Panduan Lengkap STEMI dalam Kedokteran
Panduan Lengkap STEMI dalam Kedokteran
Disusun oleh:
22010119220105
Pembimbing:
SEMARANG
2020
HALAMAN PENGESAHAN
Diajukan guna memenuhi tugas kepaniteraan senior di bagian Ilmu Penyakit Dalam Fakultas
Kedokteran Universitas Diponegoro.
ii
DAFTAR ISI
HALAMAN DEPAN.......................................................................................................................i
HALAMAN PENGESAHAN........................................................................................................ii
DAFTAR ISI..................................................................................................................................iii
DAFTAR GAMBAR.....................................................................................................................iv
DAFTAR TABEL..........................................................................................................................v
BAB I...............................................................................................................................................2
1.1 Latar Belakang................................................................................................................2
1.2 Tujuan..............................................................................................................................3
1.3 Manfaat............................................................................................................................3
BAB II.............................................................................................................................................3
1.1 Infark Miokard Akut......................................................................................................3
1.2 Klasifikasi Infark Miokard............................................................................................3
1.3 Patofisiologi......................................................................................................................4
1.4 Penegakan Diagnosis.......................................................................................................6
1.4.1 Anamnesis.................................................................................................................6
1.4.2 Pemeriksaan Fisik....................................................................................................6
1.4.3 Pemeriksaan Elektrokardiogram...........................................................................6
1.4.4 Pemeriksaan Biomarka Jantung............................................................................8
1.4.5 Pemeriksaan Non-Invasif........................................................................................9
1.4.7 Pemeriksaan Laboratorium....................................................................................9
1.4.8 Pemeriksaan Foto Polos Dada................................................................................9
1.5 Tatalaksana....................................................................................................................10
1.5.1 Tatalaksana Awal..................................................................................................10
1.5.2 Terapi Reperfusi....................................................................................................10
1.5.3 Terapi Farmakologis.............................................................................................13
1.5.4 Terapi Non Farmakologis.....................................................................................16
BAB III.........................................................................................................................................17
DAFTAR PUSTAKA...................................................................................................................18
iii
DAFTAR GAMBAR
iv
DAFTAR TABEL
v
BAB I
PENDAHULUAN
2
Sindrom koroner akut (ACS), termasuk STEMI terjadi tiga sampai empat kali
lebih sering pada pria dibandingkan wanita di bawah usia 60 tahun, tetapi setelah usia 75
tahun, mayoritas adalah wanita. Wanita cenderung lebih sering datang dengan gejala
atipikal, hingga 30% di beberapa pasien, dan cenderung muncul lebih lambat dari pria. 7
1.2 Tujuan
Pembuatan tinjauan pustaka ini bertujuan untuk mempelajari lebih dalam
mengenai STEMI, epidemiologi, etiologi, faktor risiko, patogenesis, penegakkan
diagnosis, penatalaksanaan, pencegahan, komplikasi, dan peran dokter umum pada
STEMI.
1.3 Manfaat
Pembuatan tinjauan pustaka ini diharapkan dapat membantu mahasiswa
kedokteran untuk mempelajari lebih dalam mengenai STEMI, epidemiologi, etiologi,
faktor risiko, patogenesis, penegakkan diagnosis, penatalaksanaan, pencegahan,
komplikasi, dan peran dokter umum pada STEMI.
3
4
BAB II
PEMBAHASAN
3
Gambar 1. Sindrom Koroner Akut8
1.3 Patofisiologi
Penyempitan lumen arteri koroner dapat mengganggu terpenuhinya perfusi untuk
miokardium. Trombosis yang disebabkan akibat ruptur plak atherosklerosis adalah
penyebab IMA yang paling umum. Proses terbentuknya atherosklerosis diawali dengan
LDL yang terakumulasi pada bagian tunika intima vaskular yang mengalami penebalan.
LDL tersebut mengalami oksidasi dan agregasi, lalu menstimulasi terjadinya respon
imun. Respon imun menyebabkan LDL terdiferensiasi menjadi foam cells, fatty streaks,
lalu lama kelamaan menjadi lipid pools. Invasi makrofag dan limfosit pada lipid pools
menyebabkan apoptosis dan nekrosis sekunder pada foam cells dan otot polos vaskular
membentuk inti dari plak atherosklerosis (necrotic cores) yang dibungkus jaringan
kolagen tipe I yang selanjutnya disebut fibrous cap. Necrotic cores juga memiliki
neovaskularisasi. Lesi atherosklerosis dapat mengalami kalsifikasi jika terdapat deposit
kalsium berlebih.9
4
Gambar 2. Gambaran histopatologi pada fase pembentukan atherosklerosis9
Ruptur dipicu oleh stres emosional maupun fisik yang selanjutnya akan
meningkatkan aktivitas saraf simpatik yang berperan terhadap peningkatan frekuensi
denyut jantung serta tekanan darah. Aliran darah yang deras akan mengerosi dan
menyebabkan ruptur pada plak atherosklerosis. Partikel yang terkandung dalam
atherosklerosis akan terlepas ke plasma darah dan terpapar dengan faktor pembekuan
darah membentuk trombus. Proses iskemia terjadi ketika trombus menyumbat lumen
arteri koroner.10
5
Gambar 3. Alur pembentukan atherosklerosis dan terjadinya ruptur plak11
Infark miokard tidak selalu disebabkan oleh oklusi total pembuluh darah koroner.
Sumbatan subtotal yang disertai dengan vasokonstriksi juga dapat menyebabkan
terjadinya iskemia dan nekrosis jaringan otot jantung. Penyempitan arteri koronaria,
tanpa spasme maupun thrombus, dapat diakibatkan oleh regresi pembentukan plak atau
restenosis setelah dilakukan Primary Percutaneous Coronary Intervention (PCI).
Beberapa faktor ekstrinsik, seperti demam, anemia, tirotoksikosis, hipotensi, takikardia
dapat menjadi pencetus terjadinya SKA pada pasien yang telah mempunyai plak
aterosklerosis.12
6
Semua pasien dengan keluhan nyeri dada atau keluhan lain yang mengarah
kepada diagnosis STEMI harus menjalani pemeriksaan EKG 12 lead sesegera mungkin
sesampainya di ruang gawat darurat. Pemeriksaan EKG sebaiknya diulang setiap keluhan
nyeri dada timbul kembali. Pada pasien dengan kecurigaan klinis dari iskemia miokard
dan elevasi segmen ST, terapi reperfusi perlu dimulai secepat mungkin. Jika EKG samar-
samar atau tidak menunjukkan bukti yang mendukung kecurigaan klinis infark miokard,
EKG harus diulang dan, jika mungkin dibandingkan dengan rekaman sebelumnya.13
Penilaian elevasi ST dilakukan pada J point dan ditemukan pada 2 sadapan yang
bersebelahan. Nilai ambang elevasi segmen ST untuk diagnosis STEMI untuk laki-laki
dan perempuan pada sebagian besar sadapan adalah 0,1 mV. Nilai ambang untuk
diagnostik pada berbagai sadapan beragam, tergantung pada usia dan jenis kelamin
(Tabel 1). Namun, ukuran pada tabel 1 ini tidak berlaku jika tidak ada LBBB (Left
Bundle Branch Block) atau LVH (Left Ventricular Hypertrophy).3
7
8
Gambar 4. Evolusi EKG pada STEMI14
Evolusi EKG pada STEMI diawali dengan naiknya gelombang T pada fase
hiperakut. Kemudian, gelombang T turun dan terdapat ST elevasi. Setelah itu, mulai
terbentuk gelombang Q dan segmen ST semakin meninggi. Selanjutnya, terbentuk T
inverted beberapa hari setelahnya. Kemudian beberapa minggu kemudian, gelombang T
dan segmen ST menjadi normal, namun masih terdapat gelombang Q (biasanya terdapat
pada Old Miocard Infarct).14
9
Gambar 5. Waktu timbulnya berbagai jenis biomarka jantung12
10
1.5 Tatalaksana
1.5.1 Tatalaksana Awal
a. Tirah baring
b. Oksigen diindikasikan pada pasien dengan hipoksemia (SaO2 < 90% atau PaO2 <
60 mmHg)
c. Aspirin 160-320 mg diberikan segera
d. Penghambat reseptor adenosine difosfat (ADP)
e. Dosis awal ticagrelol 180 mg dengan dosis pemeliharaan 2x90 mg/hari atau
f. Dosis awal clopidogrel 300 mg dengan dosis pemeliharaan 75 mg/hari
g. Nitrogliserin (NTG) spray/tablet sublingual 1 tablet, dapat diulang setiap 5 menit
sampai maksimal 3 kali. Nitrogliserin intravena diberikan kepada pasien yan tidak
responsive dengan terapi 3 dosis NTG sublingual. Dalam keadaan tidak tersedia
NTG, isosorbid dinitrat dapat dipakai sebagai pengganti.
h. Morfin sulfat 1-5 mg intravena, dapat diulang setiap 10-30 menit, bagi pasien yang
tidak responsive dengan terapi 3 dosis NTG sublingual.
11
Gambar 6. Diagram pemilihan strategi reperfusi15
Di faskes dengan fasilitas non-PCI, bila terapi reperfusi yang diberikan adalah
primary PCI, target waktu antara KMP sampai wire melewati lesi di arteri penyebab
adalah ≤ 120 menit (atau < 110 menit dari diagnosis ditegakkan sampai wire melewati
lesi di arteri penyebab). Bila terapi reperfusi yang diberikan adalah fibrinolitik, target
waktu antara KMP sampai pemberian fibrinolitik adalah <30 menit (atau <20 menit dari
diagnosis ditegakkan sampai pemberian fibrinolitik). Di faskes dengan fasilitas PCI yang
memadai, target waktu antara KMP sampai wire melewati lesi di arteri penyebab adalah ≤
90 menit (atau <80 menit dari diagnosis ditegakkan sampai wire melewati lesi di arteri
penyebab).15
12
Gambar 7. Waktu optimal yang diperlukan dalam terapi reperfusi15
13
Tabel 4. Regimen fibrinolitik12
14
b) Nitrat
Keuntungan nitrat memberikan efek dilatasi pada vena yang
mengakibatkan berkurangnya preload dan volume akhir diastolic kiri
sehingga konsumsi oksigen miokardium berkurang. Efek lain dari nitrat
adalah dilatasi pembuluh coroner baik yang normal maupun yang
mengalami atherosclerosis.
15
2) Antiplatelet
Tabel 8. Pilihan obat dan dosis antiplatelet12
3) Antikoagulan
Tabel 9. Pilihan obat dan dosis antikoagulan12
16
5) Statin
Harus diberikan kepada semua penderita, termasuk mereka yang telah
menjalani terapi revaskularisasi, jika tidak terdapat kontraindikasi.
17
e. Mengontrol tekanan darah dengan target < 140/90 atau <130/80 mmHg pada
penderita diabetes
f. Mengontrol kadar lemak darah dengan target kadar LDL < 100 mmHg,
trigliserida < 150 mg/dl dan HDL > 40 mg/dl
18
BAB III
KESIMPULAN
Infark Miokard Akut (IMA) adalah kematian sel-sel miokardium akibat iskemi yang
berkepanjangan. Berdasarkan gambaran pemeriksaan EKG 12 sadapan, IMA dibagi menjadi dua
yaitu ST-elevation myocardial infarction (STEMI) dan non ST-elevation myocardial infarction
(NSTEMI). STEMI timbul akibat oklusi komplit dan berkepanjangan serta terdapat gambaran
elevasi pada segmen ST. STEMI lebih banyak terjadi pada usia muda daripada usia tua, serta
lebih banyak ditemukan pada laki-laki daripada wanita. Mortalitas pada pasien STEMI
dipengaruhi oleh banyak faktor.
Penyempitan lumen arteri koroner dapat mengganggu terpenuhinya perfusi untuk
miokardium. Trombosis yang disebabkan akibat ruptur plak atherosklerosis adalah penyebab
STEMI yang paling umum. Infark miokard tidak selalu disebabkan oleh oklusi total pembuluh
darah koroner. Sumbatan subtotal yang disertai dengan vasokonstriksi juga dapat menyebabkan
terjadinya iskemia dan nekrosis jaringan otot jantung.
Penegakan diagnosis STEMI dilakukan dengan anamnesis, pemeriksaan fisik, serta
beberapa pemeriksaan penunjang seperti EKG, biomarka jantung, pemeriksaan laboratorium dan
foto polos dada. Keluhan pasien dengan iskemia miokard dapat berupa nyeri dada yang tipikal
atau atipikal. Keluhan angina tipikal berupa rasa tertekan/berat pada daerah retrosternal, menjalar
ke lengan kiri, leher, rahang, area interscapular, bahu, atau epigastrium. Pemeriksaan fisik
dilakukan untuk mengidentifikasi faktor pencetus iskemia, komplikasi iskemia, penyakit
penyerta, dan menyingkirkan diagnosis banding. Pada pasien dengan kecurigaan klinis dari
iskemia miokard dan elevasi segmen ST, terapi reperfusi perlu dimulai secepat mungkin.
Terapi yang diberikan yaitu terapi awal, terapi reperfusi, terapi farmakologis, serta non
farmakologis. Tatalaksana awal dapat diberikan pada pasien dengan keluhan yang merujuk ke
STEMI, walaupun belum ada hasil pemeriksaan EKG maupun biomarka jantung. Dalam
menentukan terapi reperfusi, tahap pertama adalah menentukan ada tidaknya rumah sakit sekitar
yang memiliki fasilitas PCI. Bila tidak ada, langsung pilih terapi fibrinolitik. Terapi non
farmakologi ditujukan untuk mengontrol dan modifikasi faktor risiko yang dimiliki pasien.
19
DAFTAR PUSTAKA
20
12. PERKI. Pedoman Tata Laksana Sindrom Koroner Akut 2018. Perhimpun Dr Spes
Kardiovask Indones. Published online 2018:76.
13. Quinn T, Johnsen S, Gale CP, et al. Effects of prehospital 12-lead ECG on processes of
care and mortality in acute coronary syndrome : a linked cohort study from the Myocardial
Ischaemia National Audit Project. Published online 2014:944-950. doi:10.1136/heartjnl-
2013-304599
14. SK S. Acute STEMI Management – Mnemonic based approach [Internet]. Epomedicine;
2017 Oct 17 [cited 2020 Oct 13]. Available from: [Link]
medicine/acute-stemi-management-mnemonic-based-approach/. Published online 2017.
15. Germany GH, Germany AK, Lenzen MJ, Denmark EP, Vranckx P. 2017 ESC Guidelines
for the management of acute myocardial infarction in patients presenting with ST -
segment elevation The Task Force for the management of acute myocardial infarction.
Published online 2018:119-177. doi:10.1093/eurheartj/ehx393
21