0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
529 tayangan27 halaman

Fungsi Al Hakim dalam Hukum Islam

Makalah ini membahas tentang hukum dan al-hakim dalam pandangan ushul fiqh. Pembahasan meliputi definisi hukum dan al-hakim, pembagian hukum syara', perbedaan pandangan terhadap al-hakim, serta hubungan antara hukum dan al-hakim. Tujuan makalah ini adalah untuk memahami konsep-konsep tersebut secara mendalam.

Diunggah oleh

Putri Melati
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
529 tayangan27 halaman

Fungsi Al Hakim dalam Hukum Islam

Makalah ini membahas tentang hukum dan al-hakim dalam pandangan ushul fiqh. Pembahasan meliputi definisi hukum dan al-hakim, pembagian hukum syara', perbedaan pandangan terhadap al-hakim, serta hubungan antara hukum dan al-hakim. Tujuan makalah ini adalah untuk memahami konsep-konsep tersebut secara mendalam.

Diunggah oleh

Putri Melati
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

MAKALAH

HUKUM DAN AL HAKIM

Makalah ini disusun memenuhi mata kuliah Ushul Fiqh

Dosen Pengampu : Sofyan, [Link]

Oleh :

Kelompok 1

1. Msy. Sundari Rahma Rizki ( NIM : 2220202204 )

2. Siti Hafsah ( NIM : 2220202222 )

3. Fadhillah Rabbanita ( NIM : 2220202223 )

PROGRAM STUDI STRATA-1 PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN

UIN RADEN FATAH PALEMBANG

2023
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur atas kehadirat Allah SWT, yang atas rahmat dan karunia-Nya

kami dapat menyelesaikan makalah ini yang berjudul “ Hukum dan Al Hakim ” dengan

baik.

Pada kesempatan ini kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya

kepada dosen mata kuliah Ushul Fiqh yang telah memberikan tugas terhadap kami. Kami

juga mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang turut membantu dalam

pembuatan makalah ini.

Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, karena

kemampuan dan pengalaman kami yang masih ada dalam keterbatasan. Untuk itu kami

mengharapkan saran dan kritik yang membangun, demi perbaikan dalam makalah ini

yang akan datang. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan terutama

bagi penulis untuk bertambahnya pengetahuan.

Akhir kata kami sampaikan terima kasih semoga Allah SWT senantiasa meridhai

segala usaha kita. Amin.

Palembang, 25 Februari 2023

Penulis

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ...................................................................................................................... i


KATA PENGANTAR ................................................................................................................... ii
DAFTAR ISI................................................................................................................................. iii
BAB 1 PENDAHULUAN ............................................................................................................. 1
A. Latar Belakang ............................................................................................................... 3
B. Rumusan Masalah .......................................................................................................... 3
C. Maksud dan Tujuan ........................................................................................................ 3
D. Manfaat ........................................................................................................................... 3
BAB 2 PEMBAHASAN ................................................................................................................ 4
A. Hukum ............................................................................................................................ 4
a. Definisi Ilmu Ushul Fiqh .......................................................................................... 4
b. Pengertian dan Dalil Hukum Syara’ .......................................................................... 5
c. Pembagian Hukum Syara’ ......................................................................................... 7
d. Syarat - Syarat Hukum ............................................................................................ 16
e. Subjek dan Objek Hukum........................................................................................ 16
B. Al Hakim ...................................................................................................................... 18
a. Definisi dan Dalil Al Hakim .................................................................................... 18
b. Syarat-Syarat Al Hakim .......................................................................................... 19
C. Hubungan Hukum dan Al Hakim ................................................................................. 21
BAB 3 PENUTUP ....................................................................................................................... 23
A. Kesimpulan ................................................................................................................... 23
B. Saran ............................................................................................................................. 23
DAFTAR PUSTAKA .................................................................................................................. 24

iii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Dalam kehidupan sehari hari kita tidak bisa hidup seenaknya sendiri,

semuanya sudah diatur oleh Allah. Dia-lah sang pembuat hukum yang dititahkan

kepada seluruh mukallaf, baik yang berkait dengan hukum taklifi (seperti: wajib,

sunnah, haram, makruh, mubah, maupun yang terkait) dengan hukum wad’i (seperti:

sebab, syarat, halangan, sah, batal, fazid, azimah dan rukhsoh). Untuk menyebut

istilah hukum atau objek hukum dalam ushul fiqih disebut mahkum fih, karena

didalam peristiwa itu ada hukum seperti hukum wajib dan hukum [Link] lebih

mudahnya adalah perbuatan seorang mukallaf yang terkait dengan perintah syari’ itu

adalah mahkum fih, sedangkan seseorang yang di kenai khitob itulah yang disebut

mahkum alaih (mukallaf) berikut penjelasan masing-masing.

Yang melatar belakangi masalah ini adalah bagaimana kita menyikapi definisi

tentang makna hukum yang sebenarnya. Di sini diungkapkan oleh beberapa ulama

ushul fiqh yang dengan pendapatnya masing-masing, di sana kita dapat

menyimpulkan arti dari kata hukum tersebut. Karena Hakim merupakan persoalan

mendasar dalam ushul fiqih, karena berkaitan dengan “ siapa pembuat hukum

sebenarnya dalam syari‟at Islam ” ; “ siapakah yang menentukan hukum syara ”,

yang mendatangkan pahala bagi pelakunya dan dosa bagi pelanggarnya selain wahyu.

Dalam ilmu ushul fiqh, hakim juga disebut dengan syar’i. Pembahasan yang

paling penting yang berkaitan dengan hukum, yang pertama, yang paling mendesak

untuk dijelaskan adalah pengetahuan tentang siapa yang menjadi rujukan sumber

hukum, maksudnya siapa al-hakim itu, karena pengetahuan atas hukum dan

kategorisasinya tergantung pada pengetahuan tentang al-hakim tersebut. Dan yang

1
dimaksud dengan al-hakim disini bukanlah pemegang kekuasaan yang menerapkan

semua hal yang dia memiliki kekuasaan atas hal tersebut, tapi yang dimaksud dengan

al-hakim disini adalah yang memiliki otoritas untuk mengeluarkan hukum atas

perbuatan dan sesuatu. Sebab apa saja yang ada yang bersifat indrawi tidak akan

keluar dari kategori sebagai perbuatan manusia atau sesuatu yang tidak termasuk

perbuatan manusia. Ketika manusia dengan sifatnya sebagai manusia yang hidup di

dalam alam semesta ini menjadi obyek bahasan, maka pengeluaran hukum adalah

karena manusia dan berkaitan dengannya. Karenanya adalah merupakan keharusan

adanya hukum atas perbuatan manusia dan sesuatu yang berkaitan dengan perbuatan

manusia tersebut.

Definisi dari Syar’i adalah titah Allah yang berhubungan dengan tingkah laku

orang mukallaf dalam bentuk tuntutan, pilihan untuk berbuat dan ketentuan-

ketentuan. Dari definisi ini dapat dipahami bahwa “ pembuat hukum ” dalam

pengertian Islam adalah Allah SWT. Dia menciptakan manusia dan yang menetapkan

aturan-aturan bagi kehidupan manusia, baik hubungannya dengan kepentingan hidup

dunia maupun untuk kepentingan hidup di akhirat. Baik aturan yang menyangkut

hubungan manusia dengan Allah serta manusia dengan manusia dan alam sekitarnya.

Serta dapat diambil kesimpulan bahwa pembuat hukum dalam Islam adalah Allah.

Hakim termasuk persoalan yang sangat penting dalam Ushul Fiqh, sebab

berkaitan dengan pembuat hukum dalam syariat Islam, atau pembuat hukum syara’

yang mendatangkan pahala bagi pelakunya dan dosa bagi pelanggarnya. Dalam ilmu

Ushul Fiqh, hakim juga disebut dengan Syar’i.

Dari pemaparan latar belakang di atas, pentingnya mengetahui wawasan tentang

Hukum dan Al Hakim agar dapat mengatur kehidupan dengan baik. Dan sebagai

2
pemenuhan tugas mata kuliah. Maka penulis menyusun makalah dengan judul " Hukum

dan Al Hakim. "

B. Rumusan Masalah

1. Apa definisi dari Hukum dan Al Hakim ?

2. Bagaimana pembagian dalam hukum syara’ ?

3. Bagaimana perbedaan pandangan terhadap Al Hakim ?

4. Bagaimana hubungan Hukum dengan Al Hakim ?

C. Maksud dan Tujuan

1. Untuk mengetahui definisi Hukum dan Al Hakim.

2. Untuk menganalisis pembagian dalam hukum syara’.

3. Untuk mengetahui perbedaan pandangan Al Hakim dalam pandangan para

ulama.

4. Untuk menganalisis hubungan Hukum dengan Al Hakim.

D. Manfaat

1) Manfaat Teoritis : Makalah ini diharapkan dapat bermanfaat untuk dijadikan

bahan referensi dalam menambah wawasan mengenai Hukum dan Al Hakim.

2) Manfaat Praktis :

1. Untuk memenuhi tugas makalah mata kuliah Ushul Fiqh.

2. Sebagai pedoman kehidupan agar teratur dan terarah dan menegakkan

keadilan.

3. Melatih mawas diri dalam melakukan berbagai aktivitas keseharian

sehingga senantiasa berada di jalur hukum yang telah ditetapkan.

3
BAB II

PEMBAHASAN

A. Hukum

a. Definisi Ilmu Ushul Fiqh

Pengertian Ushul Fiqh (‫ ) أصول‬dapat dilihat sebagai rangkaian dari dua

kata, yaitu: kata Ushul dan kata fiqh. Kata Ushul adalah bentuk jamak dari kata

ashl yang menurut bahasa, berarti sesuatu yang dijadikan dasar bagi yang lain.

Berdasarkan dari pengertian Ushul menurut bahasa tersebut, maka Ushul Fiqh

berarti sesuatu yang dijadikan dasar bagi fiqh.1

Sedangkan menurut istilah ashl dapat berarti dalil, seperti dalam

ungkapan yang dicontohkan oleh Abu Hamid Hakim: Ashl bagi diwajibkan zakat,

yaitu Al Kitab; Allah berfirman: “...... dan Tunaikanlah zakat!”

Dan dapat pula berarti qaidah kulliyah yaitu aturan atau ketentuan yang

berlaku secara universal seperti dalam ungkapan sebagai berikut: Kebolehan

makan bangkai karena terpaksa adalah penyimpangan dari ashl, yakni dari

aturan ketentuan umum, yaitu setiap bangkai adalah haram. Allah ta‟ala

berfirman “diharamkan bagimu (memakan) bangkai.............”

Dengan melihat pengertian ashl menurut istilah di atas, dapat diketahui

bahwa Ushul Fiqh sebagai rangkaian dari dua kata, berarti dalil-dalil bagi fiqh

dan aturan-aturan atau ketentuan-ketentuan umum bagi fiqh. Fiqh itu sendiri

menurut bahasa berarti faham atau tahu. Sedangkan menurut istilah, sebagaimana

dikemukakan oleh Sayyid Al-Jurjaniy, pengertian fiqh yaitu: Ilmu tentang

hukum-hukum syara' mengenai perbuatan dari dalil-dalilnya yang terperinci.

1
Misbahuddin, Ushul Fiqh (Makasar: Alauddin University Press, 2013), hlm. 24.

4
Sedangkan Ilmu Usul Fiqih adalah ilmu dengan kaidah-kaidah dan

pembahasan-pembahasan yang dapat menghasilkan hukum-hukum syariat dari

dalil-dalil yang terperinci. Objek kajian dalam Ilmu Fiqih adalah perbuatan

mukallaf (orang yang dibebani hukum) yang dinilai dalam kaca mata syariat.

Sementara objek kajian dalam Ilmu Usul Fikih adalah dalil-dalil syariat yang

dapat dijadikan sebagai landasan atas suatu hukum perbuatan.2

b. Pengertian dan Dalil Hukum Syara’

Secara etimologi kata hukum (al-hukm) berarti " mencegah " atau "

memutuskan ". Menurut terminologi Ushul Fiqh, hukum (al-hukm) berarti: Khitab

(kalam) Allah yang mengatur amal perbuatan orang berupa iqtidha (perintah,

larangan, anjuran untuk melakukan dan meninggalkan), Takhyir (kebolehan

untuk orang memilih antara melakukan dan tidak melakukan), atau Wadl

(ketentuan yang menetapkan sesuatu sebagai sebab, syarat, atau mani'

(penghalang). 3

Khitab Allah yang di maksud dalam defenisi tersebut adalah Kalam Allah.

Kalam Allah sebagai sifatnya adalah al-kalam al-nafsi (kalam yang ada pada diri

Allah) yang tidak mempunyai huruf dan suara. Kalam Allah seperti itulah yang

dimaksud hakikat hukum syara'. Kita hanya bisa mengetahui kalam nafsi itu

melalui kalam lafdzi, yaitu kalam yang mempunyai huruf dan suara yang

terbentuk dalam ayat-ayat al-Qur'an. Ayat al-Qur'an merupakan dalil (petunjuk)

kepada kalam nafsi Allah. Oleh karena yang dapat dijangkau oleh manusia

hanyalah kalam lafdzi Allah dalam bentuk ayat-ayat al-Qur’an, maka populer

2
Ahmad Sadzali, Pengantar Belajar Ushul Fikih, (Yogyakarta: (PSHI) Fakultas Hukum Universitas
Islam Indonesia, 2017). hlm. 25.
3
Ahmad Sadzali, Pengantar Belajar Ushul Fikih, (Yogyakarta: (PSHI) Fakultas Hukum Universitas
Islam Indonesia, 2017). hlm. 25.

5
dikalangan ahli-ahli Ushul Fiqh bahwa yang dimaksud dengan teks-teks ayat

adalah hukum itu sendiri yang mengatur perbuatan manusia.

Sejalan dengan hal ini, ada sebagian ulama, antara lain Abdul Karim

Zaidan, secara langsung menafsirkan pengertian khitab dalam defenisi tersebut

sebagai kalam Allah baik secara langsung seperti kalam Allah yang terdapat

dalam al-Qur’an, maupun secara tidak langsung seperti sunnah Rasulullah saw.,

ijma‟, dan dalil-dalil syara‟ lain yang dijadikan Allah sebagai dalil (petunjuk)

untuk mengetahui hukumNya. Sunnah Rasulullah saw. dianggap sebagai kalam

Allah secara langsung karena merupakan petunjuk-Nya sesuai dengan firman

Allah dalam QS. Al-Najm (53): 2-3 : “ Dan tiadalah yang diucapkannya itu (al-

Qur'an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tidak lain hanyalah

wahyu yang diwahyukan (kepadanya).”

Kedua ayat di atas menjelaskan bahwa Rasulullah saw. tidak

mengucapkan sesuatu di bidang hukum kecuali berdasarkan wahyu. Demikian

pula dengan ijma' harus mempunyai sandaran, baik al- Qur'an atau sunnah

Rasulullah saw. Sama halnya dengan itu dalil- dalil hukum lainnya tidak sah

dijadikan sebagai dasar hukum kecuali setelah diketahui adanya pengakuan dari

wahyu. Dengan demikian, khitab Allah dalam definisi hukum di atas, mencakup

semua dalil- dalil hukum yang diakui oleh syara', sehingga apa yang dimaksud

dengan khitab dalam defenisi di atas adalah ayat-ayat hukum dan hadits-hadits

hukum. Ayat-ayat atau hadits-hadits hukum dapat dikategorikan kepada beberapa

macam :

a) Perintah untuk melakukan suatu perbuatan. Perbuatan mukalaf yang

diperintahkan itu sifatnya wajib.

6
b) Larangan melakukan suatu perbuatan. Perbuatan mukalaf yang dilarang itu

sifatnya haram.

c) Anjuran untuk melakukan suatu perbuatan, dan perbuatan yang dianjurkan

itu sifatnya mandub.

d) Anjuran untuk meninggalkan suatu perbuatan, dan perbuatan yang

dianjurkan untuk ditinggalkan itu sifatnya makruh.

e) Memberi kebebasan untuk memilih antara melakukan atau tidak melakukan,

dan perbuatan yang diberi pilihan untuk dilakukan atau ditinggalkan itu

sifatnya mubah.

f) Menetapkan sesuatu sebagai sebab, syarat, mani (penghalang), kriteria sah

dan fasad/batal, serta kriteria 'azimah dan rukhsah.

Al-Qur’an dan Sunnah adalah sumber hukum Islam yang utama. Dalil

mengenai tentang hukum terdapat pada firman Allah Ta’ala pada QS. An-

Nisa;59 :

c. Pembagian Hukum Syara’

Secara garis besar para ulama Ushul Fiqh membagi hukum kepada dua

macam, yaitu hukum taklifi dan hukum wadh'i. Hukum taklifi menurut ahli Ushul

Fiqh adalah: Ketentuan-ketentuan Allah dan Rasul-Nya yang berhubungan

langsung dengan perbuatan mukalaf, baik dalam bentuk perintah, anjuran untuk

melakukan, larangan, anjuran untuk tidak melakukan, atau dalam bentuk memberi

7
kebebasan memilih untuk berbuat atau tidak berbuat. Sedangkan yang dimaksud

dengan hukum wadh'i adalah ketentuan-ketentuan hukum yang mengatur tentang

sebab, syarat dan mani' (sesuatu yang menjadi penghalang kecakapan untuk

melakukan taklifi)

Dengan mengemukakan batasan dari dua macam hukum tersebut dapat

diketahui perbedaan antara keduanya. Ada dua perbedaan mendasar antara dua

macam hukum tersebut :

a) Hukum taklifi adalah hukum yang mengandung perintah, larangan, atau

memberi pilihan terhadap seorang mukalaf, sedangkan hukum wadh'i

berupa penjelasan hubungan suatu peristiwa dengan hukum taklifi.

Misalnya, hukum taklifi menjelaskan bahwa shalat wajib dilaksanakan

umat Islam, dan hukum wadh'i menjelaskan bahwa waktu matahari

tergelincir di tengan hari menjadi sebab tanda bagi wajibnya seseorang

menunaikan shalat zuhur.

b) Hukum taklifi dalam berbagai macamnya selalu berada dalam batas

kemampuan seorang mukalaf. Sedangkan hukum wadh'i sebagaimana ada

yang di luar kemampuan manusia dan bukan merupakan aktifitas manusia.

Misalnya seperti dalam contoh di atas tadi, keadaan tergelincir matahari

bukan dalam kemampuan manusia dan bukan merupakan aktifitasnya.

Hubungannya dengan perbuatannya hanyalah karena Allah menjadikannya

(tergelincir matahari) sebagai tanda bagi masuknya waktu shalat zuhur.

Teks ayat hukum dan hadits hukum yang berhubungan dengan hukum

taklifi terbagi kepada lima bentuk.

8
1) Ijab (mewajibkan), yaitu ayat atau hadits dalam bentuk perintah yang

mengharuskan untuk melakukan suatu perbuatan. Misalnya ayat yang

memerintahkan untuk melakukan shalat dan menunaikan zakat.

2) Nadb (anjuran untuk melakukan), yaitu ayat atau hadits yang

menganjurkan untuk melakukan suatu perbuatan.

3) Tahrim (melarang), yaitu ayat atau hadits yang melarang secara pasti

untuk meninggalkan suatu perbuatan.

4) Karahah, yaitu ayat atau hadits yang menganjurkan untuk

meninggalkan suatu perbuatan.

5) Ibahah, yaitu ayat atau hadits yang memberi pilihan seseorang untuk

melakukan atau meninggalkan suatu perbuatan.

Pembagian tersebut di atas adalah hukum dilihat sebagai dalil hukum.

Selanjutnya dalam membicarakan pembagian hukum taklifi ini, istilah hukum

digunakan kepada sifat perbuatan mukalaf. Dari sisi ini hukum taklifi, seperti

dikemukakan Abdul Wahhab Khallaf, terbagi kepada lima macam, yaitu: a)

wajib; b) mandub/sunnah; c) haram; d) makruh; dan e) mubah. Dasar

pembagian tersebut adalah bahwa ketentuan Allah dan RasulNya yang berupa

perintah terhadap suatu perbuatan maka perbuatan itu hukumnya wajib.

Masing-masing dari beberapa istilah hukum di atas akan dijelaskan secara

ringkas dibawah ini :

1. Wajib

Secara etimologi kata wajib berarti tetap atau pasti. Secara terminologi

seperti dikemukakan Abdul Karim Zaidan, ahli hukum Islam berkebangsaan

Irak, wajib berarti: Sesuatu yang diperintahkan (diharuskan) oleh Allah dan

9
Rasul-Nya untuk dilaksanakan oleh orang mukalaf, dan apabila dilaksanakan

akan mendapatkan pahala dari Allah, sebaliknya apabila tidak dilaksanakan

diancam dengan dosa. Wajib dapat dibagi kepada dua macam, yaitu wajib „ainy

dan wajib kifa‟iy.

(1) Wajib Aini : kewajiban yang dibedakan kepada setiap orang yang sudah

balig berakal (mukalaf) tanpa kecuali. Kewajiban seperti ini tidak bisa

gugur kecuali dilakukan sendiri. Misalnya kewajiban melaksanakan

shalat lima waktu sehari semalam, melaksanakan puasa di bulan

Ramadhan dan melaksanakan haji bagi siapa yang mampu.

(2) Wajib Kifa‟i (Wajib Kifayah) : kewajiban yang dibebankan kepada

seluruh mukalaf, namun bilamana telah dilaksanakan oleh sebagian umat

Islam maka kewajiban itu sudah dianggap terpenuhi sehingga orang yang

tidak ikut melaksanakannya tidak diwajibkan mengerjakannya. Misalnya,

pelaksanaan shalat jenazah adalah kewajiban seluruh umat Islam, tetapi

sudah dianggap mencukupi bilamana tidak seorangpun ada yang

mengerjakannya maka seluruh umat Islam diancam dengan dosa.

Demikian pula dengan kewajiban melakukan amar ma’ruf dan nahi

munkar, menjawab salam, belajar ilmu kedokteran, dan belajar ilmu

bangunan dan penanggulangan kemiskinan.

2. Mandub/Sunnah

Kata mandub dari segi bahasa berarti “sesuatu yang dianjurkan”.

Sedangkan menurut istilah, seperti dikemukakan Abdul Karim Zaidan, adalah

suatu perbuatan yang dianjurkan oleh Allah dan Rasul-Nya, di mana akan

diberikan pahala orang yang melaksanakannya, namun tidak dicela orang yang

tidak melaksanakannya. Mandub disebut juga sunnah, nafilah, mustahab,

10
tathawwu‟, ihsan dan adilah. Istilah-Istilah tersebut menunjukkan pengertian

yang sama. Seperti dikemukakan Abdul-Karim Zaidan, mandub terbagi

kepada beberapa tingkatan:

(1) Sunnah Muakkadah (sunnah yang sangat dianjurkan), yaitu perbuatan

yang dibiasakan oleh Rasulullah dan jarang ditinggalkannya. Misalnya,

shalat sunah dua raka’at sebelum fajar.

(2) Sunnah ghair al-Muakkaddah (sunnah biasa), yaitu sesuatu yang

dilakukan Rasulullah saw., namun bukan menjadi kebiasaannya. Misalnya,

melakukan shalat sunah dua kali dua raka’at sebelum shalat zuhur, dan

seperti memberikan sedekah sunah kepada orang yang tidak dalam keadaan

terdesak. Jika dalam keadaan terdesak, maka hukum membantunya adalah

wajib.

(3) Sunnah al-Zawaid, yaitu mengikuti kebiasaan sehari-hari Rasulullah

sebagai manusia. Misalnya, sopan santunnya dalam makan, minum, dan

tidur. Mengikuti Rasulullah saw. dalam masalah-masalah tersebut hukumnya

sunnah, namun tingkatannya di bawah dua macam sunnah yang disebut

pertama tadi.

3. Haram

Kata haram secara etimologi berarti “ sesuatu yang dilarang

mengerjakannya ”. Secara terminologi Ushul Fiqh kata haram berarti sesuatu

yang dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya, dimana orang yang melanggarnya

dianggap durhaka dan diancam dengan dosa, dan orang yang

meninggalkannya karena menaati Allah, diberi pahala. Para ulama Ushul Fiqh,

11
antara lain Abdul Karim Zaidan membagi haram kepada beberapa macam,

yaitu:

(1) Al-Muharram li Dzatihi, yaitu sesuatu yang diharamkan oleh syariat

karena esensinya mengandung kemudaratan bagi kehidupan manusia,

dan kemudharatan itu tidak bisa terpisah dari [Link], larangan

berzina seperti dalam firman Allah QS. Al-Isra (17): 32: “ Dan

janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu

perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.”

(2) Al-Muharram li Ghairihi, yaitu sesuatu yang dilarang bukan disebabkan

oleh esensinya karena secara esensial tidak mengandung kemudaratan,

namun dalam kondisi tertentu, sesuatu itu dilarang karena ada

pertimbangan eksternal yang akan membawa kepada sesuatu yang

dilarang secara esensial. Misalnya, larangan melakukan jual beli pada

waktu azan shalat Jum’at sebagaimana firman Allah QS. Al-Jumuah

(9) : “ Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan

shalat Jum'at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan

tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu

mengetahui.” Jual beli bilamana dilihat kepada esensinya adalah

dibolehkan, tetapi ada larangan melakukannya pada waktu azan jum‟at

karena akan melalaikan seseorang dari memenuhi panggilan Allah

(shalat jum’at). Ketentuan yang berlaku dalam hal ini, seperti

dikemukakan Muhammad Abu Zahrah adalah bahwa larangan seperti

itu bilamana dilanggar dan dilaksanakan juga, maka perbuatan itu

adalah sah. Jual beli waktu azan Jum’at adalah sah sebagai sebab

12
perpindahan milik dari penjual kepada pembeli, namun pelakunya

berdosa di sisi Allah.

4. Makruh

Secara bahasa kata makruh berarti “ sesuatu yang dibenci ”. Dalam

istilah Ushul Fiqh kata makruh, menurut mayoritas ulama Ushul Fiqh, berarti

sesuatu yang dianjurkan syariat untuk meninggalkannya, di mana ketentuan

tersebut ditinggalkan akan mendapat pujian dan apabila dilanggar tidak

berdosa. Misalnya, seperti di kemukakan Wahbah az-Zahaili, dalam Mazhab

Hanbali ditegaskan makruh hukumnya berkumur dan memasukkan air ke

hidung secara berlebihan ketika akan berwudhu di siang hari Ramadhan

karena dikhawatirkan air akan masuk ke rongga kerokongan dan tertelan.

Menurut kalangan Hanafiyah, makruh terbagi kepada dua macam:

(1) Makruh Tahrim, yaitu sesuatu yang dilarang oleh syariat, tetapi

dalil yang melarang itu bersifat zhanni al-wurud (kebenaran

datangnya dari Rasulullah saw. hanya sampai ke dugaan keras),

tidak bersifat pasti. Misalnya, larangan meminang wanita yang

sedang dalam pinangan orang lain dan larangan membeli sesuatu

yang sedang dalam tawaran orang lain sebagaimana dalam sabda

Nabi: “ Dari Ibnu Umar ra. Dia berkata bahwa Nabi SAW.

Melarang untuk membeli suatu barang yang masih dalam

tawaran orang lain dan melarang seseorang untuk meminang

seorang wanita yang ada dalam pinangan orang lain sampai

mendapatkan izin atau telah ditinggalkannya.”

(2) Makruh Tanzih, yaitu sesuatu yang dianjurkan oleh syariat untuk

meniggalkannya, Misalnya, memakan daging kuda dan meminum

13
susunya pada waktu sangat butuh diwaktu perang. Menurut

sebagian kalangan Hanafiyah, pada dasarnya memakan daging

kuda hukumnya haram karena ada larangan memakannya

berdasarkan hadits riwayat Daruquthni. Namun ketika sangat

butuh waktu perang dibenarkan memakannya meskipun dianggap

makruh.

5. Mubah

Secara bahasa kata mubah berarti " sesuatu yang dibolehkan atau

diizinkan ". Menurut istilah Ushul Fiqh, seperti dikemukakan oleh Abdul

Karim Zaidan, berarti: Yaitu sesuatu yang diberi pilih oleh syariat apakah

seorang mukalaf akan melakukannya atau tidak melakukannya, dan tidak ada

hubungannya dengan dosa atau pahala

Misalnya, ketika ada cekcok yang berkepanjangan dalam rumah tangga

dan dikhawatirkan tidak lagi akan dapat hidup bersama, maka boleh (mubah)

bagi seorang istri membayar sejumlah uang kepada suami agar suaminya itu

menceraikannya, sesuai dengan petunjuk Allah dalam firman-Nya pada QS.

Al-Baqarah: 229 ; “ Jika kamu khawatir bahwa keduanya (suami isteri) tidak

dapat menjalankan hukum-hukum Allah, Maka tidak ada dosa atas keduanya

tentang bayaran yang diberikan oleh isteri untuk menebus dirinya. Itulah

hukum-hukum Allah, Maka janganlah kamu melanggarnya. barangsiapa yang

melanggar hukum-hukum Allah mereka Itulah orang-orang yang zalim. ”

Istilah mubah, menurut Abu Zahrah, sama pengertiannya dengan halal

atau jaiz. Abu Ishaq al-Syathibi dalam kitabnya al-Muwafaqat fi Ushul

alSyariah membagi mubah kepada tiga macam:

14
1) Mubah yang berfungsi untuk mengantarkan seseorang kepada sesuatu

hal yang wajib dilakukan. Misalnya makan dan minum adalah sesuatu

yang mubah, namun berfungsi untuk mengantarkan seseorang sampai

ia mengerjakan kewajiban-kewajiban yang dibebankan kepadanya

seperti shalat dan berusaha mencari rizki. Mubah seperti ini, demikian

Abu Ishaq al-Syathibi menjelaskan, hanya dianggap mubah dalam

memilih makanan halal mana yang akan dimakan dan diminum. Akan

tetapi, seseorang tidak diberi kebebasan untuk memilih makan atau

tidak makan, karena meninggalkan makan sama sekali dalam hal ini

membahayakan dirinya.

2) Sesuatu baru dianggap mubah hukumnya dilakukan sekali-sekali,

tetapi haram hukumnya bila dilakukan setiap waktu. Misalnya,

bermain dan mendengar nyanyian hukumnya adalah mubah bila

dilakukan sekali-sekali, tetapi haram hukumnya menghabiskan waktu

hanya untuk bermain dan mendengar nyanyian.

3) Sesuatu yang mubah yang berfungsi sebagai sarana untuk mencapai

sesuatu yang mubah pula. Misalnya, membeli perabot rumah untuk

kepentingan kesenangan, hidup senang hukumnya adalah mubah, dan

untuk mencapai kesenangan itu memerlukan seperangkat persyaratan

yang menurut esensinya harus bersifat mubah pula, karena untuk

mencapai sesuatu yang mubah tidak layak dengan menggunakan

sesuatu yang dilarang.

15
d. Syarat - Syarat Hukum

Syarat-syarat Al-Hukm yang bisa diterima oleh hukum Islam adalah yaitu 4 :

1) Tidak ada dalil yang khusus untuk kasus tersebut baik dalam Al-Qur’an

dan Sunnah.

2) Pemakaiannya tidak mengakibatkan di kesampingkannya nash syari’ah

termasuk juga tidak mengakibatkan kemafsadatan, kesempitan, dan

kesulitan.

3) Telah berlaku secara umum dalam arti bukan hanya yang biasa dilakukan

oleh beberapa saja.

e. Subjek dan Objek Hukum

Subjek hukum dalam hal ini adalah mukallaf. Orang mukallaf adalah

orang yang telah dianggap mampu bertindak melaksanakan hukum baik yang

berhubungan dengan perintah Allah SWT maupun dengan larangan-Nya. Seluruh

tindakan mukallaf harus dipertanggungjawabkan5. Setiap perbuatannya akan

mendapatkan ganjaran dan mengandung konsekuensi. Misalnya, jika ia

mengerjakan kewajiban maka akan mendapat pahala, dan jika meninggalkannya

akan berdosa. Orang yang menjadi mukallaf pada dasarnya harus berakal dan

mampu memahami. Sebab asas dari pembebanan hukum (taklif), menurut Abu

Zuhroh, adalah akal dan pemahaman. Pembebanan hukum (taklif) pada dasarnya

adalah penetapan hukum. Dan penetapan hukum kepada orang yang tidak

memiliki akal ataupun tidak paham akan hukum tersebut adalah sesuatu yang

mustahil.

4
Djazuli, A. Ilmu Fiqh: Penggalian, Perkembangan, dan Penerapan Hukum Islam, (Kencana Prenada
Media Group, 2005)
5
Ahmad Sadzali, Pengantar Belajar Ilmu Fikih, (Yogyakarta: (PSHI) Fakultas Hukum Universitas
Islam Indonesia, 2017). hlm. 30.

16
Dengan demikian, orang yang tidak atau belum berakal, seperti orang gila

dan anak kecil tidak dikategorikan sebagai mukallaf. Karena mereka tidak atau

belum berakal, maka mereka dianggap tidak bisa memahami taklif dari Allah

SWT. Akan tetapi menurut Abu Zuhroh, meski orang gila dan anak kecil masih

tidak dianggap mukallaf, namun mereka masih dibebani beberapa perkara yang

berkaitan dengan harta. Misalnya, mayoritas ulama berpendapat bahwa mereka

masih dikenakan kewajiban zakat. Atau jika mereka merusak suatu barang orang

lain, mereka wajib menggantinya.

Selain itu, yang juga tidak termasuk ke dalam kategori mukallaf adalah

orang yang dalam keadaan tidur, mabuk dan lupa. Orang sedang tidur, mabuk dan

lupa, tidak dikenai taklif karena ia dalam keadaan tidak sadar (hilang akal). Taklif

kepada mereka akan berlaku kembali ketika mereka sudah sadar atau akalnya

sudah kembali lagi.

Adapun objek hukum syariat adalah perbuatan mukallaf yang terkait

dengan hukum-hukum syariat diatas. Setiap hukum syariat pasti akan

bersinggungan dengan perbuatan mukallaf dari tiga sisi, yaitu permintaan, pilihan

atau larangan. Syarat-syarat pembebanan terhadap mukallaf adalah 6:

1. Harus diketahui mukallaf hingga ia bisa mengerjakannya.

2. Harus diketahui bahwa pembebanan tersebut bersumber dari Allah Ta’ala

sebagai Hakim.

3. Perbuatan mukallaf yang dibebankan tersebut.

6
Ahmad Sadzali, Pengantar Belajar Ilmu Fikih, (Yogyakarta: (PSHI) Fakultas Hukum Universitas
Islam Indonesia, 2017). hlm. 29.

17
B. Al Hakim

a. Definisi dan Dalil Al Hakim

Secara hakikat hakim adalah Allah Ta’ala. Semata, tidak ada yang lain.

Para utusan Allah hanya sekedar menyampaikan risalah dan hukum-hukumnya

saja. Mereka semua tidak menciptakan atau menetapkan hukum. Sementara para

mujtahid cuma sekedar menyingkap tabir-tabir hukum. Mereka juga bukan

pencipta hukum syariat, sekalipun secara adat mereka juga terkadang disebut

hakim 7. Dalam masalah hakim ini seluruh ulama menyepakati konsep di atas.

Terbukti, mereka juga sepakat memaknai hukum sebagai khitabullah bukan khitab

ar-Rusul atau khitab al-Mujtahidin.

Kata hakim secara etimologi berarti orang yanng memutuskan hukum.

Dalam istilah fikih kata hakim juga dipakai sebagai orang yang memutuskan

hukum di pengadilan yang sama maknanya dengan qadi. Dalam kajian usul fikih

kata hakim di sini berarti pihak penentu dan pembuat hukum syari’at secara

hakiki. Ulama usul fikih sepakat bahwa yang menjadi sumber atau pembuat hakiki

dari hukum syari’at adalah Allah 8. Hal itu ditunjukkan oleh al-Qur’an dalam Surat

al-An’am ayat 57 :

“ Katakanlah (Muhammad), “Aku (berada) di atas keterangan yang nyata

(Al-Qur'an) dari Tuhanku sedang kamu mendustakannya. Bukanlah

kewenanganku (untuk menurunkan azab) yang kamu tuntut untuk disegerakan

7
Abdullah Yusuf al-Juda’i, 1997: 71).
8
Khisni, Epistemologi Hukum Islam. (Semarang: UNISSULA PRESS.)

18
kedatangannya. Menetapkan (hukum itu) hanyalah hak Allah. Dia

menerangkan kebenaran dan Dia pemberi keputusan yang terbaik.”

Meskipun para ulama usul fikih sepakat bahwa pembuat hukum hanya

Allah, namun mereka berbeda pendapat dalam masalah apakah hukum-hukum

yang dibuat Allah hanya dapat diketahui dengan turunnya wahyu dan datangnya

Rasulullah, atau akal secara independen bisa juga mengetahuinya. Sedangkan

menurut undang-undang Republik Indonesia nomor 48 tahun 2009 tentang

Kekuasaan Kehakiman bahwa yang dimaksud dengan hakim adalah hakim pada

Mahkamah Agung dan hakim pada badan peradilan yang berada di bawahnya

dalam lingkungan peradilan umum, lingkungan peradilan agama, lingkungan

peradilan militer, lingkungan peradilan tata usaha negara, dan hakim pada

pengadilan khusus yang berada dalam lingkungan peradilan tersebut 9.

b. Syarat – Syarat Al Hakim

Kekuasaan kehakiman itu tidak hanya mengandung pengertian otoritas

hukum tetapi juga kewajiban hukum yang merupakan kekuasaan yang melekat

pada hakim dan pengadilan untuk melaksanakan fungsi pemerintahan berupa

mengadili dan memutus (adjudication). Dari ulama ushul fiqh mendefinisikan

hukum sebagai titah Allah SWT yang berkaitan dengan perbuatan orang mukallaf,

baik berupa tuntutan, pemilihan maupun wadhi. Dalam hal ini tidak ada

perbedaan, yang mengatakan bahwa hakim adalah Allah SWT.

Yang dibedakan oleh para ulama dalam hal ini hanya tentang mengetahui

hukum Allah SWT. Tentang perbedaan ini Mayoritas Ulama Ahlusunnah wal

Jamaah dan Mazhab al-Asy’Ariah mengatakan : Bahwa satu-satunya yang dapat

mengenalkan hukum Allah kepada manusia adalah Rasul atau utusan Allah

9
Undang-Undang RI No 48 tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman.

19
melalui wahyu yang diturunkan Allah kepadanya. Perbedaan ulama dalam hal ini

hanya berkisar tentang hukum Allah yang berkaitan dengan perbuatan orang

mukallaf, apakah akal dengan sendirinya mampu mengetahui hukum-hukum

tersebut ataukah perlu perantara para rasul untuk dapat mengetahuinya.

Terkait perbedaan ini, Abdul wahab khallaf membagi menjadi tiga

kelompok 10.

a) Mazhab Asy’ariyah, pengikut Abu Hasan al-Asy’ari yang menyatakan

bahwa akal dengan sendirinya tidak akan mampu mengetahui hukum-

hukum allah tanpa mediasi para rasul dan kitab-kitabnya. Kelompok ini

berargumen bahwa yang disebut dengan kebaikan adalah sesuatu yang

telah ditunjukkan oleh syari’ bahwa hal itu memang baik. Sementara

kejelekan adalah sesuatu yang ditunjukkan oleh syari’ bahwa hal itu

memang jelek. Kebaikan dan keburukan tidak dapat ditentukan oleh

penalaran akal semata.

b) Mazhab Mu’tazilah, yakni para pengikut Washil bin Atha’ yang

menyatakan bahwa dengan sendirinya akal mampu mengetahui hukum-

hukum Allah tanpa melalui perantara rasul atau kitab. Mereka berhujjah

bahwa sesuatu itu dikatakan baik ketika akal memandang hal itu baik.

Sebaliknya sesuatu itu dipandang jelek ketika akal memang menganggap

jelek.

c) Mazhab Maturidiyah, pengikut Abu Mansur al-Maturidi, mazhab ini

menurut Khallaf adalah mazhab penengah dan dianggap sebagai pendapat

yang lebih kuat. Mazhab ini menyatakan bahwa memang akal sehat itu

mampu menilai mana yang baik dan mana yang dianggap buruk. Namun,

10
Jurnal Al-Madãris, Hukum, Hakim, Mahkum Fih dan Mahkum „Alaih (Studi Pemahaman Dasar
Hukum Islam), Volume 2 (1), 2021, hlm. 85.

20
tidak secara otomatis akal mampu menentukan hukum-hukum Allah,

sebab kerja akal itu terbatas dan terkadang kerja akal itu berbeda satu

sama lain dalam menilai suatu perbuatan. Oleh karena itulah, dalam

menentukan hukum-hukum Allah tetap diperlukan adanya perantara

utusan dan kitab-kitabnya, (Wahab Khallaf,: 97-99).Pada akhirnya apa

yang dipegangi oleh mazhab ini sama dengan pendapat mazhab

Asy’ariyah yang tetap menyatakan bahwa untuk mengetahui hukum

Allah diperlukan adanya perantara.

Terkait perbedaan para ulama di atas, salah satu syarat utama seorang

mukallaf haruslah ia memiliki akal sehat. Ia dituntut untuk melaksanakan

perbuatan yang dianggap baik oleh akal sehatnya dan dituntut meninggalkan

perbuatan yang dianggap buruk menurut akal sehatnya pula. Ini merupakan

apresiasi yang luar biasa besar terhadap anugerah akal yang diberikan oleh Tuhan.

Akan tetapi dalam menggunakan akal haruslah tetap pada berpegang atau

berpedoman pada sumber hukum islam yang utama yaitu Al-Qur’an dan Hadits.

C. Hubungan Hukum dan Al Hakim

Hukum menurut KBBI adalah peraturan atau adat yang secara resmi dianggap

mengikat dan dikukuhkan oleh penguasa untuk mengatur kehidupan masyarakat.

Patokan (kaidah, ketentuan) Keputusan (pertimbangan) yang ditentukan oleh

hakim. Hakim adalah orang yang mengadili perkara. Dalam setiap perkara akan

dilihat, diakui atau dibenarkan telah terjadi peristiwa tersebut. Hakim melakukan

pembuktian dengan alat-alat bukti dalam mendapatkan kepastian peristiwa

tersebut dikualifisir termasuk dalam hubungan hukum apa atau yang mana.

Hakim akan mencari ketentuan-ketentuan yang dapat diterapkan pada

peristiwa hukum yang bersangkutan. Jadi, Hakim akan menerapkan hukum

21
terhadap peristiwa dan menilainya serta pada gilirannya menetapkan hukumnya

kepada peristiwa yang bersangkutan, barang tentu ia memberikan keadilan sesuai

dengan penilaiannya. Peran Hakim dalam menerapkan hukum yaitu 11:

a) Sebagai pelaksana kekuasaan kehakiman, hakim berwenang menetukan

hukum dan keadilan bagi setiap individu yang berperkara.

b) Hakim harus memberikan keadilan kepada setiap pihak dan proses

penyelesaiannya tidak memihak.

c) Budaya masyarakat cenderung menolak putusan (perdata) dan pelaksanaan

putusan (eksekusi) memerlukan upaya paksa.

11
[Link]
hakim&catid=101&Itemid=328, , diunduh Minggu 26 Februari 2023 pukul 10.27.

22
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Hukm menurut ushul fiqh adalah yang mengatur amal perbuatan orang berupa iqtidha,

atau wadl. Sedangkan kata hakim di sini berarti pihak penentu dan pembuat hukum syari’at

secara hakiki. Pembagian hukum syara’ terdiri dari hukum Takfili dan hukum Wad’i. Hukum

takfili terbagi, yaitu: a) wajib; b) mandub/sunnah; c) haram; d) makruh; dan e) mubah.

Perbedaan pandangan terkait Al Hakim, yaitu a) Mazhab Asy’ariyah, b) Mazhab

Mu’tazilah, c) Mazhab Maturidiyah. Terkait perbedaan para ulama tersebut, salah satu syarat

utama seorang mukallaf haruslah ia memiliki akal sehat. Akan tetapi dalam menggunakan

akal haruslah tetap pada berpegang atau berpedoman pada sumber hukum Islam yang utama

yaitu Al-Qur’an dan Hadits.

Hukum dan Al Hakim saling berkaitan, karena hukum adalah suatu peraturan yang

mengatur atau sebagai pedoman kehidupan, sedangkan hakim adalah orang yang mengadili

perkara. Pembuat hukum adalah Allah Ta’ala karena Dia menciptakan manusia dan yang

menetapkan aturan-aturan bagi kehidupan manusia, baik hubungannya dengan kepentingan

hidup dunia maupun di akhirat, hubungan manusia dengan Allah serta manusia dengan

manusia dan alam sekitarnya.

B. Saran

Kami menyadari bahwa masih banyak kekurangan yang kami miliki, baik dari tulisan

maupun penyampaian yang kami sajikan. Oleh karena itu, kami mengharapkan kritik dan

saran yang membangun, agar kami dapat membuat makalah lebih baik lagi ke depannya, dan

semoga makalah ini dapat bermanfaat dan menambah wawasan bagi penulis maupun

pembaca.

23
DAFTAR PUSTAKA

Adhari, Iendy Zelvian, dkk. 2021. Struktur Konseptual Ushul Fiqh. Bandung: Widina

Bhakti Persada.

Aziz, Muhammad. 2020. Ushul Fikih Kelas XII MA Peminatan Keagaamaan Cetakan Ke-1.

Jakarta: Direktorat KSKK Madrasah.

Basri, Rusdaya. 2019. Ushul fikih I. Pare Pare: IAIN Pare Pare Nusantara Press.

Effendi, Satria. 2005. Ushul Fiqh Edisi Pertama Cetakan Ke-7. Jakarta: Prenadamedia

Group.

Harisudin, Noor. 2019. Pengantar Ilmu Fiqih. Surabaya: CV. Salsabila Putra Pratama.

[Link]

eranan-hakim&catid=101&Itemid=328, diunduh Minggu 26 Februari 2023 pukul

10.27.

Isnu , Cut, Ali. 2021. “ Hukum, Hakim, Mahkum Fih dan Mahkum Alaih (Studi Pemahaman

Dasar Ilmu Hukum Islam) ”. Jurnal Al- Madaris, Vol. 2, No. 1.

Julita, Asmuni, Tuti Anggraini. “ Signifikansi Al-Hukm, Al- Hakim, Al Mahkum Fih, Dan Al

Mahkum Alaih”. Universitas Islam Negeri Sumatera Utara.

Mawanto, Agus. 2019. Ushul Fiqh: Metode Ijtihad Hukum Islam. Yogyakarta: UNIMMA

Press.

Misbahuddin. 2013. Ushul Fiqh I. Makassar: Alauddin University Press.

Sadzali, Ahmad. 2017. Pengantar Belajar Usul Fikih. Yogyakarta: Pusat Studi Hukum

Islam (PSHI) Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia.

Sanusi, Ahmad, Sohari. 2015. Ushul Fiqh Cetakan Ke-1. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada.

24

Common questions

Didukung oleh AI

Wajib adalah kewajiban yang harus dilakukan oleh mukallaf dan meninggalkannya berdosa, seperti shalat lima waktu. Sunnah adalah tindakan yang dianjurkan namun tidak wajib, sehingga pelaksanaannya diberi pahala tetapi tanpa dosa jika ditinggalkan, seperti sunnah muakkadah. Makruh adalah perbuatan yang sebaiknya dihindarkan, namun tidak berdosa jika dilakukan. Perbedaan ini membedakan antara keharusan, anjuran, dan rekomendasi, yang mempengaruhi bagaimana seorang mukallaf memprioritaskan tindakan dalam pelaksanaan hukum Islam .

Peran akal dalam memahami hukum Allah diakui bervariasi antara mazhab Asy’ariyah dan Mu’tazilah. Mazhab Asy’ariyah lebih menekankan kewajiban mengikuti wahyu langsung, sedangkan Mu’tazilah menilai bahwa akal memiliki peran penting dalam mengenali kebaikan dan keburukan serta mendukung kebebasan manusia. Namun, keduanya sepakat bahwa akal harus berpedoman pada Al-Qur’an dan Hadits untuk memberikan panduan hukum yang sahih, dengan perbedaan peran akal ini mempengaruhi penafsiran dan pendekatan masing-masing mazhab terhadap isu-isu hukum tertentu .

Peran hakim dalam penerapan hukum Islam adalah sebagai pelaksana hukum syara' dan penegak keadilan. Hakim menentukan hukum berdasarkan bukti-bukti dan kaidah yang ada untuk menyelesaikan sengketa dan memberikan keputusan yang adil. Perannya mempengaruhi pemahaman dan pelaksanaan hukum syara' dengan menafsirkan hukum dalam konteks-konteks spesifik yang dapat mempengaruhi keputusan yang adil dan sesuai dengan prinsip-prinsip syariat .

Alokasi beban hukum dalam hukum syara', sesuai ushul fiqh, mencakup kewajiban individu (wajib aini) dan kewajiban kolektif (wajib kifai). Kewajiban individu harus dipenuhi secara personal oleh setiap mukallaf tanpa pengecualian, sedangkan kewajiban kolektif dapat terpenuhi bila sebagian komunitas telah menjalankannya, seperti tugas sosial dalam ibadah atau keadaan tertentu. Konsep ini menggarisbawahi peran personal dalam memenuhi perintah agama dan tanggung jawab komunal untuk memastikan perintah tersebut tetap dilakukan demi menjaga kesejahteraan kolektif .

Hukum syara' dibagi menjadi hukum taklifi dan hukum wadh'i. Hukum taklifi mencakup perintah, larangan, dan pilihan, seperti wajib, haram, dan mubah. Sedangkan hukum wadh'i menetapkan sebab, syarat, dan halangan, yang meliputi hubungan antara hukum taklifi dan peristiwa yang membuat hukum tersebut berlaku. Pembagian ini membantu memahami perilaku manusia dalam kerangka tanggung jawab individual dan sosial dalam agama Islam dengan memberikan kerangka kapan dan bagaimana tindakan harus dilakukan atau dihindari .

Wajib aini adalah kewajiban yang harus dipenuhi oleh setiap individu mukallaf, tanpa kecuali, seperti shalat lima waktu yang harus dikerjakan oleh setiap individu yang mampu. Sementara itu, wajib kifai adalah kewajiban kolektif yang dianggap terpenuhi jika dilaksanakan oleh sebagian komunitas, seperti shalat jenazah. Perbedaan ini menuntut tanggung jawab individu pada kewajiban aini, sementara wajib kifai memberikan beban sosial yang jika tidak dilakukan oleh siapapun dapat menjadikan semua bertanggung jawab .

Dalam ushul fiqh, hukum adalah aturan yang mengatur tindakan mukallaf, sementara Al Hakim merujuk kepada Allah sebagai pembuat hukum. Hubungan ini menunjukkan bahwa semua hukum syara' adalah titah Allah yang bertujuan untuk mengatur kehidupan manusia secara menyeluruh. Perspektif ini menegaskan pentingnya kehendak Allah dalam penetapan hukum, dan memahami hukum Islam sebagai implementasi kehendak Ilahi untuk menjaga keseimbangan dan keadilan bagi umat manusia .

Menurut sumber-sumber Islam, pembuat hukum syari'at adalah Allah SWT, yang menyampaikan hukum-Nya melalui wahyu dan kitab. Pandangan mazhab Asy’ariyah menyatakan bahwa memahami hukum Allah memerlukan perantara, sedangkan Mazhab Mu’tazilah menekankan kemampuan akal manusia untuk menentukan baik atau buruknya tindakan manusia. Namun, semua mazhab sepakat bahwa penerapan akal harus tetap berpedoman pada Al-Qur’an dan Hadits sebagai sumber hukum utama .

Hukum taklifi adalah hukum yang terkait dengan perintah, larangan, atau memberi pilihan terhadap seorang mukallaf, seperti kewajiban shalat atau larangan makan daging babi. Sementara hukum wadh'i mengatur sebab, syarat, dan halangan bagi pelaksanaan hukum taklifi, seperti waktu yang menentukan kapan kewajiban shalat berlaku. Hubungannya adalah hukum wadh'i mendasari dan menjelaskan hukum taklifi dengan mengatur kondisi eksternal yang membingkai penerapan hukum taklifi tersebut .

Dalam ushul fiqh, hakim merujuk kepada otoritas yang menetapkan hukum syari'at, yang ditentukan oleh Allah. Al Hakim sebagai pembuat hukum adalah Allah SWT yang menetapkan aturan bagi kehidupan manusia. Konsep ini mengartikan bahwa semua hukum berasal dari titah Allah yang mengatur perbuatan mukallaf. Allah sebagai Al Hakim berarti tidak hanya sebagai pembuat hukum tetapi juga otoritas tertinggi dalam menentukan salah-benar dalam pelaksanaan hukum .

Anda mungkin juga menyukai