0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
18 tayangan7 halaman

Urgensi Pembelajaran IPS untuk Budaya Indonesia

Indonesia kaya akan budaya lokal namun generasi muda lebih mengenal budaya asing. Pembelajaran IPS di sekolah dasar dapat meningkatkan pemahaman siswa tentang budaya Indonesia. Metode studi pustaka digunakan untuk meneliti bagaimana IPS dapat melestarikan budaya daerah.

Diunggah oleh

Saa Rii
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
18 tayangan7 halaman

Urgensi Pembelajaran IPS untuk Budaya Indonesia

Indonesia kaya akan budaya lokal namun generasi muda lebih mengenal budaya asing. Pembelajaran IPS di sekolah dasar dapat meningkatkan pemahaman siswa tentang budaya Indonesia. Metode studi pustaka digunakan untuk meneliti bagaimana IPS dapat melestarikan budaya daerah.

Diunggah oleh

Saa Rii
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

ISSN: 2614-6754 (print) Halaman 4270-4276

ISSN: 2614-3097(online) Volume 6 Nomor 1 Tahun 2022

Urgensi Pembelajaran IPS dalam Upaya Meningkatkan Pemahaman


Budaya Indonesia pada Siswa Sekolah Dasar
Levy Rohmatilahi1, Nur Kholisah2, Muh. Husen Arifin3, Yona Wahyuningsih4
1,2,3,4
Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Pendidikan
Indonesia
e-mail: levyrhmt123@upi.edu1, nurkholisah10@upi.edu2 , muhusenarifin@upi.edu3 ,
yonawahyuningsih@upi.edu4

Abstrak

Pendidikan tidak dapat dipisahkan dari budaya yang ada dalam suatu masyarakat. Undang-
Undang Republik Indonesia Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dalam Bab 1
Ketentuan Umum pasal 1 ayat 16 menyatakan bahwa “Pendidikan berbasis masyarakat
adalah penyelenggaraan pendidikan yang didasarkan pada ciri-ciri agama, sosial, budaya,
aspirasi, dan potensi masyarakat sebagai perwujudan pendidikan dari, oleh, dan untuk
masyarakat. Indonesia adalah negara yang kaya akan budaya, setiap suku, setiap daerah
memiliki budayanya masing-masing. Semakin maju zaman, maka semakin banyak pula
perubahan yang terjadi, baik karena perubahan makna, munculnya budaya baru, dan
perubahan cara pandang masyarakat tentang suatu budaya. Budaya adalah sesuatu yang
diciptakan oleh manusia yang terjadi dalam kehidupan bermasyarakat. Pendidikan dan
kehidupan merupakan hubungan antara proses dan isi, proses mengadopsi budaya dalam
arti peradaban manusia.

Kata kunci: Manusia, Budaya, Pendidikan Ilmu Sosial.

Abstract

Education cannot be separated from a culture that exists in a society. The Law of the
Republic of Indonesia in 2003 concerning the National Education System in Chapter 1
General Provisions article 1 paragraph 16 states that "Community-based education is the
implementation of education based on religious, social, cultural characteristics, aspirations,
and community potential as the embodiment of education from, by, and for society. Indonesia
is a country that is rich in culture, every tribe, every region has its own culture. The more
advanced the times, the more changes that occur, either because of changing meanings, the
emergence of new cultures, and changing people's perspectives about a culture. Culture is
something created by humans that occurs in social life. Education and life are a relationship
between a process and content, the process of adopting culture in the sense of human
civilization.

Keywords : human, culture, education, social science.

PENDAHULUAN
Indonesia merupakan negara yang kaya akan budaya, setiap suku, setiap daerah
memiliki kebudayaannya sendiri. Kemajuan zaman seperti perkembangan teknologi menjadi
salah satu penyebab dari terkikisnya kebudayan di Indonesia dan mulai tergantikan dengan
kebudayaan luar seperti kebudayaan Korea dan Jepang yang saat ini banyak digemari oleh
kalangan anak muda Indonesia. Jati diri bangsa sudah mulai terkikis oleh kemajuan zaman.
Semakin majunya zaman, makin banyak pula perubahan yang terjadi, entah karena
berubahnya makna, munculnya budaya baru, dan berubahnya cara pandang masyarakat
mengenai suatu budaya. Terlebih jika hal ini terjadi pada kalangan remaja, pelestarian suatu
budaya akan terancam, munculnya tidak ada rasa kecintaan pada kebudayaan yang pada
kebudayaan yang dimiliki ([Link], Nursaptini, W. Arif 2020)

Jurnal Pendidikan Tambusai 4270


ISSN: 2614-6754 (print) Halaman 4270-4276
ISSN: 2614-3097(online) Volume 6 Nomor 1 Tahun 2022

Budaya Indonesia saat ini seolah mulai dilupakan karena keberadaan budaya baru
yang lebih dikenal oleh generasi muda Indonesia, seolah-olah kebudayan Indonesia sudah
terdiskriminasi di tempatnya sendiri dan budaya luarlah yang menjadi unggulannya. Tetapi
hal tersebut tidak dapat dibiarkan. Generasi muda Indonesia harus tegas dalam bertindak
supaya kebudayaan kita tidak dilupakan. Budaya lokal adalah sebuah warisan dari para
leluhur yang harus dijaga serta dilestarikan (Widodo, 2020)
Kebudayaan adalah sesuatu yang diciptakan oleh manusia yang terjadi dalam
kehidupan bermasyarakat. Pendidikan dan kehidupan merupakan suatu hubungan antara
sebuah proses dan konten, proses mengadopsi budaya dalam arti peradaban manusia.
Aspek lain dari fungsi pendidikan adalah mengolah budaya, sikap spiritual, perilaku, dan
bahkan filsafat, yang menjadi dasar Pendidikan, bahkan individualitas siswa. Oleh karena itu,
hubungan antara pendidikan dan budaya terdapat dalam hubungan nilai-nilai demokrasi, dan
berfungsinya pendidikan sebagai budaya mendorong kepribadian manusia untuk lebih kreatif
dan produktif sehingga memiliki tujuan yang lebih utama. Budaya merupakan sesuatu yang
terus berlanjut pada suatu saat. Ketika budaya berhenti di suatu titik dalam kehidupan
manusia dan tidak lagi berkembang, itu disebut peradaban Perbedaan yang mendasar dan
membuat manusia unggul yaitu manusia memiliki akal serta rasionalitas, sehingga hanya
manusia yang memiliki kemampuan untuk menghasilkan sesuatu yang membantu mereka
bertahan hidup (akuakultur). Manusia perlu beradaptasi dengan lingkungan untuk
mengembangkan pola perilaku yang akan membantu segala usahanya untuk bertahan
hidup. Orang juga membuat rencana untuk memecahkan masalah hidup(Teng 2017)
Mirisnya lagi, hal ini tidak hanya terjadi pada orang dewasa, tetapi juga pada
kalangan anak usia dasar. Banyak dari mereka yang lebih mengenal kebudayaan luar
dibandingkan kebudayaan Indonesia.
Faktanya di Indonesia, Pendidikan tidak bisa dilepaskan dari suatu kebudayaan
yang terdapat dalam suatu masyarakat. Undang-Undang Republik Indonesia tahun 2003
tentang Sistem Pendidikan Nasional pada Bab 1 Ketentuan Umum pasal 1 ayat 16
menyebutkan bahwa “Pendidikan berbasis masyarakat adalah penyelenggaraan pendidikan
berdasarkan kekhasan agama, sosial, budaya, aspirasi, dan potensi masyarakat sebagai
perwujudan pendidikan dari, oleh, dan untuk masyarakat (Pemerintah RI, 2003)
dalam(Anggreni, Sumantri, and Dhieni 2022)
Mengingatkan kembali kebudayaan yang ada di Indonesia adalah cara yang dapat
dilakukan untuk mengembalikan minat anak muda pada kebudayaan indonesia, hal ini dapat
dilakukan melalui dunia pendidikan khususnya untuk anak usia sekolah dasar. Anak usia
dasar adalah target yang sangat baik, karena usia tersebut lebih mudah untuk di arahkan.
Pembelajaran IPS menjadi salah satu upaya untuk meningkatkan pengetahuan serta
kecintaan terhadap kebudayaan yang ada di Indonesia.

METODE PENELITIAN
Metode yang digunakan yaitu metode kualitatif, yang dimana hasil dari metode
penelitian ini berupa narasi atau deskripsi. Dalam pengumpulan data, penulis menggunakan
metode studi Pustaka yang dilakukan dengan cara mengumpulkan berbagai macam
informasi melalui ebook dan jurnal yang digunakan sebagai bahan referensi.
Cara yang dilakukan dengan menggunakan metode studi Pustaka yaitu:
1. Pilih topik, pastikan topik yang dipilih menarik, dan pilih topik penelitian yang sedang
hangat dibicarakan agar pembaca tidak bosan membacanya.
2. Selidiki informasi untuk menemukan informasi yang paling akurat tentang masalah yang
sedang diselidiki sehingga kami dapat menyelesaikan semua masalah ini.
3. Menetapkan fokus penelitian, Fokus penelitian harus eksplisit sebelum melakukan
penelitian. Ini adalah konsentrasi yang perlu dilakukan untuk menyelesaikan tujuan
penelitian.
4. Kumpulkan sebanyak mungkin sumber data untuk memenuhi kebutuhan penelitian
Anda.

Jurnal Pendidikan Tambusai 4271


ISSN: 2614-6754 (print) Halaman 4270-4276
ISSN: 2614-3097(online) Volume 6 Nomor 1 Tahun 2022

5. Mempersiapkan tampilan data, Semua data yang terkumpul harus disiapkan terlebih
dahulu sebelum membuat [Link] tidak ada hambatan dalam pengumpulan
data.
6. Buat laporan dan buat laporan berkala tentang hasil penelitian Anda untuk membantu
pembaca Anda memahami hasil penelitian.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Kebudayaan
Pada saat ini kita sudah tidak asing lagi dengan keberadaan budaya luar yang masuk
ke Indonesia. Kebudayaan asing seolah terus-menurus menguasai generasi muda
Indonesia, padahal seperti yang kita ketahui bahwa Indonesia memiliki beragam budaya
yang seharusnya kita lestarikan, kita banggakan, dan kita kenalkan pada seluruh dunia.
Masuknya budaya asing tentu membawa pengaruh bagi generasi muda Indonesia, tetapi
memang tidak hanya pengaruh negatif saja yang kita dapatkan tetapi pengaruh positif juga,
namun tetap saja saat ini kesadaran masyarakat untuk berkeinginan menjaga kelestarian
budaya terbilang sangat minim. Anak-anak zaman sekarang cenderung menyukai hal yang
kekinian, meskipun demikian hal yang mereka anggap sebagai hal yang menari belum tentu
selalu berdampak baik untuk dirinya atau orang lain, maka dari itu harus ada bimbingan dari
guru selaku pendidik, karena pada dasarnya guru juga merupakan agen perubahan untuk
generasi-generasi muda Indonesia.
Kebudayaan adalah sesuatu yang diciptakan oleh manusia yang terjadi dalam
kehidupan bermasyarakat. Pendidikan dan kehidupan merupakan suatu hubungan antara
sebuah proses dan konten, proses mengadopsi budaya dalam arti peradaban manusia.
Aspek lain dari fungsi pendidikan adalah mengolah budaya, sikap spiritual, perilaku, dan
bahkan filsafat, yang menjadi dasar Pendidikan, bahkan individualitas siswa(Teng 2017).
Menurut Asri dalam (Arifin 2020)Sebuah kearifan yang seharusnya berakar dan tercermin
melalui sikap, moral dan akhlak, tidak dapat lagi menjadi pegangan bagi masyarakat untuk
menyelesaikan konflik-konflik yang terjadi. Menurut Firza dalam (Arifin 2020)Kearifan itu
terbentuk dari pengenalan, pemahaman, pengalaman dan pengamalan nilai-nilai agama dan
budaya dalam wujud etika hidup. Aturan-aturan lokal berdasarkan kondisi sosial-budaya
menggambarkan keharmonisan cara berpikir dan menjalani kehidupan bermasyarakat
tersebut. Peranan budaya lokal ini sangat erat kaitannya dengan penguatan karakter. Nilai-
nilai yang termaktub di dalam kearifan lokal tentu menjadi dasar dalam pembentukan
karakter. Kesadaran akan local wisdom akan membuat seseorang menjadi paham tentang
kebudayaan daerah mereka dan akan membentuk karakter diri. Pembentukan karakter
melalui kearifan lokal akan mudah dipahami, sehingga karakter mereka kuat dan akan tetap
bertahan dari gempuran kebudayaan dari luar serta arus transformasi yang terjadi di era
revolusi industri 4.0, sehingga karakter dari mahasiswa semakin kuat dan kontributif di dalam
kegiatan akademik.
Melville J. Herskovits dan Bronislaw Malinowski dalam (Karolina. D 2021)menyatakan
bahwasanya setiap yang ada di dalam sebuah masyarakat ditentukan oleh keberadan
sebuah budaya yang dimiliki oleh masyarakat tersebut. Istilah pendapat ini disebut Cultural-
Determinisme. Herskovits melihat kebudayaan sebagai hal yang turun-temurun dari generasi
ke generasi. Menurut Jehamat & Mbadhi dalam (Arifin 2020)Maka yang perlu diketahui
kemudian yaitu pemahaman tentang local wisdom yang merupakan suatu kebiasaan baik
yang dilakukan oleh masyarakat dalam kehidupannya. Kebiasaan baik tersebut tidak hanya
berupa perbuatan, bisa dalam bentuk sastra dan juga tradisi yang baik (Firza, 2016).
Kearifan lokal berperan penting dalam menjaga solidaritas sosial, menjaga keamanan,
mengelola konflik dan memberi jaminan sosial agar masyarakat dapat hidup sejahtera
(Gazalba, 1979) dalam (Teng 2017) memaparkan budaya sebagai “pikiran dan emosi
(budaya internal) yang diekspresikan dalam semua aspek kehidupan sekelompok orang
yang membentuk unit sosial dalam ruang dan waktu.”

Jurnal Pendidikan Tambusai 4272


ISSN: 2614-6754 (print) Halaman 4270-4276
ISSN: 2614-3097(online) Volume 6 Nomor 1 Tahun 2022

Generasi muda Indonesia menyalah artikan kebudayaan Indonesia sebagai


kebudayaan yang kolot dan tidak modern, padahal mereka tidak tahu bahwa sebenarnya
kebudayaan Indonesia dapat dikembangkan mengikuti zaman ataupun berdampingan
dengan kemajuan zaman.
Cara yang dapat dilakukan oleh para generasi muda untuk mendukung kelestarian
budaya Indonesia dalam hal sederhana
1. Mempelajari lebih mendalam mengenai kebudayaan yang ada daerahnya, seperti
menggunakan bahasa daerahnya.
2. Membiasakan diri mengikuti kegiatan yang mengandung unsur atau upaya melestarikan
kebudayaan local, seperti mengikuti lomba tarian tradisional atau bernyanyi lagu daerah
setempat
3. Menghilangkan rasa gengsi dan menghilangkan pikiran bahwa kebudayaan lokal itu
sebagai kebudayaan yang kolot.
4. Tidak menjelekan ataupun menghina budaya sendiri.

Pembelajaran IPS
Pembelajaran Ilmu Pendidikan Sosial atau pembelajaran IPS sering kali dianggap
sebagai pembelajaran sangat membosankan karena dianggap sebagai pembelajaran yang
terus-menerus menghafal, padahal faktanya pembelajaran IPS sangat penting bagi
kehidupan sehari-hari siswa dan pendidikan IPS ini akan sangat menarik jika berlandaskan
pada pembelajaran yang menarik, misalnya seperti pemahaman mengenai budaya lokal.
Para peserta didik sebenarnya sudah tahu mengenai kebudayaan lokal yang ada di
daerahnya, dengan mereka tahu bahasanya, tahu tari tradisionalnya atau bahkan sudah
pernah mengikuti kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan budaya. Tentu saja hal ini
merupakan modal utama yang mereka miliki untuk selalu menjaga kelestarian budayanya.
Nilai-nilai budaya lokal sebagai bahan pembelajaran IPS tentu saja dipilih berdasarkan
segala keunikannya serta nilai sosialnya dan diharapkan dapat membantu para siswa untuk
mengerti arti kehidupannya dan menerapkannnya dalam kehidupan sehari-hari.
Menurut (Widiastuti 2015) Para pengajar di indonesia diharapkan untuk dapat
menerapkan pembelajaran serta pengalaman yang dapat mempengaruhi pembelajaran
berbasis multiple intelligences. Tipe yang dipilih dalam pembelajaran yakni budaya lokal
untuk dapat merangsang kemampuan berpikir siswa, dan tentunya akan memberikan varian
baru dalam suasana belajar. Metode ini tentunya akan memberikan kesempatan untuk anak
supaya dapat mengeksplorasi dirinya dalam melakukan kegiatan tertentu dengan senang.
Materi mengenai budaya lokal ini menjadi sebuah dasar dalam proses pembelajaran, agar
mereka memahami serta mengetahui lingkungan budayanya.
Menurut Naela Kusna dalam (Hadi 2020)Pembelajaran berbasis kearifan lokal sangat
penting untuk diterapkan guru dalam pembelajaran yang bermanfaat untuk meningkatkan
pengetahuan dan pemahaman peserta didik serta sebagai media untuk penanaman rasa
cinta terhadap kearifan lokal di daerahnya, penanaman karakter positif sesuai nilai luhur
kearifan lokal serta membekali siswa untuk menghadapi segala permasalahan diluar
sekolah.
Pembelajaran IPS sendiri menurut Sumantri dalam (Alidawati 2019)merupakan
sebuah pembelajaran yang dimana di dalamnya mencakup unsur sosial, politik, ekonomi,
sejarah, geografi, dan agama. Di dalam sebuah pembelajaran IPS hal yang sangat penting
adalah pengembangan serta pemahaman prilaku dan kreativitas.
Secara garis besar, ada tiga tujuan utama pembelajaran IPS. Pengembangan Aspek
Pengetahuan, Aspek Nilai dan Kepribadian, serta Aspek Keterampilan Tujuan Pendidikan
IPS adalah agar peserta didik memiliki bakat, minat, keterampilan, dan lingkungan. Dalam
konteks ini bermaksud untuk mewujudkan manusia berkualitas yang dapat membangun diri
dan bertanggung jawab dengan melihat hubungan antara manusia dengan manusia,
manusia dengan lingkungan, dan manusia dengan penciptanya dalam rangka
mengembangkan sikap dan keterampilan Berpikir Kritis dan Kreatif Siswa di Jepang

Jurnal Pendidikan Tambusai 4273


ISSN: 2614-6754 (print) Halaman 4270-4276
ISSN: 2614-3097(online) Volume 6 Nomor 1 Tahun 2022

Mengambil Tanggung Jawab untuk Pembangunan Nasional dan Nasional dan Lingkungan
Perdamaian Dunia(Yusnaldi 2546)
Sedangkan tujuan pembelajaran IPS adalah membekali siswa dengan keterampilan
dasar dan mendidik mereka agar tumbuh sesuai dengan bakat, minat, kemampuan, dan
lingkungannya dalam bidang pembelajaran IPS. Target yang lebih spesifik dijelaskan di
bawah ini (Yusnaldi 2546)
1. Mengembangkan konsep dasar sosiologi, geografi, ekonomi, sejarah dan
kewarganegaraan melalui pendekatan pedagogis dan psikologis.
2. Mengembangkan pemikiran kritis dan kreatif, penelitian, pemecahan masalah dan
keterampilan sosial
3. Membangun komitmen dan kesadaran akan nilai-nilai sosial dan kemanusiaan.
4. Tingkatkan kemampuan siswa untuk berkolaborasi dan menunjukkan kemampuan siswa
dalam masyarakat multidimensi, secara nasional dan global.

Penerapan Pemahaman Budaya


Anak usia dasar adalah anak yang masih sangat mudah untuk dibentuk dan
diarahkan. Penerapan pembelajaran IPS dalam upaya meningkatkan pemahaman anak usia
tersebut sangatlah penting. Karena seperti yang kita ketahui usia tersebut sangatlah rentan
terpengaruh oleh perkembangan zaman, mereka belum tahu mana yang benar dan salah.
Tidak sedikit kasus dimana anak usia ini meniru kakaknya ataupun temannya yang lebih
dulu menyukai kebudayaan asing.
Menurut Triani dalam (Hadi 2020) Belajar dengan langsung melibatkan anak di dalam
kehidupan bermasyarakat dapat menimbulkan tingkatan keterampilan para siswa dalam
melihat sebuah peluang maupun potensi yang bisa mereka kembangkan lagi di lingkungan
mereka.
Dari pernyataan tersebut sebenarnya dengan adanya Pembelajaran IPS dapat
membantu meningkatkan pemahaman anak terhadap penerapan budaya lokal, namun harus
dalam bentuk yang nyata atau benar-benar ada di lingkunga mereka, karena seperti yang
kita ketahui bahwasannya di dalam pembelajaran IPS ada yang namanya interaksi sosial
yang dimana anak harus memiliki interaksi sosial yang baik agar komunikasi dengan teman
juga berjalan dengan baik, kemudian ketika anak sudah memiliki intraksi yang baik, maka
peran guru dan orang tua sangat penting untuk terus mengenalkan budaya lokal yang ada,
dan setelah itu anak bisa memberitahu temannya mengenai budaya lokal yang ada.
Hal yang harus diingat juga bahwa banyak warisan budaya indonesia yang diakui
oleh dunia seperti wayang, batik, angklung, tari saman dan lain sebagainya Dengan adanya
pengakuan dunia mengenai warisan budaya indonesia harusnya hal ini menjadi modal
utama guru untuk menyampaikan kepada siswa betapa kayanya indonesia dengan segala
keanekaragaman budayannya.
Menurut (Ode & Rachmawati, 2017) dalam (Arifin 2020) unsur-unsur budaya lokal
yang dapat digunakan sebagai media pendidikan resolusi konflik terdiri dari 1) sistem
bahasa, 2) sistem peralatan hidup dan teknologi, 3) sistem ekonomi dan mata pencaharian
hidup, 4) sistem kemasyarakatan dan organisasi sosial, 5) kesenian, dan 6) sistem
kepercayaan.
Dari pendapat tersebut sebenarnya bisa kita lihat bahwa untuk mengenal budaya
bisa diawali dengan bahasa, karena seperti yang kita ketahui bahwa bahasa kita gunakan
dalam kehidupan sehari-hari, kemudian tak hanya itu, kemajuan teknologi seharusnya kita
manfaatkan sebagai media untuk memperkenalkan budaya asli Indonesia pada peserta didik
atau bahkan juga bisa kita kenalkan pada dunia.
Sistem kepercayaan menjadi salah satu sistem yang dapat digunakan sebagai
pelestarian budaya, seperti yang di lakukan oleh para warga Bali. Warga Bali dikenal dengan
budaya dan keagamaannya yang kental, karena budaya dan keagamaan disana menjadi
suatu hal yang tidak dapat dipisahkan. Jika mendengar Bali satu hal yang selalu terlintas
dipikiran adalah tari kecak. Tari kecak merupakan tari khas bali yang dimana tari ini tidak
hanya menceritakan mengenai perwayangan tetapi juga memilki filosofi dan makna yang

Jurnal Pendidikan Tambusai 4274


ISSN: 2614-6754 (print) Halaman 4270-4276
ISSN: 2614-3097(online) Volume 6 Nomor 1 Tahun 2022

mendalam, pada setiap gerakan yang ada di tarian tersebut memgandung sebuah makna
bahwa manusia percaya pada Tuhan sebagai sosok yang melindungi dan Maha Penolong.
Tarian ini biasanya dipimpin oleh tokoh agama, yang diawali dengan dibakarnya dupa.
Tujuan adanya tokoh agama dan melakukan gerakan tersebut dipercayai supaya
mendapatkan keselamatan serta kelancaran dari Sang Hyang Widhi.
Peran orang tua dan guru dalam meningkatkan pemahaman mengenai budaya local
dapat dilakukan dengan cara:
1. Membawa anak pergi ke tempat yang memiliki unsur budaya ataupun sejarah, seperti
museum
2. Biasakan anak untuk berbicara bahasa Indonesia dan Bahasa daerahnya
3. Memasukkan anak ke dalam sanggar tari daerah
4. Memberikan pembelajaran sejarah, terutama mengenai kebudayaan Indonesia
5. Memanfaatkan tektonolgi untuk memberikan edukasi mengenai kebudayaan

SIMPULAN
Kebudayaan merupakan sesuatu yang diciptakan oleh manusia yang ada
dikehidupan bermasyarakat. Kebudayaan merupakan ciri dari suatu daerah, yang dimana
kebudayaan ini harus terus dijaga dan dilestarikan. Pada perkembangan zaman seperti ini
banyak budaya asing yang masuk ke indonesia yang saat ini seolah ingin menggeser
budaya indonesia. Generasi muda indonesia harus dapat menyaring kebuadayaan-
kebudayaan asing yang masuk ke indonesia agar kebudayaan indonesia tetap dicintai dan
tidak terganti. Generasi muda harus cinta dengab kebudayaaan indonesia dan tidak boleh
ada rasa gengsi untuk mengakui kebudayaan Indonesia karena seperti yang kita ketahui
bahwasannya kebudayaan di Indonesia sudah banyak diakui di dunia dan hal ini seharusnya
menjadi dasar untuk terus melestarikan budaya Indonesia.
Pengaruh budaya asing tidak hanya berdampak pada para remaja saja tetapi tidak
sedikit kasus anak usia dasar jauh lebih mengenal kebudayaan asing seperti kebudayaan
negara korea. Hal ini harus menjadi perhatian kusus dan hal ini dapat di atasi dengan salah
satunya menjadikan pendidikan sebagai media dalam memperkenalkan budaya pada
generasi muda Indonesia terutama pada anak sekolah dasar, salah satu pembelajaran yang
mengandung unsur budaya yaitu pembelajaran IPS.
Dalam penerapannya budaya harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari,
misalnya digunakannya bahasa daerah dalam kehidupannya, kemudian juga dapat
melestarikan budaya dengan memanfaatkan sistem kepercayaan sebagai medianya seperti
yang dilakukan warga Bali. Adapun peran orang tua dan guru, yang diman mereka sangat
berperan dalam meningkatkan pemahaman anak terhadap kebudayaan yang ada di
Indonesia. Kemudian kita juga harus memanfaatkan teknologi yang ada agar kita dapat terus
melestarikan budaya dan memperkenalkannya pada seluruh dunia.

DAFTAR PUSTAKA
[Link], Nursaptini, W. Arif. 2020. “Melestarikan Kembali Budaya Lokal Melalui Kegiatan
Ekstrakulikuler Untuk Anak Usia Sekolah Dasar.” Cakrawala Jurnal Penelitian Sosial
9(2): 149–66. [Link]
Alidawati, Alidawati. 2019. “Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Dengan Menggunakan
Media Gambar Berupa Rumah Adat Tentang Keragaman Budaya Di Indonesia Pada
Pelajaran IPS Di Kelas V SD Negeri 03 Kota Mukomuko.” Indonesian Journal of Social
Science Education (IJSSE) 1(1): 78–84.
[Link]
Anggreni, Made Ayu, Syarif Sumantri, and Nurbiana Dhieni. 2022. “Kompetensi Guru Dalam
Penerapan Budaya Pada Lembaga PAUD Di Indonesia.” 6(4): 3160–68.
Arifin, Muh. Husen. 2020. “Efektivitas Peranan Budaya Lokal Dan Penguatan Karakter
Sebagai Media Pendidikan Resolusi Konflik Pada Mata Kuliah Pancasila Dan
Kewarganegaraan.” Jurnal Kolaborasi Resolusi Konflik 2(1): 32.
Hadi, Eko samsul. 2020. “Eko Samsul Hadi.” Inspirasi 17(1): 254–60.

Jurnal Pendidikan Tambusai 4275


ISSN: 2614-6754 (print) Halaman 4270-4276
ISSN: 2614-3097(online) Volume 6 Nomor 1 Tahun 2022

Karolina. D, Randy. 2021. “Kebudayaan Indonesia.” Eureka Media Aksara (1): 1–131.
Teng, H. Muhammad. A. 2017. “Filsafat Kebudayaan Dan Sastra (Dalam Perspektif
Sejarah).” 5(1): 2354–7294.
Widiastuti, Siwi. 2015. “Pembelajaran Proyek Berbasis Budaya Lokal Untuk Menstimulasi
Kecerdasan Majemuk Anak Usia Dini.” Jurnal Pendidikan Anak 1(1): 59–71.
Yusnaldi, Eka. 2546. “Potret Baru Pembelajaran IPS.” (2).

Jurnal Pendidikan Tambusai 4276

Anda mungkin juga menyukai