BAB I
PEMBAHASAN
1.1 Latar Belakang
Kesehatan merupakan kebutuhan dasar setiap manusia. World Health
Organization (WHO) membuat definisi universal bahwa sehat adalah suatu
keadaan sehat kondisi fisik, mental, sosial dan kesejahteraan sosial yang
merupakan satu kesatuan dan bukan hanya bebas dari penyakit dan atau
kecacatan. Kesehatan mental menjadi bagian penting dalam tercapainya suatu
kondisi sehat dalam setiap kebutuhan manusia. Berdasarkan data WHO (2016)
terdapat sekitar 35 juta orang yang menderita depresi, 60 juta bipolar, 21 juta
Skizofrenia dan 47,5 juta Demensia. Hal tersebut telah dinyatakan WHO
sebagai darurat kesehatan mental (Riskesdas, 2018).
Sumber: Riskesdas Tahun 2018
Gambar 1.1 Prevalensi Gangguan Mental Emosional Usia ≥ Menurut Propinsi
Tahun 2018
Berdasarkan data Riskesdas prevalensi gangguan jiwa di Indonesia
terjadi peningkatan yang signifikan dari 1,7% pada tahun 2013 menjadi 7%
pada tahun 2018. Dengan penderita depresi usia lebih dari 15 tahun ke atas
yang mendapatkan pengobatan hanya 9%, artinya banyak yang tidak
1
mendapatkan pengobatan karena berbagai faktor, dan penderita depresi sudah
dimulai diusia remaja (Riskesdas, 2018). Di Jawa Timur Angka gangguan
mental emosional (seperti kecemasan, emosi, depresi, dll) usia >15 tahun dari
6,5% pada tahun 2013 dan meningkat pada tahun 2018. Data tersebut
didukung fenomena yang terjadi saat ini mulai dari bullying, kecemasan, dan
gangguan perilaku yang sudah terjadi dikalangan anak bahkan remaja.
Banyak kejadian bunuh diri yang dilakukan di Indonesia salah satu
diantaranya adalah remaja yang dikarenakan masalah hubungan sosial dengan
temannya. Hal ini menunjukkan bahwa kesehatan mental remaja harus
menjadi perhatian sejak dini.
Remaja Indonesia dimulai usia 15 tahun, tercatat telah melakukan
penyalahgunaan NAPZA yang meningkat dari angka 24% menjadi 28%,
merokok sebesar 19, 4% dan menderita AIDS sebesar 2.830 kasus pada tahun
2017. Perilaku berisiko seperti merokok, penyalahgunaan NAPZA dan AIDS
dapat terjadi pada remaja dikarenakan pada usia remaja merupakan usia yang
rentan akan terjadinya masalah-masalah yang berdampak pada kesehatan dan
dampak kesehatan yang ditimbulkan dapat berupa fisik maupun mental,
namun perilaku berisiko pada remaja dapat terjadi akibat kesehatan mental
yang tidak baik. (Puslitdatin, 2018) (Puslitdatin, 2019). Menurut WHO
terdapat 10 perilaku berisiko pada remaja antara lain konsumsi alkohol,
perilaku diet, NAPZA, kebersihan diri, stres, merokok, kekerasan ,
perlindungan diri (WHO, 2019).
Pencegahan terhadap masalah kesehatan mental remaja erat kaitannya
dengan promosi kesehatan yaitu lima sarana aksi promkes menurut
Konferensi Ottawa Charter yang terdiri dari Healthy Public Policy,
Supportive Environment, Reorient Health Service, Personnal Skill dan
Community Action. Adanya kebijakan berwawasan kesehatan tentang
kesehatan mental namun belum secara spesifik ditujukan bagi remaja, perlu
adanya lingkungan yang mendukung bagi kesehatan mental remaja seperti di
sekolah dan ditempat tinggalnya, perlunya kerjasama dari berbagai pihak
yang mendukung tercapainya kesehatan mental remaja, adanya pembentukan
2
peer educator atau teman sebaya sebagai community action yang membantu
mempromosikan tentang kesehatan mental, dengan adanya peer education
yang mempromosikan kesehatan mental maka remaja dimampukan untuk
mengusahakan kesehatan mentalnya (WHO,1986).
Remaja sebagai kelompok usia rentan dapat bertanggungjawab
terhadap kesehatannya sebagai upaya pencegahan perilaku berisiko dengan
kegiatan deteksi dini. Deteksi dini seringkali dilakukan secara fisik padahal
deteksi dini untuk menilai kesehatan mental juga sangat dibutuhkan untuk
kesejahteraan remaja berkaitan dengan kehidupan sosial, spiritual dan budaya
agar remaja dapat mengambil keputusan yang tepat dan terbaik untuk dirinya
sendiri (Heryana, 2018).
Beberapa negara melakukan deteksi pada remaja menggunakan alat
ukur kuesioner yang dinilai oleh remaja itu sendiri yaitu kuesioner Strength
and difficulties questionnaire (SDQ). Alat ukur ini telah digunakan di Jakarta
dan di Jogjakarta yang bertujuan untuk mengukur kondisi kesehatan mental
remaja. Oleh karena itu kuesioner SDQ dapat diberikan pada remaja SMA di
Surabaya untuk melihat kondisi mentalnya (Oktaviana dan Wimbarti, 2016;
Wiguna et al., 2016).
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka rumusan masalahnya adalah
sebagai berikut:
1. Apa yang dimaksud dengan kesehatan mental?
2. Apa penyebab terjadinya gangguan kesehatan mental bagi pelajar?
3. Bagaimana solusi terjadinya gangguan pada kesehatan mental bagi
pelajar?
1.3 Maksud Tujuan
Adapun maksud tujuan dalam Karya Tulis Ilmiah ini adalah sebagai
berikut:
1. Menjelaskan maksud dari kesehatan mental.
2. Menjelaskan penyebab terjadinya gangguan kesehatan mental bagi pelajar.
3. Menjelaskan solusi terjadinya gangguan kesehatan mental bagi pelajar.
3
BAB II
KAJIAN TEORI DAN METODOLOGI PENELITIAN
2.1 Kajian Teori
2.1.1 Kesehatan Mental
Kesehatan mental merupakan kondisi dimana individu memiliki
kesejahteraan yang tampak dari dirinya yang mampu menyadari potensinya
sendiri, memiliki kemampuan untuk mengatasi tekanan hidup normal pada
berbagai situasi dalam kehidupan, mampu bekerja secara produktif dan
menghasilkan, serta mampu memberikan kontribusi kepada komunitasnya.
2.1.2 Kesehatan Mental Bagi Remaja
Kesehatan mental adalah cara untuk menggambarkan kesejahteraan
sosial dan emosional. Anak-anak dan remaja membutuhkan kesehatan mental
yang baik untuk berkembang dengan cara yang sehat, membangun hubungan
sosial yang kuat, beradaptasi dengan perubahan, dan menghadapi tantangan
hidup.
2.2 Metodologi Penelitian
2.2.1 Observasi
Berdasarkan data kuisioner kesehatan mental pada remaja terjadi
akibat pertemanan 26,9%, perundungan 13,5% dan masalah keluarga 59,6%.
Dengan penderita depresi usia lebih dari 15 tahun ke atas yang kebanyakan
melampiaskan dengan merokok, selfharm, mabuk dan lain lain artinya banyak
yang tidak mendapatkan pengobatan karena berbagai faktor. Di Jawa Timur
Angka gangguan mental emosional (seperti kecemasan, emosi, depresi, dll)
usia 15 tahun sampai 19 tahun.
Data tersebut didukung oleh kuisioner yang diisi oleh 60 responden
dan fenomena yang terjadi saat ini mulai dari bullying, kecemasan, dan
4
gangguan perilaku yang sudah terjadi dikalangan pelajar. Hasil dari data
kuisioner adalah sebagai berikut.
Jenis Kelamin responden
Gambar 2.1 Grafik Jenis Kelamin responden
Sumber : data pribadi
Usia responden
Gambar 2.2 Grafik Usia responden
Sumber : data pribadi
5
Responden yang mengalami gangguan mental
Gambar 2.3 Responden yang mengalami gangguan mental
Sumber : data pribadi
Gambar 2.4 Responden yang mengalami gangguan mental
Sumber : data pribadi
6
Gambar 2.5 Responden yang mengalami gangguan mental
Sumber : data pribadi
Gambar 2.6 Responden yang mengalami gangguan mental
Sumber : data pribadi
7
Gambar 2.7 Responden yang mengalami gangguan mental
Sumber : data pribadi
Gambar 2.8 Responden yang mengalami gangguan mental
Sumber : data pribadi
8
Gambar 2.9 Responden yang mengalami gangguan mental
Sumber : data pribadi
9
BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Pengertian Kesehatan Mental
Kesehatan mental adalah kondisi dimana seseorang memiliki kesejahteraan
yang terlihat dari dirinya yang mampu menyadari potensinya sendiri, memiliki
kemampuan untuk mengatasi tekanan hidup dan normal di setiap situasi dalam
kehidupan, mampu bekerja secara produktif dan menghasilkan, serta mampu
memberikan kontribusi kepada komunitasnya.
3.2 Faktor-faktor Penyebab Gangguan Kesehatan Mental Bagi Pelajar
Ada banyak faktor yang menyebabkan gangguan mental pada remaja.
Faktor yang paling mendasar adalah pola asuh kedua orang tua yang salah. Orang
tua yang otoriter akan menyebabkan anak menjadi takut untuk melakukan sesuatu,
mudah minder, merasa tidak berguna, dan merasa dirinya tidak berharga Padahal
lingkup keluarga merupakan tempat dimana kepribadian seorang anak terbentuk.
Ada banyak sekali kasus dimana orang tua tidak sadar jika putra putrinya
mengalami masalah gangguan mental. Kondisi ini membuktikan bahwa para
orang tua hanya memperhatikan kondisi fisik anak dan tidak peduli dengan
kondisi mental sang anak.
Tidak jarang juga para orang tua malah menyalahkan sang anak dan
mengatakan bahwa hal itu terjadi karena kurang taat beribadah. Padahal kondisi
mental seseorang sama sekali tidak berhubungan dengan faktor religinya.
Faktor penyebab gangguan mental remaja selanjutnya yaitu adanya tekanan di
sekolah baik mengenai pelajaran maupun hubungan dengan teman. Sistem
pendidikan di Indonesia menuntut para siswa untuk bisa menguasai banyak
pelajaran sekaligus.
Akan tetapi, Faktor penyebab gangguan mental pada remaja lainnya yaitu
penggunaan media sosial yang salah, faktor genetik, faktor biologis, sering
berpikiran negatif atau yang sering disebut dengan overthinking, trauma yang
pernah terjadi pada masa lalu, dan masih banyak faktor lainnya.
10
Beberapa penyebab umum dari gangguan mental, antara lain:
1.1 Kekerasan dalam rumah tangga atau pelecehan lainnya.
1.2 Kekerasan pada anak atau riwayat kekerasan pada masa kanak-
kanak.
1.3 Mengalami diskriminasi dan perundungan.
1.4 Mengalami kehilangan atau kematian seseorang yang sangat dekat.
1.5 Mengalami kerugian sosial, seperti masalah kemiskinan atau utang.
1.6 Stres berat yang dialami dalam waktu yang lama.
1.7 Terisolasi secara sosial atau merasa kesepian.
1.8 Tinggal di lingkungan perumahan yang buruk.
1.9 Trauma signifikan, seperti kecelakaan serius, atau kejahatan dan
yang pernah dialami.
Padahal kemampuan dan bakat setiap anak tentunya berbeda satu sama
lain. Ada yang pintar dalam pelajaran menghitung seperti matematika tetapi lemah
jika menyangkut tentang hafalan dan berlaku juga sebaliknya.
Menjaga kesehatan mental adalah kunci utama dalam menjalani kehidupan
sehari-hari. Kesehatan mental yang terjaga dengan baik dapat membuat pelajar
mampu menjalani aktivitas belajar dengan lebih optimal. Mental health atau
kesehatan mental menjadi isu yang hangat diperbincangkan tidak hanya di
masyarakat secara umum, tetapi juga di dunia pendidikan. Perubahan pola
pembelajaran, kesulitan beradaptasi, tingkat penguasaan teknologi, dan
ketidaksiapan menghadapi segala keterbatasan memunculkan tekanan-tekanan dan
juga tantangan. Keadaan yang serta–merta terjadi ini sangat mempengaruhi tidak
hanya kesehatan mental gutu tetapi juga siswa atau pelajar yang bersangkutan.
3.3 Solusi Terjadinya Gangguan Pada Kesehatan Mental Bagi Pelajar
Salah satu tips/cara yang dapat diterapkan untuk meningkatkan kesehatan
mental khususnya bagi pelajar dalam lembaga pendidikan yaitu penerapan 5T. 5T
11
ini adalah Talking, Training, Teaching, Tools, dan Taking Care. 5T dapat
diterapkan agar stres mereka tak makin menumpuk dan menjadi depresi.
Pertama adalah Talking about mental health. Para pelajar harus diedukasi
dan dirangkul agar mudah mengungkapkan tentang kondisi kesehatan jiwa dan
mentalnya. Hal ini bertujuan agar mereka memiliki kesadaran untuk meminta
bantuan pada profesional dan mengurangi stigma yang ada pada masyarakat.
“Dengan edukasi dan keterbukaan untuk para pelajar, maka masalah yang
dihadapi dapat terselesaikan dengan tepat dan baik. Pada dasarnya gangguan jiwa
ini sama dengan penyakit lain. Jika diketahui diagnosanya sedari dini, dapat diberi
penanganan yang tepat.”
Kedua adalah Training, yaitu memberikan pelatihan-pelatihan kepada
tenaga pendidik di sekolah. Hal ini dibutuhkan agar tenaga pendidik bisa
memberikan informasi yang benar kepada para pelajar. Selain itu, hal ini juga
dapat mengurangi disinformasi dan tidak menimbulkan kebingungan pada siswa.
Ketiga, Teaching, yaitu mengintegrasikan sistem pembelajaran dalam
kurikulum sekolah ataupun dalam pembelajaran mengenai kesehatan mental.
Keempat adalah Tools, yaitu tersedianya infrastruktur untuk menyalurkan
beban mental yang dialami siswa. Misalnya dengan menyediakan saluran curhat,
ruang rekreatif di sekolah, atau sejenisnya.
Terakhir, Taking care yang ditujukan kepada para tenaga pendidik untuk
peduli dengan kesehatan mental dirinya dan siswa. Kedua belah pihak harus
saling menjaga. Dengan begitu, stakeholder di sekolah dari atas hingga bawah
memiliki kesadaran yang baik tentang pentingnya menjaga kesehatan mental.
Poin terakhir itu juga sangat menentukan, karena tenaga pendidik adalah
agen utama. Jadi, pihak sekolah juga perlu meningkatkan kesehatan jiwa tenaga
pendidiknya.
Untuk menjaga kesehatan mental pelajar, diperlukan kerja sama antara
pihak sekolah, orang tua, dan juga keterbukaan dari pelajar itu sendiri.
12
BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil dari observasi yang dilakukan dapat disimpulkan
bahwa telah terjadi gangguan mental pada remaja. Hal ini dapat dilihat dari
hasil penelitian dan pengamatan yang telah dilakukan dengan cara melakukan
poling.
4.2 Saran
Menurut hasil observasi tim peneliti berikut merupakan hal-hal yang
dapat dilakukan untuk mengatasi jatuh nya mental pada remaja.
Katakan Hal Positif pada Diri Sendiri
Penelitian menunjukkan bahwa cara kamu berpikir tentang diri sendiri
dapat memiliki efek yang kuat pada kejiwaan kamu. Ketika kita memandang
diri kita dan hidup kita secara negatif, maka kita juga merasakan efek
negatifnya. Sebaliknya, jika membiasakan diri menggunakan kata-kata yang
membuat lebih positif, maka hal ini membuat kamu lebih optimis.
Tuliskan Hal-Hal yang Patut Disyukuri
Rasa bersyukur dikaitkan dengan peningkatan kesejahteraan, kualitas
kesehatan mental, serta kebahagiaan. Cara sederhana untuk meningkatkan
rasa bersyukur adalah membuat jurnal dan menuliskan berbagai hal yang
patut disyukuri setiap harinya.
Olahraga
Tubuh akan melepaskan endorfin yang membantu menyingkirkan stres
dan meningkatkan suasana hati kamu sebelum dan sesudah berolahraga.
Itulah sebabnya olahraga adalah cara penangkal stres, kecemasan, dan depresi
13
yang ampuh. Carilah cara-cara kecil untuk menambah aktivitas olahraga,
seperti naik tangga, atau jalan kaki ke tempat yang dekat.
Terbukalah pada Seseorang
Mengetahui bahwa kamu dihargai oleh orang lain adalah penting untuk
membantu kamu berpikir lebih positif. Belajar terbuka kepada orang lain,
yang membuat kamu lebih mampu berpikir positif dan semakin mengenal diri
sendiri.
Istirahat
Pada saat-saat semua pekerjaan terasa seperti terlalu banyak,
menjauhlah, dan lakukan apa pun kecuali hal yang membuat kamu semakin
stres, setidaknya sampai kamu merasa sedikit lebih baik. Terkadang hal
terbaik untuk dilakukan adalah latihan pernapasan sederhana.
Tidur Tepat Waktu
Coba tidur pada waktu yang teratur setiap hari. Hindari bermain gadget
sebelum waktu tidur dan membatasi minuman berkafein untuk pagi hari.
14
15