0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
27 tayangan7 halaman

Etika Belajar Mengajar dalam Al-Qur'an

Teks tersebut membahas tentang etika belajar dan mengajar dalam Al-Qur'an. Ia menjelaskan bahwa etika merupakan nilai penting dalam pendidikan Islam yang mengarahkan manusia menjadi lebih baik. Etika belajar melibatkan interaksi antara pelajar dan pengajar secara hormat serta bertujuan mendekatkan diri kepada Allah. Etika mengajar juga penting, di mana guru harus menanamkan nilai-nilai mulia kepada

Diunggah oleh

silsi liani
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
27 tayangan7 halaman

Etika Belajar Mengajar dalam Al-Qur'an

Teks tersebut membahas tentang etika belajar dan mengajar dalam Al-Qur'an. Ia menjelaskan bahwa etika merupakan nilai penting dalam pendidikan Islam yang mengarahkan manusia menjadi lebih baik. Etika belajar melibatkan interaksi antara pelajar dan pengajar secara hormat serta bertujuan mendekatkan diri kepada Allah. Etika mengajar juga penting, di mana guru harus menanamkan nilai-nilai mulia kepada

Diunggah oleh

silsi liani
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

AL-MIRAH: JURNAL PENDIDIKAN ISLAM E-ISSN 2685-2454

VOL. 4 NO. 1 2022

Etika Belajar dan Mengajar dalam Al-Qur’an

Gita Fitri1, Cecep Anwar2


1,2
Studi Manajemen Pendidikan Islam, Program Pascasarjana,
UIN Sunan Gunung Djati Bandung
Email: gitafitri.gf7@[Link], cecepanwar@[Link]
Abstrak
Etika belajar dan mengajar merupakan sebuah nilai atau ajaran tentang baik dan buruknya dalam
memperoleh atau memberikan ilmu. Adapun landasan yang menjabarkan tentang etika belajar dan
mengajar merujuk kepada etika Islam, sehingga sumber utama yang dipakai adalah Al-qur’an dan As-
sunah. Berdasarkan hal tersebut, peneliti tertarik untuk meneliti hal ini dengan tujuan untuk mengetahui
etika belajar dan mengajar dalam Al-qur’an. Dalam prosesnya, penelitian ini berjalan dengan metode
kualitatif dan studi kepustakaan. Sehingga menghasilkan kesimpulan bahwa menerapkan etika belajar dan
mengajar merupakan bagian hal terpenting dalam proses pembelajaran. Maka dari itu, baik guru maupun
siswa yang ada dalam kegiatan belajar mengajar haruslah menjaga etika dan menunjukan rasa hormat satu
sama lain. Tentunya hal ini didasarkan pada pandangan Islam bahwa etika memiliki nilai yang sangat
penting dalam dunia pendidikan dan menjadi metode paling ampuh untuk mentrasfer pengetahuan kepada
siswa. Dengan demikian, diharapkan dapat menciptakan guru dan siswa yang berprestasi dan berbudi luhur
dengan berpegang teguh pada pendidikan islam yang orientasinya adalah memanusiakan manusia.
Kata Kunci: Etika, Al-qur’an, Pendidikan
Abstract
The ethics of learning and teaching is a value or teaching about the good and bad in obtaining or imparting
knowledge. The basis that describes the ethics of learning and teaching refers to Islamic ethics, so that the
main sources used are Al-Qur'an and As-Sunnah. Based on this, researchers are interested in researching
this with the aim of knowing the ethics of learning and teaching in the Qur'an. In the process, this research
runs with qualitative methods and literature study. So that it can be concluded that applying teaching and
learning ethics is the most important part of the learning process. Therefore, both teachers and students
who are in teaching and learning activities must maintain ethics and show respect for each other. Of course
this is based on the Islamic view that ethics has a very important value in the world of education and is the
most powerful method for transferring knowledge to students. Thus, it is hoped that it can create
outstanding and virtuous teachers and students by adhering to Islamic education whose orientation is to
humanize humans.
Keyword: Ethics, Al-qur’an, Education

14
Pendahuluan
Pemenuhan fungsi kehidupan manusia tidak dapat dipisahkan dari pendidikan. Hal ini
disebabkan karena fungsi dari pendidikan adalah untuk meningkatkan kualitas hidup
manusia, baik secara individu maupun kelompok. Dalam kegiatan pendidikan,
diperlukan etika belajar mengajar yang baik dan benar untuk menciptakan manusia
terdidik dan diharapkan dapat membawa perubahan ke arah yang lebih baik.
Dunia pendidikan merupakan tempat yang paling efektif untuk menanamkan etika dan
karakter yang baik pada anak didik. Pentingnya untuk menanamkan nilai-nilai etika sejak
dini supaya melahirkan generasi-generasi selanjutnya yang lebih baik dan tentunya
menjunjung nilai-nilai luhur bangsa dan agama. Memasukkan etika ke dalam proses
pembelajaran mau tidak mau akan mengarah pada hasil pendidikan, yaitu individu yang
mempunyai keahlian di bidang intelektual, emosional, dan juga spiritual yang tinggi.
Inilah hasil yang selayaknya muncul dari pendidikan etika.
Untuk membentuk kepribadian atau karakter anak, tidak semudah membalikkan
telapak tangan. Melalui pengasuhan kepribadian diciptakan atau melekat pada jiwa anak
dan dalam pengasuhan ini dikenalkan berbagai cara antara lain kebiasaan, keteladanan
dan lain-lain. Adapun karakter dan kode etik pada peserta didik merupakan komitmen
yang patut diterapkan dalam kegiatan belajar mengajar.
Orang tua atau guru hendaknya memberikan arahan kepada peserta didik tentang
bagaimana berperilaku etis saat belajar dan mengajar, sehingga mereka dapat
membiasakan dan melatih untuk menghormati dan memperhatikan guru, sabar dalam
mencari dan menerima ilmu. Karena melalui kebiasaan-kebiasaan dan latihan-latihan
tersebut, terbentuklah sikap tertentu dalam diri anak, dan lambat laun menjadi terlihat
jelas dan melekat kuat. Sehingga tidak menutup kemungkinan bahwa kebiasaan tersebut
akan menjadi bagian dari kepribadiannya.
Belajar menjadi bagian proses hidup yang diperintahkan oleh Allah SWT sejak lahir
hingga mati. Menurut pandangan Islam, untuk mencapai kemuliaan belajar haruslah
melibatkan etika dalam kegiatan interaksi antara pelajar dan pengajar. Terdapat beberapa
hal yang dianggap perlu diperhatikan dalam proses pembelajaran, antara lain: Apa saja
sesuatu yang sebaiknya dianjurkan atau dilarang dalam keadaan belajar dan mengajar?
Bagaimana sikap kita terhadap guru dan materi yang akan dibawakan? Ini adalah bagian
integral dari etika belajar. Selanjutnya bertujuan untuk mempelajari dan menimba ilmu
yang mengandung alasan-alasan teologis untuk mengagungkan Allah SWT.
Mengajar merupakan suatu sikap atau perilaku terpuji. Dari pandangan Islam, orang
yang mengajar hendaknya memasukkan nilai-nilai yang dibangun kedalam kegiatan
mengajar. Sama halnya dengan etika belajar, mengajar dengan keteladanan merupakan
suatu hal yang esensial. Etika merupakan nilai inti yang sepatutnya dimiliki oleh guru.
Maka dari itu, objek penelitian ini adalah bagaimana etika belajar dan mengajar dalam
al-Qur’an.

Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode kulitatif. Menurut (Prof. Dr. Sugiyono, 2021)
metode kualitatif merupakan sebuah metode penelitian yang didasarkan pada filsafat
postpositivisme yang dipakai untuk meneliti terhadap suatu kondisi obyek yang alamiah.
Adapaun jenis penelitian yang digunakan yaitu studi pustaka (literature review). Studi
pustaka dilakukan melalui proses pencarian data, seperti melakukan screeneng terhadap
buku-buku, jurnal dan Al-qur’an. Kemudian mencari dan mengumpulkan ayat-ayat Al-
qur’an yang relevan dan objektif dengan tema yang dibahas yaitu tentang etika belajar
dan mengajar.

15
Temuan dan Pembahasan
1. Etika
Etika berasal dari bahasa ethos (Yunani) yang berarti kepribadian, martabat, dan adat
istiadat. Sebagai suatu objek, etika mengacu pada gagasan bahwa individu atau
kelompok harus menilai apakah tindakan yang mereka lakukan benar atau salah, buruk
atau baik. Ada yang mengatakan bahwa etika berasal dari bahasa Inggris ethics (tunggal),
ini berarti “a system of moral principles or rules of behaviour” yang maksudnya adalah
suatu bentuk kepercayaan atau pola pikir tentang moral, aturan atau tindakan (Priatna,
2012).
Adapun pengertian etika mempunyai macam-macam istilah yang sama dengan titik
singgung yang saling berdekatan. Istilah tersebut kerap sekali muncul di dalam
kehidupan kita, seperti:
a) Akhlak
Ahlak berasal dari bahasa Arab yang merupakan jamak dari kata “khuluqun” yang
berarti budi pekerti, perangai, tingkah laku, dan tabiat. Adapun menurut istilah akhlak
merupakan pengetahuan yang menjelaskan tentang baik dan buruknya, benar atau
tidaknya, menata kehidupan sosial manusia, dan menciptakan tujuan akhir dari ikhtiar
dan perbuatan manusia.
Allah SWT mengatakan lafadz “Khuluq” dalam Al-Qur’an surat Al-Qalam ayat 4
sebagaimana berikut ini “Dan sesungguhnya engkau sungguh-sungguh berbudi pekerti
yang luhur”.
Berdasarkan pemahaman akhlak tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa akhlak
merupakan sifat atau karakter yang tertanam didalam diri seseorang, dan karakter
tersebut akan mendorong seseorang supaya melakukan berbagai macam perilaku baik
dan buruk tanpa ada pertimbangan terlebih dahulu. Dalam arti perbuatan tersebut
dilakukan secara naluriah.
Hubungan antara akhlak dan etika sangatlah erat. Pada umumnya kebanyakan
manusia beranggapan bahwa manusia yang mempunyai akhlak baik adalah orang yang
memiliki kuasa untuk bertindak atas sesuatu dengan didasarkan oleh etika yang
berlangsung di suatu kelompok masyarakat tersebut. Baik etika maupun akhlak
mengarah pada pembahasan tentang perilaku yang baik dan buruk. Tetapi etika adalah
sebuah ilmu yang tumbuh dari ideology dan pemikiran yang fokusnya adalah kepada
prosedur ataupun upaya manusia supaya menggunakan pikiran juga daya pikirnya untuk
menyelesaikan permasalahan dalam suatu cara yang membuatnya baik. Sedangkan
penekanan pada akhlak adalah penilaian terhadap keadaan jiwa yang stabil dalam diri
seseorang (Habibah, 2015).
b) Moral
Dalam bahasa Indonesia kata moral merujuk pada perbuatan dan perilaku yang
baik dan buruk. Disamping itu, etika sering dikaitkan dengan moral karena kata ini
sering merujuk pada perbuatan baik atau buruknya seseorang.
Meskipun etika dan moral memiliki kesamaan yang signifikan, tapi dua-duanya
juga mempunyai perbedaan yaitu pada jalur kajiannya. Adapun etika lebih berfokus
kepada pemikiran filosofis tentang perilaku. Sedangkan moral lebih berfokus pada
ketentuan normatif yang diikuti individu atau grup dalam me-manage perilaku mereka.
Etika adalah studi moral yang kritis dan sistematis, dan moral adalah objek material dari
etika (Djatnika, 1992).
c) Budi Pekerti
Budi pekerti berarti tingkah laku, perangai, dan watak. Kata budi pekerti dapat
dipecah menjadi dua kata, yaitu “budi” dan “pekerti”. Budi berarti persepsi, pemahaman,

16
pikiran dan akal, sedangkan pekerti berarti penampilan, tindakan, realisasi atau
implementasi.
Budi pekerti adalah sikap positif yang merujuk pada perbuatan santun dan dicapai
atas dasar kebiasaan yang dilakukan sejak kecil. Selain itu, budi pekerti bisa berupa nilai-
nilai luhur yang dimiliki seseorang, tentunya nilai-nilai tersebut terbentuk akibat adat
atau kebiasaan yang ditanamkan sejak lama dan melekat karena selalu dilakukan setiap
hari. Budi pekerti juga dikenal dengan Suri Tauladan (Uswatun Hasanah) pada
kehidupan sehari-hari.
Ayat Al-Qur’an yang menjelaskan tentang Uswatun Hasanah terdapat pada surat
Al-Ahzab ayat 21, yang artinya “Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri
tauladan yang baik untukmu (yakni) untuk orang yang mengharapkan (rahmat) Allah dan
(kedatangan) hari kiamat dan yang banyak mengingat Allah”.
d) Adab
Kata “Adab” berasal dari bahasa arab ‫ ﺗ َﺄ ْ ِد ْﯾﺒًﺎ‬- ُ‫ ُﯾ َﺆدِّب‬- ‫ﱠب‬
َ ‫ أَد‬yang berarti mendidik atau
pendidikan (Al-Attas, 1996).
Menurut (Ya’qub, 1993), adab adalah ilmu yang menentukan batas antara yang
baik dan yang jahat, terpuji dan tercela melalui perkataan dan perbuatan manusia, baik
fisik maupun mental. Adab adalah ilmu yang memberikan pemahaman tentang benar dan
salah, ilmu yang mengajarkan hubungan dan menetapkan tujuan akhir dari segala usaha
dan kerja mereka.
2. Belajar
Belajar merupakan komponen ilmu pendidikan yang ditinjau dari tujuan interaksi
eksplisit dan implisit serta bahan referensi. Kata “belajar” memiliki beberapa arti leksikal
dalam bahasa Indonesia, yaitu perubahan perilaku atau reaksi yang disebabkan oleh
upaya, praktik, dan pengalaman untuk memperoleh kecerdasan/pengetahuan.
Dalam Islam, belajar merupakan suatu kegiatan yang sangat penting bagi setiap umat
muslim. Ide dasarnya adalah untuk "membaca" sesuatu, mengenali dan memikirkan
sesuatu. Sebagaimana firman Allah SWT yang terdapat pada Surat Al-‘Alaq:1-5, yang
artinya “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan۞ Dia telah
menciptakan manusia dari segumpal darah ۞ Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha
Mulia ۞ yang mengajarkan (manusia) dengan pena ۞ Dia mengajarkan manusia apa
yang tidak diketahuinya”.
Berdasarkan ayat tersebut, Allah SWT memberitahukan kepada semua umatnya
supaya mau membaca (belajar). Kata “Bacalah” merupakan bentuk kata ‫ أﻣﺮ‬yang
memiliki arti perintah. Hal ini sejalan dengan perkataan Rasulullah saw:
‫ﻋﻠَﻰ ُﻛ ِّﻞ ُﻣ ْﺴ ِﻠ ٍﻢ‬ َ ‫ﺐ ْاﻟ ِﻌ ْﻠ ِﻢ ﻓَ ِﺮ ْﯾ‬
َ ٌ‫ﻀﺔ‬ ُ َ‫طﻠ‬
َ
“Mencari Ilmu diwajibkan kepada semua Muslim”
Sebuah pengetahuan lahir dalam setiap pikiran manusia, dan merekalah yang akan
membangun pengetahuannya sendiri. Adapun akumulasi pengetahuan terdiri dari tiga
bentuk, yaitu pengetahuan fisik, logika-matematis, dan sosial.
Tentunya pengetahuan tersebut lahir karena adanya keinginan untuk belajar. Dapat
diketahui bahwa belajar adalah kumpulan proses diskrit yang mengubah rangsangan
lingkungan menjadi kekayaan informasi yang dapat mengarah pada hasil belajar dalam
bentuk memori jangka panjang. Hasil belajar ini memberikan kemampuan untuk
melakukan berbagai prestasi (Warsita, 2008).
3. Etika Belajar
Adapun dalam kegiatan belajar tentulah ada etika yang harus dimiliki seseorang yang
mau atau sedang belajar. Seseorang yang ingin belajar harusnya membersihkan jiwa

17
terlebih dahulu dari berbagai bentuk perbuatan yang tercela. Ini sejalan dengan sabda
Rasulallah SAW :
“Agama itu didirikan diatas pondasi nilai- nilai kebersihan”

Makna dari sabda Rasulallah SAW di atas bukan hanya kesucian pakaian tetapi juga
kesucian jiwa. Dalam hal ini, orang-orang di lingkungan belajar tidak hanya memiliki
pemikirannya sendiri, tetapi semua aspek yang berkontribusi pada proses internalisasi
pengetahuan oleh siswa. Siswa harus menghindari ketergesaan dalam memperoleh
pengetahuan. Konsistensi dan kesabaran merupakan bagian yang tidak bisa dipisahkan
dari setiap siswa.
Siswa juga harus memiliki sikap tidak tergesa-gesa dan tidak mendesak guru agar
menjelaskan topik yang memang belum seharusnya disampaikan. Firman Allah SWT
dalam Q.S Al-Kahfi ayat 70, yang artinya “Dia berkata “Jika kamu mengikutiku, maka
janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu apapun, sampai aku sendiri
menerangkannya kepadamu”.
Menurut Al-Ghazali, ia lebih menekankan murid batiniah dan menitikberatkan pada
kehidupan mata batin. Hal ini dinilai wajar, karena pemikiran yang digunakan lebih
bersifat kepada dimensi tasawuf. Sikap hormat dan santun terhadap guru merupakan
bagian integral dari pengajaran. Seorang guru adalah orang yang memberikan
pengetahuan seseorang sehingga akan memuliakan orang baik di kehidupan sekarang
maupun di akhirat. Etika seorang murid tidak hanya ada antara dia dan gurunya, tetapi
juga antara dia dengan penciptanya, dan dia dengan pengetahuannya (Al-Ghazali, 1996).
4. Mengajar
Mengajar pada dasarnya merupakan upaya untuk melahirkan kondisi atau sistem
lingkungan yang menunjang sehingga memungkinkan terjadinya proses pembelajaran.
Mengajar berarti memberikan pengetahuan dan menananmkannya kepada siswa sehingga
diharapkan akan terjadi proses pemahaman (Sardiman, 2014).
Pengertian mengajar lebih pada proses mengajar seseorang untuk menjadi pribadi
yang lebih baik. Al-Mawardi melarang seseorang mengajar karena alasan keuangan.
Namun menurutnya, guru harus selalu sadar dan memiliki keikhlasan akan pentingnya
tanggung jawab, dan kesadaran ini mendorong mereka untuk mencapai hasil yang
maksimal (Nata, 2000).
Dalam agama Islam, sangat dianjurkan untuk mengarahkan seseorang agar menjadi
lebih baik. Hal ini tercantum dalam al-Qur’an Surat At-Taubah ayat 122, yang dimana
ayat tersebut menjelaskan bagaimana islam juga mendorong umatnya untuk senantiasa
mencari ilmu tanpa ragu-ragu dalam memberitahukannya kepada seseorang yang
diketahuinya, untuk kepentingan dirinya dan kepentingan bersama. Sejalan juga dengan
ditegaskan-Nya dalam Al-Qur’an Surat Ali-Imran ayat 104 yang artinya “Dan hendaklah
di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh
(berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-
orang yang beruntung”.
Dengan demikian, mengajar dapat diartikan sebagai kegiatan mengatur atau
mengelola lingkungan dengan sebaik-baiknya, serta melibatkan anak dalam proses
belajar. Di sisi lain, mengajar adalah usaha untuk melahirkan kondisi yang kondusif bagi
keberlangsungan kegiatan belajar. Menurut (Hamalik, 2013) mengajar adalah transfer
pengetahuan kepada murid-murid di sekolah. Kriteria ini sesuai dengan pendapat teori
pendidikan yang berurusan dengan apa yang disebut mata pelajaran formal atau
tradisional.
Dalam proses pembelajaran, guru harus mampu memberikan pemahaman atas apa
yang diajarkannya kepada siswa. Kemudian, memilih tema pembahasan dan objek

18
pembelajaran, serta bentuk aktivitas yang diperlukan, guru profesional mampu memilih
metode pengajaran yang sesuai dengan apa yang dibutuhkan siswa.
Terdapat berbagai macam bentuk metod.e pembelajaran, yakni:
a) Metode ceramah
Metode ini memiliki gaya pengajaran dimana informasi dan pengetahuan diajarkan
menggunakan lisan kepada beberapa murid yang biasanya pembelajaran tersebut
tergolong cukup pasif. Kemudian, guru akan memberikan deskripsi poin tertentu
(topik pembahasan) di tempat dan spesialisasi yang sesuai. Metode ini dilakukan guru
dengan cara monolog atau satu arah.
b) Metode diskusi
Metode ini merupakan cara pengajaran yang erat kaitannya dengan pembelajaran
dalam menyelesaikan masalah (problem solving). Selain itu, juga dikenal dengan
diskusi grup dan aksi bersama. Metode diskusi biasanya mengikut sertakan beberapa
anak didik yang tergabung dalam kelompok.
c) Metode Demonstrasi
Metode ini mempunyai gaya mengajar yang memperlihatkan peristiwa, aturan, dan
alur tindakan, baik secara langsung maupun dengan bantuan alat pembelajaran, yang
berkaitan dengan topik tertentu.
Terdapat berbagai manfaat psikologis dan edukatif yang diperoleh ketika memakai
metode ini, yaitu: (1) Anak didik akan lebih terfokus (2) Ketika sedang belajar, anak
didik akan memfokuskan diri kepada materi yang sedang dipelajarinya (3) Experience
dan Impression terhadap hasil belajar akan semakin merekat didalam diri anak didik.
5. Etika Mengajar
Guru adalah teladan yang nyata untuk anak didiknya. Sehingga adalah hal yang
wajar ketika keteladanan dijadikan cara paling ampuh untuk menanamkan nilai-nilai pada
siswa. Ini adalah salah satu kekuatan Rasulullah SAW yang terletak pada kepribadiannya.
Berikut adalah penjelasan Al Ghazzali mengenai kewajiban dan etika guru, yaitu:
a) Memberikan kasih sayang terhadap para murid, layaknya anak sendiri.
b) Mengikuti teladan Rasul dengan tidak mengharapkan upah atau balasan apaun, yang
penting didasari dengan rasa ikhlas.
c) Memberikan nasihat tentang hal-hal baik.
d) Memberikan penjelasan yang sesuai dengan kadar kemampuan para murid, sehingga
mereka dapat dengan mudah menyerap pengetahuan yang kita sampaikan.
e) Seorang guru hendaknya memberikan pelajaran yang mudah dipahami oleh seorang
murid yang pemula, karena hal tersebut bisa menyebabkan murid jadi minder atau
tidak percaya diri.
f) Seorang guru dianjurkan untuk selalu mengamalkan terus ilmunya.

Penutup
Berdasarkan pemaparan tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa dalam kegiatan
belajar dan mengajar dalam Al-Qur’an yang dilaksanakan oleh anak didik dan gurunya,
ada satu hal yang harus dijunjung tinggi yaitu etika. Karena menurut Islam, manusia yang
baik tidak cuma pintar dalam bidang ilmu tertentu saja. Tapi dia harus mampu
mempunyai keutamaan diri, baik dalam akhlak dan etika, karena itu sangat dibutuhkan.
Kedua hal tersebut seperti dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan. Seseorang
yang dalam keadaan belajar menyerap ilmu dari guru yang mengajar, seta munjukkan
rasa hormat kepada gurunya. Bersikap lemah lembut terhadap guru menjadi hal harus
ditanamkan. Akan tetapi, di era teknologi dan demokrasi seperti sekarang ini, peran guru
tidak begitu banyak dilihat, bahkan dianggap seolah-olah hanya sebagai alat untuk
penyalur ilmu pengetahuan saja. Sehingga murid banyak yang tidak menerapkan etika

19
atau nilai-nilai yang wajib dipenuhi sebagai murid terhadap gurunya. Adapun sikap yang
harus dijunjung tinggi oleh anak didik kepada gurunya adalah tidak menyombongkan
diri, menjaga sikap dan lisan, konsisten dalam belajar, disiplin, dan saling menghormati
kepada sesama. Baik pelajar maupun pengajar memiliki tugas dan bagian masing-masing
dalam menjaga etika selama proses kegiatan belajar dimulai.

Referensi
Al-Attas. (1996). Konsep Pendidikan Dalam Islam. Bandung: Mizan.
Al-Ghazali. (1996). Ilmu dalam Perspektif Tasawuf AlGhazali (terjemah Muhammad Al-
Baqir). Bandung: Karisma.
Djatnika, R. (1992). Sistem Etika Islami (Ahlak Mulia). Jakarta: Pustaka Panjimas.
Habibah, S. (2015). Akhlak Dan Etika Dalam Islam. Jurnal Pesona Dasar, 1(4), 73–87.
Hamalik, O. (2013). Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara.
Nata, A. (2000). Pemikiran Para Tokoh Pemikiran Islam. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Priatna, T. (2012). Etika Pendidikan. Bandung: CV Pustaka Setia.
Prof. Dr. Sugiyono. (2021). Metode Penelitian Pendidikan (3 ed.). Bandung: Alfabeta.
Sardiman. (2014). Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: PT Raja Grafindo
Pesada.
Warsita, B. (2008). Teknologi Pembelajaran Landasan dan Aplikasinya. Jakarta: Rineka
Cipta.
Ya’qub, H. (1993). Etika Islam. Bandung: CV Diponogoro.

20

Anda mungkin juga menyukai