0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
100 tayangan20 halaman

Terapi Aktivitas Kelompok Resiko Bunuh Diri

Terapi aktivitas kelompok stimulasi persepsi untuk pasien dengan resiko bunuh diri bertujuan untuk meningkatkan harga diri, berpikir positif, menggunakan mekanisme koping yang adaptif, dan membuat rencana masa depan yang realistis melalui diskusi kelompok dan stimulasi. Terapi ini diselenggarakan untuk klien sehat fisik dengan harga diri rendah kronis dan perasaan negatif pada diri sendiri.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
100 tayangan20 halaman

Terapi Aktivitas Kelompok Resiko Bunuh Diri

Terapi aktivitas kelompok stimulasi persepsi untuk pasien dengan resiko bunuh diri bertujuan untuk meningkatkan harga diri, berpikir positif, menggunakan mekanisme koping yang adaptif, dan membuat rencana masa depan yang realistis melalui diskusi kelompok dan stimulasi. Terapi ini diselenggarakan untuk klien sehat fisik dengan harga diri rendah kronis dan perasaan negatif pada diri sendiri.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK RESIKO BUNUH DIRI

DISUSUN :

OLEH KELOMPOK 5

Kholila Ritonga (200204030) Denri ( 200204015 )

Mukhlis Laia (200204035) Oswald Hutagalung (200204089)

Nurhandayani Ndruru (200204036) Tiur Y.M. Gultom (200204052)

Ona Riska (200204038) Yolanda zulisa (200204056)

Dosen Pembimbing :

Ns. Jek Amidos Pardede, [Link]

FAKULTAS FARMASI DAN ILMU KESEHATAN

TAHUN AKADEMIK 2022/2023

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan karunia-Nya sehingga dapat
menyelesaikan makalah yang berjudul “ Terapi Aktifitas Kelompok Resiko Bunuh Diri”
Selama penulisan dan penyusunan laporan makalah ini, penulis tidak luput dari kendala.
Kendala tersebut dapat diatasi penulis berkat adanya bantuan, bimbingan dan dukungan dari
berbagai pihak, oleh karena itu penulis ingin menyampaikan rasa terimakasih sebesar-besarnya
kepada :

1. Parlindungan Purba, SH, MM selaku Ketua Yayasan Sari Mutiara Medan.

2. Dr. Ivan Elisabeth, SP, [Link] selaku Rektor Universitas Sari Mutiara Indonesia
Medan.

3. Taruli Rohana Sinaga, SP, MKM, selaku Dekan Fakultas Farmasi dan Ilmu Kesehatan
Universitas Sari Mutiara Indonesia.

4. Ns. Marthalena Simamora, [Link], selaku Ketua Program Studi Keperawatan Fakultas
Farmasi dan Ilmu Kesehatan Universitas Sari Mutiara Indonesia.

5. Ns. Jek Amidos Pardede, [Link] selaku dosen pengampu mata kuliah Keperawatan jiwa
yang telah meluangkan waktu untuk memberikan arahan dan masukan sehingga makalah ini
terselesaikan Kelompok menyadari bahwa penyusunan makalah ini masih banyak kekurangan,
dengan demikian penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari semua pihak
dalam rangka penyempurnaan makalah ini.

Medan, November 2022

Kelompok 5

2
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.......................................................................................................i
DAFTAR ISI......................................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN..................................................................................................4
A. Latar Belakang...................................................................................................4
B. Rumusan Masalah..............................................................................................4
C. Tujuan................................................................................................................4

BAB II PEMBAHASAN...................................................................................................6
A. Terapi aktivitas kelompok resiko bunuh diri.....................................................6
1. Pengertian....................................................................................................6
2. Pencegahan Resiko Bunuh Diri...................................................................6
3. Tujuan TAK resiko bunuh diri....................................................................6
4. Karakteristik klien.......................................................................................7
5. Masalah keperawatan...................................................................................7
6. Pengorganisasian TAK................................................................................7
B. Konsep pemberian terapi aktivitas kelompok (TAK) stimulasi persepsi
Pada pasien dengan resiko bunuh diri ..............................................................9

BAB III PENUTUP ..........................................................................................................19


A. Kesimpulan........................................................................................................19
B. Saran ................................................................................................................19
DAFTAR PUSTAKA........................................................................................................20

3
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Bunuh diri merupakan tindakan yang secara sadar dilakukan oleh pasien untuk
mengakhiri kehidupannya. (Ade Herman, 2011)
Resiko bunuh diri adalah resiko untuk mencederai diri sendiri yang dapat mengancam
kehidupan. Bunuh diri merupakan kedaruratan psikiatri karena merupakan perilaku
untuk mengakhiri kehidupannya.
Perilaku bunuh diri disebabkan karena stress yang tinggi dan berkepanjangan
dimana individu gagal dalam melakukan mekanisme koping yang digunakan dalam
mengatasi masalah. Beberapa alasan individu mengakhiri kehidupan adalah kegagalan
untuk beradaptasi, sehingga tidak dapat menghadapi stress, perasaan terisolasi, dapat
terjadi karena kehilangan hubungan interpersonal/ gagal melakukan hubungan yang
berarti, perasaan marah/ bermusuhan, bunuh diri dapat merupakan hukuman pada diri
sendiri, cara untuk mengakhiri keputusasaan (Stuart, 2006).
Terapi aktivitas kelompok merupakan terapi yang bertujuan mengubah perilaku
klien dengan memanfaatkan dinamika kelompok.
Terapi aktivitas kelompok (TAK) adalah aktifitas membantu anggotanya untuk
mengatasi identitas hubungan yang kurang efektif dan mengubah tingkah laku yang
adaptif.
[Link] masalah
Bagaimana terapi aktivitas kelompok stimulasi persepsi yang akan diberikan pada
pasien dengan gangguan resiko bunuh diri

C. Tujuan
1. Tujuan Umum
Peserta TAK mampu meningkatkan hubungan interpersonal anggota kelompok,
berkomunikasi, mampu berinteraksi maupun berespon terhadap stimulasi yang
diberikan
2. Tujuan Khusus

4
Sesi 1
a. Klien dapat meningkatkan harga diri
b. Klien dapat berpikir positif terhadap dirinya
Sesi 2
a. Klien dapat menggunakan mekanisme koping yang adaptif
b. Klien dapat membuat rencana masa depan yang realistis

5
BAB II
PEMBAHASAN

A. Terapi aktivitas kelompok stimulasi persepsi

1. Pengertian
Terapi aktivitas kelompok (TAK) adalah salah satu terapi modalitas yang
dilakukan oleh seorang perawat pada sekelompok klien dengan masalah
keperawatan yang sama (Keliat & Pawirowiyono, 2014).
Terapi Aktifitas Kelompok (TAK) adalah aktifitas membantu anggotanya untuk
mengatasi identitas hubungan yang kurang efektif dan mengubah tingkah laku yang
adaptif (Stuart 2009).
Jenis-jenis terapi aktivitas kelompok, yaitu :
a. Terapi aktivitas kelompok (TAK) stimulasi persepsi
b. Terapi aktivitas kelompok (TAK) stimulasi sensori
c. Terapi aktivitas kelompok (TAK) orientasi realitas
d. Terapi aktivitas kelompok (TAK) sosialisasi
Oleh karena itu, pengertian terapi aktivitas kelompok (TAK) stimulasi persepsi
adalah terapi yang menggunakan aktivitas sebagai stimulus dan terkait dengan
pengalaman dan atau kehidupan untuk didiskusikan dalam kelompok. Hasil diskusi
kelompok dapat berupa kesepakatan persepsi atau alternatif penyelesaian masalah
(Keliat & Pawirowiyono, 2014).

2. Pencegahan Resiko Bunuh Diri

Sesi 1 : Melindungi pasien dari bunuh diri


Sesi 2 : Meningkatkan Harga Diri pasien
Sesi 3 : Menggunakan mekanisme koping yang adaptif

3. Tujuan TAK
1. Tujuan Umum Peserta TAK mampu meningkatkan hubungan interpersonal
anggota kelompok, berkomunikasi, mampu berinteraksi maupun berespon

6
terhadap stimulasi yang diberikan
2. Tujuan Khusus :
Sesi 1
a. Klien dapat meningkatkan harga diri
b. Klien dapat berpikir positif terhadap dirinya

Sesi 2
a. Klien dapat menggunakan mekanisme koping yang adaptif
b. Klien dapat membuat rencana masa depan yang realistis
4. Karakteristik Klien
1. Kriteria
- Klien yang sehat fisik
- Klien dengan harga diri rendah kronis
- Klien yang memiliki perasaan negatif pada dirinya
- Klien dengan resiko bunuh diri
2. Proses Seleksi
- Berdasarkan observasi klien sehari- hari
- Berdasarkan informasi dan diskusi dengan perawat ruangan mengenai perilaku
klien sehari- hari
- Hasil diskusi kelompok
- Berdasarkan asuhan keperawatan
- Adanya kesepakatan dengan klien
5. Masalah Keperawatan
Resiko bunuh diri
6. Pengorganisasian TAK
1. Waktu
a. Hari/ tanggal : Senin, 14 November 2022
b. Jam : 08.00 WIB
2. Tim Terapis
a. Leader
Tugas Leader :
1. Mengkoordinasi seluruh kegiatan.
2. Memimpin jalannya terapi kelompok.
3. Memimpin diskusi.

7
4. Kontrak waktu
5. Menyimpulkan hasil kegiatan
6. Menutup acara

b. Co Leader
Tugas Co Leader
1. Membantu leader mengkoordinasi seluruh kegiatan.
2. Mengingatkan leader jika ada kegiatan yang menyimpang.
3. Membantu memimpin jalannya kegiatan.
4. Menggantikan leader jika terhalang tugas.

c. fasilitator
Tugas fasilitator
1. Memotivasi peserta dalam aktivitas kelompok.
2. Memotivasi anggota dalm ekspresi perasaan setelah kegiatan.
3. Mengatur posisi kelompok dalm lingkungan untuk melaksanakan kegiatan.
4. Membimbing kelompok selama permainan diskusi.
5. Membantu leader dalam melaksanakan kegiatan.
6. Bertanggung jawab terhadap program antisispasi masalah.

d. observer Tugas observer


1. Membantu klien meluruskan dan menjelaskan tugas yang harus dilakukan
2. Mendampingi peserta TAK
3. Memotivasi klien untuk aktif dalam kelompok
4. Menjadi contoh bagi klien selama kegiatan

e. Tugas Anggota
1. Menjalankan dan mengikuti kegiatan terapi

3. Nama klien yang ikut :


1. Dendri
2. Kholila Ritonga
4. Metode dan media

8
a. Metode
1. Diskusi
2. Permainan

b. Alat :
1. Spidol sebanyak jumlah klien yang mengikuti TAK.
2. Kertas putih HVS dua kali jumlah klien yang mengikuti TAK

c. Setting :
1. Terapis dan klien duduk bersama dalam lingkaran.
2. Ruangan nyaman dan tenang.

LEADER

PASIEN PASIEAN

FASILITATOR OBSERVER

B. Konsep pemberian terapi aktivitas kelompok (TAK) stimulasi persepsi pada pasien
dengan resiko bunuh diri

Sesi 1
Stimulasi persepsi
Pencegahan Bunuh Diri Mencegah Keinginan untuk Bunuh Diri

A. Pembagian Tugas
1. Leader : Nurhandayani
2. Co Leader : Ona Riska
3. Observer : Tiur Ym Gultom
4. Fasilitator : Yolanda Zulisa

9
5. Nama klien yang ikut :
1. Dendri Kristiani
2. Kholila Ritonga
B. Tujuan :
1. Klien dapat mengendalikan saat ada keinginan atau dorongan untuk bunuh diri
2. Klien dapat mengekspresikan perasaannya
C. Setting
1. Terapis dank lien duduk bersama secara melingkar
2. Tempat nyaman dan tenang

D. Alat
1. Spidol sebanyak jumlah klien yang mengikuti TAK.
2. Kertas putih HVS dua kali jumlah klien yang mengikuti TAK.
E. Metode
1. Diskusi dan Tanya jawab
2. Permainan
F. Langkah Kegiatan
1. Persiapan
a. Memilih klien sesuai dengan indikasi, yaitu klien dengan Resiko Bunuh Diri
b. Membuat kontrak dengan klien.
c. Mempersiapkan alat dan tempat pertemuan.
2. Orientasi
a. Salam terapeutik
1. Salam dari terapis kepada klien.
2. Perkenalkan nama dan panggilan terapis (pakai papan nama).
3. Menanyakan nama dan panggilan semua klien (beri papan nama).

b. Evaluasi/validasi
Menanyakan perasaan klien saat ini.

c. Kontrak
1. Terapis menjelaskan tujuan kegiatan, yaitu mencegah keinginan untuk bunuh diri
2. Terapis menjelaskan aturan main berikut :

10
a. Jika ada klien yang ingin meninggalkan kelompok, harus meminta izin kepada
terapis.
b. Lama kegiatan 30 menit.
c. Setiap klien mengikuti kegiatan dari awal sampai selesai.
3. Tahap kerja
a. Terapis memperkenalkan diri : nama lengkap dan nama panggilan serta memakai
papan nama.
b. Terapis menanyakan perasaan klien saat ini
c. Terapis menanyakan apakah klien masih ada keinginan bunuh diri
d. Terapis menanyakan apa yang dilakukan klien saat keinginan tersebut muncul
e. Terapis menjelaskan cara mengalihkan bila keinginan untuk bunuh diri muncul
dengan modifikasi lingkungan psikis.
f. Terapis memberi pujian pada setiap peran serta klien.
4. Tahap terminasi.
a. Evaluasi
1. Terapis menanyakan perasaan klien setelah mengikuti TAK
2. Terapis memberikan pujian atas keberhasilan kelompok.
b. Tindak lanjut. Terapis meminta klien menceritakan kembali cara mengalihkan bila
keinginan bunuh diri muncul secara tertulis.
5. Kontrak yang akan datang.
1. Menyepakati TAK yang akan datang, yaitu mengidentifikasi hal positif yang
dimiliki untuk meningkatkan harga diri
2. Menyepakati waktu dan tempat.

G. Evaluasi dan dokumentasi


a. Evaluasi
Evaluasi dilakukan saat proses TAK berlangsung, khususnya pada tahap kerja.
Aspek yang dievaluasi adalah kemampuan klien sesuai dengan tujuan TAK. Untuk
TAK sesi 2 stimulasi persepsi :pencegahan resiko bunuh diri, kemampuan klien yang
diharapkan adalah mampu menceritakan kembali cara mencegah bila keinginan bunuh
diri. Formulir evaluasi sebagai berikut:

11
No Aspek yang dinilai Nama peserta TAK

1 Menyebutkan cara yang


selama ini digunakan untuk
mengalihkan bila muncul
keinginan bunuh diri
2 Menyebutkan efektivitas cara
3 Memperagakan mengalihkan
bila keinginan bunuh diri
muncul

Petunjuk :
1. Tulis nama panggilan klien yang ikut TAK pada kolom nama.
2. Beri tanda (√) jika klien mampu dan tanda (X) jika klien tidak mampu.
b. Dokumentasi
Dokumentasikan kemampuan yang dimiliki oleh klien saat TAK pada catatan proses
keperawatan tiap klien. Contoh : klien mengikuti sesi , TAK stimulasi persepsi pencegahan
resiko bunuh diri. Klien mampu menuliskancara mengalihkan bila keinginan bunuh diri
muncul dan tingkatkan reinforcement (pujian).

Sesi 2
Stimulasi Presepsi
Pencegahan Bunuh Diri Meningkatkan Harga Diri Klien

A. Pembagian Tugas
1. Leader : Nurhandayani
2. Co Leader : Ona Riska
3. Observer : Tiur [Link]
4. Fasilitator : Yolanda Zulisa
5. Nama klien yang ikut :
1. Dendri Kristiani
2. Kholila Ritonga
B. Tujuan
12
1. Klien dapat mengidentifikasik pengalaman yang tidak menyenangkan.
2. Klien dapat mengidentifikasi hal positif pada dirinya
[Link]
1. Terapis dank lien duduk bersama dalam lingkaran.
2. Ruang nyaman dan tenang.
D. Alat
1. Spidol sebanyak jumlah klien yang mengikuti TAK.
2. Kertas putih HVS dua kali jumlah klien yang mengikuti TAK.
E. Metode
1. Diskusi
2. Permainan
[Link] kegiatan
1. Persiapan
a. Memilih klien sesuai dengan indikasi, yaitu klien dengan gangguan konsep diri, harga diri
rendah.
b. Membuat kontrak dengan kien.
c. Mempersiapkan alat dan tempat pertemuan.
2. Orientasi
a. Salam terapeutik
1. Salam dari terapis kepada klien.
2. Perkenalkan nama dan panggilan terapis ( pakai papan nama).
3. Menanyakan nama dan panggilan semua klien ( beri papan nama ).
b. Evaluasi/validasi
Menanyakan perasaan klien saat ini.
c. Kontrak
1. Terapis menjelaskan tujuan kegiatan, yaitu bercakap-cakap tentang hal positif diri sendiri.
2. Terapis menjelaskan aturan main berikut.
a. Jika ada klien yang ingin meninggalkan kelompok, harus meminta izin kepada terapis.
b. Lama kegiatan 45 menit.
c. Setiap klien mengikuti kegiatan dari awal sampai selesai.
3. Tahap Kerja
a. Terapis memperkenalkan diri : nama lengkap dan nama panggilan serta memakai papan
nama.
b. Terapis membagikan kertas dan spidol kepada klien.

13
c. Terapis meminta tiap klien menulis pengalaman yang tidak menyenangkan.
d. Terapis memberi pujian atas peran serta klien.
e. Terapis membagikan kertas yang kedua.
f. Terapis meminta tiap klien menulis hal positif tentang diri sendiri, kemampuan yang
dimiliki, kegiatan yang biasanya dilakukan di rumah dan dirumah sakit.
g. Terapis meminta klien membacakan hal positif yang sudah ditulis secara bergiliran sampai
semua klien mendapat giliran.
h. Terapis memberi pujian pada setiap peran serta klien
4. Tahap terminasi
a. Evaluasi
1. Terapis menanyakan perasaan klien setelah mengikuti TAK.
2. Terapis memberikan pujian atas keberhasilan kelompok.
b. Tindak lanjut
Terapis meminta klien menulis hal positif lain yang belum tertulis.
c. Kontrak yang akan dating.
1. menyepakati TAK yang akan datang, yaitu melatih hal positif diri yang dapat diterapkan
dirumah sakit dan dirumah.
2. Menyepakati waktu dan tempat.

[Link] dan Dokumentasi


a. Evaluasi
Evaluasi dilakukan saat proses TAK berlangsung, khususnya pada tahap kerja. Aspek yang
dievaluasi adalah kemampuan klien sesuai dengan tujuan TAK. Untuk TAK stimulasi presepsi:
harga diri rendah sesi 3, kemampuan klien yang diharapkan adalah menuliskan pengalaman
yang tidak menyenangkan dan aspek positif (kemampuan) yang dimiliki. Formulir evaluasi
sebagai berikut.
No Nama klien Menulis pengalaman yang tidak Menulis hal
menyenangkan positif diri sendiri
1
2

Petunjuk:
1. Tulis nama panggilan klien yang ikut TAK pada kolom nama.

14
2. Untuk tiap klien, beri penilaian tentang kemampuan menulis pengalaman yang
tidakmenyenangkan dan aspek positif diri sendiri. Beri tanda cek jika klien mampu dan tanda
silang jika klien tidak mampu.
b. Dokumentasi
Dokumentasi kemampuan yang dimiliki klien saat TAK pada catatan proses keperaawatan tiap
klien. Contoh: klien mengikuti sesi 3, TAK stimulasi persepsi harga diri rendah. Klien mampu
menuliskan tiga hal pengalaman yang tidak menyenangkan, mengalami kesulitan menyebutkan
hal positif [Link] klien menulis kemampuan dan hal positif dirinya dan tingkatkan
rinforcement (pujian).

Sesi 3
Stimulasi Presepsi
Pencegahan Bunuh Diri Menggunakan Mekanisme Koping Yang Adaptif

A. Pembagian Tugas
1. Leader : Nurhandayani
2. Co Leader : Ona Riska
3. Observer : Tiur [Link]
4. Fasilitator : Yolanda Zulisa
5. Nama klien yang ikut :
1. Dendri Kristiani
2. Kholila Ritonga

B. Tujuan
1. Klien dapat mengidentifikasik pengalaman yang tidak menyenangkan.
2. Klien dapat mengidentifikasi hal positif pada dirinya

[Link]
1. Terapis dank lien duduk bersama dalam lingkaran.
2. Ruang nyaman dan tenang.

D. Alat
1. Spidol sebanyak jumlah klien yang mengikuti TAK.
2. Kertas putih HVS dua kali jumlah klien yang mengikuti TAK.

15
E. Metode
1. Diskusi
2. Permainan

[Link] kegiatan
1. Persiapan
a. Memilih klien sesuai dengan indikasi, yaitu klien dengan gangguan konsep diri,
harga diri rendah.
b. Membuat kontrak dengan kien.
c. Mempersiapkan alat dan tempat pertemuan.

2. Orientasi
a. Salam terapeutik
1. Salam dari terapis kepada klien.
2. Perkenalkan nama dan panggilan terapis ( pakai papan nama).
3. Menanyakan nama dan panggilan semua klien ( beri papan nama ).

b. Evaluasi/validasi
Menanyakan perasaan klien saat ini.

c. Kontrak
1. Terapis menjelaskan tujuan kegiatan, yaitu bercakap-cakap tentang hal positif diri
sendiri.
2. Terapis menjelaskan aturan main berikut.
a. Jika ada klien yang ingin meninggalkan kelompok, harus meminta izin kepada
terapis.
b. Lama kegiatan 45 menit.
c. Setiap klien mengikuti kegiatan dari awal sampai selesai.

3. Tahap Kerja
a. Terapis membagikan kertas HVS dan spidol, masing-masing satu buah untuk setiap
klien
b. Terapis meminta klien menuliskan siapa orang yang paling disayangi dan dicintai

16
c. Terapis meminta klien memilih dari salah satu orang yang dicintai, siapa yang paling
dekat dan paling dipercaya oleh klien
d. Terapis menjelaskan pentingnya koping yang adaptif dan menganjurkan klien untuk
berbagi masalah kepada orang yang paling dekat dan dipercaya agar klien tidak merasa
tertekan dan terbebani e. Terapis menjelaskan pentingnya memiliki tujuan hidup (masa
depan) agar bersemangat berusaha mewujudkan dan optimistis
f. Terapis meminta klien menuliskan masing-masing tujuan hidup (masa depan) klien di
kertas yang telah dibagikan.
g. Terapis meminta klien untuk membacakan tujuan hidup (masa depan) yang telah
ditulisnya secara bergantian
h. Terapis memberikan pujian dan mengajak tepuk tangan klien lain jika satu orang
klien telah selesai membacakan.
i. Terapis meminta klien melihat lagi tujuan hidupnya (masa depannya), mencoret
tujuan yang sulit (tidak mungkin) dicapai.
j. Terapis meminta klien membaca ulang tujuan hidup (masa depan) yang benar- benar
realistis ( seperti langkah d).
k. Terapis memberikan pujian kepada klien setiap selesai membacakan tujuan hidupnya.

4. Tahap terminasi
a. Evaluasi
1. Terapis menanyakan perasaan klien setelah mengikuti TAK.
2. Terapis memberikan pujian atas keberhasilan kelompok.

b. Tindak lanjut
Terapis meminta klien menulis hal positif lain yang belum tertulis.

c. Kontrak yang akan dating.


1. menyepakati TAK yang akan datang, yaitu melatih hal positif diri yang dapat
diterapkan dirumah sakit dan dirumah.
2. Menyepakati waktu dan tempat.

[Link] dan Dokumentasi


a. Evaluasi

17
Evaluasi dilakukan saat proses TAK berlangsung, khususnya pada tahap kerja.
Aspek yang dievaluasi adalah kemampuan klien sesuai dengan tujuan TAK. Untuk
TAK stimulasi persepsi : Menggunakan mekanisme koping yang adaptif pada sesi III,
kemampuan klien yang diharapkan adalah mampu menggunakan mekanisme koping
yang adaptif dan mampu menentukan masa depan yang realistis. Formulir evaluasi
sebagai berikut

No Aspek yang dinilai Nama peserta TAK

1 Menyebutkan orang yang paling


dicintai dan disayangi
2 Memilih orang yang paling
dekat dan dipercaya
3 Menyebutkan cara menggunakan
koping yang adaptif
4 Menuliskan tujuan hidup (masa
depan)
5 Membaca tujuan hidup (masa
depan)
6 Memilih tujuan hidup (masa
depan) yang realistis

Petunjuk:
1. Tulis nama panggilan klien yang ikut TAK pada kolom nama.
2. Untuk tiap klien, beri penilaian tentang kemampuan menulis pengalaman yang
tidakmenyenangkan dan aspek positif diri sendiri. Beri tanda cek jika klien mampu dan tanda
silang jika klien tidak mampu.
b. Dokumentasi
Dokumentasi kemampuan yang dimiliki klien saat TAK pada catatan proses keperaawatan tiap
klien. Contoh: klien mengikuti sesi 3, TAK stimulasi persepsi harga diri rendah. Klien mampu
menuliskan tiga hal pengalaman yang tidak menyenangkan, mengalami kesulitan menyebutkan
hal positif [Link] klien menulis kemampuan dan hal positif dirinya dan tingkatkan
rinforcement (pujian).

18
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Terapi aktivitas kelompok (TAK) adalah salah satu terapi modalitas yang
dilakukan oleh seorang perawat pada sekelompok klien dengan masalah keperawatan
yang sama (Keliat & Pawirowiyono, 2014).
Terapi Aktifitas Kelompok (TAK) adalah aktifitas membantu anggotanya untuk
mengatasi identitas hubungan yang kurang efektif dan mengubah tingkah laku yang
adaptif (Stuart 2009).
Terapi aktivitas kelompok (TAK) adalah salah satu terapi modalitas yang
dilakukan oleh seorang perawat pada sekelompok klien dengan masalah keperawatan
yang sama (Keliat & Pawirowiyono, 2014). Terapi Aktifitas Kelompok (TAK) adalah
aktifitas membantu anggotanya untuk mengatasi identitas hubungan yang kurang
efektif dan mengubah tingkah laku yang adaptif (Stuart 2009).

B. Saran
Diharapkan bagi pembaca bahkan penulis sendiri mengerti Terapi Aktivitas
Kelompok stimulasi persepsi sebagai tindakan keperawatan untuk setiap pasien dengan
masalah harga diri rendah kronis karena TAK Stimulasi persepsi yang diberikan pada
harga diri rendah kronis memberikan pengaruh yang signifikan terhadap melatih
kemampuan positif dari diri sendiri yang dapat dilakukan.

19
DAFTAR PUSTAKA

Hurlock, E.B (1998). Perkembangan Anak. Alih bahasa oleh Soedjarmo


&[Link]: Erlangga.
Atkinson (1999).Pengantar Psikologi. Jakarta: Penerbit Erlangga.
Mappiare, A. (1992). Psikologi Remaja. Surabaya: Usaha Nasional.
Kartono, K. (1981). Patologi Sosial. Jakarta: Rajawali Pers.
Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder, Fourth [Link],
DC,Amerika Psychiatric Association, 1994.

20

Anda mungkin juga menyukai