0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
35 tayangan14 halaman

Metodologi Studi Islam: Konsep Dasar

Makalah ini membahas konsep dasar metodologi studi Islam dengan menjelaskan pengertian metodologi studi Islam, signifikasinya, dan objek kajiannya. Tujuannya adalah agar pembaca memahami konsep dasar studi Islam secara sistematis dan terpadu."

Diunggah oleh

가니
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
35 tayangan14 halaman

Metodologi Studi Islam: Konsep Dasar

Makalah ini membahas konsep dasar metodologi studi Islam dengan menjelaskan pengertian metodologi studi Islam, signifikasinya, dan objek kajiannya. Tujuannya adalah agar pembaca memahami konsep dasar studi Islam secara sistematis dan terpadu."

Diunggah oleh

가니
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

MAKALAH

“KONSEP DASAR METODOLOGI STUDI ISLAM”


Diajukan untuk memenuhi Tugas Mata Kuliah Metode Studi Islam

Dosen Pengampuh :
Drs. M. Thahir, [Link]

Disusun oleh :
Kelompok 1

Ani Agustriani Lubis (22020500


Gadis Aulia Rahma (2202050016)
Habibi (2202050017)

FAKULTAS SYARIAH
INSTITUT AGAMA ISLAM DAAR AL ULUM
ASAHAN – KISARAN
T. A. 2022 / 2023

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur saya ucapkan atas kehadirat Allah SWT, karena dengan
rahmat dankarunia-Nya saya masih diberi kesempatan untuk menyelesaikan
makalah inidengan judul makalah tentang “ Konsep Dasar Studi Islam”.Sholawat
teriring salam tetap tercurahkan kepada junjungan nabi besarMuhammad Saw,
semoga kita semua mendapat syafaat-Nya di hari kiamat kelakaamiin yaa rabbal
‘aalamiin.
Makalah ini jauh dari kata sempurna dan masih banyak terdapat
kesalahanserta kekurangan didalamnya dan kami memohon maaf sebesar-
besarnya. Untukitu, kami mengharapkan saran dan kritik yang sifatnya
membangun demi kesempurnaanmakalah ini.

Kisaran, 12 Maret 2023

Kelompok 1

2
DAFTAR ISI

Contents
KATA PENGANTAR..............................................................................................................2
DAFTAR ISI..........................................................................................................................3
PENDAHULUAN..................................................................................................................4
BAB I...................................................................................................................................4
Latar belakang................................................................................................................4
Rumusan Masalah..........................................................................................................4
Tujuan Penulis................................................................................................................4
BAB II..................................................................................................................................6
PEMBAHASAN....................................................................................................................6
Pengertian Metodologi Studi Islam................................................................................6
Signifikasi metodologi Studi Islam..................................................................................8
Objek Kajian Metodolgi Studi Islam...............................................................................9
Berbagai pengertian Agama.........................................................................................10
Agama yang Dianut Masyarakat Primitif dan Masyarakat Yang Sudah Maju...............11
PENUTUP..........................................................................................................................14
DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................................15

3
PENDAHULUAN

BAB I

[Link] belakang
Metode memiliki peranan penting dalam mempelajari agama termasuk
Islam. Agama Islam perlu dikaji secara komprehensif (modern) dan tidak
secaraparsial. Agama Islam sangat membutuhkan penelitian yang akurat.
Ahli-ahli ilmu pengetahuan, termasuk dalam hal ini para orientalis,
mendekati Islam denganmeode ilmiah saja. Akibatnya penelitiannya itu
kurang menarik tetapi sebenarnya mereka tidak mengerti secara utuh.
Yang mereka ketahui hanya segi-segi luar dariIslam saja. Sebaliknya para
ulama kita sudah terbiasa memahami Islami Islam dengan doktriner dan
dogmatis, yang sama sekali tidak dihubungkan dengankenyataan-
kenyataan yang hidup didalam masyarakat, penafsiran itu tidakditerapkan
didalam masyarakat.
Maka usaha intelektual yang sungguh-sumgguh dalam menjelaskan
dan mesistematiskan berbagai aspek ajaran Islam mutlak perlu digalakkan
agar umatIslam punya kemampuan menghadapi dan memecahkan
masalah-masalah modernyang dihadapi bangsa Indonesia seperti
kemiskinan, keterbelakangan ekonomi,pertambahan penduduk,
perkembangan politik, dan yang sangat mendesak adalahkeadaan sosio-
ekonomi.

[Link] Masalah
1. Pengertian Metodologi Studi Islam ?
2. Signifikasi metodologi Studi Islam ?
3. Objek Kajian Metodologi Studi Islam ?
4. Berbagai pengertian Agama ?
5. Agama yang Dianut Masyarakat Primitif dan Masyarakat Yang
Sudah Maju ?

[Link] Penulis
1. Agar Mengetahui Pengertian Metodologi Studi Islam
2. Agar Mengetahui Signifikasi Metodologi Studi Islam
3. Agar Mengetahui Objek Kajian Metodologi Studi Islam
4. Agar Mengetahui Pengertian Agama
5. Agar Mengetahui Agama yang Dianut Massyarakat Primitif dan
Masyarakat Yang Sudah Maju

4
BAB II

PEMBAHASAN

Pengertian Metodologi Studi Islam


Metodologi berasal dari bahasa Yunani <metodos= dan "logos". Kata
"metodos" terdiri dari dua suku kata yaitu <metha= yang berarti melalui atau
melewati dan <hodos= yang berarti jalan atau cara. Metode berarti suatu jalan
yang dilalui untuk mencapai tujuan. "Logos" artinya ilmu. Metodologi adalah
ilmu-ilmu/cara yang digunakan untuk memperoleh kebenaran menggunakan
penelusuran dengan tata cara tertentu dalam menemukan kebenaran,
tergantung Dari realitas yang sedang dikaji.1Ilmu terdiri atas empat prinsip, yaitu:
1. keteraturan (orde)
2. sebab-musabab (determinisme)
3. kesederhanaan (parsimoni)
4. pengalaman yang dapat diamati (empirisme)
5. Dengan prinsip-prinsip yang demikian maka ada banyak jalan untuk
menemukan kebenaran.

Metodologi adalah tata cara yang menentukan proses penelusuran apa


yang akan digunakan Studi islam secara etimologis merupakan terjemahan dari
Bahasa Arab dirasah islamiyah. Sedangkan studi islam di Barat dikenal engan
istilah Islamic studies. Maka studi islam secara harfiah adalah kajian mengenai
hal-hal yang berkaitan dengan islam. Makna ini sangat umum sehingga perlu ada
spesifikasi pegertian terminologis tentang studi islam dalam kajian yang
sistematis dan terpadu. Dengan perkataan lain, studi islam adalah usaha dasar dan
sistematis untuk mengetahui dan memahami serta membahas secara mendalam
tentang seluk-beluk atau hal-hal yang berhubungan dengan agama islam, baik
berhubungan dengan ajaran, sejarah maupun praktik-praktik pelaksanaannya
secara nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Studi islam diarahkan pada kajian keislaman yang mengarah pada tiga hal:

1
Muslim.2021. Metodologi studi islam. Pekanbaru. Cahaya firdaus

5
a. Islam yang bermuara pada kedudukan atau berserahdiri.
b. Islam dapat dimaknai yang mengarah pada keselamatan dunia dan akhirat,
sebab ajaran islam pada hakikatnya membimbing manusia untuk berbuat
kebajikan dan menjauhi semua larangan.
c. Islam bermuara pada kedamaian. Usaha mempelajari agama islam tersebut
dalam kenyataannya bukan hanya dilaksanakan oleh kalangan umat islam saja,
melainkan juga dilaksanakan oleh orang-orang diluar kalangan umat islam. Studi
keislaman di kalangan umat islam sendiri tentunya sangat berbeda tujuan dan
motivasinya dengan yang dilakukan oleh orang-orang diluar kalangan umat islam.
Dikalangan umat islam studi keislaman bertujuan untuk memahami dan
mendalami serta membahas ajara-ajaran islam. Agar mereka dapat melaksanakan
dan mengamalkan dengan benar. Sedangkan diluar kalangan umat islam, studi
keislaman bertujuan untuk mempelajari seluk-beluk agama dan praktik-praktik
keagamaan yang berlaku di kalangan umat islam, yang semata-mata sebagai ilmu
pengetahuan (islamologi). Namun sebagaimana halnya dengan ilmu-ilmu
pengetahuan pada umunya, maka ilmu pengetahuan tentang seluk-beluk agama
dan praktik-praktik keagamaan islam tersebut bisa dimanfaatkan atau digunakan
untuk tujian-tujuan tertentu, baik yang bersifat positif maupun negative.
Menurut KBBI (kamus besar bahasa Indonesia), metode adalah cara kerja
yang bersistem untuk memudahkan pelaksanan suatu kegiatan guna mencapai
tujuan yang ditentukan.
Ketika metodologi digabungkan dengan kata logos maka maknanya
berubah. Logos berarti “Studi tentang” atau “Teori tentang”. Oleh karena itu
metodologi tidak lagi sekedar tentang kumpulan cara yang sudah diterima (well
received) tetapi berupa kajian tentang metode. Maka dari itu, metodologi menjadi
bagian dari sistematika filsafat, sedangkan metode tidak. Dengan kata lain,
metodologi adalah ilmu cara-cara dan langkah-langkah yang tepat (untuk
menganalisa sesuatu) penjelasan serta menerapkan cara.
Sementara kata “metodologi” berasal dari bahasa yunani yakni metodhos
dan logos, metodhos berarti cara, kiat dan seluk-beluk yang berkaitan dengan
upaya menyelesaikan sesuatu, sementara logos berarti ilmu pengetahuan,
cakrawala dan wawasan. Dengan demikian metodologi adalah metode atau cara-
cara yang berlaku dalam kajian atau penelitian.
Metodologi Islam digunakan ketika seseorang ingin membahas kajian-
kajian seputar ragam metode yang biasa digunakan dalam studi Islam. Sebut saja
kajian normative, filosofis, historis, komparatif dan lain sebagainya.2

2
DR. Limas Dodi, [Link], Islamic Studies: Pendekatan dan Teori Pemikiran dalam Metodologi
Studi Islam, (kalangan: Pustaka Ilmu, 2015).

6
Untuk memahami Islam secara benar, Nasrudin Razak mengajukan empat
cara yaitu :
1. Islam harus dipelajar dari sumbernya, Al-Quran dan As-Sunnah.
2. Islam harus dipelajari secara integral, tidak parsial, artinya dipelajari secara
menyeluruh tidak sebagian saja.
3. Dipelajari dari kepustakaan yang ditulis oleh ulama besar.
4. Hendaknya dipelajari dari ketentuan normatif teologis yang ada dalam Al-
Quran, baru kemudian diubungkan dengan kenyataan historis, empiris dan
sosiologis yang ada dimasyarakat.

Signifikasi metodologi Studi Islam


Dari segi tingkatan kebudayaan, agama merupakan universal cultural. Salah
satu prinsip teori fungsional menyatakan bahawa segala sesuatu yang tidak
berfungsi akan lenyap dengan sendirinya. Karena sejak dulu hingga sekarang
agama dengan tangguh menyatakan eksitensinya, berarti ia mempunyai dan
memerankan sejumlah peran dan fungsi di masyarakat. Oleh karena itu, secara
umum, studi islam menjadi penting karena agama, termasuk islam, memerankan
sejumlah peran dan fungsi di masyarakat.
Dari gambaran umat Islam di Indonesia di atas, kita dapat mengetahui bahwa
agama Islam di Indonesia belum sepenuhnya dipahami dan dihayati oleh umat
islam. Oleh karena itu, signifikansi study islam di Indonesia adalah mengubah
pemahaman dan penghayatan keislaman masyarakat Muslim Indonesia secar
khusus, dan masyarakat beragama pada umunya. Adapun perubahan yang
diharapkan adalah format formalisme keagamaan islam diubah diubah menjadi
format agama yang substantif. Sikap engklusivisme, kita ubah menjadi format
agama yang subnstantif. Sikap engklusivisme, kita ubah menjadi sikap
universalisme, yakni agama yang tidak mengabaikan nilai-nilai spiritualis dan
kemanusiaan karena pada dasarnya agama di wahyukan untuk manusia.
Disamping itu, study islam diharapkan mampu melahirkan suatu komunitas
yang mampu dapat mempertemukan dan mencari jalan keluar dari konflik intra-
agama Islam; tampaknya konflik internal umat islam yang didasari dengan
organisasi formal keagamaa belum sepenuhnya final. Di samping itu, akhir-akhir
ini kita dihadapkan pada krisis nasional. Salah satunya krisis kerukunan umat
beragams: pembakaran gereja di Ketapang Jakarta dan Babjarmasin ciamis,
pembakaran masjid di Ambon, serta persoalan-persoalan lainya.
Study islam diharapkan melahirkan suatu masyarakat yang siap hidup toleran
(tasamuh) dalam wawancara pluaralitas agama sehingga, sehingga tidak
melahirkan muslim ekstrem yang membalas kekerasan pula: pembakaran masjid
dibalas dengan pembakaran gereja. Oleh karena itu, dalam situasi hidup

7
keberagaman Indonesia, study agama. Terutama Islam, karena merupakan agama
yang dianut oleh mayoritas penduduk, dan sangat penting dilakukan.3

Objek Kajian Metodolgi Studi Islam


Islam memang menarik untuk dijadikan sebagai objek kajian dan dalam
mengkaji Islam, tentu kita harus berpedoman pada dua sumber otentiknya yakni
Alquran dan hadis. Dalam perkembangannya Islam dapat diterima dari segala
aspek bidang ilmu pengetahuan, baik secara ilmu agama yang menitik beratkan
pada ajaran agama, maupun secara ilmu lainnya yang mengembangkan segala
aspek pengetahuan. Ini karena hasil akhirnya bertemu pada titik isi dari al-Qur’an,
baik secara pendekatan ilmu agama ataupun ilmu lainnya.
Adapun islam sebagai objek studi dikaitkan dengan ilmu agama memasukan
beberapa ilmu diantaranya; tafsir, hadits, kalam, fiqih, filsafat dan tasawuf dengan
acuan dasarnya adalah al-Qur’an. Dan Islam sebagai objek studi dikaitkan dengan
ilmu seperti; ilmu pengetahuan, feminis, sosial budaya, fisiologi, anatomi, ilmu
hukum, ilmu ekonomi, ilmu bumi dan ilmu alam, secara sederhana bisa dilihat
dari pendekatan teologis, sosiologis, histories, arkeologis, antropologis,
penomenologis, psikologis, feminimis dan sosial budaya. Ini menandakan bahwa
keterkaitan islam sebagi sumber ilmu dalam semua bidang bisa terlihat dengan
adanya studi islam sebagai objek studi.4
Objek kajian Metodologi Studi Islam adalah ajaran Islam dari berbagai
aspeknya dan berbagai mazhab atau alirannya. Ajaran islam ini tidaklah sempit
atau sebatas ibadah saja, tetapi juga meliputi berbagai aspek termasuk interaksi
sosial kemasyarakatan. Sebagian umat Islam berpendapat bahwa ajaran Islam
bersifat permanen, sehingga penafsiran atas ajaran Islam harusa mengikuti
penafsiran-penafsiran ulama terutama ulama klasik. Umat Islam sebagian juga
berpendapat bahwa aspek atau ajaran Islam hanyalah shalat, puasa, zakat, haji dan
dzikir. Sebagai Ojek kajian Metodologi studi Islam, ajaran Islam melingkup
semua aspek yang ada dalam Islam.5
Perlu dipahami pemetaan ajaran islam ke dalam beberapa kategori, antara lain
2 wilayah ajaran islam yaitu yang absolut-mutlak (sakral) dan nisby-zhanniy
(profan). Islam sebagai the origin text bersifat mutlak dan absolut, sedangkan
islam yang berupa hasil pemikiran dan praktek umat islam sehari-hari bersifat
relatif-temporal, berubah sesuai dengan perubahan konteks zaman dan konteks
sosial. Dengan demikian, yang menjadi objek kajian Metodologi Studi Islam
(MSI) adalah semua hal yang membicaraka tentang islam, mulai dari level nash
atau teks (wahyu), hasil pemikiran ulama hingga level praktek yang dilakukan
masyarakat islam. Perbedaan-perbedaan studi islam inilah yang menyebabkan
perbedaan dalam menentukan pendekatan dan metode yang digunakan.
3
Muhaimin, [Link]. Kawasan dan Wawasan Studi Islam, (Jakarta: Kencana, 2005)
4
Hakim,[Link], & Jaih,[Link] Studi [Link]
5
Abuddin Nata, Metodologi Studi Islam, (Jakarta:Raja Grafindo Persada, 2006) hal. 102-103.

8
Berbagai pengertian Agama
Kata agama merupakan terjemahan dari kata din (‫ )الدين‬dalam bahasa Arab
yang berarti menguasai, menundukkan dan religi dalam bahasa latin yang dalam
satu pendapat dari kata relegere berarti mengumpulkan, membaca
Kata agama sendiri merupakan berasal dari bahasa sanskrit yang dalam
satu pendapat sebagaimana Harun Nasution katakan tersusun dari dua suku kata
yakni a yang berarti tidak dan gam yang berarti pergi. Dengan demikian agama
secara bahasa berarti sesuatu yang tetap atau tetap ditempat.
Menurut sejarahnya, masalah agama adalah masalah sosial, karena
menyangkut kehidupan masyarakat yang tidak bisa terlepas dari kajian ilmu-ilmu
sosial. Oleh sebab itu, ilmu-ilmu agama hakikatnya merupakan rumpun bagian
dari ilmu Sosiologi, Psikologi dan Antropologi. Sosiologi menjadi akar dari
semua ilmu yang berkaitan dengan masyarakat; maka lahirlah semacam ilmu
sosiologi agama, sejarah agama, filsafat agama, publikasi agama, dan lain-lain.
Francisco Jose Moreno menegaskan bahwa “sejarah agama berumur setua sejarah
manusia.
Tingkatan dien (agama) itu ada tiga; Islam, yaitu berserah diri kepada
Allah Ta’ala dengan mentauhidkan-Nya, tunduk kepada-Nya dengan ketaatan
serta berlepas didi dari syirik, Iman, yaitu percaya kepada Allah, Malaikay-Nya,
Kitab-kitab-Nya, Rasul-Nya hari akhir dan takdirnya, Ihsan, yaitu menyembah
kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya.6
Agama adalah suatu sistem kepercayaan kepada Tuhan yang dianut oleh
sekelompok manusia dengan selalu mengadakan interaksi dengan-Nya. Pokok
persoalan yang dibahas dalam agama adalah eksistensi Tuhan. Tuhan dan
hubunga manusia dengan-Nya merupakan aspek metafisika, sedangkan manusia
sebagai makhluk dan bagian dari benda alam termasuk dalam kategori fisika.
Dengan demikian, filsafat membahas agama dari segi metafisika dan fisika.
Namun, titik tekan pembahasan filsafat agama lebih terfokus pada aspek
metafisiknya ketimbang aspek fisiknya. Aspek fisik akan lebih terang diuraikan
dalam ilmu alam, seperti biologi dan psikologi serta antropologi.7
Secara etimologi, istilah agama banyak dikemukakan dalam berbagai
bahasa, antara lain Religion (Inggris), Religie (Belanda), Religio (Yunani), Ad-
Din8 Syari’at, Hisab (ArabIslam) atau Dharma (Hindu).

6
Dr. Abdul Aziz bin Muhammad Alu Abd. Lathif, Pelajaran Tauhid
untuk Pemula, terjemahan Ainul Haris Arifin Thayib, Judul asli, Muqarrarut
tauhid kitab Ta’limilin nasyi’ah, (Jakarta: Darul Haq, 1998), p. 19.
7
Prof. Dr. Amsal Bakhtiar, M.A, Filsafat Agama (Wisata Pemikiram
dan Kepercayaan Manusia), (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2007), Cet.
Ke-4, p. 2.
8
Kata al-Din dalam bahasa Arab terdiri atas huruf dal, ya, dan nun.
Dari huruf-huruf ini bisa dibaca dengan dain yang berarti utang dan dengan

9
Menurut Louis Ma’luf dalam AlMunawar pengertian agama dalam Islam
secara spesifik berasal dari kata “ad-Din” (Jamak: “Al-Adyan” yang mengandung
arti “Al-Jaza wal Mukafah, Al-Qada, Al-Malik-al-Mulk, As-Sulton, At-Tadbir,
Al-Hisab”). Moenawar Cholil menafsirkan kata “AdDin sebagai mashdar dari
kata kerja “‫ن َدا‬-‫َ“ ن ْي َد ِي‬yang mempunyai banyak arti, antara lain: cara atau adat
kebiasaan, peraturan, undang-undang, taat dan patuh, meng-Esa-kan Tuhan,
pembalasan, perhitungan, hari kiamat, nasihat, agama”.

Agama yang Dianut Masyarakat Primitif dan Masyarakat Yang Sudah


Maju
Primitive adalah sebuah kata sifat yang menunjukkan keadaan yang
sederhana, bersahaja.9 Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia , primitif bisa
berarti keadaan yang sangat sederhana, belum maju, terkebelakang (ttg peradaban,
kebudayaan misalnya) dan bisa juga bermakna sederhana.
Dalam Encyclopedia of Sosial Science disebuitkan :The word primitive from
the post-Augustan Latin primitivus, which merely intensified the meaning of
primus…10(kata primitive itu berasal dari bahasa latin zaman Augustan, yaitu pri
Dinamisme.

1. Dinamisme
Kata dinamisme berasal dari kata Yunani “dynamis atau dynaomos” yang
artinya kekuatan atau tenaga. Jadi dinamisme ialah kepercayaan (anggapan)
tentang adanya kekuatan yang terdapat pada pelbagai barang, baik yang hidup
(manusia, binatang dan tumbuh-tumbuhan) atau yang mati.11Dalam Kamus Besar
Bahasa Indonesia disebutkan, Dinamisme adalah : Kepercayaan bahwa segala
sesuatu mempunyai tenaga atau kekuatan yang dapat mempengaruhi keberhasilan
atau kegagalan usaha manusia dalam mempertahankan hidup.12
Selanjutnya Harun Nasution menyebutkan , Dinamisme adalah suatu paham
bahwa ada benda-benda tertentu yang mempunyai kekuatan gaib dan

din yang mengandung arti agama dan hari kiamat. Ketiga arti tersebut samasama menunjukkan
adanya dua pihak yang berbeda. Pihak pertama
berkedudukan lebih tinggi oleh pihak kedua. Dalam utang yang mengutangi
tentu lebih kaya ketimbang yang berhutang. Dalam masalah kiamat, tentu
demikian juga Tuhan yang memiliki hari kiamat, sedangkan manusia yang
dimiliki dan dia harus tunduk kepada si pemilik. Prof. Dr. Amsal Bakhtiar,
M.A, Filsafat Agama..., p. 10.
9
John M. Echol dan Hassan Shadily, Kamus Inggeris Indonesia, hlm. 447 dan Kamus Besar Bahasa
Indonesia, hlm. 896.
10
Seligman,Encyclopedia of Social Sciences,[Link] (New York: Tha Millian Company, tth), hlm. 398
11
Abu Ahmadi, Perbandingan Agama, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005, hlm. 35
12
Depdiknas, Kamus Besar Bahasa Indonesia, hlm. 265.

10
berpengaruh pada kehidupan manusia sehari-hari.13 mitivus, yang memberikan
pengertian terdahulu atau awal…)
Kekuatan gaib itu adalah yang bersifat baik dan ada pula yang bersifat jahat.
Benda yang mempunyai kekuatan gaib baik, disenangi dan dipakai serta dimakan,
agar orang yang memakainya atau memakannya senantiasa dipelihara dan
dilindungi oleh kekuatan gaib yang terdapat di dalamnya. Sedangkan benda yang
mempunyai kekuatan jahat, biasanya ditakuti dan oleh karena itu selalu dijauhi.
2. Animisme
Animisme berasal dari bahasa latin asal katanya adalah “anima” yang berarti
“nyawa, napas atau roh” 14 Animisme berarti kepercayaan kepada roh yang
mendiami semua benda (pohon, batu, sungai, gunung dsb).15
Animisme adalah agama yang mengajarkan bahwa tiap-tiap benda baik
yang bernyawa maupun yang tidak bernyawa mempunyai roh.16
Roh menurut masyarakat primitive tersusun dari materi yang halus sekali
yang dekat menyerupai uap atau udara dan roh bagi mereka mempunyai rupa.
Umpamanya berkaki dan bertangan, mempunyai umur dan perlu pada makanan.
Roh juga mempunyai tingkah laku seperti manusia, umpamanya pergi berburu,
menari dan menyanyi dan terkadang ia dapat dilihat.17
3. Polytheisme
Polytheisme mengandung kepercayaan kepada banyak dewa atau tuhan.
Polytheisme lawan dari monotheisme (satu tuhan). Dalam paham polytheisme hal-
kal yang menimbulkan perasaan ta’ajub dan dahsyat bukan lagi dikuasai oleh
roh-roh, tapi oleh dewa-dewa.
Dalam paham polytheisme dewa-dewa talah mempunyai tugas tertentu. Ada
dewa yang bertugas memberi sinar/cahaya dan panas. Dalam agama Mesir kuno
disebut dengan dewa Ra. Dalam agama India disebut dewa Surya dan dalam
agama Persia kuno disebut dewa Mithra. Ada juga dewa yang bertugas
menurunkan hujan, yang diberi nama dewa Indera dalam agama India kuno.
Selanjutnya ada pula dewa angin yang disebut dewa Wata dalam agama India
kuno.18

13
Harun Nasution, Islam Ditinjau …, hlm. 11.
14
Abu Ahmadi, Perbandingan Agama…, hlm. 40.
15
Kamus Besar Bahasa Indonesia, hlm. 53.
16
Harun Nasution, Islam Ditinjau …, hlm. 113.
17
Ibid., hlm. 113
18
Ibid., hlm. 14

11
PENUTUP
KESIMPULAN
Metodologi berasal dari bahasa Yunani <metodos= dan "logos". Kata "metodos"
terdiri dari dua suku kata yaitu <metha= yang berarti melalui atau melewati dan
<hodos= yang berarti jalan atau cara. Metode berarti suatu jalan yang dilalui
untuk mencapai tujuan. "Logos" artinya ilmu. Metodologi adalah

12
ilmu-ilmu/cara yang digunakan untuk memperoleh kebenaran menggunakan
penelusuran dengan tata cara tertentu dalam menemukan kebenaran,
tergantung Dari realitas yang sedang dikaji

DAFTAR PUSTAKA
Abuddin Nata, Metodologi Studi Islam, Pt Raja Grafindo, Jakarta, 2012.
Al Qur’an Surat Al mujadalah, Al Qur’an Tajwid Kode, Transliterasi Per Kata,
Terjemah Per Kata, Cipta Bagus Segara, Jawa Barat, 2012.

13
Al Qur’an Surat Al-Imran, ayat 19, Al Qur’an Tajwid, Terjemah Dan Tafsir
Untuk Wanita, Jabal Raudlotul Jannah, Bandung, 2009.
Al Qur’an Surat Al-Maidah Ayat 3, Mubarokatan, Kudus, 2012.
Al Qur’an Surat Al-maidah ayat 32, Al Qur’an Tajwid Kode, Transliterasi Per
Kata, Terjemah Per Kata, Cipta Bagus Segara, Jawa Barat, 2012
Al Qur’an Surat An Nahl, ayat 125, Al Qur’an Tajwid Kode, Transliterasi Per
Kata, Terjemah Per Kata,Cipta bagus segara, Jawa barat, 2012.
Burhan Bungin, Analisis Data Penelitian Kualitatif, Jakarta: PT. Raja Grafindo
Persada, 2003.
Burhanudin Salam, Pengantar Pedagogik, Rineka Cipta, Jakarta,2011.
Departemen Agama RI, Kapita Selekta Pondok Pesantren, Pt. Paryu
[Link] 1976.
Departemen Agama RI, Pola Pengembangan Pondok Pesantren, Jakarta, 2005.
Djauzak Achmad, Petunjuk Pelaksanaan Kegiatan Belajar Mengajar Pendidikan
Agama Islam, Depdikbud, 1994/1995.
Dr. Agus Retnanto, M. Pd, Kepribadian Islam, Idea Pres Yogyakarta, 2010.
Ida zusnani, manajemen berbasis karakter bangsa, tugu publisher, Yogyakarta,
2012.
Idrus Romli Dkk, KhazanahAswaja, Aswaja Nu Center, Jawa Timur.
Ismail, “Strategi Pembelajaran Agama Islam Berbasis PAIKEM” dalam
Muhaimin dan [Link], Pemikiran Pendidikan Islam, Bandung:
Trigenda Karya, 1993.

14

Anda mungkin juga menyukai