0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
69 tayangan16 halaman

Peran Kepala Sekolah dalam Pendidikan

Artikel ini membahas peran kepala sekolah dalam pendidikan, terutama dalam meningkatkan mutu pendidikan. Kepala sekolah memiliki peran sebagai edukator, manajer, administrator, supervisor, leader, inovator, dan motivator. Peran-peran tersebut diharapkan dapat meningkatkan kinerja kepala sekolah dan kualitas pendidikan di sekolah.

Diunggah oleh

Selvia Putri
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
69 tayangan16 halaman

Peran Kepala Sekolah dalam Pendidikan

Artikel ini membahas peran kepala sekolah dalam pendidikan, terutama dalam meningkatkan mutu pendidikan. Kepala sekolah memiliki peran sebagai edukator, manajer, administrator, supervisor, leader, inovator, dan motivator. Peran-peran tersebut diharapkan dapat meningkatkan kinerja kepala sekolah dan kualitas pendidikan di sekolah.

Diunggah oleh

Selvia Putri
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

el-Idarah : Jurnal Manajemen Pendidikan Islam Vol 8 No.

2, 2022
[Link]

PERAN KEPALA SEKOLAH DALAM


PENDIDIKAN
Ariadna Mulyati
Institut Parahikma Indonesia
ariadnamulyati17@[Link]

Info Artikel Abstrak


Peran merupakan aspek dinamis kedudukan (status)
Kata Kunci: apabila seseorang melakukan hak dan kewajibannya
Peran, Kepala Sekolah, sesuai dengan kedudukannya maka ia telah
Pendidikan menjalankan suatu peran. Kepala sekolah sebagai
penentu kebijakan di sekolah memfungsikan perannya
secara maksimal dan mampu memimpin sekolah
dengan bijak dan terarah serta mengarah kepada
pencapaian tujuan yang maksimal demi meningkatkan
ISSN (Print) kualitas dan mutu pendidikan di sekolah. Penelitian
2599-1523 yang digunakan dalam penelitian ini yaitu penelitian
pustaka (library research) dengan menelusuri buku-
buku sebagai sumber datanya. Adapun hasil penelitian
dalam penelitian ini yaitu kepala sekolah harus
ISSN (Online) menerapkan perannya dengan baik sesuai dengan
2797-7536 kebutuhan masyarakat dan perkembangan zaman
dalam memimpin sebuah lembaga pendidikan yaitu
kepala sekolah sebagai leader (pemimpin), kepala
sekolah sebagai manajer, kepala sekolah sebagai
educator, kepala sekolah sebagai administrator
Pendidikan, peran sebagai supervisor, kepala sekolah
sebagai innovator, kepala sekolah sebagai motivator.
Pelaksanaan peran yang menyatu dalam pribadi kepala
sekolah akan mampu mendorong visi menjadi aksi
dalam paradigma baru manajemen pendidikan.

El-Idarah: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam, Vol. 8 No. 1, 2022 | 1


Abstrack

Role is a dynamic aspect of position (status) if a person performs his rights and
obligations according to his position then he has carried out a role. The principal
as a policy maker in schools functions optimally and is able to lead schools wisely
and with direction and leads to the achievement of maximum goals in order to
improve the quality and quality of education in schools. The research used in this
study was library research by tracing books as the source of the data. The results
of the research in this study are that the principal must carry out his role properly
in accordance with the needs of the community and the times in leading an
educational institution, namely the principal as a leader, the principal as a
manager, the principal as an educator, the principal as an education
administrator. , the role as a supervisor, the principal as an innovator, the
principal as a motivator. The implementation of a role that is integrated into the
personality of the school principal will be able to push the vision into action in the
new paradigm of education management.

Keywords: Role, Principal, Education

PENDAHULUAN
Kepala sekolah merupakan jabatan karir yang diperoleh seseorang setelah
berkarir menjadi guru yang cukup lama. Seseorang yang dipercayai menjadi
Kepala sekolah harus memenuhi kriteria-kriteria yang disyaratkan. Menurut Davis
G A dan Thomas MA dalam bukunya Wahyudi, berpendapat bahwa Kepala
sekolah yang efektif mempunyai karakteristik sebagai berikut: 1. mempunyai jiwa
kepemimpinan dan mampu mengelola atau memimpin sekolah, 2. memiliki
kemampuan untuk menyelesaikan masalah, 3. mempunyai keterampilan sosial,
4. profesional dan kompeten dalam bidang tugasnya (Wahyudi: 2009, 63).
Kepala sekolah yang berkompeten dalam bidang tugasnya adalah Kepala
sekolah mempunyai kompetensi yang dijelaskan dalam Peraturan Menteri
Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2007, tentang Standar
Kepala sekolah/ Madrasah yaitu kompetensi Kepala sekolah meliputi kompetensi
kepribadian, manajerial, kewirausahaan, supevisi, dan sosial. Dari kompetensi
yang dimiliki tersebut diharapkan Kepala sekolah dapat meningkatkan mutu
pendidikan dalam sekolah tersebut.
Kepala sekolah mempunyai peranan penting dalam meningkatkan mutu
pendidikan dan bertanggung jawab dalam penyelenggaraan kegiatan pendidikan,
administrasi sekolah, membina tenaga kependidikan, dan mendayagunakan
sekaligus memelihara sarana dan prasarana. Melihat peranan Kepala sekolah
tersebut, Kepala sekolah mempunyai tantangan untuk dapat menjalankan
pendidikan di Sekolah agar terarah, berencana dan berkesinambungan dengan
menetapakan kebijakan dan memberikan ide yang dapat meningkatkan mutu
pendidikan.
Upaya untuk memperbaiki mutu pendidikan berhubungan erat dengan
kepemimpinan dan manajamen yang efektif oleh Kepala sekolah. Dukungan dari

2 | El-Idarah: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam, Vol. 8 No. 2, 2022


bawahan akan ada dan berkelanjutan ketika pemimpinnya benar-benar bemutu.
Kepemimpinan penting sekali untuk mengejar atau meningkatkan mutu
pendidikan, karena peningkatan mutu pendidikan merupakan keinginan setiap
sekolah. Sekolah akan dapat maju ketika Kepala sekolah mempunyai visioner,
memiliki keterampilan manajerial, serta integritas dalam melakukan perbaikan
mutu (E. Mulyasa: 2005, 24).
Keterampilan manajerial harus perlu dipunyai oleh Kepala sekolah, karena
keterampilan manajerial merupakan kemampuan Kepala sekolah dalam
mengelola sumber daya yang terdapat dalam sekolah, berdasarkan kompetensi
yang ditetapkan dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditentukan (Wahyudi:
2009, 68).
Keterampilan manajerial yang dimiliki oleh Kepala sekolah diharapkan
dapat memberikan suatu kebijakan-kebijakan atau kepetusan yang dapat
menghasilkan efektifitas program dan peningkatan mutu pendidikan. Salah satu
komponen yang penting dalam peningkatan mutu pendidikan adalah
pembelajaran.
Pembelajaran merupakan proses interaksi antara pendidik atau guru
dengan peserta didik dan sumber belajar di suatu lingkungan belajar.
Pembelajaran sangat penting karena dengan melalui pembelajaran, pendidik
dapat mengembangkan kreatifitas berfikir yang dapat meningkatkan kemampuan
berfikir siswa, serta dapat meningkatkan kemampuan mengkonstruksi
pengetahuan baru sebagai upaya meningkatkan penguasaan yang baik terhadap
materi pelajaran (Saiful Sagala: 2003, 62).
Dilihat dari institutional sekolah, dalam hal mendukung kelancaran aktivitas
pembelajaran, Kepala sekolah memainkan peran yang cukup penting, karena
berkonstribusi signifikan terhadap peroleh mutu hasil belajar (Saiful Sagala:
2003, 70).
Kemampuan manajerial kepala sekolah ini sangat menarik untuk diteliti
lebih mendalam, karena tidak semua kepala sekolah mampu melaksanakan
tugas manajerial tersebut dengan baik, maka penulis sangat tertarik untuk
meneliti lebih mendalam, bagaimana peranan kepala sekolah dalam
melaksanakan perannya.

METODOLOGI
Penelitian ini termasuk jenis penelitian pustaka (library research), yakni
penelitian yang obyek kajiannya menggunakan data pustaka berupa buku-buku
sebagai sumber datanya (Sutrisno Hadi: 2002, 9). Penelitian ini dilakukan
dengan membaca, menelaah, dan menganalisis berbagai literatur yang ada,
berupa buku-buku, artikel, maupun hasil penelitian.
Pendekatan Penelitian dalam penelitian ini menggunakan pendekatan
penelitian kualitatif, yaitu penelitian yang sistematis yang digunakan untuk
mengkaji atau meneliti suatu obyek pada latar alamiah tanpa ada manipulasi
didalamnya dan tanpa ada ujian hipotesis. Metode penelitian kualitatif ini sering

El-Idarah: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam, Vol. 8 No. 2 2022| 3


disebut “metode penelitian naturalistic” karena penelitiannya dilakukan pada
kondisi yang alamiah (natural setting); disebut juga sebagai metode etnografi
karena pada awalnya, metode ini lebih banyak digunakan untuk penelitian bidang
antropologi budaya; dan disebut juga sebagai metode kualitatif karena data yang
terkumpul dan analisisnya lebih bersifat kualitatif (Afifuddin dan Beni Ahmad
Saebani: 2012, 57).

HASIL DAN PEMBAHASAN


Adapun peran kepala sekolah dalam meningkatkan mutu pendidikan, yang
meliputi perannnya sebagai edukator, manajer, administrator, supervisor, leader,
inovator, dan motivator. Mulyasa berpendapat bahwa:
a. Kepala sekolah sebagai edukator, kepala sekolah bertugas untuk
membimbing guru, tenaga kependidikan, siswa, mengikuti
perkembangan iptek, dan memberi teladan yang baik. Seperti
pemaparan bahwa untuk menciptakan iklim sekolah yang kondusif
diperlukan kerjasama atau hubungan yang harmonis antara seluruh
warga sekolah dan tidak hanya menjadi tanggung jawab kepala sekolah
semata. Oleh karena itu upaya yang dapat dilakukan kepala sekolah
dalam meningkatkan kinerjanya sebagai edukator, khususnya dalam
peningkatan kinerja tenaga kependidikan dan prestasi belajar peserta
didik adalah mengikut sertakan guru-guru dalam pendidikan lanjutan
dengan cara mendorong para guru untuk memulai kreatif dan
berprestasi. Kepala sekolah sebagai manajer, mempunyai fungsi:
menyusun perencanaan, mengkoordinasikan kegiatan, melakukan
pengawasan, melakukan evaluasi terhadap kegiatan, mengadakan
rapat, mengambil keputusan, mengatur proses pembelajaran, mengatur
administrasi, dan mengatur tata usaha, siswa, ketenagaan, sarana, dan
prasarana, keuangan (E. Mulyasa: 2013, 100-115).
b. Kepala sekolah sebagai administrator, kepala sekolah bertanggung
jawab atas kelancaran segala pekerjaan dan kegiatan administratif di
sekolahnya. Sunarto (2011) memaparkan bahwa kepala sekolah
sebagai kategori administrasi pendidikan perlu melengkapi wawasan
kepemimpinan pendidikan dengan pengetahuan dan sikap yang
antisipatif terhadap perubahan yang terjadi dalam kehidupan
masyarakat, termasuk kebijakan Pendidikan (Sabirin: 2017, 38).
c. Kepala sekolah sebagai supervisor, supervisi adalah kegiatan
mengamati, mengidentifikasi mana hal-hal yang sudah benar, mana
yang belum benar, dan mana pula yang tidak benar, dengan maksud
agar tepat dengan tujuan memberikan pembinaan (Barinto, 2017, 38).
d. Kepala sekolah sebagai leader, kepemimpinan kepala sekolah
merupakan salah satu faktor yang dapat mendorong sekolah dapat
mewujudkan visi, misi, tujuan dan sasaran sekolah melalui program-
program yang dilaksanakan secara terencana dan bertahap.

4 | El-Idarah: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam, Vol. 8 No. 2, 2022


e. Kepala sekolah sebagai inovator, dalam rangka melakukan peran dan
fungsinya sebagai inovator, kepala sekolah harus memiliki strategi yang
tepat untuk menjalin hubungan yang harmonis dengan lingkungan,
mencari gagasan baru, mengintegrasikan setiap kegiatan, memberikan
teladan kepada seluruh tenaga kependidikan di sekolah dan
mengembangkan model-model pembelajaran yang inovatif.
f. Kepala sekolah sebagai motivator, kepala sekolah harus memiliki
strategi yang tepat untuk memberikan motivasi kepada para tenaga
kependidikan dalam melakukan berbagai tugas dan fungsinya.
Rujukan lain, peran Kepala sekolah dalam perspektif Pendidikan Nasional
Depdiknas 2006 sebagaimana yang dikutip oleh Helmawati terdapat tujuh peran
utama Kepala sekolah, yaitu sebagai: 1) educator, 2) manajer, 3) administrator,
4) supervisor, 5) leader, 6) pencipta iklim kerja dan 7) layanan bimbingan dan
konseling (Helmawati: 2019, 29). Sedangkan Andang dalam bukunya
menambahan satu lagi peran Kepala sekolah, yaitu sebagai wirausahawan.
Pendapat lain yang kurang lebih sama adalah pendapat E. Mulyasa dalam
bukunya Menjadi Kepala sekolah Profesional, yang menyebutkan bahwa Kepala
sekolah berperan sebagai educator, manajer, administrator, supervisor, leader,
inovator dan juga motivator (EMASLIM) (E. Mulyasa: 2007, 122).
a. Kepala sekolah sebagai leader (pemimpin)
Kepemimpinan dapat diartikan sebagai kemampuan untuk menggerakkan,
mempengaruhi, memotivasi, mengajak, mengarahkan, menasehati,
membimbing, menyuruh, memerintah, melarang dan bahkan menghukum (kalau
perlu) serta membina dengan maksud agar manusia sebagai media manajemen
mau bekerja dalam rangka mencapai tujuan administrasi secara efektif dan
efisien.
Muhammad Fathi mengibaratkan pemimpin sebagai kepala dari sebuah
tubuh. Karena pemimpinlah yang menentukan tujuan, menguasai ilmu
pengetahuan, belajar dan berpikir, dengan bantuan kemampuan tertentu, dengan
tujuan untuk memberi pengarahan atau instruksi, kemudian merealisasikan
tujuan yang hendak dicapai. Dengan kemampuan pemimpin yang demikian,
pekerjaan dapat berjalan pada jalur yang benar dan sesuai dengan yang
ditargetkan (Muhammad Fathi: 2009, 32-33).
Pemimpin sekolah adalah mereka yang dilukiskan sebagai orang yang
memiliki harapan tinggi terhadap staf dan para siswa, pemimpin sekolah adalah
mereka yang banyak mengetahui tentang tugas-tugas mereka dan yang
menentukan suasana untuk sekolah mereka (Wahjosumidjo, 2005, 3).
Pemimpin sebagai pengatur sebuah lembaga pendidikan Islam mempunyai
fungsi dan perannya tersendiri. Kepala sekolah adalah pemimpin pendidikan
yang memiliki peranan sangat besar dalam mengembangkan mutu pendidikan di
sekolah/madrrasah. Berkembangnya semangat kerja, kerjasama yang harmonis,
minat terhadap perkembangan pendidikan.
Suasana kerja yang menyenangkan dan perkembangan mutu profesional
di antara para guru, banyak ditentukan oleh mutu kepemimpinan Kepala sekolah.

El-Idarah: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam, Vol. 8 No. 2 2022| 5


Dengan demikian Kepala sekolah/sekolahadalah salah satu kunci keberhasilan
sekolah dalam mencapai tujuannya. Sebagai leader, seorang Kepala
sekolah/sekolah harus mampu mengerakkan orang lain agar secara sadar dan
sukarela melaksanakan kewajibannya secara baik sesuai dengan yang
diharapkan pimpinan dalam rangka mencapai tujuan (Nurkolis, 2003, 119-121).
Kepala sekolah sebagai pemimpin pendidikan berarti peningkatan mutu
akan berjalan dengan baik apabila guru bersifat terbuka, kreatif dan memiliki
semangat kerja yang tinggi. Suasana yang demikian ditentukan oleh bentuk dan
sifat kepemimpinan yang dilakukan Kepala sekolah (Soewadji Lazaruth: 2004,
85).
Sebagai pemimpin pendidikan di sekolah, Kepala sekolah memiliki
tanggungjawab legal untuk mengembangkan staf, kurikulum, dan pelaksanaan
pendidikan di sekolahnya. Di sinilah, efektifitas kepemimpinan Kepala
sekolah/sekolah tergantung kepada kemampuan mereka bekerjasama dengan
guru dan staf, serta kemampuannya mengendalikan pengelolaan anggaran,
pengembangan staf, scheduling, pengembangan kurikulum, paedagogi, dan
assessmen.
Membekali Kepala sekolah, memiliki seperangkat kemampuan ini dirasa
sangat penting. Di samping itu untuk mewujudkan pengelolaan
sekolah/madrasah yang baik, perlu adanya Kepala sekolah/sekolah yang
memiliki kemampuan sesuai tuntutan tugasnya.
Guru sebagai salah satu faktor penting dalam pendidikan dituntut untuk
tampil secara professional. Guru adalah seorang yang digugu dan ditiru sehingga
dituntut memperbaiki mutu dirinya maupun kompetensi mengajarnya. Oleh
karena itu, dengan adanya pembinaan dan pengaraha yang diberikan Kepala
sekolah seyogiyanya guru dapat menerimanya sebagai bentuk kontribusi dalam
meningkatkan mutu dirinya sebagai pribadi dan kompetensinya dalam
melaksanakan pembelajaran.
Demikian juga dengan Kepala sekolah, ketika memberikan pengarahan,
pembinaan, atau memimpin guru dapat menggunakan cara terbaiknya sesuai
dengan situasi dan tempat. Pemilihan gaya kepemimpinan yang tepat oleh
Kepala sekolah dapat mendorong guru untuk bersemangat dalam memperbaiki
dan meningkatkan kompetensinya.
Di organisasi pendidikan yang menjadi pemimpin pendidikan adalah
Kepala sekolah. Sebagai pemimpin pendidikan, Kepala sekolah atau madrasahh
memiliki sejumlah tugas dan tanggung jawab yang cukup berat. Untuk bisa
menjalankan fungsinya secara optimal, Kepala sekolah/sekolah perlu
menerapkan gaya kepemimpinan yang tepat.
Kepala sekolah adalah orang yang sangat menentukan dalam berjalannya
suatu kegiatan organisasi sekolah/madrasah sesuai dengan rel yang diharapkan,
peran dan tanggung jawabnya sangatlah berat, untuk itu diperlukan kerjasama
dengan stekholder-stekholder yang terlibat dalam dunia pendidikan, agar
mencapai tujuan pendidikan yang diharapkan. Sebagai pemimpin di sekolah,
Kepala sekolah/sekolah merupakan individu yang dituntut mampu melakukan

6 | El-Idarah: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam, Vol. 8 No. 2, 2022


transformasi kemampuannya melalui bimbingan, tuntunan dan pemberdayaan
kepada seluruh warga sekolah demi mencapai tujuan sekolah yang optimal.
Tinggi rendahnya kemampuan Kepala sekolah dalam memberdayakan
stafnya, memiliki kaitan erat dengan pemilihan pola dan gaya kepemimpinan
yang tepat oleh Kepala sekolah/sekolah, sangatlah membantu tugas
kesehariannya sebagai penggerak roda organisasi sekolah/madrasah terutama
dalam peningkatan mutu kinerja guru. Kepala sekolah dalam kapasitasnya
sebagai pemimpin, dituntut agar dapat mencerminkan perilaku kepemimpinan
yang tepat untuk memberikan bantuan kepada guru-guru dalam meningkatkan
kompetensinya.
Kesalahan dalam penerapan program, strategi, dan strategi sekolah akan
memberi dampak yang cukup signifikan bagi keberhasilan peningkatan
kompetensi guru di bawah pimpinannya, sehingga Kepala sekolah hendaknya
kompeten dan profesional, serta memiliki rasa tanggungjawab tinggi dalam
merealisasikan program, strategi dan kebijakan yang ke arah yang lebih baik
(Karina Purwanti: 2002).
Salah satu preposisi tentang kebijakan pendidikan bagi Kepala sekolah
atau calon Kepala sekolah, bahwa kompetensi minimal seorang Kepala sekolah
adalah memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam bidang keadministrasian
sekolah, keterampilan hubungan manusiawi dengan staf, siswa dan masyarakat,
dan keterampilan teknis instruksional dan non instruksional.
Pada bagian lain, Dirawat mengemukakan tentang pemikiran Bogdan
bahwa dalam perspektif peningkatan mutu pendidikan terdapat empat
kemampuan yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin pendidikan, yaitu:
(Dirawati: 2004, 66)
1) Kemampuan mengorganisasikan dan membantu staf di dalam
merumuskan berbagai perbaikan pengajaran di sekolah/madrasah
dalam bentuk program yang lengkap,
2) Kemampuan untuk membangkitkan dan memupuk kepercayaan pada
diri sendiri dari guru-guru dan anggota staf sekolah/madrasah lainnya,
3) Kemampuan untuk membina dan memupuk kerja sama dalam
mengajukan dan melaksanakan program-program supervise, dan
4) Kemampuan untuk mendorong dan membimbing guru-guru serta
segenap staf sekolah/madrasah lainnya agar mereka dengan penuh
kerelaan dan tanggung jawab berpartisipasi secara aktif pada setiap
usaha-usaha sekolah/madrasah untuk mencapai tujuan-tujuan sekolah
itu sebaik-baiknya.
Seorang Kepala sekolah dituntut memiliki beberapa ketrampilan yang
diperlukan untuk mengelola dan mengendalikan lembaga pendidikan agar
tercapai visi dan misinya. Ketrampilan mengelola diri sendiri, ketrampilan
mengelola lembaganya, dan ketrampilan mengelola hubungan dengan
masyarakat di sekitar lingkungan lembaganya.
Dalam rangka meningkatkan kompetensi guru, seorang Kepala sekolah
dapat menerapkan sekian banyak fungsi tersebut secara tepat dan fleksibel,

El-Idarah: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam, Vol. 8 No. 2 2022| 7


disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan yang ada. Kepemimpinan Kepala
sekolah sangat berkaitan dengan kepribadian, dan kepribadian Kepala sekolah,
maka sebagai pemimpin akan tercermin sifat-sifat sebagai barikut:
1) jujur;
2) percaya diri;
3) tanggung jawab;
4) berani mengambil resiko dan keputusan;
5) berjiwa besar;
6) emosi yang stabil, dan
7) teladan.

b. Kepala sekolah sebagai manajer


Persoalan umum yang dihadapi Kepala sekolah adalah persoalan
manajerial dan kelembagaan. Persoalan manajerial berhubungan dengan
keterbatasan sumber daya, baik fisik maupun nonfisik yang dimiliki sekolah
dengan baik. Sementara persoalan kelembagaan berhubungan dengan masalah
internal yang muncul, baik setelah dimilikinya sumber daya maupun karena
keterbatasan dari sumber daya itu sendiri. Persoalan-persoalan tersebut kalau
dibiarkan akan sulit untuk mewujudkan sekolah menjadi lebih baik. Oleh karena
itu, Kepala sekolah harus meresponsnya dengan melakukan pengelolaan tenaga
kependidikan dengan baik.
Manajer bertugas menetapkan rencana dan mengalokasikan sumber
daya yang ada untuk mewujudkan tujuan. Seorang manajer mentapkan struktur
organisasi dan menempatkan orang sesuai struktur yang ada lalu
mendelegasikan tanggungjawab serta wewenang. Manajer kemudian memantau
hasil yang didapat lalu kemudian membandingkan dengan rencana semula, lalu
mengidentifikasi penyimpangan jika terjadidan membuat lagi perencanaan dan
pengorganisasian untuk menyelesaikan masalah yang timbul sehingga
menghasilkan output yang sesuai harapan (Helmawati: 2019, 29).
Kepala sekolah dalam mengelola tenaga kependidikan, salah satu tugas
yang harus dilakukan adalah melaksanakan kegiatan pemeliharaan dan
pengembangan profesi para guru. Dalam hal ini, Kepala sekolah seyogyanya
dapat memfasilitasi dan memberikan kesempatan yang luas kepada para guru
untuk dapat melaksanakan kegiatan pengembangan profesi melalui berbagai
kegiatan pendidikan dan pelatihan, baik yang dilaksanakan di sekolah, seperti :
MGMP tingkat sekolah, in house training, diskusi profesional dan sebagainya,
atau melalui kegiatan pendidikan dan pelatihan di luar sekolah, seperti:
kesempatan melanjutkan pendidikan atau mengikuti berbagai kegiatan pelatihan
yang diselenggarakan pihak lain.
Dengan demikian, tugas Kepala sekolah dalam bidang manajerial
berkaitan dengan manajemen sekolah. Manajemen pendidikan tersebut,
mencakup proses perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing),
pergerakan (actuating), dan pengawasan (controlling) sebagai suatu proses
untuk menjadikan visi menjadi aksi.

8 | El-Idarah: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam, Vol. 8 No. 2, 2022


Pelaksanakan tugas pokok manajerial Kepala sekolah di satuan
pendidikan sebagai suatu sistem organisasi, dimaksudkan untuk mencapai
tujuan, yaitu untuk dapat meningkatkan mutu pendidikan di satuan pendidikan
yang dipimpinnya. Karena upaya peningkatan mutu pendidikan erat kaitannya
dengan kemampuan manajerial Kepala sekolah (Agustina, [Link], 90).
Dengan demikian, keberhasilan peningkatan mutu pendidikan menjadi
tanggung jawab Kepala sekolah. Oleh karena itu, dibutuhkan adanya pelaksanan
tugas Kepala sekolah di bidang manajerial secara profesional. Ini akan
menentukan pelaksanaan fungsi Kepala sekolah dengan baik. Menurut Lessey
ada dua macam fungsi kepemimpinan yaitu :
1) Fungsi menjalankan tugas, fungsi ini dilakukan untuk mencapai tujuan
yang telah ditetapkan. Hal yang tergolong fungsi ini adalah:
a) Kegiatan berinisitaif, antara lain usul pemecahan masalah,
menyarankan gagasan-gagasan baru, dan sebagainya.
b) Mencari informasi, antara lain mencari klasifikasi terhadap usul-usul
atau saran serta mencari tambahan informasi yang diperlukan.
c) Menyampaikan data atau informasi yang sekiranya ada kaitannya
dengan pengalamannya sendiri dalam menghadapi masalah serupa.
d) Menyampaikan pendapat atau penilaian atas saran-saran yang
diterima.
e) Memberikan penjelasan dengan contoh-contoh yang lebih dapat
mengembangkan pengertian.
f) Menunjukan kaitan antar berbagai gagasan atau saran menjadi satu
kesatuan.
g) Merangkum gagasan-gagasan yang ada kaitannya satu sama lain
menjadi satu dan mengungkapkan kembali gagasan tersebut setelah
didiskusikan dalam kelompok.
h) Menguji apakah gagasan tersebut dapat dilaksanakan.
i) Membandingkan keputusan kelompok dengan standar yang telah
ditetapkan
j) Menentukan sumber-sumber kesulitan, menyiapkan langkah-langkah
selanjutnya yang diperlukan, dan mengatasi rintangan yang dihadapi
untuk mencapai yang diharapkan
2) Fungsi pemeliharaan, fungsi ini mengusahakan kepuasan, baik bagi
pemeliharaan dan pengembangan kelompok untuk kelangsungan
hidupnya. Hal yang termaksut fungsi ini adalah sebagai berikut:
a) Bersikap ramah, hangat dan tanggap terhadap orang lain, mau dan
dapat menguji orang lain atau idenya, serta dapat menerima dan
menyetujui sumbangan pikiran orang lain atau idenya.
b) Mengusahakan kepada kelompok, mengusahakan setiap anggota
berbicara dengan waktu yang dibatasi, sehingga anggota kelompok
lain berkesempatan untuk mendengar.
c) Menentukan penggunaan standar dalam pemilihan isi, prosedur, dan
penilaian keputusan serta mengingatkan kelompok untuk meniadakan

El-Idarah: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam, Vol. 8 No. 2 2022| 9


keputusan yang bertentangan dengan pedoman kelompok. 4)
Mengikuti keputusan kelompok (Imam Gunawan: 2017, 550).
Kemampuan manajerial Kepala sekolah semakin penting untuk
ditingkatkan sejalan dengan semakin kompeleksnya tuntutan tugas Kepala
sekolah, yang menghendaki dukungan kinerja yang semakin efektif dan efesien.
Di samping itu, Mulyasa mengatakan perkembangan ilmu pengetahuan,
teknologi, seni, dan budaya yang diterapkan dalam kegiatan pendidikan di
sekolah juga cenderung bergerak maju semakin pesat sehingga menuntut
penguasaan secara professional (E Mulyasa: 2005, 107).
Perkembangan yang semakin maju tersebut, mendorong perubahan
kebutuhan peserta didik dan masyarakat. Kebutuhan yang makin meningkat itu,
memicu semakin banyaknya tuntutan peserta didik yang harus dipenuhi untuk
dapat memenangkan persaingan di masyarakat.

c. Kepala sekolah sebagai educator


Kegiatan belajar mengajar merupakan inti dari proses pendidikan dan guru
merupakan pelaksana dan pengembang utama kurikulum di sekolah. Kepala
sekolah yang menunjukkan komitmen tinggi tentu saja akan memperhatikan
tingkat kompetensi yang dimiliki gurunya sehingga kegiatan belajar mengajar
berjalan efektif dan efisien (Helmawati: 2019, 29). Hasil belajar yang tinggi
menjadi cita-cita dan harapan sekolah yang dapat diwujudkan oleh guru sebagai
faktor yang dominan dalam menentukan proses pembelajaran.
Oleh karena itu Kepala sekolah yang memiliki komitmen yang tinggi dalam
mewujudkan hasil belajar yang bermutu harus memperhatikan kompetensi guru
dengan cara mengembangkan kurikulum menjadi lebih bermutu sesuai dengan
kebutuhan sekolah. Disamping itu, Kepala sekolah harus mendorong guru-guru
untuk menggunakan media belajar yang tepat, yang dapat memudahkan siswa
menangkap dan memahami materi yang disampaika. Dengan demikian, proses
pembelajaran dapat dilakukan secara efektif dan efisien dengan hasil yang
maksimal.

d. Kepala sekolah sebagai administrator pendidikan


Kepala sekolah sebagai administrator menurut Mulyasa,” memiliki
hubungan yang sangat erat dengan berbagai aktifitas pengelolaan administrasi
yang bersifat pencatatan, penyusunan dan pendokumenan seluruh program
secara spesifik, seperti mengelola kurikulum, administrasi peserta didik,
administrasi personalia, administrasi kearsipan dan administrasi keuangan (E
Mulyasa: 2005, 107).”
Kegiatan tersebut perlu dilakukan dengan cara efektif dan efisien agar
dapat menunjang produktifitas madrasah. Kemampuan-kemampuan kepala
sekolah terkait sebagai administrator dapat dijabarkan dalam tugas-tugas
operasional berikut: (E Mulyasa: 2005, 108-110)
1) Kemampuan kurikulum harus diwujudkan dalam penyusunan
kelengkapan data administrasi bimbingan konseling, adminstrasi

10 | El-Idarah: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam, Vol. 8 No. 2, 2022


kegiatan praktikum dan kelengkapan data administrasi kegiatan belajar
mengajar.
2) Kemampuan mengelola administrasi peserta didik harus diwujudkan
dalam penyusunan kelengkapan data administrasi peserta didik,
penyusunan kelengkapan data administrasi kegiatan ekstrakurikuler
dan penyusunan data admnistrasi hubungan madrasah dengan orang
tua dan peserta didik.
3) Kemampuan mengelola administrasi personalia harus diwujudkan
dalam pengembangan kelengkapan data administrasi tenaga guru serta
pengembangan kelengkapan data administrasi tenaga kependidikan
seperti pustakawan, pegawai tata usaha, penjaga madrasah dan
teknisi.
4) Kemampuan mengelola administrasi sarana dan prasarana harus
diwujudkan dalam pengembangan kelengkapan data administrasi
gedung dan ruang, pengembangandata administrasi meubeler,
pengembangan kelengkapan data administrasi alat kantor (AMK),
pengembangan kelengkapan data administrsi buku atau bahan
pustaka, kelengkapan data administrsi alat laboratorium, serta
pengembangan kelengkapan data administrsi alat bengkel.
5) Kemampuan mengelola administrasi kearsipan harus diwujudkan dalam
pengembangan kelengkapan data administrasi surat masuk,
kelengkapan data administrsi surat keluar, pengembangan
kelengkapan data administrsi surat keputusan, pengembangan
kelengkapan data administrsi surat edaran.
6) Kemampuan mengelola administrasi keuangan diwujuudkan dalam
pengembangan administrasi keuangan rutin, pengembangan
administrasi keuangan yang bersumber dari masyarakat dan orang tua
peserta didik, dari pemerintah diantaranya dana Bantuan Operasional
Sekolah (BOS). Pengembangan proposal untuk mencari bantuan
keuangan dan pengembangan propposal untuk mencari berbagai
kemungkinan dalam mendapatkan bantuan keuangan dari berbagai
pihak yang tidak mengikat.
7) Administrasi hubungan masyarakat meliputi pembukuan alamat
kantor/orang yang dianggap perlu,hasil kerjasama,program humas.
Herk dalam Sulistyorini menyarankan,”Kepala sekolah sebagai
administrator tidak memandang guru sebagai bawahan, melainkan sebagai
teman sejawat. Sikap dan perilaku administrator hendaknya bisa membuat guru-
guru lebih merasa dihargai dan dihormati kemampuan profesionalnya. Sehingga
guru-guru tidak segan menanyakan dan mendiskusikan sesuatu yang berkaitan
dengan tugasnya kepada administrator. Komunikasi antar guru dan administrator
akan menjadi lancar. Situasi ini akan mempermudah administrator memberi
drongan kepada guru-guru untuk meningkatkan prestasi kerja mereka
(Sulistyorini: 2010, 103).”
Dengan adanya upaya pengembangan profesionalitas guru untuk

El-Idarah: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam, Vol. 8 No. 2 2022| 11


mengikuti kegiatan dan pelatihan, Kepala sekolah harus menunjangnya dengan
mengadministrasi keuangan untuk mengikuti kegiatan-kegiatan tersebut.
Sementara dalam pembelajaran, Kepala sekolah dapat memeriksa kelengkapan
administrasiatau perangkat pembelajaran yang dirancang guru sehingga kalau
ada yang perlu dilengkapi, Kepala sekolah berperan untuk memberikan petunjuk
dan arahan kepada guru tersbeut agar dapat melengkapinya sebelum
melaksanakan pembelajaran.
Kepala sekolah bertanggung jawab terhadap kelancaran pelaksanaan
pendidikan dan pengajaran di sekolahnya. Oleh karena itu dalam menjalankan
fungsinya sebagai administrator, ia harus mampu menguasai tugas dan
melaksanakannya dengan baik. Bentuk aktivitas Kepala sekolah dalam
menjalankan tugas pelaksanaan fungsi-fungsi tersebut adalah dengan
menerapkan dalam kegiatan-kegiatan sekolah yang dipimpinnya.
Kegiatan-kegiatan tersebut antara lain membuat program semester,
program tahunan, menyusun organisasi sekolah, melaksanakan pengoordinasian
dan pengarahan, dan pengelolaan kepegawaian dan pengawasan terhadap
semua sumber daya yang ada di sekolah tersebut. Kegiatan-kegiatan tersebut
pada akhirnya bertujuan agar hasil belajar siswa mencapai mutu yang optimal,
sehinga tujuan pendidikan berhasil baik. Kegiatan-kegiatan tersebut adalah
merupakan tanggung jawab Kepala sekolah.

e. Peran sebagai Supervisor


Posisi ini berfungsi untuk mengetahui sejauh mana guru mampu
melaksanakan pembelajaran dan secara berkala Kepala sekolah atau madrasah
perlu melaksanakan kegiatan supervisi. Tingkat penguasaan kompetensi guru
yang disupervisi selanjutnya diupayakan solusi, pembinaan, dan tindak lanjut
sehingga guru dapat memperbaiki kekurangan sekaligus mempertahankan
keunggulannya dalam melaksanakan pembelajaran (Helmawati: 2019, 30).
Secara berkala Kepala sekolah perlu melaksanakan kegiatan supervisi,
yang dapat dilakukan melalui kegiatan kunjungann kelas untuk mengamati
proses pembelajaran secara langsung, terutama dalam pemilihan dan
penggunaan metode, metode yang digunakan, dan keterlibatan siswa dalam
proses pembelajaran.
Dari hasil supervisi ini, dapat diketahui kelemahan sekaligus keunggulan
guru dalam melaksanakan pembelajaran, tingkat penguasaan kompetensi guru
yang bersangkutan. Selanjutnya, diupayakan solusi, pembinaan, dan tindak
lanjut tertentu sehingga guru dapat memperbaiki kekurangan yang ada sekaligus
mempertahankan keunggulannya dalam melaksanakan pembelajaran.
Sebagai pencipta iklim kerja, Kepala sekolah harus menciptakan iklim kerja
yang kondusif. Dengan terciptanya iklim kerja yang kondusif akan membuat
proses belajar mengajar berjalan secara efektif dan efisien (Helmawati: 2019,
31). Bukan hanya berdampak pada proses belajar mengajar saja, tetapi juga
iklim kerja yang kondusif berpengaruh pada kinerja tenaga pendidik dan
kependidikan itu sendiri.

12 | El-Idarah: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam, Vol. 8 No. 2, 2022


Dengan kondisi yang aman dan nyaman, tenaga kependidikan termasuk
pendidik dapat lebih mengembangkan kemampuannya secara optimal dan
dengan senang hati mereka akan membantu mewujudkan tujuan organisasi.

f. Kepala sekolah Sebagai Inovator


Pengembangan kreatifitas dan inovasi sekolah harus dibangun
berdasarkan prinsip-prinsip kewirausahaan. Guru sebagai pembaru pendidikan
dituntut untuk memiliki jiwa kewirausahaan termasuk dengan menerapkannya
dalam proses pembelajaran (Helmawati: 2019, 172).
Jika kewirausahaan dalam proses pembelajaran dapat dipahami dengan
mengembangkan dan menciptakan produk gagasan, mode, model, strategi dan
pelayanan yang mendorong lahirnya kreatifitas sehingga peserta didik memiliki
inovasi untuk dikembangkan dalam wirausahanya dalam kehidupan sehari-hari.
Untuk dapat mewujudkan hal tersebut, peran Kepala sekolah dalam mendorong
guru mengembangkan jiwa kewirausahaannya harus tetap dilakukan.
Ketika menerapkan prinsip-prinsip kewirausahaan yang dihubungkan
dengan peningkatan kompetensi guru, maka Kepala sekolah seyogyanya dapat
menciptakan pembaharuan, keunggulan komparatif, serta memanfaatkan
berbagai peluang. Kepala sekolah dengan sikap kewirauhasaan yang kuat akan
berani melakukan perubahan-perubahan yang inovatif di sekolahnya, termasuk
perubahan dalam hal-hal yang berhubungan dengan proses pembelajaran siswa
beserta kompetensi gurunya.

g. Kepala sekolah Sebagai Motivator


Dalam rangka melakukan peran dan fungsinya sebagai innovator, Kepala
sekolah harus memiliki strategi yang tepat untuk menjalin hubungan yang
harmonis dengan lingkungan, mencari gagasan baru, mengintegrasikan setiap
kegiatan, memberikan teladan kepada seluruh tenaga kependidikan sekolah, dan
mengembangkan model model pembelajaran yang inofatif. Kepala sekolah
sebagai inovator akan tercermin dari cara cara ia melakukan pekerjaannya
secara konstruktif, kreatif, delegatif, integratif, rasional, objektif, pragmatis,
keteladanan.
Terdapat indikator-indikator kepemimpinan kepala sekolah yang efektif
sebagai berikut:
1) Menerapkan pendekatan kepemimpinan partisiptif teruama dalam
proses pengambilan keputusan
2) Memiliki gaya kepemimpinan yang demokratis, lugas, dan terbuka
3) Menyiapkan waktu untuk berkomunikasi secara terbukadengan para
guru, peserta didik, dan warga sekolah lainnya
4) Menekankan kepada guru dan seluruh warga sekolah untuk memenuhi
norma-norma pembelajaran dengan disiplin yang tinggi
5) Memantau kemajuan belajar peserta didik melalui guru seseirng
mungkin berdasarkan data prestasi belajar

El-Idarah: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam, Vol. 8 No. 2 2022| 13


6) Menyelenggarakan pertemuan secara aktif, berkala dan
berkesinambungan dengan komite sekolah, guru, dan warga sekolah
lainnya mengenai topik-topik yang memerlukan perhatian.
7) Membimbing dan mengarahkan guru dalam memecahkan
masalahmasalah kerja, dan bersedia memberikan bantua secara
proporsional dan profesional.
8) Mengalokasikan dana yang diperlukan untuk menjamin pelaksanaan
program pembelajaran sesuai prioritas dan peruntukannya . Melakukan
berbagai kunjunga kelas untuk mengamati kegiatan pembelajaran
secara langsung (E. Mulyasa: 2013, 20).
[Link] menyatakan bahwa kepala sekolah sebagai seorang pemimpin
harus memiliki kompetensi sebagai berikut: 1) mampu memberdayakan guru-
guru untuk melaksanakan proses pembelajaran dengan baik, lancar, dan
produktif 2) dapat menyelesaikan tugas dan pekerjaan sesuai dengan waktu
yang telah ditetapkan 3) mampu menjalin hubungan yang harmonis dengan
masyarakat sehingga dapat melibatkan mereka secara aktif dalam rangka
mewujudkan tujuan madrasah dan pedidikan 4) berhasil menerapkan prinsip
kepemimpinan yang sesuai dengan tingkat kedewasaan guru dan guru lain lain
di madrasah e. bekerja dengan tim manajemen f. berhasil mewujudkan tujuan
madrasah secara produktif sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan (E.
Mulyasa: 2013, 126).
Dari beberapa indikator kepemimpinan diatas, maka penulis menyimpulkan
indikator kepemimpinan kepala sekolah adalah sebagai berikut:
1) Memiliki gaya kepemimpinan yang demokratis, lugas, dan terbuka
2) Menyiapkan waktu untuk berkomunikasi secara terbukadengan para
guru, peserta didik, dan warga sekolah lainnya
3) Menekankan kepada guru dan seluruh warga sekolah untuk memenuhi
norma-norma pembelajaran dengan disiplin yang tinggi
4) Menyelenggarakan pertemuan secara aktif, berkala dan
berkesinambungan dengan komite sekolah, guru, dan warga sekolah
lainnya mengenai topiktopik yang memerlukan perhatian.
5) Membimbing dan mengarahkan guru dalam memecahkan masalah-
masalah kerja, dan bersedia memberikan bantuan secara proporsional
dan professional
Melakukan berbagai kunjungan kelas untuk mengamati kegiatan pembelajaran
secara langsung.

SIMPULAN
Terdapat beberapa peran kepala sekolah yang harus diterapkan dalam
kepemimpinannya yaitu kepala sekolah sebagai leader (pemimpin), kepala
sekolah sebagai manajer, kepala sekolah sebagai educator, kepala sekolah
sebagai administrator Pendidikan, peran sebagai supervisor, kepala sekolah
sebagai innovator, kepala sekolah sebagai motivator.

14 | El-Idarah: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam, Vol. 8 No. 2, 2022


DAFTAR PUSTAKA

Afifuddin dan Beni Ahmad Saebani, Metode penelitian Kualitatif, cet II, Bandung:
CV. Pustaka Setia, 2012.
Agustina, Pengembangan Profesi Guru, Bandung: CV. Alfabeta.
Barinto, 2012; Vivi, 2013, (Dikutip Oleh Muh Fitrah, Peran Kepala Sekolah Dalam
Meningkatkan Mutu Pendidikan. Jurnal Penjaminan Mutu, 2017, Vol. 3.
No. 1, h. 38.
Dirawat, dkk. Pengantar Kepemimpinan Pendidikan, Surabaya: Usaha Nasional,
2004.
Fathi, Muhammad, The Art of Leadership in Islam, Jakarta: KHALIFA, 2009.
Gunawan, Imam, Djum Djum Noor Benty, Manajemen Pendidikan, Bandung:
Alfabeta, 2017.
Hadi, Sutrisno, Metodelogi Research, Yogyakarta: Andi Offset, 2002.
Helmawati, Meningkatkan Kinerja Kepala sekolah/sekolah Melalui Manajerial
Skiils, Semarang: Rineka Cipta, 2014.
Karina Purwanti, Murniati A. R. dan Yusrizal, Kepemimpinan Kepala sekolah
Dalam Meningkatkan Kompetensi Guru Pada Smp Negeri 2 Simeulue
Timur, Jurnal Ilmiah Didaktika Vol. XIV, No. 2, 5 Februari 2022, 390-400.
Lazaruth, Soewadji, Kepala sekolah Dan Tanggung Jawabnya, Yogyakarta:
Kanisius, 2004.
Mulyasa, E, Menjadi Guru Profesional: Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan
Menyenangkan, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2005.
Mulyasa, E., Manajemen dan Kepemimpinan Kepala Sekolah, Jakarta: PT. Bumi
Aksara, 2013.
Mulyasa, E., Menjadi Kepala sekolah Profesional, Bandung: PT Remaja
Rosdakarya, 2007.
Nurkolis, Manajemen Berbasis Sekolah Teori, Model dan Aplikasi, Jakarta:
Grasindo, 2003.
Sabirin, 2012; Dikutip Oleh Muh Fitrah, Peran Kepala Sekolah Dalam
Meningkatkan Mutu Pendidikan. Jurnal Penjaminan Mutu, 2017, Vol. 3.
No. 1, h. 38.
Sagala, Saiful, Konsep dan Makna Pembelajaran, Bandung: Alfabeta, 2003.
Sulistyorini, Kepemimpinan Kepala sekolah Dalam Pengembangan Sekolah
Dasar, Yogyakarta: Teras, 2010.
Syafarudin, Manajemen Mutu Terpadu dalam Pendidikan; Konsep, Strategi, dan
Aplikasi, Jakarta: Grasindo, 2002.
Wahjosumidjo, Kepemimpinan Kepala sekolah, Jakarta: PT Raja Grafindo
Persada: 2005.
Wahyudi, Kepemimpinan Kepala sekolah dalam Organisasi Pembelajar,
Bandung: Alfabeta, 2009.

El-Idarah: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam, Vol. 8 No. 2 2022| 15


16 | El-Idarah: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam, Vol. 8 No. 2, 2022

Anda mungkin juga menyukai