PENERAPAN PENCEGAHAN PENCEMARAN LAUT OLEH
SAMPAH DI ATAS KAPAL SESUAI MARINE POLLUTION
73/78 ANNEX V
Disusun sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan
Program Pendidikan dan Pelatihan Pelaut Diploma III Pelayaran
HERU BAKTI NURCAHYO
NIT. [Link].41/N
AHLI NAUTIKA TINGKAT III
PROGRAM DIPLOMA III
POLITEKNIK PELAYARAN SURABAYA
TAHUN 2020
i
PENERAPAN PENCEGAHAN PENCEMARAN LAUT OLEH
SAMPAH DI ATAS KAPAL SESUAI MARINE POLLUTION
73/78 ANNEX V
Disusun sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan
Program Pendidikan dan Pelatihan Pelaut Diploma III Pelayaran
HERU BAKTI NURCAHYO
NIT. [Link].41/N
AHLI NAUTIKA TINGKAT III
PROGRAM DIPLOMA III
POLITEKNIK PELAYARAN SURABAYA
TAHUN 2020
ii
PERNYATAAN KEASLIAN
Yang bertanda tangan di bawah ini :
Nama : Heru Bakti Nurcahyo
Nomor Induk Taruna : [Link].41
Program Diklat : Ahli Nautika Tingkat III
Menyatakan bahwa KIT yang saya tulis dengan judul:
PENERAPAN PENCEGAHAN PENCEMARAN LAUT OLEH
SAMPAH DI ATAS KAPAL SESUAI MARINE POLLUTION 73/78
ANNEX V
Merupakan karya asli seluruh ide yang ada dalam KIT tersebut, kecuali
tema dan yang saya nyatakan sebagai kutipan, merupakan ide saya sendiri.
Jika pernyataan di atas terbukti tidak benar, maka saya sendiri menerima
sanksi yang di tetapkan oleh Politeknik Pelayaran Surabaya.
Surabaya, 02 Oktober 2020
Penulis
Heru Bakti Nurcahyo
NIT. 05 17 012 1 41
iii
PERSETUJUAN SEMINAR
KARYA ILMIAH TERAPAN
Judul : PENERAPAN PENCEGAHAN PENCEMARAN
LAUT OLEH SAMPAH DI ATAS KAPAL SESUAI
MARINE POLLUTION 73/78 ANNEX V
Nama Taruna : Heru Bakti Nurcahyo
NIT : [Link].41
Program Diklat : Ahli Nautika Tingkat III
Dengan ini dinyatakan telah memenuhi syarat untuk di seminarkan.
Surabaya, 29 September 2020
Menyetujui:
Pembimbing I Pembimbing II
Siti Fatimah, [Link].T.,[Link]. Dr. [Link], [Link].
Penata Tk.I (III/d) Pembina Tk.I (IV/b)
NIP. 19810317 200502 2 001 NIP. 19650601 199203 2 001
Mengetahui:
Ketua Jurusan Nautika
Daviq Wiratno, [Link].T.,M.T.,[Link]
Penata Tk.I (III/d)
NIP.19790107 200212 1 002
iv
PENGESAHAN
KARYA ILMIAH TERAPAN
PENERAPAN PENCEGAHAN PENCEMARAN LAUT OLEH SAMPAH
DI ATAS KAPAL SESUAI MARINE POLLUTION 73/78 ANNEX V
Disusun dan diajukan oleh:
HERU BAKTI NURCAHYO
NIT. [Link].41/N
Ahli Nautika Tingkat III (DIPLOMA - III)
Telah dipresentasikan di depan Panitia Ujian KIT
Politeknik Pelayaran Surabaya
Pada tanggal, 02 Oktober 2020
Menyetujui:
Penguji I Penguji II Penguji III
(Capt. Tri Mulyatno Budhi, [Link].T.,[Link]) (Siti Fatimah, [Link].T.,[Link]) (Dr. Ir .Karmini, [Link])
Penata (III/c) Penata Tk.I (III/d) Pembina Tk.I (IV/b)
NIP. 19751101 200912 1 002 NIP.198103172005022001 NIP.196506011992032001
Mengetahui:
Ketua Jurusan Nautika
Daviq Wiratno, [Link].T.,M.T.,[Link]
Penata Tk.I (III/d)
NIP.19790107 200212 1 002
v
KATA PENGANTAR
Dengan mengucap puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas
segala nikmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan proposal
penelitian ini. Adapun proposal penelitian ini disusun guna memenuhi
persyaratan untuk menyelesaikan Program Pendidikan DIPLOMA III
Pelayaran di Politeknik Pelayaran Surabaya dengan mengambil judul
”PENERAPAN PENCEGAHAN PENCEMARAN LAUT OLEH
SAMPAH DI ATAS KAPAL SESUAI MARINE POLLUTION 73/78
ANNEX V”
Penulis menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah
membantu serta memberikan arahan, bimbingan, petunjuk dalam segala hal
yang sangat berarti dan menunjang dalam penyelesaian proposal penelitian ini.
Perkenankanlah penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada:
1. Capt. Dian Wahdiana, M.M. selaku Direktur Politeknik Pelayaran
Surabaya
2. Bapak Daviq Wiratno, [Link].T.,M.T.,[Link] selaku Ketua Jurusan Nautika
3. Ibu Siti Fatimah, [Link].T.,[Link]. selaku Dosen Pembimbing I
4. Ibu [Link], [Link]. selaku Dosen Pembimbing II
5. Bapak dan Ibu tercinta yang telah memberikan semangat dan membiayai
seluruh biaya pendidikan selama ini dengan penuh keikhlasan dan kasih
sayang
6. Seluruh Civitas Akademika Politeknik Pelayaran Surabaya
vi
7. Seluruh Taruna/i POLTEKPEL Surabaya yang telah membantu dalam
memberikan semangat dalam penyelesaian proposal ini, khususnya
angkatan VIII
Semoga kelak penelitian ini dapat berguna bagi semua pihak,
khususnya bagi pengembangan pengetahuan taruna – taruni Politeknik
Pelayaran Surabaya, serta bermanfaat bagi dunia pelayaran pada umumnya.
Penulis menyadari bahwa penulisan Karya Ilmiah Terapan ini masih
jauh dari sempurna dan masih terdapat kekurangan dari segi isi maupun teknik
penulisan, maka penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat
membangun demi kesempurnaan penulisan ini.
Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih dan mohon maaf atas
segala kekurangan.
Surabaya, 02 Oktober 2020
Penulis
Heru Bakti Nurcahyo
NIT. 05 17 012 1 41
vii
ABSTRAK
HERU BAKTI NURCAHYO, Penerapan Pencegahan Pencemaran
Laut Oleh Sampah Di atas Kapal Sesuai Dengan Marpol 73/78 Annex V.
Dibimbing oleh Siti Fatimah, [Link].T.,[Link]., dan [Link], [Link].
Pencemaran laut adalah hasil buangan aktivitas mahluk hidup yang
masuk ke laut. Ada berbagai sumber bahan pencemar yang dapat merusak
laut dan dapat membunuh kehidupan yang ada di laut, salah satunya seperti
sampah makanan dan sampah-sampah lainnya yang bersumber dari kapal.
Oleh karena itu International Maritime Organization (IMO) mengeluarkan
peraturan tentang pencegahan pencemaran di laut untuk mencegah
pencemaran dari kapal atau disebut juga Marine Pollution (MARPOL) 73/78.
Adapun metode penelitian dalam penelitian ini adalah metode
kualitatif. Tujuan dari penelitian ini sebagai berikut: 1. Untuk mengetahui
tingkat pemahaman awak kapal terhadap aturan Marpol 73/78 Annex V. 2.
Untuk mengetahui tingkat penerapan pencegahan pencemaran laut dalam
aturan Marpol 73/78 Annex V. Sampel yang diambil di dalam penelitian ini
adalah 28 ABK di kapal MT Bull Sulawesi. Pengumpulan data dilakukan
dengan kuesioner disebarkan langsung ke ABK sebanyak 28 kuesioner,
wawancara, dokumentasi dan observasi.
Hasil penelitian dari penelitian ini adalah penerapan pencegahan
pencemaran laut oleh sampah sudah dilaksanakan. Namun aturan ini tidak
terlaksana secara sempurna dikarenakan rendahnya pendidikan ABK, dimana
75,2% ABK mengetahui dan 24,8%. yang tidak mengetahui tentang aturan
ini. Langkah-langkah yang dilakukan dalam upaya pencegahan pencemaran
laut di kapal MT Bull Sulawesi dilakukan dengan cara meminimalkan,
mengumpulkan, menyimpan, mengolah, membuang, dan mencatat setiap
aktivitas pembuangan sampah yang terjadi.
Kata kunci: pencemaran sampah di laut, MARPOL 73/78 Annex V
viii
ABSTRACT
HERU BAKTI NURCAHYO, Application of Pollution Prevention of
Sea by Garbage Above Ships in Accordance with Marpol Annex V.
Supervised by Siti Fatimah, [Link].T., [Link]., And [Link], [Link].
Marine pollution is the waste product of living things entering the sea.
There are various sources of pollutants that can damage the sea and can kill
life in the sea, one of which is food waste and other debris that comes from
ships. Therefore, the International Maritime Organization (IMO) issued a
regulation on preventing pollution at sea to prevent pollution from ships or
also known as Marine Pollution (MARPOL) 73/78.
The research method in this research is a qualitative method. The
purpose of this study are as follows: 1. To see the level of understanding of
the crew of the Marpol 73/78 Annex V. 2. This is to determine the level of
implementation of marine pollution prevention in the Marpol 73/78 Annex V.
The samples taken in this study were 28 crew members on the MT Bull
Sulawesi ship. Data collection was carried out by questionnaires distributed
directly to ABK as many as 28 questionnaires, interviews, documentation and
observation.
The result of this research is the implementation of prevention of
marine pollution by garbage has been implemented. However, this rule is not
implemented perfectly due to the low education of ABK, where 75.2% of ABK
know and 24.8%. who don't know about this rule. The steps taken to prevent
marine pollution on the MT Bull Sulawesi ship are carried out by minimizing,
collecting, storing, processing, disposing of, and recording any waste
disposal activities that occur.
Key word: marine garbage pollution, MARPOL 73/78 Annex V
ix
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ........................................................................................................... i
PERNYATAAN KEASLIAN............................................................................................. ii
PERSETUJUAN SEMINAR ............................................................................................. iii
PENGESAHAN PROPOSAL............................................................................................ iv
KATA PENGANTAR ........................................................................................................ v
ABSTRAK ........................................................................................................................ vii
ABSTRACT ....................................................................................................................... viii
DAFTAR ISI...................................................................................................................... ix
DAFTAR TABEL ............................................................................................................... x
DAFTAR GAMBAR ......................................................................................................... xi
BAB I PENDAHULUAN ............................................................................................ 1
A. LATAR BELAKANG ............................................................................... 1
B. RUMUSAN MASALAH .......................................................................... 4
C. BATASAN MASALAH ........................................................................... 4
D. TUJUAN PENELITIAN ........................................................................... 4
E. MANFAAT PENELITIAN ....................................................................... 5
BAB II KAJIAN PUSTAKA ......................................................................................... 6
A. REVIEW PENELITIAN SEBELUMNYA ............................................... 6
B. LANDASAN TEORI ................................................................................ 7
C. KERANGKA PENELITIAN .................................................................. 30
BAB III METODE PENELITIAN ................................................................................ 32
A. JENIS PENELITIAN .............................................................................. 32
B. LOKASI PENELITIAN .......................................................................... 32
C. JENIS DAN SUMBER DATA ............................................................... 32
D. PEMILIHAN INFORMAN ..................................................................... 33
E. TEKNIK ANALISIS DATA ................................................................... 34
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ............................................... 36
A. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN .................................... 36
C. PEMBAHASAN ..................................................................................... 47
BAB V PENUTUP ........................................................................................................ 62
A. KESIMPULAN ....................................................................................... 62
B. SARAN ................................................................................................... 63
LAMPIRAN KUISIONER ............................................................................................... 65
DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................................... 68
x
DAFTAR TABEL
Tabel 2. 1. Review Penelitian Sebelumnya ............................................................. 7
Tabel 4. 1. Data ABK MT. Bull Sulawesi
(Sumber: Hasil survey Penulis) ........................................................... 44
Tabel 4. 2. Opsi pembakaran sampah yang dihasilkan oleh kapal
(Sumber: SMS Manual Book ) ............................................................ 55
Tabel 4. 3. Opsi pemadatan sampah yang dihasilkan oleh kapal
(Sumber: SMS Manual Book ) ............................................................ 56
Tabel 4. 4. Opsi pembuangan sampah ke laut
(Sumber: SMS Manual Book ) ............................................................ 57
xi
DAFTAR GAMBAR
Gambar 4. 1. Kapal MT Bull Sulawesi saat docking ............................................ 37
Gambar 4. 2. Tempat sampah pada tiap - tiap cabin ABK ................................... 39
Gambar 4. 3. Tong sampah di atas kapal MT Bull Sulawesi ................................ 40
Gambar 4. 4. Incinerator di atas kapal MT Bull Sulawesi ................................... 41
Gambar 4. 5. Contoh Certificate for Garbage diatas kapal MT Bull Sulawesi .... 59
Gambar 4. 6. Contoh isi Garbage Record Book diatas kapal MT Bull Sulawesi . 60
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Negara indonesia merupakan negara kepulauan yang mempunyai
17.504 pulau dan mempunyai perairan yang luas juga memiliki berbagai
macam ragam flora dan fauna bahari yang begitu indah. Tetapi apakah kita
berpikir terkadang di laut, kita melihat sampah dimana-mana seperti
sampah jenis plastik termasuk tali sintetik, jala ikan sintetik, kantong
plastik. Pernahkah kita berpikir bahwa semua sampah yang kita buang di
laut pada saat berlayar akan menumpuk. Seperti yang sering kita dengar
tentang Great Pasific Garbage Patch. Itu adalah tempat dimana seluruh
arus laut dunia mengarah disana tepatnya antara Benua Asia dan Benua
Amerika, sehingga seluruh sampah yang kita buang di atas kapal dan di
buang ke laut akan menumpuk disana. Banyak penyu yang mati akibat
memakan plastik. Para peneliti menemukan banyak plastik di usus penyu-
penyu yang mati. Kurang dari 1 gram plastik saja yang tertelan oleh
penyu-penyu sudah dapat membuat mereka mati. Mengapa demikian?
Usus penyu tidak bisa mencerna makanan akibat usus tersebut telah
dipenuhi dengan plastik. Selain penyu, burung dan kura-kura juga mengira
plastik-plastik itu adalah makanan. Akibatnya sistem pencernaan mereka
terganggu, lambung mereka seakan terisi makanan penuh padahal
sebenarnya terisi plastik yang tidak bisa dicerna. Laut dan pantai yang
kotor akibat sampah plastik juga mengakibatkan penurunan jumlah
kunjungan wisatawan yang berkunjung ke pantai.
1
2
Ada sekitar delapan juta ton sampah plastik yang mengambang di
laut setiap tahunnya. Menurut Ocean Conservacy Report 2015, lebih dari
setengah jumlah tersebut berasal dari negara-negara di Asia seperti
Tiongkok, Indonesia, Filipina, Thailand dan Vietnam. Kelima negara ini
memang memiliki pertumbuhan ekonomi yang cukup cepat di Asia.
Membuat banyak plastik diproduksi, digunakan satu kali, lalu dibuang.
Sayangnya, ini tidak didukung dengan pengelolaan sampah yang baik.
Hasil riset Jenna Jambeck, seorang akademisi dan peneliti dari
Universitas Georgia, Amerika Serikat. Ia telah lama berkecimpung pada
isu manajemen pengelolaan sampah selama lebih dari 20 tahun dan
berpengalaman dalam melakukan penelitian sampah di lautan sejak tahun
2001. Penelitiannya mengenai sampah di lautan diakui secara global dan
menjadi bahan diskusi banyak organisasi, seperti U.S. Congress, G7, G20
dan United Nation Environment Program (UNEP). Hasil riset tentang
sampah plastik di lautan dipublikasikan pada 12 Februari 2015
menyebutkan bahwa Indonesia menyumbang sampah plastik di laut
terbanyak nomor dua di dunia. Pada saat itu, berat sampah plastik yang
disumbang mencapai 187,2 juta ton. Angka ini di bawah China dengan
volume sampah mencapai 262,9 juta ton. Besarnya jumlah sampah plastik
yang dibuang ke laut oleh China, menurut Dr Christ Wilcox, pakar ekologi
dari lembaga penelitian Australia CSIRO, disebabkan oleh berbagai faktor
akibat dari kombinasi besarnya populasi dan tingkat pembangunan di
negara tersebut.
3
Maka dari itu International Maritim Organitation (IMO) telah
berupaya menertibkan pencemaran yang terjadi dengan membuat aturan
mengenai pencemaran lingkungan yang biasa disebut Marine Pollution
(MARPOL). Apakah kita berpikir bahwa sampah seperti ini dapat merusak
habitat flora dan fauna di laut. Dan pastinya pun iya, sampah-sampah
seperti ini dapat mencemari lingkungan dan terkadang apakah awak kapal
mengerti tentang aturan pembuangan sampah, yang diolah dalam Marine
Pollution (MARPOL) yaitu Annex V yang diberlakukan pada 31 Desember
1988 yang berisikan tentang tata cara pembuangan sampah yang benar
seperti sampah makanan sejauh mungkin dari daratan tidak boleh kurang
dari 12 mil dan daerah-daerah khusus yang tidak memperbolehkan
siapapun dan jenis sampah apapun untuk dibuang. Daerah khusus yang
dimaksud dalam aturan ini adalah Laut Mediterania, Laut Baltik, Laut
Hitam, Laut Merah, Kawasan Teluk, Kawasan Antartika, dan Laut
Karibia Besar. Dalam aturan ini pula menyebutkan bahwa setiap kapal
dengan GRT 400 ton keatas dan dengan jumlah awak kapal diatas 15
orang atau lebih maka kapal tersebut harus dilengkapi dengan Garbage
Management Plan. Maka dari itu apakah semua kapal sudah mengetahui
dan sudah menjalani dari isi aturan tersebut agar dapat mengurangi
pencemaran laut. Karena hal-hal tersebut diatas penulis tertarik untuk
mengambil judul:
“PENERAPAN PENCEGAHAN PENCEMARAN LAUT
OLEH SAMPAH DIATAS KAPAL SESUAI MARINE POLLUTION
73/78 ANNEX V”
4
B. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang masalah yang diuraikan maka pokok
permasalahan yang dapat diambil sebagai berikut:
1. Bagaimana tingkat pemahaman awak kapal terhadap aturan MARINE
POLLUTION 73/78 Annex V tentang sampah yang disebabkan oleh
kapal ?
2. Bagaimana penerapan pencegahan pencemaran laut dalam aturan
MARINE POLLUTION 73/78 Annex V tentang sampah yang
disebabkan oleh kapal ?
C. BATASAN MASALAH
Agar masalah ini tidak meluas dari pokok permasalahan yang
sebenarnya maka peneliti mengambil batasan masalah yaitu terbatas pada
hal-hal yang berkaitan dengan pentingnya pemahaman dan penerapan
pencegahan pencemaran sampah dilaut pada awak kapal.
D. TUJUAN PENELITIAN
1. Untuk mengetahui tingkat pemahaman awak kapal terhadap aturan
MARINE POLLUTION 73/78 Annex V tentang sampah yang
disebabkan oleh kapal.
2. Untuk mengetahui tingkat penerapan pencegahan pencemaran laut
dalam aturan MARINE POLLUTION 73/78 Annex V tentang sampah
yang disebabkan oleh kapal.
5
E. MANFAAT PENELITIAN
1. Manfaat Teoritis
Hasil penelitian ini sebagai tambahan ilmu pengetahuan guna
meningkatkan wawasan dan kesadaran sekaligus sebagai sarana
pengembangan sebelumnya dan dikaitkan dengan permasalahan yang
ada. Khususnya tentang sampah.
2. Manfaat Praktis
Manfaat bagi dunia praktisi, untuk memberikan suatu
pemikiran kepada pembaca akan tingkat pemahaman awak kapal dan
penerapan terhadap aturan MARINE POLLUTION 73/78 Annex V
tentang sampah di atas kapal.
6
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. REVIEW PENELITIAN SEBELUMNYA
NO NAMA JUDUL KESIMPULAN
PENELITI PENELITIAN
1 Hendi Bayu Penanganan Upaya untuk mengurangi
Ardhi Sampah Di Atas pembuangan sampah di laut
Prasetiyo Kapal Dalam dapat ditangani dengan cara
(2017) Mencegah re-using, re-cycling dan
Pencemaran Di pemisahan sampah
Laut berdasarkan jenisnya.
Sampah yang telah di bagi
tersebut dibuang sesuai
aturan pembuangan
sampah.
2 Riky Renaldy Pentingnya Presentasi kru kapal yang
(2017)
Pemahaman awak memiliki pemahaman
Kapal Tentang tentang pentingnya
Zero Pollution pemahaman zero pollution
Guna 47,3 %, yang memiliki
Meningkatkan sedikit pemahaman zero
Kualitas pollution adalah 31,5 %
Lingkungan Di dan yang tidak memiliki
Atas Kapal pemahaman tentang zero
7
pollution adalah 21 %.
Tabel 2. 1. Review Penelitian Sebelumnya
Penelitian yang akan dilakukan dengan judul “Penerapan
Pencegahan Pencemaran Laut Oleh Sampah Di Atas Kapal Sesuai Marine
Pollution 73/78 Annex V” dikhususkan untuk meningkatkan pengetahuan
awak kapal akan pentingnya penerapan aturan Marpol 73/78 Annex V
tentang sampah dan meningkatkan kesadaran awak kapal tentang dampak
pembuangan sampah sembarangan di laut.
B. LANDASAN TEORI
1. Definisi Pencegahan
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2007), pencegahan
adalah proses, cara, tindakan mencegah atau tindakan menahan agar
sesuatu tidak terjadi. Dengan demikian, pencegahan merupakan
tindakan yang identik dengan perilaku.
Pengertian pencegahan secara umum adalah mengambil
tindakan terlebih dahulu sebelum kejadian. Dalam mengambil langkah–
langkah pencegahan, haruslah didasarkan pada data atau keterangan
yang bersumber dari hasil analisis epidemiologi atau hasil pengamatan
atau penelitian epidemiologi. (Nur Nasry, 2008)
Upaya preventif adalah sebuah usaha yang dilakukan individu
dalam mencegah terjadinya sesuatu yang tidak diinginkan. Preventif
8
secara etimologi berasal dari bahasa latin pravenire yang artinya datang
sebelum/antisipasi/mencegah untuk tidak terjadi sesuatu. Dalam
pengertian yang luas preventif diartikan sebagai upaya secara sengaja
dilakukan untuk mencegah terjadinya gangguan, kerusakan, atau
kerugian bagi seseorang. (Oktavia, 2013)
2. Teori Tentang Pencemaran Laut
a. Definisi Pencemaran Laut
Pencemaran lingkungan hidup menurut UU RI Nomor 23
tahun 1997 tentang pengelolaan lingkungan hidup adalah masuk atau
dimasukkannya mahluk hidup, zat, energi atau komponen lain ke
dalam air atau udara. Pencemaran juga bisa berarti berubahnya
tatanan (komposisi) air atau udara oleh kegiatan manusia dan proses
alam, sehingga kualitas air atau udara menjadi kurang atau tidak
dapat berfungsi lagi sesuai dengan peruntukkannya.
Laut adalah kumpulan air asin dalam jumlah yang banyak
dan luas yang menggenangi dan membagi daratan atas benua atau
pulau. Jadi laut adalah air yang menutupi permukaan tanah yang
sangat luas dan umumnya mengandung garam dan berasa asin.
Biasanya air yang ada di darat mengalir dan akan bermuara ke laut.
(Abdul Muthalib Tahar, 2007)
Pencemaran Laut menurut Peraturan Pemerintah No.19/1999
tentang Pengendalian Pencemaran dan/atau Perusakan Laut:
9
Pencemaran laut adalah masuknya atau dimasukkannya makhluk
hidup, zat, energi, dan/atau komponen lain ke dalam lingkungan laut
oleh kegiatan manusia sehingga kualitasnya turun sampai tingkat
tertentu yang menyebabkan lingkungan laut tidak sesuai lagi dengan
baku mutu dan/atau fungsinya.
b. Penyebab Pencemaran Laut
Secara umum penyebab pencemaran air laut diakibatkan oleh
bahan-bahan buangan seperti sampah. Pencemaran air laut dapat
menyebabkan terganggunya ekosistem laut, serta mengurangi
manfaat dan sumber daya laut.
Sampah menurut UU RI No 17 Tahun 2008 adalah sisa
kegiatan sehari-hari manusia atau proses alam yang berbentuk padat
atau semi padat berupa zat organik atau anorganik bersifat dapat
terurai atau tidak dapat terurai yang dianggap sudah tidak berguna
lagi dan dibuang ke lingkungan.
Sampah menurut buku MARPOL consolidated edition 2017
didefinisikan sebagai semua jenis makanan, limbah domestik dan
operasional, semua plastik, residu muatan, abu insinerator, minyak
goreng, alat pancing, dan bangkai hewan yang dihasilkan selama
operasi normal kapal dan dapat dibuang secara berkala kecuali zat-
zat yang didefinisikan atau dicantumkan dalam lampiran lain dari
Konvensi ini. Sampah tidak termasuk ikan segar dan bagian-
10
bagiannya yang dihasilkan selama perjalanan, atau sebagai hasil dari
kegiatan akuakultur yang melibatkan pengangkutan ikan termasuk
kerang untuk penempatan di fasilitas akuakultur dan pengangkutan
ikan yang dipanen termasuk kerang dari fasilitas tersebut ke pantai
untuk diproses.
Jenis-jenis sampah yang ada di sekitar kita cukup beraneka
ragam, ada yang berupa sampah rumah tangga, sampah industri,
sampah pasar, sampah rumah sakit, sampah pertanian, sampah
perkebunan, sampah peternakan, sampah institusi/kantor/sekolah,
dan sebagainya.
Menurut Panji Nugroho dalam buku panduan membuat
pupuk kompos cair (2013), berdasarkan sifatnya, sampah padat dapat
digolongkan menjadi 2 (dua) yaitu sebagai berikut:
1) Sampah organik adalah sampah yang dihasilkan dari bahan-
bahan hayati yang dapat di degradasi oleh mikroba atau bersifat
biodegradable. Sampah ini dengan mudah dapat diuraikan
melalui proses alami. Sampah rumah tangga sebagian besar
merupakan bahan organik. Termasuk sampah organik, misalnya
sampah dari dapur, sisa-sisa makanan, pembungkus (selain
kertas, karet dan plastik), tepung, sayuran, kulit buah, daun dan
ranting. Selain itu, pasar tradisional juga banyak
menyumbangkan sampah organik seperti sampah sayuran, buah-
buahan dan lain-lain.
11
2) Sampah anorganik adalah sampah yang dihasilkan dari bahan-
bahan non hayati, baik berupa produk sintetik maupun hasil
proses teknologi pengolahan bahan tambang. Sampah anorganik
dibedakan menjadi: sampah logam dan produk-produk
olahannya, sampah plastik, sampah kertas, sampah kaca dan
keramik, sampah detergen. Sebagian besar sampah anorganik
tidak dapat diurai oleh alam/ mikroorganisme secara
keseluruhan (unbiodegradable). Sementara, sebagian lainnya
hanya dapat diuraikan dalam waktu yang lama. Sampah jenis ini
pada tingkat rumah tangga misalnya botol plastik, botol gelas,
tas plastik, dan kaleng. Berdasarkan wujud atau bentuknya
dikenal tiga macam sampah atau limbah yaitu: limbah cair,
limbah padat, dan limbah gas. Contoh limbah cair yaitu air
cucian, air sabun, minyak goreng sisa, dll. Contoh limbah padat
yaitu bungkus snack, ban bekas, botol air minum, dll. Contoh
limbah gas yaitu karbon dioksida (CO2), karbon monoksida
(CO), HCl, NO2, SO2, dll.
c. Dampak Pencemaran Laut
Sampah plastik merupakan masalah bagi banyak Negara
karena sifat material plastik yang tahan lama, ditambah lagi sifat
lainnya yaitu ringan sehingga mudah mengapung menyebabkan
dampak sampah plastik yang umum diketahui masyarakat ialah
efeknya dari segi estetika. Apabila kita berjalan-jalan ditepi pantai,
12
betapa tidak nyamannya jika memandang sampah yang berserakan.
Tidak hanya itu, sampah-sampah plastik biasanya juga bercampur
dengan material-material sampah rumah tangga sehingga baunya
tidak nyaman. Selain dampak sampah plastik dari segi estetika
seperti di paparkan diatas, tidak banyak orang menyadari bahwa
sampah plastik menimbulkan berbagai macam permasalahan di
pesisir dan lautan. Juga tidak semua orang menyadari bahwa sampah
plastik yang dibuang di jalan atau tanah suatu saat dapat sampai
kelaut baik melalui saluran-saluran got ataupun langsung kelaut
sebagai akibat siraman hujan atau tiupan angin.
Salah satu dampak yang merugikan dari sampah-sampah
plastik yang berada di laut ialah pada kegiatan perkapalan. Sampah
plastik tersebut dapat tersangkut atau terlilit pada baling-baling kapal
laut dengan demikian dapat membahayakan tangkai kemudi. Selain
itu sampah-sampah plastik yang tersangkut dapat pula menyebabkan
proses pengambilan air laut ke kapal (water sea in take) dan
evaporator menjadi terlambat. Hal-hal tersebut tentu saja berdampak
pada beralihnya dan untuk perbaikan kapal, waktu produktif yang
berkurang dan akibatnya mengurangi pendapatan nelayan, dsb.
Sampah plastik butuh waktu ratusan tahun sebelum terurai
sempurna. Dalam prosesnya sampah hancur menjadi partikel-partikel
kecil, menyebar di seantero perairan dan tanpa sadar dikonsumsi
oleh hewan-hewan di lautan. Sampah-sampah itu terus membunuh
13
makhluk hidup di lautan. Berdasarkan penelitian yang diterbitkan
Sekretariat Konvensi tentang Keanekaragaman Hayati (United
Nations Convention On Biological Diversity) pada Tahun 2016,
sampah di lautan telah membahayakan lebih dari 800 spesies. Dari
800 spesies itu, 40% adalah mamalia laut dan 44% lainnya adalah
spesies burung laut. Data itu kemudian diperbarui pada Konferensi
Laut PBB di New York pada Tahun 2017. Konferensi menyebutkan
bahwa limbah plastik di lautan telah membunuh 1 juta burung laut,
100 ribu mamalia laut, kura-kura laut, dan ikan-ikan dalam jumlah
besar tiap tahun.
Penyelam juga dapat terkena resiko apabila gagal melepaskan
lilitan jaring plastik dibawah air. Masalah ini bahkan dapat
menyebabkan kematian mengingat oksigen yang dibawa penyelam
terbatas. Jaring-jaring plastik dapat juga menjadi perangkap bagi
organisme-organisme laut dan karena sifat plastik yang tidak dapat
dihancurkan oleh organisme sehingga kejadian tersebut dapat
berlangsung bertahun-tahun. Inilah yang disebut ghost-fishing.
Jaring-jaring tersebut dapat merangkap organisme saat terapung
dipermukaan, ketika tersangkut di dasar, atau saat hanyut di air.
Plester plastik, tali plastik dan semacamnya yang terapung di
laut dapat melilit mamalia laut atau ikan yang kemudian menjadi
semakin mengetat seiring dengan pertumbuhan hewan yang terjerat
tersebut sehingga menghambat pernafasan dan membatasi
14
kemampuan bergeraknya. Jeratan plaster atau tali plastik ini juga jadi
ancaman bagi burung laut. Seperti halnya jaring, plester, tali plastik
atau sejenisnya juga banyak dilaporkan dalam kasus terjeratnya
hewan-hewan.
Matinya penyu, mamalia laut dan burung-burung laut juga
ditemukan sebagai akibat menelan material-material plastik. Jumlah
partikel plastik yang meningkat dan sebarannya yang meluas di
lautan telah banyak mengundang perhatian dunia, dan meskipun
sifatnya lambat tapi jika material ini ditelan oleh organisme laut
dapat berdampak pada berkurangnya kadar nutrisi dari makanan
yang di konsumsi oleh organisme laut. Hal ini dapat mengakibatkan
pertumbuhan hewan menjadi terhambat dan bahkan dapat
menyebabkan kematian organisme laut. Selain itu, bahan-bahan
beracun yang terdapat pada sampah plastik dapat menyebabkan
kematian atau gangguan reproduksi pada ikan, kerang dan organisme
laut lain yang berada pada habitat (lingkungan) tersebut.
Masalah sampah dipantai juga dapat berdampak negatif
terhadap pertambakan. Di beberapa bagian pesisir Teluk Jakarta
yang tak terlindungi oleh mangrove, pada musim tertentu petani
tambak tidak dapat mengolah tambaknya akibat masuknya sampah
hingga memenuhi area pertambakan utamanya saat arus pasang dan
kemudian bertumpuk saat surut. Hal seperti ini, bukannya tak
mungkin dapat terjadi di masa mendatang di pesisir Makassar dan
15
sekitarnya jika permasalahan sampah tidak di tangani dengan
bijaksana.
3. Pemahaman Tentang MARPOL 73/78
Bicara tentang pencemaran di laut, hal yang sangat berhubungan
dekat sekali dengan pelaut di keseharianya. Kelalaian hingga
menyebabkan terjadinya pencemaran sampah di laut, dampaknya sangat
luar biasa sekali. Bukan hanya lingkungan biota laut yang teracam,
pelakunya bisa berhubungan dengan hukum. Maka dari itu hindari
kesalahan gunakanlah manajemen yang baik di atas kapal. Pencatatan
Garbage Record Book yang terbaru dan juga Garbage Management
Plan yang terkontrol. Banyak pelaut terkadang menganggap remeh
akan hal ini. Tetapi manusia terkadang belum sadar jika sudah dapat
musibah penyesalan datang belakangan. Untuk menghindari hal
tersebut, maka perlu dipahami apa yang di maksud MARPOL 73/78 itu.
a. Sejarah Konvensi MARPOL 73/78
Sejak peluncuran kapal pengangkut minyak yang pertama
GLUCKAUF pada tahun 1885 dan penggunaan pertama mesin diesel
sebagai penggerak utama kapal tiga tahun kemudian, maka
fenomena pencemaran laut oleh minyak mulai muncul.
Baru pada tahun 1954 atas prakarsa dan pengorganisasian
yang dilakukan oleh Pemerintah Inggris (UK), lahirlah “Oil
Pullution Convention”, yang mencari cara untuk mencegah
16
pembuangan campuran minyak dan pengoperasian kapal tanker dan
dari kamar mesin kapal lainnya.
Hasilnya adalah sidang IMO mengenai “International
Conference on Marine Pollution” dari tanggal 8 Oktober sampai
dengan 2 Nopember 1973 yang menghasilkan “international
Convention for the Prevention of Oil Pollution from Ships” tahun
1973, yang kemudian disempurnakan dengan TSPP (Tanker Safety
and Pollution Prevention) Protocol of 1978 dan konvensi ini dikenal
dengan nama MARPOL 1973/1978 yang masih berlaku sampai
sekarang.
b. Isi Peraturan MARPOL 73/78
Peraturan mengenai pencegahan berbagai jenis sumber bahan
pencemaran lingkungan maritim yang datangnya dari kapal dan
bangunan lepas pantai diatur dalam MARPOL Convention 73/78
Consolidated Edition 2017 yang memuat peraturan:
1. International Convention for the Prevention of Pollution from
Ships 1973. Peraturan-peraturan mengenai kewajiban dan
tanggung jawab negara-negara anggota yang sudah meratifikasi
konvensi tersebut guna mencegah pencemaran dan buangan
barang-barang atau campuran cairan beracun dan berbahaya dari
kapal. Konvensi-konvensi IMO yang sudah diratifikasi oleh
negara anggotanya seperti Indonesia, memasukkan isi konvensi-
konvensi tersebut menjadi bagian dari peraturan dan perundang-
undangan Nasional.
17
2. Protocol I. Peraturan-peraturan mengenai kewajiban semua
pihak untuk melaporkan kecelakaan kapal yang melibatkan
barang-barang beracun dan berbahaya. Pemerintah Negara
anggota diminta untuk membuat petunjuk untuk membuat
laporan, yang diperlukan sedapat mungkin sesuai dengan
petunjuk yang dimuat dalam Protocol I. Sesuai Artikel III
“Contents of report” laporan tersebut harus memuat keterangan :
1) Identitas kapal yang terlibat.
2) Waktu, tempat dan jenis kejadian.
3) Jumlah dan jenis bahan pencemar yang tumpah.
4) Bantuan dan jenis penyelamatan yang dibutuhkan.
Nahkoda atau perorangan bertanggung jawab terhadap
insiden yang terjadi pada kapal wajib untuk segera melaporkan
tumpahan atau buangan barang atau campuran cairan beracun
dan berbahaya dari kapal karena kecelakaan atau untuk
kepentingan menyelamatkan jiwa manusia sesuai petunjuk
dalam Protocol yang dimaksud.
3. Protocol II. Peraturan-peraturan mengenai Arbitrasi berdasarkan
Artikel 10 ”setlement of dispute”. Dalam Protocol II diberikan
petunjuk menyelesaikan perselisihan antara dua atau lebih
Negara anggota mengenai interprestasi atau pelaksanaan isi
konvensi. Apabila perundingan antara pihak-pihak yang
berselisih tidak berhasil menyelesaikan masalah tersebut, salah
satu dari mereka dapat mengajukan masalah tersebut ke
18
Arbitrasi dan diselesaikan berdasarkan petunjuk dalam Protocol
II konvensi ini.
4. Protocol of 1978 relating to the International Convention for the
Prevention of Pollution from Ships 1973. Merupakan peraturan
tambahan “Tanker Safety and Pollution Prevention (TSPP)”
yang bertujuan untuk meningkatkan keselamatan kapal tanker
dan melaksanakan peraturan pencegahan dan pengontrolan
pencemaran laut yang berasal dari kapal terutama kapal tanker
dengan melakukan modifikasi dan petunjuk tambahan untuk
melaksanakan secepat mungkin peraturan pencegahan
pencemaran yang dimuat di dalam Annex 1 aturan ini.
5. Protocol of 1997 to amend the International Convention for the
Prevention of Pollution from Ships 1973 as modified by the
Protocol of 1978 relating thereto. Merupakan peraturan
tambahan yang bertujuan untuk meningkatkan keselamatan dan
melaksanakan peraturan pencegahan dan pengontrolan
pencemaran udara yang berasal dari kapal dengan melakukan
modifikasi dan petunjuk tambahan untuk melaksanakan secepat
mungkin peraturan pencegahan pencemaran yang dimuat di
dalam Annex VI aturan MARPOL 73/78.
6. Peraturan mengenai pencegahan dan penanggulangan
pencemaran laut oleh berbagai jenis bahan pencemar dari kapal
menurut buku MARPOL Convention 73/78 Consolidated Edition
2017 dibahas dalam Annex I s/d VI sebagai berikut:
19
a. Annex 1: Peraturan – peraturan untuk Pencegahan
Pencemaran oleh Minyak (Regulations for the Prevention of
Pollution by Oil); diberlakukan pada tanggal 2 Oktober
1983.
b. Annex 2: Peraturan – peraturan untuk Pencegahan
Pencemaran oleh Substansi – substansi Cair Beracun dalam
jumlah besar (Regulations for the Control of Pollution by
Noxoius Liquid Substances in Bulk); diberlakukan pada
tanggal 6 April 1987.
c. Annex 3: Peraturan - peraturan untuk Pencegahan
Pencemaran oleh Substansi – substansi Berbahaya yang
diangkut melalui laut dalam Bentuk Kemasan (Regulations
for the Prevention of Pollution by Harmful Substances
Carried by Sea in Packaged Form); diberlakukan pada
tanggal 1 Juli 1992.
d. Annex 4: Peraturan – peraturan untuk Pencegahan
Pencemaran oleh Kotoran dari Kapal - kapal (Regulations
for the Prevention of Pollution by Sewage from Ships);
diberlakukan pada tanggal 27 September 2003.
e. Annex 5: Peraturan – peraturan untuk Pencegahan
Pencemaran oleh Sampah dari Kapal - kapal (Regulations
for the Prevention of Pollution by Garbage from Ships);
diberlakukan pada tanggal 31 Desember 1988.
20
f. Annex 6: Peraturan – peraturan untuk Pencegahan
Pencemaran Udara dari Kapal – kapal (Regulations for the
Prevention of Air Pollution from Ship); diberlakukan pada
tanggal 19 Mei 2005.
4. Pemahaman Tentang MARPOL 73/78 Annex V
Peraturan tentang pencegahan pencemaran yang diakibatkan oleh
sampah dari kapal menurut buku MARPOL Convention 73/78
Consolidated Edition 2017 penulis uraikan sebagai berikut:
1. Definisi
a) “Sampah” didefinisikan sebagai semua jenis makanan, limbah
domestik dan operasional, semua plastik, residu muatan, abu
insinerator, minyak goreng, alat pancing, dan bangkai hewan
yang dihasilkan selama operasi normal kapal dan dapat
dibuang secara berkala kecuali zat-zat yang didefinisikan atau
dicantumkan dalam lampiran lain dari Konvensi ini. Sampah
tidak termasuk ikan segar dan bagian-bagiannya yang
dihasilkan selama perjalanan, atau sebagai hasil dari kegiatan
akuakultur yang melibatkan pengangkutan ikan termasuk
kerang untuk penempatan di fasilitas akuakultur dan
pengangkutan ikan yang dipanen termasuk kerang dari fasilitas
tersebut ke pantai untuk diproses.
b) “Daratan Terdekat”. Istilah dari “daratan terdekat" adalah dari
garis batas dimana laut teritorial dari wilayah yang ditetapkan
21
sesuai dengan hukum Internasional kecuali, untuk maksud
Konvensi ini "daratan terdekat" dari pantai timur laut Australia
wajib berarti dari suatu garis yang ditarik dari suatu titik pada
pantai Australia di:
11 °00' Lintang Selatan (LS), 142°08' Bujur Timur (BT),
ke titik 10°35' LS, 141 °55' BT,
selanjutnya menuju ke titik 10°00' LS, 142°00' BT,
selanjutnya menuju ke titik 9°10' LS, 143 °52' BT,
selanjutnya menuju ke titik 9°00' LS, 144°30' BT,
selanjutnya menuju ke titik 10°41' LS, 145°00' BT,
selanjutnya menuju ke titik 13°00' LS, 145°00' BT,
selanjutnya menuju ke titik 15°00' LS, 146°00' BT,
selanjutnya menuju ke titik 17°30' LS, 147°00' BT,
selanjutnya menuju ke titik 21 °00' LS, 152°55' BT,
selanjutnya menuju ke titik 24°30' LS, 154°00' BT,
selanjutnya menuju ke titik 24°42' LS, 153°15' BT di pantai
Australia.
c) “Kawasan Khusus” adalah suatu kawasan laut yang
berdasarkan alasan teknis yang diakui untuk kondisi
oseanografi dan ekologisnya dan sifat-sifat khusus dari
lalulintasnya pelaksanaan metode-metode khusus yang
diwajibkan untuk pencegahan pencemaran laut yang
diakibatkan oleh sampah sebagaimana dipersyaratkan.
22
Kawasan-kawasan khusus wajib meliputi wilayah
sebagaimana tercantum dalam peraturan 5 lampiran ini.
2. Pemberlakuan
Ketentuan-ketentuan di dalam lampiran ini wajib berlaku bagi
semua kapal.
3. Larangan Umum Pembuangan Sampah ke Laut
a) Membuang semua sampah ke laut dilarang, kecuali
sebagaimana ditentukan dalam peraturan 4,5,6 dan 7 aturan ini
dan bagian 5.2 bagian II-A dari kode kutub.
b) Pembuangan ke laut semua plastik, tidak terbatas pada tali
sintetis, jaring ikan sintetis, kantong sampah plastik dan abu
insinerator dari produk plastik dilarang, kecuali sebagaimana
ditentukan dalam peraturan 7 lampiran ini.
c) Pembuangan minyak goreng ke laut dilarang, kecuali
sebagaimana ditentukan dalam peraturan 7 lampiran ini.
4. Pembuangan Sampah di Luar Kawasan Khusus (Outside Special
Area)
Tunduk pada ketentuan-ketentuan peraturan 4, 5 dan 6 dari
Lampiran ini. Pembuangan sampah di luar daerah khusus hanya
diizinkan saat kapal sedang dalam perjalanan dan sejauh mungkin
dari pulau terdekat tidak kurang dari:
a) 25 mil laut untuk dunnage, lining, dan material yang dapat
mengapung.
23
b) 12 mil laut untuk sisa makanan dan semua sampah termasuk
produk kertas, kain, kaca, logam, botol-botol dan barang
peralatan dapur dan sampah sejenis yang tidak terpakai.
c) 3 mil laut untuk pembuangan sampah makanan dan sampah
lainnya termasuk kertas, majun, kaca, logam, botol, dan
barang-barang tembikar dapat dilakukan dengan sarat sudah
dicampur dan dihancurkan dangan lebar tidak boleh lebih 25
mm dan sejauh mungkin dari daratan. Apabila sampah
bercampur dengan buangan lainnya yang memiliki persyaratan
pembuangan lebih ketat yang wajib berlaku.
5. Persyaratan Khusus untuk Pembuangan Sampah
a) Dilarang membuang setiap bahan/materi dari platform tetap
atau yang mengapung yang melakukan eksplorasi, dan
kegiatan eksplorasi sumber mineral dilaut dan didasar laut dan
dari semua kapal-kapal pada waktu sandar atau berada
disekitar 500 m dari platform.
b) Pembuangan sampah-sampah makanan setelah dicampurkan
dan dihancurkan dari rig/platform tetap atau yang mengapung
dengan lokasi tidak boleh kurang dari 12 mil dan semua kapal-
kapal yang sandar atau berada disekitar 500 m dari
platform/rig dengan lebar tidak boleh lebih dari 25 mm.
24
6. Pembuangan Sampah di Kawasan-Kawasan Khusus (Special Area)
Daerah khusus berarti area laut untuk alasan teknis yang diakui
sehubungan dengan kondisi oseanografi dan ekologisnya dan
dengan karakter khusus lalu lintasnya, diperlukan penerapan
metode wajib khusus untuk pencegahan polusi laut oleh sampah.
Daerah khusus yang dimaksud dalam aturan ini adalah Laut
Mediterania, Laut Baltik, Laut Hitam, Laut Merah, Kawasan
Teluk, Kawasan Antartika, dan Laut Karibia Besar yang ditentukan
sebagai berikut:
a) Kawasan Laut Mediterania adalah kawasan Laut Mediterania
termasuk teluk dan laut di sekitarnya dengan batas-batas antara
Laut Mediterania dan Laut Hitam, berada pada paralel 41°
Lintang Utara (LU) dan dibatasi ke sebelah barat dengan Selat
Gibraltar pada 5°36' Bujur Barat (BB).
b) Kawasan Laut Baltik adalah kawasan Laut Baltik termasuk
Teluk Bothnia dan Teluk Finlandia serta jalur masuk ke Laut
Baltik dibatasi pada garis lintang sejajar Skaw di Skagerrak
pada 57°44.8' LU.
c) Kawasan Laut Hitam adalah kawasan Laut Hitam yang
berbatasan antara Laut Mediterania dan Laut Hitam yang
tertetak pada garis lintang sejajar pada 41° LU.
d) Kawasan Laut Merah adalah kawasan Laut Merah termasuk
Teluk Suez dan Aqaba dibatasi di sebelah selatan pada garis
25
lurus antara Ras si Ane (12°28.5' LU, 43°19.6' Bujur Timur
(BT)) dan Husn Murad (12°40.4' LU, 43°30.2 BT).
e) Kawasan Teluk adalah kawasan laut yang berlokasi di barat
laut loksodrom dari garis lurus antara Ras al Hadd (22°30' LU,
59°48' BT) dan Ras at Fasteh (25°04'LU ,61°25’ BT).
f) Kawasan Laut Utara adalah kawasan Laut Utara termasuk
kawasan laut di sekitarnya dengan batasan antara:
1. Laut Utara ke arah selatan dari garis 62° LU dan ke arah
timur dari garis 4° Bujur Barat (BB).
2. Kawasan Skagerrak ke arah selatan hingga batas sebelah
timur kawasan Skaw pada garis 57°44.8' LU; dan
3. Kawasan Selat Inggris dan jalur pendekatan dari arah timur
dengan pada garis 5° BB dan dari arah utara pada garis
48°30' LU.
g) Kawasan Antartika adalah kawasan laut pada garis 60° Lintang
Selatan (LS).
h) Kawasan Karibia Besar sebagaimana ditentukan dalam pasal 2,
ayat 1 dari Konvensi tentang Perlindungan dan Pembangunan
Lingkungan Laut Kawasan Karibia Besar (Cartagena de Indias,
1983), berarti lingkungan Teluk Meksiko dan Laut Karibia
termasuk pantai dan laut di dalamnya serta sebagian Samudera
Atlantik dalam batas garis 30° LU membentang dari Florida ke
arah timur hingga garis 77°30' BB, menuju titik perpotongan
antara garis 20° LU dengan garis 59° BB, selanjutnya menuju
26
titik perpotongan antara garis 7°20' LU dengan garis 50° BB,
yang berlanjut ke arah barat laut yang merupakan perbatasan
sebelah timur dari Guyana Perancis.
Tunduk pada ketentuan-ketentuan peraturan 6 dari Lampiran
ini. Pembuangan sampah di daerah khusus hanya diizinkan saat
kapal sedang dalam perjalanan dengan ketentuan sebagai berikut:
1. Dilarang membuang sampah ke laut semua jenis plastik
termasuk tali manila, jaring-jaring ikan sintetik, kantong
sampah plastik dan abu produk plastik yang mana mengandung
racun atau sisa/residu logam dan semua sampah lainnya
termasuk produk kertas, karpet, kaca, logam, botol, barang-
barang rumah tangga, pengganjal, penguat dan bahan-bahan
pembungkus.
2. Membuang sampah makanan di Laut Karibia harus dicampur
dan dihancurkan dulu dengan lebar tidak boleh dari 25 mm dan
jarak dari pantai tidak boleh kurang dari 3 mil.
7. Pengecualian
Peraturan 3. 4 dan 5 dari Lampiran ini wajib tidak berlaku
untuk:
a) Pembuangan sampah dari suatu kapal yang diperlukan untuk
maksud mengamankan keselamatan suatu kapal dan orang-
orang yang ada di atasnya atau penyelamatan jiwa di laut; atau
27
b) Sampah yang terbuang ke laut sebagai akibat dari kerusakan
suatu kapal atau perlengkapannya dengan syarat bahwa semua
upaya pencegahan yang wajar teIah dilakuan sebelum dan
sesudah terjadinya kerusakan, dengan maksud mencegah atau
meminimalisasi terjadinya terbuangnya sampah tersebut; atau
c) Hilangnya jaring sintetis penangkap ikan secara tidak sengaja,
dengan syarat bahwa semua upaya pencegahan telah dilakukan
untuk mencegah kehilangan dimaksud.
8. Fasilitas Penampungan
a) Pemerintah dari setiap Pihak pada Konvensi wajib memastikan
ketentuan mengenai fasiIitas penampungan sampah di
pelabuhan dan terminal, tanpa menyebabkan keterlambatan
kapal, sesuai dengan kebutuhan kapal-kapal yang
menggunakannya.
b) Pemerintah dari setiap Pihak wajib memberitahukan kepada
Organisasi untuk menyampaikan kepada Para Pihak yang
bersangkutan mengenai semua hal dimana fasiitas-fasilitas
tersebut disediakan berdasarkan peraturan ini diduga tidak
memadai.
9. Pengawasan Negara Pelabuhan terhadap Persyaratan Operasional
a) Suatu kapal pada saat berada di suatu pelabuhan di Pihak
lainnya, tunduk pada pemeriksaan para petugas yang diberi
kewenangan oleh Pihak tersebut berkenaan dengan
persyaratan-persyaratan operasional berdasarkan Lampiran ini,
28
apabila terdapat alasan-alasan kuat yang meyakinkan bahwa
nakhoda atau awak kapal tidak terbiasa dengan prosedur-
prosedur utama di atas kapal berkaitan dengan pencegahan
pencemaran yang diakibatkan oleh sampah.
b) Berdasarkan kekhususan sebagaimana diatur pada ayat (1)
peraturan ini, Para Pihak wajib mengambil langkah-langkah
dimaksud yang akan memastikan bahwa kapal tersebut wajib
tidak akan berlayar sampai situasi memenuhi ketentuan sesuai
dengan persyaratan-persyaratan Lampiran ini.
c) Prosedur-prosedur yang terkait dengan pengawasan Negara
pelabuhan sebagaimana diatur dalam Pasal 5 dari Konvensi ini
berlaku wajib untuk peraturan ini.
d) Tidak satupun dalam peraturan ini wajib diartikan untuk
membatasi hak dan kewajiban suatu Pihak yang melakukan
pengawasan atas pelaksanaan persyaratan-persyaratan
operasional yang secara khusus diatur dalam Konvensi ini.
10. Placard, Garbage Management Plan, dan Garbage Record Book
Garbage Management Plan adalah pedoman lengkap yang
terdiri dari prosedur tertulis untuk mengumpulkan, menyimpan,
mengolah, dan membuang sampah yang dihasilkan di atas kapal
sesuai dengan peraturan yang tercantum dalam MARPOL Annex V.
Pelatihan harus diberikan kepada staf kapal untuk pembuangan
sampah yang benar di atas kapal dan untuk pengetahuan tentang
peraturan pembuangan sampah di laut dan di area khusus.
29
Setiap kapal berisi 100 GT ke atas, dan setiap kapal
bersertifikat membawa 15 orang atau lebih, dan platform tetap atau
yang mengapung harus membawa Garbage Management Plan.
Garbage Management Plan harus menyediakan prosedur tertulis
untuk meminimalkan, mengumpulkan, menyimpan, memproses
dan membuang sampah yang dihasilkan kapal, termasuk
penggunaan peralatan di kapal. Dalam hal ini harus menunjuk
orang yang bertugas melaksanakan rencana tersebut. Rencana
tersebut harus sesuai dengan pedoman yang dikembangkan oleh
Organisasi dan ditulis dalam bahasa kerja kru.
Setiap kapal berisi lebih dari 400 GT dan setiap kapal
bersertifikat untuk membawa 15 orang atau lebih yang terlibat
dalam perjalanan ke pelabuhan atau terminal lepas pantai di bawah
yurisdiksi pihak lain ke Marpol dan setiap platform tetap atau yang
mengapung harus membawa Garbage Record Book, baik sebagai
bagian dari buku log resmi kapal atau jika tidak harus dalam bentuk
yang ditentukan dalam lampiran ini:
a. Setiap pembuangan ke laut, pada fasilitas penerimaan atau
pembakaran, harus segera dicatat dalam Garbage Record Book
dan ditandatangani tanggal pembuangan atau pembakaran oleh
petugas. Setiap halaman Garbage Record Book yang telah diisi
harus ditandatangani oleh Master Kapal. Entri dalam Garbage
Record Book setidaknya dalam bahasa Inggris, Prancis, atau
Spanyol. Di mana entri juga dibuat dalam bahasa resmi Negara
30
bendera, entri ini berlaku jika terjadi perselisihan atau
perbedaan.
b. Entri untuk setiap pembuangan atau pembakaran harus
mencakup tanggal dan waktu, posisi kapal, kategori sampah
dan jumlah perkiraan habis atau dibakar.
c. Garbage Record Book harus disimpan di kapal atau platform
mengambang, dan di tempat yang tersedia untuk inspeksi
setiap saat. Dokumen ini akan disimpan untuk jangka waktu
dua tahun sejak tanggal entri terakhir dibuat di dalamnya.
d. Dalam hal terjadi pemecatan atau kerugian karena kecelakaan
harus dibuat di Garbage Record Book, atau di kasus kapal
yang kurang dari 400 tonase kotor, suatu entri harus dibuat di
buku catatan resmi kapal, tentang lokasi, keadaan, dan alasan
pembuangan atau kehilangan, detail barang yang habis atau
hilang dan tindakan pencegahan yang wajar dilakukan untuk
mencegah atau meminimalkannya pemecatan atau kerugian
karena kecelakaan.
C. KERANGKA PENELITIAN
Berdasarkan pada landasan teori, bahwa pencegahan pencemaran
di laut sesuai dengan MARPOL 73/78 perlu dipelajari dan dipahami agar
pencemaran di laut oleh sampah di atas kapal dapat dicegah. Apabila
kapal–kapal tersebut mengimplementasikan MARPOL 73/78 tentu
berdampak positif terhadap lingkungan/ekosistem di laut, sebaliknya akan
berdampak negatif jika tidak diimplementasikan. Dalam hal ini yang
31
menjadi sasaran dalam penelitian ini adalah para perwira dan awak kapal
MT Bull Sulawesi. Berikut penulis sajikan kerangka pemikiran yang
penulis paparkan dalam bentuk bagan:
Masih banyak ditemukannya sampah di laut.
Kurangnya tingkat pemahaman Kurang tegasnya Perwira kapal
awak kapal terhadap aturan dalam menindaklanjuti ABK
Marine Pollution 73/78 Annex V yang melanggar aturan ini.
Hilangnya keindahan laut karena tercemar oleh sampah
dan banyak hewan serta biota laut yang mati karena
memakan sampah plastik.
Pengumpulan data kepada awak kapal terkait
pemahaman terhadap aturan Marine Pollution 73/78
Annex V dan tingkat kesadaran tentang dampak
pembuangan sampah ke laut
Analisis penyebab terjadinya pencemaran laut oleh
sampah di atas kapal
Rekomendasi pencegahan pencemaran laut oleh sampah
di atas kapal
PENERAPAN PENCEGAHAN PENCEMARAN
LAUT OLEH SAMPAH DIATAS KAPAL SESUAI
MARINE POLLUTION 73/78 ANNEX V
32
BAB III
METODE PENELITIAN
A. JENIS PENELITIAN
Jenis penelitian pada karya tulis ilmiah ini adalah penelitian
kualitatif. Menurut Bogdan dan Taylor mendefinisikan penelitian kualitatif
merupakan penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata
tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati, dalam
hal ini adalah ABK kapal MT Bull Sulawesi.
Terdapat beberapa faktor pertimbangan dalam menggunakan
deskriptif kualitatif yaitu:
1. Metode deskriptif kualitatif akan lebih mudah menyesuaikan bila
dalam penelitian ini kenyataannya ganda.
2. Metode deskriptif kualitatif menyajikan secara langsung hubungan
antara peneliti dengan objek peneliti.
3. Metode deskriptif kualitatif lebih peka serta dapat menyesuaikan diri
dengan banyak pengaruh terhadap pola-pola nilai yang dihadapi.
B. LOKASI PENELITIAN
1. Tempat Penelitian
Penelitian ini dilakukan di atas kapal MT Bull Sulawesi ketika
Penulis melaksanakan praktek layar (PRALA) selama 12 bulan.
2. Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada saat Penulis melaksanakan praktek
layar (PRALA) di atas kapal selama 12 bulan.
33
C. JENIS DAN SUMBER DATA
Yang dimaksud sumber data dalam penelitian adalah subyek dari
mana data diperoleh. Sumber data terbagi menjadi 2 jenis yaitu:
1. Data Primer adalah data dalam bentuk verbal atau kata-kata yang
diucapkan secara lisan, gerak-gerik atau perilaku yang dilakukan oleh
subjek yang dapat dipercaya, yakni subjek penelitan atau informan
yang berkenaan dengan variabel yang diteliti atau data yang diperoleh
dari responden secara langsung melalui wawancara dan memberikan
kuisioner kepada subjek terkait. Subjek dalam hal ini adalah ABK di
kapal MT Bull Sulawesi.
2. Data sekunder adalah data yang diperoleh dari teknik pengumpulan
data yang menunjang data primer. Dalam penelitian ini diperoleh dari
hasil observasi yang dilakukan oleh penulis serta dari studi pustaka.
Dapat dikatakan data sekunder ini bisa berasal dari dokumen-
dokumen grafis seperti tabel, catatan, SMS, foto dan lain-lain.
D. PEMILIHAN INFORMAN
Penelitian ini, informan penelitian merupakan ABK di kapal MT
Bull Sulawesi, tempat dimana Penulis melaksanakan praktek layar
(PRALA). Untuk mendapatkan kelengkapan informasi yang sesuai dengan
fokus penelitian maka yang dijadikan teknik pengumpulan data adalah
sebagai berikut:
1. Teknik Wawancara (interview)
Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu.
Percakapan itu dilakukan oleh dua pihak, yaitu Penulis mengajukan
34
pertanyaan kepada ABK kapal MT Bull Sulawesi dan ABK sebagai
orang terwawancara memberikan jawaban atas pertanyaan itu. Teknik
ini dilakukan untuk mengetahui kemampuan awak kapal dalam
memahami isi MARPOL 73/78 tentang sampah terutama Annex V.
2. Teknik Observasi (pengamatan)
Penulis melakukan pengamatan secara sengaja, sistematis,
mengenai fenomena sosial dan tingkah laku ABK kapal MT Bull
Sulawesi untuk kemudian dilakukan pencatatan. Teknik ini dilakukan
untuk mengetahui pentingnya pemahaman dan penerapan tentang
sampah pada awak kapal.
3. Teknik Dokumentasi
Dokumen merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu.
Dalam hal ini Penulis melakukan pencatatan peristiwa/ dokumentasi
dalam bentuk tulisan, gambar, dan rekaman video. Dokumen yang
ditunjukkan dalam hal ini adalah segala dokumen yang berhubungan
dengan manajemen dalam mengatasi keadaan awak kapal dalam
memahami isi MARPOL 73/78 tentang sampah terutama Annex V.
E. TEKNIK ANALISIS DATA
Lexy J. Moleong mengungkapkan bahwa analisis data adalah
proses mengatur urutan data, mengorganisasikannya ke dalam suatu pola,
kategori, dan satuan uraian dasar. Bogdan dan Taylor mendefinisikan
analisis data sebagai proses yang merinci usaha secara formal untuk
menemukan tema dan merumuskan hipotesis (ide) seperti yang disarankan
olah data dan sebagai usaha untuk memberikan bantuan pada tema dan
35
hipotesis itu. Analisis data secara deskriptif merupakan teknik analisis
yang digunakan oleh Penulis dalam menganalisis data dengan membuat
gambaran data-data yang terkumpul tanpa membuat generalisasi dari hasil
penelitian tersebut. Beberapa yang termasuk di dalam teknik analisis data
secara deskriptif misalnya menyajikan data ke dalam bentuk grafik, tabel,
presentasi, frekuensi, diagram, dan lain-lain.
Terdapat langkah-langkah dalam menganalisis data:
1. Data yang terkumpul dikategorikan dan dipilah-pilah menurut jenis
datanya.
2. Melakukan seleksi terhadap data yang dianggap data inti yang
berkaitan langsung dengan permasalahan dan yang hanya merupakan
data pendukung.
3. Menelaah, mengkaji, dan mempelajari lebih dalam data tersebut
kemudian melakukan interpretasi data untuk mencari solusi dalam
permasalahan yang diangkat dalam penelitian. Pada penelitian
kualitatif ini, analisis data dilakukan semenjak awal penelitian.
Pengamatan dilaksanakan di kapal MT Bull Sulawesi pada saat
praktek layar (PRALA).
36
DAFTAR PUSTAKA
Moleong, Lexy J. (2002). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung : Remaja
Rosdakarya.
Saleh, Mursid. (2003). Metode Pengumpulan Data. Semarang: Universitas
Negeri Semarang
Nazir. (2005). Metode Penelitian. Bogor: Ghalia Indonesia
Daniel, Valerina. (2009). Easy Green Living. Bandung: Hikmah.
IMO. (2017), 1 Januari. Marpol Consolidated Edition 2017. London: CPI
Group (UK) Ltd, Croydon, CRO 4YY
Bayu Ardhi Prasetyo, Hendi. (2017). “Penanganan Sampah Di Atas Kapal
Dalam Mencegah Pencemaran Di Laut”. Politeknik Pelayaran Surabaya
Renaldy, Riky. (2017). “Pentingnya Pemahaman Awak Kapal Tentang Zero
Pollution Guna Meningkatkan Kualitas Lingkungan Di Atas Kapal”.
Politeknik Pelayaran Surabaya
Captain Titus, Johannes dan dr. Idayanti. A, M.S. “Pencegahan Pencemaran
Laut”. Balai Pendidikan dan Latihan Pelayaran Dasar Surabaya
(2006) Buku Undang-undang Lingkungan Hidup dan Amdal. :Permata Press
Dr. Sembiring, Sentosa, S.H.,M.H. (2009). Buku Himpunan Undang-undang
Pelayaran. Bandung: Nuansa Aulia
Tim Penyusun. (2018). Modul Pencegahan Polusi. Surabaya: Politeknik
Pelayaran Surabaya
Dr. Dalman, H, [Link]. (2011). Menulis karya ilmiah. Jakarta: PT Rajagrafindo
Persada
Adinaya, G.B. (2018). Sampah Plastik Samudera Pasifik Hampir Seluas
Indonesia. National Geographic Indonesia [online].
Tersedia:[Link]
n-sampah-plastik-samudera-pasifik-hampir-seluas-indonesia [Diunduh
Pada 14 Maret 2019]
Widyaningrum, G.M. (2018). Seberapa Parahkah Kondisi Pencemaran Sampah
Plastik di Laut Asia?. National Geographic Indonesia [online].
Tersedia:[Link]
parahkah-kondisi-pencemaran-sampah-plastik-di-laut-asia [Diunduh
Pada 14 Maret 2019]
Putri, G.S. (2017). Laut Dunia Darurat Sampah Plastik, Indonesia Turut
Menyumbang. [Link] [online].
Tersedia:[Link]
dunia-darurat-sampah-plastik-indonesia-turut-menyumbang- [Diunduh
Pada 14 maret 2019]
37
Garcia, Ridwan. (2011). Memahami isi dari marpol. [online].
Tersedia:[Link]
dari-marpol/ [Diunduh Pada 15 Maret 2019]
IMO. Prevention of pollution by garbage from ships. [online].
Tersedia:[Link]
ntion/Garbage/Pages/[Link] [Diunduh Pada 16 maret 2019]
Sugara, Gama (2012). Pencemaran laut. [online]. Tersedia:http://
[Link]
[Diunduh Pada 27 maret 2019]
Jambeck, Jenna. (2017), 16 Juni. Setiap orang harus kurangi sampah plastik.
[online]. Tersedia:[Link]
jambeck-setiap-orang-harus-kurangi-sampah-plastik/ [Diunduh Pada 7
Mei 2019]
Iswara, R.P. (2013), 7 April. Jenis-jenis sampah. [online].
Tersedia:[Link]
sampah/ [Diunduh Pada 9 Mei 2019]
Pengertian analisis data, tujuan, jenis, dan prosedur analisis data. [online].
Tersedia:[Link]
[Link] [Diunduh Pada 15 Mei 2019]
(2019), 26 Februari. Suram, ini 4 fakta sampah plastik di laut. [online].
Tersedia:[Link]
[Link] [Diunduh Pada 24 Juni
2019.
(2010) Safety Management Manual. Jakarta: PT. Gemilang Bina Lintas Tirta
Ship Management.
(2007), 22 Juli. Pemadatan sampah dan limbah plastik, kertas, dus dan sampah
kering. [online].
Tersedia:[Link]
product_id=458 [Diunduh pada 28 Maret 2020]
(2019), 7 Juni. Insinerasi atau pembakaran sampah. [online]. Tersedia:
[Link] [Diunduh pada 20 April 2020]
(2019), 24 Desember. Riset LIPI Teliti Pencemaran Sampah Plastik di Laut
Indonesia. [online]. Tersedia: [Link]
sampah-plastik-di-laut-indonesia-eoHK [Diunduh pada 15 Mei 2020]
(2020), 6 Juli. Pengertian Skala Likert dan Contoh Cara Hitung Kuesionernya.
[online]. Tersedia: [Link] [Diunduh pada
22 September 2020]