BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dalam menghadapi era globalisasi yang dinamis saat ini konsumen menuntut
adanya kemudahan dalam melakukan pembelian suatu produk. Untuk tetap
mempertahankan konsumennya, menyebabkan setiap perusahaan berlomba-lomba
mencapai keunggulan kompetitif demi memperebutkan pangsa pasarnya. Teknologi
menjadi sarana perusahaan untuk mengembangkan keunggulan kompetitif serta
memudahkan untuk berkomunikasi dengan target konsumennya. Kemajuan teknologi
sangat membawa kemudahan bagi konsumen peminat produk jasa, salah satunya ialah
jasa transportasi. Seiring dengan meningkatnya pertumbuhan penduduk dengan
tingkat kesibukan masyarakat, sarana transportasi mempunyai peranan yang penting
sebab masyarakat memerlukan alat transportasi yang bermutu untuk membantu dalam
kegiatan sehari-hari dalam mengantarkan konsumen dari satu tempat ketempat yang
lain. Sarana jasa transportasi memiliki berbagai macam, seperti kapal laut, commuter,
angkutan kota, bus kota, dan pesawat terbang. Salah satu bentuk layanan jasa
transportasi yang diminati masyarakat adalah taksi.
Seiring dengan berkembangnya pola pikir dan pemanfaatan kecanggihan
teknologi, transportasi juga mengalami perubahan dimana beberapa tahun terakhir
makin banyaknya perusahaan penyedia jasa taksi berbasis daring yang mampu mem-
1
2
permudah konsumen untuk membantu aktivitasnya dalam melakukan pemesanan,
menerima informasi, dan melakukan pembelian dengan perangkat telekomunikasi
pribadi. Perubahan yang terjadi mengakibatkan perusahaan jasa taksi konvensional
yang masih menerapkan argo sebagai tarif yang tidak dapat diprediksi oleh calon
konsumen mengalami bangkrut dan harus berlomba lomba meningkatkan keputusan
pembelian agar dapat bertahan dalam keadaan kondisi bisnis seperti ini
Menurut Tjiptono (2002) dengan memahami perilaku konsumennya, pihak
manajemen perusahaan bisa menyusun strategi dan program yang tepat guna
memanfaatkan peluang yang ada untuk mengungguli pesaing lainnya. Sehingga upaya
perusahaan untuk menarik minat konsumen dalam memutuskan membeli jasa taksi
harus memiliki strategi pemasaran yang mampu membuat konsumennya tertarik untuk
menggunakan jasa tersebut. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi keputusan
pembelian konsumen dalam memilih jasa taksi diantaranya adalah harga yang
ditetapkan oleh perusahaan sesuai dengan harapan konsumen. Sebagaimana yang
dinyatakan oleh Tjiptono (2002) yakni agar berhasil menciptakan dan
mempertahankan pelanggan, maka setiap perusahaan harus berupaya menghasilkan
dan menyampaikan barang dan jasa yang diinginkan konsumen dengan harga yang
pantas (reasonable). Serta intensitas promosi penjualan yang dilakukan oleh
perusahaan sebagaimana yang dinyatakan Tjiptono (2012:229) bahwa promosi
penjualan adalah bentuk persuasi langsung melalui penggunaan berbagai insentif yang
dapat diatur untuk merangsang pembelian produk dengan segera dan meningkatkan
jumlah barang yang dibeli pelanggan. Dapat disimpulkan apabila harga tidak sesuai
3
dengan yang diharapkan dan promosi penjualan yang kurang tersebar luas maka
konsumen enggan untuk membeli jasa yang dirasa kurang memuaskan.
Untuk itu dalam meningkatkan keputusan pembelian transportasi taksi yang
semakin selektif, perusahaan taksi konvensional harus selalu tanggap terhadap
permintaan konsumen dan kondisi bisnisnya mereka dengan menerapkan sistem
pemesanan daring, menentukan harga yang sesuai dengan harapan konsumen dan
meningkatkan kegiatan promosi penjualan agar mampu bersaing dengan
kompetitornya.
PT. Blue Bird Group merupakan perusahaan asal Indonesia yang didirikan
pada tahun 1972 di Jakarta yang bergerak di bidang jasa transportasi. Pada awalnya
PT. Blue Bird didirikan untuk menyediakan alternatif jasa transportasi yang
berkualitas dan menjadi pelopor penggunaan tarif berdasarkan sistem argo pada taksi.
Seiring dengan perkembangan waktu, Blue Bird menambahkan armadanya yang
tersebar di sejumlah kota besar di Indonesia yakni Jabodetabek, Bandung, Semarang,
Banten, Yogyakarta, Solo, Surabaya, Bali, Lombok, Manado, Batam, Medan,
Palembang, Padang, dan Pekanbaru. Pada tahun 2016 lalu PT. Blue Bird meluncurkan
aplikasi My Bluebird sebagai salah satu perusahaan taksi konvensional yang
mengembangkan sistem pemesanan daring melalui perangkat smartphone.
My Bluebird merupakan aplikasi yang digunakan konsumen untuk memesan
taksi secara online melalui perangkat telekomunikasi pribadi. Selain itu, aplikasi My
Bluebird telah memiliki fitur baru yaitu Easy Ride, dimana pelanggan dapat stop taksi
di jalan, pangkalan taksi, hotel, dan pusat perbelanjaan tanpa harus menunggu pesanan
4
taksinya datang serta melakukan pembayaran dengan tunai maupun non tunai. Dalam
penerapannya, My Bluebird menetapkan tarif harga sesuai dengan Peraturan Menteri
Perhubungan Nomor PM 118 Tahun 2018 mengenai tarif taksi online. My Bluebird
mematok tarif minimum sebesar Rp 20.000,00 dan tarif per kilometer Rp 4.100,00
([Link] Hal ini berbeda dengan harga yang ditawarkan
kompetitornya bernama Grab melalui layanan Grab Car yaitu tarif minimumnya
sebesar Rp. 15.000,00 dan tarif per kilometer Rp. 6.000,00
([Link] Penawaran harga yang ditetapkan kepada
konsumen membuat Blue Bird terkenal akan tarifnya yang lebih tinggi dibanding
kompetitornya. Dengan penawaran harga yang lebih tinggi dari pesaingnya, konsumen
akan lebih selektif dan menilai kesesuaian manfaat yang dirasakan setelah melakukan
pembelian. Perusahaan harus mampu menyesuaikan harga yang dibayar sesuai dengan
manfaat yang diterima konsumen setelah memesan jasa taksi My Bluebird.
Promosi penjualan yang diterapkan oleh perusahaan Blue Bird Group untuk
meningkatkan daya tarik konsumen agar menggunakan aplikasi My Bluebird sebagai
pilihan jasa tranportasinya adalah dengan memberikan potongan harga kepada
konsumen yang mendaftarkan kartu kredit/debit tertentu sebagai cara pembayaran tarif
perjalanan dan memberikan diskon perjalanan dalam jangka waktu tertentu. Namun,
My Bluebird masih belum mengoptimalkan saluran promosinya dengan baik yang
dilakukan melalui media sosial dan pemasangan billboard. Sehingga Kurangnya
informasi membuat ketertarikan calon konsumen untuk mengetahui promosi penjualan
My Bluebird begitu rendah.
5
Beberapa kendala seperti yang telah disebutkan membuat My Bluebird masih
belum mampu bersaing untuk menciptakan keunggulan bersaing dari kompetitornya.
Berikut data pengunduh aplikasi transportasi online yang diperoleh My Bluebird
berdasarkan pengguna aplikasi:
Tabel 1. 1
Data Pengunduh Aplikasi Transportasi Online
No Aplikasi Jumlah Persentase Keterangan
(Orang) (%)
1 Grab 5.190.501 63,3 Berdasarkan
pengguna aplikasi
2 Gojek 2.950.207 36,1 Berdasarkan
pengguna aplikasi
3 My 21.387 0,3 Berdasarkan
Bluebird pengguna aplikasi
Sumber: [Link]
Semenjak masuknya Grab dan Gojek, Blue Bird harus kembali mengevaluasi
strategi bisnisnya. Pada Tabel 1 presentase pengguna aplikasi My Bluebird hanya
sebesar 0,3% dari target konsumennya. Hal ini tidak sebanding dengan pesaingnya
yakni Grab dengan perolehan presentase sebesar 63,3% kemudian disusul Gojek
dengan presentase 36,1%. Presentase pengguna aplikasi pada Tabel 1 menunjukkan
bahwa My Bluebird menjadi pengikut dari Grab dan Gojek serta belum mampu
menjadi pemimpin pasar terhadap kompetitornya. Fenomena banyaknya bermunculan
6
vendor taksi online berpengaruh pada penurunan order melalui aplikasi My Bluebird
di Pangkalan Taksi Blue Bird Stasiun Gubeng Surabaya yang dapat dilihat pada tabel
di bawah ini:
Tabel 1. 2
Perkembangan Order Taksi Melalui Aplikasi My Bluebird di Pangkalan Taksi
Blue Bird Stasiun Gubeng Surabaya Tahun 2016-2019
Tahun Order
2016 973
2017 1441
2018 1391
2019 1338
Sumber: Pangkalan Blue Bird Stasiun Gubeng Surabaya
Berdasarkan data di atas, jumlah order taksi terjadi peningkatan pada
peluncuran aplikasi My Bluebird tahun 2016 hingga 2017. Akan tetapi penurunan
order terjadi pada tahun 2018 hingga tahun 2019. Dari data tersebut dapat diketahui
bahwa permasalahan yang dihadapi perusahaan Blue Bird Group adalah menurunnya
keputusan pembelian konsumen dalam menggunakan jasa transportasi taksi melalui
aplikasi My Bluebird. Dapat dilihat bahwa keputusan pembelian konsumen untuk
menggunakan jasa taksi My Bluebird setiap tahunnya cenderung menurun dan harus
mengevaluasi beberapa faktor yang mampu menggiring konsumen dalam
meningkatkan keputusan pembelian seperti menetapkan harga yang sesuai dengan
persepsi konsumen dan memaksimalkan kegiatan promosi penjualan oleh pihak
perusahaan agar mampu meningkatkan lebih banyak keputusan pembelian terhadap
jasa transportasinya. Kondisi persaingan yang semakin ketat dengan semakin
7
banyaknya bermunculan vendor jasa transportasi yang berbasis online pada saat ini
mendorong konsumen untuk melakukan identifikasi dalam pengambilan keputusan
saat menentukan suatu merek yang mampu memenuhi kriteria kebutuhan jasa
transportasinya.
Keputusan pembelian adalah pemilihan dari dua atau lebih alternatif pilihan
keputusan pembelian (Shiffman dan Kanuk, 2008:112). Artinya apabila seseorang
membuat keputusan pembelian harus tersedia beberapa alternatif pilihan. Terdapat
tahapan konsumen dalam mengambil keputusan untuk membeli suatu produk yang
ditawarkan. Tahap – tahap tersebut ialah pengenalan masalah, pencarian informasi,
evaluasi alternatif, keputusan membeli, dan tahap pasca pembelian (Adiwidjaja &
Husada, 2017). Ketika membentuk keputusan pembelian kepada konsumen, upaya
yang dapat ditempuh oleh produsen adalah melalui kegiatan promosi penjualan.
Menurut Kotler & Amstrong (2001) promosi penjualan adalah rangsangan
langsung yang ditujukan kepada konsumen untuk melakukan pembelian. Terdapat
beberapa jenis promosi penjualan, termasuk di dalamnya yaitu penurunan harga
sementara melalui kupon, diskon, kontes, undian, dan lain-lain. Menurut Kotler dan
Keller (2008) promosi penjualan menawarkan insentif untuk membeli, sehingga
manfaat yang ingin diberikan produsen dapat diterima oleh konsumen dengan baik.
Promosi penjualan juga bermanfaat untuk mempromosikan kesadaran konsumen yang
lebih besar terhadap harga (Kotler & Keller, 2008)
Selain daripada promosi penjualan, faktor lain yang berkaitan dengan
keputusan pembelian adalah persepsi harga. Menurut Setyarko (2016), Persepsi harga
8
adalah kecenderungan konsumen untuk menggunakan harga dalam memberikan
penilaian tentang kesesuaian manfaat produk. Penilaian harga suatu produk dilihat
mahal atau tidak, untuk masing-masing individu penilaian tidaklah sama karena
bergantung pada persepsi individu yang dilatar belakangi oleh lingkungan dan kondisi
individu itu sendiri. Terjadi hubungan antara harga dengan keputusan pembelian
bahwa semakin tinggi harga maka keputusan pembelian semakin rendah, sebaliknya
jika harga rendah maka keputusan pembelian berubah semakin tinggi (Kotler &
Armstrong , 2005:197). Hal tersebut sejalan dengan persepsi konsumen dalam
mengartikan harga itu sendiri. Agar tujuan perusahaan tercapai, maka perusahaan
harus berupaya menghasilkan dan menyampaikan barang dan jasa yang diinginkan
konsumen dengan harga yang pantas (reasonable) (Tjiptono, 1997:19). Perusahaan
sebaiknya turut memperhatikan harga yang mereka tawarkan kepada konsumennya
dengan mengambil kebijakan penetapan harga sesuai dengan harapan kosnumennya.
Berdasarkan latar belakang di atas, maka penulis tertarik untuk melakukan
penelitian dengan mengambil judul “Pengaruh Persepsi Harga dan Promosi
Penjualan Terhadap Keputusan Pembelian My Bluebird di Pangkalan Taksi
Blue Bird Stasiun Gubeng Surabaya ”
1.2 Rumusan Masalah
1. Apakah Persepsi Harga berpengaruh signifikan terhadap Keputusan
Pembelian My Bluebird di Pangkalan Taksi Blue Bird Stasiun Gubeng
Surabaya?
2. Apakah Promosi Penjualan berpengaruh signifikan terhadap Keputusan
9
Pembelian My Bluebird di Pangkalan Taksi Blue Bird Stasiun Gubeng
Surabaya?
1.3 Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui pengaruh Persepsi Harga terhadap Keputusan Pembelian
My Bluebird di Pangkalan Taksi Blue Bird Stasiun Gubeng Surabaya
2. Untuk mengetahui pengaruh Promosi Penjualan terhadap Keputusan
Pembelian My Bluebird di Pangkalan Taksi Blue Bird Stasiun Gubeng
Surabaya.
1.4 Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi dan menambah
pengetahuan serta wawasan yang berguna bagi peneliti lain yang akan melakukan dan
mengembangkan penelitian di masa yang akan datang khususnya mengenai Persepsi
Harga dan Promosi Penjualan.