0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
328 tayangan49 halaman

Pencegahan Pencemaran Laut MARPOL V

Ringkasan dokumen tersebut adalah: 1. Dokumen tersebut membahas tentang penerapan pencegahan pencemaran laut oleh sampah di atas kapal sesuai dengan peraturan MARPOL 73/78 Annex V. 2. Tujuannya adalah untuk mengetahui tingkat pemahaman awak kapal terhadap peraturan tersebut dan tingkat penerapannya. 3. Penelitian dilakukan dengan kuesioner, wawancara, dokumentasi, dan observasi kepada
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
328 tayangan49 halaman

Pencegahan Pencemaran Laut MARPOL V

Ringkasan dokumen tersebut adalah: 1. Dokumen tersebut membahas tentang penerapan pencegahan pencemaran laut oleh sampah di atas kapal sesuai dengan peraturan MARPOL 73/78 Annex V. 2. Tujuannya adalah untuk mengetahui tingkat pemahaman awak kapal terhadap peraturan tersebut dan tingkat penerapannya. 3. Penelitian dilakukan dengan kuesioner, wawancara, dokumentasi, dan observasi kepada
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

PENERAPAN PENCEGAHAN PENCEMARAN LAUT OLEH

SAMPAH DI ATAS KAPAL SESUAI MARINE POLLUTION

73/78 ANNEX V

Disusun sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan

Program Pendidikan dan Pelatihan Pelaut Diploma III Pelayaran

HERU BAKTI NURCAHYO

NIT. [Link].41/N

AHLI NAUTIKA TINGKAT III

PROGRAM DIPLOMA III

POLITEKNIK PELAYARAN SURABAYA

TAHUN 2020
i

PENERAPAN PENCEGAHAN PENCEMARAN LAUT OLEH


SAMPAH DI ATAS KAPAL SESUAI MARINE POLLUTION
73/78 ANNEX V

Disusun sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan

Program Pendidikan dan Pelatihan Pelaut Diploma III Pelayaran

HERU BAKTI NURCAHYO


NIT. [Link].41/N
AHLI NAUTIKA TINGKAT III

PROGRAM DIPLOMA III


POLITEKNIK PELAYARAN SURABAYA
TAHUN 2020
ii

PERNYATAAN KEASLIAN

Yang bertanda tangan di bawah ini :

Nama : Heru Bakti Nurcahyo

Nomor Induk Taruna : [Link].41

Program Diklat : Ahli Nautika Tingkat III

Menyatakan bahwa KIT yang saya tulis dengan judul:

PENERAPAN PENCEGAHAN PENCEMARAN LAUT OLEH

SAMPAH DI ATAS KAPAL SESUAI MARINE POLLUTION 73/78

ANNEX V

Merupakan karya asli seluruh ide yang ada dalam KIT tersebut, kecuali

tema dan yang saya nyatakan sebagai kutipan, merupakan ide saya sendiri.

Jika pernyataan di atas terbukti tidak benar, maka saya sendiri menerima

sanksi yang di tetapkan oleh Politeknik Pelayaran Surabaya.

Surabaya, 02 Oktober 2020


Penulis

Heru Bakti Nurcahyo


NIT. 05 17 012 1 41
iii

PERSETUJUAN SEMINAR

KARYA ILMIAH TERAPAN

Judul : PENERAPAN PENCEGAHAN PENCEMARAN

LAUT OLEH SAMPAH DI ATAS KAPAL SESUAI

MARINE POLLUTION 73/78 ANNEX V

Nama Taruna : Heru Bakti Nurcahyo

NIT : [Link].41

Program Diklat : Ahli Nautika Tingkat III

Dengan ini dinyatakan telah memenuhi syarat untuk di seminarkan.

Surabaya, 29 September 2020

Menyetujui:
Pembimbing I Pembimbing II

Siti Fatimah, [Link].T.,[Link]. Dr. [Link], [Link].


Penata Tk.I (III/d) Pembina Tk.I (IV/b)
NIP. 19810317 200502 2 001 NIP. 19650601 199203 2 001

Mengetahui:
Ketua Jurusan Nautika

Daviq Wiratno, [Link].T.,M.T.,[Link]


Penata Tk.I (III/d)
NIP.19790107 200212 1 002
iv

PENGESAHAN

KARYA ILMIAH TERAPAN

PENERAPAN PENCEGAHAN PENCEMARAN LAUT OLEH SAMPAH

DI ATAS KAPAL SESUAI MARINE POLLUTION 73/78 ANNEX V

Disusun dan diajukan oleh:

HERU BAKTI NURCAHYO


NIT. [Link].41/N
Ahli Nautika Tingkat III (DIPLOMA - III)

Telah dipresentasikan di depan Panitia Ujian KIT

Politeknik Pelayaran Surabaya

Pada tanggal, 02 Oktober 2020

Menyetujui:

Penguji I Penguji II Penguji III

(Capt. Tri Mulyatno Budhi, [Link].T.,[Link]) (Siti Fatimah, [Link].T.,[Link]) (Dr. Ir .Karmini, [Link])
Penata (III/c) Penata Tk.I (III/d) Pembina Tk.I (IV/b)
NIP. 19751101 200912 1 002 NIP.198103172005022001 NIP.196506011992032001

Mengetahui:

Ketua Jurusan Nautika

Daviq Wiratno, [Link].T.,M.T.,[Link]


Penata Tk.I (III/d)
NIP.19790107 200212 1 002
v

KATA PENGANTAR

Dengan mengucap puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas

segala nikmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan proposal

penelitian ini. Adapun proposal penelitian ini disusun guna memenuhi

persyaratan untuk menyelesaikan Program Pendidikan DIPLOMA III

Pelayaran di Politeknik Pelayaran Surabaya dengan mengambil judul

”PENERAPAN PENCEGAHAN PENCEMARAN LAUT OLEH

SAMPAH DI ATAS KAPAL SESUAI MARINE POLLUTION 73/78

ANNEX V”

Penulis menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah

membantu serta memberikan arahan, bimbingan, petunjuk dalam segala hal

yang sangat berarti dan menunjang dalam penyelesaian proposal penelitian ini.

Perkenankanlah penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada:

1. Capt. Dian Wahdiana, M.M. selaku Direktur Politeknik Pelayaran

Surabaya

2. Bapak Daviq Wiratno, [Link].T.,M.T.,[Link] selaku Ketua Jurusan Nautika

3. Ibu Siti Fatimah, [Link].T.,[Link]. selaku Dosen Pembimbing I

4. Ibu [Link], [Link]. selaku Dosen Pembimbing II

5. Bapak dan Ibu tercinta yang telah memberikan semangat dan membiayai

seluruh biaya pendidikan selama ini dengan penuh keikhlasan dan kasih

sayang

6. Seluruh Civitas Akademika Politeknik Pelayaran Surabaya


vi

7. Seluruh Taruna/i POLTEKPEL Surabaya yang telah membantu dalam

memberikan semangat dalam penyelesaian proposal ini, khususnya

angkatan VIII

Semoga kelak penelitian ini dapat berguna bagi semua pihak,

khususnya bagi pengembangan pengetahuan taruna – taruni Politeknik

Pelayaran Surabaya, serta bermanfaat bagi dunia pelayaran pada umumnya.

Penulis menyadari bahwa penulisan Karya Ilmiah Terapan ini masih

jauh dari sempurna dan masih terdapat kekurangan dari segi isi maupun teknik

penulisan, maka penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat

membangun demi kesempurnaan penulisan ini.

Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih dan mohon maaf atas

segala kekurangan.

Surabaya, 02 Oktober 2020


Penulis

Heru Bakti Nurcahyo


NIT. 05 17 012 1 41
vii

ABSTRAK

HERU BAKTI NURCAHYO, Penerapan Pencegahan Pencemaran


Laut Oleh Sampah Di atas Kapal Sesuai Dengan Marpol 73/78 Annex V.
Dibimbing oleh Siti Fatimah, [Link].T.,[Link]., dan [Link], [Link].
Pencemaran laut adalah hasil buangan aktivitas mahluk hidup yang
masuk ke laut. Ada berbagai sumber bahan pencemar yang dapat merusak
laut dan dapat membunuh kehidupan yang ada di laut, salah satunya seperti
sampah makanan dan sampah-sampah lainnya yang bersumber dari kapal.
Oleh karena itu International Maritime Organization (IMO) mengeluarkan
peraturan tentang pencegahan pencemaran di laut untuk mencegah
pencemaran dari kapal atau disebut juga Marine Pollution (MARPOL) 73/78.
Adapun metode penelitian dalam penelitian ini adalah metode
kualitatif. Tujuan dari penelitian ini sebagai berikut: 1. Untuk mengetahui
tingkat pemahaman awak kapal terhadap aturan Marpol 73/78 Annex V. 2.
Untuk mengetahui tingkat penerapan pencegahan pencemaran laut dalam
aturan Marpol 73/78 Annex V. Sampel yang diambil di dalam penelitian ini
adalah 28 ABK di kapal MT Bull Sulawesi. Pengumpulan data dilakukan
dengan kuesioner disebarkan langsung ke ABK sebanyak 28 kuesioner,
wawancara, dokumentasi dan observasi.
Hasil penelitian dari penelitian ini adalah penerapan pencegahan
pencemaran laut oleh sampah sudah dilaksanakan. Namun aturan ini tidak
terlaksana secara sempurna dikarenakan rendahnya pendidikan ABK, dimana
75,2% ABK mengetahui dan 24,8%. yang tidak mengetahui tentang aturan
ini. Langkah-langkah yang dilakukan dalam upaya pencegahan pencemaran
laut di kapal MT Bull Sulawesi dilakukan dengan cara meminimalkan,
mengumpulkan, menyimpan, mengolah, membuang, dan mencatat setiap
aktivitas pembuangan sampah yang terjadi.

Kata kunci: pencemaran sampah di laut, MARPOL 73/78 Annex V


viii

ABSTRACT

HERU BAKTI NURCAHYO, Application of Pollution Prevention of


Sea by Garbage Above Ships in Accordance with Marpol Annex V.
Supervised by Siti Fatimah, [Link].T., [Link]., And [Link], [Link].
Marine pollution is the waste product of living things entering the sea.
There are various sources of pollutants that can damage the sea and can kill
life in the sea, one of which is food waste and other debris that comes from
ships. Therefore, the International Maritime Organization (IMO) issued a
regulation on preventing pollution at sea to prevent pollution from ships or
also known as Marine Pollution (MARPOL) 73/78.
The research method in this research is a qualitative method. The
purpose of this study are as follows: 1. To see the level of understanding of
the crew of the Marpol 73/78 Annex V. 2. This is to determine the level of
implementation of marine pollution prevention in the Marpol 73/78 Annex V.
The samples taken in this study were 28 crew members on the MT Bull
Sulawesi ship. Data collection was carried out by questionnaires distributed
directly to ABK as many as 28 questionnaires, interviews, documentation and
observation.
The result of this research is the implementation of prevention of
marine pollution by garbage has been implemented. However, this rule is not
implemented perfectly due to the low education of ABK, where 75.2% of ABK
know and 24.8%. who don't know about this rule. The steps taken to prevent
marine pollution on the MT Bull Sulawesi ship are carried out by minimizing,
collecting, storing, processing, disposing of, and recording any waste
disposal activities that occur.

Key word: marine garbage pollution, MARPOL 73/78 Annex V


ix

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ........................................................................................................... i
PERNYATAAN KEASLIAN............................................................................................. ii
PERSETUJUAN SEMINAR ............................................................................................. iii
PENGESAHAN PROPOSAL............................................................................................ iv
KATA PENGANTAR ........................................................................................................ v
ABSTRAK ........................................................................................................................ vii
ABSTRACT ....................................................................................................................... viii
DAFTAR ISI...................................................................................................................... ix
DAFTAR TABEL ............................................................................................................... x
DAFTAR GAMBAR ......................................................................................................... xi
BAB I PENDAHULUAN ............................................................................................ 1
A. LATAR BELAKANG ............................................................................... 1
B. RUMUSAN MASALAH .......................................................................... 4
C. BATASAN MASALAH ........................................................................... 4
D. TUJUAN PENELITIAN ........................................................................... 4
E. MANFAAT PENELITIAN ....................................................................... 5
BAB II KAJIAN PUSTAKA ......................................................................................... 6
A. REVIEW PENELITIAN SEBELUMNYA ............................................... 6
B. LANDASAN TEORI ................................................................................ 7
C. KERANGKA PENELITIAN .................................................................. 30
BAB III METODE PENELITIAN ................................................................................ 32
A. JENIS PENELITIAN .............................................................................. 32
B. LOKASI PENELITIAN .......................................................................... 32
C. JENIS DAN SUMBER DATA ............................................................... 32
D. PEMILIHAN INFORMAN ..................................................................... 33
E. TEKNIK ANALISIS DATA ................................................................... 34
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ............................................... 36
A. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN .................................... 36
C. PEMBAHASAN ..................................................................................... 47
BAB V PENUTUP ........................................................................................................ 62
A. KESIMPULAN ....................................................................................... 62
B. SARAN ................................................................................................... 63
LAMPIRAN KUISIONER ............................................................................................... 65
DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................................... 68
x

DAFTAR TABEL

Tabel 2. 1. Review Penelitian Sebelumnya ............................................................. 7


Tabel 4. 1. Data ABK MT. Bull Sulawesi
(Sumber: Hasil survey Penulis) ........................................................... 44
Tabel 4. 2. Opsi pembakaran sampah yang dihasilkan oleh kapal
(Sumber: SMS Manual Book ) ............................................................ 55
Tabel 4. 3. Opsi pemadatan sampah yang dihasilkan oleh kapal
(Sumber: SMS Manual Book ) ............................................................ 56
Tabel 4. 4. Opsi pembuangan sampah ke laut
(Sumber: SMS Manual Book ) ............................................................ 57
xi

DAFTAR GAMBAR

Gambar 4. 1. Kapal MT Bull Sulawesi saat docking ............................................ 37


Gambar 4. 2. Tempat sampah pada tiap - tiap cabin ABK ................................... 39
Gambar 4. 3. Tong sampah di atas kapal MT Bull Sulawesi ................................ 40
Gambar 4. 4. Incinerator di atas kapal MT Bull Sulawesi ................................... 41
Gambar 4. 5. Contoh Certificate for Garbage diatas kapal MT Bull Sulawesi .... 59
Gambar 4. 6. Contoh isi Garbage Record Book diatas kapal MT Bull Sulawesi . 60
BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Negara indonesia merupakan negara kepulauan yang mempunyai

17.504 pulau dan mempunyai perairan yang luas juga memiliki berbagai

macam ragam flora dan fauna bahari yang begitu indah. Tetapi apakah kita

berpikir terkadang di laut, kita melihat sampah dimana-mana seperti

sampah jenis plastik termasuk tali sintetik, jala ikan sintetik, kantong

plastik. Pernahkah kita berpikir bahwa semua sampah yang kita buang di

laut pada saat berlayar akan menumpuk. Seperti yang sering kita dengar

tentang Great Pasific Garbage Patch. Itu adalah tempat dimana seluruh

arus laut dunia mengarah disana tepatnya antara Benua Asia dan Benua

Amerika, sehingga seluruh sampah yang kita buang di atas kapal dan di

buang ke laut akan menumpuk disana. Banyak penyu yang mati akibat

memakan plastik. Para peneliti menemukan banyak plastik di usus penyu-

penyu yang mati. Kurang dari 1 gram plastik saja yang tertelan oleh

penyu-penyu sudah dapat membuat mereka mati. Mengapa demikian?

Usus penyu tidak bisa mencerna makanan akibat usus tersebut telah

dipenuhi dengan plastik. Selain penyu, burung dan kura-kura juga mengira

plastik-plastik itu adalah makanan. Akibatnya sistem pencernaan mereka

terganggu, lambung mereka seakan terisi makanan penuh padahal

sebenarnya terisi plastik yang tidak bisa dicerna. Laut dan pantai yang

kotor akibat sampah plastik juga mengakibatkan penurunan jumlah

kunjungan wisatawan yang berkunjung ke pantai.

1
2

Ada sekitar delapan juta ton sampah plastik yang mengambang di

laut setiap tahunnya. Menurut Ocean Conservacy Report 2015, lebih dari

setengah jumlah tersebut berasal dari negara-negara di Asia seperti

Tiongkok, Indonesia, Filipina, Thailand dan Vietnam. Kelima negara ini

memang memiliki pertumbuhan ekonomi yang cukup cepat di Asia.

Membuat banyak plastik diproduksi, digunakan satu kali, lalu dibuang.

Sayangnya, ini tidak didukung dengan pengelolaan sampah yang baik.

Hasil riset Jenna Jambeck, seorang akademisi dan peneliti dari

Universitas Georgia, Amerika Serikat. Ia telah lama berkecimpung pada

isu manajemen pengelolaan sampah selama lebih dari 20 tahun dan

berpengalaman dalam melakukan penelitian sampah di lautan sejak tahun

2001. Penelitiannya mengenai sampah di lautan diakui secara global dan

menjadi bahan diskusi banyak organisasi, seperti U.S. Congress, G7, G20

dan United Nation Environment Program (UNEP). Hasil riset tentang

sampah plastik di lautan dipublikasikan pada 12 Februari 2015

menyebutkan bahwa Indonesia menyumbang sampah plastik di laut

terbanyak nomor dua di dunia. Pada saat itu, berat sampah plastik yang

disumbang mencapai 187,2 juta ton. Angka ini di bawah China dengan

volume sampah mencapai 262,9 juta ton. Besarnya jumlah sampah plastik

yang dibuang ke laut oleh China, menurut Dr Christ Wilcox, pakar ekologi

dari lembaga penelitian Australia CSIRO, disebabkan oleh berbagai faktor

akibat dari kombinasi besarnya populasi dan tingkat pembangunan di

negara tersebut.
3

Maka dari itu International Maritim Organitation (IMO) telah

berupaya menertibkan pencemaran yang terjadi dengan membuat aturan

mengenai pencemaran lingkungan yang biasa disebut Marine Pollution

(MARPOL). Apakah kita berpikir bahwa sampah seperti ini dapat merusak

habitat flora dan fauna di laut. Dan pastinya pun iya, sampah-sampah

seperti ini dapat mencemari lingkungan dan terkadang apakah awak kapal

mengerti tentang aturan pembuangan sampah, yang diolah dalam Marine

Pollution (MARPOL) yaitu Annex V yang diberlakukan pada 31 Desember

1988 yang berisikan tentang tata cara pembuangan sampah yang benar

seperti sampah makanan sejauh mungkin dari daratan tidak boleh kurang

dari 12 mil dan daerah-daerah khusus yang tidak memperbolehkan

siapapun dan jenis sampah apapun untuk dibuang. Daerah khusus yang

dimaksud dalam aturan ini adalah Laut Mediterania, Laut Baltik, Laut

Hitam, Laut Merah, Kawasan Teluk, Kawasan Antartika, dan Laut

Karibia Besar. Dalam aturan ini pula menyebutkan bahwa setiap kapal

dengan GRT 400 ton keatas dan dengan jumlah awak kapal diatas 15

orang atau lebih maka kapal tersebut harus dilengkapi dengan Garbage

Management Plan. Maka dari itu apakah semua kapal sudah mengetahui

dan sudah menjalani dari isi aturan tersebut agar dapat mengurangi

pencemaran laut. Karena hal-hal tersebut diatas penulis tertarik untuk

mengambil judul:

“PENERAPAN PENCEGAHAN PENCEMARAN LAUT

OLEH SAMPAH DIATAS KAPAL SESUAI MARINE POLLUTION

73/78 ANNEX V”
4

B. RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan latar belakang masalah yang diuraikan maka pokok

permasalahan yang dapat diambil sebagai berikut:

1. Bagaimana tingkat pemahaman awak kapal terhadap aturan MARINE

POLLUTION 73/78 Annex V tentang sampah yang disebabkan oleh

kapal ?

2. Bagaimana penerapan pencegahan pencemaran laut dalam aturan

MARINE POLLUTION 73/78 Annex V tentang sampah yang

disebabkan oleh kapal ?

C. BATASAN MASALAH

Agar masalah ini tidak meluas dari pokok permasalahan yang

sebenarnya maka peneliti mengambil batasan masalah yaitu terbatas pada

hal-hal yang berkaitan dengan pentingnya pemahaman dan penerapan

pencegahan pencemaran sampah dilaut pada awak kapal.

D. TUJUAN PENELITIAN

1. Untuk mengetahui tingkat pemahaman awak kapal terhadap aturan

MARINE POLLUTION 73/78 Annex V tentang sampah yang

disebabkan oleh kapal.

2. Untuk mengetahui tingkat penerapan pencegahan pencemaran laut

dalam aturan MARINE POLLUTION 73/78 Annex V tentang sampah

yang disebabkan oleh kapal.


5

E. MANFAAT PENELITIAN

1. Manfaat Teoritis

Hasil penelitian ini sebagai tambahan ilmu pengetahuan guna

meningkatkan wawasan dan kesadaran sekaligus sebagai sarana

pengembangan sebelumnya dan dikaitkan dengan permasalahan yang

ada. Khususnya tentang sampah.

2. Manfaat Praktis

Manfaat bagi dunia praktisi, untuk memberikan suatu

pemikiran kepada pembaca akan tingkat pemahaman awak kapal dan

penerapan terhadap aturan MARINE POLLUTION 73/78 Annex V

tentang sampah di atas kapal.


6

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. REVIEW PENELITIAN SEBELUMNYA

NO NAMA JUDUL KESIMPULAN


PENELITI PENELITIAN
1 Hendi Bayu Penanganan Upaya untuk mengurangi

Ardhi Sampah Di Atas pembuangan sampah di laut

Prasetiyo Kapal Dalam dapat ditangani dengan cara

(2017) Mencegah re-using, re-cycling dan

Pencemaran Di pemisahan sampah

Laut berdasarkan jenisnya.

Sampah yang telah di bagi

tersebut dibuang sesuai

aturan pembuangan

sampah.

2 Riky Renaldy Pentingnya Presentasi kru kapal yang


(2017)
Pemahaman awak memiliki pemahaman

Kapal Tentang tentang pentingnya

Zero Pollution pemahaman zero pollution

Guna 47,3 %, yang memiliki

Meningkatkan sedikit pemahaman zero

Kualitas pollution adalah 31,5 %

Lingkungan Di dan yang tidak memiliki

Atas Kapal pemahaman tentang zero


7

pollution adalah 21 %.

Tabel 2. 1. Review Penelitian Sebelumnya

Penelitian yang akan dilakukan dengan judul “Penerapan

Pencegahan Pencemaran Laut Oleh Sampah Di Atas Kapal Sesuai Marine

Pollution 73/78 Annex V” dikhususkan untuk meningkatkan pengetahuan

awak kapal akan pentingnya penerapan aturan Marpol 73/78 Annex V

tentang sampah dan meningkatkan kesadaran awak kapal tentang dampak

pembuangan sampah sembarangan di laut.

B. LANDASAN TEORI

1. Definisi Pencegahan

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2007), pencegahan

adalah proses, cara, tindakan mencegah atau tindakan menahan agar

sesuatu tidak terjadi. Dengan demikian, pencegahan merupakan

tindakan yang identik dengan perilaku.

Pengertian pencegahan secara umum adalah mengambil

tindakan terlebih dahulu sebelum kejadian. Dalam mengambil langkah–

langkah pencegahan, haruslah didasarkan pada data atau keterangan

yang bersumber dari hasil analisis epidemiologi atau hasil pengamatan

atau penelitian epidemiologi. (Nur Nasry, 2008)

Upaya preventif adalah sebuah usaha yang dilakukan individu

dalam mencegah terjadinya sesuatu yang tidak diinginkan. Preventif


8

secara etimologi berasal dari bahasa latin pravenire yang artinya datang

sebelum/antisipasi/mencegah untuk tidak terjadi sesuatu. Dalam

pengertian yang luas preventif diartikan sebagai upaya secara sengaja

dilakukan untuk mencegah terjadinya gangguan, kerusakan, atau

kerugian bagi seseorang. (Oktavia, 2013)

2. Teori Tentang Pencemaran Laut

a. Definisi Pencemaran Laut

Pencemaran lingkungan hidup menurut UU RI Nomor 23

tahun 1997 tentang pengelolaan lingkungan hidup adalah masuk atau

dimasukkannya mahluk hidup, zat, energi atau komponen lain ke

dalam air atau udara. Pencemaran juga bisa berarti berubahnya

tatanan (komposisi) air atau udara oleh kegiatan manusia dan proses

alam, sehingga kualitas air atau udara menjadi kurang atau tidak

dapat berfungsi lagi sesuai dengan peruntukkannya.

Laut adalah kumpulan air asin dalam jumlah yang banyak

dan luas yang menggenangi dan membagi daratan atas benua atau

pulau. Jadi laut adalah air yang menutupi permukaan tanah yang

sangat luas dan umumnya mengandung garam dan berasa asin.

Biasanya air yang ada di darat mengalir dan akan bermuara ke laut.

(Abdul Muthalib Tahar, 2007)

Pencemaran Laut menurut Peraturan Pemerintah No.19/1999

tentang Pengendalian Pencemaran dan/atau Perusakan Laut:


9

Pencemaran laut adalah masuknya atau dimasukkannya makhluk

hidup, zat, energi, dan/atau komponen lain ke dalam lingkungan laut

oleh kegiatan manusia sehingga kualitasnya turun sampai tingkat

tertentu yang menyebabkan lingkungan laut tidak sesuai lagi dengan

baku mutu dan/atau fungsinya.

b. Penyebab Pencemaran Laut

Secara umum penyebab pencemaran air laut diakibatkan oleh

bahan-bahan buangan seperti sampah. Pencemaran air laut dapat

menyebabkan terganggunya ekosistem laut, serta mengurangi

manfaat dan sumber daya laut.

Sampah menurut UU RI No 17 Tahun 2008 adalah sisa

kegiatan sehari-hari manusia atau proses alam yang berbentuk padat

atau semi padat berupa zat organik atau anorganik bersifat dapat

terurai atau tidak dapat terurai yang dianggap sudah tidak berguna

lagi dan dibuang ke lingkungan.

Sampah menurut buku MARPOL consolidated edition 2017

didefinisikan sebagai semua jenis makanan, limbah domestik dan

operasional, semua plastik, residu muatan, abu insinerator, minyak

goreng, alat pancing, dan bangkai hewan yang dihasilkan selama

operasi normal kapal dan dapat dibuang secara berkala kecuali zat-

zat yang didefinisikan atau dicantumkan dalam lampiran lain dari

Konvensi ini. Sampah tidak termasuk ikan segar dan bagian-


10

bagiannya yang dihasilkan selama perjalanan, atau sebagai hasil dari

kegiatan akuakultur yang melibatkan pengangkutan ikan termasuk

kerang untuk penempatan di fasilitas akuakultur dan pengangkutan

ikan yang dipanen termasuk kerang dari fasilitas tersebut ke pantai

untuk diproses.

Jenis-jenis sampah yang ada di sekitar kita cukup beraneka

ragam, ada yang berupa sampah rumah tangga, sampah industri,

sampah pasar, sampah rumah sakit, sampah pertanian, sampah

perkebunan, sampah peternakan, sampah institusi/kantor/sekolah,

dan sebagainya.

Menurut Panji Nugroho dalam buku panduan membuat

pupuk kompos cair (2013), berdasarkan sifatnya, sampah padat dapat

digolongkan menjadi 2 (dua) yaitu sebagai berikut:

1) Sampah organik adalah sampah yang dihasilkan dari bahan-

bahan hayati yang dapat di degradasi oleh mikroba atau bersifat

biodegradable. Sampah ini dengan mudah dapat diuraikan

melalui proses alami. Sampah rumah tangga sebagian besar

merupakan bahan organik. Termasuk sampah organik, misalnya

sampah dari dapur, sisa-sisa makanan, pembungkus (selain

kertas, karet dan plastik), tepung, sayuran, kulit buah, daun dan

ranting. Selain itu, pasar tradisional juga banyak

menyumbangkan sampah organik seperti sampah sayuran, buah-

buahan dan lain-lain.


11

2) Sampah anorganik adalah sampah yang dihasilkan dari bahan-

bahan non hayati, baik berupa produk sintetik maupun hasil

proses teknologi pengolahan bahan tambang. Sampah anorganik

dibedakan menjadi: sampah logam dan produk-produk

olahannya, sampah plastik, sampah kertas, sampah kaca dan

keramik, sampah detergen. Sebagian besar sampah anorganik

tidak dapat diurai oleh alam/ mikroorganisme secara

keseluruhan (unbiodegradable). Sementara, sebagian lainnya

hanya dapat diuraikan dalam waktu yang lama. Sampah jenis ini

pada tingkat rumah tangga misalnya botol plastik, botol gelas,

tas plastik, dan kaleng. Berdasarkan wujud atau bentuknya

dikenal tiga macam sampah atau limbah yaitu: limbah cair,

limbah padat, dan limbah gas. Contoh limbah cair yaitu air

cucian, air sabun, minyak goreng sisa, dll. Contoh limbah padat

yaitu bungkus snack, ban bekas, botol air minum, dll. Contoh

limbah gas yaitu karbon dioksida (CO2), karbon monoksida

(CO), HCl, NO2, SO2, dll.

c. Dampak Pencemaran Laut

Sampah plastik merupakan masalah bagi banyak Negara

karena sifat material plastik yang tahan lama, ditambah lagi sifat

lainnya yaitu ringan sehingga mudah mengapung menyebabkan

dampak sampah plastik yang umum diketahui masyarakat ialah

efeknya dari segi estetika. Apabila kita berjalan-jalan ditepi pantai,


12

betapa tidak nyamannya jika memandang sampah yang berserakan.

Tidak hanya itu, sampah-sampah plastik biasanya juga bercampur

dengan material-material sampah rumah tangga sehingga baunya

tidak nyaman. Selain dampak sampah plastik dari segi estetika

seperti di paparkan diatas, tidak banyak orang menyadari bahwa

sampah plastik menimbulkan berbagai macam permasalahan di

pesisir dan lautan. Juga tidak semua orang menyadari bahwa sampah

plastik yang dibuang di jalan atau tanah suatu saat dapat sampai

kelaut baik melalui saluran-saluran got ataupun langsung kelaut

sebagai akibat siraman hujan atau tiupan angin.

Salah satu dampak yang merugikan dari sampah-sampah

plastik yang berada di laut ialah pada kegiatan perkapalan. Sampah

plastik tersebut dapat tersangkut atau terlilit pada baling-baling kapal

laut dengan demikian dapat membahayakan tangkai kemudi. Selain

itu sampah-sampah plastik yang tersangkut dapat pula menyebabkan

proses pengambilan air laut ke kapal (water sea in take) dan

evaporator menjadi terlambat. Hal-hal tersebut tentu saja berdampak

pada beralihnya dan untuk perbaikan kapal, waktu produktif yang

berkurang dan akibatnya mengurangi pendapatan nelayan, dsb.

Sampah plastik butuh waktu ratusan tahun sebelum terurai

sempurna. Dalam prosesnya sampah hancur menjadi partikel-partikel

kecil, menyebar di seantero perairan dan tanpa sadar dikonsumsi

oleh hewan-hewan di lautan. Sampah-sampah itu terus membunuh


13

makhluk hidup di lautan. Berdasarkan penelitian yang diterbitkan

Sekretariat Konvensi tentang Keanekaragaman Hayati (United

Nations Convention On Biological Diversity) pada Tahun 2016,

sampah di lautan telah membahayakan lebih dari 800 spesies. Dari

800 spesies itu, 40% adalah mamalia laut dan 44% lainnya adalah

spesies burung laut. Data itu kemudian diperbarui pada Konferensi

Laut PBB di New York pada Tahun 2017. Konferensi menyebutkan

bahwa limbah plastik di lautan telah membunuh 1 juta burung laut,

100 ribu mamalia laut, kura-kura laut, dan ikan-ikan dalam jumlah

besar tiap tahun.

Penyelam juga dapat terkena resiko apabila gagal melepaskan

lilitan jaring plastik dibawah air. Masalah ini bahkan dapat

menyebabkan kematian mengingat oksigen yang dibawa penyelam

terbatas. Jaring-jaring plastik dapat juga menjadi perangkap bagi

organisme-organisme laut dan karena sifat plastik yang tidak dapat

dihancurkan oleh organisme sehingga kejadian tersebut dapat

berlangsung bertahun-tahun. Inilah yang disebut ghost-fishing.

Jaring-jaring tersebut dapat merangkap organisme saat terapung

dipermukaan, ketika tersangkut di dasar, atau saat hanyut di air.

Plester plastik, tali plastik dan semacamnya yang terapung di

laut dapat melilit mamalia laut atau ikan yang kemudian menjadi

semakin mengetat seiring dengan pertumbuhan hewan yang terjerat

tersebut sehingga menghambat pernafasan dan membatasi


14

kemampuan bergeraknya. Jeratan plaster atau tali plastik ini juga jadi

ancaman bagi burung laut. Seperti halnya jaring, plester, tali plastik

atau sejenisnya juga banyak dilaporkan dalam kasus terjeratnya

hewan-hewan.

Matinya penyu, mamalia laut dan burung-burung laut juga

ditemukan sebagai akibat menelan material-material plastik. Jumlah

partikel plastik yang meningkat dan sebarannya yang meluas di

lautan telah banyak mengundang perhatian dunia, dan meskipun

sifatnya lambat tapi jika material ini ditelan oleh organisme laut

dapat berdampak pada berkurangnya kadar nutrisi dari makanan

yang di konsumsi oleh organisme laut. Hal ini dapat mengakibatkan

pertumbuhan hewan menjadi terhambat dan bahkan dapat

menyebabkan kematian organisme laut. Selain itu, bahan-bahan

beracun yang terdapat pada sampah plastik dapat menyebabkan

kematian atau gangguan reproduksi pada ikan, kerang dan organisme

laut lain yang berada pada habitat (lingkungan) tersebut.

Masalah sampah dipantai juga dapat berdampak negatif

terhadap pertambakan. Di beberapa bagian pesisir Teluk Jakarta

yang tak terlindungi oleh mangrove, pada musim tertentu petani

tambak tidak dapat mengolah tambaknya akibat masuknya sampah

hingga memenuhi area pertambakan utamanya saat arus pasang dan

kemudian bertumpuk saat surut. Hal seperti ini, bukannya tak

mungkin dapat terjadi di masa mendatang di pesisir Makassar dan


15

sekitarnya jika permasalahan sampah tidak di tangani dengan

bijaksana.

3. Pemahaman Tentang MARPOL 73/78

Bicara tentang pencemaran di laut, hal yang sangat berhubungan

dekat sekali dengan pelaut di keseharianya. Kelalaian hingga

menyebabkan terjadinya pencemaran sampah di laut, dampaknya sangat

luar biasa sekali. Bukan hanya lingkungan biota laut yang teracam,

pelakunya bisa berhubungan dengan hukum. Maka dari itu hindari

kesalahan gunakanlah manajemen yang baik di atas kapal. Pencatatan

Garbage Record Book yang terbaru dan juga Garbage Management

Plan yang terkontrol. Banyak pelaut terkadang menganggap remeh

akan hal ini. Tetapi manusia terkadang belum sadar jika sudah dapat

musibah penyesalan datang belakangan. Untuk menghindari hal

tersebut, maka perlu dipahami apa yang di maksud MARPOL 73/78 itu.

a. Sejarah Konvensi MARPOL 73/78

Sejak peluncuran kapal pengangkut minyak yang pertama

GLUCKAUF pada tahun 1885 dan penggunaan pertama mesin diesel

sebagai penggerak utama kapal tiga tahun kemudian, maka

fenomena pencemaran laut oleh minyak mulai muncul.

Baru pada tahun 1954 atas prakarsa dan pengorganisasian

yang dilakukan oleh Pemerintah Inggris (UK), lahirlah “Oil

Pullution Convention”, yang mencari cara untuk mencegah


16

pembuangan campuran minyak dan pengoperasian kapal tanker dan

dari kamar mesin kapal lainnya.

Hasilnya adalah sidang IMO mengenai “International

Conference on Marine Pollution” dari tanggal 8 Oktober sampai

dengan 2 Nopember 1973 yang menghasilkan “international

Convention for the Prevention of Oil Pollution from Ships” tahun

1973, yang kemudian disempurnakan dengan TSPP (Tanker Safety

and Pollution Prevention) Protocol of 1978 dan konvensi ini dikenal

dengan nama MARPOL 1973/1978 yang masih berlaku sampai

sekarang.

b. Isi Peraturan MARPOL 73/78

Peraturan mengenai pencegahan berbagai jenis sumber bahan

pencemaran lingkungan maritim yang datangnya dari kapal dan

bangunan lepas pantai diatur dalam MARPOL Convention 73/78

Consolidated Edition 2017 yang memuat peraturan:

1. International Convention for the Prevention of Pollution from

Ships 1973. Peraturan-peraturan mengenai kewajiban dan

tanggung jawab negara-negara anggota yang sudah meratifikasi

konvensi tersebut guna mencegah pencemaran dan buangan

barang-barang atau campuran cairan beracun dan berbahaya dari

kapal. Konvensi-konvensi IMO yang sudah diratifikasi oleh

negara anggotanya seperti Indonesia, memasukkan isi konvensi-

konvensi tersebut menjadi bagian dari peraturan dan perundang-

undangan Nasional.
17

2. Protocol I. Peraturan-peraturan mengenai kewajiban semua

pihak untuk melaporkan kecelakaan kapal yang melibatkan

barang-barang beracun dan berbahaya. Pemerintah Negara

anggota diminta untuk membuat petunjuk untuk membuat

laporan, yang diperlukan sedapat mungkin sesuai dengan

petunjuk yang dimuat dalam Protocol I. Sesuai Artikel III

“Contents of report” laporan tersebut harus memuat keterangan :

1) Identitas kapal yang terlibat.

2) Waktu, tempat dan jenis kejadian.

3) Jumlah dan jenis bahan pencemar yang tumpah.

4) Bantuan dan jenis penyelamatan yang dibutuhkan.

Nahkoda atau perorangan bertanggung jawab terhadap

insiden yang terjadi pada kapal wajib untuk segera melaporkan

tumpahan atau buangan barang atau campuran cairan beracun

dan berbahaya dari kapal karena kecelakaan atau untuk

kepentingan menyelamatkan jiwa manusia sesuai petunjuk

dalam Protocol yang dimaksud.

3. Protocol II. Peraturan-peraturan mengenai Arbitrasi berdasarkan

Artikel 10 ”setlement of dispute”. Dalam Protocol II diberikan

petunjuk menyelesaikan perselisihan antara dua atau lebih

Negara anggota mengenai interprestasi atau pelaksanaan isi

konvensi. Apabila perundingan antara pihak-pihak yang

berselisih tidak berhasil menyelesaikan masalah tersebut, salah

satu dari mereka dapat mengajukan masalah tersebut ke


18

Arbitrasi dan diselesaikan berdasarkan petunjuk dalam Protocol

II konvensi ini.

4. Protocol of 1978 relating to the International Convention for the

Prevention of Pollution from Ships 1973. Merupakan peraturan

tambahan “Tanker Safety and Pollution Prevention (TSPP)”

yang bertujuan untuk meningkatkan keselamatan kapal tanker

dan melaksanakan peraturan pencegahan dan pengontrolan

pencemaran laut yang berasal dari kapal terutama kapal tanker

dengan melakukan modifikasi dan petunjuk tambahan untuk

melaksanakan secepat mungkin peraturan pencegahan

pencemaran yang dimuat di dalam Annex 1 aturan ini.

5. Protocol of 1997 to amend the International Convention for the

Prevention of Pollution from Ships 1973 as modified by the

Protocol of 1978 relating thereto. Merupakan peraturan

tambahan yang bertujuan untuk meningkatkan keselamatan dan

melaksanakan peraturan pencegahan dan pengontrolan

pencemaran udara yang berasal dari kapal dengan melakukan

modifikasi dan petunjuk tambahan untuk melaksanakan secepat

mungkin peraturan pencegahan pencemaran yang dimuat di

dalam Annex VI aturan MARPOL 73/78.

6. Peraturan mengenai pencegahan dan penanggulangan

pencemaran laut oleh berbagai jenis bahan pencemar dari kapal

menurut buku MARPOL Convention 73/78 Consolidated Edition

2017 dibahas dalam Annex I s/d VI sebagai berikut:


19

a. Annex 1: Peraturan – peraturan untuk Pencegahan

Pencemaran oleh Minyak (Regulations for the Prevention of

Pollution by Oil); diberlakukan pada tanggal 2 Oktober

1983.

b. Annex 2: Peraturan – peraturan untuk Pencegahan

Pencemaran oleh Substansi – substansi Cair Beracun dalam

jumlah besar (Regulations for the Control of Pollution by

Noxoius Liquid Substances in Bulk); diberlakukan pada

tanggal 6 April 1987.

c. Annex 3: Peraturan - peraturan untuk Pencegahan

Pencemaran oleh Substansi – substansi Berbahaya yang

diangkut melalui laut dalam Bentuk Kemasan (Regulations

for the Prevention of Pollution by Harmful Substances

Carried by Sea in Packaged Form); diberlakukan pada

tanggal 1 Juli 1992.

d. Annex 4: Peraturan – peraturan untuk Pencegahan

Pencemaran oleh Kotoran dari Kapal - kapal (Regulations

for the Prevention of Pollution by Sewage from Ships);

diberlakukan pada tanggal 27 September 2003.

e. Annex 5: Peraturan – peraturan untuk Pencegahan

Pencemaran oleh Sampah dari Kapal - kapal (Regulations

for the Prevention of Pollution by Garbage from Ships);

diberlakukan pada tanggal 31 Desember 1988.


20

f. Annex 6: Peraturan – peraturan untuk Pencegahan

Pencemaran Udara dari Kapal – kapal (Regulations for the

Prevention of Air Pollution from Ship); diberlakukan pada

tanggal 19 Mei 2005.

4. Pemahaman Tentang MARPOL 73/78 Annex V

Peraturan tentang pencegahan pencemaran yang diakibatkan oleh

sampah dari kapal menurut buku MARPOL Convention 73/78

Consolidated Edition 2017 penulis uraikan sebagai berikut:

1. Definisi

a) “Sampah” didefinisikan sebagai semua jenis makanan, limbah

domestik dan operasional, semua plastik, residu muatan, abu

insinerator, minyak goreng, alat pancing, dan bangkai hewan

yang dihasilkan selama operasi normal kapal dan dapat

dibuang secara berkala kecuali zat-zat yang didefinisikan atau

dicantumkan dalam lampiran lain dari Konvensi ini. Sampah

tidak termasuk ikan segar dan bagian-bagiannya yang

dihasilkan selama perjalanan, atau sebagai hasil dari kegiatan

akuakultur yang melibatkan pengangkutan ikan termasuk

kerang untuk penempatan di fasilitas akuakultur dan

pengangkutan ikan yang dipanen termasuk kerang dari fasilitas

tersebut ke pantai untuk diproses.

b) “Daratan Terdekat”. Istilah dari “daratan terdekat" adalah dari

garis batas dimana laut teritorial dari wilayah yang ditetapkan


21

sesuai dengan hukum Internasional kecuali, untuk maksud

Konvensi ini "daratan terdekat" dari pantai timur laut Australia

wajib berarti dari suatu garis yang ditarik dari suatu titik pada

pantai Australia di:

11 °00' Lintang Selatan (LS), 142°08' Bujur Timur (BT),

ke titik 10°35' LS, 141 °55' BT,

selanjutnya menuju ke titik 10°00' LS, 142°00' BT,

selanjutnya menuju ke titik 9°10' LS, 143 °52' BT,

selanjutnya menuju ke titik 9°00' LS, 144°30' BT,

selanjutnya menuju ke titik 10°41' LS, 145°00' BT,

selanjutnya menuju ke titik 13°00' LS, 145°00' BT,

selanjutnya menuju ke titik 15°00' LS, 146°00' BT,

selanjutnya menuju ke titik 17°30' LS, 147°00' BT,

selanjutnya menuju ke titik 21 °00' LS, 152°55' BT,

selanjutnya menuju ke titik 24°30' LS, 154°00' BT,

selanjutnya menuju ke titik 24°42' LS, 153°15' BT di pantai

Australia.

c) “Kawasan Khusus” adalah suatu kawasan laut yang

berdasarkan alasan teknis yang diakui untuk kondisi

oseanografi dan ekologisnya dan sifat-sifat khusus dari

lalulintasnya pelaksanaan metode-metode khusus yang

diwajibkan untuk pencegahan pencemaran laut yang

diakibatkan oleh sampah sebagaimana dipersyaratkan.


22

Kawasan-kawasan khusus wajib meliputi wilayah

sebagaimana tercantum dalam peraturan 5 lampiran ini.

2. Pemberlakuan

Ketentuan-ketentuan di dalam lampiran ini wajib berlaku bagi

semua kapal.

3. Larangan Umum Pembuangan Sampah ke Laut

a) Membuang semua sampah ke laut dilarang, kecuali

sebagaimana ditentukan dalam peraturan 4,5,6 dan 7 aturan ini

dan bagian 5.2 bagian II-A dari kode kutub.

b) Pembuangan ke laut semua plastik, tidak terbatas pada tali

sintetis, jaring ikan sintetis, kantong sampah plastik dan abu

insinerator dari produk plastik dilarang, kecuali sebagaimana

ditentukan dalam peraturan 7 lampiran ini.

c) Pembuangan minyak goreng ke laut dilarang, kecuali

sebagaimana ditentukan dalam peraturan 7 lampiran ini.

4. Pembuangan Sampah di Luar Kawasan Khusus (Outside Special

Area)

Tunduk pada ketentuan-ketentuan peraturan 4, 5 dan 6 dari

Lampiran ini. Pembuangan sampah di luar daerah khusus hanya

diizinkan saat kapal sedang dalam perjalanan dan sejauh mungkin

dari pulau terdekat tidak kurang dari:

a) 25 mil laut untuk dunnage, lining, dan material yang dapat

mengapung.
23

b) 12 mil laut untuk sisa makanan dan semua sampah termasuk

produk kertas, kain, kaca, logam, botol-botol dan barang

peralatan dapur dan sampah sejenis yang tidak terpakai.

c) 3 mil laut untuk pembuangan sampah makanan dan sampah

lainnya termasuk kertas, majun, kaca, logam, botol, dan

barang-barang tembikar dapat dilakukan dengan sarat sudah

dicampur dan dihancurkan dangan lebar tidak boleh lebih 25

mm dan sejauh mungkin dari daratan. Apabila sampah

bercampur dengan buangan lainnya yang memiliki persyaratan

pembuangan lebih ketat yang wajib berlaku.

5. Persyaratan Khusus untuk Pembuangan Sampah

a) Dilarang membuang setiap bahan/materi dari platform tetap

atau yang mengapung yang melakukan eksplorasi, dan

kegiatan eksplorasi sumber mineral dilaut dan didasar laut dan

dari semua kapal-kapal pada waktu sandar atau berada

disekitar 500 m dari platform.

b) Pembuangan sampah-sampah makanan setelah dicampurkan

dan dihancurkan dari rig/platform tetap atau yang mengapung

dengan lokasi tidak boleh kurang dari 12 mil dan semua kapal-

kapal yang sandar atau berada disekitar 500 m dari

platform/rig dengan lebar tidak boleh lebih dari 25 mm.


24

6. Pembuangan Sampah di Kawasan-Kawasan Khusus (Special Area)

Daerah khusus berarti area laut untuk alasan teknis yang diakui

sehubungan dengan kondisi oseanografi dan ekologisnya dan

dengan karakter khusus lalu lintasnya, diperlukan penerapan

metode wajib khusus untuk pencegahan polusi laut oleh sampah.

Daerah khusus yang dimaksud dalam aturan ini adalah Laut

Mediterania, Laut Baltik, Laut Hitam, Laut Merah, Kawasan

Teluk, Kawasan Antartika, dan Laut Karibia Besar yang ditentukan

sebagai berikut:

a) Kawasan Laut Mediterania adalah kawasan Laut Mediterania

termasuk teluk dan laut di sekitarnya dengan batas-batas antara

Laut Mediterania dan Laut Hitam, berada pada paralel 41°

Lintang Utara (LU) dan dibatasi ke sebelah barat dengan Selat

Gibraltar pada 5°36' Bujur Barat (BB).

b) Kawasan Laut Baltik adalah kawasan Laut Baltik termasuk

Teluk Bothnia dan Teluk Finlandia serta jalur masuk ke Laut

Baltik dibatasi pada garis lintang sejajar Skaw di Skagerrak

pada 57°44.8' LU.

c) Kawasan Laut Hitam adalah kawasan Laut Hitam yang

berbatasan antara Laut Mediterania dan Laut Hitam yang

tertetak pada garis lintang sejajar pada 41° LU.

d) Kawasan Laut Merah adalah kawasan Laut Merah termasuk

Teluk Suez dan Aqaba dibatasi di sebelah selatan pada garis


25

lurus antara Ras si Ane (12°28.5' LU, 43°19.6' Bujur Timur

(BT)) dan Husn Murad (12°40.4' LU, 43°30.2 BT).

e) Kawasan Teluk adalah kawasan laut yang berlokasi di barat

laut loksodrom dari garis lurus antara Ras al Hadd (22°30' LU,

59°48' BT) dan Ras at Fasteh (25°04'LU ,61°25’ BT).

f) Kawasan Laut Utara adalah kawasan Laut Utara termasuk

kawasan laut di sekitarnya dengan batasan antara:

1. Laut Utara ke arah selatan dari garis 62° LU dan ke arah

timur dari garis 4° Bujur Barat (BB).

2. Kawasan Skagerrak ke arah selatan hingga batas sebelah

timur kawasan Skaw pada garis 57°44.8' LU; dan

3. Kawasan Selat Inggris dan jalur pendekatan dari arah timur

dengan pada garis 5° BB dan dari arah utara pada garis

48°30' LU.

g) Kawasan Antartika adalah kawasan laut pada garis 60° Lintang

Selatan (LS).

h) Kawasan Karibia Besar sebagaimana ditentukan dalam pasal 2,

ayat 1 dari Konvensi tentang Perlindungan dan Pembangunan

Lingkungan Laut Kawasan Karibia Besar (Cartagena de Indias,

1983), berarti lingkungan Teluk Meksiko dan Laut Karibia

termasuk pantai dan laut di dalamnya serta sebagian Samudera

Atlantik dalam batas garis 30° LU membentang dari Florida ke

arah timur hingga garis 77°30' BB, menuju titik perpotongan

antara garis 20° LU dengan garis 59° BB, selanjutnya menuju


26

titik perpotongan antara garis 7°20' LU dengan garis 50° BB,

yang berlanjut ke arah barat laut yang merupakan perbatasan

sebelah timur dari Guyana Perancis.

Tunduk pada ketentuan-ketentuan peraturan 6 dari Lampiran

ini. Pembuangan sampah di daerah khusus hanya diizinkan saat

kapal sedang dalam perjalanan dengan ketentuan sebagai berikut:

1. Dilarang membuang sampah ke laut semua jenis plastik

termasuk tali manila, jaring-jaring ikan sintetik, kantong

sampah plastik dan abu produk plastik yang mana mengandung

racun atau sisa/residu logam dan semua sampah lainnya

termasuk produk kertas, karpet, kaca, logam, botol, barang-

barang rumah tangga, pengganjal, penguat dan bahan-bahan

pembungkus.

2. Membuang sampah makanan di Laut Karibia harus dicampur

dan dihancurkan dulu dengan lebar tidak boleh dari 25 mm dan

jarak dari pantai tidak boleh kurang dari 3 mil.

7. Pengecualian

Peraturan 3. 4 dan 5 dari Lampiran ini wajib tidak berlaku

untuk:

a) Pembuangan sampah dari suatu kapal yang diperlukan untuk

maksud mengamankan keselamatan suatu kapal dan orang-

orang yang ada di atasnya atau penyelamatan jiwa di laut; atau


27

b) Sampah yang terbuang ke laut sebagai akibat dari kerusakan

suatu kapal atau perlengkapannya dengan syarat bahwa semua

upaya pencegahan yang wajar teIah dilakuan sebelum dan

sesudah terjadinya kerusakan, dengan maksud mencegah atau

meminimalisasi terjadinya terbuangnya sampah tersebut; atau

c) Hilangnya jaring sintetis penangkap ikan secara tidak sengaja,

dengan syarat bahwa semua upaya pencegahan telah dilakukan

untuk mencegah kehilangan dimaksud.

8. Fasilitas Penampungan

a) Pemerintah dari setiap Pihak pada Konvensi wajib memastikan

ketentuan mengenai fasiIitas penampungan sampah di

pelabuhan dan terminal, tanpa menyebabkan keterlambatan

kapal, sesuai dengan kebutuhan kapal-kapal yang

menggunakannya.

b) Pemerintah dari setiap Pihak wajib memberitahukan kepada

Organisasi untuk menyampaikan kepada Para Pihak yang

bersangkutan mengenai semua hal dimana fasiitas-fasilitas

tersebut disediakan berdasarkan peraturan ini diduga tidak

memadai.

9. Pengawasan Negara Pelabuhan terhadap Persyaratan Operasional

a) Suatu kapal pada saat berada di suatu pelabuhan di Pihak

lainnya, tunduk pada pemeriksaan para petugas yang diberi

kewenangan oleh Pihak tersebut berkenaan dengan

persyaratan-persyaratan operasional berdasarkan Lampiran ini,


28

apabila terdapat alasan-alasan kuat yang meyakinkan bahwa

nakhoda atau awak kapal tidak terbiasa dengan prosedur-

prosedur utama di atas kapal berkaitan dengan pencegahan

pencemaran yang diakibatkan oleh sampah.

b) Berdasarkan kekhususan sebagaimana diatur pada ayat (1)

peraturan ini, Para Pihak wajib mengambil langkah-langkah

dimaksud yang akan memastikan bahwa kapal tersebut wajib

tidak akan berlayar sampai situasi memenuhi ketentuan sesuai

dengan persyaratan-persyaratan Lampiran ini.

c) Prosedur-prosedur yang terkait dengan pengawasan Negara

pelabuhan sebagaimana diatur dalam Pasal 5 dari Konvensi ini

berlaku wajib untuk peraturan ini.

d) Tidak satupun dalam peraturan ini wajib diartikan untuk

membatasi hak dan kewajiban suatu Pihak yang melakukan

pengawasan atas pelaksanaan persyaratan-persyaratan

operasional yang secara khusus diatur dalam Konvensi ini.

10. Placard, Garbage Management Plan, dan Garbage Record Book

Garbage Management Plan adalah pedoman lengkap yang

terdiri dari prosedur tertulis untuk mengumpulkan, menyimpan,

mengolah, dan membuang sampah yang dihasilkan di atas kapal

sesuai dengan peraturan yang tercantum dalam MARPOL Annex V.

Pelatihan harus diberikan kepada staf kapal untuk pembuangan

sampah yang benar di atas kapal dan untuk pengetahuan tentang

peraturan pembuangan sampah di laut dan di area khusus.


29

Setiap kapal berisi 100 GT ke atas, dan setiap kapal

bersertifikat membawa 15 orang atau lebih, dan platform tetap atau

yang mengapung harus membawa Garbage Management Plan.

Garbage Management Plan harus menyediakan prosedur tertulis

untuk meminimalkan, mengumpulkan, menyimpan, memproses

dan membuang sampah yang dihasilkan kapal, termasuk

penggunaan peralatan di kapal. Dalam hal ini harus menunjuk

orang yang bertugas melaksanakan rencana tersebut. Rencana

tersebut harus sesuai dengan pedoman yang dikembangkan oleh

Organisasi dan ditulis dalam bahasa kerja kru.

Setiap kapal berisi lebih dari 400 GT dan setiap kapal

bersertifikat untuk membawa 15 orang atau lebih yang terlibat

dalam perjalanan ke pelabuhan atau terminal lepas pantai di bawah

yurisdiksi pihak lain ke Marpol dan setiap platform tetap atau yang

mengapung harus membawa Garbage Record Book, baik sebagai

bagian dari buku log resmi kapal atau jika tidak harus dalam bentuk

yang ditentukan dalam lampiran ini:

a. Setiap pembuangan ke laut, pada fasilitas penerimaan atau

pembakaran, harus segera dicatat dalam Garbage Record Book

dan ditandatangani tanggal pembuangan atau pembakaran oleh

petugas. Setiap halaman Garbage Record Book yang telah diisi

harus ditandatangani oleh Master Kapal. Entri dalam Garbage

Record Book setidaknya dalam bahasa Inggris, Prancis, atau

Spanyol. Di mana entri juga dibuat dalam bahasa resmi Negara


30

bendera, entri ini berlaku jika terjadi perselisihan atau

perbedaan.

b. Entri untuk setiap pembuangan atau pembakaran harus

mencakup tanggal dan waktu, posisi kapal, kategori sampah

dan jumlah perkiraan habis atau dibakar.

c. Garbage Record Book harus disimpan di kapal atau platform

mengambang, dan di tempat yang tersedia untuk inspeksi

setiap saat. Dokumen ini akan disimpan untuk jangka waktu

dua tahun sejak tanggal entri terakhir dibuat di dalamnya.

d. Dalam hal terjadi pemecatan atau kerugian karena kecelakaan

harus dibuat di Garbage Record Book, atau di kasus kapal

yang kurang dari 400 tonase kotor, suatu entri harus dibuat di

buku catatan resmi kapal, tentang lokasi, keadaan, dan alasan

pembuangan atau kehilangan, detail barang yang habis atau

hilang dan tindakan pencegahan yang wajar dilakukan untuk

mencegah atau meminimalkannya pemecatan atau kerugian

karena kecelakaan.

C. KERANGKA PENELITIAN

Berdasarkan pada landasan teori, bahwa pencegahan pencemaran

di laut sesuai dengan MARPOL 73/78 perlu dipelajari dan dipahami agar

pencemaran di laut oleh sampah di atas kapal dapat dicegah. Apabila

kapal–kapal tersebut mengimplementasikan MARPOL 73/78 tentu

berdampak positif terhadap lingkungan/ekosistem di laut, sebaliknya akan

berdampak negatif jika tidak diimplementasikan. Dalam hal ini yang


31

menjadi sasaran dalam penelitian ini adalah para perwira dan awak kapal

MT Bull Sulawesi. Berikut penulis sajikan kerangka pemikiran yang

penulis paparkan dalam bentuk bagan:

Masih banyak ditemukannya sampah di laut.

Kurangnya tingkat pemahaman Kurang tegasnya Perwira kapal


awak kapal terhadap aturan dalam menindaklanjuti ABK
Marine Pollution 73/78 Annex V yang melanggar aturan ini.

Hilangnya keindahan laut karena tercemar oleh sampah


dan banyak hewan serta biota laut yang mati karena
memakan sampah plastik.

Pengumpulan data kepada awak kapal terkait


pemahaman terhadap aturan Marine Pollution 73/78
Annex V dan tingkat kesadaran tentang dampak
pembuangan sampah ke laut

Analisis penyebab terjadinya pencemaran laut oleh


sampah di atas kapal

Rekomendasi pencegahan pencemaran laut oleh sampah


di atas kapal

PENERAPAN PENCEGAHAN PENCEMARAN


LAUT OLEH SAMPAH DIATAS KAPAL SESUAI
MARINE POLLUTION 73/78 ANNEX V
32

BAB III

METODE PENELITIAN

A. JENIS PENELITIAN

Jenis penelitian pada karya tulis ilmiah ini adalah penelitian

kualitatif. Menurut Bogdan dan Taylor mendefinisikan penelitian kualitatif

merupakan penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata

tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati, dalam

hal ini adalah ABK kapal MT Bull Sulawesi.

Terdapat beberapa faktor pertimbangan dalam menggunakan

deskriptif kualitatif yaitu:

1. Metode deskriptif kualitatif akan lebih mudah menyesuaikan bila

dalam penelitian ini kenyataannya ganda.

2. Metode deskriptif kualitatif menyajikan secara langsung hubungan

antara peneliti dengan objek peneliti.

3. Metode deskriptif kualitatif lebih peka serta dapat menyesuaikan diri

dengan banyak pengaruh terhadap pola-pola nilai yang dihadapi.

B. LOKASI PENELITIAN

1. Tempat Penelitian

Penelitian ini dilakukan di atas kapal MT Bull Sulawesi ketika

Penulis melaksanakan praktek layar (PRALA) selama 12 bulan.

2. Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan pada saat Penulis melaksanakan praktek

layar (PRALA) di atas kapal selama 12 bulan.


33

C. JENIS DAN SUMBER DATA

Yang dimaksud sumber data dalam penelitian adalah subyek dari

mana data diperoleh. Sumber data terbagi menjadi 2 jenis yaitu:

1. Data Primer adalah data dalam bentuk verbal atau kata-kata yang

diucapkan secara lisan, gerak-gerik atau perilaku yang dilakukan oleh

subjek yang dapat dipercaya, yakni subjek penelitan atau informan

yang berkenaan dengan variabel yang diteliti atau data yang diperoleh

dari responden secara langsung melalui wawancara dan memberikan

kuisioner kepada subjek terkait. Subjek dalam hal ini adalah ABK di

kapal MT Bull Sulawesi.

2. Data sekunder adalah data yang diperoleh dari teknik pengumpulan

data yang menunjang data primer. Dalam penelitian ini diperoleh dari

hasil observasi yang dilakukan oleh penulis serta dari studi pustaka.

Dapat dikatakan data sekunder ini bisa berasal dari dokumen-

dokumen grafis seperti tabel, catatan, SMS, foto dan lain-lain.

D. PEMILIHAN INFORMAN

Penelitian ini, informan penelitian merupakan ABK di kapal MT

Bull Sulawesi, tempat dimana Penulis melaksanakan praktek layar

(PRALA). Untuk mendapatkan kelengkapan informasi yang sesuai dengan

fokus penelitian maka yang dijadikan teknik pengumpulan data adalah

sebagai berikut:

1. Teknik Wawancara (interview)

Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu.

Percakapan itu dilakukan oleh dua pihak, yaitu Penulis mengajukan


34

pertanyaan kepada ABK kapal MT Bull Sulawesi dan ABK sebagai

orang terwawancara memberikan jawaban atas pertanyaan itu. Teknik

ini dilakukan untuk mengetahui kemampuan awak kapal dalam

memahami isi MARPOL 73/78 tentang sampah terutama Annex V.

2. Teknik Observasi (pengamatan)

Penulis melakukan pengamatan secara sengaja, sistematis,

mengenai fenomena sosial dan tingkah laku ABK kapal MT Bull

Sulawesi untuk kemudian dilakukan pencatatan. Teknik ini dilakukan

untuk mengetahui pentingnya pemahaman dan penerapan tentang

sampah pada awak kapal.

3. Teknik Dokumentasi

Dokumen merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu.

Dalam hal ini Penulis melakukan pencatatan peristiwa/ dokumentasi

dalam bentuk tulisan, gambar, dan rekaman video. Dokumen yang

ditunjukkan dalam hal ini adalah segala dokumen yang berhubungan

dengan manajemen dalam mengatasi keadaan awak kapal dalam

memahami isi MARPOL 73/78 tentang sampah terutama Annex V.

E. TEKNIK ANALISIS DATA

Lexy J. Moleong mengungkapkan bahwa analisis data adalah

proses mengatur urutan data, mengorganisasikannya ke dalam suatu pola,

kategori, dan satuan uraian dasar. Bogdan dan Taylor mendefinisikan

analisis data sebagai proses yang merinci usaha secara formal untuk

menemukan tema dan merumuskan hipotesis (ide) seperti yang disarankan

olah data dan sebagai usaha untuk memberikan bantuan pada tema dan
35

hipotesis itu. Analisis data secara deskriptif merupakan teknik analisis

yang digunakan oleh Penulis dalam menganalisis data dengan membuat

gambaran data-data yang terkumpul tanpa membuat generalisasi dari hasil

penelitian tersebut. Beberapa yang termasuk di dalam teknik analisis data

secara deskriptif misalnya menyajikan data ke dalam bentuk grafik, tabel,

presentasi, frekuensi, diagram, dan lain-lain.

Terdapat langkah-langkah dalam menganalisis data:

1. Data yang terkumpul dikategorikan dan dipilah-pilah menurut jenis

datanya.

2. Melakukan seleksi terhadap data yang dianggap data inti yang

berkaitan langsung dengan permasalahan dan yang hanya merupakan

data pendukung.

3. Menelaah, mengkaji, dan mempelajari lebih dalam data tersebut

kemudian melakukan interpretasi data untuk mencari solusi dalam

permasalahan yang diangkat dalam penelitian. Pada penelitian

kualitatif ini, analisis data dilakukan semenjak awal penelitian.

Pengamatan dilaksanakan di kapal MT Bull Sulawesi pada saat

praktek layar (PRALA).


36

DAFTAR PUSTAKA

Moleong, Lexy J. (2002). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung : Remaja


Rosdakarya.
Saleh, Mursid. (2003). Metode Pengumpulan Data. Semarang: Universitas
Negeri Semarang
Nazir. (2005). Metode Penelitian. Bogor: Ghalia Indonesia
Daniel, Valerina. (2009). Easy Green Living. Bandung: Hikmah.
IMO. (2017), 1 Januari. Marpol Consolidated Edition 2017. London: CPI
Group (UK) Ltd, Croydon, CRO 4YY
Bayu Ardhi Prasetyo, Hendi. (2017). “Penanganan Sampah Di Atas Kapal
Dalam Mencegah Pencemaran Di Laut”. Politeknik Pelayaran Surabaya
Renaldy, Riky. (2017). “Pentingnya Pemahaman Awak Kapal Tentang Zero
Pollution Guna Meningkatkan Kualitas Lingkungan Di Atas Kapal”.
Politeknik Pelayaran Surabaya
Captain Titus, Johannes dan dr. Idayanti. A, M.S. “Pencegahan Pencemaran
Laut”. Balai Pendidikan dan Latihan Pelayaran Dasar Surabaya
(2006) Buku Undang-undang Lingkungan Hidup dan Amdal. :Permata Press
Dr. Sembiring, Sentosa, S.H.,M.H. (2009). Buku Himpunan Undang-undang
Pelayaran. Bandung: Nuansa Aulia
Tim Penyusun. (2018). Modul Pencegahan Polusi. Surabaya: Politeknik
Pelayaran Surabaya
Dr. Dalman, H, [Link]. (2011). Menulis karya ilmiah. Jakarta: PT Rajagrafindo
Persada
Adinaya, G.B. (2018). Sampah Plastik Samudera Pasifik Hampir Seluas
Indonesia. National Geographic Indonesia [online].
Tersedia:[Link]
n-sampah-plastik-samudera-pasifik-hampir-seluas-indonesia [Diunduh
Pada 14 Maret 2019]
Widyaningrum, G.M. (2018). Seberapa Parahkah Kondisi Pencemaran Sampah
Plastik di Laut Asia?. National Geographic Indonesia [online].
Tersedia:[Link]
parahkah-kondisi-pencemaran-sampah-plastik-di-laut-asia [Diunduh
Pada 14 Maret 2019]
Putri, G.S. (2017). Laut Dunia Darurat Sampah Plastik, Indonesia Turut
Menyumbang. [Link] [online].
Tersedia:[Link]
dunia-darurat-sampah-plastik-indonesia-turut-menyumbang- [Diunduh
Pada 14 maret 2019]
37

Garcia, Ridwan. (2011). Memahami isi dari marpol. [online].


Tersedia:[Link]
dari-marpol/ [Diunduh Pada 15 Maret 2019]
IMO. Prevention of pollution by garbage from ships. [online].
Tersedia:[Link]
ntion/Garbage/Pages/[Link] [Diunduh Pada 16 maret 2019]
Sugara, Gama (2012). Pencemaran laut. [online]. Tersedia:http://
[Link]
[Diunduh Pada 27 maret 2019]
Jambeck, Jenna. (2017), 16 Juni. Setiap orang harus kurangi sampah plastik.
[online]. Tersedia:[Link]
jambeck-setiap-orang-harus-kurangi-sampah-plastik/ [Diunduh Pada 7
Mei 2019]
Iswara, R.P. (2013), 7 April. Jenis-jenis sampah. [online].
Tersedia:[Link]
sampah/ [Diunduh Pada 9 Mei 2019]
Pengertian analisis data, tujuan, jenis, dan prosedur analisis data. [online].
Tersedia:[Link]
[Link] [Diunduh Pada 15 Mei 2019]
(2019), 26 Februari. Suram, ini 4 fakta sampah plastik di laut. [online].
Tersedia:[Link]
[Link] [Diunduh Pada 24 Juni
2019.
(2010) Safety Management Manual. Jakarta: PT. Gemilang Bina Lintas Tirta
Ship Management.
(2007), 22 Juli. Pemadatan sampah dan limbah plastik, kertas, dus dan sampah
kering. [online].
Tersedia:[Link]
product_id=458 [Diunduh pada 28 Maret 2020]
(2019), 7 Juni. Insinerasi atau pembakaran sampah. [online]. Tersedia:
[Link] [Diunduh pada 20 April 2020]
(2019), 24 Desember. Riset LIPI Teliti Pencemaran Sampah Plastik di Laut
Indonesia. [online]. Tersedia: [Link]
sampah-plastik-di-laut-indonesia-eoHK [Diunduh pada 15 Mei 2020]
(2020), 6 Juli. Pengertian Skala Likert dan Contoh Cara Hitung Kuesionernya.
[online]. Tersedia: [Link] [Diunduh pada
22 September 2020]

Anda mungkin juga menyukai