MAKALAH
HUKUM DAN AL HAKIM
Makalah ini disusun memenuhi mata kuliah Ushul Fiqh
Dosen Pengampu : Sofyan, [Link]
Oleh :
Kelompok 1
1. Msy. Sundari Rahma Rizki ( NIM : 2220202204 )
2. Siti Hafsah ( NIM : 2220202222 )
3. Fadhillah Rabbanita ( NIM : 2220202223 )
PROGRAM STUDI STRATA-1 PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UIN RADEN FATAH PALEMBANG
2023
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur atas kehadirat Allah SWT, yang atas rahmat dan karunia-Nya
kami dapat menyelesaikan makalah ini yang berjudul “ Hukum dan Al Hakim ” dengan
baik.
Pada kesempatan ini kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya
kepada dosen mata kuliah Ushul Fiqh yang telah memberikan tugas terhadap kami. Kami
juga mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang turut membantu dalam
pembuatan makalah ini.
Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, karena
kemampuan dan pengalaman kami yang masih ada dalam keterbatasan. Untuk itu kami
mengharapkan saran dan kritik yang membangun, demi perbaikan dalam makalah ini
yang akan datang. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan terutama
bagi penulis untuk bertambahnya pengetahuan.
Akhir kata kami sampaikan terima kasih semoga Allah SWT senantiasa meridhai
segala usaha kita. Amin.
Palembang, 25 Februari 2023
Penulis
ii
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ...................................................................................................................... i
KATA PENGANTAR ................................................................................................................... ii
DAFTAR ISI................................................................................................................................. iii
BAB 1 PENDAHULUAN ............................................................................................................. 1
A. Latar Belakang ............................................................................................................... 3
B. Rumusan Masalah .......................................................................................................... 3
C. Maksud dan Tujuan ........................................................................................................ 3
D. Manfaat ........................................................................................................................... 3
BAB 2 PEMBAHASAN ................................................................................................................ 4
A. Hukum ............................................................................................................................ 4
a. Definisi Ilmu Ushul Fiqh .......................................................................................... 4
b. Pengertian dan Dalil Hukum Syara’ .......................................................................... 5
c. Pembagian Hukum Syara’ ......................................................................................... 7
d. Syarat - Syarat Hukum ............................................................................................ 16
e. Subjek dan Objek Hukum........................................................................................ 16
B. Al Hakim ...................................................................................................................... 18
a. Definisi dan Dalil Al Hakim .................................................................................... 18
b. Syarat-Syarat Al Hakim .......................................................................................... 19
C. Hubungan Hukum dan Al Hakim ................................................................................. 21
BAB 3 PENUTUP ....................................................................................................................... 23
A. Kesimpulan ................................................................................................................... 23
B. Saran ............................................................................................................................. 23
DAFTAR PUSTAKA .................................................................................................................. 24
iii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam kehidupan sehari hari kita tidak bisa hidup seenaknya sendiri,
semuanya sudah diatur oleh Allah. Dia-lah sang pembuat hukum yang dititahkan
kepada seluruh mukallaf, baik yang berkait dengan hukum taklifi (seperti: wajib,
sunnah, haram, makruh, mubah, maupun yang terkait) dengan hukum wad’i (seperti:
sebab, syarat, halangan, sah, batal, fazid, azimah dan rukhsoh). Untuk menyebut
istilah hukum atau objek hukum dalam ushul fiqih disebut mahkum fih, karena
didalam peristiwa itu ada hukum seperti hukum wajib dan hukum [Link] lebih
mudahnya adalah perbuatan seorang mukallaf yang terkait dengan perintah syari’ itu
adalah mahkum fih, sedangkan seseorang yang di kenai khitob itulah yang disebut
mahkum alaih (mukallaf) berikut penjelasan masing-masing.
Yang melatar belakangi masalah ini adalah bagaimana kita menyikapi definisi
tentang makna hukum yang sebenarnya. Di sini diungkapkan oleh beberapa ulama
ushul fiqh yang dengan pendapatnya masing-masing, di sana kita dapat
menyimpulkan arti dari kata hukum tersebut. Karena Hakim merupakan persoalan
mendasar dalam ushul fiqih, karena berkaitan dengan “ siapa pembuat hukum
sebenarnya dalam syari‟at Islam ” ; “ siapakah yang menentukan hukum syara ”,
yang mendatangkan pahala bagi pelakunya dan dosa bagi pelanggarnya selain wahyu.
Dalam ilmu ushul fiqh, hakim juga disebut dengan syar’i. Pembahasan yang
paling penting yang berkaitan dengan hukum, yang pertama, yang paling mendesak
untuk dijelaskan adalah pengetahuan tentang siapa yang menjadi rujukan sumber
hukum, maksudnya siapa al-hakim itu, karena pengetahuan atas hukum dan
kategorisasinya tergantung pada pengetahuan tentang al-hakim tersebut. Dan yang
1
dimaksud dengan al-hakim disini bukanlah pemegang kekuasaan yang menerapkan
semua hal yang dia memiliki kekuasaan atas hal tersebut, tapi yang dimaksud dengan
al-hakim disini adalah yang memiliki otoritas untuk mengeluarkan hukum atas
perbuatan dan sesuatu. Sebab apa saja yang ada yang bersifat indrawi tidak akan
keluar dari kategori sebagai perbuatan manusia atau sesuatu yang tidak termasuk
perbuatan manusia. Ketika manusia dengan sifatnya sebagai manusia yang hidup di
dalam alam semesta ini menjadi obyek bahasan, maka pengeluaran hukum adalah
karena manusia dan berkaitan dengannya. Karenanya adalah merupakan keharusan
adanya hukum atas perbuatan manusia dan sesuatu yang berkaitan dengan perbuatan
manusia tersebut.
Definisi dari Syar’i adalah titah Allah yang berhubungan dengan tingkah laku
orang mukallaf dalam bentuk tuntutan, pilihan untuk berbuat dan ketentuan-
ketentuan. Dari definisi ini dapat dipahami bahwa “ pembuat hukum ” dalam
pengertian Islam adalah Allah SWT. Dia menciptakan manusia dan yang menetapkan
aturan-aturan bagi kehidupan manusia, baik hubungannya dengan kepentingan hidup
dunia maupun untuk kepentingan hidup di akhirat. Baik aturan yang menyangkut
hubungan manusia dengan Allah serta manusia dengan manusia dan alam sekitarnya.
Serta dapat diambil kesimpulan bahwa pembuat hukum dalam Islam adalah Allah.
Hakim termasuk persoalan yang sangat penting dalam Ushul Fiqh, sebab
berkaitan dengan pembuat hukum dalam syariat Islam, atau pembuat hukum syara’
yang mendatangkan pahala bagi pelakunya dan dosa bagi pelanggarnya. Dalam ilmu
Ushul Fiqh, hakim juga disebut dengan Syar’i.
Dari pemaparan latar belakang di atas, pentingnya mengetahui wawasan tentang
Hukum dan Al Hakim agar dapat mengatur kehidupan dengan baik. Dan sebagai
2
pemenuhan tugas mata kuliah. Maka penulis menyusun makalah dengan judul " Hukum
dan Al Hakim. "
B. Rumusan Masalah
1. Apa definisi dari Hukum dan Al Hakim ?
2. Bagaimana pembagian dalam hukum syara’ ?
3. Bagaimana perbedaan pandangan terhadap Al Hakim ?
4. Bagaimana hubungan Hukum dengan Al Hakim ?
C. Maksud dan Tujuan
1. Untuk mengetahui definisi Hukum dan Al Hakim.
2. Untuk menganalisis pembagian dalam hukum syara’.
3. Untuk mengetahui perbedaan pandangan Al Hakim dalam pandangan para
ulama.
4. Untuk menganalisis hubungan Hukum dengan Al Hakim.
D. Manfaat
1) Manfaat Teoritis : Makalah ini diharapkan dapat bermanfaat untuk dijadikan
bahan referensi dalam menambah wawasan mengenai Hukum dan Al Hakim.
2) Manfaat Praktis :
1. Untuk memenuhi tugas makalah mata kuliah Ushul Fiqh.
2. Sebagai pedoman kehidupan agar teratur dan terarah dan menegakkan
keadilan.
3. Melatih mawas diri dalam melakukan berbagai aktivitas keseharian
sehingga senantiasa berada di jalur hukum yang telah ditetapkan.
3
BAB II
PEMBAHASAN
A. Hukum
a. Definisi Ilmu Ushul Fiqh
Pengertian Ushul Fiqh ( ) أصولdapat dilihat sebagai rangkaian dari dua
kata, yaitu: kata Ushul dan kata fiqh. Kata Ushul adalah bentuk jamak dari kata
ashl yang menurut bahasa, berarti sesuatu yang dijadikan dasar bagi yang lain.
Berdasarkan dari pengertian Ushul menurut bahasa tersebut, maka Ushul Fiqh
berarti sesuatu yang dijadikan dasar bagi fiqh.1
Sedangkan menurut istilah ashl dapat berarti dalil, seperti dalam
ungkapan yang dicontohkan oleh Abu Hamid Hakim: Ashl bagi diwajibkan zakat,
yaitu Al Kitab; Allah berfirman: “...... dan Tunaikanlah zakat!”
Dan dapat pula berarti qaidah kulliyah yaitu aturan atau ketentuan yang
berlaku secara universal seperti dalam ungkapan sebagai berikut: Kebolehan
makan bangkai karena terpaksa adalah penyimpangan dari ashl, yakni dari
aturan ketentuan umum, yaitu setiap bangkai adalah haram. Allah ta‟ala
berfirman “diharamkan bagimu (memakan) bangkai.............”
Dengan melihat pengertian ashl menurut istilah di atas, dapat diketahui
bahwa Ushul Fiqh sebagai rangkaian dari dua kata, berarti dalil-dalil bagi fiqh
dan aturan-aturan atau ketentuan-ketentuan umum bagi fiqh. Fiqh itu sendiri
menurut bahasa berarti faham atau tahu. Sedangkan menurut istilah, sebagaimana
dikemukakan oleh Sayyid Al-Jurjaniy, pengertian fiqh yaitu: Ilmu tentang
hukum-hukum syara' mengenai perbuatan dari dalil-dalilnya yang terperinci.
1
Misbahuddin, Ushul Fiqh (Makasar: Alauddin University Press, 2013), hlm. 24.
4
Sedangkan Ilmu Usul Fiqih adalah ilmu dengan kaidah-kaidah dan
pembahasan-pembahasan yang dapat menghasilkan hukum-hukum syariat dari
dalil-dalil yang terperinci. Objek kajian dalam Ilmu Fiqih adalah perbuatan
mukallaf (orang yang dibebani hukum) yang dinilai dalam kaca mata syariat.
Sementara objek kajian dalam Ilmu Usul Fikih adalah dalil-dalil syariat yang
dapat dijadikan sebagai landasan atas suatu hukum perbuatan.2
b. Pengertian dan Dalil Hukum Syara’
Secara etimologi kata hukum (al-hukm) berarti " mencegah " atau "
memutuskan ". Menurut terminologi Ushul Fiqh, hukum (al-hukm) berarti: Khitab
(kalam) Allah yang mengatur amal perbuatan orang berupa iqtidha (perintah,
larangan, anjuran untuk melakukan dan meninggalkan), Takhyir (kebolehan
untuk orang memilih antara melakukan dan tidak melakukan), atau Wadl
(ketentuan yang menetapkan sesuatu sebagai sebab, syarat, atau mani'
(penghalang). 3
Khitab Allah yang di maksud dalam defenisi tersebut adalah Kalam Allah.
Kalam Allah sebagai sifatnya adalah al-kalam al-nafsi (kalam yang ada pada diri
Allah) yang tidak mempunyai huruf dan suara. Kalam Allah seperti itulah yang
dimaksud hakikat hukum syara'. Kita hanya bisa mengetahui kalam nafsi itu
melalui kalam lafdzi, yaitu kalam yang mempunyai huruf dan suara yang
terbentuk dalam ayat-ayat al-Qur'an. Ayat al-Qur'an merupakan dalil (petunjuk)
kepada kalam nafsi Allah. Oleh karena yang dapat dijangkau oleh manusia
hanyalah kalam lafdzi Allah dalam bentuk ayat-ayat al-Qur’an, maka populer
2
Ahmad Sadzali, Pengantar Belajar Ushul Fikih, (Yogyakarta: (PSHI) Fakultas Hukum Universitas
Islam Indonesia, 2017). hlm. 25.
3
Ahmad Sadzali, Pengantar Belajar Ushul Fikih, (Yogyakarta: (PSHI) Fakultas Hukum Universitas
Islam Indonesia, 2017). hlm. 25.
5
dikalangan ahli-ahli Ushul Fiqh bahwa yang dimaksud dengan teks-teks ayat
adalah hukum itu sendiri yang mengatur perbuatan manusia.
Sejalan dengan hal ini, ada sebagian ulama, antara lain Abdul Karim
Zaidan, secara langsung menafsirkan pengertian khitab dalam defenisi tersebut
sebagai kalam Allah baik secara langsung seperti kalam Allah yang terdapat
dalam al-Qur’an, maupun secara tidak langsung seperti sunnah Rasulullah saw.,
ijma‟, dan dalil-dalil syara‟ lain yang dijadikan Allah sebagai dalil (petunjuk)
untuk mengetahui hukumNya. Sunnah Rasulullah saw. dianggap sebagai kalam
Allah secara langsung karena merupakan petunjuk-Nya sesuai dengan firman
Allah dalam QS. Al-Najm (53): 2-3 : “ Dan tiadalah yang diucapkannya itu (al-
Qur'an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tidak lain hanyalah
wahyu yang diwahyukan (kepadanya).”
Kedua ayat di atas menjelaskan bahwa Rasulullah saw. tidak
mengucapkan sesuatu di bidang hukum kecuali berdasarkan wahyu. Demikian
pula dengan ijma' harus mempunyai sandaran, baik al- Qur'an atau sunnah
Rasulullah saw. Sama halnya dengan itu dalil- dalil hukum lainnya tidak sah
dijadikan sebagai dasar hukum kecuali setelah diketahui adanya pengakuan dari
wahyu. Dengan demikian, khitab Allah dalam definisi hukum di atas, mencakup
semua dalil- dalil hukum yang diakui oleh syara', sehingga apa yang dimaksud
dengan khitab dalam defenisi di atas adalah ayat-ayat hukum dan hadits-hadits
hukum. Ayat-ayat atau hadits-hadits hukum dapat dikategorikan kepada beberapa
macam :
a) Perintah untuk melakukan suatu perbuatan. Perbuatan mukalaf yang
diperintahkan itu sifatnya wajib.
6
b) Larangan melakukan suatu perbuatan. Perbuatan mukalaf yang dilarang itu
sifatnya haram.
c) Anjuran untuk melakukan suatu perbuatan, dan perbuatan yang dianjurkan
itu sifatnya mandub.
d) Anjuran untuk meninggalkan suatu perbuatan, dan perbuatan yang
dianjurkan untuk ditinggalkan itu sifatnya makruh.
e) Memberi kebebasan untuk memilih antara melakukan atau tidak melakukan,
dan perbuatan yang diberi pilihan untuk dilakukan atau ditinggalkan itu
sifatnya mubah.
f) Menetapkan sesuatu sebagai sebab, syarat, mani (penghalang), kriteria sah
dan fasad/batal, serta kriteria 'azimah dan rukhsah.
Al-Qur’an dan Sunnah adalah sumber hukum Islam yang utama. Dalil
mengenai tentang hukum terdapat pada firman Allah Ta’ala pada QS. An-
Nisa;59 :
c. Pembagian Hukum Syara’
Secara garis besar para ulama Ushul Fiqh membagi hukum kepada dua
macam, yaitu hukum taklifi dan hukum wadh'i. Hukum taklifi menurut ahli Ushul
Fiqh adalah: Ketentuan-ketentuan Allah dan Rasul-Nya yang berhubungan
langsung dengan perbuatan mukalaf, baik dalam bentuk perintah, anjuran untuk
melakukan, larangan, anjuran untuk tidak melakukan, atau dalam bentuk memberi
7
kebebasan memilih untuk berbuat atau tidak berbuat. Sedangkan yang dimaksud
dengan hukum wadh'i adalah ketentuan-ketentuan hukum yang mengatur tentang
sebab, syarat dan mani' (sesuatu yang menjadi penghalang kecakapan untuk
melakukan taklifi)
Dengan mengemukakan batasan dari dua macam hukum tersebut dapat
diketahui perbedaan antara keduanya. Ada dua perbedaan mendasar antara dua
macam hukum tersebut :
a) Hukum taklifi adalah hukum yang mengandung perintah, larangan, atau
memberi pilihan terhadap seorang mukalaf, sedangkan hukum wadh'i
berupa penjelasan hubungan suatu peristiwa dengan hukum taklifi.
Misalnya, hukum taklifi menjelaskan bahwa shalat wajib dilaksanakan
umat Islam, dan hukum wadh'i menjelaskan bahwa waktu matahari
tergelincir di tengan hari menjadi sebab tanda bagi wajibnya seseorang
menunaikan shalat zuhur.
b) Hukum taklifi dalam berbagai macamnya selalu berada dalam batas
kemampuan seorang mukalaf. Sedangkan hukum wadh'i sebagaimana ada
yang di luar kemampuan manusia dan bukan merupakan aktifitas manusia.
Misalnya seperti dalam contoh di atas tadi, keadaan tergelincir matahari
bukan dalam kemampuan manusia dan bukan merupakan aktifitasnya.
Hubungannya dengan perbuatannya hanyalah karena Allah menjadikannya
(tergelincir matahari) sebagai tanda bagi masuknya waktu shalat zuhur.
Teks ayat hukum dan hadits hukum yang berhubungan dengan hukum
taklifi terbagi kepada lima bentuk.
8
1) Ijab (mewajibkan), yaitu ayat atau hadits dalam bentuk perintah yang
mengharuskan untuk melakukan suatu perbuatan. Misalnya ayat yang
memerintahkan untuk melakukan shalat dan menunaikan zakat.
2) Nadb (anjuran untuk melakukan), yaitu ayat atau hadits yang
menganjurkan untuk melakukan suatu perbuatan.
3) Tahrim (melarang), yaitu ayat atau hadits yang melarang secara pasti
untuk meninggalkan suatu perbuatan.
4) Karahah, yaitu ayat atau hadits yang menganjurkan untuk
meninggalkan suatu perbuatan.
5) Ibahah, yaitu ayat atau hadits yang memberi pilihan seseorang untuk
melakukan atau meninggalkan suatu perbuatan.
Pembagian tersebut di atas adalah hukum dilihat sebagai dalil hukum.
Selanjutnya dalam membicarakan pembagian hukum taklifi ini, istilah hukum
digunakan kepada sifat perbuatan mukalaf. Dari sisi ini hukum taklifi, seperti
dikemukakan Abdul Wahhab Khallaf, terbagi kepada lima macam, yaitu: a)
wajib; b) mandub/sunnah; c) haram; d) makruh; dan e) mubah. Dasar
pembagian tersebut adalah bahwa ketentuan Allah dan RasulNya yang berupa
perintah terhadap suatu perbuatan maka perbuatan itu hukumnya wajib.
Masing-masing dari beberapa istilah hukum di atas akan dijelaskan secara
ringkas dibawah ini :
1. Wajib
Secara etimologi kata wajib berarti tetap atau pasti. Secara terminologi
seperti dikemukakan Abdul Karim Zaidan, ahli hukum Islam berkebangsaan
Irak, wajib berarti: Sesuatu yang diperintahkan (diharuskan) oleh Allah dan
9
Rasul-Nya untuk dilaksanakan oleh orang mukalaf, dan apabila dilaksanakan
akan mendapatkan pahala dari Allah, sebaliknya apabila tidak dilaksanakan
diancam dengan dosa. Wajib dapat dibagi kepada dua macam, yaitu wajib „ainy
dan wajib kifa‟iy.
(1) Wajib Aini : kewajiban yang dibedakan kepada setiap orang yang sudah
balig berakal (mukalaf) tanpa kecuali. Kewajiban seperti ini tidak bisa
gugur kecuali dilakukan sendiri. Misalnya kewajiban melaksanakan
shalat lima waktu sehari semalam, melaksanakan puasa di bulan
Ramadhan dan melaksanakan haji bagi siapa yang mampu.
(2) Wajib Kifa‟i (Wajib Kifayah) : kewajiban yang dibebankan kepada
seluruh mukalaf, namun bilamana telah dilaksanakan oleh sebagian umat
Islam maka kewajiban itu sudah dianggap terpenuhi sehingga orang yang
tidak ikut melaksanakannya tidak diwajibkan mengerjakannya. Misalnya,
pelaksanaan shalat jenazah adalah kewajiban seluruh umat Islam, tetapi
sudah dianggap mencukupi bilamana tidak seorangpun ada yang
mengerjakannya maka seluruh umat Islam diancam dengan dosa.
Demikian pula dengan kewajiban melakukan amar ma’ruf dan nahi
munkar, menjawab salam, belajar ilmu kedokteran, dan belajar ilmu
bangunan dan penanggulangan kemiskinan.
2. Mandub/Sunnah
Kata mandub dari segi bahasa berarti “sesuatu yang dianjurkan”.
Sedangkan menurut istilah, seperti dikemukakan Abdul Karim Zaidan, adalah
suatu perbuatan yang dianjurkan oleh Allah dan Rasul-Nya, di mana akan
diberikan pahala orang yang melaksanakannya, namun tidak dicela orang yang
tidak melaksanakannya. Mandub disebut juga sunnah, nafilah, mustahab,
10
tathawwu‟, ihsan dan adilah. Istilah-Istilah tersebut menunjukkan pengertian
yang sama. Seperti dikemukakan Abdul-Karim Zaidan, mandub terbagi
kepada beberapa tingkatan:
(1) Sunnah Muakkadah (sunnah yang sangat dianjurkan), yaitu perbuatan
yang dibiasakan oleh Rasulullah dan jarang ditinggalkannya. Misalnya,
shalat sunah dua raka’at sebelum fajar.
(2) Sunnah ghair al-Muakkaddah (sunnah biasa), yaitu sesuatu yang
dilakukan Rasulullah saw., namun bukan menjadi kebiasaannya. Misalnya,
melakukan shalat sunah dua kali dua raka’at sebelum shalat zuhur, dan
seperti memberikan sedekah sunah kepada orang yang tidak dalam keadaan
terdesak. Jika dalam keadaan terdesak, maka hukum membantunya adalah
wajib.
(3) Sunnah al-Zawaid, yaitu mengikuti kebiasaan sehari-hari Rasulullah
sebagai manusia. Misalnya, sopan santunnya dalam makan, minum, dan
tidur. Mengikuti Rasulullah saw. dalam masalah-masalah tersebut hukumnya
sunnah, namun tingkatannya di bawah dua macam sunnah yang disebut
pertama tadi.
3. Haram
Kata haram secara etimologi berarti “ sesuatu yang dilarang
mengerjakannya ”. Secara terminologi Ushul Fiqh kata haram berarti sesuatu
yang dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya, dimana orang yang melanggarnya
dianggap durhaka dan diancam dengan dosa, dan orang yang
meninggalkannya karena menaati Allah, diberi pahala. Para ulama Ushul Fiqh,
11
antara lain Abdul Karim Zaidan membagi haram kepada beberapa macam,
yaitu:
(1) Al-Muharram li Dzatihi, yaitu sesuatu yang diharamkan oleh syariat
karena esensinya mengandung kemudaratan bagi kehidupan manusia,
dan kemudharatan itu tidak bisa terpisah dari [Link], larangan
berzina seperti dalam firman Allah QS. Al-Isra (17): 32: “ Dan
janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu
perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.”
(2) Al-Muharram li Ghairihi, yaitu sesuatu yang dilarang bukan disebabkan
oleh esensinya karena secara esensial tidak mengandung kemudaratan,
namun dalam kondisi tertentu, sesuatu itu dilarang karena ada
pertimbangan eksternal yang akan membawa kepada sesuatu yang
dilarang secara esensial. Misalnya, larangan melakukan jual beli pada
waktu azan shalat Jum’at sebagaimana firman Allah QS. Al-Jumuah
(9) : “ Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan
shalat Jum'at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan
tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu
mengetahui.” Jual beli bilamana dilihat kepada esensinya adalah
dibolehkan, tetapi ada larangan melakukannya pada waktu azan jum‟at
karena akan melalaikan seseorang dari memenuhi panggilan Allah
(shalat jum’at). Ketentuan yang berlaku dalam hal ini, seperti
dikemukakan Muhammad Abu Zahrah adalah bahwa larangan seperti
itu bilamana dilanggar dan dilaksanakan juga, maka perbuatan itu
adalah sah. Jual beli waktu azan Jum’at adalah sah sebagai sebab
12
perpindahan milik dari penjual kepada pembeli, namun pelakunya
berdosa di sisi Allah.
4. Makruh
Secara bahasa kata makruh berarti “ sesuatu yang dibenci ”. Dalam
istilah Ushul Fiqh kata makruh, menurut mayoritas ulama Ushul Fiqh, berarti
sesuatu yang dianjurkan syariat untuk meninggalkannya, di mana ketentuan
tersebut ditinggalkan akan mendapat pujian dan apabila dilanggar tidak
berdosa. Misalnya, seperti di kemukakan Wahbah az-Zahaili, dalam Mazhab
Hanbali ditegaskan makruh hukumnya berkumur dan memasukkan air ke
hidung secara berlebihan ketika akan berwudhu di siang hari Ramadhan
karena dikhawatirkan air akan masuk ke rongga kerokongan dan tertelan.
Menurut kalangan Hanafiyah, makruh terbagi kepada dua macam:
(1) Makruh Tahrim, yaitu sesuatu yang dilarang oleh syariat, tetapi
dalil yang melarang itu bersifat zhanni al-wurud (kebenaran
datangnya dari Rasulullah saw. hanya sampai ke dugaan keras),
tidak bersifat pasti. Misalnya, larangan meminang wanita yang
sedang dalam pinangan orang lain dan larangan membeli sesuatu
yang sedang dalam tawaran orang lain sebagaimana dalam sabda
Nabi: “ Dari Ibnu Umar ra. Dia berkata bahwa Nabi SAW.
Melarang untuk membeli suatu barang yang masih dalam
tawaran orang lain dan melarang seseorang untuk meminang
seorang wanita yang ada dalam pinangan orang lain sampai
mendapatkan izin atau telah ditinggalkannya.”
(2) Makruh Tanzih, yaitu sesuatu yang dianjurkan oleh syariat untuk
meniggalkannya, Misalnya, memakan daging kuda dan meminum
13
susunya pada waktu sangat butuh diwaktu perang. Menurut
sebagian kalangan Hanafiyah, pada dasarnya memakan daging
kuda hukumnya haram karena ada larangan memakannya
berdasarkan hadits riwayat Daruquthni. Namun ketika sangat
butuh waktu perang dibenarkan memakannya meskipun dianggap
makruh.
5. Mubah
Secara bahasa kata mubah berarti " sesuatu yang dibolehkan atau
diizinkan ". Menurut istilah Ushul Fiqh, seperti dikemukakan oleh Abdul
Karim Zaidan, berarti: Yaitu sesuatu yang diberi pilih oleh syariat apakah
seorang mukalaf akan melakukannya atau tidak melakukannya, dan tidak ada
hubungannya dengan dosa atau pahala
Misalnya, ketika ada cekcok yang berkepanjangan dalam rumah tangga
dan dikhawatirkan tidak lagi akan dapat hidup bersama, maka boleh (mubah)
bagi seorang istri membayar sejumlah uang kepada suami agar suaminya itu
menceraikannya, sesuai dengan petunjuk Allah dalam firman-Nya pada QS.
Al-Baqarah: 229 ; “ Jika kamu khawatir bahwa keduanya (suami isteri) tidak
dapat menjalankan hukum-hukum Allah, Maka tidak ada dosa atas keduanya
tentang bayaran yang diberikan oleh isteri untuk menebus dirinya. Itulah
hukum-hukum Allah, Maka janganlah kamu melanggarnya. barangsiapa yang
melanggar hukum-hukum Allah mereka Itulah orang-orang yang zalim. ”
Istilah mubah, menurut Abu Zahrah, sama pengertiannya dengan halal
atau jaiz. Abu Ishaq al-Syathibi dalam kitabnya al-Muwafaqat fi Ushul
alSyariah membagi mubah kepada tiga macam:
14
1) Mubah yang berfungsi untuk mengantarkan seseorang kepada sesuatu
hal yang wajib dilakukan. Misalnya makan dan minum adalah sesuatu
yang mubah, namun berfungsi untuk mengantarkan seseorang sampai
ia mengerjakan kewajiban-kewajiban yang dibebankan kepadanya
seperti shalat dan berusaha mencari rizki. Mubah seperti ini, demikian
Abu Ishaq al-Syathibi menjelaskan, hanya dianggap mubah dalam
memilih makanan halal mana yang akan dimakan dan diminum. Akan
tetapi, seseorang tidak diberi kebebasan untuk memilih makan atau
tidak makan, karena meninggalkan makan sama sekali dalam hal ini
membahayakan dirinya.
2) Sesuatu baru dianggap mubah hukumnya dilakukan sekali-sekali,
tetapi haram hukumnya bila dilakukan setiap waktu. Misalnya,
bermain dan mendengar nyanyian hukumnya adalah mubah bila
dilakukan sekali-sekali, tetapi haram hukumnya menghabiskan waktu
hanya untuk bermain dan mendengar nyanyian.
3) Sesuatu yang mubah yang berfungsi sebagai sarana untuk mencapai
sesuatu yang mubah pula. Misalnya, membeli perabot rumah untuk
kepentingan kesenangan, hidup senang hukumnya adalah mubah, dan
untuk mencapai kesenangan itu memerlukan seperangkat persyaratan
yang menurut esensinya harus bersifat mubah pula, karena untuk
mencapai sesuatu yang mubah tidak layak dengan menggunakan
sesuatu yang dilarang.
15
d. Syarat - Syarat Hukum
Syarat-syarat Al-Hukm yang bisa diterima oleh hukum Islam adalah yaitu 4 :
1) Tidak ada dalil yang khusus untuk kasus tersebut baik dalam Al-Qur’an
dan Sunnah.
2) Pemakaiannya tidak mengakibatkan di kesampingkannya nash syari’ah
termasuk juga tidak mengakibatkan kemafsadatan, kesempitan, dan
kesulitan.
3) Telah berlaku secara umum dalam arti bukan hanya yang biasa dilakukan
oleh beberapa saja.
e. Subjek dan Objek Hukum
Subjek hukum dalam hal ini adalah mukallaf. Orang mukallaf adalah
orang yang telah dianggap mampu bertindak melaksanakan hukum baik yang
berhubungan dengan perintah Allah SWT maupun dengan larangan-Nya. Seluruh
tindakan mukallaf harus dipertanggungjawabkan5. Setiap perbuatannya akan
mendapatkan ganjaran dan mengandung konsekuensi. Misalnya, jika ia
mengerjakan kewajiban maka akan mendapat pahala, dan jika meninggalkannya
akan berdosa. Orang yang menjadi mukallaf pada dasarnya harus berakal dan
mampu memahami. Sebab asas dari pembebanan hukum (taklif), menurut Abu
Zuhroh, adalah akal dan pemahaman. Pembebanan hukum (taklif) pada dasarnya
adalah penetapan hukum. Dan penetapan hukum kepada orang yang tidak
memiliki akal ataupun tidak paham akan hukum tersebut adalah sesuatu yang
mustahil.
4
Djazuli, A. Ilmu Fiqh: Penggalian, Perkembangan, dan Penerapan Hukum Islam, (Kencana Prenada
Media Group, 2005)
5
Ahmad Sadzali, Pengantar Belajar Ilmu Fikih, (Yogyakarta: (PSHI) Fakultas Hukum Universitas
Islam Indonesia, 2017). hlm. 30.
16
Dengan demikian, orang yang tidak atau belum berakal, seperti orang gila
dan anak kecil tidak dikategorikan sebagai mukallaf. Karena mereka tidak atau
belum berakal, maka mereka dianggap tidak bisa memahami taklif dari Allah
SWT. Akan tetapi menurut Abu Zuhroh, meski orang gila dan anak kecil masih
tidak dianggap mukallaf, namun mereka masih dibebani beberapa perkara yang
berkaitan dengan harta. Misalnya, mayoritas ulama berpendapat bahwa mereka
masih dikenakan kewajiban zakat. Atau jika mereka merusak suatu barang orang
lain, mereka wajib menggantinya.
Selain itu, yang juga tidak termasuk ke dalam kategori mukallaf adalah
orang yang dalam keadaan tidur, mabuk dan lupa. Orang sedang tidur, mabuk dan
lupa, tidak dikenai taklif karena ia dalam keadaan tidak sadar (hilang akal). Taklif
kepada mereka akan berlaku kembali ketika mereka sudah sadar atau akalnya
sudah kembali lagi.
Adapun objek hukum syariat adalah perbuatan mukallaf yang terkait
dengan hukum-hukum syariat diatas. Setiap hukum syariat pasti akan
bersinggungan dengan perbuatan mukallaf dari tiga sisi, yaitu permintaan, pilihan
atau larangan. Syarat-syarat pembebanan terhadap mukallaf adalah 6:
1. Harus diketahui mukallaf hingga ia bisa mengerjakannya.
2. Harus diketahui bahwa pembebanan tersebut bersumber dari Allah Ta’ala
sebagai Hakim.
3. Perbuatan mukallaf yang dibebankan tersebut.
6
Ahmad Sadzali, Pengantar Belajar Ilmu Fikih, (Yogyakarta: (PSHI) Fakultas Hukum Universitas
Islam Indonesia, 2017). hlm. 29.
17
B. Al Hakim
a. Definisi dan Dalil Al Hakim
Secara hakikat hakim adalah Allah Ta’ala. Semata, tidak ada yang lain.
Para utusan Allah hanya sekedar menyampaikan risalah dan hukum-hukumnya
saja. Mereka semua tidak menciptakan atau menetapkan hukum. Sementara para
mujtahid cuma sekedar menyingkap tabir-tabir hukum. Mereka juga bukan
pencipta hukum syariat, sekalipun secara adat mereka juga terkadang disebut
hakim 7. Dalam masalah hakim ini seluruh ulama menyepakati konsep di atas.
Terbukti, mereka juga sepakat memaknai hukum sebagai khitabullah bukan khitab
ar-Rusul atau khitab al-Mujtahidin.
Kata hakim secara etimologi berarti orang yanng memutuskan hukum.
Dalam istilah fikih kata hakim juga dipakai sebagai orang yang memutuskan
hukum di pengadilan yang sama maknanya dengan qadi. Dalam kajian usul fikih
kata hakim di sini berarti pihak penentu dan pembuat hukum syari’at secara
hakiki. Ulama usul fikih sepakat bahwa yang menjadi sumber atau pembuat hakiki
dari hukum syari’at adalah Allah 8. Hal itu ditunjukkan oleh al-Qur’an dalam Surat
al-An’am ayat 57 :
“ Katakanlah (Muhammad), “Aku (berada) di atas keterangan yang nyata
(Al-Qur'an) dari Tuhanku sedang kamu mendustakannya. Bukanlah
kewenanganku (untuk menurunkan azab) yang kamu tuntut untuk disegerakan
7
Abdullah Yusuf al-Juda’i, 1997: 71).
8
Khisni, Epistemologi Hukum Islam. (Semarang: UNISSULA PRESS.)
18
kedatangannya. Menetapkan (hukum itu) hanyalah hak Allah. Dia
menerangkan kebenaran dan Dia pemberi keputusan yang terbaik.”
Meskipun para ulama usul fikih sepakat bahwa pembuat hukum hanya
Allah, namun mereka berbeda pendapat dalam masalah apakah hukum-hukum
yang dibuat Allah hanya dapat diketahui dengan turunnya wahyu dan datangnya
Rasulullah, atau akal secara independen bisa juga mengetahuinya. Sedangkan
menurut undang-undang Republik Indonesia nomor 48 tahun 2009 tentang
Kekuasaan Kehakiman bahwa yang dimaksud dengan hakim adalah hakim pada
Mahkamah Agung dan hakim pada badan peradilan yang berada di bawahnya
dalam lingkungan peradilan umum, lingkungan peradilan agama, lingkungan
peradilan militer, lingkungan peradilan tata usaha negara, dan hakim pada
pengadilan khusus yang berada dalam lingkungan peradilan tersebut 9.
b. Syarat – Syarat Al Hakim
Kekuasaan kehakiman itu tidak hanya mengandung pengertian otoritas
hukum tetapi juga kewajiban hukum yang merupakan kekuasaan yang melekat
pada hakim dan pengadilan untuk melaksanakan fungsi pemerintahan berupa
mengadili dan memutus (adjudication). Dari ulama ushul fiqh mendefinisikan
hukum sebagai titah Allah SWT yang berkaitan dengan perbuatan orang mukallaf,
baik berupa tuntutan, pemilihan maupun wadhi. Dalam hal ini tidak ada
perbedaan, yang mengatakan bahwa hakim adalah Allah SWT.
Yang dibedakan oleh para ulama dalam hal ini hanya tentang mengetahui
hukum Allah SWT. Tentang perbedaan ini Mayoritas Ulama Ahlusunnah wal
Jamaah dan Mazhab al-Asy’Ariah mengatakan : Bahwa satu-satunya yang dapat
mengenalkan hukum Allah kepada manusia adalah Rasul atau utusan Allah
9
Undang-Undang RI No 48 tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman.
19
melalui wahyu yang diturunkan Allah kepadanya. Perbedaan ulama dalam hal ini
hanya berkisar tentang hukum Allah yang berkaitan dengan perbuatan orang
mukallaf, apakah akal dengan sendirinya mampu mengetahui hukum-hukum
tersebut ataukah perlu perantara para rasul untuk dapat mengetahuinya.
Terkait perbedaan ini, Abdul wahab khallaf membagi menjadi tiga
kelompok 10.
a) Mazhab Asy’ariyah, pengikut Abu Hasan al-Asy’ari yang menyatakan
bahwa akal dengan sendirinya tidak akan mampu mengetahui hukum-
hukum allah tanpa mediasi para rasul dan kitab-kitabnya. Kelompok ini
berargumen bahwa yang disebut dengan kebaikan adalah sesuatu yang
telah ditunjukkan oleh syari’ bahwa hal itu memang baik. Sementara
kejelekan adalah sesuatu yang ditunjukkan oleh syari’ bahwa hal itu
memang jelek. Kebaikan dan keburukan tidak dapat ditentukan oleh
penalaran akal semata.
b) Mazhab Mu’tazilah, yakni para pengikut Washil bin Atha’ yang
menyatakan bahwa dengan sendirinya akal mampu mengetahui hukum-
hukum Allah tanpa melalui perantara rasul atau kitab. Mereka berhujjah
bahwa sesuatu itu dikatakan baik ketika akal memandang hal itu baik.
Sebaliknya sesuatu itu dipandang jelek ketika akal memang menganggap
jelek.
c) Mazhab Maturidiyah, pengikut Abu Mansur al-Maturidi, mazhab ini
menurut Khallaf adalah mazhab penengah dan dianggap sebagai pendapat
yang lebih kuat. Mazhab ini menyatakan bahwa memang akal sehat itu
mampu menilai mana yang baik dan mana yang dianggap buruk. Namun,
10
Jurnal Al-Madãris, Hukum, Hakim, Mahkum Fih dan Mahkum „Alaih (Studi Pemahaman Dasar
Hukum Islam), Volume 2 (1), 2021, hlm. 85.
20
tidak secara otomatis akal mampu menentukan hukum-hukum Allah,
sebab kerja akal itu terbatas dan terkadang kerja akal itu berbeda satu
sama lain dalam menilai suatu perbuatan. Oleh karena itulah, dalam
menentukan hukum-hukum Allah tetap diperlukan adanya perantara
utusan dan kitab-kitabnya, (Wahab Khallaf,: 97-99).Pada akhirnya apa
yang dipegangi oleh mazhab ini sama dengan pendapat mazhab
Asy’ariyah yang tetap menyatakan bahwa untuk mengetahui hukum
Allah diperlukan adanya perantara.
Terkait perbedaan para ulama di atas, salah satu syarat utama seorang
mukallaf haruslah ia memiliki akal sehat. Ia dituntut untuk melaksanakan
perbuatan yang dianggap baik oleh akal sehatnya dan dituntut meninggalkan
perbuatan yang dianggap buruk menurut akal sehatnya pula. Ini merupakan
apresiasi yang luar biasa besar terhadap anugerah akal yang diberikan oleh Tuhan.
Akan tetapi dalam menggunakan akal haruslah tetap pada berpegang atau
berpedoman pada sumber hukum islam yang utama yaitu Al-Qur’an dan Hadits.
C. Hubungan Hukum dan Al Hakim
Hukum menurut KBBI adalah peraturan atau adat yang secara resmi dianggap
mengikat dan dikukuhkan oleh penguasa untuk mengatur kehidupan masyarakat.
Patokan (kaidah, ketentuan) Keputusan (pertimbangan) yang ditentukan oleh
hakim. Hakim adalah orang yang mengadili perkara. Dalam setiap perkara akan
dilihat, diakui atau dibenarkan telah terjadi peristiwa tersebut. Hakim melakukan
pembuktian dengan alat-alat bukti dalam mendapatkan kepastian peristiwa
tersebut dikualifisir termasuk dalam hubungan hukum apa atau yang mana.
Hakim akan mencari ketentuan-ketentuan yang dapat diterapkan pada
peristiwa hukum yang bersangkutan. Jadi, Hakim akan menerapkan hukum
21
terhadap peristiwa dan menilainya serta pada gilirannya menetapkan hukumnya
kepada peristiwa yang bersangkutan, barang tentu ia memberikan keadilan sesuai
dengan penilaiannya. Peran Hakim dalam menerapkan hukum yaitu 11:
a) Sebagai pelaksana kekuasaan kehakiman, hakim berwenang menetukan
hukum dan keadilan bagi setiap individu yang berperkara.
b) Hakim harus memberikan keadilan kepada setiap pihak dan proses
penyelesaiannya tidak memihak.
c) Budaya masyarakat cenderung menolak putusan (perdata) dan pelaksanaan
putusan (eksekusi) memerlukan upaya paksa.
11
[Link]
hakim&catid=101&Itemid=328, , diunduh Minggu 26 Februari 2023 pukul 10.27.
22
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Hukm menurut ushul fiqh adalah yang mengatur amal perbuatan orang berupa iqtidha,
atau wadl. Sedangkan kata hakim di sini berarti pihak penentu dan pembuat hukum syari’at
secara hakiki. Pembagian hukum syara’ terdiri dari hukum Takfili dan hukum Wad’i. Hukum
takfili terbagi, yaitu: a) wajib; b) mandub/sunnah; c) haram; d) makruh; dan e) mubah.
Perbedaan pandangan terkait Al Hakim, yaitu a) Mazhab Asy’ariyah, b) Mazhab
Mu’tazilah, c) Mazhab Maturidiyah. Terkait perbedaan para ulama tersebut, salah satu syarat
utama seorang mukallaf haruslah ia memiliki akal sehat. Akan tetapi dalam menggunakan
akal haruslah tetap pada berpegang atau berpedoman pada sumber hukum Islam yang utama
yaitu Al-Qur’an dan Hadits.
Hukum dan Al Hakim saling berkaitan, karena hukum adalah suatu peraturan yang
mengatur atau sebagai pedoman kehidupan, sedangkan hakim adalah orang yang mengadili
perkara. Pembuat hukum adalah Allah Ta’ala karena Dia menciptakan manusia dan yang
menetapkan aturan-aturan bagi kehidupan manusia, baik hubungannya dengan kepentingan
hidup dunia maupun di akhirat, hubungan manusia dengan Allah serta manusia dengan
manusia dan alam sekitarnya.
B. Saran
Kami menyadari bahwa masih banyak kekurangan yang kami miliki, baik dari tulisan
maupun penyampaian yang kami sajikan. Oleh karena itu, kami mengharapkan kritik dan
saran yang membangun, agar kami dapat membuat makalah lebih baik lagi ke depannya, dan
semoga makalah ini dapat bermanfaat dan menambah wawasan bagi penulis maupun
pembaca.
23
DAFTAR PUSTAKA
Adhari, Iendy Zelvian, dkk. 2021. Struktur Konseptual Ushul Fiqh. Bandung: Widina
Bhakti Persada.
Aziz, Muhammad. 2020. Ushul Fikih Kelas XII MA Peminatan Keagaamaan Cetakan Ke-1.
Jakarta: Direktorat KSKK Madrasah.
Basri, Rusdaya. 2019. Ushul fikih I. Pare Pare: IAIN Pare Pare Nusantara Press.
Effendi, Satria. 2005. Ushul Fiqh Edisi Pertama Cetakan Ke-7. Jakarta: Prenadamedia
Group.
Harisudin, Noor. 2019. Pengantar Ilmu Fiqih. Surabaya: CV. Salsabila Putra Pratama.
[Link]
eranan-hakim&catid=101&Itemid=328, diunduh Minggu 26 Februari 2023 pukul
10.27.
Isnu , Cut, Ali. 2021. “ Hukum, Hakim, Mahkum Fih dan Mahkum Alaih (Studi Pemahaman
Dasar Ilmu Hukum Islam) ”. Jurnal Al- Madaris, Vol. 2, No. 1.
Julita, Asmuni, Tuti Anggraini. “ Signifikansi Al-Hukm, Al- Hakim, Al Mahkum Fih, Dan Al
Mahkum Alaih”. Universitas Islam Negeri Sumatera Utara.
Mawanto, Agus. 2019. Ushul Fiqh: Metode Ijtihad Hukum Islam. Yogyakarta: UNIMMA
Press.
Misbahuddin. 2013. Ushul Fiqh I. Makassar: Alauddin University Press.
Sadzali, Ahmad. 2017. Pengantar Belajar Usul Fikih. Yogyakarta: Pusat Studi Hukum
Islam (PSHI) Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia.
Sanusi, Ahmad, Sohari. 2015. Ushul Fiqh Cetakan Ke-1. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada.
24