METODE GRAFIK
Fungsi Tujuan
Z = 40X1 + 25X2
Fungsi Kendala (Sumber Daya)
4X1 + 3X2 ≤ 120 . . . (1)
10X1 ≤ 150 . . . (2)
+ 7X2 ≤ 210 . . . (3)
5X1 + 2X2 ≤ 110 . . . (4)
LANGKAH 1 : Menentukan titik potong dari fungsi yang ada
Fungsi Titik
4X1 + 3X2 ≤120
MAKA:
4X1 + 3X2 = 120
Jika X1 = 0, Maka X2 = 40 (0,40)
Jika X2 = 0, Maka X1 = 30 (30,0)
10X1 ≤ 150
MAKA:
10X1 = 150
Jadi : X2 = 0 dan X1 = 15 (15,0)
7X2 ≤ 210
MAKA:
7X2 = 210
Jadi: X1 = 0 dan X2 = 30 (0,30)
5X1 + 2X2 ≤110
MAKA:
5X1 + 2X2 = 110
Jika X1 = 0, Maka X2 = 55 (0,55)
Jika X2 = 0, Maka X1 = 22 (22,0)
note : kenapa tanda “≤ " menjadi “=”, untuk mempermudah mencari titk potong jadi harus ditukar dulu
LANGKAH 2 : Membuat Gambar grafik dari titik yang sudah didapatkan, menentukan titik yang
berada di daerah arsiran, dan menentukan nilai Z
note: untuk menentukan daerah arsiran, setiap garis diarsir kearah titik (0,0)
Dari Grafik diketahui bahwa ada 6 titik yang merupakan daerah layak atau daerah arsir
Titik di daerah Cara menentukan titik Nilai Z
arsiran
Titik A : (0,30) Sudah didapatkan dari Langkah 1 Z = 40X1 + 25X2
MAKA:
Z = 40(0) + 25(30)
Z = 750
Titik B : merupakan titik potong dari persamaan (1) Z = 40X1 + 25X2
(7.5,30) dan persamaan (3) MAKA:
Maka : Z = 40(7,5) + 25(30)
7X2 = 210 Z = 1050
X2 = 30
Substitusikan ke dalam persamaan (1)
Maka :
4X1 + 3X2 = 120
4X1 + = 120
3(30)
4X1 + 90 = 120
4X1 = 120 - 90
4X1 = 30
X1 = 30/4
X1 7.5
Jadi titik B adalah (7.5,30)
Titik C : Merupakan perpotongan persamaan (1) dan Z = 40X1 + 25X2
(12.85,22,86) persamaan (4) MAKA:
Z = 40(12,85) + 25(22,86)
Eliminasi persamaan (1) dan (4) Z = 1085,71
4X1 + 3X2 = 120 |× 2 . . . (1)
5X1 + 2X2 = 110 |× 3 . .. (4)
8X1 + 6X2 = 240
15X1 + 6X2 = 330
−7X1 = −90
90
X1 = − −7
X1 = 12,85
Substitusi (X1=12,85) ke salah satu
persamaan
4X1 + 3X2 = 120
4(12,85) + 3X2 = 120
51,4 + 3X2 = 120
3X2 = 120 – 51,4
3X2 = 68,6
X2 = 22,86
Titik D : merupakan titik potong dari persamaan (2) Z = 40X1 + 25X2
(15,17.5) dan persamaan (4) MAKA:
Maka : Z = 40(15) + 25(17,5)
10X1 = 150 Z = 1037,5
X1 = 15
Substitusikan ke dalam persamaan (4)
Maka :
5X1 + 2X2 = 110
5(15) + 2X2 = 110
75 + 2X2 = 110
2X2 = 110 - 75
2X2 = 35
X2 = 35/2
X2 = 17.5
Jadi titik B adalah (15,17,5)
Titik E : (15,0) Sudah didapatkan dari Langkah 1 Z = 40X1 + 25X2
MAKA:
Z = 40(15) + 25(0)
Z = 600
LANGKAH 3 : menentukan titik Z dan kesimpulan
JADI :
Titik di daerah arsiran Nilai Z (dalam ribu)
Titik A : (0,30) Z = 750
Titik B : (7.5,30) Z = 1050
Titik C : (12.85,22,86) Z = 1085,71
Titik D : (15,17.5) Z = 1037,5
Titik E : (15,0) Z = 600
KESIMPULAN:
Nilai optimal dari fungsi yang ada di titik C (12.85,22,86) dengan nilai Z tertitinggi yaitu, 1085,71.
Artinya pada titik ini perusahaan akan mencapai keuntungan maksimal dengan memproduksi
keripik kentang sebanyak 12,85 buah dan keripik singkong 22,86 buah dengan profit sebesar Rp.
1.085.710
METODE SIMPLEK
Fungsi Tujuan
Z = 40X1 + 25X2
Fungsi Kendala (Sumber Daya)
4X1 + 3X2 ≤ 120 . . . (1)
10X1 ≤ 150 . . . (2)
+ 7X2 ≤ 210 . . . (3)
5X1 + 2X2 ≤ 110 . . . (4)
LANGKAH 1 : Menambahkan variable Slack ke dalam persamaan
MAKA:
Z = 40X1 + 25X2 + 0S1 + 0S2 + 0S3 + 0S4
Fungsi Kendala (Sumber Daya)
4X1 + 3X2 + 0S1 ≤ 120 . . . (1)
10X1 + 0S2 ≤ 150 . . . (2)
+ 7X2 + 0S3 ≤ 210 . . . (3)
5X1 + 2X2 + 0S4 ≤ 110 . . . (4)
note:
S bias juga diganti thu
A bias diganti R
*sesuai dengan yang temen” pahami dari dosen, artinya sama tapi penyebutan saja berbeda
*ini berlaku selain metode Big M
LANGKAH 2 : membuat tabel simplek
TABEL 0
1. Masukkan semua koefisien ke dalam table simpleks
CJ 40 25 0 0 0 0
CB B X1 X2 S1 S2 S3 S4 XB RR
0 S1 4 3 1 0 0 0 120
0 S2 10 0 0 1 0 0 150
0 S3 0 7 0 0 1 0 210
0 S4 5 2 0 0 0 1 110
ZJ-CJ
*ketika varibel S dimasukkan ke dalam tabel bernilai 1
2. Menentukan Nilai Zj- Cj
𝑍𝑗 − 𝐶𝑗 = ∑(𝑘𝑜𝑙𝑜𝑚 𝐶𝐵 × 𝐾𝑜𝑙𝑜𝑚 𝑉𝑎𝑟𝑖𝑎𝑏𝑒𝑙) − (𝐶𝐽)
note: rumus di bawah berlaku kalau menggunakan Cj-Zj berarti rumusnya
𝐶𝑗 − 𝑍𝑗 = ∑ 𝐶𝑗 − (𝑘𝑜𝑙𝑜𝑚 𝐶𝐵 × 𝐾𝑜𝑙𝑜𝑚 𝑉𝑎𝑟𝑖𝑎𝑏𝑒𝑙)
Nilai Zj-Cj untuk Kolom X1
Zj-Cj = ∑ 𝑘𝑜𝑙𝑜𝑚 𝐶𝐵 × 𝐾𝑜𝑙𝑜𝑚 𝑋1 − (𝐶𝐽)
Zj – Cj = ((0 × 4) + (0 × 10) + (0 × 0) + (0 × 5) ) – (40)
= - 40
Nilai Zj-Cj untuk Kolom X2
Zj-Cj = ∑ 𝑘𝑜𝑙𝑜𝑚 𝐶𝐵 × 𝐾𝑜𝑙𝑜𝑚 𝑋1 − (𝐶𝐽)
Zj – Cj = ((0 × 3) + (0 × 0) + (0 × 7) + (0 × 2) ) – (25)
= - 25
note: lakukan hal yang sama untuk S1,S2,S3,S4
tips : jika CB nilainya nol dan CJ nol maka hasil Zj-Cj tetap 0 tanpa perlu di cari lewat rumus
MAKA :
CJ 40 25 0 0 0 0
CB B X1 X2 S1 S2 S3 S4 XB RR
0 S1 4 3 1 0 0 0 120
0 S2 10 0 0 1 0 0 150
0 S3 0 7 0 0 1 0 210
0 S4 5 2 0 0 0 1 110
ZJ-CJ -40 -25 0 0 0 0 0
3. Tentukan KOLOM PIVOT
dengan syarat Zj-Cj bernilai paling negatif atau (Zj-Cj < 0)
MAKA :
Zj-CJ < 0 adalah – 40, jadi Kolom X1 adalah kolom Pivot
CJ 40 25 0 0 0 0
CB B X1 X2 S1 S2 S3 S4 XB RR
0 S1 4 3 1 0 0 0 120
0 S2 10 0 0 1 0 0 150
0 S3 0 7 0 0 1 0 210
0 S4 5 2 0 0 0 1 110
ZJ-CJ -40 -25 0 0 0 0 0
note:jika temen” menggunakan CJ-Zj maka syaratnya bernilai paling positif
4. Untuk menentukan NILAI RR dengan membagi XB dengan kolom pivot
𝑋𝐵
𝑅𝑅 =
𝐾𝑜𝑙𝑜𝑚 𝑃𝑖𝑣𝑜𝑡
CJ 40 25 0 0 0 0
CB B X1 X2 S1 S2 S3 S4 XB RR
120 30
0 S1 4 3 1 0 0 0 120 =
4
150 15
0 S2 10 0 0 1 0 0 150 =
10
210 -
0 S3 0 7 0 0 1 0 210 =
0
110 22
0 S4 5 2 0 0 0 1 110 =
5
ZJ-CJ -40 -25 0 0 0 0 0
note : RR untuk baris S3 (-) karena jika RR bernilai tak hingga atau minus tidak di buatkan dalam tabel.
5. Untuk menentukan ANGKA PIVOT, Pertemuan antara kolom pivot dengan RR yang
nilainya terkecil
TABEL 1
1. Mengeluarkan Variabel S2 menjadi X1, dan memasukkan variable X1 dengan koefisien 40
ke B (Basic)
CJ 40 25 0 0 0 0
CB B X1 X2 S1 S2 S3 S4 XB RR
0 S1
40 X1
0 S3
0 S4
ZJ-CJ
2. Di tabel selanjutnya yang perlu diganti di awal adalah BARIS PIVOT BARU.
𝑏𝑎𝑟𝑖𝑠 𝑝𝑖𝑣𝑜𝑡 𝑙𝑎𝑚𝑎
𝑏𝑎𝑟𝑖𝑠 𝑝𝑖𝑣𝑜𝑡 𝑏𝑎𝑟𝑢 =
𝑎𝑛𝑔𝑘𝑎 𝑝𝑖𝑣𝑜𝑡
MAKA:
10 0 0 1 0 0 150
𝑏𝑎𝑟𝑖𝑠 𝑝𝑖𝑣𝑜𝑡 𝑏𝑎𝑟𝑢 = 10
1
𝑏𝑎𝑟𝑖𝑠 𝑝𝑖𝑣𝑜𝑡 𝑏𝑎𝑟𝑢 = 1 0 0 0 0 15
10
JADI:
CJ 40 25 0 0 0 0
CB B X1 X2 S1 S2 S3 S4 XB RR
0 S1
40 X1 1 0 0 1/10 0 0 15 Baris privot baru
0 S3
0 S4
ZJ-CJ
3. Mencari BARIS LAINNYA di tabel baru
𝑏𝑎𝑟𝑖𝑠 𝑏𝑎𝑟𝑢 = 𝑏𝑎𝑟𝑖𝑠 𝑙𝑎𝑚𝑎 − (𝑘𝑜𝑒𝑓𝑖𝑠𝑖𝑒𝑛 𝑘𝑜𝑙𝑜𝑚 𝑝𝑖𝑣𝑜𝑡 × 𝑏𝑎𝑟𝑖𝑠 𝑝𝑖𝑣𝑜𝑡 𝑏𝑎𝑟𝑢)
MAKA:
Baris baru untuk S1
[4 3 1 0 0 0 120]
1
× 4 [1 0 0 10 0 0 15 ]
𝑏𝑎𝑟𝑖𝑠 𝑏𝑎𝑟𝑢 = −
4
SD [0 3 1 −
10 0 0 60]
Untuk baris S3
[[0 7 0 0 1 0 210]]
1
× 0 [1 0 0 0 0 15 ]
𝑏𝑎𝑟𝑖𝑠 𝑏𝑎𝑟𝑢 = − 10
SD [0 7 0 0 1 0 210]
Untuk baris S 4
[[5 7 0 0 0 1 110]]
1
× 5 [1 0 0
𝑏𝑎𝑟𝑖𝑠 𝑏𝑎𝑟𝑢 = − 10 0 0 15 ]
SD [0 2 0 − 5 0 1 35]
10
JADI
CJ 40 25 0 0 0 0
CB B X1 X2 S1 S2 S3 S4 XB RR
0 S1 0 3 1 -4/10 0 0 60
40 X1 1 0 0 1/10 0 0 15
0 S3 0 7 0 0 1 0 210
0 S4 0 2 0 -5/10 0 1 35
ZJ-CJ
4. Tentukan Zj-CJ (bisa menggunakan rumus di awal atau rumus untuk mencari baris baru di
atas), Menentukan RR, Kolom Pivot, Baris Pivot, dan Angka Pivot
note: lihat kembali langkah” di pencarian tabel 0 dan tabel 1
5. Lakukan hingga Zj-Cj tidak ada yang bernilai negatif, hal ini disebut optimal
HASIL SEMUA TABEL ITERASI
TABEL 0
TABEL 1
TABEL 2
TABEL 3
MEMBACA HASIL TABEL
Hasil Optimal terletak pada nilai
X1 = 12,85 Berarti keripik kentang yang dibuat adalah sebanyak 12,85 buah
X2 = 22,85 Berarti keripik singkong yang dibuat adalah sebanyak 22,85 buah
S1 = 0 (operasi Berarti dari 120 jam waktu operasi mesin semuanya terpakai untuk
mesin) membuat 12,85 keripik singkong dan 22,85 keripik kentang
S2 = 21,42 (bahan Berarti dari 150 kg bahan baku kentang, ada 21,42 yang tersisa
baku kentang)
S3 = 50,01 (bahan Artinya dari 210 kg bahan baku singkong ada 50,01 yang tersisa
baku singkong)
S4 = 0 (tenaga Jam untuk tenaga kerja terpakai semuanya untuk membuat singkong
kerja) dan kentang
Keuntungan Dengan membuat keripik kentang 12,85 dan keripik singkong 22,85
(Z) = 1085,25 keuntungan maksimal yang didapat adalah sebanyak 1085,25. Hal ini
disarankan kepada pabrik tersebut dengan mempertimbangkan biaya
dan sumber daya yang ada
PRIMAL
Fungsi Tujuan
MAX Z = 40X1 + 25X2
Fungsi Kendala (Sumber Daya)
4X1 + 3X2 ≤ 120
10X1 ≤ 150
+ 7X2 ≤ 210
5X1 + 2X2 ≤ 110
DUAL
Fungsi Tujuan
MIN Z = 120Y1 + 150Y2 + 210Y3 + 110Y4
Fungsi Pembatas
4Y1 + 10Y2 + 5Y4 ≥ 40
3Y1 + 7Y3 + 2Y4 ≥ 25
Langkah 1: mengganti bentuk Fungsi semua bentuk menjadi bentuk dual seperti panah di atas
Langkah 2: Jika primalnya maksimal maka untuk ubah jadi minimal begitupun sebaliknya
Langkah 3: Perhatikan tanda pertidaksamaan Jika Z adalah maksimal maka tanda harus dirubah menjadi
“≤ " sebelum dijadikan ke bentuk dual (begitu sebaliknya jika Z adalah minimal
Misalkan: dengan soal berbeda
MAX Z = 30X1 + 20X2
X1 + X2 ≤ 8 . . . (1)
6X1 + 4X2 ≥ 12 . . . (2)
5X1 + 8X2 = 20 . . . (3)
Berarti karena Z maksimal, tanda pertidaksamaan harus “≤”
MAKA:
*untuk tanda " ≥ " agar menjadi “≤” maka dikalikan -1
-6X1 + -4X2 ≥ -12 . . . (2.a)
*untuk tanda “=” agar menjadi “≤” maka diubah menjadi pertidaksamaan
5X1 + 8X2 ≥ 20 . . . (3.a)
5X1 + 8X2 ≤ 20 . . . (3.b)
*ubah pertidaksamaan (3.a) menjadi “≤” dengan dikalikan -1
-5X1 + -8X2 ≤ -20 . . . (3.a.1)
JADI:
Persamaan baru yang sesuai adalah persamaan (1), (2.a), (3,b), dan (3.a.1)
X1 + X2 ≤ 8 . . . (1)
-6X1 + -4X2 ≥ -12 . . . (2.a)
5X1 + 8X2 ≤ 20 . . . (3.b)
-5X1 + -8X2 ≤ -20 . . . (3.a.1)
*untuk mengubah menjadi dual kembali ke langkah 1
Langkah 4: Jika hasil dual adalah minimal maka tanda pertidaksamaan harus “≥ " (begitu sebaliknya jika
dual maksimal)
HARGA RANGKAP
Langkah 1: melihat perubahan titik keuntungan maksimal (Z) pada grafik
Terjadi perubahan garis untuk persamaan (1) ke arah kanan menjadi garis baru
Fungsi Titik
4X1 + 3X2 ≤140
MAKA:
4X1 + 3X2 = 120
Jika X1 = 0, Maka X2 = 46,67 (0,46,67)
Jika X2 = 0, Maka X1 = 35 (35,0)
merupakan titik potong dari persamaan (3) dan
persamaan (4)
Maka :
7X2 = 210
X2 = 30
Substitusikan ke dalam persamaan (5)
Maka :
5X1 + 2X2 = 110
5X1 + 2(30) = 110
5X1 + 60 = 110
5X1 = 110 - 60
5X1 = 50
X1 = 10 (10,30)
MAKA :
Perubahan Nilai Z dengan titik (10,30)
Z = 40X1 + 25X2
Z = 40(10) + 25(30)
Z = 1150
JADI:
Terjadi Perubahan Keuntungan (Z) ketika kapasitas jam mesin di tingkatkan menjadi 140 dari 120
jam, dan keuntungan yang didapat adalah Rp.1.150.000
Langkah 2: menentukan harga rangkap
𝑍𝐺 − 𝑍𝐶
ℎ𝑎𝑟𝑔𝑎 𝑟𝑎𝑛𝑔𝑘𝑎𝑝 =
∆𝑏
Ket :
ZG : nilai Z setelah perubahan
ZC : nilai Z sebelum perubahan
∆𝑏 : perubahan pada fungsi kendala
MAKA:
1150 − 1085,71
ℎ𝑎𝑟𝑔𝑎 𝑟𝑎𝑛𝑔𝑘𝑎𝑝 =
140 − 120
64,29
ℎ𝑎𝑟𝑔𝑎 𝑟𝑎𝑛𝑔𝑘𝑎𝑝 =
20
ℎ𝑎𝑟𝑔𝑎 𝑟𝑎𝑛𝑔𝑘𝑎𝑝 = 3,21
JADI:
Artinya jika peningkatan mesin ditambhakan 1 jam maka Z akan bertambah 3,21
INTERVAL
Langkah 1: menentukan daerah arsir dari rumus interval b
RUMUS
𝑏 = 𝐵 −1 𝑏
note: ini hanya berlaku untuk perubahan fungsi kendala
DIKET:
𝐵 −1 =
Cara mengetahui 𝐵 −1 dengan melihat variabel selain X pada tabel simple yang terakhir, seperti berikut:
*ini diambil dari tabel optimal atau tabel 3 dan fokus pada kolom S, artinya abaikan kolok X
b=
MAKA:
𝑏 = 𝐵 −1 𝑏
𝑏=
note: perkalian matriks di atas dengan cara mengkalikan baris dengan kolom
Hasil perkalian matriks Untuk mengetahui daerah layak dengan
mengubah ∆ ≥ 0
342 + 2,85∆ + 150 − 470,8 = 2,85∆ + 21,2 2,85∆ + 21,2 ≥ 0
2,85∆ ≥ -21,2
∆ ≥ -21,2/2,85
∆ ≥ -7,44
−34,2 − 2,85∆ + 47,08 = 12,88 – 0,285∆ 12,88 – 0,285∆ ≥ 0
– 0,285∆ ≥ -12,88
∆ ≤ 12,88/0,285
∆ ≤ 45,19
-597,6 − 4,98∆ + 210 − 438,9 = 51,3 – 4,98∆ 51,3 – 4,98∆ ≥ 0
– 4,98∆ ≥ -51,3
∆ ≤ 51,3/4,98
∆ ≤ 10,3
85,2 + 0,71∆ − 62,7 = 0,71∆ + 22,5 0,71∆ + 22,5 ≥ 0
0,71∆ ≥ -22,5
∆ ≥ -22,5/0,71
∆ ≥ -31,69
JADI:
-31,69 -7,44 10,3 45,19
Intervalnya yang didapat
−7,44 ≤ ∆ ≤ 10,3
Karena ∆ berarti 𝑏𝑏𝑎𝑟𝑢 - 𝑏𝑙𝑎𝑚𝑎
−7,44 ≤ 𝑏𝑏𝑎𝑟𝑢 − 𝑏𝑙𝑎𝑚𝑎 ≤ 10,3
𝑏𝑙𝑎𝑚𝑎 − 7,44 ≤ 𝑏𝑏𝑎𝑟𝑢 ≤ 10,3 + 𝑏𝑙𝑎𝑚𝑎
Karena 𝑏𝑙𝑎𝑚𝑎 adalah 120
120 − 7,44 ≤ 𝑏𝑏𝑎𝑟𝑢 ≤ 10,3 + 120
112,56 ≤ 𝑏𝑏𝑎𝑟𝑢 ≤ 130,3
KESIMPULAN
Jadi, Intervalnya dimana peubah basis tetap layak dan optimal adalah sebagi berikut
𝟏𝟏𝟐, 𝟓𝟔 ≤ 𝒃𝒃𝒂𝒓𝒖 ≤ 𝟏𝟑𝟎, 𝟑
*ini termasuk dengan 1.e yang ditanyakan terkait interval agar Z tidak berubah atau tetap optimal
Langkah 2: menentukan nilai XB (yang ada pada tabel) baru setelah ditingkatkan menjadi 140 jam
𝑋𝐵𝑉 = 𝐵 −1 𝑏
Ket:
XB = variable yang terletak di variable basis atau jika dilihat di tabel terletak pada kolok B
Langkah 3: menentukan nilai Z saat terjadi peningkatan kapasitas operasi mesin menjadi 140 jam
𝑍 = 𝑐𝐵𝑉 𝐵 −1 𝑏
𝑐𝐵𝑉 =
*ini diambil dari tabel optimal atau tabel 3 dan fokus pada kolom S, artinya abaikan kolok X
DIKET:
𝑐𝐵𝑉 =
Maksudnya adalah koefisien dari variabel di kolom basis yang merupakan solusi optimal
MAKA:
𝑍 = 𝑐𝐵𝑉 𝐵 −1 𝑏
Z=
Z=
Z= 1148
KESIMPULAN:
Jika melihat hasil dari grafik menunjukkan hasil yang hamper sama, ini berarti perhitungan mengenai
perubahan Z kita sudah benar. Kemungkinan berbeda tidak tepat hasilnya pada 1150 karena adanya
perkalian dalam koma.