Pengaruh Faktor Terhadap Waktu Tanggap IGD
Pengaruh Faktor Terhadap Waktu Tanggap IGD
Pengaruh Pengantar Pasien, Kondisi Pasien, Dan Beban Kerja Tenaga Kesehatan IGD Terhadap Waktu
Tanggap Di IGD RSIA Bunda Aliyah Jakarta Tahun 2020
Abstrak
Response Time merupakan waktu antara dari permulaan suatu permintaan ditanggapi, waktu tanggap
yang baik yaitu 5 menit akan berdampak buruk bagi kualitas hidup pasien. Dimana faktor eksternal
dapat mempengaruhi response time perawat dan dokter diantaranya pengantar pasien, kondisi pasien,
dan beban kerja tenaga kesehatan. Tujuan penelitian untuk mengetahui apakah ada hubungan faktor-
faktor tadi dengan response time tenaga kesehatan dalam penanganan pasien gawat darurat. Sampel
diambil dengan teknik pengambilan total sampling yaitu 30 sampel. Desain penelitian yang digunakan
adalah survey analitik dengan pendekatan cross sectional dan data dikumpulkan menggunakan lembar
observasi langsung dan lembar kuesioner. Hasil penelitian uji statistic chi square didapatkan tidak
terdapat pengaruh antara pengantar pasien terhadap waktu tanggap diperoleh nilai dengan taraf
signifikansinya 0,260 (lebih besar dari 0,05), terdapat pengaruh antara kondisi pasien terhadap waktu
tanggap diperoleh nilai dengan taraf signifikansinya 0,014 (<0,05), terdapat pengaruh antara beban kerja
tenaga kesehatan IGD terhadap waktu tanggap diperoleh nilai dengan taraf signifikansinya 0,029 (<0,05)
Saran: Diharapkan bagi pihak mutu rumah sakit selalu memantau, mengevaluasi waktu tanggap
pelayanan pasien terutama yang true emergency di instalasi gawat darurat supaya waktu tanggapnya
selalu sesuai standar pelayanan minimal baik standar nasional maupun internasional.
Kata Kunci: waktu tanggap, response time, pengantar pasien, kondisi pasien, dan beban kerja tenaga
kesehatan.
Abstract
Response Time is the time between when a request is responded to, a good response time of 5 minutes
will have a negative impact on the patient's quality of life. Where external factors can affect the
response time of nurses and doctors, including patient companion, patient condition, and workload of
health workers. The aim of the study was to determine whether there was a relationship between these
factors and the response time of health workers in handling emergency patients. Samples were taken by
total sampling technique, namely 30 samples. The research design used was an analytic survey with a
cross sectional approach and the data were collected using direct observation sheets and questionnaire
sheets. The results of the chi square statistical test showed that there was no influence between the
patient's companion to the response time, the value was obtained with a significance level of 0.260
(greater than 0.05), there was an influence between the patient's condition on the response time, the
value was obtained with a significance level of 0.014 (<0.05 ), there was an influence between the
workload of health workers on the response time, the value is obtained with a significance level of 0.029
(<0.05). always in accordance with the minimum service standards both national and international
standard
[Link] 50
Jurnal Manajemen Dan Administrasi Rumah Sakit Indonesia E-ISSN: 2865-6583
Vol.5 No 1, April 2021 P-ISSN: 2865-6298
Keywords: response time, patient companion, patient condition, and workload of health workers
[Link] 51
Jurnal Manajemen Dan Administrasi Rumah Sakit Indonesia E-ISSN: 2865-6583
Vol.5 No 1, April 2021 P-ISSN: 2865-6298
Pelayanan di instalasi gawat darurat Waktu tanggap yang cepat dari petugas
tidak menggunakan sistem antrian tapi dengan kesehatan di IGD sangat meringankan pasien
sistem triase. Triase IGD adalah proses maupun keluarga memang dapat meringankan
penentuan atau seleksi pasien yang biaya pengobatan, namun pelayanan kesehatan
diprioritaskan untuk mendapat penanganan yang diberikan tenaga kesehatan kepada
terlebih dahulu di ruang Instalasi Gawat Darurat pasien haruslah sesuai dengan standar yang
(IGD) di rumah sakit. Proses penentuan ini sudah ditentukan oleh kompetensi dan
dilakukan untuk mendapatkan urutan kemampuan tenaga medis agar dapat
penanganan sesuai tingkat kegawatdaruratan menjamin dalam memberikan pelayanan
pasien, seperti kondisi cedera ringan, cedera kegawatdaruratan yang cepat dan tepat. Hal ini
berat yang bisa mengancam nyawa dalam dapat dicapai dengan meningkatkan serta
hitungan menit atau sudah meninggal. melengkapi sarana, prasarana, sumber daya
Semakin lama pelayanan di instalasi gawat manusia dan manajemen
darurat akan memperparah kondisi pasien, rumahsakit/puskesmas sesuai standar. (Wilde,
memperburuk kondisi pasien sehingga terjadi 2009 dan Soetrisno, 2013).
peningkatan mortalitas dan kecacatan lebih Keberhasilan tindakan dalam mengatasi
lanjut. Semakin parahnya kondisi pasien maka kegawatdaruratan dapat dinilai dari: 1)
akan meningkatkan biaya (cost) yang akan Pelayanan pertama pada saat terjadi
ditanggung oleh pasien. kegawatdaruratan dan dapat dikategorikan
Lama waktu tanggap di IGD (response time) terlambat apabila tindakan yang di berikan
adalah waktu dari pasien datang ke IGD sampai kepada pasien > 5 menit, 2) Petugas IGD adalah
pasien ditangani dokter atau perawat. Lama petugas yang bekerja di IGD Rumah sakit yang
waktu tanggap pasien di IGD merupakan salah telah dilatih Penanggulangan Penderita Gawat
satu indikator kualitas pelayanan di instalasi Darurat (PPGD), 3) Tindakan untuk
gawat darurat. Menurut standar yang berlaku di menyelamatkan hidup pasien jiwa yang sedang
Indonesia yaitu standar pelayanan waktu gawat darurat. (Patricia, 2013).
tangggap pasien di instalasi gawat darurat Sementara itu, faktor- faktor yang dapat
adalah ≤ 5 menit (Kepmenkes 129 tahun 2008). mempengaruhi waktu tanggap di IGD meliputi:
Waktu tanggap dapat dihitung 1) karakter pasien, 2) penempatan staf, 3)
dengan hitungan menit, namun waktu tanggap brangkar, rostul dan alat lainnya yang
dapat dipengaruhi beberapa faktor yaitu: 1) digunakan untuk memindahkan pasien ke
jumlah tenaga yang tersedia di IGD, 2) sarana ambulans atau tempat tidur) 4) petugas
dan prasarana, 3) pendidikan, dan faktor lain kesehatan, waktu ketibaan pasien, 5)
yang mendukung. Dikatakan tepat waktu pelaksanaan manajemen, 6) strategi
apabila waktu tanggap yang diperlukan dalam pemeriksaan, 7) penanganan yang dipilih, 8)
memberikan respon tidak melebihi waktu rata- masa kerja, 9) pendidikan, 10) beban kerja
rata atau standar yang sudah di tentukan. (Jordiawan, 2015, Kemenkes, 2009 dan
Pelaksanaan waktu tanggap yang memadai di Munandar, 2012).
Indonesia masih memerlukan evaluasi lebih Pada pelayanan di IGD masih sering
lanjut dan yang menjadi indikator keberhasilan dijumpai waktu tanggap pasien yang lebih dari 5
waktu tanggap penderita gawat darurat adalah menit. Berdasarkan hasil penelitian dari
kecepatan dalam memberikan pertolongan beberapa sumber referensi seperti jurnal dan
kepada pasien dalam keadaan rutin sehari-hari telaah pustaka yang peneliti peroleh
maupun sewaktu bencana serta bantuan yang menunjukkan bahwa masih ditemukan waktu
diberikan untuk menyelamatkan nyawa atau tanggap yang belum sesuai standar seperti hasil
mencegah kecacatan. (Rima, 2015, Soetrisno, penelitian di RSUP Prof. DR. R.D. Kandou
2013 dan Yuliati, 2018). Manado, dimana sebesar 54% dari total jumlah
[Link] 52
Jurnal Manajemen Dan Administrasi Rumah Sakit Indonesia E-ISSN: 2865-6583
Vol.5 No 1, April 2021 P-ISSN: 2865-6298
pasien IGD dalam periode waktu waktu dijalan Pahlawan Revolusi No. 100, Kelurahan
tanggapnya lebih dari 5 menit. Faktor yang Pondok Bambu, Kecamatan Duren Sawit Jakarta
menyebabkan waktu tanggap pasien lebih dari Timur. Rumah Sakit Ibu dan Anak Bunda Aliyah
5 menit disebabkan oleh proses administrasi merupakan rumah sakit khusus dalam
yang tidak selesai, tenaga kesehatan yang tidak menyelenggarakan kesehatan terhadap
cukup, dan pasien yang tidak ada keluarga. permasalahan ibu dan anak.
(Oliviani, 2015). Berdasarkan penelitian awal yang
Hasil penelitian lain juga menunjukkan dilakukan oleh peneliti di IGD RSIA Bunda Aliyah
beberapa faktor yang mempengaruhi waktu terhadap informan yang bekerja di IGD RSIA
tanggap yaitu karakteristik pasien (Hannibal Bunda Aliyah diperoleh data awal laporan
Pardede, 2000). Penelitian lain juga waktu tanggap yang belum sesuai standar. Dari
menunjukkan bahwa kondisi pasien yang gawat 700 pasien IGD pada bulan Juli tahun 2020,
darurat mempunyai 5 kali lebih besar untuk terdapat 89 pasien (6,25 %) yang waktu
waktu tanggap sesuai dengan standar tanggapnya lebih dari 5 menit. Menurut
dibandingkan dengan yang tidak gawat darurat. informan hal ini disebabkan antara lain jumlah
Kondisi pasien gawat darurat berkontribusi tenaga perawat yang kurang, hanya ada 12
dalam waktu tanggap sebesar 13% (Ines orang tenaga perawat dari total 16 perawat
Marianne Santoso, 2016). yang dibutuhkan di IGD. Selain itu faktor lain
Sementara penelitian lainnya yang diduga berpengaruh terhadap waktu
menyebutkan bahwa tidak terdapat hubungan tanggap di IGD RSIA Bunda Aliyah adalah masa
yang signifikan antara tingkat kegawatan kerja perawat di IGD dimana 7 dari 12 orang
pasien, keberadaan petugas yang bersiaga di perawat memiliki masa kerja dibawah 1 tahun.
triase, dan ketersediaan brankar (sarana Hal ini mungkin mempengaruhi keahlian
prasarana IGD) dengan ketepatan waktu perawat yang berdampak pada waktu tanggap
tanggap. Analisis hubungan antara keberadaan yang lebih dari 5 menit dalam menangani
petugas dan ketepatan waktu tanggap tidak pasien IGD. Kemudian ada faktor lain yang
dapat dilakukan. (Nailatulah Fadhilah, 2013). menghambat waktu pemeriksaan pasien yaitu
Ada juga hubungan masa kerja perawat dan pengantar pasien yang kurang mengetahui
beban kerja perawat dengan waktu tanggap kondisi pasien sehingga pemeriksaan
seperti penelitian yang dilakukan di IGD RS memerlukan analisa yg lebih mendalam.
Grandmed Lubuk Pakam (Tati Murni Karo-karo, Menurut sumber informan didapat juga
2020). bahwa beberapa dokter jaga IGD memerlukan
Dengan mempelajari fenomena yang waktu penanganan pasien lebih dari 5 menit,
terjadi di lapangan, melakukan studi literatur diduga dokter jaga belum cukup memiliki
dari hasil penelitian terkait waktu tanggap, dan pengalaman atau skill dalam penanganan
mempelajari teori terkait dengan faktor-faktor berbagai macam jenis kasus gawat darurat.
yang mempengaruhi waktu tanggap di IGD Selain itu turn over dokter jaga yang tinggi juga
rumah sakit, maka peneliti berpendapat bahwa diduga mempengaruhi waktu tanggap dimana
waktu tanggap (response time) adalah faktor rata-rata lama bekerja dokter jaga tersebut
yang sangat penting dalam memberikan sebagian hanya selama 6 bulan. Rata-rata
pelayanan kepada pasien di IGD rumah sakit. dokter jaga IGD tersebut adalah baru lulus
Oleh sebab, maka peneliti tertarik untuk dokter profesi (fresh graduate) dan menurut
mengetahui dan melakukan penelitian di suatu informan, faktor penggajian juga menjadi salah
rumah sakit. Peneliti merencanakan untuk satu pertimbangan tingginya turn over dokter
melakukan penelitian dengan mengambil objek jaga di IGD RSIA Bunda Aliyah.
penelitian di Rumah Sakit Ibu dan Anak Bunda Dari penelitian awal yang dilakukan oleh
Aliyah Jakarta (RSIA Bunda Aliyah) yang berada peneliti, maka faktor waktu tanggap
[Link] 53
Jurnal Manajemen Dan Administrasi Rumah Sakit Indonesia E-ISSN: 2865-6583
Vol.5 No 1, April 2021 P-ISSN: 2865-6298
penanganan pasien di IGD merupakan hal yang Karakteristik Jumlah (n) Persentase (%)
sangat penting yang harus dipenuhi oleh setiap Umur
orang yang bekerja di IGD Rumah Sakit, dimana < 35 tahun 25 83
ketentuannya sudah diatur dalam Kepmenkes > 35 tahun 5 17
129 tahun 2008. Jika waktu tanggap tersebut Jenis Kelamin
tidak dapat dipenuhi oleh IGD rumah sakit, Laki-laki 3 11,1
maka akan menimbulkan permasalahan bagi Perempuan 27 88,9
layanan rumah sakit khususnya kepada pasien Pendidikan
IGD yang akan berdampak juga kepada kualitas S1 12 40
pelayanan rumah sakit. Keperawatan 18 60
Dokter
Masa Kerja
TUJUAN PENELITIAN
< 3 tahun 21 70
Menganalisis pengaruh pengantar pasien, > 3 tahun 9 30
kondisi pasien, dan beban kerja tenaga Status Perkawinan
kesehatan terhadap waktu tanggap di IGD Kawin 12 40
Rumah Sakit Ibu dan Anak Bunda Aliyah Jakarta Tidak Kawin 18 60
tahun 2020 melalui metode pendekatan
masalah. Berdasarkan tabel 1 diatas diketahui
bahwa mayoritas umur responden adalah <
35 tahun sebanyak 83%. Berdasarkan jenis
METODE PENELITIAN kelamin sebagian besar responden berjenis
Penelitian kuantitatif dengan studi kelamin perempuan yaitu 88,9%. Kemudian
potong lintang, dengan sampel sebanyak 30 dilihat dari tingkat pendidikannya diketahui
responden. Penelitian ini dilakukan di IGD RSIA sebagian besar responden pendidikan
Bunda Aliyah Jakarta pada bulan Juli 2020 terakhirnya Kedokteran yaitu 60%. Diketahui
sampai bulan Agustus 2020. Sumber penelitian juga sebagian besar masa kerja responden <
ini menggunakan data primer yaitu hasil 3 tahun yaitu 70%. Dan siketahui bahwa
pengamatan waktu proses pasien datang ke IGD mayoritas responden tidak kawin yaitu 60%.
sampai pasien dilayani dictatat dengan alat
stopwatch dan data sekunder berupa data Tabel 2
rumah sakit, dokumen rumah sakit di IGD, SOP Frekuensi Distribusi Variabel
di IGD, daftar sarana prasarana yang ada id IGD Variabel Jumlah (n) Persentase (%)
dan jumlah serta kualifikasi sumber daya Pengantar Pasien
manusia di IGDAnalisa kuantitatif digunakan Tidak Ada 10 33,3
untuk menganalisis perhitungan waktu tanggap Ada 20 66,7
pasien di IGD dengan faktor-faktor yang Kondisi Pasien
mempengaruhinya antara lain pengantar Kurang Baik 14 46,7
pasien, kondisi pasien dan beban kerja tenaga Baik 16 53,3
kesehatan. Beban Kerja
Rendah 13 43,3
HASIL DAN PEMBAHASAN Tinggi 17 56,7
Waktu Tanggap
1. Analisis Univariat Rendah 16 53,3
Tabel 1 Tinggi 14 46,7
Frekuensi Distribusi Faktor Demografi Total 30 100
Karakteristik Jumlah (n) Persentase (%)
[Link] 54
Jurnal Manajemen Dan Administrasi Rumah Sakit Indonesia E-ISSN: 2865-6583
Vol.5 No 1, April 2021 P-ISSN: 2865-6298
3. Analisis Multivariat
Biasanya, pendampingan mengacu pada
Tabel 3 hubungan bantuan psikologis secara informal
Multivariat sebagai lawan pada hubungan bantuan
R square Nagelkerke psikologis secara formal dan profesional.
0,249 =24.9% Pendampingan bisa dihubungkan dengan sikap
0.284= 28,4% dan tindakan yang dilakukan oleh orang yang
[Link] 55
Jurnal Manajemen Dan Administrasi Rumah Sakit Indonesia E-ISSN: 2865-6583
Vol.5 No 1, April 2021 P-ISSN: 2865-6298
tidak berprofesi bantuan psikologis secara Hasil uji pengaruh secara parsial antara
penuh waktu, namun menginginkan layanannya Kondisi Pasien terhadap waktu tanggap
lebih manusiawi (Wiryasaputra, 2006) diperoleh nilai dengan taraf signifikansinya
Tugas utama seorang pendamping 0,014 (<0,05). Dengan demikian dapat
adalah membantu orang yang didampingi untuk dikatakan bahwa kondisi pasien berpengaruh
mengalami pengalamannya secara penuh dan positif dan signifikan terhadap waktu tanggap
utuh. Dengan demikian pendamping membantu Di Victoria, Australia prioritas response
orang yang didampingi merayakan suka dan time berdasarkan protokol triage yaitu Medical
duka kehidupan secara penuh dan utuh Priority Dispatch System (MPDS). MPDS adalah
(Wiryasaputra, 2006). Pendamping tidak hanya pengelompokkan menurut keluhan utama,
melakukan tindakan penyembuhan, melainkan tingkat keparahan keluhan, dan prioritas
juga pencegahan, peningkatan, pemulihan, dan pengiriman. Keluhan utama dikelompokkan ke
pemberdayaan. Sebuah layanan yang bersifat dalam lebih dari 30 prasyarat medis utama
komprehensif artinya pendamping dapat mulai dari nyeri dada sampai masalah mata.
membantu menghilangkan rasa susah, marah, Tingkat keparahan keluhan ditentukan saat
terkejut, bingung, tertekan dan putus asa. ditanyai, dan didefinisikan menggunakan lima
Kemudian pendamping dapat menolong klien kategori yang mulai dari tingkat Alpha (paling
menjadi pendamping bagi dirinya pada masa tidak serius) sampai Echo (mengancam nyawa).
depan atau menolong orang disekitarnya. Tingkat keparahan diberi label "Code 1" untuk
Pendamping juga menciptakan perubahan bagi kasus kritis, kasus kritis tapi tidak darurat diberi
klien dan lingkungannya (Wiryasaputra, 2006). label "Code 2", tidak gawat dan tidak darurat
Hasil penelitian ini senada dengan hasil diberi label "Code 3". Kasus "Priority Zero"
penelitian yang dilakukan Ines Mariane tahun digunakan untuk subklasifikasi kasus Code 1
2016 yang berjudul “Faktor-Faktor Yang dimana pasien berada dalam ancaman langsung
Mempengaruhi Waktu Tanggap Pasien Di seperti kasus jantung dan pernapasan (Nehme
Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit “X” Tahun et al. 2016).
2016” memberikan hasil faktor-faktor yang Kata triage beasal dari bahasa Prancis
tidak berhubungan dengan waktu tanggap “Trier” yang berarti membagi dalam tiga
adalah pengantar pasien, sarana prasarana, kelompok (Kartikawati. N. 2013). Sistem ini
kehadiran dokter, kebijakan surat rujukan. digunakan dalam medan pertempuran dan bila
International Jurnal, Ciufo D, Hader R, terjadi bencana untuk menentukan prioritas
and Holly C tahun 2011 mengenai “A penanganan. Triage mulai digunakan di IGD
comprehensive systematic review of visitation pada akhir tahun 1950, karena peningkatan
models in emergency units within the context of jumlah kunjungan dan menyebabkan waktu
patient- and family-centred care”, pada tunggu serta keterlambatan penanganan kasus
penelitian ini pengantar atau pendamping yang gawat.
pasien merupakan sesuatu yang berbeda untuk Dalam dunia medis triage adalah proses
pasien, keluarga, dan perawat. Pasien memiliki pengambilan keputusan yang kompleks dalam
kebutuhan untuk kenyamanan dan dukungan. rangka menentukan pasien mana yang berisiko
Selain itu pengantar bermanfaat bagi pasien meninggal, berisiko mengalami kecacatan, atau
dan keluarga. Pasien dan keluarga berisiko memburuk keadaan klinisnya apabila
menginginkan informasi yang diberikan pada tidak mendapatkan penanganan medis segera,
mereka dapat dimengerti dan mengetahui dan pasien mana yang dapat dengan aman
prognosis tentang pasien. menunggu. Berdasarkan definisi ini, proses
triage diharapkan mampu menentukan kondisi
b. Ada Pengaruh yang Signifikan antara pasien yang memang gawat darurat, dan
Kondisi Pasien terhadap Waktu Tanggap
[Link] 56
Jurnal Manajemen Dan Administrasi Rumah Sakit Indonesia E-ISSN: 2865-6583
Vol.5 No 1, April 2021 P-ISSN: 2865-6298
kondisi yang berisiko gawat darurat (Habib et al. keadaan ketika pekerja dihadapkan pada tugas
2016). yang harus diselesaikan tepat waktu.
Hasil penelitian ini sejalan dengan Menurut Riggio (dalam Purbaningrat &
penelitian yang dilakukan oleh Rima Wahyu Surya, 2015) menyatakan beban kerja adalah
Aprianti M. Naser tahun 2017 yang menyatakan tugas-tugas pekerjaan yang menjadi sumber
bahwa terdapat hubungan kondisi pasien stress seperti pekerjaan mengharuskan bekerja
dengan response time perawat dengan p = dengan cepat, menghasilkan konsentrasi dari
0,005 stress kerja, menurut Marquis dan Houston
Dalam studi Crossectional yang (2010) beban kerja perawat adalah seluruh
dilakukan Andersson, A.K., M. Omberg, dan M. kegiatan atau aktivitas yang dilakukan oleh
Svedlund (2017) dalam jurnal “Factors Related seorang perawat selama bertugas di suatu unit
To Nurse Respond Time On Handling Of pelayanan keperawatan. Workload atau beban
Emergency Patient“ membagi faktor yang kerja diartikan sebagai patient days yang
memengaruhi response time menjadi dua yaitu merujuk pada jumlah prosedur, pemeriksaan
faktor internal dan ekstarnal. Yang termasuk kunjungan (visite) pada klien.
faktor internal meliputi keterampilan perawat Hasil penelitian tentang beban kerja di
dan kapasitas pribadi, sedangkan faktor bagian pelayanan intensif Norwegia didapatkan
eksternal meliputi kondisi klinis pasien dan bahwa score aktifitas perawat 75-90% per
riwayat klinis pasien perawat (Satfseth, 2011).
Hal ini didukung oleh laporan dari Adapun hasil penelitian yang dilakukan
Canadian Institute for Health Information (CIHI) oleh Widodo dan Pratiwi (2008), menyatakan
pada tahun 2005 yang menunjukkan bahwa bahwa beban kerja perawat IGD RSU Pandan
tidak semua faktor-faktor seperti keberagaman Arang Boyolali dalam kategori tinggi. Waktu
lama rawat di IGD terkait waktu-waktu tertentu tanggap perawat gawat darurat menurut
pada hari yang sama, demikian juga jumlah persepsi pasien di IGD RSU Pandan Arang
kunjungan IGD dan tingkat keparahan kondisi Boyolali dalam kategori yang sama yaitu cepat
pasien, memiliki peranan dalam dan lambat, Ada hubungan antara beban kerja
memperpanjang waktu tunggu pasien terhadap fisik dengan waktu tanggap perawat gawat
dokter yang menanganinya pada saat registrasi darurat.
dan triase. Pada penelitian yang dilakukan oleh
widodo dan pratiwi (2008) juga menyebutkan
c. Ada Pengaruh yang Signifikan antara bahwa ada hubungan beban kerja sosial,
Beban Kerja terhadap Waktu Tanggap psikologis, dan total dengan waktu tanggap. Hal
Hasil uji pengaruh secara parsial antara ini menunjukan bahwa dapat dipertimbangkan
beban kerja terhadap waktu tanggap diperoleh beberapa faktor lain yang mempengaruhi
nilai dengan taraf signifikansinya 0,029 (<0,05). response time perawat. Seperti, lama kerja
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa beban perawat, usia, tidak seimbangnya jumlah
kerja berpengaruh positif dan signifikan perawat dengan pasien, dll.
terhadap waktu tanggap Dalam studi observasi yang dilakukan oleh
Menurut UU Kesehatan No.36 Tahun Potter & Peryy tahun 2018 dengan judul “The
2009 menyatakan bahwa beban kerja Relationship Between Workload and Respon
merupakan hasil kali antara jumlah pekerjaan Time in Emergency Department” menyatakan
dengan waktu dan besaran pekerjaan yang beban kerja berhubungan dengan respon yang
harus dipikul oleh suatu jabatan/unit organisasi. diberikan oleh perawat.
Menurut Everly dkk (dalam Putra & Prihatsanti, Jadi beban kerja dapat diartikan
2016) mengatakan bahwa beban kerja adalah kemampuan dari manusia dalam menerima
pekerjaan harus sesuai dan seimbang baik
[Link] 57
Jurnal Manajemen Dan Administrasi Rumah Sakit Indonesia E-ISSN: 2865-6583
Vol.5 No 1, April 2021 P-ISSN: 2865-6298
terhadap kemampuan fisik, kemampuan kognisi 4. Tidak terdapat pengaruh antara pengantar
maupun keterbatasan manusia yang menerima pasien terhadap waktu tanggap diperoleh
dari setiap beban kerja tersebut tanpa nilai dengan taraf signifikansinya 0,260 (lebih
membahayakan dirinya sendiri dan masyarakat besar dari 0,05)
di sekelilingnya terutama pasien yang berada di 5. Terdapat pengaruh secara parsial antara
Rumah Sakit, sehingga perlu dilakukan Kondisi Pasien terhadap waktu tanggap
penyerasian antara beban kerja, kapasitas kerja diperoleh nilai dengan taraf signifikansinya
dan lingkungan kerja utuk memperoleh 0,014 (<0,05)
produktivitas kerja yang optimal 6. Terdapat pengaruh secara parsial antara
Beban kerja adalah besaran pekerjaan beban kerja terhadap waktu tanggap
yang harus dipikul oleh suatu jabatan/unit diperoleh nilai dengan taraf signifikansinya
organisasi dan merupakan hasil kali antara 0,029 (<0,05)
volume kerja dan norma waktu. Pengertian 7. Kondisi pasien dan beban kerja dapat
beban kerja adalah sekumpulan atau sejumlah menjelaskan 28,4 % dari variabel waktu
kegiatan yang harus diselesaikan oleh suatu unit tanggap. Dan terdapat (100,0% – 28,4% =
organisasi atau pemegang jabatan dalam jangka 71,6%) 71,6% variabel atau faktor lain yang
waktu tertentu. Pengukuran beban kerja tidak diteliti dapat menjelaskan variabel
diartikan sebagai suatu teknik untuk waktu tanggap di Rumah Sakit antara lain
mendapatkan informasi tentang efisiensi dan lama kerja, pengetahuan, kompetensi
efektivitas kerja suatu unit organisasi, atau tenaga kesehatan, stress kerja dan
pemegang jabatan yang dilakukan secara lingkungan kerja.
sistematis dengan menggunakan teknik analisis
jabatan, teknik analisis beban kerja atau teknik SARAN
manajemen lainnya. Lebih lanjut dikemukakan
1. Mekanisme waktu tanggap juga dapat
pula, bahwa pengukuran beban kerja
mengurangi beban pembiayaan. Kecepatan
merupakan salah satu teknik manajemen untuk
dan ketepatan pertolongan yang diberikan
mendapatkan informasi jabatan, melalui proses
pada pasien yang memerlukan standar
penelitian dan pengkajian yang dilakukan secara
sesuai dengan kompetensi dan
analisis. Informasi jabatan tersebut
kemampuannya sehingga dapat menjamin
dimaksudkan agar dapat digunakan sebagai alat
suatu penanganan gawat darurat dengan
untuk menyempurnakan aparatur baik di
waktu tanggap yang cepat dan penanganan
bidang kelembagaan, ketatalaksanaan, dan
yang tepat. Hal ini dapat dicapai dengan
sumber daya manusia
meningkatkan sarana, prasarana, sumber
daya manusia dan manajemen rumah sakit
KESIMPULAN sesuai standar
2. Pada saat pandemic ini di Rumah sakit, triase
Berdasarkan hasil penelitian dan sudah dilakukan di Instalasi Gawat Darurat
pembahasannya, maka peneliti dapat menarik (IGD). Pasien datang dengan berbagai
suatu kesimpulan beberapa hal sebagai berikut: kondisi medis, begitu juga dengan kondisi
1. Response time tenaga kesehatan di IGD RSIA pasien yang akan dirawat inap baik pasien
Bunda Aliyah 53% dalam kategori kurang COVID-19 maupun non COVID-19 yang dapat
baik(>5 menit) berada dalam kondisi gawat darurat. Saran
2. Beban kerja tenaga kesehatan di IGD RSIA dari peneliti Gugus tugas emergensi harus
Bunda Aliyah 57% dalam kategori Tinggi diaktifkan dengan rantai komando, peran
3. Kondisi pasien di IGD RS Bunda Aliyah 53% dan tanggung jawab yang jelas, memiliki
dalam kategori Baik (Tidak Gawat darurat) wadah untuk berbagi informasi yang dapat
[Link] 58
Jurnal Manajemen Dan Administrasi Rumah Sakit Indonesia E-ISSN: 2865-6583
Vol.5 No 1, April 2021 P-ISSN: 2865-6298
[Link] 59
Jurnal Manajemen Dan Administrasi Rumah Sakit Indonesia E-ISSN: 2865-6583
Vol.5 No 1, April 2021 P-ISSN: 2865-6298
9. Nazir M, (2005), Metode Penelitian, Bogor: 17. Sanchez, dll, (2002) Analysis of patient flow
Ghalia Indonesia. in emergency department and the effect
of an extensive reorganization.
10. Noor, (2009). Faktor-Faktor Yang
Bersumber:
Mempengaruhi Response Time Pada
[Link]:[Link]
Penanganan Pasien Instalasi Gawat
[Link]/pmc/articles/PMC1726061/pdf/v0
Darurat RSUP Persahabatan. Jakarta
[Link]
11. Notoatmodjo S.,(2010) Metodelogi
18. Saryono. (2011) Metodelogi Penelitian
Penelitian Kesehatan, Jakarta: Rineka
Kesehatan. Mitra. Yogyakarta. Sugiono,
Cipta.
(2007) Metode Penelitian Kuantitatif,
12. Oliviani P, dkk. (2014). Faktor-faktor yang Kualitatif dan R&D. Penerbit: Alfabeta.
mempengaruhi waktu tunggu pasien di Bandung.
Instalasi Gawat Darurat Medik RSUP Prof.
19. Sutanto, (2006). Statistik Kesehatan.
DR. R.D Kandou Manado. Universitas Sam
Rajawali Pers: Depok.
Ratulangi Manado.
20. The Australian Council On Healthcare
13. Oscar M,Miquel, Jose. (1999) Relative
Standards (1998). Clinical indicators a
effects of internal and external factors on
user’s manual: Emergency medicine
emergency department efficiency.
indicators. The Australian College for
Bersumber: [Link] :
Emergency Medicine.
[Link]
response/2011/10/28/relative-effects- 21. Wijono D, (1999) Manajemen mutu
internal-and-external-factors-emergency- pelayanan kesehatan. Surabaya:
department-effici Airlangga.
[Link] 60
Jurnal Manajemen Dan Administrasi Rumah Sakit Indonesia E-
ISSN: 2865-6583
Vol.5 No 1, April 2021 P-
ISSN: 2865-6298
[Link] 61