ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGUE HAEMORAGIC
FEVER (DHF) DENGAN MASALAH KEPERAWATAN
PENINGKATAN SUHU TUBUH (HIPERTERMI)
DI RSU. [Link] GARUT
KARYA TULIS ILMIAH
Diajukan sebagai salah satu syarat mendapatkan gelar Ahli Madya Keperawatan
Prodi DIII Keperawatan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan
Bhakti Kencana Bandung
Oleh:
TEGARA RACHMAT NOER RANTAUFANI
AKX.15.092
PROGRAM STUDI DIPLOMA KEPERAWATAN
STIKES BHAKTI KENCANA BANDUNG
2018
ii
iii
iv
KATA PENGANTAR
Puji syujur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat
rahmat dan karunia-Nya penulis masih diberi kekuatan dan pikiran sehingga dapat
menyelesaikan karya tulis ini yang berjudul “ASUHAN KEPERAWATAN
PADA KLIEN DENGUE HAEMORAGIC FEVER DENGAN MASALAH
KEPERAWATAN PENINGKATAN SUHU TUBUH (HIPERTERMI) DI RSU
[Link] GARUT” dengan sebaik-baiknya.
Maksud dan tujuan penyusunan karya tulis ini adalah untuk memenuhi salah satu
tugas akhir dalam menyelesaikan Program Studi Diploma III Keperawatan di
STIKes Bhakti Kencana Bandung.
Penulis mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu
dalam penyusunan karya tulis ini, terutama kepada:
1. H. Mulyana, SH, MPd, [Link], selaku Ketua Yayasan Adhi Guna Kencana
Bandung
2. Rd. Siti Jundiah, S,Kp., MKep, selaku Ketua STIKes Bhakti Kencana
Bandung
3. Tuti Suprapti,S,Kp., [Link] selaku ketua Program Studi Diploma III
Keperawatan STIKes Bhakti Kencana Bandung
4. Anggi Jamiyanti [Link], Ners selaku Pembimbing Utama yang telah
membimbing dan memotivasi selama penulis menyelesaikan karya tulis
ilmiah ini.
v
5. Disanti Amd. selaku Pembimbing Pendamping yang telah membimbing dan
memotivasi selama penulis menyelesaikan karya tulis ilmiah ini.
6. Dr. H. Maskut Farid MM. Selaku Direktur Utama Rumah Sakit Umum
[Link] Garut yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk
menjalankan tugas akhir perkuliahan ini.
7. Hj. Iin farlina [Link] selaku CI Ruangan Agate bawah yang telah memberikan
bimbingan dan motivasi dalam melakukan kegiatan selama praktek
keperawatan di RSU [Link] Garut.
8. Staf dosen pengajar yang membekali ilmu kepada penulis selama mengikuti
pendidikan di Program Studi D-III Keperawatan Konsentrasi Anestesi dan
Gawat Darurat Medik STIKes Bhakti Kencana Bandung.
9. Ayahanda tercinta Sertu Emid dan ibunda tersayang Cucu Cahyati [Link] serta,
kakak Charisma Median Rantaufani [Link] dan Irmawati [Link] yang telah
memberikan dukungan moril, materil, doa, air mata dan keringat dengan
penuh cinta kasih sayang, kesabaran dan keikhlasan sehingga penulis dapat
menyelesaikan karya tulis ilmiah ini. Terimakasih yang sebesar-besarnya
penulis sampaikan
10. Seluruh teman Anestesi angkatan XI, senior dan adik tingkat yang telah
memberikan motivasi dan dukungan dalam penyelesaian penyusunan karya
tulis ini.
11. Novia Herlina Bahri yang telah memberikan dukungan moril, motivasi, dan
doa selama penulisan ini.
12. Semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan karya tulis ilmiah ini
yang tidak dapat penulis sampaikan satu persatu.
vi
Penulis menyadari dan meyakini sepenuhnya bahwa karya tulis ini masih
banyak kekurangan sehingga penulis sangat mengharapkan segala masukan
dan saran yang sifatnya membangun guna penulisan karya tulis yang lebih
baik.
Bandung, 26 Maret 2018
PENULIS
vii
Abstrak
Dengue Haemoragic Fever (DHF) adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus dengue
dengan manifestasi klinis dermam, nyeri otot dan atau nyeri sendi yang disertai leukopenia, ruam,
limpadenopati, trombositopenia dan ditesis haemoragik, terjadi perembesan plasma yang ditandai
dengan hemokonsentrasi (peningkatan hematokrit) atau penumpukan cairan dirongga tubuh.
Sindrom renjatan dengue (dengue shock syndrome) adalah demam berdarah dengue yang ditandai
oleh renjatan/syok. Hal ini menyebabkan terjadi peningkatan suhu tubuh (hipertermi) berhubungan
dengan proses penyakit (viremia). Metode : studi kasus yaitu untuk mengekplorasi suatu masalah
dengan batasan terperinci, memiliki pengambilan data yang mendalam dan menyertakan berbagai
sumber informasi. Studi kasus ini dilakukan pada dua orang pasien DHF dengan masalah
keperawatan. Hasil : peningkatan suhu tubuh (hipertermi) berhubungan dengan proses penyakit
(viremia). Setelah dilakukan asuhan keperawatan dengan memberikan intervensi keperawatan,
masalah keperawatan peningkatan suhu tubuh (hipertermi) berhubungan dengan proses penyakit
(viremia) pada kedua klien teratasi pada hari ketiga. Diskusi : klien dengan masalah keperawatan
peningkatan suhu tubuh (hipertermi) berhubungan dengan proses penyakit (viremia) memiliki
berbagai cara untuk menurunkan suhu tubuh klien salah satunya dengan kompres hangat. Hal ini
sesuai dengan penelitian [Link]., (2015) tentang kompres hangat pada daerah axila efektif untuk
menurunkan peningkatan suhu tubuh.
Kata Kunci : Dengue Haemoragic Fever (DHF), kompres hangat, Asuhan Keperawatan.
Terdiri dari : 11 buku (2008-2012), 2 jurnal (2013-2015), 1 website
Abstract
Dengue Haemorrhagic Fever (DHF) is an infectious disease caused by dengue virus with clinical
manifestations of dermal, muscle pain and or joint pain accompanied by leukopenia, rash,
lymphadenopathy, thrombocytopenia, and hemorrhagic hemolysis, plasma infiltration
characterized by hemoconcentration (increased hematocrit) or fluid accumulation in the body.
Dengue shock syndrome is dengue hemorrhagic fever characterized by shock. This causes an
increase in body temperature (hyperthermia) associated with the disease process (viremia).
Methods: case studies are to explore a problem with detailed constraints, have deep data retrieval
and include various sources of information. This case of study was conducted on two DHF patients
with nursing problems. Result: increased body temperature (hyperthermic) associated with disease
process (viremia). After nursing care by providing nursing intervention, nursing problems increase
body temperature (Hypertherm) associated with disease process (viremia) on both clients resolved
on the third day. Discussion: clients with nursing problems increase body temperature
(Hypertherm) associated with the disease process (viremia) has various ways to lower the body
temperature of the client one of them with warm compresses. This is in accordance with [Link]'s
research. 2015 about warm compresses in the effective axial area to decrease the increase in body
temperature.
Keywords : Dengue Haemoragic Fever (DHF), Warm Compress, Nursing Care.
Consisting of : 11 books (2008-2012), 2 journals (2013-2015), 1 website
viii
DAFTAR ISI
Halaman
COVER ................................................................................................................
SURAT PERNYATAAN ..................................................................................... ii
LEMBAR PERSETUJUAN PEMBIMBING ...................................................... iii
LEMBAR PENGESAHAN ................................................................................. iv
KATA PENGANTAR .......................................................................................... v
ABSTRAK ......................................................................................................... viii
DAFTAR ISI ......................................................................................................... ix
DAFTAR TABEL ...............................................................................................xiii
DAFTAR BAGAN ............................................................................................. xv
DAFTAR SINGKATAN .................................................................................... xvi
BAB I PENDAHULUAN .............................................................................. 1
A. Latar Belakang ............................................................................. 1
B. Rumusan Masalah.......................................................................... 4
C. Tujuan Penelitian ........................................................................... 4
1. Tujuan umum ............................................................................ 4
2. tujuan khusus ............................................................................ 5
D. Manfaat ......................................................................................... 6
ix
1. teoritis ....................................................................................... 6
2. praktis ....................................................................................... 6
BAB II TINJAUAN TEORITIS ..................................................................... 7
A. Konsep Dasar................................................................................. 7
1. Pengertian ................................................................................. 7
2. Anatomi Fisiologi .................................................................... 8
3. Etiologi ..................................................................................... 11
4. Patofisiologi .............................................................................. 11
5. Klasifikasi ................................................................................. 14
6. Manifestasi Klinik .................................................................... 15
7. Pemeriksaan Penunjang ............................................................ 16
8. Dampak Terhadap Perubahan Struktur dan Fungsi Tubuh ....... 16
9. Diagnosa Banding ..................................................................... 17
10. Penatalaksanaan ....................................................................... 18
B. Konsep Asuhan Keperawatan........................................................ 19
1. Pengkajian ................................................................................. 19
2. Analisa Data ............................................................................. 27
3. Diagnosa Keperawatan ............................................................. 27
4. Perencanaan .............................................................................. 28
x
5. Implementasi ............................................................................ 41
6. Evaluasi .................................................................................... 42
C. Konsep Kompers Hangat ............................................................. 44
BAB III METODE PENELITIAN
[Link] Penelitian ........................................................................... 45
B. batasan Istilah ............................................................................... 46
C. Subjek Penelitian .......................................................................... 46
D. Lokasi dan Waktu penelitian ........................................................ 47
E. Pengumpulan Data ........................................................................ 47
F. Uji Keabsahan Data ....................................................................... 48
G. Analisa Data ................................................................................. 49
H. Etik penelitian ............................................................................... 51
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil ............................................................................................... 53
1. Gambaran Lokasi Pengambilan Data ....................................... 53
2. Pengkajian ................................................................................ 54
3. Analisa Data ............................................................................. 62
4. Diagnosa Keperawatan ............................................................. 64
5. Perencanaan Keperawatan ........................................................ 64
xi
6. Implementasi Keperawatan....................................................... 66
7. Evaluasi Keperawatan ............................................................. 67
B. Pembahasan ................................................................................... 68
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan .................................................................................... 75
B. Saran ............................................................................................. 78
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
xii
DAFTAR TABEL
TABEL Halaman
2.1 Rencana tindakan keperawatan pada peningkatan suhu tubuh (hipertermi)
berhubungan dengan proses penyakit (viremia) ....................................... 29
2.2 Rencana keperawatan gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan
berhubungan dengan intake makanan yang kurang.................................. 31
2.3 Rencana tindakan keperawatan pada Resiko tinggi defisit volume cairan
tubuh berhubungan dengan perpindahan cairan dari intravaskuler ke
ekstravaskuler........................................................................................... 32
2.4 Rencana keperawatan pada resiko terjadinya perdarahan lebih lanjut
berhubungan dengan trombositopenia...................................................... 34
2.5 Rencana keperawatan terjadinya syok hipovolemik berhubungan dengan
perdarahan hebat....................................................................................... 35
2.6 Rencana keperawatan gangguan pola aktivitas berhubungan dengan kondisi
tubuh yang lemah...................................................................................... 38
2.7 Rencana keperawatan gangguan rasa aman cemas berhubungan dengan
ketidaktahuan tentang penyakit dan tindakan perawatan yang dilakukan. 39
2.8 Rencana tindakan keperawatan defisit perawatan diri berhubungan
dengan kurangnya pengetahuan keluarga klien tentang perawatan personal
hygiene.................................................................................................... 40
4.2 Pengkajian .............................................................................................. 54
4.3 Pola Aktifitas Sehari-hari......................................................................... 55
4.4 Pemeriksaan Fisik ..................................................................................... 56
4.5 Pemeriksaan Psikologi ............................................................................. 59
4.6 Hasil Pemeriksaan Diagnostik ................................................................. 61
4.7 Program dan Rencana Pengobatan ......................................................... 61
xiii
4.8 Analisa Data ............................................................................................ 62
4.9 Diagnosa Keperawatan ............................................................................ 64
4.10 Perencanaan ........................................................................................... 64
4.11 Implementasi .......................................................................................... 66
4.12 Evaluasi .................................................................................................. 67
xiv
DAFTAR BAGAN
2.1 Patofisiologi ............................................................................................ 13
xv
DAFTAR SINGKATAN
BAB : Buang Air Besar
BAK : Buang Air Kecil
DBD : Demam Berdarah Dengue
DHF : Dengue Haemoragic Fever
IGD : Instalasi Gawat Darurat
RSU : Rumah Sakit Umum
WHO : World Health Organization
xvi
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Peningkatan derajat kesehatan adalah keinginan dari semua negara,
ditengah munculnya banyak penyakit baru yang belum jelas penyebabnya.
Sehat menurut World Health Organization (WHO) adalah suatu keadaan
sehat jasmani, rohani dan sosial yang merupakan aspek positif dan tidak
hanya bebas dari penyakit serta kecacatan yang merupakan aspek negatif.
(Depkes RI, 2009). Kesehatan dipengaruhi oleh berbagai aspek salah satunya
adalah lingkungan, lingkungan bisa mempengaruhi kesehatan, lingkungan
yang kotor dan tidak terawat akan menimbulkan berbagai penyakit, salah
satunya lingkungan yang yang kotor dan tidak terawat akan menjadi sarang
nyamuk Aedes Aegypti yang menyebabkan DHF. Dengue Haemoragic Fever
(DHF) adalah penyakit demam akut yang dapat menyebabkan kematian dan
disebabkan oleh empat serotipe virus dari Falvivirus, virus RNA dari
keluarga Falviviridae.(Soedarto 2012)
Menurut data World Health Organization (WHO) penyakit demam
berdarah dengue pertama kali dilaporkan di Asia Tenggara pada tahun 1954
yaitu di Filipina, selanjutnya menyebar keberbagai negara. Sebelum tahun
1970, hanya 9 negara yang mengalami wabah DHF, namun sekarang DHF
menjadi penyakit endemik pada lebih dari 100 negara, diantaranya adalah
Afrika, Amerika, Mediterania Timur, Asia Tenggara dan Pasifik Barat
1
2
memiliki angka tertinggi terjadinya kasus DHF. Jumlah kasus di Amerika, Asia
Tenggara dan Pasifik Barat telah melewati 1,2 juta kasus ditahun 2008 dan
lebih dari 2,3 juta kasus di 2010. Pada tahun 2013 dilaporkan terdapat
sebanyak 2,35 juta kasus diamerika, dimana 37.687 kasus merupakan DHF
berat. Perkembangan kasus DHF ditingkat global semakin meningkat, seperti
dilaporkan World Health Organization (WHO) yakni dari 980 kasus di hampir
100 negara tahun 1954-1959 menjadi 1.016.612 kasus di hampir 60 negara
tahun2000-2009 (KemenkesKes RI, 2016).
DHF mulai berjangkit di Indonesia sejak tahun 1968 di Jakarta dan di
Surabaya dengan 58 kasus kematian. Sejak itu penyakit ini merupakan
penyakit endemik di Indonesia sehingga sampai saat ini masih merupakan
masalah kesehatan yang serius di tanah air kita. ( Depkes RI, 2009 ).
Berdasarkan laporan Kementrian Kesehatan pada tahun 2016 di Indonesia
terdapat 201.885 jiwa penderita penyakit DHF anak-anak dan dewasa,
penyebaran penyakit Dengue Haemorhagis Fever (DHF) di Jawa Barat pada
tahun 2016 dengan jumlah kasus sebanyak 36.631 kasus. (KemenkesKes RI,
2016).
Berdasarkan data Rekam Medik [Link] Garut periode Januari
2017 sampai Desember 2017 jumlah klien yang dirawat diruang perawatan
penyakit dalam sebanyak (5.972), sedangkan klien yang mengalami DHF (315)
orang atau (5.3%). ( sumber Rekam Medik [Link] Garut)
3
Walaupun penyakit DHF ini tidak menepati urutan ke 10 diruang
penyakit dalam tetapi DHF dapat menggangu pemenuhan kebutuhan dasar
manusia seperti peningkatan suhu tubuh (hipertermi) karena peningkatan suhu
tubuh menimbulkan gangguan rasa aman nyaman, gangguan pemenuhan
nutrisi kurang dari kebutuhan, gangguan aktivitas sehari-hari, resiko terjadi
perdarahan lebih lanjut, resiko tinggi defisit volume cairan tubuh, gangguan
rasa aman cemas, defisit perawatan diri. Hipotermi atau peningkatan suhu
tubuh pada DHF apabila tidak ditangani secara cepat dan tepat dapat
menyebabkan komplikasi seperti perdarahan kemudian syok hivopolemik yang
berlangsung lama akan timbul anoksia jaringan, metabolik asidosis dan
kematian. Sehingga memerlukan asuhan keperawatan komprehensif meliputi
Bio-Psiko-Social-Spiritual-Kultural. Hal inilah yang melatarbelakangi penulis
mengambil kasus ini.
Melihat fenomena kasus diatas penulis tertarik untuk mendalami dan
melakukan asuhan keperawatan pada klien dengan Dengue Hemoragic Fever
melalui penyusunan karya tulis yang berjudul :
“ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGUE HAEMORAGIC
FEVER DENGAN MASALAH KEPERAWATAN PENINGKATAN SUHU
TUBUH (HIPERTERMI) DI RSU [Link] GARUT 2018”
4
B. Rumusan masalah
Bagaimanakah asuahan keperawatan pada klien yang mengalami Dengue
Haemoragic Fever (DHF) dengan masalah keperawatan peningkatan suhu
tubuh (hipertermi) di RSU [Link] garut
C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Melaksanakan asuahan keperawatan pada klien yang mengalami Dengue
Haemoragic Fever (DHF) dengan masalah keperawatan peningkatan
suhu tubuh (hipertermi) di RSU [Link] garut.
2. Tujuan Khusus
Penulis dapat melakukan asuhan keperawatan yang meliputi :
1) Melakukan pengkajian keperawatan pada klien yang mengalami
Dengue Haemoragic Fever (DHF) dengan masalah keperawatan
peningkatan suhu tubuh (hipertermi) di RSU [Link] garut.
2) Menetapkan diagnosis keperawatan pada klien yang mengalami
Dengue Haemoragic Fever (DHF) dengan masalah keperawatan
peningkatan suhu tubuh (hipertermi) di RSU [Link] garut.
3) Menyusun perencanaan keperawatan pada klien yang mengalami
Dengue Haemoragic Fever (DHF) dengan masalah keperawatan
peningkatan suhu tubuh (hipertermi) di RSU [Link] garut.
5
4) Melaksanakan tindakan keperawatan pada klien yang mengalami
Dengue Haemoragic Fever (DHF) dengan masalah keperawatan
peningkatan suhu tubuh (hipertermi) di RSU [Link] garut.
5) Melakukan evaluasi pada klien yang mengalami Dengue
Haemoragic Fever (DHF) dengan masalah keperawatan peningkatan
suhu tubuh (hipertermi) di RSU [Link] garut.
6) Melakukan dokumentasi pada klien yang mengalami Dengue
Haemoragic Fever (DHF) dengan masalah keperawatan peningkatan
suhu tubuh (hipertermi) di RSU [Link] garut.
D. Manfaat
1. Manfaat teoritis
Sebagai bahan masukan atau informasi serta memberikan referensi tambahan
dalam kegiatan untuk pembelajaran terutama mengenai cara mengatasi klien
dengan Dengue Haemoragic Fever (DHF).
2. Manfaat praktis
a) Bagi tenaga kesehatan
Sebagai masukan bagi perawat dan profesi kesehatan lainnya di dalam
tim kesehatan dalam upaya menurunkan suhu tubuh klien dengan
Dengue Haemoragic Fever (DHF).
6
b) Bagi institusi pelayanan kesehatan
Penelitian ini juga diharapkan dapat bermanfaat sebagai bahan SOP bagi
seluruh Rumah Sakit dan Institusi pelayanan rawat inaplainnya dalam
meningkatkan kualitas pelayanan
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Konsep Dasar Penyakit
1. Pengertian Dengue Haemorhagic Fever (DHF)
Ada beberapa pengertian mengenai Dengue Haemorhagic Fever (DHF)
diantaranya :
a. Dengue Haemoragic Fever (DHF) adalah penyakit yang disebabkan
virus dengue dan disebarkan oleh nyamuk Aedes Aegipty yang disertai
manifestasi perdarahan dan cendereung menimbulkan syok dan
kematian. (Misnadiarly 2009)
b. Demam berdarah dengue (DBD) adalah penyakit menular mendadak
yang disebabkan oleh virus dengue dan ditularkan oleh nyamuk Aedes
Aegipty dan Aedes Albopictus. (Kementrian Kesehatan RI 2010)
c. Dengue Haemoragic Fever (DHF) adalah penyakit demam akut yang
dapat menyebabkan kematian dan disebabkan oleh empat serotipe
virus dari Falvivirus, virus RNA dari keluarga Falviviridae.
(Soedarto 2012)
Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa Dengue
Haemorhagic Fever adalah penyakit demam akut yang disebabkan oleh
virus Dengue yang ditularkan oleh nyamuk Aedes Aegypti betina yang
sering muncul pada musim penghujan dan biasanya mengigit pada siang
hari, dengan tanda klinis berupa adanya demam, nyeri otot, nyeri sendi,
7
8
sakit kepala, trombositopenia dengan atau tanpa ruam yang dapat
menggangu sistem tubuh yang lain dan dapat menyebabkan kematian.
2. Anatomi Fisiologi Sistem Hematologi
Darah adalah organ khusus yang berbeda dengan organ lain karena
berbentuk cairan. Cairan darah tersusun atas komponen sel yang
tersuspensi dalam plasma darah. Cairan plasma sendiri merupakan cairan
intravaskuler yang merupakan fraksi dari cairan ekstraseluler, sedangkan
cairan yang terdapat unsur seluler darah merupakan bagian dari cairan
intraseluler. Komponen seluler merupakan komponen yang menentukan
jumlah Hematokrit atau disebut juga Packed Cell Volume (PCV ). Selain
itu terdapat fragmen-fragmen sel yang tidak berinti yang disebut trombosit.
a. Trombosit
Trombosit merupakan partikel kecil, berdiameter dua sampai empat
mikron, yang terdapat di dalam sirkulasi plasma darah. Karena dapat
mengalami disintegrasi cepat dan mudah, jumlahnya selalu berubah
berkisar antara 150.000 sampai dengan 450.000 per mm³ darah.
Trombosit berperan penting dalam mengontrol perdarahan. Apabila
terjadi cedera vaskuler, trombosit mengumpul pada tempat cedera
tersebut. Substansi yang dilepaskan dari granula trombosit
menyebabkan trombosit menempel satu dengan lainnya yang
membentuk tambalan atau sumbatan yang sementara menghentikan
perdarahan. Substansi lain dilepaskan dari trombosit dan memulai
9
mekanisme rumit pembekuan darah yang disebut juga Clotting
Cascade.
Akan tetapi mekanisme pembekuan ini hanya efektif pada perdarahan
intensitas kecil misalnya pada pembuluh darah kecil atau rembesan
kapiler. Sedangkan pada perdarahan pembuluh darah besar atau arteri,
mekanisme ini sulit mempertahankan kontinuitasnya oleh karena
tekanan hidrostatik yang dihasilkan oleh jantung dan darah yang masih
di dalam vaskuler
Apabila elemen seluler diambil dari darah, bagian cairan yang tersisa
dinamakan plasma darah. Plasma darah mengandung ion, protein, dan
zat lain. Apabila plasma dibiarkan membeku , sisa cairan yang
tertinggal dinamakan serum. Serum mempunyai kandungan yang sama
dengan plasma, kecuali kandungan fibrinogen dan beberapa factor
pembekuan.
Protein plasma tersusun terutama oleh albumin dan globulin. Globulin
tersusun atas fraksi alfa, beta dan gama yang dapat dilihat dari
laboratorium yang dinamakan elektroforesis protein.
Gama globulin, yang tersusun terutama oleh anti bodi, dinamakan
immunoglobulin. Protein ini dihasilkan oleh limfosit dan sel plasma.
Protein plasma penting dalam fraksi alfa dan beta adalah globulin
10
transpor dan faktor pembekuan yang dibentuk di hati. Globulin
transpor membawa berbagai zat dalam bentuk terikat sepanjang
sirkulasi. Misalnya tiroid terikat globulin, membawa tiroksin, dan
transferin membawa besi. Faktor pembekuan, termasuk fibrinogen,
tetap dalam keadaan tidak aktif dalam plasma darah sampai diaktifasi
pada reaksi pada tahap-tahap pembekuan. Albumin terutama penting
untuk pemeliharaan volume cairan dalam system vaskuler. Dinding
kapiler tidak permeabel terhadap albumin, sehingga keberadaannya
dalam plasma menciptakan gaya onkotik yang menjaga cairan dalam
rongga vaskuler. Albumin, yang dihasilkan oleh hati, memiliki
kapasitas mengikat berbagai zat yang ada dalam plasma. Dalam hal ini,
albumin berfungsi sebagai protein transpor untuk logam, asam lemak,
bilirubin dan obat-obatan, diantara zat lainnya.
b. Trombositopenia
Trombositopenia didefinisikan sebagai jumlah trombosit di bawah
100.000 / mm3. hal ini bisa disebabkan oleh pembentukan trombosit
yang berkurang atau penghancuran yang meningkat.
c. Hematokrit
Hematokrit yaitu suatu nilai kadar sel darah yang terdapat didalam
plasma darah. Semakin tinggi nilai hematokrit, semakin tinggi
viksositas atau kekentalan darah. Nilai hematokrit normal untuk pria
11
berkisar antara 45 – 52%, sedangkan nilai hematokrit normal untuk
wanita berkisar antara 36 – 48% (Brunner & Suddarth, 2001)
3. Etiologi
Dengue Haemoragic Fever (DHF) disebabkan oleh virus dengue, yang
termasuk dalam golongan genus flavivirus, keluarga flaviviridae.
Flavivirus ialah suatu virus dengan diameter sekitar 30 mm yg terdiri dari
asam aribonukleat rantai tunggal dengan berat molekul mencapai 4 x 106.
Terdapat 4 type serotipe virus yaitu DEN-1, DEN-2, DEN-3 dan DEN-4
yang keseluruhannya dapat menyebabkan terjadinya demam dengue. Ke 4
type serotipe ini bisa ditemukan di Indonesia dengan DEN-3 merupakan
serotype terbanyak ditemukan (Suhendro, 2007).
4. Patofisiologi
Virus dengue akan masuk ke dalam tubuh melalui gigitan nyamuk aedes
aegypti dan kemudian akan bereaksi dengan antibodi dan terbentuklah
kompleks vrius antibodi, dalam sirkulasi akan mengaktivasi sistem
komplement. Akibat aktivasi C3 dan C5 akan dilepas C3a dan C5a, dua
peptida yang berdaya untuk melepaskan histamin dan merupakan mediator
kuat sebagai faktor meningginya permeabilitas dinding pembuluh darah
dan menghilangkan plasma melalui endotel dinding itu.
Terjadinya trombositopenia, menurunnya fungsi trombosit dan
menurunnya faktor koagulasi (protombin, faktor V, VII, IX, X dan
12
fibrinogen merupakan faktor penyebab terjadinya perdarahan hebat,
terutama perdarahan saluran gastrointestinal pada DHF.
Yang menetukan beratnya penyakit adalah meningginya permeabilitas
dinding pembuluh darah, menurunnya volume plasma, terjadinya
hipotensi, trombositopenia, dan diatesis hemoragik. Renjatan terjadi secara
akut.
13
2.1 Patofisiologi Dengue Haemoragic Fever (Suriadi 2010)
14
5. Klasifikasi
Berdasarkan Patofisiologinya, DHF menurut World Health Organization
(WHO) dapat diklasifikasikan menjadi 4 golongan, yaitu :
a. Derajat I : Demam disertai gejala klinis lain tanpa perdarahan spontan.
Panas 2-7 hari, Uji tourniquet positif, trombositipenia dan
hemokonsentrasi.
b. Derajat II : Sama dengan derajat I, ditambah dengan gejala-gejala
perdarahan spontan seperti petekie, ekimosis, hematemesis, melena,
perdarahan gusi.
c. Derajat III : Ditandai oleh gejala kegagalan peredaran darah seperti
nadi lemah dan cepat (>120x/mnt ) tekanan nadi sempit (120 mmHg),
tekanan darah menurun, (120/80 , 120/100 , 120/110, 90/70, 80/70,
80/0, 0/0).
d. Derajat IV : Nadi tidak teraba, tekanan darah tidak teatur (denyut
jantung 140x/mnt) anggota gerak teraba dingin, berkeringat dan kulit
tampak biru.( Misnadiarly, 2009).
15
6. Manifestasi Klinik
Manifestasi klinis pada penyakit DHF dapat dilihat berdasarkan kriteria
diagnosa klinis dan laboratoris. Berikut ini tanda dan gejala
penyakit DHF yang dapat dilihat dari penderita kasus DHF dengan gejala
klinik dan laboratorium menurut WHO adalah :
a. Gejala Klinik
1) Demam tinggi mendadak 2 sampai 7 hari (38 – 40 º C).
2) Manifestasi perdarahan dengan bentuk: uji Tourniquet positif,
Petekie (bintik merah pada kulit), Purpura(pendarahan kecil di
dalam kulit), Ekimosis, Perdarahan konjungtiva (pendarahan pada
mata), Epistaksis (pendarahan hidung), Perdarahan gusi,
Hematemesis (muntah darah), Melena (BAB darah) dan Hematuri
(adanya darah dalam urin).
3) Perdarahan pada hidung dan gusi.
4) Rasa sakit pada otot dan persendian, timbul bintik-bintik merah
pada kulit akibat pecahnya pembuluh darah.
5) Pembesaran hati (hepatomegali).
6) Renjatan (syok), tekanan nadi menurun menjadi 20 mmHg atau
kurang, tekanan sistolik sampai 80 mmHg atau lebih rendah.
7) Gejala klinik lainnya yang sering menyertai yaitu anoreksia
(hilangnya selera makan), lemah, mual, muntah, sakit perut, diare
dan sakit kepala.
16
b. Laboratorium
1) Trombositopeni pada hari ke-3 sampai ke-7 ditemukan penurunan
trombosit hingga 100.000 /mmHg.
2) Hemokonsentrasi, meningkatnya hematrokit sebanyak 20% atau
lebih.(DepkesRI,2016).
7. Pemeriksaan Penunjang
Pada pemeriksaan laboratorium ditemukan :
a. Jumlah Tb lebih rendah dari normal ( 150.000 - 450.000/ mm3 )
b. Kadar Ht menurun ( normal 35 – 48 % )
8. Dampak Terhadap Perubahan Struktur dan Fungsi Tubuh
Dampak DHF terhadap perubahan struktur dan fungsi tubuh yaitu :
a. Sistem Pernafasan
Dapat terjadi peningkatan permeabilitas kapiler yang mengakibatkan
kebocoran plasma kemudian terjadi efusi pleura.
b. Sistem Pencernaaan
Ditemukan mual, muntah, perdarahan gusi, hematemesis, nyeri
abdomen, nyeri ulu hati, hepatomegali, asites, konstipasi, diare, melena
dan pembesaran limpa (splenomegali).
c. Sistem Kardiovaskular
Peningkatan permeabilitas pembuluh darah kapiler akibat
pengeluaran histamin, perdarahan, akibat trombositopenia dan
gangguan faktor pembekuan dan bila terjadi renjatan akan ditemukan
17
penurunan tekanan nadi (< 20 mmHg), nadi cepat dan lemah bahkan
tidak teraba, CRT > 2 detik, akral dingin, hipotensi sampai terjadi DIC.
d. Sistem Integumen
Manifestasi perdarahan dibawah kulit seperti ptekia, ekimosis,
hematoma dan purpura akibat dari penurunan trombosit.
e. Sistem Muskuluskeletal
Nyeri otot dan tendon terutama dirasakan bila tendon dan otot perut
ditekan.
f. Sistem Perkemihan
Status homeostatis yang buruk akibat penurunan volume cairan
tubuh oleh kebocoran plasma dan tidak tertanggulangi maka akan
menyebabkan gangguan fungsi ginjal.
g. Sistem Neurologi
Ditemukan nyeri kepala yang terjadi akibat peningkatan suhu tubuh
dan klien gelisah saat terjadi renjatan.
9. Diagnosa Banding
a. Demam thyphoid
b. Malaria
c. Morbili
d. Demam Chikungunya
e. Idiophatic Thrombocytopenia Purpura (ITP)
18
10. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan Dengue Haemoragic Fever (DHF) menurut Nabil. 2013
yaitu:
a. Penatalaksanaan DHF :
1) Tirah baring
2) Makan lunak dan diberi minum 1-2 liter dalam 24 jam.
3) Untuk hiperpireksia dapat diberi kompres.
4) Berikan antibiotik bila terdapat kemungkinan terjadi infeksi.
b. Pada pasien dengan tanda renjatan :
1) Pemasangan infus Ringer Laktat atau Asering dan dipertahankan
selama 12-48 jam setelah renjatan diatasi.
2) Observasi keadaan umum (tanda-tanda vital).
19
B. Konsep Asuhan Keperawatan Pada DHF
1. Pengkajian
Pengkajian adalah tahap awal dan dasar dalam proses keperawatan.
Pengkajian merupakan tahap yang paling menentukan bagi tahap berikutnya.
Oleh karena itu, pengkajia harus dilakukan dengan teliti dan cermat, sehingga
seluruh kebutuhan perawatan pada klien dapat diidentifikasi.
(Rohman, Nikmatur dan Saiful Walid, 2009).
Langkah-langkah dalam pengkajian meliputi :
a. Pengumpulan Data
1) Identitas
Identitas klien mencakup : nama, umur, jenis kelamin,
pendidikan, agama, pekerjaan, suku bangsa, status, alamat, tanggal
masuk RS, tanggal pengkajian, nomor rekam medik, diagnosa
medis. Selain identitas pasien juga mencakup identitas penanggung
jawab dalam hal ini : nama, usia, jenis kelamin, pendidikan,
agama, pekerjaan serta hubungan dengan pasien seperti : ayah, ibu
atau hubungan keluarga lainnya.
2) Riwayat Kesehatan
a) Keluhan Utama
Merupakan keluhan pada saat dikaji dan bersifat subjektif. Pada
pasien Dengue Hemoragic Fever keluhan utama biasanya muncul
20
demam tinggi, sakit kepala, nyeri punggung, tulang dan persendian
serta anoreksia, malaise (Mansjoer, 2000).
b) Riwayat Kesehatan Sekarang
Merupakan pengembangan dari keluhan utama yang dirasakan
klien melalui metode PQRST yaitu Paliatif (penyebab keluhan
utama), Qualitatif (sampai dimana), Region (daerah mana saja yang
dikeluhkan), Skala (yang dapat memperberat dari meringankan
keluhan utama) dan Time (kapan terjadinya keluhan utama) dalam
bentuk narasi. Kekurangan cairan tubuh yang diakibatkan oleh
penurunan kadar trombosit hingga menimbulkan demam dan
terjadinya perdarahan baik yang terlihat maupun tidak, sehingga
jika keadaan tidak tertangani dan keseimbangan cairan dan
elektrolit tubuh tidak terjaga, maka dapat terjadi komplikasi berupa
terjadinya DSS (Dengue Shock Syndrome) sampai terjadinya
kematian.
c) Riwayat Kesehatan Lalu
Pada kasus ini dikaji riwayat kesehatan masa lalu pasien apakah
punya riwayat penyakit yang sama sebelumnya atau penyakit lain
yang pernah diderita.
21
d) Riwayat Kesehatan Keluarga
Riwayat adanya penyakit DHF didalam keluarga yang lain (yang
tinggal di dalam suatu rumah atau beda rumah dengan jarak rumah
yang berdkatan) sangat menentukan karena ditularkan melalui
gigitan nyamuk Aides Aigepty.
e) Riwayat Kesehatan Lingkungan
Daerah atau tempat yang sering dijadikan tempat tinggal nyamuk
ini adalah lingkungan yang kurang pencahayaan dan sinar
matahari, banyak genangan air, vas bunga yang jarang diganti
airnya, kaleng bekas tempat penampungan air, botol dan ban bekas.
Tempat-tempat seperti ini banyak dibuat sarang nyamuk jenis ini.
Perlu ditanyakan pula apakah didaerah itu ada riwayat wabah DHF
karena inipun juga dapat terulang kapan-kapan.
3) Data Hygiene
Kaji apakah kebersihan rumah, lingkungan dan sekitar tempat
tinggal keluarga apakah sudah memenuhi syarat kebersihan.
4) Data Biologis
a) Pola Nutrisi
Kaji kebiasaan makan dan minuman yang sering dikonsumsi
sehari-hari, adakah pantangan, jumlah minuman, masakan apa
saja yang dikonsumsi serta frekuensinya dalam satu hari. Pada
22
klien DHF biasanya akan ditemukan perubahan pola makan atau
nutrisi kurang dari kebutuhan.
b) Pola Eliminasi
Kaji kebiasaan BAB dan BAK, frekuensi, jumlah, konsistensi,
warna dan masalah yang berhubungan dengan pola eliminasi.
Biasanya akan ditemukan pola eliminasi BAB, yaitu diare atau
konstipasi.
c) Pola Istirahat / Tidur
Kaji kebiasaan tidur sehari-hari, lamanya tidur siang dan malam
serta masalah yang berhubungan dengan kebiasaan tidur. Akan
ditemukan pola tidur akibat dari manifestasi DHF seperti nyeri
otot, demam dan lain-lain.
d) Pola Personal Hygiene
Kaji kebiasaan mandi, gosok gigi, cuci rambut dan memotong
kuku, mencakup frekuensi. Pada klien DHF akan dianjurkan
untuk tirah baring sehingga memerlukan bantuan dalam
kebersihan diri.
23
e) Pola Aktivitas
Kaji kebiasaan aktivitas yang dilakukan di lingkungan keluarga
dan masyarakat : mandiri / tergantung. Pada klien DHF akan
dianjurkan untuk tirah baring sehingga memerlukan bantuan
ADL.
5) Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik dipergunakan untuk memperoleh data objektif
dari riwayat perawatan klien. Adapun tujuan dari pemeriksaan fisik
dalam keperawatan adalah untuk menentukan status kesehatan
klien, mengidentifikasi kesehatan dan mengambil data dasar untuk
menentuikan rencana perawatan (Patricia W, Iyer 2004).
a) Sistem Pernafasan
Respon imobilisasi / tirah baring dapat terjadi penumpukan
lendir pada bronkhi dan bronkhiolus, perhatikan bila pasien
tidak bisa batuk dan mengeluarkan lendir lakukan auskultasi
untuk mengetahui kelembaban dalam paru-paru.
b) Sistem Kardiovaskuler
Akan ditemukan nadi lemah, cepat disertai penurunan tekanan
nadi (menjadi 20 mmHg atau kurang), tekanan darah menurun
(sistolik sampai 80 mmHg atau kurang), disertai teraba dingin di
kulit dan sianosis merupakan respon terjadi syok, CRT mungkin
24
lambat karena adanya syok hipovolemik akibat perdarahan
hebat.
c) Sistem Pencernaan
Akan ditemukan rasa mual, muntah dapat terjadi sebagai respon
dari infeksi dengue sehingga dapat menyebabkan penurunan
nafsu makan. Selain itu diare atau konstipasi juga dapat terjadi
akibatnya pasien akan mengalami asupan tidak adekuat dan
perubahan eliminasi BAB
d) Sistem Persyarafan
Akan ditemukan nyeri yang terjadi pada otot atau persendian,
perubahan kesadaran sampai timbulnya kejang spastisitas dan
ensefalopati perlu pula dikaji fungsi Nervus Cranial lainnya.
e) Sistem Integumen
Kebocoran plasma dari ruang intravaskuler ke ruang
ekstravaskuler salah satunya akan berdampak pada perdarahan
di bawah kulit berupa, ptekie, purpura serta akan terjadi
peningkatan suhu tubuh (hipertermi).
25
f) Sistem Musculoskeletal
Biasanya ditemukan adanya keluhan nyeri otot atau persedian
terutama bila sendi dan otot perut ditekan, kepala dan pegal-
pegal seluruh tubuh. Akibatnya akan ditemukan gangguan rasa
nyaman.
g) Sistem Perkemihan
Dipalpasi bagaimanana keadaan blas serta apakah terdapat
pembesaran ginjal dan perkusi apakah pasien merasa sakit serta
tanyakan apakah ada gangguan saat BAK. (Patricia W, Iyer 2004).
6) Data Psikologis
Yang perlu dikaji dalam hal psikologis pasien adalah :
a) Body Image
Sikap ini mencakup persepsi dan perasaan tentang ukuran dan
bentuk serta penampilan.
b) Ideal Diri
Persepsi individu tentang bagaimana dia harus berprilaku
berdasarkan standar, tujuan , keinginan, atau nilai pribadi.
26
c) Identitas Diri
Kesadaran akan diri sendiri yang bersumber dari observasi dan
penilaian diri sendiri.
d) Peran Diri
Seperangkat perilaku yang diharapkan secara sosial yang
berhubungan dengan fungsi individu pada berbagai kelompok.
7) Data Sosial dan Budaya
Pada aspek ini perlu dikaji pola komunikasi, hubungan sosial, gaya
hidup, faktor sodiokultural serta keadaan lingkungan sekitar dan
rumah.
8) Data Spiritual
Menyangkut agama serta aktifitas spiritual, dan juga menyangkut
keyakinan, penolakan, atau penerimaan terhadap tindakan medis.
Misalnya Agama dan kepercayaan tertentu yang melarang dengan
keras penganutnya untuk melakukan transfusi darah.
9) Pemeriksaan Penunjang
Pada penderita DHF perlu dilakukan pemeriksaan penunjang
meliputi:
a) Darah rutin meliputi Hemoglobin, Hematokrit, Leukosit dan
Trombosit.
27
b) Pemeriksaan urine meliputi ureum, kreatinin untuk mengetahui
fungsi ginjal.
c) Pemeriksaan radiologi (rontgen) disesuaikan dengan klinis
penderita.
2. Analisa Data
Analisa data adalah pengelompokan data-data klien atau keadaan tertentu
dimana klien mengalami permasalahan kesehatan atau keperawatan
berdasarkan kriteria permasalahannya. (Rohman, Nikmatur & Walid
Saiful, 2009).
3. Diagnosa Keperawatan
Rumusan diagnosa keperawatan didapatkan setelah dilakukan analisa
masalah sebagai hasil dari pengkajian kemudian dicari etiologi
permasalahan sebagai penyebab timbulnya masalah keperawatan tersebut.
Perumusan diagnose keperawatan disesuaikan dengan sifat masalah
keperawatan yang ada, apakah bersifat aktual, potensial maupun resiko.
Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada klien dengan gangguan
sistem hematologi DHF menurut (Doenges, 2012) adalah:
a. Peningkatan suhu tubuh (hipertermi) berhubungan dengan proses
penyakit (viremia).
b. Resiko terjadi gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan
berhubungan dengan intake makanan yang kurang.
28
c. Resiko tinggi defisit volume cairan tubuh berhubungan dengan
perpindahan cairan dari intravaskuler ke ekstravaskuler.
d. Resiko terjadinya perdarahan lebih lanjut berhubungan dengan
trombositopenia.
e. Resiko terjadinya syok hipovolemik berhubungan dengan perdarahan.
f. Gangguan pola aktivitas berhubungan dengan kondisi tubuh yang
lemah.
g. Gangguan rasa aman cemas berhubungan dengan ketidaktahuan
tentang penyakit dan tindakan perawatan yang dilakukan.
h. Defisit perawatan diri berhubungan dengan kurangnya pengetahuan
keluarga tentang perawatan personal hygiene.
4. Perencanaan
Berdasarkan diagnosa keperawatan yang muncul maka dibuat perencanaan
intervensi keperawatan dan aktifitas keperawatan.
Tujuan perencanaan adalah membuat perencanaan yang sistematis tentang
tindakan yang akan dilaksanakan dalam rangka mengurangi,
menghilangkan dan mencegah masalah keperawatan yang dialami oleh
klien.
Perencanaan keperawatan ini disusun secara mandiri atau bersama
keluarga klien dan pelaksana perawatan di ruangan.
29
Berdasarkan diagnosa keperawatan diatas dapat ditetapkan tujuan,
intervensi dan rasionalnya menurut (Dongoes, 2012) sebagai berikut:
a. Peningkatan suhu tubuh (hipertermi) berhubungan dengan proses
penyakit (viremia).
Tujuan : peningkatan suhu tubuh teratasi.
Tabel 2.2
Rencana tindakan keperawatan pada peningkatan suhu tubuh (hipertermi)
berhubungan dengan proses penyakit (viremia).
INTERVENSI RASIONAL
1. Kaji saat timbulnya demam 1. Untuk mengidentifikasi pola
demam klien.
2. Observasi tanda-tanda vital : suhu, 2. Tanda-tanda vital merupakan
nadi, tensi, pernapasan setiap 3 acuan untuk mengetahui keadaan
jam atau lebih sering. umum klien.
3. Berikan penjelasan pada orang tua 3. Keterlibatan keluarga sangat
klien tentang hal-hal yang dapat berarti dalam proses
dilakukan untuk mengatasi demam penyembuhan klien di rumah
dan menganjurkan untuk sakit.
kooperatif.
4. Jelaskan pentingnya tirah baring 4. Penjelasan yang diberikan
bagi klien dan akibatnya jika hal kepada orang tua klien akan
tersebut tidak dilakukan. memotivasi klien untuk
kooperatif.
30
5. Anjurkan orang tua klien agar 5. Peningkatan suhu tubuh
klien banyak minum. mengakibatkan penguapan tubuh
meningkat sehingga perlu
diimbangi dengan asupan cairan
yang banyak.
6. Berikan kompres dingin (pada 6. Kompres dingin akan membantu
daerah axilla dan lipatan paha). mengurangi menurunkan suhu
tubuh.
7. Anjurkan untuk tidak memakai 7. Pakaian yang tipis akan
selimut atau pakaian tebal. membantu mengurangi
penguapan tubuh.
8. Berikan terapi cairan intravena 8. Pemberian cairan sangat penting
dan obat-obatan sesuai dengan bagi klien dengan suhu tubuh
program dokter. tinggi.
(Sumber : Dongoes, 2012)
b. Resiko terjadi gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan
berhubungan dengan intake makanan yang kurang.
Tujuan : Pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan dapat teratasi
dengan intake makanan yang adequat sesuai kebutuhan.
31
Tabel 2.3
Rencana keperawatan gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan
berhubungan dengan intake makanan yang kurang.
INTERVENSI RASIONAL
1. Kaji adanya keluhan mual dan 1. Mengidentifikasi masalah yang
muntah serta riwayat nutrisi berhubungan dengan intake
termasuk makanan yang di sukai makanan, adanya defisiensi
nutrisi, serta menduga
kemungkinan intervensi.
2. Observasi respon anak terhadap 2. Mengawasi sejauh mana
makanan. toleransi anak terhadap makanan.
3. Kaji berat badan sebelum sakit 3. Untuk mengetahui status nutrisi
serta sedapat mungkin sebelum dan sesudah sakit,
melakukan penimbangan Berat dimana Berat Badan dapat
Badan harian. dijadikan indikator dalam
merefleksikan status nutrisi
pasien.
4. Berikan makanan dalam porsi 4. Makan sedikit dapat
sedikit dan frekuensi sering. menghindari mual dan muntah
pada klien.
5. Kolaborasi pada ahli gizi untuk 5. Membantu dalam membuat
pemberian diet sesuai indikasi. rencana diet yang tepat untuk
memenuhi kebutuhan nutrisi
klien.
32
6. Jelaskan pada orang tua klien 6. Memberikan motivasi bagi orang
tentang pentingnya nutrisi bagi tua klien untuk meningkatkan
proses penyembuhan klien. intake makanan.
(Sumber Dongoes, 2012)
c. Resiko tinggi defisit volume cairan tubuh berhubungan dengan
perpindahan cairan dari intravaskuler ke ekstravaskuler.
Tujuan : Kekurangan volume cairan dapat teratasi.
Tabel 2.4
Rencana tindakan keperawatan pada Resiko tinggi defisit volume cairan tubuh
berhubungan dengan perpindahan cairan dari intravaskuler ke ekstravaskuler.
INTERVENSI RASIONAL
1. Kaji keadaan umum klien (lemah, 1. Menetapkan data dasar klien,
pucat, takikardi) serta tanda-tanda untuk mengetahui dengan cepat
vital. penyimpangan dari keadaan
normalnya.
2. Observasi adanya tanda-tanda 2. Agar dapat segera dilakukan
syok. tindakan untuk menangani syok
yang dialami.
3. Anjurkan klien untuk banyak 3. Asupan cairan sangat diperlukan
minum. untuk menambah volume cairan
tubuh.
4. Kaji tanda dan gejala dehidrasi / 4. Untuk mengetahui penyebab
33
hipovolemik (riwayat muntah, defisit cairan. Jika pengeluaran
diare, kehausan, turgor jelek). urine < 25 ml/jam maka klien
mengalami syok.
5. Kaji perubahan keluaran urine 5. Untuk mengetahui keseimbangan
(urine output < 25 ml/jam atau cairan.
600 ml/hari.
6. Kolaborasi dengan dokter untuk 6. Pemberian cairan IV sangat
pemberian cairan intravena. penting bagi klien yang
mengalami defisit volume cairan
dengan keadaan umum yang
buruk karena cairan langsung
masuk ke dalam pembuluh darah.
(Sumber : Doengoes, 2012)
d. Resiko terjadinya perdarahan lebih lanjut berhubungan dengan
trombositopenia.
Tujuan : Resiko terjadinya perdarahan tidak terjadi.
34
Tabel 2.5
Rencana keperawatan pada resiko terjadinya perdarahan lebih lanjut
berhubungan dengan trombositopenia.
INTERVENSI RASIONAL
1. Monitor tanda-tanda penurunan 1. Penurunan jumlah trombosit
trombosit yang disertai dengan merupakan tanda-tanda adanya
tanda-tanda klinis. kebocoran pembuluh darah
pada tahap tertentu yang dapat
menimbulkan tanda-tanda
klinis berupa perdarahan
(nyata) seperti epistaksis,
ptekie, dll.
2. Monitor jumlah trombosit setiap 2. Dengan jumlah trombosit yang
hari. dipantau setiap hari, dapat
diketahui tingkat kebocoran
pembuluh darah dan
kemungkinan perdarahan yang
dapat dialami klien.
3. Anjurkan orang tua klien agar klien 3. Aktivitas klien yang tidak
banyak istirahat. terkontrol dapat menyebabkan
terjadinya perdarahan.
4. Berikan penjelasan pada orang tua 4. Keterlibatan orang tua dengan
klien untuk segera melapor jika ada segera melaporkan terjadinya
tanda-tanda perdarahan lebih lanjut perdarahan (nyata) akan
35
seperti : hematesis, melena, membantu klien mendapatkan
epistaxis. penanganan sedini mungkin.
(Sumber : Doengoes, 2012)
e. Resiko terjadinya syok hipovolemik berhubungan dengan perdarahan
hebat.
Tujuan : Resiko terjadi syok hipovolemik teratasi.
Tabel 2.6
Rencana keperawatan terjadinya syok hipovolemik berhubungan dengan
perdarahan hebat.
INTERVENSI RASIONAL
1. Monitor keadaan umum klien 1. Untuk memantau kondisi klien
selama perawatan terutama saat
terjadi perdarahan. Dengan
memonitor keadaan umum klien,
perawat dapat segera mengetahui
jika terjadi tanda-tanda shok
sehingga dapat segera ditangani.
2. Observasi TTV tiap 2-3 jam 2. Tanda vital dalam batas normal
menandakan keadaan umum klien
baik, perawat perlu terus
mengobservasi tanda-tanda vital
selama klien mengalmi perdarahan
36
untuk memastikan tidak terjadi
syok.
3. Monitor tanda-tanda perdarahan. 3. Perdarahan yang cepat diketahui
dapat segera diatasi, sehingga klien
tidak sampai ke tahap syok
hipovolemik akibat perdarahan
akut.
4. Pasang infus, beri terapi cairan 4. Pemberian cairan intravena sangat
intravena jika terjadi perdarahan diperlukan untuk mengatasi
(kolaborasi dengan dokter). kehilangan cairan tubuh yang hebat
yaitu untuk mengatasi syok
hipovolemik. Pemberian infus
dilakukan dengan kolaborasi
dokter.
5. Segera puasakan jika terjadi 5. Dengan puasa membantu
perdarahan saluran pencernaan. mengistirahatkan saluran
pencernaan untuk sementara selama
perdarahan berasal dari saluran
cerna.
6. Cek Hb, Ht dan Tb. 6. Untuk mengetahui tingkat
kebocoran pembuluh darah yang
dialami klien dan untuk acuan
melakukan tindakan lebih lanjut
terhadap perdarahan tersebut.
37
7. Perhatikan keluhan klien seperti 7. Untuk mengetahui seberapa jauh
mata berkunang-kunang, pusing, penagaruh perdarahan tersebut pada
lemah, ekstermitas dingin, sesak klien sehingga perawat atau tenaga
napas. kesehatan lainnya lebih waspada.
8. Berikan tranfusi sesuai dengan 8. Untuk menggantikan volume darah
program dokter. serta komponen darah yang hilang.
9. Monitor masukan dan keluaran, 9. Pengukuran dan pencatatan sangat
catat dan ukur perdarahan yang penting untuk mengetahui jumlah
terjadi, produksi urine. perdarahan yang dialami klien.
Untuk mengetahui keseimbangan
cairan tubuh.
(Sumber : Dongoes, 2012)
f. Gangguan pola aktivitas berhubungan dengan kondisi tubuh yang
lemah.
Tujuan : Kebutuhan aktivitas sehari-hari terpenuhi secara mandiri atau
dengan bantuan orang lain.
38
Tabel 2.7
Rencana keperawatan gangguan pola aktivitas berhubungan dengan
kondisi tubuh yang lemah.
INTERVENSI RASIONAL
1. Kaji kemampuan klien untuk 1. Untuk mengetahui tingkat
melakukan aktivitasnya sehari- keterbatasan klien dalam
hari sesuai dengan tingkat melakukan aktivitasnya sehari-
keterbatasan klien seperti hari.
bermain.
2. Bantu klien untuk mandiri 2. Dengan melatih kemandirian
sesuai dengan perkembangan klien maka klien akan terbiasa
kemajuan fisiknya. untuk beraktivitas sendiri.
3. Kaji tanda-tanda vital (TD, 3. Dengan mengkaji tanda-tanda
Nadi, Respirasi) selama dan vital, akan diketahui kemampuan
sesudah aktivitas. kompensasi klien berhubungan
dengan peningkatan kebutuhan
oksigen.
4. Anjurkan orang tua klien agar 4. Dengan perubahan posisi secara
setiap perubahan posisi anaknya bertahap maka akan memberikan
dari tidur mau bangun atau kesempatan bagi tubuh untuk
berdiri harus secara bertahap melakukan mekanisme
dan perlahan-lahan. hemostatik sehingga perfusi ke
otak akan lebih maksimal.
(Sumber : Dongoes, 2012)
39
g. Gangguan rasa aman cemas berhubungan dengan ketidaktahuan
tentang penyakit dan tindakan perawatan yang dilakukan.
Tujuan : Kecemasan dan ketakutan berkurang.
Tabel 2.8
Rencana keperawatan gangguan rasa aman cemas berhubungan dengan
ketidaktahuan tentang penyakit dan tindakan perawatan yang dilakukan.
INTERVENSI RASIONAL
1. Berikan informasi tentang DBD. 1. Dengan memberikan dasar
Diskusikan tentang penyakit, pengetahuan bagi orang tua
penyebab, serta penanganannya klien dapat menurunkan
secara sederhana sehingga anxietas dan dapat
mudah dimengerti oleh keluarga meningkatkan kerjasama
klien. dalam program terapi
2. Jelaskan tentang prosedur 2. Prosedur tindakan sering
tindakan medis, tindakan menimbulkan takut dan cemas
keperawatan, maupun prosedur pada keluarga klien dan
diagnostik termasuk prosedur ketidaktahuan akan prosedur
pengambilan darah untuk tindakan memperberat tingkat
pemeriksaan laboratorium. kecemasan dan ketakutan pada
keluarga klien.
3. Jalin komunikasi intensif yang 3. Adanya rasa percaya dalam
profesional dengan keluarga keluarga klien akan
klien untuk menimbulkan rasa mengurangi kecemasan dan
40
percaya (trust) mempermudah dalam
melaksanakan prosedur
tindakan.
(Sumber : Dongoes, 2012)
h. Defisit perawatan diri berhubungan dengan kurangnya pengetahuan
keluarga klien tentang perawatan personal hygiene.
Tujuan : Kebutuhan personal hygiene klien dapat teratasi.
Tabel 2.9
Rencana tindakan keperawatan defisit perawatan diri berhubungan dengan
kurangnya pengetahuan keluarga klien tentang perawatan personal hygiene.
INTERVENSI RASIONAL
1. Kaji kebersihan klien secara 1. Dengan mengkaji kebersihan
keseluruhan. klien secara keseluruhan dapat
membantu memilih intervensi
selanjutnya.
2. Kaji pengetahuan orang tua klien 2. Dengan mengkaji pengetahuan
tentang tata cara perawatan diri orang tua klien dapat
klien selama sakit mengetahui sejauh mana
tingkat pengetahuan orang tua
klien tentang perawatan anak
selama sakit.
3. Bantu klien dan keluarga dalam 3. Dengan membantu klien dan
41
pemenuhan kebutuhan personal keluarga dapat meningkatkan
hygiene. pemenuhan personal hygiene
terhadap klien.
4. Berikan penkes tentang cara-cara 4. Dengan memberikan Penkes
perawatan diri. dapat membantu orang tua
klien dalam memberikan
perawatan terhadap anak
selama sakit.
(Sumber : Dongoes, 2012)
5. Implementasi
Merupakan pelaksanaan perencanaan keperawatan oleh perawat dan klien.
Hal-hal yang harus diperhatikan ketika melakukan implementasi adalah
intervensi dilakukan sesuai dengan rencana setelah dilakukan validasi,
penguasaan keterampilan interpersonal, intelektual dan teknikal. Intervensi
harus dilakukan dengan cermat dan efisien pada situasi yang tepat.
Implementasi yang dilakukan pada pasien dengan DHF yaitu ada 3 tahap
yaitu perawatan, diet dan pengobatan.
42
a. Perawatan
Perawatan pasien dengan DHF harus dilaksanakan di rumah sakit oleh
karena kompleksitas permasalahan serta perlunya tindakan medis
khususnya dalam pemberian cairan.
b. Diet
Diet diberikan sesuai dengan keadaan penderita dan adanya keluhan
mual, muntah dan anoreksia.
c. Obat
1) Pemberian Vitamin dan suplemen.
2) Antibiotik untuk mencegah infeksi.
6. Evaluasi
Evaluasi adalah penilaian dengan cara membandingkan perubahan
keadaan pasien (hasil yang diamati) dengan tujuan dan kriteria hasil yang
dibuat pada tahap perencanaan. Tujuan dari evaluasi ini adalah untuk
pertama mengakhiri rencana tindakan keperawatan, kedua memodifikasi
rencana tindakan keperawatan, ketiga meneruskan rencana tindakan
keperawatan. (Rohman, Nikmatur dan Walid, Saiful, 2009 : 94).
6.1 Macam Evaluasi
1) Evaluasi proses (formatif)
a) Evaluasi yang dilakukan setiap selesai tindakan
b) Berorientasi pada etiologi
c) Dilakukan secara terus-menerus sampai tujuan yang telah
ditentukan tercapai.
43
2) Evaluasi hasil (sumatif)
a) Evaluasi yang dilakukan setelah akhir tindakan keperawatan
secara paripurna.
b) Berorientaasi pada masalah keperawatan.
c) Menjelaskan keberhasilan / ketidakberhasilan.
d) Rekapitulasi dan kesimpulan status kesehatan klien sesuai
dengan kerangka waktu yang ditetapkan.
Catatan perkembangan berisi kan perkembangan atau kemajuan dari tiap-
tiap masalah yang telah dilakukan tindakan dan disusun oleh semua
anggota yang terlibat dengan menambahkan catatan perkembangan pada
lembaran yang sama. Catatan dengan kata-kata dapat dipakai pada
pengisian status tentang data yang menonjol dari tiap masalah atau
menggunakan format S O A P I E R, yaitu :
S : Data Subjective
O : Data Objective
A : Analisa
P : Planning
I : Implementasi
E : Evaluasi
R : Reassessment.
44
C. Konsep Kompres Hangat
Demam atau suhu tubuh yang tinggi dapat diturunkan dengan berbagai cara ,
cara yang paling sering digunakan adalah meminum obat penurun demam
seperti paracetamol , selain itu adalah dengan mengobati penyebab demam, dan
apabila ternyata demamnya karena infeksi oleh bakteri maka diberikan
antibiotik untuk membunuh bakteri. Tetapi obat-obatan saja tidak cukup ,
sehingga perlu dilakukan kompres untuk membantu menurunkan suhu tubuh
saat demam.
Kompres hangat merupakan metode untuk menurunkan suhu tubuh, pemberian
kompres hangat pada daerah axila (ketiak) lebih efektif karena terdapat banyak
pembuluh darah besar dan banyak kelenjar keringat apokrin yang mempunyai
banyak vaskuler sehingga akan memperluas daerah yang mengalami
vasodilatasi yang akan memungkinkan percepatan perpindahan panas dari
dalam tubuh ke kulit hingga delapan kali lipat lebih banyak. Lingkungan luar
yang hangat akan membuat tubuh menginpestrasikan bahwa suhu diluar cukup
panas sehingga akan menurunkan kontrol pengatur suhu tubuh lagi, juga akan
membuat pori-pori kulit terbuka sehingga mempermudah pengeluaran panas
dari tubuh.