0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
73 tayangan260 halaman

Laporan Kinerja Pertanian 2021

Laporan kinerja Kementerian Pertanian tahun 2021 menunjukkan capaian kinerja yang baik. Dari 18 indikator kinerja strategis, 14 indikator mencapai kategori sangat berhasil dengan nilai capaian lebih dari 100%. Realisasi anggaran mencapai 97,28% dari pagu anggaran. Kinerja positif ini merupakan hasil kerja keras seluruh jajaran untuk mendukung pembangunan pertanian.

Diunggah oleh

Bagian Mutasi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
73 tayangan260 halaman

Laporan Kinerja Pertanian 2021

Laporan kinerja Kementerian Pertanian tahun 2021 menunjukkan capaian kinerja yang baik. Dari 18 indikator kinerja strategis, 14 indikator mencapai kategori sangat berhasil dengan nilai capaian lebih dari 100%. Realisasi anggaran mencapai 97,28% dari pagu anggaran. Kinerja positif ini merupakan hasil kerja keras seluruh jajaran untuk mendukung pembangunan pertanian.

Diunggah oleh

Bagian Mutasi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

KEMENTERIAN PERTANIAN

TAHUN 2022

LAPORAN KINERJA
KEMENTERIAN PERTANIAN 2021
“Pertanian Yang Maju, Mandiri Dan Modern”
Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

Kementerian Pertanian 2022 249


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

KATA PENGANTAR

Tahun 2021 merupakan tahun kedua pelaksanaan RPJMN


Tahun 2020-2024 dan merupakan tahun pertama
diterapkannya Redesain Sistem Perencanaan dan
Penganggaran (RSPP) Kementerian/Lembaga serta tahun
kedua adanya Pandemi Covid-19. Dalam rangka merespon
dinamika kebijakan baik kebijakan direktif Presiden
maupun merespon dan mengantisipasi dampak Pandemi
Covid-19, maka pada Tahun 2021 Kementerian Pertanian
melakukan revisi Rencana Strategis Kementerian Pertanian
Tahun 2020-2024.
Kementerian Pertanian pada periode 2020-2024 telah
menetapkan 5 (lima) sasaran strategis pembangunan pertanian, yaitu: (1) Meningkatnya
ketersediaan, akses dan konsumsi pangan berkualitas, (2) Meningkatnya nilai tambah
dan daya saing komoditas pertanian nasional, (3) Meningkatnya pemanfaatan teknologi
dan inovasi pertanian, (4) Meningkatnya kualitas Sumber Daya Manusia dan
kelembagaan Pertanian Nasional, dan (5) Terwujudnya birokrasi Kementerian Pertanian
yang efektif dan efisien serta anggaran yang akuntabel.
Upaya pencapaian 5 (lima) sasaran strategis Tahun 2021 dilakukan melalui implementasi
5 (lima) Program Pembangunan Pertanian, yaitu: (1) Ketersediaan, Akses dan Konsumsi
Pangan Berkualitas; (2) Peningkatan Nilai tambah dan Daya Saing Industri; (3) Riset dan
Inovasi Ilmu Pengetahuan dan Teknnologi; (4) Pendidikan dan Pelatihan Vokasi; dan (5)
Dukungan Manajemen.
Sebagai bentuk pertanggungjawaban yang baik, transparan, dan akuntabel, maka
pelaksanaan pembangunan pertanian, tata kelola manajemen, dan sistem akuntabilitas
kinerja pemerintah yang berbasis kinerja selama tahun 2021 harus dilaporkan secara
tertulis dan diketahui oleh masyarakat luas. Untuk itu, disusun Buku Laporan Kinerja
Kementerian Pertanian Tahun 2021.
Buku Laporan Kinerja (Lakin) Kementerian Pertanian Tahun 2021 ini sebagai bukti
konkret bentuk pertangggungjawaban Kementerian Pertanian kepada publik dan
kepatuhan terhadap Peraturan Presiden RI Nomor 29 Tahun 2014 tentang Sistem
Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah dan Peraturan Menteri Pendayagunaan
Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 53 Tahun 2014 tentang Petunjuk Teknis
Perjanjian Kinerja, Pelaporan Kinerja, dan Tata Cara Reviu atas Laporan Kinerja Instansi
Pemerintah.
Keberhasilan dan pencapaian kinerja Kementerian selama Tahun 2021 merupakan hasil
kerja keras seluruh jajaran Kementerian Pertanian serta dukungan pemangku
kepentingan di Pusat dan Daerah, baik institusi Pemerintah, Swasta, maupun Petani.
Buku ini tidak hanya menjelaskan keberhasilan pembangunan pertanian, namun juga

Kementerian Pertanian 2022 i


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

memberikan penjelasan terkait tantangan dan permasalahan yang dihadapi dalam


pelaksanaan pembangunan pertanian. Berdasarkan tantangan dan permasalahan
tersebut, maka perlu dilakukan upaya perbaikan dan perhatian serius untuk pencapaian
target pembangunan pertanian ke depan. Tentu saja kita semua berharap, kinerja
Kementerian Pertanian yang akan datang dapat lebih baik dan ditingkatkan lagi dengan
memanfaatkan peluang dan potensi yang optimal, serta mengatasi semaksimal mungkin
permasalahan yang terjadi dalam upaya mencapai kinerja Kementerian Pertanian yang
lebih baik, transparan, dan akuntabel.
Besar harapan kami Laporan Kinerja Kementerian Pertanian Tahun 2021 ini dapat
memberikan gambaran kinerja Kementerian Pertanian dan dapat memberikan manfaat
serta menjadi umpan balik (feedback) bagi proses perencanaan selanjutnya. Kami
mengajak semua pihak untuk berperan aktif dengan semangat yang tinggi dalam
melaksanakan tugas dan fungsi masing-masing untuk mendukung keberhasilan
pembangunan pertanian ke depan.

Jakarta, Februari 2022


Menteri Pertanian,

SYAHRUL YASIN LIMPO

ii

ii Kementerian Pertanian 2022


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

IKHTISAR EKSEKUTIF

Laporan Akuntabilitas Kinerja (Lakin) Kementerian Pertanian Tahun 2021 disusun


sebagai bentuk kepatuhan Kementerian Pertanian terhadap Peraturan Presiden RI
Nomor 29 Tahun 2014 tentang Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah dan
Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 53
Tahun 2014 tentang Petunjuk Teknis Perjanjian Kinerja, Pelaporan Kinerja, dan Tata
Cara Reviu atas Laporan Kinerja Instansi Pemerintah. Lakin ini berisi laporan pencapaian
kinerja tahun 2021, baik keberhasilan yang diraih maupun permasalahan yang
memerlukan perbaikan ke depan, serta menyajikan perkembangan kinerja Kementerian
Pertanian Tahun 2017-2021. Laporan ini juga sebagai bentuk pertanggungjawaban
Menteri Pertanian terhadap Perjanjian Kinerja (PK) yang telah ditandatangani, sehingga
dapat dilaporkan tertulis dengan baik, transparan, dan akuntabel. Untuk itu, Lakin
memuat ikhtisar kinerja Kementerian Pertanian 2021 yang meliputi nilai capaian kinerja,
realisasi anggaran, dan evaluasi kinerja.
Validitas dan reliabilitas data maupun informasi menjadi kunci utama
keberhasilan penyusunan Laporan Kinerja ini. Selain itu, komitmen pimpinan dan
pegawai Kementerian Pertanian juga sangat menentukan dalam menghasilkan laporan
yang berkualitas dan dapat dipertanggungjawabkan. Lakin ini diharapkan dapat menjadi
pendorong dan pemicu positif dalam meningkatkan kinerja Kementerian Pertanian
secara komprehensif, sehingga dapat mempercepat terwujudnya Nawacita dan
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) tahun 2020-2024,
khususnya terkait pencapaian kedaulatan pangan.
Berdasarkan hasil pengukuran kinerja, dari 18 Indikator Kinerja Sasaran Strategis
(IKSS) hampir seluruh atau 14 IKSS mencapai kategori sangat berhasil dengan nilai
capaian kinerja > 100%, 2 IKSS mencapai capaian berhasil, 1 IKSS memiliki capaian
kurang berhasil, sedangkan 1 (satu) IKSS belum memiliki capaian, yaitu Nilai Reformasi
Birokrasi Kementerian Pertanian.
Indikator kinerja yang masuk kategori sangat berhasil yaitu; (1) Peningkatan
ketersediaan pangan strategis dalam negeri; (2) Peningkatan Konsumsi Pangan
Berkualitas; (3) Persentase pangan segar yang memenuhi syarat keamanan pangan; (4)
Persentase Serangan Organisme Pengganggu Tumbuhan dan Dampak Perubahan Iklim
yang Ditangani; (5) Persentase Wilayah yang Terkendali dari Penyakit Hewan Menular
Strategis; (6) Persentase Kasus Pelanggaran Perkarantinaan yang Diselesaikan; (7)
Tingkat Kemanfaatan Sarana Produksi Pertanian; (8) Tingkat Kemanfaatan Sarana
Pascapanen dan Pengolahan Hasil Pertanian; (9) Pertumbuhan Nilai Ekspor untuk Produk
Pertanian Nasional; (10) Persentase Hasil Penelitian dan Pengembangan Yang
Dimanfaatkan; (11) Persentase Petani yang Menerapkan Teknologi; (12) Persentase
SDM Pertanian yang Meningkat Kapasitasnya; (13) Persentase kelembagaan petani yang
meningkat kapasitasnya; dan (14) Nilai Kinerja Anggaran Kementerian Pertanian.

iii

Kementerian Pertanian 2022 iii


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

Indikator yang masuk kategori berhasil yaitu Tingkat Pemenuhan Prasarana Pertanian
Indikator, Indikator yang masuk kategori kurang berhasil yaitu Peningkatan Akses
Pangan. Indikator yang belum diperoleh hasilnya adalah nilai Reformasi Birokrasi (RB)
Kementerian Pertanian, karena sampai dengan bulan Februari 2022 belum diumumkan
atau menunggu hasil evaluasi Reformasi Birokrasi Kementerian Pertanian oleh Tim
Evaluasi RB Kementerian PAN dan RB.
Dalam upaya merealisasikan program dan kegiatan pembangunan pertanian tahun 2021,
Kementerian Pertanian memperoleh alokasi pagu APBN sebesar
Rp16.[Link],00 yang dialokasikan untuk membiayai 5 (lima) program.
Realisasi penyerapan anggaran sampai dengan 31 Desember 2021 mencapai
Rp15.[Link],00 atau 97,28%. Perencanaan dan pengalokasian anggaran yang
tepat sasaran, efektif dan efisien menjadi kunci keberhasilan dalam pengelolaan
anggaran dalam mencapai sasaran kinerja yang ditetapkan.

iv

iv Kementerian Pertanian 2022


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

DAFTAR ISI

Kata Pengantar .............................................................................................. i


Ikhtisar Eksekutif ........................................................................................... iii
Daftar Isi ....................................................................................................... v
Daftar Tabel .................................................................................................. vi
Daftar Gambar ............................................................................................... viii

BAB I PENDAHULUAN .............................................................................. 1


A. Latar Belakang ..................................................................................... 1
B. Kedudukan, Tugas, dan Fungsi .............................................................. 5
C. Susunan Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Pertanian ...................... 6
D. Sumber Daya Manusia Kementerian Pertanian ........................................ 8

BAB II PERENCANAAN KINERJA KEMENTERIAN PERTANIAN ............... 9


A. Rencana Strategis Kementerian Pertanian 2021-2024 .............................. 9
B. Perjanjian Kinerja (PK) Tahun 2021 ........................................................ 12
C. Refocusing Program dan Kegiatan Merespons Pandemi Covid-19 .............. 14

BAB III AKUNTABILITAS KINERJA KEMENTERIAN PERTANIAN ........... 17


A. Capaian Kinerja Kementerian Pertanian Tahun 2021 ................................ 17
Sasaran Strategis 1 (SS 1) Meningkatnya Ketersediaan, Akses, Dan
Konsumsi Pangan Berkualitas ....................... 21
Sasaran Strategis 2 (SS 2) Meningkatnya Nilai Tambah dan Daya Saing
Komoditas Pertanian..................................... 103
Sasaran Strategis 3 (SS 3) Meningkatnya Pemanfaatan Teknologi dan
Inovasi Pertanian ........................................ 119
Sasaran Strategis 4 (SS 4) Meningkatnya Kualitas Sumber Daya Manusia
dan Kelembagaan Pertanian Nasional ............ 136
Sasaran Strategis 5 (SS 5) Terwujudnya Birokrasi Kementerian
Pertanian yang Efektif dan Efisien, serta
Anggaran yang Akuntabel ............................ 147
B. Capaian Kinerja Lainnya ...................................................................... 159
C. Akuntabilitas Keuangan Kementerian Pertanian ..................................... 164

BAB IV PENUTUP .................................................................................... 167


LAMPIRAN

Kementerian Pertanian 2022 v


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Indikator Kinerja dan Target 2021-2024 ...................................................... 11


Tabel 2. Perjanjian Kinerja Kementerian Pertanian Tahun 2021.................................. 13
Tabel 3. Capaian Indikator Kementerian Pertanian Tahun 2021 ................................. 19
Tabel 4. Rata-Rata Capaian Produksi Pangan Strategis Tahun 2021 ........................... 23
Tabel 5. Produksi Komoditas Strategis Hortikultura Tahun 2020-2021......................... 29
Tabel 6. Pertumbuhan Produksi Daging Pada Tahun 2017-2021 ................................. 36
Tabel 7. Perkembangan Produksi Telur (Ribu Ton).................................................... 40
Tabel 8. Perkembangan Produksi Pangan Lokal Sumber Karbohidrat Non Beras
Tahun 2017-2021 ...................................................................................... 45
Tabel 9. Konsumsi Pangan Berkualitas Tahun 2017-2021 .......................................... 50
Tabel 10. Persentase Pangan Segar yang Memenuhi Syarat Keamanan Pangan
Tahun 2017-2021 ...................................................................................... 54
Tabel 11. Hasil Monitoring Keamanan PSAT Tahun 2021 ............................................. 54
Tabel 12. Hasil Sample PSAH Yang Memenuhi Syarat Keamanan dan Mutu Pangan
Tahun 2021 .............................................................................................. 55
Tabel 13. Rasio Luas Serangan OPT/DPI Sektor Pertanian Tahun 2021 ........................ 58
Tabel 14. Rasio Serangan OPT Yang Dapat Ditangani Untuk 7 Komoditas Tanaman
Pangan..................................................................................................... 59
Tabel 15. Capaian area yang dapat ditangani terhadap target RPJMN .......................... 55
Tabel 16. Capaian Luas Terkena DPI yang dapat ditangani untuk 7 Komoditas
Tanaman Pangan ...................................................................................... 61
Tabel 17. Capaian Rasio Penanganan DPI terhadap Target.......................................... 62
Tabel 18. Data Luas Serangan OPT Hortikultura Tahun 2021 ....................................... 63
Tabel 19. Kegiatan Pengendalian di 402 Kabupaten/Kota Terhadap 5 Penyakit
Hewan Menular Strategis ........................................................................... 68
Tabel 20. Perkembangan Wilayah yang Terbebas Penyakit Menular Strategis Tahun
2017- 2021 ............................................................................................... 68
Tabel 21. Daftar Jenis HPHK dan Jenis OPTK ............................................................. 73
Tabel 22. Capaian Kinerja Tingkat Pemenuhan Prasarana Pertanian ............................. 80
Tabel 23. Capaian Indikator Beberapa Aktivitas Kegiatan Pendukung Pemenuhan
Pembiayaan dan Perlindungan Usaha Pertanian ........................................... 81
Tabel 24. Capaian Kinerja Tingkat Kemanfaatan Sarana Pertanian Tahun 2021 ............. 91
Tabel 25. Capaian kemanfaatan sarana produksi asal ternak ....................................... 93
Tabel 26. Capaian Tingkat Kemanfaatan Alsintan Pra Panen Tahun 2021...................... 95
Tabel 27. Realisasi Kegiatan Penyediaan Alat dan Mesin Pertanian rapanen Tahun
2021 ........................................................................................................ 95
Tabel 28. Rincian alokasi dan Realisasi Pupuk Bersusbsidi Tahun 2021 ......................... 98
Tabel 29. Realisasi Pengadaan Saprodi Intensifikasi Food Estate di Provinsi
Kalteng dan Sumsel ................................................................................... 100
Tabel 30. Jumlah Sarana Pascapanen dan Pengolahan Hasil Pertanian, Jumlah
Sampel, dan Tingkat Kemanfaatan Sarana Pertanian Tahun 2021 ................. 105
Tabel 31. Jenis Sarana Pasca PanenPertanian ............................................................ 107
Tabel 32. Tingkat Kemanfaatan Pascapanen dan Pengolahan Tanaman Pangan ............ 107
Tabel 33. Rincian Sarana Pascapanen dan Pengolahan yang Tersedia Tahun
2017-2021 ................................................................................................ 108
Tabel 34. Tingkat Kemanfaatan Sarana Perkebunan Tahun 2021 ................................. 111

vi Kementerian Pertanian 2022


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

Tabel 35. Tingkat Kemanfaatan Sarana Prasarana Pengolahan dan Pemasaran


Hasil Peternakan .................................................................................. 112
Tabel 36. Perkembangan Ekspor Komoditas Pertanian Tahun 2019-2021 ................. 114
Tabel 37. Jumlah Hasil Penelitian dan Pengembangan yang Dimanfaatkan dan
Dihasilkan Selama 5 Tahun ................................................................... 121
Tabel 38. Capaian Indikator Persentase hasil Penelitian dan Pengembangan
Yang Dimanfaatkan Tahun 2017-2021 ................................................... 122
Tabel 39. Capaian Indikator Kinerja Balitbangtan Dalam Periode Renstra 2020-
2024 ................................................................................................... 122
Tabel 40. Persentase SDM pertanian yang meningkat kapasitasnya tahun 2021 ....... 134
Tabel 41. Data Rekapitulasi Jumlah Kelembagaan Ekonomi Petani (KEP) Per
Provinsi Tahun 2021 ............................................................................. 144
Tabel 42. Pengukuran Nilai Efisiensi Kementerian Pertanian Tahun 2021 ................. 158
Tabel 43. Dukungan Anggaran untuk pencapaian sasaran strategis Kementan
tahun 2021 .......................................................................................... 165

Kementerian Pertanian 2022 vii


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Peningkatan Produksi Komoditas Pertanian Strategis Tahun 2020-


2021 ..................................................................................................3
Gambar 2. Kontribusi Lapangan Usaha terhadap Pertumbuhan Ekonomi
Nasional Tahun 2020-2021. .................................................................4
Gambar 3. Peta Strategi Pembangunan Pertanian 2020-2024..................................11
Gambar 4. Sinergitas Kementerian Pertanian dengan Stakeholder Terkait
dalam Mewujudkan Peningkatan Produksi Pangan .................................24
Gambar 5. Perkembangan Realisasi Produksi, Produktivitas dan Luas Panen
Padi Tahun 2017-2021 ........................................................................25
Gambar 6. Perkembangan Realisasi Produksi, Produktivitas dan Luas Panen
Jagung Tahun 2017-2021 ....................................................................28
Gambar 7. Produksi Cabai (Ton) Tahun 2017 – 2021 .............................................30
Gambar 8. Produksi Bawang Merah (Ton) Tahun 2017 – 2021 ................................31
Gambar 9. Perkembangan Produksi, Bawang Putih Tahun 2016-2021 ......................31
Gambar 10. Perkembangan Produksi Susu Untuk Memenuhi Kebutuhan
Protein Nasional Tahun 2017-2021 .......................................................38
Gambar 11. Realisasi Penyaluran Bahan Pangan Kegiatan Fasilitasi Distribusi
Pangan Di PMT/TTIC/TMT/TTI .............................................................44
Gambar 12. Pelaksanaan Gerakan Pengendalian OPT Hortikultura TA. 2021...............64
Gambar 13. Fasilitasi Bantuan Sarpras Penanganan DPI di Provinsi Sulawesi
Barat .................................................................................................66
Gambar 14. Menteri Pertanian Melakukan Pemusnahan di Karantina Pertanian
Soekarno Hatta 72
Gambar 15. Tindakan Pemusnahan yang Berlokasi di SKP Bandung ..........................72
Gambar 16. Kegiatan Pengembangan Jaringan Irigasi Tahun 2021 pada Poktan
Nusa Indah di Kecamatan Rilauale, Kabupaten Bulukumba, Prov.
Sulawesi Selatan .................................................................................85
Gambar 17. Kegiatan Irigasi Perpompaan Tahun 2021 pada Poktan Karya Jaya,
Desa Mangunjawa, Kecamatan Mangunjaya, Kabupaten
Pangandaran, Prov. Jawa Barat ............................................................86
Gambar 18. Pengembangan Embung Pertanian pada Poktan Tunas Taruna, Desa
Gedongjetis, Kecamatan Tulung, Kabupaten Klaten, Prov. Jawa
Tengah ..............................................................................................87
Gambar 19. Dokumentasi Kegiatan Ekstensifikasi (Land Clearing) tahun 2021 di
Lokasi Terusan Raya Barat, Kecamatan Bataguh, Kabupaten Kapuas,
Prov. Kalimantan Tengah .....................................................................89
Gambar 20. Kegiatan di Salah Satu Rumah Potong Hewan .......................................94
Gambar 21. Dokumentasi Pemanfaatan Alat dan Mesin Pertanian Prapanen di
berbagai Wilayah Tahun 2021 ..............................................................96
Gambar 22. Bantuan Alsintan di Sumbawa Barat, Maret 2021 ...................................96
Gambar 23. Bantuan Alsintan Modern di Sinjai, Sumsel, September 2021 ..................96
Gambar 24. Menteri Pertanian Melakukan Inspeksi Dadakan (Sidak) di Gudang
PT Petrokimia dan PT Pupuk Kujang Lini III yang berada di
Indramayu-Jawa Barat, Dalam Rangka Pengecekan Stok
Ketersediaan Pupuk Bersubsidi .............................................................99

viii Kementerian Pertanian 2022


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

Gambar 25. Bantuan Pupuk Urea Non Subsidi Kepada Poktan Saka Batang, Desa
Pangkoh Hilir, Kecamatan Pandih Batu, Kab. Pulang Pisau, Prov.
Kalimantan Tengah .............................................................................101
Gambar 26. Bantuan Pupuk NPK Non Subsidi Kepada Poktan Poktan Maju
Sentosa, Desa Muda Sentosa, Kecamatan Buay Madang, Kab. Ogan
Komering Ulu Timur, Prov. Sumatera Selatan ........................................101
Gambar 27. Dokumentasi Kegiatan Unit Pengolah Pupuk Organik (UPPO) Tahun
2021 pada Poktan Mekat Asih, Desa Munjuliaya, Kecamatan
Purwarkarta, Kab. Purwakarta, Prov. Jawa Barat ...................................102
Gambar 28. Beberapa Jenis Alsintan Pascapanen .....................................................106
Gambar 29. Pemanfaatan Alsintan Panen Combine Harvester Besar ..........................108
Gambar 30. Diagram Tingkat Kemanfaatan Sarana Hortikultura Tahun 2021 ..............109
Gambar 31. Pelepasan Ekspor Komoditas Pertanian Dari 17 Pintu Utama yang
Tersebar di 17 Provinsi Indonesia .........................................................115
Gambar 32. Panen Perdana Benih Jagung Nakula Sadewa 29 Jagung Hibrida
yang Dihasilkan Tahun 2017 Oleh Gubenur Sulawesi Selatan di Desa
Unra, Kecamatan Awangpone, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan
(Sulsel) Tanggal 17 Februari 2021. .......................................................123
Gambar 33. Formula Difusi Aromaterapi Berbahan Utama Minyak Eucalyptus .............124
Gambar 34. Kit Elisa Untuk Mendeteksi Antibodi Terhadap Nucleoprotein Virus
SARS Cov-2 ........................................................................................124
Gambar 35. Kentang Varietas Golden Agrihorti ........................................................125
Gambar 36. Formulasi Feromon dan Proses Pembuatannya (Feromon-Exi) ................125
Gambar 37. Kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) Pengolahan Pasca Panen
Tanaman Porang ................................................................................126
Gambar 38. Tampilan Muka Peta Tanah ..................................................................127
Gambar 39. Tampilan Aplikasi Sebaran Teknologi pada Android ................................128
Gambar 40. Kegiatan Penyuluh Pertanian di Prov. Maluku ........................................131
Gambar 41. Kegiatan Sekolah Lapang.....................................................................132
Gambar 42. Kegiatan Sekolah Lapang Penerapan Teknologi .....................................132
Gambar 43. Kegiatan Penderasan Informasi dan Materi Penyuluhan Pertanian ...........134
Gambar 44. Kegiatan ToF Climate Smart Agriculture (CSA) (SIMURP .........................134
Gambar 45. Proses Pembentukan Kelembagaan Ekonomi Petani (KEP) ......................142
Gambar 46. Profil Kelembagaan Ekonomi Petani yang Dimuat dalam Tabloid .............145
Gambar 47. Komponen Penilaian RB Kementerian/Lembaga .....................................148
Gambar 48. Progres Evaluasi RB Kementerian Pertanian Tahun 2021 ........................149
Gambar 49. Target dan Realisasi Nilai Reformasi Birokrasi Kementerian Pertanian
Tahun 2017-2021 ...............................................................................152
Gambar 50. Capaian Kinerja Anggaran Kementerian Pertanian 2021 .........................156
Gambar 51. Nilai Kinerja Anggaran Kementerian Pertanian 2019-2021 ......................157
Gambar 52. Pemberian Anugerah Top Digital Implementation ..................................159
Gambar 53. Pemberian Anugerah Keterbukaan Informasi Publik Tahun 2021 .............160
Gambar 54. Penandatanganan Berita Acara Penyerahan Arsip Statis Kementerian
Pertanian antara Kepala ANRI dengan Sekretaris Jenderal Kementan .....160
Gambar 55. Pelestarian arsip terjaga dari Arsip Nasional Republik Inonesia dan
Penghargaan Penyelamatan dan Pelestarian Arsip Bernilai guna
Pertanggungjawaban Nasional dari ANRI dari ANRI ...............................161

Kementerian Pertanian 2022 ix


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

Gambar 56. Penyerahan penghargaan opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP)


kepada Kementerian Pertanian .............................................................161
Gambar 57. Piagam Penghargaan Top Government Public Reltion Award 2021 ..........162
Gambar 58. Anugerah Media Humas (AMH) 2021 ....................................................162
Gambar 59. Piagam Penghargaan dan Penyerahan Penghargaan ..............................162
Gambar 60. Penyerahan Penghargaan Public Relations (PR) .....................................163
Gambar 61. Kementan Raih Peringkat 2 dalam Pengawasan Kearsipan Tahun 2021 ...163
Gambar 62. Perkembangan Anggaran Kementerian Pertanian Tahun 2017-2021 ........164

x Kementerian Pertanian 2022


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Sektor Pertanian mempunyai peranan penting dalam kehidupan manusia yaitu sebagai
penyedia pangan, pakan untuk ternak, dan bioenergi. Peran sektor pertanian juga sebagai
penopang pembangunan nasional, terutama untuk mewujudkan ketahanan pangan,
penyerapan tenaga kerja dan penanggulangan kemiskinan. Peran lainnya yaitu mendorong
peningkatan daya saing melalui pertumbuhan agroindusti hilir dan memacu ekspor komoditas
pertanian untuk meningkatkan devisa negara. Tidak hanya pada masa sekarang, ke depan
sektor pertanian masih diandalkan sebagai sektor yang menyediakan kebutuhan pangan
masyarakat. Tugas penyediaan pangan masyarakat tidak ringan, karena diperkirakan
penduduk Indonesia pada tahun 2050 mencapai 330,9 juta jiwa, terbesar keenam di dunia
setelah India, Tiongkok, Nigeria, Amerika dan Pakistan (United Nations Population, 2021).
Untuk itu ketahanan pangan nasional ke depan harus tetap dijaga dengan baik.
Dalam rangka mewujudkan ketahanan pangan dalam negeri, maka sesuai UU No. 17 Tahun
2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) tahun 2005-2025 dan
Peraturan Presiden Nomor 18 Tahun 2020 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Nasional (RPJMN) Tahun 2020-2024, sektor pertanian diharapkan berkontribusi terhadap
pertumbuhan ekonomi yang berkualitas di Indonesia. Pertumbuhan ekonomi lima tahun ke
depan diharapkan meningkat sampai 5,7-6,0% per tahun, yang didorong oleh peningkatan
produktivitas, investasi berkelanjutan, perbaikan pasar tenaga kerja dan peningkatan kualitas
Sumber Daya Manusia (SDM). Pada tahun 2024, peningkatan kualitas ekonomi haruslah
tercermin dari perbaikan indikator makro ekonomi Indonesia di antaranya: inflasi yang stabil,
turunnya tingkat kemiskinan, turunnya tingkat pengangguran, turunnya tingkat rasio gini dan
meningkatnya Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Sektor pertanian memberikan kontribusi
positif terhadap pertumbuhan ekonomi pada tahun 2021. Selama tahun 2021, sektor
pertanian memberikan kontribusi pada pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 1,84 persen
yang didorong oleh produksi padi yang tumbuh 0,17%, produksi hortikultura seperti pisang
sebesar 2,89% (BPS, 2022).
Pembangunan Pertanian lima tahun ke depan dihadapkan kepada perubahan lingkungan
strategis yang dinamis baik domestik maupun internasional. Salah satu tantangan besar
pembangunan pertanian yaitu bagaimana pertumbuhan ekonomi positif yang dicapai mampu
meningkatkan pendapatan petani yang sebagian besar penguasaan lahan kurang dari 0,5
hektar (BPS, 2018). Untuk itu, peningkatan produksi komoditas pertanian dan peningkatan
daya saing produk pertanian diarahkan mampu mendongkrak Produk Domestik Bruto (PDB)
sektor pertanian yang hasilnya harus dapat dirasakan oleh petani melalui peningkatan
kesejahteraan petani.
Pembangunan tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi, tetapi bagaimana
kualitas dan distribusi ekonomi (kesejahteraannya) semakin merata. Salah satu kunci
mencapai pertumbuhan ekonomi yang berkualitas dalam 5 (lima) tahun ke depan adalah
11

Kementerian Pertanian 2022 1


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

melalui proses transformasi struktural. Perbaikan transformasi struktural didorong oleh


revitalisasi industri pengolahan pertanian dengan tetap mendorong perkembangan sektor lain.
Pembangunan pertanian saat ini tidak hanya menitikberatkan di sektor hulu, namun dilakukan
pembaruan dengan menjadikan pertanian sebagai motor penggerak transformasi
pembangunan yang berimbang dan menyeluruh, atau disebut pertanian untuk pembangunan
(Agriculture for Development). Pembangunan pertanian berkelanjutan mengarahkan agar
lahan pertanian dipandang sebagai satu industri dengan seluruh faktor produksi yang
menghasilkan produk utama pangan dan produk lainnya (produk turunan atau sampingan,
produk ikutan dan limbah) yang dikelola untuk kepentingan industri menuju zero waste
(semua produk pertanian digunakan kembali).
Pembangunan pertanian menjadi bagian dari RPJMN Tahun 2020-2024, memasuki tahap ke-
4 dan kelanjutan dari RPJPN 2005-2025. Pada RPJMN ke empat (2020-2024) ini, masyarakat
Indonesia diharapkan sudah mandiri, maju, adil dan makmur melalui percepatan
pembangunan di berbagai bidang termasuk di sektor pertanian. Hal ini dapat diwujudkan
melalui pengembangan struktur perekonomian yang kokoh berbasis keunggulan kompetitif di
berbagai wilayah yang didukung oleh Sumber Daya Manusia (SDM) berkualitas dan berdaya
saing. Untuk itu, pembangunan sektor pertanian dituntut bisa meningkatkan ketahanan
pangan dan daya saingnya guna mendukung terwujudnya pertanian Indonesia yang maju,
mandiri dan modern yang tertuang dalam Rencana Strategis (Renstra) Kementerian Pertanian
Tahun 2021-2024. Renstra ini diharapkan menjadi arahan sekaligus acuan dalam penyusunan
program dan kegiatan pembangunan pertanian periode 2020-2024.
Proses pembangunan yang dilaksanakan perlu memperhatikan potensi dan permasalahan
dalam pembangunan pertanian berkelanjutan agar tantangan dan kelemahan yang dihadapi
menjadi dasar penyusunan kebijakan dan strategi. Potensi pertanian di Indonesia dapat
bersumber dari: (1) keanekaragaman hayati; (2) lahan pertanian; (3) jumlah penduduk
(bonus demografi); dan (4) inovasi dan teknologi pertanian. Pembangunan pertanian lima
tahun ke depan merupakan kelanjutan dari pelaksanaan pembangunan periode sebelumnya
sehingga permasalahan yang dihadapi semakin kompleks.
Isu strategis yang ada di antaranya yaitu pertumbuhan penduduk yang cukup tinggi, alih
fungsi lahan pertanian yang semakin bertambah dan dampak perubahan iklim akibat
pemanasan global. Permasalahan di sektor pertanian dan pangan dapat dikategorikan sebagai
berikut: (1) pemenuhan pangan dan kecukupan gizi; (2) defisit perdangan subsektor tanaman
pangan, hortikultura dan peternakan; (3) status dan luas kepemilikan lahan; (4) pendidikan
dan usia petani; (5) kemiskinan perdesaan; (6) dampak disrupsi revolusi industri 4.0; (7)
dampak perubahan iklim (DPI); (8) keterbatasan akses pembiayaan bagi petani; dan (9)
dampak pandemi Covid-19.
Dalam rangka menghadapi tantangan pembangunan pertanian, Kementerian Pertanian telah
menetapkan target kinerja yang ingin dicapai sebagai ukuran dalam upaya pembagunan
pertanian pada tahun 2021, yaitu: (1) meningkatnya ketersediaan, akses dan konsumsi
pangan berkualitas, (2) meningkatnya nilai tambah dan daya saing komoditas pertanian, (3)
meningkatnya pemanfaatan eknologi dan inovasi pertanian, (4) meningkatnya kualitas
sumber daya manusia dan kelembagaan pertanian nasional, dan (5) terwujudnya birokrasi

12

2 Kementerian Pertanian 2022


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

Kementerian Pertanian yang efektif dan efisien serta anggaran yang akuntabel.
Sebagai langkah implementasinya, Kementerian Pertanian telah menetapkan tiga belas
kegiatan utama yang akan dilaksanakan pada periode 2020-2024, meliputi: (1) peningkatan
produktivitas dan produksi (indeks pertanaman/IP dan ekstensifikasi) (2) pengembangan
pangan lokal, (3) pengembangan lumbung pangan, (4) Pengembangan pertanian presisi dan
Smart Farming, (5) Percepatan Gerakan Tiga Kali Ekspor (2020-2024), (6) Peningkatan
hilirisasi/industri produk pertanian, (7) Pengembangan pertanian modern, (8) penciptaan dan
pengambangan varietas unggul, (9) penciptaan dan pengembangan inovasi teknologi
breeding, pasca panen, pengolahan dan inovasi pasar, (10) peningkatan pendidikan dan
pelatihan vokasi pertanian, (11) penguatan kapasitas kelembagaan petani, (12)
pengembangan AWR (Digitalisasi, IoT, AI, Robot Construction), dan (13) pelaksanaan
reformasi birokrasi. Kegiatan ini dilaksanakan dengan pendekatan pengembangan wilayah dan
kawasan komoditas strategis, penumbuhan dan pengembangan kelembagaan menuju
terbentuknya korporasi petani, dan sinergi antar stakeholder di pusat maupun di daerah.
Melalui berbagai upaya pelaksanaan kegiatan yang telah dilakukan seperti tersebut di atas,
terbukti telah memberikan dampak yang sangat positif, antara lain: (1) produksi padi tahun
2021 mencapai 55,27 juta ton meningkat 1,14% dari tahun 2020; (2) produksi cabai tahun
2021 mencapai 2,83 juta ton meningkat 1,82% dari tahun 2020, (3) produksi bawang merah
tahun 2021 mencapai 1,94 juta ton meningkat 7,02% dari tahun 2020, dan (4) produksi aneka
daging tahun 2021 mencapai 4,4 juta ton meningkat 5,59%. Capaian produksi Tahun 2021
dapat dilihat pada Gambar 1.

7.000 8,00

6.000 7,00

6,00
5.000
5,00
4.000
4,00
3.000
3,00
2.000
2,00
1.000 1,00

- 0,00
Produksi Padi Produksi Produksi Produksi Produksi Produksi Susu Produksi Telur
(Puluh ribu Jagung (puluh Cabai (ribu Bawang Aneka Daging (Ton) (Ton)
Ton) ribu Ton) Ton) Merah (ribu (Ribu Ton)
ton)

2020 2021*) % Pertumbuhan

Gambar 1. Peningkatan Produksi Komoditas Pertanian Strategis Tahun 2020-2021

Dilihat dari indikator makro pertanian, produk domestik bruto (PDB) pertanian sepanjang
tahun 2021 tumbuh sebesar 1,84% lebih tinggi dibanding tahun 2020 yang mencapai 1,77%
seperti yang disajikan pada Gambar 2. Pertumbuhan sektor pertanian secara konsisten
berkontribusi positif pada pertumbuhan ekonomi nasional, yang pada Tahun 2021
pertumbuhannya didorong oleh produksi komoditas padi dan hortikultura seperti pisang
(2,89%), jeruk (21,59%) dan nanas (18,63%). Hal ini menunjukkan sektor pertanian masih
tetap tumbuh positif di tengah melemahnya perekonomian nasional akibat pandemi COVID-
19.

13

Kementerian Pertanian 2022 3


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

Gambar 2. Kontribusi Lapangan Usaha terhadap Pertumbuhan Ekonomi Nasional Tahun 2020-
2021.

Sumber: BPS, 2022

Nilai ekspor pertanian tahun 2021 mengalami pertumbuhan rata-rata sebesar 12,78%
dibanding tahun 2020, begitu pula dengan hasil penelitian dan pengembangan yang
dimanfaatkan mencapai 115,61% atau meningkat 39,54% dibandingkan dengan tahun 2020.
Nilai Tukar Petani (NTP) nasional, sepanjang tahun 2021 juga menunjukkan peningkatan
dengan nilai rata-rata sebesar 104,63 atau meningkat 2,94% dibandingkan dengan nilai tahun
2020 yang mencapai 101,65. Capaian indikator makro sektor pertanian secara terperinci dapat
dilihat pada Lampiran 1.
Selain capaian produksi dan indikator makro yang cukup menggembirakan, pada tahun 2021
Kementerian Pertanian juga menorehkan berbagai prestasi, hal ini terlihat dari beberapa
penghargaan yang diperoleh, di antaranya: (1) Anugerah Top Digital Implementation 2021,
(2) Anugerah Keterbukaan Infomasi Publik Tahun 2021, (3) Peringkat II Tingkat
Kementerian/Lembaga Atas Konsistensi dan Rutinitas Dalam Penyerahan Arsip Statis ke ANRI
( Arsip Nasional Republik Indonesia), (4) Opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) 5 tahun
berturut-turut atas Laporan Keuangan Kementerian Pertanian, (5) Top Government Public
Relation Award 2021, (6) Anugerah Media Humas (AMH) 2021 memperoleh peringkat ke 3
pada kategori Komunikasi Publik Kementerian/Lembaga, BUMN, BUMD dan Perguruan Tinggi
Negeri, dan (7) Puplic Relation Indonesia Award (PRIA) 2021, Silver Award untuk Sub Kategori
Media Sosial.
Meskipun kinerja sektor pertanian sudah memperlihatkan hasil yang menggembirakan di
tahun 2021, namun diakui masih memerlukan upaya keras untuk mengatasi permasalahan
yang terjadi sepanjang Tahun 2021 sehingga dapat meningkatkan capaian kinerja
Kementerian Pertanian yang lebih baik dan dapat mencapai target pembangunan pertanian
14

4 Kementerian Pertanian 2022


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

pada akhirnya. Untuk itu, Kementerian Pertanian tidak dapat bekerja sendiri, melainkan
memerlukan kerjasama dari berbagai pihak. Kinerja sektor pertanian tidak sepenuhnya
tergantung pada Kementerian Pertanian semata, tetapi ada pihak lain yang memiliki peran
dan berkontribusi baik secara langsung maupun tidak langsung yang harus dioptimalkan
melaui koordinasi antar K/L, seperti: Kementerian Koordinasi Bidang Perekonomian,
Kementerian Koordinasi Bidang Maritim dan Investasi, Kementerian PPN/Bappenas,
Kementerian Keuangan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Kemen LHK),
Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (Kemen ATR/BPN),
Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kemen PUPR), Kementerian
Perdagangan, Kementerian Koperasi dan UKM, Kementerian Perindustrian, TNI-AD, Kepolisian
Republik Indonesia, BULOG, Pemerintah Daerah (Provinsi/Kabupaten/Kota), dunia usaha,
perbankan, lembaga pembiayaan bukan bank, serta peran aktif petani, pekebun, dan peternak
di seluruh tanah air sebagai pelaku utama pembangunan pertanian. Kerjasama dan sinergitas
seluruh pihak pelaku pembangunan pertanian sangat diharapkan bagi keberlangsungan dan
keberhasilan pembangunan pertanian di Indonesia.
Pelaksanaan pembangunan pertanian untuk pencapaian target sasaran utama membutuhkan
dukungan kerangka pendanaan yang memadai, pengelolaan dana yang profesional, alokasi
dan distribusi pendanaan secara tepat sasaran, serta penggunaan dana yang efektif dan
efisien. Pendanaan pembangunan pertanian berasal dari APBN baik yang bersumber dari
rupiah murni (Pemerintah Pusat/APBN, Dekonsentrasi, Tugas Perbantuan) dan dari sumber
lain yaitu: (a) subsidi (subsidi pupuk); (b) Dana Alokasi Khusus (DAK) baik DAK Fisik maupun
DAK Nonfisik ; (c) Pinjaman dan/atau Hibah Luar Negeri (PHLN); (d) Surat Berharga Syariah
Negara (SBSN); (e) pemerintah daerah melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah
(APBD) Provinsi dan APBD Kabupaten/Kota; (f) swasta, Badan Usaha Milik Negara (BUMN),
dan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD); (g) investasi dalam negeri (PMDN) dan investasi asing
(PMA); (h) lembaga keuangan dan perbankan (skim kredit dan kredit komersial); dan (i)
swadaya masyarakat. Pembangunan pertanian membutuhkan pembiayaan yang cukup besar
dan tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah pusat. Oleh sebab itu, kebijakan Kementerian
Pertanian memaksimalkan pemanfaatan sumber-sumber pembiayaan lain seperti kredit usaha
rakyat (KUR) untuk membangun pertanian. Pada Tahun 2021, Dukungan anggaran APBN
Kementerian Pertanian sebesar Rp16.[Link],- dengan realisasi mencapai 97,28%.

B. Kedudukan, Tugas, dan Fungsi


Berdasarkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 45 Tahun 2015 tentang Kementerian
Pertanian, ditetapkan bahwa Kementerian Pertanian terdiri atas 5 (lima) Direktorat Jenderal,
4 (empat) Badan, Inspektorat Jenderal, Sekretariat Jenderal, dan 5 (lima) Staf Ahli Menteri.
Berdasarkan Peraturan Presiden yang berlaku sebelumnya, Kementerian Pertanian terdiri atas
Wakil Menteri Pertanian, 6 (enam) Direktorat Jenderal, 4 (empat) Badan, Inspektorat
Jenderal, Sekretariat Jenderal, dan 4 (empat) Staf Ahli Menteri.
Perpres Nomor 45 Tahun 2015 yang ditindaklanjuti dengan Peraturan Menteri Pertanian
Nomor 43 Tahun 2015 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Pertanian yang
selanjutnya direvisi menjadi Peraturan Menteri Pertanian Nomor 40 Tahun 2020 tentang
Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Pertanian, telah menetapkan Tugas dan Fungsi unit-
unit kerja di lingkup Kementerian Pertanian. Kementerian Pertanian dipimpin oleh seorang
15

Kementerian Pertanian 2022 5


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

Menteri yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Presiden (Gambar struktur
organisasi Kementerian Pertanian dapat dilihat pada Lampiran 2. Kementerian Pertanian
mempunyai tugas menyelenggarakan urusan di bidang pertanian dalam pemerintahan untuk
membantu Presiden dalam penyelenggaraan pemerintahan negara.
Dalam menyelenggarakan tugas sebagaimana tersebut di atas, Kementerian Pertanian
menyelenggarakan fungsi:
1. Perumusan dan penetapan kebijakan di bidang penyediaan prasarana dan sarana
pertanian, peningkatan produksi padi, jagung, kedelai, tebu, daging dan pertanian
lainnya, serta peningkatan nilai tambah, daya saing, mutu dan pemasaran hasil
pertanian;
2. Pelaksanaan kebijakan di bidang penyediaan prasarana dan sarana pertanian,
peningkatan produksi padi, jagung, kedelai, tebu, daging, dan pertanian lainnya, serta
peningkatan nilai tambah, daya saing, mutu, dan pemasaran hasil pertanian;
3. Pelaksanaan bimbingan teknis dan supervisi atas pelaksanaan urusan di bidang
penyediaan prasarana dan sarana pertanian, peningkatan produksi padi, jagung,
kedelai, tebu, daging, dan pertanian lainnya serta peningkatan nilai tambah, daya saing,
mutu, dan pemasaran hasil pertanian;
4. Pelaksanaan penelitian, pengembangan dan inovasi di bidang pertanian;
5. Penyelenggaraan penyuluhan dan pengembangan sumber daya manusia di bidang
pertanian;
6. Koordinasi dan pelaksanaan diversifikasi dan pemantapan ketahanan pangan;
7. Pelaksanaan perkarantinaan pertanian dan pengawasan keamanan hayati;
8. Pelaksanaan dukungan yang bersifat substantif pada seluruh unsur organisasi di
lingkungan Kementerian Pertanian;
9. Pembinaan dan pemberian dukungan administrasi di lingkungan Kementerian Pertanian;
10. Pengelolaan barang milik/kekayaan negara yang menjadi tanggung jawab Kementerian
Pertanian; dan
11. Pengawasan atas pelaksanaan tugas di lingkungan Kementerian Pertanian.
C. Susunan Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Pertanian
Sesuai dengan Peraturan Presiden Nomor 114 tahun 2021 dan Peraturan Menteri Pertanian
Nomor 40 Tahun 2020 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Pertanian menetapkan
Susunan Unit Organisasi Kementerian Pertanian yang terkait secara langsung atau berada di
bawah Menteri Pertanian, terdiri atas:
1. Wakil Menteri Pertanian;
2. Sekretariat Jenderal;
3. Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian;
4. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan;
5. Direktorat Jenderal Hortikultura;
6. Direktorat Jenderal Perkebunan;
7. Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan;
8. Inspektorat Jenderal;
9. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian;
10. Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian;

16

6 Kementerian Pertanian 2022


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

11. Badan Ketahanan Pangan;


12. Badan Karantina Pertanian;
13. Staf Ahli Bidang Pengembangan Bio Industri;
14. Staf Ahli Bidang Perdagangan dan Hubungan Internasional;
15. Staf Ahli Bidang Investasi Pertanian;
16. Staf Ahli Bidang Lingkungan Pertanian;
17. Staf Ahli Bidang Infrastruktur Pertanian;
18. Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian;
19. Pusat Perlindungan Varietas Tanaman dan Perizinan Pertanian;
20. Pusat Perpustakaan dan Penyebaran Teknologi Pertanian; dan
21. Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian.
Masing-masing unit organisasi tersebut di atas mempunyai tugas dan fungsi sebagai berikut:
1. Wakil Menteri Pertanian mempunyai tugas membantu Menteri dalam memimpin
pelaksanaan tugas Kementerian Pertanian.
2. Sekretariat Jenderal mempunyai tugas menyelenggarakan koordinasi pelaksanaan
tugas, pembinaan, dan pemberian dukungan administrasi kepada seluruh unit organisasi
di lingkungan Kementerian Pertanian.
3. Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian mempunyai tugas
menyelenggarakan perumusan dan pelaksanaan kebijakan penyediaan prasarana dan
sarana di bidang pertanian.
4. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan mempunyai tugas menyelenggarakan perumusan
dan pelaksanaan kebijakan di bidang peningkatan produksi padi, jagung, kedelai, dan
tanaman pangan lainnya.
5. Direktorat Jenderal Hortikultura mempunyai tugas perumusan dan pelaksanaan
kebijakan di bidang peningkatan produksi aneka cabai, bawang merah, aneka jeruk, dan
tanaman hortikultura lainnya.
6. Direktorat Jenderal Perkebunan mempunyai tugas menyelenggarakan perumusan dan
pelaksanaan kebijakan di bidang peningkatan produksi tebu, dan tanaman perkebunan
lainnya.
7. Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan mempunyai tugas
menyelenggarakan perumusan serta pelaksanaan kebijakan di bidang peningkatan
populasi dan produksi ternak serta kesehatan hewan.
8. Inspektorat Jenderal mempunyai tugas melaksanakan pengawasan intern di lingkungan
Kementerian Pertanian.
9. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian mempunyai tugas menyelenggarakan
penelitian, pengembangan, dan inovasi di bidang pertanian.
10. Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian mempunyai
tugas menyelenggarakan penyuluhan dan pengembangan sumber daya manusia
pertanian.
11. Badan Ketahanan Pangan mempunyai tugas menyelenggarakan koordinasi, perumusan,
dan pelaksanaan kebijakan di bidang peningkatan diversifikasi dan pemantapan
ketahanan pangan.
12. Badan Karantina Pertanian mempunyai tugas menyelenggarakan perkarantinaan
pertanian dan pengawasan keamanan hayati.
13. Staf Ahli mempunyai tugas memberikan rekomendasi terhadap isu-isu strategis kepada
Menteri sesuai dengan bidang tugasnya.

17

Kementerian Pertanian 2022 7


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

a. Staf Ahli Bidang Pengembangan Bio Industri mempunyai tugas memberikan


rekomendasi terhadap isu-isu strategis kepada Menteri terkait dengan bidang
pengembangan bio industri;
b. Staf Ahli Bidang Perdagangan dan Hubungan Internasional mempunyai tugas
memberikan rekomendasi terhadap isu-isu strategis kepada Menteri sesuai dengan
bidang perdagangan dan hubungan internasional;
c. Staf Ahli Bidang Investasi Pertanian mempunyai tugas memberikan rekomendasi
terhadap isu-isu strategis kepada Menteri terkait dengan bidang investasi pertanian;
d. Staf Ahli Bidang Lingkungan Pertanian mempunyai tugas memberikan rekomendasi
terhadap isu-isu strategis kepada Menteri terkait dengan bidang lingkungan
pertanian; dan
e. Staf Ahli Bidang Infrastruktur Pertanian mempunyai tugas memberikan
rekomendasi terhadap isu-isu strategis kepada Menteri terkait dengan bidang
infrastruktur pertanian.
14. Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian mempunyai tugas melaksanakan
pembinaan, pengolahan, analisis, dan pengembangan sistem informasi pertanian, serta
pelayanan dan publikasi data dan informasi pertanian.
15. Pusat Perlindungan Varietas Tanaman dan Perizinan Pertanian mempunyai tugas
melaksanakan pengelolaan perlindungan dan pendaftaran varietas tanaman serta
pelayanan perizinan dan rekomendasi teknis pertanian.
16. Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian mempunyai tugas melaksanakan analisis
dan pengkajian sosial ekonomi dan kebijakan pertanian.
17. Pusat Perpustakaan dan Penyebaran Teknologi Pertanian mempunyai tugas
melaksanakan pengelolaan perpustakaan dan penyebaran informasi ilmu pengetahuan
dan teknologi pertanian.

D. Sumber Daya Manusia Kementerian Pertanian


Kementerian Pertanian dalam menjalankan tugas dan fungsi organisasi didukung oleh 16.476
orang pegawai yang tersebar di 11 Unit Kerja Eselon I termasuk 159 Unit Pelaksana Teknis
(UPT). Klasifikasi pegawai Kementerian Pertanian dikelompokkan berdasarkan Golongan,
dengan rincian sebagai berikut: Golongan I sebanyak 196 orang, golongan II sebanyak 3.332
orang, golongan III sebanyak 10.317 orang, dan golongan IV sebanyak 2.631 orang. Jika
dilihat dari jenjang pendidikan dirinci sebagai berikut: S3 sebanyak 778 orang, S2 sebanyak
4.337 orang, S1/D4 sebanyak 5.201 orang, Sarjana Muda/D3/D2/D1 sebanyak 1.589 orang,
SLTA sebanyak 4.122 orang, serta SLTP/SD sebanyak 449 orang. Jumlah pegawai
Kementerian Pertanian tahun 2021 jika dibandingkan dengan tahun 2020 (16.996 orang)
mengalami pengurangan sebanyak 520 orang atau 3,05%. Pengurangan jumlah pegawai
disebabkan karena adanya pegawai yang mutasi, pensiun dan meninggal dunia.
Selain didukung oleh pegawai berstatus PNS, keberhasilan program pembangunan pertanian
juga mendapat dukungan dari pegawai ASN dan non PNS di lapangan, yaitu ASN Pegawai
Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) sebanyak 10.916 orang, Tenaga Harian Lepas
Tenaga Bantu Penyuluh Pertanian (THL TB-PP) sebanyak 2.486 orang, penyuluh swadaya
sebanyak 30.325 orang, dan penyuluh swasta sebanyak 146 orang. Jumlah pegawai
Kementerian Pertanian tahun 2021 secara rinci dapat dilihat pada Lampiran 3.
18

8 Kementerian Pertanian 2022


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

BAB II
PERENCANAAN KINERJA
KEMENTERIAN PERTANIAN

A. Rencana Strategis Kementerian Pertanian 2021-2024


Tahun 2021 tahun kedua pelaksanaan Rencana Strategis (Renstra) Kementerian Pertanian
periode 2020-2024. Renstra Kementerian Pertanian ditetapkan melalui Peraturan Menteri
Pertanian Republik Indonesia Nomor 259/Kpts/RC.020/M/5/2021, kemudian mengalami revisi
pertama sesuai Peraturan Menteri Pertanian Nomor 760.1/Kpts/RC.020/M/11/2021 dan
mengalami revisi kedua sesuai Peraturan Menteri Pertanian Nomor
484/Kpts/RC.020/M/8/2021. Revisi Renstra dilakukan karena adanya perubahan kebijakan
dan strategi pimpinan organisasi, yang berdampak pada perubahan target fisik kegiatan dan
anggaran sebagai tindak lanjut adanya refocusing/pemotongan.
Revisi Renstra Kementerian Pertanian 2020-2024 dilakukan sebagai bentuk respon dari
dinamika lingkungan strategis nasional dan dunia yang berpengaruh secara langsung
terhadap pembangunan pertanian. Secara spesifik pertimbangan revisi tersebut adalah: (1)
terjadinya pandemi Covid-19 yang melanda dunia, menyebabkan perubahan fokus
pelaksanaan kegiatan, perubahan struktur penganggaran dan kebijakan penting lainnya, (2)
terdapat beda waktu terbitnya Renstra Kementerian Pertanian tahun 2021-2024 (Permentan
Nomor 259/Kpts/RC.020/M/5/2021 tertanggal 4 Mei 2021 dan Permentan Nomor
760.1/Kpts/RC.020/M/11/2021 tertanggal 27 November 2020) dengan keluarnya Surat
Edaran Bersama Menteri PPN/Bappenas dan Menteri Keuangan Nomor: S-122/MK.2/2021 dan
B.517/[Link]/D.8/PP.04.03/05/2021 tertanggal 24 Juni 2021 tentang Pedoman Redesain
Sistem Perencanaan dan Penganggaran Kementerian/Lembaga, hal ini menyebabkan perlunya
penyesuaian program maupun target, dan (3) merespon dinamika perubahan kebijakan
Kementerian Pertanian, yaitu adanya penambahan kegiatan sesuai dengan direktif Presiden.
Memperhatikan arah Kebijakan Nasional dalam RPJMN 2021-2024 serta mempertimbangkan
arahan Presiden, maka kebijakan pertanian dalam periode ini diarahkan untuk mendukung
ketahanan pangan, pertumbuhan ekonomi termasuk memperhatikan kesejahteraan keluarga
petani dan keberlanjutan sumber daya pertanian. Dalam rangka mencapai tujuan dan sasaran
pembangunan maka Kementerian Pertanian menetapkan 5 (lima) arah kebijakan sebagai
berikut:
1. Terjaganya ketahanan pangan nasional,
2. Menjaga keberlanjutan sumberdaya pertanian serta tersedianya prasarana dan sarana
pertanian,
3. Meningkatnya nilai tambah dan daya saing pertanian,
4. Meningkatnya pemanfaatan teknologi dan inovasi pertanian,
5. Meningkatnya kualitas sumberdaya manusia pertanian (SDM) dan kelembagaan pertanian
nasional,
6. Terwujudnya reformasi birokrasi dan tata kelola pemerintah yang berorientasi pada
layanan prima.
Arah kebijakan tersebut diterjemahkan dalam bentuk strategi dan program sesuai dengan
19

Kementerian Pertanian 2022 9


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

tugas dan kewenangan kementerian pertanian. Kementerian Pertanian telah merumuskan


pendekatan strategi dalam melaksanakan program/kegiatan untuk menjamin ketersediaan
pangan dan meningkatkan nilai tambah dan daya saing dalam kondisi pandemi, yang meliputi:
(1) Peningkatan kapasitas produksi, (2) Diversifikasi pangan lokal, (3) Penguatan cadangan
dan sistem logistik pangan, (4) Pengembangan pertanian modern, dan (5) Gerakan tiga kali
ekspor (Gratieks).
Renstra Kementerian Pertanian 2020-2024 merupakan dokumen perencanaan yang berisi
arah, tujuan, sasaran strategis, kebijakan, program dan kegiatan pembangunan pertanian
yang dijadikan panduan pelaksanaan pembangunan pertanian selama lima tahun (2020-
2024). Renstra Kementerian Pertanian digunakan sebagai acuan dan arahan bagi unit kerja
lingkup Kementerian Pertanian dalam merencanakan dan melaksanakan pembangunan
pertanian periode 2020-2024 secara menyeluruh, terintegrasi, dan sinergis baik di dalam
maupun antar sektor/sub sektor terkait. Arah dan tujuan pembangunan pertanian yang
dituangkan dalam Renstra Kementan 2020-2024 adalah sebagai berikut:
Arah Pembangunan Pertanian yaitu “Pertanian Yang Maju, Mandiri Dan Modern Untuk
Terwujudnya Indonesia Maju Yang Berdaulat, Mandiri dan Berkepribadian
Berdasarkan Gotong Royong”.
Adapun Tujuan Pembangunan Pertanian adalah:
1. Meningkatnya Pemantapan Ketahanan Pangan;
2. Meningkatnya Nilai Tambah dan Daya Saing Pertanian;
3. Meningkatnya Pemenfaatan Teknologi dan Inovasi Pertanian;
4. Meningkatnya Kapasitas dan Kompetensi Sumber Daya Manusia Pertanian;
5. Terwujudnya Reformasi Birokrasi Kementerian Pertanian.
Sasaran strategis pembangunan pertanian disusun berdasarkan target seperti tertuang pada
RPJMN 2020-2024, selain itu juga memperhatikan hasil evaluasi pembangunan pertanian
sebelumnya, isu strategis saat ini dan prakiraan ke depan, dan mengakomodasikan aspirasi
masyarakat. Kementerian Pertanian telah menentukan sasaran strategis dengan
menggunakan metode Balanced Scorecard (BSC) dan pendekatan empat perspektif yaitu
stakeholders, customer, internal process dan learning and growth perspective.
Untuk mengukur pencapaian pelaksanaan strategi atas arah dan tujuan pembangunan
pertanian di Indonesia, Kementerian Pertanian menetapkan 5 (lima) Sasaran Strategis
sebagaimana diilustrasikan pada Gambar 3.

20

10 Kementerian Pertanian 2022


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

Stakeholder
Perspective

MENINGKATNYA KESEJAHTERAAN EKONOMI PETANI


Perspective
Customer

SS1: MENINGKATNYA KETERSEDIAAN, AKSES DAN SS2: MENINGKATNYA NILAI TAMBAH DAN
KONSUMSI PANGAN BERKUALITAS DAYA SAING KOMODITAS PERTANAIN
Perspective

SS4: MENINGKATNYA KUALITAS SUMBER


Process
Internal

SS3: MENINGKATNYA PEMANFAATAN


TEKNOLOGI DAN INOVASI PERTANIAN DAYA MANUSIA DAN KELEMBAGAAN
PERTANIAN NSIONAL
Perspective
and Growth
Learning

SS5: TERWUJUDNYA BIROKRASI KEMENTERIAN


PERTANIAN YANG EFEKTIF DAN EFISIEN, SERTA
ANGGARAN YANG AKUNTABEL

Gambar 3. Peta Strategi Pembangunan Pertanian 2020-2024


Sumber: Renstra Kementerian Pertanian 2020-2024 (Revisi II)

Sasaran strategis merupakan kondisi yang diinginkan dan dapat dicapai oleh Kementerian
Pertanian. Penyusunan dan penentuan sasaran strategis ini menggunakan metode Balance
Scorecard (BSC) dengan pendekatan empat perspektif, yaitu: stakeholders, customer, internal
process dan learning and growth. Sasaran Strategis beserta Indikator Kinerja yang ingin
dicapai dalam periode 2021-2024 sesuai dengan Renstra Kementerian Pertanian 2020-2024
Revisi II disajikan pada Tabel 1.

Tabel 1. Indikator Kinerja dan Target 2021-2024

TARGET
SASARAN INDIKATOR KINERJA SATUAN
2021 2022 2023 2024
1 Meningkatnya 1 Peningkatan Ketersediaan Pangan % 1,81 3,64 4,44 5,34
Ketersediaan, Akses dan Strategis dalam Negeri
Konsumsi Pangan 2 Peningkatan Akses Pangan % 3,61 5,17 5,34 5,97
Berkualitas
3 Peningkatan Konsumsi Pangan % 2,27 2,27 2,27 2,27
Berkualitas
4 Persentase Pangan Segar yang % 85,10 85,25 85,35 85,5
Memenuhi Syarat Keamanan Pangan
5 Persentase Serangan Organisme % 70,10 70,2 70,3 70,4
Pengganggu Tumbuhan dan Dampak
Perubahan Iklim yang Ditangani
6 Persentase Wilayah yang Terkendali dari % 80,50 80,5 81 81
Penyakit Hewan Menular Strategis
7 Persentase Tindak Lanjut terhadap % 100 100 100 100
Temuan OPTK, HPHK dan Keamanan
Hayati yang Tidak Memenuhi
Persyaratan Karantina di Tempat
Pemasukan/Pengeluaran yang
Ditetapkan
8 Persentase Kasus Pelanggaran % 42 43 44 45
Perkarantinaan yang Diselesaikan
9 Tingkat Pemenuhan Prasarana Pertanian % 56,16 56,77 57,41 58,07

21

Kementerian Pertanian 2022 11


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

TARGET
SASARAN INDIKATOR KINERJA SATUAN
2021 2022 2023 2024
10 Tingkat Kemanfaatan Sarana Produksi % 86,69 88,14 89,39 90,56
Pertanian
2 Meningkatnya Nilai 11 Tingkat Kemanfaatan Sarana % 84,40 85,33 86 86,9
Tambah dan Daya Saing Pascapanen dan Pengolahan Hasil
Komoditas Pertanian Pertanian
12 Pertumbuhan Nilai Ekspor untuk Produk % 7,71 9,21 10,75 12,28
Pertanian Nasional
3 Meningkatnya 13 Persentase Hasil Penelitian dan % 70 70 75 75
Pemanfaatan Teknologi Pengembangan Yang Dimanfaatkan
dan Inovasi Pertanian
14 Persentase Petani yang Menerapkan % 75 80 85 90
Teknologi
4 Meningkatnya Kualitas 15 Persentase SDM Pertanian yang % 75 80 85 90
Sumber Daya Manusia dan Meningkat Kapasitasnya
Kelembagaan Pertanian
16 Persentase kelembagaan petani yang % 19 20 21 22
Nasional
meningkat kapasitasnya
5 Terwujudnya Birokrasi 17 Nilai Reformasi Birokrasi Kementerian Nilai 80,71 81,46 82,21 82,96
Kementerian Pertanian Pertanian
yang Efektif dan Efisien, 18 Nilai Kinerja Anggaran Kementerian Nilai 91,61 91,98 92,36 92,73
serta Anggaran yang Pertanian
Akuntabel

Sumber: Renstra Kementerian Pertanian Tahun 2020-2024 (Revisi II)

Indikator kinerja pada Tabel 1 merupakan indikator yang tertera pada Renstra Kementerian
Pertanian Tahun 2020-2024 (Revisi II), dengan target sebanyak 18 indikator yang selanjutnya
menjadi dasar penyusunan Perjanjian Kinerja (PK) Menteri Pertanian.

B. Perjanjian Kinerja (PK) Tahun 2021


Komitmen Kementerian Pertanian untuk mengeksekusi strategi pembangunan pertanian pada
tahun kedua pelaksanaan Renstra 2020-2024, diwujudkan melalui penetapan Perjanjian
Kinerja. Hal ini dilakukan dalam rangka menindaklanjuti Peraturan Presiden Republik
Indonesia Nomor 29 Tahun 2014 tentang Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah
(SAKIP) dan Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi
Nomor 53 Tahun 2014 tentang Petunjuk Teknis Perjanjian Kinerja, Pelaporan Kinerja, dan
Tata Cara Reviu atas Laporan Kinerja Instansi Pemerintah.
Berdasarkan Peraturan Menteri PAN dan RB Nomor 53 Tahun 2014, Perjanjian Kinerja (PK)
adalah lembar/dokumen yang berisikan penugasan dari pimpinan instansi yang lebih tinggi
kepada pimpinan instansi yang lebih rendah untuk melaksanakan program/kegiatan yang
disertai dengan indikator kinerja. Melalui Perjanjian Kinerja diharapkan terwujud adanya
komitmen antara penerima amanah dan kesepakatan antara penerima dan pemberi amanah
atas kinerja tertentu yang terukur berdasarkan tugas, fungsi, dan wewenang serta sumber
daya yang tersedia. Kinerja yang disepakati tidak dibatasi pada kinerja yang dihasilkan atas
kegiatan tahun bersangkutan, tetapi termasuk kinerja (outcome) yang seharusnya terwujud
akibat kegiatan tahun-tahun sebelumnya. Dengan demikian target kinerja yang diperjanjikan
juga mencakup outcome yang dihasilkan dari kegiatan tahun-tahun sebelumnya, sehingga
terwujud kesinambungan kinerja setiap tahunnya.
Sesuai dengan Perpres No 29/2014 dan Permen PAN dan RB No 53/2014 tersebut, Perjanjian
Kinerja Kementerian Pertanian Tahun 2021 berisikan indikator kinerja utama beserta
targetnya, dimana indikator kinerja tersebut memenuhi kriteria-kriteria yang ditetapkan, yaitu
spesifik (specific), dapat diukur (measurable), dapat dicapai (attainable), berjangka waktu
22

12 Kementerian Pertanian 2022


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

tertentu (time bound), serta dapat dipantau dan dikumpulkan.


Kementerian Pertanian telah menetapkan standar kinerja, yang dituangkan dalam bentuk
Perjanjian Kinerja (PK) Menteri Pertanian yang memuat tentang Sasaran Strategis (SS),
Indikator Kinerja (IK), serta Target Kinerja yang ingin dicapai oleh Kementerian Pertanian
pada Tahun 2021. Perjanjian Kinerja tahun 2021 yang ditunjukkan pada Tabel 2, telah
ditetapkan pada bulan Desember Tahun 2020, satu bulan setelah dokumen Daftar Isian
Pelaksanaan Anggaran (DIPA) Kementerian TA 2021 disahkan. Perjanjian Kinerja Kementerian
Pertanian tahun 2021 dilaksanakan oleh 11 (sebelas) Eselon I di lingkup Kementerian
Pertanian melalui 5 (lima) Program Pembangunan Pertanian, yaitu:
1. Program Dukungan Manajemen
2. Pogram Ketersediaan Akses dan Konsumsi Pangan Berkualitas
3. Prpgram Nilai Tambah dan Daya Saing Industri
4. Program Pendidikan dan Pelatihan Vokasi
5. Program Riset dan Inovasi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Masing-masing program di Kementerian Pertanian sebagaimana tersebut di atas, berdasarkan
amanat reformasi perencanaan dan penganggaran, menjadi tanggung jawab unit Eselon I
sesuai dengan kewenangan serta tugas dan fungsinya masing-masing. Ukuran kinerja Eselon
I dalam menjalankan program adalah indikator hasil (outcome) dan atau keluaran (output)
yang setingkat lebih tinggi dari keluaran (output) dari unit kerja di bawahnya/Eselon II atau
unit kerja mandiri. Kinerja Eselon-I bergantung pada hasil dari pelaksanaan kegiatan oleh unit
kerja di bawahnya. Dengan demikian, ukuran kinerja Eselon II atau unit kerja mandiri
diperbolehkan dalam bentuk indikator keluaran (output).
Tabel 2. Perjanjian Kinerja Kementerian Pertanian Tahun 2021
No SASARAN Kode INDIKATOR KINERJA TARGET
1 Meningkatnya Ketersediaan, Akses 1 Peningkatan Ketersediaan Pangan Strategis 1,81%
dan Konsumsi Pangan Berkualitas dalam Negeri
2 Peningkatan Akses Pangan 3,61%
3 Peningkatan Konsumsi Pangan Berkualitas 2,27%
4 Persentase Pangan Segar yang Memenuhi 85,10%
Syarat Keamanan Pangan
5 Persentase Serangan Organisme Pengganggu 70,10%
Tumbuhan dan Dampak Perubahan Iklim yang
Ditangani
6 Persentase Wilayah yang Terkendali dari 80,50%
Penyakit Hewan Menular Strategis
7 Persentase Tindak Lanjut terhadap Temuan 100%
OPTK, HPHK dan Keamanan Hayati yang Tidak
Memenuhi Persyaratan Karantina di Tempat
Pemasukan/Pengeluaran yang Ditetapkan
8 Persentase Kasus Pelanggaran Perkarantinaan 42%
yang Diselesaikan
9 Tingkat Pemenuhan Prasarana Pertanian 56,16%
10 Tingkat Kemanfaatan Sarana Produksi Pertanian 86,69%
2 Meningkatnya Nilai Tambah dan Daya 11 Tingkat Kemanfaatan Sarana Pascapanen dan 84,40%
Saing Komoditas Pertanian Pengolahan Hasil Pertanian
12 Pertumbuhan Nilai Ekspor untuk Produk 7,71%
Pertanian Nasional
3 Meningkatnya Pemanfaatan Teknologi 13 Persentase Hasil Penelitian dan Pengembangan 70%
dan Inovasi Pertanian Yang Dimanfaatkan
14 Persentase Petani yang Menerapkan Teknologi 75%

23

Kementerian Pertanian 2022 13


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

No SASARAN Kode INDIKATOR KINERJA TARGET


4 Meningkatnya Kualitas Sumber Daya 15 Persentase SDM Pertanian yang Meningkat 75%
Manusia dan Kelembagaan Pertanian Kapasitasnya
Nasional 16 Persentase Kelembagaan Petani yang Meningkat 19%
Kapasitasnya

5 Terwujudnya Birokrasi Kementerian 17 Nilai Reformasi Birokrasi Kementerian Pertanian 80,71 Nilai
Pertanian yang Efektif dan Efisien,
serta Anggaran yang Akuntabel
18 Nilai Kinerja Anggaran Kementerian Pertanian 91,61 Nilai

Sumber: Kementerian Pertanian, 2021

Pada tahun 2021 Kementerian Pertanian melakukan 7 (tujuh) kali revisi Perjanjian Kinerja
(PK) yaitu pada bulan Februari, Maret, Mei, Juli, bulan Agustus sebanyak dua kali dan Oktober
2021, yang dapat dilihat secara rinci pada Lampiran 4. Revisi Perjanjian Kinerja diakibatkan
oleh adanya penyesuaian anggaran, penyesuaian program dalam rangka menindaklanjuti
kebijakan Redesain Sistem Perencanaan dan Penganggaran yang menyebabkan perubahan
sasaran dan perubahan indikator kinerja. Hal ini berdampak pada perubahan kebijakan dan
anggaran, yang mengakibatkan pagu Kementerian Pertanian, Unit Kerja Eselon I, dan Unit
Kerja Eselon II lingkup Kementerian Pertanian juga mengalami penyesuaian.

C. Refocusing Program dan Kegiatan Merespons Pandemi Covid-19


Pada tahun 2021 bencana non alam akibat Pandemi Covid-19 masih melanda di seluruh
penjuru dunia termasuk Indonesia. Pemerintah Indonesia telah mengeluarkan beberapa
kebijakan untuk menangani pandemi dan dampaknya bagi perekonomian nasional, yaitu: (a)
menetapkan kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Mikro dan
Darurat; (b) penguatan testing, tracing dan treatment; (c) percepatan vaksinasi Covid-19
sesuai Perpres No. 99 Tahun 2020; (d) menyediakan paket stimulus pemulihan ekonomi; dan
(e) menetapkan kebijakan padat karya di kementerian dan Pemulihan Ekonomi Nasional.
Menyikapi kebijakan Pemerintah Indonesia, maka Kementerian Pertanian melakukan
penyesuaian program dan kegiatan untuk mendukung kebijakan yang telah ditetapkan.
Penyesuaian (refocusing) program dan kegiatan yang dilakukan oleh Kementerian Pertanian
dilakukan atas dasar Surat Menteri Keuangan untuk melakukan penghematan anggaran,
yaitu:
1. S-30/MK.02/2021 tanggal 12 Januari 2021 tentang Refocusing dan Realokasi Belanja
Kementerian/Lembaga TA 2021 dalam rangka mengamankan pelaksanaan pengadaan
vaksin dan program vaksinasi nasional, penanganan pendemi COVID-19, dukungan
anggaran perlindungan sosial kepada masyarakat serta percepatan pemulihan ekonomi
nasional;
2. S-408/MK.02/2021 tanggal 18 Maret 2021 tentang Pengehematan belanja
Kementerian/Lembaga TA 2021 dalam rangka mengamankan pelaksanaan pengadaan
vaksin dan program vaksinasi nasional, penanganan pendemi COVID-19, dukungan
anggaran perlindungan sosial kepada masyarakat sertan pelaksanaan percepatan
Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN);

24

14 Kementerian Pertanian 2022


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

3. S-584/MK.02/2021 tanggal 6 Juli 2021 tentang Refocusing dan Realokasi belanja


Kementerian/Lembaga TA 2021 dalam rangka pendanaan penanganan COVID-19 dan
dampak yang ditimbulkan serta dukungan anggaran perlindungan sosial kepada
masyarakat akibat Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat.
4. S-629/MK.02/2021 tanggal 20 Juli 2021 tentang Refocusing dan Realokasi belanja
Kementerian/Lembaga TA 2021 Tahap IV dalam rangka penanganan kesehatan dan
perlindungan sosial kepada masyarakat sebagai dampak pelaksanaan PPKM darurat.
Mengingat kebutuhan pangan merupakan salah satu hal yang penting yang harus dipenuhi
agar masyarakat hidup sehat dan beraktivitas pada masa pandemi Covid-19 dan percepatan
pemulihan ekonomi nasional, Kementerian Pertanian mendapatkan Anggaran Belanja
Tambahan (ABT) senilai Rp4,192 triliun sesuai S-39/MK.2/2021 tanggal 18 Maret 2021 hal
Penetapan Satuan Anggaran Bagian Anggaran 999.08 (SABA 999.08) dari BA BUN Pengelolaan
Belanja Lainnya (BA 999.08) BA Kementerian Pertanian (BA 018) untuk Tambahan Anggaran
Peningkatan Ketersediaan pangan dan Padat karya TA. 2021 yang dialokasikan untuk kegiatan
peningkatan ketersediaan pangan sebesar Rp3,42 triliun dan kegiatan padat karya sebesar
Rp771,25 miliar. Secara keseluruhan, pada Tahun 2021 Kementerian Pertanian telah
melakukan penghematan anggaran untuk dukungan pencegahan penularan Covid-19 dan
pemulihan ekonomi nasional sebesar Rp10,496 triliun dan mendapat ABT sebesar Rp4,192
triliun.
Kegiatan penanganan COVID-19 dan pemulihan ekonomi nasional 2021 terdiri dari kegiatan
pengendalian Covid-19 dan kegiatan pemulihan ekonomi nasional 2021. Kegiatan
pengendalian Covid-19 di Kementerian Pertanian dilakukan dengan: (1) pengadaan alat
perlindungan dan pencegahan Covid-19; dan (2) Penerapan dan sosialisasi protokol kesehatan
(sosialisasi, penyemprotan Gedung, penjadwalan WFH, dan rapat melalui virtual meeting).
Kegiatan Kementerian Pertanian mendukung pemulihan ekonomi nasional dilakukan dengan:
(1) program ketahanan pangan/food estate; dan (2) Padat Karya pertanian untuk pemulihan
ekonomi dan peningkatan lapangan kerja di perdesaan.
Program ketahanan pangan/food estate yang dilaksanakan oleh Kementerian Pertanian
meliputi: (1) pengembangan Kawasan komoditas; (2) penyediaan dan penyaluran benih; (3)
pengendalian OPT dan penanganan DPI; (4) penyediaan sarana pascapanen, pengolahan dan
pemasaran; (5) penyediaan pakan ternak; (6) pelayanan kesehatan penyediaan obat hewan;
(7) penyediaan benih dan bibit ternak unggul; (8) penyediaan alat dan mesin pertanian pra
panen; (9) inovasi teknologi dan diseminasi hasil; (10) koordinasi, sosialisasi, pelatihan,
bimtek, monev; (11) pekarangan pangan lestari.
Kegiatan padat karya yang dilaksanakan oleh Kementerian Pertanian meliputi kegiatan: (1)
pengendalian OPT, penanganan banjir/kekeringan, (2) penyediaan irigasi perpipaan, jaringan
ririgasi tersier, embung, sumur; (2) penyediaan prasarana dan sarana pascapanen dan
pengolahan hasil; (3) pemasaran hasil; (4) produksi benih; (5) cetak sawah; (6) diseminasi
kegiatan penelitian; dan (6) fasilitasi pupuk dan pestisida.
Kebijakan pembiayaan operasional program dan kegiatan penanganan dampak Covid-19 pada
sektor pertanian dilakukan melalui refocusing anggaran bersumber dari APBN. Realisasi
anggaran kegiatan ketahanan pangan/food estate tahun 2021 sebesar Rp3,87 triliun atau
83,03% dari total anggaran Rp4,66 triliun, sedangkan realisasi anggaran kegiatan padat karya
25

Kementerian Pertanian 2022 15


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

pertanian tahun 2021 sebesar Rp1,97 triliun atau 91,19% dari total anggaran Rp2,16 triliun.
Rincaian anggaran dan realisasi untuk kegiatan pemulihan ekonomi nasional dapat dilihat
pada Lampiran 5. Namun demikian Kementerian Pertanian juga mendorong pembiayaan dari
sumber lain seperti dari Anggaran Pendapatan dan belanja daerah (APBD), optimalisasi
pemanfaatan KUR dan pelibatan pengusaha pertanian serta sumber-sumber lainnya.

26

16 Kementerian Pertanian 2022


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

BAB III
AKUNTABILITAS KINERJA
KEMENTERIAN PERTANIAN

A. Capaian Kinerja Kementerian Pertanian Tahun 2021


Untuk mengukur capaian kinerja Kementerian Pertanian tahun 2021, digunakan metode
scoring terhadap sasaran yang telah ditetapkan, dengan mengelompokkan capaian ke
dalam 4 (empat) kategori, yaitu:
1. Sangat berhasil (capaian >100%),
2. Berhasil (capaian 80-100%),
3. Cukup berhasil (capaian 60-<80%), dan
4. Kurang berhasil (capaian <60%).
Evaluasi dan analisis pencapaian Kinerja Kementerian Pertanian tahun 2021 yang
dilaporkan pada Laporan Kinerja ini mengacu pada dokumen Perjanjian Kinerja Menteri
Pertanian Tahun 2021.
Indikator kinerja yang diukur dibedakan atas 2 (dua) jenis, yaitu lead indicator dan lag
indicator. Lead indicator adalah indikator yang pencapaiannya di bawah kendali
organisasi. Indikator ini juga dikenal dengan istilah indikator proses atau indikator
aktivitas. Lag indicator adalah indikator yang pencapaiannya di luar kendali organisasi.
Indikator ini juga dikenal dengan istilah indikator output atau indikator outcome.
Berdasarkan ketentuan pada Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor
142/PMK.02/2021 tentang perubahan atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor
94/PMK.02/2018 tentang Petunjuk Penyusunan dan Penelaahan Rencana Kerja dan
Anggaran Kementerian Negara/Lembaga dan Pengesahan Daftar Isian Pelaksanaan
Anggaran, maka jenis Indikator Kinerja Sasaran Strategis (IKSS) pimpinan
Kementerian/Lembaga adalah outcome/impact (lag indicator). Indikator Kinerja Sasaran
Program (IKSP) Eselon I harus menggunakan jenis indikator outcome/output, sedangkan
Indikator Kinerja Sasaran Kegiatan (IKSK) Eselon II harus menggunakan jenis indikator
output. Berdasarkan penjabaran tersebut, maka Perjanjian Kinerja (PK) Menteri hingga
Eselon I harus menggunakan lag indicator. Pada Perjanjian Kinerja (PK) Menteri
Pertanian Tahun 2021, seluruh indikator kinerja merupakan lag indicator.
Capaian kinerja Kementerian Pertanian tidak hanya menampilkan perbandingan antara
target dengan realisasi kinerja, tetapi juga dilakukan evaluasi dan analisis perbandingan
pencapaian kinerja tahun 2021 dengan kinerja beberapa tahun sebelumnya, terhadap
target akhir jangka menengah, dan menganalisis nilai efisiensi atas penggunaan sumber
daya. Selain itu evaluasi kinerja juga mencari akar permasalahan atas pencapaian kinerja
yang belum memenuhi harapan, sehingga diperoleh solusi rekomendasi serta rencana
perbaikan di tahun 2022. Hal ini dilakukan sebagai bentuk upaya perbaikan kinerja
Kementerian Pertanian sehingga peningkatan kinerja secara berkesinambungan

18

Kementerian Pertanian 2022 17


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

(continuous improvement) dapat terwujud.


Rencana Strategis Kementerian Pertanian Tahun 2020-2024 memiliki 5 Sasaran Strategis
dan 18 Indikator Kinerja. Keberhasilan pencapaian 18 Indikator Kinerja tersebut diukur
melalui jenis target atau polarisasi Indikator Kinerja Utama (IKU). Polarisasi 18 Indikator
Kinerja berupa polarisasi maximize target. Maximize target adalah apabila hasil yang
dicapai dibandingkan dengan target nilainya semakin besar, maka semakin baik
kinerjanya.
Berdasarkan Peraturan Menteri Pertanian Nomor 45 Tahun 2018 tentan Standar
Pengelolaan Kinerja Organisasi Lingkup Kementerian Pertanian. Capaian Indikator Kerja
Utama adalah perbandingan antara realisasi IKU dengan target yang diakui dari ssetiap
IKU dengan memperhitungkan polarisasi IKU. Polarisasi Maximize target dihitung dengan
cara membandingkan antara realisasi dengan target atau dengan rumus:
𝑅𝑅𝑅𝑅𝑅𝑅𝑅𝑅𝑅𝑅𝑅𝑅𝑅𝑅𝑅𝑅𝑅𝑅
𝐶𝐶𝐶𝐶𝐶𝐶𝐶𝐶𝐶𝐶𝐶𝐶𝐶𝐶 𝐼𝐼𝐼𝐼𝐼𝐼 = 𝑥𝑥 100%
𝑇𝑇𝑇𝑇𝑇𝑇𝑇𝑇𝑇𝑇𝑇𝑇
Ketentuan penetapan Indeks Capaian IKU adalah:
1. Angka maksimum adalah 120
2. Angka minimum adalah 0
Penetapan ini dimaksudkan untuk menghindari bias perhitungan kinerja secara agregat.
Pencapaian kinerja Kementerian Pertanian tahun 2021 selengkapnya disajikan pada
Tabel 3. Berdasarkan pengukuran kinerja pada Tabel 3, dapat dikatakan pencapaian
kinerja Kementerian Pertanian berhasil. Hal ini merupakan hasil kerja keras dan
komitmen pimpinan serta segenap jajaran Kementerian Pertanian dalam peningkatan
kinerja masing-masing. Komitmen tersebut dituangkan dalam pelaksanaan strategi,
program kerja hingga kegiatan Kementerian Pertanian tahun 2021. Dari 5 (lima) sasaran
strategis dengan 18 (delapan belas) indikator kinerja sasaran strategis, 14 indikator
kinerja masuk kategori sangat berhasil, 1 indikator kinerja masuk dalam kategori
berhasil, 2 indikator kinerja masuk dalam kategori kurang berhasil, dan 1 (satu) indikator
belum diketahui hasilnya.
Indikator kinerja yang masuk kategori sangat berhasil yaitu; (1) Peningkatan
ketersediaan pangan strategis dalam negeri; (2) Peningkatan Konsumsi Pangan
Berkualitas; (3) Persentase pangan segar yang memenuhi syarat keamanan pangan; (4)
Persentase Serangan Organisme Pengganggu Tumbuhan dan Dampak Perubahan Iklim
yang Ditangani; (5) Persentase Wilayah yang Terkendali dari Penyakit Hewan Menular
Strategis; (6) Persentase Kasus Pelanggaran Perkarantinaan yang Diselesaikan; (7)
Tingkat Kemanfaatan Sarana Produksi Pertanian; (8) Tingkat Kemanfaatan Sarana
Pascapanen dan Pengolahan Hasil Pertanian; (9) Pertumbuhan Nilai Ekspor untuk Produk
Pertanian Nasional; (10) Persentase Hasil Penelitian dan Pengembangan Yang
Dimanfaatkan; (11) Persentase Petani yang Menerapkan Teknologi; (12) Persentase
SDM Pertanian yang Meningkat Kapasitasnya; (13) Persentase kelembagaan petani yang
meningkat kapasitasnya; dan (14) Nilai Kinerja Anggaran Kementerian Pertanian.

19

18 Kementerian Pertanian 2022


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

Indikator kinerja yang masuk kategori berhasil yaitu: (1) Persentase Tindak Lanjut
terhadap Temuan OPTK, HPHK dan Keamanan Hayati yang Tidak Memenuhi Persyaratan
Karantina di Tempat Pemasukan/Pengeluaran yang Ditetapkan dan (2) Tingkat
Pemenuhan Prasarana Pertanian. Indikator kinerja yang masuk kategori kurang
berhasil yaitu Peningkatan Akses Pangan.
Indikator yang belum diperoleh hasilnya adalah nilai Reformasi Birokrasi (RB)
Kementerian Pertanian, karena sampai dengan bulan Februari 2022 belum diumumkan
hasil evaluasi Reformasi Birokrasi Kementerian Pertanian oleh Tim Evaluasi RB
Kementerian PAN dan RB.
Tabel 3. Capaian Indikator Kementerian Pertanian Tahun 2021

%
SASARAN STRATEGIS INDIKATOR KINERJA SATUAN TARGET CAPAIAN KATEGORI
CAPAIAN

1 Meningkatnya Peningkatan Ketersediaan


Sangat
Ketersediaan, Akses 1 Pangan Strategis dalam % 1,81 2,42 120,00
Berhasil
dan Konsumsi Negeri
Pangan Berkualitas Kurang
2 Peningkatan Akses Pangan % 3,61 0,68 18,84
Berhasil
Peningkatan Konsumsi Sangat
3 % 5,47
Pangan Berkualitas 2,27 120,00 Berhasil

Persentase pangan segar


Sangat
4 yang memenuhi syarat % 85,10 90,46 106,30
Berhasil
keamanan pangan

Persentase Serangan
Organisme Pengganggu
Sangat
5 Tumbuhan dan Dampak % 70,10 88,49 120,00
Berhasil
Perubahan Iklim yang
Ditangani

Persentase Wilayah yang


Sangat
6 Terkendali dari Penyakit % 80,50 80,74 100,30
Berhasil
Hewan Menular Strategis

Persentase tindak lanjut


terhadap temuan OPTK,
HPHK dan Keamanan Hayati
yang Tidak Memenuhi
7 % 100 100 100,00 Berhasil
Persyaratan Karantina di
Tempat Pemasukan/
Pengeluaran Yang
Ditetapkan
Persentase Kasus
Sangat
8 Pelanggaran Perkarantinaan % 42 56,25 120,00
Berhasil
yang Diselesaikan
Tingkat Pemenuhan
9 % 56,16 55,69 99,16 Berhasil
Prasarana Pertanian
Tingkat Kemanfaatan Sarana Sangat
10 % 86,69 92,11 106,25
Produksi Pertanian Berhasil
2 Meningkatnya Nilai Tingkat Kemanfaatan Sarana
Sangat
Tambah dan Daya 11 Pascapanen dan Pengolahan % 84,40 90,89 107,69
Berhasil
Saing Komoditas Hasil Pertanian
Pertanian Pertumbuhan Nilai Ekspor
Sangat
12 untuk Produk Pertanian % 7,71 12,78 120,00
Berhasil
Nasional
3 Meningkatnya Persentase Hasil Penelitian
Sangat
Pemanfaatan 13 dan Pengembangan yang % 70 115,61 120,00
Berhasil
Teknologi dan Dimanfaatkan
Inovasi Pertanian
Persentase Petani yang Sangat
14 % 75 75,51 100,68
Menerapkan Teknologi Berhasil

20

Kementerian Pertanian 2022 19


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

%
SASARAN STRATEGIS INDIKATOR KINERJA SATUAN TARGET CAPAIAN KATEGORI
CAPAIAN

4 Meningkatnya Persentase SDM Pertanian


Sangat
Kualitas Sumber 15 yang Meningkat % 75 79,92 106,56
Berhasil
Daya Manusia dan Kapasitasnya
Kelembagaan Persentase Kelembagaan
Sangat
Pertanian Nasional 16 Petani yang Meningkat % 19 19,83 104,37
Berhasil
Kapasitasnya
5 Terwujudnya Nilai Reformasi Birokrasi
17 Nilai 80,71 -
Birokrasi Kementerian Pertanian
Kementerian
Pertanian yang
Nilai Kinerja Anggaran Sangat
Efektif dan Efisien, 18 Nilai 91,61 93,77 102,36
Kementerian Pertanian Berhasil
serta Anggaran
yang Akuntabel

Keterangan:
*) Nilai Reformasi Birokrasi Kementerian Pertanian sampai Februari 2022 belum diumumkan
oleh KemenPAN dan RB.

21

20 Kementerian Pertanian 2022


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

SASARAN STRATEGIS 1 (SS 1)


Meningkatnya Ketersediaan, Akses,
Dan Konsumsi Pangan Berkualitas

Pangan merupakan kebutuhan dasar utama bagi manusia yang harus dipenuhi setiap
saat. Hak untuk memperoleh pangan merupakan salah satu hak asasi manusia. Dengan
pertimbangan pentingnya kebutuhan akan pangan tersebut, Pemerintah selalu berupaya
untuk meningkatkan ketahanan pangan terutama yang bersumber dari peningkatan
produksi dalam negeri. Pertimbangan tersebut menjadi semakin penting bagi Indonesia
karena jumlah penduduknya semakin besar dengan sebaran populasi yang luas dan
cakupan geografis yang tersebar. Untuk memenuhi kebutuhan pangan penduduknya,
Indonesia memerlukan ketersediaan pangan dalam jumlah mencukupi dan tersebar,
untuk memenuhi kecukupan konsumsi maupun stok nasional.
Pengertian ketahanan pangan, tidak lepas dari UU No. 18/2012 tentang Pangan.
Disebutkan dalam UU tersebut bahwa Ketahanan Pangan adalah “kondisi terpenuhinya
Pangan bagi negara sampai dengan perseorangan, yang tercermin dari tersedianya
pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, beragam, bergizi, merata,
dan terjangkau serta tidak bertentangan dengan agama, keyakinan, dan budaya
masyarakat, untuk dapat hidup sehat, aktif, dan produktif secara berkelanjutan”.
UU Pangan bukan hanya berbicara tentang ketahanan pangan, namun juga memperjelas
dan memperkuat pencapaian ketahanan pangan dengan mewujudkan kedaulatan
pangan (food soveregnity) dengan kemandirian pangan (food resilience) serta
keamanan pangan (food safety).
Kementerian Pertanian telah menetapkan beberapa indikator pencapaian Sasaran
Strategis Meningkatnya Ketersediaan Pangan Strategis Dalam Negeri, yaitu: (1)
Peningkatan ketersediaan pangan strategis dalam negeri; (2) Peningkatan Akses
Pangan; (3) Peningkatan Konsumsi Pangan berkualitas; (4) Persentase pangan segar
yang memenuhi syarat keamanan pangan; (5) Persentase Serangan Organisme
Pengganggu Tumbuhan dan Dampak Perubahan Iklim yang Ditangani (6) Persentase
Wilayah yang Terkendali dari Penyakit Hewan Menular Strategis; (7) Persentase Tindak
Lanjut Terhadap Temuan OPTK, HPHK dan Keamanan hayati yang Tidak memenuhi
Persyaratan karantinadi Tempat Pemasukan/pengeluaran yang Ditetapkan; (8)
Persentase Kasus Pelanggaran Perkarantinaan yang Diselesaikan; (9) Tingkat
Pemenuhan Prasarana Pertanian; dan (10) Tingkat Kemanfaatan Sarana Produksi
Pertanian.

18

Kementerian Pertanian 2022 21


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

SS 1. IKU 1
Peningkatan Ketersediaan Pangan Strategis dalam Negeri
Target Realisasi
1,81% 2,42%
% Capaian
120%*)
Sangat Berhasil
*) Capaian kinerja maksimal 120% untuk menghindari bias perhitungan kinerja
secara agregat

Kementerian Pertanian telah menetapkan beberapa kelompok komoditas pangan


strategis, yaitu kelompok komoditas tanaman pangan (padi dan jagung), hortikultura
(cabai, bawang merah, bawang putih), produk peternakan berupa daging (daging sapi,
daging kerbau, daging kambing, daging domba, daging ayam, daging babi, daging itik),
susu, dan telur.
Target kinerja peningkatan ketersediaan pangan strategis dalam negeri tahun 2021
diharapkan naik sebesar 1,81%. Berdasarkan hasil perhitungan sebagaimana pada Tabel
5 diperoleh hasil sebesar 2,42%, sehingga capaian kinerja Kementerian Pertanian untuk
indikator kinerja sasaran strategis peningkatan ketersediaan pangan strategis ini sebesar
133,7%.
Rumus perhitungan rata-rata peningkatan ketersediaan pangan strategis dalam negeri
(%) dihitung dengan:
∑ 𝑃𝑃𝑃𝑃𝑃𝑃𝑃𝑃𝑃𝑃𝑃𝑃𝑃𝑃𝑃𝑃𝑃𝑃𝑃𝑃𝑃𝑃 𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝 𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘 𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘 𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝 𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠 𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛
∑ 𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘 𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘 𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘 𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝 𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠 𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛
Dimana rumus perhitungan peningkatan produksi pangan strategis nasional (%) sebagai
berikut:
𝑃𝑃𝑃𝑃𝑃𝑃𝑃𝑃𝑃𝑃𝑃𝑃𝑃𝑃𝑃𝑃 𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝 𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠 𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛 (𝑡𝑡) − 𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝 𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝 𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡 𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛 (𝑡𝑡 − 1)
( ) 𝑥𝑥 100%
𝑃𝑃𝑃𝑃𝑃𝑃𝑃𝑃𝑃𝑃𝑃𝑃𝑃𝑃𝑃𝑃 𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝 𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠 𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛𝑛 (𝑡𝑡 − 1)

Keterangan:
Satuan volume produksi pangan strategis dalam bentuk ton
t : tahun berjalan
t-1 : tahun sebelumnya
Metode perhitungan capaian produksi pangan strategis nasional dilakukan dengan
langkah sebagai berikut:
1. Mengambil data peningkatan produksi dari direktorat Jenderal produksi untuk
kelompok komoditas tanaman pangan, hortikultura, dan produk peternakan.
2. Menjumlahkan seluruh data persentase peningkatan produksi pangan strategis dalam
negeri.

18

22 Kementerian Pertanian 2022


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

3. Menghitung rata-rata persentase peningkatan produksi pangan strategis nasional.


Rata-rata capaian produksi pangan strategis nasional tahun 2021 mengalami
peningkatan yaitu untuk kelompok komoditas tanaman pangan, hortikultura, daging,
serta telur dan susu. Hasil perhitungan nilai produksi pangan strategis tahun 2021
disajikan pada Tabel 4.
Tabel 4. Rata-Rata Capaian Produksi Pangan Strategis Tahun 2021
%
NO KEGIATAN 2017 2018 2019 2020 2021*) Peningkatan
2021/2020
1 Tanaman Pangan 110.072.609 80.855.706 77.190.240 77.569.202 78.312.384 0,96
(juta ton)
2 Hortikultura (juta 3.849.086 4.085.068 4.257.693 4.669.842 4.810.566 3,01
ton)
3 Peternakan (daging) 4.199 4.377 4.481 4.147 4.379 5,59
(ribu ton)
4 928.108 951.004 944.537 946.910 962.628 1,66
Susu (ton)
5 5.216.640 5.267.927 5.354.623 5.874.380 5.926.030 0,88
Telur (ton)
Rata-rata Peningkatan Produksi Pangan Strategis Dalam Negeri Tahun 2021 2,42

Sumber: BPS dan PPDS Kementan, 2021


Keterangan:
*) Data produksi padi merupakan Angka KSA BPS; jagung Angka Sementra PPDS Kementan; Produksi cabai,
bawang merah, bawang putih, serta daging, susu, dan telur merupakan Angka Sementara BPS;

Apabila dibandingkan dengan target akhir jangka menengah tahun 2024 sebesar 5,34%,
maka pencapaian pertumbuhan Peningkatan Ketersediaan Pangan Strategis dalam
negeri tahun 2021 sebesar 2,42% baru tercapai 45,32% dari target akhir jangka
menengah. Hal ini berimplikasi terhadap perencanaan peningkatan produksi ke depan
agar lebih baik lagi melalui upaya dan kerja keras semua pihak dalam mencapai target
jangka menengah.
Kementerian Pertanian telah melakukan upaya dalam rangka pencapaian kinerja
peningkatan ketersediaan pangan strategis dalam negeri, di antaranya melalui komitmen
pimpinan dalam pelaksanaan strategi, program kerja maupun kegiatan yang
berhubungan dengan produksi pangan strategis. Selain itu, dalam rangka mencapai
kinerja sasaran ini telah dikeluarkan kebijakan antara lain: (a) penggunaan single data
sebagai acuan dalam perencanaan pembangunan pertanian; (b) pembangunan
Komando Strategis Pembangunan Pertanian (KOSTRATANI) berbasis Balai Penyuluhan
Pertanian (BPP) di tingkat kecamatan; (c) pemberian jaminan ketersediaan bahan
pangan pokok dan strategis pada saat hari besar keagamaan; dan (d) penguatan
manajemen pembangunan pertanian melalui sinergitas dengan K/L terkait, Perguruan
Tinggi, serta pemerintah daerah melalui Gubernur maupun Bupati/Walikota.
Program pertama, kebijakan single data pada prinsipnya adalah penggunaan data dari
wali data yang sudah ditetapkan oleh pemerintah, seperti misalnya Badan Pusat Statistik
(BPS) sebagai sumber data pertanian nasional dan Kementerian Agraria dan Tata
Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) sebagai sumber data luas baku lahan
pertanian. Program kedua, pembangunan Kostratani utamanya ditujukan sebagai pusat

19

Kementerian Pertanian 2022 23


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

kontrol pelaksanaan dan pengawasan pembangunan pertanian di daerah. Untuk itu,


Kostratani didesain menggunakan perangkat teknologi berbasis internet, sehingga
informasi data dasar pertanian dan dinamika pembangunan pertanian di lapangan dapat
dikirimkan real time ke pusat. Upaya ini merupakan langkah terobosan strategis yang
diambil oleh Menteri Pertanian dalam meningkatkan ketersediaan produksi komoditas
strategis pertanian dalam mewujudkan ketahanan pangan dan kedaulatan pangan
nasional. Kebijakan ini merupakan program akselerasi dalam percepatan pencapaian
target kinerja jangka menengah, khususnya yang terkait dengan peningkatan produksi
pangan strategis. Disisi lain, adanya penurunan beberapa komoditas pertanian strategis
2021 tidak mempengaruhi supply ke konsumen, hal ini dibuktikan selama tahun 2021
tidak terjadi gejolak harga pangan pokok strategis. Komitmen kuat Menteri Pertanian
dalam rangka pengawalan dalam rangka menjamin ketersediaan pangan dapat dilihat
pada Gambar 4.

Gambar 4. Sinergitas Kementerian Pertanian dalam Mewujudkan


Peningkatan Produksi Pangan

Dalam rangka akselerasi peningkatan produksi pangan strategis nasional tahun 2021,
Kementerian Pertanian melakukan berbagai kegiatan, antara lain:

20

24 Kementerian Pertanian 2022


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

1. Peningkatan Produksi Tanaman Pangan


a. Padi
Berdasarkan hasil KSA-BPS angka sementara hasil amatan bulan Oktober 2021,
produksi padi tahun 2021 adalah 55,27 juta ton GKG, yang dihitung berdasarkan
angka produktivitas subround I, Subround II 2021 menggunakan hasil survey
ubinan 2021 subround bersesuaian, khusus produktivitas subround III 2021
masih menggunakan angka produktivitas subround III 2020, sehingga produksi
padi 2021 merupakan angka sementara. Produksi padi tahun 2021 ini mengalami
peningkatan 1,14% dari produksi Tahun 2020 yaitu sebesar 54,65 juta ton GKG.
Perkembangan produksi padi Tahun 2017-2021 menunjukkan bahwa terdapat
penurunan produksi dan luas panen khususnya mulai tahun 2018 sampai dengan
2019. Hal ini dikarenakan metode penghitungan pencapaian produksi sejak
Tahun 2019 menggunakan data KSA dari BPS, dengan merasionalisasi angka
sasaran produksi padi berdasarkan pada luas baku lahan (Kementerian ATR-BPN)
seluas 7,46 juta hektar. Sementara itu dari tahun 2019 ke tahun 2020 bahkan
sampai dengan 2021 produksi padi kembali meningkat pada situasi pandemi
Covid 19 melanda Indonesia dan dunia. Perkembangan peningkatan luas panen,
produktivitas dan produksi padi dari tahun 2017 s/d 2021 dapat dilihat pada
Gambar 5.

Gambar 5. Perkembangan Realisasi Produksi, Produktivitas dan Luas Panen Padi


Tahun 2017-2021
Keterangan: Data produksi mulai tahun 2018 dihitung menggunakan metode KSA dari
BPS
Faktor pendukung peningkatan produksi padi antara lain:
1) Adanya peningkatan produktivitas yang dipengaruhi antara lain oleh
penerapan varietas unggul, teknologi-teknologi budidaya padi yang sudah
tersosialisasi di kelompok tani, penggunaan benih unggul bersertifikat yang
terlihat dari rasio benih unggul padi bersertifikat tersedia sebelum tanam
sebesar 108,19% terhadap kebutuhan benih.

21

Kementerian Pertanian 2022 25


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

2) Terjaminnya ketersediaan benih melalui kegiatan pemberdayaan produsen


benih, pemberdayaan petani penangkar sehingga lebih luas cakupan
distribusinya dan mendorong produsen benih bisa masuk e-katalog.
3) Pengawalan terhadap Balai Benih Induk (BBI) dalam hal kontinuitas
penyediaan benih sumber padi.
4) Kerjasama dengan Badan Litbang Pertanian dalam kegiatan pengembangan
Padi IP400 dan perbanyakan padi nutrizinc di wilayah stunting.
5) Berkembangnya sistem pergantian varietas unggul baru.
6) Penggunaan mekanisasi sehingga menyebabkan berkurangnya losses.
7) Adanya perbaikan agro input pada padi.
Meskipun pengalami peningkatan, pencapaian kinerja produksi padi juga
mengalami beberapa hambatan, antara lain:
1) Curah hujan tahun 2021 lebih tinggi dibanding tahun 2020, sehingga
peningkatan produksi hanya 0,17%, di beberapa wilayah sentra terjadi banjir
pada awal tahun (Maret) yang menyebabkan gagal panen dan mundur
jadwal tanam yang berakibat pada penurunan produktivitas.
2) Adanya penurunan luas panen 141.952 ha dikarenakan beberapa kegiatan
tanam di akhir tahun.
3) Pengaruh curah hujan yang rendah bulan Juli, Agustus, dan September 2021
menyebabkan mundurnya musim tanam, sehingga pertanamannya belum
berkontribusi terhadap produksi padi 2021.
4) Luas pertanaman padi yang puso akibat banjir dan kekeringan seluas 95.407
ha dari 451.361 ha yang terkena.
5) Terlambat tanam dan carry over tanam berikutnya, mengakibatkan
penurunan luas panen.
6) Adanya alih fungsi lahan dan persaingan antar komoditas.
Rekomendasi solusi atas permasalahan tersebut, antara lain:
1) Ketersediaan air yang melimpah akibat curah hujan yang cukup sepanjang
tahun, mendorong untuk melakukan percepatan tanam, perluasan areal
tanam padi baik di lahan sawah irigasi dan tadah hujan.
2) Pembentukan Brigade La Nina (OPT dan DPI) sebagai bentuk pengendalian
OPT dan DPI (Banjir dan Kering).
3) Mapping wilayah rawan banjir dan rutin pantau informasi BMKG sebagai
bentuk Early Warning System.
4) Menyiagakan alsintan, seperti pompa air untuk membuang air dan alat
pengering padi (pascapanen) di daerah rawan banjir.
5) Rehabilitasi jaringan irigasi tersier, kuarter, dan lainnya berkoordinasi Pusat
dan Daerah.
6) Penggunaan benih tahan genangan dan menyiapkan bantuan benih akibat
puso.

22

26 Kementerian Pertanian 2022


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

7) Sosialisasi dan himbauan kepada petani untuk mengikuti AUTP, terutama


bagi petani di wilayah yang rawan banjir.
Kegiatan utama yang mendukung produksi padi Tahun 2021 adalah sebagai
berikut:
1) Kegiatan Kawasan Padi
Kegiatan kawasan padi Tahun 2021 mencakup 7 kegiatan, yang terdiri atas
Kegiatan padi di lahan produktivitas rendah, budidaya padi rawa, budidaya padi
lahan kering, budidaya padi khusus, budidaya padi kaya gizi (biofortifikasi), dan
budidaya padi ramah lingkungan.
Target kegiatan kawasan padi adalah 452.461 ha dengan pagu
Rp651.115.013.000,00 Realisasi fisik kegiatan utama padi sampai Desember
seluas 446.204 ha (98,62%) terhadap sasaran, dan realisasi keuangan mencapai
Rp602.950.592.010,00 atau (92,60%). Realisasi tanam kegiatan budidaya padi
338.077 ha.
2) Areal yang diberikan bantuan benih padi bersertifikat
Tujuan kegiatan ini adalah memberikan bantuan benih padi hibrida dan inbrida
untuk meningkatkan produksi nasional. Dari target fisik 1.517.863 ha, tercapai
1.490.237 ha (98,18%), dan target keuangan Rp385.373.898.000,00 tercapai
Rp379.615.491.851,00 (98,51%).
3) Pengembangan dan Pemberdayaan Petani Produsen Benih (P3BTP)
Kegiatan ini merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan penyediaan benih
padi bersertifikat yang dalam pelaksanaanya melibatkan petani penangkar.
Cakupan kegiatan ini antara lain pemberdayaan produsen benih padi,
pengembangan produsen padi hibrida, pengembangan petani produsen benih
padi inbrida berbasis korporasi petani. Dari target 7.238 ha, tercapai 7.190 ha
(99,34%), dan target keuangan Rp12.436.610.000,00 tercapai
Rp12.309.758.750,00 (98,98%).

b. Jagung
Produksi jagung pada tahun 2021 (dengan kadar air 27%) mencapai 23,04 juta
ton yang dihitung berdasarkan angka produktivitas tahun 2020 BPS dan Luas
panen 2021 PDPS. Produksi tahun 2021 mengalami kenaikan 122,76 ton atau
0,54% terhadap produksi jagung 2020. Perkembangan produksi jagung Tahun
2017-2021 menunjukkan ada pertumbuhan setiap tahunnya, kecuali tahun 2018
yang terdapat koreksi angka dari BPS. Gambar 6 memperlihatkan bahwa
produktivitas dan luas panen jagung juga mengalami fluktuasi selama 2017-
2021.

23

Kementerian Pertanian 2022 27


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

Produksi (juta ton)


Produktivitas (Ku/Ha)
60
Luas panen (juta Ha)
50
juta ton; Ku/Ha

40
30 55,23 55,78 55,54
52,27 53,26
20
10 5,53 4,06 4,09 4,11 4,15
28,92 21,66 22,59 22,92 23,04
0
2017 2018 2019 2020 2021
Tahun

Gambar 6. Perkembangan Realisasi Produksi, Produktivitas dan Luas Panen


Jagung Tahun 2017-2021
Faktor pendukung peningkatan produksi jagung:
1) Meningkatnya motivasi petani untuk menanam jagung karena harga yang
menguntungkan di tingkat petani, harga jagung dengan kadar air 27% saat
ini Rp2.800,00 menjadi Rp4.500,00, sedangkan untuk kadar air 14-15% dari
Rp3.500,00 menjadi Rp5.500,00
2) Iklim yang mendukung, sehingga tidak ada pergeseran tanam.
3) Harga jagung internasional tinggi akibat pandemi Covid-19, sehingga
konsumen/pabrik pakan/peternak lebih memanfaatkan jagung dalam negeri.
4) Produksi benih jagung stabil, dengan adanya pembinaan BBI jagung
terutama untuk benih komposit.
5) Penggunaan dryer secara maksimal sehingga meningkatkan daya simpan
jagung.
Meskipun produksi jagung meningkat dari tahun sebelumnya, namun dari segi
produktivitas terjadi penurunan, hal ini disebabkan oleh penambahan areal
tanam baru seluas 390.000 ha yang belum mampu menghasilkan produktivitas
maksimal.
Kegiatan yang mendukung peningkatan produksi jagung Tahun 2021, adalah
sebagai berikut:
1) Pengembangan Jagung Wilayah Khusus
Target pengembangan budidaya jagung wilayah khusus adalah 11.520 ha
dengan pagu Rp27.182.500.000. Realisasi fisik sampai Desember mencapai
11.320 ha (98,26%) terhadap sasaran dan realisasi keuangan mencapai
Rp26.092.523.550, atau (95,99%).

24

28 Kementerian Pertanian 2022


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

2) Pengembangan Budidaya Jagung Untuk Pangan


Target Pengembangan Budidaya Jagung untuk Pangan adalah 2.000 ha
dengan pagu Rp2.200.000.000. Realisasi fisik sampai Desember tercapai
100%. dan realisasi keuangan mencapai Rp2.152.362.500, atau (97,%).
Realisasi tanam kegiatan mencapai 2.000 ha.
3) Area yang Diberikan Bantuan Benih Jagung Bersertifikat
Target area yang diberikan bantuan benih jagung bersertifikat adalah
1.430.388 ha dengan pagu Rp858.676.590.000,- Realisasi fisik sampai
Desember mencapai 1.450.577 ha (101,41%) terhadap sasaran dan realisasi
keuangan mencapai Rp846.346.260.127,- atau (98,56%). Realisasi tanam
mencapai 1.290.440 ha.
4) Pengembangan Petani Produsen Benih Tanaman Pangan (P3BTP) Jagung
Hibrida Target total pengembangan petani produsen benih jagung hibdirda
adalah 750 ha dengan pagu Rp3.750.000.000,00. Realisasi fisik sampai
Desember mencapai 820 ha (109,33%) terhadap sasaran dan realisasi
keuangan mencapai Rp3.675.000.000,00 atau (98,00%). Realisasi tanam
mencapai 820 ha.

2. Peningkatan Produksi Hortikultura


Peningkatan produksi hortikultura strategis Tahun 2021 adalah sebesar 3,01% atau
mencapai 62,06% dari target 4,85% (kategori cukup berhasil). Hal ini menjadikan
total produksi hortikultura strategis tahun 2021 sebesar 4.810.565,36 ton, lebih tinggi
dari produksi hortikultura strategis tahun 2020 yang sebesar 4.669.843,69 ton.
Produksi komoditas hortikultura strategis disajikan pada Tabel 5.
Tabel 5. Produksi Komoditas Strategis Hortikultura Tahun 2020-2021

Produksi
No Komoditas 2020 2021*)
1 Bawang Merah 1.815.445,34 1.942.811,93
2 Bawang Putih 81.804,60 44.646,61
3 Aneka Cabai 2.772.593,76 2.826.106,82
Jumlah 4.669.843,69 4.813.565,36
Peningkatan 3,01
Sumber: Angka Tetap BPS 2020 dan Angka Sementara Hortikultura Tahun 2021.

a. Cabai
Produksi cabai pada tahun 2021 sebesar 2,83 juta ton atau meningkat 1,82%
dibanding produksi tahun 2020 sebesar 2,77 juta ton. Produksi cabai dihitung
dari produksi cabai rawit dan cabai besar dengan rincian untuk komoditas cabai
besar mengalami peningkatan produksi 7,44% dan cabai rawit mengalami
penurunan 2,88%. Penurunan ini disebabkan beberapa hal, antara lain:

25

Kementerian Pertanian 2022 29


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

1) Penurunan luas tanam dan atau produksi cabai rawit di daerah sentra karena
turunnya permintaan pasar sebagai dampak pandemi Covid-19. Permintaan
pasar yang turun menyebabkan harga cabai di awal sampai pertengahan
tahun 2021 tidak menguntungkan petani.
2) Sebagian petani cabai rawit beralih tanam ke komoditas lain yang lebih
menguntungkan.
Perkembangan produksi, luas panen, dan produktivitas cabai nasional dapat
dilihat pada Gambar 7.

350 310,15 310,44 314,77 320,18


300,38
300

250

200

150
81,82 86,22 88,00 88,39
100 76,09

50 23,6 25,4 25,9 27,7 28,3

0
2017 2018 2019 2020 2021

Produksi (ratus ribu ton) Produktivitas (Ku/Ha) Luas panen ( ribu Ha)

Gambar 7. Produksi Cabai (Ton) Tahun 2017 – 2021

b. Bawang Merah
Produksi bawang merah nasional terus mengalami peningkatan selama lima
tahun terakhir. Tahun 2017 produksi nasional sebanyak 1.470.155 ton naik
menjadi 1.942.812 ton pada tahun 2021. Pencapaian target tersebut disebabkan
oleh berberapa faktor diantaranya karena adanya peningkatan produktivitas
apabila dibandingkan dengan produktivitas tahun 2020. Produktivitas bawang
merah pada tahun 2020 sebesar 9,71 ton/ha dan pada tahun 2021 meningkat
menjadi 10,16 ton/ha. Teknologi budidaya yang tepat, melalui pemilihan varietas
benih, aplikasi pemupukan dan pemeliharaan yang tepat dapat meningkatkan
produktivitas bawang merah secara berkelanjutan. Perkembangan produksi, luas
panen, dan produktivitas bawang merah nasional dapat dilihat pada Gambar 8.

26

30 Kementerian Pertanian 2022


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

191,2
186,9 194
200 181,5
180 158,17 156,78 159,19
158
147 150,3
160
140
120 95,87 99,25 97,11 101,46
92,94
100
80
60
40
20
0
2017 2018 2019 2020 2021

Produksi (ratus ribu ku) Luas panen (ribu Ha) Produktivitas (Ku/Ha)

Gambar 8. Produksi Bawang Merah (Ton) Tahun 2017 – 2021


c. Bawang Putih
Capaian kinerja produksi bawang putih tahun 2021 mencapai 44.647 ton atau
mengalami penurunan 45,42% dari produksi tahun 2020 sebesar 81.804,60 ton.
Perkembangan produksi bawang putih tahun 2017-2021 dapat dilihat pada
Gambar 9.

100 90,74 88,82


90 81,8
78,42
80 72,33
63,91 65,66
70
60
44,65
50 39,29
40
30 19,51 12,28 12,8
20 5,01
2,15 6,8
10
0
2017 2018 2019 2020 2021

Produksi (ribu Ton) Luas panen (ribu Ha) Produktivitas (Ku/Ha)

Gambar 9. Perkembangan Produksi, Bawang Putih Tahun 2016-2021


Produksi bawang putih mengalami penurunan pada tahun 2021 dibandingkan
tahun 2020 karena adanya pemotongan alokasi APBN TA 2021 untuk kawasan
bawang putih yang semula 5.000 ha menjadi 1.586 ha. Perlu diketahui bahwa
penanaman bawang putih di Indonesia masih tergantung dari pendanaan APBN.
Penurunan pendanaan APBN 2021 sangat berpengaruh terhadap turunnya
realisasi luas tanam nasional. Selain itu, beberapa faktor penyebab penurunan
produksi komoditas bawang putih, antara lain:
1) Adanya refocusing anggaran pengembangan kawasan bawang putih APBN
TA. 2021. Meskipun alokasi APBN rata-rata hanya 20-30% dari total luas

27

Kementerian Pertanian 2022 31


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

tanam nasional, namun pada kenyataanya mampu mempengaruhi produksi


nasional. Alokasi APBN Bawang putih tersebut mampu mengungkit dan
mengakselerasi penanaman di berbagai daerah. Selain itu secara tidak
langsung mampu membantu penyerapan benih yang tersedia di petani
penangkar. Tahun 2021 awalnya dialokasikan anggaran pengembangan
seluas 5.000 hektar atau setara anggaran Rp80 miliar. Namun setelah adanya
refocusing akibat pandemic Covid-19, anggaran tersebut tinggal seluas 1.586
hektar atau setara Rp25,4 miliar.
2) Pasar bawang putih selain untuk benih masih sangat terbatas. Sampai
dengan saat ini, pengembangan bawang putih sebagian besar masih
berorientasi untuk benih. Sementara penetrasi ke pasar konsumsi masih
sangat terbatas. Pasar konsumsi rumah tangga masih didominasi oleh produk
impor. Pengguna bawang putih lokal masih terbatas pada UMKM olahan,
warung kaki lima dan industri mikro seperti pabrik kerupuk. Proses edukasi
dan sosialisasi konsumsi bawang putih lokal masih sangat terbatas, sehingga
minat masyarakat mengkonsumsinya juga masih rendah.
3) Harga pasar yang tidak mampu menjadi stimulus petani dalam melakukan
pananaman kembali tanaman bawang putih. Harga bawang putih lokal
terbilang masih belum kompetitif dibandingkan dengan bawang putih impor.
Kondisi tersebut diakibatkan oleh sistem budidaya yang belum efisien
terutama harga benih umbi yang masih relatif tinggi serta komponen biaya
saprodi yang juga semakin tinggi harganya. Pola tanam bawang putih lokal
pada bulan Oktober- Desember, dengan waktu panen di bulan Februari-April
sering bersamaan dengan masuknya bawang putih impor dalam jumlah
besar, menyebabkan harga bawang putih lokal ikut tertekan. Kondisi tersebut
menyebabkan budidaya bawang putih menjadi terasa tidak menarik bagi
petani.
4) Adanya alih komoditas bawang putih ke komoditas lain. Akibat dari harga
jual bawang putih lokal yang kurang sebanding dengan biaya usaha tani,
menyebabkan banyak petani yang beralih komoditas dari bawang putih
menjadi komoditas lain yang dianggap lebih menguntungkan. Selain itu,
umur tanam sampai dengan panen yang mencapai rata-rata 4 bulan,
menyebabkan petani memilih komoditas lain yang lebih cepat dipanen
(contoh bawang merah) atau bisa dipanen berulang seperti cabai, tomat dan
sebagainya.
5) Program wajib tanam yang terkendala kepatuhan pelaku usaha dalam hal
realisasi tanam. Program wajib tanam dan produksi sebagai salah satu bagian
dari proses penerbitan Rekomendasi Impor Produk Hortikultura (RIPH)
bawang putih merupakan instrumen untuk mendorong peningkatan produksi
di dalam negeri. Berdasarkan ketentuan, setiap pelaku usaha yang
mendapatkan RIPH diwajibkan melaksanakan penanaman bawang putih di
dalam negeri sekurang-kurangnya menghasilkan produksi 5% dari total
volume pengajuan RIPH. Adanya revisi Permentan 38 tahun 2018 menjadi

28

32 Kementerian Pertanian 2022


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

Permentan 39/2019 dan Permentan 46/2019 berdampak signifikan terhadap


dinamika produksi bawang putih nasional. Dalam ketentuan sebelumnya
diwajibkan adanya penanaman awal sebesar 25% bagi pelaku usaha baru
dan 10% untuk pelaku usaha lama sebagai syarat mendapatkan RIPH.
Aturan tersebut terbukti mampu mengungkit angka luas tanam dan produksi
bawang putih nasional di tahun 2019. Namun, dengan adanya perubahan
waktu pelaksanaan wajib tanam dari sebelum terbit RIPH menjadi setelah
terbit RIPH pada praktiknya tidak mampu menciptakan kepatuhan para
pelaku usaha melaksanakan kewajiban tanam dan produksi. Sampai dengan
Desember 2021, dari target wajib tanam seluas 6.971 hektar dan target
produksi 41.825 ton, baru tercatat terealisasi 875 hektar (12,6%) dan
produksi 4.905 ton (11,7%).

Upaya-upaya yang telah dilakukan untuk meningkatkan produksi hortikultura


strategis adalah:
1) Pengembangan Kampung Hortikultura dalam upaya mengonsolidasikan
lahan-lahan dalam satu kawasan kesatuan administratif yaitu kampung atau
desa dengan luasan minimal 10 ha untuk komoditas strategis. Kampung
Hortikultura ini mengusung konsep One Village One Variety (OVOV) dengan
komoditas strategis yang akan dikembangkan dipilih berdasarkan kesesuaian
agroekosistemnya dan permintaan pasar untuk menjamin pemasaran
hasilnya. Kawasan pada kampung-kampung ini akan difasilitasi bantuan
secara terintegrasi mulai dari aspek hulu hingga hilir, antara lain berupa
benih bermutu, saprodi (Pupuk Organik, Anorganik, Kapur
Pertanian/Dolomit, Mulsa Plastik, dan lain-lain), pengendali OPT ramah
lingkungan, sarana dan prasarana pascapanen, serta pengolahan.
Selanjutnya, produk yang dihasilkan akan diregistrasi dan disertifikasi untuk
memudahkan dalam monitoring serta pengontrolan kualitas. Pengawalan
dan pendampingan secara intensif juga akan dilakukan dari hulu hingga hilir.
Diharapkan pengembangan hortikultura melalui pendekatan kampung ini
dapat lebih memudahkan masuknya dukungan fasilitasi lainnya seperti akses
permodalan melalui pemanfaatan Kredit Usaha Rakyat (KUR), mekanisasi,
pengairan, kelembagaan, pemasaran sehingga ke depan dapat mendukung
pembentukan Korporasi Petani.
2) Melaksanakan bimbingan-bimbingan teknis di berbagai daerah seluruh
Indonesia baik secara offline maupun online dengan tujuan peningkatan
kapasitas petani setempat.
3) Monitoring realisasi alokasi pengembangan Kawasan komoditas strategis
berikut dengan rencana panen dan produksinya;
4) Menyusun manajemen pola tanam komoditas strategis bersama-sama
dengan Dinas Pertanian provinsi dan kabupaten/kota terkait setiap akhir
tahun (T-1) sebagai panduan pengaturan tanam pada tahun berikutnya;

29

Kementerian Pertanian 2022 33


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

5) Bersama-sama dengan dinas, asosiasi, dan champion melakukan sosialisasi


teknologi dan strategi pengendalian OPT ramah lingkungan;
6) Pengembangan Kawasan komoditas strategis dalam skala luas (Food Estate/
Agroindustri);
7) Mengalokasikan pengembangan Kawasan bawang merah bentuk biji (TSS)
(dari Satker Pusat) guna mengurangi ketergantungan terhadap benih umbi
bawang merah;
8) Menyusun Early Warning System (EWS) komoditas cabai dan bawang merah
untuk 3 (tiga) bulan kedepan dan menginformasikan ke seluruh provinsi
setiap awal bulan sebagai peringatan untuk pengamanan produksi 3 bulan
kedepan;
9) Dalam beberapa pertemuan khususnya menjelang musim hujan, melibatkan
BMKG sehingga diperoleh solusi untuk petani terkait teknik stabilisasi
produksi cabai di musim hujan sesuai dengan kondisi riil masing-masing
daerah;
10) Sosialisasi teknologi budidaya cabai di musim hujan dan membuat demplot
budidaya cabai dengan menggunakan rainshelter; dan
11) Menyelesaikan program pemantauan realisasi wajib tanam dan produksi
yang dinamakan Simethris.
Disamping itu, kebijakan yang akan dilaksanakan kedepan untuk meningkatkan
produksi hortikultura strategis adalah:
1) Perbanyakan/ pengembangan Kampung Hortikultura secara
berkesinambungan.
2) Perbanyakan Bimbingan-bimbingan teknis untuk para petani/ kelompok tani
baik secara offline maupun online.
3) Pengembangan kawasan komoditas strategis tetap memperhatikan hasil
pemetaan lahan yang dilakukan oleh BBSDLP Balitbangtan sesuai dengan
kesesuaian lahan dan agroklimat budidaya komoditas stategis;
4) Pengembangan Kawasan komoditas strategis disesuaikan dengan tujuan
dan tetap mempertahankan prinsip Ramah Lingkungan dan Adaptif
Perubahan Iklim serta Hemat Air;
5) Penguatan data Luas Tanam, Luas Panen dan Produksi serta pengembangan
Early Warning System komoditas strategis;
6) Melanjutkan Pengembangan Kawasan komoditas strategis dalam skala luas
(Food Estate);
7) Pengembangan Kawasan komoditas strategis akan difasilitasi dengan sarana
produksi, seperti: benih bermutu, pupuk, mulsa, likat kuning dan lain-lain,
dalam jumlah yang memadai walaupun bersifat stimulan;
8) Bersinergi dengan stakeholder terkait agar kegiatan pengembangan
Kawasan komoditas strategis mendapat dukungan pengembangan pada
lokasi tersebut. Dukungan tersebut antara lain berupa aspek perbenihan,
perlindungan, pascapanen, pengolahan, dan pemasaran hasil pertanian.
Sedangkan pengembangan Kawasan Skala Luas (Food Estate/ Agroindustri),

30

34 Kementerian Pertanian 2022


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

bersinergi dengan Eselon I lain lingkup Kementerian dan Kementrian terkait


lainnya;
9) Tahun 2021, telah dibangun rintisan wilayah penyangga yang jadwal
tanamnya diatur oleh Pusat dimana hasil panennya diperuntukkan untuk
mendukung suplai ke ibukota atau daerah yang harganya mengalami
peningkatan tajam dan diharapkan pada tahun 2022 dapat lebih
dikembangkan lagi;
10) Peningkatan produktifitas bawang merah terus dilakukan dengan beberapa
terobosan, salah satunya dengan menggunakan benih biji bawang merah
(TSS), dimana teknologinya dapat bersinergi dengan Badan Penelitian dan
Pengembangan Pertanian atau lembaga penelitian terkait lainnya;
11) Mendorong perubahan Permentan 46 Tahun 2019 dengan mengembalikan
kembali ketentuan pertanaman awal bawang putih sebagai syarat penerbitan
RIPH;
12) Melakukan pertemuan monitoring dan evaluasi secara rutin bagi penerima
RIPH serta verifikasi lapang untuk mengetahui kebenaran dari realisasi
tanam dan produksi bawang putih; dan
13) Mendorong gerakan tanam tingkat masyarakat/rumah tangga, khususnya
komoditas cabai, pada bulan-bulan tertentu untuk mengatasi fluktuasi harga.

3. Peningkatan Produksi Peternakan


a. Daging
Menindaklanjuti amanat RPJMN 2021-2024 dalam Kegiatan Prioritas Peningkatan
ketersediaan pangan hasil pertanian dan pangan laut secara berkelanjutan,
Kementerian Pertanian menetapkan peningkatan produksi daging sebagai salah
satu indikator kinerja utama. Produksi daging yang dimaksud meliputi daging
sapi, kerbau, kambing, domba, ayam, babi, dan itik.
Pada tahun 2021 produksi daging (sapi, kerbau, kambing, domba, ayam, babi
dan itik) dalam bentuk meatyield sebesar 4.379,03 ribu ton atau mengalami
peningkatan sebesar 5,59% jika dibandingkan tahun 2020 sebesar 4.147,17 ribu
ton. Perkembangan produksi daging tahun 2017-2021 dapat dilihat pada Tabel
6.

31

Kementerian Pertanian 2022 35


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

Tabel 6. Pertumbuhan Produksi Daging Pada Tahun 2017-2021


%
NO Jenis Ternak 2017 2018 2019 2020 2021*) Peningkatan
2021/2020
1 Sapi (Ribu Ton) 364,40 373,13 378,25 339,75 328,03 -3,45
Kerbau (Ribu
2 Ton) 22,01 18,99 18,57 13,88 15,71 13,20
Kambing (Ribu
3 Ton) 47,72 47,59 49,42 41,86 41,87 0,02
4 Domba 37,69 56,26 47,92 37,05 38,20 3,09
5 Babi (Ribu Ton) 214,15 145,61 159,42 189,55 218,38 15,21
Ayam Buras
6 (Ribu Ton) 300,13 287,16 292,33 270,21 272,00 0,66
Ayam Ras
Pedaging (Ribu
7 Ton) 3.176,85 3.409,56 3.495,09 3.219,12 3.426,04 6,43
8 Itik (Ribu Ton) 36,39 38,65 39,81 35,75 38,79 8,50
Jumlah 4.198,34 4.376,94 4.480,80 4.147,17 4.379,03 5,59

Sumber: BPS, diolah Ditjen PKH, 2021


Keterangan : *) Angka Sementara Ditjen PKH, 2021
Namun demikian, pada tahun 2021 capaian kinerja produksi terutama untuk
komoditas daging sapi belum mencapai target. Hal ini disebabkan adanya
penurunan jumlah pemotongan dibandingkan dengan tahun sebelumnya,
sebagai dampak terjadinya pandemi Covid-19 selama dua tahun terakhir.
Penurunan konsumsi masyarakat diakibatkan adanya penerapan kebijakan
pemerintah terkait Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) atau
lockdown terutama di beberapa wilayah provinsi dan kabupaten/kota terbesar di
Indonesia, untuk membendung laju kenaikan pandemi Covid-19. Kondisi ini
menimbulkan hotel dan restoran banyak yang ditutup, termasuk penjual
makanan dan minuman.
Keberhasilan capaian kinerja peningkatan populasi dan produksi daging secara
nasional pada tahun 2021, menunjukkan bahwa intervensi yang dilakukan
pemerintah optimis mampu mewujudkan swasembada protein hewani. Beberapa
intervensi Program/Kegiatan yang dilakukan oleh Kementerian Pertanian,
diantaranya:
1) Pengembangan ternak ruminansia melalui Optimalisasi Reproduksi
(SIKOMANDAN) mampu menambah kelahiran sebanyak 2.237.887 ekor pada
tahun 2021. Total kelahiran ternak dari Optimalisasi Reproduksi tahun 2020-
2021 sebanyak 4.538.617 ekor. Namun demikian, pengembangan sapi
potong di Indonesia saat ini masih terkendala belum banyaknya
pengembangan budidaya yang berskala ekonomi. Berdasarkan data Sensus
Pertanian Tahun 2013 BPS RI pola pemeliharaan sapi/kerbau dengan skala
Rumah Tangga Peternakan (RTP) adalah sebesar 99,97%. Hal ini
berpengaruh terhadap percepatan capaian produksi daging sapi/kerbau utuk
mampu memenuhi kebutuhan nasional.

32

36 Kementerian Pertanian 2022


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

2) Produksi daging khususnya ruminansia kecil (Kambing dan Domba) telah


mencukupi kebutuhan dalam negeri, bahkan sudah ekspor ke Brunei
Darussalam dan Malaysia.
3) Produksi unggas (telur dan daging ayam ras) saat ini sudah swasembada,
bahkan sudah ekspor ke beberapa negara seperti Jepang, Myanmar, Timor
Leste, namun terdapat kendala di aspek hilirisasi untuk pasar dalam negeri.
Upaya yang dilakukan untuk menjawab permasalahan terkait ketersediaan
daging sapi/kerbau, dilaksanakan melalui berbagai terobosan dalam mendukung
peningkatan produksi terutama pada komoditas daging sapi/kerbau antara lain:
1) Menyusun program terobosan “Desa Korporasi Sapi” pada lokasi sentra
sebagai solusi untuk percepatan peningkatan populasi dan produksi
sapi/kerbau di dalam negeri sekaligus memperkuat kelembagaan peternakan
melalui pengembangan kawasan peternakan berbasis korporasi.
2) Mendorong pembiayaan yang bersumber dari nonAPBN antara lain: kredit
perbankan, kerja sama investasi antar negara.
3) Mendorong swasta untuk berinvestasi dalam pengembangan usaha
peternakan yang berskala ekonomi dan masif.
4) Kegiatan reguler Pengembangan Ternak Ruminansia Potong berupa
pengadaan ternak sebanyak 10.876 ekor sapi sapi potong dengan target
sebanyak 472 Kelompok Masyarakat (Pokmas).
5) Melakukan koordinasi intensif dengan Kementerian/Lembaga terkait.
6) Memperkuat pembinaan, pengawalan dan pengawasan yang melibatkan
instansi terkait, pemerintah daerah (provinsi dan kabupaten/kota).
Upaya yang dilakukan untuk peningkatan produksi daging kambing/domba:
1) Kegiatan Pengembangan Ternak Ruminansia Potong berupa pengadaan
ternak kambing/domba sebanyak 15.330 ekor dengan target pokmas
sebanyak 628 kelompok.
2) Berkolaborasi dengan pelaku usaha untuk melakukan promosi peningkatan
konsumsi daging kambing/domba sebagai alternatif sumber protein hewani
dengan harga yang lebih terjangkau dibandingkan dengan daging
sapi/kerbau.
3) Koordinasi dengan asosiasi peternak kambing/domba atau Himpunan
Peternak Domba Kambing Indonesia (HPDKI) untuk mengembangkan
kemitraan yang saling menguntungkan dengan peternak agar melakukan
penyeleksian terhadap ternak yang diekspor (bukan merupakan bibit
unggul).

33

Kementerian Pertanian 2022 37


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

Upaya yang dilakukan terkait stabilisasi perunggasan, antara lain:


1) Koordinasi dengan Kementerian terkait untuk mendorong adanya Roadmap
Perunggasan Nasional.
2) Mendorong pelaku usaha peternakan untuk membangun kemitraan yang
saling menguntungkan.
3) Mendorong pelaku usaha untuk melakukan ekspor subsektor Peternakan.
4) Mendorong peningkatan skala usaha peternakan yang berorientasi bisnis,
agar tercipta efisiensi dan daya saing usaha, serta peningkatan nilai tambah.
5) Mendorong investasi di industri hilir dan perluasan negara tujuan ekspor.

b. Susu
Pada tahun 2021 produksi susu mencapai sebesar 962,68 ribu ton, mengalami
peningkatan 1,66% dari tahun 2020 sebesar 946,91 ribu ton. Peningkatan ini
salah satunya didukung oleh peningkatan populasi sapi perah dari 568.000 ekor
pada tahun 2020 menjadi 578.579 ekor pada tahun 2021 atau meningkat 1,86%.
Perkembangan produksi dan populasi sapi perah tahun 2017-2021 dapat dilihat
pada Gambar 10.

1.200.000

1.000.000

800.000

600.000

400.000

200.000

-
2017 2018 2019 2020 2021
Populasi 540.441 581.822 565.001 568.000 578.579
Produksi 928.108 951.004 944.537 946.913 962.677

Populasi Produksi Linear (Populasi) Expon. (Produksi)

Gambar 10. Perkembangan Produksi Susu Untuk Memenuhi Kebutuhan Protein


Nasional Tahun 2017-2021
Dalam rangka meningkatkan populasi dan produksi ternak sapi perah, sejak
tahun 2017 telah dilaksanakan kegiatan Optimalisasi Reproduksi dengan tagline
Upaya Khusus Percepatan Peningkatan Populasi Sapi dan Kerbau Bunting (UPSUS
SIWAB) sampai dengan tahun 2019, kemudian sejak tahun 2020 tagline menjadi
Sapi dan Kerbau Komoditas Andalan Negeri (SIKOMANDAN) yang bertujuan
meningkatkan populasi ternak sapi dan kerbau, guna mewujudkan pemenuhan
kebutuhan masyarakat akan protein hewani, yaitu daging dan susu.

34

38 Kementerian Pertanian 2022


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

Komoditi sapi perah, dalam kurun waktu empat tahun terakhir (sampai akhir
Desember 2021) tercatat didalam iSIKHNAS bahwa terdapat kelahiran pedet sapi
perah sebanyak 386.807 ekor, dengan rincian tahun 2018 sebanyak 77.035 ekor,
tahun 2019 sebanyak 94.025 ekor, tahun 2020 sebanyak 105.388 ekor dan tahun
2021 sebanyak 110.359 ekor atau rata-rata kelahiran selama empat tahun
terakhir kurang lebih 96.701 ekor/tahun.
Sebaran kelahiran sapi perah tersebut yaitu sebanyak 381.633 ekor (98,7%) di
Pulau Jawa (5 terbesar pada Provinsi Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI
Yogyakarta, dan DKI Jakarta), sisanya sebanyak 5.174 ekor (1,3%) berada di
luar Jawa (terutama di Sumatera Utara, Sumatera Barat dan Sulawesi Selatan).
Dari jumlah kelahiran tersebut rata-rata perbandingan atau rasio jenis kelamin
(sex ratio) betina: jantan yaitu 51% : 49% (betina 199.021 ekor, jantan 187.786
ekor). Hal ini menunjukkan bahwa ada potensi penambahan populasi calon sapi
dara (heifer) sebanyak 51% dari total kelahiran per tahun sebagai replacement
stock sapi induk yang sudah tidak produktif, dan terdapat potensi penambahan
populasi sapi bakalan sebanyak 49% dari total kelahiran per tahun yang
diperoleh dari kelahiran pedet jantan untuk digemukkan (fattening).
Kegiatan lain yang mendukung peningkatan populasi ternak perah adalah:
1) Kerja sama dengan NGO/LSM Mercy-USA untuk pengembangan ternak sapi
perah pada kelompok dan di wilayah pengembangan sapi perah di Provinsi
Sumatera Barat dan Provinsi Jawa Barat.
2) Pengembangan sapi perah di Provinsi Nusa Tenggara Barat, Jawa Timur,
Jawa Tengah, Jawa Barat, DIY, dan Sulawesi Selatan.
3) Kerjasama dengan Denmark
Dalam mendukung pengembangan sistem pertanian organik komoditas
peternakan khususnya susu, telah dilakukan inisiasi kerjasama bilateral
antara Indonesia dengan Denmark dalam penyusunan regulasi/kebijakan
dan kerangka kerja pengembangan susu organik di Indonesia. Kerjasama
akan berjalan selama 3 tahun dengan sistem share funding. Selain
penyusunan kerangka kerja juga akan dilakukan Pilot Project Pengembangan
Susu organik dalam kerjasama B2B melalui Danida Market Development
Partnership, yaitu kerjasama antara Arla Food dengan PT. Indofood dan
KPSP Setia Kawan Pasuruan.
Kegiatan South-South Cooperation (SSC) pada tahun 2021 yaitu
penandatangan project document sebagai legalitas pelaksanaan kerjasama
telah dilakukan pada tanggal 27 Januari 2021. Pada bulan April 2021
dilaksanakan kick off Webinar sebagai tanda mulai dilaksanakannya
kerjasama SSC. Pada bulan Mei sampai Oktober dilaksanakan beberapa
webinar yang bermaksud untuk meningkatkan kapasitas SDM. Pada bulan
November dilaksanakan kegiatan Benchmarking ke Denmark.

35

Kementerian Pertanian 2022 39


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

4) Fasilitasi untuk pengolahan susu


Dalam peningkatan mutu hasil olahan susu beberapa upaya yang dilakukan
adalah dengan memberikan fasilitasi sarana prasarana pengolahan susu dan
sertifikasi izin edar Makanan Dalam (MD) yang dikeluarkan oleh Badan POM.
5) Penyaluran KUR ternak perah sebesar 1,448 Triliun kepada 36.333 debitur.

Kegiatan yang akan dilakukan pada tahun 2022 untuk meningkatkan produksi
susu diantaranya:
1) Pengembangan Ternak Ruminansia Perah dan Fasilitasi Rearing Unit Sapi
Perah pada tahun anggaran 2022.
Penerima manfaat dari kegiatan Pengembangan Ternak Ruminansia Perah
adalah kelompok peternak penerima bantuan pengembangan (1) sapi perah:
Sumatera Barat, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, DIY, Sulawesi
Tenggara; (2) kambing perah: Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur,
Kalimantan Barat, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tenggara. Penerima
manfaat kegiatan Fasilitasi Rearing Unit Sapi Perah adalah UPTD yang
menangani peternakan sapi perah di Provinsi: Sumatera Barat, Jawa Barat,
Jawa Tengah, DIY dan Jawa Timur.
2) Produksi semen beku sapi perah di BBIB Singosari dan BIB Lembang.
3) Produksi bibit sapi perah di BBPTU-HPT Baturraden sebanyak 400 ekor.
4) Rekomendasi impor benih dan bibit sapi perah.

c. Telur
Produksi telur merupakan total dari produksi telur ayam ras petelur, ayam buras,
itik, itik manila dan puyuh. Produksi telur tahun 2021 sebesar 5,926 juta ton atau
mengalami peningkatan sebesar 3,39% dari tahun sebelumnya. Peningkatan ini
salah satunya didorong oleh naiknya konsumsi telur disaat pandemi Covid-19
untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Konsumsi telur nasional naik dari
sebelum Covid-19 hanya sebesar 18,35 kg/kapita/tahun menjadi 18,83
kg/kapita/tahun pada masa Covid-19. Perkembangan produksi telur secara rinci
dapat dilihat pada Tabel 7.
Tabel 7. Perkembangan Produksi Telur (Ribu Ton)
Tahun %
No Jenis Ternak Peningkatan
2017 2018 2019 2020 2021*) 2021/2020
1 Ayam Buras 221,00 212,34 246,69 358,86 381,61 6,34
2 Ayam Ras Petelur 4.632,83 4.688,12 4.753,38 5.141,57 5.156,00 0,28
3 Itik 302,70 306,54 294,01 316,95 329,57 3,98
4 Itik Manila 35,09 31,97 34,67 32,35 33,57 3,78
5 Puyuh 25,02 28,96 25,86 24,65 25,28 2,57
Jumlah 5.216,64 5.267,93 5.354,62 5.874,38 5.926,03 0,88

Sumber: Angka Sementara Ditjen PKH, 2021

Capaian produksi telur (ayam ras petelur, ayam buras, itik, itik manila dan puyuh)

36

40 Kementerian Pertanian 2022


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

tahun 2021 adalah sebesar 5.926,03 ribu ton atau mencapai 106,06% dari target
produksi telur sebesar 5.587,64 ribu ton. Khusus untuk produksi telur ayam ras
tahun 2021 sebesar 5,16 juta ton, dengan kebutuhan sebesar 5,13 juta ton,
maka masih terdapat neraca ketersediaan terhadap kebutuhan telur ayam ras
surplus sebesar 0,03 juta ton. Selain itu, pertumbuhan populasi ayam ras petelur
di Indonesia tahun 2020 ke 2021 mengalami peningkatan sebesar 6,67%.
Berkaitan dengan hal tersebut Kementerian Pertanian terus menerus mendorong
pelaku usaha perunggasan terutama industri perunggasan atau integrator untuk
melakukan ekspor dan bersaing di perdagangan global.
Kegiatan yang dilakukan untuk mendukung tercapainya peningkatan produksi
telur adalah:
1) Koordinasi dengan stakeholder terkait (peternak rakyat, PINSAR Petelur,
Peternak layer Nasional, BPS dan BKP Kementan);
2) Pemantauan pelaporan secara online;
3) Koordinasi penetapan impor GPS layer dengan tim analisis, penyediaan,
kebutuhan ayam ras dan telur konsumsi.
4) Pengembangan pakan olahan
Dalam mendukung pencapaian produksi telur, maka pada tahun 2021 telah
dilakukan fasilitasi melalui bantuan mesin mixer, mesin hammer mill/disk mill,
mesin pencetak pellet, timbangan, mesin jahit karung, karung dan perbaikan
Gudang.

37

Kementerian Pertanian 2022 41


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

SS 1. IKU 2
Peningkatan Akses Pangan
Target Realisasi
3,61% 0,68%
% Capaian
18,84%
Kurang Berhasil

Adanya peningkatan penduduk di Indonesia seyogianya diikuti oleh peningkatan


ketersediaan pangan, yang mampu memenuhi kebutuhan masyarakat. Pangan yang
disediakan tersebut sesuai amanat UU Pangan harus sampai pada upaya pemenuhan
kebutuhan pangan pada tingkat rumahtangga dan individu. Agar pangan yang
disediakan mampu dikonsumsi oleh rumahtangga atau perseorangan maka diperlukan
analisis terkait dengan akses atau distribusi pangan. Akses pangan merupakan salah
satu sub sistem ketahanan pangan yang menghubungkan antara ketersediaan pangan
dengan konsumsi/pemanfaatan pangan. Akses pangan baik apabila semua rumahtangga
atau semua anggota rumah tangga mempunyai sumber daya yang cukup untuk
mendapatkan pangan yang cukup pula, baik dari kuantitatif, kualitatif dan keragaman
pangan.
Indikator aksessibilitas atau keterjangkauan pangan di tingkat masyarakat dihitung
berdasarkan data persentase peningkatan volume bahan pangan yang
didistribusikan/disalurkan melalui PMT/TTIC dan TMT/TTI dan presentase peningkatan
produksi pangan lokal sumber karbohidrat non beras (produksi aneka umbi (ubi kayu
dan ubi jalar), aneka kacang (kacang tanah dan kacang hijau), kentang, dan pisang).
Dalam rangka peningkatan akses pangan di wilayah defisit pangan maka dilakukan
intervensi pasokan pangan untuk menjaga stabilisasi pasokan dan harga pangan, salah
satunya melalui pendistribusian bahan pangan ke PMT/TTIC dan TMT/TTI.
Sedangkan peningkatan produksi pangan lokal sumber karbohidrat non beras
merupakan upaya untuk mengurangi ketergantungan pada konsumsi beras.

Atau dengan rumus perhitungan rata-rata peningkatan akses pangan (%) =


𝐩𝐩𝐩𝐩𝐩𝐩𝐩𝐩𝐩𝐩𝐩𝐩𝐩𝐩𝐩𝐩𝐩𝐩𝐩𝐩𝐩𝐩 𝐩𝐩𝐩𝐩𝐩𝐩𝐩𝐩𝐩𝐩𝐩𝐩𝐩𝐩𝐩𝐩 𝐩𝐩𝐩𝐩𝐩𝐩𝐩𝐩𝐩𝐩𝐩𝐩 𝐥𝐥𝐥𝐥𝐥𝐥𝐥𝐥𝐥𝐥 𝐧𝐧𝐧𝐧𝐧𝐧 𝐛𝐛𝐛𝐛𝐛𝐛𝐛𝐛𝐛𝐛 + 𝐩𝐩𝐩𝐩𝐩𝐩𝐩𝐩𝐩𝐩𝐩𝐩𝐩𝐩𝐩𝐩𝐩𝐩𝐩𝐩𝐩𝐩 𝐯𝐯𝐯𝐯𝐯𝐯𝐯𝐯𝐯𝐯𝐯𝐯 𝐩𝐩𝐚𝐚𝐧𝐧𝐧𝐧𝐧𝐧𝐧𝐧 𝐲𝐲𝐲𝐲𝐲𝐲𝐲𝐲 𝐝𝐝𝐝𝐝𝐝𝐝𝐝𝐝𝐝𝐝𝐝𝐝𝐝𝐝𝐝𝐝𝐝𝐝𝐝𝐝𝐝𝐝𝐝𝐝𝐝𝐝𝐝𝐝𝐝𝐝 𝐦𝐦𝐦𝐦𝐦𝐦𝐦𝐦𝐦𝐦𝐦𝐦𝐦𝐦 𝑷𝑷𝑷𝑷𝑷𝑷/𝑻𝑻𝑻𝑻𝑻𝑻𝑻𝑻 𝐝𝐝𝐝𝐝𝐝𝐝 𝐓𝐓𝐓𝐓𝐓𝐓/𝐓𝐓𝐓𝐓𝐓𝐓
𝟐𝟐

Berdasarkan pengukuran, diperoleh capaian peningkatan akses pangan adalah sebesar…


= 0,22%+1,15%
2
= 0,68%

38

42 Kementerian Pertanian 2022


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

Sehingga jika dibandingkan dengan target tahun 2021, indikator peningkatan akses
pangan ini terealisasi sebesar 18,84%. Apabila dibandingkan dengan target akhir jangka
menengah sebesar 5,97%, maka capaian tahun 2021 ini baru terealisasi 11,39%,
sehingga diperlukan upaya perbaikan ke depan.
1. Pasar Mitra Tani (PMT)/Toko Tani Indonesia Center (TTIC)
Kegiatan Pasar Mitra Tani (PMT)/Toko Tani Indonesia Center (TTIC) berfungsi
sebagai distribution center, dimana PMT/TTIC melakukan aktivitas penyaluran
pangan langsung kepada konsumen ataupun melalui Toko Mitra Tani (TMT)/Toko
Tani Indonesia (TTI). Strategi yang dilakukan sebagai bagian untuk penyeimbang
pasar, PMT/TTIC dan TMT/TTI berupaya membenahi struktur dan rantai pasok
pangan di Indonesia melalui pendekatan dengan cara memangkas rantai pasok
pangan hanya menjadi 3-4 pelaku sehingga diharapkan akan mampu memberikan
kepastian harga dan pasar bagi produsen dan memberikan kemudahan aksesibilitas
pangan bagi konsumen.
Tahun 2021 berdasarkan hasil evaluasi dan Rapat Kerja Kementerian Pertanian
dengan Komisi IV DPR RI, memutuskan untuk meniadakan kegiatan Pengembangan
Usaha Pangan Masyarakat/Lembaga Distribusi Pangan Masyarakat (PUPM/LUPM),
dan Tahun 2021 juga terjadi perubahan konsep penganggaran penyaluran/
pendistribusian bahan pangan melalui TTIC/TTI. Pada Tahun 2020
penyaluran/pendistribusian melalui Bantuan Pemerintah (Banper), sedangkan Tahun
2021 tidak ada lagi Banper untuk PUPM/LUPM), berubah menjadi dana Fasilitasi
Distribusi Pangan (FDP) melalui dana Dekonsentrasi dan Pusat untuk bantuan biaya
distribusi bahan pangan dari Gapoktan (PUPM atau Non PUMP) ke TTIC/TTI.
Perbedaan konsep penyaluran/pendistribusian bahan pangan dari Tahun 2020
dengan Tahun 2021 menyebabkan capaian tahun 2021 tidak relevan untuk
dibandingkan dengan tahun 2020 karena komponen pembentuknya berbeda. Atas
dasar hal tersebut, maka capaian 2021 dianggap sama dengan target yang
ditetapkan yaitu meningkat sebesar 0,22% (atau dianggap terealisasi sebesar
100%).
Kegiatan Fasilitasi Distribusi Pangan sebagai upaya untuk stabilisasi harga dan
pasokan pangan dengan memberikan insentif berupa penggantian biaya distribusi
(transportasi dan kemasan) kepada pemasok PMT/TTIC untuk komoditas pangan,
khususnya 10 (sepuluh) pangan pokok dan strategis. Dalam hal ini, PMT/TTIC
memiliki peran sentral dalam mempengaruhi efek psikologis pasar dalam rangka
pengendalian pasokan dan harga pangan dengan menjual komoditas pangan yaitu:
beras, bawang merah, bawang putih, cabai merah keriting, cabai rawit merah, daging
ayam, daging sapi, telur ayam, minyak goreng, gula pasir dan/atau komoditas
pangan lainnya. Realisasi penyaluran sampai dengan akhir tahun 2021 sebagaimana
pada Gambar 11.

39

Kementerian Pertanian 2022 43


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

Gambar 11. Realisasi Penyaluran Bahan Pangan Kegiatan Fasilitasi Distribusi Pangan
di PMT/TTIC/TMT/TTI
Dilihat dari volume tonase yang didistribusikan/disalurkan tahun 2021 telah melebihi
tonase yang ditargetkan. Pada tahun 2021, terjadi recofusing anggaran di Badan
Ketahanan Pangan, sehingga terjadi penyesuaian target volume bahan pangan yang
didistribusikan, dari target awal DIPA sebesar 50.000 ton mengalami recofusing
sampai dengan DIPA (Revisi-IV) sebesar 13.435 ton, sehingga realisasi volume bahan
pangan yang didistribusikan/disalurkan melalui PMT/TTIC dan TMT/TTI tahun 2021
sebesar 14,791 ton atau 110,09% dari target tahun 2021.
Realisasi kegiatan Fasilitasi Distribusi Pangan (FDP) berupa biaya transportasi
dan/atau kemasan untuk pasokan ke PMT/TTIC/TMT/TTI Pusat, Provinsi dan
Kab/Kota dari Januari-Desember 2021 sebesar 14.971 ton atau 110,09% dari target
13.435 ton. Sedangkan realisasi keuangan Rp13,75 miliar atau 95,07% dari pagu
Rp14,46 miliar (OMSPAN). Belum optimalnya realisasi keuangan khususnya
disebabkan Provinsi Jawa Timur dan Sumatera Barat mengalami kendala dalam
administrasi pendistribusian bahan pangan yang terealisasi sekitar 25-35%.
Penyaluran bahan pangan melalui kegiatan Fasilitasi Distribusi Pangan ke
PMT/TTIC/TMT/TTI terdiri dari komoditas Beras 12.311 ton (83,30%), Cabai Merah
Keriting 307,98 ton (2,08%), Cabai Rawit Merah 169,65 ton (1,15%), Bawang Merah
526,05 ton (3,56%), Bawang Putih 22,43 ton (0,15%), Telur Ayam Ras 548,31 ton
(3,71%), Daging Ayam Ras 6,92 ton (0,05%), Daging Sapi/Kerbau 1,30 ton (0,01%),
Gula Pasir 105,53 ton (0,71%), Minyak Goreng 190,99 ton (1,29%) dan komoditas
pangan Lainnya 590,68 ton (3,99%).
Pendistribusian komoditas pangan ke PMT/TTIC dan TMT/TTI selain disalurkan
secara langsung, juga dengan transaksi secara online melalui aplikasi marketplace
PasTani, GoFood, GrabMart, GoMart, Mitra Bukalapak dan Digiretail Mandiri.

40

44 Kementerian Pertanian 2022


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

Persentase kinerja total penyaluran komoditas pangan dengan fasilitas distribusi


pangan di daerah tertinggi di capai Provinsi Bali mencapai 446 ton atau 141,14% dari
target 316 ton. Sedangkan terendah di Provinsi Jawa Timur penyaluran komoditas
pangan sebanyak 314,40 ton atau 59,32 % dari target 530 ton. Realisasi
anggarannya yang dicapai Provinsi Jawa Timur hanya mencapai Rp139,55 juta atau
26,33 % dari anggaran Rp530 juta. Hal ini disebabkan penyaluran komoditas pangan
di Provinsi Jawa Timur tidak optimal disalurkan kepada PMT/TTIC Kabupaten/Kota,
serta tim provinsi kurang optimal berkoordinasi dengan tim kabupaten/kota.

2. Peningkatan Produksi Pangan Lokal Sumber Karbohidrat Non Beras


Ubi Kayu, Ubi jalar, kacang tanah, kacang hijau, kentang, dan pisang merupakan
pangan lokal sumber karbohidrat non beras yang memiliki potensi untuk
dikembangkan ke arah industrialisasi dan komersialisasi pangan lokal yang berdaya
saing dalam upaya mendukung ketahanan pangan nasional. Produksi pangan lokal
sumber karbohidrat non beras tahun 2021 mengalami pertumbuhan sebesar 1,15%
dari tahun sebelumnya. Perkembangan produksi pangan lokal sumber karbohidrat
non beras tahun 2017-2021 dapat dilihat pada tabel 8 berikut.
Tabel 8. Perkembangan Produksi Pangan Lokal Sumber Karbohidrat Non Beras Tahun
2017-2021
Produksi (Ton) Pertumbuhan
No Komoditas 2017 2018 2019 2020 2021 (%)
1 Aneka Kacang 736.781 664.193 615.938 641.043 614.148 -4,20
2 Aneka Umbi 20.967.992 17.925.410 17.866.109 17.875.206 17.526.783 -1,95
3 Kentang 1.164.738 1.284.760 1.314.654 1.282.768 1.343.772 4,76
4 Pisang 7.162.678 7.264.379 7.280.659 8.182.756 8.673.792,73 6,00
5 Sagu 432.913 463.542 359.898 366.794 367.132 0,09
Pertumbuhan 0,94

Sumber: Ditjen Tanaman Pangan, Ditjen Hortikultura 2021

Berdasarkan tabel diatas, produksi komoditas aneka kacang dan aneka umbi
mengalami penurunan jika dibandingkan tahun 2020, yaitu sebesar 4,20% dan
1,95%.
Faktor penyebab penurunan produksi aneka umbi antara lain:

1) Situasi iklim dengan curah hujan yang tinggi sepanjang tahun 2021 yang tidak
mendukung pertumbuhan tanaman aneka umbi, mengakibatkan hasil umbi tidak
maksimal baik kualitas maupun kuantitas.
2) Luas panen menurun akibat konversi lahan pertanian ke non pertanian.
3) Hilirisasi industri aneka umbi belum berkembang.
4) Jaminan pasar dan harga komoditas aneka umbi belum stabil.

Sedangkan penurunan produksi aneka kacang disebabkan oleh beberapa faktor


antara lain:

41

Kementerian Pertanian 2022 45


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

1) Situasi iklim dengan curah hujan yang tinggi sepanjang tahun 2021 yang tidak
mendukung pertumbuhan tanaman aneka kacang, mengakibatkan hasil tidak
maksimal baik kualitas maupun kuantitas.
2) Kurangnya petani yang menjadikan komoditas kacang-kacangan sebagai
komoditas utama.
3) Persaingan penggunaan lahan dengan komoditas lain yang lebih
menguntungkan.
Atas permasalahan tersebut, maka upaya perbaikan yang dapat dilakukan adalah
sebagai berikut:
1) Penambahan anggaran untuk kegiatan pengembangan aneka umbi dan kacang.
2) Promosi produk olahan aneka umbi dan kacang.
3) Meningkatkan dukungan UPH aneka umbi dan kacang.
4) Dukungan kebijakan jaminan pasar, harga dan pembiayaan diluar APBN.
Upaya pengembangan produksi pangan lokal sumber karbohidrat non beras
dilakukan untuk meningkatkan ketersediaan dan akses masyarakat terhadap produk
olahan pangan lokal. Untuk itu dilakukan pemberdayaan dan pembinaan terhdap
UMKM pangan lokal yang memiliki peran strategis dalam pengembangan pangan
lokal melalui kegiatan Pengembangan Industri Pangan Lokal (PIPL). Selain itu untuk
meningkatkan produksi pangan lokal non beras, Kementerian Pertanian telah
menyusun Satuan Gugus Tugas Diversifikasi Sumber Karbohidrat Pangan Lokal non
Beras yang dituangkan dalam Kepmentan Nomor 404/Kpts/OT.050/M/6/2020.
Satgas diversifikasi dimaksud, mempunyai tugas sebagai berikut:
1) Identifikasi potensi komoditas sumber karbohidrat pangan lokal non beras;
2) Pengembangan sumber karbohidrat pangan lokal non beras dari hulu hingga hilir;
3) Penyusunan rencana aksi pengembangan sumber karbohidrat pangan lokal non
beras jangka pendek, menengah, dan panjang;
4) Pengembangan UMKM pangan lokal non beras melalui pola kemitraan;
5) Promosi dan kampanye sumber karbohidrat pangan lokal non beras sebagai
sumber pangan alternatif;
6) Penyusunan anggaran untuk mendukung pelaksanaan diversifikasi sumber
karbohidrat pangan lokal non beras.
Selain meningkatkan koordinasi dan sinergi di internal, Kementerian Pertanian telah
melakukan kerja sama dengan berbagai pihak antara lain:
1) Nota Kesepahaman Antara Kementerian Pertanian dengan PT. [Link]
tentang Pengembangan Kapasitas Usaha Dan Fasilitasi Pemasaran Online untuk
Pelaku Usaha Bidang Pertanian Nomor: 9O/NK/I/09/2020, Nomor:
B462/KN.220/J/09/2020, Nomor: 1391/BL-BPPS/PPGR/MOU/IX/2020, nota
kesepahaman ini sebagai upaya meningkatkan penetrasi UMKM pangan lokal
dengan konsumen melalui marketplace.
2) Nota Kesepahaman Antara Kementerian Pertanian dengan Masyarakat Singkong
Indonesia, Masyarakat Sagu Indonesia, dan Perhimpunan Ahli Teknologi Pangan

42

46 Kementerian Pertanian 2022


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

Indonesia tentang Pengembangan Industri Pengolahan Singkong dan Sagu


Sebagai Sumber Karbohidrat Non Beras Nomor B.493/HK.220/J/10/2020, Nomor
MSI/01/MOU/X/2020, Nomor A.31/U/MASSI/X/2020, Nomor 22/S/PATPI-
01/X/2020.
3) Perjanjian Kerja Sama Antara Kementerian Pertanian dengan Sekolah Vokasi
Institut Pertanian Bogor tentang Pendidikan, Penelitian dan Pengabdian
Masyarakat dalam mendukung Diversifikasi Sumber Karbohidrat Pangan Lokal
Non Beras.
4) Melalui program Pengembangan Industri Pangan Lokal (PIPL), telah disusun
rencana aksi pembinaan terhadap UMKM, dengan target 1.000 UMKM di tahun
2024. Kegiatan yang dilakukan adalah dengan melakukan sosialisasi, pembinaan
dan pendampingan kepada UMKM dalam pengolahan dan pemasaran produk
olahan pangan lokal. Untuk pemasaran hasil olahan pangan lokal UMKM telah
dilakukan penyediaan outlet-outlet melalui Toko Tani Indonesia di seluruh
provinsi serta melalui marketplace.

43

Kementerian Pertanian 2022 47


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

SS 1. IKU 3
Peningkatan Konsumsi Pangan Berkualitas
Target Realisasi
2,27% 5,47%
% Capaian
120%*)
Sangat Berhasil

*) Capaian kinerja maksimal 120% untuk menghindari bias perhitungan kinerja


secara agregat

Pemanfaatan atau konsumsi pangan merupakan salah satu entry point dan sub system
untuk memantapkan ketahanan pangan. Dengan mengetahui pola konsumsi pangan
masyarakat akan dapat disusun kebijakan terkait dengan penyediaan pangan, baik yang
berasal dari produksi dalam negeri maupun impor. Kebijakan produksi pangan mencakup
berapa volume dan jenis pangan yang mampu diproduksi dengan memperhatikan
sumberdaya lahan, air, teknologi dan sarana pendukung lainnya. Dengan
memperhatikan potensi produksi dan permintaan pangan akan dapat ditetapkan berapa
banyak dan jenis pangan yang harus diproduksi di dalam negeri atau diimpor. Selain itu
dengan mengetahui perubahan konsumsi pangan masyarakat, juga dapat disusun
kebijakan harga dan distribusi pangan agar masyarakat dapat menjangkau pangan yang
tersedia.
Rumus perhitungan rata-rata peningkatan konsumsi pangan berkualitas (%) sebagai
berikut:
∑ Peningkatan konsumsi pangan berkualitas
∑ Jenis konsumsi pangan berkualitas

Dimana rumus perhitungan peningkatan konsumsi pangan berkualitas (%) sebagai


berikut:
Konsumsi X (t) − Konsumsi X (t − 1)
( ) x 100 %
Konsumsi X (t − 1)

Keterangan:
Satuan volume konsumsi pangan dalam bentuk gram/kapita/hari
t : tahun berjalan
t-1 : tahun sebelumnya

44

48 Kementerian Pertanian 2022


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

Data konsumsi pangan secara nasional ditinjau berdasarkan aspek kuantitatif dan
kualitatif, melalui penghitungan konsumsi energi dan protein berdasarkan angka
kecukupan zat gizi yang dianjurkan bagi penduduk Indonesia. Angka Kecukupan Gizi
(AKG) yang dianjurkan bagi penduduk Indonesia merupakan kecukupan rata-rata zat
gizi sehari bagi hampir semua orang sehat menurut golongan umur, jenis kelamin,
ukuran tubuh, aktifitas fisik dan keadaan fisiologis untuk mencapai derajat kesehatan
yang optimal. Dalam direktori ini, AKG yang digunakan merupakan asupan rata-rata
sehari yang dikonsumsi oleh populasi dan bukan merupakan kecukupan gizi
perorangan/individu. Di Indonesia, AKG dirumuskan dalam forum Widyakarya Nasional
Pangan dan Gizi (WNPG) yang telah diselenggarakan sejak tahun 1978. Analisis
konsumsi pangan berdasarkan data Susenas tahun 2015 – 2020 menggunakan Angka
Kecukupan Energi anjuran sebesar 2.100 kkal dan Angka Kecukupan Protein 57 gram
(berdasarkan AKG hasil WNPG Tahun 2018).
Penilaian terhadap konsumsi pangan penduduk secara kuantitas dapat ditunjukkan
melalui volume konsumsi pangan penduduk (gram/kap/hari dan kilogram/kap/tahun),
konsumsi energi penduduk (kkal/kap/hari), dan konsumsi protein penduduk (gram
protein/kap/hari). Salah satu indikator yang digunakan dalam menilai kualitas konsumsi
pangan adalah Pola Pangan Harapan (PPH). PPH merupakan susunan beragam pangan
yang didasarkan atas proporsi keseimbangan energi dari berbagai kelompok pangan
untuk memenuhi kebutuhan gizi, baik dalam jumlah maupun mutu dengan
mempertimbangkan aspek daya terima, ketersediaan pangan, ekonomi, budaya, dan
agama. Adapun kelompok pangan tersebut mencakup: (1) padi-padian, (2) umbi-
umbian, (3) pangan hewani, (4) minyak dan lemak, (5) buah/biji berminyak, (6) kacang-
kacangan, (7) gula, (8) sayur dan buah, serta (9) lain-lain.
Capaian indikator peningkatan konsumsi pangan berkualitas tahun 2021 adalah sebesar
5,47% sehingga melampaui target sebesar 2,27% (terealisasi 240,97%). Demikian juga
bila dibandingkan dengan target akhir jangka menengah tahun 2024 sebesar 2,27%
maka capaian tahun 2021 ini telah terlampaui, sehingga kinerja tahun 2021 ini perlu
dipertahankan bahkan ditingkatkan di tahun mendatang. Perkembangan konsumsi
pangan berkualitas selama lima tahun terakhir secara rinci dapat dilihat pada Tabel 9.

45

Kementerian Pertanian 2022 49


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

Tabel [Link] Pangan Berkualitas Tahun 2017-2021

Konsumsi %
Kelompok Bahan Pertumbuhan
No 2017 2018 2019 2020 2021 2020/2021
Pangan
Sayur dan buah
1 -2,40
(gram/kap/hari) 224,8 248,1 244,3 231,77 226,20
2 Daging (kg/kap/tahun) 2,50
10,76 12,26 11,28 11,61 11,90
Protein Asal Ternak
3 0,89
(gram protein/kap/hari) 10,0 10,4 10,9 11,18 11,28
Umbi-umbian
4 20,87
(gram/kap/hari) 56,3 45,0 43,5 41,20 49,80
Pertumbuhan Rata-rata 5,47
Sumber: BKP, 2021

1. Konsumsi Sayur dan Buah


Konsumsi sayur dan buah tahun 2021 sebesar 226,2 gram/kapita/hari atau
(82,79%/ kategori berhasil), masih lebih rendah dibandingkan konsumsi anjuran
susunan Pola Pangan Harapan (PPH) yaitu 273,2 gram/kapita/hari. Kelompok
pangan ini sangat penting peranannya dalam pencapaian kualitas sumberdaya
manusia. Masih rendahnya konsumsi sayur dan buah tersebut lebih disebabkan
karena faktor kesadaran masyarakat akan pentingnya sumber vitamin dan mineral
serta serat masih rendah. Untuk itu, dibutuhkan edukasi agar masyarakat sadar
akan pentingnya mengkonsumsi sayur dan buah. Badan Ketahanan Pangan sudah
melaksanakan kegiatan Pekarangan Pangan Lestari untuk meningkatkan akses dan
konsumsi sayur dan buah. Namun demikian, hal ini menunjukkan masih dibutuhkan
upaya edukasi kepada masyarakat akan pentingnya konsumsi sayur dan buah yang
melibatkan dukungan dari berbagai lintas sektor.
2. Konsumsi Daging
Konsumsi daging untuk tahun 2021 tercapai 11,9 gram/kapita/hari atau (86,23%/
kategori berhasil) dari target 13,8 kg/kapita/tahun. Konsumsi daging penduduk
Indonesia berasal dari konsumsi daging ruminansia dan daging unggas. Dari hasil
analisis konsumsi daging unggas lebih dominan daripada konsumsi daging
ruminansia, yang dipengaruhi oleh tingkat daya beli dan pendapatan masyarakat.
Konsumsi daging merupakan kebutuhan penting untuk memperoleh asupan protein
hewani sebagai zat pembangun tubuh, produksi antibodi dalam sistem kekebalan
tubuh, dan membantu tubuh untuk meningkatkan kesehatan secara keseluruhan.
Belum tercapainya konsumsi daging masyarakat Indonesia dipengaruhi berbagai
faktor antara lain daya beli masyarakat, dan kesadaran masyarakat untuk
mengkonsumsi daging. Pandemi Covid-19 dalam 2 tahun terakhir sangat berngaruh
signifikan terhadap daya beli masyarakat.

46

50 Kementerian Pertanian 2022


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

3. Konsumsi Protein Asal Ternak (gram/kapita/hari)


Capaian konsumsi protein asal ternak tercapai 11,28 gram/kapita/hari atau
(104,93% kategori sangat berhasil) dari target 10,75 gram/kapita/hari. Konsumsi
protein asal ternak merupakan sumber protein hewani yang sangat esensial bagi
tubuh. Salah satu keunggulan protein hewani adalah memiliki komposisi asam
amino esensial yang lebih lengkap dibandingkan protein nabati. protein hewani juga
memiliki kandungan nutrisi yang lebih beragam, seperti vitamin B12, vitamin D, zat
besi, dan asam lemak omega-3. Asupan protein hewani menjadi salah satu hal yang
dipertimbangkan untuk orang-orang yang ingin menerapkan pola makan sehat,
untuk itu perlu upaya untuk peningkatan produksi dan konsumsi produk pangan
hewani bagi penduduk. Kualitas konsumsi pangan penduduk yang beragam sangat
penting untuk membangun sumber daya manusia yang sehat dan produktif.
Pada umumnya permintaan dan konsumsi produk pangan hewani responsif
terhadap perubahan pendapatan dan harga terutama bagi konsumen
berpendapatan rendah dan sedang. Daging, telur dan susu merupakan komoditas
pangan yang berprotein tinggi yang umumnya memiliki harga yang relatif lebih
tinggi dibanding komoditas pangan lainnya. Dengan demikian, konsumsi atau
permintaan produk ternak sangat berkaitan erat dengan kemampuan atau daya beli
konsumen atau dapat dikatakan bahwa daging, telur dan susu merupakan produk-
produk yang elastis terhadap pendapatan.
4. Konsumsi Umbi-umbian (gram/kapita/hari)
Capaian konsumsi umbi-umbian tercapai 49,80 gram/kapita/hari, yang terdiri dari
singkong, ubi jalar, kentang, sagu, dan umbi lainnya. Umbi-umbian merupakan
tanaman pangan penting sumber karbohidrat terutama dalam bentuk pati. Umbi-
umbian dijadikan makanan pokok di beberapa negara khususnya Asia dan Afrika,
karena menyumbangkan kalori terbesar sebagai makanan utama dalam sekali
konsumsi.
Upaya untuk menunjang peningkatan produktivitas dan kualitas produk umbi-
umbian akan sangat membantu mengatasi masalah pangan. Umbi-umbian
mempunyai banyak keunggulan dan sebagai pangan alternatif sumber karbohidrat
pengganti beras, bahan pangan tersebut dapat disajikan dalam menu sehari-hari,
asalkan diperkaya dengan pangan sumber protein yang tinggi. Tantangan yang
dihadapi dalam pengembangan umbi-umbian adalah produk-produknya yang
hingga saat ini cenderung konvensional, dengan kemampuan dan nilai gizi yang
kurang menarik. Hal ini menyebabkan relatif rendahnya ketertarikan masyarakat
untuk memanfaatkannya sebagai sumber karbohidrat substitusi terhadap beras.

47

Kementerian Pertanian 2022 51


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

SS 1. IKU 4
Persentase Pangan Segar Yang Memenuhi Syarat
Keamanan Pangan
Target Realisasi
85,10% 90,46%

% Capaian
106,30 %
Sangat Berhasil

Pangan merupakan kebutuhan dasar, yang pemenuhannya menjadi salah satu hak azasi
manusia. Salah satu permasalahan pangan adalah masih dijumpainya praktek–praktek
penanganan pangan yang tidak memenuhi persyaratan keamanan dan mutu pangan.
Hal ini meningkatkan terjadinya potensi kontaminasi atau residu pada pangan, yang
kemudian dapat meningkatkan risiko penyakit bawaan makanan. Dari aspek kualitas
pangan, kualitas yang rendah menyebabkan daya saing produk menjadi berkurang.
Rumus perhitungan Persentase Pangan Segar yang Memenuhi Syarat Keamanan Pangan
(%) sebagai berikut =
∑(persentase PSAT dan PSAH yang memenuhi syarat keamanan dan mutu pangan)
∑𝑒𝑒𝑒𝑒𝑒𝑒𝑒𝑒𝑒𝑒𝑒𝑒 𝐼𝐼 𝑦𝑦𝑦𝑦𝑦𝑦𝑦𝑦 𝑚𝑚𝑚𝑚𝑚𝑚𝑚𝑚𝑚𝑚𝑚𝑚𝑚𝑚𝑚𝑚𝑚𝑚𝑚𝑚𝑚𝑚𝑚𝑚 𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝

Dimana,
Formula persentase PSAT yang memenuhi syarat keamanan dan mutu pangan =

∑ sampel PSAT hasil uji lab yang memenuhi syarat keamanan dan mutu pangan
𝑥𝑥100%
∑sampel PSAT yang diuji lab

Formula persentase PSAH yang memenuhi syarat keamanan dan mutu pangan =

∑ sampel PSAH yang memenuhi syarat keamanan dan mutu pangan


𝑥𝑥100%
∑pangan segar asal hewan yang beredar

Keamanan pangan tidak hanya terkait dengan upaya perlindungan kesehatan


masyarakat, namun juga terkait dengan perdagangan pangan, dimana keamanan
pangan menjadi salah satu persyaratan dalam perdagangan global. Hal ini menjadi
penting mengingat bahwa Indonesia merupakan salah satu negara eksportir produk
pertanian utama di dunia, seperti rempah–rempah dan kelapa sawit.

48

52 Kementerian Pertanian 2022


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

Terkait dengan upaya perlindungan kesehatan masyarakat, maka jumlah kasus pangan
menjadi sasaran strategis. Dengan mempertimbangkan bahwa penanganan keamanan
pangan di Indonesia dilakukan oleh beberapa instansi tergantung pada jenis produk
pangannya.
Pencapaian Indikator Kinerja tahun 2021 yang terkait dengan pengawasan mutu dan
keamanan pangan segar adalah persentase pangan segar yang memenuhi syarat
keamanan pangan, khususnya yang disebabkan oleh Pangan Segar Asal Tanaman
(PSAT) dan pangan asal hewan. Pangan segar yang memenuhi syarat tersebut diperoleh
beerdasarkan Laporan Hasil Pengawasan Keamanan dan Mutu Pangan Segar per
Provinsi. Sedangkan pengukuran capaian Pangan Segar Asal Tanaman (PSAT) adalah
sebagai berikut:
1. Pengawasan Keamanan Pangan Segar dilakukan dengan melaksanakan pelayanan
Sertifikasi Prima, registrasi PSAT, registrasi rumah pengemasan, Health Certificate
dan sertifikat keamanan pangan lainnya;
2. Perhitungan jumlah pangan segar yang memenuhi syarat keamanan pangan adalah
pangan produk pangan segar dan olahan primer hasil pertanian yang kandungan
residu pestisida di bawah ambang batas maksimum residu (BMR) pestisida dan
kandungan cemaran logam berat dibawah batas cemaran maksimun (BCM);
3. Perhitungan jumlah total pangan segar adalah produk pangan segar dan olahan
primer hasil pertanian yang beredar.
Sedangkan pemantauan Pangan Segar Asal Hewan dilaksanakan melalui tiga komponen
meliputi:
1. Pengawasan keamanan produk hewan yang melibatkan pemerintah daerah (Dinas
Provinsi/Kabupaten/Kota).
2. Monitoring dan surveillans keamanan produk hewan (residu, cemaran mikroba serta
resistensi antimikroba) yang melibatkan 9 Laboratorium Unit Pelaksana Teknis Pusat
(UPTP) yang meliputi: BPMSPH, BBVet, dan Bvet.
3. Pengujian mutu dan sertifikasi produk hewan yang dilaksanakan oleh BPMSPH.
Outcome yang diharapkan dalam kegiatan ini adalah adanya peningkatan pangan
segar asal hewan yang memenuhi persyaratan keamanan dan mutu pangan.
Target pangan segar yang memenuhi syarat keamanan pangan adalah 85,10% di tahun
2021 dengan realisasi 90,46% atau 106,30%. Apabila dibandingakan dengan target
akhir jangka menengah sebesar 85,5%, maka capaian tahun 2021 sudah melampai
target tahun 2024 atau terealisasi 105,80%. Oleh karena itu, kinerja yang sangat
berhasil pada tahun 2021 harus terus dipertahankan dan bahkan ditingkatkan pada
tahun mendatang.
Perkembangan capaian indikator persentase pangan segar yang memenuhi syarat
keamanan pangan selama lima tahun terakhir juga mengalami peningkatan, seperti
terlihat pada Tabel 10.

49

Kementerian Pertanian 2022 53


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

Tabel 10. Persentase Pangan Segar yang Memenuhi Syarat Keamanan Pangan Tahun
2017-2021

Tahun
Sampel Produk Pangan Segar
2017 2018 2019 2020 2021

Jumlah sampel produk pangan segar asal tumbuhan yang


616 933 1.326 665 2022
memenuhi persyaratan keamanan dan mutu pangan

Jumlah seluruh sampel produk tumbuhan segar asal tumbuhan 666 1.077 1.390 728 2065

Presentase pangan segar asal tumbuhan yang


92,49 86,63 95,40 91,35 97,92
memenuhi persyaratan keamanan dan mutu pangan (%)
Jumlah sampel produk pangan segar asal hewan yang memenuhi
17.941 11.993 24.842 16.367 16.862
persyaratan keamanan dan mutu pangan

Jumlah seluruh sampel produk pangan segar asal hewan 26.002 23.562 30.745 18.900 20.316

Presentase pangan segar asal hewan yang memenuhi


69,00 50,90 80,80 86,60 83,00
persyaratan keamanan dan mutu pangan (%)

Rata-rata Presentase PSAT dan hewan yang memenuhi


80,75 68,76 88,10 88,98 90,46
persyaratan keamanan dan mutu pangan (%)

Sumber: BKP dan Ditjen PKH, 2021

Pencapaian indikator kinerja tahun 2021 sangat terkait dengan pengawasan kemananan
pangan segar. Tabel dibawah ini menunjukkan hasil monitoring kemanan pangan segar
asal tumbuhan tahun 2021. Hasil monitoring keamanan PSAT Tahun 2021 dapat dilihat
pada Tabel 11.
Tabel 11. Hasil Monitoring Keamanan PSAT Tahun 2021

Hasil Uji
No. Parameter Jumlah Contoh
Memenuhi Tidak Memenuhi
Syarat Syarat
1 Residu Pestisida 1.143 contoh 1.142 (99,91%) 1 (0,09%)

2 Cemaran Logam Berat 454 contoh 448 (98,7%) 6 (1,3%)

3 Cemaran Mikrobiologi 173 contoh 151 (87,3%) 22 (12,7%)

4 Cemaran Aflatoksin 295 contoh 281 (95,3%) 14 (4,7%)

Jumlah 2.065 contoh 2.022 (97,92%) 43 (2,08%)

Sumber: Badan Ketahanan Pangan, 2021

Berdasarkan data monitoring keamanan pangan segar asal tumbuhan di atas, bahwa
pangan segar yang beredar sebagian besar memenuhi kesesuaian terhadap persyaratan
keamanan pangan. Hasil pengujian di laboratorium menunjukkan hasil memenuhi
persyaratan terhadap parameter residu pestisida, logam berat, mikrobiologi dan
aflatoksin mencapai 97,92% atau (115,20%) dari target 85%.
Hasil pengujian keamanan PSAT dengan parameter pengujian residu pestisida, logam

50

54 Kementerian Pertanian 2022


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

berat, aflatoksin dan mikrobiologi ditemukan adanya sampel yang tidak memenuhi
persyaratan keamanan pangan, karena hasil pengujian berada di atas ambang batas
yang diijinkan. Masih ditemuinya cemaran pada PSAT ini disebabkan oleh beberapa
kemungkinan, diantaranya sebagai berikut:
1. Penanganan PSAT belum memenuhi ketentuan cara – cara penanganan PSAT yang
baik, yang mengacu pada GAP, GHP, GDP dan GHP. Potensi adanya kontaminasi
atau residu pada PSAT dapat terjadi pada setiap rantai PSAT dan kontaminasi akan
tingggi apabila penanganan PSAT tersebut tidak dilakukan dengan baik.
2. Pengambilan contoh dilakukan oleh Petugas Pengambil Contoh (PPC) yang belum
berkompeten.
Sedangkan jumlah sampel produk pangan segar asal hewan tahun 2021 sebanyak
20.316 sampel dengan hasil 16.862 sampel yang memenuhi syarat keamanan pangan
yang dapat dilihat pada tabel 12. Adapun sampel aktif diambil dari 738 unit usaha, yang
meliputi tempat penampungan susu, tempat pengolahan susu, gudang kering, rumah
potong/gudang, tempat pengolahan daging, peternakan/pengumpul/pengemas telur
konsumsi, tempat pengolahan telur.
Tabel 12. Hasil Sample PSAH Yang Memenuhi Syarat Keamanan dan Mutu Pangan Tahun
2021

No. Parameter Jumlah

1 Sample Aktif 14.754 sample


2 sampel pasif 2.108 sample
Jumlah 16.862 sample
Sumber: Ditjen PKH, 2021
Keberhasilan pengawasan keamanan pangan segar ini didukung oleh beberapa kegiatan
antara lain:
1. Sertifikasi keamanan pangan PSAT oleh Otoritas Kompeten Keamanan Pangan baik
Pusat maupun Daerah (OKKPP-OKKPD). Kegiatan sertifikasi PSAT ini merupakan
salah satu bentuk pengawasan sebelum peredaran (pre-market) yang dilakukan
oleh OKKPP maupun OKKPD. Sertifikasi keamanan PSAT atau Sertifikasi Prima
merupakan jaminan pemenuhan persyaratan keamanan pangan di tingkat proses
produksi (On Farm). Sertifikasi Prima dibedakan menjadi sertifikasi Prima 1, Prima
2 dan Prima 3. Sertifikasi Prima 3 diberikan untuk produk pertanian yang memenuhi
persyaratan keamanan pangan khususnya dari aspek residu pestisida; Prima 2
diberikan untuk produk pertanian yang memenuhi persyaratan keamanan dan mutu
pangan; sedangkan Prima 1 diberikan untuk produk pertanian yang memenuhi
persyaratan keamanan dan mutu pangan serta sosial dan lingkungan. Sepanjang
tahun 2021, OKKP telah menerbitkan sertifikat Prima 3 sejumlah 472 sertifikat.

51

Kementerian Pertanian 2022 55


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

2. Sertifikasi kesehatan PSAT tujuan ekspor (Health Certificate/HC). HC diberikan bagi


PSAT tujuan ekspor yang dinyatakan memenuhi ketentuan keamanan pangan
tertentu di negara tujuan ekspor. Penerbitan HC dilakukan melalui mekanisme
pengambilan contoh dan pengujian di laboratorium yang diakui. Untuk saat ini
penerbitan HC masih terfokus bagi produk pala yang diekspor ke Uni Eropa,
meskipun ada beberapa komoditas lain yang mengajukan permohonan penerbitan
HC untuk memenuhi ketentuan di negara tujuan ekspor. Sepanjang tahun 2021,
OKKP telah menerbitkan HC sejumlah 476 sertifikat.

3. Pengawasan keamanan PSAT dilakukan juga melalui kegiatan pendaftaran baik


pendaftaran PSAT maupun pendaftaran rumah pengemasan (packing house).
Pendaftaran PSAT dilakukan melalui mekanisme inspeksi sarana produksi dan
distribusi, proses produksi dan distribusi serta pengujian produk terkait parameter
keamanan pangan. Nomor pendaftaran PSAT diberikan kepada produk PSAT yang
dinyatakan memenuhi persyaratan keamanan PSAT baik dalam proses maupun
produk itu sendiri. Sedangkan pendaftaran rumah kemas dilakukan melalui penilaian
secara simultan Good Agricultural Practices (GAP) dan Good Handling Practices
(GHP) pada unit yang melakukan pengemasan PSAT. Secara khusus pendaftaran
rumah pengemasan merupakan respon terhadap kecenderungan peningkatan
kebutuhan dan permintaan konsumen global terhadap PSAT yang aman dan
bermutu. Pemenuhan standar dan kriteria penilaian rumah kemas secara konsisten
oleh pelaku usaha/eksportir PSAT diharapkan dapat mengurangi risiko penolakan
dan notifikasi produk PSAT dari negara tujuan ekspor. Sepanjang tahun 2021
diperoleh capaian pendaftaran PSAT maupun rumah pengemasan yaitu: 1.811
pendaftaran PSAT dan 26 rumah kemas.

4. Monitoring dan surveilans keamanan produk hewan (residu, cemaran mikroba serta
resistensi antimikroba) yang melibatkan 9 Laboratorium Unit Pelaksana Teknis Pusat
(UPTP) yang meliputi: BPMSPH, BBVet, dan BVet.

5. Pengujian mutu dan sertifikasi produk hewan yang dilaksanakan oleh Badan
Pengujian Mutu dan Standarisasi Produk Hewan.

6. Kerjasama dan koordinasi yang baik antara Pemerintah Pusat, Provinsi dan
Kabupaten/Kota serta pelaku unit usaha poduk hewan. Fungsi pembinaan,
pemeriksaan, pengujian dan pengawasan yang telah dilaksanakan dengan baik
merupakan salah satu faktor penting dalam upaya mewujudkan produk hewan yang
memenuhi persyaratan keamanan dan mutu produk hewan. Keberhasilan output ini
juga tidak terlepas dari kinerja output pemenuhan persyaratan produk hewan yang
Aman, Sehat, Utuh, dan Halal.

52

56 Kementerian Pertanian 2022


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

SS 1. IKU 5
Persentase Serangan Organisme Pengganggu Tumbuhan
dan Dampak Perubahan Iklim yang Ditangani
Target Realisasi
70,10% 88,49%

% Capaian
120%*)
Sangat Berhasil

*) Capaian kinerja maksimal 120% untuk menghindari bias perhitungan kinerja


secara agregat

Dalam rangka mendukung percepatan pencapaian swasembada pangan diperlukan


strategi yang tepat dalam pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) dan
penanggulangan Dampak Perubahan Iklim (DPI). Keberadaan OPT di lapangan dan
kondisi iklim harus selalu dipantau. Hasil pemantauan/pengamatan lapangan selanjutnya
dijadikan bahan pertimbangan dalam pengambilan kebijakan serta langkah-langkah
operasional di lapangan.

Realisasi indikator Persentase Serangan Organisme Pengganggu Tumbuhan dan Dampak


Perubahan Iklim yang Ditangani diperoleh dengan cara:
∑(rasio serangan OPT dan DPI yang ditangani terhadap luas serangan)
∑(data rasio serangan OPT dan DPI yang ditangani)

Rasio Serangan Organisme Pengganggu Tumbuhan dan Dampak Perubahan Iklim yang
ditangani diperoleh dengan cara membandingkan serangan OPT/DPI pada tahun
berjalan terhadap luas serangan OPT/DPI tahun berjalan, atau dengan rumus:
(luas terkena − luas puso serangan OPT atau DPI )
x100%
(luas terkena serangan OPT atau DPI )

Serangan OPT dan DPI yang ditangani merupakan upaya pengendalian serangan OPT
baik dengan cara fisik/mekanik, biologis, kimiawi dan kultur teknis agar tidak terjadi
gagal panen pada tanaman pangan dan hortikultura. Organisme Pengganggu Tanaman
(OPT) adalah semua organisme yang dapat merusak, mengganggu kehidupan, atau
menyebabkan kematian tumbuhan (Berdasarkan Permen Nomor 6 Tahun 1995).
Perubahan Iklim adalah keadaan cuaca yang berubah-ubah diluar pengendalian manusia
yang berdampak buruk langsung atau tidak langsung pada usaha pertanian, seperti
banjir, kekeringan, dan bencana alam. Luas serangan DPI yang ditangani adalah luas
areal pertanaman yang terkena DPI tapi tidak menyebabkan puso (gagal panen), karena

53

Kementerian Pertanian 2022 57


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

adanya tindakan pengendalian baik upaya antisipasi maupun mitigasi. Dengan adanya
pengendalian, luas Tanaman yang terserang OPT dan DPI akan mengalami perubahan
kategori yang lebih baik menjadi serangan ringan, sedang dan berat, sedangkan yang
tidak berhasil dikendalikan akan menjadi puso. Berdasarkan rumus perhitungan tersebut
maka capaian indikator Persentase Serangan Organisme Pengganggu Tumbuhan dan
Dampak Perubahan Iklim yang Ditangani adalah 88,49% atau tercapai 126,23% dari
target tahun 2021. Sedangkan apabila dibandingkan dengan target target akhir jangka
menengah sebesar 70,40% maka tercapai 125,70% atau sangat berhasil. Oleh karena
itu, kinerja tahun 2021 ini perlu dipertahankan bahkan ditingkatkan lagi di tahun
mendatang. Rincian persentase serangan OPT/DPI yang ditangani sektor pertanian
Tahun 2021 terlihat pada Tabel 13.
Tabel 13. Rasio Luas Serangan OPT/DPI Sektor Pertanian Tahun 2021

%
SASARAN STRATEGIS INDIKATOR KINERJA SATUAN TARGET CAPAIAN
CAPAIAN

Persentase Serangan
Organisme Pengganggu
Tumbuhan dan Dampak % 70,10 89,25 127,32
Perubahan Iklim yang
Ditangani
1. Rasio serangan OPT yang
ditangani terhadap luas % 75,2 98,91 131,53
Terkendalinya serangan.
Penyebaran OPT
dan DPI pada 2. Rasio luas area yang
% 60,2 78,86 131,00
Tanaman serta ditangani dibandingkan area
Penyakit pada terkena DPI.
Hewan 3. Rasio serangan OPT yang
ditangani terhadap luas % 95 98,24 103,41
serangan OPT Hortikultura

4. Rasio luas area yang


mendapat penanganan DPI % 50 80,99 161,98
terhadap luas area yang
terkena DPI
Sumber: Ditjen TP dan Ditjen Hortikultura, 2021

Keberhasilan pencapaian indikator ini didukung oleh kegiatan perlindungan tanaman


pangan dan hortikultura yaitu:
1. Perlindungan Tanaman Pangan
a. Pengendalian OPT
Upaya pengendalian serangan OPT baik dengan cara fisik/mekanik, biologis,
kimiawi dan kultur teknis dilakukan terhadap komoditas tanaman pangan
seperti padi, jagung, kedelai, aneka umbi dan aneka kacang sehingga tidak
menjadi puso. Dengan adanya pengendalian, luas tanaman yang terserang OPT
akan mengalami perubahan kategori yang lebih baik menjadi serangan ringan,
sedang dan berat. Dan yang tidak berhasil dikendalikan akan menjadi puso.

54

58 Kementerian Pertanian 2022


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

Rincian serangan OPT untuk komoditas Tanaman Pangan dapat dilihat pada
Tabel 14.
Tabel 14. Rasio Serangan OPT Yang Dapat Ditangani Untuk 7 Komoditas
Tanaman Pangan
Rasio Serangan
Terkena Puso
Komoditas Yang Ditangani
(ha) (ha)
(%)
Padi 348.563 4.470 98,73
Jagung 77.781 162 99,79
Kedelai 1.310 56 95,90
Kacang Tanah 1.494 5 99,67
Kacang Hijau 484 26 94,90
Ubi Kayu 1.823 1 99,95
Ubi Jalar 454 - 100,00
Total 431.910 4.721 98,91%

Sumber: Ditjen Tanaman Pangan, 2021

Dengan demikian dari target 75,20%, terealisasi 98,91% sehingga capaian


rasio serangan OPT yang ditangani terhadap luas serangan Tanaman Pangan
adalah 131,53%.
Keberhasilan capaian juga disebabkan oleh luas puso karena OPT hanya 1,09%
dari total luas serangan, dan terjadi tren penurunan serangan dari tahun tahun
sebelumnya.
Target indikator yang tertuang di RPJMN terkait pengendalian OPT adalah area
yang mendapatkan sarpras pengendalian OPT dengan target 100.000 ha di
tahun 2021, dengan realisasi 156.185 ha (156,19%). Capaian realisasi indikator
Area yang mendapatkan Sarpras Pengendalian OPT tahun 2021 terhadap target
RPJMN dapat dilihat pada Tabel 15.
Tabel 15. Capaian area yang dapat ditangani terhadap target RPJMN

TARGET RPJMN REALISASI


CAPAIAN
TAHUN Area yang Area yang
mendapatkan sarpras mendapatkan sarpras (%)
pengendalian OPT (ha) pengendalian OPT (ha)

2021 100,000 156,185 156.19

2024 100,000 156.19

55

Kementerian Pertanian 2022 59


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

Keberhasilan upaya penanganan luas serangan OPT dilakukan melalui kegiatan-


kegiatan penguatan pengendalian OPT:
1) Penerapan Pengendalian Hama Terpadu (PPHT)
Target kegiatan kegiatan PPHT padi, jagung, aneka kacang dan ubi kayu
adalah 3.995 ha dengan realisasi fisik kegiatan PPHT mencapai 3.970 ha
(99,37%).
2) Gerakan Pengendalian OPT
Target kegiatan Gerakan pengendalian OPT adalah 35.678 ha dengan
realisasi mencapai 35.678 ha (100%)
3) Penangkaran dan Perbanyakan Rumah Burung Hantu
Target kegiatan penangkaran dan perbanyakan Rumah Burung Hantu
adalah 633 unit dengan Realisasi fisik mencapai 633 unit atau 100%.
4) Penyediaan Pestisida dan Herbisida
Target kegiatan penyediaan pestisida dan herbisida adalah 156.185 ha
realisasi fisik mencapai 156.185 ha atau tercapai 100%.
5) Pos Pelayanan Agens Hayati
Target kegiatan Pos Pelayanan Agens Hayati adalah 62 unit dengan realisasi
fisik kegiatan Gerakan PPAH mencapai 62 unit (100%).
6) Perbanyakan APH-Refugia
Target kegiatan perbanyakan APH-Refugia sebanyak 78 unit dengan
realisasi kegiatan perbanyakan APH-Refugia tahun 2021 sebanyak 78 unit
atau tercapai 100%.
7) Pemberdayaan Petani dalam Pemasyarakatan PHT (P4)
Target kegiatan P4 sebanyak 120 unit, tersebar di 12 provinsi dengan
realisasi kegiatan P4 sampai dengan akhir bulan Desember 2021 sebanyak
120 unit atau tercapai 100,00%.
8) Dem Area Budidaya Tanaman Sehat
Target kegiatan Dem Area Budidaya Tanaman Sehat pada tahun 2021 pada
areal seluas 35.610 ha. Realisasi fisik kegiatan Dem Area tahun 2021
mencapai 35.610 ha atau tercapai 100%.
9) Pengadaan Handsprayer
Target kegiatan pengadaan handsprayer adalah sebanyak 1.500 unit
dengan realisasi mencapai 1.500 unit atau tercapai 100%.

b. Pengendalian Dampak Perubahan Iklim (DPI)


Dampak Perubahan Iklim (DPI) adalah dampak yang ditimbulkan akibat
terjadinya perubahan/variabilitas iklim, antara lain banjir, kekeringan dan
bencana alam. Banjir adalah tergenangnya areal pertanaman selama periode
pertumbuhan Tanaman dengan ketinggian air dan jangka waktu tertentu,
sedangkan kekeringan adalah tidak terpenuhinya kebutuhan air pada fase
tertentu yang keduanya mengakibatkan pertumbuhan Tanaman tidak optimal
sehingga berpotensi menurunkan produksi.

56

60 Kementerian Pertanian 2022


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

Luas terkena DPI yang dapat ditangani adalah luas Tanaman pangan yang
terkena DPI tapi tidak menyebabkan puso (gagal panen), karena adanya
tindakan pengendalian baik upaya antisipasi dan mitigasi. Luas yang terdampak
DPI di periode Okt-Sept 2020/2021 adalah 451.361 ha, dan yang puso seluas
95.407 ha. Sehingga rasio serangan DPI yang ditangani terhadap luas serangan
Tanaman pangan adalah 78,86%. Rincian serangan DPI untuk komoditas
Tanaman Pangan dapat dilihat pada Tabel 16.
Tabel 16. Capaian Luas Terkena DPI yang dapat ditangani untuk 7 Komoditas
Tanaman Pangan

Banjir (Ha) Kekeringan (Ha) Total (Ha) Rasio


Serangan
Komoditas
Terkena Puso Terkena Puso Terkena Puso DPI yang
Ditangani

Padi 360.898 80.945 53.366 5.296 414.262,84 86.240,97 79,18

Jagung 20.883 5.360 7.747 213 28.629,33 5.573,38 80,53

Kedelai 2.468 1.061 88 - 2.556,20 1.060,50 58,51

Kacang Tanah 474 135 - - 473,50 134,60 71,57

Kacang Hijau 5.107 2.348 - - 5.106,60 2.348,00 54,02

Ubi Kayu 275 49 - - 274,61 49,00 82,16

Ubi Jalar 58 0 - - 58,30 0,30 99,49

Jumlah 390.162 89.897 61.201 5.509 451.361 95.407 78,86


Sumber: Ditjen Tanaman Pangan, 2021

Luasan terdampak banjir lebih tinggi dari kekeringan pada tahun 2021, hal ini
terjadi akibat curah hujan yang cukup tinggi selama periode tahun 2021. Luas
areal Tanaman pangan yang terkena banjir 86,44% dari total luas terkena DPI,
dengan puso 23,04%. Sedangkan luas yang terkena kekeringan 13,56% dari
total luas serangan DPI, dengan puso 9,00%.
Luas areal yang terkena serangan banjir tahun 2021 lebih tinggi dari tahun-
tahun sebelumnya yang mengakibatkan pengendalian puso membutuhkan
penanganan khusus dengan pendekatan lintas sektoral baik pada tingkat pusat
dan daerah sebagai upaya antisipasi dan mitigasi. Dengan upaya ini
mempengaruhi keberhasilan capaian indikator rasio serangan DPI yang
ditangani terhadap luas serangan Tanaman pangan. Dari target indikator
60,20%, terealisasi 78,86% sehingga capaian rasio serangan DPI yang
ditangani terhadap luas serangan Tanaman Pangan adalah 131,00%.
Pengukuran capaian dapat dilihat pada Tabel 17.

57

Kementerian Pertanian 2022 61


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

Tabel 17. Capaian Rasio Penanganan DPI terhadap Target

Target (%) Realiasi (%) Capaian (%)

60,2 78,86 131,00

Kegiatan yang mendukung penanggulangan DPI tanaman pangan, adalah


sebagai berikut:
1. Fasilitasi Pompa Air
Target kegiatan fasilitasi pompa air sejumlah 771 unit dengan pagu
Rp11.602.074.000. Realisasi fisik fasilitas pompa mencapai 100% dan
realisasi keuangan mencapai Rp11.588.061.400 (99,88%) terhadap pagu.
2. Pelaksanaan Penerapan Penanganan DPI
Target kegiatan pelaksanaan Penerapan Penanganan DPI adalah 620 ha
dengan pagu Rp2.839.978.000. Realisasi fisik dan keuangan tercapai
100%.
3. Dem Area Penanganan Dampak Perubahan Iklim
Target kegiatan Dem Area Dampak Perubahan Iklim seluas 8.100 ha dan
pagu Rp12.150.000.000,- dengan realisasi fisik dan keuangan sebesar
100%.
4. Padat Karya Petani Penanganan DPI/Gerakan Penanganan Dampak
Perubahan Iklim
Target kegiatan padat karya penanganan dampak perubahan iklim seluas
10.483 ha, dilaksanakan melalui kegiatan gerakan penanganan banjir
dengan pagu sebesar Rp4.168.700.000. Realisasi fisik kegiatan mencapai
9.682 ha (92,36%) dan realisasi anggaran mencapai Rp3.907.438.900
(93,73%).

2. Pengembangan Sistem Perlindungan Hortikultura


Capaian indikator kinerja sasaran program rasio serangan OPT yang ditangani
terhadap luas serangan OPT Hortikultura pada tahun 2021 adalah sebesar 98,24%
dari target sebesar 95% atau capaian kinerjanya sebesar 103,41% (kategori sangat
berhasil). Pada Tabel 18 dapat dilihat rincian luas serangan dan luas pengendalian
OPT Tahun 2021.

58

62 Kementerian Pertanian 2022


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

Tabel 18. Data Luas Serangan OPT Hortikultura Tahun 2021

KATEGORI LUAS SERANGAN


NO KOMODITAS Kategori Kategori Kategori Kategori
Ringan Sedang Berat Puso
1 Alpukat 583,22 47,73 - -
2 Aneka Cabai 23.589,07 1.279,09 302,02 26,58
3 Anggrek 2,72 - - -
4 Bawang Merah 7.053,12 538,11 74,91 9,41
5 Bawang Putih 192,53 11,50 31,00 -
6 Belimbing 1,20 - - -
7 Buah Naga 105,44 11,00 17,00 1,50
8 Durian 858,15 44,26 3,94 0,00
9 Jagung Manis 16,84 - - -
10 Jahe 234,98 8,41 - -
11 Jambu Air 12,52 0,46 0,10 -
12 Jambu Kristal 94,59 10,00 - -
13 Jamur - - - -
14 Jeruk 20.631,98 6.592,16 2.770,36 1.640,12
15 Kelengkeng 114,48 - 110,00 -
16 Kentang 2.932,09 44,60 3,35 2,00
17 Krisan 355,93 - - -
18 Kubis 4.088,17 94,10 1,75 -
19 Kunyit 14,26 0,01 - -
20 Mangga 2.635,91 120,49 51,07 -
21 Manggis 491,05 30,46 - -
22 Mawar 44,16 - - -
23 Melon 27,85 - - -
24 Nanas 784,93 12,60 - -
25 Pepaya 341,22 161,55 3,23 -
26 Pisang 17.529,01 1.391,96 403,35 114,56
27 Rambutan 50,60 1,50 - -
28 Salak 4.060,97 - - 80,00
29 Semangka 254,78 5,51 - -
30 Tomat 3.304,79 212,68 5,22 0,83
TOTAL 90.406,57 10.618,19 3.777,30 1.875,00

Sumber : Direktorat Perlindungan Hortikultura, 2021.

59

Kementerian Pertanian 2022 63


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

Keberhasilan capaian kinerja ini dilakukan melalui upaya peningkatkan penanganan


serangan OPT hortikultura dan penangan DPI antara lain:
a. Mengoptimalkan pelaksanaan gerakan pengendalian OPT hortikultura ramah
lingkungan.
Konsep Pengendalian Hama Terpadu (PHT) dimulai dari budidaya tanaman sehat,
pelestarian musuh alami, pengamatan rutin, serta petani yang menjadi
ahli/manajer PHT. Dukungan Gerakan Pengendalian OPT berupa fasilitasi bahan
pengendali OPT ramah lingkungan yang merupakan stimulan. Kegiatan ini
melibatkan petani/ kelompok tani/ PPAH dan klinik PHT dengan didampingi
petugas POPT seperti ditunjukkan Gambar 12. Bahan pengendali OPT dibuat
bekerjasama dengan kelompok tani penerima manfaat sarana Klinik PHT.

Gambar 12. Pelaksanaan Gerakan Pengendalian OPT Hortikultura TA. 2021


b. Penerapan Pengelolaan OPT Skala Luas /Area Wide Management (AWM)
Dalam rangka mendukung kegiatan Gerakan Tiga Kali Ekspor (GRATIEKS)
komoditas hortikultura khususnya buah-buahan potensi ekspor, dilakukan
kegiatan gerakan pengendalian OPT yang diwujudkan dalam kegiatan penerapan
pengelolaan OPT skala luas (Area-Wide Management/ AWM) yang dilakukan
secara massif dan terpadu dalam satu kawasan yang luas dengan tujuan untuk
menurunkan populasi suatu OPT/OPTK sasaran yang dapat menghambat ekspor
produk hortikultura. Perlakuan yang dilakukan dalam tindakan AWM meliputi

60

64 Kementerian Pertanian 2022


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

sanitasi lahan, penggunaan umpan, pemerangkapan, dan monitoring secara


berkala. Pengendalian hama yang dilakukan juga harus mengikuti prinsip-prinsip
PHT serta mengutamakan bahan pengendali yang ramah lingkungan.
Pengendalian yang dilakukan sejak masih dalam tahap on-farm akan lebih efektif
untuk mencegah risiko produk terkontaminasi OPT dibandingkan jika hanya
dilakukan saat produk sudah berada di packing house. Kegiatan ini menargetkan
terciptanya kawasan AWM pada komoditas buah-buahan khususnya untuk
komoditas manggis, salak, buah naga, mangga, pisang, nanas dan jeruk di 14
provinsi sentra komoditas buah yang produk buahnya sudah atau akan diekspor
dan atau daerah-daerah endemis OPT.
c. Penguatan kelembagaan hortikultura (LPHP/LAH/Klinik PHT)
Upaya yang dilakukan dalam meningkatkan peran kelembagaan hortikultura
salah satunya yaitu dengan memfasilitasi bantuan sarana prasarana klinik PHT
(sebanyak 31 unit) yang dilaksanakan oleh UPTD BPTPH di 33 provinsi.
Kegiatan fasilitasi sarana prasarana klinik PHT berupa sarana pengembangan
pengendalian OPT ramah lingkungan sesuai dengan persyaratan standar
minimal, yang diarahkan sebagai sarana untuk pengembangan bahan pengendali
ramah lingkungan untuk mengantisipasi masalah OPT pada daerah serangan
endemis, daerah sumber infeksi, daerah serangan baru, dan daerah eksplosi
dengan melibatkan petani/kelompok tani sebagai upaya pengelolaan OPT agar
tidak menimbulkan kerugian.
d. Meningkatkan Penerapan PHT (PPHT) di Sentra Hortikultura
Dalam rangka meningkatkan pemahaman terhadap konsep PHT, maka petani
sebagai ujung tombak, perlu diberikan pelatihan dan pemahaman secara intensif
mengenai konsep PHT. Oleh karena itu, perlu dilakukan kegiatan PPHT yang
bertujuan untuk melatih petani menjadi ahli PHT dengan mendidik petani secara
langsung di lapangan menggunakan bahasa yang mudah dimengerti oleh petani
sehingga petani dapat mengambil keputusan yang tepat dalam mengendalikan
OPT di lahan usahanya.
e. Memberikan surat kewaspadaan /peringatan dini terkait data iklim menghadapi
musim penghujan dan kemarau secara rutin
Surat kewaspadaan diberikan berdasarkan sumber informasi periode 3 bulanan
dari BMKG mengenai prediksi iklim. Data tersebut dimanfaatkan juga sebagai
bahan informasi Early Warning System (EWS) pada sentra produksi melalui UPTD
BPTPH seluruh Indonesia. Informasi mengenai EWS digunakan juga sebagai
antisipasi bulan basah dan kering terhadap musim tanam khususnya komoditas
strategis hortikultura dan sekaligus menjadi langkah mitigasi untuk penanganan
iklim dan OPT ekstrim di lapangan.

61

Kementerian Pertanian 2022 65


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

f. Memberikan fasilitasi sarana penanganan DPI


Fasilitasi bantuan sarana penanganan DPI sebagai antisipasi dalam penanganan
dampak perubahan iklim berupa teknologi hemat air melalui irigasi tetes/ kabut
(drip/ sprinkler/ mist irrigation), pipanisasi (pralon/selang), teknologi panen air
(embung/water reservoir), sumur dangkal dan sumur dalam (bor), penampungan
air sementara (gorong-gorong beton). Penetapan pola tanam berbasis
kesesuaian agroklimat, pengembangan biopori untuk meningkatkan serapan air
tanah.
g. Menerapkan teknologi adaptasi/ mitigasi DPI
Salah satu cara untuk mengendalikan perubahan iklim adalah dengan
mengurangi emisi gas rumah kaca (CO2, CH4, N2O) yaitu dengan
mempertahankan keutuhan habitat alami dan meningkatkan kerapatan populasi
pepohonan khususnya buah tahunan seperti mangga, manggis, durian, alpukat,
jeruk dan nangka di lahan hortikultura.
Sinergitas dan koordinasi intensif dengan UPTD BPTPH seluruh Indonesia,
Kortikab Kabupaten dan POPT Kecamatan dengan petugas pusat dan pelatihan
peningkatan SDM melalui video conference Zoom petugas DPI.

Gambar 13. Fasilitasi Bantuan Sarpras Penanganan DPI di Provinsi Sulawesi Barat

62

66 Kementerian Pertanian 2022


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

SS 1. IKU 6
Presentase Wilayah Yang Terkendali Dari Penyakit Hewan
Menular Strategis
Target Realisasi
80,50% 80,74%

% Capaian
100,30%
(Sangat Berhasil)

Persentase wilayah yang terkendali Penyakit Hewan Menular Strategis Zoonosis (PHMS)
merupakan rata-rata angka status kesehatan hewan di kabupaten/kota. Angka status
kesehatan hewan dihitung melalui serangkaian kegiatan pengamatan, pencegahan,
pemberantasan dan pembebasan PHMSZ khususnya lebih difokuskan pada penyakit
Rabies, Anthrax, Brucellosis, Avian Influenza, dan Hog Cholera atau yang sering dikenal
dengan RABAH. Prevalensi suatu wilayah dapat digunakan untuk mempresentasikan
status kejadian penyakit di suatu daerah. Untuk menentukan status Kesehatan hewan
di kabupaten/kota, beberapa faktor yang harus diperhitungkan antara lain bobot suatu
penyakit dan bobot situasi penyakit. Bobot penyakit ditentukan oleh mortalitas,
morbiditas, kerugian ekonomi dan penyakit bersifat zoonosis atau tidak. Bobot situasi
berdasarkan situasi wilayah tersebut apakah wabah, endemis, sporadik, terduga dan
bebas.
Perhitungan wilayah terkendali PHMS didapat dari rata-rata Angka Kesehatan Hewan
(AKH) 402 Kab/Kota di 34 Provinsi dengan cara membandingkan wilayah yang terkendali
dari penyakit hewan menular strategis terhadap total wilayah yang terdampak penyakit
hewan menular strategis, atau dengan rumus:
∑(𝐿𝐿𝐿𝐿𝐿𝐿𝐿𝐿 𝑤𝑤𝑤𝑤𝑤𝑤𝑤𝑤𝑤𝑤𝑤𝑤ℎ 𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡 𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑 𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝 ℎ𝑒𝑒𝑒𝑒𝑒𝑒𝑒𝑒 𝑚𝑚𝑚𝑚𝑚𝑚𝑚𝑚𝑚𝑚𝑚𝑚𝑚𝑚 𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠)
𝑥𝑥 100%
∑(𝑤𝑤𝑤𝑤𝑤𝑤𝑤𝑤𝑤𝑤𝑤𝑤ℎ 𝑦𝑦𝑦𝑦𝑦𝑦𝑦𝑦 𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡 𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝 ℎ𝑒𝑒𝑒𝑒𝑒𝑒𝑒𝑒 𝑚𝑚𝑚𝑚𝑚𝑚𝑚𝑚𝑚𝑚𝑚𝑚𝑚𝑚 𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠)

Wilayah yang terdampak adalah wilayah yang memiliki risiko penularan PHMSZ termasuk
di dalamnya wilayah yang sudah bebas atau berhasil dibebaskan. Dari definisi tersebut,
maka seluruh wilayah yang sudah teridentifikasi sebagai wilayah terdampak adalah
sebanyak 402 wilayah. Setiap tahunnya dilakukan upaya seperti pengawasan lalu lintas,
vaksinasi dan biosecurity di wilayah tersebut.
Kegiatan pengendalian di 402 kabupaten/kota terhadap 5 (lima) penyakit hewan
menular strategis yaitu Rabies, Anthraks, Brucellosis, Avian Influenza (AI) dan Hog
Cholera dengan rincian yang dapat dilihat pada Tabel 19.

63

Kementerian Pertanian 2022 67


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

Tabel 19. Kegiatan Pengendalian di 402 Kabupaten/Kota Terhadap 5 Penyakit Hewan


Menular Strategis

Jumlah Kabupaten Kota


No Penyakit Jumlah Terkendali
terdampak
1 Anthraks 113 99
2 AI 261 182
3 Brucellosis 253 226
4 CSF 53 47
5 Rabies 156 121
Total 836 675
Sumber: Ditjen PKH, 2021

Berdasarkan rumus perhitungan tersebut maka capaian indikator Rasio Wilayah yang
Terbebas dari Penyakit Hewan Menular Strategis Terhadap Total Wilayah yang
Terdampak Penyakit Hewan Menular Strategis adalah:
675
𝑥𝑥100% = 80,74%
836
Capian tersebut bila dibandingkan dengan target tahun 2021 sebesar 80,5% maka
tercapai 100,30% sangat berhasil.
Apabila dibandingkan dengan tahun 2020 capaiannya sebesar 80,01% maka capaian
tahun 2021 meningkat sebesar 0,86%. Jika dibandingkan dengan target akhir jangka
menegah sebesar 67% maka tercapai 120,77% (sangat berhasil). Sedangkan apabila
dibandingkan dengan target jangka menengah sebesar 81% maka capaian tahun 2021
ini telah terealisasi 99,63%. Oleh karena itu, kinerja tahun 2021 ini perlu ditingkatkan di
tahun mendatang. Perkembangan wilayah yang terbebas penyakit menular strategis
tahun 2017-2021 dapat dilihat pada Tabel 20.
Tabel 20. Perkembangan Wilayah yang Terbebas Penyakit Menular Strategis Tahun
2017- 2021

Tahun
Wilayah Terkendali/Terdampak
2017 2018 2019 2020 2021
Total wilayah yang terkendali dari penyakit
470 474 477 326 675
hewan menular strategis (kabupaten/kota)
Total wilayah yang terdampak penyakit hewan
611 611 611 407 836
menular strategis (kabupaten/kota)
Presentase wilayah yang terkendali dari
76,92 77,58 78,07 80,10 80,74
penyakit hewan menular strategis (%)

Sumber: Ditjen PKH, 2021

64

68 Kementerian Pertanian 2022


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

Langkah yang telah dilakukan dalam pengendalian dan penanggulangan Penyakit Hewan
Menular Strategis khususnya Penyakit zoonosis antara lain:
1. Pelaksanaan surveilans ke wilayah tertarget yang dilakukan oleh 8 UPT Veteriner
yaitu: Balai Veteriner Medan, Balai Veteriner Bukittinggi, Balai Veteriner Lampung,
Balai Veteriner Banjarbaru, Balai Besar Veteriner Maros, Balai Besar Veteriner Wates,
Balai Besar Veteriner Denpasar, serta Balai Veteriner Subang. Target awal surveilans
sebesar 86.596 sampel dan setelah ada refokusing maka target berubah menjadi
77.684 sampel, terealisasi sebesar 95.330 sampel. Kegiatan surveillans untuk
penyakit rabies sebanyak 9.000 sampel dengan rincian dari alokasi reguler sebesar
84.990 dan alokasi dana PEN sebesar 4.270 sampel.
2. Pencegahan dan pengamanan penyakit dengan target 2.196.000 Dosis terealisasi
sebanyak 2.313.492 dosis (105,35%) dengan rincian obat dan vaksin antara lain
Rabies, AI, Anthrax, ASF, Brucellosis, dan Hog Cholera.
3. Perubahan status Tenaga Harian Lepas Dokter Hewan dan Paramedik Veteriner pada
tahun 2021 sebanyak 1.026 orang, dengan rincian 575 orang Dokter Hewan, 119
orang S1 Paramedik, 194 orang D3 Paramedik dan 138 orang SMA Paramedik. Pada
akhir Oktober terjadi perubahan dikarenakan adanya penerimaan CPNS dan PPPK,
sehingga jumlah existing sebanyak 292 orang Dokter Hewan, dan 257 orang sebagai
Paramedik.
4. Kegiatan kompartementalisasi sudah dilaksanakan sejak tahun 2014. Pada tahun
2021, telah menerbitkan sertifikat kompartemen bebas AI sebanyak 84 unit yang
terdiri dari 9 unit Peternakan Grand Parent Stock (GPS), 37 unit Parent Stock (PS),
21 unit Final Stock (FS) dan 17 unit hatchery. Unit usaha peternakan tersebut tersebar
di 13 provinsi
5. Koordinasi dan Evaluasi Pengendalian dan Penanggulangan Penyakit Hewan
a. Rabies
1) Vaksinasi Rabies selama tahun 2021 telah dilaksanakan sebanyak 851.608
dosis dengan pelaksanaan vaksinasi di 29 Provinsi.
2) Program penanggulangan Rabies dilakukan di wilayah-wilayah prioritas
dengan melakukan vaksinasi massal dengan target melakukan vaksinasi
pada 100% anjing pada basis desa secara serentak dengan durasi waktu
pelaksanaan yang cepat, meningkatkan partisipasi aktif masyarakat dengan
pemahaman nilai penting dari program pemberantasan yang dilakukan
pemerintah dalam pengendalian dan pemberantasan rabies melalui
komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE), meningkatkan pelaksanaan
surveilans untuk deteksi dini melalui surveilans terintegrasi dengan sektor
kesehatan dengan implementasi tata laksana kasus gigitan (takgit),
melakukan identifikasi wilayah-wilayah berisiko lalu lintas anjing dari lokasi
tertular dengan tujuan meningkatkan pengawasan lalu lintas antar daerah
dengan melibatkan instansi terkait. Untuk mendukung keberhasilan program
tersebut perlu dibahas lebih lanjut mengenai keterbatasan anggaran dan

65

Kementerian Pertanian 2022 69


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

sumber daya yang diperlukan serta kontribusi daerah dalam pelaksanaan


program.
b. Pengendalian penyakit Avian Influenza (AI)
Program pengendalian penyakit AI di peternakan unggas, pada tahun 2021 telah
dikeluarkan sertifikasi bebas AI pada perusahaan peternakan skala menengah dan
besar yang tersebar di Propinsi Jawa Barat, Banten, DI Yogyakarta, Jawa Timur,
Jawa Tengah, Nusa Tenggara Timur, Bali, Sumatera Selatan, Sumatera Barat,
serta Sulawesi Selatan.

Pengendalian penyakit hewan Avian Influenza pada unggas dengan menerapkan


kegiatan biosekuriti pada peternakan unggas, penerapan kompartementalisasi
bebas penyakit AI pada peternakan unggas, pengendalian penyakit Avian
Influenza dengan vaksinasi AI tertarget pada wilayah tetular dan perbatasan
untuk mencegah penyebaran penyakit AI. Pengendalian penyakit AI dilakukan
vaksinasi sebanyak 1.195.000 dosis.

c. Pengendalian Penyakit Brucellosis


Pengendalian penyakit Brucellosis dilaksanakan pada wilayah yang tertular dan
pada wilayah pembebasan dengan melakukan surveilans dengan prevalensi
penyakit diatas 0,2% dilakukan program vaksinasi dengan vaksin Brucellosis,
sedangkan prevalensi bawah 0,2% dilakukan kegiatan test dan potong bersyarat
(test & slaughter).

Tahun 2021 kegiatan pengendalian Brucellosis dalam rangka menyiapkan wilayah


bebas dan pembebasan dari penyakit Brucellosis untuk mendukung kegiatan
gangguan reproduksi dan program nasional SIKOMANDAN peningkatan populasi
sapi dan kerbau secara nasional mengadakan vaksinasi sebanyak 39.200 dosis.

d. Pengendalian penyakit Antraks


Kegiatan pengendalian penyakit Antraks masih dilakukan dengan kegiatan
pemberian bantuan vaksin dan operasional vaksinasi pada wilayah tertular untuk
mengurangi penyebaran Antraks ke wilayah/daerah sekitar. Tahun 2021 telah
dilaksanakan vaksinasi sebanyak 31.000 dosis.

e. Pengendalian penyakit Hog Cholera


Pengendalian penyakit Hog Cholera untuk wilayah tertular dan saat ini 2021 yang
melaporkan penyakit Hog Cholera pada Propinsi Bali, Sumatera Utara, Nias, Nusa
Tenggara Timur, Jawa Tengah dan perbatasan Riau, perbatasan DI Yogyakarta
dan Jawa Timur. Vaksinasi dilakukan sebanyak 7.000 dosis.

66

70 Kementerian Pertanian 2022


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

SS 1. IKU 7
Persentase tindak lanjut terhadap temuan OPTK, HPHK dan
Keamanan Hayati yang tidak memenuhi persyaratan
karantina di tempat pemasukan/ pengeluaran yang
ditetapkan
Target Realisasi
100% 100%

% Capaian
100%
(Berhasil)

Tindak lanjut atas temuan OPTK dan HPHK merupakan indikator kinerja yang
mencerminkan keberhasilan Kementerian Pertanian dalam melakukan upaya mencegah
masuk dan tersebarnya HPHK dan OPTK ke dalam wilayah Indonesia. Dengan dapat
ditemukannya HPHK dan OPTK pada kegiatan operasional, maka masuk dan tersebarnya
HPHK dan OPTK dapat terdeteksi secara dini. Selanjutnya dapat dilakukan tindakan
antisipatif berupa perlakuan, penolakan maupun pemusnahan bersama media
pembawanya untuk mencegah masuk dan tersebarnya HPHK dan OPTK.

Perhitungan capaian indikator di atas sebagai berikut:


𝐽𝐽𝐽𝐽𝐽𝐽𝐽𝐽𝐽𝐽ℎ 𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡 𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑠𝑠 𝐻𝐻𝐻𝐻𝐻𝐻𝐻𝐻 𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑 𝑂𝑂𝑂𝑂𝑂𝑂𝑂𝑂 𝑦𝑦𝑦𝑦𝑛𝑛𝑔𝑔 𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑
𝐼𝐼𝐼𝐼𝐼𝐼𝐼𝐼. 7 = ( ) × 100%
𝐽𝐽𝐽𝐽𝐽𝐽𝐽𝐽𝐽𝐽ℎ 𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡 𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗𝑗 𝐻𝐻𝐻𝐻𝐻𝐻𝐻𝐻 𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑 𝑂𝑂𝑂𝑂𝑂𝑂𝑂𝑂

Keterangan:
1. tindaklanjut temuan HPHK dan OPTK berupa perlakuan, penolakan atau
pemusnahan media pembawa
2. tindak lanjut temuan ketidaksesuaian berupa pemberitahuan ketidaksesuaian
(notification of non-compliance) yang disampaikan ke negara asal komoditas
3. temuan HPHK, OPTK dan temuan ketidaksesuaian berasal dari kegiatan
pemeriksaan pada kegiatan operasional pelayanan karantina

67

Kementerian Pertanian 2022 71


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

Menteri Pertanian dan jajarannya berkomitmen untuk mencapai taget kinerja ini seperti
yang terlihat pada Gambar 14 dan Gambar 15.

Gambar 14. Menteri Pertanian Melakukan Pemusnahan di Karantina Pertanian Soekarno


Hatta

Gambar 15. Tindakan Pemusnahan yang Berlokasi di SKP Bandung


Sumber: Kepala Pusat Kepatuhan, Kerjasama dan Informasi Perkarantinaan, September 2021

Berdasarkan pelaksanaan kegiatan operasional perkarantinaan di tempat pemasukan


dan pengeluaran selama tahun 2021, berhasil menemukan 12 jenis HPHK dan 24 Jenis
OPTK. Seperti dalam Tabel 21.

68

72 Kementerian Pertanian 2022


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

Tabel 21. Daftar Jenis HPHK dan Jenis OPTK

No Jenis HPHK No Jenis OPTK


1 Bovine Viral Diarrhea (BVD) 1 Aphelenchoides fragariae
2 Brucella melitensis 2 Arabis mosaic virus
3 Tripanosoma 3 Dickeya zeae
4 ASF pada daging 4 Ditylenchus destructor
5 HPAI 5 Ditylenchus dipsaci
6 LPAI Erwinia carotovora subsp.
6 Atroseptica (=Pectobacterium
7 Anaplasma atrosepticum)
8 Johne Disease 7 Helminthosporium solani
9 Brucella abortus 8 Impatiens necrotic spot tospovirus
10 Demodecosis 9 Meloidogyne hapla
11 Trichinella 10 Pantoea stewartii
Ring Worm 11 Pantoea stewartii subsp. stewartii
12
(Dermatophitosis)
12 Penicillium expansum
13 Peronosclerospora sorghi
14 Peronospora manshurica
15 Pseudomonas syingae pv. Syringae
16 Pseudomonas viridiflava
17 Rhodococcus fascians
18 Tilletia caries
19 Tilletia indica
20 Tilletia laevis
21 Tilletia tritici
22 Trogoderma granarium
23 Asphodelus fistulosus
24 Tilletia controversa

Terhadap temuan HPHK dan OPTK tersebut sudah dilakukan tindakan karantina untuk
mengeradikasi HPHK dan OPTK tersebut melalui perlakuan dan pemusnahan bersama
komoditas pertanian sebagai media pembawanya. Terdapat 4 temuan ketidak sesuaian
yaitu pengujian aflatoksin pada kacang tanah melebihi BMC yang ditetapkan oleh
pemerintah Indonesia, pengujian logam berat (kadmium dan timbal) pada cabe kering
melebihi BMC yang ditetapkan oleh pemerintah Indonesia, Pemasukan impor reagen
tuberculin tes tanpa dokumen, serta pemasukan impor petfood tanpa dokumen. Temuan
tersebut ditindaklanjuti dengan mengirimkan notification of non-compliance atau

69

Kementerian Pertanian 2022 73


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

pemberitahuan ketidaksesuaian ke negara asal. Hal tersebut dilakukan dalam rangka


upaya mencegah masuk dan tersebarnya HPHK dan OPTK ke dalam wilayah Indonesia
serta mencegah terjadinya ketidak sesuaian masuknya komoditas yang tidak memenuhi
persyaratan karantina,

Berdasarkan rumus perhitungan, dihasilkan perhitungan capaian indikator kinerja


sebagai berikut:

Realisasi kinerja tahun 2021 sebesar 100% atau tercapai 100% dari target tahun 2021.
Realisasi kinerja tahun 2021 tersebut tidak dapat dibandingkan dengan indikator tahun
sebelumnya di 2020 dikarenakan indikator ini merupakan penggabungan 3 (tiga)
indikator di tahun 2020 dan menjadi indikator baru di tahun 2021.
Sedangkan jika dibandingkan dengan target akhir jangka menengah tahun 2024 sebesar
100%, maka capaian tahun 2021 ini telah terpenuhi. Jenis temuan dan tindak lanjut
temuan OPTK dan HPHK secara rinci dapat dilihat pada Lampiran 6.
Keberhasilan pencapaian indikator persentase tindakan karantina terhadap temuan
organisme pengganggu tumbuhan karantina dan hama penyakit hewan karantina
didukung oleh beberapa hal sebagai berikut:
1) Meningkatnya kompetensi sumber daya manusia dalam melaksanakan tindakan
karantina (Pemeriksaan) melalui pendidikan dan pelatihan;
2) Meningkatnya kemampuan deteksi dan identifikasi OPTK, HPHK dan cemaran atau
kontaminasi keamanan hayati terhadap pemasukan media pembawa ke dalam
wilayah Indonesia atau pengiriman dari satu area ke area lain di dalam wilayah
Indonesia, meliputi:
a) Dukungan sarana prasarana pelaksanaan tindakan karantina (antara lain instalasi
karantina, peralatan tindakan karantina)
b) Dukungan sarana prasarana laboratorium antara lain alat dan bahan pengujian,
c) Peningkatan kualitas pengujian melalui pengembangan metode pengujian
laboratorium, penambahan ruang lingkup akreditasi laboratorium ISO/IEC
17025:2017
d) Dukungan sistem informasi kegiatan operasional perkarantinaan.
3) Meningkatnya kemampuan dalam melakukan tindak lanjut atas temuan OPTK, HPHK
dan keamanan hayati pada media pembawa yang dilalulintaskan
a) Meningkatnya jumlah SDM karantina
b) Meningkatnya kompetensi dalam melakukan tindakan karantina
c) dukungan sarana dan pasarana yang memadai
4) Optimalisasi pelaksanaan tindakan karantina berdasarkan rekomendasi hasil analisis
risiko OPTK maupun HPHK;

70

74 Kementerian Pertanian 2022


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

5) Tersedianya kebijakan berupa Permentan, Kepmentan, Pedoman, Juklak, Juknis,


SOP dan Protokol Operasional Perkarantinaan,
6) Meningkatnya pengawasan HPHK/OPTK melalui koordinasi dan kerjasama dengan
instansi terkait,
7) Sosialisasi karantina kepada pihak terkait antara lain pelaku usaha, instansi
pemerintah, negara mitra.
Upaya untuk mempertahankan dan menunjang keberhasilan tersebut di atas dilakukan
dengan:
1) Peningkatan kompetensi petugas karantina secara terus menerus dalam melakukan
pengawasan dan tindakan karantina 8P khususnya dalam melakukan pengujian
laboratorium, analisis risiko terhadap OPTK, HPHK dan Keamanan Hayati dengan
cara:
a. Mengoptimalkan akses informasi dan basis data digital yang akurat dan terkini
antara lain data temuan OPTK, HPHK serta keamanan hayati termasuk sebaran
HPHK dan OPTK),
b. Meningkatkan keikutsertaan pejabat karantina dalam pendidikan dan pelatihan
baik nasional dan internasional,
2) Penguatan regulasi dan kebijakan nasional berdasarkan analisis risiko.
3) Peningkatan mutu sarana dan prasarana laboratorium dan tempat pemeriksaan
karantina pertanian.
4) Peninjauan kembali Peraturan Perundangan perkarantinaan secara
berkesinambungan mengikuti perkembangan lingkungan strategis antara lain status
dan situasi OPTK dan HPHK.
5) Penyebarluasan informasi kepada masyarakat yang bertujuan untuk memberikan
pemahaman terhadap fungsi penyelenggaraan karantina secara berkesinambungan.
6) Peningkatan koordinasi dengan instansi terkait.

71

Kementerian Pertanian 2022 75


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

SS 1. IKU 8
Persentase Kasus Pelanggaran Perkarantinaan yang
Diselesaikan
Target Realisasi
42% 56,25%

% Capaian
120%*)
Sangat Berhasil

*) Capaian kinerja maksimal 120% untuk menghindari bias perhitungan kinerja


secara agregat

Fungsi karantina adalah mencegah masuknya hama dan penyakit hewan karantina dan
organisme penggangu tumbuhan karantina dari luar negeri ke dalam wilayah negara
Republik Indonesia, mencegah tersebarnya hama dan penyakit hewan karantina dan
organisme pengganggu tumbuhan karantina dari suatu area ke area lain di dalam
wilayah negara Republik Indonesia, mencegah keluarnya hama dan penyakit hewan
karantina dari wilayah negara Republik Indonesia dan mencegah keluarnya organisme
pengganggu tumbuhan tertentu dari wilayah negara Republik Indonesia apabila negara
tujuan menghendakinya.
Penegakan hukum merupakan salah satu bagian penting dalam mendukung pelaksanaan
perkarantinaan dalam rangka memberikan efek jera kepada pelaku pelanggaran regulasi
perkarantinaan. Regulasi karantina menganut asas Ultimum Remedium yaitu menjadikan
hukum pidana sebagai upaya terakhir dalam penegakan ketentuan administrasi di bidang
karantina hewan dan tumbuhan. Sanksi pidana adalah untuk memperkuat sanksi
administrasi (administrative penal law), sehingga sanksi pidana tersebut didayagunakan
apabila sanksi administratif sudah tidak mempan. Dalam menjalankan peran tersebut,
wewenang Penyidik (PPNS) Badan Karantina Pertanian dimulai dari P-1 (Penerimaan
Laporan) atau P-2 (Surat Perintah Penyelidikan) sampai dengan tahap P21
(Pemberitahuan bahwa Hasil Penyidikan sudah Lengkap) dan selanjutnya berkas
penyidikan dilimpahkan ke Kejaksaan untuk dilanjutkan kepada proses hukum.
Pengukuran indikator ini dengan membandingkan jumlah kasus pelanggaran
perkarantinaan yang dapat diselesaikan sampai P21 dengan jumlah kasus pelanggaran
perkarantinaan yang sudah terjadi. Batasan kasus yang dihitung pada indikator ini
adalah kasus pelanggaran perkarantinaan yang terjadi di tempat pemasukan dan atau
pengeluaran, masuk kategori pro-justisi dan ditangani oleh PPNS Badan Karantina
Pertanian. Pengukuran indikator kinerja ini dilakukan dengan membandingkan jumlah
kasus yang terjadi pada tahun 2021 dibanding jumlah kasus yang dapat diselesaikan
sampai tahap P21, yaitu pelimpahan kasus dari penyidik ke pengadilan. Batasan kasus
yang dihitung pada indikator ini adalah kasus yang ditangani oleh PPNS Badan Karantina
Pertanian dengan perhitungan sebagai berikut:

72

76 Kementerian Pertanian 2022


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

∑ 𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘 𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝 𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑛𝑛𝑎𝑎𝑎𝑎𝑎𝑎 𝑦𝑦𝑦𝑦𝑦𝑦𝑦𝑦 𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑 𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠 𝑡𝑡𝑡𝑡ℎ𝑎𝑎𝑎𝑎 𝑃𝑃21


𝐼𝐼𝐼𝐼𝐼𝐼𝐼𝐼. 8 = ( ) × 100%
∑ 𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘 𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔𝑔 𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝 𝑦𝑦𝑦𝑦𝑦𝑦𝑦𝑦 𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡

Keterangan: Kasus pelanggaran yang dihitung adalah kasus yang sudah terjadi termasuk
kasus pelanggaran yang belum dapat diselesaikan tahun ini dan tahun sebelumnya.
Berdasarkan data kasus pelanggaran perkarantinaan tahun 2021 terkait Penyelundupan
satwa liar tidak dilindungi, Pengeluaran Sayuran disertai dengan Baby Lobster ke
Singapura, lalulintas sapi dari Kab. Donggala, Pemasukan (Impor) komoditas pertanian
dari Tawau-Malaysia, Penyelundupan daging babi di pelabuhan Bakauheni, diperoleh
hasil perhitungan sebagai berikut:
𝟗𝟗
𝐈𝐈𝐈𝐈𝐈𝐈𝐈𝐈 𝟖𝟖 = 𝐱𝐱 𝟏𝟏𝟏𝟏𝟏𝟏% = 𝟓𝟓𝟓𝟓, 𝟐𝟐𝟐𝟐%
𝟖𝟖

Penyelesaian kasus pelanggaran


perkarantinaan dimulai dari P-1
(Penerimaan Laporan) atau P-2 (Surat
Perintah Penyelidikan) sampai dengan
tahap P21 (Pemberitahuan bahwa Hasil
Penyidikan sudah Lengkap) dan
selanjutnya dilimpahkan ke Kejaksaan.
Dari 16 kasus pelanggaran
perkarantinaan, 9 kasus dapat
diselesaikan sampai P21, sedangkan 1
kasus selesai dengan SP3 dan 6 kasus
masih dalam proses penyidikan (SPDP) yang diteruskan di tahun 2022, sehingga capaian
penyelesaian kasus pertanian impor tahun 2021 adalah sebesar 56,25%, melebihi target
yang ditetapkan sebesar 42% dengan realisasi 133,93%. Meskipun demikian, apabila
dibandingkan dengan capaian tahun 2020, maka capaian 2021 mengalami penurunan
sebesar 6,25%. Sedangkan jika dibandingakan dengan target akhir jangka menengah
sebesar 45%, maka capaian tahun 2021 sudah melampai atau terealisasi 125%. Oleh
karena itu, kinerja yang sangat berhasil pada tahun 2021 harus terus dipertahankan dan
bahkan ditingkatkan pada tahun mendatang.
Kasus komoditas pertanian ini pada umumnya dikarenakan pemilik atau penanggung
jawab komoditas tidak melengkapi dokumen persyaratan karantina Phytosanitary
Certificate (PC) atau Sertifikat Kesehatan Tumbuhan dan Animal Health Sertificate (AHC)
atau Sertifikat Kesehatan Hewan dari negara asal serta tidak dilaporkan dan diserahkan
kepada petugas Karantina Pertanian. Kasus komoditas pertanian impor yang dapat
diselesaikan disajikan Lampiran 7.

73

Kementerian Pertanian 2022 77


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

Keberhasilan capaian kinerja tersebut disebabkan:


1. Dukungan anggaran dalam pelaksanaan pendampingan penyelesaian dugaan
pelanggaran perkarantinaan pertanian di UPTKP;
2. Perkembangan teknologi dan informasi di masa pandemi COVID-19 menciptakan
pola pendampingan yang lebih efektif dan efisien melalui mekanisme Hybrid (daring
dan luring) ;
3. Peningkatan kapasitas dan kualitas SDM kewasdakan Badan Karantina Pertanian di
Pusat dan UPTKP ;
4. Peningkatan koordinasi dan kerjasama dalam pengawasan dan penegakan hukum
dengan Kementerian / Lembaga terkait yaitu TNI AD-AU-AL, POLRI, PT. POS
Persero, Ditjen KSDAE, Ditjen Gakum KLHK) dalam penanganan pelanggaran
perakrantinaan pertanian.
Untuk mempertahankan dan menunjang keberhasilan tahun mendatang dapat
dilakukan:
1. Meningkatkan konsultasi dan pendampingan penyelesaian kasus dengan Korwas
PPNS Bareskrim POLRI;
2. Meningkatkan kapabilitas dan kompetensi SDM kewasdakan Badan Karantina
Pertanian;
3. Penyusunan dan penyempurnaan regulasi dan pedoman kewasdakan;
4. Membuka kerjasama dengan instansi lain seperti BIN, BAKAMLA, Kejaksaan, BAIS-
TNI;
5. Penguatan koordinasi dengan TNI-POLRI, Bea Cukai, POS, Jasa Pengiriman,
Indonesia E-commerce Association (IDEA) dan pengembangan kerjasama dengan
instansi terkait lainnya dalam mendukung pengawasan dan penindakan
perkarantinaan;
6. Pengembangan kerjasama bilateral atau regional perkarantinaan wilayah
perbatasan (Papua New Guinea, Timor Leste, Malaysia, Thailand, Singapura,
Philipina);
7. Penguatan pengawasan berbasis data elektronik melalui aplikasi SIWASDAK yang
terintegrasi dengan IQ FAST dan sertifikat elektronik (E-Cert);
8. Penderasan informasi perkarantinaan melalui media informasi Badan Karantina
Pertanian dalam rangka kegiatan Pre-emtif.

74

78 Kementerian Pertanian 2022


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

SS 1. IKU 9
Tingkat Pemenuhan Prasarana Pertanian

Target Realisasi
56,16% 55,69%

% Capaian
99,16%
Berhasil

Ketersediaan prasarana pertanian merupakan salah satu faktor determinan yang


mempengaruhi produksi, sehingga penting dan strategis peranannya dalam menunjang
keberhasilan usaha pertanian, terutama dalam upaya peningkatan produksi dan
produktivitas pangan dalam rangka mewujudkan ketahanan pangan. Prasarana tersebut
meliputi: (1) pembiayaan dan perlindungan usaha pertanian; (2) pengairan lahan
pertanian; dan (3) ketersediaan lahan pertanian.
Berdasarkan Undang-Undang 22 Tahun 2019 tentang Sistem Budi Daya Pertanian
Berkelanjutan, yaitu: (1) Prasarana yang dimaksud adalah prasarana budi daya
pertanian; (2) Prasarana budi daya pertanian yaitu segala sesuatu yang menjadi
penunjang utama dan pendukung bagi budi daya pertanian; dan (3) Prasarana budi daya
pertanian terdiri dari lahan; jaringan irigasi dan/atau drainase; akses pembiayaan dan
perlindungan usaha pertanian.
Sumber data untuk tingkat pemenuhan prasarana pertanian terdiri dari :
1. Identifikasi tingkat pemenuhan pembiayaan dan perlindungan usaha pertanian (a)
2. Identifikasi tingkat pemenuhan pengairan lahan pertanian (b)
3. Identifikasi tingkat pemenuhan ketersediaan lahan pertanian (c)

Dengan rumus perhitungan :


𝑎𝑎 + 𝑏𝑏 + 𝑐𝑐 34,09 + 62,93 + 56,95
𝑥𝑥 = ( ) 𝑥𝑥 100% = ( ) 𝑥𝑥 100% = 55,69
3 3

Keterangan :
x = Tingkat pemenuhan prasarana pertanian
a = Identifikasi tingkat pemenuhan pembiayaan dan perlindungan usaha pertanian = 70,05
b = Identifikasi tingkat pemenuhan pengairan lahan pertanian = 34,09
c = Identifikasi tingkat pemenuhan ketersediaan lahan pertanian = 63,03
Berdasarkan pengukuran diperoleh Capaian IKU Tingkat Pemenuhan Prasarana
Pertanian tahun 2021 sebesar 55,69%, atau terealisasi 99,16% dari target yang
ditetapkan (berhasil). Capaian ini mengalami peningkatan 3,90% dari tahun 2020.
Sedangkan apabila dibandingkan dengan target akhir jangka menengah tahun 2024
sebesar 58,01%, maka telah terealisasi 95,89%. Oleh karena itu, kinerja tahun 2021 ini

75

Kementerian Pertanian 2022 79


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

perlu ditingkatkan di tahun mendatang. Hasil perhitungan capaian kinerja tingkat


pemenuhuan prasarana pertanian dapat dilihat pada Tabel 22.
Tabel 22. Capaian Kinerja Tingkat Pemenuhan Prasarana Pertanian
Capaian
Target Realisasi
Indikator Kinerja Kinerja Katagori
2021 2021
2021
Tingkat Pemenuhan Prasarana 56.16 % 55.69 % 99.16 % Berhasil
Pertanian
1.1. Tingkat pemenuhan 34.62 % 34.09 % 98.47 % Berhasil
pengairan lahan pertanian
1.2. Tingkat Pemenuhan 66.98 % 62.93 % 93.95 % Berhasil
Ketersediaan Lahan
Pertanian
1.3. Tingkat pemenuhan 56.95 % 70.05 % 123.00 % Sangat
pembiayaan dan Berhasil
perlindungan usaha
pertanian

1. Tingkat Pemenuhan Pembiayaan dan Perlindungan Usaha Pertanian.


Tingkat pemenuhan pembiayaan dan perlindungan usaha pertanian pada Tahun
2021, disimpulkan sangat berhasil yaitu dari target 56,95%, tercapai 70,05% atau
sebesar 123%. Capaian tersebut secara rinci dapat dilihat pada Tabel 23 yang hasil
perhitungannya diperoleh melalui capaian indikator beberapa aktivitas kegiatan,
dengan rumus perhitungan sebagai berikut :

𝑐𝑐 𝑑𝑑 400.000 100.000
+
𝑎𝑎 𝑒𝑒 𝑓𝑓 1.901 + 276 1.492.789 + 9.895.286
+ +
𝑥𝑥 = 𝑏𝑏 2 𝑥𝑥100% = 1.725 2 𝑥𝑥100% = 70,05
2 2

Keterangan :
x = Identifikasi tingkat pemenuhan pembiayaan dan perlindungan usaha pertanian
a = Jumlah pelaku usaha pertanian yang mendapatkan akses pembiayaan melalui kredit
program dan fasilitasi pembiayaan = 1.901 pelaku usaha
b = Jumlah pelaku usaha pertanian yang mendapatkan akses permodalan dari private
sector = 276 pelaku usaha
c = Jumlah luas lahan pertanian yang terlindungi asuransi pertanian = 400.000 ha
d = Jumlah ternak yang terlindungi asuransi pertanian = 100.000 ekor
e = Total luas lahan pertanian berpotensi terkena puso (Total luas lahan pertanian dengan
besaran senilai 1.492.789 merupakan asumsi lahan yang terkena puso 10% dari hasil
perkalian luas lahan sawah total nasional (7.463.948 ha) dengan jumlah musim tanam
per tahun (2 kali) atau IP 200 dengan. Data luas lahan sawah nasional berdasarkan
data kementerian ATR/BPN tahun 2019)
f = Total ternak sapi/kerbau betina yang umur ≥ 1 th dan masih berproduksi. Data
diperoleh dari penjumlahan total ternak kerbau, ternak sapi perah dan sapi potong yang
berumur ≥ 1 th dikali 50% yang merupakan representasi dari jumlah ternak betina
(Data Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan)

76

80 Kementerian Pertanian 2022


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

Tabel 23. Capaian Indikator Beberapa Aktivitas Kegiatan Pendukung Pemenuhan


Pembiayaan dan Perlindungan Usaha Pertanian
Sasaran Kegiatan Indikator Kinerja Target Realisasi % Capaian Kategori
penyediaan Tingkat Pemenuhan Prasarana Pertanian
prasarana dan Tingkat Pemenuhan Pembiayaan dan 56.95% 70.05% 123.00% Sangat
sarana pertanian Perlindungan Usaha Pertanian Berhasil
yang sesuai Jumlah pelaku usaha pertanian yang mendapatkan 1.550 1.901 122.65% Sangat
kebutuhan akses pembiayaan melalui kredit program dan pelaku pelaku Berhasil
fasilitasi pembiayaan usaha usaha
Jumlah pelaku usaha pertanian yang mendapatkan 175 276 157.71% Sangat
akses permodalan dari private sector pelaku pelaku Berhasil
usaha usaha
Jumlah luas lahan yang terlindungi asuransi 400.000 400.000 100.00% Berhasil
pertanian Ha Ha
Jumlah ternak yang terlindungi asuransi pertanian 100.000 100.000 100.00% Berhasil
Ekor Ekor
Sumber: Ditjen PSP, 2021

Berdasarkan Tabel 23 dapat dilihat bahwa pencapaian tersebut diperoleh dari:


a. Jumlah pelaku usaha pertanian yang mendapatkan akses pembiayaan melalui
kredit program dan fasilitasi pembiayaan adalah sebanyak 1.901 pelaku usaha
dibanding target 1.550 pelaku usaha;
b. Jumlah pelaku usaha pertanian yang mendapatkan akses permodalan dari
private sector adalah sebanyak 276 penerima manfaat yang terdiri dari 268
pelaku usaha perorangan dan 8 kelompok dibanding target 175 pelaku usaha;
c. Jumlah luas lahan yang terlindungi asuransi pertanian adalah sebesar 400.000
ha, dibanding target 400.000 ha.
d. Jumlah ternak yang terlindungi asuransi pertanian adalah sebanyak 100.000
ekor, dibandingkan target 100.000 ekor, tercapai sebanyak 100.000 ekor.
Pencapaian tingkat pemenuhan pembiayaan dan perlindungan usaha pertanian
didukung oleh beberapa kegiatan antara lain:
a. Jumlah pelaku usaha pertanian yang mendapatkan akses pembiayaan melalui
kredit program dan fasilitasi pembiayaan diperoleh dari penjumlahan antara
pelaku usaha yang mendapatkan akses pembiayaan melalui kredit program dan
pelaku usaha yang mendapatkan akses pembiayaan melalui fasilitasi
pembiayaan.

Akses pembiayaan melalui kredit program utamanya dilakukan dengan


memfasilitasi petani untuk mendapatkan Kredit Usaha Rakyat (KUR), sedangkan
akses pembiayaan melalui fasilitasi pembiayaan dilakukan dengan memfasilitasi
petani untuk mendapatkan modal usaha dari sumber pembiayaan lainnya
(kredit non program).

77

Kementerian Pertanian 2022 81


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

Realisasi kinerja tahun 2021 untuk indikator jumlah pelaku usaha pertanian
yang mendapatkan akses pembiayaan melalui kredit program dan fasilitasi
pembiayaan tercapai 1.901 pelaku usaha dari target 1.550 pelaku usaha
(122,65%). Hal ini menunjukkan peningkatan dari tahun sebelumnya dengan
peningkatan sebesar 119,66%, sedangkan tahun 2021 capaian yang diperoleh
sebesar 122,65%.
b. Jumlah Pelaku Usaha Pertanian Yang Mendapatkan Akses Permodalan Dari
Private Sector.

Private sector mempunyai kewajiban untuk melaksanakan tanggung jawab


sosial dan lingkungan melalui Program Usaha Mikro Kecil (PUMK) atau Program
Tanggung Jawab Sosial Lingkungan (TJSL) dimana mereka memberikan
sebagian keuntungannya untuk kegiatan-kegiatan kemasyarakatan ataupun
sosial. PUMK adalah dana yang dialokasikan oleh perusahaan yang berasal dari
keuntungan perusahaan yang kemudian diperuntukkan untuk kegiatan
tanggung jawab social dan lingkungan yang dapat diakses secara pinjaman oleh
pelaku usaha mikro dan kecil dengan bunga 6% per tahun. PUMK ini adalah
salah satu sumber pembiayaan kegiatan sektor pertanian. Pada tahun 2021
private sector yang disasar dalam rangka pencapaian indikator kinerja adalah 5
(lima) BUMN yang senantiasa menyalurkan PUMK/TJSL untuk sektor pertanian.
Jumlah pelaku usaha pertanian yang mendapatkan akses permodalan dari
private sector diperoleh dari pengurangan komponen jumlah pelaku usaha
pertanian yang ditolak pengajuan permodalan oleh private sector dari
komponen jumlah pelaku usaha pertanian yang mengajukan akses permodalan
dari private sector.
Realisasi kinerja tahun 2021 untuk indikator jumlah pelaku usaha pertanian
yang mengajukan akses permodalan dari private sector adalah sebanyak 276
pelaku usaha yang terdiri dari 268 pelaku usaha dan 8 kelompok yang
mengajukan permohonan modal kepada private sector dari target 175 pelaku
usaha dan dari permohonan tersebut tidak ada yang ditolak. Sehingga capaian
kinerja untuk indikator ini adalah 157,71%.
Pada tahun 2021 terdapat ada 5 (lima) BUMN yang menjadi sumber permodalan
bagi 276 pelaku usaha dan kelompok yang memiliki usaha di bidang pertanian:
(1) PT. Petrokomia Gresik menyalurkan PUMK/TJSL (139 orang pelaku usaha);
(2) PT. Pupuk Kujang telah menyalurkan pinjaman modal usaha PUMK/TJSL (58
orang Pelaku Usaha); (3) PT. Pertamina menyalurkan PUMK/TJSL (68 orang
pelaku usaha); (4) PT. Sriwijaya Palembang menyalurkan PUMK/TJSL (3 orang
pelaku usaha); dan (5) PT. Jasindo telah menyalurkan PUMK/TJSL (8
kelompok).
Persentase capaian indikator kinerja jumlah pelaku usaha pertanian yang
mendapatkan akses permodalan dari private sector dari tahun 2020 ke tahun

78

82 Kementerian Pertanian 2022


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

2021 meningkat dari 100% (berhasil) menjadi 157,71% (sangat berhasil). Hal
ini terjadi karena dilakukannya sosialisasi sumber pembiayaan alternatif ini
melalui kegiatan apresiasi pemberdayaan permodalan dan asuransi pertanian,
sehingga walaupun target indikator kinerja meningkat dari 150 pelaku usaha
pada tahun 2020 menjadi 175 pada tahun 2021 namun target tetap terlampaui.
Untuk mencapai indikator kinerja jumlah pelaku usaha pertanian yang
mendapatkan akses permodalan dari private sector dilaksanakan melalui
fasilitasi pertemuan berupa apresiasi Permodalan dan Asuransi Pertanian untuk
mengakses pinjaman/ bantuan modal;
c. Asuransi Usaha Tanaman Padi (AUTP) dan Asuransi Usaha Ternak Sapi/Kerbau
(AUTS/K).

Asuransi pertanian merupakan pengalihan risiko yang dapat memberikan ganti


rugi akibat kerugian usahatani sehingga keberlangsungan usahatani dapat
terjamin. Melalui asuransi usahatani padi memberikan jaminan terhadap
kerusakan tanaman akibat banjir, kekeringan, serta serangan hama dan
penyakit tumbuhan atau organisme pengganggu tumbuhan (OPT), sehingga
petani akan memperoleh ganti rugi sebagai modal kerja untuk keberlangsungan
usahataninya.
Secara umum aktivitas AUTP berkontribusi dalam mendukung program
swasembada pangan dengan melakukan mitigasi gagal panen dari usaha tani
padi yang terealisasi seluas 400.000 Ha (100%) pada tahun 2021, dan telah
disalurkan kepada 1.367.678 orang petani, pada 22 provinsi dan 201
kabupaten/kota. Sedangkan aktivitas AUTS/K berkontribusi dalam mendukung
program swasembada daging melalui mitigasi terjadinya kerugian peternak
sapi/kerbau akibat mati dan atau kehilangan yang terealisasi sejumlah 100.000
ekor sapi (100%) dari 43.670 orang peternak, yang mencakup 28 provinsi dan
258 kabupaten/kota pada tahun 2021. Kegiatan AUTS/K mulai dilaksanakan
sejak tahun 2016 dengan total capaian jumlah sapi yang dilindungi asuransi
hingga tahun 2021 sebanyak 560.694 ekor

2. Tingkat pemenuhan pengairan lahan pertanian.


Lahan pertanian adalah lahan yang ditujukan atau cocok untuk dijadikan lahan
usaha tani dalam rangka memproduksi baik tanaman maupun hewan ternak. Lahan
pertanian yang dimaksud meliputi: lahan pertanian tanaman pangan, hortikultura,
perkebunan dan peternakan.
Pengairan yang dimaksud adalah lahan pertanian mendapatkan suplai air. Jika
belum terdapat data terkait kebutuhan jaringan irigasi, maka dapat digunakan
asumsi dengan menggunakan jumlah irigasi per luas tanam sebagai dasar
perhitungan. Suplai air bisa didapatkan dari hasil rehabilitasi jaringan irigasi,

79

Kementerian Pertanian 2022 83


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

pengembangan embung pertanian, dan pengembangan sumber air yang dilakukan


oleh Kementerian Pertanian.

Untuk menghitung capaian indikator Tingkat pemenuhan pengairan lahan pertanian


digunakan rumus sebagai berikut :
𝑎𝑎 3.771.448 + 287.180
𝑥𝑥 = 𝑥𝑥 100% = 𝑥𝑥 100%
𝑏𝑏 11.904.564
4.058.628
= 𝑥𝑥 100% = 34,09
11.904.564
Keterangan :
x = Indentifikasi Tingkat Pemenuhan lahan pertanian yang mendapat suplay pengairan
a = Identifikasi total luas lahan yang mendapat suplai air melalui jaringan irigasi baik melalui
rehabilitasi jaringan irigasi, pengembangan sumber air dan pengembangan embung
pertanian th.2015 sd 2020+2021 (Ha)
b = Identifikasi total kebutuhan pengairan berdasarkan luas lahan seluas 11.904.564 ha
terdiri atas luas lahan sawah irigasi seluas 4.755.054 ha, luas sawah non irigasi seluas
3.337.729 ha dan luas lahan tegal/kebun seluas 3.811.781 ha

Capaian Tingkat pemenuhan pengairan lahan pertanian tercapai 34,09% dari target
sebesar 34,62% atau 98,47%. Capaian dimaksud diperoleh dari Data Realisasi
Kegiatan : a) Rehabilitasi jaringan irigasi th. 2015-2020 seluas 3.396.633 ha, b)
Pengembangan sumber air th. 2015-2020 sebanyak 13.322 unit atau konversi seluas
266.440 ha, c) Embung pertanian th. 2015-2020 sebanyak 4.335 unit atau konversi
seluas 108.375 ha, d) irigasi pertanian tahun 2021 seluas 287.180 ha.
Pencapaian tingkat pemenuhan pengairan lahan pertanian didukung oleh beberapa
kegiatan antara lain:
a. Rehabilitasi Jaringan Irigasi Tersier (RJIT) Pertanian
RJIT merupakan kegiatan perbaikan/ penyempurnaan jaringan irigasi guna
mengembalikan/meningkatkan fungsi dan pelayanan irigasi seperti semula
sehingga menambah luas areal tanam dan/atau meningkatkan intensitas
pertanaman (IP). Dengan direhabilitasinya jaringan irigasi tersier, diharapkan
manfaatnya/dampaknya dapat meningkatkan intensitas pertanaman (IP). Pada
tahun 2021 untuk mewujudkan pelaksanaan kegiatan Rehabilitasi Jaringan
Irigasi Tersier, dialokasikan anggaran untuk dana Tugas Pembantuan dan
Anggaran Belanja Tambahan Pemulihan Ekonomi Nasional (ABT PEN) sebesar
Rp386.235.000.000,00 dengan realisasi keuangan sebesar
Rp386.235.000.000,00 (100,00%) dan realisasi fisik sebesar 100%. Serta
dialokasikan anggaran untuk kegiatan pilot percontohan Rehabilitasi Jaringan
Irigasi Tersier sebesar Rp525.337.000,00 dengan realisasi keuangan sebesar
Rp475.000.000,00 (90,42%) dan realisasi fisik sebesar 100%. Disamping itu,
terdapat pengalokasian anggaran untuk normalisasi saluran irigasi dari sumber
anggaran dana Bangunan Konservasi Air dan Antisipasi Anomali Iklim sebesar
Rp86.400.000,00 dengan realisasi keuangan sebesar Rp86.400.000,00 (100%)

80

84 Kementerian Pertanian 2022


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

dan realisasi fisik sebesar 100%.


Hasil yang dicapai adalah tercapainya jumlah luas areal sawah yang jaringan
irigasinya direhabilitasi atau ditingkatkan fungsinya melalui kegiatan rehabilitasi
jaringan irigasi di 31 Provinsi dan 317 Kabupaten seluas 5.156 unit atau seluas
257.800 Ha (100,00%) dari target 5.156 unit atau seluas 257.800 Ha. Capaian
ini diperoleh dari kegiatan RJIT melalui dana Tugas Pembantuan sebanyak
4.380 unit atau seluas 219.000 Ha, dana Bantuan Pemerintah Pusat melalui
kegiatan Padat Karya Produktif Infrastruktur Irigasi sebanyak 6 unit atau seluas
300 Ha dan RJI ABT sebanyak 770 unit atau seluas 38.500 Ha. Gambar 16
menunjukkan salah satu kegiatan pengembangan jaringan irigasi yang
dilaksanakan di Pro. Sulawesi Selatan.
Kondisi
Kondisi 50%
Kondisi

Gambar 16. Kegiatan Pengembangan Jaringan Irigasi Tahun 2021 pada Poktan
Nusa Indah di Kecamatan Rilauale, Kabupaten Bulukumba, Prov.
Sulawesi Selatan
b. Pengembangan Sumber Air untuk Tanaman Pangan, Perkebunan, Hortikultura
dan Peternakan
Pengembangan sumber air untuk penambahan areal tanaman pangan,
perkebunan, hortikultura peternakan satu bentuk upaya pengembangan
sumber air irigasi untuk usaha pertanian. Kegiatan ini dikembangkan melalui
kegiatan irigasi perpompaan dan irigasi perpipaan yang dimaksudkan untuk
meningkatkan intensitas pertanaman (IP) sebesar 0,5 pada lahan sawah serta
meningkatkan ketersediaan air sebagai suplesi pada lahan pertanian. Hal ini
perlu dilakukan mengingat beragamnya kondisi dan potensi daerah, yang
berdampak pada beragamnya perkembangan teknologi irigasi yang
berkembang di setiap daerah.
Alokasi kegiatan pengembangan sumber air yang dibangun Tahun Anggaran
2021 sebesar Rp100.447.988.000,00 dengan realisasi anggaran sebesar
Rp99.754.872.735,00 (99,31%), dan realisasi fisik 100%.
Total anggaran yang dilalokasikan untuk kegiatan Pengembangan Sumber Air
Tahun 2021 melalui dana Tugas Pembantuan sebanyak 838 unit, terdiri dari
irigasi perpompaan sebanyak 688 unit yang tersebar yang tersebar di 32

81

Kementerian Pertanian 2022 85


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

propinsi dan 280 kabupaten, irigasi perpipaan sebanyak 150 unit yang tersebar
di 22 propinsi dan 95 kabupaten, dan pengembangan sumber air melalui dana
Bantuan Pemerintah Pusat dengan program Bangunan Konservasi Air dan
Antisipasi Anomali Iklim sebanyak 134 unit yang tersebar di 11 provinsi dan 36
kabupaten dengan anggaran sebesar Rp15.[Link],00. Gambar 17
menunjukkan salah satu kegiatan Kegiatan Irigasi Perpompaan yang
dilaksanakan pada Tahun 2021

Bak Penampung
Rumah Pompa
Mesin Pompa

Gambar 17. Kegiatan Irigasi Perpompaan Tahun 2021 pada Poktan Karya Jaya,
Desa Mangunjawa, Kecamatan Mangunjaya, Kabupaten
Pangandaran, Prov. Jawa Barat
c. Konservasi Air dan Lingkungan Hidup melalui pengembangang embung
pertanian/long storage/dam parit.
Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan dan mempertahankan ketersediaan
sumber air di tingkat usaha tani sebagai suplesi air irigasi untuk komoditas
pertanian dan mengurangi risiko terjadinya kegagalan panen akibat kekeringan
pada lahan usaha tani di musim kemarau. Pada Tahun 2021 telah dialokasikan
anggaran Kegiatan Pengembangan Embung Pertanian dari dana Tugas
Pembantuan sebesar Rp48.120.000.000,00 (Rp120.000.000,00/unit) dengan
realisasi anggaran sebesar Rp48.120.000.000,00 dan realisasi fisik sebesar
100% yaitu terbangunnya embung pertanian sebanyak 401 unit yang tersebar
32 propinsi 242 kabupaten dan sebanyak 96 unit dari dana Bantuan Pemerintah
Pusat melalui program Bangunan Konservasi Air dan Antisipasi Anomali Iklim
sebanyak 96 unit dengan anggaran Rp11.931.400.000,00 yang tersebar di 11
provinsi 21 kabupaten. Gambar 18 menunjukkan salah satu kegiatan
Pengembangan Embung Pertanian pada Tahun 2021.

82

86 Kementerian Pertanian 2022


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

Gambar 18. Pengembangan Embung Pertanian pada Poktan Tunas Taruna,


Desa Gedongjetis, Kecamatan Tulung, Kabupaten Klaten, Prov.
Jawa Tengah

3. Tingkat Pemenuhan Ketersediaan Lahan Pertanian


Lahan pertanian adalah lahan yang ditujukan atau cocok untuk dijadikan lahan
usaha tani dalam rangka memproduksi baik tanaman maupun hewan ternak. Lahan
pertanian yang dimaksud meliputi: lahan pertanian tanaman pangan, hortikultura,
perkebunan dan peternakan. Ketersediaan lahan berasal dari kegiatan optimasi,
rehabilitasi dan perluasan areal baru.
Untuk menghitung capaian indikator Tingkat pemenuhan pengairan lahan pertanian
digunakan rumus sebagai berikut :
𝑎𝑎 7.463.948 + 2.840,92
𝑥𝑥 = 𝑥𝑥 100% = 𝑥𝑥 100%
𝑏𝑏 11.865.087
7.466.789
= 𝑥𝑥 100% = 62,93
11.865.087

Keterangan :
x = Identifikasi tingkat pemenuhan ketersediaan lahan pertanian
a = Total luas lahan pertanian yang tersedia saat ini adalah dalam ukuran (ha) dan
berdasarkan perhitungan data luas lahan baku sawan (BPN 2020) seluas 7.463.948 ha,
ditambah luas area realisasi kegiatan ekstensifikasi lahan olah tanah seluas 2.840,92
ha.
B = Jumlah kebutuhan lahan padi berdasarkan target produksi pada Komoditas Padi yang
diperoleh dari asumsi kebutuhan berdasarkan luas target luas tanam Direktorat
Jenderal Tanaman Pangan dan data perencanaan seluas 11.865.087 ha.

Kegiatan ekstensifikasi merupakan suatu usaha penambah luas lahan sawah pada
berbagai tipologi lahan yang belum pernah diusahakan, lahan terlantar, bero untuk
pertanian dengan sistem sawah. Kegiatan ekstensifikasi diharapkan dapat

83

Kementerian Pertanian 2022 87


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

menambah luas baku lahan sawah dan sekaligus sebagai penyeimbang laju alih
fungsi lahan yang semakin marak.
Pada Tahun 2021, pelaksanaan pekerjaan ekstensifikasi lahan sawah mendukung
Food Estate ini dilakukan dengan pola swakelola dengan instansi pemerintah lain
(IPL) yaitu Korem 012/Panju Panjung.
Sasaran kegiatan ini adalah terealisasinya kegiatan ekstensifikasi lahan sawah seluas
16.643 Ha (Kabupaten Kapuas 12.769 Ha dan Pulang Pisau seluas 3.874 Ha) dengan
alokasi anggaran konstruksi sebesar Rp266.299.200.000,-. Kegiatan ini terealisasi
(land clearing dan land levelling) seluas 15.502,76 Ha atau sebesar 93,15% dengan
olah tanah seluas 2.840,92 ha atau 17,07%. Tertundanya penyelesaian fisik di
lapangan, terutama dalam pengolahan tanah, disebabkan masuknya musim hujan
yang menyebabkan lokasi ekstensifikasi lahan pada lahan rawa mengalami
kebanjiran. Tindaklanjut penyelesaian fisik dilapangan oleh pelaksana dan petani
sampai tanam akan di lakukan setelah banjir surut. adanya perpanjangan waktu
penyelesaian konstrukksi ekstensifikasi lahan dari 31 Desember 2021 menjadi
Februari 2022 (surat kesepakatan antara KPA, PPK, dan Pelaksana Kegiatan).
Sedangkan realisasi keuangan sebesar Rp266.298.560.000,- atau 100 % dari
kontrak kegiatan konstruksi ekstensifikasi lahan sawah.
Dalam rangka mewujudkan ketahanan dan kedaulatan pangan perlu
diselenggarakan pembangunan pertanian berkelanjutan. Perlindungan Lahan
Pertanian Pangan Berkelanjutan sebagaimana diatur dalam Undang Undang No. 41
Tahun 2009, merupakan implementasi dari Konstitusi Nasional Indonesia Pasal 20,
Pasal 21, Pasal 27 ayat (2), Pasal 28A, Pasal 28C, dan Pasal 33 Undang-Undang
Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Kemudian diimplementasi lebih lanjut
oleh Peraturan Pemerintah No. 1 Tahun 2011 Tentang Penetapan dan Alih Fungsi
Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan. Mengingat masalah alih fungsi lahan
pertanian pangan, terutama lahan pertanian (sawah) ke lahan non pertanian sawah
dimana setiap tahun terjadi konversi lahan.
Hilangnya lahan pertanian produktif ini apabila tidak dikendalikan akan mengganggu
kelangsungan produksi yang akhirnya bisa menyebabkan terancamnya ketahanan
pangan, baik itu ketahanan pangan daerah maupun nasional. Selain fungsi pasokan
produksi, lahan pertanian juga mempunyai berbagai fungsi lain yaitu sebagai
penyedia dan pembuka lapangan kerja, fungsi lingkungan dan fungsi wilayah
tangkapan air (water catchment area). Terjadinya alih fungsi lahan pertanian ini
menyebabkan hilangnya fungsi-fungsi lain tersebut. Oleh karena itu, penetapan
lahan pertanian pangan berkelanjutan dan pengaturan alih fungsi lahan pertanian
pangan merupakan salah satu kebijakan yang sangat strategis.
Pada tahun 2021, dialokasikan anggaran Rekomendasi Perlindungan dan
Pengendalian Alih Fungsi Lahan Pertanian dialokasikan melalui dana Pusat dan
dekonsentrasi pada 47 kabupaten dalam 8 provinsi. Realisasi keuangan sebesar
Rp28.291.076,338,00 atau 92,4% dari total anggaran.

84

88 Kementerian Pertanian 2022


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

Pada Tahun 2021, berdasarkan rekapitulasi penetapan LP2B dalam Perda RTRW
Kabupaten/Kota maupun dalam Perda Khusus PLP2B, sebanyak 535
Kabupaten/Kota telah menetapkan Perda RTRW. Dari jumlah tersebut, 267
Kabupaten/Kota telah menetapkan LP2B dalam Perda RTRW dan 268
Kabupaten/Kota belum menetapkan LP2B dalam Perda RTRW. Gambar 19
menunjukkan salah satu kegiatan ekstensifikasi (land clearing) Tahun 2021 di Prov.
Kalimantan Tengah.

Gambar 19. Dokumentasi Kegiatan Ekstensifikasi (Land Clearing) tahun 2021 di


Lokasi Terusan Raya Barat, Kecamatan Bataguh, Kabupaten Kapuas,
Prov. Kalimantan Tengah

85

Kementerian Pertanian 2022 89


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

SS 1. IKU 10
Tingkat Kemanfaatan Sarana Produksi Pertanian

Target Realisasi
86,69% 92,11%

% Capaian
106,25%
Sangat Berhasil

Indikator ini untuk mengetahui pemanfaatan sarana produksi pertanian yang sudah
disalurkan ke kelompok tani/gabungan kelompok tani penerima manfaat. Berdasarkan
UU Nomor 22 Tahun 2019 tentang Sistem Budi Daya Pertanian Berkelanjutan, sarana
Budi Daya Pertanian adalah segala sesuatu yang dapat dipakai sebagai alat dan/atau
bahan yang dibutuhkan untuk budi daya Pertanian. Sarana tersebut meliputi benih
tanaman dan benih hewan atau bibit hewan; pupuk, pestisida, pakan dan alsintan.
Tingkat kemanfaatan sarana produksi pertanian secara keseluruhan dihitung dengan
rumus:
∑(tingkat kemanfaatan sarana produksi pertanian)
∑eselon I yang melaksanakan pengukuran tingkat kemanfaatan sarana produksi pertanian

Realisasi indikator Tingkat Kemanfaatan Sarana Produksi Pertanian diperoleh dari rata-
rata tingkat kemanfaatan sarana pertanian di Eselon I yang melaksanakan fasilitasi
sarana pertanian, yaitu Ditjen Hortikutura, Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan,
serta Ditjen Prasarana dan Sarana Pertanian.
Pada era Pemerintahan [Link]’ruf, penerapan mekanisasi pertanian meningkat
sangat signifikan jumlahnya. Penerapan mekanisasi pertanian dalam jumlah banyak ini
telah memberikan hasil nyata dalam pertanian Indonesia saat ini. Dampaknya terjadi
penghematan tenaga kerja sebanyak 70-80%, penghematan biaya produksi 30-40%,
peningkatan produksi 10-20%, dan penurunan kehilangan hasil saat panen dari 20%
menjadi 10%.
Penggunaan mekanisasi pertanian dalam setiap aspek proses produksi merupakan
bentuk transformasi pertanian modern dan mutlak harus dilakukan. Transformasi ke
arah pertanian modern menjadi penting karena akan mendorong peningkatan
produktivitas, efisien dalam penggunaan sumberdaya dan teknologi, serta mampu
menghasilkan output yang berkualitas, bernilai tambah dan berdaya saing tinggi.
Fasilitasi alat dan mesin pertanian (alsintan) diharapkan mampu mendukung
peningkatan produksi melalui peningkatan produktivitas, efisiensi kerja, dan peningkatan
kualitas. Pemanfaatan bantuan yang telah disalurkan harus terukur dan hasilnya dapat
dijadikan masukan untuk perbaikan ke depan.

86

90 Kementerian Pertanian 2022


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

Untuk dapat mengetahui pemanfaatan bantuan sarana produksi pertanian yang sudah
disalurkan ke kelompok tani/gabungan kelompok tani penerima manfaat oleh
Kementerian Pertanian, maka perlu dilakukan pengukuran tingkat kemanfaatan sarana
pertanian.
Pengukuran tingkat kemanfaatan sarana pertanian ini dilakukan melalui survei secara
online (menggunakan kuesioner online) maupun survei secara langsung di lapangan
kepada penerima bantuan alat dan mesin pertanian tahun 2020 dan 2021. Sampel
sarana produksi tersebut diambil dari berbagai Provinsi dan Kabupaten di Indonesia.
Akan tetapi, khusus untuk sarana pertanian pupuk dan pestisida pengukuran dilakukan
dengan perbandingan antara pupuk dan pestisida yang terdistribusi dengan kebutuhan
pupuk dan pestisida.
Berdasarkan cara pengukuran, capaian indikator Tingkat Kemanfaatan Sarana Pertanian
adalah sebesar 91,84%% atau terealisasi sebesar 105,94% (sangat berhasil). Apabila
dibandingkan dengan target jangka menengah sebesar 86,9% maka capaian tahun 2021
ini telah melampaui dengan realisasi 105,68%. Oleh karena itu, kinerja tahun 2021 perlu
dipertahankan bahkan ditingkatkan di tahun mendatang.
Indikator kinerja Tingkat Kemanfaatan Sarana Pertanian merupakan Indikator kinerja
yang termuat dalam Revisi II Renstra Kementerian Pertanian Tahun 2021, yang
dijabarkan lebih rinci pada Renstra Ditjen Prasarana dan Sarana Pertanian. Pengukuran
terhadap indikator kinerja tingkat kemanfaatan sarana produksi pertanian baru
dilaksanakan pada tahun 2021, sehingga hasil pengukuran Tahun 2021 tidak dapat
dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
Sarana produksi pertanian yang difasilitasi oleh Kementerian Pertanian meliputi sarana
pupuk dan pestisida, sarana produksi hortikultura, sarana produksi peternakan dan
kesehatan hewan, serta sarana produksi pertanian prapanen. Capaian tingkat
kemanfaatan saranan pertanian tahun 2021 terlihat pada Tabel 24.
Tabel 24. Capaian Kinerja Tingkat Kemanfaatan Sarana Pertanian Tahun 2021
Tingkat
Jenis Sarana Produksi Pertanian
Kemanfaatan (%)
Fasilitasi Sarana Produksi Hortikultura 88,41%
Fasilitasi Alsintan Pasca Panen Pangan Hewani Asal Ternak 98,42%
Alsintan Pra Panen 89,51%
Total [Link] Sarana Pertanian 92,11%
Sumber: Ditjen PSP, Ditjen Hortikultura, dan Ditjen PKH, 2021

Keberhasilan pencapaian indikator tingkat kemanfaatan sarana pertanian didukung oleh


kemanfaatan dari fasilitasi sarana produksi pertanian, yaitu sebagai berikut:
1. Kemanfaatan Fasilitasi Sarana Produksi Hortikultura
Pengembangan hortikultura memerlukan ketersediaan dan penggunaan benih
bermutu varietas unggul. Penggunaan benih bermutu varietas unggul salah satu

87

Kementerian Pertanian 2022 91


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

faktor penting yang berperan dalam menghasilkan produk bermutu dan berdaya
saing yang dicirikan antara lain oleh produk dengan produktivitas tinggi, mutu hasil
dan efisiensi usaha tani.
Penggunaan benih bermutu dari varietas unggul sudah menjadi kebutuhan dalam
berbudidaya, namun demikian penggunaan benih bermutu pada sebagian
petani/masyarakat masih terbatas atau bahkan belum mengetahui varietas unggul
dan manfaatnya. Hal ini disebabkan oleh beberapa hal yaitu antara lain terbatasnya
ketersediaan benih bermutu, penyediaan benih bermutu memerlukan waktu,
kekurangtahuan masyarakat terhadap manfaat penggunaan benih bermutu dan
masih terlalu tingginya harga benih bermutu. Kondisi tersebut membuat
petani/masyarakat masih ada yang menggunakan benih yang dibuat sendiri tanpa
diketahui asal usul benih sumbernya dan digunakan berulang-ulang, sehingga
tentunya mutu benih tersebut semakin lama semakin menurun dan kemungkinan
besar tidak dapat memberikan hasil yang memuaskan.
Pada Tahun 2021 Kementerian Pertanian telah memfasilitasi bantuan benih
hortikultura kepada kelompok tani, organisasi masyarakat dan perguruan tinggi yang
tersebar di 32 provinsi, 186 kabupaten/kota dan 2.624 kelompok tani penerima
bantuan. Adapun benih yang diberikan yaitu sebagai berikut:
a. Benih buah (jeruk, lengkeng, mangga, manggis, durian, salak, pisang dan
alpukat)
b. Benih sayuran (cabai, kangkung, sawi hijau, kacang panjang, mentimun,
kentang, bawang merah dan bawang putih)
c. Benih tanaman obat (jahe dan kunyit).
Tingkat kemanfaatan benih dilakukan dengan Survei melalui pemilihan sampel
dengan metode purposive sampling dari 168 kabupaten penerima bantuan dilakukan
Survei dengan responden 67 kabupaten, dari penerima bantuan 2.624 kelompok tani
dilakukan survei pada 273 kelompk tani (10,40 %).
Aspek yang ditanyakan pada Survei tingkat kemanfaatan benih yaitu aspek : 1)
jumlah/volume benih yang diterima sudah mencukup kebutuhan/target tanam, 2)
jenis benih yang diterima sudah sesuai dengan yang diminta, 3) varietas benih yang
diterima sudah sesuai dengan yang diminta, 4) waktu serah terima benih sudah
sesuai dengan jadwal tanam, 5) kondisi benih saat diterima, 6) apakah benih yang
diterima sudah ditanam, 7) kondisi benih yang sudah ditanam, 8) apakah bantuan
benih mengurangi biaya produksi, 9) kepuasan terhadap benih yang diberikan, 10)
hasil panen dari bantuan benih yang diberikan, 11) apakah akan terus melanjutkan
usaha budidaya jika tidak ada bantuan dari pemerintah.
Dari hasil Survei 88,41 % responden menyatakan bantuan benih yang diterima
bermanfaat. Tingkat kemanfaatan bantuan benih yang diberikan ini melebihi dari
target yang ditetapkan yaitu sebesar 85%, namun demikian kedepan tingkat
kemanfaatan bantuan benih ini akan terus ditingkatkan agar bantuan benih yang
diberikan dapat memberikan kontribusi pada peningkatan produksi dan daya saing

88

92 Kementerian Pertanian 2022


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

produk hortikultura serta dapat meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan


petani/masyarakat.
2. Fasilitasi Alsintan Pasca Panen Pangan Hewani Asal Ternak
Tingkat kemanfaatan sarana-prasarana laboratorium Kesehatan hewan dilakukan
dengan menggunakan kuesioner yang didistribusikan ke 8 UPT Veteriner. Tingkat
kemanfaatan sarana prasarana untuk hijauan pakan ternak dan pakan olahan
dilakukan dengan monitoring ke kelompok penerima manfaat menggunakan
kuisioner, sedangkan tingkat kemanfaatan sarana prasarana Kesmavet dan
Perbibitan dan Produksi Ternak menggunakan kuesioner yang diberikan ke Dinas
Provinsi yang menangani fungsi peternakan dan kesehatan hewan yang menerima
bantuan. Rinciaan capaian kemanfaatan sarana produksi asal ternak dapat dilihat
pada tabel 25 dan kegiatan kegiatan di salah satu rumah potong hewan dapat dilihat
pada Gambar 20.
Tabel 25. Capaian kemanfaatan sarana produksi asal ternak
Jumlah Sarana Sarana
Jumlah Tingkat
Jenis Sarana Produksi Produksi Pertanian Yang
Sampel Kemanfaatan
Pertanian Pertanian yang Termanfaatkan
(Unit) (%)
Disalurkan (Unit) (Unit)
Sub Sektor Peternakan dan Kesehatan Hewan 98,42%

Sarana prasarana Hijauan


30 30 30 100%
Pakan Ternak
Sarana prasarana pakan
2 2 2 100,00%
olahan
Container Semen Beku 281 281 281 100,00%
Sarana Prasarana
349 349 349 92,10%
Laboratorium Veteriner
Sarana prasarana RPH 1 1 1 100%

Keberhasilan kinerja tingkat kemanfaatan sarana pertanian dipengaruhi oleh


beberapa hal sebagai berikut:
a. Bantuan sarana produksi peternakan dan kesehatan hewan yang diberikan
sesuai dengan permintaan dan pengajuan proposal dari dinas provinsi,
kelompok, dan laboratorium veteriner;
b. Penerima bantuan sarana produksi peternakan dan kesehatan hewan pada
Direktorat Pakan merupakan kelompok tani sasaran yang telah ditetapkan
berdasarkan SK CP/CL.
c. Adanya koordinasi yang optimal antara satker provinsi, kabupaten/kota dengan
pusat, sehingga kegiatan bisa terlaksana dengan baik.
d. Penyelenggaraan bimbingan teknis (bimtek): a) bimtek untuk peningkatan
sistem mutu laboratorium (ISO SNI 17025); b) bimtek penggunaan peralatan
pengujian laboratorium; c) bimtek pakan olahan; d) bimtek kesmavet.

89

Kementerian Pertanian 2022 93


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

Gambar 20. Kegiatan di Salah Satu Rumah Potong Hewan

3. Kemanfaatan Alsintan Pra Panen


Pengambilan sampel dalam rangka perhitungan pemanfaatan alsintan dilakukan
secara langsung dan tidak langsung. Pengambilan sampel diambil secara acak
dengan cara survei ke lokasi/penerima bantuan baik kelompok tani/gabungan
kelompok tani/UPJA/Pengelola Brigade Dinas Kabupaten/Kota. Pada saat survei
dilakukan wawancara dengan menggunakan kuisioner pengawasan bantuan alat dan
mesin pertanian yang sudah disusun sebelumnya. Survei dilakukan berdasarkan data
CPCL penerima bantuan Alsintan Tahun 2020, untuk enam jenis Alsintan sebanyak
25.529 unit yang secara rinci dapat dilihat pada Tabel 27.
Jumlah sampel alsintan prapanen dihitung dengan menggunakan metode Slovin
dengan tingkat margin error 5%. Rumus Slovin :
𝑁𝑁
𝑛𝑛 =
(1 + (𝑁𝑁 𝑥𝑥 𝑒𝑒 2 )
dimana :
N = Jumlah populasi;
e = tingkat margin error yang digunakan.
Jumlah sampel alsintan prapanen dihitung dengan menggunakan metode Slovin
dengan tingkat margin error 5%, dengan jumlah polulasi sebanyak 25.529 unit
(jumlah bantuan Alsintan TA.2020) maka jumlah sampel setelah dihitung
menggunakan rumus diatas sebanyak 394. Capaian tingkat kemanfaatan alsintan
pra panen secara rinci ditunjukkan pada Tabel 26.

90

94 Kementerian Pertanian 2022


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

Tabel 26. Capaian Tingkat Kemanfaatan Alsintan Pra Panen Tahun 2021
Jumlah Sarana Sarana Pertanian
Jenis Sarana Jumlah Tingkat
Produksi Yang
Produksi Sampel Kemanfaatan
Pertanian yang Termanfaatkan
Pertanian (Unit) (%)
Disalurkan (Unit) (Unit)
Traktor Roda 2 6.666 103 96 93,20%
Traktor Roda 4 1.033 16 16 100,00%
Pompa 7.514 116 96 82,76%
Rice Transplanter 470 7 6 85,71%
Cultivator 2.057 32 27 84,38%
Hand Sprayer 7.789 120 117 97,50%

Sumber: Ditjen Prasarana dan Sarana Pertanian, 2021

Dari target survei sebanyak 394 unit hanya 242 unit atau 61,42 % yang bisa
dilakukan dengan survei langsung. Untuk memenuhi kekurangan sampel tersebut,
maka dilakukan pengumpulan laporan pemanfaatan dari daerah melalui Aplikasi
BAST Online dan kuisioner pengawasan bantuan alsintan TA. 2020 yang telah
disebarkan ke dinas pertanian kabupaten/kota/provinsi. Berdasarkan hasil olah data
kuesioner, diketahui bahwa kemanfaatan alsintan paling rendah adalah pompa air
yaitu 82,76%. Hal ini disebabkan oleh ketersediaaan air yang masih mencukupi.
Berdasarkan wawancara dengan penerima bantuan, pompa air akan digunakan
ketika ketersediaan air sudah mulai menurun yaitu ketika musim kemarau dimulai
sekitar Bulan Agustus 2021 sementara pengambilan data ini sebagian besar
dilakukan sebelum musim kemarau. Tingkat kemanfaatan tertinggi adalah traktor
roda 4 sebesar 100 %. Di lapangan memang traktor roda 4 ini banyak digunakan
oleh petani untuk mengolah lahannya. Keuntungannya antara lain pengolahan lahan
lebih cepat dan effisien sehingga mampu menurunkan waktu dan biaya produksi.
Tahun 2021 Kementerian Pertanian menyediakan alat mesin pertanian prapanen
sebanyak 25.134 unit atau tercapai 100% dari target sebanyak 25.134 unit dengan
realisasi anggaran sebesar Rp686.608.902.913,00 atau tercapai sebesar 99.82%dari
anggaran yang tersedia sebesar Rp687.820.193.000,00. Secara rinci realisasi
kegiatan dapat dilihat pada Tabel 27.
Tabel 27. Realisasi Kegiatan Penyediaan Alat dan Mesin Pertanian Prapanen Tahun
2021

Sumber: Ditjen Prasarana dan Sarana Pertanian, 2021

91

Kementerian Pertanian 2022 95


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

Penggunaan alat dan mesin pertanian telah diketahui secara luas merupakan salah
satu cara upaya terkini dan modern dalam meningkatkan produksi dan efisiensi
usaha tani, mutu dan nilai tambah produk serta kesejahteraan petani. Penggunaan
alat dan mesin pertanian dimaksudkan untuk meningkatkan daya kerja tenaga
manusia dari setiap tahapan dari proses produksi pertanian. Dalam
perkembangannya, penggunaan alsintan telah menjadi kebutuhan penting bagi
petani seperti yang ditunjukkan pada Gambar 21, 22, dan 23.

Transplanter di Klaten, Jateng Pompa di Dadahub, Kalteng

Traktor R4 di Bombana, Sultra Traktor R2 di Konawe Selatan, Sultra

Gambar 21. Dokumentasi Pemanfaatan Alat dan Mesin Pertanian Prapanen di


berbagai Wilayah Tahun 2021

Gambar 22. Bantuan di Gambar 23. Bantuan Alsintan Modern di


Alsintan
Sumbawa Barat, Maret Sinjai, Sumsel, September
2021 2021

92

96 Kementerian Pertanian 2022


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

4. Kemanfaatan Fasilitasi Pupuk dan Pestisida


Pupuk dan Pestisida merupakan sarana produksi yang mempengaruhi produksi
komoditas strategis pertanian. Pupuk membantu dalam meningkatkan indeks
pertanaman serta luas panen yang akhirnya akan mendorong peningkatan produksi.
Penggunaan pestisida diharapkan dapat mengurangi potensi gagal panen akibat
Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) yang pada akhirnya berkontribusi terhadap
luas panen pertanian. Kemanfaatan fasilitasi pupuk dan pestisida diukur berdasarkan
pengelolaan distribusi pupuk termasuk didalamnya adalah pupuk subsidi dan pupuk
non-subsidi (pupuk organik dan pembenah tanah serta pupuk anorganik) serta
distribusi pestisida (pestisida kimia dan pestisida alami). Penyediaan tidak hanya
dalam lingkup mengadakan, namun dalam cakupan yang lebih luas lagi meliputi
bagaimana distribusi, kualitas dan pemanfaatan pupuk dan pestisida oleh petani.
Pupuk dan pestisida yang terdistribusi inilah yang langsung termanfaatkan habis oleh
petani dalam mengolah lahannya.
Untuk menghitung capaian tingkat kemanfaatan fasilitasi pupuk dan pestisida
digunakan rumus sebagai berikut :
𝑎𝑎 + 𝑏𝑏 𝑒𝑒
+
𝑐𝑐 + 𝑑𝑑 𝑓𝑓
𝑥𝑥 = ( ) 𝑥𝑥 100%
2

7.763.001 + (7.468.006 + 23.695.150) 587


+
24.306.418 + (8.296.571 + 26.308.852) 587
= ( ) 𝑥𝑥 100% = 83,04
2


Keterangan :
x = Identifikasi tingkat kemanfaatan distribusi pupuk dan pestisida
a = Identifikasi total pupuk bersubsidi (ton) yang terdistribusi
b = Identifikasi total pupuk non-subsidi (ton) yang terdistribusi
c = Identifikasi total kebutuhan pupuk (ton) bersubsidi
d = Identifikasi total kebutuhan pupuk (ton) non-subsidi
e = Identifikasi total pestisida (ton) yang terdistribusi
f = Identifikasi total kebutuhan pestisida (ton)

a. Pupuk Bersubsidi
Dalam rangka mewujudkan ketahanan pangan dan memenuhi sasaran indikator
produksi beberapa komodiatas pertanian tahun 2021, diperlukan pencapaian
peningkatan produktivitas dan kualitas hasil pertanian melalui penerapan
teknologi budidaya secara tepat dengan penggunaan sarana produksi sesuai
teknologi yang direkomendasikan di masing-masing wilayah. Ketersediaan
pupuk sebagai salah satu sarana produksi yang utama terutama pupuk

93

Kementerian Pertanian 2022 97


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

bersubsidi. Dalam penyalurannya, diharapkan dapat memenuhi azas 6 (enam)


tepat, yaitu : tepat waktu, jumlah, jenis, tempat, mutu dan harga.
Kebutuhan pupuk bersubsidi diperoleh dari usulan kebutuhan Rencana Definitif
Kegiatan Kelompok (RDKK) pada sistem eRDKK per tanggal 22 Januari 2021
sebanyak 24.306.418 Ton (Urea : 5.610.392 Ton, SP-36 : 1.252.069 Ton, ZA :
2.055.846 Ton, NPK : 8.554.884 Ton dan Organik : 6.833.226 Ton).
Pengelolaan pupuk bersubsidi melibatkan berbagai instansi terkait berdasarkan
Keputusan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian No. 305 Tahun 2019
tentang Kelompok Kerja Kebijakan Pupuk Bersubsidi. Pengadaan dan
penyaluran pupuk bersubsidi dilaksanakan sesuai ketentuan Peraturan Menteri
Perdagangan No. 15/M-DAG/Per/4/2013 tentang Pengadaan dan Penyaluran
Pupuk Bersubsidi untuk Sektor Pertanian. Adapun pelaksana penyediaan pupuk
bersubsidi sesuai penugasan Menteri BUMN adalah PT Pupuk Indonesia
(Persero) melalui produsen, distributor dan penyalur di wilayah tanggungjawab
masing-masing, sesuai dengan kemampuan produksi, dengan prinsip efisien
dan efektif.
Penyaluran pupuk bersibsidi dilaksanakan secara tertutup melalui produsen
kepada distributor (penyalur di lini III), Pengecer (penyalur di lini IV) hingga
sampai kepada petani. Penyaluran pupuk kepada petani dilakukan oleh
pengecer resmi berdasarkan data e-rdkk yang dibatasi oleh alokasi pupuk
bersubsidi di wilayah dengan Harga Eceran Tertinggi (HET) sebagaimana
ditetapkan dalam Permentan No. 49 tahun 2020.
Pada tahun 2021, alokasi pupuk bersubsidi adalah sebanyak 8.776.847 ton dan
500.000 liter terdiri dari 7 jenis pupuk dengan realisasi sebanyak 7.763.001 ton
dan 195.769 liter atau 88,45% yang secara rinci dapat dilihat pada Tabel 28.
Sampai dengan Desember 2021, anggaran pupuk subsidi terealisasi sebesar
[Link].894,00 atau 91,80% dari pagu anggaran sebesar
Rp23.[Link],00.
Tabel 28. Rincian alokasi dan Realisasi Pupuk Bersusbsidi Tahun 2021
No Jenis Pupuk Alokoasi Realisasi Capaian
(%)
1 Urea (Ton) 4.166.669 3.502.610 84,06
2 SP-36 (Ton) 500.000 382.28 76,46
3 ZA (Ton) 720.000 676.802 94
4 NPK (Ton) 2.724.000 2.673.836 98,16
5 NPK Formula Khusus 17.000 14.895 87,62
(Ton)
6 Organik Granul (ton) 649.178 512.577 78,96
7 Organik Cair 500.000 195.769 39,15
sebanyak (liter)
Sumber: Ditjen PSP, 2021

94

98 Kementerian Pertanian 2022


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

Gambar 24. Menteri Pertanian Melakukan Inspeksi Dadakan (Sidak) di Gudang


PT Petrokimia dan PT Pupuk Kujang Lini III yang berada di
Indramayu-Jawa Barat, Dalam Rangka Pengecekan Stok
Ketersediaan Pupuk Bersubsidi
Pupuk Bersubsidi adalah barang dalam pengawasan yang pengadaan dan
penyalurannya mendapat subsidi dari Pemerintah untuk kebutuhan Petani di
Sektor Pertanian. Untuk mendukung kegiatan tersebut, Pemerintah
memfasilitasi sistem pendataan petani penerima subsidi pupuk melalui sistem
eRDKK yang merupakan web base berbasis Nomor Induk Kependudukan (NIK).
Data petani penerima subsidi pupuk setiap tahun diperbaharui melalui sistem
e-RDKK tersebut. Alokasi anggaran mendukung layanan e-RDKK dan layanan
verifikasi dan validasi penerima pupuk bersubsidi tahun 2021 melalui dana
Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan, terealisasi Rp134.656.008.051,00 atau
96,66% dari pagu anggaran sebesar Rp139.308.561.000,00 dengan output
10.000.000 orang, realisasi 100%.
b. Pupuk Non Bersubsidi
Kebutuhan pupuk non subsidi anorganik diperoleh dengan menjumlahkan
kebutuhan pupuk anorganik kegiatan Food Estate dengan kebutuhan pupuk
anorganik subsektor tanaman pangan (padi, jagung dan kedelai), kebutuhan
pupuk anorganik subsektor hortikultura (cabe, bawang merah) dan kebutuhan
pupuk anorganik subsektor perkebunan (tebu rakyat). Jumlah kebutuhan pupuk
anorganik tersebut dihitung dengan cara mengalikan luas lahan dengan dosis
pupuk anorganik, sehingga diperoleh jumlah kebutuhan pupuk anorganik
sebanyak 8.296.571 Ton.
Sedangkan kebutuhan pupuk non subsidi organik diperoleh dengan
menjumlahkan kebutuhan pupuk organik di kegiatan Food Estate dengan
kebutuhan pupuk organik subsektor tanaman pangan (padi, jagung dan
kedelai), kebutuhan pupuk organik subsektor hortikultura (cabe, bawang
merah) dan kebutuhan pupuk organik subsektor perkebunan (tebu rakyat) serta

95

Kementerian Pertanian 2022 99


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

kebutuhan pupuk organik yang diperoleh dari kegiatan UPPO. Jumlah


kebutuhan pupuk organik tersebut dihitung dengan cara mengalikan luas lahan
dengan dosis pupuk organik, sehingga diperoleh jumlah kebutuhan pupuk
organik sebanyak 26.308.852 Ton.
Pupuk non subsidi yang terdistribusi merupakan jumlah pupuk yang beredar di
petani penerima bantuan dari Kementerian Pertanian di luar pupuk subsidi yang
diasumsikan sebanyak 90% dari total kebutuhan pupuk non subsidi baik
anorganik maupun organik (sub sektor tanaman pangan : padi, jagung kedelai;
sub sektor hortikultura : cabe, bawang merah; sub sektor perkebunan : tebu
rakyat) serta terealisasi 100% untuk kegiatan Food Estate dan UPPO . Sisa dari
90% tersebut diasumsikan sebagai pupuk non subsidi yang masih berada di
gudang penyimpanan. Untuk tahun 2021, pupuk non subsidi anorganik yang
terdistribusi sebanyak 7.468.006 Ton dan pupuk non subsidi organik yang
terdistribusi sebanyak 23.695.150 Ton.
Tahun 2021 untuk mendukung pelaksanaan kegiatan intensifikasi Food Estate,
dilaksanakan pemberian bantuan saprodi untuk peningkatan kesuburan lahan
dan perlindungan tanaman seperti ditunjukkan pada Tabel 29. Untuk
peningkatan kesuburan lahan, bantuan saprodi terdiri dari Herbisida, Pupuk
Hayati Cair, Dolomit, Urea, dan NPK dengan realisasi saprodi sebesar
48.304.583 kg/ltr atau terealisasi 100% dan realisasi anggaran sebesar
Rp182.321.667.056,00 atau terealisasi 100%. Kegiatan penyaluran pupuk non
subsidi dapat dilhat pada Gambar 25 dan 26.
Tabel 29. Realisasi Pengadaan Saprodi Intensifikasi Food Estate di Provinsi
Kalteng dan Sumsel
Volume % Anggaran %
Saprodi
Target Satuan Realisai Realisasi Pagu (Rp) Realisai (Rp) Realisasi
Dolomit 33,026,113 Kg 33,026,113 100 54,160,524,270 54,160,524,270 100
Herbisida 95,441 Liter 95,441 100 6,008,061,900 6,008,061,900 100
NPK 10,220,081 Kg 10,220,081 100 81,657,729,750 81,657,729,750 100
Pupuk Hayati 190,882 Liter 190,882 100 11,484,317,800 11,484,317,800 100
Urea 4,772,066 Kg 4,772,066 100 29,011,033,336 29,011,033,336 100
Total 48,304,583 Kg/Ltr 48,304,583 100 182,321,667,056 182,321,667,056 100

96

100 Kementerian Pertanian 2022


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

Gambar 25. Bantuan Pupuk Urea Non Gambar 26. Bantuan Pupuk NPK Non
Subsidi Kepada Poktan Saka Subsidi Kepada Poktan
Batang, Desa Pangkoh Hilir, Poktan Maju Sentosa, Desa
Kecamatan Pandih Batu, Muda Sentosa, Kecamatan
Kab. Pulang Pisau, Prov. Buay Madang, Kab. Ogan
Kalimantan Tengah Komering Ulu Timur, Prov.
Sumatera Selatan
Upaya lain yang dilakukan oleh Pemerintah dalam rangka mendukung pupuk
non subsidi adalah melalui kegiatan UPPO (Unit Pengolah Pupuk Organik), yaitu
program bantuan pemerintah yang bertujuan meningkatkan produksi,
produktivitas, mutu hasil serta memberikan nilai tambah dan peningkatan
pendapatan petani melalui produksi pupuk organik secara insitu diberikan
melalui transfer uang senilai Rp200.000.000,00 dilakukan dengan
pembangunan kandang ternak dan penyiagaan lahan HMT. Salah satu kegiatan
UPPO dapat dilihat pada Gambar 27.
Tahun 2021 kegiatan UPPO terealisasi sebanyak 1.326 unit atau 99,85% dari
target sebesar 1.328 unit, dengan realisasi anggaran sebesar
Rp265.340.000.000,00 atau sebesar 99,90% dari pagu anggaran sebesar
Rp265.600.000.000,00.

97

Kementerian Pertanian 2022 101


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

Rumah Kompos Kandang dan


Ternak

APPO Motor Roda Tiga

Gambar 27. Dokumentasi Kegiatan Unit Pengolah Pupuk Organik (UPPO) Tahun
2021 pada Poktan Mekat Asih, Desa Munjuliaya, Kecamatan
Purwarkarta, Kab. Purwakarta, Prov. Jawa Barat
c. Pestisida
Kebutuhan pestisida dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya jenis
tanaman, umur tanaman dan tingkat keparahan serangan OPTnya. Kebutuhan
pestisida dihitung dengan mengasumsikan 5% dari luas areal pertanian yang
terbatas pada komoditas padi, jagung, kedelai, cabe, bawang merah dan tebu
(data dari Ditjen komoditas). Luas areal pertanian seluas 23.445.966 Ha yang
terkena serangan OPT seluas 1.172.298,30 Ha. Dengan dosis pestisida sebesar
0,5 kg/Ha (setara dengan dosis anjuran 1 ml/liter) maka diperoleh kebutuhan
pestisida sebesar 587 Ton/Ha, sehingga pada tahun 2021 jumlah kebutuhan
pestisida sebesar 587 Ton yang terdiri dari kebutuhan pestisida kimia sebesar
528 Ton dan kebutuhan pestisida alami sebesar 59 Ton. Pestisida terdistribusi
adalah pestisida yang telah terdaftar dan memiliki ijin dari Menteri Pertanian
melalui proses penyaluran oleh produsen ke kios pengecer hingga dipasarkan
kepada petani, realisasi pestisida terdistribusi adalah 100% atau sebanyak 587
ton.

98

102 Kementerian Pertanian 2022


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

SASARAN STRATEGIS 2 (SS 2)


Meningkatnya Nilai Tambah Dan Daya Saing
Komoditas Pertanian

Dalam era globalisasi saat ini, semua produk dan komoditas harus mampu bersaing, baik
di pasar dalam negeri maupun di pasar internasional. Beberapa komoditas pertanian
telah memiliki posisi dan mampu bersaing di luar negeri, seperti komoditas perkebunan.
Pada sisi lain, Kementerian Pertanian juga telah berupaya untuk menekan laju
pertumbuhan impor melalui peningkatan produksi komoditas susbstitusi impor. Demikian
pula dalam rangka meningkatkan nilai tambah dari suatu produk pertanian, Kementerian
Pertanian mendistribusikan sarana pascapanen dan pengolahan hasil pertanian.
Peluang penciptaan nilai tambah terbesar terjadi di sektor pertanian ada pada
agroindustri atau pada mata rantai tengah antara hulu dan hilir. Penguasaan teknologi
penciptaan nilai tambah dan akses pasar banyak dikuasai pada usaha pengolahan hasil
pertanian. Untuk itu, perlu Kementerian Pertanian melakukan upaya untuk memperkuat
penanganan pascapanen dan pengolahan hasil pertanian serta berupaya meningkatkan
ekspor komoditas pertanian prospektif.
Keberhasilan pencapaian Sasaran Strategis ini diukur melalui dua indikator, yaitu: (1)
Tingkat Kemanfaatan Sarana Pascapanen dan Pengolahan Hasil Pertanian dan (2)
Pertumbuhan Nilai Ekspor untuk Produk Pertanian Nasional.

99

Kementerian Pertanian 2022 103


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

SS 2. IKU 11
Tingkat Kemanfaatan Sarana Pascapanen dan Pengolahan
Hasil Pertanian
Target Realisasi
84,40% 90,89%

% Capaian
107,69%
Sangat Berhasil

Penggunaan mekanisasi pertanian dalam setiap aspek proses produksi merupakan


bentuk transformasi pertanian modern dan mutlak harus dilakukan. Transformasi ke
arah pertanian modern menjadi penting karena akan mendorong peningkatan
produktivitas, efisien dalam penggunaan sumberdaya dan teknologi, serta mampu
menghasilkan output yang berkualitas, bernilai tambah dan berdaya saing tinggi. Sarana
pasca panen adalah alat untuk peningkatan produksi pangan dan mampu menghemat
biaya tenaga kerja dan mengefisiensikan usaha tani.
Realisasi indikator Tingkat Kemanfaatan Sarana Pertanian diperoleh dari rata-rata tingkat
kemanfaatan sarana pertanian di Eselon I yang melaksanakan fasilitasi sarana pertanian,
yaitu Ditjen Tanaman Pangan, Ditjen Hortikutura, Ditjen Perkebunan, Ditjen
Peternakan&Kesehatan Hewan, serta Ditjen Sarana dan Prasarana Pertanian atau
dengan rumus:
∑(tingkat kemanfaatan sarana pascapanen dan pengolahan hasil pertanian)
𝐸𝐸𝐸𝐸𝐸𝐸𝐸𝐸𝐸𝐸𝐸𝐸 𝐼𝐼 𝑦𝑦𝑦𝑦𝑦𝑦𝑦𝑦 𝑚𝑚𝑚𝑚𝑚𝑚𝑚𝑚𝑚𝑚𝑚𝑚𝑚𝑚𝑚𝑚𝑚𝑚𝑘𝑘𝑎𝑎𝑎𝑎 𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝 𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡 𝑘𝑘𝑒𝑒𝑒𝑒𝑒𝑒𝑒𝑒𝑒𝑒𝑒𝑒𝑒𝑒𝑒𝑒𝑒𝑒𝑒𝑒 sarana pascapanen dan

pengolahan hasil pertanian

Fasilitasi sarana pascapanen dan pengolahan hasil pertanian diharapkan mampu


meningkatkan daya saing produk hingga pada akhirnya berkontribusi dalam peningkatan
pendapatan petani. Kemudian pemanfaatan bantuan yang telah disalurkan pun harus
dapat terukur dan dinilai untuk masukan terhadap kegiatan pada tahun anggaran
berikutnya.
Untuk dapat mengetahui pemanfaatan bantuan sarana pascapanen dan pengolahan
hasil pertanian yang sudah disalurkan ke kelompok tani/gabungan kelompok tani
penerima manfaat, maka perlu dilakukan pengukuran tingkat kemanfaatan sarana
pertanian. Pengukuran tingkat kemanfaatan sarana pertanian ini dilakukan melalui survei
secara online (menggunakan kuesioner online) maupun survei secara langsung di
lapangan kepada penerima bantuan sarana pascapanen dan pengolahan pertanian.
Sampel sarana pascapanen dan pengolahan tersebut diambil dari berbagai Provinsi dan
Kabupaten di Indonesia.

100

104 Kementerian Pertanian 2022


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

Berdasarkan cara pengukuran di atas, capaian indikator Tingkat Kemanfaatan Sarana


Pertanian adalah sebesar 90,89% atau terealisasi sebesar 107,69% atau sangat berhasil.
Apabila dibandingkan dengan target jangka menengah sebesar 86,90% maka capaian
tahun 2021 ini telah melampaui dengan realisasi 104,59%. Oleh karena itu, kinerja tahun
2021 ini perlu dipertahankan bahkan ditingkatkan di tahun mendatang.
Sarana pertanian yang difasilitasi oleh Kementerian Pertanian meliputi sarana pasca
panen dan pengolahan hasil sub sektor tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, dan
peternakan& kesehatan hewan.
Indikator kinerja Tingkat Kemanfaatan Sarana Pertanian merupakan Indikator kinerja
yang termuat dalam Revisi Renstra Kementerian Pertanian maupun Renstra Eselon I
yang dilakukan pada tahun 2021. Pengukuran terhadap indikator kinerja tersebut baru
mulai dilaksanakan pada tahun 2021, sehingga pengukuran terhadap tahun sebelumnya
belum dilaksanakan. Rincian jumlah alsintan, jumlah sampel, dan tingkat kemanfaatan
saranan pertanian tahun 2021 terlihat pada Tabel 30.
Tabel 30. Jumlah Sarana Pascapanen dan Pengolahan Hasil Pertanian, Jumlah Sampel,
dan Tingkat Kemanfaatan Sarana Pertanian Tahun 2021
Jumlah Sarana Pertanian Jumlah Sampel Sarana Pertanian Yang Tingkat Kemanfaatan
Jenis Sarana Pertanian
yang Disalurkan (Unit) (Unit) Termanfaatkan (Unit) (%)

Sub Sektor Tanaman Pangan 85,50%


Combine Harvester Besar
Combine Harvester Sedang
Combine Harvester Kecil
Corn Combine Harvester
Corn Sheller
85,50%
Dryer UV
Power Thresher
Power Thresher Multiguna
RMU
Vertical Dryer
Sub Sektor Hortikultura 96,25%
Sarana pascapanen 247 118 118 100,00%
Sarana Pengolahan 235 40 37 92,50%
Sub Sektor Perkebunan 100,00%
Sarana pascapanen 418 18 18 100%
Sarana pengolahan 636 10 10 100%
Sub Sektor Peternakan dan Kesehatan Hewan 81,82%
Sarana Pengolahan Susu 2 2 2 100%
Sarana pengolahan Pupuk 3 3 3 100%
Sarana Pengolahan Unggas 1 1 1 100%
Sarana Pengolahan Daging 1 1 1 100%
Sarana Pengolahan Limbah (Biogas) 25 25 20 80%
Sarana Tata Niaga 1 1 0 0%

Total [Link] Sarana Pertanian 90,89%

Sumber: Ditjen TP, Ditjen Hortikultura, Ditjen Perkebunan, dan Ditjen PKH, 2021

Keberhasilan pencapaian indikator tingkat kemanfaatan sarana pertanian didukung


oleh kemanfaatan dari fasilitasi sarana pertanian, yaitu sebagai berikut:

101

Kementerian Pertanian 2022 105


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

1. Kemanfaatan Fasilitasi Alsintan Pasca Panen Tanaman Pangan


Fasilitasi sarana pascapanen tanaman pangan merupakan stimulan penerapan
pascapanen yang baik dan benar, sehingga diharapkan mampu mendukung
peningkatan produksi melalui peningkatan produktivitas, efisiensi kerja, dan
peningkatan kualitas. Pemanfaatan bantuan yang telah disalurkan harus dilaporkan
dalam bentuk pembuatan laporan pemanfaatan. Sehingga, kegiatan tersebut dapat
terukur dan dinilai untuk masukan terhadap kegiatan pada tahun anggaran
berikutnya.
Analisa kemanfaatan alsintan dilakukan dengan menggunakan kuesioner online
aplikasi google form dan kuesioner offline/hard copy. Sampel minimal yang diambil
sebanyak 10% dari total unit sarana pascapanen dan pengolahan. Sampel tersebut
diambil dari berbagai provinsi dan kabupaten di Indonesia untuk 10 jenis alsintan
pascapanen, yaitu combine harvester besar, combine harvester sedang, combine
harvester kecil, corn combine harvester, corn sheller, dryer UV, power thresher,
power thresher multiguna, RMU, dan vertical dryer. Contoh bantuan sarana
pascapanen pada Gambar 28.

Combine harvester besar Vertical dryer

Gambar 28. Beberapa Jenis Alsintan Pascapanen


Sampel yang diperoleh sebanyak 937 unit atau 13,76% dari total 8.808 unit batuan
sarana pascapanen dan pengolahan dengan resonden terdiri dari :
a. Jumlah sampel 937 yang terdiri dari 908 kelompok tani/gapoktan, 29 brigade
di 24 provinsi untuk sampel kemanfaatan sarana pascapanen seperti
ditunjukkan pada Tabel 31.

102

106 Kementerian Pertanian 2022


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

Tabel 31. Jenis Sarana Pasca PanenPertanian

b. 138 responden di 21 provinsi untuk sample alsintan pengolahan hasil tanaman,


Dari hasil analisis alsinta pasca panen termanfaatkan 801 unit sehingga indeks
kemanfaatan alsintan pascapanen TP Tahun 2021 mencapai 85,50% dan hasil
analisis untuk kemanfaatn alsintan pengolahan hasil tanaman mencapai 86,23%.
Total tingkat kemanfaatan alsintan pasca panen dan pengolahan hasil tanaman
pangan Tahun 2021 sebesar 85,87% seperti ditunjukkan pada Tabel 32, sehingga
capaian tingkat kemanfaatan alsintan pasca panen dan pengolahan sebesar
100,90%.
Tabel 32. Tingkat Kemanfaatan Pascapanen dan Pengolahan Tanaman Pangan

Keberhasilan pencapaian tingkat kemanfaatan alsintan pascapanen dan pengolahan


didukung oleh ketepatan penerima dan ketepatan lokasi bantuan sesuai dengan
kriteria yang ditetapkan. Disamping itu, ketepatan waktu penerimaan bantuan,
kondisi kelengkapan dan performa running test alsintan menjadi faktor yang
menentukan besarnya pemanfaatan alsintan yang mempengaruhi peningkatan
produktivitas, efisiensi kerja, dan peningkatan kualitas hasil panen. Pemanfaatan
Alsintan dapat dilihat pada Gambar 29.

103

Kementerian Pertanian 2022 107


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

Gambar 29. Pemanfaatan Alsintan Panen Combine Harvester Besar


Perkembangan alokasi Alsintan dari Tahun 2017 s/d 2021 dapat dilihat pada Tabel
33 Jenis alsintan yang tersedia dan paling banyak dibutuhkan antara lain Power
Thresher dan Power Thresher Multiguna, Corn Sheller, dan Combine Harvester.
Tabel 33. Rincian Sarana Pascapanen dan Pengolahan yang Tersedia Tahun 2017-
2021
TAHUN
NO. JENIS ALSINTAN
2017 2018 2019 2020 2021
1 Combine Harvester Kecil 789 130 100 141 25
2 Combine Harvester Sedang 853 176 130 180 58
3 Combine Harvester Besar 3 834 611 311 12
4 Corn Combine Harvester Sedang 0 0 0 35 -
5 Corn Combine Harvester Besar 126 585 325 35 10
6 Combine Harvester Multifungsi 0 265 66 169 212
7 Power Thresher 319 3.525 3.616 1.681 2.866
8 Corn Sheller 2.258 2.275 3.087 1.060 1.854
9 Corn Sheller Mobile 0 0 0 405 420
10 Power Thresher Multiguna/Kedelai 868 2.284 2.759 334 1.515
11 Power Thresher Multiguna Mobile 0 0 0 713 357
12 Vertical Dryer Padi Kap 6 Ton 17 802 243 10 4
13 Vertical Dryer Padi Kap. 10 Ton 0 0 0 15 47
14 Vertical Dryer Jagung 6 Ton 5 65 18 - -
15 Vertical Dryer Jagung 10 Ton 0 0 0 2 3
16 Dryer UV 0 0 0 20 59
17 Dryer Mobile 0 0 0 1 -
18 RMU 31 119 72 35 57
19 RMU Pneumatic 0 0 0 3 -
20 Packing grading 0 123 100 13 3
21 Color Sorter 0 1 3 6 15
22 Husker dan Polisher 0 58 27 10 55

Sumber: Ditjen TP, 2021

104

108 Kementerian Pertanian 2022


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

2. Kemanfaatan Fasilitasi Sarana Pascapanen dan Pengolahan Hasil


Hortikultura
Kemanfaatan sarana hortikultura yang sesuai peruntukan diperoleh berdasarkan
hasil kunjungan lapang dan komunikasi melalui media WhatsApp (WA) bagi
kelompoktani penerima bantuan sarana pengolahan hortikultura, sehingga diperoleh
data tingkat kemanfaatan sarana hortikultura yang diberikan tahun 2020 adalah
sebesar 96,25% dengan rincian tingkat kemanfaatan sarana pascapanen sebesar
100% dan tingkat kemanfaatan sarana pengolahan hortikultura sebesar 92,5%
seperti ditunjukkan pad Gambar 30.

102
100
100

98

96
% Kemanfaatan

94
92,50
92

90

88
Sarana Pascapanen Sarana Pengolahan

Gambar 30. Diagram Tingkat Kemanfaatan Sarana Hortikultura Tahun 2021


Kegiatan untuk menghasilkan produk hortikultura yang bermutu dan mempunyai
nilai tambah harus dimulai dari hulu sampai hilir melalui penerapan kaidah Good
Agriculture Practices (GAP), Good Handling Practices (GHP), Good Manufacturing
Practices (GMP) sampai dengan Good Distribution Practices (GMP).
Penerapan GHP dan GMP ditujukan agar produk tidak mudah rusak, memperpanjang
kesegaran dan umur simpan sehingga kualitas setiap terjaga dengan baik, serta
untuk meningkatkan nilai tambah dan daya saing dari produk hortikultura. Dalam
rangka penerapan GHP dan GMP diperlukan sarana dan prasarana pascapanen dan
pengolahan. Sebagai upaya peningkatan keefektivan bantuan sarana yang
diberikan maka dilakukan survei tingkat kemanfaatan mengetahui apakah bantuan
yang diberikan sudah sesuai dengan tujuan pemberian bantuan dan sesuai
peruntukkan.
Kementerian Pertanian pada tahun 2020 mengalokasikan 247 unit bantuan sarana
pascapanen untuk satker daerah sebanyak 137 unit dan untuk satker pusat
sebanyak 110 unit (aspirasi). Bantuan sarana pascapanen tersebut dialokasikan
untuk komoditas cabai bawang dan hortikultura lainnya. Dari total bantuan
tersebut, 10 % dari total bantuan dijadikan sampel dengan jumlah 25 sampel
provinsi antara lain : Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Jambi, Sumatera
Selatan, Bengkulu, Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, D.I. Yogyakarta, Jawa

105

Kementerian Pertanian 2022 109


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan


Timur, Sulawesi Utara, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Bali,
NTB, NTT, Maluku, Papua. Sampel paling banyak berada di provinsi Jawa Tengah
dengan jumlah 15 sampel dan yang paling sedikit adalah Sulawesi Tengah dengan
1 sampel. Dalam keberjalanannya seluruh sarana Pascapanen Tahun 2020
termanfaatkan dengan baik.
Kementerian Pertanian juga mengalokasikan sarana pengolahan Hortikultura
sebanyak 235 unit. Dengan rincian 201 unit pada tahun 2020 dan 34 unit tahun
2021 yang disalurkan di 40 lokasi yang tersebar di 35 Kabupaten/kota dalam 12
Provinsi, antara lain : Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Sumatera Barat, Riau,
Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Nusa Tenggara Barat, Bengkulu, Banten, dan
Gorontalo. Sampel paling banyak berada di provinsi Jawa Timur dengan jumlah 8
sampel dan yang paling sedikit adalah Sultra dan Bali dengan sampel masing-masing
1 (satu) sampel.
Akan tetapi sarana pengolahan hortikultura tersebut tidak seluruhnya
termanfaatkan. Dari 40 Sampel yang diambil, terdapat 3 sarana yang masih belum
termanfaatkan dengan baik. 3 Sampel tersebut tersebar di 3 kabupaten/kota dalam
3 provinsi. Kabupaten/Kota tersebut antara lain : Madiun, Solok Selatan dan Bulu
Kumba. Tidak dimanfaatkannya dengan baik sarana pengolahan holtikultura
dikarenakan oleh beberapa hal sebagai berikut :
a. Sarana pengolahan yang diberikan seperti Vacuum Fraying (pengorengan)
memiliki daya listrik terlalu tinggi yaitu 2.200 Watt, padahal mayoritas
kelompoktani penerima bantuan hanya memanfaatkan teknologi dengan daya
listrik yang normal yaitu 900 watt. Daya listrik yang besar menjadikan semakin
tingginya cost yang harus dikeluarkan, sehingga menjadikan penerima bantuan
kembali menggunakan teknologi lama (tradisional) yang lebih menekan biaya
usaha.
b. Selain itu Sumber Daya Manusia yang menerima bantuan masih rendah. Hal itu
menjadikan kemampuan menerima teknologi baru juga rendah. Penerima
bantuan dalam keberjalanannya tidak dapat mengoperasikan sarana bantuan
dengan baik sehingga tidak dimanfaatkan, alasanya belum dilakukannya
pelatihan secara intens terkait penggunaan alat pengolahan holtikultura tersebut,
juga sebagai faktor yang saling berkaitan dengan faktor sebelumnya. Bimbingan
dan pendampingan menjadi hal yang sangat penting terutama bagi penerima
bantuan yang masih tradisional dan masih asing dengan teknologi modern, agar
dapat menerima perubahan. Ketersediaan bahan baku olahan (cabai, bawang)
yang terbatas hal ini dikarena posisi harga cabai dan bawang cukup mahal
sehingga kelompoktani engan melakukan olahan, sehingga petani lebih cederung
menjual dalam bentuk segar.
Parameter yang diamati pada aspek penggunaan/pemanfaatan sarana pascapanen
dan sarana pengolahan yaitu: a) kesesuaian sarana dengan kebutuhan, b)

106

110 Kementerian Pertanian 2022


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

pemanfaatan di Tahun 2019, c) pemanfaatan di Tahun 2020, d) rencana


pemanfaatan di Tahun 2021,dan e) perawatan sarana.
Pada aspek manfaat/dampak parameter dibuat spesifik sesuai tujuan dan sasaran
kegiatan pascapanen dan pengolahan. Parameter yang digali untuk aspek dampak
sarana pascapanen adalah penurunan kerusakan hasil, penurunan losses dan
peningkatan pendapatan. Disamping itu, parameter yang diamati sebagai dampak
pemanfaatan sarana pengolahan adalah peningkatan nilai tambah, peningkatan
daya saing dan peningkatan pendapatan. Pengukuran dampak dilakukan
berdasarkan persepsi petani terhadap dampak/manfaat yang diperoleh dari
penggunaan sarana yang diberikan.

3. Fasilitasi Sarana Pascapanen dan Pengolahan Hasil Produk Perkebunan


Tahun 2021 jumlah sarana pascapanen perkebunan yang didistribusikan sebanyak
418 unit dan sarana pengolahan hasil perkebunan sebanyak 636 unit. Analisa
kemanfaatan fasilitasi sarana perkebunan dilakukan melalui survei secara langsung
di lapangan kepada sampel 28 kelompok tani/sarana yang tersebar di 9 provinsi.
Berdasarkan pengolahan hasil survei, diperoleh tingkat kemanfaatan sarana
perkebunan Tahun 2021 mencapai 100%. Secara detail tingkat kemanfaatan sarana
perkebunan dapat dilihat pada tabel 34.
Tabel 34. Tingkat Kemanfaatan Sarana Perkebunan Tahun 2021
Jumlah Jumlah Jumlah
URAIAN sarana yang sampel unit yg Tingkat Kemanfaatan
No Keterangan
IKSP tersedia KT/Unit dimanfaatkan
2020 2021 Target Realisasi capaian
1. Tingkat 146 258 18 18 80,50 100,00 124,22 18 unit sarana
kemanfaatan pascapanen
Sarana yang
Pascapanen dimanfaatkan
dari 18 unit
sarana yang
diberikan
2. Tingkat 126 636 10 10 80,50 100,00 124,22 18 unit sarana
kemanfaatan pascapanen
Sarana yang
Pengolahan dimanfaatkan
dari 18 unit
sarana yang
diberikan
Total/rata-rata 272 874 28 28 80,50 100,00 124,22

Sumber: Ditjen Perkebunan, 2021

Berdasarkan Tabel 29 dapat dijelaskan bahwa realisasi tingkat kemanfaatan sarana


perkebunan sebesar 100% atau mencapai 124,22% dari target 80,5%, masuk
dalam katagori sangat berhasil. Capaian kinerja tersebut terbagi atas dua yaitu:
a. Kemanfaatan sarana pasca panen perkebunan tercapai 100% dengan sampel
18 Unit sarana pasca panen perkebunan yang tersebar di 9 Provinsi;
b. Kemanfaatan sarana pengolahan perkebunan tercapai 100% dengan sampel 10
Unit sarana pengolahan perkebunan yang tersebar di 9 Provinsi.

107

Kementerian Pertanian 2022 111


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

4. Fasilitasi Sarana Pengolahan dan Pemasaran Hasil Peternakan


Untuk mengetahui tingkat kemanfaatan bantuan sarana prasarana pengolahan dan
pemasaran hasil peternakan maka dilakukan survei terhadap sarana yang diberikan.
Tingkat kemanfaatan sarana dan prasarana dilihat dari data fasilitasi sarana dan
prasarana pengolahan dan pemasaran hasil peternakan tahun sebelumnya (T-1)
apakah digunakan (termanfaatkan) sesuai dengan tujuannya. Tingkat kemanfaatan
sarana dan prasarana pengolahan dan pemasaran hasil peternakan diukur dengan
menggunakan kuisioner (survei) ke seluruh penerima manfaat. Hasil perhitungan
tingkat kemanfaatan sarana prasarana peternakan dapat dilihat pada Tabel 35.

Tabel 35. Tingkat Kemanfaatan Sarana Prasarana Pengolahan dan Pemasaran Hasil
Peternakan
Jumlah Jumlah Alsintan yang Tingkat
Jenis Sarana Prasarana Alsintan yang Sampel Termanfaatkan Kemanfaatan
Disalurkan Alsintan (Unit) (%)
(Unit) (Unit)
1. Sarana Pengolahan 2 2 2 100,00
Susu
2. Sarana pengolahan 3 3 3 100,00
Pupuk
3. Sarana Pengolahan 1 1 1 100,00
Unggas
4. Sarana Pengolahan 1 1 1 100,00
Daging
5. Sarana Pengolahan 25 25 20 80,00
Limbah (Biogas)
Jumlah 32 32 27 81,82
Rata-rata Tingkat Kemanfaatan 81,82
Sumber: Ditjen PKH, 2021

Keberhasilan kinerja tingkat kemanfaatan sarana Prasarana Pengolahan dan


Pemasaran Hasil Peternakan dipengaruhi oleh beberapa hal sebagai berikut:
a. Bantuan sarana peternakan yang diberikan sesuai dengan permintaan dan
pengajuan proposal dari provinsi;
b. Adanya koordinasi yang optimal dan terencana antara satker pelaksana,
sehingga kegiatan bisa terlaksana dengan baik.
c. Bimbingan teknis penggunaan sarana prasarana pengolahan dan pemasaran
hasil peternakan

Namun demikian terdapat sarana pengolahan dan pemasaran hasil peternakan yang
belum dapat dimanfaatkan karena pada kelompok penerima manfaat (kegiatan desa
korporasi sapi) belum ada ternaknya yang disebabkan gagal lelang.

108

112 Kementerian Pertanian 2022


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

SS 2. IKU 12
Pertumbuhan Nilai Ekspor Untuk Produk Pertanian Nasional
Target Realisasi
7,71% 12,78%
% Capaian
120%*)
Sangat Berhasil

*) Capaian kinerja maksimal 120% untuk menghindari bias perhitungan kinerja


secara agregat

Nilai ekspor produk pertanian utama terdiri dari nilai ekspor 39 (tiga puluh sembilan)
komoditas dari empat subsektor yaitu, yaitu subsektor tanaman pangan (padi, jagung,
kedelai, ubi kayu, ubi jalar, kacang tanah, kacang hijau, porang), subsektor hortikultura
(mangga, manggis, pisang, durian, nanas, salak, jahe, krisan, kentang, jamur, cabai,
bwg merah), subsektor perkebunan (Kelapa, karet, sawit, kopi, teh, lada, kakao,
cengkeh, vanili, pala, jambu mete, nilam, kayu manis, tembakau, sagu) dan sub sektor
peternakan (Hewan hidup, produk pangan segar dan olahan, produk non pangan, obat
hewan, benih dan bibit ternak). Pertumbuhan nilai ekspor diukur dalam nilai persentase
dengan membandingkan jumlah pertumbuhan nilai ekspor pertanian dengan jumlah
komoditas ekspor pertanian atau dengan rumus:
∑(pertumbuhan nilai ekspor untuk produk pertanian nasional)
∑(𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘 𝑒𝑒𝑒𝑒𝑒𝑒𝑒𝑒𝑒𝑒𝑒𝑒 𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝)
Pertumbuhan nilai ekspor pertanian dihitung dengan cara membandingkan nilai ekspor
tahun berjalan dengan nilai ekspor pertanian tahun sebelumnya.
Target kinerja pertumbuhan nilai ekspor produk pertanian utama tahun 2021 adalah
sebesar 7,71%, sedangkan realisasinya mencapai 12,78%, sehingga capaian kinerja
Kementerian Pertanian untuk indikator kinerja sasaran strategis ini adalah sebesar
165,76%.
Apabila dibandingkan dengan target akhir jangka menengah tahun 2024 sebesar
12,28%, capaian Pertumbuhan Nilai Ekspor Untuk Produk Pertanian Nasional tahun 2021
telah terlampaui, yaitu 104,07%. Oleh karena itu, kinerja yang sangat berhasil pada
tahun 2021 harus terus dipertahankan dan bahkan ditingkatkan pada tahun mendatang.
Total nilai ekspor pertanian tahun 2021 senilai US$ [Link] disumbang oleh sub
sektor perkebunan senilai US$ [Link] atau 93,03% dengan kontribusi terbesar
dari komoditas Kelapa Sawit yaitu senilai US$ [Link] (naik US$ [Link]
atau tumbuh 53,48% dibanding tahun 2020).
Pertumbuhan volume ekspor produk pertanian utama dalam 3 (tiga tahun terakhir
menunjukkan tren fluktuatif. Secara rinci volume ekspor untuk masing-masing produk
pertanian utama dijabarkan pada Tabel 36.

109

Kementerian Pertanian 2022 113


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

Tabel 36. Perkembangan Ekspor Komoditas Pertanian Tahun 2019-2021


Nilai Ekspor (000 USD) Pertumbuhan
No Komoditas Nilai 2020-
2019 2020 2021*)
2021(%)
1 Padi 1.192 1.431 3.035 112,06
2 Kacang tanah 12.170 14.761 13.788 -6,59
3 Ubi jalar 8.918 10.033 11.354 13,17
4 Jagung 15.481 36.136 36.909 2,14
5 kedele 22.000 23.066 27.772 20,40
6 Ubi Kayu (olahan) 9.439 40.936 124.456 204,03
7 Kacang Hijau 36.730 52.422 42.295 -19,32
8 Porang 22.621 39.694 20.424 -48,55
9 Mangga 3.462 4.580 4.556 -0,52
10 Nenas 203.819 274.126 336.899 22,90
11 Manggis 42.619 81.151 71.829 -11,49
12 Salak 1.891 1.297 1.786 37,69
13 Pisang 11.344 5.650 6.083 7,65
14 Krisan 700 733 904 23,33
15 Kentang 6.051 8.111 5.961 -26,51
16 Jamur 4.625 4.882 5.053 3,50
17 Jahe 4.933 4.440 3.563 -19,76
18 Durian 301 232 149 -35,78
19 Bawang Merah 10.586 13.741 7.097 -48,35
20 Cabai 14.824 25.079 22.455 -10,46
21 Lada 147.343 160.388 166.751 3,97
22 Pala 138.024 158.420 198.060 25,02
23 Cengkeh 111.537 176.540 96.082 -45,57
24 Jambu mete 154.770 149.748 114.910 -23,26
25 Kopi 883.123 821.932 851.719 3,62
26 Kelapa Sawit 16.801.686 19.707.894 30.247.756 53,48
27 Karet 3.654.931 3.246.592 4.122.668 26,98
28 Kakao 1.198.735 1.244.184 1.207.839 -2,92
29 Kelapa Sawit 890.810 1.171.840 1.650.404 40,84
30 T eh 92.347 96.323 89.233 -7,36
31 Nilam 154.770 148.916 163.105 9,53
32 Tembakau 201.976 195.919 213.449 8,95
33 Vanili 69.610 60.248 39.930 -33,72
34 Sagu 2.277 2.861 2.467 -13,75
35 Obat Hewan 1.127 16.685 55.405 232,06
36 Hewan Hidup 66.038 80.407 56.973 -29,14
37 produk hewan pangan
523.890 733.756 679.967 -7,33
segar dan olahan
Produk hewan non
38 pangan 138.127 133.207 308.473 131,57
39 Benih dan bibit ternak 2.196 597 36 -93,97
Rata-rata Pertumbuhan Per tahun 12,78
Sumber: Pusdatin, 2021

110

114 Kementerian Pertanian 2022


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

Persentase peningkatan nilai ekspor komoditas pertanian tahun 2021 dibandingkan


tahun 2020 tertinggi disumbang oleh ekspor obat hewan sebesar 232,06%, ubi kayu
sebesar 204,03%, produk hewan non pangan sebesar 131,57%, padi sebesar 112,06%,
kelapa sawit sebesar 53,48%, kelapa sebesar 40,84%, dan karet sebesar 26,98%.
Peningkatan nilai ekspor komoditas tersebut juga dipengaruhi oleh peningkatan volume
ekspor komoditas dimaksud. Salah satu kegiatan dalam rangakn mendorong ekspor
komoditas pertanian dtunjukan pada Gambar 31.

Gambar 31. Pelepasan Ekspor Komoditas Pertanian Dari 17 Pintu Utama yang Tersebar
di 17 Provinsi Indonesia
Di tengah kondisi pandemi Covid–19 beberapa komoditas hortikultura masih bisa
melakukan ekspor ke mancanegara walaupun adanya penutupan jalur penerbangan ke
sejumlah negara, ternyata tak menyurutkan semangat eksportir untuk terus mengirim
komoditas andalan nusantara. Hal ini merupakan sesuatu yang sangat menyenangkan
petani karena masih dapat menikmati harga produk yang lebih baik. Permintaan buah
tropis di berbagai negara sangat tinggi, terlebih pada saat pandemi Covid-19,
masyarakat dunia sangat membutuhkan asupan vitamin yang berasal dari buah–buahan
segar. Disamping itu, Kementerian Pertanian juga melakukan inisiasi dan perluasan
pasar dalam rangka akselerasi ekspor komoditas hortikultura melalui kegiatan
peningkatan nilai tambah dan daya saing hortikultura. Beberapa negara tujuan ekspor
yang mempersyaratkan rumah kemas (packing house) yang teregistrasi serta suplai
komoditas dari kebun yang teregistrasi, sehingga dilakukan pengawalan dan
pendampingan terhadap pelaku usaha yang akan melakukan proses registrasi. Pada
tahun 2021, promosi kontak bisnis dilakukan secara online ODICOFF (One Day With
Indonesia Coffe Fruits and Floriculture) di 10 negara.

111

Kementerian Pertanian 2022 115


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

Berdasarkan data di atas, diketahui bahwa nilai ekspor hortikultura untuk kedua belas
komoditas yaitu Krisan, Kentang, Bawang Merah, Jamur dan Cendawan, Cabai, Pisang,
Nenas, Mangga, Manggis, Durian, Salak dan Jahe pada tahun 2021 sebesar US$
466.335.422,57 mengalami peningkatan bila dibandingkan dengan data tahun 2020
sebesar US$ 424.021.547,27. Peningkatan nilai ekspor hortikultura ini menjadi suatu
kebanggan dalam keberjalanan strategi ekspor dalam komoditas hortikultura yang telah
diterapkan dan dijalankan dalam era pandemik yang masih terus berlangsung ini.
Selain performa peningkatan ekspor komoditas pertanian yang menjanjikan, di sisi lain
beberapa komoditas memperlihatkan penurunan. Penurunan nilai ekspor tertinggi
adalah untuk ekspor benih dan bibit ternak. Walaupun dari segi volume meningkat, pada
tahun 2021 nilai ekspor benih dan bibit ternak turun 93,97% dibandingkan tahun 2020.
Penurunan ini terutama terutama karena tujuan ekspor terbesar produk Hatching Egg
adalah negara Myanmar dan Vietnam, dimana kedua negara tersebut membutuhkan
kurang lebih 1,7 juta butir HE, namun belakangan ini kondisi politik keamanan Myanmar
yang belum stabil.
Selain itu, upaya perluasan akses pasar HE ke Brunei Darussalam telah dirintis sejak
tahun 2019, saat ini masih belum selesai G to G antar kedua Negara terkait pemenuhan
persyaratan Bebas Avian Influenza.
Salah satu Program Strategis Kementerian Pertanian untuk mendorong peningkatan
ekspor adalah Gerakan Tiga Kali Lipat Ekspor (GRATIEKS). Oleh karena itu, dilakukan
berbagai upaya dalam peningkatan daya saing komoditas pertanian termasuk
peternakan dan kesehatan hewan, menuju pertanian maju, mandiri dan modern.
Terdapat 5 kebijakan strategis Kementerian Pertanian dalam meningkatkan ekspor
komoditas pertanian, yang juga menjadi acuan bagi Direktorat Jenderal Peternakan dan
Kesehatan Hewan dalam upaya mencapai target GRATIEKS, yakni:
1. Mendorong pertumbuhan eksportir baru, dengan cara menyiapkan unit usaha dan
memberikan pembekalan kepada pelaku usaha agar siap ekspor.
Pada tahun 2021 telah dilakukan upaya identifikasi pelaku usaha ekspor di daerah
dengan melibatkan Dinas yang membidangi fungsi peternakan dan kesehatan di
seluruh provinsi. Melalui kegiatan identifikasi pelaku usaha ekspor tersebut, dapat
diidentifikasi potensi komoditi di masing-masing wilayah yang memiliki potensi
ekspor, dan para pelaku usaha peternakan yang siap ekspor atau perlu dilakukan
pendampingan agar siap ekspor. Disamping itu, pada tahun 2021 juga telah dilakukan
beberapa pertemuan dan penyampaian informasi kepada para pelaku usaha baik
skala industri maupun UMKM yang memiliki potensi ekspor, untuk fasilitasi akses
pasar ekspor, diantaranya yakni:
a) Fasilitasi pertemuan dengan market place [Link] yang berorientasi ekspor
sebagai sarana promosi produk yang berbasis digital.
b) Penyampaian informasi terkait peluang promosi dan akses pasar ekspor komoditi
peternakan dan kesehatan hewan di beberapa negara seperti Saudi Arabia, Uni
Emirat Arab (UEA), Qatar, Afrika Selatan, Jepang, Brunei Darussalam, dan

112

116 Kementerian Pertanian 2022


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

Singapura.
c) Melakukan serangkaian kegiatan promosi ke 10 Negara yang dikemas dalam
program One Day With Indonesian Coffee, Fruits, Floriculture, Livestock and
Veterinary Products (ODICOFF).

2. Menambah ragam komoditas ekspor dengan cara: mendorong ekspor dalam bentuk
jadi, kerja sama dengan pemerintah daerah dan stakeholder menggali potensi
daerah, serta mendorong tumbuhnya investasi di bidang industri agribisnis. Pada
tahun 2021 telah dilakukan berbagai upaya dalam menambah jenis produk yang
dapat diterima di negara yang telah menjadi tujuan ekspor Indonesia, diantaranya
adalah:
a) Jepang yang sebelumnya baru menerima produk olahan daging ayam yang telah
melewati proses pemanasan, maka telah mulai dilakukan proses G to G untuk
produk lainnya seperti daging beku ayam, dan daging sapi beserta olahannya.
Pihak Jepang masih memerlukan informasi lebih lanjut terkait sertifikasi bebas
kompartemen AI yang dilakukan Indonesia, serta proses self declaration bebas
kompartemen AI tersebut di OIE.
b) Singapura yang sebelumnya baru menerima produk daging babi dan telur asin,
maka tengah dilakukan proses G to G untuk akses pasar daging ayam beserta
olahannya, dan telur ayam untuk konsumsi.
c) Brunei Darussalam yang sebelumnya telah menerima produk susu Indonesia serta
kambing dan domba, Sedangkan untuk penambahan komoditi Hatching Egg (HE)
masih dalam proses G to G.
d) Cina yang sebelumnya telah menerima produk sarang burung walet asal
Indonesia, maka pada tahun 2020 dan 2021 telah diproses permintaan dibukanya
akses pasar untuk produk daging ayam, daging sapi, dan ceker ayam. Namun
proses G to G masih terkendala, karena pihak Cina meminta akses pasar untuk
komoditi yang sama. Di sisi lain Cina merupakan negara endemis flu burung.

3. Meningkatkan frekuensi pengiriman ekspor dilakukan melalui kemudahan dan


percepatan pelayanan perijinan rekomendasi untuk ekspor di lingkup Ditjen
Peternakan dan Kesehatan Hewan.
4. Menambah negara mitra dagang berkoordinasi dengan berbagai instansi terkait
seperti Kementerian Luar Negeri, Kementerian Perdagangan, KBRI sebagai
Perwakilan Negara Indonesia di negara tujuan ekspor serta memanfaatkan berbagai
forum kerja sama. Pada tahun 2021 negara yang menjadi target mitra dagang baru
yakni Uni Emirat Arab, Brunei Darussalam dan Singapura.
5. Meningkatkan volume ekspor dengan cara koordinasi dengan instansi terkait
termasuk pemerintah daerah, dan para stakeholder termasuk para pelaku usaha
ekspor untuk melakukan terobosan dan inovasi kebijakan ekspor kuantitas, kualitas
dan kontinuitas (3K). Upaya yang telah dilakukan, yakni dengan mendorong para
pelaku usaha ekspor terutama untuk komoditi ternak hidup kambing dan domba

113

Kementerian Pertanian 2022 117


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

dengan melakukan kemitraan dengan para peternak serta melakukan pendampingan


kepada mitranya dalam aspek produksi. Dengan demikian dapat dihasilkan ternak
yang memiliki kualitas sesuai dengan persyaratan ekspor, serta memiliki daya saing
baik secara mutu maupun harga di pasar ekspor. Pada akhirnya diharapkan
kontinuitas dari ternak yang akan diekspor tanpa menggerus ketersediaan dalam
negeri.

114

118 Kementerian Pertanian 2022


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

SASARAN STRATEGIS 3 (SS 3)


Meningkatnya Pemanfaatan Teknologi
Dan Inovasi Pertanian

Dalam konteks pembangunan pertanian, penelitian merupakan salah satu satu faktor
yang penting bagi kemajuan pertanian secara umum, baik dalam sisi perubahan perilaku
petani, peningkatan produksi, efektivitas dan efisiensi usaha tani bahkan ketepatan
sasaran dan kebijakan pemerintah terkait dengan pertanian pun tergantung dari sejauh
mana kemajuan penelitian di suatu negara.
Pertanian di Indonesia saat ini dihadapkan pada berbagai perubahan dan perkembangan
lingkungan yang sangat dinamis serta persoalan-persoalan mendasar seperti
meningkatnya jumlah penduduk, tekanan globalisasi dan permintaan pasar, pesatnya
kemajuan teknologi dan informasi, makin terbatasnya sumberdaya lahan, air dan energi,
perubahan iklim global, perkembangan dinamis sosial budaya masyarakat, kecilnya
status dan luas kepemilikan lahan, masih terbatasnya kemampuan sistem perbenihan
dan pembibitan nasional, terbatasnya akses petani terhadap permodalan, masih
lemahnya kapasitas kelembagaan petani dan penyuluh, serta masih rawannya
ketahanan pangan dan energi. Dengan masih rendahnya nilai tukar petani dan kurang
harmonisnya koordinasi kerja antar sektor terkait pembangunan pertanian, maka
pembangunan pertanian ke depan menghadapi banyak tantangan.
Peran penelitian menjadi sangat penting untuk menghadapi tantangan tersebut,
terutama penyediaan benih dan bibit unggul bermutu, teknik budi daya yang lebih maju
dan inovasi teknologi prosesing yang makin beragam yang dapat meningkatkan nilai
tambah dan metode alih inovasi teknologi yang cepat dari teknologi yang tepat guna.
Keberhasilan dari sasaran ini dapat diukur dari pencapaian indikator: (1) Persentase Hasil
Penelitian dan Pengembangan yang dimanfaatkan dan (2) Persentase Petani yang
Menerapkan Teknologi.

115

Kementerian Pertanian 2022 119


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

SS 3. IKU 13
Persentase Hasil Penelitian dan Pengembangan yang
Dimanfaatkan
Target Realisasi
70% 115,61%

% Capaian
120%*)
Sangat Berhasil

*) Capaian kinerja maksimal 120% untuk menghindari bias perhitungan kinerja


secara agregat

Pengukuran realisasi indikator tersebut diperoleh dengan cara membandingkan hasil


penelitian yang dimanfaatkan terhadap hasil penelitian yang dihasilkan, atau dengan
rumus:

∑ℎ𝑎𝑎𝑎𝑎𝑎𝑎𝑎𝑎 𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝 𝑦𝑦𝑦𝑦𝑦𝑦𝑦𝑦 𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑 (𝑡𝑡 − 4 ℎ𝑖𝑖𝑖𝑖𝑖𝑖𝑖𝑖𝑎𝑎 𝑡𝑡)


( ) 𝑥𝑥 100%
∑ℎ𝑎𝑎𝑠𝑠𝑠𝑠𝑙𝑙 𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝 𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑𝑑 𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝𝑝 𝑦𝑦𝑦𝑦𝑦𝑦𝑦𝑦 𝑑𝑑𝑑𝑑ℎ𝑎𝑎𝑎𝑎𝑎𝑎𝑎𝑎𝑎𝑎𝑎𝑎𝑎𝑎 (𝑡𝑡 − 4 ℎ𝑖𝑖𝑖𝑖𝑖𝑖𝑖𝑖𝑖𝑖 𝑡𝑡)

Sesuai dengan proses bisnis penelitian dan pengembangan sampai pengguna, maka
hasil penelitian dan pengembangan yang telah dihasilkan perlu dimanfaatkan.
Pengukuran dilakukan melalui kompilasi data hasil penelitian dan pengembangan yang
telah dimanfaatkan lingkup Balitbangtan serta kompilasi hasil penelitian dan
pengembangan yang dihasilkan lingkup Balitbangtan dari tahun 2017-2021. Hasil litbang
yang dimanfaatkan merupakan produk riset/litbang yang dimanfaatkan oleh pengguna
(internal maupun eksternal). Pengguna diartikan secara luas yaitu peneliti, petani,
perguruan tinggi, pengusaha, lembaga, dll. Hasil litbang dapat berupa: lisensi, sitasi,
publikasi pemanfaatan, dokumentasi/foto kegiatan, berita acara serah terima, tanda
terima, surat keterangan, dll. Dimanfaatkannya hasil litbang selaras dengan
didiseminasikannya ke pengguna, sehingga dimanfaatkan sama dengan didiseminasikan.
Diseminasi dimaksud merupakan diseminasi pemanfaatan hasil Litbang. Pemanfaatan
hasil litbang yang diukur sebatas proses dan tidak sampai kepada dampak atas
pemanfaatan hasil litbang tersebut.

Capaian IKU persentase hasil penelitian yang dimanfaatkan terhadap hasil penelitian
yang dihasilkan adalah sebesar 115,61%, atau sebesar 165,16% (sangat berhasil) dari
target yang ditetapkan. Rincian jenis penelitian dan perhitungan capaian IKU persentase
hasil penelitian yang dimanfaatkan terhadap hasil penelitian yang dihasilkan terlihat
dalam Tabel 37.

116

120 Kementerian Pertanian 2022


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

Tabel 37. Jumlah Hasil Penelitian dan Pengembangan yang Dimanfaatkan dan Dihasilkan
Selama 5 Tahun

No IKSP/IKA Realisasi

1 Jumlah hasil penelitian dan pengembangan tanaman pangan yang dimanfaatkan 82


(akumulasi 5 tahun terakhir)
Jumlah hasil penelitian dan pengembangan tanaman pangan yang dihasilkan (akumulasi 5 128
tahun terakhir)
2 Jumlah hasil penelitian dan pengembangan tanaman perkebunan yang dimanfaatkan 61
(akumulasi 5 tahun terakhir)
Jumlah hasil penelitian dan pengembangan tanaman perkebunan yang dihasilkan 208
(akumulasi 5 tahun terakhir)
3 Jumlah hasil penelitian dan pengembangan hortikultura yang dimanfaatkan (akumulasi 5 112
tahun terakhir)
Jumlah hasil penelitian dan pengembangan hortikultura yang dihasilkan (akumulasi 5 143
tahun terakhir)
4 Jumlah hasil penelitian dan pengembangan peternakan yang dimanfaatkan (akumulasi 5 56
tahun terakhir)
Jumlah hasil penelitian dan pengembangan peternakan yang dihasilkan (akumulasi 5 101
tahun terakhir)
5 Jumlah hasil penelitian dan pengembangan sumberdaya lahan pertanian yang 1126
dimanfaatkan (akumulasi 5 tahun terakhir)
Jumlah hasil penelitian dan pengembangan sumberdaya lahan pertanian yang dihasilkan 879
(akumulasi 5 tahun terakhir)
6 Jumlah hasil perekayasaan/pengembangan mekanisasi pertanian yang dimanfaatkan 24
(akumulasi 5 tahun terakhir)
Jumlah hasil perekayasaan/pengembangan mekanisasi pertanian yang dihasilkan 35
(akumulasi 5 tahun terakhir)
7 Jumlah hasil penelitian dan pengembangan bioteknologi dan sumber daya genetik 37
pertanian yang dimanfaatkan (akumulatif 5 tahun terakhir)
Jumlah hasil penelitian dan pengembangan bioteknologi dan sumberdaya genetik 78
pertanian yang dihasilkan (akumulasi 5 tahun terakhir)
8 Jumlah hasil penelitian dan pengembangan paspa yang dimanfaatkan (akumulasi 5 tahun 59
terakhir)
Jumlah hasil penelitian dan pengembangan paspa yang dihasilkan (akumulasi 5 tahun 101
terakhir)
9 Jumlah hasil pengkajian dan pengembangan pertanian spesifik lokasi yang dimanfaatkan 969
(akumulatif 5 tahun terakhir)
Jumlah hasil penelitian dan pengembangan pertanian spesifik lokasi yang dihasilkan 512
(akumulasi 5 tahun terakhir)
Jumlah hasil penelitian dan pengembangan yang dimanfaatkan (akumulasi 5 tahun 2.526
terakhir)
Jumlah hasil penelitian dan pengembangan yang dihasilkan (akumulasi 5 tahun 2.185
terakhir)
Persentase hasil penelitian yang dimanfaatkan (persen) 115,61
Sumber: Badan Litbang Pertanian, 2021

117

Kementerian Pertanian 2022 121


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

Capaian indikator kinerja Balitbangtan dari tahun 2017-2021 mengalami peningkatan


dan juga penurunan seperti yang ditunjukkan pada Tabel 38. Adanya peningkatan
kinerja sebesar 39,54% jika dibandingkan dengan capaian tahun 2020 sebesar 76,07%,
dikarenakan perencanaan yang lebih baik di tahun kedua Pasca Pandemi COVID-19 ini.
Telah dilakukan upaya-upaya dan strategi untuk mempercepat proses dihasilkannya
inovasi teknologi litbang pertanian, di antaranya adalah dengan mendukung program
Kementan seperti kegiatan Food Estate (FE), Program Riset Nasional (PRN), Riset
Pengembangan IPTEK Kolaboratif (RPIK), dan Hilirisasi Inovasi Hasil Litbang Pertanian.
Dengan mendukung program strategis/prioritas Kementerian Pertanian tersebut juga
sekaligus sebagai upaya meningkatkan diseminasi dan dimanfaatkannya hasil
Balitbangtan kepada stakeholder terkait.
Tabel 38. Capaian Indikator Persentase hasil Penelitian dan Pengembangan Yang
Dimanfaatkan Tahun 2017-2021

Capaian per Tahun


No Indikator Kinerja Satuan
2017 2018 2019 2020 2021
1 Persentase hasil Persen 90,44 113,01 92,73 76,07 115,61
penelitian dan
pengembangan
yang dimanfaatkan

Tahun 2021 ini merupakan tahun kedua pelaksanaan target Renstra 2020-2024.
Capaian Persentase Hasil Penelitian Dan Pengembangan Yang Dimanfaatkan tahun 2021
apabila dibandingkan dengan target akhir jangka menengah sebesar 75%, maka telah
terealisasi 154,15%. Oleh karena itu, kinerja yang sangat berhasil pada tahun 2021
harus terus dipertahankan dan ditingkatkan pada tahun mendatang, dengan terus
melakukan upaya penyebarluasan hasil litbang ke pihak-pihak terkait, melalui penciptaan
inovasi teknologi yang solutif dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat, sampai ke
peningkatan kapasitas untuk mendesiminasikan teknologi agar inovasi tersampaikan
dengan jelas dan siap terap.
Rincian dari capaian indikator kinerja Balitbangtan dalam periode Renstra 2020-2024
dapat dilihat pada tabel 39.
Tabel 39. Capaian Indikator Kinerja Balitbangtan Dalam Periode Renstra 2020-2024
Capaian
Tahun
Indikator Target/ (%)
No Sasaran
Kinerja Realisasi
2020 2021 2022 2023 2024

1 Meningkatnya Persentase Target 65 70 70 75 75 75


Pemanfaatan hasil
Teknologi dan penelitian dan Realisasi 76,07 115,61 154,15
Inovasi Pertanian pengembanga
n yang
dimanfaatkan

118

122 Kementerian Pertanian 2022


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

Beberapa hasil penelitian dan pengembangan yang dimanfaatkan selama 5 (lima) tahun
terakhir dan hasil penelitian dan pengembangan yang dihasilkan selama 5 (lima) tahun
diantaranya untuk komoditas strategis Kementerian Pertanian, yaitu: jagung, kentang,
alsin, dan pangan lokal berbahan sagu, serta teknologi lainnya seperti di bawah ini:
1. Jagung Hibrida Varietas Nakula Sadewa 29
Jagung Hibrida varietas Nakula Sadewa 29 dilepas melalui SK Mentan No.
820/Kpts/TP.010/12/2017 dimanfaatkan sejak 8 Januari 2021 dengan nomor
lisensi : 31/HK.510/H.2.3/1/2021, 094/ALM/I/2021 oleh CV Agro Lestari Mandiri
dalam bentuk perlindungan varietas tanaman (PVT). Varietas jagung ini
menghasilkan jagung hibrida tongkol ganda, dengan produksi dua kali lipat dari
jagung biasa. Kegiatan panen benih dapat dilihat pada Gambar 32.

Gambar 32. Panen Perdana Benih Jagung Nakula Sadewa 29 Jagung Hibrida Yang
Dihasilkan Tahun 2017 Oleh Gubenur Sulawesi Selatan di Desa Unra,
Kecamatan Awangpone, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan (Sulsel)
Tanggal 17 Februari 2021.

2. Formula Difusi Aromaterapi Berbahan Utama Minyak Eucalyptus dan


Proses Pembuatannya
Formula Difusi Aromaterapi Berbahan Utama Minyak Eucalyptus dan Proses
Pembuatannya dihasilkan tahun 2020 dan dimanfaatkan dalam bentuk paten sejak
21 Januari 2021 dengan nomor lisensi : B-66.3/HK.230/H.4.3/01/2021
003/KWK/I/2021 oleh PT Kreasi Wijaya Kusuma. Difusi Aromaterapi Berbahan
Utama Minyak Eucalyptus dapat dilihat pada Gambar 33.

119

Kementerian Pertanian 2022 123


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

Gambar 33. Formula Difusi Aromaterapi Berbahan Utama Minyak Eucalyptus

3. Kit Elisa Untuk Mendeteksi Antibodi Terhadap Nucleoprotein Virus SARS


Cov-2
Kit Elisa Untuk Mendeteksi Antibodi Terhadap Nucleoprotein Virus SARS Cov-2
seperti yang ditunjuukan pada Gambar 34, dihasilkan tahun 2020 dan
dimanfaatkan sejak 2 Maret 2021 dengan nomor lisensi :
389/HK.520/H.5.1/03/2021 001/Eks/CEO/III/2021 oleh PT Biotis Pharmaceuticals
Indonesia dalam bentuk paten.

Gambar 34. Kit Elisa Untuk Mendeteksi Antibodi Terhadap Nucleoprotein Virus
SARS Cov-2

4. Kentang Varietas Golden Agrihorti


Kentang Varietas Golden Agrihorti seperti ditunjukkan pada Gambar 35, dilepas
melalui SK Mentan No. 186/Kpts/SR.130/D/IX/2020 dan dimanfaatkan sejak 3
November 2021 dengan nomor lisensi : 1552/HK.220/H.3.1/11/2021 01/PL-
311/2021 oleh PT Asagro Makmur Alam dalam bentuk PVT. Keunggulan dari
formula ini salah satunya adalah cocok untuk bahan baku French fries dan berdaya
hasil tinggi.

120

124 Kementerian Pertanian 2022


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

Gambar 35. Kentang Varietas Golden Agrihorti

5. Formulasi Feromon dan Proses Pembuatannya (feromon-Exi)


Formulasi Feromon seperti pada Gambar 36, dan Proses Pembuatannya (Feromon-
Exi) dihasilkan tahun 2012 dan dimanfaatkan sejak 14 Agustus 2021 dengan
nomor lisensi : B-8324/HK.230/H.11/11/2021 801/NSG/F-EXI/2021 oleh CV
Nusagri dalam bentuk paten. Feromon merupakan senyawa yang diproduksi dan
dilepas oleh serangga untuk memikat serangga lawan jenisnya karena adanya
tanggapan fisiologi tertentu. Zat ini berasal dari kelenjar endokrin. Feromon Exi
hadir memberikan solusi dalam pengendalian hama ulat bawang secara efektif dan
ekonomis.

Gambar 36. Formulasi Feromon dan Proses Pembuatannya (Feromon-Exi)

121

Kementerian Pertanian 2022 125


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

6. Mesin penanam Padi Untuk lahan Sawah Dalam ( Rice Transpanter jajar
Legowo)
Mesin Penanam Padi Untuk Lahan Sawah Dalam (Rice Transplanter Jajar Legowo)
dihasilkan tahun 2018 dan telah banyak dimanfaatkan oleh petani dalam
pengembangan kawasan, dan juga telah dimanfaatkan sejak 22 Februari 2021
dengan nomor lisensi: B-2543/HK.230/H.9/07/2021 008/KONTRAK/TMS/2021 oleh
PT Tanikaya Multi Sarana dalam bentuk paten. Keunggulan dari mesin ini salah
satunya adalah kemudahan operasional, mampu menggantikan 20 tenaga kerja
tanam/ha, kapasitas lapang 5-6 jam/ha sehingga mampu menurunkan kebutuhan
tenaga kerja dan biaya tanam sekaligus mempercepat waktu tanam.
7. Perbaikan Teknologi Pengolahan Produk Dari Umbi Porang Berkualitas
Ekspor
Kementerian Pertanian, menggelar kegiatan bimbingan teknis (Bimtek)
pengolahan pasca panen tanaman porang bagi sejumlah anggota kelompok tani
porang di Kabupaten Manggarai Timur, pada Senin (6/9/2021) seperti ditunjukkan
pada Gambar 37.

Gambar 37. Kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) Pengolahan Pasca Panen


Tanaman Porang
Dalam kegiatan ini, selain mendapatkan materi, para peserta juga melakukan
praktik, mulai dari pengolahan chip porang hingga pengolahan aneka produk
tepung porang jadi mie porang, beras porang, cake porang, selai porang, brownies
porang, jelly porang, dan stik porang. Hal ini dilakukan agar harga jual porang
lebih tinggi jika dibandingkan dijual dalam bentuk glondongan.
8. Peta Tanah, Peta Lahan Gambut, Peta Status Hara P dan K
Kompilasi peta di atas telah dimanfaatkan pada tahun 2021 oleh beberapa
Pemda/Pemprov seperti Prov Riau, Bupati Pakpak Barat, Walikota Bandar
Lampung, Prov Sumsel; Perguruan Tinggi, seperti IPB, UNAND, UTB, UNNES, IT

122

126 Kementerian Pertanian 2022


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

DEL, UGM, dan Swasta seperti PT. Samukti Karya Lestari, GIZ PROPEAT. Contoh
peta dapat dilihat pada Gambar 38.

Gambar 38. Tampilan Muka Peta Tanah

9. Aplikasi Android Sebaran Teknologi Unggulan


Pada dasarnya rekomendasi teknologi pada suatu tempat dapat diterapkan di
lokasi lain dengan karakteristik yang serupa. Informasi deskripsi teknologi yang
berhasil dikembangkan di suatu tempat penting juga diketahui oleh berbagai
pemangku kepentingan di daerah lainnya. Data-data yang telah dihasilkan telah
dikumpulkan melalui pengembangan database dan sistem informasi yang disebut
SI Sebaran Teknologi Unggulan. Kementerian Pertanian membangun dan
mengembangkan sebuah Sistem Informasi sebaran teknologi unggulan berbasis
webGIS (Geographic Information System) dan android. Dalam aplikasi tersebut
juga memuat database jaringan pertanian nasional (JPN) yang menjadi mitra
pendampingan teknologi Balitbangtan.
Kemampuan GIS berbeda dengan sistem informasi lainnya membuatnya menjadi
berguna bagi berbagai kalangan untuk menjelaskan kejadian, merencanakan
strategi, dan memprediksi apa yang akan terjadi. Kemampuan GIS antara lain
memetakan letak, memetakan kuantitas, memetakan kerapatan (Densities),
memetakan perubahan dan memetakan apa yang ada di dalam dan di luar suatu
area.

123

Kementerian Pertanian 2022 127


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

Sistem Informasi Sebaran Teknologi Unggulan, dapat dilihat pada link berikut:
[Link] Versi android SI Sebaran Teknologi
Unggulan dapat diunduh dalam link sebagai berikut:
[Link] Tampilan
aplikasi dapat dilihat pada gambar 39.

Gambar 39. Tampilan Aplikasi Sebaran Teknologi pada Android


Tercapainya kinerja indikator ini dipengaruhi oleh beberapa faktor internal maupun
ekternal. Faktor internal yang mempengaruhi antara lain:
a. Diterapkannya monitoring dan evaluasi kegiatan secara periodik, mulai tahap
perencanaan hingga tahap akhir sehingga fungsi pengawasan pada setiap tahapan
kegiatan berjalan dengan baik;
b. Sarana dan prasarana penelitian serta sumberdaya anggaran cukup memadai
untuk mendukung kegiatan penelitian, seperti laboratorium, perpustakaan,
pengolah data, jaringan internet, dan lain-lain;
c. Tata kelola yang selaras dengan standar manajemen ISO 9001:2008 sebagai
acuan pelaksanaan manajemen, SNI ISO/IEC 17025:2008 untuk laboratorium, dan
manajemen penelitian Komite Nasional Akreditasi Pranata Penelitian dan
Pengembangan (KNAPPP) untuk meningkatkan mutu hasil litbang;
d. Komitmen yang kuat dari Pimpinan dalam mendukung pelaksanaan kegiatan, serta
ketersediaan sumberdaya manusia, baik tenaga fungsional peneliti, teknisi
litkayasa dan tenaga administrasi yang memadai;
e. Intensifnya pertemuan/koordinasi secara berjenjang di tingkat Balitbangtan
sampai ke UK dan UPT untuk memantau capaian pelaksanaan kegiatan.

124

128 Kementerian Pertanian 2022


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

Faktor eksternal yang mempengaruhi keberhasilan kegiatan penelitian diantaranya


adalah telah terjalinnya komunikasi dan koordinasi yang cukup baik dengan instansi
terkait, baik di lingkup Kementerian Pertanian maupun dengan kementerian lain serta
Pemerintah Daerah. Hal ini memudahkan dalam proses hilirisasi kegiatan dan diseminasi
hasil-hasil penelitian.
Upaya perbaikan tetap dilakukan oleh seluruh jajaran Balitbangtan dalam rangka
tercapainya sasaran kegiatan, diantaranya dilakukan dengan : 1) meningkatkan
kompetensi SDM peneliti dan teknisi dalam rangka pencapaian sasaran mutu yang
diharapkan, 2) merencanakan dan mempersiapkan pelaksanaan kegiatan secara cermat,
3) melakukan padu padan pola kerjasama Balit Komoditas dengan BPTP, 4) perlunya
inventarisasi teknologi atau komponen teknologi yang telah dihasilkan Balit Komoditas
secara berkala, dan 5) Melakukan koordinasi yang lebih intensif dengan pihak eksternal
Balitbangtan.
Selain itu, Upaya perbaikan terhadap hasil penelitian yang belum seluruhnya
dimanfaatkan oleh masayarakat dilakukan dengan berbagai cara, yaitu: 1) menyediakan
inovasi yang tepat guna (good innovation) dan berorientasi pada kebutuhan petani
pengguna bukan pada pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi; 2)
meningkatkan pemahaman dan komitmen pimpinan daerah terhadap pengembangan
dan penyelenggaran penyuluhan, serta kelembagaan penyuluhan; 3) memberikan
kepercayaan dan kesempatan kepada petani terutama petani menengah ke bawah untuk
menggunakan inovasi teknologi yang disediakan dengan diawali fasilitasi dan bimbingan
dari penyuluh; dan 4) memilih metode penyuluhan yang efektif (good extension
method), serta memberdayakan agen penyuluhan secara optimal (good extension
agent).

125

Kementerian Pertanian 2022 129


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

SS 3. IKU 14
Persentase Petani yang Menerapkan Teknologi

Target Realisasi
75% 75,51%

% Capaian
100,68 %
Sangat Berhasil

Inovasi dan teknologi pertanian merupakan salah satu faktor yang penting dalam
peningkatan produksi dan produktivitas komoditas pertanian. Namun inovasi dan
teknologi pertanian tidak akan bermanfaat jika petani tidak menggunakan atau
menerapkannya dalam kegiatan usahataninya karena petani sebagai pelaku utama
dalam kegiatan pertanian. Agar inovasi dan teknologi dapat diterapkan oleh petani
dibutuhkan proses diseminasi inovasi dan teknologi oleh Penyuluh Pertanian melalui
kegiatan penyuluhan pertanian. Penyuluhan pertanian berperan sangat penting karena
sebagai jembatan teknologi dan inovasi hasil penelitan bagi petani, sehingga mereka
mau dan mampu menerapkan inovasi dan teknologi untuk peningkatan produksi serta
produktivitas usahataninya
Diseminasi inovasi teknologi pertanian merupakan proses penyampaian hasil pengkajian
teknologi yang mengandung ilmu pengetahuan dan teknologi baru atau cara baru untuk
diterapkan dalam proses produksi atau kegiatan budidaya. Proses inovasi dan diseminasi
teknologi pertanian sangat penting dalam mendorong proses penerapan inovasi serta
teknologi oleh petani dalam pengelolaan usahataninya.
Penerapan inovasi dan teknologi pertanian pada hakekatnya adalah proses perubahan
perilaku petani, baik berupa pengetahuan (cognitive), sikap (affective) dan keterampilan
(psychomotoric) dalam kegiatan usahataninya guna meningkatkan produksi,
produktivitas dan pendapatan petani serta ketahanan pangan. Penyuluh Pertanian
merupakan salah satu faktor yang berperan penting dalam proses diseminasi inovasi dan
teknologi kepada petani di WKPP, dengan materi inovasi teknologi yang bersumber dari
hasil penelitian dan kajian atau sumber informasi lainnya. Salah satu indikator
keberhasilan kegiatan penyuluhan pertanian meningkatnya jumlah petani yang
menerapkan teknologi pertanian guna meningkatkan produksi dan produktivitas
usahataninya.
Berdasarkan hasil monitoring dan evaluasi terhadap capaian Indikator Kinerja Utama
(IKU) petani yang menerapkan teknologi, yang salah satunya bersumber dari laporan
penyuluh pertanian, telah dicapai sebanyak 17.160.420 petani yang menerapkan
teknologi sepanjang tahun 2021, dari 22.725.437 petani yang tergabung dalam
kelompok tani secara nasional dan terdaftar dalam Aplikasi Simluhtan pada periode
tanggal 31 Desember 2021.

130 Kementerian Pertanian


126 2022
Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

Ppengukuran capaian kinerja persentase petani yang menerapkan teknologi pertanian


dihitung dengan formula:

∑ Jumlah petani yang menerapkan teknologi pertanian


X 100%
∑ total petani di wilayah kerja penyuluh pertanian

Mengacu pada formula perhitungan capaian kinerja tersebut, maka diperoleh data
capaian realisasi persentase jumlah petani yang menerapkan teknologi, sebagai berikut:
= 17.160.420 / 22.725.437 x 100%
= 75,51 %
Persentase capaian kinerja adalah :
= 75,51 / 75,00 x 100
= 100,68 % (sangat berhasil)
Sesuai hasil perhitungan tersebut, bahwa capaian realisasi persentase petani yang
menerapkan teknologi tahun 2021 yaitu sebesar 75,51% atau 17.160.420 petani,
dari target capaian yang ditetapkan sebesar 75% atau 17.044.078 petani. Hal ini
menunjukkan bahwa capaian kinerja petani yang menerapkan teknologi adalah sangat
berhasil yaitu sebesar 100,68%.
Capaian realisasi tersebut, sangat dipengaruhi oleh kegiatan diseminasi teknologi kepada
para petani melalui berbagai metode, antara lain: Sekolah Lapangan (SL) penerapan
teknologi yang bersumber dari anggran APBN maupun PHLN (SIMURP dan IPDMIP),
bimbingan teknis, latihan, kunjungan, dan supervisi oleh penyuluh pertanian, dll. Terkait
hal tersebut, rincian capaian petani yang menerapkan teknologi sebanyak 17.160.420
petani (75,51%), diperoleh dari petani yang mengikuti kegiatan:
1. Sekolah Lapangan (SL) penerapan teknologi yang bersumber dari anggaran Dana
Dekonsentrasi menghasilkan output petani yang menerapkan teknologi pertanian
sebanyak 32.096 petani. Kegiatan SL dilaksanakan di 131 Balai Penyuluhan
Pertanian (BPP), 131 kabupaten dan 33 provinsi. Kegiatan SL tersebut diikuti oleh
1.310 poktan peserta dan dilakukan pengawalan dan pendampingan oleh 517
Penyuluh Pertanian, seperti ditunjukan pad Gambar 40.

Gambar 40. Kegiatan Penyuluh Pertanian di Prov. Maluku

Kementerian Pertanian 2022 127 131


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

2. Sekolah Lapangan (SL) penerapan teknologi Climate Smart Agriculture (CSA) yang
bersumber dari anggaran PHLN (Proyek SIMURP) menghasilkan output petani yang
menerapkan teknologi pertanian sebanyak 12.160 petani, dengan rincian:

a. Petani peserta Sekolah Lapangan (SL) CSA, dengan rincian’: 76 BPP x 3 Penyuluh
Pertanian x 8 poktan x 5 petani = 9.120 petani;

Berdasarkan rincian tersebut, bahwa kegiatan Sekolah Lapang (SL) CSA


dilaksanakan di 76 BPP. Masing-masing BPP diikuti oleh 2 Penyuluh Pertanian dan
8 poktan sebagai peserta. Dari masing-masing poktan rata-rata sebanyak 5
petani yang menerapkan teknologi CSA
b. Petani binaan Koordinator Penyuluh Pertanian/Koordinator BPP dan bukan
merupakan petani peserta SL CSA, namun dilakukan pengawalan dan
pendampingan oleh Korluh sebagai upaya untuk menambah jumlah petani yang
mendapatkan fasilitasi kegiatan CSA SIMURP (outreach), dengan rincian : 76 BPP
x 1 Koordinator Penyuluh Pertanian x 8 poktan x 5 petani = 3.040 petani

Berdasarkan rincian tersebut, bahwa setiap Koordinator Penyuluh Pertanian


melakukan diseminasi teknologi CSA kepada 8 poktan binaannya, dan dari
masing-masing poktan rata-rata sebanyak 5 petani yang menerapkan teknologi
CSA. Contoh kegiatan sekolah lapang dapat ditunjukkan pada Gambar 41.

Gambar 41. Kegiatan Sekolah Lapang

3. Sekolah Lapangan (SL) penerapan teknologi seperti ditunjukkan Gambar 42,


bersumber dari anggaran PHLN (Proyek IPDMIP) yang dilaksanakan di 712 BPP, 65
kabupaten, dan 14 provinsi menghasilkan output petani yang menerapkan teknologi
pertanian sebanyak 412.692 petani. Data jumlah petani yang menerapkan
teknologi pertanian seperti pada Lampiran 8.

Gambar 42. Kegiatan Sekolah Lapang Penerapan Teknologi

132 Kementerian Pertanian


128 2022
Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

4. Fasilitasi bagi Penyuluh Pertanian Swadaya (PPS) menghasilkan output petani yang
menerapkan teknologi sebanyak 192.000 petani, dengan rincian sebagai berikut
: 2.400 Penyuluh Pertanian Swadaya (PPS) x 4 poktan x 20 petani =
192.000 petani.

5. Fasilitasi Biaya Operasional Penyuluh (BOP) bagi 38.221 Penyuluh Pertanian,


yang terdiri dari 24.742 Penyuluh Pertanian PNS, 11.404 PPPK, dan 2.075 THL-TB
PP menghasilkan output petani yang menerapkan teknologi sebanyak 16.511.472
petani. Fasilitasi BOP tersebut merupakan bantuan operasional bagi Penyuluh
Pertanian dalam kegiatan pengawalan dan pendampingan kepada poktan dan petani
binaannya, salah satunya melakukan diseminasi inovasi dan teknologi. Output dari
kegiatan diseminasi teknologi pertanian adalah meningkatnya jumlah petani yang
mau dan mampu menerapkan teknologi tersebut. Setiap Penyuluh Pertanian
melakukan diseminasi kepada 16 poktan, dan dari masing-masing poktan rata-rata
sebanyak 27 petani yang menerapkan teknologi pertanian.

Pada umumnya, jenis inovasi teknologi yang diterapkan oleh petani, meliputi:
1. Aspek input
a. Pemupukan Berimbang
b. Penggunaan pupuk kompos dan pestisida nabati
c. Penggunaan Benih Varietas Unggul Baru (VUB)
2. Aspek budidaya
a. Penerapan jarak tanam
b. Penerapan sistem penanaman jajar legowo 2:1
c. Penerapan sistem penananam jajar legowo super
d. Pengendalian hama terpadu
e. Budidaya tanaman dengan sistem organic
f. Budidaya tanaman dengan sistem pertanian terpadu
g. Mekanisasi pertanian (penggunaan alsinta seperti trantor roda dua, tractor roda
empat, combine harvester, rice transplenter)
h. Sistem Tunda Potong, nutrisi dan pakan ternak
i. Optimalisasi reproduksi IB/KA pengendalian keswan
j. Budidaya Ayam KUB (Kampung Unggul Balitbangtan) dan Bangkok
k. Pengelolaan Kandang semi intensif
3. Aspek pengolahan dan packaging
a. Penggunaan Rice Milling Unit/RMU
b. Pengolahan pupuk kompos.

Beberapa faktor yang mempengaruhi keberhasilan capaian realisasi petani yang


menerapkan teknologi pertanian, antara lain:
1. Dukungan dalam optimalisasi peran dan fungsi BPP sebagai pusat data dan
informasi melalui penyediaan Sarana IT bagi BPP; dan
2. Dukungan dalam penderasan informasi dan materi penyuluhan pertanian serta
diseminasi inovasi teknologi yang dilakukan melalui berbagai media antara lain:

Kementerian Pertanian 2022 129 133


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

media cetak (Tabloid Sinar Tani, Majalah Swadaya, dll), video tutorial, infographis,
dan media online/daring seperti website cyber extension, dan acara “Ngobrol
Asyik”/Ngobras serta acara “Mentan Sapa Petani dan Penyuluh” (MSPP) yang
dilakukan secara rutin pada setiap hari Selasa dan Jum’at seperti diilustrasikan pada
Gambar 43.

Gambar 43. Kegiatan Penderasan Informasi dan Materi Penyuluhan Pertanian

3. Dukungan melalui fasilitasi pembiayaan untuk penguatan penyelenggaraan


penyuluhan pertanian melalui Dana Dekonsentrasi bagi 34 provinsi, berupa fasilitasi
anggaran kegiatan Sekolah Lapangan (SL), fasilitasi bagi Penyuluh Pertanian
Swadaya (PPS), Honorarium dan BPJS bagi THL-TB PP, Biaya Operasional Penyuluh
(BOP), pengawalan dan pendampingan secara berjenjang dari mulai provinsi,
kabupaten/kota sampai kecamatan, dan dukungan manajemen satker

4. Dukungan melalui fasilitasi lainnya, berupa:

a. Renovasi BPP untuk optimalisasi 5 peran BPP


b. Penyediaan paket data bagi penyuluh pertanian
c. Fasilitasi Demonstrasi Farming (Demfarm) penerapan inovasi teknologi yang
bersumber dari PHLN (IPDMIP)
d. Pelatihan/Training of Farmer (TOF) yang bersumber dari kegiatan SIMURP

Training of Farmers
(ToF) Climate
Smart Agriculture
(CSA) (SIMURP) di
Kec. Pagaden Kab.
Subang Jawa
Barat,Sep 2020

Gambar 44. Kegiatan ToF Climate Smart Agriculture (CSA) (SIMURP

134 Kementerian Pertanian


130 2022
Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

5. Peningkatan kapasitas penyuluh pertanian melalui kegiatan bimbingan teknis


(bimtek), pelatihan, dll, guna meningkatkan kinerjanya

6. Penyediaan aplikasi yang terkoneksi dengan internet untuk ketersediaan data,


informasi dan materi penyuluhan pertanian yaitu aplikasi Sistem Manajemen
Informasi Penyuluhan Pertanian (Simluhtan) dan Cyber Extension. Cyber extension
merupakan pengembangan informasi dan inovasi pertanian berbasis teknologi
informasi dan inovasi komunikasi (TIK) dengan menggunakan jaringan komputer
terprogram yang terkoneksi dengan internet. Berkembangnya sistem penyuluhan
pertanian melalui cyber extension akan lebih mampu memngembangkan sistem
akses informasi aktual, inovasi, kreativitas dan uji lokal serta dapat meningkatkan
keberdayaan penyuluh pertanian melalui penyiapan informasi dan materi
penyuluhan pertanian secara tepat waktu;

7. Pengawalan dan pendampingan penyuluh pertanian secara berjenjang dari mulai


pusat, provinsi, kabupaten/kota, kecamatan, dan desa melalui kegiatan: latihan,
kunjungan, supervisi, pertemuan offline dan online, dll

8. Meningkatkan sinergitas diinternal Kementerian Pertanian maupun Pemerintah


Daerah dalam optimalisasi penyelenggaraan penyuluhan pertanian.

Beberapa permasalahan/kendala yang dihadapi dalam kegiatan diseminasi teknologi


pertanian, meliputi:
1. Masih adanya wabah pandemi Covid-19, sehingga berdampak terhadap refocusing
anggaran dan kegiatan penyuluhan pertanian baik di pusat maupun daerah yang
berakibat tidak optimalnya capaian output kegiatan penyuluhan pertanian;
2. Keterbatasan akses dan sarana prasarana media informasi dan komunikasi serta
sarana pendukung kegiatan penyuluhan lainnya pada beberapa Dinas yang
menyelenggarakan fungsi penyuluhan pertanian di provinsi, kabupaten/kota,
kecamatan, BPP, penyuluh pertanian, dan petani
3. Kondisi Sumberdaya Manusia (SDM), antara lain:
a. Pada umumnya tingkat pendidikan petani rendah, hal ini menyebabkan
kemampuan dalam mengolah informasi dan mengadopsi teknologi relative
sangat terbatas;
b. Pada umumnya, petani pengguna inovasi merupakan petani yang berskala kecil
dan kurang berani menanggung risiko dalam mengadopsi inovasi serta teknologi
pertanian;
c. Keterbatasan kualitas dan kuantitas Penyuluh Pertanian di lapangan.
4. Latar belakang sosial budaya masyarakat yang beragam sehingga mengakibatkan
timbulnya multipersepsi terhadap introduksi inovasi dan teknologi baru.

Kementerian Pertanian 2022 131 135


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

SASARAN STRATEGIS 4 (SS 4)


Meningkatnya Kualitas Sumber Daya Manusia Dan
Kelembagaan Pertanian Nasional

Perkembangan pasar global Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) menuntut persaingan


kualitas dan profesionalisme tenaga kerja yang kompeten pada bidang-bidang tertentu.
Konsekuensi logis dari kondisi ini, menuntut tersedianya sumber daya manusia yang
berkualitas dan berdaya saing. Upaya untuk meningkatkan dan mengembangkan
kompetensi kerja sumber daya manusia sektor pertanian dapat dilakukan melalui
pendidikan, pelatihan, dan pengembangan karir sesuai dengan minat, bakat, serta
kemampuan. Sumberdaya manusia pertanian yang telah mengikuti pelatihan dan
Pendidikan diharapkan dapat menerapkan ilmu yang diperolehnya dilapangan sehingga
dapat meningkatkan produksi dan kesejahteraannya. Disamping itu juga berkontribusi
dalam upaya mendorong kemajuan pertanian.
Kementerian Pertanian bertanggung jawab terhadap pembangunan dan pengembangan
SDM pertanian yang akan terwujud melalui program-program penyuluhan pertanian,
pelatihan pertanian, pendidikan pertanian, serta standardisasi dan sertifikasi profesi
pertanian.
Sasaran Strategis Kementerian Pertanian keempat adalah Meningkatnya Kualitas Sumber
Daya Manusia dan Kelembagaan Petani Nasional yang keberhasilannya dapat diukur
melalui indikator kinerja, yaitu (1) Persentase SDM pertanian yang meningkat
kapasitasnya dan (2) Kelembagaan petani yang meningkat kapasitasnya.

136 Kementerian Pertanian


132 2022
Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

SS 4. IKU 15
Persentase SDM Pertanian Yang Meningkat Kapasitasnya
Target Realisasi
75% 79,92%

% Capaian
106,56%

Pengukuran indikator kinerja persentase SDM pertanian yang meningkat kapasitasnya


yaitu perbandingan antara peserta yang mengikuti pelatihan dan sudah menerapkan
materi pelatihan dengan total peserta yang mengikuti pelatihan. Sumber Daya Manuasia
Pertanian yang mengikuti pelatihan adalah Aparatur dan non aparatur pertanian yang
sudah mendaftarkan di UPT Pelatihan, setiap peserta yang mengikuti pelatihan akan
didata ke dalam aplikasi elektronik Sistem Informasi Pelatihan Pertanian (eSIPP).
Persentase SDM pertanian yang meningkat kapasitasnya dihitung dengan formula
sebagai berikut :

∑ SDM pertanian yang menerapkan materi pelatihan


X 100%
∑ SDM pertanian yang mengikuti pelatihan pertanian

Adapun data tersebut diperoleh dengan cara:


1. Data Jumlah (∑) SDM Pertanian yang menerapkan materi pelatihan diperoleh dengan
melakukan Kunjungan Lapang, wawancara, observasi dengan menggunakan
instrument dan/atau menggunakan system aplikasi online;
2. Data Jumlah (∑) SDM pertanian yang mengikuti pelatihan diperoleh dari realisasi fisik
peserta yang mengikuti pelatihan.
Pada tahun 2021, SDM yang mengikuti pelatihan berjumlah 39.888 Orang, jumlah
peserta yang sudah menerapkan materi pelatihan 31.877. Berdasarkan data tersebut,
maka capaian realisasi persentase SDM pertanian yang menerapkan materi pelatihan
pada tahun 2021 adalah:
= 31.877 / 39.888 x100
= 79,92 %
Persentase capaian kinerja adalah :
= 79,92 / 75,00 x 100
= 106,56% (Sangat Berhasil)
Target persentase SDM yang menerapkan materi pelatihan pada tahun 2021 adalah 75%
dengan realisasi 79,92%. Hal ini menunjukkan bahwa persentase capaian kinerja SDM
yang menerapkan materi pelatihan adalah 106,56% (Sangat Berhasil).
Hambatan dalam pengukuran indikator kinerja Persentase SDM pertanian yang
meningkat kapasitasnya untuk tahun 2021, variabelnya adalah peserta pelatihan yang
menerapkan materi pelatihan dan didukung dengan eviden penerapannya.

Kementerian Pertanian 2022 133 137


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

Hambatannya adalah purnawidya pelatihan memerlukan sarana untuk menyampaikan


eviden penerapan materi pelatihan. Sedangkan penyelenggara pelatihan memelukan
waktu untuk merekap dan menyajikan data.
Upaya penanggulangan yang dilakukan agar purnawidya peserta pelatihan dapat
menyampaikan eviden penerapan materi pelatihan, dan penyelenggara Pelatihan dapat
dengan cepat menyajikan laporan dari hasil yang disampaikan oleh purnawidya, pusat
pelatihan pertanian telah menyiapkan aplikasi dengan nama e-pik (elektronik
pengukuran indikator kinerja) dimana penyelenggara pelatihan dan purnawidya dapat
memanfaatkan aplikasi tersebut sesuai dengan kebutuhannya.
Persentase SDM Pertanian yang meningkat kapasitasnya baru menjadi indikator
Kementerian Pertanian tahun 2021. Sebelumnya indikator ini menjadi satu pengukuran
dengan kelembagaan yang meningkat kapasitasnya. Sehingga capaian indikator ini tidak
dapat dibandingkan dengan capaian tahun 2020.
Apabila dibandingkan dengan target jangka menengah sebesar 90%, maka capaian
tahun ini telah terealisasi sebesar 88,8%. Oleh karena itu, diperlukan program kegiatan
dalam mendukung pencapaian kinerja tersebut di tahun mendatang.
Capaian Kinerja dengan IKSK “Persentase SDM pertanian yang meningkat kapasitasnya”
tahun 2021 secara rinci terlihat dalam tabel 40.
Tabel 40. Persentase SDM pertanian yang meningkat kapasitasnya tahun 2021

No SATKER ∑Total SDM yang ∑ SDM Pertanian %


mengikuti yang menerapkan
pelatihan materi pelatihan
1 PPMKP CIAWI 5.056 4.120 81,49
2 BBPKH CINAGARA 4.425 3.454 78,06
3 BBPP LEMBANG 4.706 3.770 80,11
4 BBPP KETINDAN 3.679 3.012 81,87
5 BBPP BATU 4.528 3.594 79,37
6 BBPP BATANGKALUKU 4.122 3.212 77,92
7 BBPP BINUANG 3.116 2.580 82,80
8 BBPP KUPANG 2.946 2.519 85,51
9 BPP JAMBI 3.491 2.701 77,37
10 BPP LAMPUNG 3.819 2.915 76,33
TOTAL 39.888 31.877 79,92
Sumber: BPPSDMP, 2021

138 Kementerian Pertanian


134 2022
Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

Keberhasilan pencapaian kinerja Persentase SDM Pertanian yang Meningkat Kapasitasnya


adalah didukung oleh beberapa kegiatan, antara lain :
a. Identifikasi Kebutuhan Pelatihan
Pelatihan yang baik akan membawa perubahan kepada pesertanya, namun untuk
menyelenggarakan pelatihan yang baik tersebut maka harus dilakukan Identifikasi
kebutuhan pelatihan yang tepat. Identifikasi Kebutuhan Pelatihan yang selanjutnya
disingkat dengan IKP adalah suatu proses analisis membandingkan antara Standar
Kompetensi Kerja (SKK) dengan Kompetensi Kerja Nyata (KKN) untuk mendapatkan
kekurangan Kompetensi Kerja (KKK).

b. Metode Dan Kurikulum Pelatihan Yang Tepat


Metodologi Pelatihan ditentukan sesuai dengan sasaran peserta Pelatihan yang akan
dilatih. Metodologi Pelatihan menggunakan pendekatan pendidikan orang dewasa
(andragogy), Experiential Learning Cycle (ELC) atau Alami, Kemukakan, Olah,
Simpulkan, Aplikasikan (AKOSA). Pendekatan ini dapat dilakukan dalam bentuk
ceramah, diskusi, curah pendapat, simulasi, studi kasus, praktik, magang, bermain
peran, dan/atau penugasan.
Penyusunan kurikulum didasarkan Analisis Kebutuhan Pelatihan (AKP) masing-masing
mata Pelatihan. Penyusunan kurikulum berdasarkan AKP dirinci ke dalam tujuan,
asaran, mata Pelatihan; dan silabus. Selain Penyusunan Kurikulum juga disusun
silabus Pelatihan, Penyusunan silabus pelatihan didasarkan pada elemen Kompetensi,
Kriteria Unjuk Kerja (KUK), indikator unjuk kerja, materi Pelatihan; dan perkiraan
waktu Pelatihan. Kurikulum dan silabus dibobot ke dalam perkiraan waktu atau jumlah
jam pelajaran.

c. Profesionalisme Ketenagaan Pelatihan (Pengelola Pelatihan Dan Widyaiswara)


Penetapan Ketenagaan Pelatihan didasarkan pada kesesuaian Kompetensi materi,
spesialisasi, dan pengalaman yang dimiliki; penguasaan metodologi pembelajaran
dan manajemen kelas; kemampuan menyusun Garis Besar Pelaksanaan
Pembelajaran, Satuan Acara Pembelajaran, Rencana Proses Pembelajaran
(GBPP/SAP/RPP), dan menyiapkan materi pembelajaran; Kemampuan menyusun dan
menggunakan bahan ajar; kemampuan menilai hasil berlatih peserta; jiwa
pengabdian dan tanggung jawab; dan pengutamaan bagi yang memiliki sertifikat
Pelatihan bagi pelatih di bidangnya.

d. Prasarana Dan Sarana Pelatihan yang Mendukung


Penyediaan prasarana dan sarana Pelatihan disiapkan oleh Penyelenggara Pelatihan
untuk menjamin proses Pelatihan berlangsung sesuai dengan kebutuhan pada setiap
jenis dan jenjang Pelatihan.

e. Peran aktif peserta dalam mengikuti pelatihan


Peserta yang aktif dalam pengikuti pelatihan ikut berperan dalam capaian Indikator
Kinerja Sasaan Kegiatan SDM yang meningkat kapasitasnya, ini ditunjukan antara
lain: peserta aktif dalam proses pelatihan baik dikelas maupun pada saat praktek,

Kementerian Pertanian 2022 135 139


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

peserta mempelajari materi yang diberikan, peserta mengerjakan test dengan serius,
peserta aktif diskusi dengan peserta lain dalam rangka sharing experience.
Selama pelaksanaan kegiatan peningkatan kapasitas SDM pertanian tahun 2021
terkendala dengan adanya refocusing anggaran sebagai dampak pandemic Covid – 19.
Adapun upaya yang dilakukan dalam menghadapi kendala tersebut melaksanakan
program pelatihan online berbasis Learning Management System (LMS) dan Zoom
Meeting dengan nama Bertani On Cloud (BOC). Dengan BOC maka peningkatan
kompetensi SDM melalui pelatihan pertanian tetap dapat dilaksanakan tanpa terkendala
jarak, ruang dan waktu, sehingga dapat meningkatkan pengetahuan bagi penyuluh dan
petani.

140 Kementerian Pertanian


136 2022
Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

SS 4. IKU 16
Persentase Kelembagaan Petani Yang Meningkat
Kapasitasnya
Target Realisasi
19% 19,83%

% Capaian
104,37%

Kelembagaan Petani adalah lembaga yang ditumbuhkembangkan dari, oleh, dan untuk
petani guna memperkuat dan memperjuangkan kepentingan petani, mencakup
Kelompok tani, Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan), Asosiasi Komoditas Pertanian, dan
Dewan Komoditas Pertanian. Indikator peningkatan kapasitas kelembagaan petani yaitu:
1) kelompoktanai (poktan) yang meningkat kelas kemampuannya, dan 2)
poktan/gapoktan yang bertransformasi menjadi Kelembagaan Ekonomi Petani (KEP).
Kelembagaan Ekonomi Petani (KEP) adalah lembaga yang melaksanakan kegiatan
usahatani yang dibentuk oleh, dari dan untuk petani, guna meningkatkan produktivitas
dan efisiensi usahatani baik yang berbadan hukum maupun yang tidak berbadan hukum.
Secara umum pembentukan Kelembagaan Ekonomi Petani (KEP) dimaksudkan untuk
meningkatkan pelayanan kepada petani agar berkembang usahataninya,
memberdayakan poktan dan gapoktan dalam mengembangkan usaha agribisnisnya
dengan berbasis kawasan pertanian, guna meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan
petani beserta keluarganya serta meningkatkan perekonomian di pedesaan.
Pembentukan KEP baik yang berbadan hukum atau belum berbadan hukum seperti
koperasi, Kelompok Usaha Bersama (KUB) dll, dilakukan melalui transformasi
kelembagaan petani (poktan/gapoktan) agar lebih terarah dalam berusahatani untuk lebih
berorientasi agribisnis sehingga dapat meningkatkan pendapatan, nilai tambah, dan
kesejahteraan petani. Tranformasi tersebut dilakukan meliputi aspek manajemen
organisasi maupun manajemen usaha. Transformasi manajemen organisasi dilakukan
untuk meningkatkan kapasitas kelembagaan petani, dari struktur organisasi yang
sederhana dan bersifat sosial, dimana hanya terdapat kepengurusan yang terdiri dari
ketua, sekretaris, bendahara, dan anggota, menjadi struktur organisasi yang lebih
berorientasi bisnis komersial, yang terdiri dari ketua, sekretaris, bendahara, dan unit-unit
usaha serta dewan pengawas. Sementara transformasi usahatani dilakukan untuk
mengubah cara berusahatani yang semula secara subsistem sekedar pemenuhan
kebutuhan dasar menjadi lebih berorientasi agribisnis dan memiliki skala ekonomi
komersial, mekanik dan usaha yang menguntungkan dari hulu hingga hilir. Transformasi
kelembagaan petani dijelaskan secara ringkas pada gambar 45.

Kementerian Pertanian 2022 137 141


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

Gambar 45. Proses Pembentukan Kelembagaan Ekonomi Petani (KEP)


Tujuan Pembentukan KEP, antara lain:
1. Membentuk organisasi petani berbasis manajemen agribisnis berkarakter perusahaan;
2. Peningkatan skala usahatani, daya saing produk dan menguntungkan;
3. Mendorong para petani untuk berkelompok besar dalam satu manajemen di level
Kecamatan;
4. Meningkatkan posisi tawar, pendapatan dan kesejahteraan petani;
5. Mendorong terbentuknya usahatani skala ekonomi;
6. Memberikan nilai tambah kepada petani dan usahatani;
7. Mempermudah akses permodalan, saprodi, dan pemasaran.

Berdasarkan Indikator Kinerja Sasaran Program (IKSPP) Badan Penyuluhan dan


Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), bahwa kelembagaan petani yang meningkat
kapasitasnya adalah kelembagaan petani (poktan dan gapoktan) yang dikembangkan
menjadi Kelembagaan Ekonomi Petani (KEP) serta dievaluasi secara berkelanjutan dan
tercantum dalam Simluhtan.
Berdasarkan hasil monitoring dan evaluasi terhadap capaian Indikator Kinerja Utama
(IKU) persentase kelembagaan petani yang meningkat kapasitasnya, dengan bersumber
dari data Simluhtan pada periode 31 Desember 2021 dan laporan jumlah kelembagaan
petani yang menjadi KEP, maka diperoleh data sebanyak 12.833 KEP, dan data gapoktan
secara nasional serta terdaftar dalam aplikasi SImluhtan periode 31 Desember 2021
sebanyak 64.598 gapoktan.

142 Kementerian Pertanian


138 2022
Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

Adapun formula/cara menghitung persentase kelembagaan petani yang meningkat


kapasitasnya, yaitu :

=(∑Kelembagaan Ekonomi Petani) / (∑Total Kelembagaan Gapoktan) x 100%

Mengacu pada formula perhitungan capaian kinerja tersebut, maka diperoleh data
capaian realisasi persentase kelembagaan petani yang meningkat kapasitasnya pada
tahun 2021, sebagai berikut:
= 12.833 / 64.598 x100
= 19,83 %
Persentase capaian kinerja adalah :
= 19,83 / 19,00 x 100
= 104,37% (Sangat Berhasil)

Berdasarkan hasil perhitungan tersebut, bahwa capaian realisasi persentase


kelembagaan petani yang meningkat kapasitasnya pada tahun 2021 yaitu sebesar
19,83% atau 12.833 KEP, dari target capaian yang ditetapkan sebesar 19%. Hal ini
menunjukkan bahwa capaian kinerja kelembagaan petani yang meningkat kapasitasnya
adalah sangat berhasil yaitu sebesar 104,37%. Bentuk-bentuk KEP yang ditumbuhkan
dan dikembangkan yaitu : Koperasi Tani, PT, CV, Kelompok Usaha Bersama (KUB),
gapoktan bersama, dan LKMA. Data Rekapitulasi Jumlah Kelembagaan Ekonomi Petani
(KEP) Per Provinsi Tahun 2021 secara rinci ditunjukkan pada Tabel 41.
Persentase kelembagaan petani yang meningkat kapasitasnya baru menjadi indikator
Kementerian Pertanian tahun 2021. Sebelumnya indikator ini menjadi satu pengukuran
dengan persentase SDM yang meningkat kapasitasnya. Sehingga capaian indikator ini
tidak dapat dibandingkan dengan capaian tahun 2020.
Apabila dibandingkan dengan target jangka menengah sebesar 22%, maka capaian
tahun ini telah terealisasi sebesar 90,14%. Oleh karena itu, diperlukan program kegiatan
dalam mendukung pencapaian kinerja tersebut di tahun mendatang.

Kementerian Pertanian 2022 139 143


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

Tabel 41. Data Rekapitulasi Jumlah Kelembagaan Ekonomi Petani (KEP) Per Provinsi
Tahun 2021

Sumber : Simluhtan 31 Desember 2021

Faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan capaian persentase kelembagaan petani


yang meningkat kapasitasnya, meliputi:
1. Bimbingan Teknis Penumbuhan dan Pengembangan serta peningkatan kapasitas KEP
kepada Petugas pendamping dari Dinas Pertanian yang menangani urusan
penyuluhan di 100 kabupaten/kota dan 27 provinsi
2. Membangun sinergitas diinternal Kementerian Pertanian, K/L terkait dan daerah
dalam upaya penumbuhan dan pengembangan KEP menuju korporasi;
3. Penyebarluasan informasi dan materi penyuluhan melalui media cetak (Tabloid Sinar
Tani, Majalah Swadaya dan Trubus);

144 Kementerian Pertanian


140 2022
Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

4. Penyebarluasan informasi dan materi serta kebijakan penyuluhan atau program


utama Kementerian Pertanian secara daring/online, yaitu melalui Program Mentan
Sapa Petani dan Penyuluh (MSPP) serta Ngobrol Asyik Penyuluhan Pertanian
(NGobras) yang dilakukan secara daring oleh Pusat Penyuluhan Pertanian setiap
minggu, serta website cyber extension;
5. Pengawalan dan pendampingan penyuluh pertanian terhadap peningkatan kapasitas
kelembagaan petani, melalui langkah-langkah, sebagai berikut:
a. Melakukan identifikasi kepada poktan, gapoktan dan Kelompok Usaha Bersama
(KUB) terhadap 7 (tujuh) kriteria umum pembentukan KEP, yaitu:
1) Telah melakukan usaha kelompok berorientasi pasar;
2) Memiliki unit usaha agribisnis dalam struktur organisasinya;
3) Memiliki rencana usaha;
4) Memiliki pencatatan dan pembukuan usaha;
5) Telah membangun jejaring pengembangan usaha;
6) Telah membangun kemitraan usaha;
b. Merumuskan materi fasilitasi yang dibutuhkan oleh kelembagaan petani
berdasarkan hasil identifikasi;
c. Memfasilitasi pembelajaran kepada petani calon pengurus dan anggota KEP
tentang materi:
1) Pengenalan bentuk-bentuk kelembagaan ekonomi petani;
2) Manfaat kelembagaan ekonomi petani;
3) Persyaratan dan proses pembentukan kelembagaan ekonomi petani;
4) Struktur, tugas, tanggung jawab dan fungsi perangkat organisasi
kelembagaan ekonomi petani;
5) Kewajiban dan hak setiap anggota/pemegang saham, pengelola, pengurus,
pengawas/komisaris.
d. Memfasilitasi rembugtani atau musyawarah untuk menyepakati rencana
pembentukan KEP;
6. Tumbuhnya kesadaran petani untuk mengembangkan usahatani yang diwadahi
kelembagaan ekonomi petani.

Gambar 46. Profil Kelembagaan Ekonomi Petani yang Dimuat dalam Tabloid

Kementerian Pertanian 2022 141 145


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

Beberapa permasalahan/kendala yang dihadapi dalam mencapai indikator persentase


kelembagaan petani yang meningkat kapasitasnya, antara lain:
1. Tidak tersedia anggaran untuk kegiatan penumbuhan dan pengembangan KEP yang
bersumber dari Dana Dekonsentrasi akibat dilakukan refokusing anggaran;
2. Belum adanya petunjuk teknis dan SOP tentang pembentukan KEP;
3. Keterbatasan kemampuan penyuluh pertanian dan stake holder lainnya dalam
pembentukan KEP;
4. Keterbatasan pengetahuan dan kemampuan petani dalam pengelolaan manajemen
dan usaha;
5. Belum sinerginya antar instansi dan K/L lainnya dalam upaya penumbuhan dan
pengembangan KEP/Korporasi;
6. Kelembagaan ekonomi petani masih belum berorientasi usaha produktif;
7. Keterbatasan akses kelembagaan petani dan KEP terhadap sumber permodalan dan
pemasaran;
8. Kelembagaan petani belum mampu melayani kebutuhan pengembangan agribisnis
bagi anggotanya;
9. Kelembagaan ekonomi petani belum mampu menghubungkan dengan sumber-
sumber informasi, teknologi, dan pasar sehingga belum mampu bersaing dengan
pelaku usaha lainnya;
10. Kompetensi petani sebagai pengelola KEP dan infrastruktur teknologi yang rendah
serta kualitas pengelolaan usahatani dan produksi belum memenuhi skala ekonomi,
pengetahuan manajemen operasional bisnisnya belum dikelola secara profesional.

146 Kementerian Pertanian


142 2022
Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

SASARAN STRATEGIS 5 (SS 5)


Terwujudnya Birokrasi Kementerian Pertanian Yang Efektif
Dan Efisien Serta Anggaran
Yang Akuntabel

Pelaksanaan Reformasi Birokrasi sebagaimana diamanatkan dalam Peraturan Presiden


Nomor 81 tahun 2010 tentang Grand Design Reformasi Birokrasi 2010-2025 sudah
memasuki periode ke tiga yaitu tahun [Link] Birokrasi (RB) Kementerian
Pertanian merupakan upaya yang dilakukan secara nasional dalam meningkatkan
pengelolaan pemerintahan yang baik dan bersih. RB Kementan merupakan rangkaian
Reformasi Birokrasi Nasional (RBN) yang telah dilakukan semenjak tahun 2005 hingga
tahun 2025 nanti.
Sejalan dengan perkembangan pelaksanaan reformasi birokrasi, Peraturan Menteri
Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 14 Tahun 2014 telah
mengalami perubahan yaitu melalui Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara
dan Reformasi Birokrasi Nomor 30 Tahun 2018 dan Peraturan Menteri Pendayagunaan
Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 8 Tahun 2019. Pelaksanaan Reformasi
Birokrasi pada tahun 2021 merupakan periode ke tiga yang ditandai dengan terbitnya
Permentan RB Nomor 25 tahun 2021. Dengan ditetapkannya Permentan RB nomor 25
tahun 2021 maka perlu dilakukan penyesuaian terhadap pedoman evaluasi pelaksanaan
reformasi birokrasi yang ditandai dengan ditetapkannya PermenPANRB Nomor 26 tahun
2021 Tentang Pedoman Evaluasi pelaksanaan reformasi Birokrasi. Dalam PermenPANRB
No 26 tahun 2021 ini, yang menjadi pembeda dalam pedoman ini adalah penekanan
lebih kepada penilaian kemajuan delapan area perubahan yang telah dilakukan oleh
Kementerian, Lembaga, dan Pemerintah Daerah melalui penambahan subkomponen
Hasil Antara dan Reform.
Nilai RB Kementerian Pertanian merupakan gambaran proses maupun hasil atas upaya
pelaksanaan rencana aksi RB yang dilakukan seluruh unit kerja di lingkungan
Kementerian Pertanian sesuai kerangka RBN. Pengukuran nilai RB Kementerian
Pertanian dilakukan sejak tahun 2014. Nilai RB dinilai berdasarkan 2 (dua) kriteria, yaitu
kriteria pengungkit dengan bobot 60% serta kriteria hasil dengan nilai 40%. Detail
komponen nilai RB untuk masing-masing kriteria dapat dijabarkan pada Gambar 47.

Kementerian Pertanian 2022 143 147


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

Gambar 47. Komponen Penilaian RB Kementerian/Lembaga

Kriteria pengungkit terdiri dari 8 (delapan) komponen yang merepresentasikan 8


(delapan) area perubahan dalam RB Kementerian Pertanian. Komponen penataan
peraturan perundang-undangan, komponen penataan tata laksana, serta komponen
manajemen perubahan memiliki bobot terendah yaitu masing-masing sebesar 5%.
Kemudian komponen penataan dan penguatan organisasi, peningkatan akuntabilitas,
serta peningkatan kualitas pelayanan publik memiliki bobot masing-masing sebesar 6%.
Komponen penguatan pengawasan memiliki bobot cukup besar dalam penilaian RB yaitu
sebesar 12% serta komponen penataan sistem manajemen SDM memiliki bobot terbesar
yaitu 15%. Sedangkan untuk kriteria hasil memiliki 3 (tiga) komponen, yaitu kapasitas
dan akuntabilitas organisasi dengan bobot 20%, pemerintahan yang bersih dan bebas
KKN dengan bobot sebesar 10%, serta kualitas pelayanan publik dengan bobot sebesar
10%.
Sasaran Strategis nomor 5 (lima) ini memiliki 2 (dua) Indikator Kinerja Utama (IKU) yaitu
(1) Nilai Reformasi Birokrasi Kementerian Pertanian dan (2) Nilai Kineja Anggaran
Kementerian Pertanian

148 Kementerian Pertanian


144 2022
Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

SS 5. IKU 17
Nilai Reformasi Birokrasi Kementerian Pertanian
Target Realisasi
80,71 *)
% Capaian *)

Keterangan: *) Nilai Reformasi Birokrasi Kementan tahun 2021 masih menunggu hasil
evaluasi dari Kementerian PAN dan RB
Kinerja capaian atas indikator nilai Reformasi Birokrasi Kementerian Pertanian tahun
2021 belum dapat dihitung dikarenakan masih menunggu hasil evaluasi dari
Kementerian PAN dan RB. Meskipun demikian proses evaluasi pelaksanaan Reformasi
Birokrasi Kementerian Pertanian tahun 2021 telah dilakukan oleh Tim Evaluasi
Kemenpan RB sejak bulan Juli 2021 sampai dengan Februari 2022. Kegiatan evaluasi RB
tersebut diilustrasikan pada Gambar 48.

Gambar 48. Progres Evaluasi RB Kementerian Pertanian Tahun 2021

Kementerian Pertanian 2022 145 149


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

Pada tanggal 22 Februari 2022 telah dilakukan exit meeting evaluasi Reformasi Birokrasi
dan Implementasi SAKIP pada beberapa Kementerian/Lembaga. Beberapa catatan atas
evaluasi Reformasi Birokrasi (RB) yang disampaikan pada Exit Meeting antara lain:
1. Manajemen Perubahan
a. Rencana aksi pelaksanaan Reformasi Birokrasi, khususnya pada level unit
organisasi, belum sepenuhnya selaras dengan dokumen perencanaan dan
penganggaran. Sehingga beberapa kegiatan RB belum sepenuhnya dapat
dijalankan, hal ini akan berdampak pada keberhasilan dalam mencapai hasil yang
akan diwujudkan.
b. Belum optimalnya dalam mendorong hasil perubahan yang dibuat oleh agen
perubahan, hal ini ditandai dengan beberapa inovasi perubahan yang belum dapat
diintegrasi dan diimplementasikan pada sistem manajemen.

2. Deregulasi Kebijakan
a. Sebagian besar instansi pemerintah belum optimal dalam melalukan Regulatory
Impact Assesment (RIA) pada kebijakan yang telah dimiliki atau yang akan
disusun, sehingga dampak pada kebijakan yang dibuat belum optimal.
b. Belum optimalnya identifikasi kebijakan yang tidak harmonis utamanya dengan K/L
yang memiliki keterkaitan atas urusan yang sedang diatur untuk selanjutnya
dilakukan harmonisasi.

3. Organisasi
a. Tindak lanjut dari Penyederhanaan organisasi yang belum sepenuhnya dilakukan,
hal ini dapat dilihat dari penataan koordinasi yang belum optimal menjelaskan pola
koordinasi dan rentang kendali dalam organisasi
b. Belum seluruh instansi pemerintah memiliki rumusan pola mekanisme hubungan
dan koordinasi kelompok jabatan fungsional dengan JPT.
c. Pada beberapa instansi pemerintah, adanya pembentukan unit-unit kerja baru
belum sepenuhnya memperhatikan kinerja yang dihasilkan serta kontribusinya
kepada organisasi.

4. Tata laksana
a. Peta proses bisnis yang dimiliki belum sepenuhnya sesuai dengan kinerja utama
organisasi. Serta belum sepenuhnya menggambarkan keterkaitan kinerja antar
unit-unit kerja khususnya dalam mendukung capaian kinerja instansi.
b. Grand design IT belum sepenuhnya optimal dalam menyajikan ukuran, target, dan
ruang lingkup yang jelas serta proyeksi pengembangan lanjutan.

5. Manajemen SDM
a. Analisis gap kompetensi yang dimiliki dari hasil assessment kompetensi pegawai,
belum sepenuhnya ditindaklanjuti untuk pemenuhan kebutuhan pengembangan
kompetensi pegawai, sehingga pengembangan kompetensi yang dilakukan belum
optimal dalam mengurangi gap kompetensi yang terjadi.

150 Kementerian Pertanian


146 2022
Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

b. Ukuran kinerja individu belum sepenuhnya menunjukkan keterhubungan sebab-


akibat di tiap levelnya serta belum dijadikan dasar utama dalam pemberian
tunjangan kinerja atau reward lain bagi pegawai.
c. Dialog kinerja yang dilakukan antara pimpinan dan seluruh pegawai belum
sepenuhnya optimal, sehingga belum sepenuhnya kinerja individu berkontribusi
terhadap kinerja organisasi.

6. Akuntabilitas
a. Keterlibatan pimpinan secara aktif, khususnya dalam melakukan pemantauan
kinerja baik organisasi maupun individu secara berkala belum optimal dilakukan
b. Masih dijumpai aplikasi terkait akuntabilitas yang belum terintegrasi dengan
aplikasi lain (mis: aplikasi anggaran, monev program/kegiatan/renaksi,
kepegawaian, Manajemen risiko/peta risiko) agar dapat menunjang kinerja
organisasi.

7. Pengawasan
a. Pemetaan manajemen risiko belum sepenuhnya disusun dalam rangka mendukung
pencapaian kinerja
b. Masih dijumpai kondisi dimana Kapasitas dan kuantitas APIP belum sepenuhnya
mampu memberikan dukungan bagi unit kerja dalam rangka penguatan integritas
dan mencapai kinerja utama.
c. Pengusulan unit kerja menuju WBK/WWBM pada tahun 2021 mengalami
peningkatan dibandingkan dengan tahun sebelumnya, namun pada sebagian besar
instansi pemerintah belum disertai dengan success rate yang tinggi.

8. Pelayanan Publik
a. Terdapat perbaikan pelayanan publik dengan menciptakan inovasi. Akan tetapi
inovasi yang dibangun belum sepenuhnya dapat dipastikan telah memiliki sistem
yang tetap (SOP dan dukungan manajemen lain).
b. Hasil survei kepuasan yang telah dilakukan terhadap pengguna layanan, belum
dimanfaatkan secara optimal sebagai umpan balik untuk perbaikan pelayanan agar
mampu meningkatkan kualitas pelayanan publik pada instansi pemerintah.

Pencapaian indikator nilai RB Kementerian Pertanian tahun 2017 sampai dengan tahun
2020 telah menunjukkan progres positif. Target dan realisasi indikator nilai RB
Kementerian Pertanian dalam 5 (lima) tahun terakhir dapat dijabarkan pada gambar 49.

Kementerian Pertanian 2022 147 151


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

Gambar 49. Target dan Realisasi Nilai Reformasi Birokrasi Kementerian Pertanian
Tahun 2017-2021
Seluruh komponen penilaian PMPRB tersebut telah didukung dengan dokumen-dokumen
(evidence) sesuai area perubahan Reformasi Birokrasi terkait. Peningkatan hasil capaian
PMPRB Kementerian Pertanian tidak terlepas dari komitmen pimpinan dalam upaya
membangun pemerintahan yang baik (Good Governance).
Beberapa upaya Kementerian Pertanian untuk meningkatkan nilai RB adalah sebagai
berikut:
1. Manajemen Perubahan
a. Penyusunan Tim Reformasi Birokrasi, Tim Pelaksana, dan Tim Manajemen
Perubahan Kementerian Pertanian;
b. Penyusunan Road Map Reformasi Birokrasi Kementerian Pertanian Tahun 2021-
2024 (disahkan melalui Permentan No.24/2021) dan Penetapan Penetapan
Rencana Aksi Pusat dan Unit Eselon I Kementerian Pertanian.
c. Pelaksanaaan Penilaian Mandiri Reformasi Birokrasi Kementerian Pertanian
Tahun 2021.

2. Deregulasi Kebijakan
a. Melakukan identifikasi, analisis terhadap Permentan turunan UU Cipta Kerja;
b. Melakukan penyusunan/revisi atas kebijakan yang tidak harmonis/tidak sinkron
antara lain:
1) Permentan 15 tahun 2021 tentang Standar Perizinan Berusaha dan Standar
Produk dalam kegiatan berusaha sektor pertanian;
2) Permentan 16 tahun 2021 tentang Kajian Lapang dan Pengawasan Obat
Hewan;
3) Permentan 17 tahun 2021 tentang Tata Cara Penetapan Kawasan
Penggembalaan Umum;

152 Kementerian Pertanian


148 2022
Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

4) Permentan 18 tahun 2021 tentang Fasilitasi Pembangunan Kebun


Masyarakat Sekitar;
5) Permentan 19 tahun 2021 tentang Sumber Daya Genetik dan Pelepasan
Varietas Tanaman Perkebunan;
6) Permentan 22 tahun 2021 tentang Praktik Hortikultura yang baik;
7) Permentan 23 tahun 2021 tentang Pembenihan Hortikultura.
8) Permentan Nomor 08 tahun 2021 tentang Kelompok Subtansi dan
Subkelompok Substansi pada Kelompok Jabatan Fungsional;

3. Penataan dan Penguatan Organisasi


a. Melakukan transformasi jabatan struktural (Eselon III dan IV) ke dalam jabatan
fungsional;
b. Melakukan desain organisasi sesuai Rencana Strategis Kementerian Pertanian
2020-2024;

4. Penataan Tatalaksana
a. Melakukan evaluasi dan penyempurnaan Peta Proses Bisnis Induk Kementerian
Pertanian 2020-2024;
b. Penyusunan Peta Proses Bisnis Induk Kementan 2020 – 2025;
c. Melakukan reinventarisasi dan klusterisasi aplikasi sistem informasi;
d. Meningkatan kualitas pengelolaan arsip, pengadaan barang dan jasa, keuangan,
dan aset Kementerian Pertanian;

5. Penataan Sistem Manajemen SDM


a. Melakukan perhitungan Kebutuhan Pegawai berbasis Jabatan sesuai analisis
jabatan dan beban kerja Organisasi;
b. Melaksanakan Rekruitmen CPNS Berbasis Kinerja dan CAT on line;
c. Melakukan penguatan disiplin pegawai melalui evaluasi kode etik dan disiplin
pegawai;
d. Penyusunan standar kompetensi seluruh jabatan;
e. Melakukan assesment kepada seluruh pegawai;

6. Penguatan Akuntabilitas
a. Keterlibatan pimpinan dalam Perencanaan, antara lain:
1) Penandatanganan Perjanjian Kinerja Tahun 2021
2) Reviu dan Penyusunan perencanaan pembangunan pertanian jangka panjang
dan menengah
b. Pengembangan Sistem Pengukuran Kinerja berbasis elektronik
([Link]) dan dilakukan pemantauan tiap triwulan;
c. Peningkatan Kapasitas SDM
1) Workshop Penyusunan Perjanjian Kinerja (e-PK) 23 Juli 2021;
2) Workshop Pengukuran Kinerja Berbasis Elektronik (e-SAKIP) Juli-Agt 2021;
d. Melaksanakan reviu pengelolaan barang dan jasa;

Kementerian Pertanian 2022 149 153


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

7. Peningkatan Kualitas Pelayanan Publik


a. Melakanakan Bimbingan Teknis Penyusunan Proposal Inovasi Pelaksanaan
Pelayanan Publik
b. Penyempurnaan Website Kementerian Pertanian ([Link])
c. Melakukan pengembangan aplikasi dalam upaya untuk memberikan kemudahan
dalam pelayanan prima;
8. Penguatan Pengawasan
Peran Inspektorat Jenderal sebagai Auditor Internal Kementerian Pertanian
menjalankan peran pengawasan dalam berbagai pendekatan baik oversight, insight,
dan foresight. Secara oversight Inspektorat Jendeal mengevaluasi kinerja organisasi
secara menyeluruh baik kinerja kegiatan dan anggaran. Secara insight, Inspektorat
Jenderal mengevaluasi program dan kegiatan serta memberikan rekomendasi
perbaikan dan secara foresight Inspektorat Jenderal mendampingi mitra kerja
memprediksi risiko yang akan terjadi yang menghambat pencapaian sasaran
program/kegiatan pembangunan pertanian.
Inspektorat Jenderal melaksanakan Program Dukungan Manajemen, dalam rangka
efektivitas pelaksanaan program, Inspektorat Jenderal melakukan 3 (tiga) strategi
pengawasan, yaitu:
1. Pengawasan berbasis sistem informasi melalui Continuous Audit and Continuous
Monitoring (CACM) berbasis risiko dalam rangka pengawalan program dan
kegiatan strategis.
2. Penyelenggaraan SPIP terintegrasi dalam mewujudkan Governance Risk Control
(GRC) di lingkungan Kementerian Pertanian.
3. Peningkatan kapabilitas SDM dengan karakter "Agile Internal Auditor" (auditor
internal
4. yang responsif) untuk mencapai IACM menuju level 4.

Peran Inspektorat Jenderal sebagai penjaminan kualitas (Quality Assurance),


tentunya tidak hanya cukup menyatakan benar dan salah, tetapi mampu
menunjukkan alternatif pernyelesaian masalah dan bahkan ikut memastikan
rekomendasi yang disampaikan benar-benar efektif. Peran dan kinerja Inspektorat
Jenderal sebagai APIP tidak hanya dibangun dari aspek kewenangan (Authority),
tetapi juga dibangun dari aspek integritas (integrity), kapabilitas (capability),
kapasitas (capacity), dan agility sehingga penguatan peran Inspektorat Jenderal
sebagai APIP agar mampu mengawal pembangunan pertanian untuk mewujudkan
ketahanan pangan nasional.
Penguatan pengawasan Inspektorat Jenderal mendukung aksi pencegahan korupsi
di Kementerian Pertanian, Inspektorat Jenderal secara berkelanjutan melakukan
pendampingan UPT lingkup Kementerian Pertanian dalam pembangunan SPI
Terintegrasi, melakukan reviu Perubahan peraturan Sistem Pengendalian Internal
Pemerintah, melakukan reviu Pelaksanaan penyelenggaraan sistem pengendalian
intren unit eselon I Kementerian Pertanian, Zona Integritas menuju WBK/WBBM

154 Kementerian Pertanian


150 2022
Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

dengan, mengelola pelaporan gratifikasi onlie (Sigap-UPG), Wistle Blowing System


(Pengaduan Masyarakat) dan Pemasyarakat Pendidikan Anti Korupsi.

Kementerian Pertanian 2022 151 155


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

SS 5. IKU 18
Nilai Kinerja Anggaran

Target Realisasi
91,23 93,77%
% Capaian
102,36 %
Sangat Berhasil

Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 214 Tahun 2017 tentang Pengukuran
dan Evaluasi Kinerja atas Pelaksanaan Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian
Negara/Lembaga, Kementerian Pertanian dinilai kinerja keuangannya. Nilai kinerja
Kementerian Pertanian tahun 2021 sebesar 93,77% atau termasuk dalam kategori
Sangat Baik. Capaian Kinerja Pelaksanaan Anggaran Kementerian Pertanian Tahun 2021
dapat dilihat pada Gambar 50.

Gambar 50. Capaian Kinerja Anggaran Kementerian Pertanian 2021


Sumber: Aplikasi Monev Kinerja Anggaran PMK 214/2017 (SMART), 2021

Persentase capaian kinerja anggaran Kementerian Pertanian Tahun 2021 berdasarkan


aplikasi SMART (monev kinerja anggaran PMK 22/2021) di atas terdiri dua indikator,
yaitu:
1. Persentase Capaian Sasaran Strategis adalah 100%.
2. Rata-rata Nilai Kinerja Anggaran Eselon I adalah 87,54%.
Dibandingkan dengan tahun 2020, Nilai Kinerja Anggaran Kementerian Pertanian pada
tahun 2021 ini mengalami penurunan. Penurunan Nilai Kinerja ini lebih disebabkan pada
faktor rata-rata Nilai Kinerja Anggaran Eselon I yang turun sebesar 0,84% dari tahun

156 Kementerian Pertanian


152 2022
Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

sebelumnya. Nilai Kinerja Anggaran Kementerian Pertanian 3 tahun terakhir, dapat


dilihat pada Gambar 51.

Gambar 51. Nilai Kinerja Anggaran Kementerian Pertanian 2019-2021


Sumber: Diolah dari Aplikasi Monev Kinerja Anggaran PMK 22/2021 (SMART)

Selanjutnya untuk analisis efisiensi sumber daya anggaran berdasarkan PMK 214/2017,
maka dilakukan perhitungan Nilai Efisiensi (NE) dengan menggunakan rumus
penghitungan sebagai berikut :

Nilai Efisiensi Kementerian Pertanian diperoleh dari rata-rata NE Unit Kerja Eselon I
lingkup Kementerian Pertanian sebagaimana terlihat pada Tabel 42.

Kementerian Pertanian 2022 153 157


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

Tabel 42. Pengukuran Nilai Efisiensi Kementerian Pertanian Tahun 2021

Sumber: Diolah dari Aplikasi SMART Kementerian Keuangan pertanggal 18 Februari 2021

Berdasarkan Tabel 40, nilai efisiensi sumber daya anggaran Kementerian Pertanian pada
tahun 2021 mencapai 48,87. Hal tersebut memperlihatkan bahwa efisiensi anggaran di
Kementerian Pertanian masih belum optimal, terutama bagi Eselon I yang nilainya masih
berada di bawah rata-rata NE Kementerian Pertanian. Oleh karena itu pada tahun 2021
perlu upaya untuk meningkatkan efisiensi pelaksanaan kegiatan dan anggaran di lingkup
Kementerian Pertanian.
Belum optimalnya efisiensi anggaran di Kementerian Pertanian disebabkan oleh
beberapa faktor, diantaranya; a) Ketidaktepatan dalam rencana penarikan dana sesuai
jadwal bulanan yang telah ditetapkan, b) Seringnya revisi anggaran, dan c) Penarikan
anggaran yang menumpuk di akhir tahun.
Upaya ke depan, rencana penarikan dana harus benar-benar dicermati melalui
koordinasi antara pejabat/petugas yang menangani perencanaan anggaran, evaluasi,
dan pelaksana teknis.

158 Kementerian Pertanian


154 2022
Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

B. Capaian Kinerja Lainnya


Selain capaian kinerja yang telah diuraikan diatas, pada tahun 2021 Kementerian
Pertanian mendapatkan beberapa capaian dan penghargaan, yaitu:

1. Anugerah Top Digital Implementation 2021


Pada tahun 2021 Kementerian Pertanian memperoleh anugerah Top Digital
Implementation 2021 star level 4 yang ditunjukkan pada Gambar 52, atas implementasi
SPBE dan digitalisasi menuju pertanian maju, mandiri dan modern. Pemilihan pemenang
dilakukan dengan seleksi awal terhadap 800 calon peserta, hingga menghasilkan 200
kandidat terbaik. Pakar IT dan Dewan Juri, merekomendasikan calon perusahaan dan
instansi pemerintah yang dinilai berhasil mengimplementasikan dan memanfaatkan
teknologi digital. Hal itu didukung dengan hasil penilaian SPBE yang dilakukan Kemenpan
RB sebagai pertimbangan dalam seleksi awal ini.

Gambar 52. Pemberian Anugerah Top Digital Implementation

Kategori pemenang Implementasi TOP DIGITAL, dikelompokkan menjadi Star Level atau
Star Level 1-5, sesuai dengan bidang usaha dan klasifikasi institusi. Kriterianya adalah
apakah tata kelola TI (Kebijakan, Organisasi, Implementasi sistem dan prosedur) sudah
baik dan telah diterapkan secara konsisten, dengan perbaikan terus-menerus. Lembaga
yang dinilai berhasil perlu menerapkan implementasi teknologi digital dan
pemanfaatannya terintegrasi di seluruh divisi/unit kerja dan berdampak pada kinerja,
daya saing, dan pelayanan kepada pelanggan atau masyarakat dan infrastruktur yang
mendukung teknologi digital tersedia sesuai dengan kebutuhan saat ini dan dapat
dikembangkan terus menerus untuk kebutuhan masa depan.

2. Anugerah Keterbukaan Infomasi Publik Tahun 2021


Pada tahun 2021, PPID Kementerian Pertanian kembali meraih Anugerah Keterbukaan
Informasi Publik pada tahun 2021 yang ditunjukkan pada Gambar 53, sebagai badan

155

Kementerian Pertanian 2022 159


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

publik terbaik kategori Kementerian dengan klasifikasi informatif. Kementerian Pertanian


mendapatkan nilai 99,29 menjadi Kementerian dengan nilai tertinggi (indeks 100). Hal
ini melebihi target yang sudah ditetapkan dalam perjanjian kerja dengan indikator nilai
hasil monev Keterbukaan Informasi Publik pada PPID di lingkungan Kementerian
Pertanian yaitu nilai 80.

Gambar 53. Pemberian Anugerah Keterbukaan Informasi Publik Tahun 2021

3. Peringkat II Tingkat Kementerian/Lembaga Atas Konsistensi dan Rutinitas


Dalam Penyerahan Arsip Statis ke ANRI ( Arsip Nasional Republik
Indonesia)

Gambar 54. Penandatanganan Berita Acara Penyerahan Arsip Statis Kementerian


Pertanian antara Kepala ANRI dengan Sekretaris Jenderal Kementan

Dalam hal penyerahan arsip statis, atas konsistensinya dan rutinitas dalam penyerahan
arsip statis ke Arsip Nasional Republik Indonesia, Unit Kearsipan Kementerian Pertanian
pada Tahun 2021 mendapat penghargaan Peringkat II Kementerian/Lembaga yang rutin
menyerahkan arsip statis ke ANRI seperti ditunjukkan pada Gambar 54 dan 55.
Selain itu pada tahun 2021, Kementerian Pertanian juga mendapatkan penghargaan
terkait penyelamatan dan pelestarian arsip terjaga dari Arsip Nasional Republik

156

160 Kementerian Pertanian 2022


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

Indonesia dan Penghargaan Penyelamatan dan Pelestarian Arsip Bernilai guna


Pertanggungjawaban Nasional dari ANRI dari Arsip Nasional Republik Inonesia (ANRI).

Gambar 55. Pelestarian arsip terjaga dari Arsip Nasional Republik Inonesia dan
Penghargaan Penyelamatan dan Pelestarian Arsip Bernilai guna
Pertanggungjawaban Nasional dari ANRI dari ANRI

4. Opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) 5 tahun berturut-turut atas


Laporan Keuangan Kementerian Pertanian
Kementerian Pertanian (Kementan) kembali meraih opini Wajar Tanpa Pengecualian
(WTP) dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Prestasi ini mencatat selama 5 tahun
berturut-turut Kementan dinilai telah menjalankan pengelolaan anggaran secara
akuntabel, kredibel, dan transparan sesuai standar akuntansi pemerintahan (SAP).
Badan Pemeriksa Keuangan (BPK RI) secara resmi menyerahkan penghargaan opini
Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) kepada K/L di Indonesia yang ditunjuukan pada
Gambar 56, termasuk Kementerian Pertanian (Kementan RI), Jumat, 25 Juni 2021.
Penghargaan ini diberikan setelah BPK memeriksa laporan keuangan pemerintah pusat
tahun 2020 yang diterbitkan 31 Mei 2021.

Gambar 56. Penyerahan penghargaan opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) kepada
Kementerian Pertanian

157

Kementerian Pertanian 2022 161


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

5. Penghargaan terkait Pengelolaan Layanan Hubungan Masyarakat


a. Top Government Public Relation Award 2021 dengan total skor 95,30 poin.
Terhadap penilaian aspek media digital, aspek social media dan aspek

Gambar 57. Piagam Penghargaan Top Government Public Reltion Award 2021

b. Anugerah Media Humas (AMH) 2021 memperoleh peringkat ke 3 pada kategori


Komunikasi Publik Kementerian/Lembaga, BUMN, BUMD dan Perguruan Tinggi
Negeri

Gambar 29. Piagam Anugerah Media Humas (AMH) 2021

Gambar 58. Anugerah Media Humas (AMH) 2021

c. Puplic Relation Indonesia Award (PRIA) 2021, Silver Award untuk Sub Kategori
Media Sosial

Gambar 59. Piagam Penghargaan dan Penyerahan Penghargaan

158

162 Kementerian Pertanian 2022


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

d. Kepala Biro Humas dan Informasi Publik Kementerian Pertanian Kuntoro Boga
Andri dianugerahi Public Relations (PR) Indonesia Award sebagai pemimpin public
relations berpengaruh tahun 2021.

Gambar 60. Penyerahan Penghargaan Public Relations (PR)

6. Penghargaan Pengawasan Kearsipan 2021


Kementerian Pertanian kembali meraih penghargaan kategori AA 'Sangat Memuaskan'
tingkat Kementerian dari Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) seperti
ditunjuukan pada Gambar 61. Penghargaan ini didapat berdasarkan nilai hasil
pengawasan kearsipan tahun 2021. Kementan mendapat skor 93,42 dengan
peringkat kedua. Diharapkan melalui penyelenggaraan kearsipan dapat mendukung
penyelenggaraan pemerintahan yang demokratis serta pemanfaatan arsip untuk
pemajuan kebudayaan. Oleh karenanya seluruh entitas kearsipan harus bersinergi,
mengikuti perkembangan teknologi, informasi dan komunikasi serta mampu
mengitegrasikan arsip yang dikelola agar mudah diakses oleh pengguna kapan dan
di mana pun.

Gambar 61. Kementan Raih Peringkat 2 dalam Pengawasan Kearsipan Tahun 2021

159

Kementerian Pertanian 2022 163


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

C. Akuntabilitas Keuangan Kementerian Pertanian


Untuk melaksanakan kegiatan pembangunan pertanian tahun 2021, Kementerian
Pertanian memperoleh alokasi pagu APBN senilai 16,31 triliun rupiah yang dipergunakan
untuk membiayai 12 program. Sampai dengan 31 Desember 2021, realisasi serapan
APBN Kementerian Pertanian mencapai 15,87 triliun rupiah atau 97,28%. Perkembangan
pagu APBN Kementan dan realisasinya selama 5 tahun (2017-2021) disajikan pada
Gambar 62.

Gambar 62. Perkembangan Anggaran Kementerian Pertanian Tahun 2017-2021


Sumber: OMSPAN Kemenkeu, 2021

Dalam pelaksanaan serapan anggaran, masih terdapat beberapa hal yang perlu menjadi
perhatian untuk perbaikan ke depan, seperti: (1) Adanya kebijakan penghematan dan
refocusing anggaran akibat terjadina pandemi Covid-19, yang membutuhkan waktu
proses revisi sehingga berdampak terhadap realisasi anggaran, dan (2) belum
optimalnya pelaksanaan kegiatan dan serapan anggaran pada Dana Dekonsentrasi dan
Tugas Pembantuan yang dilaksanakan oleh Satker Daerah. APBN Kementan TA. 2020
sebagian besar atau lebih dari 80% dialokasikan di Daerah (Dana Dekonsentrasi, Tugas
Pembantuan, dan UPT Pusat di Daerah) dan 20% dialokasikan di Pusat. Kinerja serapan
anggaran secara keseluruhan mengampuh 5 (lima) program Kementerian Pertanian.
Penyerapan anggaran per Unit Kerja Eselon I lingkup Kementerian Pertanian sampai
dengan 31 Desember 2021 disajikan pada Lampiran 9. Ringkasan perkembangan pagu
dan realisasi anggaran Kementerian Pertanian, sebagai bentuk akuntabilitas keuangan,
Laporan Kinerja juga menyajikan pagu dan realisasi anggaran per Program/Kegiatan
pada Tabel 43.

160

164 Kementerian Pertanian 2022


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

Tabel 43. Dukungan Anggaran untuk Pencapaian Sasaran Strategis Kementan Tahun
2021
No. Program/Kegiatan Pagu Realisasi Capaian
(%)
(1) (2) (3) (4) (4)/(3)
1 Program Pendidikan dan Pelatihan Vokasi [Link] [Link] 98,25
Penguatan Penyelenggaraan Pelatihan Pertanian [Link] [Link] 98,19
Penguatan Penyelenggaraan Penyuluhan Pertanian [Link] [Link] 97,70
Penguatan Penyelenggaraan Pendidikan Vokasi Pertanian [Link] [Link] 99,02
2 Program Nilai Tambah dan Daya Saing Industri [Link].000 [Link].922 96,14
Pengembangan Kawasan Tanaman Tahunan dan Penyegar [Link] [Link] 94,65
Penguatan Perlindungan Perkebunan [Link] [Link] 99,01
Pasca Panen, Pengolahan dan Pemasaran Hasil Tanaman Pangan [Link] [Link] 98,41
Pengolahan dan Pemasaran Hasil Hortikultura [Link] [Link] 98,21
Pengembangan Kawasan Tanaman Semusim dan Rempah [Link] [Link] 94,95
Pasca Panen, Pengolahan (Hilirisasi) dan Pemasaran Hasil Perkebunan [Link] [Link] 91,20
Penguatan Perbenihan Tanaman Perkebunan [Link] [Link] 94,16
Pengembangan Pengolahan dan Pemasaran Hasil Ternak [Link] [Link] 97,87
3 Program Ketersediaan, Akses dan Konsumsi Pangan Berkualitas [Link].000 [Link].208 96,93
Pengelolaan Produksi Aneka Kacang dan Umbi Tanaman Pangan [Link] [Link] 92,25
Pengelolaan Produksi Tanaman Serealia Tanaman Pangan [Link] [Link] 92,86
Peningkatan Produksi Sayuran dan Tanaman Obat [Link] [Link] 98,67
Perlindungan Hortikultura [Link] [Link] 99,24
Peningkatan Produksi Pakan Ternak [Link] [Link] 97,11
Pengendalian dan Penanggulangan Penyakit Hewan [Link] [Link] 98,46
Penyediaaan Benih dan Bibit Serta Peningkatan Produksi Ternak [Link] [Link] 94,04
Peningkatan Kesehatan Masyarakat Veteriner [Link] [Link] 95,10
Pengelolaan Air Irigasi Untuk Pertanian [Link] [Link] 96,33
Perluasan dan Perlindungan Lahan Pertanian [Link].000 [Link].625 97,03
Pengelolaan Sistem Penyediaan dan Pengawasan Alat Mesin Pertanian [Link] [Link] 99,70
Pemantapan Sistem Distribusi dan Stabilitas Harga Pangan [Link] [Link] 97,78
Pemantapan Ketersediaan dan Penanganan Rawan Pangan [Link] [Link] 98,90
Pemantapan Penganekaragaman Konsumsi dan Keamanan Pangan [Link] [Link] 97,39
Fasilitasi Pupuk dan Pestisida [Link] [Link] 99,08
Fasilitasi Pembiayaan Pertanian [Link] [Link] 98,86
Pengelolaan Sistem Perbenihan Tanaman Pangan [Link].000 [Link].398 98,39
Pengelolaan Perlindungan Tanaman Pangan [Link] [Link] 98,53
Perbenihan Hortikultura [Link] [Link] 96,56
Penyelenggaraan Karantina Pertanian [Link] [Link] 99,51
Peningkatan Produksi Buah dan Florikultura [Link] [Link] 97,68
4 Program Riset dan Inovasi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi [Link] [Link] 97,44
Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian [Link] [Link] 97,93
Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya dan Sistem Pertanian [Link] [Link] 97,42
Penelitian dan Pengembangan Tanaman, Peternakan dan Veteriner [Link] [Link] 97,08
5 Program Dukungan Manajemen [Link].000 [Link].525 98,06
Penyelenggaraan Hukum Bidang Pertanian [Link] [Link] 99,14
Koordinasi dan Kerjasama Luar Negeri Bidang Pangan dan Pertanian [Link] [Link] 99,31
Pengelolaan Organisasi dan SDM [Link] [Link] 99,64
Perlindungan Varietas Tanaman dan Perizinan Pertanian [Link] [Link] 97,25
Dukungan Manajemen dan Dukungan Teknis Lainnya pada Inspektorat Jenderal [Link] [Link] 94,43
Dukungan Manajemen dan Teknis Lainnya pada Ditjen Tanaman Pangan [Link] [Link] 93,67
Peningkatan Usaha Dukungan Manajemen dan Teknis Lainnya pada Ditjen Hortikultura [Link] [Link] 97,46
Dukungan Manajemen dan Dukungan Teknis Lainnya Ditjen Perkebunan [Link] [Link] 94,41
Dukungan Manajemen dan Dukungan Teknis Lainnya Ditjen Peternakan [Link] [Link] 98,54
Dukungan Manajemen dan Dukungan Teknis Lainnya Ditjen Prasarana dan Sarana Pertanian [Link] [Link] 98,39
Dukungan Manajemen, Fasilitasi dan Instrumen Teknis dalam Pelaksanaan Kegiatan Litbang Pertanian [Link] [Link] 97,02
Dukungan Manajemen dan Dukungan Teknis Lainnya Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sdm Pertanian [Link] [Link] 98,62
Dukungan Manajemen dan Teknis Lainnya Badan Ketahanan Pangan [Link] [Link] 98,22
Dukungan Manajemen dan Dukungan Teknis Lainnya pada Badan Karantina Pertanian [Link] [Link] 99,44
Pengelolaan Kebijakan, Keuangan, dan Umum [Link].000 [Link].698 99,14
Pengelolaan Data, Informasi, Kehumasan, dan Perpustakaan Pertanian [Link] [Link] 98,68
Pelaksanaan Pengawasan pada Satker Lingkup Kementerian Pertanian [Link] [Link] 97,40

TOTAL [Link].000 [Link].255 97,28

Sumber: OMSPAN Kemenkeu, 2021

161

Kementerian Pertanian 2022 165


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

166 Kementerian Pertanian 2022


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

BAB IV
PENUTUP

Peningkatan Sistem Akuntabilitas Kinerja Kementerian Pertanian merupakan salah satu


upaya yang dilakukan Kementerian Pertanian dalam rangka mendorong terwujudnya
penguatan akuntabilitas dan peningkatan kinerja seperti yang diamanatkan dalam
Peraturan Presiden Nomor 29 Tahun 2014, Peraturan Menteri PAN dan RB Nomor 53
Tahun 2014 dan Keputusan Presiden Nomor 81 Tahun 2010 tentang Grand Design
Reformasi Birokrasi Nasional yang diselaraskan dengan Tugas dan Fungsi Kementerian
Pertanian. Hasilnya dituangkan dalam bentuk Laporan Kinerja Instansi Pemerintah yang
merupakan wujud pertanggungjawaban Kementerian Pertanian kepada masyarakat
(publik).
Dari 5 (lima) sasaran strategis dengan 18 (delapan belas) indikator kinerja sasaran
strategis, 14 indikator kinerja masuk kategori sangat berhasil, 2 indikator kinerja masuk
dalam kategori berhasil, 1 indikator kinerja masuk dalam kategori kurang berhasil, dan
1 (satu) indikator belum diketahui hasilnya.
Indikator kinerja yang masuk kategori sangat berhasil yaitu; (1) Peningkatan
ketersediaan pangan strategis dalam negeri; (2) Peningkatan Konsumsi Pangan
Berkualitas; (3) Persentase pangan segar yang memenuhi syarat keamanan pangan; (4)
Persentase Serangan Organisme Pengganggu Tumbuhan dan Dampak Perubahan Iklim
yang Ditangani; (5) Persentase Wilayah yang Terkendali dari Penyakit Hewan Menular
Strategis; (6) Persentase Kasus Pelanggaran Perkarantinaan yang Diselesaikan; (7)
Tingkat Kemanfaatan Sarana Produksi Pertanian; (8) Tingkat Kemanfaatan Sarana
Pascapanen dan Pengolahan Hasil Pertanian; (9) Pertumbuhan Nilai Ekspor untuk Produk
Pertanian Nasional; (10) Persentase Hasil Penelitian dan Pengembangan Yang
Dimanfaatkan; (11) Persentase Petani yang Menerapkan Teknologi; (12) Persentase
SDM Pertanian yang Meningkat Kapasitasnya; (13) Persentase kelembagaan petani yang
meningkat kapasitasnya; dan (14) Nilai Kinerja Anggaran Kementerian Pertanian.
Indikator kinerja yang masuk kategori berhasil yaitu: (1) Persentase Tindak Lanjut
terhadap Temuan OPTK, HPHK dan Keamanan Hayati yang Tidak Memenuhi Persyaratan
Karantina di Tempat Pemasukan/Pengeluaran yang Ditetapkan dan (2) Tingkat
Pemenuhan Prasarana Pertanian. Indikator kinerja yang masuk kategori kurang
berhasil yaitu Peningkatan Akses Pangan.
Indikator yang belum diperoleh hasilnya adalah nilai Reformasi Birokrasi (RB)
Kementerian Pertanian, karena sampai dengan bulan Februari 2022 belum diumumkan
hasil evaluasi Reformasi Birokrasi Kementerian Pertanian oleh Tim Evaluasi RB
Kementerian PAN dan RB.
Keberhasilan yang telah dicapai Kementerian Pertanian dalam membangun pertanian
tahun 2021 khususnya perkembangan capaian 18 (delapan belas) indikator kinerja
sasaran strategis tersebut tidak terlepas dari dukungan seluruh program yang ada di

162

Kementerian Pertanian 2022 167


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

Kementerianlangsung
Dukungan Pertanian baik program/kegiatan
adalah dukungan secara yang langsung
secaramaupun
khusus tidak langsung.
mempengaruhi
Dukungan
capaian 18 langsung
(delapan adalah program/kegiatan
belas) indikator yang secara
kinerja sasaran strategis, khusus mempengaruhi
dan dukungan tidak
capaian 18antara
langsung (delapan
lain belas)
berupa indikator
dukungankinerja sasaranpelaksanaan
manajemen strategis, dan dukungan
tugas Kementeriantidak
langsung antara
Pertanian. Selain lain
itu,berupa dukungan pengawasan
juga didukung manajemen pelaksanaan
internal yangtugas Kementerian
berperan dalam
Pertanian. Selain
menciptakan iklim itu,
kerjajuga didukung
lingkup pengawasan
Kementerian Pertanianinternal yang berperan
yang bersih, transparan dalam
dan
menciptakan iklim kerja lingkup Kementerian Pertanian yang bersih, transparan dan
akuntabel.
akuntabel.
Berbagai keberhasilan telah dicapai Kementerian Pertanian pada tahun 2021. Namun
Berbagai pembangunan
demikian keberhasilan telah dicapai
pertanian Kementerian
masih menghadapi Pertanian
beberapa pada tahun [Link]
permasalahan Namun
demikian
dalam pembangunan
pencapaian pertanian
produksi masih menghadapi
atas target untuk beberapa beberapa permasalahan
komoditas terutama
pangan strategis.
dalam pencapaian
Permasalahan produksi
tersebut atas target
mencakup: untuk beberapa
(1) penurunan komoditas
produksi pangan
komoditas strategis.
strategis; (2)
Permasalahanluas
keterbatasan tersebut mencakup:
kepemilikan lahan (1) penurunan
petani, produksiharga
(3) penurunan komoditas
beberapa strategis;
komoditas (2)
keterbatasan
strategis luas kepemilikan
di tingkat lahan petani,
petani/peternak, (3) penurunan
(4) penurunan harga komoditas
permintaan beberapa komoditas
pertanian
strategispandemi
karena di tingkat petani/peternak,
Covid-19, (5) serangan (4) hama
penurunan permintaan
dan penyakit komoditas
dan kondisi alam pertanian
ekstrim
karenadampak
akibat pandemiperubahan
Covid-19,iklim,(5) serangan hama dan penyakit dan
(6) Refocusing/Penghematan kondisiyang
anggaran alam ekstrim
dilakukan
akibatpertengahan
pada dampak perubahantahun. iklim, (6) Refocusing/Penghematan anggaran yang dilakukan
pada pertengahan tahun.
Untuk mengatasi berbagai permasalahan tersebut, maka tahun 2021 Kementerian
Untuk mengatasi
Pertanian berbagai permasalahan
telah melakukan berbagai upaya tersebut,
perbaikanmaka tahun
guna 2021 Kementerian
meningkatkan kinerja
Pertanian telahpertanian
pembangunan melakukan berbagai
ke depan, upaya
seperti: perbaikan guna
pengembangan meningkatkan
korporasi kinerja
petani; penguatan
pembangunan
regulasi; pertanian kekawasan
pengembangan depan, seperti: pengembangan
komoditas; meningkatkan korporasi petani;
produksi danpenguatan
kualitas
regulasi; pengembangan
komoditas prospektif ekspor; kawasan komoditas;
pengendalian meningkatkan
serangan OPT serta produksi kualitas
mintigasi dan adaptasi
komoditas
dampak prospektifiklim;
perubahan ekspor;danpengendalian serangan
pemetaan potensi OPT serta mintigasi
pengembangan dan adaptasi
lahan. Rencana aksi
dampak
yang akanperubahan
dilakukaniklim; dan pemetaan
oleh Kementerian potensipada
Pertanian pengembangan
tahun 2022 lahan.
secara Rencana
lebih lengkapaksi
dapat dilihat pada Lampiran 10.
yang akan dilakukan oleh Kementerian Pertanian pada tahun 2022 secara lebih lengkap
dapat dilihat pada Lampiran 10.
Tahun 2021 Kementerian Pertanian mengelola APBN sebesar Rp16,32 triliun yang
Tahun 2021 Kementerian
dipergunakan untuk membiayai Pertanian mengelolaSampai
12 program. APBN sebesar
dengan Rp16,32
31 Desember triliun 2021,
yang
dipergunakan
realisasi serapan untuk
APBNmembiayai
Kementerian 12Pertanian
[Link]
Sampai Rp15,87
dengan triliun
31 Desember
atau 97,28%. 2021,
realisasi serapan APBN Kementerian Pertanian mencapai Rp15,87 triliun atau 97,28%.
Disamping dukungan yang berasal dari internal Kementerian Pertanian, kinerja
Disamping dukungan
pembangunan pertanian yangtahunberasal
2021 dari
jugainternal Kementerian
tidak terlepas Pertanian, seluruh
dari dukungan kinerja
pembangunan
pemangku pertanian pembangunan
kepentingan tahun 2021 juga tidak terlepas
pertanian, baik di pusatdari dukungan
maupun [Link]
pemangku luasnya
Mengingat kepentinganaspekpembangunan
dan banyaknya pertanian,
unsur yang baikterlibat
di pusatdalammaupun daerah.
pembangunan
Mengingat maka
pertanian, luasnya aspekberlebihan
tidaklah dan banyaknya unsur yang
kalau dikatakan terlibat
bahwa dalam pembangunan
suksesnya
pertanian, maka
pertanian terletaktidaklah
pada berlebihan
komitmen kalaudan dikatakan
kerja keras bahwa suksesnya
bersama, baikpembangunan
Pemerintah,
pertanian terletak
Pemerintah pada komitmen
Daerah, Swasta, Masyarakat, dan kerja keras
Organisasi bersama, baik
Kemasyarakatan, Pemerintah,
Perguruan Tinggi,
Pemerintah
dan Petani. Daerah, Swasta, Masyarakat, Organisasi Kemasyarakatan, Perguruan Tinggi,
dan Petani.

163
162

168 Kementerian Pertanian 2022


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

LAMPIRAN

Kementerian Pertanian 2022 169


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

170 Kementerian Pertanian 2022


Lampiran 1.

Laju Pertumbuhan PDB Triwulanan Atas Dasar Harga Konstan 2020 Kumulatif

2020* 2021**
KATEGORI LAPANGAN USAHA
I s.d. II s.d. III s.d. IV Jumlah I s.d. II s.d. III s.d. IV Jumlah
1 2 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62

Kementerian Pertanian 2022


Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan
A 0,02 1,18 1,53 1,77 1,77 3,44 1,87 1,72 1,84 1,84
1 Pertanian, Peternakan, Perburuan dan Jasa Pertanian -1,17 0,97 1,72 2,13 2,13 5,33 1,70 1,33 1,08 1,08
a. Tanaman Pangan -10,25 -0,01 2,30 3,61 3,61 12,24 0,64 -1,46 -1,56 -1,56
Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

b. Tanaman Hortikultura 2,61 1,69 3,13 4,17 4,17 3,01 2,37 -0,40 0,56 0,56
c. Tanaman Perkebunan 3,97 1,84 1,40 1,34 1,34 2,17 1,15 3,88 3,52 3,52
d. Peternakan 2,69 0,34 0,15 -0,35 -0,35 2,12 4,43 2,10 0,34 0,34
e. Jasa Pertanian dan Perburuan -1,44 0,52 1,19 1,62 1,62 5,41 2,21 1,78 1,32 1,32
2 Kehutanan dan Penebangan Kayu 5,31 3,69 1,79 -0,03 -0,03 -6,59 -3,92 -1,42 0,06 0,06
3 Perikanan 3,52 1,45 0,61 0,73 0,73 -1,31 4,07 4,23 5,45 5,45
B Pertambangan dan Penggalian 0,45 -1,13 -2,20 -1,95 -1,95 -2,02 1,53 3,61 4,00 4,00
1 Pertambangan Minyak, Gas dan Panas Bumi -2,99 -5,03 -5,73 -6,00 -6,00 -6,87 -5,99 -4,76 -4,42 -4,42
2 Pertambangan Batubara dan Lignit 0,13 -4,04 -5,28 -5,43 -5,43 -7,05 2,53 6,59 6,60 6,60
3 Pertambangan Bijih Logam 9,18 20,48 16,30 20,26 20,26 24,48 20,99 22,29 22,84 22,84
4 Pertambangan dan Penggalian Lainnya 2,56 -0,80 -1,22 -1,22 -1,22 -0,62 0,57 1,22 1,97 1,97
C Industri Pengolahan 2,06 -2,09 -2,86 -2,93 -2,93 -1,38 2,46 2,87 3,39 3,39
1 Industri Batubara dan Pengilangan Migas 2,58 -3,93 -5,10 -6,81 -6,81 -7,70 -2,42 -1,89 0,57 0,57
Industri Pengolahan Non Migas 2,01 -1,90 -2,63 -2,52 -2,52 -0,71 2,98 3,37 3,67 3,67
1 Industri Makanan dan Minuman 3,94 2,03 1,55 1,58 1,58 2,45 2,70 2,97 2,54 2,54
2 Industri Pengolahan Tembakau 3,49 -3,51 -4,06 -5,78 -5,78 -9,58 -5,74 -3,68 -1,32 -1,32
3 Industri Tekstil dan Pakaian Jadi -1,24 -7,90 -8,37 -8,88 -8,88 -13,28 -9,11 -7,21 -4,08 -4,08
4 Industri Kulit, Barang dari Kulit dan Alas Kaki -0,36 -4,45 -9,66 -8,76 -8,76 1,74 2,47 7,20 7,75 7,75
Industri Kayu, Barang dari Kayu dan Gabus dan Barang Anyaman
5 3,17 0,97 -1,42 -2,16 -2,16 -8,51 -7,32 -5,31 -3,71 -3,71
dari Bambu, Rotan dan Sejenisnya
Industri Kertas dan Barang dari Kertas; Percetakan dan Reproduksi
6 4,50 2,76 1,31 0,22 0,22 -2,67 -3,34 -4,02 -2,89 -2,89
Media Rekaman
7 Industri Kimia, Farmasi dan Obat Tradisional 5,59 7,12 9,73 9,39 9,39 11,46 10,29 10,09 9,61 9,61
8 Industri Karet, Barang dari Karet dan Plastik -0,82 -6,39 -7,49 -5,61 -5,61 3,84 7,53 4,07 1,08 1,08
9 Industri Barang Galian bukan Logam -5,30 -7,17 -7,85 -9,13 -9,13 -7,28 0,03 1,05 0,89 0,89

171
172
2020* 2021**
KATEGORI LAPANGAN USAHA
I s.d. II s.d. III s.d. IV Jumlah I s.d. II s.d. III s.d. IV Jumlah
1 2 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62
10 Industri Logam Dasar 3,98 3,39 4,01 5,87 5,87 7,71 12,66 11,57 11,50 11,50
Industri Barang Logam; Komputer, Barang Elektronik, Optik; dan
11 -3,52 -6,40 -6,56 -5,46 -5,46 -4,08 1,15 -2,02 -1,62 -1,62
Peralatan Listrik
12 Industri Mesin dan Perlengkapan -9,33 -11,29 -11,12 -10,17 -10,17 3,22 9,36 11,56 11,43 11,43
13 Industri Alat Angkutan 4,64 -14,77 -20,17 -19,86 -19,86 -10,93 10,84 16,13 17,82 17,82
14 Industri Furnitur -7,28 -5,00 -3,91 -3,36 -3,36 8,04 7,61 7,41 8,16 8,16
Industri Pengolahan Lainnya; Jasa Reparasi dan Pemasangan Mesin
15 -4,73 -4,96 -2,90 -0,88 -0,88 1,24 1,07 -1,59 -1,64 -1,64
dan Peralatan
D Pengadaan Listrik dan Gas 3,85 -0,83 -1,39 -2,34 -2,34 1,68 5,23 4,76 5,55 5,55
1 Ketenagalistrikan 4,17 0,24 0,10 -0,98 -0,98 1,65 4,87 4,42 5,61 5,61
2 Pengadaan Gas dan Produksi Es 1,55 -8,70 -11,90 -11,94 -11,94 1,92 8,19 7,52 5,05 5,05
E Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah dan Daur Ulang 4,38 4,41 4,92 4,94 4,94 5,46 5,62 5,26 4,97 4,97
F Konstruksi 2,90 -1,26 -2,39 -3,26 -3,26 -0,79 1,72 2,43 2,81 2,81
G Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi Mobil dan Sepeda Motor 1,50 -3,14 -3,82 -3,78 -3,78 -1,26 3,94 4,35 4,65 4,65
1 Perdagangan Mobil, Sepeda Motor dan Reparasinya 1,07 -14,34 -15,61 -14,11 -14,11 -5,48 12,29 13,15 12,10 12,10
2 Perdagangan Besar dan Eceran, Bukan Mobil dan Sepeda Motor 1,60 -0,55 -1,09 -1,37 -1,37 -0,27 2,28 2,61 3,14 3,14
H Transportasi dan Pergudangan 1,27 -15,04 -15,62 -15,05 -15,05 -13,09 2,75 1,57 3,24 3,24
1 Angkutan Rel -6,95 -36,03 -41,22 -42,34 -42,34 -45,04 -12,46 -11,18 -3,42 -3,42
2 Angkutan Darat 5,15 -6,46 -5,97 -5,34 -5,34 -4,41 5,70 4,87 4,55 4,55
3 Angkutan Laut 5,89 -5,91 -5,69 -4,52 -4,52 -4,09 5,19 3,60 2,89 2,89
4 Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan 1,16 -13,11 -13,24 -13,00 -13,00 -18,43 -7,61 -6,64 -0,42 -0,42
5 Angkutan Udara -13,35 -46,79 -52,78 -53,06 -53,06 -52,35 -17,09 -17,80 -8,01 -8,01
6 Pergudangan dan Jasa Penunjang Angkutan; Pos dan Kurir -0,64 -20,07 -19,19 -17,61 -17,61 -15,89 3,67 -0,72 5,03 5,03
I Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum 1,92 -10,14 -10,72 -10,26 -10,26 -7,27 5,35 3,51 3,89 3,89
1 Penyediaan Akomodasi -4,57 -24,29 -25,56 -24,49 -24,49 -17,62 5,37 0,92 5,81 5,81
2 Penyediaan Makan Minum 3,49 -6,77 -7,20 -6,88 -6,88 -4,96 5,34 4,01 3,52 3,52
J Informasi dan Komunikasi 9,82 10,34 10,47 10,61 10,61 8,72 7,79 7,02 6,81 6,81
K Jasa Keuangan dan Asuransi 10,63 5,89 3,55 3,25 3,25 -2,97 2,37 3,00 1,56 1,56
1 Jasa Perantara Keuangan 13,67 6,48 3,31 3,98 3,98 -3,76 4,64 5,23 2,71 2,71
2 Asuransi dan Dana Pensiun 5,04 6,17 5,89 4,03 4,03 2,24 1,07 1,10 0,72 0,72
3 Jasa Keuangan Lainnya 7,80 3,77 1,45 -0,58 -0,58 -8,24 -5,30 -3,50 -2,40 -2,40
4 Jasa Penunjang Keuangan 1,19 1,26 1,35 1,86 1,86 5,85 5,54 5,38 5,18 5,18
L Real Estate 3,81 3,06 2,69 2,32 2,32 0,94 1,88 2,40 2,78 2,78
M,N Jasa Perusahaan 5,39 -3,48 -4,89 -5,44 -5,44 -6,10 1,31 0,68 0,73 0,73

Kementerian Pertanian 2022


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021
2020* 2021**
KATEGORI LAPANGAN USAHA
I s.d. II s.d. III s.d. IV Jumlah I s.d. II s.d. III s.d. IV Jumlah
1 2 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62
O Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib 3,16 -0,09 0,54 -0,03 -0,03 -2,26 3,77 -0,81 -0,33 -0,33
P Jasa Pendidikan 5,86 3,48 3,10 2,61 2,61 -1,54 2,16 -0,11 0,11 0,11
Q Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial 10,33 6,97 9,79 11,56 11,56 3,39 7,45 9,81 10,46 10,46
R,S,T,U Jasa lainnya 7,09 -2,95 -3,84 -4,10 -4,10 -5,15 2,71 1,69 2,12 2,12

Kementerian Pertanian 2022


A NILAI TAMBAH BRUTO ATAS HARGA DASAR 2,94 -0,95 -1,51 -1,59 -1,59 -0,95 2,95 2,97 3,27 3,27
B PAJAK DIKURANG SUBSIDI ATAS PRODUK 3,65 -9,46 -14,70 -13,13 -13,13 6,78 7,51 10,98 14,85 14,85
C PRODUK DOMESTIK BRUTO 2,97 -1,26 -2,03 -2,07 -2,07 -0,70 3,10 3,24 3,69 3,69
Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

173
Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

Perkembangan Nilai Tukar Petani Tahun 2020-2021

Perkembangan NTP 2020-2021


110
108
106
104
102
100
98
96
94
jan feb mar apr may jun jul aug sep oct nov dec
2020 104,16 103,35 102,09 100,32 99,47 99,6 100,09 100,65 101,66 102,25 102,86 103,25
2021 103,26 103,1 103,29 102,93 103,39 103,59 103,48 104,68 105,68 106,67 107,18 108,34

2020 2021

174 Kementerian Pertanian 2022


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

Lampiran 2. Struktur Organisasi Kementerian Pertanian

Kementerian Pertanian 2022 175


176
Lampiran 3.

DISTRIBUSI MENURUT GOLONGAN/RUANG, JENIS KELAMIN DAN PENDIDIKAN BERDASARKAN ESELON I

Jenis
Golongan I Golongan II Golongan III Golongan IV Pendidikan JUMLAH
Kelamin
NO. UNIT KERJA
S
A B C D A B C D A B C D A B C D E L P S3 S2 S1 D4 D3 D2 D1 SMA SMP SD
Muda
1 SEKRETARIAT JENDERAL 0 0 0 1 4 3 18 56 122 255 203 248 111 46 32 14 16 662 467 51 310 467 0 3 70 2 3 216 5 2 1129
2 DIREKTORAT JENDERAL
PRASARANA DAN
SARANA PERTANIAN 0 0 0 0 1 0 2 6 66 42 59 73 40 16 6 1 0 172 140 5 89 164 1 1 8 0 0 43 0 1 312
3 DIREKTORAT JENDERAL
TANAMAN PANGAN 0 0 0 0 5 10 22 55 98 87 102 127 54 14 10 2 0 304 282 12 126 252 1 0 44 0 0 142 6 3 586
4 DIREKTORAT JENDERAL
HORTIKULTURA 0 0 0 0 3 4 8 15 59 39 56 72 50 17 3 3 0 159 170 9 97 154 0 0 5 0 0 56 5 3 329
5 DIREKTORAT JENDERAL
PERKEBUNAN 0 0 1 0 4 5 25 51 181 102 126 191 73 29 10 1 0 411 388 2 192 387 20 1 43 0 14 132 6 2 799
6 DIREKTORAT JENDERAL
PETERNAKAN DAN
KESEHATAN HEWAN 0 0 5 17 43 43 170 172 189 411 217 358 213 65 16 6 0 1127 798 24 540 452 38 0 266 2 0 532 35 36 1925
7 INSPEKTORAT JENDERAL 0 0 0 0 0 2 0 9 40 47 41 45 35 20 31 8 8 157 129 3 137 117 0 0 4 0 0 24 1 0 286
8 BADAN PENELITIAN DAN
PENGEMBANGAN
PERTANIAN 0 10 23 103 93 182 341 642 465 1164 693 685 347 215 117 93 113 3129 2157 539 1184 1278 119 1 336 7 5 1578 118 121 5286
9 BADAN PENYULUHAN
DAN PENGEMBANGAN
SUMBER DAYA MANUSIA
PERTANIAN 0 0 1 30 37 36 72 142 195 364 313 331 189 73 45 20 17 1131 734 97 685 435 141 0 81 1 2 336 47 40 1865
10 BADAN KETAHANAN
PANGAN 0 0 0 0 1 0 3 10 40 47 46 56 33 17 3 2 1 118 141 10 90 108 0 0 8 0 0 42 1 0 259
11 BADAN KARANTINA
PERTANIAN 0 0 1 4 39 142 407 449 493 660 413 696 213 132 46 3 2 2069 1631 26 887 1065 2 0 653 29 0 1021 13 4 3700

Kementerian Pertanian 2022


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021
DATA KELEMBAGAAN PETANI DAN KETENAGAAN PENYULUH PERTANIAN

KETENAGAAN PENYULUHAN PERTANIAN */

PENYULUH PENYULUH PENYULUH

Kementerian Pertanian 2022


NO. PROVINSI PPPK THL - TBPP JUMLAH PENYULUH
PNS SWADAYA SWASTA

a b c d e f=(a+b+c+d+e)
1 ACEH 1.606 844 123 1.201 - 3.774
2 SUMATERA UTARA 1.319 898 168 1.153 - 3.538
Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

3 SUMATERA BARAT 682 423 29 1.180 1 2.315


4 RIAU 526 208 62 340 - 1.136
5 JAMBI 770 8 171 716 - 1.665
6 SUMATERA SELATAN 1.083 299 167 1.054 - 2.603
7 BENGKULU 585 101 160 288 2 1.136
8 LAMPUNG 681 508 84 810 2 2.085
9 KEPULAUAN BANGKA BELITUNG 207 65 - 41 - 313
10 KEPULAUAN RIAU 40 10 3 41 - 94
11 DKI JAKARTA 50 - 12 71 - 133
12 JAWA BARAT 1.538 1.028 145 2.737 32 5.480
13 JAWA TENGAH 1.812 1.775 92 5.610 38 9.327
14 DI YOGYAKARTA 200 227 1 584 12 1.024
15 JAWA TIMUR 1.989 1.824 101 4.510 17 8.441
16 BANTEN 361 168 61 666 2 1.258
17 BALI 371 147 25 590 1 1.134
18 NUSA TENGGARA BARAT 786 368 7 723 4 1.888
19 NUSA TENGGARA TIMUR 1.345 497 231 843 3 2.919
20 KALIMANTAN BARAT 781 233 8 585 7 1.614
21 KALIMANTAN TENGAH 620 151 18 212 2 1.003
22 KALIMANTAN SELATAN 808 291 19 779 7 1.904
23 KALIMANTAN TIMUR 541 78 18 292 - 929
24 KALIMANTAN UTARA 162 3 14 82 2 263
25 SULAWESI UTARA 673 81 16 709 6 1.485
26 SULAWESI TENGAH 1.117 27 75 322 1 1.542
27 SULAWESI SELATAN 1.774 321 253 1.832 1 4.181
28 SULAWESI TENGGARA 807 77 178 968 4 2.034
29 GORONTALO 418 47 15 503 - 983
30 SULAWESI BARAT 489 48 23 364 - 924
31 MALUKU 430 73 53 241 1 798

177
178
KETENAGAAN PENYULUHAN PERTANIAN */

NO. PROVINSI PENYULUH PENYULUH PENYULUH


PPPK THL - TBPP JUMLAH PENYULUH
PNS SWADAYA SWASTA

a b c d e f=(a+b+c+d+e)
32 MALUKU UTARA 404 72 20 97 - 593
33 PAPUA BARAT 380 16 37 46 - 479
34 PAPUA 855 - 97 135 1 1.088
Badan PPSDMP Jakarta 19 - 19
BBP2TP 12 - 12
Jumlah 26.241 10.916 2.486 30.325 146 70.114

*/ Sumber: SIMLUHTAN

Kementerian Pertanian 2022


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021
Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021
LAMPIRAN 4

Kementerian Pertanian 2022 179


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

180 Kementerian Pertanian 2022


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

Kementerian Pertanian 2022 181


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

182 Kementerian Pertanian 2022


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

Kementerian Pertanian 2022 183


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

184 Kementerian Pertanian 2022


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

Kementerian Pertanian 2022 185


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

186 Kementerian Pertanian 2022


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

Kementerian Pertanian 2022 187


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

188 Kementerian Pertanian 2022


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

Kementerian Pertanian 2022 189


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

190 Kementerian Pertanian 2022


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

Kementerian Pertanian 2022 191


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

192 Kementerian Pertanian 2022


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

Kementerian Pertanian 2022 193


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

194 Kementerian Pertanian 2022


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

Kementerian Pertanian 2022 195


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

196 Kementerian Pertanian 2022


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

Kementerian Pertanian 2022 197


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

198 Kementerian Pertanian 2022


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

Kementerian Pertanian 2022 199


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

200 Kementerian Pertanian 2022


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

Kementerian Pertanian 2022 201


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

202 Kementerian Pertanian 2022


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

Kementerian Pertanian 2022 203


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

204 Kementerian Pertanian 2022


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

Kementerian Pertanian 2022 205


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

206 Kementerian Pertanian 2022


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

Kementerian Pertanian 2022 207


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

208 Kementerian Pertanian 2022


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

Kementerian Pertanian 2022 209


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

210 Kementerian Pertanian 2022


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

Kementerian Pertanian 2022 211


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

212 Kementerian Pertanian 2022


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

Kementerian Pertanian 2022 213


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

214 Kementerian Pertanian 2022


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

Kementerian Pertanian 2022 215


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

216 Kementerian Pertanian 2022


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

Kementerian Pertanian 2022 217


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

218 Kementerian Pertanian 2022


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

Kementerian Pertanian 2022 219


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

220 Kementerian Pertanian 2022


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

Kementerian Pertanian 2022 221


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

222 Kementerian Pertanian 2022


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

Kementerian Pertanian 2022 223


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

224 Kementerian Pertanian 2022


Lampiran 5

REALISASI KEGIATAN PADAT KARYA LINGKUP KEMENTAN 2021

TARGET REALISASI
NO KEGIATAN
ANGGARAN SERAPAN TENAGA ANGGARAN TENAGA KERJA
HOK HOK
(RP.) KERJA RP. % (ORANG)
1 2 13 14 15 20 21 22 23

TOTAL PROGRAM PADAT KARYA LINGKUP KEMENTERIAN PERTANIAN [Link].500 244.307 5.546.478 [Link].974 91,19 240.058 5.466.246

I DIREKTORAT JENDERAL TANAMAN PANGAN [Link] 27.329 273.290 [Link] 99 27.038 270.380

Kementerian Pertanian 2022


1 1762 Pengelolaan Produksi Tanaman Serealia Tanaman Pangan [Link]
1762 RAI Sarana Pengembangan Kawasan [Link]
RAI 630 Kawasan Jagung (PEN) [Link] 7.379 73.794 [Link] 72,90 7.076 70.758
RAI.622 Kawasan Jagung [Link] 3.600 36.000 [Link] 90,63 3.600 36.000
2 4580 Pengelolaan Perlindungan Tanaman Pangan [Link] 27.329 273.290 [Link] 98,79 27.038 270.380
4580 CAI Sarana Pengembangan Kawasan [Link] 6.617 66.173 [Link] 99,03 6.561 65.614
CAI 005 Areal Pengendalian OPT Tanaman Pangan (PEN) [Link] 4.736 47.355 [Link] 99,54 4.720 47.204
Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

CAI 006 Areal Penanganan DPI (PEN) [Link] 1.882 18.818 [Link] 97,73 1.841 18.410
[Link] Sarana Pengembangan Kawasan [Link] 20.712 207.117 [Link] 98,72 20.477 204.766
[Link].001 Areal Pengendalian OPT Tanaman Pangan [Link] 11.325 113.248 [Link] 99,54 11.288 112.878
[Link].002 Areal Penanganan DPI [Link] 9.387 93.869 [Link] 97,72 9.189 91.888
3 5885 Pasca Panen, Pengolahan dan Pemasaran Hasil Tanaman Pangan [Link]
[Link] Sarana Bidang Pertanian, Kehutanan dan Lingkungan Hidup [Link]
[Link].002 Sarana Pengolahan Hasil Tanaman Pangan [Link] 2.115 21.150 [Link] 99,85 2.115 21.150

II DIREKTORAT JENDERAL HORTIKULTURA [Link] 405 12.150 [Link] 100,00 - 22 22.547

1 5887 Pengolahan dan Pemasaran Hasil Hortikultura [Link] 405 12.150 [Link] 100,00 - 22 22.547
5887 RBK Prasarana Bidang Pertanian, Kehutanan dan Lingkungan Hidup [Link] 405 12.150 [Link] 100,00 - 22 22.547
a RBK 010 Prasarana Pascapanen Hortikultura [Link] 405 12.150 [Link] 100,00 - 9 6.465

b RBK 011 Prasarana Pengolahan Hortikultura [Link] [Link] 100,00 - 13 16.082

III DIREKTORAT JENDERAL PERKEBUNAN [Link] 200 - [Link] 86,68 - -

1 Produksi Benih di Nursery [Link] 200 [Link] 86,68 -

IV DIREKTORAT JENDERAL PRASARANA DAN SARANA PERTANIAN [Link].000 215.848 5.249.083 [Link].422 94,08 212.305 5.161.548
1 1794 Pengelolaan Air Irigasi Untuk Pertanian [Link] 91.453 2.139.212 [Link] 99,80 91.244 2.135.031
1794 RBK Prasarana Bidang Pertanian, Kehutanan dan Lingkungan Hidup [Link] 29.653 594.272 [Link] 99,30 29.446 590.091
RBK 001 Irigasi Perpipaan (PEN) [Link] 3.765 60.240 [Link] 99,12 3.732 59.709
RBK 002 Embung Pertanian (PEN) [Link] 9.624 192.480 [Link] 100,00 9.624 192.480
IRIGASI PERPOMPAAN [Link] 16.264 341.552 [Link] 98,93 16.091 337.901
RBK U87 Irigasi Perpompaan Besar Wilayah Timur (PEN) [Link]
RBK U88 Irigasi Perpompaan Menengah Wilayah Timur (PEN) [Link]
RBK U90 Irigasi Perpompaan Besar Wilayah Tengah (PEN) [Link]
RBK U91 Irigasi Perpompaan Menengah Wilayah Tengah (PEN) [Link]
RBK U93 Irigasi Perpompaan Besar Wilayah Barat (PEN) [Link]
RBK U94 Irigasi Perpompaan Menengah Wilayah Barat (PEN) [Link]
1794 RDK OM Prasarana Bidang Pertanian, Kehutanan dan Lingkungan Hidup [Link] 61.800 1.544.940 [Link] 100,00 61.798 1.544.940
RDK 001 Jaringan Irigasi Tersier (PEN) [Link] 61.798 1.544.940 [Link] 100,00 61.798 1.544.940
2 1795 Perluasan dan Perlindungan Lahan Pertanian [Link] 84.555 2.113.871 [Link] 88,35 81.404 2.035.092
1795 RBK Prasarana Bidang Pertanian, Kehutanan dan Lingkungan Hidup [Link] 17.055 426.375 [Link] 98,07 17.055 426.375

225
226
TARGET REALISASI
NO KEGIATAN
ANGGARAN SERAPAN TENAGA ANGGARAN TENAGA KERJA
HOK HOK
(RP.) KERJA RP. % (ORANG)
1 2 13 14 15 20 21 22 23
RBK 001 Lahan Konservasi dan Rehabilitasi (PEN) [Link] 17.055 426.375 [Link] 98,07 17.055 426.375
1795 RBO Prasarana Pengembangan Kawasan [Link] 67.500 1.687.496 [Link] 86,14 64.349 1.608.717
RBO 001 Cetak Sawah (PEN) [Link] 39.945 998.622 [Link] 85,82 39.945 998.622
RBO 002 Optimasi Lahan (PEN) [Link] 27.555 688.874 [Link] 86,92 24.404 610.095
3 3993 Fasilitasi Pupuk dan Pestisida [Link] 39.840 996.000 [Link] 99,05 39.657 991.425
3993 RAG Sarana Bidang Pertanian, Kehutanan dan Lingkungan Hidup [Link] 39.840 996.000 [Link] 99,05 39.657 991.425
RAG 004 Unit Pengolah Pupuk Organik (UPPO) (PEN) [Link] 39.840 996.000 [Link] 99,05 39.657 991.425
V BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN PERTANIAN [Link] 525 11.955 [Link] 737 11.771
1 1801 Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian 500.000.000
1801 SDA Penelitian dan Pengembangan Produk 500.000.000
SDA 502 Diseminasi Teknologi Pertanian 46.215.000
SDA 514 Diseminasi Teknologi Pertanian (PEN) 453.785.000 445.871.000
2 4584 Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya dan Sistem Pertanian 500.000.000
4584 SDA Penelitian dan Pengembangan Produk 500.000.000
SDA 515 Diseminasi Hasil Litbang Sumber Daya Lahan Pertanian 157.902.000
SDA 531 Diseminasi Hasil Litbang Sumber Daya Lahan Pertanian (PEN) 342.098.000 342.098.000
3 4585 Penelitian dan Pengembangan Tanaman Peternakan dan Veteriner 599.854.000
4585 SDA Penelitian dan Pengembangan Produk 599.854.000
SDA 504 Diseminasi Teknologi Tanaman Pangan 232.000.000
SDA 533 Teknologi Peternakan dan Veteriner 367.854.000
4 4585 Penelitian dan Pengembangan Tanaman, Peternakan dan Veteriner [Link]
4585 SDA Penelitian dan Pengembangan Produk [Link]
SDA 548 Diseminasi Teknologi Tanaman Pangan (PEN) 768.000.000 400.625.000
SDA 549 Teknologi Peternakan dan Veteriner (PEN) [Link] 988.933.095

Kementerian Pertanian 2022


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021
CAPAIAN KEGIATAN KETAHANAN PANGAN/FOOD ESTATE LINGKUP KEMENTAN TA 2021

ANGGARAN
NO Kode/Cluster/Program/Kegiatan/KRO/RO
Pagu (Rp) REALISASI (Rp) %

Kementerian Pertanian 2022


0303 TOTAL KETAHANAN PANGAN / FOOD ESTATE KEMENTAN [Link].000 [Link].514 83,03
1 018 03 Ditjen Tanaman Pangan [Link].000 [Link].502 75,04
Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

A 1761 Pengelolaan Produksi Aneka Kacang dan Umbi Tanaman Pangan [Link] [Link] 61,64
1761 AEA Koordinasi [Link] [Link] 61,00
AEA 620 Koordinasi, Bimbingan Teknis, Monitoring dan Evaluasi (PEN) [Link] [Link] 61,00
1761 CAI Sarana Pengembangan Kawasan [Link] [Link] 61,70
CAI 620 Kawasan Kedelai (PEN) [Link] [Link] 62,22
CAI 621 Kawasan Kacang Tanah (PEN) [Link] [Link] 57,57
CAI 622 Kawasan Kacang Hijau (PEN) [Link] [Link] 47,40
B 1762 Pengelolaan Produksi Tanaman Serealia Tanaman Pangan [Link] [Link] 78,41
1762 AEA Koordinasi [Link] [Link] 46,50
AEA 625 Koordinasi, Bimbingan Teknis, Monitoring dan Evaluasi (PEN) [Link] [Link] 46,50
1762 RAI Sarana Pengembangan Kawasan [Link] [Link] 79,56
RAI 621 Kawasan Padi [Link] [Link] 96,93
RAI 629 Kawasan Padi (PEN) [Link] [Link] 67,31
C 4579 Pengelolaan Sistem Perbenihan Tanaman Pangan [Link] [Link] 76,39
4579 AEA Koordinasi [Link] [Link] 65,65
AEA 002 Koordinasi, Bimtek, Monev dan Pelaporan (PEN) [Link] [Link] 65,65
4579 CAG Sarana Bidang Pertanian, Kehutanan dan Lingkungan Hidup [Link] [Link] 57,85
CAG 008 Benih oleh Penangkar/Produsen yang Dihasilkan (PEN) [Link] [Link] 57,85
4579 RAI Sarana Pengembangan Kawasan [Link] [Link] 76,64
RAI 003 Area Penyaluran Benih Padi (PEN) [Link] [Link] 83,07
RAI 004 Area Penyaluran Benih Jagung (PEN) [Link] [Link] 74,29
D 4580 Pengelolaan Perlindungan Tanaman Pangan [Link] [Link] 89,33

227
228
ANGGARAN
NO Kode/Cluster/Program/Kegiatan/KRO/RO
Pagu (Rp) REALISASI (Rp) %

4580 AEA Koordinasi [Link] [Link] 69,64


AEA 002 Koordinasi. (PEN) [Link] [Link] 69,64
4580 CAI Sarana Pengembangan Kawasan [Link] [Link] 90,95
CAI 003 Areal Pengendalian OPT Tanaman Pangan (PEN) [Link] [Link] 90,73
CAI 004 Areal Penanganan DPI (PEN) [Link] [Link] 92,28
E 5885 Pascapanen, Pengolahan dan Pemasaran Hasil TP [Link] [Link] 67,78
5885 AEA Koordinasi [Link] [Link] 49,23
AEA 002 Koordinasi, Bimtek, Monev dan Pelaporan (PEN) [Link] [Link] 49,23
5885 CAG Sarana Bidang Pertanian, Kehutanan dan Lingkungan Hidup [Link] [Link] 68,08
CAG 004 Sarana Pascapanen Tanaman Pangan (PEN) [Link] [Link] 68,16
CAG 005 Sarana Pengolahan Hasil Tanaman Pangan (PEN) [Link] [Link] 62,04
2 018 04 Ditjen Hortikultura [Link] [Link] 87,39
A 1771 Peningkatan Produksi Sayuran dan Tanaman Obat [Link] [Link] 93,82
[Link] Koordinasi [Link] [Link] 98,57
AEA.020 Bimbingan Teknis, Sosialisasi, Monev dan Pelaporan [Link] [Link] 98,57
1771 AFA Norma, Standard, Prosedur dan Kriteria 249.657.000 229.660.450 91,99
AFA.010 Peraturan/Norma/Pedoman 249.657.000 229.660.450 91,99
1771 CAI Sarana Pengembangan Kawasan [Link] [Link] 91,35
CAI.014 Kawasan Sayuran Lain [Link] [Link] 92,83
CAI 020 Kawasan Sayuran Lain (PEN) [Link] [Link] 88,63
1771 RAI Sarana Pengembangan Kawasan [Link] [Link] 98,64
RAI 016 Kawasan Tanaman Obat (PEN) [Link] [Link] 98,64
B 5886 Peningkatan Produksi Buah dan Florikultura [Link] [Link] 93,95
5886 CAI Sarana Pengembangan Kawasan [Link] [Link] 94,25
CAI 023 Kawasan Durian (PEN) [Link] [Link] 94,37
CAI 024 Kawasan Lengkeng (PEN) [Link] [Link] 92,98
CAI 025 Kawasan Alpukat (PEN) [Link] [Link] 95,89
CAI 026 Kawasan Buah Lain (PEN) [Link] [Link] 87,07
5886 AEA Koordinasi [Link] [Link] 90,61

Kementerian Pertanian 2022


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021
ANGGARAN
NO Kode/Cluster/Program/Kegiatan/KRO/RO
Pagu (Rp) REALISASI (Rp) %

AEA.021 Bimbingan Teknis, Sosialisasi, Monev dan Pelaporan [Link] [Link] 90,61
C 5887 Pengolahan dan Pemasaran Hasil Hortikultura [Link] [Link] 50,63
5887 RAG Sarana Bidang Pertanian, Kehutanan dan Lingkungan Hidup [Link] [Link] 50,63

Kementerian Pertanian 2022


RAG 013 Sarana Pascapanen Hortikultura (PEN) [Link] [Link] 50,63
3 018 05 Ditjen Perkebunan [Link] [Link] 93,19
A 1777 Pengembangan Kawasan Tanaman Tahunan dan Penyegar [Link] [Link] 92,42
1777 RAI Sarana Pengembangan Kawasan [Link] [Link] 92,60
Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

RAI 009 Kawasan Kopi (PEN) [Link] [Link] 93,68


RAI 010 Kawasan Kelapa (PEN) [Link] [Link] 92,72
RAI 011 Kawasan Jambu Mete (PEN) [Link] [Link] 88,61
RAI 012 Kawasan Kakao (PEN) [Link] [Link] 88,81
RAI 013 Kawasan Karet (PEN) [Link] [Link] 97,24
1777 AEA Koordinasi [Link] [Link] 83,40
AEA 002 Koordinasi, Bimtek, Monev dan Pelaporan (PEN) [Link] [Link] 83,40
B 1779 Penguatan Perlindungan Perkebunan [Link] [Link] 98,84
1779 RAI Sarana Pengembangan Kawasan [Link] [Link] 98,84
RAI 003 Area Penanganan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) Tanaman Perkebunan [Link] [Link] 98,84
C 5888 Pengembangan Kawasan Tanaman Semusim dan Rempah [Link] [Link] 95,51
5888 AEA Koordinasi [Link] [Link] 97,25
AEA 002 Koordinasi, Bimtek, Monev dan Pelaporan (PEN) [Link] [Link] 97,25
5888 RAI Sarana Pengembangan Kawasan [Link] [Link] 95,48
RAI 004 Kawasan Tebu 74.452.000 73.051.661 98,12
RAI 008 Kawasan Tebu (PEN) [Link] [Link] 96,31
RAI 009 Kawasan Lada (PEN) [Link] [Link] 72,06
RAI 010 Kawasan Pala (PEN) [Link] [Link] 95,12
RAI 011 Kawasan Cengkeh (PEN) 139.250.000 88.923.250 63,86
RAI 012 Kawasan Vanili (PEN) 644.100.000 466.514.650 72,43
D 5889 Pasca Panen, Pengolahan (Hilirisasi) dan Pemasaran Hasil Perkebunan [Link] [Link] 88,51
5889 AEA Koordinasi [Link] [Link] 90,32

229
230
ANGGARAN
NO Kode/Cluster/Program/Kegiatan/KRO/RO
Pagu (Rp) REALISASI (Rp) %

AEA 002 Koordinasi, Bimtek, Monev dan Pelaporan (PEN) [Link] [Link] 90,32
5889 RAG Sarana Bidang Pertanian, Kehutanan dan Lingkungan Hidup [Link] [Link] 87,03
RAG 003 Sarana Pascapanen Tanaman Perkebunan (PEN) [Link] [Link] 89,01
RAG 004 Sarana Pengolahan Tanaman Perkebunan (PEN) [Link] [Link] 85,24
RAI 001 Kebun Sumber Benih Tanaman Perkebunan [Link] [Link] 99,98
5889 RBK Prasarana Bidang Pertanian, Kehutanan dan Lingkungan Hidup [Link] [Link] 96,25
RBK 003 Prasarana Pascapanen Tanaman Perkebunan (PEN) [Link] [Link] 95,47
RBK 004 Prasarana Pengolahan Tanaman Perkebunan (PEN) [Link] [Link] 96,46
E 5890 Penguatan Perbenihan Tanaman Perkebunan [Link] [Link] 94,54
5890 RAI Sarana Pengembangan Kawasan [Link] [Link] 94,54
RAI 002 Kebun Sumber Benih Tanaman Perkebunan (PEN) [Link] [Link] 94,54
4 018 06 Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan [Link] [Link] 73,02
A 1783 Peningkatan Produksi Pakan Ternak [Link] [Link] 82,69
1783 AEA Koordinasi [Link] [Link] 97,88
AEA 101 Supervisi, Monitoring dan Evaluasi Pakan (PEN) [Link] [Link] 97,88
1783 QEG Bantuan Peralatan / Sarana [Link] [Link] 82,92
QEG 101 Hijauan Pakan Ternak (PEN) [Link] [Link] 69,40
QEG 102 Pakan Olahan Dan Bahan Pakan (PEN) [Link] [Link] 83,50
1783 QJA Penyidikan dan Pengujian Produk [Link] [Link] 76,52
QJA 101 Mutu dan Keamanan Pakan (PEN) [Link] [Link] 76,52
B 1784 Pengendalian dan Penanggulangan Penyakit Hewan [Link] [Link] 81,71
1784 AEA Koordinasi [Link] 997.026.700 99,66
AEA 101 Supervisi, Monitoring dan Evaluasi Kesehatan Hewan (PEN) [Link] 997.026.700 99,66
1784 AFA Norma, Standard, Prosedur dan Kriteria [Link] [Link] 95,02
AFA 101 Norma, Standar, Pedoman dan Kriteria Kesehatan Hewan (PEN) [Link] [Link] 95,02
1784 QAH Pelayanan Publik Lainnya [Link] [Link] 76,86
QAH 101 Pelayanan Kesehatan Hewan (PEN) [Link] [Link] 82,39
QAH 102 Produksi Obat Hewan dan Bahan Biologik (PEN) [Link] [Link] 99,49
QAH 103 Pengamatan dan Identifikasi Penyakit Hewan (PEN) [Link] [Link] 72,18

Kementerian Pertanian 2022


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021
ANGGARAN
NO Kode/Cluster/Program/Kegiatan/KRO/RO
Pagu (Rp) REALISASI (Rp) %

1784 QJA Penyidikan dan Pengujian Produk [Link] [Link] 73,65


QJA 101 Mutu dan Sertifkasi Obat Hewan (PEN) [Link] [Link] 73,65
C 1785 Penyediaaan Benih dan Bibit Serta Peningkatan Produksi Ternak [Link] [Link] 70,69

Kementerian Pertanian 2022


1785 AEA Koordinasi [Link] [Link] 77,42
AEA 101 Supervisi, Monitoring dan Evaluasi Perbibitan dan Produksi Ternak (PEN) [Link] [Link] 77,42
1785 AFA Norma, Standard, Prosedur dan Kriteria [Link] [Link] 97,13
AFA 101 Norma, Standar, Pedoman dan Kriteria Perbibitan dan Produksi Ternak (PEN [Link] [Link] 97,13
Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

1785 PDA Standarisasi Produk [Link] [Link] 79,04


PDA 101 Benih Ternak Unggul (PEN) [Link] [Link] 99,40
PDA 102 Bibit Ternak Unggul (PEN) [Link] [Link] 78,27
1785 QEH Bantuan Kelompok Masyarakat [Link] [Link] 68,58
QEH 003 Ternak Ruminansia Potong 9.000.000 9.000.000 100,00
QEH 004 Ternak Unggas dan Aneka Ternak 590.000.000 533.352.350 90,40
QEH 101 Optimalisasi Reproduksi (PEN) [Link] [Link] 88,62
QEH 102 Ternak Ruminansia Perah (PEN) [Link] [Link] 90,08
QEH 103 Ternak Ruminansia Potong (PEN) [Link] [Link] 62,06
QEH 104 Ternak Unggas Dan Aneka Ternak (PEN) [Link] [Link] 53,66
D 1786 Peningkatan Kesehatan Masyarakat Veteriner [Link] [Link] 90,53
1786 AEA Koordinasi [Link] [Link] 95,67
AEA 101 Supervisi, Monitoring dan Evaluasi Kesehatan Masyarakat Veteriner (PEN) [Link] [Link] 95,67
1786 PDF Sertifikasi Lembaga [Link] [Link] 81,21
PDF 101 Sertifikasi Unit Usaha (PEN) [Link] [Link] 81,21
1786 QJA Penyidikan dan Pengujian Produk [Link] [Link] 94,59
QJA 101 Mutu dan Keamanan Produk Hewan (PEN) [Link] [Link] 94,59
E 5891 Pengembangan Pengolahan dan Pemasaran Hasil Ternak [Link] [Link] 88,08
5891 AEA Koordinasi [Link] [Link] 83,85
AEA 001 Supervisi Monitoring dan Evaluasi Pengolahan dan Pemasaran Hasil Peterna 50.000.000 47.684.802 95,37
AEA 101 Supervisi, Monitoring dan Evaluasi Pengolahan dan Pemasaran Hasil Petern [Link] [Link] 83,77
5891 RAG Sarana Bidang Pertanian, Kehutanan dan Lingkungan Hidup [Link] [Link] 99,95
RAG 101 Sarana Pengolahan dan Pemasaran Hasil Peternakan (PEN) [Link] [Link] 99,95

231
232
ANGGARAN
NO Kode/Cluster/Program/Kegiatan/KRO/RO
Pagu (Rp) REALISASI (Rp) %

5 018 08 Ditjen Prasarana dan Sarana Pertanian [Link] [Link] 99,81


1796 Pengelolaan Sistem Penyediaan dan Pengawasan Alat Mesin Pertanian [Link] [Link] 99,81
1796 RAG Sarana Bidang Pertanian, Kehutanan dan Lingkungan Hidup [Link] [Link] 99,81
RAG 006 Alat dan Mesin Pertanian Pra Panen (PEN) [Link] [Link] 99,81
6 018 09 Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian [Link] [Link] 92,92
A 1801 Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian [Link] [Link] 95,88
1801 SDA Penelitian dan Pengembangan Produk [Link] [Link] 95,88
SDA 502 Diseminasi Teknologi Pertanian 218.395.000 210.830.600 96,54
SDA 513 Diseminasi Teknologi Pertanian (PEN) [Link] [Link] 95,88
B 4584 Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya dan Sistem Pertanian [Link] [Link] 86,52
4584 SDA Penelitian dan Pengembangan Produk [Link] [Link] 86,52
SDA 516 Diseminasi Hasil Perekayasaan/Litbang Mekanisasi Pertanian 341.662.000 339.027.008 99,23
SDA 521 Galur Harapan Tanaman (PEN) 400.000.000 399.803.063 99,95
SDA 522 Teknologi Berbasis Bioteknologi, Bioprospeksi, dan Pengelolaan SDG (PEN) 300.000.000 298.900.153 99,63
SDA 523 Teknologi Pascapanen Pertanian (PEN) [Link] [Link] 82,49
SDA 524 Teknologi Sumber Daya Lahan Pertanian (PEN) [Link] [Link] 97,27
SDA 525 Teknologi Mekanisasi Pertanian (PEN) [Link] [Link] 70,85
SDA 526 Diseminasi Hasil Litbang Bioteknologi dan Sumber Daya Genetik Pertanian (PEN) [Link] 955.521.358 95,55
SDA 527 Diseminasi Hasil Litbang Pascapanen Pertanian (PEN) [Link] 896.528.949 59,77
SDA 528 Diseminasi Hasil Litbang Sumber Daya Lahan Pertanian (PEN) [Link] [Link] 98,59
SDA 529 Diseminasi Hasil Perekayasaan/Litbang Mekanisasi Pertanian (PEN) [Link] 888.196.701 86,46
C 4585 Penelitian dan Pengembangan Tanaman, Peternakan dan Veteriner [Link] [Link] 95,30
4585 SDA Penelitian dan Pengembangan Produk [Link] [Link] 95,30
SDA 540 Teknologi Tanaman Pangan (PEN) [Link] [Link] 87,81
SDA 541 Teknologi Hortikultura (PEN) [Link] [Link] 99,87
SDA 542 Teknologi Perkebunan (PEN) [Link] [Link] 97,93
SDA 543 Teknologi Peternakan dan Veteriner (PEN) [Link] [Link] 96,86
SDA 544 Diseminasi Teknologi Tanaman Pangan (PEN) [Link] [Link] 97,64
SDA 545 Diseminasi Teknologi Hortikultura (PEN) [Link] [Link] 98,13
SDA 546 Diseminasi Teknologi Perkebunan (PEN) [Link] [Link] 95,17

Kementerian Pertanian 2022


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021
ANGGARAN
NO Kode/Cluster/Program/Kegiatan/KRO/RO
Pagu (Rp) REALISASI (Rp) %

SDA 547 Diseminasi Teknologi Peternakan (PEN) [Link] [Link] 98,85


7 018 10 Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian [Link] [Link] 97,96
1810 Penguatan Penyelenggaraan Pelatihan Pertanian [Link] [Link] 97,65

Kementerian Pertanian 2022


1810 AEA Koordinasi [Link] [Link] 98,42
AEA 001 Koordinasi, Sosialisasi, Bimtek, Monev dan Pelaporan 88.057.000 88.005.900 99,94
AEA 002 Koordinasi, Sosialisasi, Bimtek, Monev dan Pelaporan (PEN) [Link] [Link] 98,40
1810 SCC Pelatihan Bidang Pertanian dan Perikanan [Link] [Link] 97,58
Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

SCC 002 Pelatihan Pertanian bagi Non Aparatur 269.016.000 245.272.000 91,17
SCC 003 Pelatihan Vokasi Pertanian bagi Aparatur (PEN) [Link] [Link] 98,12
SCC 004 Pelatihan Pertanian bagi Non Aparatur (PEN) [Link] [Link] 97,37
1812 Penguatan Penyelenggaraan Penyuluhan Pertanian [Link] [Link] 97,89
1812 AEA Koordinasi [Link] [Link] 99,32
AEA 001 Koordinasi, Sosialisasi, Bimtek, Monev dan Pelaporan 408.620.000 407.701.800 99,78
AEA 002 Koordinasi, Sosialisasi, Bimtek, Monev dan Pelaporan (PEN) [Link] [Link] 99,31
1812 FBA Fasilitasi dan Pembinaan Pemerintah Daerah [Link] [Link] 93,33
FBA 003 Fasilitasi dan pembinaan Pemerintah Provinsi (PEN) [Link] [Link] 93,33
1812 QDD Fasilitasi dan Pembinaan Kelompok Masyarakat [Link] [Link] 98,30
QDD 005 Percontohan penerapan Teknologi Pertanian (PEN) [Link] [Link] 98,30
1813 Dukungan Manajemen dan Dukungan Teknis Lainnya Badan Penyuluhan da [Link] [Link] 99,93
1813 EAM Layanan Pendidikan dan Pelatihan Internal [Link] [Link] 99,93
EAM 005 Dukungan Peningkatan Kinerja Penyuluhan Pertaniain (PEN) [Link] [Link] 99,93
5892 Penguatan Penyelenggaraan Pendidikan Vokasi Pertanian [Link] [Link] 97,83
5892 AEA Koordinasi [Link] [Link] 97,00
AEA 003 Koordinasi, Sosialisasi, Bimtek, Monev dan Pelaporan (PEN) [Link] [Link] 97,00
5892 SAC Pendidikan Vokasi Bidang Pertanian dan Perikanan [Link] [Link] 98,77
SAC 001 Pendidikan Tinggi Vokasi Pertanian Sarjana Terapan [Link] [Link] 100,00
SAC 003 Pendidikan Menengah Vokasi Pertanian 90.000.000 90.000.000 100,00
SAC 004 Pendidikan Tinggi Vokasi Pertanian Sarjana Terapan (PEN) [Link] [Link] 98,21
SAC 005 Pendidikan Menengah Vokasi Pertanian (PEN) 844.264.000 844.010.000 99,97

233
234
ANGGARAN
NO Kode/Cluster/Program/Kegiatan/KRO/RO
Pagu (Rp) REALISASI (Rp) %

8 018 11 Badan Ketahanan Pangan [Link] [Link] 95,11


1816 Pemantapan Penganekaragaman Konsumsi dan Keamanan Pangan [Link] [Link] 95,11
1816 QDD Fasilitasi dan Pembinaan Kelompok Masyarakat [Link] [Link] 95,11
QDD 001 Pekarangan Pangan Lestari [Link] [Link] 99,46
QDD 101 Pekarangan Pangan Lestari (PEN) [Link] [Link] 90,48
9 018 12 Badan Karantina Pertanian [Link] [Link] 99,82
4586 Penyelenggaraan Karantina Pertanian [Link] [Link] 99,82
4586 CAG Sarana Bidang Pertanian, Kehutanan dan Lingkungan Hidup [Link] [Link] 99,82
CAG 600 Sarana Pertanian (PEN) [Link] [Link] 99,82

Kementerian Pertanian 2022


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021
Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

Lampiran 6.

Jenis Temuan HPHK dan OPTK

No Jenis HPHK Jenis OPTK Ketidaksesuaian


Pengujian aflatoksin pada kacang tanah
1 Anaplasma Aphelenchoides fragariae melebihi BMC yang ditetapkan oleh
pemerintah Indonesia
Pengujian logam berat (kadmium dan
timbal) pada cabe kering melebihi BMC
2 ASF pada daging Arabis mosaic virus
yang ditetapkan oleh pemerintah
Indonesia
Bovine Viral Pemasukan impor reagen tuberculin tes
3 Asphodelus fistulosus
Diarrhea (BVD) tanpa dokumen
4 Brucella abortus Dickeya zeae Pemasukan impor petfood tanpa dokumen
5 Brucella melitensis Ditylenchus destructor
6 Demodecosis Ditylenchus dipsaci
Erwinia carotovora subsp.
7 HPAI Atroseptica (=Pectobacterium
atrosepticum)
8 Johne Disease Helminthosporium solani
Impatiens necrotic spot
9 LPAI
tospovirus
Ring Worm
10 Meloidogyne hapla
(Dermatophitosis)
11 Trichinella Pantoea stewartii
Pantoea stewartii subsp.
12 Tripanosoma
stewartii
13 Penicillium expansum
14 Peronosclerospora sorghi
15 Peronospora manshurica
Pseudomonas syingae pv.
16
Syringae
17 Pseudomonas viridiflava
18 Rhodococcus fascians
19 Tilletia caries
20 Tilletia controversa
21 Tilletia indica
22 Tilletia laevis
23 Tilletia tritici
24 Trogoderma granarium

Kementerian Pertanian 2022 235


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

Lampiran 7. Data Penegakan Hukum Tahun 2021 di UPT Lingkup Badan Karantina
Pertanian
No Tgl. LK P21 UPT Lalulintas Kasus Pelanggaran Keterangan

1. 02 March 16 April 2021 BKP Bandar Antar Area Penyelundupan P21 Nomor B-
2021 Lampung satwa liar tidak 972/L.8.4/Eku.1/04/2
dilindungi berupa 021 tanggal 16 April
938 ekor burung 2021 a.n. Yoppy
liar asal Febriansyah Bin Cepi
Pringsewu-
Lampung yang
akan
dilalulintaskan ke
Jakarta melalui
Pelabuhan
Bakauheni

2. 23 March 28 May 2021 BKP Bandar Antar Area Penyelundupan P21 Nomor:
2021 Lampung satwa liar tidak 1249/L.8.4/Eku.1/05/
dilindungi berupa 2021 tanggal 28 Mei
262 ekor burung 2021 a.n. Wildan
asal Indralaya- Muhammad Faisal Bin
Sumatera Selatan Zefrizal Nantawa
yang akan
dilalulintaskan ke
Bandung melalui
Pelabuhan
Bakauheni

3. 24 19 May 2021 BKP Bandar Antar Area Penyelundupan P21 Nomor: B-


January Lampung satwa liar tidak 1162/L.8.4/Eku.1/05/
2021 dilindungi berupa 2021 Tanggal 19 Mei
2.023 ekor burung 2021 A.n Darmanto
asal Bandar Jaya- Bin Karyo Senin
Lampung yang
akan
dilalulintaskan ke
Jakarta melalui
Pelabuhan
Bakauheni

4. 28 13 July 2021 BKP Padang Antar Area Pengeluaran 3 ekor P-20 Nomor: B-
Septembe ular (T wagleri) 2315/L.3.4/Eku.1/07/
r 2020 dari Bandara 2021 tanggal 13 Juli
Minagkabau ke 2021 a.n Robby Arif
Depok tanpa Alias Farhan Pgl Robi
sertifikat
kesehatan dan
tidak dilaporkan.

236 Kementerian Pertanian 2022


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

No Tgl. LK P21 UPT Lalulintas Kasus Pelanggaran Keterangan

5. 06 April 25 May 2021 BBKP Soekarno Ekspor Pengeluaran P21 Nomor: B-


2021 Hatta Sayuran disertai 2716/M.6.11/Eku.1/0
dengan Baby 5/2021 tanggal 25
Lobster ke Mei a.n Auliana
Singapura tanpa Fadhilah Akbar Als
dilengkapi dengan Aul Binti Deni Hendrik
sertifikat Akbar
Kesehatan.

6. 06 April 25 May 2021 BBKP Soekarno Ekspor Pengeluaran P21 Nomor: B:


2021 Hatta Sayuran disertai 2717/M.6..[Link].1/0
dengan Baby 5/2021 tanggal 25
Lobster ke Mei 2021 a.n Devian
Singapura tanpa STefanus Als Devian
dilengkapi dengan Dede Usman
sertifikat
Kesehatan.

7. 06 April 19 May 2021 BBKP Soekarno Ekspor Pengeluaran P21 Nomor: B-


2021 Hatta Sayuran disertai 2586/M.6.11/Eku.1/0
dengan Baby 5/2021 Tanggal 19
Lobster ke Mei 2021 a.n Gou
Singapura tanpa Antonius Benny Ad.
dilengkapi dengan Gou Jhonny Winarto
sertifikat
Kesehatan.

8. 06 April 25 May 2021 BBKP Soekarno Ekspor Pengeluaran P21 Nomor: B-


2021 Hatta Sayuran disertai 2715/M/6.11/Enz.1/0
dengan Baby 5/2021 tanggal 25
Lobster ke Mei 2021 a.n Drs.
Singapura tanpa Hamzah Zahrie Alias
dilengkapi dengan Hamza Bin (Alm) M.
sertifikat Zahrie Karim
Kesehatan.

9. 06 April 19 December BBKP Soekarno Ekspor Pengeluaran P21 Noor: B-


2021 2021 Hatta Sayuran disertai 5750/M.6.11/Eu.1/12
dengan Baby /2021 tanggal 19
Lobster ke Desember 2021 a.n
Singapura tanpa Komar Muljawibawa
dilengkapi dengan Ad Gunawan (Alm)
sertifikat
Kesehatan.

10. 24 proses BKP Kelas II Domestik Pemasukan SPDP


Decembe penyidikan Tarakan Masuk (Domestik Masuk)
r 2017 41 ekor sapi dari
Kab. Donggala

Kementerian Pertanian 2022 237


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

No Tgl. LK P21 UPT Lalulintas Kasus Pelanggaran Keterangan

11. 01 proses BKP Kelas II Domestik Pemasukan SPDP


January penyidikan Tarakan Masuk (Domestik Masuk)
2018 78 ekor sapi dari
Kab. Donggala

12. 07 March proses BKP Kelas II Impor Pemasukan SP3


2018 penyidikan Tarakan (Impor) Sosis 62
karung/2976 kg,
nugget 108 kg,
bakso 120 kg,
kentang beku 80
kg, bawang
Bombay 12
karung/120 kg,
beras ketan 52
karung/2,600 kg,
daging iris
(hamburger) 51,6
kg dari tawau-
Malaysia

13. 28 August proses BKP Kelas II Impor Pemasukan SPDP


2019 penyidikan Tarakan (Impor) 1,960 ton
daging kerbau dari
Malaysia

14. 20 proses BBKP Soekarno Impor Pemasukan P20


January penyidikan Hatta (Impor) 561
2019 batang bibit lada
dan 1 kg umbi jahe
dari luar negeri

15. 29 proses BKP Kelas II Antar Area Pemasukan SPDP


October penyidikan Cilegon (Domestik Masuk)
2019 228 ekor burung
dari Pulau
Sumatera

16. 29 July proses BKP Bandar Antar Area Penyelundupan SPDP


2021 penyidikan Lampung (Domestik Keluar)
18 karung atau
1,260 kg daging
babi di pelabuhan
Bakauheni

238 Kementerian Pertanian 2022


Lampiran 8.
DATA JUMLAH PETANI YANG MENERAPKAN TEKNOLOGI PERTANIAN DARI KEGIATAN FASILITASI BOP TAHUN 2021

JUMLAH PENYULUH JUMLAH


TOTAL JUMLAH
NO PROVINSI BPP PETANI PER KOMODITAS PENERAPAN TEKNOLOGI
PNS PPPK THL PENYULUH POKTAN
POKTAN
1. Benih unggul dan bermutu,

Kementerian Pertanian 2022


2. penggunaan pupuk organik,
3. pemupukan berimbang,
4. pengaturan populasi (jarwo/hazton/tegel),
5. pengelolaan tanah sempurna,
6. pengelolaan OPT terpadu,
1 ACEH 274 1.603 849 118 2.570 41.120 1.110.240 Padi Sawah
Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

7. penggunaan bibit muda,


8. tanamn padi bibit 2-3 batang per rumpun,
9. pengairan secara efektif dan efisien,
10. panen tepat waktu,
11. penggunaan mesin panen/mekanisasi dan teknologi
lain
1. Benih unggul dan bermutu,
2. penggunaan pupuk organik,
3. pemupukan berimbang,
4. pengaturan populasi (jarwo/hazton/tegel),
5. pengelolaan tanah sempurna,
2 BALI 57 360 148 16 524 8.384 226.368 Padi
6. pengelolaan OPT terpadu,
7. penggunaan bibit muda,
8. tanamn padi bibit 2-3 batang per rumpun,
9. pengairan secara efektif dan efisien,
10. panen tepat waktu,
3 BANTEN 107 300 172 61 533 8.528 230.256 Padi 1. Penggunaan Agensia Hayati
1. Benih unggul dan bermutu,
2. penggunaan pupuk organik,
3. pemupukan berimbang,
4. pengaturan populasi (jarwo/hazton/tegel),
5. pengelolaan tanah sempurna,
6. pengelolaan OPT terpadu,
4 BENGKULU 107 581 103 150 834 13.344 360.288 Padi
7. penggunaan bibit muda,
8. tanamn padi bibit 2-3 batang per rumpun,
9. pengairan secara efektif dan efisien,
10. panen tepat waktu,
11. penggunaan mesin panen/mekanisasi dan teknologi
lain

239
240
JUMLAH PENYULUH JUMLAH
TOTAL JUMLAH
NO PROVINSI BPP PETANI PER KOMODITAS PENERAPAN TEKNOLOGI
PNS PPPK THL PENYULUH POKTAN
POKTAN
1. Penerapan Jarak Tanam Metode Caplak pada Padi
2. Metode Pemupukan dan Pasca Panen Jagung
3. Budidaya Cabai Tumpangsari Tomat
4. Optimalisasi Pupuk Organik dan Sistem Tajarwo 2:1
pada PadI
5. Subtitusi Pupuk Bio Slurry pada Tanaman Padi Merah
Wangi dengan Sistem Tajarwo 2:1
6. Pengemasan untuk Meningkatkan Nilai Tambah pada
Produk Abon Ayam
7. Budidaya Ayam Kampung dengan Magot Sebagai
Padi, jagung, Upaya Efisiensi Biaya Pakan
tomat, padi 8. Penggunaan Pupuk Cair pada Padi dengan Tajarwo
merah, ayam, 2:1
magot, cabai 9. Peningkatan Hasil Tanpa Wiwil pada Tanaman Cabai
5 DI YOGYAKARTA 56 177 228 1 406 6.496 175.392 merah, bawang 10. Pengaruh Pemupukan Makro dan Mikro Melalui Daun
merah, cabai Terhadap Peningkatan Produksi Padi
keriting, cabai 11. Pengenalan Varietas Padi dengan Tajarwo 2:1
burga, cabai 12. Pengaruh Jarak Tanam Penanaman Bawang Merah
rawit, dengan Biji Terhadap Produksi
13. Pupuk Organik Tajarwo 2:1 pada Padi
14. Pupuk Berimbang Tajarwo 2:1 pada Padi
15. Pupuk Berimbang Tajarwo 4:1 pada padi
16. Budidaya Cabai Keriting di Sawah dengan Sistem
Mulsa Bedengan
17. Budidaya Cabai Burga di Pekarangan dengan
Polibag
18. Pengendalian OPT dengan Light Trap pada bawang
merah
19 Pengendalian OPT dengan Light Trap pada cabai
1. Varietas unggul baru
6 DKI JAKARTA 6 46 - 12 58 928 25.056 Florikultura 2. Inovasi florikultura
3. Urban farming
1. Pemupukan berimbang dan pengaturan populasi
7 GORONTALO 76 411 65 12 488 7.808 210.816 Padi
(jarwo/hazton/tegel)
1. Pengendalian penyakit Blas
2. Translokasi melalui daun (2,4D, MCPA dll)
8 JAMBI 131 685 9 166 860 13.760 371.520 Padi
3. Pegendalian Walang sangit
4. Penggunaan small mesin untuk penyiangan

Kementerian Pertanian 2022


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021
JUMLAH PENYULUH JUMLAH
TOTAL JUMLAH
NO PROVINSI BPP PETANI PER KOMODITAS PENERAPAN TEKNOLOGI
PNS PPPK THL PENYULUH POKTAN
POKTAN
1. legowo 2:1; 40 cm x (20 cm x 10 cm) = 33 rumpun
2. Pengendalian penyakit Blas
3. Penggunaan Agensia Hayati
4. Penggunaan power transplanting

Kementerian Pertanian 2022


5. Pengendalian Hama wereng coklat
9 JAWA BARAT 491 1.278 1.046 142 2.466 39.456 1.065.312 Padi 6. Pada daerah yang endemik hama atau penyakit
disarankan melaksanakan perlakuan benih dengan
pestisida berbahan aktif fipronil atau fungisida. Setelah
direndam 24 jam benih ditiriskan dan dicampur regent
50 sc dengan dosis 12,5 cc/kg benih sebelum diperam.
Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

7. legowo 2:1; 50 cm x (25 cm x 12,5 cm) = 21 rumpun


1. Pengendalian penyakit Blas
2. Penggunaan power transplanting
3. Penggunaan small mesin untuk penyiangan
10 JAWA TENGAH 553 1.727 1.866 88 3.681 58.896 1.590.192 Padi
4. Penggunaan Agensia Hayati
5. Penggunaan small mesin untuk penyiangan
6. Pengendalian Hama wereng coklat
1. Penggunaan small mesin untuk penyiangan
2. Translokasi melalui daun (glifosat)
3. Pemilahan benih menggunakan larutan ZA dengan
konsentrasi 225 g/liter air atau larutan garam dengan
konsentrasi 30 g/liter air. Benih yang terapung dibuang,
sedangkan benih yang digunakan hanya yang
[Link] benih dibilas dengan air,
11 JAWA TIMUR 589 1.861 1.886 31 3.778 60.448 1.632.096 Padi
kemudian direndam selama 24 jam, dan setelah itu
ditiriskan/diperam sampai ada tanda putih pada pangkal
benih (24-48 jam) lalu disebar di persemaian.
4. legowo 2:1; 50 cm x (25 cm x 12,5 cm) = 21 rumpun
5. legowo 4:1; 40 cm x (20 cm x 10 cm) = 40 rumpun
6. Pengendalian Hayati
7. Penggunaan power transplanting
KALIMANTAN
12 154 772 265 8 1.045 16.720 451.440 PADI 1. Pengaturan populasi (jarwo/hazton/tegel)
BARAT

241
242
JUMLAH PENYULUH JUMLAH
TOTAL JUMLAH
NO PROVINSI BPP PETANI PER KOMODITAS PENERAPAN TEKNOLOGI
PNS PPPK THL PENYULUH POKTAN
POKTAN
1. Benih unggul dan bermutu,
2. penggunaan pupuk organik,
3. pemupukan berimbang,
4. pengaturan populasi (jarwo/hazton/tegel),
5. pengelolaan tanah sempurna,
KALIMANTAN 6. pengelolaan OPT terpadu,
13 131 777 293 16 1.086 17.376 469.152 Cabai
SELATAN 7. penggunaan bibit muda,
8. tanamn padi bibit 2-3 batang per rumpun,
9. pengairan secara efektif dan efisien,
10. panen tepat waktu,
11. penggunaan mesin panen/mekanisasi dan teknologi
lain
1. Benih unggul dan bermutu,
KALIMANTAN
14 114 605 152 17 774 12.384 334.368 Cabai 2. penggunaan pupuk organik,
TENGAH
3. pemupukan berimbang dan teknologi lain
KALIMANTAN
15 85 534 78 18 630 10.080 272.160 Padi Sawah 1. Pengaturan populasi (jarwo/hazton/tegel)
TIMUR
1. Benih unggul dan bermutu,
KALIMANTAN 2. pengaturan populasi (jarwo/hazton/tegel),
16 24 187 4 12 203 3.248 87.696 Padi Sawah
UTARA 3. pengelolaan tanah sempurna, pengelolaan OPT
terpadu
1. Penggunaan pupuk organik,
2. Penggunaan bibit muda,
KEPULAUAN
3. tanam padi bibit 2-3 batang per rumpun,
17 BANGKA 32 190 71 - 261 4.176 112.752 Padi
4. pengairan secara efektif dan efisien,
BELITUNG
5. panen tepat waktu,
6. penggunaan mesin panen/mekanisasi
1. Benih unggul,
2. pemupukan berimbang,
18 KEPULAUAN RIAU 21 35 10 2 47 752 20.304 Cabai Merah
3. pengelolaan tanah sempurna,
4. pengelolaan OPT Terpadu
1. Penggunaan power tracer untuk panen
2. legowo 4:1; 40 cm x (20 cm x 10 cm) = 40 rumpun
19 LAMPUNG 211 594 526 84 1.204 19.264 520.128 Padi 3. Pengendalian penyakit Blas
4. legowo 2:1; 40 cm x (20 cm x 10 cm) = 33 rumpun
5. Translokasi melalui daun (glifosat)
CABAI
20 MALUKU 105 427 73 52 552 8.832 238.464 1. Penggunaan bibit muda
KERITING
1. Benih unggul dan bermutu
21 MALUKU UTARA 92 390 88 20 498 7.968 215.136 Padi Sawah
2. pengaturan populasi (jarwo/hazton/tegel)

Kementerian Pertanian 2022


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021
JUMLAH PENYULUH JUMLAH
TOTAL JUMLAH
NO PROVINSI BPP PETANI PER KOMODITAS PENERAPAN TEKNOLOGI
PNS PPPK THL PENYULUH POKTAN
POKTAN
[Link] penyakit Blas
NUSA TENGGARA 2. Pemilahan benih menggunakan larutan ZA
22 116 770 422 6 1.198 19.168 517.536 Padi
BARAT 3. legowo 4:1; 40 cm x (20 cm x 10 cm) = 40 rumpun
4. Penggunaan PUTS mengukur kebutuhan pupuk

Kementerian Pertanian 2022


NUSA TENGGARA 1. legowo 2:1; 50 cm x (25 cm x 12,5 cm) = 21 rumpun
23 312 1.307 546 120 1.973 31.568 852.336 Padi
TIMUR 2. Penggunaan PUTS mengukur kebutuhan pupuk
1. Benih unggul dan bermutu,
24 PAPUA 150 777 - 85 862 13.792 372.384 Padi Sawah
2. penggunaan pupuk organik, dan teknologi lain
25 PAPUA BARAT 55 368 17 36 421 6.736 181.872 Padi 1. Penggunaan pupuk organik
1. Benih unggul dan bermutu,
Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

2. penggunaan pupuk organik,


3. pemupukan berimbang,
4. pengaturan populasi (jarwo/hazton/tegel),
5. pengelolaan tanah sempurna,
26 RIAU 129 506 208 17 731 11.696 315.792 Padi
6. pengelolaan OPT terpadu,
7. penggunaan bibit muda,
8. tanamn padi bibit 2-3 batang per rumpun,
9. pengairan secara efektif dan efisien,
10. panen tepat waktu,
1. Pemupukan berimbang
27 SULAWESI BARAT 61 479 48 21 548 8.768 236.736 Padi
2. pengaturan populasi (jarwo/hazton/tegel)
1. Pemberian melalui akar (fenuron, TEA)
2. Kontak melalui daun (paraquat)
SULAWESI
28 292 1.688 323 251 2.262 36.192 977.184 Padi 3. legowo 4:1; 40 cm x (20 cm x 10 cm) = 40 rumpun
SELATAN
4. Penggunaan Agensia Hayati
5. Pengendalian Hama wereng coklat
SULAWESI 1. Penggunaan Agensia Hayati
29 169 1.106 26 63 1.195 19.120 516.240 Padi
TENGAH 2. Pemberian melalui akar (fenuron, TEA)
1. Benih unggul dan bermutu,
2. penggunaan pupuk organik,
SULAWESI
30 206 788 77 171 1.036 16.576 447.552 Padi 3. pemupukan berimbang,
TENGGARA
4. pengaturan populasi (jarwo/hazton/tegel),
5. pengelolaan OPT Terpadu
1. Sesuai petunjuk teknis pengolahan tanah
2. Persemaian/penanaman, pemupukan
31 SULAWESI UTARA 169 654 87 16 757 12.112 327.024 Padi 3. Penanggulangan hama penyakit
4. Media tanam menggunakan polybag atau tanam
langsung dengan membuat bedengan

243
244
JUMLAH PENYULUH JUMLAH
TOTAL JUMLAH
NO PROVINSI BPP PETANI PER KOMODITAS PENERAPAN TEKNOLOGI
PNS PPPK THL PENYULUH POKTAN
POKTAN
1. Benih unggul dan bermutu,
32 SUMATERA BARAT 165 642 450 5 1.097 17.552 473.904 Padi 2. pemupukan berimbang,
3. pengaturan populasi (jarwo/hazton/tegel)
1. Benih unggul dan bermutu,
2. penggunaan pupuk organik,
3. pemupukan berimbang,
4. pengaturan populasi (jarwo/hazton/tegel),
5. pengelolaan tanah sempurna,
SUMATERA 6. pengelolaan OPT terpadu,
33 196 1.031 355 88 1.474 23.584 636.768 Padi
SELATAN 7. penggunaan bibit muda,
8. tanamn padi bibit 2-3 batang per rumpun,
9. pengairan secara efektif dan efisien,
10. panen tepat waktu,
11. penggunaan mesin panen/mekanisasi dan teknologi
lain
1. Benih unggul dan bermutu,
2. penggunaan pupuk organik,
3. pemupukan berimbang,
4. pengaturan populasi (jarwo/hazton/tegel),
SUMATERA 5. pengelolaan tanah sempurna,
34 356 1.086 913 170 2.169 34.704 937.008 Padi
UTARA 6. pengelolaan OPT terpadu,
7. penggunaan bibit muda,
8. tanamn padi bibit 2-3 batang per rumpun,
9. pengairan secara efektif dan efisien,
10. panen tepat waktu,
JUMLAH 5.792 24.742 #### 2.075 38.221 611.536 16.511.472

Kementerian Pertanian 2022


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021
Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

LAMPIRAN 9. REALISASI ANGGARAN KEMENTERIAN PERTANIAN TAHUN


2021

PAGU REALISASI
NO UNIT ESELON-1
(Rp) (Rp) %
SEKRETARIAT [Link].000 [Link].089 99,08
1 JENDERAL

INSPEKTORAT [Link] [Link] 95,92


2 JENDERAL

DITJEN TANAMAN [Link].000 [Link].835 96,33


3 PANGAN

DITJEN [Link] [Link] 97,68


4 HORTIKULTURA

DITJEN PERKEBUNAN [Link].000 [Link] 94,25


5
DITJEN PETERNAKAN [Link].000 [Link].135 95,62
6 DAN KESEHATAN
HEWAN

DITJEN PRASARANA [Link].000 [Link].053 98


7 DAN SARANA
PERTANIAN

BADAN PENELITIAN [Link].000 [Link].016 97,16


8 DAN PENGEMBANGAN
PERTANIAN

BADAN PENYULUHAN [Link].000 [Link].973 98,34


DAN PENGEMBANGAN
9 SUMBER DAYA
MANUSIA PERTANIAN

BADAN KETAHANAN [Link] [Link] 97,75


10 PANGAN

BADAN KARANTINA [Link].000 [Link].964 99,46


11 PERTANIAN

TOTAL KEMENTAN 97,28


[Link].000 [Link].255
Sumber: OM SPAN Kemenkeu, 2022

Kementerian Pertanian 2022 245


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

LAMPIRAN 10. RENCANA AKSI PERBAIKAN KINERJA TAHUN 2022

No Akar Permasalahan Rekomendasi Perbaikan Penanggung Jawab

I. Peningkatan ketersediaan pangan strategis dalam negeri

Produksi Bawang Putih


Pengembangan Kampung Hortikultura dalam upaya
mengonsolidasikan lahan-lahan dalam satu kawasan
kesatuan administratif yaitu kampung atau desa dengan
- Penurunan luas tanam bawang putih luasan minimal 10 ha untuk komoditas strategis dengan Ditjen Hortikultura
fasilitasi sarana produksi, seperti: benih bermutu, pupuk,
mulsa, likat kuning dan lain – lain , dalam jumlah yang
memadai.
Bersinergi dengan direktorat terkait agar kegiatan
1 pengembangan kawasan mendapat dukungan
- Harga bawang putih yang jatuh dan tidak terserap
pengembangan pada lokasi tersebut terkait bantuan dan Ditjen Hortikultura
pasar
pendamingan pascapanen, pengolahan, dan pemasaran
hasil pertanian.

Mendorong perubahan Permentan 46 Tahun 2019 dengan


mengembalikan kembali ketentuan pertanaman awal
-Program wajib tanam yang terkendala kepatuhan
bawang putih sebagai syarat penerbitan RIPH, diharapkan Ditjen Hortikultura
pelaku usaha dalam hal realisasi tanam.
benih yg dihasilkan dapat diserap oleh importir yang akan
mengajukan RIPH bawang putih;

Produksi daging sapi

Berkolaborasi dengan pelaku usaha untuk melakukan


2 penurunan jumlah pemotongan akibat penurunan promosi peningkatan konsumsi daging kambing/domba
Ditjen Peternakan dan
konsumsi masyarakat sebagai dampak terjadinya sebagai alternatif sumber protein hewani dengan harga
Keswan
pandemi Covid-19 selama dua tahun terakhir yang lebih terjangkau dibandingkan dengan daging
sapi/kerbau.

II. Peningkatan akses pangan

Produksi aneka kacang dan umbi

-Situasi iklim dengan curah hujan yang tinggi


sepanjang tahun 2021 yang tidak mendukung
Penambahan alokasi anggaran untuk kegiatan
pertumbuhan tanaman aneka kacang, Ditjen Tanaman pangan
pengembangan aneka kacang dan umbi.
1 mengakibatkan hasil tidak maksimal baik kualitas
maupun kuantitas.

-Kurangnya petani yang menjadikan komoditas Meningkatkan dukungan sarana pengolahan hasil dan
Ditjen Tanaman pangan
kacang-kacangan sebagai komoditas utama. pemasaran produk olahan aneka umbi dan kacang.

III. Pertumbuhan Nilai Ekspor Untuk Produk Pertanian Nasional


Koordinasi/Pembinaan/Pendampingan Pengolahan Hasil
pertanian
Kondisi permintaan produk turun akibat
Ditjen TP, Horti,
pemberlakuan PSBB/ lockdown di sejumlah negara
1 Perkebunan, dan Ditjen
dan penutupan sejumlah pelabuhan ekspor shg tdk
PKH
bisa melakukan shipping

Melakukan koordinasi dengan Kedutaan Besar dan


Adanya hambatan tarif dan non tarif di negara Ditjen TP, Horti,
Kementerian Perdagangan, dan Kementerian Keuangan
2 tujuan ekspor untuk melindungi pasar dalam negeri Perkebunan, dan Ditjen
dalam rangka mempercepat penyelesaian hambatan tarif
masing-masing negara PKH
dan non tarif antar negara
Ditjen TP, Horti,
Penerapan labelisasi maupun standardisasi yang Pembinaan/Pendampingan Investasi dan Pengembangan
3 Perkebunan, dan Ditjen
masih kurang Usaha
PKH

Mendorong petani dan peternak membentuk korporasi,


Terbatasnya informasi akses pasar para sehingga akan lebih mudah membuka peluang pasar
4 Biro Perencanaan
petani/peternak pelaku ekspor global. Disamping itu juga mendorong eksportir untuk
terus memperkuat kemitraan

IV. Tingkat Pemenuhan Prasarana Pertanian

246 Kementerian Pertanian 2022


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

No Akar Permasalahan Rekomendasi Perbaikan Penanggung Jawab

Pelaksanaan SID Ekstensifikasi Lahan yang Aspek perencanaan (SID) sangat menentukan Ditjen Prasarana dan
merupakan dokumen dasar dalam pelaksanaan keberhasilan kegiatan ekstensifikasi lahan sawah. Untuk Sarana Pertanian
konstruksi ekstensifikasi lahan dilakukan pada tahun itu penyiapan dan penyediaan desain untuk konstruksi
yang sama (tahun berjalan) yaitu tahun 2021. Hasil ekstensifikasi lahan harus dilakukan 1 tahun sebelumnya
SID berjalan secara simultan/bersamaan dengan (T-1) sehingga hasil SID yang akan dimanfaatkan oleh
pelaksanaan konstruksi. Kondisi di atas ternyata pelaksana kegiatan dapat diterima secara utuh (tidak
secara langsung atau tidak langsung berdampak bertahap)
1
pada terjadinya keterlambatan konstruksi di
lapangan. Pada dasarnya, pelaksanaan SID harus
dilakukan pada tahun sebelumnya (T-1) sehingga
konstruksi fisik dapat dimulai sejak awal tahun dan
tidak tergantung/menunggu hasil SID di tahun yang
sama

Perlu dipetakan potensi wilayah yang dapat pemetaan potensi pengambangan lahan pada skala Ditjen Prasarana dan
dikembangkan untuk penambahan luas baku lahan operasional Sarana Pertanian
pertanian dengan memperhatikan aspek komoditas
2
unggulan yang akan dikembangkan, sumberdaya
manusia, budaya serta infrastruktur penunjang

Upaya pemerintah daerah dalam penetapan LP2B Perlunya dilakukan koordinasi dengan instansi terkait Ditjen Prasarana dan
patut kita apresiasi. Namun dalam pelaksanaannya, untuk mengevaluasi Perda RTRW Kabupaten/Kota Sarana Pertanian
belum semua daerah menyelesaikan Perda RTRW, terutama yang tidak menetapkan LP2B serta berperan aktif
dan bahkan bagi yang sudah menetapkan RTRW dalam peninjauan kembali Perda RTRW Kabupaten/Kota
3
ada yang belum menetapkan LP2B serta belum
didukung data spasial yang menunjukan zonasi
penetapan LP2B tersebut

Belum tersedianya dukungan data spasial yang kuat Dukungan anggaran dan sumber daya manusia untuk Ditjen Prasarana dan
untuk mendukung setiap kebijakan Kementerian penyiapan data spasial Lahan Pertanian Pangan Sarana Pertanian
4 Pertanian Berkelanjutan yang bisa digunakan untuk ditetapkan di
dalam peraturan daerah

Kementerian Pertanian 2022 247


Laporan Kinerja Kementerian Pertanian 2021

248 Kementerian Pertanian 2022

Anda mungkin juga menyukai