Profil Kabupaten Timor Tengah Utara
Profil Kabupaten Timor Tengah Utara
Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) merupakan salah satu Kabupaten yang terletak di pulau Timor
Provinsi NTT. Secara astronomis Kabupaten Timor Tengah Utara terletak antara 90 02’ 48” LS – 90
37’ 36” LS dan antara 1240 04’ 02” BT-1240 46’ 00” BT. Batas-batas wilayah administratif adalah
sebagai berikut :
Luas wilayah daratan Kabupaten Timor Tengah Utara adalah seluas 2669,70 km 2 dengan pulau Timor
sebagai pulau terluas (14.732,35 km2). Wilayah administrasi di Kabupaten Timor Tengah Utara tahun
2020 terbagi atas 24 kecamatan yang terdiri dari 182 desa dan 11 kelurahan. Wilayah terluas adalah
Kecamatan Insana dengan luas 333,08 km2 (12,48%) dan Kecamatan Biboki Anleu dengan luas
206,40 km2 (7,73%). Wilayah terkecil adalah Kota Bikomi Selatan dengan luas 48,68 km2 (1,82%).
Gambaran umum 24 kecamatan yang berada di Kabupaten Timor Tengah Utara dapat dilihat pada
grafik di bawah ini.
Tabel 1. Ibukota Kecamatan, Luas, dan Ketinggian di Kabupaten Timur Tengah Utara Per
Kecamatan
Adapun jarak antar kecamatan terhadap Ibukota Kabupaten Timor Tengah Utara (Kota Kefamenanu)
dapat dilihat pada grafik di bawah ini.
Gambar 1
Jarak Antar Kecamatan terhadap Ibukota Kabupaten Timor Tengah Utara Tahun 2020
Sumber: Badan Pusat Statistik dalam angka, 2021. (Diolah)
Kondisi Fisik
Topografi
Secara umum, wilayah Kabupaten Timor Tengah Utara berada antara 0 – 500 meter di atas
permukaan laut, dengan rincian sebagai berikut:
0-25 m : 6.519,69 Ha (2,44%)
26-100 m : 11.186,00 Ha (4,18%)
101-500 m : 149.944,935 Ha (56,16%)
501-1000 m: 88.908,875 Ha (33,30%)
> 1000 m : 10.410,500 Ha (3,89%)
Dari kandungan tanah atau potensi tanah, Kabupaten Timor Tengah Utara memiliki 3 jenis tanah
yang membentuk muka bumi wilayah ini antara lain tiga jenis tanah yaitu litosal, tanah kompleks dan
grumosal. Tanah litosal meliputi areal seluas 1,666,96 km2 atau 62,4 %; tanah kompleks seluas
479,48 km2 atau 18,0 % dan tanah grumosal 522,26 km2 atau 19,6 % dari luas wilayah Kabupaten
Timor Tengah Utara. Komposisi kedalaman efektif tanah Kabupaten Timor Tengah Utara
memperlihatkan tanah dengan kedalaman efektif kurang dari 30 cm seluas 35.316 Ha (13,2%);
kedalaman 30-60 cm seluas 73.201 Ha (27,4 %); 60-90 cm seluas 16.354 Ha (6,1 %) dan kedalaman
efektif di atas 90 cm dengan luas 142.099 Ha (53,2%).
Kemampuan dan daya tahan tanah yang rawan erosi seluas 105.226 Ha (39,4 %), dan sisanya
161.744 Ha (60,6 %) merupakan tanah dengan struktur yang relatif stabil. Secara parsial tanah labil
yang rawan erosi terdapat pada tiga wilayah kecamatan yakni Miomaffo barat 37.921 Ha, Biboki
Selatan 28.538 Ha, dan Biboki Utara 28.538 Ha.
Klimatologi
Sesuai dengan klasifikasi iklim oleh Schmidt dan Ferguson Kabupaten Timor Tengah Utara termasuk
wilayah iklim tipe D (iklim semi arid) dengan koefisien 2 sebesar 71,43 % atau beriklim tropis
dengan dua musim yaitu musim kemarau dan hujan. Curah hujan total Kabupaten Timor Tengah
Utara adalah 1.363,83 mm dengan total hari hujan sebanyak 71 hari. Wilayah di Kabupaten Timor
Tengah Utara memiliki suhu yang bervariasi namun secara umum daerah Kabupaten Timor Tengah
Utara tergolong panas.
Kerawanan Bencana
Berdasarkan data BPS, bencana alam yang tercatat dalam kurun waktu 2018-2020 adalah banjir,
gempa bumi, tanah longsor, dan kekeringan. Perincian daerah rawan bencana adalah sebagai berikut.
Jenis
No Lokasi/Kecamatan Keterangan
Bencana
1 Gempa bumi Miomaffo Timur, Bikomi Utara, Bikomi Gempa bumi yang terjadi
Selatan, Bikomi Nilulat, Naibenu, Insana pada skala kecil
Jenis
No Lokasi/Kecamatan Keterangan
Bencana
Utara, Biboki Monleu, Biboki Anleu, Biboki
Utara, Biboki Feotleu, Biboki Selatan,
Biboki Tanpah, Insana, Insana Barat, Insana
Tengah, Insana Fafinesu, Kota Kefamenanu,
Noemuti, Noemuti Timur, Miomaffo
Tengah, Musi, Miomaffo Barat, Mutis,
Bikomi Tengah
Pantura: Insana Utara, Biboki Moenleu,
2 Tsunami
Biboki Anleu
Miomaffo Timur, Bikomi Utara, Bikomi
Apabila curah hujan tinggi,
Selatan, Bikomi Nilulat, Naibenu, Insana
maka potensi terjadinya
Utara, Biboki Moenleu, Biboki Anleu,
gerakan tanah/longsoran
Biboki Utara, Biboki Feotleu, Biboki
tanah sangat besar. Gerakan
3 Gerakan tanah Selatan, Biboki Tanpah, Insana, Insana
tanah menyebabkan
Barat, Insana Tengah, Insana Fafinesu, Kota
kerusakan permukiman
Kefamenanu, Noemuti, Noemuti Timur,
penduduk serta lahan
Miomaffo Tengah, Musi, Miomaffo Barat,
pertanian
Mutis, Bikomi Tengah
Noemuti, Noemuti Timur, Bikomi Selatan, Banjir yang terjadi merusak
4 Banjir Biboki Monleu, Biboki Anleu, Insana Utara, lahan pertanian (sawah) dan
Insana, Mutis, Kota Kefamenanu permukiman warga
Miomaffo Timur, Bikomi Utara, Bikomi
Selatan, Bikomi Nilulat, Naibenu, Insana
Sering terjadi kekeringan
Utara, Biboki Monleu, Biboki Anleu, Biboki
setiap tahun yang
5 Kekeringan Utara, Biboki Feotleu, Biboki Selatan,
menyebabkan kegagalan
Biboki Tanpah, Insana, Insana Barat, Insana
panen
Tengah, Insana Fafinesu, Kota Kefamenanu,
Noemuti, Noemuti Timur
Miomaffo Timur, Bikomi Utara, Bikomi
Selatan, Bikomi Nilulat, Naibenu, Insana
Utara, Biboki Monleu, Biboki Anleu, Biboki
Kebakaran
Utara, Biboki Feotleu, Biboki Selatan, Kebakaran disebabkan oleh
6 gedung dan
Biboki Tanpah, Insana, Insana Barat, Insana kelalaian manusia
permukiman
Tengah, Insana Fafinesu, Kota Kefamenanu,
Noemuti, Noemuti Timur, Miomaffo
Tengah, Musi, Miomaffo Barat, Mutis
Miomaffo Timur, Bikomi Utara, Bikomi
Selatan, Bikomi Nilulat, Naibenu, Insana
Terjadi pada perubahan
Utara, Biboki Monleu, Biboki Anleu, Biboki
Epidemi dan musim panas dan musim
Utara, Biboki Feotleu, Biboki Selatan,
7 wabah hujan. Mengkonsumsi air
Biboki Tanpah, Insana, Insana Barat, Insana
penyakit minum yang tidak sehat pada
Tengah, Insana Fafinesu, Kota Kefamenanu,
saat perubahan musim
Noemuti, Noemuti Timur, Miomaffo
Tengah, Musi, Miomaffo Barat, Mutis
8 Bencana Kota Kefamenanu (6 kelurahan), Miomaffo
siklon tropis Timur (5 desa), Bikomi Tengah (1 desa),
seroja 2021 Naibenu (3 desa), Insana Utara (2 desa),
Jenis
No Lokasi/Kecamatan Keterangan
Bencana
Biboki Utara (3 desa), Insana (1 desa),
Insana Tengah (2 desa), Insana Fafinesu (1
desa), Biboki Monleu (2 desa), Miomaffo
Barat (3 desa), Miomaffo Tengah (1 desa),
Noemuti (1 desa), Bikomi Utara (1 desa),
Bikomi Selatan (3 desa/kelurahan), Biboki
Tanpah (4 desa), Biboki Feotleu (2 desa),
Musi (3 desa), Biboki Selatan (1 desa),
Bikomi Nilulat (1 desa), Mutis (1 desa)
Sumber: KLHS RPJMD TTU, 2017; BPBD Kab. TTU, 2021 (Diolah)
Tabel 3. Luas Risiko Bencana di Kabupaten Timur Tengah Utara Per Kecamatan 2018-2019
Demografi
Jumlah Penduduk
Jumlah penduduk di Kabupaten Timor Tengah Utara pada tahun 2020 adalah sebanyak 259.829 Jiwa
dengan RJK (Rasio Jenis Kelamin) sebesar 100,53. Jumlah penduduk tersebut mengalami penurunan
sebesar 5,91% dari tahun 2019. Laju pertumbuhan penduduk tahun 2010-2020 adalah sebesar 1,24 %.
Kabupaten Timor Tengah Utara memiliki kepadatan penduduk rendah yaitu 97 jiwa/Km2.
Jumlah rumah tangga per kecamatan di Kabupaten Timor Tengah Utara pada tahun 2020 adalah
sebanyak 71.348 KK. Jumlah KK terbanyak terdapat di Kecamatan Kota Kefamenanu (12.693 KK),
sedangkan jumlah paling sedikit terdapat di Kecamatan Biboki Feotleu (1.051 KK).
Tabel 4. Jumlah Rumah Tangga Per Kecamatan di Kabupaten Timor Tengah Utara, 2020
Jumlah
Kecamatan
KK
Miomaffo Barat 4.475
Miomaffo Tengah 1.743
Musi 1.409
Mutis 1.869
Miomaffo Timur 3.548
Noemuti 3.689
Bikomi Selatan 3.121
Bikomi Tengah 2.168
Bikomi Nilulat 1.344
Jumlah
Kecamatan
KK
Bikomi Utara 1.777
Naibenu 1.419
Noemuti Timur 1.243
Kota Kefamenanu 12.693
Insana 5.736
Insana Utara 2.686
Insana Barat 3.035
Insana Tengah 2.988
Insana Fafinesu 1.696
Biboki Selatan 2.686
Biboki Tanpah 1.581
Biboki Moenleu 1.959
Biboki Utara 2.929
Biboki Anleu 4.503
Biboki Feotleu 1.051
Total 71.348
Sumber: Dinas Dukcapil, 2021
Piramida Penduduk
Penduduk di Kabupaten Timor Tengah Utara saat ini didominasi oleh penduduk yang berusia
produktif (penduduk berusia 15-64 tahun) yaitu 67,77%. Jika dilihat dari piramida penduduk yang ada
pada gambar dibawah, piramida tersebut tergolong piramida ekspansif (muda). Artinya sebagian besar
penduduk berusia muda, sedangkan penduduk usia lanjutnya sedikit. Sehingga diperlukan lapangan
pekerjaan yang cukup untuk memenuhi jumlah angkatan kerja yang ada.
Jumlah
No Kelompok Umur
n %
1 0-4 12.635 4,73%
2 5-9 26.205 9,82%
3 10-14 28.638 10,73%
4 15-19 30.586 11,46%
5 20-24 25.329 9,49%
6 25-29 20.820 7,80%
7 30-34 18.815 7,05%
8 35-39 18.547 6,95%
9 40-44 16.383 6,14%
Jumlah
No Kelompok Umur
n %
10 45-49 14.492 5,43%
11 50-54 13.378 5,01%
12 55-59 12.359 4,63%
13 60-64 10.179 3,81%
14 65-69 6.387 2,39%
15 70-74 5.026 1,88%
16 >=75 7.160 2,68%
266.93
Jumlah 100,00
9
Sumber: Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten TTU Tahun 2021 (Diolah)
Proyeksi Penduduk
Berdasarkan proyeksi penduduk yang telah dilakukan, pada tahun 2041 penduduk Kabupaten
Timor Tengah Utara meningkat dari 25.829 jiwa (tahun 2020) menjadi 336.267 jiwa. Proyeksi
tersebut dihitung dengan menggunakan rumus geometri seperti berikut:
1 = konstanta
n = rentang tahun
Proyeksi tersebut menggunakan data jumlah penduduk dari tahun 2010 hingga 2020. Jumlah
penduduk Kabupaten Timor Tengah Utara pada tahun 2010 adalah 229.803 jiwa dan laju
pertumbuhan penduduk 2010-2020 adalah 1,24%. Sehingga didapatkan hasil proyeksi seperti pada
tabel berikut:
Kemiskinan
Gambaran kemiskinan di Kabupaten Timor Tengah Utara selama tahun 2013-2020 dapat dilihat pada
grafik. Jumlah penduduk miskin mengalami perkembangan fluktuatif hingga pada tahun 2020
mencapai 386.990 jiwa (22,28% dari keseluruhan).
Gambar 2
Adapun perkembangan secara fluktuatif juga terlihat pada indeks kedalaman kemiskinan dan
keparahan kemiskinan yang pada tahun 2020 mencapai angka 3,75 untuk indeks kedalaman
kemiskinan (lebih rendah dari rerata Prov. NTT sebesar 4,15) dan 0,90 untuk Indeks Keparahan
Kemiskinan (lebih rendah dari rerata Prov. NTT sebesar 1,24).
Gambar 3
Indeks Keparahan dan Kedalaman Kemiskinan di Kabupaten Timor Tengah Utara
Sumber: BPS Kabupaten Dalam Angka, 2021. (Diolah)
Jumlah rumah di Kabupaten Timor Tengah Utara pada tahun 2017 adalah sebanyak 57.572 unit,
yang terdiri dari 30.046 rumah layak huni dan 27.526 rumah tidak layak huni. Melalui program rumah
layak huni terbangun, jumlah rumah layak huni pada tahun 2020 meningkat menjadi 34.065 unit,
sedangkan rumah tidak layak huni berkurang menjadi 23.507 unit (Dinas PKP dan Pertanahan Kab.
Timor Tengah Utara, 2020).
Pada umumnya tipologi perumahan dan kawasan permukiman di Kabupaten Timor Tengah Utara
berada pada 3 (tiga) tipologi yaitu: dataran, pegunungan/ perbukitan, dan linear/sepanjang jalan. Tipe
permukiman di Kabupaten Timor Tengah Utara diantaranya adalah permukiman penduduk Perkotaan
Kefamenanu, Perumahan Developer, Perumahan BTN, Rusunawa BTN, Permukiman Perbatasan
Negara (Napan dan WIni), dan Permukiman Transmigrasi.
Desa Napan di Kecamatan Bikomi Utara merupakan salah satu desa yang berbatasan langsung
dengan Negara Timor Leste. Permukiman di kawasan perbatasan ini umumnya berada di area
perbukitan dengan pola sebaran permukiman sepanjang jalan dan menyebar. Permukiman lainnya
yang berada pada topografi perbukitan seperti di permukiman kumuh Papin Kelurahan Tubuhe
Kecamatan Kota Kefamenanu. Adapun permukiman yang berada di kawasan dataran dan pesisir dapat
ditemukan di kawasan perbatasan Wini Kecamatan Insana Utara, permukiman transmigrasi Ponu di
Kecamatan Biboki Anleu.
Status penguasaan bangunan merupakan salah satu indikator kesejahteraan penduduk bagian
perumahan. Semakin banyak penduduk yang mempunyai rumah sendiri maka semakin banyak juga
masyarakat yang tergolong mapan dan sejahtera terutama memenuhi kebutuhan hidupnya.
Berdasarkan data pada buku statistik kesejahteraan Nusa Tenggara Timur tahun 2020, persentase
kepemilikan bangunan tertinggi di Kabupaten Timor Tengah Utara adalah milik sendiri yaitu sebesar
86,82%. Berikut merupakan tabel persentase status penguasaan bangunan tahun 2018-2020 di
Kabupaten TTU:
Luas lantai bangunan merupakan indikator lain yang menunjukkan kesejahteraan penduduk.
Idealnya, sebuah keluarga harus menempati rumah dengan luas lantai minimal 8 kali jumlah anggota
keluarganya. Di Kabupaten Timor Tengah Utara, luas lantai yang mendominasi adalah 50-99 m 2 yaitu
49,84%. Akan tetapi masih terdapat 2,84% bangunan yang memiliki luas lantai dibawah 20 m 2.
Berikut merupakan tabel persentase jumlah bangunan berdasarkan luas lantai di Kabupaten Timor
Tengah Utara tahun 2018-2020:
Persentase (%)
Luas lantai (m²)
2018 2019 2020
<19 2,47 5,64 2,84
20-49 31,81 35,04 37,81
50-99 56,32 51,71 49,84
100-149 6,33 6,33 7,1
150+ 3,08 1,28 2,42
Sumber: Buku Statistik Kesejahteraan Prov NTT 2018-2021
Persentase (%)
Luas Perkapita (m²)
2018 2019 2020
7,2 m² 11,9 8,93 15,16
7,3 – 9,9 m² 16,57 23,21 16,3
≥ 10 m² 71,53 67,86 68,54
Sumber: Buku Statistik Kesejahteraan Prov NTT 2018-2021
Bangunan berdasarkan atap terluas adalah klasifikasi bangunan berdasarkan penutup bagian atas
sebuah bangunan, sehingga anggota rumah tangga yang berada di rumah tersebut dapat terlindung
dari terik matahari, hujan dan sebagainya. Pada Kabupaten Timor Tengah Utara, sebanyak 92,37%
menggunakan seng sebagai atap. Berikut merupakan persentase bangunan berdasarkan jenis atap
terluas di Kabupaten Timor Tengah Utara tahun 2018-2020:
Persentase (%)
Jenis Atap
2018 2019 2020
Beton/Genteng/Asbes 1,13 0,11 1,08
Seng 89,53 89,12 92,37
Bambu/Kayu/Sirap N/A 1,3 0,07
Jerami/Ijuk/ Daun/Rumbia/Lainnya 9,35 9,47 6,48
Sumber: Buku Statistik Kesejahteraan Prov NTT 2018-2021
Persentase (%)
Jenis Dinding
2018 2019 2020
41,0
Tembok/ Plasteran Anyaman Bambu/Kawat 40,06 42,85
2
Kayu/papan 0,32 0,09 1,44
Anyaman bambu 1,58 n.a 0
57,0
Batang Kayu/ Bambu/Lainnya 59,85 55,71
7
Sumber: Buku Statistik Kesejahteraan Prov NTT 2018-2021
Bangunan berdasarkan jenis lantai terluas adalah klasifikasi bangunan berdasarkan bagian
bawah/dasar/alas suatu ruangan, baik terbuat dari marmer, keramik, granit, tegel/teraso, semen, kayu,
tanah dan lainnya seperti bambu. Pada Kabupaten Timor Tengah Utara, kebanyakan bangunan
menggunakan semen/bata merah sebagai lantai yaitu 45,58% dari total bangunan. Berikut merupakan
tabel persentase jumlah bangunan berdasarkan jenis lantai terluas di Kabupaten Timor Tengah Utara
pada tahun 2018-2020:
Persentase (%)
Jenis Lantai
2018 2019 2020
Marmer/Granit/Keramik/ Parket/Vinil/ Karpet 15,68 17,02 17,36
Ubin/tegel/teraso 0,79 0,51 0,28
Kayu/papan N/A N/A N/A
Semen/bata merah 49,59 46,53 45,58
Bambu/Tanah/ Lainnya 33,94 35,93 36,78
Sumber: Buku Statistik Kesejahteraan Prov NTT 2018-2021
Backlog Perumahan
Jumlah rumah tangga yang tidak memiliki rumah (backlog) pada tahun 2018 sebanyak 5.115 KK
(Dinas PKP dan Pertanahan Kab. TTU, 2020).
Total jumlah rumah tidak layak huni (RTLH) di Kabupaten Timor Tengah Utara yang perlu ditangani
sebanyak 25.198 unit pada tahun 2021. Kecamatan dengan jumlah RTLH terbanyak adalah
Kecamatan Insana (2.511 unit), sedangkan jumlah RTLH paling sedikit terdapat di Kecamatan
Noemuti Timur (548 unit).
Di kawasan Kota Terpadu Mandiri Desa Ponu Kecamatan Biboki Anleu, jumlah RTLH adalah
sebanyak 490 unit dengan kategori rumah permanen sebanyak 20 unit, rumah semi permanen 160
unit, dan rumah darurat sebanyak 310 unit. Kondisi rumah tidak layak huni menggunakan atap
seng/alang-alang yang sudah bocor, dinding bebak, berlantai tanah, dan kondisi sanitasi yang
bervariasi, rata-rata memakai jamban cemplung.
Tabel 13. Tabel Rumah Tidak Layak Huni di Kabupaten Timor Tengah Utara, 2021
Penanganan RTLH dengan penyediaan rumah layak huni terbangun di Kabupaten Timor
Tengah Utara meliputi program Berarti, DAK, BSPS, BSPSP, dana desa, program rehabilitasi sosial,
dan bantuan Bank NTT. Adapun target capaian masing-masing program setiap tahunnya adalah
sebagai berikut.
Tabel 14. Target Capaian Program Rumah Layak Huni Terbangun di Kabupaten Timor
Tengah Utara
Tahun
No Program
2017 2018 2019 2020 Jumlah
3.36
1 BERARTI – 59 602 4.025
4
2 DAK – 169 138 321 628
3 BSPS 226 378 180 350 1.134
4 BSPSP – 40 19 – 59
5 Dana Desa – 17 385 – 402
6 Program Rehabilitasi Sosial – – 130 150 280
7 Bantuan Bank NTT – – 11 – 11
4.18
Total 226 663 1.465 6.539
5
Sumber: Dinas PKP dan Pertanahan Kabupaten TTU, 2020
Permukiman kumuh adalah permukiman yang tidak layak huni yang ditandai dengan
ketidakteraturan bangunan, tingkat kepadatan bangunan yang tinggi, dan kualitas bangunan serta
sarana dan prasarana yang tidak memenuhi syarat (UU No.1 Tahun 2011 tentang PKP). Berdasarkan
SK Bupati Timor Tengah Utara nomor 687/KEP/HK/XII/2020, luas kawasan permukiman kumuh di
Kabupaten Timor Tengah Utara adalah seluas 32,79 Ha. Persebarannya adalah sebagai berikut:
Kampung Adat
Rumah adat atau tradisional yang merupakan warisan budaya di Kabupaten Timor Tengah Utara
diantaranya sebagai berikut:
Kampung adat dengan potensi daya tarik wisata terdapat di Kecamatan Miomaffo Barat, Kota
Kefamenanu, Miomaffo Timur, Insana, Biboki Selatan.
Tabel 16. Persebaran Rumah dan Kampung Adat dengan Potensi Wisata di
Kabupaten Timor Tengah Utara, 2019
Prasarana Jalan
Prasarana jalan di Kabupaten Timor Tengah Utara berdasarkan data BPS bahwa panjang ruas
jalan Kabupaten Timor Tengah Utara adalah 1.048,40 km dimana 80,97% nya merupakan jalan
kabupaten. Sebagian besar jalan sudah menggunakan aspal namun masih terdapat jalan kerikil, tanah,
dan lainnya sebesar 57,98%. Jika ditinjau dari kondisi jalannya, terdapat 55,51% jalan yang masuk
kategori rusak-rusak berat. Rincian kondisi, jenis, dan tingkat kewenangan jalan dapat dilihat pada
tabel di bawah ini:
Tabel 17. Tingkat Kewenangan, Kondisi, dan Jenis Jalan di Kabupaten Timor Tengah Utara
Prasarana Drainase
Kota Kefamenanu adalah kota dengan topografi cenderung datar, sehingga pengaliran air
permukaan relatif susah. Kondisi ini mengakibatkan Kota Kefamenanu sangat rawan terhadap
genangan. Walaupun demikian kondisi genangan di kawasan permukiman di kawasan perkotaan
sampai saat ini belum mengkhawatirkan dikarenakan masih rendahnya tingkat kepadatan penduduk,
masih luasnya kawasan berupa tanah kosong yang dapat menampung air pada saat musim penghujan,
sudah terbangunnya drainase tersier pada beberapa kawasan permukiman dan juga curah hujan yang
relatif rendah, kondisi ini membuat kawasan permukiman di Kota Kefamenanu tidak mengalami
genangan air. Untuk pengelolaan drainase kota di Kota Kefamenanu pada awalnya di kelola oleh
Dinas PU Kabupaten Timor Tengah Utara akan tetapi sejak tahun 2011 kegiatan pembangunan
infrastruktur Keciptakaryaan diserahkan sepenuhnya kepada Dinas Perumahan Penataan Ruang dan
Kebersihan (PPRK) Kabupaten Timor Tengah Utara, penyerahan tanggung jawab ini tidak disertai
dengan penjelasan tentang data kondisi infrastruktur drainase perkotaan di Kota Kefamenanu,
sehingga data yang terkait dengan infrastruktur drainase hanya tahun 2012 saja. Secara visual dan
survey lapangan pada kondisi normal di Kota Kefamenanu tidak terjadi genangan yang mengganggu.
Genangan terjadi hanya pada saat musim penghujan dan itu pun hanya pada kawasan tertentu saja,
kondisi drainase relatif cukup baik, saluran drainase yang tersumbat oleh sampah hanya pada kawasan
pasar, sedangkan yang lain relatif lancar. Sampai dengan tahun 2012 hanya 35% infrastruktur drainase
saja yang masih dalam kondisi baik.
Untuk genangan air yang terjadi di Kabupaten Timor Tengah Utara hanya ada di kawasan
permukiman pengungsi, kawasan permukiman ini belum memiliki sistem drainase yang baik untuk
mengalirkan air menuju badan penerima air. Jika terjadi curah hujan yang tinggi maka kawasan ini
sering terjadi genangan air.
Pada umumnya kawasan/lingkungan di Kabupaten Timor Tengah Utara belum tersedia saluran
drainase yang memadai. Jaringan drainase yang ada khususnya di perkotaan adalah drainase jalan
raya untuk menampung air hujan dari atas badan jalan. Jaringan drainase tersebut belum tertata
dengan baik bahkan saluran drainase yang ada sudah tidak layak lagi mengalirkan air hujan karena
dipenuhi dengan sampah atau kotoran lainnya. Pembuangan air hujan ini umumnya dialirkan ke kali
dan atau ke laut sedangkan di daerah pedesaan umumnya masyarakat masih mengandalkan drainase
alam seperti sungai/danau yang ada di wilayah tersebut. Genangan yang terjadi umumnya berlangsung
antara 6 jam sampai dengan 12 jam.
Pekerjaan saluran drainase lingkungan permukiman kota selama kurun waktu 2017 – 2019 yang
dilakukan oleh Dinas Perumahan Rakyat Kawasan Permukiman dan Pertanahan Kabupaten Timor
Tengah Utara tersebar dalam Kecamatan Kota Kefamenanu sebagai berikut.
Tabel 18. Rekapitulasi Pekerjaan Drainase di Kota Kefamenanu, Kabupaten Timor Tengah
Utara
Tahu
No Panjang (meter)
n
1 2017 776
2 2018 1.003
3 2019 2.295
Total 4.047
Sumber: Dinas PKP dan Pertanahan Kabupaten TTU, 2019
Prasarana Persampahan
Untuk menggambarkan kondisi eksisting pengembangan persampahan yang telah dilakukan
pemerintah Kabupaten Timor Tengah Utara, diuraikan hal-hal berikut ini:
Pengelolaan persampahan di Kabupaten Timor Tengah Utara umumnya dilakukan dalam skala
individu yaitu masyarakat mengelola sampahnya sendiri dengan cara dibakar, dikubur atau dibuang ke
tanah kosong yang ada disekitarnya. Produksi sampah di perdesaan umumnya sampah organik dan
mudah dimusnahkan sehingga belum memberikan dampak buruk bagi masyarakat kecuali di daerah
kumuh nelayan perlu penataan lebih lanjut
Pengelolaan sampah di daerah perkotaan khususnya di Kota Kefamenanu ditangani oleh Instansi
Bidang Kebersihan Kabupaten Timor Tengah Utara. Di setiap kawasan permukiman tertentu yang
padat penduduknya, di pusat perdagangan dan pasar serta Rumah Sakit Umum Kefamenanu
disediakan Tempat Penampungan Sementara (TPS) kemudian setiap hari dengan mobil sampah,
sampah-sampah tersebut diangkut dan dibuang ke lokasi Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
Produksi sampah yang diangkut belum banyak lebih kurang 12 m3 – 15 m3 per hari yang
diangkut oleh 3 truk sampah dengan rata-rata 2 trip/hari. Rendahnya produksi sampah tersebut karena
sebagian besar sampah adalah sampah organik yang mudah dimusnahkan oleh masyarakat dengan
cara membakar sampah-sampah tersebut.
Pengelolaan dan penanganan persampahan di Kabupaten Timor Tengah Utara saat ini ditangani
oleh Bidang Kebersihan pada Dinas Perumahan, Penataan Ruang dan Kebersihan (PPRK) Kabupaten
Timor Tengah Utara. Dalam pelaksanaan pengelolaan sampah di Kabupaten Timor Tengah Utara
mengacu pada Peraturan Daerah Kabupaten Timor Tengah Utara No. 53/Tahun 2001 Tanggal 16
Oktober 2001 tentang pengelolaan persampahan. Penanganan persampahan di Kabupaten Timor
Tengah Utara belum mendapatkan perhatian yang serius/utama dari pemerintah daerah, hal ini bisa
dilihat dari alokasi anggaran yang kecil untuk penanganan persampahan maupun sarana/prasarana
persampahan yang sangat terbatas. Untuk penanganan persampahan di Kabupaten Timor Tengah
Utara lebih banyak diserahkan kepada masyarakat dalam hal ini sampah yang berasal dari rumah
tangga langsung dikelola oleh masyarakat dengan cara dikumpulkan pada TPS-TPS dan kemudian
dibakar. Berdasarkan data BPS (Kabupaten Timor Tengah Utara dalam Angka Tahun 2012), volume
sampah di Kota Kefamenanu Tahun 2010 mencapai 159,68 m3/hari. Untuk penanganan sampah di
Kota Kefamenanu telah dibangun Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Tublopo pada Tahun 2005,
namun pengelolaannya masih dilakukan dengan Sistem Open dumping dan pengelolaan TPA tidak
dilakukan sesuai prosedur yang ada. Hal ini perlu mendapat perhatian mengingat pengelolaan TPA
harus ditingkatkan dari sistem Open dumping menjadi sistem Control Landfill atau Sanitary landfill.
Pada TPA Tublopo, sampah yang diangkut tidak dibuang pada tempat semestinya tetapi dibuang pada
sekitar akses jalan menuju TPA sehingga menyebabkan kendaraan truk operasional pengangkut
sampah sering mengalami kerusakan ban/mesin. Kendala lain dalam penanganan sampah di
Kabupaten Timor Tengah Utara selain karena masih sangat terbatasnya biaya operasional dan
terbatasnya tenaga operasional juga kurang sadarnya masyarakat dalam membuang sampah menjadi
Penyebab masih rendahnya penanganan sampah di Kabupaten Timor Tengah Utara.
Kondisi eksisting pengembangan persampahan sebagaimana diuraikan di atas ditampilkan dalam tabel
berikut ini:
No Uraian Volume
1 Cakupan Pelayanan 38,26%
No Uraian Volume
2 Perkiraan Timbunan Sampah 159,69 m3/hari
Timbunan Sampah Terangkut:
– Permukiman 7,98 m3/hari
Tabel 20. Jumlah Jenis Pewadahan dan Daerah Pelayanan Penampungan Sampah di
Kabupaten Timor Tengah Utara
Prasarana Telekomunikasi
1. Jaringan prasarana telekomunikasi sistem kabel yang berada di perkotaan Kefamananu dan
Wini serta Napanmen jadi sistem Serat Optik.
2. rencana pengembangan prasarana telekomunikasi sistem fiber optik dikembangkan pada
wilayah pusat-pusat pertumbuhan dan sepanjang jalan kolektor;
3. Rencana pengembangan prasarana telekomunikasi melalui sistem seluler terus ditingkatkan
perkembangannya melalui tower-tower Base Transceiver Station (BTS) yang dikembangkan
di seluruh kecamatan di Kabupaten Timor Tengah Utara agar seluruh wilayah dapat
terjangkau;
4. Mengarahkan pemanfaatan secara bersama pada satu tower BTS untuk beberapa operator
telepon seluler dengan pengelolaan secara bersama pula hingga menjangkau ke pelosok
perdesaan; dan
5. Rencana pengembangan prasarana telekomunikasi sistem satelit dilakukan untuk
meningkatkan pelayanan di wilayah terpencil atau yang tidak bisa dilayani oleh kedua sistem
lainnya.
1. prasarana telematika yang dikembangkan, meliputi sistem kabel, sistem seluler, dan sistem
satelit.
2. rencana sistem jaringan prasarana telematika akan terus ditingkatkan perkembangannya
hingga mencapai pelosok wilayah yang belum terjangkau sarana prasarana telematika
mendorong kualitas perencanaan dan pelaksanaan pembangunan;
3. rencana penyediaan infrastruktur telematika, berupa tower Base Transceiver Station (BTS)
khususnya pada wilayah yang belum mendapatkan pelayanan;
Dikarenakan keterbatasan data. Profil prasarana listrik di Kabupaten Timor Tengah Utara adalah
sebagai berikut:
Sedangkan bila kita meninjau jaringan penerangan, sumber penerangan masyarakat Kabupaten Timor
Tengah Utara dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
Jaringan Air Bersih dan Air Minum
Sumber air minum di Kabupaten Timor Tengah Utara sebagian besar berasal dari sumur
terlindung (30,71%) dan mata air terlindung (23,82%). Perincian sumber air minum dapat dilihat pada
tabel di bawah ini.
Perkotaa
No Jenis Pedesaan Total
n
1 Air Kemasan 6,64% 0,00% 0,85%
2 Air Isi Ulang 23,78% 3,38% 6,00%
3 Ledeng Meteran 0,15% 11,13% 9,72%
4 Sumur Bor 19,38% 15,36% 15,88%
5 Sumur Terlindung 26,17% 31,38% 30,71%
6 Sumur Tak Terlindung 15,12% 2,67% 4,27%
7 Mata Air Terlindung 0,00% 27,32% 23,82%
8 Mata Air Tak Terlindung 0,00% 1,57% 1,37%
9 Air Permukaan, Hujan dan Sumber Tidak Terlindung 8,76% 7,19% 7,38%
10 Air Hujan 0,00% 0,00% 0,00%
Jumlah 100,00% 100,00% 100,00%
Sumber: Statistik Kesejahteraan Provinsi NTT, 2020
Untuk kualitas air minum, sebanyak 67,72% penduduk mengakses air minum bersih sehingga
prasarana air minum menjadi salah satu prasarana yang perlu ditingkatkan di Kabupaten Timor
Tengah Utara.
Sarana Sanitasi
Sarana Sanitasi di Kabupaten Timor Tengah Utara dapat ditinjau dari jenis tempat pembuangan
akhir tinja serta kepemilikan fasilitas pembuangan akhir tinja. Di Kabupaten Timor Tengah Utara,
dominasi jenis tempat pembuangan akhir tinja adalah IPAL/ Septic Tank sebesar 80,22%.
Perinciannya dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
Tabel 24. Jenis Tempat Pembuangan Akhir Tinja di Kabupaten Timor Tengah Utara
Jumla
No Jenis Persentase
h
1 IPAL/ Septic Tank – 80,22%
2 Lubang Tanah – 19,70%
3 Lainnya – 0,08%
Jumlah 100,00%
Sumber: Statistik Kesejahteraan Provinsi NTT, 2020
Adapun berdasarkan kepemilikannya, sebanyak 81,23% telah memiliki fasilitas BAB sendiri.
Sedangkan terdapat 6,22% masyarakat yang tidak memiliki fasilitas BAB.
Perkotaa
No. Jenis Pedesaan Total
n
1 Sendiri 89,86% 79,95% 81,23%
2 Sendiri namun Bersama 9,13% 12,37% 11,95%
3 Komunal 0,00% 0,69% 0,60%
4 Tidak Ada Fasilitas 1,01% 6,99% 6,22%
Jumlah 100,00% 100,00% 100,00%
Sumber: Statistik Kesejahteraan Provinsi NTT, 2020
Sarana Peribadatan
Sarana peribadatan di Kabupaten Timor Tengah Utara adalah masjid, musholla, gereja protestan,
gereja katolik, pura, dan vihara. Jumlah sarana peribadatan di Kabupaten Timor Tengah Utara
terangkum dalam tabel di bawah ini.
Sarana Pendidikan
Sarana pendidikan di Kabupaten Timor Tengah Utara terdiri dari SD, SMP, SMA, SMK, dan
Universitas. Jumlah Sarana pendidikan di Kabupaten Timor Tengah Utara terangkum dalam tabel di
bawah ini.
Sarana Kesehatan
Sarana kesehatan terdiri dari rumah sakit, rumah sakit bersalin, poliklinik, puskesmas, puskesmas
pembantu, dan apotek. Jumlah sarana kesehatan di Kabupaten Timor Tengah Utara terangkum dalam
tabel di bawah ini.
Sarana Perdagangan
Sarana perdagangan di Kabupaten Timor Tengah Utara terdiri pasar, toko, kios, dan warung. Jumlah
sarana perdagangan di Kabupaten Timor Tengah Utara terangkum dalam tabel berikut.
Tabel 30. Fasilitas Perdagangan dan Jasa Menurut Kecamatan di Kabupaten Timor Tengah
Utara, 2015
Jenis Perdagangan
No Kecamatan Rumah Jumlah
Besar Menengah Kecil
Makan
1 Miomaffo Barat 2 3 52 3 60
2 Miomaffo Tengah 3 – 11 – 14
3 Musi 2 – 4 – 6
4 Mutis 1 – 3 – 4
5 Miomaffo Timur – – 56 – 56
6 Noemuti 1 – 50 – 55
7 Bikomi Selatan 7 – 18 – 27
8 Bikomi Tengah 4 – 3 – 7
9 Bikomi Nilulat – – – – –
10 Bikomi Utara – – 9 – 9
11 Naibenu 2 – 5 – 7
12 Noemuti Timur 1 – 80 – 81
13 Kota Kefamenanu 38 278 755 80 1.151
14 Insana 4 14 133 6 157
15 Insana Utara 18 – 42 7 67
16 Insana Barat 2 – 6 – 8
17 Insana Tengah 2 – 13 – 15
18 Insana Fafinesu 1 – 1 – 2
19 Biboki Selatan 3 3 40 1 47
20 Biboki Tanpah 3 – 31 – 34
21 Biboki Moenleu 9 – 8 1 18
22 Biboki Utara 1 1 27 1 29
23 Biboki Anleu 6 1 31 2 39
24 Biboki Feotleu 4 – 2 – 6
Timor Tengah Utara 114 304 1.380 101 1.899
Sumber: Kabupaten TTU Dalam Angka 2016
Kawasan peruntukan Ruang Terbuka Hijau (RTH) di Kabupaten TTU berada di Kota
Kefamenanu (1.919,51 ha) dan Kecamatan Insana Utara (700,76 ha). Berikut ini rincian dari ruang
terbuka hijau yang berada di Kabupaten Timor Tengah Utara pada tahun 2018.
Sepanjang sejarah kebijakan pembangunan nasional, terciptanya kualitas masyarakat yang maju dan
mandiri merupakan sasaran yang mendapatkan prioritas utama. Sasaran tersebut bisa dicapai dengan
pola pemberdayaan seluruh potensi yang ada dalam masyarakat itu sendiri ditopang dengan kondisi
perekonomian yang kuat. Dengan kata lain, peningkatan kualitas sumber daya manusia seiring dengan
penguatan ekonomi merupakan hal yang harus dilakukan untuk mencapai sasaran tersebut. Secara
fundamental, kebijakan pembangunan ekonomi yang dilakukan harus memperhatikan struktur
perekonomian suatu wilayah. Kebijakan pembangunan ekonomi yang berfokus pada sektor industri
misalnya, tentu kurang tepat jika diterapkan pada wilayah dengan struktur perekonomian yang
ditopang oleh sektor pertanian. Begitu juga sebaliknya. Kebijakan pembangunan ekonomi yang
berfokus pada sektor pertanian akan salah sasaran jika diterapkan pada wilayah dengan struktur
perekonomian industri. Sebagaimana disajikan pada tabel 1.1, perekonomian Kabupaten Timor
Tengah Utara ditopang oleh sektor pertanian. Kontribusi sektor pertanian terhadap Produk Domestik
Regional Bruto (PDRB) Tahun 2020 mencapai 39,82 persen. Menyusul selanjutnya sektor
administrasi pemerintahan, pertahanan, dan jaminan sosial dengan kontribusi sebesar 17,18 persen.
Selain memiliki kontribusi yang besar terhadap pembentukan PDRB, sektor pertanian juga berperan
penting dalam penyerapan tenaga kerja. Berdasarkan SAKERNAS 2020 sebanyak 70.049 orang
bekerja di sektor pertanian. Ini berarti 51,53 persen angkatan kerja Kabupaten TTU bekerja di sektor
pertanian. Kontribusinya yang relatif tinggi terhadap pembentukan produk domestik bruto dan
penyerapan tenaga kerja, menempatkan sektor pertanian sebagai sektor unggulan (leading sector)
dalam kerangka aktivitas perekonomian Kabupaten TTU. Keunggulan tersebut semakin didukung
dengan cacatan sejarah bahwa sektor pertanian terbukti teruji sebagai katup pengaman perekonomian
rakyat ketika krisis terjadi, sementara sektor-sektor ekonomi moderen cenderung rentan terhadap
fluktuasi perkembangan perekonomian regional dan global. Karakter pertanian subsisten yang tidak
banyak bergantung pada struktur input dari luar dan tidak memerlukan tenaga kerja dengan syarat
keahlian dan keterampilan tertentu, membuat sektor ini tetap eksis menopang perekonomian rakyat
terutama dalam aspek penyerapan tenaga kerja di daerah pedesaan serta menjamin suplai bahan
pangan kebutuhan pokok.
Tabel 1.1 Distribusi Persentase PDRB Kabupaten TTU Atas Dasar Harga Berlaku menurut
Lapangan Usaha tahun 2018 – 2020
TANAMAN PANGAN
Dari sisi ketersediaan lahan pertanian, dari total luas wilayah Kabupaten TTU (266.970 Ha),
sebesar 74,44 persen (198.736 Ha) merupakan lahan pertanian. Kemudian dari 198.736 Ha luas lahan
pertanian tersebut, seluas 14.315 Ha merupakan areal persawahan. Sementara 184.421 Ha merupakan
tanah kering fungsional yang terdiri atas tegalan, ladang, perkebunan, tambak, kolam, hutan, dll.
Kemudian jika diklasifikasikan lagi menurut penggunaan, dari 14.315 Ha areal persawahan, ada
seluas 4.746 Ha (33,15%) lahan sawah yang pada tahun 2020 yang terkategori sementara tidak
digunakan.
Kecamatan Biboki Anleu merupakan kecamatan dengan tanah sawah yang digunakan terluas
yaitu mencapai 2.729 Ha. Disusul kemudian Kecamatan Bikomi Selatan dengan luas penggunaan
sawah mencapai 1.290 Ha. Jika dipersentasekan terhadap luas wilayah, tanah sawah yang digunakan
di kecamatan Biboki Anleu, persentase tanah sawah yang digunakan terhadap luas wilayah mencapai
18,95 %. Sementara Kecamatan Bikomi Selatan mencapai 42,12 %.
Tabel Luas Penggunaan Tanah Sawah dan Tanah Kering Menurut Kecamatan Di Kabupaten
TTU (Ha), 2020
Jumlah 184 421 9 569 4 746 14 315 198 736 266 970
Ditinjau dari tanah sawah yang belum dioptimalkan, Kecamatan Biboki Utara merupakan kecamatan
dengan tanah sawah sementara tidak digunakan terluas yaitu mencapai 1.424 Ha. Angka tersebut
mencapai 30 % dari seluruh tanah sawah yang sementara tidak digunakan di Kabupaten TTU.
Ketidaktersediaan air yang memadai karena musim kemarau yang panjang diindikasikan merupakan
penyebab utama kenapa 1.424 Ha lahan sawah tersebut tidak digunakan di tahun 2020.
Kemudian dari sekitar 14.315 Ha lahan sawah fungsional, terdapat 50,65 persen diantaranya adalah
jenis sawah irigasi teknis, sedangkan sisanya 44,35 persen merupakan sawah non irigasi yang
meliputi sawah tadah hujan, sawah lebak dan lain- lain. Secara keseluruhan, hampir di seluruh
kecamatan sudah memiliki jaringan irigasi teknis/sederhana. Bahkan 7 kecamatan sudah mencapai
100 persen. Kecamatan Miomaffo Tengah, Musi, Bikomi Tengah, Bikomi Utara, dan Biboki Feotleu
merupakan kecamatan yang belum memiliki jaringan irigasi teknis/sederhana.
Tabel Luas Lahan Sawah menurut Kecamatan dan Penerapan Teknis Irigasi di Kabupaten
TTU Tahun 2020 (ha)
Produksi Padi
Sejak tahun 2017, BPS mengembangkan metode baru untuk menghitung produktivitas tanaman
pangan. Pada tahun 2018, BPS mulai menggunakan metode Kerangka Sampel Area (KSA) untuk
mengestimasi produksi tanaman padi dan tidak menutup kemungkinan metode ini akan digunakan
untuk mengestimasi produksi tanaman pangan lainnya.
Pada tabel 2.1.1 disajikan data produksi Gabah Kering Giling (GKG), beras, konsumsi beras dan
neraca pangan menurut bulan selama tahun 2019. Data tersebut didapatkan dengan menggunakan
metode Kerangka Sampel Area (KSA). Metode KSA merupakan metode terbaru dari BPS untuk
mengestimasi produksi tanaman pangan yaitu dengan mengamati fase tumbuh tanaman padi setiap
bulan dengan hasil pengamatan berupa foto kondisi lahan dan keterangan hasil amatan lainnya
dimasukan ke dalam aplikasi pada perangkat handphone petugas. Metode KSA yang menggunakan
statistik spasial dan berbasis android diterapkan untuk mengganti metode konvensial sebelum tahun
2018.
Berdasarkan Tabel 2.4, Produksi GKG terbanyak Kabupaten TTU selama tahun 2020 adalah di bulan
Mei. Di bulan Juli GKG yang dihasilkan sebanyak 2.984 dan produksi pada bulan Juli jika dikonversi
menjadi beras sebesar 1.739 ton. Produksi beras pada tahun 2020 sangat rendah dikarenakan hasil
pertanian di TTU bergantung pada musim. Pada musim hujan, sawah dan ladang petani banyak dialiri
air sehingga hasil pertanian melimpah sedangkan pada musim kemarau petani mengalami kesulitan
air yang mengakibatkan gagal panen atau produksi tanaman rendah. Selain itu pada tahun 2020
Kabupaten TTU mengalami bencana alam berupa badai seroja yang banyak merusak lahan pertanian
milik petani. Kemudian, jika dilihat dari neraca pangan di Kabupaten selama tahun 2020, produksi
beras selama satu tahun tidak dapat mencukupi konsumsi beras masyarakat.
Tabel Produksi Gabah Kering Giling (GKG), Beras, Konsumsi Beras dan Neraca Pangan
Menurut Bulan di Kabupaten TTU Tahun 2020
Secara umum produksi buah-buahan di Kabupaten Timor Utara tahun 2010 sebesar
1.458.451 ton. Dimana produksi terbesar jeruk 525.245 ton di ikuti pisang sebesar 312.382 ton,
nenas 296.874 ton. Tanaman alpukat banyak di hasilkan di Kecamatan Miomoffa Barat, tanaman
mangga di Kecamatan Biboki Utara, tanaman jeruk di produksi terbanyak di Kecamatan Miomoffa
Barat, sedangkan tanaman nanas produksi terbanyak di Kecamatan Biboki Utara. Perkembangan
Tanaman Buah-buahan dari tahun 2009 – 2010 produksi untuk semua jenis buah-buahan cenderung
mengalami penurunan perkembangannya. Penurunan tertinggi pada tanaman buah pepaya jika
dibandingkan dengan produksi tahun 2009 sebagaimana tersaji dalam tabel 6 berikut.
Tabel . Perkembangan Produksi Tanaman Buah-buahan di Kabupaten Timor Tengah Utara Tahun
2009-2010 (ton)
Produksi Produksi
No Jenis Buah-buahan Perkembangan
2009 2010
1 Alpukat 33.150 29.758 (10,23)
2 Mangga 219.161 196.736 (10,23)
3 Jeruk 585.115 525.245 (10,23)
4 Pepaya 54.284 48.728 (10,24)
5 Pisang 347.989 312.382 (10,23)
6 Nenas 330.713 296.874 (10,23)
7 Nangka 54.282 48.728 (10,23)
Jumlah 1.624.694 1.458.451 (10,23)
Sumber: BPS. Kabupaten Timor Tengah Utara Dalam Angka Tahun 2012
Subsektor Perkebunan
Pada tahun 2010 areal tanaman perkebunan sebesar 34.134.25 ha dengan produksi
4.118.06 ton. Jenis tanaman perkebunan yang utama produksi di Kabupaten Timor Tengah Utara
adalah kemiri dengan luas areal 12.282.88 ha dengan produksi 1.545.17 ton. diikuti jambu mete
dengan luas areal 11.289.26 ha dan produksi 1.316.43 ton. Kelapa banyak dihasilkan oleh
Kecamatan Miomaffo Timur dan Noemuti. Kemiri banyak dihasilkan oleh Kecamatan Biboki Utara.
Kecamtan Insana Utara merupakan penghasil jambu mete terbesar di Kabupaten Timor Tengah
Utara. Jumlah luas areal dan produksi untuk setiap jenis tanaman perkebunan di Kabupaten Timor
Tengah Utara dapat dilihat pada Tabel 7.
Tabel . Jumlah Luas Areal (Ha) dan Produksi (ton) Tanaman Perkebunan Tahun 2010 di
Kabupaten Timor Tengah Utara
Luas Areal Produksi
No Jenis Komoditi Perkebunan
(Ha) (Ton)
1 Kelapa 5.686,04 606,45
2 Kopi 1.145,12 132,71
3 Kemiri 12.282,88 1.545,17
4 Jambu Mete 11.289,26 1.316,43
5 Pinang 1.693,98 368,4
6 Kakao 264,01 31,53
7 Kapuk 1.772,96 117,37
Jumlah 34.134,25 4.118,06
Sumber: BPS. Kabupaten Timor Tengah Utara Dalam Angka Tahun 2012
Subsektor peternakan
Pada Tabel 8 memperlihatkan bahwa sampai tahun 2011, untuk ternak besar. ternak sapi
potong merupakan jenis ternak yang terbanyak. Sementara ternak kecil selain unggas (ayam).
kambing merupakan jenis ternak kecil yang terbanyak. Bahkan pada tingkat perkembangan. hanya
jenis ternak sapi yang memperlihatkan perkembangan positip pada kurun waktu 2009-2011. Situasi
yang ada sekaligus memperjelas kepada kita bahwa jenis ternak tersebut merupakan jenis ternak
potensial yang dapat diandalkan bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat peternak. Dan bahwa
potensi dimaksud jelas juga didukung oleh kondisi fisik wilayah dan sosial masyarakat yang secara
berkelanjutan menopang tingkat perkembangannya kedepan.
Untuk jenis ternak yang mengalami tingkat perkembangan yang negatif merupakan hal
penting yang harus diupayakan penanganannya. seperti untuk ternak babi dan kambing, di mana
terdapat kecenderungan permintaan yang terus meningkat baik di dalam maupun luar wilayah
demikian juga dari aspek sosial budaya tidak mengalami banyak kendala yang dihadapi.
Tabel . Jumlah dan Perkembangan Populasi Ternak
N Jenis Tahun Perkembangan
o Ternak 2009 2010 2011 (%/tahun)
1 Sapi 86.319 89.776 98.631 6.93
2 Kerbau 638 717 501 -8.87
3 Kuda 1.840 1.969 1.036 -20.19
4 Kambing 87.834 90.729 73.657 -7.76
5 Babi 39.898 43.178 31.534 -9.37
6 Ayam 205.253 375.314 202.062 18.35
Sumber: BPS. Kabupaten Timor Tengah Utara Dalam Angka Tahun 2012
a) Subsektor perikanan
Sektor perikanan memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi karena selain menjadi bahan
pangan yang memiliki kandungan protein tinggi juga mampu memberikan tingkat hidup yang layak
bagi keluarga nelayan. Dengan semakin terbatasnya tanah pertanian yang subur di Kabupaten
Timor Tengah Utara dan dengan adanya Gerakan Masuk Laut (GEMALA) diharapkan dapat menjadi
alternatif pekerjaan yang menjanjikan bagi angkatan kerja baru.
Produksi perikanan di Kabupaten Timor Tengah Utara pada tahun 2010 sebesar 841,17 ton.
75,81% di antaranya berasal dari perikanan laut atau 637,67 ton sedangkan sisanya 24,19% berasal
dari perikanan darat diantaranya yang mencakup perairan umum, tambak dan kolam. Produksi
perikanan selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 9.
Tabel . Produksi Perikanan Laut dan Perikanan Darat di Kabupaten Timor Tengah Utara Tahun 2010
(Ton)
Perikanan darat
N Perikanan
Kecamatan Perairan Jumlah
o laut Tambak Kolam Sawah
umum
1 Miomaffo Barat - - - 0,4 - 0,4
2 Miomaffo Tengah - - - - - -
3 Musi - - - 0,2 - 0,2
4 Mutis - - - - - -
5 Miomaffo Timur - - - 1,2 - 1,2
6 Noemuti - - - 1,3 - 1,3
7 Bikomi Selatan - - - - - -
8 Bikomi Tengah - - - - - -
9 Bikomi Utara - - - - - -
10 Naibenu - - - 0,5 - 0,5
11 Noemuti Timur - - - - - -
12 Kota Kefa - - - 0,9 - 0,9
13 Insana - - - 1,3 - 1,3
14 Insana Utara 318,83 - 29,4 - - 348,23
15 Insana Barat - - - - - -
16 Insana Tengah - - - - - -
17 Insana Fafinesu - - - - - -
18 Biboki Selatan - - - 0,4 - 0,4
19 Biboki Tanpah - - - 0,6 - 0,6
20 Biboki Moenleu 223,19 - 48,9 - - 272,09
21 Biboki Utara - - - 0,6 - 0,6
22 Biboki Anleu 95,65 - 117,5 0,2 - 213,35
24 Biboki Feotleu - - - 0,1 - 0,1
TTU 637,67 - 195,8 7,8 - 841,27
Sumber: BPS. Kabupaten Timor Tengah Utara Dalam Angka Tahun 2012
Subsektor kehutanan
Hutan memilik peranan penting bagi kelestarian alam dan menopang kehidupan komonitas
ekosistem di sekitarnya. Luas hutan di Kabupaten Timor Tengah Utara 126.235 ha atau 47,30% dari
luas daratan. Kecamatan Biboki Selatan memiliki hutan terluas yaitu 18,1% dari luas hutan di seluruh
kabupaten sedangkan Kecamatan Kota Kefemenanu memiliki luas hutan terkecil hanya 0,5% dari
total luas hutan di kabupaten ini. Komposisi luas hutan berdasarkan fungsinya maka komposisi
luasnya hutan produksi terbatas 53,94%. hutan lindung 32,53%, hutan produksi yang dapat di
konversi 10,71%. hutan cagar alam 1,58% dan hutan produksi tetap seluas 1,23%. Untuk hasil hutan
produksi kayu cendana cenderung menurun, dimana pada tahun 2010 sebesar 36.687 kg atau turun
35,14% jika kita dibandingkan dengan tahun 2007. Untuk hasil hutan lainnya asam dengan produksi
3.323 ton. kemiri isi 44 ton sedangkan kayu jati persegi jenis dolgen sebesar 315.m3
Tabel . Luas Kawasan Hutan Menurut Pola Tata Guna. Tahun 2011
N Jenis Kawasan Hutan Luas (ha) Prosentas
o e
1 Hutan Lindung 41.070 32.53
2 Cagar Alam 2.000 1.58
3 Hutan Produksi Tetap 1.556 1.23
4 Hutan Produksi Terbatas 68.085 53.94
5 Hutan produksi yang dapat Dikonservasi 13.524 10.71
Jumlah 126.235 100
Sumber: BPS. Kabupaten Timor Tengah Utara Dalam Angka Tahun 2012