pelaksanaan dan evaluasi.
4.1 Pengkajian
Pengkajian dilakukan pada tanggal 21 April 2021 di ruang Instalasi Gawat
Darurat RSPAL Dr. Ramelan Surabaya, terhadap Ny.P usia 49 tahun berjenis
kelamin perempuan, Pasien dirawat dengan diagnosis medis kanker ovarium.
Pasien masuk IGD pukul 09.30 WIB dengan keluhan sesak napas dan badan
lemas. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa kanker ovarium lebih
banyak terjadi pada kelompok dewasa akhir sampai lansia akhir pada usia 36-65
tahun. Penelitian lain juga dilakukan terhadap penderita kanker ovarium pada
tahun 2015-2016 di RSUD H. Abdul Moeloek menunjukkan jumlah kasus yang
terbanyak pada usia ≥36 tahun, yaitu 85% dan terdapat 71 orang (86,6%) yang
mengalami derajat histopatologi buruk (Simamora, Rian P. A., 2018). Menurut
asumsi penulis kanker ovarium sangat berkembang cepat pada usia diatas 30
tahun karena merupakan masa premenopause yaitu dimana jumlah estrogen dan
progesteron yang dihasilkan oleh tubuh akan mengalami penurunan secara
bertahap, dan sel telur yang ada di dalam indung telur akan mengalami penurunan
dan memiliki peluang kecil untuk dibuahi lagi. Sehingga pada saat itulah beresiko
46
47
timbulnya folikel yang berisi cairan di ovarium yang lama kelamaan bisa
berkembang dari kista ovarium menjadi kanker ovarium.
Pasien datang menggunakan mobil pribadi diantar oleh suaminya pada
pukul 09.30 di Intalasi Gawat Darurat RSPAL DR. Ramelan Surabaya, pasien
masuk IGD dengan menggunakan bed, kondisi pasien saat datang pasien sesak
napas, lemas, akral hangat kering, pucat, penurunan kesadaran dan kaki bengkak.
Menurut Doubeni & Myers (2016) survey terhadap 1.709 wanita yang telah
didiagnosis kanker ovarium sebanyak 72% melaporkan mempunyai sakit
punggung, kelelahan, sakit perut/kembung selama tiga bulan atau lebih.
Sedangkan pada kanker stadium lanjut didapatkan gejala dari sel kanker yang
bermetastase seperti obstruksi usus, sesak napas, dan perut membuncit.
Manifestasi dari kanker ovarium dapat dirasa dan semakin memberat seiring
bertambahnya stadium kanker tersebut.
Hasil pemeriksaan di IGD keluhan utama pasien: sesak napas dan badan
lemas dirasakan sudah seminggu, disertai dengan kaki bengkak dirasa sudah 3
minggu yang lalu. Pasien mengatakan kesulitan dalam beraktivitas karena badan
terasa lemas dan sesak napas. Kanker ovarium pada stadium dini tidak
memberikan keluhan, sedangkan keluhan yang sering timbul pada kanker stadium
lanjut adalah mudah lelah, perut membuncit, sering kencing dan nafas pendek
sehingga pasien kanker ovarium akan mengalami penurunan aktifitas akibat
mudah lelah (Ari, Yanti & Sulistianingsih, 2016). Selain itu menurut
Prawirohardjo (2014) pada pasien dengan kanker ovarium pada stadium lanjut
sering ditemukan keluhan asites, perut membuncit, kembung dan mual, gangguan
nafsu makan, gangguan BAB dan BAK, serta sesak nafas. Hal ini sejalan dengan
48
kondisi yang ditemukan pada pasien bahwa Ny.P memilki gejala yang telah
disebutkan seperti sesak nafas, mudah lelah, adanya edema, dan terdapat asites.
Riwayat penyakit dahulu, suami pasien mengatakan jika pasien memiliki
riwayat penyakit kanker ovarium dan pernah menjalani operasi pada bulan maret
2020, serta telah menjalani kemoterapi sebanyak 6x yang terakhir pada bulan
September 2020. Pengobatan standar untuk kanker ovarium stadium lanjut adalah
operasi dan diikuti dengan kemoterapi. Pembedahan sendiri dilakukan untuk
menegakkan diagnosis secara akurat dan untuk mengangkat jaringan yang mati.
Penelitian yang dilakukan oleh (Hwang, Cho, & Yoo, 2016) mengatakan pasien
dengan kanker ovarium stadium lanjut umumnya menerima pengobatan selama
lebih dari 6 bulan setelah operasi dan 6-8 siklus kemoterapi. Prosedur
pembedahan dan kemoterapi pada pasien kanker memberikan efek yang dapat
mempengaruhi kesehatan fisik pasien. Hal ini sejalan dengan kondisi yang
ditemukan pada pasien bahwa pasien tersebut memiliki riwayat operasi dan
kemoterapi yang telah dilakukan.
Saat datang ke IGD di dapatkan data pengkajian dengan Airway, Breathing,
Circulation, Disability, dan pemeriksaan fisik ditemukan bahwa Airway jalan
nafas pasien paten, tidak ada suara snoring atau gargling, Breathing didapatkan
pergerakan dada simetris, irama pernapasan regular, suara nafas tambahan tidak
ada, terdapat pernapasan cuping hidung, pernapasan 29x/menit, pasien diberikan
terapi oksigen nasal 3 lpm SpO2 98%. Circulation didapatkan irama jantung
reguler, akral hangat, kering, dan pucat. Membrane mukosa normal, CRT <3detik,
turgor kulit baik, tekanan darah 134/90 mmHg, Nadi 107x/menit (regular),
terdapat edema pada tungkai kaki kiri dengan pitting edema derajat dua. Disability
49
di dapatkan kesadaran somnolen, GCS E: 3, V:5, M:6 pupil: isokor, ukuran
2mm/2mm reflek cahaya +/+, tidak ada fraktur, tidak ada paralisis. Pada
pengkajian breathing ditemukan bahwa pasien mengalami alkalosis respiratori,
hal ini didukung dengan hasil pemeriksaan analisa gas darah sebagai berikut pH :
7.47 (7.35 – 7.45), PCO2 : 34.2 mmHg (35 – 45 mmHg), pO2 : 155.3 mmHg (89
– 116 mmHg), HCO3 : 24.4 mmol/l (22-26 mmol/l) dimana dari hasil analisa gas
darah menunjukkan pasien mengalami alkalosis respiratori. Menurut (Raden dkk,
2019) salah satu komplikasi yang dapat terjadi pada pasien dengan kanker
ovarium yaitu efusi pleura, dimana efusi pleura merupakan penumpukkan cairan
diantara jaringan yang melapisi paru-paru dan dada. Cairan tersebut dapat
menumpuk disekitar paru-paru karena adanya peradangan yang disebabkan oleh
sel kanker, sehingga hal ini akan berpengaruh pada kinerja paru dan compliance
paru akan berkurang dan dapat mengalami hiperventilasi. Hal ini sejalan dengan
hasil temuan pada pasien yang mengalami alkalosisi respiratori, dimana penyebab
mendasar alkalosis respiratori adalah hiperventilasi yang disebabkan oleh
rendahnya masukan O2 ke alveolus yang menyebabkan terjadinya peningkatan
CO2 dalam alveolus yang disebut dengan hiperventilasi yang akan menyebabkan
terjadinya alkalosisi respiratori.
Pada pengkajian Circulation didapatkan irama jantung reguler, akral hangat,
kering, dan pucat. Membrane mukosa normal, CRT <3detik, turgor kulit baik,
tekanan darah 134/90 mmHg, Nadi 107x/menit (regular), terdapat edema pada
tungkai kaki kiri dengan pitting edema derajat dua dan hasil pemeriksaan laborat
Ny.P terjadi penurunan hemoglobin dengan 9,8 g/dL (12,1 – 15,1 g/dL). Pada
kanker ovarium sering terjadi penurunan hemoglobin atau anemia. Anemia terkait
50
kanker ini merupakan kondisi yang terjadi akibat perkembangan dari kanker itu
sendiri. keganasan sel kanker dapat mengakibatkan proses peningkatan fibrosis di
dalam sumsum tulang yang akan mengurangi volume rongga sumsum tulang,
proses ini akan menyebabkan gangguan pelepasan sel darah merah yang matang
dari sumsum tulang dimana sel darah merah matang mengandung banyak
hemoglobin yang berfungsi membawa oksigen dan diedarkan keseluruh tubuh
sehingga apabila hemoglobin dalam tubuh berkurang maka akan dapat mengalami
anemia (Maccio et al, 2015). Hal ini sesuai dengan kondisi pasien yang
mengalami kanker ovarium stadium lanjut dan pasien juga mengalami anemia
karena perkembangan sel kanker yang telah bermetastase pada sumsum tulang
yang dapat mengurangi produksi sel darah sehingga hemoglobin yang membawa
oksigen keseluruh tubuh berkurang.
Pada pengkajian Circulation juga didapatkan adanya asites dan edema pada
tungkai kaki kiri dengan pitting edema derajat dua dan hasil laboratorium Hb: 9,8
g/dL (12,1 – 15,1 g/dL), Hct : 30,4 % (37 – 54 %), Albumin : 2,99 mg/dl (3.40 –
4.80 mg/dl). Menurut Prawirohardjo (2014) manifestasi klinis dari kanker
ovarium stadium lanjut yaitu adanya asites, penyebaran ke omentum (lemak
perut), perut membuncit, kembung dan mual, gangguan nafsu makan, gangguan
BAB dan BAK, sesak nafas. Menurut (Oktarina, Rasyad, & Safyudin, 2015)
albumin merupakan suatu protein plasma yang berfungsi untuk membentuk
tekanan osmotic koloid di dalam plasma. Pada penderita kanker biasanya
mengalami kekurangan protein dan atau kerusakan hepar yang diakibatkan sel
kanker bermetastase sehingga merusak hampir semua protein plasma yang
diproduksi pada hepar. Penurunan tekanan osmotic menyebabkan kelebihan
51
cairan yang keluar sementara cairan yang direabsorpsi lebih sedikit daripada
normal. Hal tersebut dapat menyebabkan terjadinya edema pada penderita kanker
karena penurunan albumin. Selain itu hipoalbumin dapat menyebabkan asites
karena asites dapat terjadi karena obstruksi drainase limfatik terkait kanker,
peningkatan permeabilitas pembuluh darah, over-aktivasi sistem renin-
angiotensin-aldosteron, hasilan cairan neoplastik dan metalloproteinase yang
menurunkan matriks ekstraseluler (Rahmawati & Pakasi, 2016). Hal ini sesuai
dengan kondisi pasien yang ditemukan hipoalbumin, adanya edema pada tungkai
kaki kiri dengan pitting edema derajat dua, selain itu uga ditemukan pada hasil
pemeriksaan laboratorium ditemukan penurunan albumin.
4.2 Diagnosa Keperawatan
Diagnosa yang muncul pada tinjauan kasus diatas, yaitu:
1. Gangguan pertukara gas berhubungan dengan perubahan membran
alveolus kapiler.
Diperoleh data pada pemeriksaan fisik GCS E:3 V:5 M:6, tekanan darah
134/90 mmHg, Nadi 107x/menit (regular), pernapasan 29x/menit, SpO2 94 % tanpa
oksigen, suhu 36,9°C, Hasil analisa gas darah pH : 7.47 (7.35 – 7.45), PCO2 : 34.2
mmHg (35 – 45 mmHg), pO2 : 155.3 mmHg (89 – 116 mmHg), HCO3 : 24.4
mmol/l (22-26 mmol/l). Menurut SDKI, (2016) pada domain D.0003, menjelaskan
pada data objektif gangguan pertukaran gas tanda mayor minor yang terdapat pada
Ny. P yaitu hasil laborat pH arteri meningkat, Pco2 menurun, terdapat napas cuping
hidung, pola napas cepat dengan RR: 29x/menit. Masalah keperawatan yang ini
menjadi masalah prioritas pada asuhan keperawatan pasien dengan kanker ovarium
dikarenakan gangguan pertukaran
52
gas dapat menyebabkan suatu kondisi gagal napas dimana ketidakmampuan
tubuh dalam mempertahankan tekanan parsial normal O2 dan atau CO2 didalam
darah. Gagal nafas adalah suatu kegawatan yang disebabkan oleh gangguan
pertukaran oksigen dan karbondioksida, sehingga sistem pernafasan tidak
mampu memenuhi metabolisme tubuh. Selain itu gangguan pertukaran gas
menunjukkan penurunan kapasitas difusi, yang disebabkan oleh menurunnya
luas permukaan difusi, menebalkan membrane alveoli kapiler, dan dapat
menyebabkan pengangkutan O2 dari paru ke jaringan mejadi terganggu
(Mubarak et al, 2015).
Berdarakan asumsi penulis maka Ny.P memiiki masalah utama yaitu
gangguan pertukaran gas seperti data yang ditunjukkan bahwa pasien mengalami
alkalosis respiratori dari hasil analisa gas darah yang dilakukan, selain itu pada
pemeriksaan hemoglobin mengalami penurunan yang dapat menyebabkan
penurunan oksigen dalam darah terganggu, sehingga pertukaran oksigen dan
karbondioksida tidak seimbang yang mengakibatkan karbondioksida dalam
alveoli lebih banyak sehingga Ny.P mengalami alkalosis respiratori, jika masalah
ini tidak diselesaikan maka bisa menimbulkan kegawatan yaitu gagal napas.
2. Perfusi perifer tidak efektif berhubungan dengan penurunan konsentrasi
hemoglobin.
Diperoleh data pengkajian pasien mengatakan badan terasa lemas, tanda-
tanda vital pasien suhu: 36,9°C, nadi:107x/menit, CRT <3 detik, pemeriksaan
fisik ditemukan konungtiva anemis (+/+), warna kulit pucat, adanya edema pada
kaki kiri pasien, dan pada hasil laboratorium terdapat penurunan hemoglobin
dengan 9,8 g/dL (12,1 – 15,1 g/dL). Menurut SDKI, (2016) pada domain
53
D.0009, menjelaskan pada data objektif perfusi perifer tidak efektif tanda mayor
minor yang terdapat pada Ny. P yaitu warna kulit pucat, adanya edema, dan
kondisi klinis yang terkait yaitu anemia.
Perfusi perifer tidak efektif dapat disebabkan karena anemia yang
mengakibatkan penurunan sel darah merah, serta nilai hematokrit dan
hemoglobin, dimana salah satu fungsi Hb adalah membawa O2 ke suluruh tubuh
maka jika O2 yang diangkut menurun dapat mengakibatkan suplai O2 ke
jaringan berkurang, hal inilah yang mengakibatkan perfusi perfifer tidak efektif
(Harahap, 2018).
Berdasarkan analisa penulis penyebab perfusi perifer tidak efektif pada
kanker ovarium terjadi karena penurunan suplai O2 yang diangkut oleh Hb
menurun sehingga suplai O2 pada jaringan juga menurun dan terjadilah perfusi
perifer tidak efektif. Selain itu perfusi perifer tidak efektif pada Ny. P ditandai
dengan warna kulit pucat, konungtiva anemis, dimana hal tersebut menjadi
upaya tubuh dalam memberikan sinyal saat Hb dalam tubuh mengalami
penurunan. Selain itu salah satu akibat dari kanker ovarium yaitu mengakibatkan
supresi pada sumsum tulang belakang sehingga produksi sel darah merah
menurun yang dapat menyebabkan anemia yang dapat berdampak pada perfusi
perifer tidak efektif.
3. Hipervolemia berhubungan dengan gangguan mekanisme regulasi
Diperoleh data pasien didapatkan pasien mengeluh sesak napas, frekuensi
pernapasan: 29x/menit, nadi: 107x/menit. Pemeriksaan fisik didapatkan adanya
asites dan edema pada kaki kiri. Hasil laboratorium Hb: 9,8 g/dL (12,1 – 15,1
g/dL), Hct : 30,4 % (37 – 54 %), Albumin : 2,99 mg/dl (3.40 – 4.80 mg/dl).
54
Menurut SDKI, (2016) pada domain D.0022, menjelaskan pada data objektif
hipervolemia tanda mayor minor yaitu ada edema pada tungkai kaki kiri dengan
pitting edema derajat dua, kadar hemoglobin atau hematokrit menurun serta
kondisi klinis yang terkait yaitu hipoalbumin.
Menurut (Mubarak et al, 2015) hipoalbumin dapat mempengaruhi kejadian
asites dan edema karena salah satu fungsi albumin yaitu mempertahankan cairan
tetap berada di intravascular dan mempertahankan tekanan onkotik plasma,
apabila albumin mengalami penurunan maka keseimbangan tekanan onkotik
menurun yang mengakibatkan cairan pada intravascular meningkat atau dapat
berpindah dari intravascular ke ruang intertisial sehingga menyebabkan edema.
Hipervolemia didefinisikan peningkatan volume cairan intravascular, intertisial,
dan atau intraselular (SDKI, 2016).
Menurut analisa penulis hipervolemia terjadi karena penurunan albumin
yang mengakibatkan penurunan tekanan onkotik yang berfungsi untuk
mempertahankan cairan tetap pada pembuluh darah. Selain itu pada Ny.P juga
ditemukan asites, asites ini sendiri dapat juga diakibatkan oleh penurunan
albumin, selain itu asites juga merupakan tanda kanker ovarium stadium lanjut
yang sudah bermetastase pada rongga perut.
Diagnosa yang tidak muncul pada kasus Ny. P tetapi ada tinjauan pustaka
yaitu:
1. Pola Napas Tidak Efektif berhubungan dengan hambatan upaya napas
(SDKI, 2016) D.0005 hal. 26
2. Keletihan berhubungan dengan kondisi fisiologis (penyakit kronis, anemia)
(SDKI, 2016) D.0057 hal. 130
55
3. Nyeri Kronis berhubungan dengan penekanan saraf (SDKI, 2016) D.0078
hal.174
4. Defisit nutrisi berhubungan dengan peningkatan kebutuhan metabolisme
(SDKI, 2016) D.0019 hal.56
4.3 Intervensi Keperawatan
Pembuatan intervensi keperawatan menyesuaikan dengan diagnosa
keperawatan yang muncul. Setiap diagnosa yang muncul memilki tujuan dan
kriteria hasil yang diharapkan sebagai penilaian keberhasilan implementasi yang
telah diberikan.
1. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan membran
alveolus – kapiler (SDKI, 2016) D.0003
Tujuan: setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 2 – 4 jam diharapkan
pertukaran gas meningkat. Ditandai dengan kriteria hasil : dipsnea menurun,
PaCO2 membaik (35-45 mmHg), PO2 membaik (>80 mmHg), pH arteri
membaik (7.35-7.45), pola napas membaik 12-20 kali/menit, napas cuping
hidung menurun, warna kulit membaik, dan tingkat kesadaran meningkat (SLKI,
2018). Rencana tindakan keperawatan yang dilakukan adalah: 1) Monitor
frekuensi, irama, kedalaman, dan upaya napas, 2) Monitor pola napas (seperti:
bradipnea, takipnea, kussmaul), 3) Monitor saturasi oksigen, 4) Monitor nilai
Analisa Gas Darah, 5) Auskultasi bunyi napas, 6) Berikan oksigen dan monitor
kecepatan aliran oksigen, 7) Monitor efektifitas terapi oksigen, 8) Edukasi:
Jelaskan tujuan dan prosedur pemberian oksigen, 9) Kolaborasi penentuan dosis
oksigen (SIKI, 2018).
56
Intervensi yang dapat dilakukan pada masalah gangguan pertukaran gas
yaitu ketika pasien datang ke IGD diberikan penanganan pertama yang tepat
untuk meningkatkan status kesehatan dan mencegah teradinya komplikasi serius.
Observasi ketat untuk membantu mengontrol perkembangan terapi yang telah
dilakukan. Pemantauan tanda-tanda hipoksia yang memberat dalam membantu
mengatasi gangguan pertukaran gas dan mencegah teradinya komplikasi.
Pastikan jalan napas pasien paten sebelum memberikan terapi oksigen, serta
memberikan posisi yang nyaman.
Hal ini sejalan dengan penelitian (Winda Amiar, 2020) mengatakan
Penanganan penuruanan saturasi oksigen dan sesak napas dapat dilakukan
dengan pengaturan posisi, latihan pernafasan, dan pemberian oksigen nasal,
masker dan pemberian obat-obatan bronkodilator serta pursed Lips Breathing
yang merupakan salah satu teknik termudah dalam mengurangi sesak nafas
dengan cara membantu masuknya udara ke dalam paru dan mengurangi energi
yang dikeluarkan saat bernafas. Posisi semi fowler mengandalkan gaya gravitasi
untuk membantu melancarkan jalan nafas menuju ke paru sehingga oksigen
akan mudah masuk.
2. Perfusi perifer tidak efektif berhubungan dengan penurunan konsentrasi
hemoglobin (SDKI, 2016) D.0009
Tujuan: setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 2 – 4 jam diharapkan
perfusi perifer meningkat. Ditandai dengan kriteria hasil: denyut nadi perifer
meningkat (60 – 100 kali/menit) warna kulit pucat menurun, edema menurun
(SLKI, 2018). Rencana tindakan keperawatan yang dilakukan adalah: 1) periksa
sirkulasi perifer (seperti nadi perifer, edema, pengisian kapiler, warna), 2)
57
hindari pemasangan infuse atau pengambilan darah di area keterbatasan perfusi,
3) lakukan pencegahan infeksi, 4) lakukan hidrasi, 5) informasikan tanda dan
gejala darurat yang harus dilaporkan (seperti rasa sakit yang tidak hilang saat
istirahat, hilangnya rasa) (SIKI, 2018).
Intervensi keperawatan mandiri yang dapat dilakukan perawat adalah
memonitor suhu dan tanda vital lainnya yang menjadi tanda perburukan kondisi
pasien. Pemantauan tanda – tanda sirkulasi perifer dengan tepat dapat
mengurangi gangguan perfusi perifer ke jaringan karena jika O2 yang diangkut
menurun akan mengakibatkan penurunan O2 dalam jaringan yang dapat
berbahaya terutama pada sirkulasi paru dan jantung jika tidak ditangani dengan
tepat dalam jangka waktu yang lama.
Hal ini sejalan dengan penelitian Bulechek et al, (2016) mengatakan salah
satu intervensi yang dapat dilakukan dalam menangani perfusi perifer tidak
efektif yaitu dapat dilakukan dengan penilaian komprehensif terhadap sirkulasi
perifer seperti memeriksa denyut perifer, edema, pengisian kapiler, suhu, dan
warna, selain itu juga dapat dilakukan monitor kemerahan, nyeri atau
pembengkakan.
3. Hipervolemia berhubungan dengan ganggaun mekanisme regulasi (SDKI,
2016) D.0022
Tujuan: setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 2 – 4 jam diharapkan
keseimbangan cairan meningkat, ditandai dengan kriteria hasil: 1) kelembaban
membrane mukosa meningkat, 2) edema menurun, 3) Denyut nadi radial
membaik, 4) asites menurun (SLKI, 2018). Rencana tindakan keperawatan yang
dilakukan adalah: 1) monitor frekuensi dan kekuatan nadi, 2) monitor waktu
58
pengisian kapiler, 3) monitor kadar albumin, 4) identifikasi tanda-tanda
hipervolemia (seperti dispnea, edema perifer), 5) edukasi: jelaskan tujuan dan
prosedur pemantauan (SIKI, 2018).
Pemantauan hipervolemia dapat dilakukan dengan memonitor intake dan
output cairan, memonitor status hemodinamik seperti frekuensi jantung, serta
tekanan darah. Pemantauan tekanan darah menjadi salah satu indikator adanya
peningkatan volume cairan sehingga penting untuk dilakukan dalam intervensi
pada hipervolemia.
Hal ini sejalan dengan penelitian Fany Angraini (2016) mengatakan
Pemantauan tekanan darah menjadi salah satu intervensi utama dalam
penanganan klien dengan hipervolemia karena TD merupakan salah satu
indikator adanya peningkatan volume cairan intravaskuler sehingga intervensi
pemantauan TD sangat penting untuk memperkirakan kemungkinan terjadinya
overload pada pasien.
4.4 Implementasi Keperawatan
Pembuatan implementasi keperawatan menyesuaikan dengan intervensi
keperawatan yang telah direncanakan. Pelaksanaan implementasi keperawatan
dilaksanakan secara terkoordinasi, hal ini karena disesuaikan dengan keadaan
yang sebenarnya. Implementasi berdasarkan diagnosa keperawatan sebagai
berikut:
1. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan membrane
alveolus – kapiler
Data pengkajian breathing yang didapatkan dari diagnosis tersebut adalah
pasien mengeluh sesak napas, frekuensi napas RR:29x/menit, terdapat napas
59
cuping hidung, warna kulit pucat, hasil pemeriksaan analisa gas darah pH : 7.47
(7.35 – 7.45), PCO2 : 34.2 mmHg (35 – 45 mmHg), pO2 : 155.3 mmHg (89 –
116 mmHg), HCO3 : 24.4 mmol/l (22-26 mmol/l).
Berdasarkan target pelaksanaan maka penulis melakukan beberapa tindakan
keperawatan yaitu: Memonitor kesadaran dan vital sign pasien meliputi: tekanan
darah, frekuensi irama, upaya napas, dan kedalaman, pola napas, serta saturasi
oksigen (Hasil: GCS E:3 V:5 M:6, tekanan darah 133/90 mmHg, Nadi 107x/menit
(regular), pernapasan 29x/menit, SpO2 98% dengan oksigen nasal 3lpm, suhu
36,9⁰C), Melakukan pengambilan Analisa Gas Darah (Hasil: pH : 7.47 (7.35 –
7.45), PCO2 : 34.2 mmHg (35 – 45 mmHg), pO2 : 155.3 mmHg (89
– 116 mmHg), HCO3 : 24.4 mmol/l (22-26 mmol/l)), Memberikan oksigen dan
monitor kecepatan aliran oksigen dan efektifitas oksigen (pasien terpasang nasal
3 lpm dengan SpO2 : 98%), Menjelaskan tujuan dan prosedur pemberian
oksigen, dan Melakukan konsultasi dengan dokter hasil pemantauan.
Salah satu tindakan keperawatan pada masalah gangguan pertukaran gas
adalah pemberian oksigen. Pemberian oksigen adalah bagian integral dari
pengelolaan untuk pasien yang dirawat di rumah sakit, khususnya pasien yang
sedang mengalami gangguan pernapasan yaitu untuk mempertahankan
oksigenasi dalam tubuh. Pemberian oksigen dengan konsentrasi yang lebih
tinggi dari udara ruangan digunakan untuk mengatasi atau mencegah hipoksia
(Syandi, 2016). Selain itu terapi non farmakologis yang dapat dilakukan yaitu
menggunakan posisi semi fowler yaitu menggunakan gaya gravitasi untuk
membantu pengembangan paru dan mengurangi tekanan dari visceral abdomen
pada diafragma sehingga diafragma dapat terangkat dan paru akan berkembang
60
secara maksimal dan volume tidal paru akan terpenuhi. Dengan terpenuhinya
volume tidal paru maka sesak nafas dan penurunan saturasi oksigen pasien akan
berkurang dengan derajat kemiringan 30 – 45° (Wijayati, Ningrum, & Putrono,
2019).
Menurut asumsi penulis karena kebutuhan oksigen berperan dalam proses
metabolisme tubuh untuk mempertahankan kelangsungan hidup seluruh sel
tubuh secara normal, maka intervensi yang tepat dalam penanganan gangguan
pertukaran gas yaitu dengan pemberian oksigen serta memberikan posisi semi
fowler untuk membantu pengembangan paru.
2. Perfusi perifer tidak efektif berhubungan dengan penurunan konsentrasi
hemoglobin
Data pengakajian circulation didapatkan pasien mengatakan badan terasa
lemas, tanda-tanda vital pasien suhu: 36,9°C, nadi:107x/menit, CRT <3 detik,
pemeriksaan fisik ditemukan konungtiva anemis (+/+), warna kulit pucat,
adanya edema pada kaki kiri pasien, dan pada hasil laboratorium terdapat
penurunan hemoglobin dengan 9,8 g/dL (12,1 – 15,1 g/dL).
Berdasarkan target pelaksanaan maka penulis melakukan beberapa tindakan
keperawatan yaitu: Memeriksa sirkulasi perifer meliputi: nadi perifer, edema,
pengisian kapiler, warna (Hasil: Nadi 107x/menit, terdapat edema pada kaki kiri,
CRT <3detik, warna kulit pucat), Menghindari pemasangan infuse atau
pengambilan darah di area keterbatasan perfusi, Melakukan pencegahan infeksi
(melakukan cuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan pasien,
menggunakan handscoon saat tindakan invasif), Melakukan hidrasi (sesuai advis
dokter pasien diberikan infuse Nacl 0.9% 500ml).
61
Penanganan perfusi perifer tidak efektif sebagai akibat dari penurunan
konsentrasi Hemoglobin (Hb) dalam darah sebagai manifestasi dari anemia
adalah pemberian transfusi darah (Febry Aplorina, 2020). Upaya dalam
penanganan perfusi perifer tidak efektif dapat dilakukan dengan penilaian
komprehensif terhadap sirkulasi perifer seperti memeriksa denyut perifer,
edema, pengisian kapiler, suhu, dan warna, selain itu juga dapat dilakukan
monitor kemerahan, nyeri atau pembengkakan (Bulechek et al, 2016).
Menurut asumsi penulis hal yang paling tepat dalam penanganan dengan
masalah perfusi perifer tidak efektif adalah yaitu pertama memonitor sirkulasi
perifer, selanjutnya dapat memberikan terapi hidrasi pada pasien seperti
pemberian cairan, dan transfuse darah yang disesuaikan oleh kondisi fisik dan
penunjang hasil laboratorium karena pemberian transfusi darah adalah kunci
dalam penanganan perfusi perifer tidak efektif yang disebabkan oleh penurunan
hemoglobin, karena dengan penurunan hemoglobin dapat menganggu transport
O2 ke sulurh tubuh, sehingga mengakibatkan suplai O2 ke jaringan berkurang.
3. Hipervolemia berhubungan dengan gangguan mekanisme regulasi
Data pengkajian circulation yang didapatkan dari diagnosis tersebut adalah
pasien didapatkan pasien mengeluh sesak napas, frekuensi pernapasan:
29x/menit, nadi: 107x/menit. Pemeriksaan fisik didapatkan adanya asites dan
edema pada kaki kiri. Hasil laboratorium Hb: 9,8 g/dL (12,1 – 15,1 g/dL), Hct :
30,4 % (37 – 54 %), Albumin : 2,99 mg/dl (3.40 – 4.80 mg/dl).
Berdasarkan target pelaksanaan maka penulis melakukan beberapa tindakan
keperawatan yaitu: Memonitor frekuensi dan kekuatan nadi (Hasil: N:
107x/menit (regular)), Memonitor waktu pengisian kapiler (Hasil: CRT
62
<3detik), Memonitor kadar albumin (Hasil: 2,99 (3.40 – 4.80 mg/dl)),
Mengidentifikasi tanda-tanda hipervolemia meliputi dispnea, edema perifer
(Hasil: pasien mengalami sesak, RR: 29x/menit, terdapat edema pada kaki kiri,
dan terdapat asites), Menjelaskan tujuan dan prosedur pemantauan.
Penanganan untuk hipervolemia adalah pembatasan cairan untuk
mempertahankan kesimbangan cairan dan obat-obat golongan diuretic
(Kowalak, 2011). Menurut Ackley (2014) peran perawat dalam memberikan
asuhan keperawatan pada hipervolemia dalam bentuk tindakan keperawatan
antara lain mengidentifikasi penyebab hipervolemia, memonitor input dan
output cairan, menimbang berat badan setiap hari di waktu yang sama, dan
mengajari membatasi asupan cairan dan garam.
Menurut asumsi penulis pemberian diuretic yang telah dilakukan dapat
mengurangi kelebihan cairan yang ada pada tubuh, karena diuretic sendiri
berfungsi untuk mengurangi penumpukan cairan dalam tubuh melalui urin serta
melakukan monitor intake dan output cairan, memonitor tanda gejala
hipervolemia juga penting dalam penanganan hipervolemia.
4.5 Evaluasi Keperawatan
Evaluasi bertujuan untuk mencapai tujuan yang sudah disesuaikan dengan
kriteria hasil selama tahap perencanaan yang dapat dilihat melalui kemampuan
klien untuk mencapai tujuan tersebut (Setiadi, 2012). Tahap evaluasi merupakan
tahap dalam menilai asuhan keperawatan yang telah dilakukan. Evaluasi pada
Ny.P disesuaikan dengan kriteria hasil yang diharapkan baik secara objektif
maupun subjektif.
63
1. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan
membrane alveolus – kapiler.
Setelah dilakukan intervensi dan implementasi keperawatan pada pasien
Ny.P dengan diagnosa medis Kanker ovarium maka dilakukan evaluasi
keperawatan hari pertama sebelum pasien dipindahkan keruang perawatan pada
tanggal 21 April 2021 pukul 15.00 WIB, didapatkan masalah gangguan
pertukaran gas berhubungan perubahan membrane alveolus-kapiler ditandai
dengan pasien mengatakan masih terasa sesak. Pada pemeriksaan fisik didapatkan
akral teraba hangat, terdapat napas cuping hidung, warna kulit pucat menurun.
Pengkajian tanda-tanda vital didapatkan tekanan darah: 130/80 mmHg, nadi:
99x/menit (regular), pernapasan: 24 x/menit (terpasang nasal 3lpm), SpO2 : 98%
dengan nasal 3lpm, Suhu: 36,5 ⁰C (frontal), CRT <2 detik. Dari hasil pemeriksaan
BGA 21/04/2021 didapatkan pH : 7.47 (7.35 – 7.45), PCO2 : 34.2 mmHg (35 –
45 mmHg), pO2 : 155.3 mmHg (89 – 116 mmHg), HCO3 : 24.4 mmol/l (22-26
mmol/l). Dari data tersebut menunjukkan masalah belum teratasi oleh karena itu
perawat tetap mempertahankan tindakan keperawatan, observasi kebutuhan
oksigen, serta pantau hasil analisa gas darah pasien. Intervensi lanjutan dilakukan
di ruang perawatan.
2. Perfusi perifer tidak efektif berhubungan dengan penurunan
konsentrasi hemoglobin.
Setelah dilakukan intervensi dan implementasi keperawatan pada pasien
Ny.P dengan diagnosa medis Kanker ovarium maka dilakukan evaluasi
keperawatan hari pertama sebelum pasien dipindahkan keruang perawatan pada
tanggal 21 April 2021 pukul 15.00 WIB, didapatkan masalah perfusi perifer tidak
64
efektif ditandai dengan pasien mengatakan lemas berkurang. Pada pemeriksaan
fisik didapatkan akral teraba hangat, warna kulit pucat menurun. Pengkajian tanda
– tanda vital didapatkan Nadi: 99x/menit (regular), pernapasan: 24 x/menit
(terpasang nasal 3lpm), SpO2 : 98% dengan nasal 3lpm, Suhu: 36,5 ⁰C (frontal),
dan pada hasil laboratorium jumlah hemoglobin masih sama yaitu 9,8 g/dL (12,1
– 15,1 g/dL). Dari data tersebut membuktikan masalah teratasi sebagian oleh
karena itu perawat tetap mempertahankan tindakan keperawatan dan tetap
mengobservasi keadaan pasien. Intervensi lanjutan dilakukan di ruang perawatan.
3. Hipervolemia berhubungan dengan gangguan mekanisme regulasi
Setelah dilakukan intervensi dan implementasi keperawatan pada pasien
Ny.P dengan diagnosa medis Kanker ovarium maka dilakukan evaluasi
keperawatan hari pertama sebelum pasien dipindahkan keruang perawatan pada
tanggal 21 April 2021 pukul 15.00 WIB didapatkan masalah hipervolemia
berhubungan dengan mekanisme regulasi belum teratasi yang ditandai dengan
pasien mengatakan masih terasa sesak. Hasil pemeriksaan tanda – tanda vital
didapatkan 130/80 mmHg, nadi: 99x/menit (regular), pernapasan: 24x/menit
(terpasang nasal 3lpm), SpO2 : 98% dengan nasal 3lpm, Suhu: 36,5 ⁰C (frontal),
CRT <2 detik. Pemeriksaan fisik didapatkan edema pada kaki kiri dan terdapat
asites. Hasil pemeriksaan laborat pada tanggal 21/04/2021 didapatkan Hb: 9,8
g/dL (12,1 – 15,1 g/dL), Hct : 30,4 % (37 – 54 %), Albumin : 2,99 mg/dl (3.40 –
4.80 mg/dl). Dari data tersebut membuktikan masalah belum teratasi oleh karena
itu perawat tetap mempertahankan tindakan keperawatan. Monitoring balance
cairan dan observasi keadaan pasien. Intervensi lanjutan dilakukan di ruang
perawatan.
BAB 5
PENUTUP
Setelah penulis melakukan asuhan keperawatan pada pasien dengan
kanker ovarium di Ruang IGD RSPAL Dr. Ramelan Surabaya, maka penulis
menarik beberapa kesimpulan sekaligus saran yang dapat bermanfaat dalam
meningkatkan mutu asuhan keperawatan pada pasien dengan kanker ovarium.
5. 1 Simpulan
5.1.1 Pengkajian pada pasien dengan diagnosis medis kanker ovarium, ditemukan
adanya keluhan sesak napas, frekuensi pernapasan 29x/menit, akral hangat,
kering, pucat. Terdapat pernapasan cuping hidung, SpO2: 94% tanpa
oksigen, terdapat asites dan edema pada kaki kiri.
5.1.2 Perumusan diagnosa keperawatan pada pasien dengan diagnosa kanker
ovarium, didasarkan pada masalah yang ditemukan yaitu: gangguan
pertukaran gas berhubungan dengan perubahan membrane alveolus-kapiler,
perfusi perifer tidak efektif berhubungan dengan penurunan konsentrasi
hemoglobin, dan hipervolemia berhubungan dengan gangguan mekanisme
regulasi
5.1.3 Perencanaan keperawatan pada Ny.P disesuaikan dengan diagnosa
keperawatan dengan kriteria hasil untuk: gangguan pertukaran gas dengan
kriteria hasil pertukaran gas meningkat, perfusi perifer tidak efektif dengan
kriteria hasil perfusi perifer meningkat, dan hipervolemia dengan kriteria
hasil keseimbangan cairan meningkat.
5.1.4 Pelaksanaan tindakan keperawatan yang dilakukan pada Ny.P yaitu dengan
pemantauan respirasi, perawatan sirkulasi, dan pemantauan cairan.
65
66
5.1.5 Evaluasi keperawatan pada tanggal 21 April 2020 pukul 15.00, masalah
keperawatan pertukaran gas dan hipervolemia belum teratasi, sedangkan
masalah perfusi perifer teratasi sebagian sehingga intervensi dilanjutkan
diruang perawatan.
5.1.6 Pendokumentasian semua tindakan keperawatan pada Ny.P yang
direncanakan dan dibuat telah dimasukan pada implementasi keperawatan
yang dilakukan pada tanggal 21 April 2021.
5. 2 Saran
Guna mencapai keberhasilan dalam memberikan asuhan keperawatan pada
pasien dengan kanker ovarium, saran dari penulis:
5.2.1 Bagi Pasien dan Keluarga
Keluarga diharapkan memberikan semangat serta dukungan untuk
kesembuhan pasien, sehingga dapat membantu proses penyembuhan pasien.
5.2.2 Bagi Perawat
Perawat Instalasi Gawat Darurat hendaknya dalam memberikan asuhan
keperawatan kepada pasien dengan diagnosis Kanker Ovarium, melakukan
pengkajian diagnosis, perencanaan, pelaksanaan, dan melakukan evaluasi
keperawatan secara baik dan benar sesuai dengan standar asuhan keperawatan
yang berlaku dan melakukan dokumentasi secara optimal dan berkesinambungan.
5.2.3 Bagi Ruang Instalasi Gawat Darurat
Agar selalu meningkatkan pelayanan pada pasien sebagai salah satu bagian
dari paya peningkatan mutu pelayanan di Rumah Sakit.
67
DAFTAR PUSTAKA
Ackley, B. J. (2014). Nursing Diagnosis Handbook an Evidence Based Guide to
Planning Care, Edisi 10.
Aminullah, Y., -, W., & Susilaningsih, N. (2013). Pengaruh Kombinasi Vitamin C
Dan D Dosis Tinggi Terhadap System Hemopoetik Penderita Kanker Kepala
Leher Yang Mendapat Kemoterapi Cisplatin. Medica Hospitalia : Journal Of
Clinical Medicine.
Ari, D., Yanti, M., & Sulistianingsih, A. (2016). Faktor determinat terjadinya
kanker ovarium di Rumah Sakit Umum Daerah Abdoel Moelok Provinsi
Lampung 2015. Ejounal UMM Keperawatan, 7(2), 79–87.
Bulechek, G. M., Butcher, H. K., Dochterman, J. M., & Wagner, C. M. (2016).
Nursing Intervension Classification (NIC) (6th ed.). America.
Cancer, A. S. (2018). Ovarian Cancer Cause, Risk, and Prevention.
Dewi, R. . (2017). Asuhan Keperawatan Pada Kanker Ovarium. Karya Tulis
Ilmiah.
Digiulio, Mary, D. (2014). Keperawatan Medikal Bedah. Yogyakarta: Rapha
Publishing.
Doubeni, C. A., Doubeni, A. R. B., & Myers, A. E. (2016). Diagnosis and
management of ovarian cancer. American Family Physician.
Fachlevy AF, Abdullah Z, R. S. (2015). Faktor Risiko Kanker Ovarium di RSUP
Wahidin Sudirohusodo Makassar. Fakultas Kesehatan Masyarakat.
Universitas Hasanuddin., 1–14.
Fany Angraini, A. F. P. (2016). Pemantauan Intake Output Cairan Pada Pasien
Gagal Ginjal Kronik Dapat Mencegah Overload Cairan. Jurnal Keperawatan
Indonesia, 19 No, 3, hal 152-160.
Febry Aplorina. (2020). Efektifitas Pemberian Transfusi Darah Untuk
Meningkatkan Perfusi Jaringan Perifer Akibat Anemia Di Ruang Teratai
RSUD PROF DR W.Z Johannes Kupang.
Fuh KC, Java KK, Chan JK, Kapp DS, Monk BJ, Burger RA, et al. (2019).
Differences In Presentation and Survival of Asians Compared to Caucasians
with Ovarian Cancer: An NRG Oncology/GOG Ancillary Study of 7914
Patientes. Gynecol Oncol., 154(2), 420–425.
George, Garcia, and S. (2016). Ovarian Cancer: The Fallopian Tube as the Site of
Origin and Oppurtunities for Prevention. Department of Obsterics and
Gynecology, Miller School of Medicine, University of Miami, Miami, FL,
USA.
Gibbs RS, Karlan BY, Haney AF, N. I. (2013). Obstetrics and Gynecology.
Harahap, N. R. (2018). FAKTOR- FAKTOR YANG BERHUBUNGAN
68
DENGAN KEJADIAN ANEMIA PADA REMAJA PUTRI. Nursing Arts.
Hwang, K. H., Cho, O. H., & Yoo, Y. S. (2016). Symptom clusters of ovarian
cancer patients undergoing chemotherapy, and their emotional status and
quality of life. European Journal of Oncology Nursing.
Indonesia, R. I. M. P. M. K. R., & Darurat, N. 47 T. 2018 tentang P. I. G. (2018).
Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 47 Tahun 2018
tentang Pelayanan Instalasi Gawat Darurat.
Jevon, P., & E. B. (2013). Pemantauan Pasien Kritis (Edisi 2). Jakarta: Erlangga.
Jitowiyono, S. (2018). Asuhan Keperawatan pada Pasien Dengan Gangguan
Sistem Hematologi. Yogyakarta: Pustaka Baru Press.
Kementerian Kesehatan RI. (2019). Info Datin Beban Kanker di Indonesia. Pusat
Data Dan Informasi Kemeterian Kesehatan RI.
Kowalak. (2011). Buku Ajar Patofisiologi. Jakarta: EGC.
Maccio A, Madedda C, Gramignano G, Mulas C, Tanca L, Cherchi MC, E., & Al.
(2015). The role of inflammation, iron, and nutritional status in cancer-
related anemia: Results of a large, prospective, observational study.
Haematologica, 100(1):124.
Manuaba, IBG, D. (2013). Ilmu Kebidanan Penyakit Kandungan dan KB. Jakarta:
EGC.
Manuaba. (2010). Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan dan KB untuk
Pendidikan Bidan. (Edisi 2). Jakarta: EGC.
McGuire, S. (2016). World Cancer Report 2014. Geneva, Switzerland: World
Health Organization, International Agency for Research on Cancer, WHO
Press, 2015. Advances in Nutrition.
Medicine, A. C. F. E. (2014). Emergency Department design guidlines.
Mubarak, W. I., Indrawati, L., & Susanto, J. (2015). Buku Ajar Ilmu Keperawatan
Dasar. Jakarta: Salemba Medika.
Nagle C, Dixon S, Jensen A, Kjaer SK, Modugno F, deFazio A, et al. (2015).
Obesity and Survival Among Women with Ovarian Cancer: Results from the
Ovarian Cancer Association Consortium, 113(5):817.
Nurarif .A. H. Dan Kusuma. H. (2015). APLIKASI Asuhan Keperawatan
Berdasarkan Diagnosa Medis & NANDA NIC NOC. Jogjakarta:
MediAction.
Oktarina, A. B., Rasyad, S. B., & Safyudin, S. (2015). Karakteristik Penderita
Kanker Pankreas di Instalasi Rawat Inap RSUP Dr. Mohammad Hoesin
Palembang Tahun 2009 - 2013. Majalah Kedokteran Sriwijaya, 47(1), 22–
30.
PPNI, T. P. D. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia. Dewan
Pengurus Pusat PPNI.
69
Prawirohardjo. (2010). Onkologi Ginekologi (Edisi Pert). Jakarta: [Link]
Pustaka.
Prawirohardjo, S. (2014). Ilmu Kebidanan. Jakarta: PT. Bina Pustaka Sarwono.
Purwoko, M. (2018). Hubungan Tingkat Pendidikan dan Pekerjaan dengan
Tingkat Pengetahuan Mengenai Kanker Ovarium pada Wanita. Mutiara
Medika: Jurnal Kedokteran Dan Kesehatan, 18(2), 45–48.
[Link]
Raden Ajeng Wahyu Ayuadiningsih,Siti Annisa Devi Trusda, M. R. (2019).
Karateristik Pasien Karsinoma Ovarium Berdasarkan Gejala Klinis, Penyakit
Penyerta, Komplikasi, dan Usia di Ruang Rawat Inap RSUD Al-Ihsan
Bandung. Journal Riset Kedokteran.
Rahmawati, H., ER, D., & Pakasi, R. D. (2016). Kanker Ovarium Disgerminoma.
Indonesian Journal of Clinical Pathology and Medical Laboratory, 19(1),
51. [Link]
Reeder, dkk. (2013). Keperawatan Maternitas (18th ed.). Jakarta: EGC.
Reis LAG, Eisner MP, Kosary CL, et al. (n.d.). Cancer Statistics Review.
Salani, Ritu, D. (2011). Panduan untuk Penderita Kanker Ovarium. Jakarta:
Indeks Permata Puri Media.
Setiadi. (2012). Konsep dan Penulisan Dokumentasi Asuhan Keperawatan Teori
dan Praktik. Yogyakarta : Graha Ilmu.
Setiadi. (2016). Dasar-dasar Anatomi dan Fisiologi Manusia. Yogyakarta:
Indomedia Pustaka.
Sheet., I. (International A. for R. on C. (2012). Globocan : Estimated Cancer
Incidence. Mortality and Prevalence Worldwide in 2012.
Simamora, Rian P. A., dkk. (2018). Hubungan Usia, Jumlah Paritas, dan Usia
Menarche Terhadap Derajat Histopatologi Kanker Ovarium di RSUD Dr. H.
Abdul Moeloek Bandar Lampung Tahun 2015-2016. Majority, Vol. 7, No. 2.
Suddart, B. &. (2015). Keperawatan Medikal Bedah (12th ed.). Jakarta: EGC.
Suh DH, Chang S, Song T, Lee S, Kang WD, Lee SJ, et al. (2018). Practice
Guidelines for Management of Ovarian Cancer in Korea. Korea Society of
Gynecologic Oncology Consensus Statement. Journal of Gynecologic
Oncology, 24(4), 56.
Sung HK, Ma SH, Choi JY, Hwang Y, A., & C, Kim BG, D. (2016). The effect of
breastfeeding duration and parity on the risk of epithelial ovarian cancer: a
systematic review and meta-analysis. Journal of Preventive Medicine and
Public Health, (49(6):349-66).
Syandi, J. P. (2016). Asuhan Keperawatan Pemenuhan Kebutuhan Oksigenasi
pada Tn. S Di Ruang Inayah Pku Muhammadiyah Gombong. Jurnal Stikes
Muhammadiyah Gombong.
70
Tarwoto & Wartonah. (2011). Kebutuhan Dasar Manusia dan Proses
Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika.
Tim Pokja SDKI DPP PPNI. (2016). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia.
Tim Pokja SLKI DPP PPNI. (2018). Standar Luaran Keperawatan Indonesia.
DPP PPNI.
Tsilidis KK, Allen NE, Key TJ, D. L., & Lukanova, Bakken K, D. (2011). Oral
contraceptive use and reproductive factors and risk of ovarian cancer in the
European prospective investigation into cancer and nutrition. British Journal
of Cancer, 105(9):143.
Undang Undang RI No.38 Tahun 2014. (2014). Undang-Undang Republik
Indonesia Nomor 38 Tahun 2014 Tentang Keperawatan. (Sekretariat Negara,
Ed.). Jakarta.
Wijayati, S., Ningrum, D. H., & Putrono, P. (2019). Pengaruh Posisi Tidur Semi
Fowler 45 ° terhadap Kenaikan Nilai Saturasi Oksigen pada Pasien Gagal
Jantung Kongestif di RSUD Loekmono Hadi Kudus. Medica Hospitalia;
Journal of Clinical Medicine, 6(1), 13–19.
Winda Amiar, E. . (2020). Indonesian Journal of Nursing Science and Practice.
Indonesian Journal of Nursing Science and Practice, 3 no.1(1),.
71
LAMPIRAN
Lampiran 1
CURRICULUM VITAE
Nama : Puput Kurniawati, [Link]
NIM : 2030087
Program Studi : Profesi Ners
Tempat, Tanggal Lahir : Surabaya, 8 Juli 1998
Alamat : Wedoro Candi No.66 RT.01 RW.04
Email : puputkurniawati8@[Link]
Riwayat Pendidikan :
1. TK Dharma Wanita Wedoro Lulus tahun 2004
2. SDN Wedoro 2 Waru Lulus tahun 2010
3. SMPN 4 Waru Sidoarjo Lulus tahun 2013
4. SMAN 1 Waru Sidoarjo Lulus tahun 2016
5. STIKES Hang Tuah Surabaya Lulus tahun 2020
72
Lampiran 2
MOTTO DAN PERSEMBAHAN
MOTTO
“Barang siapa bersungguh-sungguh, sesungguhnya kesungguhannya itu adalah
untuk dirinya sendiri.” (Q.S. Al-Ankabut: 6)
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, sebelum kaum
itu sendiri mengubah apa yang ada pada diri mereka” (Q.S. Ar-Ra’d: 11)
PERSEMBAHAN
Alhamdulillah, atas rahmat dan hidayah-Nya, saya dapat menyelesaikan karya
ilmiah akhir ini dengan baik. Karya sederhana ini ku persembahkan untuk:
1. Terimakasih kepada ALLAH SWT yang telah memberikan nikmat dan
kesehatan sampai detik ini sehingga saya dapat menyelesaikan karya ilmiah
akhir ini.
2. Terimakasih kepada kedua orang tua dan keluarga saya, Bapak Jarwono, Ibu
Didik Astutik, Mas Agung, Mbak Pipit yang telah memberikan semangat
sehingga saya bisa menyelesaikan karya ilmiah akhir ini.
3. Terimakasih kepada Sahabat saya Ifvadatul DeviAny, Kahita Sri Ariani, Mei
Ayu Sari, dan Nishrina Widya S, yang selalu menghibur dan menemani saya
4. Teman – teman Profesi Ners Angkatan 11 STIKES Hang Tuah Surabaya
5. Semua pihak yang telah membantu tetapi tidak dapat saya sebutkan satu per
satu. Semoga Allah SWT membalas budi baik semua pihak yang telah
memberi kesempatan, dukungan, ilmu, dan juga bantuan yang lain dalam
menyelesaikan karya ilmiah akhir ini.
73
Lampiran 3
STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL (SPO)
No SPO:
STANDAR PROSEDUR
OPERASIONAL SPO – 01
Tanggal Dibuat Tanggal Berlaku Nama Departemen
19 Juli 2021 19 Juli 2021 INSTALASI GAWAT DARURAT
Judul No Revisi
Hal. 1-3
Pemberian Oksigen Nasal 00
Dibuat oleh Disetujui oleh
Ners A11 Ka Prodi Pendidikan Profesi Ners
STIKES Hang Tuah Surabaya
A. Definisi
Tindakan yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan oksigen melalui nasal
kanul
B. Tujuan
1. Memberikan oksigen konsentrasi rendah ketika pasien membutuhkan
bantuan oksigen minimal
2. Mencegah atau mengatasi hipoksia
C. Indikasi
1. Nasal kanul diberikan pada pasien sesak napas
2. Pasien dengan kadar SpO2 90-95% dengan masalah gangguan pernapasan
D. Persiapan Alat
1. Sumber oksigen (sentral/ tabung)
2. Flowmeter oksigen
3. Selang hidung oksigen/ nasal kanul
4. Pulse oxymeter/ SpO2 monitor (bila perlu)
5. Plester (bila perlu)
6. Gunting
74
E. Prosedur Tahap
Pra Interaksi
1. Mencuci tangan
2. Mempersiapkan alat.
3. Membaca status pasien untuk memastikan instruksi
Tahap Orientasi
1. Memberikan salam dan menyapa pasien
2. Menjelaskan tujuan dan prosedur tindakan
Tahap Kerja
1. Menjelaskan kepada pasien tentang tujuan pemberian oksigen
2. Menjaga privasi pasien, jika memungkinkan dengan menutup tirai
3. Memposisikan kepala pasien lebih tinggi atau setengah duduk
4. Memasang flow meter ke sumber oksigen, pastikan alat benar – benar
telah menancap dengan baik, sehingga tidak terjadi kebocoran. Bila
menggunakan tabung oksigen pastikan isinya masih mencukupi dengan
melihat anak panah yang tertera pada meteran yang terdapat di tabung
oksigen tersebut, daerah warna hijau menunjukkan bahwa isi tabung
oksigen masih cukup
5. Menghubungkan ujung nasal canul oksigen dengan flow meter
6. Putar flow meter, atur aliran sesuai dengan instruksi dokter dan pastikan
ada udara yang keluar dari nasal kanul
7. Memasang nasal kanul ke pasien dengan memasukkan prong pada kanula
ke lubang hidung pasien
8. Kaitkan selang kedua telinga dan kebawah dagu pasien kemudian eratkan
dengan menarik simpul pengaman yang ada pada selang, jika perlu beri
plester untuk melekatkan selang oksigen di pipi pasien agar tidak lepas
9. Pastikan pasien merasa nyaman dengan posisi ataupun kaitan dari selang
75
Tahap Terminasi
1. Melakukan evaluasi tindakan
2. Berpamitan dengan pasien
3. Membereskan alat – alat
4. Mencuci tangan
5. Mencatat tindakan yang dilakukan dalam lembar catatan perawatan
Evaluasi
1. Kaji ulang pernapasan pasien, observasi saturasi oksigen
2. Monitoring daerah telinga dan hidung terhadap tanda – tanda iritasi
pemakaian selang oksigen, jika perlu beri kasa
3. Keluhan pasien setelah dilakukan tindakan pemasangan oksigen kanul
Dokumentasi
Catat jam, hari, tanggal, serta respon pasien setelah dilakukan tindakan
pemasangan.
DaftarPustaka
KEMENKES RI. (2016). Modul Bahan Ajar Keperawaran: Praktik Kebutuhan
Dasar Manusia 2. Ed.1. Jakarta: Pusdik SDM Kesehatan.
76
Lampiran 4
STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL (SPO)
No SPO:
STANDAR PROSEDUR
OPERASIONAL SPO – 01
Tanggal Dibuat Tanggal Berlaku Nama Departemen
19 Juli 2021 19 Juli 2021 INSTALASI GAWAT DARURAT
Judul No Revisi
Hal. 1-4
Pengambilan Darah Vena 00
Dibuat oleh Disetujui oleh
Ners A11 Ka Prodi Pendidikan Profesi Ners
STIKES Hang Tuah Surabaya
A. Definisi
Suatu prosedur keperawatan untuk mengambil darah dalam pembuluh darah
vena dengan menggunakan jarum dan spuit untuk pemeriksaan laboratorium
tertentu
B. Tujuan
1. Mengambil sampel darah
2. Pemeriksaan laboratorium (darah lengkap, kimia darah, serum elektrolit)
C. Lokasi
1. Vena mediana cubiti
2. Vena basilica/cephalica
3. Vena pergelangan kaki
4. Vena jugularis externa indikasi pengambilan darah vena: dilakukan jika
vena vena di atas kolap. Jika kebutuhan darah lebih dari 0,5 ml.
D. Hal yang perlu diperhatikan
1. Tidak terdapat infeksi (dermatitis, piodermi, selulitis) di sekitar daerah
yang dipilih
2. Tidak terdapat hematoma, udema maupun jaringan parut pada lokasi yang
dipilih
3. Jika penderita sedang mendapat infus atau pasca mastektomi, pilih vena
77
kontralateral dari oprasi infuse atau operasi
4. Tindakan pengambilan darah harus dilaksanakan dengan hati-hati dan
seaseptis mungkin untuk menghindari resiko terjadinya penyulit seperti
berikut ini:
a. Hematoma
b. Phlebitis
c. Trombosis
5. Tusukan dilakukan pada dinding pertengahan atas vena
6. Sebelum menarik jarum tourniquet harus sudah dilepas, demikian juga
halnya jika penderita mengepal tangan. Begitu terlihat darah memasuk
pangkal jarum, kepalan tangan harus segera dibuka.
7. Pilihlah vena yang besar dan prominen
8. Pastikan lubang jarum benar-benar seluruhnya masuk vena
9. Setelah jarum dicabut dari vena, berikan tekanan di atasnya memakai
kasa/kapas alkohol.
10. Dalam waktu kurang dari 2 jam sampel darah harus sudah sampai di
laboratorium
E. Persiapan Alat
1. Spuit (ukuran sesuai kebutuhan)
2. Jarum (ukuran 23 G)
3. Kapas alcohol
4. Tabung darah (vacum tube) atau tabung biasa (blood container)
- Tabung tutup merah. Tabung ini tanpa penambahan zat additive,
darah akan menjadi beku dan serum dipisahkan dengan
centrifuge. Umumnya digunakan untuk pemeriksaan kimia darah,
imunologi, serologi dan bank darah (crossmatching test)
- Tabung tutup ungu atau lavender. Tabung ini berisi EDTA.
Umumnya digunakan untuk pemeriksaan darah lengkap dan bank darah
(crossmatch).
- Tabung tutup biru. Tabung ini berisi natrium sitrat. Umumnya
digunakan untuk pemeriksaan koagulasi (mis. PPT, APTT).
- Tabung tutup pink ; berisi potassium EDTA, digunakan untuk
pemeriksaan imunohematologi.
- Tabung tutup putih ; potassium EDTA, digunakan untuk pemeriksaan
molekuler/PCR dan bDNA.
- Tabung tutup hijau terang. Tabung ini berisi gel separator (plasma
78
separator tube/PST) dengan antikoagulan lithium heparin. Setelah
pemusingan, plasma akan berada di bagian atas gel dan sel darah berada
di bawah gel. Umumnya digunakan untuk pemeriksaan kimia darah.
- Tabung tutup kuning dengan warna hitam di bagian atas ; berisi
media biakan, digunakan untuk pemeriksaan mikrobiologi – aerob,
anaerob dan jamur
5. EDTA (khusus pemeriksaan DL) di dalam tabung darah
6. Perlak kecil
7. Tourniquet
8. Bengkok
9. Plester/hipafix dan gunting
10. Bolpoint/spidol
11. Kertas label yang sudah diisi dan ditempelkan pada tabung darah
(meliputi nama Px, no RM, ruang)
12. Sarung tangan bersih
F. Prosedur
Tahap Pra Interaksi
1. Mencuci tangan
2. Mempersiapkan alat.
3. Membaca status pasien untuk memastikan instruksi
Tahap Orientasi
1. Memberikan salam dan menyapa pasien
2. Menjelaskan tujuan dan prosedur tindakan
Tahap Kerja
1. Mencuci tangan (6 langkah)
2. Menentukan lokasi penusukan
3. Meletakkan perlak kecil di bawah lokasi yang akan dilakukan penusukan
4. Melakukan pembendungan dengan tourniquet
5. Memakai sarung tangan bersih
6. Melakukan desinfeksi lokasi penusukan dengan kapas alcohol dengan arah
sirkuler dari dalam ke luar (tunggu sampai kering)
79
7. Menusukkan jarum dengan sudut kemiringan 5-30⁰ (lubang jarum
menghadap ke atas)
8. Darah diaspirasi pelan-pelan jangan menimbulkan buih sampai batas yang
dibutuhkan
9. Lepas tourniquet
10. Cabut jarum
11. Menekan lokasi bekas penusukan dengan kapas/kassa alkohol beberapa
detik
12. Memasukkan darah ke dalam tabung darah dengan cara:
a. Melepas jarum lalu mengalirkan darah perlahan-lahan melalui dinding
tabung. Memasukkan darah dengan cara disemprotkan, apalagi tanpa
melepas jarum, berpotensi menyebabkan hemolisis.
b. Memasukkan darah ke dalam tabung vakum dengan cara menusukkan
jarum pada tutup tabung, biarkan darah mengalir sampai berhenti
sendiri ketika volume telah terpenuhi.
13. Homogenisasi sampel jika menggunakan antikoagulan dengan cara
memutar-mutar tabung 4-5 kali atau membolak-balikkan tabung 5-10 kali
dengan lembut. Mengocok sampel berpotensi menyebabkan hemolisis.
14. Merapikan pasien
15. Merapikan alat
16. Melepas sarung tangan
17. Mencuci tangan (6 langkah)
18. Mendokumentasikan tindakan yang telah dilakukan (tanggal dan jam
pengambilan darah, masalah yang ditemukan, paraf dan nama perawat).
DaftarPustaka
KEMENKES RI. (2016). Modul Bahan Ajar Keperawaran: Praktik Kebutuhan
Dasar Manusia 2. Ed.1. Jakarta: Pusdik SDM Kesehatan.
80
Lampiran 5
STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL (SPO)
No SPO:
STANDAR PROSEDUR
OPERASIONAL SPO – 01
Tanggal Dibuat Tanggal Berlaku Nama Departemen
19 Juli 2021 19 Juli 2021 INSTALASI GAWAT DARURAT
Judul No Revisi
Hal. 1-4
Pemasangan Infus 00
Dibuat oleh Disetujui oleh
Ners A11 Ka Prodi Pendidikan Profesi Ners
STIKES Hang Tuah Surabaya
A. Definisi
Pemasangan infuse adalah terapi intravena yang memasukkan jarum atau
kanula ke dalam vena (pembuluh balik) untuk dilewati cairan infus /
pengobatan, dengan tujuan agar sejumlah cairan atau obat dapat masuk ke
dalam tubuh melalui vena dalam jangka waktu tertentu.
B. Tujuan
1. Mempertahankan atau mengganti cairan tubuh cairan elektrolit, vitamin,
protein, kalori dan nitrogen. Pada klien yang tidak mampu mempertahankan
masukan yang adekuat melalui mulut.
2. Memulihkan keseimbangan asam-basa
3. Memulihkan volume darah dan,
4. Menyediakan saluran terbuka untuk pemberian obat-obatan.
C. Persiapan Alat
1. Perlak
2. Tourniquet
3. Kapas alcohol/alcohol swab
4. Plester
5. Gunting
6. Kain kasa steril
7. Set infuse
81
8. Jarum infuse (abbocath, wing needle/butterfly)
9. Cairan infus
10. Bengkok
11. Bak instrument steril
12. Sarung tangan bersih
13. Standar infus
D. Prosedur
Tahap Pra Interaksi
1. Mencuci tangan
2. Mempersiapkan alat.
3. Membaca status pasien untuk memastikan instruksi
Tahap Orientasi
1. Memberikan salam dan menyapa pasien
2. Menjelaskan tujuan dan prosedur tindakan
Tahap Kerja
1. Cuci tangan.
2. Memakai sarung tangan
3. Membuka daerah yang akan dipasang infus
4. Memasang alas dibawah anggota badan yang akan dipasang infus
5. Membuka set infus dan meletakkannya pada bak instrumen steril
6. Menusukkan jarum set infus ke dalam botol infus kemudian mengalirkan
cairan ke selang infus berakhir di bengkok untuk mengeluarkan udara dan
mengisi selang infus
7. Isi tempat tetesan infus kurang lebih separuhnya
8. Pastikan roller selang infus dalam keadaan menutup (ke arah bawah)
9. Menggantungkan selang infus pada standar infus
10. Buka abocath dari bungkusnya
11. Potong 3 lembar plester
12. Pilih pembuluh darah yang akan dipasang infus, dengan syarat : pembuluh
darah berukuran besar, pembuluh darah tidak bercabang, pembuluh darah
tidak di area persendian
13. Bendung bagian proksimal/atas dari pembuluh darah yang akan dipasang
infus dengan torniquet
82
14. Minta pasien menggenggamkan tangan, dengn ibu jari pasien di dalam
genggaman
15. Mendesinfeksi daerah yang akan dipasang infus
16. Menusukkan jarum infus ke vena dengan lubang jarum menghadap keatas.
Pastikan darah mengaliri jarum dan abocath. Jika belum teraliri oleh darah,
temukan pembuluh darah sampai darah mengaliri jarum dan abocath
17. Tourniket dilepas bila darah sudah masuk
18. Lepas jarum sambil meninggalkan abocath di dalam pembuluh darah
19. Tekan pangkal abocath untuk mencegah darah keluar dan masukkan ujung
sela infus set ke abocath
20. Fixasi secara menyilang menggunakan plester abocath yang sudah
terpasang
21. Alirkan cairan dari botol ke pembuluh darah dengan membuka roller. Bila
tetesan lancar, jarum masuk di pembuluh darah yang benar
22. Fixasi dengan cara kupu-kupu. Meletakkan plester dengan cara terbalik di
bawah selang infus, kemudian disilangkan
23. Menutup jarum dan tempat tusukan dengan kassa steril dan diplester
24. Mengatur/menghitung jumlah tetesan, Menuliskan tanggal pemasangan
infus pada plester terakhir
25. Merapikan alat dan pasien
26. Melepas sarung tangan dan mencuci tangan
Tahap Terminasi
1. Melakukan evaluasi dari hasil tindakan yang telah dilakukan (aliran
dan tetesan infuse lancar)
2. Melakukan kontrak untuk kegiatan/tindakan yang akan datang
3. Berpamitan dengan klien
4. Mencuci tangan
5. Mencatat/mendokumentasikan kegiatan dalam lembar catatan
DaftarPustaka
Kusnanto, Suarilah, I., A., C. P., & W, A. S. (2016) Standart Prosedur Operasional
Keperawatan Dasar. Journal Of Chemical Information And Modeling (Vol.53)