Laporan Kinerja Pertanian 2021
Laporan Kinerja Pertanian 2021
TAHUN 2022
LAPORAN KINERJA
KEMENTERIAN PERTANIAN 2021
“Pertanian Yang Maju, Mandiri Dan Modern”
Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021
KATA PENGANTAR
ii
IKHTISAR EKSEKUTIF
iii
Indikator yang masuk kategori berhasil yaitu Tingkat Pemenuhan Prasarana Pertanian
Indikator, Indikator yang masuk kategori kurang berhasil yaitu Peningkatan Akses
Pangan. Indikator yang belum diperoleh hasilnya adalah nilai Reformasi Birokrasi (RB)
Kementerian Pertanian, karena sampai dengan bulan Februari 2022 belum diumumkan
atau menunggu hasil evaluasi Reformasi Birokrasi Kementerian Pertanian oleh Tim
Evaluasi RB Kementerian PAN dan RB.
Dalam upaya merealisasikan program dan kegiatan pembangunan pertanian tahun 2021,
Kementerian Pertanian memperoleh alokasi pagu APBN sebesar
Rp16.[Link],00 yang dialokasikan untuk membiayai 5 (lima) program.
Realisasi penyerapan anggaran sampai dengan 31 Desember 2021 mencapai
Rp15.[Link],00 atau 97,28%. Perencanaan dan pengalokasian anggaran yang
tepat sasaran, efektif dan efisien menjadi kunci keberhasilan dalam pengelolaan
anggaran dalam mencapai sasaran kinerja yang ditetapkan.
iv
DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL
DAFTAR GAMBAR
Gambar 25. Bantuan Pupuk Urea Non Subsidi Kepada Poktan Saka Batang, Desa
Pangkoh Hilir, Kecamatan Pandih Batu, Kab. Pulang Pisau, Prov.
Kalimantan Tengah .............................................................................101
Gambar 26. Bantuan Pupuk NPK Non Subsidi Kepada Poktan Poktan Maju
Sentosa, Desa Muda Sentosa, Kecamatan Buay Madang, Kab. Ogan
Komering Ulu Timur, Prov. Sumatera Selatan ........................................101
Gambar 27. Dokumentasi Kegiatan Unit Pengolah Pupuk Organik (UPPO) Tahun
2021 pada Poktan Mekat Asih, Desa Munjuliaya, Kecamatan
Purwarkarta, Kab. Purwakarta, Prov. Jawa Barat ...................................102
Gambar 28. Beberapa Jenis Alsintan Pascapanen .....................................................106
Gambar 29. Pemanfaatan Alsintan Panen Combine Harvester Besar ..........................108
Gambar 30. Diagram Tingkat Kemanfaatan Sarana Hortikultura Tahun 2021 ..............109
Gambar 31. Pelepasan Ekspor Komoditas Pertanian Dari 17 Pintu Utama yang
Tersebar di 17 Provinsi Indonesia .........................................................115
Gambar 32. Panen Perdana Benih Jagung Nakula Sadewa 29 Jagung Hibrida
yang Dihasilkan Tahun 2017 Oleh Gubenur Sulawesi Selatan di Desa
Unra, Kecamatan Awangpone, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan
(Sulsel) Tanggal 17 Februari 2021. .......................................................123
Gambar 33. Formula Difusi Aromaterapi Berbahan Utama Minyak Eucalyptus .............124
Gambar 34. Kit Elisa Untuk Mendeteksi Antibodi Terhadap Nucleoprotein Virus
SARS Cov-2 ........................................................................................124
Gambar 35. Kentang Varietas Golden Agrihorti ........................................................125
Gambar 36. Formulasi Feromon dan Proses Pembuatannya (Feromon-Exi) ................125
Gambar 37. Kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) Pengolahan Pasca Panen
Tanaman Porang ................................................................................126
Gambar 38. Tampilan Muka Peta Tanah ..................................................................127
Gambar 39. Tampilan Aplikasi Sebaran Teknologi pada Android ................................128
Gambar 40. Kegiatan Penyuluh Pertanian di Prov. Maluku ........................................131
Gambar 41. Kegiatan Sekolah Lapang.....................................................................132
Gambar 42. Kegiatan Sekolah Lapang Penerapan Teknologi .....................................132
Gambar 43. Kegiatan Penderasan Informasi dan Materi Penyuluhan Pertanian ...........134
Gambar 44. Kegiatan ToF Climate Smart Agriculture (CSA) (SIMURP .........................134
Gambar 45. Proses Pembentukan Kelembagaan Ekonomi Petani (KEP) ......................142
Gambar 46. Profil Kelembagaan Ekonomi Petani yang Dimuat dalam Tabloid .............145
Gambar 47. Komponen Penilaian RB Kementerian/Lembaga .....................................148
Gambar 48. Progres Evaluasi RB Kementerian Pertanian Tahun 2021 ........................149
Gambar 49. Target dan Realisasi Nilai Reformasi Birokrasi Kementerian Pertanian
Tahun 2017-2021 ...............................................................................152
Gambar 50. Capaian Kinerja Anggaran Kementerian Pertanian 2021 .........................156
Gambar 51. Nilai Kinerja Anggaran Kementerian Pertanian 2019-2021 ......................157
Gambar 52. Pemberian Anugerah Top Digital Implementation ..................................159
Gambar 53. Pemberian Anugerah Keterbukaan Informasi Publik Tahun 2021 .............160
Gambar 54. Penandatanganan Berita Acara Penyerahan Arsip Statis Kementerian
Pertanian antara Kepala ANRI dengan Sekretaris Jenderal Kementan .....160
Gambar 55. Pelestarian arsip terjaga dari Arsip Nasional Republik Inonesia dan
Penghargaan Penyelamatan dan Pelestarian Arsip Bernilai guna
Pertanggungjawaban Nasional dari ANRI dari ANRI ...............................161
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sektor Pertanian mempunyai peranan penting dalam kehidupan manusia yaitu sebagai
penyedia pangan, pakan untuk ternak, dan bioenergi. Peran sektor pertanian juga sebagai
penopang pembangunan nasional, terutama untuk mewujudkan ketahanan pangan,
penyerapan tenaga kerja dan penanggulangan kemiskinan. Peran lainnya yaitu mendorong
peningkatan daya saing melalui pertumbuhan agroindusti hilir dan memacu ekspor komoditas
pertanian untuk meningkatkan devisa negara. Tidak hanya pada masa sekarang, ke depan
sektor pertanian masih diandalkan sebagai sektor yang menyediakan kebutuhan pangan
masyarakat. Tugas penyediaan pangan masyarakat tidak ringan, karena diperkirakan
penduduk Indonesia pada tahun 2050 mencapai 330,9 juta jiwa, terbesar keenam di dunia
setelah India, Tiongkok, Nigeria, Amerika dan Pakistan (United Nations Population, 2021).
Untuk itu ketahanan pangan nasional ke depan harus tetap dijaga dengan baik.
Dalam rangka mewujudkan ketahanan pangan dalam negeri, maka sesuai UU No. 17 Tahun
2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) tahun 2005-2025 dan
Peraturan Presiden Nomor 18 Tahun 2020 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Nasional (RPJMN) Tahun 2020-2024, sektor pertanian diharapkan berkontribusi terhadap
pertumbuhan ekonomi yang berkualitas di Indonesia. Pertumbuhan ekonomi lima tahun ke
depan diharapkan meningkat sampai 5,7-6,0% per tahun, yang didorong oleh peningkatan
produktivitas, investasi berkelanjutan, perbaikan pasar tenaga kerja dan peningkatan kualitas
Sumber Daya Manusia (SDM). Pada tahun 2024, peningkatan kualitas ekonomi haruslah
tercermin dari perbaikan indikator makro ekonomi Indonesia di antaranya: inflasi yang stabil,
turunnya tingkat kemiskinan, turunnya tingkat pengangguran, turunnya tingkat rasio gini dan
meningkatnya Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Sektor pertanian memberikan kontribusi
positif terhadap pertumbuhan ekonomi pada tahun 2021. Selama tahun 2021, sektor
pertanian memberikan kontribusi pada pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 1,84 persen
yang didorong oleh produksi padi yang tumbuh 0,17%, produksi hortikultura seperti pisang
sebesar 2,89% (BPS, 2022).
Pembangunan Pertanian lima tahun ke depan dihadapkan kepada perubahan lingkungan
strategis yang dinamis baik domestik maupun internasional. Salah satu tantangan besar
pembangunan pertanian yaitu bagaimana pertumbuhan ekonomi positif yang dicapai mampu
meningkatkan pendapatan petani yang sebagian besar penguasaan lahan kurang dari 0,5
hektar (BPS, 2018). Untuk itu, peningkatan produksi komoditas pertanian dan peningkatan
daya saing produk pertanian diarahkan mampu mendongkrak Produk Domestik Bruto (PDB)
sektor pertanian yang hasilnya harus dapat dirasakan oleh petani melalui peningkatan
kesejahteraan petani.
Pembangunan tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi, tetapi bagaimana
kualitas dan distribusi ekonomi (kesejahteraannya) semakin merata. Salah satu kunci
mencapai pertumbuhan ekonomi yang berkualitas dalam 5 (lima) tahun ke depan adalah
11
12
Kementerian Pertanian yang efektif dan efisien serta anggaran yang akuntabel.
Sebagai langkah implementasinya, Kementerian Pertanian telah menetapkan tiga belas
kegiatan utama yang akan dilaksanakan pada periode 2020-2024, meliputi: (1) peningkatan
produktivitas dan produksi (indeks pertanaman/IP dan ekstensifikasi) (2) pengembangan
pangan lokal, (3) pengembangan lumbung pangan, (4) Pengembangan pertanian presisi dan
Smart Farming, (5) Percepatan Gerakan Tiga Kali Ekspor (2020-2024), (6) Peningkatan
hilirisasi/industri produk pertanian, (7) Pengembangan pertanian modern, (8) penciptaan dan
pengambangan varietas unggul, (9) penciptaan dan pengembangan inovasi teknologi
breeding, pasca panen, pengolahan dan inovasi pasar, (10) peningkatan pendidikan dan
pelatihan vokasi pertanian, (11) penguatan kapasitas kelembagaan petani, (12)
pengembangan AWR (Digitalisasi, IoT, AI, Robot Construction), dan (13) pelaksanaan
reformasi birokrasi. Kegiatan ini dilaksanakan dengan pendekatan pengembangan wilayah dan
kawasan komoditas strategis, penumbuhan dan pengembangan kelembagaan menuju
terbentuknya korporasi petani, dan sinergi antar stakeholder di pusat maupun di daerah.
Melalui berbagai upaya pelaksanaan kegiatan yang telah dilakukan seperti tersebut di atas,
terbukti telah memberikan dampak yang sangat positif, antara lain: (1) produksi padi tahun
2021 mencapai 55,27 juta ton meningkat 1,14% dari tahun 2020; (2) produksi cabai tahun
2021 mencapai 2,83 juta ton meningkat 1,82% dari tahun 2020, (3) produksi bawang merah
tahun 2021 mencapai 1,94 juta ton meningkat 7,02% dari tahun 2020, dan (4) produksi aneka
daging tahun 2021 mencapai 4,4 juta ton meningkat 5,59%. Capaian produksi Tahun 2021
dapat dilihat pada Gambar 1.
7.000 8,00
6.000 7,00
6,00
5.000
5,00
4.000
4,00
3.000
3,00
2.000
2,00
1.000 1,00
- 0,00
Produksi Padi Produksi Produksi Produksi Produksi Produksi Susu Produksi Telur
(Puluh ribu Jagung (puluh Cabai (ribu Bawang Aneka Daging (Ton) (Ton)
Ton) ribu Ton) Ton) Merah (ribu (Ribu Ton)
ton)
Dilihat dari indikator makro pertanian, produk domestik bruto (PDB) pertanian sepanjang
tahun 2021 tumbuh sebesar 1,84% lebih tinggi dibanding tahun 2020 yang mencapai 1,77%
seperti yang disajikan pada Gambar 2. Pertumbuhan sektor pertanian secara konsisten
berkontribusi positif pada pertumbuhan ekonomi nasional, yang pada Tahun 2021
pertumbuhannya didorong oleh produksi komoditas padi dan hortikultura seperti pisang
(2,89%), jeruk (21,59%) dan nanas (18,63%). Hal ini menunjukkan sektor pertanian masih
tetap tumbuh positif di tengah melemahnya perekonomian nasional akibat pandemi COVID-
19.
13
Gambar 2. Kontribusi Lapangan Usaha terhadap Pertumbuhan Ekonomi Nasional Tahun 2020-
2021.
Nilai ekspor pertanian tahun 2021 mengalami pertumbuhan rata-rata sebesar 12,78%
dibanding tahun 2020, begitu pula dengan hasil penelitian dan pengembangan yang
dimanfaatkan mencapai 115,61% atau meningkat 39,54% dibandingkan dengan tahun 2020.
Nilai Tukar Petani (NTP) nasional, sepanjang tahun 2021 juga menunjukkan peningkatan
dengan nilai rata-rata sebesar 104,63 atau meningkat 2,94% dibandingkan dengan nilai tahun
2020 yang mencapai 101,65. Capaian indikator makro sektor pertanian secara terperinci dapat
dilihat pada Lampiran 1.
Selain capaian produksi dan indikator makro yang cukup menggembirakan, pada tahun 2021
Kementerian Pertanian juga menorehkan berbagai prestasi, hal ini terlihat dari beberapa
penghargaan yang diperoleh, di antaranya: (1) Anugerah Top Digital Implementation 2021,
(2) Anugerah Keterbukaan Infomasi Publik Tahun 2021, (3) Peringkat II Tingkat
Kementerian/Lembaga Atas Konsistensi dan Rutinitas Dalam Penyerahan Arsip Statis ke ANRI
( Arsip Nasional Republik Indonesia), (4) Opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) 5 tahun
berturut-turut atas Laporan Keuangan Kementerian Pertanian, (5) Top Government Public
Relation Award 2021, (6) Anugerah Media Humas (AMH) 2021 memperoleh peringkat ke 3
pada kategori Komunikasi Publik Kementerian/Lembaga, BUMN, BUMD dan Perguruan Tinggi
Negeri, dan (7) Puplic Relation Indonesia Award (PRIA) 2021, Silver Award untuk Sub Kategori
Media Sosial.
Meskipun kinerja sektor pertanian sudah memperlihatkan hasil yang menggembirakan di
tahun 2021, namun diakui masih memerlukan upaya keras untuk mengatasi permasalahan
yang terjadi sepanjang Tahun 2021 sehingga dapat meningkatkan capaian kinerja
Kementerian Pertanian yang lebih baik dan dapat mencapai target pembangunan pertanian
14
pada akhirnya. Untuk itu, Kementerian Pertanian tidak dapat bekerja sendiri, melainkan
memerlukan kerjasama dari berbagai pihak. Kinerja sektor pertanian tidak sepenuhnya
tergantung pada Kementerian Pertanian semata, tetapi ada pihak lain yang memiliki peran
dan berkontribusi baik secara langsung maupun tidak langsung yang harus dioptimalkan
melaui koordinasi antar K/L, seperti: Kementerian Koordinasi Bidang Perekonomian,
Kementerian Koordinasi Bidang Maritim dan Investasi, Kementerian PPN/Bappenas,
Kementerian Keuangan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Kemen LHK),
Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (Kemen ATR/BPN),
Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kemen PUPR), Kementerian
Perdagangan, Kementerian Koperasi dan UKM, Kementerian Perindustrian, TNI-AD, Kepolisian
Republik Indonesia, BULOG, Pemerintah Daerah (Provinsi/Kabupaten/Kota), dunia usaha,
perbankan, lembaga pembiayaan bukan bank, serta peran aktif petani, pekebun, dan peternak
di seluruh tanah air sebagai pelaku utama pembangunan pertanian. Kerjasama dan sinergitas
seluruh pihak pelaku pembangunan pertanian sangat diharapkan bagi keberlangsungan dan
keberhasilan pembangunan pertanian di Indonesia.
Pelaksanaan pembangunan pertanian untuk pencapaian target sasaran utama membutuhkan
dukungan kerangka pendanaan yang memadai, pengelolaan dana yang profesional, alokasi
dan distribusi pendanaan secara tepat sasaran, serta penggunaan dana yang efektif dan
efisien. Pendanaan pembangunan pertanian berasal dari APBN baik yang bersumber dari
rupiah murni (Pemerintah Pusat/APBN, Dekonsentrasi, Tugas Perbantuan) dan dari sumber
lain yaitu: (a) subsidi (subsidi pupuk); (b) Dana Alokasi Khusus (DAK) baik DAK Fisik maupun
DAK Nonfisik ; (c) Pinjaman dan/atau Hibah Luar Negeri (PHLN); (d) Surat Berharga Syariah
Negara (SBSN); (e) pemerintah daerah melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah
(APBD) Provinsi dan APBD Kabupaten/Kota; (f) swasta, Badan Usaha Milik Negara (BUMN),
dan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD); (g) investasi dalam negeri (PMDN) dan investasi asing
(PMA); (h) lembaga keuangan dan perbankan (skim kredit dan kredit komersial); dan (i)
swadaya masyarakat. Pembangunan pertanian membutuhkan pembiayaan yang cukup besar
dan tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah pusat. Oleh sebab itu, kebijakan Kementerian
Pertanian memaksimalkan pemanfaatan sumber-sumber pembiayaan lain seperti kredit usaha
rakyat (KUR) untuk membangun pertanian. Pada Tahun 2021, Dukungan anggaran APBN
Kementerian Pertanian sebesar Rp16.[Link],- dengan realisasi mencapai 97,28%.
Menteri yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Presiden (Gambar struktur
organisasi Kementerian Pertanian dapat dilihat pada Lampiran 2. Kementerian Pertanian
mempunyai tugas menyelenggarakan urusan di bidang pertanian dalam pemerintahan untuk
membantu Presiden dalam penyelenggaraan pemerintahan negara.
Dalam menyelenggarakan tugas sebagaimana tersebut di atas, Kementerian Pertanian
menyelenggarakan fungsi:
1. Perumusan dan penetapan kebijakan di bidang penyediaan prasarana dan sarana
pertanian, peningkatan produksi padi, jagung, kedelai, tebu, daging dan pertanian
lainnya, serta peningkatan nilai tambah, daya saing, mutu dan pemasaran hasil
pertanian;
2. Pelaksanaan kebijakan di bidang penyediaan prasarana dan sarana pertanian,
peningkatan produksi padi, jagung, kedelai, tebu, daging, dan pertanian lainnya, serta
peningkatan nilai tambah, daya saing, mutu, dan pemasaran hasil pertanian;
3. Pelaksanaan bimbingan teknis dan supervisi atas pelaksanaan urusan di bidang
penyediaan prasarana dan sarana pertanian, peningkatan produksi padi, jagung,
kedelai, tebu, daging, dan pertanian lainnya serta peningkatan nilai tambah, daya saing,
mutu, dan pemasaran hasil pertanian;
4. Pelaksanaan penelitian, pengembangan dan inovasi di bidang pertanian;
5. Penyelenggaraan penyuluhan dan pengembangan sumber daya manusia di bidang
pertanian;
6. Koordinasi dan pelaksanaan diversifikasi dan pemantapan ketahanan pangan;
7. Pelaksanaan perkarantinaan pertanian dan pengawasan keamanan hayati;
8. Pelaksanaan dukungan yang bersifat substantif pada seluruh unsur organisasi di
lingkungan Kementerian Pertanian;
9. Pembinaan dan pemberian dukungan administrasi di lingkungan Kementerian Pertanian;
10. Pengelolaan barang milik/kekayaan negara yang menjadi tanggung jawab Kementerian
Pertanian; dan
11. Pengawasan atas pelaksanaan tugas di lingkungan Kementerian Pertanian.
C. Susunan Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Pertanian
Sesuai dengan Peraturan Presiden Nomor 114 tahun 2021 dan Peraturan Menteri Pertanian
Nomor 40 Tahun 2020 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Pertanian menetapkan
Susunan Unit Organisasi Kementerian Pertanian yang terkait secara langsung atau berada di
bawah Menteri Pertanian, terdiri atas:
1. Wakil Menteri Pertanian;
2. Sekretariat Jenderal;
3. Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian;
4. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan;
5. Direktorat Jenderal Hortikultura;
6. Direktorat Jenderal Perkebunan;
7. Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan;
8. Inspektorat Jenderal;
9. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian;
10. Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian;
16
17
BAB II
PERENCANAAN KINERJA
KEMENTERIAN PERTANIAN
20
Stakeholder
Perspective
SS1: MENINGKATNYA KETERSEDIAAN, AKSES DAN SS2: MENINGKATNYA NILAI TAMBAH DAN
KONSUMSI PANGAN BERKUALITAS DAYA SAING KOMODITAS PERTANAIN
Perspective
Sasaran strategis merupakan kondisi yang diinginkan dan dapat dicapai oleh Kementerian
Pertanian. Penyusunan dan penentuan sasaran strategis ini menggunakan metode Balance
Scorecard (BSC) dengan pendekatan empat perspektif, yaitu: stakeholders, customer, internal
process dan learning and growth. Sasaran Strategis beserta Indikator Kinerja yang ingin
dicapai dalam periode 2021-2024 sesuai dengan Renstra Kementerian Pertanian 2020-2024
Revisi II disajikan pada Tabel 1.
TARGET
SASARAN INDIKATOR KINERJA SATUAN
2021 2022 2023 2024
1 Meningkatnya 1 Peningkatan Ketersediaan Pangan % 1,81 3,64 4,44 5,34
Ketersediaan, Akses dan Strategis dalam Negeri
Konsumsi Pangan 2 Peningkatan Akses Pangan % 3,61 5,17 5,34 5,97
Berkualitas
3 Peningkatan Konsumsi Pangan % 2,27 2,27 2,27 2,27
Berkualitas
4 Persentase Pangan Segar yang % 85,10 85,25 85,35 85,5
Memenuhi Syarat Keamanan Pangan
5 Persentase Serangan Organisme % 70,10 70,2 70,3 70,4
Pengganggu Tumbuhan dan Dampak
Perubahan Iklim yang Ditangani
6 Persentase Wilayah yang Terkendali dari % 80,50 80,5 81 81
Penyakit Hewan Menular Strategis
7 Persentase Tindak Lanjut terhadap % 100 100 100 100
Temuan OPTK, HPHK dan Keamanan
Hayati yang Tidak Memenuhi
Persyaratan Karantina di Tempat
Pemasukan/Pengeluaran yang
Ditetapkan
8 Persentase Kasus Pelanggaran % 42 43 44 45
Perkarantinaan yang Diselesaikan
9 Tingkat Pemenuhan Prasarana Pertanian % 56,16 56,77 57,41 58,07
21
TARGET
SASARAN INDIKATOR KINERJA SATUAN
2021 2022 2023 2024
10 Tingkat Kemanfaatan Sarana Produksi % 86,69 88,14 89,39 90,56
Pertanian
2 Meningkatnya Nilai 11 Tingkat Kemanfaatan Sarana % 84,40 85,33 86 86,9
Tambah dan Daya Saing Pascapanen dan Pengolahan Hasil
Komoditas Pertanian Pertanian
12 Pertumbuhan Nilai Ekspor untuk Produk % 7,71 9,21 10,75 12,28
Pertanian Nasional
3 Meningkatnya 13 Persentase Hasil Penelitian dan % 70 70 75 75
Pemanfaatan Teknologi Pengembangan Yang Dimanfaatkan
dan Inovasi Pertanian
14 Persentase Petani yang Menerapkan % 75 80 85 90
Teknologi
4 Meningkatnya Kualitas 15 Persentase SDM Pertanian yang % 75 80 85 90
Sumber Daya Manusia dan Meningkat Kapasitasnya
Kelembagaan Pertanian
16 Persentase kelembagaan petani yang % 19 20 21 22
Nasional
meningkat kapasitasnya
5 Terwujudnya Birokrasi 17 Nilai Reformasi Birokrasi Kementerian Nilai 80,71 81,46 82,21 82,96
Kementerian Pertanian Pertanian
yang Efektif dan Efisien, 18 Nilai Kinerja Anggaran Kementerian Nilai 91,61 91,98 92,36 92,73
serta Anggaran yang Pertanian
Akuntabel
Indikator kinerja pada Tabel 1 merupakan indikator yang tertera pada Renstra Kementerian
Pertanian Tahun 2020-2024 (Revisi II), dengan target sebanyak 18 indikator yang selanjutnya
menjadi dasar penyusunan Perjanjian Kinerja (PK) Menteri Pertanian.
23
5 Terwujudnya Birokrasi Kementerian 17 Nilai Reformasi Birokrasi Kementerian Pertanian 80,71 Nilai
Pertanian yang Efektif dan Efisien,
serta Anggaran yang Akuntabel
18 Nilai Kinerja Anggaran Kementerian Pertanian 91,61 Nilai
Pada tahun 2021 Kementerian Pertanian melakukan 7 (tujuh) kali revisi Perjanjian Kinerja
(PK) yaitu pada bulan Februari, Maret, Mei, Juli, bulan Agustus sebanyak dua kali dan Oktober
2021, yang dapat dilihat secara rinci pada Lampiran 4. Revisi Perjanjian Kinerja diakibatkan
oleh adanya penyesuaian anggaran, penyesuaian program dalam rangka menindaklanjuti
kebijakan Redesain Sistem Perencanaan dan Penganggaran yang menyebabkan perubahan
sasaran dan perubahan indikator kinerja. Hal ini berdampak pada perubahan kebijakan dan
anggaran, yang mengakibatkan pagu Kementerian Pertanian, Unit Kerja Eselon I, dan Unit
Kerja Eselon II lingkup Kementerian Pertanian juga mengalami penyesuaian.
24
pertanian tahun 2021 sebesar Rp1,97 triliun atau 91,19% dari total anggaran Rp2,16 triliun.
Rincaian anggaran dan realisasi untuk kegiatan pemulihan ekonomi nasional dapat dilihat
pada Lampiran 5. Namun demikian Kementerian Pertanian juga mendorong pembiayaan dari
sumber lain seperti dari Anggaran Pendapatan dan belanja daerah (APBD), optimalisasi
pemanfaatan KUR dan pelibatan pengusaha pertanian serta sumber-sumber lainnya.
26
BAB III
AKUNTABILITAS KINERJA
KEMENTERIAN PERTANIAN
18
19
Indikator kinerja yang masuk kategori berhasil yaitu: (1) Persentase Tindak Lanjut
terhadap Temuan OPTK, HPHK dan Keamanan Hayati yang Tidak Memenuhi Persyaratan
Karantina di Tempat Pemasukan/Pengeluaran yang Ditetapkan dan (2) Tingkat
Pemenuhan Prasarana Pertanian. Indikator kinerja yang masuk kategori kurang
berhasil yaitu Peningkatan Akses Pangan.
Indikator yang belum diperoleh hasilnya adalah nilai Reformasi Birokrasi (RB)
Kementerian Pertanian, karena sampai dengan bulan Februari 2022 belum diumumkan
hasil evaluasi Reformasi Birokrasi Kementerian Pertanian oleh Tim Evaluasi RB
Kementerian PAN dan RB.
Tabel 3. Capaian Indikator Kementerian Pertanian Tahun 2021
%
SASARAN STRATEGIS INDIKATOR KINERJA SATUAN TARGET CAPAIAN KATEGORI
CAPAIAN
Persentase Serangan
Organisme Pengganggu
Sangat
5 Tumbuhan dan Dampak % 70,10 88,49 120,00
Berhasil
Perubahan Iklim yang
Ditangani
20
%
SASARAN STRATEGIS INDIKATOR KINERJA SATUAN TARGET CAPAIAN KATEGORI
CAPAIAN
Keterangan:
*) Nilai Reformasi Birokrasi Kementerian Pertanian sampai Februari 2022 belum diumumkan
oleh KemenPAN dan RB.
21
Pangan merupakan kebutuhan dasar utama bagi manusia yang harus dipenuhi setiap
saat. Hak untuk memperoleh pangan merupakan salah satu hak asasi manusia. Dengan
pertimbangan pentingnya kebutuhan akan pangan tersebut, Pemerintah selalu berupaya
untuk meningkatkan ketahanan pangan terutama yang bersumber dari peningkatan
produksi dalam negeri. Pertimbangan tersebut menjadi semakin penting bagi Indonesia
karena jumlah penduduknya semakin besar dengan sebaran populasi yang luas dan
cakupan geografis yang tersebar. Untuk memenuhi kebutuhan pangan penduduknya,
Indonesia memerlukan ketersediaan pangan dalam jumlah mencukupi dan tersebar,
untuk memenuhi kecukupan konsumsi maupun stok nasional.
Pengertian ketahanan pangan, tidak lepas dari UU No. 18/2012 tentang Pangan.
Disebutkan dalam UU tersebut bahwa Ketahanan Pangan adalah “kondisi terpenuhinya
Pangan bagi negara sampai dengan perseorangan, yang tercermin dari tersedianya
pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, beragam, bergizi, merata,
dan terjangkau serta tidak bertentangan dengan agama, keyakinan, dan budaya
masyarakat, untuk dapat hidup sehat, aktif, dan produktif secara berkelanjutan”.
UU Pangan bukan hanya berbicara tentang ketahanan pangan, namun juga memperjelas
dan memperkuat pencapaian ketahanan pangan dengan mewujudkan kedaulatan
pangan (food soveregnity) dengan kemandirian pangan (food resilience) serta
keamanan pangan (food safety).
Kementerian Pertanian telah menetapkan beberapa indikator pencapaian Sasaran
Strategis Meningkatnya Ketersediaan Pangan Strategis Dalam Negeri, yaitu: (1)
Peningkatan ketersediaan pangan strategis dalam negeri; (2) Peningkatan Akses
Pangan; (3) Peningkatan Konsumsi Pangan berkualitas; (4) Persentase pangan segar
yang memenuhi syarat keamanan pangan; (5) Persentase Serangan Organisme
Pengganggu Tumbuhan dan Dampak Perubahan Iklim yang Ditangani (6) Persentase
Wilayah yang Terkendali dari Penyakit Hewan Menular Strategis; (7) Persentase Tindak
Lanjut Terhadap Temuan OPTK, HPHK dan Keamanan hayati yang Tidak memenuhi
Persyaratan karantinadi Tempat Pemasukan/pengeluaran yang Ditetapkan; (8)
Persentase Kasus Pelanggaran Perkarantinaan yang Diselesaikan; (9) Tingkat
Pemenuhan Prasarana Pertanian; dan (10) Tingkat Kemanfaatan Sarana Produksi
Pertanian.
18
SS 1. IKU 1
Peningkatan Ketersediaan Pangan Strategis dalam Negeri
Target Realisasi
1,81% 2,42%
% Capaian
120%*)
Sangat Berhasil
*) Capaian kinerja maksimal 120% untuk menghindari bias perhitungan kinerja
secara agregat
Keterangan:
Satuan volume produksi pangan strategis dalam bentuk ton
t : tahun berjalan
t-1 : tahun sebelumnya
Metode perhitungan capaian produksi pangan strategis nasional dilakukan dengan
langkah sebagai berikut:
1. Mengambil data peningkatan produksi dari direktorat Jenderal produksi untuk
kelompok komoditas tanaman pangan, hortikultura, dan produk peternakan.
2. Menjumlahkan seluruh data persentase peningkatan produksi pangan strategis dalam
negeri.
18
Apabila dibandingkan dengan target akhir jangka menengah tahun 2024 sebesar 5,34%,
maka pencapaian pertumbuhan Peningkatan Ketersediaan Pangan Strategis dalam
negeri tahun 2021 sebesar 2,42% baru tercapai 45,32% dari target akhir jangka
menengah. Hal ini berimplikasi terhadap perencanaan peningkatan produksi ke depan
agar lebih baik lagi melalui upaya dan kerja keras semua pihak dalam mencapai target
jangka menengah.
Kementerian Pertanian telah melakukan upaya dalam rangka pencapaian kinerja
peningkatan ketersediaan pangan strategis dalam negeri, di antaranya melalui komitmen
pimpinan dalam pelaksanaan strategi, program kerja maupun kegiatan yang
berhubungan dengan produksi pangan strategis. Selain itu, dalam rangka mencapai
kinerja sasaran ini telah dikeluarkan kebijakan antara lain: (a) penggunaan single data
sebagai acuan dalam perencanaan pembangunan pertanian; (b) pembangunan
Komando Strategis Pembangunan Pertanian (KOSTRATANI) berbasis Balai Penyuluhan
Pertanian (BPP) di tingkat kecamatan; (c) pemberian jaminan ketersediaan bahan
pangan pokok dan strategis pada saat hari besar keagamaan; dan (d) penguatan
manajemen pembangunan pertanian melalui sinergitas dengan K/L terkait, Perguruan
Tinggi, serta pemerintah daerah melalui Gubernur maupun Bupati/Walikota.
Program pertama, kebijakan single data pada prinsipnya adalah penggunaan data dari
wali data yang sudah ditetapkan oleh pemerintah, seperti misalnya Badan Pusat Statistik
(BPS) sebagai sumber data pertanian nasional dan Kementerian Agraria dan Tata
Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) sebagai sumber data luas baku lahan
pertanian. Program kedua, pembangunan Kostratani utamanya ditujukan sebagai pusat
19
Dalam rangka akselerasi peningkatan produksi pangan strategis nasional tahun 2021,
Kementerian Pertanian melakukan berbagai kegiatan, antara lain:
20
21
22
b. Jagung
Produksi jagung pada tahun 2021 (dengan kadar air 27%) mencapai 23,04 juta
ton yang dihitung berdasarkan angka produktivitas tahun 2020 BPS dan Luas
panen 2021 PDPS. Produksi tahun 2021 mengalami kenaikan 122,76 ton atau
0,54% terhadap produksi jagung 2020. Perkembangan produksi jagung Tahun
2017-2021 menunjukkan ada pertumbuhan setiap tahunnya, kecuali tahun 2018
yang terdapat koreksi angka dari BPS. Gambar 6 memperlihatkan bahwa
produktivitas dan luas panen jagung juga mengalami fluktuasi selama 2017-
2021.
23
40
30 55,23 55,78 55,54
52,27 53,26
20
10 5,53 4,06 4,09 4,11 4,15
28,92 21,66 22,59 22,92 23,04
0
2017 2018 2019 2020 2021
Tahun
24
Produksi
No Komoditas 2020 2021*)
1 Bawang Merah 1.815.445,34 1.942.811,93
2 Bawang Putih 81.804,60 44.646,61
3 Aneka Cabai 2.772.593,76 2.826.106,82
Jumlah 4.669.843,69 4.813.565,36
Peningkatan 3,01
Sumber: Angka Tetap BPS 2020 dan Angka Sementara Hortikultura Tahun 2021.
a. Cabai
Produksi cabai pada tahun 2021 sebesar 2,83 juta ton atau meningkat 1,82%
dibanding produksi tahun 2020 sebesar 2,77 juta ton. Produksi cabai dihitung
dari produksi cabai rawit dan cabai besar dengan rincian untuk komoditas cabai
besar mengalami peningkatan produksi 7,44% dan cabai rawit mengalami
penurunan 2,88%. Penurunan ini disebabkan beberapa hal, antara lain:
25
1) Penurunan luas tanam dan atau produksi cabai rawit di daerah sentra karena
turunnya permintaan pasar sebagai dampak pandemi Covid-19. Permintaan
pasar yang turun menyebabkan harga cabai di awal sampai pertengahan
tahun 2021 tidak menguntungkan petani.
2) Sebagian petani cabai rawit beralih tanam ke komoditas lain yang lebih
menguntungkan.
Perkembangan produksi, luas panen, dan produktivitas cabai nasional dapat
dilihat pada Gambar 7.
250
200
150
81,82 86,22 88,00 88,39
100 76,09
0
2017 2018 2019 2020 2021
Produksi (ratus ribu ton) Produktivitas (Ku/Ha) Luas panen ( ribu Ha)
b. Bawang Merah
Produksi bawang merah nasional terus mengalami peningkatan selama lima
tahun terakhir. Tahun 2017 produksi nasional sebanyak 1.470.155 ton naik
menjadi 1.942.812 ton pada tahun 2021. Pencapaian target tersebut disebabkan
oleh berberapa faktor diantaranya karena adanya peningkatan produktivitas
apabila dibandingkan dengan produktivitas tahun 2020. Produktivitas bawang
merah pada tahun 2020 sebesar 9,71 ton/ha dan pada tahun 2021 meningkat
menjadi 10,16 ton/ha. Teknologi budidaya yang tepat, melalui pemilihan varietas
benih, aplikasi pemupukan dan pemeliharaan yang tepat dapat meningkatkan
produktivitas bawang merah secara berkelanjutan. Perkembangan produksi, luas
panen, dan produktivitas bawang merah nasional dapat dilihat pada Gambar 8.
26
191,2
186,9 194
200 181,5
180 158,17 156,78 159,19
158
147 150,3
160
140
120 95,87 99,25 97,11 101,46
92,94
100
80
60
40
20
0
2017 2018 2019 2020 2021
Produksi (ratus ribu ku) Luas panen (ribu Ha) Produktivitas (Ku/Ha)
27
28
29
30
31
32
33
b. Susu
Pada tahun 2021 produksi susu mencapai sebesar 962,68 ribu ton, mengalami
peningkatan 1,66% dari tahun 2020 sebesar 946,91 ribu ton. Peningkatan ini
salah satunya didukung oleh peningkatan populasi sapi perah dari 568.000 ekor
pada tahun 2020 menjadi 578.579 ekor pada tahun 2021 atau meningkat 1,86%.
Perkembangan produksi dan populasi sapi perah tahun 2017-2021 dapat dilihat
pada Gambar 10.
1.200.000
1.000.000
800.000
600.000
400.000
200.000
-
2017 2018 2019 2020 2021
Populasi 540.441 581.822 565.001 568.000 578.579
Produksi 928.108 951.004 944.537 946.913 962.677
34
Komoditi sapi perah, dalam kurun waktu empat tahun terakhir (sampai akhir
Desember 2021) tercatat didalam iSIKHNAS bahwa terdapat kelahiran pedet sapi
perah sebanyak 386.807 ekor, dengan rincian tahun 2018 sebanyak 77.035 ekor,
tahun 2019 sebanyak 94.025 ekor, tahun 2020 sebanyak 105.388 ekor dan tahun
2021 sebanyak 110.359 ekor atau rata-rata kelahiran selama empat tahun
terakhir kurang lebih 96.701 ekor/tahun.
Sebaran kelahiran sapi perah tersebut yaitu sebanyak 381.633 ekor (98,7%) di
Pulau Jawa (5 terbesar pada Provinsi Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI
Yogyakarta, dan DKI Jakarta), sisanya sebanyak 5.174 ekor (1,3%) berada di
luar Jawa (terutama di Sumatera Utara, Sumatera Barat dan Sulawesi Selatan).
Dari jumlah kelahiran tersebut rata-rata perbandingan atau rasio jenis kelamin
(sex ratio) betina: jantan yaitu 51% : 49% (betina 199.021 ekor, jantan 187.786
ekor). Hal ini menunjukkan bahwa ada potensi penambahan populasi calon sapi
dara (heifer) sebanyak 51% dari total kelahiran per tahun sebagai replacement
stock sapi induk yang sudah tidak produktif, dan terdapat potensi penambahan
populasi sapi bakalan sebanyak 49% dari total kelahiran per tahun yang
diperoleh dari kelahiran pedet jantan untuk digemukkan (fattening).
Kegiatan lain yang mendukung peningkatan populasi ternak perah adalah:
1) Kerja sama dengan NGO/LSM Mercy-USA untuk pengembangan ternak sapi
perah pada kelompok dan di wilayah pengembangan sapi perah di Provinsi
Sumatera Barat dan Provinsi Jawa Barat.
2) Pengembangan sapi perah di Provinsi Nusa Tenggara Barat, Jawa Timur,
Jawa Tengah, Jawa Barat, DIY, dan Sulawesi Selatan.
3) Kerjasama dengan Denmark
Dalam mendukung pengembangan sistem pertanian organik komoditas
peternakan khususnya susu, telah dilakukan inisiasi kerjasama bilateral
antara Indonesia dengan Denmark dalam penyusunan regulasi/kebijakan
dan kerangka kerja pengembangan susu organik di Indonesia. Kerjasama
akan berjalan selama 3 tahun dengan sistem share funding. Selain
penyusunan kerangka kerja juga akan dilakukan Pilot Project Pengembangan
Susu organik dalam kerjasama B2B melalui Danida Market Development
Partnership, yaitu kerjasama antara Arla Food dengan PT. Indofood dan
KPSP Setia Kawan Pasuruan.
Kegiatan South-South Cooperation (SSC) pada tahun 2021 yaitu
penandatangan project document sebagai legalitas pelaksanaan kerjasama
telah dilakukan pada tanggal 27 Januari 2021. Pada bulan April 2021
dilaksanakan kick off Webinar sebagai tanda mulai dilaksanakannya
kerjasama SSC. Pada bulan Mei sampai Oktober dilaksanakan beberapa
webinar yang bermaksud untuk meningkatkan kapasitas SDM. Pada bulan
November dilaksanakan kegiatan Benchmarking ke Denmark.
35
Kegiatan yang akan dilakukan pada tahun 2022 untuk meningkatkan produksi
susu diantaranya:
1) Pengembangan Ternak Ruminansia Perah dan Fasilitasi Rearing Unit Sapi
Perah pada tahun anggaran 2022.
Penerima manfaat dari kegiatan Pengembangan Ternak Ruminansia Perah
adalah kelompok peternak penerima bantuan pengembangan (1) sapi perah:
Sumatera Barat, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, DIY, Sulawesi
Tenggara; (2) kambing perah: Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur,
Kalimantan Barat, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tenggara. Penerima
manfaat kegiatan Fasilitasi Rearing Unit Sapi Perah adalah UPTD yang
menangani peternakan sapi perah di Provinsi: Sumatera Barat, Jawa Barat,
Jawa Tengah, DIY dan Jawa Timur.
2) Produksi semen beku sapi perah di BBIB Singosari dan BIB Lembang.
3) Produksi bibit sapi perah di BBPTU-HPT Baturraden sebanyak 400 ekor.
4) Rekomendasi impor benih dan bibit sapi perah.
c. Telur
Produksi telur merupakan total dari produksi telur ayam ras petelur, ayam buras,
itik, itik manila dan puyuh. Produksi telur tahun 2021 sebesar 5,926 juta ton atau
mengalami peningkatan sebesar 3,39% dari tahun sebelumnya. Peningkatan ini
salah satunya didorong oleh naiknya konsumsi telur disaat pandemi Covid-19
untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Konsumsi telur nasional naik dari
sebelum Covid-19 hanya sebesar 18,35 kg/kapita/tahun menjadi 18,83
kg/kapita/tahun pada masa Covid-19. Perkembangan produksi telur secara rinci
dapat dilihat pada Tabel 7.
Tabel 7. Perkembangan Produksi Telur (Ribu Ton)
Tahun %
No Jenis Ternak Peningkatan
2017 2018 2019 2020 2021*) 2021/2020
1 Ayam Buras 221,00 212,34 246,69 358,86 381,61 6,34
2 Ayam Ras Petelur 4.632,83 4.688,12 4.753,38 5.141,57 5.156,00 0,28
3 Itik 302,70 306,54 294,01 316,95 329,57 3,98
4 Itik Manila 35,09 31,97 34,67 32,35 33,57 3,78
5 Puyuh 25,02 28,96 25,86 24,65 25,28 2,57
Jumlah 5.216,64 5.267,93 5.354,62 5.874,38 5.926,03 0,88
Capaian produksi telur (ayam ras petelur, ayam buras, itik, itik manila dan puyuh)
36
tahun 2021 adalah sebesar 5.926,03 ribu ton atau mencapai 106,06% dari target
produksi telur sebesar 5.587,64 ribu ton. Khusus untuk produksi telur ayam ras
tahun 2021 sebesar 5,16 juta ton, dengan kebutuhan sebesar 5,13 juta ton,
maka masih terdapat neraca ketersediaan terhadap kebutuhan telur ayam ras
surplus sebesar 0,03 juta ton. Selain itu, pertumbuhan populasi ayam ras petelur
di Indonesia tahun 2020 ke 2021 mengalami peningkatan sebesar 6,67%.
Berkaitan dengan hal tersebut Kementerian Pertanian terus menerus mendorong
pelaku usaha perunggasan terutama industri perunggasan atau integrator untuk
melakukan ekspor dan bersaing di perdagangan global.
Kegiatan yang dilakukan untuk mendukung tercapainya peningkatan produksi
telur adalah:
1) Koordinasi dengan stakeholder terkait (peternak rakyat, PINSAR Petelur,
Peternak layer Nasional, BPS dan BKP Kementan);
2) Pemantauan pelaporan secara online;
3) Koordinasi penetapan impor GPS layer dengan tim analisis, penyediaan,
kebutuhan ayam ras dan telur konsumsi.
4) Pengembangan pakan olahan
Dalam mendukung pencapaian produksi telur, maka pada tahun 2021 telah
dilakukan fasilitasi melalui bantuan mesin mixer, mesin hammer mill/disk mill,
mesin pencetak pellet, timbangan, mesin jahit karung, karung dan perbaikan
Gudang.
37
SS 1. IKU 2
Peningkatan Akses Pangan
Target Realisasi
3,61% 0,68%
% Capaian
18,84%
Kurang Berhasil
38
Sehingga jika dibandingkan dengan target tahun 2021, indikator peningkatan akses
pangan ini terealisasi sebesar 18,84%. Apabila dibandingkan dengan target akhir jangka
menengah sebesar 5,97%, maka capaian tahun 2021 ini baru terealisasi 11,39%,
sehingga diperlukan upaya perbaikan ke depan.
1. Pasar Mitra Tani (PMT)/Toko Tani Indonesia Center (TTIC)
Kegiatan Pasar Mitra Tani (PMT)/Toko Tani Indonesia Center (TTIC) berfungsi
sebagai distribution center, dimana PMT/TTIC melakukan aktivitas penyaluran
pangan langsung kepada konsumen ataupun melalui Toko Mitra Tani (TMT)/Toko
Tani Indonesia (TTI). Strategi yang dilakukan sebagai bagian untuk penyeimbang
pasar, PMT/TTIC dan TMT/TTI berupaya membenahi struktur dan rantai pasok
pangan di Indonesia melalui pendekatan dengan cara memangkas rantai pasok
pangan hanya menjadi 3-4 pelaku sehingga diharapkan akan mampu memberikan
kepastian harga dan pasar bagi produsen dan memberikan kemudahan aksesibilitas
pangan bagi konsumen.
Tahun 2021 berdasarkan hasil evaluasi dan Rapat Kerja Kementerian Pertanian
dengan Komisi IV DPR RI, memutuskan untuk meniadakan kegiatan Pengembangan
Usaha Pangan Masyarakat/Lembaga Distribusi Pangan Masyarakat (PUPM/LUPM),
dan Tahun 2021 juga terjadi perubahan konsep penganggaran penyaluran/
pendistribusian bahan pangan melalui TTIC/TTI. Pada Tahun 2020
penyaluran/pendistribusian melalui Bantuan Pemerintah (Banper), sedangkan Tahun
2021 tidak ada lagi Banper untuk PUPM/LUPM), berubah menjadi dana Fasilitasi
Distribusi Pangan (FDP) melalui dana Dekonsentrasi dan Pusat untuk bantuan biaya
distribusi bahan pangan dari Gapoktan (PUPM atau Non PUMP) ke TTIC/TTI.
Perbedaan konsep penyaluran/pendistribusian bahan pangan dari Tahun 2020
dengan Tahun 2021 menyebabkan capaian tahun 2021 tidak relevan untuk
dibandingkan dengan tahun 2020 karena komponen pembentuknya berbeda. Atas
dasar hal tersebut, maka capaian 2021 dianggap sama dengan target yang
ditetapkan yaitu meningkat sebesar 0,22% (atau dianggap terealisasi sebesar
100%).
Kegiatan Fasilitasi Distribusi Pangan sebagai upaya untuk stabilisasi harga dan
pasokan pangan dengan memberikan insentif berupa penggantian biaya distribusi
(transportasi dan kemasan) kepada pemasok PMT/TTIC untuk komoditas pangan,
khususnya 10 (sepuluh) pangan pokok dan strategis. Dalam hal ini, PMT/TTIC
memiliki peran sentral dalam mempengaruhi efek psikologis pasar dalam rangka
pengendalian pasokan dan harga pangan dengan menjual komoditas pangan yaitu:
beras, bawang merah, bawang putih, cabai merah keriting, cabai rawit merah, daging
ayam, daging sapi, telur ayam, minyak goreng, gula pasir dan/atau komoditas
pangan lainnya. Realisasi penyaluran sampai dengan akhir tahun 2021 sebagaimana
pada Gambar 11.
39
Gambar 11. Realisasi Penyaluran Bahan Pangan Kegiatan Fasilitasi Distribusi Pangan
di PMT/TTIC/TMT/TTI
Dilihat dari volume tonase yang didistribusikan/disalurkan tahun 2021 telah melebihi
tonase yang ditargetkan. Pada tahun 2021, terjadi recofusing anggaran di Badan
Ketahanan Pangan, sehingga terjadi penyesuaian target volume bahan pangan yang
didistribusikan, dari target awal DIPA sebesar 50.000 ton mengalami recofusing
sampai dengan DIPA (Revisi-IV) sebesar 13.435 ton, sehingga realisasi volume bahan
pangan yang didistribusikan/disalurkan melalui PMT/TTIC dan TMT/TTI tahun 2021
sebesar 14,791 ton atau 110,09% dari target tahun 2021.
Realisasi kegiatan Fasilitasi Distribusi Pangan (FDP) berupa biaya transportasi
dan/atau kemasan untuk pasokan ke PMT/TTIC/TMT/TTI Pusat, Provinsi dan
Kab/Kota dari Januari-Desember 2021 sebesar 14.971 ton atau 110,09% dari target
13.435 ton. Sedangkan realisasi keuangan Rp13,75 miliar atau 95,07% dari pagu
Rp14,46 miliar (OMSPAN). Belum optimalnya realisasi keuangan khususnya
disebabkan Provinsi Jawa Timur dan Sumatera Barat mengalami kendala dalam
administrasi pendistribusian bahan pangan yang terealisasi sekitar 25-35%.
Penyaluran bahan pangan melalui kegiatan Fasilitasi Distribusi Pangan ke
PMT/TTIC/TMT/TTI terdiri dari komoditas Beras 12.311 ton (83,30%), Cabai Merah
Keriting 307,98 ton (2,08%), Cabai Rawit Merah 169,65 ton (1,15%), Bawang Merah
526,05 ton (3,56%), Bawang Putih 22,43 ton (0,15%), Telur Ayam Ras 548,31 ton
(3,71%), Daging Ayam Ras 6,92 ton (0,05%), Daging Sapi/Kerbau 1,30 ton (0,01%),
Gula Pasir 105,53 ton (0,71%), Minyak Goreng 190,99 ton (1,29%) dan komoditas
pangan Lainnya 590,68 ton (3,99%).
Pendistribusian komoditas pangan ke PMT/TTIC dan TMT/TTI selain disalurkan
secara langsung, juga dengan transaksi secara online melalui aplikasi marketplace
PasTani, GoFood, GrabMart, GoMart, Mitra Bukalapak dan Digiretail Mandiri.
40
Berdasarkan tabel diatas, produksi komoditas aneka kacang dan aneka umbi
mengalami penurunan jika dibandingkan tahun 2020, yaitu sebesar 4,20% dan
1,95%.
Faktor penyebab penurunan produksi aneka umbi antara lain:
1) Situasi iklim dengan curah hujan yang tinggi sepanjang tahun 2021 yang tidak
mendukung pertumbuhan tanaman aneka umbi, mengakibatkan hasil umbi tidak
maksimal baik kualitas maupun kuantitas.
2) Luas panen menurun akibat konversi lahan pertanian ke non pertanian.
3) Hilirisasi industri aneka umbi belum berkembang.
4) Jaminan pasar dan harga komoditas aneka umbi belum stabil.
41
1) Situasi iklim dengan curah hujan yang tinggi sepanjang tahun 2021 yang tidak
mendukung pertumbuhan tanaman aneka kacang, mengakibatkan hasil tidak
maksimal baik kualitas maupun kuantitas.
2) Kurangnya petani yang menjadikan komoditas kacang-kacangan sebagai
komoditas utama.
3) Persaingan penggunaan lahan dengan komoditas lain yang lebih
menguntungkan.
Atas permasalahan tersebut, maka upaya perbaikan yang dapat dilakukan adalah
sebagai berikut:
1) Penambahan anggaran untuk kegiatan pengembangan aneka umbi dan kacang.
2) Promosi produk olahan aneka umbi dan kacang.
3) Meningkatkan dukungan UPH aneka umbi dan kacang.
4) Dukungan kebijakan jaminan pasar, harga dan pembiayaan diluar APBN.
Upaya pengembangan produksi pangan lokal sumber karbohidrat non beras
dilakukan untuk meningkatkan ketersediaan dan akses masyarakat terhadap produk
olahan pangan lokal. Untuk itu dilakukan pemberdayaan dan pembinaan terhdap
UMKM pangan lokal yang memiliki peran strategis dalam pengembangan pangan
lokal melalui kegiatan Pengembangan Industri Pangan Lokal (PIPL). Selain itu untuk
meningkatkan produksi pangan lokal non beras, Kementerian Pertanian telah
menyusun Satuan Gugus Tugas Diversifikasi Sumber Karbohidrat Pangan Lokal non
Beras yang dituangkan dalam Kepmentan Nomor 404/Kpts/OT.050/M/6/2020.
Satgas diversifikasi dimaksud, mempunyai tugas sebagai berikut:
1) Identifikasi potensi komoditas sumber karbohidrat pangan lokal non beras;
2) Pengembangan sumber karbohidrat pangan lokal non beras dari hulu hingga hilir;
3) Penyusunan rencana aksi pengembangan sumber karbohidrat pangan lokal non
beras jangka pendek, menengah, dan panjang;
4) Pengembangan UMKM pangan lokal non beras melalui pola kemitraan;
5) Promosi dan kampanye sumber karbohidrat pangan lokal non beras sebagai
sumber pangan alternatif;
6) Penyusunan anggaran untuk mendukung pelaksanaan diversifikasi sumber
karbohidrat pangan lokal non beras.
Selain meningkatkan koordinasi dan sinergi di internal, Kementerian Pertanian telah
melakukan kerja sama dengan berbagai pihak antara lain:
1) Nota Kesepahaman Antara Kementerian Pertanian dengan PT. [Link]
tentang Pengembangan Kapasitas Usaha Dan Fasilitasi Pemasaran Online untuk
Pelaku Usaha Bidang Pertanian Nomor: 9O/NK/I/09/2020, Nomor:
B462/KN.220/J/09/2020, Nomor: 1391/BL-BPPS/PPGR/MOU/IX/2020, nota
kesepahaman ini sebagai upaya meningkatkan penetrasi UMKM pangan lokal
dengan konsumen melalui marketplace.
2) Nota Kesepahaman Antara Kementerian Pertanian dengan Masyarakat Singkong
Indonesia, Masyarakat Sagu Indonesia, dan Perhimpunan Ahli Teknologi Pangan
42
43
SS 1. IKU 3
Peningkatan Konsumsi Pangan Berkualitas
Target Realisasi
2,27% 5,47%
% Capaian
120%*)
Sangat Berhasil
Pemanfaatan atau konsumsi pangan merupakan salah satu entry point dan sub system
untuk memantapkan ketahanan pangan. Dengan mengetahui pola konsumsi pangan
masyarakat akan dapat disusun kebijakan terkait dengan penyediaan pangan, baik yang
berasal dari produksi dalam negeri maupun impor. Kebijakan produksi pangan mencakup
berapa volume dan jenis pangan yang mampu diproduksi dengan memperhatikan
sumberdaya lahan, air, teknologi dan sarana pendukung lainnya. Dengan
memperhatikan potensi produksi dan permintaan pangan akan dapat ditetapkan berapa
banyak dan jenis pangan yang harus diproduksi di dalam negeri atau diimpor. Selain itu
dengan mengetahui perubahan konsumsi pangan masyarakat, juga dapat disusun
kebijakan harga dan distribusi pangan agar masyarakat dapat menjangkau pangan yang
tersedia.
Rumus perhitungan rata-rata peningkatan konsumsi pangan berkualitas (%) sebagai
berikut:
∑ Peningkatan konsumsi pangan berkualitas
∑ Jenis konsumsi pangan berkualitas
Keterangan:
Satuan volume konsumsi pangan dalam bentuk gram/kapita/hari
t : tahun berjalan
t-1 : tahun sebelumnya
44
Data konsumsi pangan secara nasional ditinjau berdasarkan aspek kuantitatif dan
kualitatif, melalui penghitungan konsumsi energi dan protein berdasarkan angka
kecukupan zat gizi yang dianjurkan bagi penduduk Indonesia. Angka Kecukupan Gizi
(AKG) yang dianjurkan bagi penduduk Indonesia merupakan kecukupan rata-rata zat
gizi sehari bagi hampir semua orang sehat menurut golongan umur, jenis kelamin,
ukuran tubuh, aktifitas fisik dan keadaan fisiologis untuk mencapai derajat kesehatan
yang optimal. Dalam direktori ini, AKG yang digunakan merupakan asupan rata-rata
sehari yang dikonsumsi oleh populasi dan bukan merupakan kecukupan gizi
perorangan/individu. Di Indonesia, AKG dirumuskan dalam forum Widyakarya Nasional
Pangan dan Gizi (WNPG) yang telah diselenggarakan sejak tahun 1978. Analisis
konsumsi pangan berdasarkan data Susenas tahun 2015 – 2020 menggunakan Angka
Kecukupan Energi anjuran sebesar 2.100 kkal dan Angka Kecukupan Protein 57 gram
(berdasarkan AKG hasil WNPG Tahun 2018).
Penilaian terhadap konsumsi pangan penduduk secara kuantitas dapat ditunjukkan
melalui volume konsumsi pangan penduduk (gram/kap/hari dan kilogram/kap/tahun),
konsumsi energi penduduk (kkal/kap/hari), dan konsumsi protein penduduk (gram
protein/kap/hari). Salah satu indikator yang digunakan dalam menilai kualitas konsumsi
pangan adalah Pola Pangan Harapan (PPH). PPH merupakan susunan beragam pangan
yang didasarkan atas proporsi keseimbangan energi dari berbagai kelompok pangan
untuk memenuhi kebutuhan gizi, baik dalam jumlah maupun mutu dengan
mempertimbangkan aspek daya terima, ketersediaan pangan, ekonomi, budaya, dan
agama. Adapun kelompok pangan tersebut mencakup: (1) padi-padian, (2) umbi-
umbian, (3) pangan hewani, (4) minyak dan lemak, (5) buah/biji berminyak, (6) kacang-
kacangan, (7) gula, (8) sayur dan buah, serta (9) lain-lain.
Capaian indikator peningkatan konsumsi pangan berkualitas tahun 2021 adalah sebesar
5,47% sehingga melampaui target sebesar 2,27% (terealisasi 240,97%). Demikian juga
bila dibandingkan dengan target akhir jangka menengah tahun 2024 sebesar 2,27%
maka capaian tahun 2021 ini telah terlampaui, sehingga kinerja tahun 2021 ini perlu
dipertahankan bahkan ditingkatkan di tahun mendatang. Perkembangan konsumsi
pangan berkualitas selama lima tahun terakhir secara rinci dapat dilihat pada Tabel 9.
45
Konsumsi %
Kelompok Bahan Pertumbuhan
No 2017 2018 2019 2020 2021 2020/2021
Pangan
Sayur dan buah
1 -2,40
(gram/kap/hari) 224,8 248,1 244,3 231,77 226,20
2 Daging (kg/kap/tahun) 2,50
10,76 12,26 11,28 11,61 11,90
Protein Asal Ternak
3 0,89
(gram protein/kap/hari) 10,0 10,4 10,9 11,18 11,28
Umbi-umbian
4 20,87
(gram/kap/hari) 56,3 45,0 43,5 41,20 49,80
Pertumbuhan Rata-rata 5,47
Sumber: BKP, 2021
46
47
SS 1. IKU 4
Persentase Pangan Segar Yang Memenuhi Syarat
Keamanan Pangan
Target Realisasi
85,10% 90,46%
% Capaian
106,30 %
Sangat Berhasil
Pangan merupakan kebutuhan dasar, yang pemenuhannya menjadi salah satu hak azasi
manusia. Salah satu permasalahan pangan adalah masih dijumpainya praktek–praktek
penanganan pangan yang tidak memenuhi persyaratan keamanan dan mutu pangan.
Hal ini meningkatkan terjadinya potensi kontaminasi atau residu pada pangan, yang
kemudian dapat meningkatkan risiko penyakit bawaan makanan. Dari aspek kualitas
pangan, kualitas yang rendah menyebabkan daya saing produk menjadi berkurang.
Rumus perhitungan Persentase Pangan Segar yang Memenuhi Syarat Keamanan Pangan
(%) sebagai berikut =
∑(persentase PSAT dan PSAH yang memenuhi syarat keamanan dan mutu pangan)
∑𝑒𝑒𝑒𝑒𝑒𝑒𝑒𝑒𝑒𝑒𝑒𝑒 𝐼𝐼 𝑦𝑦𝑦𝑦𝑦𝑦𝑦𝑦 𝑚𝑚𝑚𝑚𝑚𝑚𝑚𝑚𝑚𝑚𝑚𝑚𝑚𝑚𝑚𝑚𝑚𝑚𝑚𝑚𝑚𝑚𝑚𝑚 𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝
Dimana,
Formula persentase PSAT yang memenuhi syarat keamanan dan mutu pangan =
∑ sampel PSAT hasil uji lab yang memenuhi syarat keamanan dan mutu pangan
𝑥𝑥100%
∑sampel PSAT yang diuji lab
Formula persentase PSAH yang memenuhi syarat keamanan dan mutu pangan =
48
Terkait dengan upaya perlindungan kesehatan masyarakat, maka jumlah kasus pangan
menjadi sasaran strategis. Dengan mempertimbangkan bahwa penanganan keamanan
pangan di Indonesia dilakukan oleh beberapa instansi tergantung pada jenis produk
pangannya.
Pencapaian Indikator Kinerja tahun 2021 yang terkait dengan pengawasan mutu dan
keamanan pangan segar adalah persentase pangan segar yang memenuhi syarat
keamanan pangan, khususnya yang disebabkan oleh Pangan Segar Asal Tanaman
(PSAT) dan pangan asal hewan. Pangan segar yang memenuhi syarat tersebut diperoleh
beerdasarkan Laporan Hasil Pengawasan Keamanan dan Mutu Pangan Segar per
Provinsi. Sedangkan pengukuran capaian Pangan Segar Asal Tanaman (PSAT) adalah
sebagai berikut:
1. Pengawasan Keamanan Pangan Segar dilakukan dengan melaksanakan pelayanan
Sertifikasi Prima, registrasi PSAT, registrasi rumah pengemasan, Health Certificate
dan sertifikat keamanan pangan lainnya;
2. Perhitungan jumlah pangan segar yang memenuhi syarat keamanan pangan adalah
pangan produk pangan segar dan olahan primer hasil pertanian yang kandungan
residu pestisida di bawah ambang batas maksimum residu (BMR) pestisida dan
kandungan cemaran logam berat dibawah batas cemaran maksimun (BCM);
3. Perhitungan jumlah total pangan segar adalah produk pangan segar dan olahan
primer hasil pertanian yang beredar.
Sedangkan pemantauan Pangan Segar Asal Hewan dilaksanakan melalui tiga komponen
meliputi:
1. Pengawasan keamanan produk hewan yang melibatkan pemerintah daerah (Dinas
Provinsi/Kabupaten/Kota).
2. Monitoring dan surveillans keamanan produk hewan (residu, cemaran mikroba serta
resistensi antimikroba) yang melibatkan 9 Laboratorium Unit Pelaksana Teknis Pusat
(UPTP) yang meliputi: BPMSPH, BBVet, dan Bvet.
3. Pengujian mutu dan sertifikasi produk hewan yang dilaksanakan oleh BPMSPH.
Outcome yang diharapkan dalam kegiatan ini adalah adanya peningkatan pangan
segar asal hewan yang memenuhi persyaratan keamanan dan mutu pangan.
Target pangan segar yang memenuhi syarat keamanan pangan adalah 85,10% di tahun
2021 dengan realisasi 90,46% atau 106,30%. Apabila dibandingakan dengan target
akhir jangka menengah sebesar 85,5%, maka capaian tahun 2021 sudah melampai
target tahun 2024 atau terealisasi 105,80%. Oleh karena itu, kinerja yang sangat
berhasil pada tahun 2021 harus terus dipertahankan dan bahkan ditingkatkan pada
tahun mendatang.
Perkembangan capaian indikator persentase pangan segar yang memenuhi syarat
keamanan pangan selama lima tahun terakhir juga mengalami peningkatan, seperti
terlihat pada Tabel 10.
49
Tabel 10. Persentase Pangan Segar yang Memenuhi Syarat Keamanan Pangan Tahun
2017-2021
Tahun
Sampel Produk Pangan Segar
2017 2018 2019 2020 2021
Jumlah seluruh sampel produk tumbuhan segar asal tumbuhan 666 1.077 1.390 728 2065
Jumlah seluruh sampel produk pangan segar asal hewan 26.002 23.562 30.745 18.900 20.316
Pencapaian indikator kinerja tahun 2021 sangat terkait dengan pengawasan kemananan
pangan segar. Tabel dibawah ini menunjukkan hasil monitoring kemanan pangan segar
asal tumbuhan tahun 2021. Hasil monitoring keamanan PSAT Tahun 2021 dapat dilihat
pada Tabel 11.
Tabel 11. Hasil Monitoring Keamanan PSAT Tahun 2021
Hasil Uji
No. Parameter Jumlah Contoh
Memenuhi Tidak Memenuhi
Syarat Syarat
1 Residu Pestisida 1.143 contoh 1.142 (99,91%) 1 (0,09%)
Berdasarkan data monitoring keamanan pangan segar asal tumbuhan di atas, bahwa
pangan segar yang beredar sebagian besar memenuhi kesesuaian terhadap persyaratan
keamanan pangan. Hasil pengujian di laboratorium menunjukkan hasil memenuhi
persyaratan terhadap parameter residu pestisida, logam berat, mikrobiologi dan
aflatoksin mencapai 97,92% atau (115,20%) dari target 85%.
Hasil pengujian keamanan PSAT dengan parameter pengujian residu pestisida, logam
50
berat, aflatoksin dan mikrobiologi ditemukan adanya sampel yang tidak memenuhi
persyaratan keamanan pangan, karena hasil pengujian berada di atas ambang batas
yang diijinkan. Masih ditemuinya cemaran pada PSAT ini disebabkan oleh beberapa
kemungkinan, diantaranya sebagai berikut:
1. Penanganan PSAT belum memenuhi ketentuan cara – cara penanganan PSAT yang
baik, yang mengacu pada GAP, GHP, GDP dan GHP. Potensi adanya kontaminasi
atau residu pada PSAT dapat terjadi pada setiap rantai PSAT dan kontaminasi akan
tingggi apabila penanganan PSAT tersebut tidak dilakukan dengan baik.
2. Pengambilan contoh dilakukan oleh Petugas Pengambil Contoh (PPC) yang belum
berkompeten.
Sedangkan jumlah sampel produk pangan segar asal hewan tahun 2021 sebanyak
20.316 sampel dengan hasil 16.862 sampel yang memenuhi syarat keamanan pangan
yang dapat dilihat pada tabel 12. Adapun sampel aktif diambil dari 738 unit usaha, yang
meliputi tempat penampungan susu, tempat pengolahan susu, gudang kering, rumah
potong/gudang, tempat pengolahan daging, peternakan/pengumpul/pengemas telur
konsumsi, tempat pengolahan telur.
Tabel 12. Hasil Sample PSAH Yang Memenuhi Syarat Keamanan dan Mutu Pangan Tahun
2021
51
4. Monitoring dan surveilans keamanan produk hewan (residu, cemaran mikroba serta
resistensi antimikroba) yang melibatkan 9 Laboratorium Unit Pelaksana Teknis Pusat
(UPTP) yang meliputi: BPMSPH, BBVet, dan BVet.
5. Pengujian mutu dan sertifikasi produk hewan yang dilaksanakan oleh Badan
Pengujian Mutu dan Standarisasi Produk Hewan.
6. Kerjasama dan koordinasi yang baik antara Pemerintah Pusat, Provinsi dan
Kabupaten/Kota serta pelaku unit usaha poduk hewan. Fungsi pembinaan,
pemeriksaan, pengujian dan pengawasan yang telah dilaksanakan dengan baik
merupakan salah satu faktor penting dalam upaya mewujudkan produk hewan yang
memenuhi persyaratan keamanan dan mutu produk hewan. Keberhasilan output ini
juga tidak terlepas dari kinerja output pemenuhan persyaratan produk hewan yang
Aman, Sehat, Utuh, dan Halal.
52
SS 1. IKU 5
Persentase Serangan Organisme Pengganggu Tumbuhan
dan Dampak Perubahan Iklim yang Ditangani
Target Realisasi
70,10% 88,49%
% Capaian
120%*)
Sangat Berhasil
Rasio Serangan Organisme Pengganggu Tumbuhan dan Dampak Perubahan Iklim yang
ditangani diperoleh dengan cara membandingkan serangan OPT/DPI pada tahun
berjalan terhadap luas serangan OPT/DPI tahun berjalan, atau dengan rumus:
(luas terkena − luas puso serangan OPT atau DPI )
x100%
(luas terkena serangan OPT atau DPI )
Serangan OPT dan DPI yang ditangani merupakan upaya pengendalian serangan OPT
baik dengan cara fisik/mekanik, biologis, kimiawi dan kultur teknis agar tidak terjadi
gagal panen pada tanaman pangan dan hortikultura. Organisme Pengganggu Tanaman
(OPT) adalah semua organisme yang dapat merusak, mengganggu kehidupan, atau
menyebabkan kematian tumbuhan (Berdasarkan Permen Nomor 6 Tahun 1995).
Perubahan Iklim adalah keadaan cuaca yang berubah-ubah diluar pengendalian manusia
yang berdampak buruk langsung atau tidak langsung pada usaha pertanian, seperti
banjir, kekeringan, dan bencana alam. Luas serangan DPI yang ditangani adalah luas
areal pertanaman yang terkena DPI tapi tidak menyebabkan puso (gagal panen), karena
53
adanya tindakan pengendalian baik upaya antisipasi maupun mitigasi. Dengan adanya
pengendalian, luas Tanaman yang terserang OPT dan DPI akan mengalami perubahan
kategori yang lebih baik menjadi serangan ringan, sedang dan berat, sedangkan yang
tidak berhasil dikendalikan akan menjadi puso. Berdasarkan rumus perhitungan tersebut
maka capaian indikator Persentase Serangan Organisme Pengganggu Tumbuhan dan
Dampak Perubahan Iklim yang Ditangani adalah 88,49% atau tercapai 126,23% dari
target tahun 2021. Sedangkan apabila dibandingkan dengan target target akhir jangka
menengah sebesar 70,40% maka tercapai 125,70% atau sangat berhasil. Oleh karena
itu, kinerja tahun 2021 ini perlu dipertahankan bahkan ditingkatkan lagi di tahun
mendatang. Rincian persentase serangan OPT/DPI yang ditangani sektor pertanian
Tahun 2021 terlihat pada Tabel 13.
Tabel 13. Rasio Luas Serangan OPT/DPI Sektor Pertanian Tahun 2021
%
SASARAN STRATEGIS INDIKATOR KINERJA SATUAN TARGET CAPAIAN
CAPAIAN
Persentase Serangan
Organisme Pengganggu
Tumbuhan dan Dampak % 70,10 89,25 127,32
Perubahan Iklim yang
Ditangani
1. Rasio serangan OPT yang
ditangani terhadap luas % 75,2 98,91 131,53
Terkendalinya serangan.
Penyebaran OPT
dan DPI pada 2. Rasio luas area yang
% 60,2 78,86 131,00
Tanaman serta ditangani dibandingkan area
Penyakit pada terkena DPI.
Hewan 3. Rasio serangan OPT yang
ditangani terhadap luas % 95 98,24 103,41
serangan OPT Hortikultura
54
Rincian serangan OPT untuk komoditas Tanaman Pangan dapat dilihat pada
Tabel 14.
Tabel 14. Rasio Serangan OPT Yang Dapat Ditangani Untuk 7 Komoditas
Tanaman Pangan
Rasio Serangan
Terkena Puso
Komoditas Yang Ditangani
(ha) (ha)
(%)
Padi 348.563 4.470 98,73
Jagung 77.781 162 99,79
Kedelai 1.310 56 95,90
Kacang Tanah 1.494 5 99,67
Kacang Hijau 484 26 94,90
Ubi Kayu 1.823 1 99,95
Ubi Jalar 454 - 100,00
Total 431.910 4.721 98,91%
55
56
Luas terkena DPI yang dapat ditangani adalah luas Tanaman pangan yang
terkena DPI tapi tidak menyebabkan puso (gagal panen), karena adanya
tindakan pengendalian baik upaya antisipasi dan mitigasi. Luas yang terdampak
DPI di periode Okt-Sept 2020/2021 adalah 451.361 ha, dan yang puso seluas
95.407 ha. Sehingga rasio serangan DPI yang ditangani terhadap luas serangan
Tanaman pangan adalah 78,86%. Rincian serangan DPI untuk komoditas
Tanaman Pangan dapat dilihat pada Tabel 16.
Tabel 16. Capaian Luas Terkena DPI yang dapat ditangani untuk 7 Komoditas
Tanaman Pangan
Luasan terdampak banjir lebih tinggi dari kekeringan pada tahun 2021, hal ini
terjadi akibat curah hujan yang cukup tinggi selama periode tahun 2021. Luas
areal Tanaman pangan yang terkena banjir 86,44% dari total luas terkena DPI,
dengan puso 23,04%. Sedangkan luas yang terkena kekeringan 13,56% dari
total luas serangan DPI, dengan puso 9,00%.
Luas areal yang terkena serangan banjir tahun 2021 lebih tinggi dari tahun-
tahun sebelumnya yang mengakibatkan pengendalian puso membutuhkan
penanganan khusus dengan pendekatan lintas sektoral baik pada tingkat pusat
dan daerah sebagai upaya antisipasi dan mitigasi. Dengan upaya ini
mempengaruhi keberhasilan capaian indikator rasio serangan DPI yang
ditangani terhadap luas serangan Tanaman pangan. Dari target indikator
60,20%, terealisasi 78,86% sehingga capaian rasio serangan DPI yang
ditangani terhadap luas serangan Tanaman Pangan adalah 131,00%.
Pengukuran capaian dapat dilihat pada Tabel 17.
57
58
59
60
61
Gambar 13. Fasilitasi Bantuan Sarpras Penanganan DPI di Provinsi Sulawesi Barat
62
SS 1. IKU 6
Presentase Wilayah Yang Terkendali Dari Penyakit Hewan
Menular Strategis
Target Realisasi
80,50% 80,74%
% Capaian
100,30%
(Sangat Berhasil)
Persentase wilayah yang terkendali Penyakit Hewan Menular Strategis Zoonosis (PHMS)
merupakan rata-rata angka status kesehatan hewan di kabupaten/kota. Angka status
kesehatan hewan dihitung melalui serangkaian kegiatan pengamatan, pencegahan,
pemberantasan dan pembebasan PHMSZ khususnya lebih difokuskan pada penyakit
Rabies, Anthrax, Brucellosis, Avian Influenza, dan Hog Cholera atau yang sering dikenal
dengan RABAH. Prevalensi suatu wilayah dapat digunakan untuk mempresentasikan
status kejadian penyakit di suatu daerah. Untuk menentukan status Kesehatan hewan
di kabupaten/kota, beberapa faktor yang harus diperhitungkan antara lain bobot suatu
penyakit dan bobot situasi penyakit. Bobot penyakit ditentukan oleh mortalitas,
morbiditas, kerugian ekonomi dan penyakit bersifat zoonosis atau tidak. Bobot situasi
berdasarkan situasi wilayah tersebut apakah wabah, endemis, sporadik, terduga dan
bebas.
Perhitungan wilayah terkendali PHMS didapat dari rata-rata Angka Kesehatan Hewan
(AKH) 402 Kab/Kota di 34 Provinsi dengan cara membandingkan wilayah yang terkendali
dari penyakit hewan menular strategis terhadap total wilayah yang terdampak penyakit
hewan menular strategis, atau dengan rumus:
∑(𝐿𝐿𝐿𝐿𝐿𝐿𝐿𝐿 𝑤𝑤𝑤𝑤𝑤𝑤𝑤𝑤𝑤𝑤𝑤𝑤ℎ 𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡 𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑 𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝 ℎ𝑒𝑒𝑒𝑒𝑒𝑒𝑒𝑒 𝑚𝑚𝑚𝑚𝑚𝑚𝑚𝑚𝑚𝑚𝑚𝑚𝑚𝑚 𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠)
𝑥𝑥 100%
∑(𝑤𝑤𝑤𝑤𝑤𝑤𝑤𝑤𝑤𝑤𝑤𝑤ℎ 𝑦𝑦𝑦𝑦𝑦𝑦𝑦𝑦 𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡 𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝 ℎ𝑒𝑒𝑒𝑒𝑒𝑒𝑒𝑒 𝑚𝑚𝑚𝑚𝑚𝑚𝑚𝑚𝑚𝑚𝑚𝑚𝑚𝑚 𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠)
Wilayah yang terdampak adalah wilayah yang memiliki risiko penularan PHMSZ termasuk
di dalamnya wilayah yang sudah bebas atau berhasil dibebaskan. Dari definisi tersebut,
maka seluruh wilayah yang sudah teridentifikasi sebagai wilayah terdampak adalah
sebanyak 402 wilayah. Setiap tahunnya dilakukan upaya seperti pengawasan lalu lintas,
vaksinasi dan biosecurity di wilayah tersebut.
Kegiatan pengendalian di 402 kabupaten/kota terhadap 5 (lima) penyakit hewan
menular strategis yaitu Rabies, Anthraks, Brucellosis, Avian Influenza (AI) dan Hog
Cholera dengan rincian yang dapat dilihat pada Tabel 19.
63
Berdasarkan rumus perhitungan tersebut maka capaian indikator Rasio Wilayah yang
Terbebas dari Penyakit Hewan Menular Strategis Terhadap Total Wilayah yang
Terdampak Penyakit Hewan Menular Strategis adalah:
675
𝑥𝑥100% = 80,74%
836
Capian tersebut bila dibandingkan dengan target tahun 2021 sebesar 80,5% maka
tercapai 100,30% sangat berhasil.
Apabila dibandingkan dengan tahun 2020 capaiannya sebesar 80,01% maka capaian
tahun 2021 meningkat sebesar 0,86%. Jika dibandingkan dengan target akhir jangka
menegah sebesar 67% maka tercapai 120,77% (sangat berhasil). Sedangkan apabila
dibandingkan dengan target jangka menengah sebesar 81% maka capaian tahun 2021
ini telah terealisasi 99,63%. Oleh karena itu, kinerja tahun 2021 ini perlu ditingkatkan di
tahun mendatang. Perkembangan wilayah yang terbebas penyakit menular strategis
tahun 2017-2021 dapat dilihat pada Tabel 20.
Tabel 20. Perkembangan Wilayah yang Terbebas Penyakit Menular Strategis Tahun
2017- 2021
Tahun
Wilayah Terkendali/Terdampak
2017 2018 2019 2020 2021
Total wilayah yang terkendali dari penyakit
470 474 477 326 675
hewan menular strategis (kabupaten/kota)
Total wilayah yang terdampak penyakit hewan
611 611 611 407 836
menular strategis (kabupaten/kota)
Presentase wilayah yang terkendali dari
76,92 77,58 78,07 80,10 80,74
penyakit hewan menular strategis (%)
64
Langkah yang telah dilakukan dalam pengendalian dan penanggulangan Penyakit Hewan
Menular Strategis khususnya Penyakit zoonosis antara lain:
1. Pelaksanaan surveilans ke wilayah tertarget yang dilakukan oleh 8 UPT Veteriner
yaitu: Balai Veteriner Medan, Balai Veteriner Bukittinggi, Balai Veteriner Lampung,
Balai Veteriner Banjarbaru, Balai Besar Veteriner Maros, Balai Besar Veteriner Wates,
Balai Besar Veteriner Denpasar, serta Balai Veteriner Subang. Target awal surveilans
sebesar 86.596 sampel dan setelah ada refokusing maka target berubah menjadi
77.684 sampel, terealisasi sebesar 95.330 sampel. Kegiatan surveillans untuk
penyakit rabies sebanyak 9.000 sampel dengan rincian dari alokasi reguler sebesar
84.990 dan alokasi dana PEN sebesar 4.270 sampel.
2. Pencegahan dan pengamanan penyakit dengan target 2.196.000 Dosis terealisasi
sebanyak 2.313.492 dosis (105,35%) dengan rincian obat dan vaksin antara lain
Rabies, AI, Anthrax, ASF, Brucellosis, dan Hog Cholera.
3. Perubahan status Tenaga Harian Lepas Dokter Hewan dan Paramedik Veteriner pada
tahun 2021 sebanyak 1.026 orang, dengan rincian 575 orang Dokter Hewan, 119
orang S1 Paramedik, 194 orang D3 Paramedik dan 138 orang SMA Paramedik. Pada
akhir Oktober terjadi perubahan dikarenakan adanya penerimaan CPNS dan PPPK,
sehingga jumlah existing sebanyak 292 orang Dokter Hewan, dan 257 orang sebagai
Paramedik.
4. Kegiatan kompartementalisasi sudah dilaksanakan sejak tahun 2014. Pada tahun
2021, telah menerbitkan sertifikat kompartemen bebas AI sebanyak 84 unit yang
terdiri dari 9 unit Peternakan Grand Parent Stock (GPS), 37 unit Parent Stock (PS),
21 unit Final Stock (FS) dan 17 unit hatchery. Unit usaha peternakan tersebut tersebar
di 13 provinsi
5. Koordinasi dan Evaluasi Pengendalian dan Penanggulangan Penyakit Hewan
a. Rabies
1) Vaksinasi Rabies selama tahun 2021 telah dilaksanakan sebanyak 851.608
dosis dengan pelaksanaan vaksinasi di 29 Provinsi.
2) Program penanggulangan Rabies dilakukan di wilayah-wilayah prioritas
dengan melakukan vaksinasi massal dengan target melakukan vaksinasi
pada 100% anjing pada basis desa secara serentak dengan durasi waktu
pelaksanaan yang cepat, meningkatkan partisipasi aktif masyarakat dengan
pemahaman nilai penting dari program pemberantasan yang dilakukan
pemerintah dalam pengendalian dan pemberantasan rabies melalui
komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE), meningkatkan pelaksanaan
surveilans untuk deteksi dini melalui surveilans terintegrasi dengan sektor
kesehatan dengan implementasi tata laksana kasus gigitan (takgit),
melakukan identifikasi wilayah-wilayah berisiko lalu lintas anjing dari lokasi
tertular dengan tujuan meningkatkan pengawasan lalu lintas antar daerah
dengan melibatkan instansi terkait. Untuk mendukung keberhasilan program
tersebut perlu dibahas lebih lanjut mengenai keterbatasan anggaran dan
65
66
SS 1. IKU 7
Persentase tindak lanjut terhadap temuan OPTK, HPHK dan
Keamanan Hayati yang tidak memenuhi persyaratan
karantina di tempat pemasukan/ pengeluaran yang
ditetapkan
Target Realisasi
100% 100%
% Capaian
100%
(Berhasil)
Tindak lanjut atas temuan OPTK dan HPHK merupakan indikator kinerja yang
mencerminkan keberhasilan Kementerian Pertanian dalam melakukan upaya mencegah
masuk dan tersebarnya HPHK dan OPTK ke dalam wilayah Indonesia. Dengan dapat
ditemukannya HPHK dan OPTK pada kegiatan operasional, maka masuk dan tersebarnya
HPHK dan OPTK dapat terdeteksi secara dini. Selanjutnya dapat dilakukan tindakan
antisipatif berupa perlakuan, penolakan maupun pemusnahan bersama media
pembawanya untuk mencegah masuk dan tersebarnya HPHK dan OPTK.
Keterangan:
1. tindaklanjut temuan HPHK dan OPTK berupa perlakuan, penolakan atau
pemusnahan media pembawa
2. tindak lanjut temuan ketidaksesuaian berupa pemberitahuan ketidaksesuaian
(notification of non-compliance) yang disampaikan ke negara asal komoditas
3. temuan HPHK, OPTK dan temuan ketidaksesuaian berasal dari kegiatan
pemeriksaan pada kegiatan operasional pelayanan karantina
67
Menteri Pertanian dan jajarannya berkomitmen untuk mencapai taget kinerja ini seperti
yang terlihat pada Gambar 14 dan Gambar 15.
68
Terhadap temuan HPHK dan OPTK tersebut sudah dilakukan tindakan karantina untuk
mengeradikasi HPHK dan OPTK tersebut melalui perlakuan dan pemusnahan bersama
komoditas pertanian sebagai media pembawanya. Terdapat 4 temuan ketidak sesuaian
yaitu pengujian aflatoksin pada kacang tanah melebihi BMC yang ditetapkan oleh
pemerintah Indonesia, pengujian logam berat (kadmium dan timbal) pada cabe kering
melebihi BMC yang ditetapkan oleh pemerintah Indonesia, Pemasukan impor reagen
tuberculin tes tanpa dokumen, serta pemasukan impor petfood tanpa dokumen. Temuan
tersebut ditindaklanjuti dengan mengirimkan notification of non-compliance atau
69
Realisasi kinerja tahun 2021 sebesar 100% atau tercapai 100% dari target tahun 2021.
Realisasi kinerja tahun 2021 tersebut tidak dapat dibandingkan dengan indikator tahun
sebelumnya di 2020 dikarenakan indikator ini merupakan penggabungan 3 (tiga)
indikator di tahun 2020 dan menjadi indikator baru di tahun 2021.
Sedangkan jika dibandingkan dengan target akhir jangka menengah tahun 2024 sebesar
100%, maka capaian tahun 2021 ini telah terpenuhi. Jenis temuan dan tindak lanjut
temuan OPTK dan HPHK secara rinci dapat dilihat pada Lampiran 6.
Keberhasilan pencapaian indikator persentase tindakan karantina terhadap temuan
organisme pengganggu tumbuhan karantina dan hama penyakit hewan karantina
didukung oleh beberapa hal sebagai berikut:
1) Meningkatnya kompetensi sumber daya manusia dalam melaksanakan tindakan
karantina (Pemeriksaan) melalui pendidikan dan pelatihan;
2) Meningkatnya kemampuan deteksi dan identifikasi OPTK, HPHK dan cemaran atau
kontaminasi keamanan hayati terhadap pemasukan media pembawa ke dalam
wilayah Indonesia atau pengiriman dari satu area ke area lain di dalam wilayah
Indonesia, meliputi:
a) Dukungan sarana prasarana pelaksanaan tindakan karantina (antara lain instalasi
karantina, peralatan tindakan karantina)
b) Dukungan sarana prasarana laboratorium antara lain alat dan bahan pengujian,
c) Peningkatan kualitas pengujian melalui pengembangan metode pengujian
laboratorium, penambahan ruang lingkup akreditasi laboratorium ISO/IEC
17025:2017
d) Dukungan sistem informasi kegiatan operasional perkarantinaan.
3) Meningkatnya kemampuan dalam melakukan tindak lanjut atas temuan OPTK, HPHK
dan keamanan hayati pada media pembawa yang dilalulintaskan
a) Meningkatnya jumlah SDM karantina
b) Meningkatnya kompetensi dalam melakukan tindakan karantina
c) dukungan sarana dan pasarana yang memadai
4) Optimalisasi pelaksanaan tindakan karantina berdasarkan rekomendasi hasil analisis
risiko OPTK maupun HPHK;
70
71
SS 1. IKU 8
Persentase Kasus Pelanggaran Perkarantinaan yang
Diselesaikan
Target Realisasi
42% 56,25%
% Capaian
120%*)
Sangat Berhasil
Fungsi karantina adalah mencegah masuknya hama dan penyakit hewan karantina dan
organisme penggangu tumbuhan karantina dari luar negeri ke dalam wilayah negara
Republik Indonesia, mencegah tersebarnya hama dan penyakit hewan karantina dan
organisme pengganggu tumbuhan karantina dari suatu area ke area lain di dalam
wilayah negara Republik Indonesia, mencegah keluarnya hama dan penyakit hewan
karantina dari wilayah negara Republik Indonesia dan mencegah keluarnya organisme
pengganggu tumbuhan tertentu dari wilayah negara Republik Indonesia apabila negara
tujuan menghendakinya.
Penegakan hukum merupakan salah satu bagian penting dalam mendukung pelaksanaan
perkarantinaan dalam rangka memberikan efek jera kepada pelaku pelanggaran regulasi
perkarantinaan. Regulasi karantina menganut asas Ultimum Remedium yaitu menjadikan
hukum pidana sebagai upaya terakhir dalam penegakan ketentuan administrasi di bidang
karantina hewan dan tumbuhan. Sanksi pidana adalah untuk memperkuat sanksi
administrasi (administrative penal law), sehingga sanksi pidana tersebut didayagunakan
apabila sanksi administratif sudah tidak mempan. Dalam menjalankan peran tersebut,
wewenang Penyidik (PPNS) Badan Karantina Pertanian dimulai dari P-1 (Penerimaan
Laporan) atau P-2 (Surat Perintah Penyelidikan) sampai dengan tahap P21
(Pemberitahuan bahwa Hasil Penyidikan sudah Lengkap) dan selanjutnya berkas
penyidikan dilimpahkan ke Kejaksaan untuk dilanjutkan kepada proses hukum.
Pengukuran indikator ini dengan membandingkan jumlah kasus pelanggaran
perkarantinaan yang dapat diselesaikan sampai P21 dengan jumlah kasus pelanggaran
perkarantinaan yang sudah terjadi. Batasan kasus yang dihitung pada indikator ini
adalah kasus pelanggaran perkarantinaan yang terjadi di tempat pemasukan dan atau
pengeluaran, masuk kategori pro-justisi dan ditangani oleh PPNS Badan Karantina
Pertanian. Pengukuran indikator kinerja ini dilakukan dengan membandingkan jumlah
kasus yang terjadi pada tahun 2021 dibanding jumlah kasus yang dapat diselesaikan
sampai tahap P21, yaitu pelimpahan kasus dari penyidik ke pengadilan. Batasan kasus
yang dihitung pada indikator ini adalah kasus yang ditangani oleh PPNS Badan Karantina
Pertanian dengan perhitungan sebagai berikut:
72
Keterangan: Kasus pelanggaran yang dihitung adalah kasus yang sudah terjadi termasuk
kasus pelanggaran yang belum dapat diselesaikan tahun ini dan tahun sebelumnya.
Berdasarkan data kasus pelanggaran perkarantinaan tahun 2021 terkait Penyelundupan
satwa liar tidak dilindungi, Pengeluaran Sayuran disertai dengan Baby Lobster ke
Singapura, lalulintas sapi dari Kab. Donggala, Pemasukan (Impor) komoditas pertanian
dari Tawau-Malaysia, Penyelundupan daging babi di pelabuhan Bakauheni, diperoleh
hasil perhitungan sebagai berikut:
𝟗𝟗
𝐈𝐈𝐈𝐈𝐈𝐈𝐈𝐈 𝟖𝟖 = 𝐱𝐱 𝟏𝟏𝟏𝟏𝟏𝟏% = 𝟓𝟓𝟓𝟓, 𝟐𝟐𝟐𝟐%
𝟖𝟖
73
74
SS 1. IKU 9
Tingkat Pemenuhan Prasarana Pertanian
Target Realisasi
56,16% 55,69%
% Capaian
99,16%
Berhasil
Keterangan :
x = Tingkat pemenuhan prasarana pertanian
a = Identifikasi tingkat pemenuhan pembiayaan dan perlindungan usaha pertanian = 70,05
b = Identifikasi tingkat pemenuhan pengairan lahan pertanian = 34,09
c = Identifikasi tingkat pemenuhan ketersediaan lahan pertanian = 63,03
Berdasarkan pengukuran diperoleh Capaian IKU Tingkat Pemenuhan Prasarana
Pertanian tahun 2021 sebesar 55,69%, atau terealisasi 99,16% dari target yang
ditetapkan (berhasil). Capaian ini mengalami peningkatan 3,90% dari tahun 2020.
Sedangkan apabila dibandingkan dengan target akhir jangka menengah tahun 2024
sebesar 58,01%, maka telah terealisasi 95,89%. Oleh karena itu, kinerja tahun 2021 ini
75
𝑐𝑐 𝑑𝑑 400.000 100.000
+
𝑎𝑎 𝑒𝑒 𝑓𝑓 1.901 + 276 1.492.789 + 9.895.286
+ +
𝑥𝑥 = 𝑏𝑏 2 𝑥𝑥100% = 1.725 2 𝑥𝑥100% = 70,05
2 2
Keterangan :
x = Identifikasi tingkat pemenuhan pembiayaan dan perlindungan usaha pertanian
a = Jumlah pelaku usaha pertanian yang mendapatkan akses pembiayaan melalui kredit
program dan fasilitasi pembiayaan = 1.901 pelaku usaha
b = Jumlah pelaku usaha pertanian yang mendapatkan akses permodalan dari private
sector = 276 pelaku usaha
c = Jumlah luas lahan pertanian yang terlindungi asuransi pertanian = 400.000 ha
d = Jumlah ternak yang terlindungi asuransi pertanian = 100.000 ekor
e = Total luas lahan pertanian berpotensi terkena puso (Total luas lahan pertanian dengan
besaran senilai 1.492.789 merupakan asumsi lahan yang terkena puso 10% dari hasil
perkalian luas lahan sawah total nasional (7.463.948 ha) dengan jumlah musim tanam
per tahun (2 kali) atau IP 200 dengan. Data luas lahan sawah nasional berdasarkan
data kementerian ATR/BPN tahun 2019)
f = Total ternak sapi/kerbau betina yang umur ≥ 1 th dan masih berproduksi. Data
diperoleh dari penjumlahan total ternak kerbau, ternak sapi perah dan sapi potong yang
berumur ≥ 1 th dikali 50% yang merupakan representasi dari jumlah ternak betina
(Data Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan)
76
77
Realisasi kinerja tahun 2021 untuk indikator jumlah pelaku usaha pertanian
yang mendapatkan akses pembiayaan melalui kredit program dan fasilitasi
pembiayaan tercapai 1.901 pelaku usaha dari target 1.550 pelaku usaha
(122,65%). Hal ini menunjukkan peningkatan dari tahun sebelumnya dengan
peningkatan sebesar 119,66%, sedangkan tahun 2021 capaian yang diperoleh
sebesar 122,65%.
b. Jumlah Pelaku Usaha Pertanian Yang Mendapatkan Akses Permodalan Dari
Private Sector.
78
2021 meningkat dari 100% (berhasil) menjadi 157,71% (sangat berhasil). Hal
ini terjadi karena dilakukannya sosialisasi sumber pembiayaan alternatif ini
melalui kegiatan apresiasi pemberdayaan permodalan dan asuransi pertanian,
sehingga walaupun target indikator kinerja meningkat dari 150 pelaku usaha
pada tahun 2020 menjadi 175 pada tahun 2021 namun target tetap terlampaui.
Untuk mencapai indikator kinerja jumlah pelaku usaha pertanian yang
mendapatkan akses permodalan dari private sector dilaksanakan melalui
fasilitasi pertemuan berupa apresiasi Permodalan dan Asuransi Pertanian untuk
mengakses pinjaman/ bantuan modal;
c. Asuransi Usaha Tanaman Padi (AUTP) dan Asuransi Usaha Ternak Sapi/Kerbau
(AUTS/K).
79
80
Gambar 16. Kegiatan Pengembangan Jaringan Irigasi Tahun 2021 pada Poktan
Nusa Indah di Kecamatan Rilauale, Kabupaten Bulukumba, Prov.
Sulawesi Selatan
b. Pengembangan Sumber Air untuk Tanaman Pangan, Perkebunan, Hortikultura
dan Peternakan
Pengembangan sumber air untuk penambahan areal tanaman pangan,
perkebunan, hortikultura peternakan satu bentuk upaya pengembangan
sumber air irigasi untuk usaha pertanian. Kegiatan ini dikembangkan melalui
kegiatan irigasi perpompaan dan irigasi perpipaan yang dimaksudkan untuk
meningkatkan intensitas pertanaman (IP) sebesar 0,5 pada lahan sawah serta
meningkatkan ketersediaan air sebagai suplesi pada lahan pertanian. Hal ini
perlu dilakukan mengingat beragamnya kondisi dan potensi daerah, yang
berdampak pada beragamnya perkembangan teknologi irigasi yang
berkembang di setiap daerah.
Alokasi kegiatan pengembangan sumber air yang dibangun Tahun Anggaran
2021 sebesar Rp100.447.988.000,00 dengan realisasi anggaran sebesar
Rp99.754.872.735,00 (99,31%), dan realisasi fisik 100%.
Total anggaran yang dilalokasikan untuk kegiatan Pengembangan Sumber Air
Tahun 2021 melalui dana Tugas Pembantuan sebanyak 838 unit, terdiri dari
irigasi perpompaan sebanyak 688 unit yang tersebar yang tersebar di 32
81
propinsi dan 280 kabupaten, irigasi perpipaan sebanyak 150 unit yang tersebar
di 22 propinsi dan 95 kabupaten, dan pengembangan sumber air melalui dana
Bantuan Pemerintah Pusat dengan program Bangunan Konservasi Air dan
Antisipasi Anomali Iklim sebanyak 134 unit yang tersebar di 11 provinsi dan 36
kabupaten dengan anggaran sebesar Rp15.[Link],00. Gambar 17
menunjukkan salah satu kegiatan Kegiatan Irigasi Perpompaan yang
dilaksanakan pada Tahun 2021
Bak Penampung
Rumah Pompa
Mesin Pompa
Gambar 17. Kegiatan Irigasi Perpompaan Tahun 2021 pada Poktan Karya Jaya,
Desa Mangunjawa, Kecamatan Mangunjaya, Kabupaten
Pangandaran, Prov. Jawa Barat
c. Konservasi Air dan Lingkungan Hidup melalui pengembangang embung
pertanian/long storage/dam parit.
Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan dan mempertahankan ketersediaan
sumber air di tingkat usaha tani sebagai suplesi air irigasi untuk komoditas
pertanian dan mengurangi risiko terjadinya kegagalan panen akibat kekeringan
pada lahan usaha tani di musim kemarau. Pada Tahun 2021 telah dialokasikan
anggaran Kegiatan Pengembangan Embung Pertanian dari dana Tugas
Pembantuan sebesar Rp48.120.000.000,00 (Rp120.000.000,00/unit) dengan
realisasi anggaran sebesar Rp48.120.000.000,00 dan realisasi fisik sebesar
100% yaitu terbangunnya embung pertanian sebanyak 401 unit yang tersebar
32 propinsi 242 kabupaten dan sebanyak 96 unit dari dana Bantuan Pemerintah
Pusat melalui program Bangunan Konservasi Air dan Antisipasi Anomali Iklim
sebanyak 96 unit dengan anggaran Rp11.931.400.000,00 yang tersebar di 11
provinsi 21 kabupaten. Gambar 18 menunjukkan salah satu kegiatan
Pengembangan Embung Pertanian pada Tahun 2021.
82
Keterangan :
x = Identifikasi tingkat pemenuhan ketersediaan lahan pertanian
a = Total luas lahan pertanian yang tersedia saat ini adalah dalam ukuran (ha) dan
berdasarkan perhitungan data luas lahan baku sawan (BPN 2020) seluas 7.463.948 ha,
ditambah luas area realisasi kegiatan ekstensifikasi lahan olah tanah seluas 2.840,92
ha.
B = Jumlah kebutuhan lahan padi berdasarkan target produksi pada Komoditas Padi yang
diperoleh dari asumsi kebutuhan berdasarkan luas target luas tanam Direktorat
Jenderal Tanaman Pangan dan data perencanaan seluas 11.865.087 ha.
Kegiatan ekstensifikasi merupakan suatu usaha penambah luas lahan sawah pada
berbagai tipologi lahan yang belum pernah diusahakan, lahan terlantar, bero untuk
pertanian dengan sistem sawah. Kegiatan ekstensifikasi diharapkan dapat
83
menambah luas baku lahan sawah dan sekaligus sebagai penyeimbang laju alih
fungsi lahan yang semakin marak.
Pada Tahun 2021, pelaksanaan pekerjaan ekstensifikasi lahan sawah mendukung
Food Estate ini dilakukan dengan pola swakelola dengan instansi pemerintah lain
(IPL) yaitu Korem 012/Panju Panjung.
Sasaran kegiatan ini adalah terealisasinya kegiatan ekstensifikasi lahan sawah seluas
16.643 Ha (Kabupaten Kapuas 12.769 Ha dan Pulang Pisau seluas 3.874 Ha) dengan
alokasi anggaran konstruksi sebesar Rp266.299.200.000,-. Kegiatan ini terealisasi
(land clearing dan land levelling) seluas 15.502,76 Ha atau sebesar 93,15% dengan
olah tanah seluas 2.840,92 ha atau 17,07%. Tertundanya penyelesaian fisik di
lapangan, terutama dalam pengolahan tanah, disebabkan masuknya musim hujan
yang menyebabkan lokasi ekstensifikasi lahan pada lahan rawa mengalami
kebanjiran. Tindaklanjut penyelesaian fisik dilapangan oleh pelaksana dan petani
sampai tanam akan di lakukan setelah banjir surut. adanya perpanjangan waktu
penyelesaian konstrukksi ekstensifikasi lahan dari 31 Desember 2021 menjadi
Februari 2022 (surat kesepakatan antara KPA, PPK, dan Pelaksana Kegiatan).
Sedangkan realisasi keuangan sebesar Rp266.298.560.000,- atau 100 % dari
kontrak kegiatan konstruksi ekstensifikasi lahan sawah.
Dalam rangka mewujudkan ketahanan dan kedaulatan pangan perlu
diselenggarakan pembangunan pertanian berkelanjutan. Perlindungan Lahan
Pertanian Pangan Berkelanjutan sebagaimana diatur dalam Undang Undang No. 41
Tahun 2009, merupakan implementasi dari Konstitusi Nasional Indonesia Pasal 20,
Pasal 21, Pasal 27 ayat (2), Pasal 28A, Pasal 28C, dan Pasal 33 Undang-Undang
Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Kemudian diimplementasi lebih lanjut
oleh Peraturan Pemerintah No. 1 Tahun 2011 Tentang Penetapan dan Alih Fungsi
Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan. Mengingat masalah alih fungsi lahan
pertanian pangan, terutama lahan pertanian (sawah) ke lahan non pertanian sawah
dimana setiap tahun terjadi konversi lahan.
Hilangnya lahan pertanian produktif ini apabila tidak dikendalikan akan mengganggu
kelangsungan produksi yang akhirnya bisa menyebabkan terancamnya ketahanan
pangan, baik itu ketahanan pangan daerah maupun nasional. Selain fungsi pasokan
produksi, lahan pertanian juga mempunyai berbagai fungsi lain yaitu sebagai
penyedia dan pembuka lapangan kerja, fungsi lingkungan dan fungsi wilayah
tangkapan air (water catchment area). Terjadinya alih fungsi lahan pertanian ini
menyebabkan hilangnya fungsi-fungsi lain tersebut. Oleh karena itu, penetapan
lahan pertanian pangan berkelanjutan dan pengaturan alih fungsi lahan pertanian
pangan merupakan salah satu kebijakan yang sangat strategis.
Pada tahun 2021, dialokasikan anggaran Rekomendasi Perlindungan dan
Pengendalian Alih Fungsi Lahan Pertanian dialokasikan melalui dana Pusat dan
dekonsentrasi pada 47 kabupaten dalam 8 provinsi. Realisasi keuangan sebesar
Rp28.291.076,338,00 atau 92,4% dari total anggaran.
84
Pada Tahun 2021, berdasarkan rekapitulasi penetapan LP2B dalam Perda RTRW
Kabupaten/Kota maupun dalam Perda Khusus PLP2B, sebanyak 535
Kabupaten/Kota telah menetapkan Perda RTRW. Dari jumlah tersebut, 267
Kabupaten/Kota telah menetapkan LP2B dalam Perda RTRW dan 268
Kabupaten/Kota belum menetapkan LP2B dalam Perda RTRW. Gambar 19
menunjukkan salah satu kegiatan ekstensifikasi (land clearing) Tahun 2021 di Prov.
Kalimantan Tengah.
85
SS 1. IKU 10
Tingkat Kemanfaatan Sarana Produksi Pertanian
Target Realisasi
86,69% 92,11%
% Capaian
106,25%
Sangat Berhasil
Indikator ini untuk mengetahui pemanfaatan sarana produksi pertanian yang sudah
disalurkan ke kelompok tani/gabungan kelompok tani penerima manfaat. Berdasarkan
UU Nomor 22 Tahun 2019 tentang Sistem Budi Daya Pertanian Berkelanjutan, sarana
Budi Daya Pertanian adalah segala sesuatu yang dapat dipakai sebagai alat dan/atau
bahan yang dibutuhkan untuk budi daya Pertanian. Sarana tersebut meliputi benih
tanaman dan benih hewan atau bibit hewan; pupuk, pestisida, pakan dan alsintan.
Tingkat kemanfaatan sarana produksi pertanian secara keseluruhan dihitung dengan
rumus:
∑(tingkat kemanfaatan sarana produksi pertanian)
∑eselon I yang melaksanakan pengukuran tingkat kemanfaatan sarana produksi pertanian
Realisasi indikator Tingkat Kemanfaatan Sarana Produksi Pertanian diperoleh dari rata-
rata tingkat kemanfaatan sarana pertanian di Eselon I yang melaksanakan fasilitasi
sarana pertanian, yaitu Ditjen Hortikutura, Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan,
serta Ditjen Prasarana dan Sarana Pertanian.
Pada era Pemerintahan [Link]’ruf, penerapan mekanisasi pertanian meningkat
sangat signifikan jumlahnya. Penerapan mekanisasi pertanian dalam jumlah banyak ini
telah memberikan hasil nyata dalam pertanian Indonesia saat ini. Dampaknya terjadi
penghematan tenaga kerja sebanyak 70-80%, penghematan biaya produksi 30-40%,
peningkatan produksi 10-20%, dan penurunan kehilangan hasil saat panen dari 20%
menjadi 10%.
Penggunaan mekanisasi pertanian dalam setiap aspek proses produksi merupakan
bentuk transformasi pertanian modern dan mutlak harus dilakukan. Transformasi ke
arah pertanian modern menjadi penting karena akan mendorong peningkatan
produktivitas, efisien dalam penggunaan sumberdaya dan teknologi, serta mampu
menghasilkan output yang berkualitas, bernilai tambah dan berdaya saing tinggi.
Fasilitasi alat dan mesin pertanian (alsintan) diharapkan mampu mendukung
peningkatan produksi melalui peningkatan produktivitas, efisiensi kerja, dan peningkatan
kualitas. Pemanfaatan bantuan yang telah disalurkan harus terukur dan hasilnya dapat
dijadikan masukan untuk perbaikan ke depan.
86
Untuk dapat mengetahui pemanfaatan bantuan sarana produksi pertanian yang sudah
disalurkan ke kelompok tani/gabungan kelompok tani penerima manfaat oleh
Kementerian Pertanian, maka perlu dilakukan pengukuran tingkat kemanfaatan sarana
pertanian.
Pengukuran tingkat kemanfaatan sarana pertanian ini dilakukan melalui survei secara
online (menggunakan kuesioner online) maupun survei secara langsung di lapangan
kepada penerima bantuan alat dan mesin pertanian tahun 2020 dan 2021. Sampel
sarana produksi tersebut diambil dari berbagai Provinsi dan Kabupaten di Indonesia.
Akan tetapi, khusus untuk sarana pertanian pupuk dan pestisida pengukuran dilakukan
dengan perbandingan antara pupuk dan pestisida yang terdistribusi dengan kebutuhan
pupuk dan pestisida.
Berdasarkan cara pengukuran, capaian indikator Tingkat Kemanfaatan Sarana Pertanian
adalah sebesar 91,84%% atau terealisasi sebesar 105,94% (sangat berhasil). Apabila
dibandingkan dengan target jangka menengah sebesar 86,9% maka capaian tahun 2021
ini telah melampaui dengan realisasi 105,68%. Oleh karena itu, kinerja tahun 2021 perlu
dipertahankan bahkan ditingkatkan di tahun mendatang.
Indikator kinerja Tingkat Kemanfaatan Sarana Pertanian merupakan Indikator kinerja
yang termuat dalam Revisi II Renstra Kementerian Pertanian Tahun 2021, yang
dijabarkan lebih rinci pada Renstra Ditjen Prasarana dan Sarana Pertanian. Pengukuran
terhadap indikator kinerja tingkat kemanfaatan sarana produksi pertanian baru
dilaksanakan pada tahun 2021, sehingga hasil pengukuran Tahun 2021 tidak dapat
dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
Sarana produksi pertanian yang difasilitasi oleh Kementerian Pertanian meliputi sarana
pupuk dan pestisida, sarana produksi hortikultura, sarana produksi peternakan dan
kesehatan hewan, serta sarana produksi pertanian prapanen. Capaian tingkat
kemanfaatan saranan pertanian tahun 2021 terlihat pada Tabel 24.
Tabel 24. Capaian Kinerja Tingkat Kemanfaatan Sarana Pertanian Tahun 2021
Tingkat
Jenis Sarana Produksi Pertanian
Kemanfaatan (%)
Fasilitasi Sarana Produksi Hortikultura 88,41%
Fasilitasi Alsintan Pasca Panen Pangan Hewani Asal Ternak 98,42%
Alsintan Pra Panen 89,51%
Total [Link] Sarana Pertanian 92,11%
Sumber: Ditjen PSP, Ditjen Hortikultura, dan Ditjen PKH, 2021
87
faktor penting yang berperan dalam menghasilkan produk bermutu dan berdaya
saing yang dicirikan antara lain oleh produk dengan produktivitas tinggi, mutu hasil
dan efisiensi usaha tani.
Penggunaan benih bermutu dari varietas unggul sudah menjadi kebutuhan dalam
berbudidaya, namun demikian penggunaan benih bermutu pada sebagian
petani/masyarakat masih terbatas atau bahkan belum mengetahui varietas unggul
dan manfaatnya. Hal ini disebabkan oleh beberapa hal yaitu antara lain terbatasnya
ketersediaan benih bermutu, penyediaan benih bermutu memerlukan waktu,
kekurangtahuan masyarakat terhadap manfaat penggunaan benih bermutu dan
masih terlalu tingginya harga benih bermutu. Kondisi tersebut membuat
petani/masyarakat masih ada yang menggunakan benih yang dibuat sendiri tanpa
diketahui asal usul benih sumbernya dan digunakan berulang-ulang, sehingga
tentunya mutu benih tersebut semakin lama semakin menurun dan kemungkinan
besar tidak dapat memberikan hasil yang memuaskan.
Pada Tahun 2021 Kementerian Pertanian telah memfasilitasi bantuan benih
hortikultura kepada kelompok tani, organisasi masyarakat dan perguruan tinggi yang
tersebar di 32 provinsi, 186 kabupaten/kota dan 2.624 kelompok tani penerima
bantuan. Adapun benih yang diberikan yaitu sebagai berikut:
a. Benih buah (jeruk, lengkeng, mangga, manggis, durian, salak, pisang dan
alpukat)
b. Benih sayuran (cabai, kangkung, sawi hijau, kacang panjang, mentimun,
kentang, bawang merah dan bawang putih)
c. Benih tanaman obat (jahe dan kunyit).
Tingkat kemanfaatan benih dilakukan dengan Survei melalui pemilihan sampel
dengan metode purposive sampling dari 168 kabupaten penerima bantuan dilakukan
Survei dengan responden 67 kabupaten, dari penerima bantuan 2.624 kelompok tani
dilakukan survei pada 273 kelompk tani (10,40 %).
Aspek yang ditanyakan pada Survei tingkat kemanfaatan benih yaitu aspek : 1)
jumlah/volume benih yang diterima sudah mencukup kebutuhan/target tanam, 2)
jenis benih yang diterima sudah sesuai dengan yang diminta, 3) varietas benih yang
diterima sudah sesuai dengan yang diminta, 4) waktu serah terima benih sudah
sesuai dengan jadwal tanam, 5) kondisi benih saat diterima, 6) apakah benih yang
diterima sudah ditanam, 7) kondisi benih yang sudah ditanam, 8) apakah bantuan
benih mengurangi biaya produksi, 9) kepuasan terhadap benih yang diberikan, 10)
hasil panen dari bantuan benih yang diberikan, 11) apakah akan terus melanjutkan
usaha budidaya jika tidak ada bantuan dari pemerintah.
Dari hasil Survei 88,41 % responden menyatakan bantuan benih yang diterima
bermanfaat. Tingkat kemanfaatan bantuan benih yang diberikan ini melebihi dari
target yang ditetapkan yaitu sebesar 85%, namun demikian kedepan tingkat
kemanfaatan bantuan benih ini akan terus ditingkatkan agar bantuan benih yang
diberikan dapat memberikan kontribusi pada peningkatan produksi dan daya saing
88
89
90
Tabel 26. Capaian Tingkat Kemanfaatan Alsintan Pra Panen Tahun 2021
Jumlah Sarana Sarana Pertanian
Jenis Sarana Jumlah Tingkat
Produksi Yang
Produksi Sampel Kemanfaatan
Pertanian yang Termanfaatkan
Pertanian (Unit) (%)
Disalurkan (Unit) (Unit)
Traktor Roda 2 6.666 103 96 93,20%
Traktor Roda 4 1.033 16 16 100,00%
Pompa 7.514 116 96 82,76%
Rice Transplanter 470 7 6 85,71%
Cultivator 2.057 32 27 84,38%
Hand Sprayer 7.789 120 117 97,50%
Dari target survei sebanyak 394 unit hanya 242 unit atau 61,42 % yang bisa
dilakukan dengan survei langsung. Untuk memenuhi kekurangan sampel tersebut,
maka dilakukan pengumpulan laporan pemanfaatan dari daerah melalui Aplikasi
BAST Online dan kuisioner pengawasan bantuan alsintan TA. 2020 yang telah
disebarkan ke dinas pertanian kabupaten/kota/provinsi. Berdasarkan hasil olah data
kuesioner, diketahui bahwa kemanfaatan alsintan paling rendah adalah pompa air
yaitu 82,76%. Hal ini disebabkan oleh ketersediaaan air yang masih mencukupi.
Berdasarkan wawancara dengan penerima bantuan, pompa air akan digunakan
ketika ketersediaan air sudah mulai menurun yaitu ketika musim kemarau dimulai
sekitar Bulan Agustus 2021 sementara pengambilan data ini sebagian besar
dilakukan sebelum musim kemarau. Tingkat kemanfaatan tertinggi adalah traktor
roda 4 sebesar 100 %. Di lapangan memang traktor roda 4 ini banyak digunakan
oleh petani untuk mengolah lahannya. Keuntungannya antara lain pengolahan lahan
lebih cepat dan effisien sehingga mampu menurunkan waktu dan biaya produksi.
Tahun 2021 Kementerian Pertanian menyediakan alat mesin pertanian prapanen
sebanyak 25.134 unit atau tercapai 100% dari target sebanyak 25.134 unit dengan
realisasi anggaran sebesar Rp686.608.902.913,00 atau tercapai sebesar 99.82%dari
anggaran yang tersedia sebesar Rp687.820.193.000,00. Secara rinci realisasi
kegiatan dapat dilihat pada Tabel 27.
Tabel 27. Realisasi Kegiatan Penyediaan Alat dan Mesin Pertanian Prapanen Tahun
2021
91
Penggunaan alat dan mesin pertanian telah diketahui secara luas merupakan salah
satu cara upaya terkini dan modern dalam meningkatkan produksi dan efisiensi
usaha tani, mutu dan nilai tambah produk serta kesejahteraan petani. Penggunaan
alat dan mesin pertanian dimaksudkan untuk meningkatkan daya kerja tenaga
manusia dari setiap tahapan dari proses produksi pertanian. Dalam
perkembangannya, penggunaan alsintan telah menjadi kebutuhan penting bagi
petani seperti yang ditunjukkan pada Gambar 21, 22, dan 23.
92
Keterangan :
x = Identifikasi tingkat kemanfaatan distribusi pupuk dan pestisida
a = Identifikasi total pupuk bersubsidi (ton) yang terdistribusi
b = Identifikasi total pupuk non-subsidi (ton) yang terdistribusi
c = Identifikasi total kebutuhan pupuk (ton) bersubsidi
d = Identifikasi total kebutuhan pupuk (ton) non-subsidi
e = Identifikasi total pestisida (ton) yang terdistribusi
f = Identifikasi total kebutuhan pestisida (ton)
a. Pupuk Bersubsidi
Dalam rangka mewujudkan ketahanan pangan dan memenuhi sasaran indikator
produksi beberapa komodiatas pertanian tahun 2021, diperlukan pencapaian
peningkatan produktivitas dan kualitas hasil pertanian melalui penerapan
teknologi budidaya secara tepat dengan penggunaan sarana produksi sesuai
teknologi yang direkomendasikan di masing-masing wilayah. Ketersediaan
pupuk sebagai salah satu sarana produksi yang utama terutama pupuk
93
94
95
96
Gambar 25. Bantuan Pupuk Urea Non Gambar 26. Bantuan Pupuk NPK Non
Subsidi Kepada Poktan Saka Subsidi Kepada Poktan
Batang, Desa Pangkoh Hilir, Poktan Maju Sentosa, Desa
Kecamatan Pandih Batu, Muda Sentosa, Kecamatan
Kab. Pulang Pisau, Prov. Buay Madang, Kab. Ogan
Kalimantan Tengah Komering Ulu Timur, Prov.
Sumatera Selatan
Upaya lain yang dilakukan oleh Pemerintah dalam rangka mendukung pupuk
non subsidi adalah melalui kegiatan UPPO (Unit Pengolah Pupuk Organik), yaitu
program bantuan pemerintah yang bertujuan meningkatkan produksi,
produktivitas, mutu hasil serta memberikan nilai tambah dan peningkatan
pendapatan petani melalui produksi pupuk organik secara insitu diberikan
melalui transfer uang senilai Rp200.000.000,00 dilakukan dengan
pembangunan kandang ternak dan penyiagaan lahan HMT. Salah satu kegiatan
UPPO dapat dilihat pada Gambar 27.
Tahun 2021 kegiatan UPPO terealisasi sebanyak 1.326 unit atau 99,85% dari
target sebesar 1.328 unit, dengan realisasi anggaran sebesar
Rp265.340.000.000,00 atau sebesar 99,90% dari pagu anggaran sebesar
Rp265.600.000.000,00.
97
Gambar 27. Dokumentasi Kegiatan Unit Pengolah Pupuk Organik (UPPO) Tahun
2021 pada Poktan Mekat Asih, Desa Munjuliaya, Kecamatan
Purwarkarta, Kab. Purwakarta, Prov. Jawa Barat
c. Pestisida
Kebutuhan pestisida dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya jenis
tanaman, umur tanaman dan tingkat keparahan serangan OPTnya. Kebutuhan
pestisida dihitung dengan mengasumsikan 5% dari luas areal pertanian yang
terbatas pada komoditas padi, jagung, kedelai, cabe, bawang merah dan tebu
(data dari Ditjen komoditas). Luas areal pertanian seluas 23.445.966 Ha yang
terkena serangan OPT seluas 1.172.298,30 Ha. Dengan dosis pestisida sebesar
0,5 kg/Ha (setara dengan dosis anjuran 1 ml/liter) maka diperoleh kebutuhan
pestisida sebesar 587 Ton/Ha, sehingga pada tahun 2021 jumlah kebutuhan
pestisida sebesar 587 Ton yang terdiri dari kebutuhan pestisida kimia sebesar
528 Ton dan kebutuhan pestisida alami sebesar 59 Ton. Pestisida terdistribusi
adalah pestisida yang telah terdaftar dan memiliki ijin dari Menteri Pertanian
melalui proses penyaluran oleh produsen ke kios pengecer hingga dipasarkan
kepada petani, realisasi pestisida terdistribusi adalah 100% atau sebanyak 587
ton.
98
Dalam era globalisasi saat ini, semua produk dan komoditas harus mampu bersaing, baik
di pasar dalam negeri maupun di pasar internasional. Beberapa komoditas pertanian
telah memiliki posisi dan mampu bersaing di luar negeri, seperti komoditas perkebunan.
Pada sisi lain, Kementerian Pertanian juga telah berupaya untuk menekan laju
pertumbuhan impor melalui peningkatan produksi komoditas susbstitusi impor. Demikian
pula dalam rangka meningkatkan nilai tambah dari suatu produk pertanian, Kementerian
Pertanian mendistribusikan sarana pascapanen dan pengolahan hasil pertanian.
Peluang penciptaan nilai tambah terbesar terjadi di sektor pertanian ada pada
agroindustri atau pada mata rantai tengah antara hulu dan hilir. Penguasaan teknologi
penciptaan nilai tambah dan akses pasar banyak dikuasai pada usaha pengolahan hasil
pertanian. Untuk itu, perlu Kementerian Pertanian melakukan upaya untuk memperkuat
penanganan pascapanen dan pengolahan hasil pertanian serta berupaya meningkatkan
ekspor komoditas pertanian prospektif.
Keberhasilan pencapaian Sasaran Strategis ini diukur melalui dua indikator, yaitu: (1)
Tingkat Kemanfaatan Sarana Pascapanen dan Pengolahan Hasil Pertanian dan (2)
Pertumbuhan Nilai Ekspor untuk Produk Pertanian Nasional.
99
SS 2. IKU 11
Tingkat Kemanfaatan Sarana Pascapanen dan Pengolahan
Hasil Pertanian
Target Realisasi
84,40% 90,89%
% Capaian
107,69%
Sangat Berhasil
100
Sumber: Ditjen TP, Ditjen Hortikultura, Ditjen Perkebunan, dan Ditjen PKH, 2021
101
102
103
104
102
100
100
98
96
% Kemanfaatan
94
92,50
92
90
88
Sarana Pascapanen Sarana Pengolahan
105
106
107
Tabel 35. Tingkat Kemanfaatan Sarana Prasarana Pengolahan dan Pemasaran Hasil
Peternakan
Jumlah Jumlah Alsintan yang Tingkat
Jenis Sarana Prasarana Alsintan yang Sampel Termanfaatkan Kemanfaatan
Disalurkan Alsintan (Unit) (%)
(Unit) (Unit)
1. Sarana Pengolahan 2 2 2 100,00
Susu
2. Sarana pengolahan 3 3 3 100,00
Pupuk
3. Sarana Pengolahan 1 1 1 100,00
Unggas
4. Sarana Pengolahan 1 1 1 100,00
Daging
5. Sarana Pengolahan 25 25 20 80,00
Limbah (Biogas)
Jumlah 32 32 27 81,82
Rata-rata Tingkat Kemanfaatan 81,82
Sumber: Ditjen PKH, 2021
Namun demikian terdapat sarana pengolahan dan pemasaran hasil peternakan yang
belum dapat dimanfaatkan karena pada kelompok penerima manfaat (kegiatan desa
korporasi sapi) belum ada ternaknya yang disebabkan gagal lelang.
108
SS 2. IKU 12
Pertumbuhan Nilai Ekspor Untuk Produk Pertanian Nasional
Target Realisasi
7,71% 12,78%
% Capaian
120%*)
Sangat Berhasil
Nilai ekspor produk pertanian utama terdiri dari nilai ekspor 39 (tiga puluh sembilan)
komoditas dari empat subsektor yaitu, yaitu subsektor tanaman pangan (padi, jagung,
kedelai, ubi kayu, ubi jalar, kacang tanah, kacang hijau, porang), subsektor hortikultura
(mangga, manggis, pisang, durian, nanas, salak, jahe, krisan, kentang, jamur, cabai,
bwg merah), subsektor perkebunan (Kelapa, karet, sawit, kopi, teh, lada, kakao,
cengkeh, vanili, pala, jambu mete, nilam, kayu manis, tembakau, sagu) dan sub sektor
peternakan (Hewan hidup, produk pangan segar dan olahan, produk non pangan, obat
hewan, benih dan bibit ternak). Pertumbuhan nilai ekspor diukur dalam nilai persentase
dengan membandingkan jumlah pertumbuhan nilai ekspor pertanian dengan jumlah
komoditas ekspor pertanian atau dengan rumus:
∑(pertumbuhan nilai ekspor untuk produk pertanian nasional)
∑(𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘 𝑒𝑒𝑒𝑒𝑒𝑒𝑒𝑒𝑒𝑒𝑒𝑒 𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝)
Pertumbuhan nilai ekspor pertanian dihitung dengan cara membandingkan nilai ekspor
tahun berjalan dengan nilai ekspor pertanian tahun sebelumnya.
Target kinerja pertumbuhan nilai ekspor produk pertanian utama tahun 2021 adalah
sebesar 7,71%, sedangkan realisasinya mencapai 12,78%, sehingga capaian kinerja
Kementerian Pertanian untuk indikator kinerja sasaran strategis ini adalah sebesar
165,76%.
Apabila dibandingkan dengan target akhir jangka menengah tahun 2024 sebesar
12,28%, capaian Pertumbuhan Nilai Ekspor Untuk Produk Pertanian Nasional tahun 2021
telah terlampaui, yaitu 104,07%. Oleh karena itu, kinerja yang sangat berhasil pada
tahun 2021 harus terus dipertahankan dan bahkan ditingkatkan pada tahun mendatang.
Total nilai ekspor pertanian tahun 2021 senilai US$ [Link] disumbang oleh sub
sektor perkebunan senilai US$ [Link] atau 93,03% dengan kontribusi terbesar
dari komoditas Kelapa Sawit yaitu senilai US$ [Link] (naik US$ [Link]
atau tumbuh 53,48% dibanding tahun 2020).
Pertumbuhan volume ekspor produk pertanian utama dalam 3 (tiga tahun terakhir
menunjukkan tren fluktuatif. Secara rinci volume ekspor untuk masing-masing produk
pertanian utama dijabarkan pada Tabel 36.
109
110
Gambar 31. Pelepasan Ekspor Komoditas Pertanian Dari 17 Pintu Utama yang Tersebar
di 17 Provinsi Indonesia
Di tengah kondisi pandemi Covid–19 beberapa komoditas hortikultura masih bisa
melakukan ekspor ke mancanegara walaupun adanya penutupan jalur penerbangan ke
sejumlah negara, ternyata tak menyurutkan semangat eksportir untuk terus mengirim
komoditas andalan nusantara. Hal ini merupakan sesuatu yang sangat menyenangkan
petani karena masih dapat menikmati harga produk yang lebih baik. Permintaan buah
tropis di berbagai negara sangat tinggi, terlebih pada saat pandemi Covid-19,
masyarakat dunia sangat membutuhkan asupan vitamin yang berasal dari buah–buahan
segar. Disamping itu, Kementerian Pertanian juga melakukan inisiasi dan perluasan
pasar dalam rangka akselerasi ekspor komoditas hortikultura melalui kegiatan
peningkatan nilai tambah dan daya saing hortikultura. Beberapa negara tujuan ekspor
yang mempersyaratkan rumah kemas (packing house) yang teregistrasi serta suplai
komoditas dari kebun yang teregistrasi, sehingga dilakukan pengawalan dan
pendampingan terhadap pelaku usaha yang akan melakukan proses registrasi. Pada
tahun 2021, promosi kontak bisnis dilakukan secara online ODICOFF (One Day With
Indonesia Coffe Fruits and Floriculture) di 10 negara.
111
Berdasarkan data di atas, diketahui bahwa nilai ekspor hortikultura untuk kedua belas
komoditas yaitu Krisan, Kentang, Bawang Merah, Jamur dan Cendawan, Cabai, Pisang,
Nenas, Mangga, Manggis, Durian, Salak dan Jahe pada tahun 2021 sebesar US$
466.335.422,57 mengalami peningkatan bila dibandingkan dengan data tahun 2020
sebesar US$ 424.021.547,27. Peningkatan nilai ekspor hortikultura ini menjadi suatu
kebanggan dalam keberjalanan strategi ekspor dalam komoditas hortikultura yang telah
diterapkan dan dijalankan dalam era pandemik yang masih terus berlangsung ini.
Selain performa peningkatan ekspor komoditas pertanian yang menjanjikan, di sisi lain
beberapa komoditas memperlihatkan penurunan. Penurunan nilai ekspor tertinggi
adalah untuk ekspor benih dan bibit ternak. Walaupun dari segi volume meningkat, pada
tahun 2021 nilai ekspor benih dan bibit ternak turun 93,97% dibandingkan tahun 2020.
Penurunan ini terutama terutama karena tujuan ekspor terbesar produk Hatching Egg
adalah negara Myanmar dan Vietnam, dimana kedua negara tersebut membutuhkan
kurang lebih 1,7 juta butir HE, namun belakangan ini kondisi politik keamanan Myanmar
yang belum stabil.
Selain itu, upaya perluasan akses pasar HE ke Brunei Darussalam telah dirintis sejak
tahun 2019, saat ini masih belum selesai G to G antar kedua Negara terkait pemenuhan
persyaratan Bebas Avian Influenza.
Salah satu Program Strategis Kementerian Pertanian untuk mendorong peningkatan
ekspor adalah Gerakan Tiga Kali Lipat Ekspor (GRATIEKS). Oleh karena itu, dilakukan
berbagai upaya dalam peningkatan daya saing komoditas pertanian termasuk
peternakan dan kesehatan hewan, menuju pertanian maju, mandiri dan modern.
Terdapat 5 kebijakan strategis Kementerian Pertanian dalam meningkatkan ekspor
komoditas pertanian, yang juga menjadi acuan bagi Direktorat Jenderal Peternakan dan
Kesehatan Hewan dalam upaya mencapai target GRATIEKS, yakni:
1. Mendorong pertumbuhan eksportir baru, dengan cara menyiapkan unit usaha dan
memberikan pembekalan kepada pelaku usaha agar siap ekspor.
Pada tahun 2021 telah dilakukan upaya identifikasi pelaku usaha ekspor di daerah
dengan melibatkan Dinas yang membidangi fungsi peternakan dan kesehatan di
seluruh provinsi. Melalui kegiatan identifikasi pelaku usaha ekspor tersebut, dapat
diidentifikasi potensi komoditi di masing-masing wilayah yang memiliki potensi
ekspor, dan para pelaku usaha peternakan yang siap ekspor atau perlu dilakukan
pendampingan agar siap ekspor. Disamping itu, pada tahun 2021 juga telah dilakukan
beberapa pertemuan dan penyampaian informasi kepada para pelaku usaha baik
skala industri maupun UMKM yang memiliki potensi ekspor, untuk fasilitasi akses
pasar ekspor, diantaranya yakni:
a) Fasilitasi pertemuan dengan market place [Link] yang berorientasi ekspor
sebagai sarana promosi produk yang berbasis digital.
b) Penyampaian informasi terkait peluang promosi dan akses pasar ekspor komoditi
peternakan dan kesehatan hewan di beberapa negara seperti Saudi Arabia, Uni
Emirat Arab (UEA), Qatar, Afrika Selatan, Jepang, Brunei Darussalam, dan
112
Singapura.
c) Melakukan serangkaian kegiatan promosi ke 10 Negara yang dikemas dalam
program One Day With Indonesian Coffee, Fruits, Floriculture, Livestock and
Veterinary Products (ODICOFF).
2. Menambah ragam komoditas ekspor dengan cara: mendorong ekspor dalam bentuk
jadi, kerja sama dengan pemerintah daerah dan stakeholder menggali potensi
daerah, serta mendorong tumbuhnya investasi di bidang industri agribisnis. Pada
tahun 2021 telah dilakukan berbagai upaya dalam menambah jenis produk yang
dapat diterima di negara yang telah menjadi tujuan ekspor Indonesia, diantaranya
adalah:
a) Jepang yang sebelumnya baru menerima produk olahan daging ayam yang telah
melewati proses pemanasan, maka telah mulai dilakukan proses G to G untuk
produk lainnya seperti daging beku ayam, dan daging sapi beserta olahannya.
Pihak Jepang masih memerlukan informasi lebih lanjut terkait sertifikasi bebas
kompartemen AI yang dilakukan Indonesia, serta proses self declaration bebas
kompartemen AI tersebut di OIE.
b) Singapura yang sebelumnya baru menerima produk daging babi dan telur asin,
maka tengah dilakukan proses G to G untuk akses pasar daging ayam beserta
olahannya, dan telur ayam untuk konsumsi.
c) Brunei Darussalam yang sebelumnya telah menerima produk susu Indonesia serta
kambing dan domba, Sedangkan untuk penambahan komoditi Hatching Egg (HE)
masih dalam proses G to G.
d) Cina yang sebelumnya telah menerima produk sarang burung walet asal
Indonesia, maka pada tahun 2020 dan 2021 telah diproses permintaan dibukanya
akses pasar untuk produk daging ayam, daging sapi, dan ceker ayam. Namun
proses G to G masih terkendala, karena pihak Cina meminta akses pasar untuk
komoditi yang sama. Di sisi lain Cina merupakan negara endemis flu burung.
113
114
Dalam konteks pembangunan pertanian, penelitian merupakan salah satu satu faktor
yang penting bagi kemajuan pertanian secara umum, baik dalam sisi perubahan perilaku
petani, peningkatan produksi, efektivitas dan efisiensi usaha tani bahkan ketepatan
sasaran dan kebijakan pemerintah terkait dengan pertanian pun tergantung dari sejauh
mana kemajuan penelitian di suatu negara.
Pertanian di Indonesia saat ini dihadapkan pada berbagai perubahan dan perkembangan
lingkungan yang sangat dinamis serta persoalan-persoalan mendasar seperti
meningkatnya jumlah penduduk, tekanan globalisasi dan permintaan pasar, pesatnya
kemajuan teknologi dan informasi, makin terbatasnya sumberdaya lahan, air dan energi,
perubahan iklim global, perkembangan dinamis sosial budaya masyarakat, kecilnya
status dan luas kepemilikan lahan, masih terbatasnya kemampuan sistem perbenihan
dan pembibitan nasional, terbatasnya akses petani terhadap permodalan, masih
lemahnya kapasitas kelembagaan petani dan penyuluh, serta masih rawannya
ketahanan pangan dan energi. Dengan masih rendahnya nilai tukar petani dan kurang
harmonisnya koordinasi kerja antar sektor terkait pembangunan pertanian, maka
pembangunan pertanian ke depan menghadapi banyak tantangan.
Peran penelitian menjadi sangat penting untuk menghadapi tantangan tersebut,
terutama penyediaan benih dan bibit unggul bermutu, teknik budi daya yang lebih maju
dan inovasi teknologi prosesing yang makin beragam yang dapat meningkatkan nilai
tambah dan metode alih inovasi teknologi yang cepat dari teknologi yang tepat guna.
Keberhasilan dari sasaran ini dapat diukur dari pencapaian indikator: (1) Persentase Hasil
Penelitian dan Pengembangan yang dimanfaatkan dan (2) Persentase Petani yang
Menerapkan Teknologi.
115
SS 3. IKU 13
Persentase Hasil Penelitian dan Pengembangan yang
Dimanfaatkan
Target Realisasi
70% 115,61%
% Capaian
120%*)
Sangat Berhasil
Sesuai dengan proses bisnis penelitian dan pengembangan sampai pengguna, maka
hasil penelitian dan pengembangan yang telah dihasilkan perlu dimanfaatkan.
Pengukuran dilakukan melalui kompilasi data hasil penelitian dan pengembangan yang
telah dimanfaatkan lingkup Balitbangtan serta kompilasi hasil penelitian dan
pengembangan yang dihasilkan lingkup Balitbangtan dari tahun 2017-2021. Hasil litbang
yang dimanfaatkan merupakan produk riset/litbang yang dimanfaatkan oleh pengguna
(internal maupun eksternal). Pengguna diartikan secara luas yaitu peneliti, petani,
perguruan tinggi, pengusaha, lembaga, dll. Hasil litbang dapat berupa: lisensi, sitasi,
publikasi pemanfaatan, dokumentasi/foto kegiatan, berita acara serah terima, tanda
terima, surat keterangan, dll. Dimanfaatkannya hasil litbang selaras dengan
didiseminasikannya ke pengguna, sehingga dimanfaatkan sama dengan didiseminasikan.
Diseminasi dimaksud merupakan diseminasi pemanfaatan hasil Litbang. Pemanfaatan
hasil litbang yang diukur sebatas proses dan tidak sampai kepada dampak atas
pemanfaatan hasil litbang tersebut.
Capaian IKU persentase hasil penelitian yang dimanfaatkan terhadap hasil penelitian
yang dihasilkan adalah sebesar 115,61%, atau sebesar 165,16% (sangat berhasil) dari
target yang ditetapkan. Rincian jenis penelitian dan perhitungan capaian IKU persentase
hasil penelitian yang dimanfaatkan terhadap hasil penelitian yang dihasilkan terlihat
dalam Tabel 37.
116
Tabel 37. Jumlah Hasil Penelitian dan Pengembangan yang Dimanfaatkan dan Dihasilkan
Selama 5 Tahun
No IKSP/IKA Realisasi
117
Tahun 2021 ini merupakan tahun kedua pelaksanaan target Renstra 2020-2024.
Capaian Persentase Hasil Penelitian Dan Pengembangan Yang Dimanfaatkan tahun 2021
apabila dibandingkan dengan target akhir jangka menengah sebesar 75%, maka telah
terealisasi 154,15%. Oleh karena itu, kinerja yang sangat berhasil pada tahun 2021
harus terus dipertahankan dan ditingkatkan pada tahun mendatang, dengan terus
melakukan upaya penyebarluasan hasil litbang ke pihak-pihak terkait, melalui penciptaan
inovasi teknologi yang solutif dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat, sampai ke
peningkatan kapasitas untuk mendesiminasikan teknologi agar inovasi tersampaikan
dengan jelas dan siap terap.
Rincian dari capaian indikator kinerja Balitbangtan dalam periode Renstra 2020-2024
dapat dilihat pada tabel 39.
Tabel 39. Capaian Indikator Kinerja Balitbangtan Dalam Periode Renstra 2020-2024
Capaian
Tahun
Indikator Target/ (%)
No Sasaran
Kinerja Realisasi
2020 2021 2022 2023 2024
118
Beberapa hasil penelitian dan pengembangan yang dimanfaatkan selama 5 (lima) tahun
terakhir dan hasil penelitian dan pengembangan yang dihasilkan selama 5 (lima) tahun
diantaranya untuk komoditas strategis Kementerian Pertanian, yaitu: jagung, kentang,
alsin, dan pangan lokal berbahan sagu, serta teknologi lainnya seperti di bawah ini:
1. Jagung Hibrida Varietas Nakula Sadewa 29
Jagung Hibrida varietas Nakula Sadewa 29 dilepas melalui SK Mentan No.
820/Kpts/TP.010/12/2017 dimanfaatkan sejak 8 Januari 2021 dengan nomor
lisensi : 31/HK.510/H.2.3/1/2021, 094/ALM/I/2021 oleh CV Agro Lestari Mandiri
dalam bentuk perlindungan varietas tanaman (PVT). Varietas jagung ini
menghasilkan jagung hibrida tongkol ganda, dengan produksi dua kali lipat dari
jagung biasa. Kegiatan panen benih dapat dilihat pada Gambar 32.
Gambar 32. Panen Perdana Benih Jagung Nakula Sadewa 29 Jagung Hibrida Yang
Dihasilkan Tahun 2017 Oleh Gubenur Sulawesi Selatan di Desa Unra,
Kecamatan Awangpone, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan (Sulsel)
Tanggal 17 Februari 2021.
119
Gambar 34. Kit Elisa Untuk Mendeteksi Antibodi Terhadap Nucleoprotein Virus
SARS Cov-2
120
121
6. Mesin penanam Padi Untuk lahan Sawah Dalam ( Rice Transpanter jajar
Legowo)
Mesin Penanam Padi Untuk Lahan Sawah Dalam (Rice Transplanter Jajar Legowo)
dihasilkan tahun 2018 dan telah banyak dimanfaatkan oleh petani dalam
pengembangan kawasan, dan juga telah dimanfaatkan sejak 22 Februari 2021
dengan nomor lisensi: B-2543/HK.230/H.9/07/2021 008/KONTRAK/TMS/2021 oleh
PT Tanikaya Multi Sarana dalam bentuk paten. Keunggulan dari mesin ini salah
satunya adalah kemudahan operasional, mampu menggantikan 20 tenaga kerja
tanam/ha, kapasitas lapang 5-6 jam/ha sehingga mampu menurunkan kebutuhan
tenaga kerja dan biaya tanam sekaligus mempercepat waktu tanam.
7. Perbaikan Teknologi Pengolahan Produk Dari Umbi Porang Berkualitas
Ekspor
Kementerian Pertanian, menggelar kegiatan bimbingan teknis (Bimtek)
pengolahan pasca panen tanaman porang bagi sejumlah anggota kelompok tani
porang di Kabupaten Manggarai Timur, pada Senin (6/9/2021) seperti ditunjukkan
pada Gambar 37.
122
DEL, UGM, dan Swasta seperti PT. Samukti Karya Lestari, GIZ PROPEAT. Contoh
peta dapat dilihat pada Gambar 38.
123
Sistem Informasi Sebaran Teknologi Unggulan, dapat dilihat pada link berikut:
[Link] Versi android SI Sebaran Teknologi
Unggulan dapat diunduh dalam link sebagai berikut:
[Link] Tampilan
aplikasi dapat dilihat pada gambar 39.
124
125
SS 3. IKU 14
Persentase Petani yang Menerapkan Teknologi
Target Realisasi
75% 75,51%
% Capaian
100,68 %
Sangat Berhasil
Inovasi dan teknologi pertanian merupakan salah satu faktor yang penting dalam
peningkatan produksi dan produktivitas komoditas pertanian. Namun inovasi dan
teknologi pertanian tidak akan bermanfaat jika petani tidak menggunakan atau
menerapkannya dalam kegiatan usahataninya karena petani sebagai pelaku utama
dalam kegiatan pertanian. Agar inovasi dan teknologi dapat diterapkan oleh petani
dibutuhkan proses diseminasi inovasi dan teknologi oleh Penyuluh Pertanian melalui
kegiatan penyuluhan pertanian. Penyuluhan pertanian berperan sangat penting karena
sebagai jembatan teknologi dan inovasi hasil penelitan bagi petani, sehingga mereka
mau dan mampu menerapkan inovasi dan teknologi untuk peningkatan produksi serta
produktivitas usahataninya
Diseminasi inovasi teknologi pertanian merupakan proses penyampaian hasil pengkajian
teknologi yang mengandung ilmu pengetahuan dan teknologi baru atau cara baru untuk
diterapkan dalam proses produksi atau kegiatan budidaya. Proses inovasi dan diseminasi
teknologi pertanian sangat penting dalam mendorong proses penerapan inovasi serta
teknologi oleh petani dalam pengelolaan usahataninya.
Penerapan inovasi dan teknologi pertanian pada hakekatnya adalah proses perubahan
perilaku petani, baik berupa pengetahuan (cognitive), sikap (affective) dan keterampilan
(psychomotoric) dalam kegiatan usahataninya guna meningkatkan produksi,
produktivitas dan pendapatan petani serta ketahanan pangan. Penyuluh Pertanian
merupakan salah satu faktor yang berperan penting dalam proses diseminasi inovasi dan
teknologi kepada petani di WKPP, dengan materi inovasi teknologi yang bersumber dari
hasil penelitian dan kajian atau sumber informasi lainnya. Salah satu indikator
keberhasilan kegiatan penyuluhan pertanian meningkatnya jumlah petani yang
menerapkan teknologi pertanian guna meningkatkan produksi dan produktivitas
usahataninya.
Berdasarkan hasil monitoring dan evaluasi terhadap capaian Indikator Kinerja Utama
(IKU) petani yang menerapkan teknologi, yang salah satunya bersumber dari laporan
penyuluh pertanian, telah dicapai sebanyak 17.160.420 petani yang menerapkan
teknologi sepanjang tahun 2021, dari 22.725.437 petani yang tergabung dalam
kelompok tani secara nasional dan terdaftar dalam Aplikasi Simluhtan pada periode
tanggal 31 Desember 2021.
Mengacu pada formula perhitungan capaian kinerja tersebut, maka diperoleh data
capaian realisasi persentase jumlah petani yang menerapkan teknologi, sebagai berikut:
= 17.160.420 / 22.725.437 x 100%
= 75,51 %
Persentase capaian kinerja adalah :
= 75,51 / 75,00 x 100
= 100,68 % (sangat berhasil)
Sesuai hasil perhitungan tersebut, bahwa capaian realisasi persentase petani yang
menerapkan teknologi tahun 2021 yaitu sebesar 75,51% atau 17.160.420 petani,
dari target capaian yang ditetapkan sebesar 75% atau 17.044.078 petani. Hal ini
menunjukkan bahwa capaian kinerja petani yang menerapkan teknologi adalah sangat
berhasil yaitu sebesar 100,68%.
Capaian realisasi tersebut, sangat dipengaruhi oleh kegiatan diseminasi teknologi kepada
para petani melalui berbagai metode, antara lain: Sekolah Lapangan (SL) penerapan
teknologi yang bersumber dari anggran APBN maupun PHLN (SIMURP dan IPDMIP),
bimbingan teknis, latihan, kunjungan, dan supervisi oleh penyuluh pertanian, dll. Terkait
hal tersebut, rincian capaian petani yang menerapkan teknologi sebanyak 17.160.420
petani (75,51%), diperoleh dari petani yang mengikuti kegiatan:
1. Sekolah Lapangan (SL) penerapan teknologi yang bersumber dari anggaran Dana
Dekonsentrasi menghasilkan output petani yang menerapkan teknologi pertanian
sebanyak 32.096 petani. Kegiatan SL dilaksanakan di 131 Balai Penyuluhan
Pertanian (BPP), 131 kabupaten dan 33 provinsi. Kegiatan SL tersebut diikuti oleh
1.310 poktan peserta dan dilakukan pengawalan dan pendampingan oleh 517
Penyuluh Pertanian, seperti ditunjukan pad Gambar 40.
2. Sekolah Lapangan (SL) penerapan teknologi Climate Smart Agriculture (CSA) yang
bersumber dari anggaran PHLN (Proyek SIMURP) menghasilkan output petani yang
menerapkan teknologi pertanian sebanyak 12.160 petani, dengan rincian:
a. Petani peserta Sekolah Lapangan (SL) CSA, dengan rincian’: 76 BPP x 3 Penyuluh
Pertanian x 8 poktan x 5 petani = 9.120 petani;
4. Fasilitasi bagi Penyuluh Pertanian Swadaya (PPS) menghasilkan output petani yang
menerapkan teknologi sebanyak 192.000 petani, dengan rincian sebagai berikut
: 2.400 Penyuluh Pertanian Swadaya (PPS) x 4 poktan x 20 petani =
192.000 petani.
Pada umumnya, jenis inovasi teknologi yang diterapkan oleh petani, meliputi:
1. Aspek input
a. Pemupukan Berimbang
b. Penggunaan pupuk kompos dan pestisida nabati
c. Penggunaan Benih Varietas Unggul Baru (VUB)
2. Aspek budidaya
a. Penerapan jarak tanam
b. Penerapan sistem penanaman jajar legowo 2:1
c. Penerapan sistem penananam jajar legowo super
d. Pengendalian hama terpadu
e. Budidaya tanaman dengan sistem organic
f. Budidaya tanaman dengan sistem pertanian terpadu
g. Mekanisasi pertanian (penggunaan alsinta seperti trantor roda dua, tractor roda
empat, combine harvester, rice transplenter)
h. Sistem Tunda Potong, nutrisi dan pakan ternak
i. Optimalisasi reproduksi IB/KA pengendalian keswan
j. Budidaya Ayam KUB (Kampung Unggul Balitbangtan) dan Bangkok
k. Pengelolaan Kandang semi intensif
3. Aspek pengolahan dan packaging
a. Penggunaan Rice Milling Unit/RMU
b. Pengolahan pupuk kompos.
media cetak (Tabloid Sinar Tani, Majalah Swadaya, dll), video tutorial, infographis,
dan media online/daring seperti website cyber extension, dan acara “Ngobrol
Asyik”/Ngobras serta acara “Mentan Sapa Petani dan Penyuluh” (MSPP) yang
dilakukan secara rutin pada setiap hari Selasa dan Jum’at seperti diilustrasikan pada
Gambar 43.
Training of Farmers
(ToF) Climate
Smart Agriculture
(CSA) (SIMURP) di
Kec. Pagaden Kab.
Subang Jawa
Barat,Sep 2020
SS 4. IKU 15
Persentase SDM Pertanian Yang Meningkat Kapasitasnya
Target Realisasi
75% 79,92%
% Capaian
106,56%
peserta mempelajari materi yang diberikan, peserta mengerjakan test dengan serius,
peserta aktif diskusi dengan peserta lain dalam rangka sharing experience.
Selama pelaksanaan kegiatan peningkatan kapasitas SDM pertanian tahun 2021
terkendala dengan adanya refocusing anggaran sebagai dampak pandemic Covid – 19.
Adapun upaya yang dilakukan dalam menghadapi kendala tersebut melaksanakan
program pelatihan online berbasis Learning Management System (LMS) dan Zoom
Meeting dengan nama Bertani On Cloud (BOC). Dengan BOC maka peningkatan
kompetensi SDM melalui pelatihan pertanian tetap dapat dilaksanakan tanpa terkendala
jarak, ruang dan waktu, sehingga dapat meningkatkan pengetahuan bagi penyuluh dan
petani.
SS 4. IKU 16
Persentase Kelembagaan Petani Yang Meningkat
Kapasitasnya
Target Realisasi
19% 19,83%
% Capaian
104,37%
Kelembagaan Petani adalah lembaga yang ditumbuhkembangkan dari, oleh, dan untuk
petani guna memperkuat dan memperjuangkan kepentingan petani, mencakup
Kelompok tani, Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan), Asosiasi Komoditas Pertanian, dan
Dewan Komoditas Pertanian. Indikator peningkatan kapasitas kelembagaan petani yaitu:
1) kelompoktanai (poktan) yang meningkat kelas kemampuannya, dan 2)
poktan/gapoktan yang bertransformasi menjadi Kelembagaan Ekonomi Petani (KEP).
Kelembagaan Ekonomi Petani (KEP) adalah lembaga yang melaksanakan kegiatan
usahatani yang dibentuk oleh, dari dan untuk petani, guna meningkatkan produktivitas
dan efisiensi usahatani baik yang berbadan hukum maupun yang tidak berbadan hukum.
Secara umum pembentukan Kelembagaan Ekonomi Petani (KEP) dimaksudkan untuk
meningkatkan pelayanan kepada petani agar berkembang usahataninya,
memberdayakan poktan dan gapoktan dalam mengembangkan usaha agribisnisnya
dengan berbasis kawasan pertanian, guna meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan
petani beserta keluarganya serta meningkatkan perekonomian di pedesaan.
Pembentukan KEP baik yang berbadan hukum atau belum berbadan hukum seperti
koperasi, Kelompok Usaha Bersama (KUB) dll, dilakukan melalui transformasi
kelembagaan petani (poktan/gapoktan) agar lebih terarah dalam berusahatani untuk lebih
berorientasi agribisnis sehingga dapat meningkatkan pendapatan, nilai tambah, dan
kesejahteraan petani. Tranformasi tersebut dilakukan meliputi aspek manajemen
organisasi maupun manajemen usaha. Transformasi manajemen organisasi dilakukan
untuk meningkatkan kapasitas kelembagaan petani, dari struktur organisasi yang
sederhana dan bersifat sosial, dimana hanya terdapat kepengurusan yang terdiri dari
ketua, sekretaris, bendahara, dan anggota, menjadi struktur organisasi yang lebih
berorientasi bisnis komersial, yang terdiri dari ketua, sekretaris, bendahara, dan unit-unit
usaha serta dewan pengawas. Sementara transformasi usahatani dilakukan untuk
mengubah cara berusahatani yang semula secara subsistem sekedar pemenuhan
kebutuhan dasar menjadi lebih berorientasi agribisnis dan memiliki skala ekonomi
komersial, mekanik dan usaha yang menguntungkan dari hulu hingga hilir. Transformasi
kelembagaan petani dijelaskan secara ringkas pada gambar 45.
Mengacu pada formula perhitungan capaian kinerja tersebut, maka diperoleh data
capaian realisasi persentase kelembagaan petani yang meningkat kapasitasnya pada
tahun 2021, sebagai berikut:
= 12.833 / 64.598 x100
= 19,83 %
Persentase capaian kinerja adalah :
= 19,83 / 19,00 x 100
= 104,37% (Sangat Berhasil)
Tabel 41. Data Rekapitulasi Jumlah Kelembagaan Ekonomi Petani (KEP) Per Provinsi
Tahun 2021
Gambar 46. Profil Kelembagaan Ekonomi Petani yang Dimuat dalam Tabloid
SS 5. IKU 17
Nilai Reformasi Birokrasi Kementerian Pertanian
Target Realisasi
80,71 *)
% Capaian *)
Keterangan: *) Nilai Reformasi Birokrasi Kementan tahun 2021 masih menunggu hasil
evaluasi dari Kementerian PAN dan RB
Kinerja capaian atas indikator nilai Reformasi Birokrasi Kementerian Pertanian tahun
2021 belum dapat dihitung dikarenakan masih menunggu hasil evaluasi dari
Kementerian PAN dan RB. Meskipun demikian proses evaluasi pelaksanaan Reformasi
Birokrasi Kementerian Pertanian tahun 2021 telah dilakukan oleh Tim Evaluasi
Kemenpan RB sejak bulan Juli 2021 sampai dengan Februari 2022. Kegiatan evaluasi RB
tersebut diilustrasikan pada Gambar 48.
Pada tanggal 22 Februari 2022 telah dilakukan exit meeting evaluasi Reformasi Birokrasi
dan Implementasi SAKIP pada beberapa Kementerian/Lembaga. Beberapa catatan atas
evaluasi Reformasi Birokrasi (RB) yang disampaikan pada Exit Meeting antara lain:
1. Manajemen Perubahan
a. Rencana aksi pelaksanaan Reformasi Birokrasi, khususnya pada level unit
organisasi, belum sepenuhnya selaras dengan dokumen perencanaan dan
penganggaran. Sehingga beberapa kegiatan RB belum sepenuhnya dapat
dijalankan, hal ini akan berdampak pada keberhasilan dalam mencapai hasil yang
akan diwujudkan.
b. Belum optimalnya dalam mendorong hasil perubahan yang dibuat oleh agen
perubahan, hal ini ditandai dengan beberapa inovasi perubahan yang belum dapat
diintegrasi dan diimplementasikan pada sistem manajemen.
2. Deregulasi Kebijakan
a. Sebagian besar instansi pemerintah belum optimal dalam melalukan Regulatory
Impact Assesment (RIA) pada kebijakan yang telah dimiliki atau yang akan
disusun, sehingga dampak pada kebijakan yang dibuat belum optimal.
b. Belum optimalnya identifikasi kebijakan yang tidak harmonis utamanya dengan K/L
yang memiliki keterkaitan atas urusan yang sedang diatur untuk selanjutnya
dilakukan harmonisasi.
3. Organisasi
a. Tindak lanjut dari Penyederhanaan organisasi yang belum sepenuhnya dilakukan,
hal ini dapat dilihat dari penataan koordinasi yang belum optimal menjelaskan pola
koordinasi dan rentang kendali dalam organisasi
b. Belum seluruh instansi pemerintah memiliki rumusan pola mekanisme hubungan
dan koordinasi kelompok jabatan fungsional dengan JPT.
c. Pada beberapa instansi pemerintah, adanya pembentukan unit-unit kerja baru
belum sepenuhnya memperhatikan kinerja yang dihasilkan serta kontribusinya
kepada organisasi.
4. Tata laksana
a. Peta proses bisnis yang dimiliki belum sepenuhnya sesuai dengan kinerja utama
organisasi. Serta belum sepenuhnya menggambarkan keterkaitan kinerja antar
unit-unit kerja khususnya dalam mendukung capaian kinerja instansi.
b. Grand design IT belum sepenuhnya optimal dalam menyajikan ukuran, target, dan
ruang lingkup yang jelas serta proyeksi pengembangan lanjutan.
5. Manajemen SDM
a. Analisis gap kompetensi yang dimiliki dari hasil assessment kompetensi pegawai,
belum sepenuhnya ditindaklanjuti untuk pemenuhan kebutuhan pengembangan
kompetensi pegawai, sehingga pengembangan kompetensi yang dilakukan belum
optimal dalam mengurangi gap kompetensi yang terjadi.
6. Akuntabilitas
a. Keterlibatan pimpinan secara aktif, khususnya dalam melakukan pemantauan
kinerja baik organisasi maupun individu secara berkala belum optimal dilakukan
b. Masih dijumpai aplikasi terkait akuntabilitas yang belum terintegrasi dengan
aplikasi lain (mis: aplikasi anggaran, monev program/kegiatan/renaksi,
kepegawaian, Manajemen risiko/peta risiko) agar dapat menunjang kinerja
organisasi.
7. Pengawasan
a. Pemetaan manajemen risiko belum sepenuhnya disusun dalam rangka mendukung
pencapaian kinerja
b. Masih dijumpai kondisi dimana Kapasitas dan kuantitas APIP belum sepenuhnya
mampu memberikan dukungan bagi unit kerja dalam rangka penguatan integritas
dan mencapai kinerja utama.
c. Pengusulan unit kerja menuju WBK/WWBM pada tahun 2021 mengalami
peningkatan dibandingkan dengan tahun sebelumnya, namun pada sebagian besar
instansi pemerintah belum disertai dengan success rate yang tinggi.
8. Pelayanan Publik
a. Terdapat perbaikan pelayanan publik dengan menciptakan inovasi. Akan tetapi
inovasi yang dibangun belum sepenuhnya dapat dipastikan telah memiliki sistem
yang tetap (SOP dan dukungan manajemen lain).
b. Hasil survei kepuasan yang telah dilakukan terhadap pengguna layanan, belum
dimanfaatkan secara optimal sebagai umpan balik untuk perbaikan pelayanan agar
mampu meningkatkan kualitas pelayanan publik pada instansi pemerintah.
Pencapaian indikator nilai RB Kementerian Pertanian tahun 2017 sampai dengan tahun
2020 telah menunjukkan progres positif. Target dan realisasi indikator nilai RB
Kementerian Pertanian dalam 5 (lima) tahun terakhir dapat dijabarkan pada gambar 49.
Gambar 49. Target dan Realisasi Nilai Reformasi Birokrasi Kementerian Pertanian
Tahun 2017-2021
Seluruh komponen penilaian PMPRB tersebut telah didukung dengan dokumen-dokumen
(evidence) sesuai area perubahan Reformasi Birokrasi terkait. Peningkatan hasil capaian
PMPRB Kementerian Pertanian tidak terlepas dari komitmen pimpinan dalam upaya
membangun pemerintahan yang baik (Good Governance).
Beberapa upaya Kementerian Pertanian untuk meningkatkan nilai RB adalah sebagai
berikut:
1. Manajemen Perubahan
a. Penyusunan Tim Reformasi Birokrasi, Tim Pelaksana, dan Tim Manajemen
Perubahan Kementerian Pertanian;
b. Penyusunan Road Map Reformasi Birokrasi Kementerian Pertanian Tahun 2021-
2024 (disahkan melalui Permentan No.24/2021) dan Penetapan Penetapan
Rencana Aksi Pusat dan Unit Eselon I Kementerian Pertanian.
c. Pelaksanaaan Penilaian Mandiri Reformasi Birokrasi Kementerian Pertanian
Tahun 2021.
2. Deregulasi Kebijakan
a. Melakukan identifikasi, analisis terhadap Permentan turunan UU Cipta Kerja;
b. Melakukan penyusunan/revisi atas kebijakan yang tidak harmonis/tidak sinkron
antara lain:
1) Permentan 15 tahun 2021 tentang Standar Perizinan Berusaha dan Standar
Produk dalam kegiatan berusaha sektor pertanian;
2) Permentan 16 tahun 2021 tentang Kajian Lapang dan Pengawasan Obat
Hewan;
3) Permentan 17 tahun 2021 tentang Tata Cara Penetapan Kawasan
Penggembalaan Umum;
4. Penataan Tatalaksana
a. Melakukan evaluasi dan penyempurnaan Peta Proses Bisnis Induk Kementerian
Pertanian 2020-2024;
b. Penyusunan Peta Proses Bisnis Induk Kementan 2020 – 2025;
c. Melakukan reinventarisasi dan klusterisasi aplikasi sistem informasi;
d. Meningkatan kualitas pengelolaan arsip, pengadaan barang dan jasa, keuangan,
dan aset Kementerian Pertanian;
6. Penguatan Akuntabilitas
a. Keterlibatan pimpinan dalam Perencanaan, antara lain:
1) Penandatanganan Perjanjian Kinerja Tahun 2021
2) Reviu dan Penyusunan perencanaan pembangunan pertanian jangka panjang
dan menengah
b. Pengembangan Sistem Pengukuran Kinerja berbasis elektronik
([Link]) dan dilakukan pemantauan tiap triwulan;
c. Peningkatan Kapasitas SDM
1) Workshop Penyusunan Perjanjian Kinerja (e-PK) 23 Juli 2021;
2) Workshop Pengukuran Kinerja Berbasis Elektronik (e-SAKIP) Juli-Agt 2021;
d. Melaksanakan reviu pengelolaan barang dan jasa;
SS 5. IKU 18
Nilai Kinerja Anggaran
Target Realisasi
91,23 93,77%
% Capaian
102,36 %
Sangat Berhasil
Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 214 Tahun 2017 tentang Pengukuran
dan Evaluasi Kinerja atas Pelaksanaan Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian
Negara/Lembaga, Kementerian Pertanian dinilai kinerja keuangannya. Nilai kinerja
Kementerian Pertanian tahun 2021 sebesar 93,77% atau termasuk dalam kategori
Sangat Baik. Capaian Kinerja Pelaksanaan Anggaran Kementerian Pertanian Tahun 2021
dapat dilihat pada Gambar 50.
Selanjutnya untuk analisis efisiensi sumber daya anggaran berdasarkan PMK 214/2017,
maka dilakukan perhitungan Nilai Efisiensi (NE) dengan menggunakan rumus
penghitungan sebagai berikut :
Nilai Efisiensi Kementerian Pertanian diperoleh dari rata-rata NE Unit Kerja Eselon I
lingkup Kementerian Pertanian sebagaimana terlihat pada Tabel 42.
Sumber: Diolah dari Aplikasi SMART Kementerian Keuangan pertanggal 18 Februari 2021
Berdasarkan Tabel 40, nilai efisiensi sumber daya anggaran Kementerian Pertanian pada
tahun 2021 mencapai 48,87. Hal tersebut memperlihatkan bahwa efisiensi anggaran di
Kementerian Pertanian masih belum optimal, terutama bagi Eselon I yang nilainya masih
berada di bawah rata-rata NE Kementerian Pertanian. Oleh karena itu pada tahun 2021
perlu upaya untuk meningkatkan efisiensi pelaksanaan kegiatan dan anggaran di lingkup
Kementerian Pertanian.
Belum optimalnya efisiensi anggaran di Kementerian Pertanian disebabkan oleh
beberapa faktor, diantaranya; a) Ketidaktepatan dalam rencana penarikan dana sesuai
jadwal bulanan yang telah ditetapkan, b) Seringnya revisi anggaran, dan c) Penarikan
anggaran yang menumpuk di akhir tahun.
Upaya ke depan, rencana penarikan dana harus benar-benar dicermati melalui
koordinasi antara pejabat/petugas yang menangani perencanaan anggaran, evaluasi,
dan pelaksana teknis.
Kategori pemenang Implementasi TOP DIGITAL, dikelompokkan menjadi Star Level atau
Star Level 1-5, sesuai dengan bidang usaha dan klasifikasi institusi. Kriterianya adalah
apakah tata kelola TI (Kebijakan, Organisasi, Implementasi sistem dan prosedur) sudah
baik dan telah diterapkan secara konsisten, dengan perbaikan terus-menerus. Lembaga
yang dinilai berhasil perlu menerapkan implementasi teknologi digital dan
pemanfaatannya terintegrasi di seluruh divisi/unit kerja dan berdampak pada kinerja,
daya saing, dan pelayanan kepada pelanggan atau masyarakat dan infrastruktur yang
mendukung teknologi digital tersedia sesuai dengan kebutuhan saat ini dan dapat
dikembangkan terus menerus untuk kebutuhan masa depan.
155
Dalam hal penyerahan arsip statis, atas konsistensinya dan rutinitas dalam penyerahan
arsip statis ke Arsip Nasional Republik Indonesia, Unit Kearsipan Kementerian Pertanian
pada Tahun 2021 mendapat penghargaan Peringkat II Kementerian/Lembaga yang rutin
menyerahkan arsip statis ke ANRI seperti ditunjukkan pada Gambar 54 dan 55.
Selain itu pada tahun 2021, Kementerian Pertanian juga mendapatkan penghargaan
terkait penyelamatan dan pelestarian arsip terjaga dari Arsip Nasional Republik
156
Gambar 55. Pelestarian arsip terjaga dari Arsip Nasional Republik Inonesia dan
Penghargaan Penyelamatan dan Pelestarian Arsip Bernilai guna
Pertanggungjawaban Nasional dari ANRI dari ANRI
Gambar 56. Penyerahan penghargaan opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) kepada
Kementerian Pertanian
157
Gambar 57. Piagam Penghargaan Top Government Public Reltion Award 2021
c. Puplic Relation Indonesia Award (PRIA) 2021, Silver Award untuk Sub Kategori
Media Sosial
158
d. Kepala Biro Humas dan Informasi Publik Kementerian Pertanian Kuntoro Boga
Andri dianugerahi Public Relations (PR) Indonesia Award sebagai pemimpin public
relations berpengaruh tahun 2021.
Gambar 61. Kementan Raih Peringkat 2 dalam Pengawasan Kearsipan Tahun 2021
159
Dalam pelaksanaan serapan anggaran, masih terdapat beberapa hal yang perlu menjadi
perhatian untuk perbaikan ke depan, seperti: (1) Adanya kebijakan penghematan dan
refocusing anggaran akibat terjadina pandemi Covid-19, yang membutuhkan waktu
proses revisi sehingga berdampak terhadap realisasi anggaran, dan (2) belum
optimalnya pelaksanaan kegiatan dan serapan anggaran pada Dana Dekonsentrasi dan
Tugas Pembantuan yang dilaksanakan oleh Satker Daerah. APBN Kementan TA. 2020
sebagian besar atau lebih dari 80% dialokasikan di Daerah (Dana Dekonsentrasi, Tugas
Pembantuan, dan UPT Pusat di Daerah) dan 20% dialokasikan di Pusat. Kinerja serapan
anggaran secara keseluruhan mengampuh 5 (lima) program Kementerian Pertanian.
Penyerapan anggaran per Unit Kerja Eselon I lingkup Kementerian Pertanian sampai
dengan 31 Desember 2021 disajikan pada Lampiran 9. Ringkasan perkembangan pagu
dan realisasi anggaran Kementerian Pertanian, sebagai bentuk akuntabilitas keuangan,
Laporan Kinerja juga menyajikan pagu dan realisasi anggaran per Program/Kegiatan
pada Tabel 43.
160
Tabel 43. Dukungan Anggaran untuk Pencapaian Sasaran Strategis Kementan Tahun
2021
No. Program/Kegiatan Pagu Realisasi Capaian
(%)
(1) (2) (3) (4) (4)/(3)
1 Program Pendidikan dan Pelatihan Vokasi [Link] [Link] 98,25
Penguatan Penyelenggaraan Pelatihan Pertanian [Link] [Link] 98,19
Penguatan Penyelenggaraan Penyuluhan Pertanian [Link] [Link] 97,70
Penguatan Penyelenggaraan Pendidikan Vokasi Pertanian [Link] [Link] 99,02
2 Program Nilai Tambah dan Daya Saing Industri [Link].000 [Link].922 96,14
Pengembangan Kawasan Tanaman Tahunan dan Penyegar [Link] [Link] 94,65
Penguatan Perlindungan Perkebunan [Link] [Link] 99,01
Pasca Panen, Pengolahan dan Pemasaran Hasil Tanaman Pangan [Link] [Link] 98,41
Pengolahan dan Pemasaran Hasil Hortikultura [Link] [Link] 98,21
Pengembangan Kawasan Tanaman Semusim dan Rempah [Link] [Link] 94,95
Pasca Panen, Pengolahan (Hilirisasi) dan Pemasaran Hasil Perkebunan [Link] [Link] 91,20
Penguatan Perbenihan Tanaman Perkebunan [Link] [Link] 94,16
Pengembangan Pengolahan dan Pemasaran Hasil Ternak [Link] [Link] 97,87
3 Program Ketersediaan, Akses dan Konsumsi Pangan Berkualitas [Link].000 [Link].208 96,93
Pengelolaan Produksi Aneka Kacang dan Umbi Tanaman Pangan [Link] [Link] 92,25
Pengelolaan Produksi Tanaman Serealia Tanaman Pangan [Link] [Link] 92,86
Peningkatan Produksi Sayuran dan Tanaman Obat [Link] [Link] 98,67
Perlindungan Hortikultura [Link] [Link] 99,24
Peningkatan Produksi Pakan Ternak [Link] [Link] 97,11
Pengendalian dan Penanggulangan Penyakit Hewan [Link] [Link] 98,46
Penyediaaan Benih dan Bibit Serta Peningkatan Produksi Ternak [Link] [Link] 94,04
Peningkatan Kesehatan Masyarakat Veteriner [Link] [Link] 95,10
Pengelolaan Air Irigasi Untuk Pertanian [Link] [Link] 96,33
Perluasan dan Perlindungan Lahan Pertanian [Link].000 [Link].625 97,03
Pengelolaan Sistem Penyediaan dan Pengawasan Alat Mesin Pertanian [Link] [Link] 99,70
Pemantapan Sistem Distribusi dan Stabilitas Harga Pangan [Link] [Link] 97,78
Pemantapan Ketersediaan dan Penanganan Rawan Pangan [Link] [Link] 98,90
Pemantapan Penganekaragaman Konsumsi dan Keamanan Pangan [Link] [Link] 97,39
Fasilitasi Pupuk dan Pestisida [Link] [Link] 99,08
Fasilitasi Pembiayaan Pertanian [Link] [Link] 98,86
Pengelolaan Sistem Perbenihan Tanaman Pangan [Link].000 [Link].398 98,39
Pengelolaan Perlindungan Tanaman Pangan [Link] [Link] 98,53
Perbenihan Hortikultura [Link] [Link] 96,56
Penyelenggaraan Karantina Pertanian [Link] [Link] 99,51
Peningkatan Produksi Buah dan Florikultura [Link] [Link] 97,68
4 Program Riset dan Inovasi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi [Link] [Link] 97,44
Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian [Link] [Link] 97,93
Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya dan Sistem Pertanian [Link] [Link] 97,42
Penelitian dan Pengembangan Tanaman, Peternakan dan Veteriner [Link] [Link] 97,08
5 Program Dukungan Manajemen [Link].000 [Link].525 98,06
Penyelenggaraan Hukum Bidang Pertanian [Link] [Link] 99,14
Koordinasi dan Kerjasama Luar Negeri Bidang Pangan dan Pertanian [Link] [Link] 99,31
Pengelolaan Organisasi dan SDM [Link] [Link] 99,64
Perlindungan Varietas Tanaman dan Perizinan Pertanian [Link] [Link] 97,25
Dukungan Manajemen dan Dukungan Teknis Lainnya pada Inspektorat Jenderal [Link] [Link] 94,43
Dukungan Manajemen dan Teknis Lainnya pada Ditjen Tanaman Pangan [Link] [Link] 93,67
Peningkatan Usaha Dukungan Manajemen dan Teknis Lainnya pada Ditjen Hortikultura [Link] [Link] 97,46
Dukungan Manajemen dan Dukungan Teknis Lainnya Ditjen Perkebunan [Link] [Link] 94,41
Dukungan Manajemen dan Dukungan Teknis Lainnya Ditjen Peternakan [Link] [Link] 98,54
Dukungan Manajemen dan Dukungan Teknis Lainnya Ditjen Prasarana dan Sarana Pertanian [Link] [Link] 98,39
Dukungan Manajemen, Fasilitasi dan Instrumen Teknis dalam Pelaksanaan Kegiatan Litbang Pertanian [Link] [Link] 97,02
Dukungan Manajemen dan Dukungan Teknis Lainnya Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sdm Pertanian [Link] [Link] 98,62
Dukungan Manajemen dan Teknis Lainnya Badan Ketahanan Pangan [Link] [Link] 98,22
Dukungan Manajemen dan Dukungan Teknis Lainnya pada Badan Karantina Pertanian [Link] [Link] 99,44
Pengelolaan Kebijakan, Keuangan, dan Umum [Link].000 [Link].698 99,14
Pengelolaan Data, Informasi, Kehumasan, dan Perpustakaan Pertanian [Link] [Link] 98,68
Pelaksanaan Pengawasan pada Satker Lingkup Kementerian Pertanian [Link] [Link] 97,40
161
BAB IV
PENUTUP
162
Kementerianlangsung
Dukungan Pertanian baik program/kegiatan
adalah dukungan secara yang langsung
secaramaupun
khusus tidak langsung.
mempengaruhi
Dukungan
capaian 18 langsung
(delapan adalah program/kegiatan
belas) indikator yang secara
kinerja sasaran strategis, khusus mempengaruhi
dan dukungan tidak
capaian 18antara
langsung (delapan
lain belas)
berupa indikator
dukungankinerja sasaranpelaksanaan
manajemen strategis, dan dukungan
tugas Kementeriantidak
langsung antara
Pertanian. Selain lain
itu,berupa dukungan pengawasan
juga didukung manajemen pelaksanaan
internal yangtugas Kementerian
berperan dalam
Pertanian. Selain
menciptakan iklim itu,
kerjajuga didukung
lingkup pengawasan
Kementerian Pertanianinternal yang berperan
yang bersih, transparan dalam
dan
menciptakan iklim kerja lingkup Kementerian Pertanian yang bersih, transparan dan
akuntabel.
akuntabel.
Berbagai keberhasilan telah dicapai Kementerian Pertanian pada tahun 2021. Namun
Berbagai pembangunan
demikian keberhasilan telah dicapai
pertanian Kementerian
masih menghadapi Pertanian
beberapa pada tahun [Link]
permasalahan Namun
demikian
dalam pembangunan
pencapaian pertanian
produksi masih menghadapi
atas target untuk beberapa beberapa permasalahan
komoditas terutama
pangan strategis.
dalam pencapaian
Permasalahan produksi
tersebut atas target
mencakup: untuk beberapa
(1) penurunan komoditas
produksi pangan
komoditas strategis.
strategis; (2)
Permasalahanluas
keterbatasan tersebut mencakup:
kepemilikan lahan (1) penurunan
petani, produksiharga
(3) penurunan komoditas
beberapa strategis;
komoditas (2)
keterbatasan
strategis luas kepemilikan
di tingkat lahan petani,
petani/peternak, (3) penurunan
(4) penurunan harga komoditas
permintaan beberapa komoditas
pertanian
strategispandemi
karena di tingkat petani/peternak,
Covid-19, (5) serangan (4) hama
penurunan permintaan
dan penyakit komoditas
dan kondisi alam pertanian
ekstrim
karenadampak
akibat pandemiperubahan
Covid-19,iklim,(5) serangan hama dan penyakit dan
(6) Refocusing/Penghematan kondisiyang
anggaran alam ekstrim
dilakukan
akibatpertengahan
pada dampak perubahantahun. iklim, (6) Refocusing/Penghematan anggaran yang dilakukan
pada pertengahan tahun.
Untuk mengatasi berbagai permasalahan tersebut, maka tahun 2021 Kementerian
Untuk mengatasi
Pertanian berbagai permasalahan
telah melakukan berbagai upaya tersebut,
perbaikanmaka tahun
guna 2021 Kementerian
meningkatkan kinerja
Pertanian telahpertanian
pembangunan melakukan berbagai
ke depan, upaya
seperti: perbaikan guna
pengembangan meningkatkan
korporasi kinerja
petani; penguatan
pembangunan
regulasi; pertanian kekawasan
pengembangan depan, seperti: pengembangan
komoditas; meningkatkan korporasi petani;
produksi danpenguatan
kualitas
regulasi; pengembangan
komoditas prospektif ekspor; kawasan komoditas;
pengendalian meningkatkan
serangan OPT serta produksi kualitas
mintigasi dan adaptasi
komoditas
dampak prospektifiklim;
perubahan ekspor;danpengendalian serangan
pemetaan potensi OPT serta mintigasi
pengembangan dan adaptasi
lahan. Rencana aksi
dampak
yang akanperubahan
dilakukaniklim; dan pemetaan
oleh Kementerian potensipada
Pertanian pengembangan
tahun 2022 lahan.
secara Rencana
lebih lengkapaksi
dapat dilihat pada Lampiran 10.
yang akan dilakukan oleh Kementerian Pertanian pada tahun 2022 secara lebih lengkap
dapat dilihat pada Lampiran 10.
Tahun 2021 Kementerian Pertanian mengelola APBN sebesar Rp16,32 triliun yang
Tahun 2021 Kementerian
dipergunakan untuk membiayai Pertanian mengelolaSampai
12 program. APBN sebesar
dengan Rp16,32
31 Desember triliun 2021,
yang
dipergunakan
realisasi serapan untuk
APBNmembiayai
Kementerian 12Pertanian
[Link]
Sampai Rp15,87
dengan triliun
31 Desember
atau 97,28%. 2021,
realisasi serapan APBN Kementerian Pertanian mencapai Rp15,87 triliun atau 97,28%.
Disamping dukungan yang berasal dari internal Kementerian Pertanian, kinerja
Disamping dukungan
pembangunan pertanian yangtahunberasal
2021 dari
jugainternal Kementerian
tidak terlepas Pertanian, seluruh
dari dukungan kinerja
pembangunan
pemangku pertanian pembangunan
kepentingan tahun 2021 juga tidak terlepas
pertanian, baik di pusatdari dukungan
maupun [Link]
pemangku luasnya
Mengingat kepentinganaspekpembangunan
dan banyaknya pertanian,
unsur yang baikterlibat
di pusatdalammaupun daerah.
pembangunan
Mengingat maka
pertanian, luasnya aspekberlebihan
tidaklah dan banyaknya unsur yang
kalau dikatakan terlibat
bahwa dalam pembangunan
suksesnya
pertanian, maka
pertanian terletaktidaklah
pada berlebihan
komitmen kalaudan dikatakan
kerja keras bahwa suksesnya
bersama, baikpembangunan
Pemerintah,
pertanian terletak
Pemerintah pada komitmen
Daerah, Swasta, Masyarakat, dan kerja keras
Organisasi bersama, baik
Kemasyarakatan, Pemerintah,
Perguruan Tinggi,
Pemerintah
dan Petani. Daerah, Swasta, Masyarakat, Organisasi Kemasyarakatan, Perguruan Tinggi,
dan Petani.
163
162
LAMPIRAN
Laju Pertumbuhan PDB Triwulanan Atas Dasar Harga Konstan 2020 Kumulatif
2020* 2021**
KATEGORI LAPANGAN USAHA
I s.d. II s.d. III s.d. IV Jumlah I s.d. II s.d. III s.d. IV Jumlah
1 2 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62
b. Tanaman Hortikultura 2,61 1,69 3,13 4,17 4,17 3,01 2,37 -0,40 0,56 0,56
c. Tanaman Perkebunan 3,97 1,84 1,40 1,34 1,34 2,17 1,15 3,88 3,52 3,52
d. Peternakan 2,69 0,34 0,15 -0,35 -0,35 2,12 4,43 2,10 0,34 0,34
e. Jasa Pertanian dan Perburuan -1,44 0,52 1,19 1,62 1,62 5,41 2,21 1,78 1,32 1,32
2 Kehutanan dan Penebangan Kayu 5,31 3,69 1,79 -0,03 -0,03 -6,59 -3,92 -1,42 0,06 0,06
3 Perikanan 3,52 1,45 0,61 0,73 0,73 -1,31 4,07 4,23 5,45 5,45
B Pertambangan dan Penggalian 0,45 -1,13 -2,20 -1,95 -1,95 -2,02 1,53 3,61 4,00 4,00
1 Pertambangan Minyak, Gas dan Panas Bumi -2,99 -5,03 -5,73 -6,00 -6,00 -6,87 -5,99 -4,76 -4,42 -4,42
2 Pertambangan Batubara dan Lignit 0,13 -4,04 -5,28 -5,43 -5,43 -7,05 2,53 6,59 6,60 6,60
3 Pertambangan Bijih Logam 9,18 20,48 16,30 20,26 20,26 24,48 20,99 22,29 22,84 22,84
4 Pertambangan dan Penggalian Lainnya 2,56 -0,80 -1,22 -1,22 -1,22 -0,62 0,57 1,22 1,97 1,97
C Industri Pengolahan 2,06 -2,09 -2,86 -2,93 -2,93 -1,38 2,46 2,87 3,39 3,39
1 Industri Batubara dan Pengilangan Migas 2,58 -3,93 -5,10 -6,81 -6,81 -7,70 -2,42 -1,89 0,57 0,57
Industri Pengolahan Non Migas 2,01 -1,90 -2,63 -2,52 -2,52 -0,71 2,98 3,37 3,67 3,67
1 Industri Makanan dan Minuman 3,94 2,03 1,55 1,58 1,58 2,45 2,70 2,97 2,54 2,54
2 Industri Pengolahan Tembakau 3,49 -3,51 -4,06 -5,78 -5,78 -9,58 -5,74 -3,68 -1,32 -1,32
3 Industri Tekstil dan Pakaian Jadi -1,24 -7,90 -8,37 -8,88 -8,88 -13,28 -9,11 -7,21 -4,08 -4,08
4 Industri Kulit, Barang dari Kulit dan Alas Kaki -0,36 -4,45 -9,66 -8,76 -8,76 1,74 2,47 7,20 7,75 7,75
Industri Kayu, Barang dari Kayu dan Gabus dan Barang Anyaman
5 3,17 0,97 -1,42 -2,16 -2,16 -8,51 -7,32 -5,31 -3,71 -3,71
dari Bambu, Rotan dan Sejenisnya
Industri Kertas dan Barang dari Kertas; Percetakan dan Reproduksi
6 4,50 2,76 1,31 0,22 0,22 -2,67 -3,34 -4,02 -2,89 -2,89
Media Rekaman
7 Industri Kimia, Farmasi dan Obat Tradisional 5,59 7,12 9,73 9,39 9,39 11,46 10,29 10,09 9,61 9,61
8 Industri Karet, Barang dari Karet dan Plastik -0,82 -6,39 -7,49 -5,61 -5,61 3,84 7,53 4,07 1,08 1,08
9 Industri Barang Galian bukan Logam -5,30 -7,17 -7,85 -9,13 -9,13 -7,28 0,03 1,05 0,89 0,89
171
172
2020* 2021**
KATEGORI LAPANGAN USAHA
I s.d. II s.d. III s.d. IV Jumlah I s.d. II s.d. III s.d. IV Jumlah
1 2 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62
10 Industri Logam Dasar 3,98 3,39 4,01 5,87 5,87 7,71 12,66 11,57 11,50 11,50
Industri Barang Logam; Komputer, Barang Elektronik, Optik; dan
11 -3,52 -6,40 -6,56 -5,46 -5,46 -4,08 1,15 -2,02 -1,62 -1,62
Peralatan Listrik
12 Industri Mesin dan Perlengkapan -9,33 -11,29 -11,12 -10,17 -10,17 3,22 9,36 11,56 11,43 11,43
13 Industri Alat Angkutan 4,64 -14,77 -20,17 -19,86 -19,86 -10,93 10,84 16,13 17,82 17,82
14 Industri Furnitur -7,28 -5,00 -3,91 -3,36 -3,36 8,04 7,61 7,41 8,16 8,16
Industri Pengolahan Lainnya; Jasa Reparasi dan Pemasangan Mesin
15 -4,73 -4,96 -2,90 -0,88 -0,88 1,24 1,07 -1,59 -1,64 -1,64
dan Peralatan
D Pengadaan Listrik dan Gas 3,85 -0,83 -1,39 -2,34 -2,34 1,68 5,23 4,76 5,55 5,55
1 Ketenagalistrikan 4,17 0,24 0,10 -0,98 -0,98 1,65 4,87 4,42 5,61 5,61
2 Pengadaan Gas dan Produksi Es 1,55 -8,70 -11,90 -11,94 -11,94 1,92 8,19 7,52 5,05 5,05
E Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah dan Daur Ulang 4,38 4,41 4,92 4,94 4,94 5,46 5,62 5,26 4,97 4,97
F Konstruksi 2,90 -1,26 -2,39 -3,26 -3,26 -0,79 1,72 2,43 2,81 2,81
G Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi Mobil dan Sepeda Motor 1,50 -3,14 -3,82 -3,78 -3,78 -1,26 3,94 4,35 4,65 4,65
1 Perdagangan Mobil, Sepeda Motor dan Reparasinya 1,07 -14,34 -15,61 -14,11 -14,11 -5,48 12,29 13,15 12,10 12,10
2 Perdagangan Besar dan Eceran, Bukan Mobil dan Sepeda Motor 1,60 -0,55 -1,09 -1,37 -1,37 -0,27 2,28 2,61 3,14 3,14
H Transportasi dan Pergudangan 1,27 -15,04 -15,62 -15,05 -15,05 -13,09 2,75 1,57 3,24 3,24
1 Angkutan Rel -6,95 -36,03 -41,22 -42,34 -42,34 -45,04 -12,46 -11,18 -3,42 -3,42
2 Angkutan Darat 5,15 -6,46 -5,97 -5,34 -5,34 -4,41 5,70 4,87 4,55 4,55
3 Angkutan Laut 5,89 -5,91 -5,69 -4,52 -4,52 -4,09 5,19 3,60 2,89 2,89
4 Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan 1,16 -13,11 -13,24 -13,00 -13,00 -18,43 -7,61 -6,64 -0,42 -0,42
5 Angkutan Udara -13,35 -46,79 -52,78 -53,06 -53,06 -52,35 -17,09 -17,80 -8,01 -8,01
6 Pergudangan dan Jasa Penunjang Angkutan; Pos dan Kurir -0,64 -20,07 -19,19 -17,61 -17,61 -15,89 3,67 -0,72 5,03 5,03
I Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum 1,92 -10,14 -10,72 -10,26 -10,26 -7,27 5,35 3,51 3,89 3,89
1 Penyediaan Akomodasi -4,57 -24,29 -25,56 -24,49 -24,49 -17,62 5,37 0,92 5,81 5,81
2 Penyediaan Makan Minum 3,49 -6,77 -7,20 -6,88 -6,88 -4,96 5,34 4,01 3,52 3,52
J Informasi dan Komunikasi 9,82 10,34 10,47 10,61 10,61 8,72 7,79 7,02 6,81 6,81
K Jasa Keuangan dan Asuransi 10,63 5,89 3,55 3,25 3,25 -2,97 2,37 3,00 1,56 1,56
1 Jasa Perantara Keuangan 13,67 6,48 3,31 3,98 3,98 -3,76 4,64 5,23 2,71 2,71
2 Asuransi dan Dana Pensiun 5,04 6,17 5,89 4,03 4,03 2,24 1,07 1,10 0,72 0,72
3 Jasa Keuangan Lainnya 7,80 3,77 1,45 -0,58 -0,58 -8,24 -5,30 -3,50 -2,40 -2,40
4 Jasa Penunjang Keuangan 1,19 1,26 1,35 1,86 1,86 5,85 5,54 5,38 5,18 5,18
L Real Estate 3,81 3,06 2,69 2,32 2,32 0,94 1,88 2,40 2,78 2,78
M,N Jasa Perusahaan 5,39 -3,48 -4,89 -5,44 -5,44 -6,10 1,31 0,68 0,73 0,73
173
Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021
2020 2021
Jenis
Golongan I Golongan II Golongan III Golongan IV Pendidikan JUMLAH
Kelamin
NO. UNIT KERJA
S
A B C D A B C D A B C D A B C D E L P S3 S2 S1 D4 D3 D2 D1 SMA SMP SD
Muda
1 SEKRETARIAT JENDERAL 0 0 0 1 4 3 18 56 122 255 203 248 111 46 32 14 16 662 467 51 310 467 0 3 70 2 3 216 5 2 1129
2 DIREKTORAT JENDERAL
PRASARANA DAN
SARANA PERTANIAN 0 0 0 0 1 0 2 6 66 42 59 73 40 16 6 1 0 172 140 5 89 164 1 1 8 0 0 43 0 1 312
3 DIREKTORAT JENDERAL
TANAMAN PANGAN 0 0 0 0 5 10 22 55 98 87 102 127 54 14 10 2 0 304 282 12 126 252 1 0 44 0 0 142 6 3 586
4 DIREKTORAT JENDERAL
HORTIKULTURA 0 0 0 0 3 4 8 15 59 39 56 72 50 17 3 3 0 159 170 9 97 154 0 0 5 0 0 56 5 3 329
5 DIREKTORAT JENDERAL
PERKEBUNAN 0 0 1 0 4 5 25 51 181 102 126 191 73 29 10 1 0 411 388 2 192 387 20 1 43 0 14 132 6 2 799
6 DIREKTORAT JENDERAL
PETERNAKAN DAN
KESEHATAN HEWAN 0 0 5 17 43 43 170 172 189 411 217 358 213 65 16 6 0 1127 798 24 540 452 38 0 266 2 0 532 35 36 1925
7 INSPEKTORAT JENDERAL 0 0 0 0 0 2 0 9 40 47 41 45 35 20 31 8 8 157 129 3 137 117 0 0 4 0 0 24 1 0 286
8 BADAN PENELITIAN DAN
PENGEMBANGAN
PERTANIAN 0 10 23 103 93 182 341 642 465 1164 693 685 347 215 117 93 113 3129 2157 539 1184 1278 119 1 336 7 5 1578 118 121 5286
9 BADAN PENYULUHAN
DAN PENGEMBANGAN
SUMBER DAYA MANUSIA
PERTANIAN 0 0 1 30 37 36 72 142 195 364 313 331 189 73 45 20 17 1131 734 97 685 435 141 0 81 1 2 336 47 40 1865
10 BADAN KETAHANAN
PANGAN 0 0 0 0 1 0 3 10 40 47 46 56 33 17 3 2 1 118 141 10 90 108 0 0 8 0 0 42 1 0 259
11 BADAN KARANTINA
PERTANIAN 0 0 1 4 39 142 407 449 493 660 413 696 213 132 46 3 2 2069 1631 26 887 1065 2 0 653 29 0 1021 13 4 3700
a b c d e f=(a+b+c+d+e)
1 ACEH 1.606 844 123 1.201 - 3.774
2 SUMATERA UTARA 1.319 898 168 1.153 - 3.538
Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021
177
178
KETENAGAAN PENYULUHAN PERTANIAN */
a b c d e f=(a+b+c+d+e)
32 MALUKU UTARA 404 72 20 97 - 593
33 PAPUA BARAT 380 16 37 46 - 479
34 PAPUA 855 - 97 135 1 1.088
Badan PPSDMP Jakarta 19 - 19
BBP2TP 12 - 12
Jumlah 26.241 10.916 2.486 30.325 146 70.114
*/ Sumber: SIMLUHTAN
TARGET REALISASI
NO KEGIATAN
ANGGARAN SERAPAN TENAGA ANGGARAN TENAGA KERJA
HOK HOK
(RP.) KERJA RP. % (ORANG)
1 2 13 14 15 20 21 22 23
TOTAL PROGRAM PADAT KARYA LINGKUP KEMENTERIAN PERTANIAN [Link].500 244.307 5.546.478 [Link].974 91,19 240.058 5.466.246
I DIREKTORAT JENDERAL TANAMAN PANGAN [Link] 27.329 273.290 [Link] 99 27.038 270.380
CAI 006 Areal Penanganan DPI (PEN) [Link] 1.882 18.818 [Link] 97,73 1.841 18.410
[Link] Sarana Pengembangan Kawasan [Link] 20.712 207.117 [Link] 98,72 20.477 204.766
[Link].001 Areal Pengendalian OPT Tanaman Pangan [Link] 11.325 113.248 [Link] 99,54 11.288 112.878
[Link].002 Areal Penanganan DPI [Link] 9.387 93.869 [Link] 97,72 9.189 91.888
3 5885 Pasca Panen, Pengolahan dan Pemasaran Hasil Tanaman Pangan [Link]
[Link] Sarana Bidang Pertanian, Kehutanan dan Lingkungan Hidup [Link]
[Link].002 Sarana Pengolahan Hasil Tanaman Pangan [Link] 2.115 21.150 [Link] 99,85 2.115 21.150
1 5887 Pengolahan dan Pemasaran Hasil Hortikultura [Link] 405 12.150 [Link] 100,00 - 22 22.547
5887 RBK Prasarana Bidang Pertanian, Kehutanan dan Lingkungan Hidup [Link] 405 12.150 [Link] 100,00 - 22 22.547
a RBK 010 Prasarana Pascapanen Hortikultura [Link] 405 12.150 [Link] 100,00 - 9 6.465
IV DIREKTORAT JENDERAL PRASARANA DAN SARANA PERTANIAN [Link].000 215.848 5.249.083 [Link].422 94,08 212.305 5.161.548
1 1794 Pengelolaan Air Irigasi Untuk Pertanian [Link] 91.453 2.139.212 [Link] 99,80 91.244 2.135.031
1794 RBK Prasarana Bidang Pertanian, Kehutanan dan Lingkungan Hidup [Link] 29.653 594.272 [Link] 99,30 29.446 590.091
RBK 001 Irigasi Perpipaan (PEN) [Link] 3.765 60.240 [Link] 99,12 3.732 59.709
RBK 002 Embung Pertanian (PEN) [Link] 9.624 192.480 [Link] 100,00 9.624 192.480
IRIGASI PERPOMPAAN [Link] 16.264 341.552 [Link] 98,93 16.091 337.901
RBK U87 Irigasi Perpompaan Besar Wilayah Timur (PEN) [Link]
RBK U88 Irigasi Perpompaan Menengah Wilayah Timur (PEN) [Link]
RBK U90 Irigasi Perpompaan Besar Wilayah Tengah (PEN) [Link]
RBK U91 Irigasi Perpompaan Menengah Wilayah Tengah (PEN) [Link]
RBK U93 Irigasi Perpompaan Besar Wilayah Barat (PEN) [Link]
RBK U94 Irigasi Perpompaan Menengah Wilayah Barat (PEN) [Link]
1794 RDK OM Prasarana Bidang Pertanian, Kehutanan dan Lingkungan Hidup [Link] 61.800 1.544.940 [Link] 100,00 61.798 1.544.940
RDK 001 Jaringan Irigasi Tersier (PEN) [Link] 61.798 1.544.940 [Link] 100,00 61.798 1.544.940
2 1795 Perluasan dan Perlindungan Lahan Pertanian [Link] 84.555 2.113.871 [Link] 88,35 81.404 2.035.092
1795 RBK Prasarana Bidang Pertanian, Kehutanan dan Lingkungan Hidup [Link] 17.055 426.375 [Link] 98,07 17.055 426.375
225
226
TARGET REALISASI
NO KEGIATAN
ANGGARAN SERAPAN TENAGA ANGGARAN TENAGA KERJA
HOK HOK
(RP.) KERJA RP. % (ORANG)
1 2 13 14 15 20 21 22 23
RBK 001 Lahan Konservasi dan Rehabilitasi (PEN) [Link] 17.055 426.375 [Link] 98,07 17.055 426.375
1795 RBO Prasarana Pengembangan Kawasan [Link] 67.500 1.687.496 [Link] 86,14 64.349 1.608.717
RBO 001 Cetak Sawah (PEN) [Link] 39.945 998.622 [Link] 85,82 39.945 998.622
RBO 002 Optimasi Lahan (PEN) [Link] 27.555 688.874 [Link] 86,92 24.404 610.095
3 3993 Fasilitasi Pupuk dan Pestisida [Link] 39.840 996.000 [Link] 99,05 39.657 991.425
3993 RAG Sarana Bidang Pertanian, Kehutanan dan Lingkungan Hidup [Link] 39.840 996.000 [Link] 99,05 39.657 991.425
RAG 004 Unit Pengolah Pupuk Organik (UPPO) (PEN) [Link] 39.840 996.000 [Link] 99,05 39.657 991.425
V BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN PERTANIAN [Link] 525 11.955 [Link] 737 11.771
1 1801 Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian 500.000.000
1801 SDA Penelitian dan Pengembangan Produk 500.000.000
SDA 502 Diseminasi Teknologi Pertanian 46.215.000
SDA 514 Diseminasi Teknologi Pertanian (PEN) 453.785.000 445.871.000
2 4584 Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya dan Sistem Pertanian 500.000.000
4584 SDA Penelitian dan Pengembangan Produk 500.000.000
SDA 515 Diseminasi Hasil Litbang Sumber Daya Lahan Pertanian 157.902.000
SDA 531 Diseminasi Hasil Litbang Sumber Daya Lahan Pertanian (PEN) 342.098.000 342.098.000
3 4585 Penelitian dan Pengembangan Tanaman Peternakan dan Veteriner 599.854.000
4585 SDA Penelitian dan Pengembangan Produk 599.854.000
SDA 504 Diseminasi Teknologi Tanaman Pangan 232.000.000
SDA 533 Teknologi Peternakan dan Veteriner 367.854.000
4 4585 Penelitian dan Pengembangan Tanaman, Peternakan dan Veteriner [Link]
4585 SDA Penelitian dan Pengembangan Produk [Link]
SDA 548 Diseminasi Teknologi Tanaman Pangan (PEN) 768.000.000 400.625.000
SDA 549 Teknologi Peternakan dan Veteriner (PEN) [Link] 988.933.095
ANGGARAN
NO Kode/Cluster/Program/Kegiatan/KRO/RO
Pagu (Rp) REALISASI (Rp) %
A 1761 Pengelolaan Produksi Aneka Kacang dan Umbi Tanaman Pangan [Link] [Link] 61,64
1761 AEA Koordinasi [Link] [Link] 61,00
AEA 620 Koordinasi, Bimbingan Teknis, Monitoring dan Evaluasi (PEN) [Link] [Link] 61,00
1761 CAI Sarana Pengembangan Kawasan [Link] [Link] 61,70
CAI 620 Kawasan Kedelai (PEN) [Link] [Link] 62,22
CAI 621 Kawasan Kacang Tanah (PEN) [Link] [Link] 57,57
CAI 622 Kawasan Kacang Hijau (PEN) [Link] [Link] 47,40
B 1762 Pengelolaan Produksi Tanaman Serealia Tanaman Pangan [Link] [Link] 78,41
1762 AEA Koordinasi [Link] [Link] 46,50
AEA 625 Koordinasi, Bimbingan Teknis, Monitoring dan Evaluasi (PEN) [Link] [Link] 46,50
1762 RAI Sarana Pengembangan Kawasan [Link] [Link] 79,56
RAI 621 Kawasan Padi [Link] [Link] 96,93
RAI 629 Kawasan Padi (PEN) [Link] [Link] 67,31
C 4579 Pengelolaan Sistem Perbenihan Tanaman Pangan [Link] [Link] 76,39
4579 AEA Koordinasi [Link] [Link] 65,65
AEA 002 Koordinasi, Bimtek, Monev dan Pelaporan (PEN) [Link] [Link] 65,65
4579 CAG Sarana Bidang Pertanian, Kehutanan dan Lingkungan Hidup [Link] [Link] 57,85
CAG 008 Benih oleh Penangkar/Produsen yang Dihasilkan (PEN) [Link] [Link] 57,85
4579 RAI Sarana Pengembangan Kawasan [Link] [Link] 76,64
RAI 003 Area Penyaluran Benih Padi (PEN) [Link] [Link] 83,07
RAI 004 Area Penyaluran Benih Jagung (PEN) [Link] [Link] 74,29
D 4580 Pengelolaan Perlindungan Tanaman Pangan [Link] [Link] 89,33
227
228
ANGGARAN
NO Kode/Cluster/Program/Kegiatan/KRO/RO
Pagu (Rp) REALISASI (Rp) %
AEA.021 Bimbingan Teknis, Sosialisasi, Monev dan Pelaporan [Link] [Link] 90,61
C 5887 Pengolahan dan Pemasaran Hasil Hortikultura [Link] [Link] 50,63
5887 RAG Sarana Bidang Pertanian, Kehutanan dan Lingkungan Hidup [Link] [Link] 50,63
229
230
ANGGARAN
NO Kode/Cluster/Program/Kegiatan/KRO/RO
Pagu (Rp) REALISASI (Rp) %
AEA 002 Koordinasi, Bimtek, Monev dan Pelaporan (PEN) [Link] [Link] 90,32
5889 RAG Sarana Bidang Pertanian, Kehutanan dan Lingkungan Hidup [Link] [Link] 87,03
RAG 003 Sarana Pascapanen Tanaman Perkebunan (PEN) [Link] [Link] 89,01
RAG 004 Sarana Pengolahan Tanaman Perkebunan (PEN) [Link] [Link] 85,24
RAI 001 Kebun Sumber Benih Tanaman Perkebunan [Link] [Link] 99,98
5889 RBK Prasarana Bidang Pertanian, Kehutanan dan Lingkungan Hidup [Link] [Link] 96,25
RBK 003 Prasarana Pascapanen Tanaman Perkebunan (PEN) [Link] [Link] 95,47
RBK 004 Prasarana Pengolahan Tanaman Perkebunan (PEN) [Link] [Link] 96,46
E 5890 Penguatan Perbenihan Tanaman Perkebunan [Link] [Link] 94,54
5890 RAI Sarana Pengembangan Kawasan [Link] [Link] 94,54
RAI 002 Kebun Sumber Benih Tanaman Perkebunan (PEN) [Link] [Link] 94,54
4 018 06 Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan [Link] [Link] 73,02
A 1783 Peningkatan Produksi Pakan Ternak [Link] [Link] 82,69
1783 AEA Koordinasi [Link] [Link] 97,88
AEA 101 Supervisi, Monitoring dan Evaluasi Pakan (PEN) [Link] [Link] 97,88
1783 QEG Bantuan Peralatan / Sarana [Link] [Link] 82,92
QEG 101 Hijauan Pakan Ternak (PEN) [Link] [Link] 69,40
QEG 102 Pakan Olahan Dan Bahan Pakan (PEN) [Link] [Link] 83,50
1783 QJA Penyidikan dan Pengujian Produk [Link] [Link] 76,52
QJA 101 Mutu dan Keamanan Pakan (PEN) [Link] [Link] 76,52
B 1784 Pengendalian dan Penanggulangan Penyakit Hewan [Link] [Link] 81,71
1784 AEA Koordinasi [Link] 997.026.700 99,66
AEA 101 Supervisi, Monitoring dan Evaluasi Kesehatan Hewan (PEN) [Link] 997.026.700 99,66
1784 AFA Norma, Standard, Prosedur dan Kriteria [Link] [Link] 95,02
AFA 101 Norma, Standar, Pedoman dan Kriteria Kesehatan Hewan (PEN) [Link] [Link] 95,02
1784 QAH Pelayanan Publik Lainnya [Link] [Link] 76,86
QAH 101 Pelayanan Kesehatan Hewan (PEN) [Link] [Link] 82,39
QAH 102 Produksi Obat Hewan dan Bahan Biologik (PEN) [Link] [Link] 99,49
QAH 103 Pengamatan dan Identifikasi Penyakit Hewan (PEN) [Link] [Link] 72,18
231
232
ANGGARAN
NO Kode/Cluster/Program/Kegiatan/KRO/RO
Pagu (Rp) REALISASI (Rp) %
SCC 002 Pelatihan Pertanian bagi Non Aparatur 269.016.000 245.272.000 91,17
SCC 003 Pelatihan Vokasi Pertanian bagi Aparatur (PEN) [Link] [Link] 98,12
SCC 004 Pelatihan Pertanian bagi Non Aparatur (PEN) [Link] [Link] 97,37
1812 Penguatan Penyelenggaraan Penyuluhan Pertanian [Link] [Link] 97,89
1812 AEA Koordinasi [Link] [Link] 99,32
AEA 001 Koordinasi, Sosialisasi, Bimtek, Monev dan Pelaporan 408.620.000 407.701.800 99,78
AEA 002 Koordinasi, Sosialisasi, Bimtek, Monev dan Pelaporan (PEN) [Link] [Link] 99,31
1812 FBA Fasilitasi dan Pembinaan Pemerintah Daerah [Link] [Link] 93,33
FBA 003 Fasilitasi dan pembinaan Pemerintah Provinsi (PEN) [Link] [Link] 93,33
1812 QDD Fasilitasi dan Pembinaan Kelompok Masyarakat [Link] [Link] 98,30
QDD 005 Percontohan penerapan Teknologi Pertanian (PEN) [Link] [Link] 98,30
1813 Dukungan Manajemen dan Dukungan Teknis Lainnya Badan Penyuluhan da [Link] [Link] 99,93
1813 EAM Layanan Pendidikan dan Pelatihan Internal [Link] [Link] 99,93
EAM 005 Dukungan Peningkatan Kinerja Penyuluhan Pertaniain (PEN) [Link] [Link] 99,93
5892 Penguatan Penyelenggaraan Pendidikan Vokasi Pertanian [Link] [Link] 97,83
5892 AEA Koordinasi [Link] [Link] 97,00
AEA 003 Koordinasi, Sosialisasi, Bimtek, Monev dan Pelaporan (PEN) [Link] [Link] 97,00
5892 SAC Pendidikan Vokasi Bidang Pertanian dan Perikanan [Link] [Link] 98,77
SAC 001 Pendidikan Tinggi Vokasi Pertanian Sarjana Terapan [Link] [Link] 100,00
SAC 003 Pendidikan Menengah Vokasi Pertanian 90.000.000 90.000.000 100,00
SAC 004 Pendidikan Tinggi Vokasi Pertanian Sarjana Terapan (PEN) [Link] [Link] 98,21
SAC 005 Pendidikan Menengah Vokasi Pertanian (PEN) 844.264.000 844.010.000 99,97
233
234
ANGGARAN
NO Kode/Cluster/Program/Kegiatan/KRO/RO
Pagu (Rp) REALISASI (Rp) %
Lampiran 6.
Lampiran 7. Data Penegakan Hukum Tahun 2021 di UPT Lingkup Badan Karantina
Pertanian
No Tgl. LK P21 UPT Lalulintas Kasus Pelanggaran Keterangan
1. 02 March 16 April 2021 BKP Bandar Antar Area Penyelundupan P21 Nomor B-
2021 Lampung satwa liar tidak 972/L.8.4/Eku.1/04/2
dilindungi berupa 021 tanggal 16 April
938 ekor burung 2021 a.n. Yoppy
liar asal Febriansyah Bin Cepi
Pringsewu-
Lampung yang
akan
dilalulintaskan ke
Jakarta melalui
Pelabuhan
Bakauheni
2. 23 March 28 May 2021 BKP Bandar Antar Area Penyelundupan P21 Nomor:
2021 Lampung satwa liar tidak 1249/L.8.4/Eku.1/05/
dilindungi berupa 2021 tanggal 28 Mei
262 ekor burung 2021 a.n. Wildan
asal Indralaya- Muhammad Faisal Bin
Sumatera Selatan Zefrizal Nantawa
yang akan
dilalulintaskan ke
Bandung melalui
Pelabuhan
Bakauheni
4. 28 13 July 2021 BKP Padang Antar Area Pengeluaran 3 ekor P-20 Nomor: B-
Septembe ular (T wagleri) 2315/L.3.4/Eku.1/07/
r 2020 dari Bandara 2021 tanggal 13 Juli
Minagkabau ke 2021 a.n Robby Arif
Depok tanpa Alias Farhan Pgl Robi
sertifikat
kesehatan dan
tidak dilaporkan.
239
240
JUMLAH PENYULUH JUMLAH
TOTAL JUMLAH
NO PROVINSI BPP PETANI PER KOMODITAS PENERAPAN TEKNOLOGI
PNS PPPK THL PENYULUH POKTAN
POKTAN
1. Penerapan Jarak Tanam Metode Caplak pada Padi
2. Metode Pemupukan dan Pasca Panen Jagung
3. Budidaya Cabai Tumpangsari Tomat
4. Optimalisasi Pupuk Organik dan Sistem Tajarwo 2:1
pada PadI
5. Subtitusi Pupuk Bio Slurry pada Tanaman Padi Merah
Wangi dengan Sistem Tajarwo 2:1
6. Pengemasan untuk Meningkatkan Nilai Tambah pada
Produk Abon Ayam
7. Budidaya Ayam Kampung dengan Magot Sebagai
Padi, jagung, Upaya Efisiensi Biaya Pakan
tomat, padi 8. Penggunaan Pupuk Cair pada Padi dengan Tajarwo
merah, ayam, 2:1
magot, cabai 9. Peningkatan Hasil Tanpa Wiwil pada Tanaman Cabai
5 DI YOGYAKARTA 56 177 228 1 406 6.496 175.392 merah, bawang 10. Pengaruh Pemupukan Makro dan Mikro Melalui Daun
merah, cabai Terhadap Peningkatan Produksi Padi
keriting, cabai 11. Pengenalan Varietas Padi dengan Tajarwo 2:1
burga, cabai 12. Pengaruh Jarak Tanam Penanaman Bawang Merah
rawit, dengan Biji Terhadap Produksi
13. Pupuk Organik Tajarwo 2:1 pada Padi
14. Pupuk Berimbang Tajarwo 2:1 pada Padi
15. Pupuk Berimbang Tajarwo 4:1 pada padi
16. Budidaya Cabai Keriting di Sawah dengan Sistem
Mulsa Bedengan
17. Budidaya Cabai Burga di Pekarangan dengan
Polibag
18. Pengendalian OPT dengan Light Trap pada bawang
merah
19 Pengendalian OPT dengan Light Trap pada cabai
1. Varietas unggul baru
6 DKI JAKARTA 6 46 - 12 58 928 25.056 Florikultura 2. Inovasi florikultura
3. Urban farming
1. Pemupukan berimbang dan pengaturan populasi
7 GORONTALO 76 411 65 12 488 7.808 210.816 Padi
(jarwo/hazton/tegel)
1. Pengendalian penyakit Blas
2. Translokasi melalui daun (2,4D, MCPA dll)
8 JAMBI 131 685 9 166 860 13.760 371.520 Padi
3. Pegendalian Walang sangit
4. Penggunaan small mesin untuk penyiangan
241
242
JUMLAH PENYULUH JUMLAH
TOTAL JUMLAH
NO PROVINSI BPP PETANI PER KOMODITAS PENERAPAN TEKNOLOGI
PNS PPPK THL PENYULUH POKTAN
POKTAN
1. Benih unggul dan bermutu,
2. penggunaan pupuk organik,
3. pemupukan berimbang,
4. pengaturan populasi (jarwo/hazton/tegel),
5. pengelolaan tanah sempurna,
KALIMANTAN 6. pengelolaan OPT terpadu,
13 131 777 293 16 1.086 17.376 469.152 Cabai
SELATAN 7. penggunaan bibit muda,
8. tanamn padi bibit 2-3 batang per rumpun,
9. pengairan secara efektif dan efisien,
10. panen tepat waktu,
11. penggunaan mesin panen/mekanisasi dan teknologi
lain
1. Benih unggul dan bermutu,
KALIMANTAN
14 114 605 152 17 774 12.384 334.368 Cabai 2. penggunaan pupuk organik,
TENGAH
3. pemupukan berimbang dan teknologi lain
KALIMANTAN
15 85 534 78 18 630 10.080 272.160 Padi Sawah 1. Pengaturan populasi (jarwo/hazton/tegel)
TIMUR
1. Benih unggul dan bermutu,
KALIMANTAN 2. pengaturan populasi (jarwo/hazton/tegel),
16 24 187 4 12 203 3.248 87.696 Padi Sawah
UTARA 3. pengelolaan tanah sempurna, pengelolaan OPT
terpadu
1. Penggunaan pupuk organik,
2. Penggunaan bibit muda,
KEPULAUAN
3. tanam padi bibit 2-3 batang per rumpun,
17 BANGKA 32 190 71 - 261 4.176 112.752 Padi
4. pengairan secara efektif dan efisien,
BELITUNG
5. panen tepat waktu,
6. penggunaan mesin panen/mekanisasi
1. Benih unggul,
2. pemupukan berimbang,
18 KEPULAUAN RIAU 21 35 10 2 47 752 20.304 Cabai Merah
3. pengelolaan tanah sempurna,
4. pengelolaan OPT Terpadu
1. Penggunaan power tracer untuk panen
2. legowo 4:1; 40 cm x (20 cm x 10 cm) = 40 rumpun
19 LAMPUNG 211 594 526 84 1.204 19.264 520.128 Padi 3. Pengendalian penyakit Blas
4. legowo 2:1; 40 cm x (20 cm x 10 cm) = 33 rumpun
5. Translokasi melalui daun (glifosat)
CABAI
20 MALUKU 105 427 73 52 552 8.832 238.464 1. Penggunaan bibit muda
KERITING
1. Benih unggul dan bermutu
21 MALUKU UTARA 92 390 88 20 498 7.968 215.136 Padi Sawah
2. pengaturan populasi (jarwo/hazton/tegel)
243
244
JUMLAH PENYULUH JUMLAH
TOTAL JUMLAH
NO PROVINSI BPP PETANI PER KOMODITAS PENERAPAN TEKNOLOGI
PNS PPPK THL PENYULUH POKTAN
POKTAN
1. Benih unggul dan bermutu,
32 SUMATERA BARAT 165 642 450 5 1.097 17.552 473.904 Padi 2. pemupukan berimbang,
3. pengaturan populasi (jarwo/hazton/tegel)
1. Benih unggul dan bermutu,
2. penggunaan pupuk organik,
3. pemupukan berimbang,
4. pengaturan populasi (jarwo/hazton/tegel),
5. pengelolaan tanah sempurna,
SUMATERA 6. pengelolaan OPT terpadu,
33 196 1.031 355 88 1.474 23.584 636.768 Padi
SELATAN 7. penggunaan bibit muda,
8. tanamn padi bibit 2-3 batang per rumpun,
9. pengairan secara efektif dan efisien,
10. panen tepat waktu,
11. penggunaan mesin panen/mekanisasi dan teknologi
lain
1. Benih unggul dan bermutu,
2. penggunaan pupuk organik,
3. pemupukan berimbang,
4. pengaturan populasi (jarwo/hazton/tegel),
SUMATERA 5. pengelolaan tanah sempurna,
34 356 1.086 913 170 2.169 34.704 937.008 Padi
UTARA 6. pengelolaan OPT terpadu,
7. penggunaan bibit muda,
8. tanamn padi bibit 2-3 batang per rumpun,
9. pengairan secara efektif dan efisien,
10. panen tepat waktu,
JUMLAH 5.792 24.742 #### 2.075 38.221 611.536 16.511.472
PAGU REALISASI
NO UNIT ESELON-1
(Rp) (Rp) %
SEKRETARIAT [Link].000 [Link].089 99,08
1 JENDERAL
-Kurangnya petani yang menjadikan komoditas Meningkatkan dukungan sarana pengolahan hasil dan
Ditjen Tanaman pangan
kacang-kacangan sebagai komoditas utama. pemasaran produk olahan aneka umbi dan kacang.
Pelaksanaan SID Ekstensifikasi Lahan yang Aspek perencanaan (SID) sangat menentukan Ditjen Prasarana dan
merupakan dokumen dasar dalam pelaksanaan keberhasilan kegiatan ekstensifikasi lahan sawah. Untuk Sarana Pertanian
konstruksi ekstensifikasi lahan dilakukan pada tahun itu penyiapan dan penyediaan desain untuk konstruksi
yang sama (tahun berjalan) yaitu tahun 2021. Hasil ekstensifikasi lahan harus dilakukan 1 tahun sebelumnya
SID berjalan secara simultan/bersamaan dengan (T-1) sehingga hasil SID yang akan dimanfaatkan oleh
pelaksanaan konstruksi. Kondisi di atas ternyata pelaksana kegiatan dapat diterima secara utuh (tidak
secara langsung atau tidak langsung berdampak bertahap)
1
pada terjadinya keterlambatan konstruksi di
lapangan. Pada dasarnya, pelaksanaan SID harus
dilakukan pada tahun sebelumnya (T-1) sehingga
konstruksi fisik dapat dimulai sejak awal tahun dan
tidak tergantung/menunggu hasil SID di tahun yang
sama
Perlu dipetakan potensi wilayah yang dapat pemetaan potensi pengambangan lahan pada skala Ditjen Prasarana dan
dikembangkan untuk penambahan luas baku lahan operasional Sarana Pertanian
pertanian dengan memperhatikan aspek komoditas
2
unggulan yang akan dikembangkan, sumberdaya
manusia, budaya serta infrastruktur penunjang
Upaya pemerintah daerah dalam penetapan LP2B Perlunya dilakukan koordinasi dengan instansi terkait Ditjen Prasarana dan
patut kita apresiasi. Namun dalam pelaksanaannya, untuk mengevaluasi Perda RTRW Kabupaten/Kota Sarana Pertanian
belum semua daerah menyelesaikan Perda RTRW, terutama yang tidak menetapkan LP2B serta berperan aktif
dan bahkan bagi yang sudah menetapkan RTRW dalam peninjauan kembali Perda RTRW Kabupaten/Kota
3
ada yang belum menetapkan LP2B serta belum
didukung data spasial yang menunjukan zonasi
penetapan LP2B tersebut
Belum tersedianya dukungan data spasial yang kuat Dukungan anggaran dan sumber daya manusia untuk Ditjen Prasarana dan
untuk mendukung setiap kebijakan Kementerian penyiapan data spasial Lahan Pertanian Pangan Sarana Pertanian
4 Pertanian Berkelanjutan yang bisa digunakan untuk ditetapkan di
dalam peraturan daerah