PENINGKATAN KETERAMPILAN MENGGIRING BOLA PADA
PERMAINAN SEPAK BOLA MELALUI METODE MODELING
Asry Syam
Universitas Negeri Gorontalo
Abstrak : Penelitian ini dilaksanakan di SDN No. 1 Luwoo dengan
sampel siswa putra, yang berjumlah 16 orang. Dari hasil pengamatan yang
dilakukan dalam tiga siklus tersebut terlihat bahwa terjadi peningkatan
keterampilan menggiring bola, hal ini terbukti oleh hasil analisis data yang
telah dikumpulkan. Keterampilan menggiring bola pada Siklus I
mengalami peningkatan dari 25 % menjadi 42%. Pada siklus II
keterampilan menggiring bola mengalami peningkatan dari 42% menjadi
57%. Sedangkan pada siklus III mengalami peningkatan dari 57% menjadi
78%. Hasil tersebut menunjukkan bahwa indikator ini tercapai yakni 75%
siswa sudah memiliki keterampilan mengiring bola yang diharapkan.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa dengan metode modeling
dapat meningkatkan keterampilan mengiring bola pada permainan
sepakbola SDN No. 1 Luwoo Kabupaten Gorontalo.
Kata Kunci : Menggiring Bola, Modeling, Permainan sepak bola
Pendahuluan
Olahraga berkembang mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan
dan teknologi, khususnya mengenai peningkatan prestasi olahraga. Namun
peningkatan prestasi tersebut bukan hanya diakibatkan oleh diterapkannya
teknologi modern, akan tetapi harus ditangani oleh para ahli atau pakar
olahraga.
Para ahli mengungkapkan bahwa kegiatan olahraga merupakan
kegiatan yang tidak dapat dipisahkan dari semua aspek kehidupan
manusia. Rusli Lutan (1988 : 10) mengillustrasikan tentang proses
pembinaan olahraga sebagai suatu sistem yang kompleks, di mana proses
pembinaan olahraga itu dipengaruhi oleh faktor lingkungan dan diri
pribadi manusia itu sendiri. Secara ringkas diklasifikasikan ke dalam dua
faktor yaitu eksogen dan endogen. Rusli Lutan (1988 : 28) menguraikan
bahwa “ faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi ialah faktor eksogen,
seperti lingkungan fisik tempat berlatih, lingkungan keluarga yang
membantu membangun ambisi. Dan faktor endogen yakni atribut yang
melekat pada diri seseorang seperti struktur anatomi, kemampuan fungsi
fisiologis dan sistem persyarafan, serta ciri – ciri kepribadian yang
Jurnal INOVASI Volume 9, No.1, Maret 2012 1
ISSN 1693-9034
bersangkutan. Selain itu, upaya pembinaan prestasi olahraga, juga harus
didukung oleh faktor sarana dan prasarana, sumber daya manusia. Sumber
daya manusia yang dimaksud adalah pelatih yang berpendidikan dan
memahami dengan baik masalah-masalah yang menyangkut kepelatihan.
Hal ini akan mempunyai kemungkinan yang jauh lebih besar dari pada
tidak memiliki dasar ilmu kepelatihan.
Harsono (1991 : 88) mengemukakan bahwa pelatihan dalam
olahraga prestasi merupakan upaya meningkatkan keterampilan atau
prestasi semaksimal mungkin dengan memenuhi empat aspek latihan
secara seksama, yaitu 1) fisik, 2) teknik, 3) taktik, 4) mental.
Aspek fisik merupakan latihan yang bertujuan untuk meningkatkan
kondisi fisik. Sebab tanpa kondisi fisik yang baik baik, atlit tidak dapat
mengikuti latihan-latihan, apalagi bertanding dengan sempurna. Latihan
teknik bertujuan untuk mempermahir penguasaan keterampilan gerak
dalam cabang olahraga. Latihan taktik bertujuan meningkatkan dan
menumbuhkan daya tafsir pada atlit ketika melaksanakan kegiatan
olahraga. Yang dilatih adalah pola-pola permainan, strategi dan taktik
pertahanan dan penyerangan. Latihan mental lebih banyak menekankan
pada perkembangan kedewasaan (maturasi) serta emosional atlet, seperti
semangat bertanding, sikap pantang menyerah, dan keseimbangan
emosional. Ke empat aspek tersebut adalah hal yang penting yang harus
diperhatikan dalam upaya mengembangkan prestasi seorang atlet dalam
cabang olahraga.
Cabang olahraga permainan sepak bola merupakan olahraga yang
sangat populer dan sangat disenangi di kalangan anak-anak, remaja
maupun dewasa. Hal ini dapat terlihat pada sifat antusias masyarakat,
lembaga-lembaga pendidikan seperti SD, SMP SMA maupun di perguruan
tinggi. Popularitas sepak bola merupakan hal yang sangat wajar, karena di
dalam bermain diperlukan berbagai adegan gerakan dan teknik
keterampilan yang tinggi.
Selain itu metode pendekatan juga merupakan hal penting yang
harus diperhatikan oleh guru maupun pelatih. Salah satu diantaranya
adalah metode modeling. Dalam Metode modeling akan mengajarkan
anak-anak bagaimana bermain sepak bola yang benar, karena anak-anak
akan terangsang motoriknya untuk melakukan teknik yang benar setelah
didemostrasikan.
Di Kota Gorontalo khususnya di SDN No. 1 Luwoo permainan
sepak bola telah populer dan menjadi suatu bentuk olahraga yang sangat
dinamis untuk dimainkan dan dinikmati. Namun dalam pelaksanaannya,
cabang olahraga ini belum memperlihatkan teknik dasar yang benar. Salah
Jurnal INOVASI Volume 9, No.1, Maret 2012 2
ISSN 1693-9034
satu diantara teknik dasar yang di maksud adalah keterampilan menggiring
bola. Selain di duga kurangnya latihan peningkatan komponen-komponen
fisik yang diberikan kepada murid, juga di duga kurang tepatnya metode
mengajar para guru olahraga dalam meningkatkan keterampilan
menggiring bola dalam cabang olahraga sepak bola.
Penelitian ini mengkaji tentang faktor-faktor yang mempengaruhi
keberhasilan murid/anak dalam melakukan keterampilan menggiring bola,
yaitu dengan menggunakan metode modeling.
Hakikat Keterampilan Menggiring Bola
Permainan Sepak Bola adalah cabang olah raga yang sangat
membutuhkan kekuatan untuk bergerak, baik dengan menggunakan bola
maupun tidak menggunakan bola. Seorang pemain Sepak Bola sudah
seharusnya menguasai teknik dasar permainan itu sendiri, salah satu teknik
dasar permainan Sepak Bola adalah menggiring bola. Jozef Sneyers
(1990:64) mengemukakan bahwa : menggiring bola merupakan dasar
seorang pemain Sepak Bola untuk berprestasi dimasa yang akan datang.
Syarifuddin dan Muladi (1992:150) menambahkan bahwa “teknik dasar
menggiring bola adalah cara membawa bola dengan mempergunakan kaki
dengan tujuan agar bola yang akan ditendang (dioperkan) atau akan
dimasukkan ke gawang lawan akan lebih dekat”.
Berdasarkan teori di atas maka diasumsikan bahwa untuk
menggiring bola adalah suatu seni untuk melakukan berbagai gerakan,
disisi lain bukan hal yang sangat gampang dilakukan tetapi harus
menggunakan perhitungan yang matang secara tepat dapat dilakukan.
Hal lain yang sangat penting dalam menggiring bola, mata 75%
kearah bola menggiring bola harus mengarah ke daerah lawan menggiring
dengan kaki bagian dalam, kaki bagian luar. Hal-hal yang sangat prinsip
yang perlu diperhatikan pada cara menggiring bola sebagaimana
dikemukakan oleh Jozef Sneyers (1990 : 40-46) bahwa menggiring bola
harus melihat keadaan lawan yang harus dilewati, pada saat menggiring
bola harus memperhitungkan bola sudah boleh diumpan kepada kawan
saat kawan bergerak ke daerah yang kosong dan menuju sasaran daerah
lawan.
Menggiring bola merupakan suatu cara untuk memperpendek jarak
atas jangkauan dari teman. Soekatamsi (1992:73) bahwa “Menggiring bola
diartikan dengan gerakan lari menggunakan bagian kaki mendorong bola
agar bergulir terus menerus di atas tanah”. Untuk menggiring bola, hanya
pada saat-saat tertentu saja. Kalau tidak, akan memperlambat permainan,
Jurnal INOVASI Volume 9, No.1, Maret 2012 3
ISSN 1693-9034
sebab apabila bola ditendang jauh kedepan maka lebih baik waktunya dari
pada menggiring bola.
Pada prinsipnya ada tiga cara menggiring bola, sebagaimana yang
dikemukakan oleh Abdullah (1992:27) bahwa “menggiring bola dapat
dilakukan dengan kaki dalam, punggung kaki dan punggung kaki bagian
luar”.
Abdullah, (1992:27) menambahkan bahwa menggiring bola pada
dasarnya sangat baik digunakan oleh pemain, tetapi mempunyai tingkat
kesalahan yang cukup banyak antara lain ; 1) Sering bukan menggiring
bola tetapi memukul bola sehingga jalan terlalu cepat dan tidak terkontrol,
2) Jarak antara pemain dengan bola terlalu jauh sehingga mudah direbut
lawan, 3) Irama langkah lari rusak akibat dari irama kaki menyentuh bola
tidak teratur.
Sneyers (1988: 11), bahwa “semakin baik penguasaan bola dan
semakin mudah seorang pemain dapat melepaskan diri dari situasi yang
gawat, maka makin memuaskan mutu permainan keseblasan itu”.
Keterampilan menggiring bola dan melewati lawan-lawannya
dengan kecepatan yang berubah-ubah, merupakan suatu atraksi yang
sangat menarik dan menggairahkan dalam pertandingan sepak bola.
Kejadian seperti ini pada zaman sekarang telah berkurang, bila
dibandingkan dengan zaman dahulu. Hal ini disebabkan oleh pembaharuan
taktik bermain sekarang ini yakni permainan sepak bola telah menekankan
secara ketat kerja sama tim.
Hanya sedikit pemain yang memiliki akselerasi, kecepatan
keseimbangan dan kemampuan gerak tipu yang dapat dipertontonkan
dalam pertandingan sepak bola. Namun beberapa pemain yang kurang
terikat dengan tekanan latihan modern, sering mencoba keahlian ini bila ia
berhasil, maka dianggap sebagai pahlawan yang memberikan sumbangan
kepada timnya. Bila tidak berhasil maka dia akan dicercah sebagai pemain
yang serakah atau pemain yang mementingkan diri sendiri. Seorang
pemain yang pandai “menggiring bola” adalah pemain yang memiliki
keterampilan tinggi dalam menggiring bola, sebagaimana yang
dikemukakan oleh Muhadi (1992: 151) bahwa “waktu menggiring bola
setiap pemain harus dapat bertindak dengan cepat dan tepat, serta
menggunakan berbagai variabel seperti mengubah arah, berhenti dengan
tiba-tiba maupun melakukan gerakan kecepatan dengan secara tiba-tiba”.
Jadi untuk dapat melakukan teknik menggiring bola dengan baik ini
harus ditunjang dengan kerja sama tim yang sulit. Untuk mendapatkan
pengakuan teman seregu, pemain tersebut harus tahu betul, kapan dan dia
harus memberikan bola kepada temannya dan kapan dia harus
Jurnal INOVASI Volume 9, No.1, Maret 2012 4
ISSN 1693-9034
menggulingkan bola untuk melewati pemain lawan. Bila ia melakukannya
secara cepat, maka dia tidak akan terisolasi dari timnya.
Metode Modeling
Metode diartikan sebagai suatu cara memberikan bimbingan serta
pengalaman belajar yang telah disusun secara teratur. Metode sangat
dibutuhkan, karena dengan adanya cara yang telah disusun secara teratur
itu akan memudahkan para guru maupun siswa untuk melakukannya.
Dalam menyajikan latihan-latihan hendaknya diberikan secara metodis,
artinya cara penyajiannya dimulai dari yang mudah ke yang sukar, dari
latihan ringan ke latihan yang berat dan pengulangannya dari yang sedikit
ke yang banyak.
Surakhmad ( 1961:24) mengatakan bahwa metode pengajaran
adalah cara-cara pelaksanaan proses pengajaran atau bagaimana teknis
sesuatu bahan pelajaran diberikan kepada murid di sekolah. Salah satu
metode mengajar yang dapat diterapkan adalah dengan metode modeling.
Daruma (1993 : 2) memberikan pengertian bahwa “Modeling berarti
mengadakan suatu contoh yang baik atau pola tingkah laku untuk klien
yang tidak mengetahui dan memahami bagaimana bertindak secara tepat
dalam berbagai situasi”. Menurut teori ini yang terpenting adalah
kemampuan orang yang mengamati obyek atau sedang belajar melalui
imitasi dan identifikasi untuk mengabstraksikan informasi dan tingkah lau
orang lain, mengambil keputusan mengenai tingkah laku yang akan di tiru
dan selajutnya akan melakukan pilihannya. Bandura (dalam, Daruma 1993
: 2) mengatakan bahwa Modeling sangat berperan dalam pengembangan
dan perubahan banyak tingkah laku manusia. Ia mengemukakan tiga
akibat utama modeling yang masing-masing mempunyai implikasi yang
penting dalam praktek.
Pertama, adalah perolehan respon-respon baru atau keterampilan
performansi itu semua akkibat belajar dengan mengamati, menunjuk untuk
pengintegrasian pola-pola tingkah laku baru berdasarkan atas pengamatan
pada suatu contoh. Misalnya belajar keterampilan dalam olahraga,
khususnya pada cabang olahraga permainan.
Kedua, adalah suatu hambatan pada respon takut yang terjadi
apabila tingkah laku siswa terhambat. Dalam hal ini medeling yang
melaksanakan respon takut yang terkadang tidak menderita konsekuensi
negatif atau sebenarnya mendapatkan konsekuensi positif.
Ketiga, adalah mempermudah terjadinya respon dalam hal mana
suatu modeling memberikan bagi orang-orang lain untuk berusaha
Jurnal INOVASI Volume 9, No.1, Maret 2012 5
ISSN 1693-9034
menandingi. Akibatnya dapat mempertinggi tingkah laku yang telah
dipelajari individu. Misalnya modeling anak usia belasan tahun yang
mempunyai keterampilan olahraga yang bagus. Siswa lain yang melihat
advertensi tersebut mungkin akan mengikuti untuk mencobanya.
Dalam penggunaan tiga tipe modeling tersebut siswa harus benar-
benar peka terhadap berbagai kesempatan yahg tepat untuk memberikan
bantuan melalui modeling sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan
bersama dengan siswa. Pemberian modeling pada umumnya ditampilkan
dalam dua cara yaitu siswa sendiri yang bertindak sebagai model atau
orang lain seperti teman siswa bertindak sebagai model, kedua model
simbolis yang ditampilkan melalui alat peraga.
Pelaksanaan Modeling
Pada dasarnya prosedur dalam penggunaan modeling ini melewati
empat tahap yaitu:
a. Asesement
Pada tahap ini guru berusaha menggali masalah siswa, kelebihan,
kelemahan, aktivitas, perasaan, pikiran dan nilai-nilai yang diamati oleh
siswa
b. Goal Setting
Pada tahap ini guru melakukan kontrak dengan siswa untuk
mencapai tujuan, mengurutkan tujuan khusus, merinci dan merupakan
tujuan perubahan tingkah laku yang ingin dicapai bersama siswa.
c. Implementasi Teknik
Pada tahap ini guru menemukan dan memilih teknik khusus yang
sesuai dengan masalah yang dialami.
d. Evaluasi dan terminasi
Pada tahap ini guru berusaha memantau perubahan tingkah laku
siswa.
Dalam pelaksanaan metode ini hendaknya ditampilkan secara utuh
dengan memperlihatkan baik keseluruhannya maupun bagian-bagiannya.
Kelebihan dari modeling sebagai teknik dalam pengubahan tingkah laku
ialah dengan cepat dan mudah anak dapat mengamati suatu model tingkah
laku yang diperlukan tanpa belajar. Sehingga jelaslah bahwa metode
modeling adalah cara yang dalam fungsinya merupakan cara mengajar
yang efektuf agar siswa mampu melakukan semua latihan yang diberikan
serta dapat mendemonstrasikan pada permainan sepak bola khususnya
dalam teknik menggiring bola.
Metode Penelitian
Jurnal INOVASI Volume 9, No.1, Maret 2012 6
ISSN 1693-9034
Penelitian ini adalah jenis penelitian tindakan kelas. Populasi adalah
Murid SDN No 1 Luwoo Kabupaten Gorontalo. Sampel berjumlah 16
orang, dengan rata-rata usia 10-11 tahun dan seluruhnya memiliki latar
belakang keterampilan yang bervariasi.
Dalam penelitian ini Keterampilan siswa di ukur dengan variable
sebagai berikut : Cara menggiring bola, Posisi badan saat menggirng bola,
Posisi kaki saat menggiring bola dengan punggung kaki, dan posisi badan,
tangan, dengan irama langkah/kaki menyentuh bola.
Sedangkan penerapan Metode Modeling dengan cara : a)
Assement. Pada tahap ini guru berusaha menggali masalah siswa
kelebihan, kelemahan, aktivitas, perasaan, pikiran dan nilai-nilai yang
diamati oleh siswa. b) Goal Setting, Pada tahap ini guru melakukan
kontrak dengan siswa untuk mencapai tujuan, mengurutkan tujuan khusus,
merinci dan merupakan tujuan perubahan tingkah laku yang ingin dicapai
bersama siswa. c) Implementasi Teknik. Pada tahap ini guru menemukan
dan memilih teknik khusus yang sesuai dengan masalah yang dialami. d)
Evaluasi dan Terminasi. Pada tahap ini guru berusaha memantau
perubahan tingkah laku siswa.
Prosedur penelitian tindakan ini terdiri atas 3 siklus. Tiap siklus
dilaksanakan dengan perubahan yang ingin dicapai, seperti apa yang telah
dirancang dalam faktor yang diselidiki. Untuk melihat penguasaan materi
pembelajaran, dilakukan evaluasi awal/observasi awal. Ini dilakukan
dalam rangka mengetahui tindakan yang tepat untuk diberikan dalam
rangka meningkatkan hasil pembelajran.
Hasil Penelitian Dan Pembahasan
Penelitian ini dilaksanakan dalam 3 siklus masing-masing siklus 3
kali pertemuan. Hal ini disebabkan pada siklus I dan siklus II peningkatan
keterampilan siswa menggiring bola belum mencapai hasil yang
diharapkan sehingga dilanjutkan pada siklus III.
Observasi Awal
Hasil Pengamatan Kegiatan Belajar Mengajar
Pengamatan siklus I dilakukan secara bersama-sama oleh peneliti
dan guru pengamat dalam hal ini guru mitra sendiri yang bertindak
sebagai guru pengamat. Kegiatan guru dan siswa selama proses
pembelajaran berlangsung diamati melalui lembar pengamatan.
Hasil Pengamatan Kegiatan Siswa
Yang melakukan pengamatan untuk kegiatan siswa pembelajaran
adalah peneliti dan guru mitra dengan 4 aspek yang diamati. Pada
Jurnal INOVASI Volume 9, No.1, Maret 2012 7
ISSN 1693-9034
Observasi data awal ini yang memperoleh kriteria kurang tepat 4 orang (
25%) dan sangat tidak tepat 12 orang ( 75 %). Data selengkapnya
disajikan pada tabel.
TABEL 1 Hasil pengamatan kegiatan siswa
ASPEK PENILAIAN
RANTANG KRITERIA
NO KET
NILAI ASPEK JUMLAH PERSENTASE
1 Sangat tepat 90 – 100 - -
2 Tepat 75 – 80 - -
3 Kurang tepat 40 – 74 4 25
4 Sangat tidak tepat 0 – 39 12 75
Jumlah Total 16 100
Siklus I
Hasil Pengamatan Kegiatan Siswa
Pada pelaksanaan tindakan siklus I ini memperoleh kriteria kurang
tepat 6 orang (37,50%), sangat tidak tepat 10 orang (62,50%). Data
selengkapnya disajikan pada tabel.
Tabel 2: Hasil Pengamatan kegiatan siswa
KRITERI ASPEK PENILAIAN
NO RENTANG NILAI KET
A JLH PERSENTASE
1 Sangat tepat 90 – 100 - -
2 Tepat 75 – 80 - -
3 Kurang tepat 40 – 74 6 37.50
4 Sangat tidak tepat 0 – 39 10 62.50
Jumlah Total 16 100
Refleksi Dan Hasil Tindakan
Disimpulkan bahwa tindakan kelas pada siklus I belum terlaksana
sebagaimana yang diharapkan, hal ini terbukti dari keterampilan siswa
Jurnal INOVASI Volume 9, No.1, Maret 2012 8
ISSN 1693-9034
dalam menggiring bola yang belum menampakkan peningkatan. Dengan
pengertian bahwa dalam proses pembelajaran pada siklus I masih banyak
terdapat aspek-aspek yang belum terlaksana secara optimal, seperti
misalnya pada kegiatan guru melalui hasil pengamatan diketahui guru
tidak menjelaskan secara singkat mengenai tujuan pembelajaran guru juga
tidak menjelaskan lebih lanjut mengenai hal-hal yang akan dilaksanakan
dalam menggiring bola serta koreksi atas materi yang diajarkan. Untuk itu
penelitian tindakan ini dilanjutkan ke siklus II.
Siklus II
Hasil Pengamatan Kegiatan Siswa
Pada pelaksanaan tindakan siklus II ini yang memperoleh kriteria
tepat 2 orang (12,50%), kurang tepat 13 orang orang (81,25%) dan
kriteria sangat tidak tepat 1 orang (6,25%). Data selengkapnya disajikan
pada tabel.
Tabel 3: Hasil Pengamatan siswa
KRITERI ASPEK PENILAIAN
NO RENTANG NILAI KET
A ASPEK JLH PERSENTASE
1 Sangat tepat 90 – 100 -
-
2 Tepat 75 – 80 12.50
2
3 Kurang tepat 40 – 74 1 81.25
3
4 Sangat tidak tepat 0 –39 6.25
1
Jumlah Total 1 100
6
Refleksi Dan Hasil Tindakan
Disimpulkan bahwa tindakan kelas ini belum terlaksana
sebagaimana yang diharapkan, hal ini terbukti dari jumlah siswa yang
mengalami peningkatan keterampilan hanya berjumlah 2 orang. Dengan
pengertian bahwa dalam proses pembelajaran pada siklus II terdapat
aspek-aspek yang belum terlaksana secara optimal, seperti guru tidak
menjelaskan secara singkat tujuan pembelajaran dan korelasi atas materi
yang diajarkan. Untuk ini penelitian tindakan ini dilanjutkan ke siklus III.
Jurnal INOVASI Volume 9, No.1, Maret 2012 9
ISSN 1693-9034
Siklus III
Siklus III merupakan penyempurnaan dari siklus I dan siklus II.
Hasil Pengamatan Kegiatan Sisiwa
Pada pelaksanaan tindakan siklus III yang memperoleh criteria
tepat 11 orang (68,75%) dan kriteria kurang tepat 5 orang (31, 25%) .
Data selengkapnya disajikan pada tabel.
Tabel 4: Hasil Pengamatan siswa
RANTANG KRITERIA ASPEK PENELIAN
NO KET
NILAI ASPEK
JLH PERSENTASE
1 Sangat tepat 90 – 100 - -
2 Tepat 75 – 80 11 68.75
3 Kurang tepat 40 – 74 5 31.25
4 Sangat tidak tepat 0 – 39 - -
Jumlah Total 16 100
Refleksi Dan Hasil Tindakan
Refleksi dilaksanakan pada akhir siklus dengan tujuan untuk
mengetahui hasil yang telah diperoleh dan untuk mendapatkan gambaran
apakah tiundakan yang dilakukan telah mempengaruhi peningkatan
keterampilan siswa dalam menggiring bola. Berdasarkan refleksi tersebut
maka hasil yang diperoleh telah mencapai target yang diharapkan dengan
tidak perlu lagi untuk melanjutkan pada siklus berikutnya.
Pembahasan
Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan dalam tiga siklus yang
terlebih dahulu diawali dengan observasi awal. Dari hasil observasi awal
terlihat bahwa keterampilan siswa dalam menggiring bola hanya mencapai
25%, untuk itu tindakan segera dilanjutkan ke siklus I. Siklus I terdiri dari
tiga kali pertemuan, pada masing-masing pertemuan dicatat peningkatan
keterampilan siswa sebagai berikut : pertemuan pertama meningkat dari
25% menjadi 30%. Pertemuan kedua 30% menjadi 35% dan pertemuan
ketiga meningkat 7% menjadi 42%. Melihat peningkatan keterampilan
siswa pada pertemuan terakhir siklus I tidak mencapai apa yang telah
Jurnal INOVASI Volume 9, No.1, Maret 2012 10
ISSN 1693-9034
ditargetkan yakni 78%, maka peneliti kemudian melanjutkan tindakan ke
siklus II setelah pertemuan pada siklus direfleksi.
Pada siklus II yang terdiri dari tiga kali pertemuan, dicatat
peningkatan yang dialami oleh pada setiap pertemuan masing-masing
sebagai berikut: Pertemuan pertama meningkat 40% menjadi 46%,
pertemuan kedua 50% menjadi51%, sedangkan pertemuan ketiga
meningkat 6% muridmenjadi 57%. Hasil akhir dari pada siklus ketiga
(57%) ini masih rendah dan jauh dari apa yang diharapakan, untuk itu
peneliti melanjutkan tindakan ke diklus III, setelah refleksi siklus II
dilaksanakan.
Siklus III dilaksanakan hanya dalam satu kali pertemuan. Pada
akhir (evaluasi) siklus III ini diketahui bahwa keterampilan siswa
mengalami peningkatan 21% menjadi 78%. Peningkatan ini menandakan
keberhasilan.
Simpulan
Berdasarkan uraian pada bab-bab sebelumnya, maka penulis
menarik baberapa simpulan sebagai berikut :1) Pengunaan metode
modeling dalam materi menggiring bola pada permainan sepabola dapat
meningkatkan keterampilan siswa. Hal ini dapat dibuktikan dengan hasil
penelitian tindakan yang telah dilaksanakan, 2) Terdapat peningkatan yang
bermakna dalam keterampilan siswa menggiring bola dari 25% menjadi
78%, hal ini mengakibatkan hipotesis tindakan yang telah diajukan
diterima.
Saran
Setelah melaksanakan PTK, penulis mengemukakan saran sebagai
berikut : 1) Penelitian Tindakan Kelas (PTK) kiranya dapat terus
diterapkan dengan tujuan untuk meningkatkan proses belajar dan
keterampilan siswa, 2) Kepada guru penjaskes, kiranya pengunaan
metode modeling dapat diterapkan sesuai tahapan-tahapannya pada
permainan bola kaki, terutama pada pada materi menggiring bola, 3)
Kepada Siswa, dengan metode modeling dapat diperoleh hasil yang baik
pada permaianan sepak bola, 4) PTK ini juga kiranya dapat dilaksanakan
dan digunakan sebagai feedback bagi guru, terutama bagi kesiapan dalam
melaksanakan proses pembelajaran.
Daftar Pustaka
A.M. Sardiman, 1996. Interaksi dan Motivasi Belajar. Jakarta
Abdullah Arma. 1985. Olahraga untuk Pelatih. Pembina dan Penggemar
Jurnal INOVASI Volume 9, No.1, Maret 2012 11
ISSN 1693-9034
Daruma, Abd,Razak, 1993. Modeling sebagai teknik pengubah tingkah
laku. Ujung Pandang Komda IPBI
Muhadi dan Aip Syarifuddin, 1992. Pendidikan Jasmani dan Kesehatan
Dikbud Dikti Proyek Pembinaan Tenaga Kependidikan
Nujino Numyati, 1982. Belajar dan Pembelajaran, Dikbud Jakarta.
Soekamsi, 1992. Permainan Bola Besa. Depdikbud, Proyek Peningkatan
Mutu Guru Stara D-II dan Pendidikan , Jakarta.
Sneyer, 1988, Sepak Bola Latihan dan Strategi Permainan. Rosda Jaya
Putra, Jakarta.
Syarifuddin, Muhadi, 1992 Pengantar Ilmu Melatih. FPOK IKIP Padang
Pele. 1983. Main Bola Bersama. Olympic Edisi
Tarigan, 2001. Pendekatan Keterampilan Taktik dalam Pembelajaran
Sepak Bola. Depdiknas, Dikdasmen, Bekerja Sama Direktorat
Olahraga, Jakarta.
Jurnal INOVASI Volume 9, No.1, Maret 2012 12
ISSN 1693-9034