0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
237 tayangan21 halaman

Sejarah dan Pengertian Ulumul Hadits

Makalah ini membahas sejarah perkembangan, pengertian, struktur, bentuk, dan ruang lingkup ilmu hadits (ulumul hadits). Ulumul hadits mulai berkembang sejak masa Nabi Muhammad SAW hingga abad ke-14 Masehi dengan tiga periode yakni masa klasik, pertengahan, dan modern.

Diunggah oleh

Putri Melati
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
237 tayangan21 halaman

Sejarah dan Pengertian Ulumul Hadits

Makalah ini membahas sejarah perkembangan, pengertian, struktur, bentuk, dan ruang lingkup ilmu hadits (ulumul hadits). Ulumul hadits mulai berkembang sejak masa Nabi Muhammad SAW hingga abad ke-14 Masehi dengan tiga periode yakni masa klasik, pertengahan, dan modern.

Diunggah oleh

Putri Melati
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

ULUMUL HADITS

Makalah Dibuat Sebagai Salah Satu Tugas Kelompok

Mata Kuliah Ulumul Hadits

Di Susun Oleh:
Kelompok 4
1. M. Fikri Hindratno (2220202206)

2. Refiana Ayu Nurul Hidayah (2220202198)

Dosen Pengampu:
Rika Hasmayanti Agustina, [Link]., [Link]

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM


FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UIN RADEN FATAH PALEMBANG
2023
KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang maha pengasih lagi Maha
Penyayang. Kami panjatkan Puji Syukur atas Kehadirat Allah SWT, yang telah
melimpahkan rahmat, ridha, dan karunia-Nya kepada kami sehingga dapat
menyelesaikan makalah yang berjudul "Ulumul Hadits” dengan tepat waktu.

Adapun tujuan penulis membuat makalah ini adalah untuk memenuhi


tugas kelompok sekaligus menambah wawasan serta pengetahuan bagi pembaca
pada mata kuliah Ulumul Hadits. Diharapkan melalui makalah ini, pembaca dapat
lebih memahami tentang materi Ulumul Hadits ini.

Untuk itu pula, kami menyampaikan banyak terima kasih kepada semua
pihak yang telah membantu kami. Penulis mengucapkan terima kasih kepada Ibu
Rika Hasmayanti Agustina, [Link]., [Link] selaku Dosen Ulumul Hadits, yang telah
memberikan tugas ini, sekaligus membimbing dalam pembuatan makalah,
sehingga dapat menambah pengetahuan dan wawasan kami.

Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam upaya


pembuatan makalah ini dan masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu,
penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun guna perbaikan
pembuatan makalah yang akan datang. Akhir kata, penulis berharap makalah ini
dapat bermanfaat dan menambah ilmu bagi pembaca.

Palembang, Maret 2023

Penulis

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ................................................................................ ii

DAFTAR ISI ............................................................................................... iii

BAB I PENDAHULUAN ........................................................................... 1

A. Latar Belakang .................................................................................. 1


B. Rumusan Masalah ............................................................................. 1
C. Tujuan Masalah ................................................................................. 1

BAB II PEMBAHASAN ............................................................................ 2

A. Sejarah Perkembangan Ulumul Hadits ............................................ 2


B. Pengertian Ulumul Hadits ................................................................ 7
C. Struktur Hadits ................................................................................. 8
D. Bentuk-Bentuk Hadits ...................................................................... 10
E. Ruang Lingkup Hadits ..................................................................... 14

BAB III PENUTUP .................................................................................... 17

A. Kesimpulan ....................................................................................... 17
B. Saran ................................................................................................. 17

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................. 18

iii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Mempelajari hadits merupakan ilmu pengetahuan yang penting dalam


kehidupan kita, karna hadits merupakan sumber hukum yang kedua setelah Al-
Qur'an. Hadits merupakan ilmu pengetahuan yang membicarakan cara-cara
persambungan hadits sampai kepada Nabi Muhammad SAW, dari segi ihwal para
perawinya, yang menyangkut keadilan. Pada masa permulaan islam, umat islam
belum mengenal adanya ulumul hadits atau ilmu hadits. Hal ini mungkin
dikarenakan fokus perhatian umat islam pada waktu itu masih terpecah antar
dakwah dan pendalaman Al-Qur'an.

Pada zaman Nabi Muhammad SAW, terutama setelah bermunculan hadits-


hadits palsu barulah perhatian umat islam terhadap hadits Nabi meningkat pesat.
Ini ditandai dengan munculnya beberapa ulama yang mulai melakukan
penghimpunan hadits serta mulai merintis ilmu-ilmu yang berkaitan dengan hadits.
Ilmu ini kemudian berkembang dari masa ke masa sampai zaman sekarang.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana sejarah perkembangan ulumul hadits?
2. Apa pengertian ulumul hadits?
3. Bagaimana struktur hadits?
4. Bagaimana bentuk-bentuk hadits?
5. Bagaimana ruang lingkup hadits?

C. Tujuan Masalah
1. Untuk menjelaskan dan mengetahui sejarah perkembangan ulumul hadits.
2. Untuk menjelaskan dan mengetahui pengertian ulumul hadits.
3. Untuk menjelaskan dan mengetahui struktur hadits.
4. Untuk menjelaskan dan mengetahui bentuk-bentuk hadits.
5. Untuk menjelaskan dan mengetahui ruang lingkup hadits.

1
BAB II
PEMBAHASAN

A. Sejarah Perkembangan Ulumul Hadits

Kaum muslim merasa perlu adanya usaha untuk memperhatikan Hadits-


Hadits Rasul SAW secara lebih serius dan lebih hati-hati. Untuk tujuan tersebut
mulailah usaha-usaha penyaringan dan pemilahan riwayat dilakukan. Maka,
terseleksilah Hadits-Hadits yang benar bersumber dari Rasul Saw. dari hadits yang
cacat atau dipalsukan orang. Pada perkembangan berikutnya kaidah-kaidah tersebut
semakin disempurnakan oleh para ulama yang muncul pada abad kedua dan ketiga
Hijriyah, baik mereka yang mengkhususkan diri dalam mempelajari bidang Hadits
maupun bidang-bidang lainnya.
Sejarah perkembangan Ulumul Hadits terbagi menjadi tiga periodesasi yaitu
awal lahirnya Ilmu Hadits sampai pada masa kekinian. Dalam sejarah
perkembangan Hadits tercatat bahwa ulama yang pertama kali berhasil menyusun
ilmu ini dalam satu disiplin ilmu yang lengkap adalah al-Qadi Abu Muhammad ar-
Ramahurmuzi (w. 360 H) dengan kitabnya al-Muhadis al-Fasil baina ar-Rawi wa
al-Wa’i. Selanjutnya muncul al-Hakim Abu ‘Abdillah an-Naisaburi (321-405 H)
dengan kitabnya Ma’rifah ‘Ulum al-Hadits.

1. Periode Klasik (Masa Nabi SAW-Abad 7 H)


Membicarakan Hadits pada masa Rasul berarti membicarakan hadits pada
awal pertumbuhannya. Dalam uraiannya akan terkait langsung dengan pribadi
Rasulullah SAW. sebagai sumber Hadits dan guru sunnah terbaik. Dalam periode
inilah Hadits terbentuk dan diamalkan secara konsisten dan universal.

Hadits-hadits Nabi yang terhimpun di dalam kitab-kitab yang ada sekarang


adalah hasil kesungguhan para sahabat dalam menerima dan memelihara dimasa
Nabi SAW dahulu. Apa yang telah diterima oleh para sahabat dari Nabi SAW
disampaikan pula oleh mereka kepada sahabat lain yang tidak hadir ketika itu, dan
selanjutnya mereka menyampaikannya kepada generasi berikutnya dan

2
demikianlah seterusnya hingga sampai kepada perawi terakhir yang melakukan
kodifikasi Hadits.
Cara penerimaan Hadits dimasa Nabi SAW tidak sama dengan penerimaan
Hadits dimasa generasi sesudahnya. Penerimaan Hadis dimasa Nabi SAW
dilakukan oleh sahabat dekat beliau, seperti Khulafa’ ar-Rasyidin. Setelah
mendapatkan Hadits para sahabat selanjutnya menghafal Hadits tersebut.

Dalam masa sahabat ini, perkembangan penelitian Hadits menyangkut sanad


dan matan Hadits semakin menampakkan wujudnya, dalam rangka menjaga
kemurnian sebuah Hadits. Prinsip dasar penelitian sanad yang terkandung dalam
kebijaksanaan yang dicontohkan oleh para sahabat diikuti dan dikembangkan oleh
para tabiin. Periwayatan Hadits dipermulaan masa sahabat terutama pada masa Abu
Bakar dan Ummar, masih terbatas sekali disampaikan kepada yang memerlukannya
saja, belum bersifat pelajaran. Demikian perkembangan Ilmu Hadits pada periode
ini yang kemudian disempurnakan kembali oleh Ulama-ulama yang datang
belakangan.

2. Periode pertengahan (Abad 7 H-Abad 14 H)


Di periode ini masa seleksi dilanjutkan dengan masa pengembangan dan
penyempurnaan sistem penyusunan kitab-kitab hadis masa ini dengan ‘asr at-tahzib
wa ataqrib wa al-istidrak wa al-jam’i (masa pemeliharaan, penertiban, penambahan,
dan penghimpunan). Penyusunan kitab-kitab pada periode ini lebih mengarah
kepada usaha mengembangkan beberapa variasi pembukuan kitab-kitab yang sudah
ada. Para Ulama mengalihkan perhatian mereka untuk menyusun kitab-kitab yang
berisi pengembangan dan penyempurnaan sistem penyusunan kitab-kitab Hadits.
Ciri yang paling populer pada periode ini adalah munculnya sistem pembelajaran
lewat Madrasah, berbeda dengan periode klasik yang cenderung berpusat pada
individu. Oleh karena itu tidak aneh bila kemunculan setiap karya, khususnya
Ulumul Hadits di dasarkan pada keperluan pembelajaran. Ulama pada abad ini
mencoba untuk menyempurnakan kitab-kitab yang telah ditulis oleh Ulama-ulama
sebelumnya pada periode klasik seperti Kitab Mukhtasar Muqaddamah Ibnsh
Sholah yang paling baik ialah Ikhtisar Ulumul Hadits. Dan dalam kitab Nukhbatul

3
Fikar fi Mushtholahi Ahli al-Atsar karya al-Hafizh Ibn Hajar al-Asqolani (773
H/852 H), merupakan kitab kecil yang diringkas namun termasuk ringkasan yang
paling bagus dan paling baik susunan dan pembagiannya.

3. Periode Modern (Abad 14 H-Sekarang)


Perkembangan ilmu Hadits abad demi abad terus mengalami perkembangan
dan penyempurnaan, pada abad ini yang terus menulis4ilmu Hadits dari ulama
Muhaddisin adalah Asy-Syaikh Tohir Al-Jaziri(1338H) dalam kitabnya Taujihun
Nadhor Ila Ilmi Usulil Atsar, salah satu kitab yang mempunyai nilai tinggi dalam
ilmu hadits dan As-Sayid Jamaludin Al-Khasimi(1332H) dengan kitabnya
Qowaidud Tahdits Fi Funulil hadits, suatu kitab yang banyak faedahnya dan sangat
tertib susunannya. Dan diantara aturan-aturan yang masih diberlakukakan pada
masa sahabat antara lain adalah Mengurangi periwayatan Hadits, mereka khawatir
dengan banyaknya periwayat akan tergelincir pada kesalahan dan kelalaian, dan
menyebabkan kebohongan terhadap Rasul SAW.

Kritik terhadap riwayat, yaitu dengan cara memaparkan dan membandingkan


riwayat dengan al-Quran, jika bertentangan maka mereka tinggalkan dan tidak
mengamalkannya. Ketelitian dan sikap hati-hati para sahabat Nabi Muhammad
tersebut diikuti pula oleh para ulama yang datang sesudah mereka, dan sikap
tersebut diikuti pula oleh para ulama yang datang sesudah mereka, dan sikap
tersebut ditinggalkan ketika munculnya Hadits-Hadits palsu, yakni sekitar tahun 41
H setelah masa pemerintahan Khalifah Ali Bin Abi Thalib. Kegiatan ulama Hadits
pada periode ini berkaitan dengan upaya mensyarah kitab-kitab hadits yang sudah
ada, menghimpun dan mengumpulkan hadits-hadits dari kitab-kitab yang sudah
ada, mentakhrij hadits dalam kiab-kitab tertentu, dan membahas kandungan kitab-
kitab Hadits, sehingga menghasilkan hasil karya yang antara lain:

a. Kitab Syarah
Yaitu kitab yang memuat uraian dan penjelasan kandungan Hadits darikitab
tertentu dan hubungannya dengan dalil-dalil lain yang bersumber dari al-Quran,

4
Hadits, maupun kaidah-kaidah lainnya. Contohnya Fath al-Bari syarah kitab Sahih
Bukhari, karya Ibn Hajar al-Asqolani.

b. Kitab Takhrij

Yaitu kitab yang menjelaskan tempat-tempat pengambilan hadits-hadits yang


dimuat dalam kitab tertentu dan menjelaskan kualitasnya. Contohnya Takhrij al-
Hadits al-Ihya oleh al-‘Iroqi. Kitab ini mentakhrij hadits-hadits yang terdapat dalam
kitab Ihya ‘Ulum ad-Din karya Imam al-Ghazali.

c. Kitab yang membahas masalah tertentu, seperti masalah hukum

Contohnya, Bulughul Marom min Adillah al-Ahkam karya Ibn Hajar al


Asqalani dan Koleksi Hadits-hadits Hukum oleh T.M Hasbi ash-Shiddiqy.
Berbicara tentang sejarah pertumbuhan dan perkembangan ilmu hadits sekarang,
baik ilmu hadits riwayah maupun ilmu hadits dirayah, dapat dikatakan telah eksis
bersama tumbuh kembangnya periwayatan hadits itu sendiri. Akan tetapi, ilmu-
ilmu tersebut belum terlembaga menjadi satu disiplin ilmu khusus. Ia
menampakkan dirinya lebih jelas lagi setelah Rasul wafat. Ketika itu, kaum
Muslimin merasa perlu adanya usaha untuk memperhatikan hadits-hadits Rasul
secara lebih serius dan hati-hati. Untuk tujuan tersebut mulailah usaha-usaha
penyaringan dan pemilahan riwayat dilakukan. Maka, terseleksilah hadits yang
benar-benar bersumber dari Rasul, dari hadits-hadits yang cacat atau dipalsukan
orang. Abu Bakar misalnya, tidak mau menerima hadits sebelum perawinya
bersedia disumpah atas kebenaran riwayat yang disampaikannya. Bahkan, ‘Umar
dan Ali ibn Abi Thalib terlebih dahulu meminta saksi dari perawi
yang5menyampaikan hadis kepadanya sebelum hadits itu diterimanya.
Sikap tegas dan kehati-hatian yang ketat yang dipraktikkan oleh para sahabat
besar dalam penerimaan hadits tersebut menumbuhkan sikap serupa di kalangan
sahabat lainnya. Sikap kritis dan penuh kehati-hatian yang di tunjukkan oleh para
sahabat dalam penyaringan hadits dan penyampaiannya serta langkah-langkah yang
mereka tempuh untuk memelihara kemurniannya, secara langsung atau tidak,
diikuti oleh generasi berikutnya (tabiin). Hal demikian berkembang secara bertahap

5
yang akhirnya melahirkan kaedah-kaedah yang selanjutnya dijadikan pedoman
dalam hal menilai hadits-hadits di belakang oleh generasi belakangan.
Demikianlah, generasi ke generasi ditemukan sejumlah tokoh yang mencurahkan
perhatian dan kesungguhan untuk memelihara dan mengembangkan hadits-hadits
Nabi melalui pengembangan ilmu-ilmu yang bertalian dengannya.

Para ulama yang muncul sebagai sebagai tokoh-tokoh yang


menspesialisasikan diri untuk mempelajari bidang ini mulai secara berangsur-
berangsur menggali kaedah-kaedah dan metode-metode yang menyangkut
penyeleksian hadits-hadits Nabi, baik dari segi sanad maupun dari segi matan,
kemudian tumbuh menjadi satu disiplin ilmu tersendiri. Kaum muslim merasa perlu
adanya usaha untuk memperhatikan Hadits-Hadits Rasul SAW secara lebih serius
dan lebih hati-hati. Untuk tujuan tersebut mulailah usaha-usaha penyaringan dan
pemilahan riwayat dilakukan. Maka, terseleksilah Hadits-Hadits yang benar
bersumber dari Rasul Saw. dari hadits yang cacat atau dipalsukan orang. Pada
perkembangan berikutnya kaidah-kaidah tersebut semakin disempurnakan oleh
para ulama yang muncul pada abad kedua dan ketiga Hijriyah, baik6mereka yang
mengkhususkan diri dalam mempelajari bidang Hadits maupun bidang-bidang
lainnya.

Tokoh yang dianggap sebagai perintis pertama dalam ilmu hadits riwayah
adalah Muhammad ibn Syihab az-Zauhri (w. 124 H). Ilmu hadits dirayah secara
garis besarnya mulai dirintis oleh sebahagian ulama hadits pada abad ke-2 Hijriah.
Namun, dalam perjalannya, baru pada abad ke-4 Hijriah ia tampil sebagai satu ilmu
yang berdiri sendiri. Banyak di antara ulama menilai bahwa tokoh perintis dalam
ilmu hadits dirayah adalah al-Qadi Muhammad ar-Ramahurmuzi (w.360 H) dengan
kitabnya berjudul al-Muhaddits al-Fashil bain al_rawi wa al-Wa’i. Hanya saja,
sebelumnya usaha ke arah ini sudah dimulai oleh Imam asy-Syafii (w.204 H).
Ketika ia menuangkan teori ilmu haditsnya di dalam kitabnya ar-Risaluh dan al-
Umm. Namun bagaimanapun, teori-teori ilmu haditsnya ini belum ditulis di dalam
sebuah kitab tersendiri. Teorinya masih tersebar di dalam karya-karyanya tersebut
di atas. Setelah ar-Ramahurmuzi, muncul al-Hakim an-Naisaburi (w.405 H) dengan

6
karyanya Ma’rifah ‘Ulum al-Hadits. Kemudian, muncul pula Abu Nu’aim al
Ashfahani (w. 430 H). Berikutnya al-Khatib al-Bagdadi (w. 463 H) dengan
kitabnya tentang periwayatan berjudul al-Kifayah dan tentang cara meriwayatkan
hadits dengan judul Ma La Yasa’ al Muhadditsin Jahluh.

Setelah itu, muncul pula penulis-penulis lain dengan berbagai karyanya degan
sistem penulisan yang semakin sempurna. Selain hal tersebut, banyak pula yang
melakukan eloborasi terhadap sebuah karya dengan melakukan pensyarahan dari
kitab-kitab ilmu hadits yang terdahulu. Bahkan, banyak di antaranya ditulis dalam
bentuk disertai dengan kajian yang dikaitkan dengan perkembangan ilmu
pengetahuan lain seperti dengan tinjauan ilmu sejarah. Kajian seperti ini semakin
berkembang khususnya di zaman modern sekarang ini. Oleh karena itu, sekarrang
dapat ditemukan banyak kitab ilmu hadits dengan pembahasan yang semakin luas
sehingga memudahkan setiap orang yang berminat mendalaminya.1

B. Pengertian Ulumul Hadis


Ilmu hadits (ulum al hadits) terdiri dari dua kata, yaitu (‘ulum) dan al hadits.
Kata „ulum dalam bahasa arab adalah bentuk jamak dari „ilm, yamg berarti “ilmu-
ilmu”, sedangkan al hadits di kalangan ulama‟ hadits berarti “segala sesuatu yang
disandarkan kepada Nabi Muhammad SAW baik dari perbuatan, perkataan, taqrir,
atau sifat.” Dengan demikian, gabungan kata „ulum al hadits mengandung
pengertian “ilmu-ilmu yang membahas atau berkaitan dengan hadits Nabi
Muhammad SAW. Sedangkan definisi „ulumul hadits menurut Mahmud Thahhan
adalah ilmu yang membahas tentang pokok-pokook dan kaidah-kaidah yang dapat
digunakan untuk mengetahui keadaan-keadaan sanad dan matan suatu hadits dari
segi diterima dan ditolak.2

1
Ahmad Zuhri, dkk. Ulumul Hadis, (Medan: Manhaji, 2014)c, hlm. 33
2
Mahmud Thahhan, Ulumul Hadis, studi komplesitas hadis nabi. (Titian Ilahi Press:
Yogyakarta. 1997), hlm. 23

7
Ilmu-ilmu hadits adalah hal yang sangat urgen di kalangan para peneliti
hadits. Dari ilmu-ilmu tersebut didapatkan sejumlah teori yang berkaitan dengan
keabsahan sebuah atau sejumlah hadits yang dikhabarkan berasal dari Nabi.
Keabsahan khabar tentang sebuah hadits tidak dengan serta merta diterima tanpa
memenuhi kaedah sebagai kreteria kesahihan sanad yang telah ditetapkan oleh
ulama hadits.
Jika ditelusuri antara Bukhari dan Muslim tentang kreteria kesahihan sanad,
maka terlihat bahwa keduanya berdasar pada kreteria dan kredibiltas periwayat
yang ditetapkan oleh hasil penelitian para ulama, sehingga kriteria yang
diperpegangi oleh keduanya adalah: (1) sanadnya harus bersambung (2) sanadnya
harus tsiqah (3) terhindar dari cacat dan illat (4) sanad yang berdekatan harus
sezaman dan bertemu. Mengenai sanad yang berdekatan, bagi Muslim cukup
sezaman, sedangkan Bukhari mengharuskan bertemu langsung, sehingga dapat
dikatakan bahwa kriteria yang ditetapkan oleh Bukhari lebih ketat dibanding
kriteria yang ditetapkan oleh Muslim. Sementara itu, ulama muthakhirin telah
memberikan penjelasan yang tegas tentang apa yang dimaksud hadits shahih,
seperti yang dikemukakan oleh ibnu al-Shalah, yaitu: a) Sanadnya bersambung
sampai kepada Nabi, b) Seluruh periwayatannya adil dan dhabit, c) Terhindar dari
Syaz dan Illat. Penegasan tersebut meliputi sanad dan matan hadits.3

C. Struktur Hadits
Setiap Hadits terdiri dari 3 unsur yaitu rawi, sanad dan matan sebagaimana
Hadis berikut:
1. Rawi
Yang dimaksud dengan rawi adalah orang yang menyampaikan atau
menuliskan dalam suatu kitab apa-apa yang pernah didengar dan diterimanya dari
seseorang (gurunya). Bentuk jamaknya adalah ruwah dan perbuatannya
menyampaikan Hadits disebut meriwayatkan Hadits. Sebuah Hadits sampai kepada

3
M. Syuhudi Ismail, Kaedah Kesahihan Sanad Hadist Telaah Kritis Dan Tinjauan
Dengan Pendekatan Ilmu Sejarah, (Jakarta; Bulan Bintang, 1988), hlm. 111

8
kita dalam bentuknya yang sudah terdewan dalam dewan-dewan Hadits, melalui
beberapa rawi dan sanad. Seorang pengarang bila hendak menguatkan suatu9
Hadits yang ditakhrijkan dari suatu kitab Hadits pada umumnya membubuhkan
nama rawi terakhirnya pada akhir matan Hadits. Dalam contoh Hadits di depan,
rawi terakhirnya adalah Imam Bukhari. Sedangkan rawi pertamanya adalah
Abdullah (sahabat nabi).4
2. Matan
Matan menurut lughat ialah jalan tengah, punggung bumi atau bumi yang
keras dan tinggi. Sedangkan menurut istilah, matan Hadis ialah pembicaraan
(kalam) atau materi berita yang dicover oleh sanad yang terakhir. Baik pembicaraan
itu sabda Rasulullah SAW, sahabat ataupun Tabi’in. Baik pembicaraan itu tentang
Nabi atau taqrir Nabi. Menurut Ath Thibi, matan ialah:

‫ألفاظ احلديث اليت تتقوم بها املعاىن‬


“lafadz-lafadz Hadits yang dengan lafadz-lafadz itulah terbentuk makna”.

Sedangkan menurut Ibnu Jama’ah matan ialah:

‫ما ينتىه إيله السند اغية السند‬

“Sesuatu yang kepadanya berakhir sanad (perkataan yang disebut sesuatu


berakhir sanad)”.

3. Sanad
Sanad menurut lughah, ialah: “sesuatu yang kita bersandar kepadanya, baik
tembok atau selainnya”. Sedangkan menurut istilah, sanad adalah

‫طريق منت احلديث‬

“Jalan yang menyampaikan kita kepada matan Hadits”.

4
Fatchur Rahman, Ikhtisar Musthalah al Hadits, (Bandung: PT Al-Ma’arif, 1974), hlm.
217

9
Ringkasnya sanad Hadits ialah yang disebut sebelum matan Hadits.
Sedangkan sanad secara lughah ialah menyandarkan sesuatu kepada yang lain.
Sedangkan menurut istilah adalah:

‫رفع احلديث اىلقائله او ناقله‬

"Mengangkat Hadits kepada yang mengatakannya atau yang menukilkannya”.


Sedangkan pengertian sanad secara terminologis adalah :

‫سلسلة الرجال املوصلة للمنت‬

“Silsilah orang-orang yang menghubungkan Hadits”

Sisilah orang-orang maksudnya adalah susunan atau rangkaian orang-orang


perawi Hadits yang menyampaikan materi Hadits sejak mukharrij sampai kepada
perawi terakhir yang bersambung kepada Nabi saw.5

D. Bentuk-Bentuk Hadits

Hadits dapat dibedakan pada lima bentuk, yaitu;

1. Hadits Qauli
Yang dimaksud dengan hadits qauli adalah segala bentuk perkataan atau
ucapan yang disandarkan kepada Nabi SAW. Dengan kata lain, hadits qauli adalah
berasal dari perkataan Rasulullah sendiri yang menerangkan tentang berbagai hal,
seperti; petunjuk syara’, peristiwa-peristiwa, dan kisah-kisah, baik yang berkaitan
dengan aqidah, syari’ah, maupun akhlak.
Contoh;

5
M. Hasbi Ash Shidiqi, Pokok-Pokok Ilmu Diroyah Hadis, vol.1 (Jakarta: Bulan Bintang,
1987), hlm. 45

10
ُ‫علَّ َمه‬
َ ‫َخي ُْركُ ْم َم ْن تَعَلَّ َم اْلقُ ْرآنَ َو‬
Sebaik-baik kamu adalah orang yang belajar al-Qur‘an dan mengajarkannya
kepada orang lain. (H.R. Bukhari).

Contoh lain;

‫ان‬
ِ ‫س‬ ِ ‫علَى‬
َ ‫الل‬ ِ ‫َان َخ ِفيفَت‬
َ ‫َان‬ ِ ‫سلَّ َم َك ِل َمت‬
َ ‫علَ ْي ِه َو‬ َّ ‫صلَّى‬
َ ُ‫َّللا‬ ِ َّ ‫ع ْن أَبِي ه َُري َْرةَ قَا َل قَا َل َرسُو ُل‬
َ ‫َّللا‬ َ
‫َّللا ْالعَ ِظ ِيم‬
ِ َّ َ‫َّللا َوبِ َح ْم ِد ِه سُ ْب َحان‬
ِ َّ َ‫الرحْ َم ِن سُ ْب َحان‬ َّ ‫َان إِلَى‬ ِ َ‫َان فِي ْال ِميز‬
ِ ‫ان َحبِيبَت‬ ِ ‫ثَ ِقيلَت‬
Dua kata yang ringan diucapkan, tetapi berat dalam timbangan (kebajikan), serta
dicintai oleh Allah Yang Maha Rahman, yaitu ucapan “Subhan Allah wa bihamdihi
dan subhan Allah al-Azhim (HR. Imam Bukhori.6

2. Hadits Fi’li
Yang dimaksud dengan hadits fi’li adalah segala perbuatan yang disandarkan
kepada Nabi SAW. Artinya, hadis tersebut berupa perbuatan Nabi SAW yang
menjadi panutan prilaku para sahabat pada saat itu dan menjadi keharusan bagi
semua umat Islam untuk mengikutinya.
Contoh hadits fi’liyah, seperti cara-cara mendirikan shalat, raka’atnya, cara-
cara mengerjakan amalan haji, adab-adab berpuasa dan memutuskan perkara
berdasarkan saksi dan berdasarkan sumpah. Semua ini diterima dari Nabi
Muhammad SAW dengan perantaraan hadits fi’liyah, lalu para sahabat
menukilkannya. Untuk meniru dan meneladaninya dalam soal shalat, Nabi
Muhammad SAW bersabda:bersabda

َ ُ ‫صلُّوا َك َما َرأَ ْيت ُ ُمونِي أ‬


‫صلِي‬ َ ‫َو‬
Dan shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku melaksanakan shalat. (H.R.
Bukhari, Muslim dari Malik ibnu Huwairits).

6
Zikri Darussamin, Ilmu Hadits I, Kalimedia, Depok, 2020, hlm. 10

11
Contoh lainnya adalah perbuatan Rasul SAW tentang cara shalat di atas kenderaan,
yaitu;

Nabi SAW shalat di atas tunggangannya, kemana saja tunggangannya itu


menghadap”. (H.R. Muttafaq alaihi).7

3. Hadits Taqriri
Hadits taqriri ialah hadits yang berupa ketetapan Nabi SAW terhadap apa
yang datang atau yang dilakukan para sahabatnya, Nabi Muhammad SAW
membiarkan atau mendiamkan tanpa memberikan penegasan, apakah beliau
membenarkan atau menyalahkannya. Contoh, sikap Rasul SAW yang
membiarkan12 para sahabat dalam menafsirkan sabdanya tentang shalat pada suatu
peperangan, yang berbunyi; Janganlah seorangpun shalat Ashar kecuali nanti di
Bani Quraidhah. (H.R. Bukhari).

Sebagian sahabat memahami larangan itu berdasarkan pada hakikat perintah


tersebut, sehingga mereka terlambat melaksanakan shalat Ashar. Sementara sahabat
lainnya memahami perintah tersebut dengan perlunya segera menuju Bani
Quraidhah dan serius dalam peperangan dan perjalan, sehingga bisa shalat tepat
pada waktunya. Sikap para sahabat ini dibiarkan oleh Nabi Muhammad SAW tanpa
ada yang dibenarkan dan diingkarinya.

Hasbi Ash-Shidieqy mendefinisikan hadits taqriri, sebagai berikut;


a. Bahwa Nabi membenarkan (tidak mengingkari) sesuatu yang diperbuat oleh
seseorang sahabat (orang yang mengikuti syara’) dihadapan Nabi, atau diberitakan
kepada beliau, lalu beliau tidak menyanggah, atau tidak menyalahkan serta
menunjukkan bahwa beliau meridhainya.
b. Bahwa Nabi menerangkan kebagusan yang diperbuat oleh sahabat itu serta
menguatkan pula.

7
Ibnu Hajar Al-Asqalani, Bulugh Al-Maram, (Beirut: Dar Al-Fikri, 1989 M/1409 H), hlm.
56

12
Contoh hadits yang menggambarkan kedua makna taqrir di atas misalnya:
diriwayatkan dari Abu Sa’id Al-Khudri r.a dia berkata, “ada dua orang yang sedang
musafir, ketika datang waktu shalat tidakmendapatkan air, sehingga keduanya ber
tayamum dengan debu yang bersih lalu mendirikan shalat. Kemudian keduanya
mendapati air, yang satu mengulang wudhu’ dan shalat sedangkan yang lain tidak
mengulang. Keduanya lalu menghadap kepada Rasulullah dan menceritakan semua
hal tersebut. Terhadap orang yang tidak mengulang, beliau bersabda, “engkau
sudah benar sesuai sunnah, dan sudah cukup dengan shalatmu “. Dan kepada orang
yang mengulangi wudhu’ dan shalatnya, beliau bersabda, “bagimu pahala dua kali
lipat”. Jawaban Rasulullah terhadap orang yang tidak mengulang wudhu’ dan
shalatnya di atas adalah contoh makna taqrir yang pertama sedangkan jawaban
Rasulullah terhadap orang yang mengulang wudhu’ dan shalatnya adalah contoh
makna taqrir yang kedua.8

4. Hadis Ahwali

Hadis ahwali ialah hadis yang berkaitan dengan hal ihwal, sifat-sifat, atau
kepribadian Nabi serta keadaan phisik Nabi Muhammad SAW. Contoh, hadis
riwayat Anas bin Malik disebutkan;
Rasul SAW adalah orang yang paling mulia akhlaknya. (H.R. muttafaq alaih).

Contoh lain adalah hadis riwayat Imam Bukhari, sebagai berikut;


Rasul SAW adalah manusia yang sebaik-baik rupa dan tubuh. Keadaan fisiknya
tidak tinggi dan tidak pendek. (H.R. Bukhari).9

5. Hadis Hammi

Hadis Hammi adalah hadis yang berupa keinginan Nabi Muhammad SAW
yang belum terealisasikan, misalnya keinginan Nabi SAW untuk berpuasa tanggal
9 Asyura. Dalam sebuah hadis dari Ibnu Abbas disebutkan, yaitu; Ketika Nabi SAW

8
Ibid., hlm. 286-288
9
Syekh Manna’ Al-Qaththan, Pengantar Studi Ilmu Hadits, hlm. 23

13
berpuasa pada hari Asyura‘ dan memerintahkan para sahabat untuk berpuasa,
mereka berkata; “ Ya" Rasul, hari ini adalah hari yang diagungkan oleh orang-
orang Yahudi dan Nasrani, Rasul SAW bersabda: Tahun yang akan datang insya
Allah aku akan berpuasa pada hari yang kesembilan. (H.R. Muslim dan Abu
Daud.10

E. Ruang Lingkup Ilmu Hadis


Ruang lingkup kajian ulumul hadits menyangkut dua bagian, yaitu : ilmu
hadits riwayah dan ilmu hadits dirayah.
a. Ilmu Hadits Riwayah
Kata riwayah artinya periwayatan atau cerita. Ilmu hadis riwayah, secara
bahasa, berarti ilmu hadits yang berupa periwayatan. Para ulama berbeda-beda
dalam mendefinisikan ilmu hadits riwayah, namun yang paling terkenal di antara
definisi-definisi tersebut adalah definisi Ibnu Al-Akhfani, yaitu,

‫ وافعا له‬.‫م‬.‫علم الحديث الخا ص ب الرواية علم يشتمل على اقوال النبي ص‬
‫وروايتها وضبطها وتحرير الفا ظها‬

“Ilmu hadis riwayah adalah ilmu yang membahas ucapan-ucapan dan perbuatan-
perbuatan Nabi SAW., periwayatannya, pencatatannya, dan penelitian lafazh-
lafazhnya."

Namun menurut ’Itr, definisi ini mendapat sanggahan dari beberapa ulama
hadits lainnya karena tidak komprehensif, tidak menyebutkan ketetapan dan sifat-
sifat Nabi SAW. definisi ini juga tidak mengindahkan pendapat yang menyatakan
bahwa hadits itu mencakup segala apa yang di misbatkan kepada sahabat atau tabiin
sehingga pengertian hadis yang lebih tepat, menurut ’Itr, adalah,

‫وا فعا له وتقريرته وصفا تها وروايتها‬.‫ م‬.‫علم يشتمل على اقوال ا لنبي ص‬
‫وضبطها وتحرير‬

10
Zikri Darussamin, [Link], hlm. 23.

14
‫الفا ظها‬

“Ilmu yang membahas ucapan, perbuatan, ketetapan dan sifat – sifat Nabi SAW,
periwayatannya, dan penelitian lafadz – lafadznya.”11

Ilmu hadits riwayah mengupayakan pengutipan bebas dan cermat bagi segala
sesuatu yang bersandar kepada Nabi SAW, juga segala sesuatu yang bersandar
kepada para sahabat serta tabi’in.

Ilmu hadits riwayah bertujuan memelihara hadits Nabi SAW. dari kesalahan
dalam proses periwayatan atau dalam penulisan dan pembukuannya. Ilmu ini juga
bertujuan agar umat Islam menjadikan Nabi SAW. sebagai suri tauladan melalui
pemahaman terhadap riwayat yang berasal darinya dan mengamalkannya.12

b. Ilmu Hadits Dirayah

Ilmu Hadits Dirayah atau disebut juga dengan Ilmu Musthalah al-Hadits
menurut Muh. Mahfudh At-Turmusy, yaitu :

“Undang-undang (kaidah-kaidah) untuk mengetahui hal ihwal sanad, matan, cara-


cara menerima dan menyampaikan Al-Hadits, sifat-sifat rawi dan lain
sebagainya”.13

Objek Ilmu Hadits Dirayah adalah meneliti kelakuan para perawi dan keadaan
marwinya (sanad dan matannya). Menurut sebagian Ulama, yang menjadi objeknya
adalah Rasulullah sendiri dalam kedudukannya sebagai Rasul Allah. Kajian
terhadap masalah-masalah yang bersangkutan dengan sanad disebut Naqd As-
Sanad atau kritik ekstern. Disebut demikian karena yang dibahas dalam ilmu ini
adalah akurasi (kebenaran) jalur periwayatan, mulai sahabat sampai kepada

11
Suparta Munzier, Ilmu Hadis, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada: 1996), hlm. 2

12
Sahrani Sohar, “Ulumul Hadits”, (Bogor: Ghalia Indonesia: 2010), hlm. 4
13
Muh. Mahfuds At-Turmusy, Manhaj Dzawi An-Nadhar, (Surabaya: Maktabah
Nabhaniyah), hlm. 6

15
periwayat terakhir yang menulis dan membukukan Hadits tersebut. Sementara itu
kajian terhadap masalah yang menyangkut matan disebut Naqd al-Matn (kritik
matan) atau kritik intern karena yang dibahas adalah materi Hadits itu sendiri, yakni
perkataan, perbuatan, atau ketetapan Rasulullah SAW.14

14
Drs. Fatchur Rahman, Ikhtisar Musthalahul Hadits, (Bandung: PT. Alma Aruf, 1974),
hlm 75

16
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Ulumul Hadits adalah ilmu-ilmu yang membahas atau berkaitan dengan
Hadits Nabi [Link] Hadits Riwayah adalah ilmu yang mempelajari tentang tata
cara periwayatan, pemeliharaan, dan penulisan atau pembukuan Hadits Nabi SAW.
Objek kajiannya adalah Hadits Nabi SAW dari segi periwayatan dan
[Link] Hadits Dirayah adalah ilmu yang mempelajari tentang
kumpulan kaidah-kaidah dan masalah-masalah untuk mengetahui keadaan rawi dan
marwi dari segi di terima atau di tolaknya.
Ilmu Hadits Dirayah adalah ilmu yang mempelajari tentang kumpulan kaidah-
kaidah dan masalah-masalah untuk mengetahui keadaan rawi dan marwi dari segi
di terima atau di tolaknya. Rawi adalah orang yang menyampaikan Hadits dari satu
orang kepada yang lainnya; Marwi adalah segala sesuatu yang diriwayatkan, yaitu
segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi SAW atau kepada Sahabat dan
Tabi`in. Ilmu Hadits Dirayah inilah yang selanjutnya disebut dengan Ulumul
Hadits.

B. Saran
Dalam penulisan makalah ini masih terdapat banyak kekurangan. Maka dari
itu, penulis sangat mengharapkan saran dan kritikan dan konstruktif demi
kesempurnaan penulisan makalah. Adapun saran kami sebagai penyaji makalah
kepada para pembaca ialah untuk tetap mencari referensi-referensi yang lain yang
menyangkut dalam pembahasan ini, di karenakan makalah ini hanya garis-garis
besar saja dan hanya sebagian referensi buku yang kami jadikan, sehingga makalah
ini tercipta sederhana.
Yang akan di khawatirkan, para pembaca kurang memahami yang lebih dalam
lagi dan apabila makalah ini bermanfaat dan bisa menjadi pegangan sehari-hari, itu
datang nya dari Allah SWT., dan apabila di dalam makalah ini terdapat banyak
kekurangan itu datangnya dari pemakalah sendiri, terimakasih.

17
DAFTAR PUSTAKA

Zuhri, Ahmad, dkk. 2014. Ulumul Hadis, Medan: Manhaji.

Thahhan, Mahmud. 1997. Ulumul Hadis, Studi Komplesitas Hadis Nabi,


Yogyakarta: Titian Ilahi Press.

M. Syuhudi Ismail. 1998. Kaedah Kesahihan Sanad Hadist Telaah Kritis Dan
Tinjauan Dengan Pendekatan Ilmu Sejarah, Jakarta: Bulan Bintang.

Munzier, Suparta. 1996. Ilmu Hadis, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Sohar, Sahrani. 2010. Ulumul Hadits, Bogor: Ghalia Indonesia.

Rahman, Drs. Fatchur. 1974. Ikhtisar Musthalahul Hadits, Bandung: PT


ALMA’ARUF.

Darussamin, Zikri. 2020. Ilmu Hadits I, Depok: Kalimedia.

Rahman, Fatchur. 1974. Ikhtisar Musthalah al Hadits, Bandung: PT Al-Ma’arif.

Ash-Shidiqi, M. Hasbi. 1987. Pokok-Pokok Ilmu Diroyah Hadis, Jakarta: Bulan


Bintang.

Al-Asqalani, Ibnu Hajar. 1989 M/1409 H. Bulugh Al-Maram, Beirut: Dar Al-Fikri.

Al-Qaththan, Syekh Manna’. Pengantar Studi Ilmu Hadits.

At-Turmusy, Muh. Mahfuds. Manhaj Dzawi An-Nadhar, Surabaya: Maktabah


Nabhaniyah.

Rahman, Drs. Fatchur. 1974. Ikhtisar Musthalahul Hadits, Bandung: PT. Alma
Aruf.

18

Common questions

Didukung oleh AI

Perkembangan ilmu ulumul hadits terdiri dari tiga periode utama: klasik, pertengahan, dan modern. Pada periode klasik (Masa Nabi SAW hingga abad ke-7 H), Hadits secara intensif diterima dan disampaikan oleh para sahabat, dan penelitian terkait sanad serta matan Hadits mulai mengambil bentuk. Contoh tokoh pada periode ini adalah Abu Bakr dan Umar bin Khattab yang sangat berhati-hati dalam menerima hadits . Periode pertengahan (abad ke-7 H hingga abad ke-14 H) ditandai dengan perkembangan dan penyempurnaan kitab-kitab Hadits, misalnya kitab Nukhbatul Fikar karya al-Hafizh Ibn Hajar al-Asqolani yang populer . Masa modern (abad ke-14 H hingga sekarang) menyaksikan ulama seperti Asy-Syaikh Tohir Al-Jaziri dan As-Sayid Jamaludin Al-Khasimi yang menulis kitab tentang ilmu hadits dengan nilai tinggi dan penyusunan yang tertib .

Pada abad ke-14 H hingga sekarang, para ulama memainkan peran kunci dalam mensyarah kitab-kitab hadits yang ada dan mengembangkan aturan-aturan baru untuk memperkaya studi hadits. Mereka juga mengumpulkan hadits dari kitab-kitab terdahulu dan memfasilitasi penjelasan dari kandungan kitab hadits tersebut. Contohnya adalah Asy-Syaikh Tohir Al-Jaziri yang menulis "Taujihun Nadhor Ila Ilmi Usulil Atsar" yang memuat prinsip-prinsip ilmiah dalam hadits .

Tantangan utama dalam menyusun 'ulumul hadits adalah memastikan keaslian periwayatan di tengah banyaknya hadits palsu dan menjaga kredibilitas tradisi tersebut dalam menghadapi perubahan zaman. Untuk mengatasinya, ulama seperti Al-Qadi Muhammad ar-Ramahurmuzi memberikan perhatian khusus pada kaidah-kaidah ketat dalam kritik sanad dan matan, serta penerapan sistematis kritik hadits, dan menciptakan sistem pembelajaran di madrasah untuk melatih generasi baru .

Ilmu hadits riwayah berfokus pada periwayatan, pemeliharaan, dan penulisan hadits. Obyek kajiannya adalah ucapan, perbuatan, dan ketetapan Nabi SAW, serta penelitian terhadap periwayatan dan lafadz hadits . Sebaliknya, ilmu hadits dirayah meneliti sanad dan matan hadits untuk menilai keabsahannya. Ia mencakup kajian sifat perawi dan kebenaran jalur periwayatan . Kedua ilmu ini berkontribusi besar dengan memastikan kredibilitas dan integritas hadits sebagai sumber kedua hukum Islam setelah Al-Quran .

Kritik riwayat sangat penting untuk menjaga kemurnian dan keaslian hadits dari kesalahan dan penyalahgunaan. Pada era awal Islam, contoh praktiknya adalah ketika Abu Bakar tidak mau menerima riwayat hadits sebelum perawinya mau disumpah atas kebenaran riwayatnya . Umar dan Ali bin Abi Thalib bahkan meminta saksi dari perawi, langkah ini menumbuhkan sikap kritis di antara generasi selanjutnya .

Hadits qauli adalah segala bentuk perkataan atau ucapan yang disandarkan kepada Nabi SAW, seperti sabda yang menerangkan petunjuk syara'. Contohnya adalah "Sebaik-baik kamu adalah orang yang belajar al-Qur'an dan mengajarkannya." . Sebaliknya, hadits fi'li adalah tindakan dan kebiasaan Nabi SAW, yang dicontohkan oleh tindakannya dalam shalat dan puasa .

Ilmu hadits dirayah mengkaji aspek-aspek metodologis dan kritis dari hadits, termasuk kriteria keabsahan sanad dan matan yang mengondisikan diterimanya hadits sebagai sumber hukum. Dengan menilai perilaku perawi dan silsilah periwayatan, ilmu ini telah berperan penting dalam menjaga kemurnian sunnah dengan memastikan hanya hadits yang sahih dan terpenuhi syarat diterima sebagai landasan hukum dan pedoman hidup umat Islam .

Kitab takhrij berfungsi untuk menunjukkan sumber asli dari hadits yang dimuat dalam kitab tertentu dan menilai kualitas sanadnya. Kitab ini membantu memastikan keakuratan dan keotentikan hadits. Contoh kitab takhrij adalah Takhrij al-Hadits al-Ihya oleh al-'Iroqi yang memverifikasi hadits dalam kitab Ihya 'Ulum ad-Din karya Imam al-Ghazali .

Menurut ilmu musthalah al-hadits, sebuah hadits yang baik terdiri dari tiga elemen utama: rawi, sanad, dan matan. Rawi adalah orang yang menyampaikan hadits, sanad adalah rantai perawi yang menghubungkan matan hadits dengan sumber aslinya, dan matan adalah teks utama dari hadits . Setiap elemen ini harus memenuhi kriteria tertentu seperti sanad yang bersambung hingga Nabi dan rawi yang adil serta dhabit .

Tujuan utama ulumul hadits adalah memelihara kemurnian hadits dari kesalahan dan penyelewengan. Ini bertujuan agar umat Islam menjadikan Nabi SAW sebagai teladan melalui pemahaman terhadap riwayat yang berasal darinya dan mengamalkannya . Dalam kehidupan sehari-hari, ilmu ini diterapkan melalui periwayatan yang benar dan perawatan tradisi, serta memastikan bahwa perilaku dan keyakinan sesuai dengan autentisitas sunnah yang diteladankan oleh Nabi .

Anda mungkin juga menyukai