0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
14 tayangan10 halaman

Pemikiran Filsafat Metafisika dan Teologi

Makalah ini membahas konsep filsafat metafisika dan teologi. Filsafat metafisika adalah kajian tentang hakikat keberadaan zat, pikiran, dan hubungan antara zat dan pikiran. Filsafat teologi atau theodicea mengkaji kepercayaan kepada Tuhan di tengah kejahatan dan eksistensi Allah. Tokoh seperti Anselmus, Descartes, Thomas Aquinas, dan Kant memberi kontribusi terhadap pemikiran teologi metaf

Diunggah oleh

Rindi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
14 tayangan10 halaman

Pemikiran Filsafat Metafisika dan Teologi

Makalah ini membahas konsep filsafat metafisika dan teologi. Filsafat metafisika adalah kajian tentang hakikat keberadaan zat, pikiran, dan hubungan antara zat dan pikiran. Filsafat teologi atau theodicea mengkaji kepercayaan kepada Tuhan di tengah kejahatan dan eksistensi Allah. Tokoh seperti Anselmus, Descartes, Thomas Aquinas, dan Kant memberi kontribusi terhadap pemikiran teologi metaf

Diunggah oleh

Rindi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

MAKALAH FILSAFAT POLITIK

OLEH:
Rindi Ramadhani (2030307008)
DOSEN PENGAMPU:
Mahmuda, M,Sos

PEMIKIRAN POLITIK ISLAM


FAKULTAS USHULUDDIN ADAB DAN DAKWAH
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAHMUD YUNUS
2021/2022
BAB I
PENDAHULUAN
[Link] BELAKANG
Cabang filsafat yang mempelajari penjelasan asal atau hakekat objek (fisik) di
dunia adalah Metafisika. Dimana di dalamnya menjelaskan studi keberadaan atau
realitas. Metafisika mencoba menjawabpertanyaan-pertanyaan seperti: Apakah
sumber dari suatu realitas?Apakah Tuhan ada? Apa tempat manusia di dalam
semesta? Penggunaan istilah metafisika telah berkembang untuk merujuK`1``pada
hal-hal yang diluar dunia fisik. “ Beberapa tafsiran metafisika,diantaranya menurut
M.J. Langeveld (tt; 13) dengan mengutip dari apayang dikatakan oleh Nicolai
Hartman mengartikan bahwa metafisik aadalah tempat khusus yang diperuntukan
bagi objek-objek transenden, daerah spekulatif bagi tanggapan-tanggapan tentang
Tuhan, kebebasandan jiwa, juga sebagai pangkalan bagi system-sistem spekulatif,
teori-teori dan tanggapan dunia terhadap sesuatu yang eksistensinya di luardimensi
yang fisik-empirik. Manusia mempunyai beberapa pendapat mengenai tafsiran
metafisika. Tafsiran yang petama yang dikemukakan oleh manusia terhadap alam ini
adalah bahwa terdapat hal-hal gaib (supranatural) dan hal-hal tersebut bersifat lebih
tinggi atau lebih kuasa dibandingkan dengan alam yang nyata.
Pemikiran seperti ini disebut pemikiran supernaturalisme. Dari sini lahir
tafsiran-tafsiran cabang misalnya animisme. Selain faham diatas, ada juga paham
yang disebut paham naturalisme. Paham ini amat bertentangan dengan paham
[Link] naturalisme menganggap bahwa gejala-gejala alam tidak
disebabkan oleh hal-hal yang bersifat gaib, melainkan karena kekuatan yang terdapat
dalam itu sendiri, yang dapat dipelajari dan diketahui. Orang orang yang menganut
paham naturalisme ini beranggapan seperti itu karena standar kebenaran yang mereka
gunakan hanyalah logika akal semata, sehingga mereka menolak keberadaan hal-hal
yang bersifat gaib itu. Dari paham naturalism ini juga muncul pahammaterialisme
yang menganggap bahwa alam semesta dan manusia berasal dari materi. Salah satu
yang menggap bahwa alam semesta dan manusia berasal dari materi. Salah satu
pencetusnya ialah Democritus (460 – 370 SM). Adapun bagi mereka yang mencoba
mempelajari mengenai makhluk hidup.
Timbul dua tafsiran yang masih saling bertentangan yakni paham mekanistik
dan paham vitalistik. Kaum mekanistik melihat gejala alam (termasuk makhluk
hidup) hanya merupakan gejala kimia-fisika semata. Sedangkan bagi kaum vitalistik
hidup adalah sesuatu yang unik yang berbeda secara substansif dengan hanya sekedar
gejala kimia-fisika semata berbeda halnya dengan telah mengenai akal dan pikiran,
dalam hal ini ada dua tafsiran tang juga saling berbeda satu sama lain. Yakni faham
monoistik dan dualistic. Sudahmerupakan aksioma bahwa proses berfikir manusia
menghasilkan pengetahuan tentang zat (objek) yang ditelaahnya. Dari sini aliran
monoistik mempunyai pendapat yang tidak membedakan antara pikiran dan zat.
Keduanya (pikiran dan zat) hanya berbeda dalam gejala disebabkan proses yang
berlainan namun mempunyai substansi yang sama. Perndapat ini ditolak oleh kaum
yang menganut paham dualistic. Dalam metafisika, penafsiran dualistic membedakan
antara zat dan kesadaran (pikiran) yang bagi mereka berbeda secara subtsansif. Aliran
ini berpendapat bahwa yang ditangkap oleh fikiran adalah bersifat mental. Maka yang
bersifat nyata adalah fikiran, sebab dengan berfikirlah maka sesuatu itu lantas ada.

B. RUSAN MASALAH:

1) Bagaimana konsep dari filsafat metafisika?


2) Bagaimana konsep dari filsafat teologi?

C. TUJUAN PENELITIAN:
1) Untuk mengetahui konsep dari metafisika
2) Untuk mengetahui konsep dari teologi
BAB II
PEMBAHASAN

1. Konsep Filsafat Metafisika


Metafisika berasal dari bahasa Yunani, yang terdiri atas dua kata yaitu meta
dan pysika. Meta artinya sesudah atau dibalik sesuatu dan fisika artinya nyata,
kongkrit yang dapat diukur oleh jangkauan panca indera. Eksistentsinya dibalik
sesudah fisik perlu dikaji. Istilah metafisika diketemukan Andronicus pada tahun 70
SM ketika menghimpun karya-karya Aristoteles, dan menemukan suatu bidang diluar
bidang fisika atau disiplin ilmu lain. Ilmu untuk mengkaji tentang sesuatu dibalik
yang fisik atau sesuatu sesudah yang fisik disebut ontology. Metafisika adalah suatu
kajian tentang haakikat keberadaan zat, hakikat pikiran dan hakikat zat dengan
pemikiran. Ahli metafisika juga berupaya memperjelas pemikiran-pemikiran manusia
mengenai dunia, terasuk keberadaan, kebendaan,sifat, ruang, waktu, hubungan sebab
akibat, dan kemungkinan. Menurut Christian Wolf metafisika terbagi menjadi dua
jenis, pertama Metaphysica Generalis (Ontologi); ilmu yang membahas mengenai
yang ada atau pengada atau yang lebih dikenal sebagai ontology, kedua Metapysica
Specialis yang terbagi atas :
1. Antropologi; menelaah tentang hakikat manusia, terutama hubungan jiwa
dan raga.
2. Kosmologi; menelaah tentang asal-usul dan hakikat alam semesta.
3. Theologi; kajian tentang Tuhan secara rasional.
a) Hakikat Kodrat Manusia
b) Susunan Kodrat
c) Sifat Kodrat
d) Kedudukan Kodrat
e) Kosmologi Filsafati
Filasafat alam berusaha mencari asal alam semesta, Thales berpendapat sebagai
arche. Filsafat alam menyelidiki gerak di alam semesta yang merupakan perubahan.
Sementara itu Driyakara menyamakan metafisika dengan ontologi, ia menyatakan
bahwa filsafat tentang ada adan sebab-sebab pertama adalah metafisika atau ontologi,
yang di samping membahas tentang ada dan sebab-sebab pertama tersebut, juga
membahas mengenai apakah kesempurnaan itu, apakah tujuan itu intinya adalah
apakah kahikat dari segala sesuatu itu.
Kemudian seiring dengan proses berkembangnya cara berpikir manusia, maka
muncul berbagai macam tafsiran untuk memahami metafisika itu sendiri. Beberapa
tafsiran metafisika dalam menafsirkan hal ini, manusia mempunyai beberapa
pendapaat mengenai tafsiran metafisika, tafsiran yang pertama yang dikemukakan
oleh manusia terhadap alam ini adalah bahwa terdapat hal-hal dan hal-hal tersebut
bersifat lebih tinggi atau lebih kuasa dibandingkan dengan alam yang nyata,
pemikiran seperti ini disebut pemikiran supernaturalisme. Dari sini lahir tafsiran-
tafsiran cabang misalnya animisme. Selain paham diatas, ada juga paham yang
disebut paham naturalisme, paham ini amat bertentangan dengan paham
supernatulaisme, paham naturalisme mengannggap bahwa gejala-gejala alam tidak
disebabkan oleh hal-hal yang bersifat gaib, melainkan karena kekuatan yang terdapat
dalam itu sendiri,yang dapat dipelajari dan dapat diketahui, orang-orang yang
menganut paham naturalisme ini beranggapan seperti karena standar kebenaran yang
mereka gunakan hanyalah logika akal semata, sehingga mereka menolak keberadaan
hal-hal yang bersifat gaib itu dari paham naturalism ini juga menucul paham
materialisme yang menganggap bahwa alam semesta dan manusia berasal dari materi.
Salah satunya pencetusnya adalah Democritus (460-370 S.M) . Adapun bagi mereka
yang mencoba mempelajari mengenai makhluk hidup, timbul dua tafsiran yang
masing-masing saling bertentangan yakni paham mekanistik dan paham vitalistik,
kaum mekanistik melihat gejala alam hanya merupakan gejala kimia fisika semata.
sedangkan bagi kaum vitalistik hduup adalah sesuatu yang unik yang berada secara
substansif dengan hanya sekedar gejala kimia fisika semata.
B. Konsep Filsafat Teologi
Istilah ini sering disebut juga theodicea. Theodicea mengkaji tentang
kepercayaan kepada Tuhan di tengah kejahatan. Eksistensi Allah pun dipikirkan di
sini. Tokoh-tokoh seperti, Anselmus, Descartes, Thomas Aquinas dan Imanuel Kant
mencoba memberi kontribusi berkaitan dengan Berikut suatu pemikiran praktis
tentang teologi metafisik. Secara singkat dan sederhana istilah theisme terbentuk dari
dua kata “theis dari akar kata Yunani Theos berarti Tuhan”. Sedangkan “isme”
menunjuk pada “paham”. Maka theisme berarti paham yang mengakui “ada”nya
TUHAN. Lawan dari paham ini adalah paham “atheisme” atau paham yang tidak
mengakui akan “adanya Tuhan”. Paham atheisme menolak atau menyangkal akan
eksistensi atau keberadaan Allah. Theisme merupakan paham yang percaya atau
mengakui adanya Tuhan. Teisme dari kata Theos yang berarti Tuhan. Atau dapat juga
dikatakan bahwa aliran yang mengakui adanya satu pribadi Allah yang memiliki
karakter istimewa.
Plato, Aristoteles dan Agustinus adalah tokoh-tokoh filsuf di antara filsuf-
filsuf yang menganut paham theisme. Sebagai filsuf yang menganut paham theisme,
ia “yang pertama menggunakan istilah theologia, yang telah sampai ke penggunaan
modern sebagai “teologi”. Aristoteles, memikirkan penggerak yang Tak
Tergerakkan” dan Agustinus percaya bahwa “harus ada Kebenaran Tertinggi yang
bertanggung jawab atas semua kebenaran-kebenaran didalam budi manusia”. Para
filsuf dan teolog, selama berabad-abad berupaya membuktikan keberadaan Allah.
Membicarakan eksistensi atau keber-Ada-an Allah berarti kita sedang berada dalam
filsafat ontologi. Ontologi merupakan salah satu cabang filsafat yang berbicara
mengenai keberadaan. Sebab kita mau membuktikan akan keber-Ada-an Allah.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Metafisika merupakan suatu kajian tentang hakikat keberadaan zat, hakikat
pikiran dan hakikat kaitan zat dengan pikiran. Beberapa tafsiran maetafisika dalam
menafsirkan hal ini, manusia mempunyai beberapa pendapat mengenai tafsiran
metafisika. Objek metafisika menurut Aristoteles ada dua yakni: ada sebagai yang
ada dan ada sebagai yang illahi metafisika terbagi menjadi dua jenis, pertama
metafisika generalis yakni ilmu yang membahas mengenai yang ada atau pengada
atau yang lebih di kenal sebagai ontology, dan kedua metafisia spesialis yang terbagi
menjadi tiga bagian besar:
1) Antropologi yaitu ilmu yang menelaah mengenai hakikat manusia, tentang
diri dan kedirian, tentang hubungan jiwa dan raga.
2) kosmologi yaitu ilmu yang membahas tentang asal-usul alam semesta dan
hakikat sebenarnya.
3) teologi yaitu ilmu yang membahas mengenai tuhan secara rasional.
Sumbangan metafisika terhadap ilmu pengetahuan tidak dapat disangkal lagi adalah
pada fundamental ontologisnya, sumbangan metafisika pada ilmu pengetahuan adalah
persinggungan antara metafisika/ontology dengan epistimologi. dalam metafisika
yagn meplertanyakan apakah hakikat terdalam dari kenyataan yang diantaranya
dijawab bahwa hakikat terdaam dari kenyataan adalah materi, maka munculah paham
materialism.
B. Saran
Bagi peneliti agar ke depannya lebih memperbanyak sumber dan mengurangi
tingkat parafrasenya.
DAFTAR PUSTAKA
Bertens, Kees. 1989. Sejarah Filsafat Yunani. Jakarta: Kanisius.
Glasse, Cyril. 1999. Ensiklopedia Islam (Ringkas). Jakarta: PT. RajaGrafindo
Persada.
Hatta, Mohammad. 1980. Alam Pikiran Yunani. Jakarta: PT. Tintamas Indonesia.
Hornby, AS. 1974. Oxford Advanced Learner’s Dictionary of Current English. New
York: Oxford University Press.
Rudianto, R. Bambang, dkk. 1993. (Tim Redaksi Driyarkara). Hakikat Pengetahuan
dan Cara Kerja Ilmu-Ilmu. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.
Solomon, Robert C. & Higgins, Kathleen M. 2002. Sejarah Filsafat. Jogjakarta:
Yayasan Bentang Budaya.
DAFTAR PUSTAKA
Busyairi, M. A. (1997). Nego untuk Mencapai Kesepakatan. Makalah Pada Orientasi
Pendalaman Bidang Tugas Ketua-Ketua DPRD Tingkat II Se-Indonesia.
Presented at the Jakarta. Jakarta: Badan Diklat Depdagri.
Dawson, R. (2003). Seni Negosiasi (Secrets of Power Negotiasting). Jakarta: PT.
Gramedia Pustaka Utama.

Anda mungkin juga menyukai