1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Balakang
Serangga (Insekta) digolongkan dalam phylum Arthropoda. Serangga
sebagai salah satu golongan hewan penghuni terbesar dimuka bumi.
Diperkirakan bahwa jumlah seluruh serangga menduduki tiga perempat
bagian dari semua hewan yang ada, dan dari jumlah tersebut 750.000 spesies
telah berhasil diketahui dan diberi nama. Jumlah tersebut merupakan lebih
kurang 80% dari phylumnya sendiri (Sunjaya, 1994).
Serangga hidup kurang lebih 350 juta tahun yang lalu dan menyebar ke
seluruh tempat untuk beradaptasi dan berkembang biak, keberadaan serangga
bagi manusia dapat memberikan keuntungan dan kerugian. Peranan serangga
di alam sangat penting, diantaranya sebagai dekomposer atau pengurai,
serangga juga membantu penyerbukan pada tumbuhan dan sebagai hama
penyakit yang sangat merugikan petani (Borror et al, 1981).
Sejak manusia melakukan budidaya pertanian, maka sejak itu manusia
berkompetisi dengan serangga yang berstatus sebagai hama untuk mencukupi
kebutuhan demi kelangsungan hidupnya, sedangkan manusia berusaha untuk
melindungi tanaman atau hasilnya dari gangguan serangga hama. Serangga
merupakan suatu organisme yang memerlukan tempat hidup dan memerlukan
kegiatan biologis lainnya pada suatu tempat yang tidak dikehendaki oleh
manusia karena alasan tertentu. Serangga pada tanaman dapat berbentuk
serangga kecil, sampai yang tidak muda dilihat. Serangga ordo coleoptera
2
dapat merusak tanaman dengan cara mengerat, mengigit-gigit, dan menghisap
setiap bagian tananam (Pracaya, 1992).
Cara penyerangan serangga pada tanaman baik berupa telur maupun
imago, serangga memiliki alat indera yang tajam untuk menemukan tanaman
inang yang disukainya (Rismunandar, 1983). Serangga polinator merupakan
serangga yang berperan dalam proses penyerbukan tanaman. Penyerbukan
adalah peristiwa transfer serbuk sari dari kepala sari (anther) ke kepala putik
(stigma). Sudah bukan hal yang baru lagi peran serangga dalam proses
penyerbukan. Lebah misalnya, dilaporkan membantu penyerukan 16% dari
spesies tanaman berbunga di seluruh dunia, 400 spesies diantaranya adalah
tanaman pertanian. Jenis serangga polinator diantaranya dari ordo
Hymenoptera, Diptera, Lepidoptera, dan Coleoptera. Banyak investigasi
secara konsisten juga menegaskan peningkatan hasil tanaman dengan
pengelolaan serangga penyerbuk yang baik, yaitu terjadi peningkatan 50-60%
dalam buah-buahan dan tanaman juga 100-150% pada tanaman
Cucurbitaceae (Natawigena, (1991).
Akan tetapi, meskipun penyerbukan oleh serangga diketahui memberikan
beberapa keuntungan, diantaranya berperan dalam perbaikan lingkungan,
meningkatkan jumlah buah dan biji serta mampu memperbaiki kualitas dan
kuantitas (fenotip dan genotip) keturunan yang dihasilkan, namun peran
serangga sebagai penyerbuk ini belum dipahami dengan baik dan
diaplikasikan secara optimal. Salah satu bukti nyata untuk hal ini adalah
dilakukannya fragmentasi lahan, budidaya tanaman monokultur, penggunaan
pestisida ( Zulkarnain, 2013).
3
(a) (b)
Gambar 1: Penyerbukan Serangga pada Tanaman Mentimun
(Sumber: Dok. Pribadi, 2014)
Tanaman mentimun (Cucumis sativus L.) yang termasuk tumbuhan
merambat atau merayap ini merupakan salah satu jenis sayuran buah dari
family labu-labuan (Cucurbitaceae) yang suda popular diseluruh dunia dan
digemari dari benua Asia. Menurut sejarah mentimun berasal dari bagian
utara india dan Afrika Selatan kemudian masuk kewilayah mediteran. Pada
tahun 1982, de Condolle memasukkan tanaman ini kedalam daftar tanaman
asli india tepatnya di lereng Gunung Himalaya (Sumpena, 2001).
Budidaya timun di Indonesia, dijumpai hampir di setiap daerah, mulai
dari dataran rendah hingga dataran tinggi yang beriklim panas (tropis)
maupun sedang (sub-tropis) (Zulkarnain, 2013). Pada umumnya mentimun
disajikan dalam bentuk olahan segar, seperti acar, asinan, salad dan lalap.
Mentimun dapat pula dikonsumsi sebagai minuman segar berupa jus, sebagai
bahan kosmetik dan dalam bidang obat-obatan (Rukmana, 1994).
Di Kecamatan Makarti Jaya Kabupaten Banyuasin II. banyak terdapat
kebun mentimun (Cucumis sativus L.), ditanaman pada lahan pertanian atau
kebun. Serangga pada tanaman mentimun ini perlu diketahui karena serangga
4
ini dapat menurunkan produktivitas tanaman mentimun dan untuk
mengetahui serangga ordo Coleoptera apa saja yang menyerang tanaman
mentimun. Selama ini yang menjadi tolak ukur dalam pembudidayaan
tanaman mentimun adalah pada produktivitas buah yang dihasilkan, namun
kadang kala petani mengeluh dan konsumen sedikit kecewa karena buah yang
dihasilkan tidak sesuai dengan yang diharapkan, seperti terdapat bercak-
bercak putih pada buahnya kemudian buah menjadi busuk, berlubang-lubang
kecil, buah berwarna kekuning-kuningan dan keriput, hal ini menyebabkan
turunnya produktivitas buah mentimun.
Adanya serangga pada tanaman mentimun tidak hanya pada buah, tetapi
ada pada organ lain tanaman, seperti pada batang, daun, bunga dan buahnya.
Disamping itu juga faktor-faktor yang mempengaruhi kehidupan serangga
adalah faktor abiotik berupa suhu, cahaya, air, kelembaban, tanah, udara dan
tekanan udara. Sedangkan faktor biotik berupa hubungan timbal balik antara
individu dari spesies. Kehadiran hama-hama pada tanaman mentimun dapat
menggangu tanaman mentimun. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan
untuk mendapatkan informasi tentang serangga ordo Coleoptera yang
berasosiasi dengan tanaman mentimun di Kecamatan Makarti Jaya Kabupaten
Banyuasin II.
Dalam penelitian ini lokasi terfokus pada tanaman mentimun dan
serangga ordo Coleoptera. Berdasarkan survei yang sudah saya lakukan pada
tanggal 30 Juli 2014 perkebunan ini kurang perawatan dari pemiliknya,
sehingga banyak rerumputan tumbuh dan menyebabkan banyak serangga
yang tertarik untuk mencari makan maupun berkembang biak disekitar
5
tanaman maupun ditanaman mentimun tersebut. Akibatnya mempengaruhi
pertumbuhan dan perkembangan mentimun, Selain itu juga dapat
menyebabkankan kematian tanaman mentimun. Kerusakan dan kematian
tanaman mentimun merupakan masalah penting bagi para petani mentimun
(Ahmad, 2007).
Identifikasi sangat penting dilakukan terutama dalam memahami tanda-
tanda karakteristik seperti yang berkenaan dengan morfologi (bentuk luar)
tanaman mentimun (Tjitrosoedirjdjo, 1994). Identifikasi adalah proses
pengenalan takson biologi dengan cara membandingkan atau menyamakan
dengan contoh yang ada sebelumnya. Dengan identifikasi dapat di bedakan
komponen-komponen yang satu dengan yang lainnya, suatu komponen itu
dikenal dan diketahui masuk dalam golongan mana, sehingga tidak
menimbulkan kebingungan (Elza, 2011 “dalam” Suleha, 2013).
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka masalah yang dikaji dalam
penelitian ini adalah:
1. Jenis spesies apakah dari Ordo Coleoptera yang terdapat pada tanaman
mentimun dari umur 1 bulan sampai masa panen di Desa Tirta Mulya
Kecamatan Makarti Jaya Kabupaten Banyuasin II?
2. Bagaimanakah peranan Serangga Ordo Coleoptera tersebut pada tanaman
mentimun di Desa Tirta Mulya Kecamatan Makarti Jaya Kabupaten
Banyuasin II.
6
C. Batasan Masalah
1. Agar tidak meluas dari permasalahan yang ada, batasan masalah
penelitian ini dilakukan di perkebunan mentimun di Desa Tirta Mulya
Kecamatan Makarti Jaya Kabupaten Banyuasin II.
2. Luas seluruh areal tanaman mentimun + 500 m2 dan lahan yang
digunakan untuk penelitian 50 m x 10 m.
D. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan yang diharapkan dalam penelitian ini:
1. Untuk mengetahui berbagai jenis dari spesies Ordo Coleoptera yang ada
pada perkebunan mentimun di Desa Tirta Mulya Kecamatan Makarti
Jaya Kabupaten Banyuasin II.
2. Untuk mengetahui peranan Serangga Ordo Coleoptera pada perkebunan
mentimun di Desa Tirta Mulya Kecamatan Makarti Jaya Kabupaten
Banyuasin II.
E. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat penelitian Inventarisasi dan identifikasi pada
perkebunan mentimun (Cucumis sativus L), sebagai berikut:
1. Manfaat secara teoritis, hasil penelitian di manfaatkan sebagai kontribusi
bagi pengetahuan dalam bidang biologi khususnya pada mata pelajaran
keanekaragaman hayati di kelas X MA/SMA, dan dapat diketahui jenis
serangga ordo Coleoptera serta sebagai bahan referensi untuk penelitian
selanjutnya dan perbaikan untuk saya pribadi kedepannya.
2. Manfaat secara praktis bagi para petani dan masyarakat yaitu, dengan
akan diadakannya sosialisasi setelah penelitian diharapkan para petani
7
dan masyarakat lainnya dapat melakukan langkah terbaik untuk
perlakuan jenis serangga pada ordo Coleoptera yang mengganggu
maupun yang menguntungkan di area perkebunan mentimun, Kecamatan
Makarti Jaya Kabupaten Banyuasin II.
8
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Sistematika Tanaman Mentimun (Cucumis sativus L.)
Tanaman mentimun termaksuk dalam keluarga labu-labuan
(Cucurbitaceae) yang sedikitnya memiliki 750 jenis tanaman yang tumbuh di
dunia. Ada beberapa jenis tanaman yang lain satu family dengan mentimun
diantaranya adalah semangka, waluh, blewa, dan melon. Mentimun (Cucumis
sativus L.) merupakan tanaman semusim (annual) yang bersifat menjalar atau
memanjat (indeterminate) di atas permukaan tanah dengan perantara alat
pemegang yang bentuknya spiral. Tanaman mentimun memiliki batang yang
berwarna hijau, lunak dan berbulu, dengan panjang yang bias mencapai 1,2 m
(Soewito, 1999). Menurut Yamaguchi (1983) tercatat ada sekitar 40 spesies di
dalam genus Curcumis di mana (C. sativus), yang dibudidayakan untuk
dimanfaatkan buah mudahnya, memiliki nilai ekonomis yang sangat penting.
Gambar 2. tanaman Mentimun (Sumber: Dok. Pribadi, 2014)
9
1. Klasifikasi Ilmiah
Menurut Zulkarnain (2013) kedudukan tanaman mentimun dalam tata
nama tumbuhan, diklasifikasikan kedalam:
Kingdom : Plantae
Divisi : Spermatophyta
Sub-divisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledonae
Ordo : Cucurbitaceae
Famili : Cucurbitaceae
Genus : Cucumis
Spesies : Cucumis sativus L.
2. Morfologi Tanaman Mentimun
a. Batang
Mentimun merupakan tanaman semusim (annual) yang bersifat
menjalar atau memanjat dengan perantaraan pemegang yang berbentuk
pilin (spiral). Batangnya basah, berbuluh serta berbuku-buku. Panjang
atau tinggi tanaman dapat mencapai 50 cm - 250 cm, bercabang dan
bersulur yang tumbuh di sisi tangkai daun. Agar pertumbuhannya baik,
batang tanaman ditegakkan sehingga lurus perkembangannya. Dengan
cara seperti ini, diharapkan pangkal batang dapat tumbuh kokoh lurus
sehingga dapat mamacu pertumbuhan tunas dibagian atasnya dan
mengurangi kerimbunan di bagian bawah (Heri dan Abdjad Asih, 2001).
10
Gambar 3. Batang mentimun (Sumber: [Link] , 2014)
b. Daun
Daun mentimun berbentuk bulat lebar dan daun tunggal dengan
bagian ujung yang runcing menyerupai bentuk jantung, tepi bergerigi.
Kedudukan daun pada batang tanaman berselang seling antara satu daun
dengan daun diatasnya, bertangkai panjang dan berwarna hijau. Panjang
7-18 cm dan lebar 7-15 cm daun ini tumbuh berselang-seling keluar dari
buku-buku (ruas) batang (Padmiarso, 2012).
Gambar 4. Daun Mentimun (Sumber: [Link], 2014)
11
c. Bunga
Pada dasarnya tanaman mentimun berbunga sempurna
(hermaphrodite), tetapi pada perkembangan evolusinya salah satu jenis
kelaminnya mengalami degenerasi, sehingga tinggal satu jenis
kelaminnya yang berkembang menjadi bunga secara normal. Para ahli
tanaman menemukan empat macam bunga mentimun, yaitu bunga jantan,
betina, sempurna dan campuran (Shifriss, 1961).
Bunga mentimun bersifat tidak mantap, karena sangat dipengaruhi
oleh keadaan lingkungan. Menurut Sunaryono (1981) terutama untuk
jenis tanaman mentimun yang berada di Indonesia, letak bunga jantan
dan bunga betina berpisah, tetapi masih dalam satu tanaman (pohon) atau
disebut “Monoecious”. Pada variasi kelamin bunga monoceeus,
persentase bunga jantan dan betina hampir sama jumlahnya. Di daerah
yang panjang penyinaran sinar mataharinya lebih dari 12 jam/hari,
intensitasnya tinggi dan suhu udaranya panas, tanaman mentimun
cenderung memperlihatkan lebih banyak bunga jantan (gynoecious) dari
pada bunga betina (Padmiarso, 2012).
Bentuk bunga mentimun mirip terompet yang mahkota bunganya
berwarna putih atau kuning cerah. Bunga jantan dicirikan tidak
mempunyai bagian yang membengkak di bawah mahkota bunga,
jumlahnya lebih banyak, dan keluarnya beberapa hari lebih dulu
dibandingkan dengan bunga betina (Padmiarso, 2012). Sedangkan bunga
betina mempunyai bakal buah yang membengkak, terletak di bawah
mahkota bunga, dan umumya baru muncul pada ruas ke-6 setelah bunga
12
jantan. Bunga betina yang mampu berkembang menjadi buah
(Rismunandar, 1983).
Gambar 5. Bunga Mentimun (Sumber: [Link], 2014).
d. Buah
Buah mentimun letaknya mengantung-gantung dari ketiak antara
daun dan batang. Bentuk dan ukurannya bermacam-macam, tetapi
umumnya bulat panjang atau bulat pendek (Padmiarso, 2012). Kulit buah
ada yang berbintil-bintil, ada pula yang halus. Warna kulit buah antara
hijau keputih-putihan, hijau muda dan hijau gelap (Soewito, 1990).
Kulit buah sangat tipis, basah dan berduri halus yang tersebar secara
tidak beraturan di bagian tengah buah. Kulit berwarna hijau gelap,
terdapat strip membujur berwarna hijau muda yang dimulai dari pangkal
buah hingga ujung buah. Daging buah berwarna putih, lunak, dan
mengandung air dalam jumlah besar. Lapisan paling dalam berupa lender
dan biji dapat dimakan (Heri dan Abdjad Asih, 2001).
13
Gambar 6. Buah Mentimun (Sumber: Pribadi, 2014)
e. Biji
Apabila buah mentimun dibelah memanjang maka akan tampak biji
mentimun yang tersusun teratur dibagian tengah buahnya, berjumlah
banyak dengan bentuk lonjong meruncing (pipih), kulitnya berwarna
putih atau putih kekuning-kuningan sampai coklat. Pada permukaan
bijinya terdapat lendir, sehingga bila digunakan sebagai benih harus
dikeringkan terlebih dahulu. Biji ini dapat digunakan sebagai alat
perbanyakan tanaman (Padmiarso, 2012).
Gambar 7. Biji Mentimun (Sumber: Dok. Padmiarso, 2012)
14
f. Akar
Perakaran mentimun memiliki akar tunggang dan bulu-bulu akar,
tetapi daya tembusnaya relatif dangkal, akar tersebut mampu menembus
hingga kedalaman sekitar 30-60 cm. Oleh karena itu tanaman mentimun
termasuk peka terhadap kekurangan dan kelebihan air (Padmiarso, 2012).
Gambar 8. Akar Mentimun (Sumber: [Link], 2014)
Varientas-varientas mentimun dapat dibedakan berdasarkan permukaan
kulit luarnya, dikelompokan menjadi dua golongan yaitu golongan mentimun
dengan permukaan kulit buah yang berbintil menyerupai jerawat terutama
dibagian pangkal buahnya dan mentimun yang permukaan kulit buah halus
atau tidak berbintil (Padmiarso, 2012).
Ada 3 golongan mentimun yang kulit buahnya berbintil :
1. Mentimun biasa yang dikenal dengan sebutan ketimun yang memiliki
kulit buah tipis dan lunak. Buah mudanya berwarna hijau keputihan dan
setelah tua berubah menjadi coklat.
2. Mentimun watang yang dicirikan dengan kulit buahnya yang tebal dan
agak keras. Buah mudanya berwarna hijau keputian dan setelah tua atau
masak berubah menjadi kuning tua.
15
3. Mentimun wuku yang dicirikan kulit buahnya agak tebal, buah mudanya
berwarna agak coklat (Padmiarso, 2012).
Adapun golongan mentimun yang tidak mempunyai bintil atau halus
pada buahnya antara lain :
1. Mentimun krai besar, memiliki buah dengan ukuran besar dan rasa yang
sama seperti mentimun biasa.
2. Mentimun suri (Boteng suri), memiliki buah yang berukuran lebih besar
dibandingkan dengan mentimun krai besar dan berbentuk lonjong ovol.
Jenis mentimun local dan mentimun suri tersebut diatas, suda banyak
dibudidayakan berbagai daerah. Namun akhir-akhir ini banyak
dikembangkan jenis mentimun hibrida yang memiliki produksi lebih
tinggi. Mentimun hibrida ini biasanya diproduksi perusahaan beni
(Samadi, 2002).
B. Ekologi Mentimun (Cucumis sativus L.)
Daya adaptasi tanaman mentimun terhadap berbagai iklim (lingkungan
tumbuhnya) cukup tinggi dan tidak memerlukan persyaratan khusus karena
dapat ditanam dengan baik didataran tinggi maupun dataran rendah. Namun
untuk memperoleh produksi optimal perlu diperhatikan beberapa persyaratan
tertentu (Sunaryono, 1984). Tanaman mentimun akan tumbuh dan
memproduksi dengan baik apabila ditanam pada kondisi tanah dan iklim
yang cocok dengan tanaman mentimun tersebut. Di Indonesia yang iklimnya
tropis mentimun dapat di tanam dari dataran rendah hingga dataran tinggi +
1.000 meter diatas permukaan laut (Zulkarnain, 2013).
16
Selama pertumbuhannya, tanaman mentimun membutuhkan iklim
kering, sinar matahari yangn cukup (tempat terbuka), dan temperatur berkisar
antara 21,10C – 26,70C panjang atau lama penyinaran, intesitas cahaya, dan
suhu udara, merupakan factor yang sangat penting, karena berpengaruh
terhadap munculnya bunga betina. Tanaman mentimun kurang baik ditanam
dimusim penghujan, karena bunganya dapat berguguran, sehingga berkurang
hasil buahnya (Padmiarso, 2012).
Tanaman timun tumbuh dengan baik di tanah lempung, yang subur dan
gembur, banyak mengandung humus, tidak menggenang (becek), dan pH-nya
berkisar antara 6-7, serta memiliki drainase yang baik. Jenis tanah yang cocok
untuk penenneman mentimun adalah tanaman alluvial, latosol, dan andosol.
Keasaman tanah yang dikehendaki berkisar antara 5,5-6,5. Suhu tanah
hendaknya 200 atau lebih, suhu tanah yang optimum untuk perkecambahan
benih adalah 25-350 C. Pada suhu tanah sekitar 20 C, dibutuhkan waktu 6-7
hari untuk munculnya kecambah, sedangkan suhu tanah 250 C, dibutuhkan
waktu perkecambahan yang lebih singkat, yaitu antara 3-4 hari (Zulkarnain,
2013).
Meskipun timun termasuk golongan tanaman dengan sistem perakaran
yang dangkal, tanaman ini membutuhkan kelembaban tanah yang memadai
untuk berproduksi dengan baik. Pada musim hujan, ketika suhu udara
cenderung dingin, umumnya kelembaban tanah sudah cukup memadai untuk
penanaman timun. Pada prinsipnya, pertumbuhan tanaman akan lebih baik
dan hasil panen akan meningkat bila tanaman diberi air tambahan selama
musim tumbuhnya. Di daerah yang beriklim kering, dibutuhkan setidaknya
17
400 mm air, selama musim tanam timun untuk mendapatkan pertumbuhan
dan produksi yang baik (Zulkarnain, 2013).
Tanah-tanah yang sifat fisik, kimia dan biologinya kurang baik sering
kali menghambat pertumbuhan tanaman mentimun, sehingga produksinya
menurun dan kualitasnya rendah, misalnya, keadaan pH tanah terlalu rendah
atau masam (di bawah 5) dapat menyebabkan tanaman mentimun kekurangan
unsure hara, dan garam-garam mineral seperti Alumunium bersifat racun bagi
tanaman. Tanah yang becek dapat memudahkan berjangkitnya serangan
penyakit. Oleh karena itu dalam pengelolahan lahan untuk kebun mentimun
perlu diperhatikan perbaikan drainase, pengolahan tanah secara sempurna,
pemberian bahan organik, dan pengapuran (Padmiarso, 2012).
C. Serangga Ordo Coleoptera
Nama Coleoptera berasal dari kata “Koleos” yang artinya perisae dan
“ptera” yang artinya sayap. Sayap depan ordo ini (elytra) mengeras dan
berfungsi melindungi tubuh serta sayap belakang yang terlipat dibawah sayap
depan pada saat hinggap. Pada sayap hinggap kedua sayap depan membentuk
satu garis lurus (Borror, 1992).
Memiliki alat mulut pengigit pengunyah, ada yang mulutnya muncul di
ujung moncong yang memanjang. Tarsus terdiri atas 2-5 segmen. Sayap
belakang membraneus dan terlihat dibawah sayap depan pada saat serangga
ini istirahat. Sayap belakang ini umumnya lebih panjang dari pada sayap
depan dan digunakan untuk terbang (Jumar, 2000).
Coleopteran merupakan ordo yang terbesar dalam jumlah spesiesnya dan
+ dari 30.000 kumbang ini ada di Amerika Serikat dan Kanada. Kumbang-
18
kumbang ini bervariasi panjangnya (di Amerika Serikat) dari kurang satu
millimeter sampai kurang 75 mm (Borror, 1992). Serangga ini terdapat
diberbagai tempat dan banyak spesiesnya merupakan pemakan tanaman serta
bahan simpanan (hama gudang), beberapa sebagai predator dan sebagai
saprofag (Jumar, 2000).
Gambar: 9. Struktur Coleoptera
[Link]
Menurut Jumar (2000) sifat-sifat karakteristik yang digunakan dalam
identifikasi adalah kepala, sungut, sklerit-sklerit toraks, tungkai-tungkai,
venasi sayap (elytra), antenna, abdomen, kaki dan sifat-sifat yang lain. Ordo
Coleoptera ini dibagi menjadi dua subordo, yaitu:
1. Subordo Adephage, dengan koksa tungkai belakang yang membagi
stemum abdomen pertama yang kelihatan, memiliki antena yang
berbentuk rambut, tarsi 5-5-5, dan bersifat pemangsa. Contoh serangga
dari subordo ini, antara lain: Calosoma sycophanta L. (Carabidae), yang
berperan sebagai predator gypsy moth. Ophionea nigrofasciata
19
(Carabidae) merupakan predator jenis larva hama padi. Cicindela
sexquttata F. (Cicindelidae)
2. Subordo Polyphage, dengan ciri stemum abdomen pertama yang
kelihatan tidak terbagi oleh koksa-koksa tungkai belakang dan sutura
notopleura tidak ada. Contoh serangga dari subordo ini, antara lain:
Harmonia octamaculata F. (Coccinelidae), merupakan predator telur,
nimfa, dan dewasa wareng hijau. Tribolium casteneum Hbst.
(Tenebrionidae), merupakan hama perusak beras, jagung dan bekatul
dalam simpanan. Kumbng ini memiliki mata majemuk (facet) besar,
tanpa mata tunggal (ocellus). Abdomen memiliki 10 ruas dan pada
daerah sternum ruas-ruas ersebut tidak semua terlihat. Pada kumbang
jantan, protoraks dan mandibula kerap kali membesar dan digunakan
unuk berkelahi.
D. Peranan Serangga Ordo Coleoptera dalam Ekosistem
Suatu ekosistem terdiri dari semua organisme yang hidup dalam suatu
komunitas dan juga semua faktor-faktor abiotik yang berinteraksi dengan
organisme tersebut (Campbell, 2003). Dalam suatu komunitas terdapat
berbagai macam organisme menurut Tarumingkeng (1994) pada hakekatnya
makhluk hidup di bumi ini hidup tidak sendirian atau hanya bersama
individu-individu dari masyarakat kalangannya sendiri. Semua makhluk
hidup memerlukan habitat untuk hidup dan memperoleh makanan, hal inilah
yang menimbulkan berbagai interaksi.
Sambas (2003) memaparkan bahwa interaksi populasi berpengaruh
terhadap kelangsungan kehidupan pertumbuhan populasi. Demikian pula
20
halnya pada serangga yang berinteraksi dengan tanaman, jika serangga tidak
mendapatkan nutrisi maka pertumbuhan populasi serangga dapat menurun.
Berarti beragam organisme ikut berperan dalam kelangsungan hidup dari
organisme yang lain di ekosistem.
Ekosistem yang dikatakan seimbang apabila semua komponen baik biotik
maupun abiotik berada pada porsi yang seharusnya baik jumlah maupun
peranannya pada lingkungan. Dalam ekosistem terjadi peristiwa makan
memakan yang kita sebut dengan istilah rantai makanan. Idealnya dalam
sebuah rantai makanan jumlah masing-masing anggotanya harus sesuai
dengan aturan ekosistem. Serangga ikut berperan dalam proses rantai
makanan tersebut, yang dapat mempengaruhi keseimbangan ekositem.
Serangga bertindak sebagai konsumen primer dapat mengalami laju
pertumbuhan yang tinggi, jika tidak diimbangi dengan predator (konsumen
sekunder), maka akan mengakibatkan terjadinya ledakan populasi pada suatu
ekosistem tersebut, sehingga ekosistem menjadi tidak seimbang.
Serangga sebagai penghubung antara produsen primer dan konsumen
sekunder ini memiliki berbagai peran. Dalam bukunya Susetya (1994)
memaparkan bahwa, selain berperan sebagai pemakan tumbuhan serangga
juga sebagai parasitoid, predator, pemakan bangkai, penyerbuk, dan sebagai
penular bibit penyakit. Lebah yang termasuk dalam Ordo Coleoptera
memiliki kemampuan untuk membantu penyerbukan tumbuhan, karena tubuh
lebah ditutupi bulu-bulu halus yang berguna untuk menangkap serbuk sari
yang diperoleh dari bunga. Serbuk sari yang terkumpul disisihkan ke wadah
khusus yang terdapat di tungkai belakang. Mulutnya berbentuk tabung
21
panjang yang dipakai untuk menghimpun nectar yang disimpan dalam
lambung tembolok (Sarwono, 2001).
Jika tumbuhan dapat melakukan reproduksi secara maksimal maka
serangga yang berperan sebagai herbivora dapat memperoleh cukup nutrisi.
Jika terjadi ledakan populasi pada serangga herbivora hal ini juga dapat di
antisipasi dengan adanya musuh alami. Predator dari ordo Coleoptera seperti
kumbang, tumbuhan dan lain-lain menguntungkan bagi kehidupan manusia.
Jika musuh alami yang ada di ekositem kebun diperlakukan dengan benar,
maka mereka dapat memberikan keuntungan bagi kita yaitu melindungi
tanaman dari serangan hama ( Mele,Van, P. dan Cuc, N.T, 2004).
E. Peranan Tumbuhan Bagi Serangga
Serangga tertarik pada tumbuhan, baik untuk makanan atau sebagai
tempat berlindung. Bagian-bagian yang disediakan adalah daun, tangkai
maupun batang, juga madu, buah dan cairan tanaman. Beberapa bagian
tanaman dapat dipakai untuk membuat tempat berlindung ataupun membuat
kokon (Hadi dkk, 2009). serangga memiliki alat indera yang tajam untuk
menemukan tanaman inang yang disukainya. Sebaliknya, serangga dapat juga
diusir oleh adanya berbagai sifat fisik tanaman, misalnya: bulu rambut
panjang dan rapat pada daun dan batang, keadaan daun yang kuat dan liat,
kandungan zat kimia beracun ataupun zat resin di dalam tanaman hampir 50%
dari serangga adalah pemakan tanaman atau fitofagus, selebihnya adalah
pemakan serangga lain, binatang lain atau sisa-sisa tanaman dan binatang
(Sastrodihardjo, 1979).
22
F. Serangga Ordo Coleoptera pada Tanaman Mentimun
Serangga pada tanaman mentimun sangat banyak jumlahnya, seperti pada
bagian daun, batang, bunga dan buahnya. Kerusakan-kerusakan yang
disebabkan oleh serangga baik berupa telur larva dan imago (Borror et al,
1992). Serangga maupun tumbuhan dapat memperoleh keuntungan yang
timbal balik, tetapi biasanya serangga selalu memperoleh makanan dari
tumbuhan, sehingga merugikan bagian tanaman (Sastrodihardjo, 1984).
Menurut Tjahjadi (1989) serangga dapat merusak tanaman dengan cara :
1. Memakan bagian tanaman dengan cara menggerak batang, cabang, buah
dan biji.
2. Menghisap cairan daun sehingga daun menjadi keriting.
3. Menggorok daun, yaitu membuat terowongan antara epidermis atas dan
epidermis bawah.
4. Membawa serangga lain ketanaman, lalu serangga tersebut berkembang
biak dan merusak tanaman.
5. Menularkan organism penyakit tanaman atau membuat luka pada
tanaman.
Di bidang pertanian fungsi serangga sebagai pembantu terjadinya
penyerbukan, predator, parasitoid, atau musuh alami, sedangkan dari sisi
ekonomi serangga juga berfungsi bagi lingkungan sebagai pemakan bangkai
dan pemakan kotoran (sakrofag). Di bidang medis fungsi serangga untuk
pengobatan, dan bidang sains berguna untuk bahan penelitian (Mitchell, 2003
”dalam” Fitri, 2012).
1. Kumbang oteng-oteng (Aulacophora similis)
23
Kumbang ini termasuk dalam ordo coleopteran, penyerangannya dengan
cara meletakan telur ketanah dekat tanaman, larva memakan jaringan akar,
kumbang memakan daun dan bunga, kumbang ini berwarna kuning
kecoklatan, dan juga merupakan vector penyakit virus dan layu (Rukmana,
1994).
Hama oteng-oteng ini bersifat polifage (pemakan segala jenis tanaman),
aktif menyerang pada malam hari, dan terlindung dibalik daun pada siang
hari, hama oteng-oteng bergerak cepat karena memiliki sayap untuk bergerak.
Serangga oteng-oteng ditandai dengan adanya lubang-lubang pada daun
karena daging daun dimakan, sehingga pada serangga yang cukup berat hanya
akan tersisa tulang-tulang daun saja (Sumpena, 2001).
Gambar 10. Spesies Aulacophora similis (Sumber: [Link]
2. Kumbang lucanid (Lucanidae)
Karena kumbang ini bersifat saproxylic yaitu sebagai pengurai bahan
organik (kayu mati) di hutan. Kumbang lucanid dewasa memiliki panjang
badan bervariasi antara 1 sampai 9 cm dengan rahang atau mandibula yang
besar serta kuat terutama pada jantannya dan memiliki tipe mulut pengigit
dan pengunyah. Kepala larvanya juga dilengkapi dengan mandibula yang
24
kuat serta keras dan hal ini sangat berguna dalam mengebor atau merombak
kayu lapuk (Roni dkk, 2010).
3. Kumbang daun (Phaedonia inclusa)
Menurut Lilies (1991) “dalam” Saraswati (2010) Phaedonia inclusa
(Stal) diklasifikasikan sebagai berikut :
Ordo : Coleoptera
Famili : Crysomelidae
Genus : Phaedonia
Spesies : Phaedonia inclusa (Stal)
Deskripsi :
Tubuh relatif kecil, pendek gemuk dan bulat telur, banyak berwarna
cerah dan mengkilap. Kepala tidak memanjang mencadi moncong. Ujung
abdomen biasanya tertutup elytra. Antena pendek, kurang dari setengah
panjang tubuh. Tarsis nampaknya 4-4-4 tetapi sesungguhnya 5-5-5 (ruas ke-4
kecil) larva umumnya abu-abu kehitaman, agak gemuk dan mempunyai
seperti duri-duri di permukaan tubuhnya. Biasa ditemukan diareal pertanaman
budidaya. Larva ada yang hidup di tanah. Telur diletakan dalam tanah atau
didaun berpupa di permukaan tanah. Dewasa sering menjatuhkan diri dari
tanamn dan diam seolah-olah mati bila ada yang merasa menggangu.
Kumbang ini aktif sepanjang hari. Menurut Julinda wati (2012) hama yang
memakan daun tampak berlubang, daun tinggal tulang, juga makan pucuk
bunga. Cara pengendaliannya, penanaman serentak; dengan penyemprotan
Agnotion 50 EC, azodrin.
25
4. Kumbang macan (Cicindela hirtocollis)
Menurut Borror [Link], (1992) “dalam” Rani, (2012) kumbang macan
(Cicindela hirtocollis) diklasifikasikan sebagai berikut :
Kindom : Animalia
Filum : Arthropoda
Kelas : Insekta
Ordo : Coleoptera
Familia : Carabidae
Genus : Cicindela
Spesies : Cicindela hirtocollis (Kumbang macan)
Deskripsi :
Cicindela hirtocollis memiliki kepala lebar atau lebih lebar dari
pronotum, pronotum lebih sempit dibandingkan sayap depan. Spesies ini
memiliki kaki panjang dan ramping, warna tubuh metalik kecoklatan, hitam
atau hijau dan bercorak warna warni. Cicindela hirtocollis di temukan diareal
yang terbuka dan banyak terkena sinar matahari. Spesies ini menangkap
magsa dengan mandibula yang berbentuk sabit, dan bersifat sebagai predator.
Gambar: 11. Spesies Cicindela hirtocollis (Sumber: [Link]
26
5. Kumbang Koksi (Epilachna sp)
Menurut borror [Link], (1992) “dalam” Suleha, (2012) Epilachna sp dapat
diklasifikasikan sebagai berikut :
Kindom : Animalia
Filum : Arthropoda
Kelas : Insekta
Ordo : Coleoptera
Familia : Coccinelidae
Genus : Epilachna
Spesies : Epilachna sp (Kumbang koksi)
Deskripsi :
Epilachna sp memiliki sayap depan yang keras, tebal tampa vena. Sayap
depan berfungsi sebagai pelindung sayap belakang dan dinamakan elytra.
Spesies ini umumnya berwarna cemerlang; kuning, orange atau merah,
cembung, bulat telur dengan punggungnya yang berwarna warni serta
terdapat binti-bintil hitam. Kumbang kepik dewasa bertindak sebagai predator
dengan memakan kutu daun.
Gambar: 12. Spesies Epilachna sp (Sumber: [Link]
27
G. Serangga – Serangga di Areal Tanaman Mentimun
1. Serangga yang Merugikan
Tanaman mentimun sebenarnya merupakan jenis tanaman yang muda
mengalami kerusakan akibat serangan hama dan pathogen. Hama kebanyakan
dari kelompok serangga yang merusak bagian tanaman seperti daun, buah,
batang dan bunga, sedang patogen menyerang daun, batang dan buah.
Kerusakan yang terjadi dapat sampai pada tingkatan yang serius. Oleh karena
itu, sebelum organism tersebut merusak, lebih baik mengenal terlebih dahulu
jenis hama, gejala kerusakan dan cara pengendaliannya. Untuk pengendalian
kimia dengan menggunakan pestisida sebaiknya mengikuti dosis dan
petunjuk penggunaan seperti tertera pada
kemasan. Hama yang merusak tanaman mentimun sebagian besar sama
dengan yang merusak tanaman terung (Heri dan Abdjad Asih, 2001).
Banyak tipe serangga yang memakan di bagian dalam jaringan-jaringan
tumbuh-tumbuhan, sebagai pekerja tambang di dalam daun-daun, atau
sebagai pengebor-pengebor dalam batang-batang cabang, akar-akar, atau
buah-buahan. Penambangan daun membuat terowongan dan makan di antara
dua permukaan daun. Ada lebih dari 750 jenis serangga penambang daun di
amerika serikat yang mewakili ordo-ordo Lepidoptera (kira-kira 400 jenis
pada 17 famili), Diptera (300 jenis pada 4 famili), Hymenoptera (terutama
serangga gergaji), dan Coleoptera (kira-kira 50 jenis pada family
Chrysomelidae, Buprestidae dan Curculionidae) (Borror dan Johnson, 1992).
Perilaku serangga dalam merusak tanaman berhubungan dengan bentuk
alat mulutnya dapat dikelompokkan, antara lain:
28
a) Serangga yang merusak batang atau ranting tanaman dengan cara
melubangi, menggerek, mematahkan atau melukainnya.
b) Serangga yang merusak daun atau kuncup daun tanaman dengan cara
memakannya atau menghisap cairan makanan yang ada di dalamnya.
c) Serangga yang merusak buah atau bunga, dengan cara memakan,
menghisap atau menggereknya.
d) Serangga yang menyerang akar tanaman
e) Serangga yang menyerang titik tumbuh tanaman
f) Serangga sebagai vector (penular) penyakit tanaman, seperti bakteri,
jamur, dan virus (Jumar, 2000).
Sifat ketahanan yang dimiliki oleh tanaman dapat merupakan sifat yang
asli atau terbawa keturunan tetapi dapat juga karena keadaan lingkungan yang
menyebabkan tanaman tidak tahan terhadap serangan hama (Hadi dkk, 2009).
2. Serangga yang Menguntungkan
Manfaat serangga bagi manusia sangat banyak sekali, diantaranya adalah
serangga sebagai musuh alami hama, pengendali gulma, serangga penyerbuk,
penghasil produk, bahan pangan dan pengurai sampah. Serangga dapat
membantu manusia dalam mengendalikan serangga hama di pertanaman.
Tanaman mentimun memerlukan nutrisi untuk tumbuh, disamping itu
tanaman ini juga memerlukan bantuan serangga untuk melakukan
penyerbukan. Hal tersebut berdasarkan pada pendapat Campbell (2003) yang
menyatakan bahwa Meskipun persebaran geografis pada banyak spesies
sebagian besar ditentukan oleh adaptasinya terhadap faktor-faktor lingkungan
29
abiotik, organisme juga dipengaruhi oleh interaksi biotik dengan individu lain
yang berada disekitar tanaman mentimun.
3. Konsep Ekosistem dalam Al Quran
Ekosistem yang ada di alam semesta ini merupakan karunia Allah yang
mesti di jaga kelestariannya. Manusia ditunjuk sebagai khalifah dibumi ini
hendaknya merawat dan melestarikan keseimbangan alam yang sudah
menjadi tempat tinggal sejak pertama kali bumi ini ada. “Allah berfirman
tentang diri-Nya sendiri, bahwasannya Dia adalah Maha pencipta yang
menciptakan segala sesuatu yang di langit, di bumi dan segala sesuatu yang
ada di antara keduanya (Ibnu Katsier: 2003), Hal ini dijelaskan dalam Firman
Allah SWT dalam surat Az-Zumar ayat 62:
∩∉⊄∪ ×≅‹Ï.uρ &óx« Èe≅ä. 4’n?tã uθèδuρ ( &óx« Èe≅à2 ß,Î=≈yz ª!$#
Artinya:“ Allah menciptakan segala sesuatu dan dia memelihara segala
sesuatu”.
Komponen-komponen yang ada di bumi ini saling melengkapi satu sama
lain, maka terjadilah interaksi yang dinamakan dengan ekologi. Dalam
Sambas Wirakusumah (2003), dijelaskan bahwa ekologi sebagai interaksi
biota, yaitu dunia kehidupan (biosfera) sesamanya serta dengan lingkungan
fisik di sekitarnya, yaitu abiota yang terdiri dari air (hidrosfera), bumi
(litosfera) dan atmosfir. Untuk memenuhi kebutuhan sumber gizi dan
tenaganya, maka makhluk hidup akan mencari makanan. Demikian halnya
dengan serangga. Jika makanan tersedia dengan kualitas yang cocok dan
kuantitas yang cukup, maka populasi serangga akan naik dengan cepat
(Jumar, 2000).
30
Kehidupan serangga ikut menunjang dalam keseimbangan ekosistem
alam terutama di perkebunan, serangga yang bertindak sebagai predator
contohnya pada ordo Coleoptera mampu mengendalikan hama tanaman,
sehingga pengguanaan pestisida yang menjadi andalan bagi para petani dapat
dikurangi bahkan tidak digunakan lagi. Penggunaan pestisida sendiri dapat
membunuh serangga predator, jika petani terus menerus menggunakan
pestisida akan menyebabkan hama rentan terhadap pestisida tersebut sehingga
para petani akan meningkatkan dosis, tidak dipungkiri hal ini akan dapat
mengakibatkan ledakan populasi hama serangga (outbreak), berdasarkan
pendapat Sastrodihardjo (1979) istilah outbreak mempunyai arti munculnya
suatu jumlah besar serangga secara tiba-tiba sehingga merusak suatu daerah
yang cukup luas. Hal ini telah tertera dalam firman Allah:
“Ï%©!$# uÙ÷èt/ Νßγs)ƒÉ‹ã‹Ï9 Ĩ$¨Ζ9$# “ω÷ƒr& ôMt6|¡x. $yϑÎ/ Ìóst7ø9$#uρ Îhy9ø9$# ’Îû ߊ$|¡x ø9$# tyγsß
∩⊆⊇∪ tβθãèÅ_ötƒ öΝßγ¯=yès9 (#θè=ÏΗxå
Artinya: “Telah Nampak kerusakan di darat dan di laut di sebabkan karena
perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka
sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan
yang benar)”(Al-Qur’an surat Ar-Rum: 41)
Lebah dijadikan sebagai nama surat di dalam al-Qur’an, yaitu surat ke-16
(An-Nahl). Penggunaan nama tersebut menunjukan bahwa lebah mempunyai
banyak keajaiban, hikmah, manfaat dan rahasia dalam penciptaannya. Selain
menghasilkan madu, lebah juga menghasilkan royal jelli, polen, propolis, lilin
(wax), sengat (venom) dan membantu penyerbukan tanaman (pollinator). Al-
Qur’an dengan jelas menceritakan rumah lebah, makan lebah dan produk
31
yang dihasilkan oleh lebah, seperti yang tertulis di dalam surat an-Nahl ayat
68-69.
$£ϑÏΒuρ Ìyf¤±9$# zÏΒuρ $Y?θã‹ç/ ÉΑ$t6Ågø:$# zÏΒ “ɋσªB$# Èβr& È≅øtª[“$# ’n<Î) y7•/u‘ 4‘ym÷ρr&uρ
.ÏΒ ßlãøƒs† 4 Wξä9èŒ Å7În/u‘ Ÿ≅ç7ß™ ’Å5è=ó™$$sù ÏN≡tyϑ¨W9$# Èe≅ä. ÏΒ ’Í?ä. §ΝèO ∩∉∇∪ tβθä©Ì÷ètƒ
5Θöθs)Ïj9 ZπtƒUψ y7Ï9≡sŒ ’Îû ¨βÎ) 3 Ĩ$¨Ζ=Ïj9 Ö!$x Ï© ϵŠÏù …çµçΡ≡uθø9r& ì#Î=tFøƒ’Χ Ò>#uŸ° $yγÏΡθäÜç/
∩∉∪ tβρã©3x tGtƒ
Artinya:”68. Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: "Buatlah sarang-
sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang
dibikin manusia", 69. Kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-
buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang Telah dimudahkan (bagimu).
dari perut lebah itu ke luar minuman (madu) yang bermacam-macam
warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia.
Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda
(kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan.
Sesungguhnya semua yang diciptakan Allah memiliki manfaat tersendiri,
dan Allah telah memberi petunjuk pada manusia lewat wahyu yang
diturunkan kepada baginda Rasulullah SAW. Maka menjadi tugas manusialah
untuk mencari tau manfaat tersebut lewat penelitian.
H. Kajian Penelitian Terdahulu yang Relevan
Menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh Koneri dkk (2010), total
kumbang lucanid yang ditemukan pada lima ketinggian tempat dihutan
konsensi Unocal Gunung Salak sebanyak 12 spesies yaitu Cyclommatus
canaliculatus, Dorcus taurus, Hexarthrius bugueti, Prosopocoilus astocoides,
Odontolabis bellicose, Prosopocoilus zebra, Dorcus bucephalus, Dorcus
parry, Hexarthrius rhinoceros, Prosopocoilus passaloides, Allotopus
rosenbergi, Prosopocoilus decipien.
32
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Suleha (2012), yang
berjudul “Inventarisasi dan Identifikasi Serangga di Tanaman Kajang Panjang
(Vigna cylindrical L.) Di Desa Sungai Pinang Kecamatan Rambutan
Kabupaten Banyuasin” dari hasil penelitian serangga yang didapat pada
kebun kacang panjang (Vigna cylindrical L.) 17 spesies (yang terdapat pada
17 Genus, 15 Familia dan 7 Ordo). Jenis serangga Ordo Coleoptera yaitu.
Famili Coccinelidae, Carabidae. Genus Epilachna, Cicindela. Spesies
Epilachna sp, Cicindela hirticollis.
Yanti (2012), mengungkapkan bahwa selama penelitian ubi jalar telah
berhasil didapatkan jenis-jenis serangga yang terdiri dari 6 Ordo, 13 Familia,
13 Genus dan 13 Spesies. Serangga Ordo Coleoptera yaitu Famili
Cocynellidae, Scarabaedae. Genus Epilacna, Phyllophaga. Spesies, Epilacna
sp, Phyllophaga potoricenis.
Menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh Sari, (2011) yang berjudul
“Identifikasi Serangga pada Perkebunan Jagung (Zea mays L.) di Desa
Tanjung Putus Kecamatan Indralaya Kabupaten Ogan Ilir” dari hasil
penelitiannya jenis serangga yang didapat terdiri dari 8 Ordo 15 Familia dan
15 Genus serta 15 Spesies. Serangga yang ditemukan adalah Ordo Coleoptera
Famili Scarabaeidae, Stapylinidae. Genus Oryctes, Paederus. Spesies Oryctes
rhinoceros, Paederus riparius.
33
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Waktu dan Tempat
Penelitian ini akan dilaksanakan pada bulan Oktober sampai November
2015. Lokasi pengambilan sampel yang akan diteliti di Desa Tirta Mulya
Kecamatan Makarti jaya Kabupaten Banyuasin. Kemudian dilanjutkan
dengan melakukan Identifikasi di Laboratorium Tadris Biologi Universitas
Islam Negeri UIN Raden Fatah Palembang. Kegiatan selama penelitian
dilapangan dan dilaboratorium dapat dilihat pada tabel sebagai berikut:
Gambar 13. Peta Lokasi Penelitian di Areal Desa Makarti jaya
B. Deskripsi Desa Makarti jaya
Gambar 14. Peta Makarti jaya dan Lokasi Penelitian (Sumber Dok. Pribadi 2014).
34
Makarti Jaya adalah sebuah kelurahan yang terletak di Kecamatan
Makarti Jaya, yang saat ini sudah mengalami perkembangan yang sangat
pesat. dimana dahulunya adalah daerah transmigrasi pertama di Pulau
Sumatera. Makarti Jaya terletak di sebuah delta yang terbentuk oleh aliran
Sungai Musi.
Wilayah Kelurahan Makarti Jaya secara geografis berada diketinggian
0.5 m dari permukaan laut yaitu daerah rawa pasang surut. Secara
administrasi Kelurahan Makarti Jaya dibatasi oleh wilayah desa-desa
tetangga. Di sebelah utara berbatasan dengan Desa Makarti Jaya, sebelah
selatan berbatasan dengan Desa Pangestu, sebelah barat berbatasan dengan
Kecamatan Banyuasin II (Desa Tanjung Baru), sebelah timur berbatasan
dengan desa upang makmur.
Luas wilayah Kelurahan Makarti Jaya adalah 2.500 Ha. Terbagi dalam
penggunaan yaitu seperti untuk fasilitas umum, pemukiman dan pertanian.
Luas lahan yang digunakan untuk fasilitas umum adalah sebagai berikut : luas
talah untuk pemukiman 485 Ha dan luas tanah pertanian 2.015 Ha, dan rawa-
rawa 10 Ha. Wilayah Kelurahan Makarti Jaya terdiri dari 3 Lingkungan yaitu:
- Wilayah Lingkungan I terdiri dari 5 RT
- Wilayah Lingkungan II terdiri dari 14 RT
- Wilayah Lingkungan III terdiri dari 10 RT
Wilayah Kelurahan Makarti Jaya secara umum mempunyai ciri geologis
berupa lahan rawa pasang surut, yang tanahnya sangat subur untuk
persawahan dan perkebunan.
35
Tabel 1: Jadwal Kegiatan Penelitian
No Waktu Kegiatan
1 17 - 19 Oktober 2014 Persiapan alat dan bahan serta pengecekan
alat transportasi
2 21 Oktober sampai 10 Desember 2014 Penentuan lokasi dan pengambilan specimen
di lapangan
3 13 – 17 Desember 2014 Pemilihan dan pengelompokan specimen di
laboratorium Tadris MIPA Fakultas
Tarbiyah
4 18 Desember 2014 Pengolahan data
C. Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam penelitian ini meliputi kamera, meteran,
perangkap pitfall trap, jaring serangga, ligh trap, kantong plastik, saringan
spesimen, botol sampel, tali rafia, ember plastik, kertas label, pinset, toples
dan alat tulis.
Bahan yang digunakan yaitu formalin 4%, klroroform, serangga ordo
Coleoptera. Buku Kunci Determinasi Serangga yang dipakai yaitu buku yang
diterbitkan oleh Program Nasional Pelatihan dan Pengembangan
Pengendalian Hama Terpadu, Kanisus (2003) dan Borror et al (1992).
D. Jenis Penelitian
Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif dengan menggunakan metode
transek dan pengumpulan data dilakukan dengan cara pemasangan pit fall
trap, Sweeping Net, dan light trap. Jenis penelitian dengan observasi, menurut
Nasir, (1983) “dalam” Taufiq, (2006) memiliki beberapa keuntungan
diantaranya adalah:
1. Mendapat kemungkinan untuk mencatat secara langsung kejadian-
kejadian yang terjadi.
2. Data dari pengamatan ini diperoleh langsung dari subjek yang diamati
dan bukan berdasarkan ingatan.
36
Variabel Pengamatan meliputi variabel utama yaitu morfologi serangga
perkebunan mentimun dan variabel penunjang meliputi keadaan umum lokasi
penelitian yaitu tinggi tempat, vegetasi sekitar tempat tumbuh, jenis tanah,
dan iklim.
E. Teknik Analisis Data
Data yang diperoleh nantinya akan dianalisis secara deskriptif dan
kualitatif lalu ditampilkan dalam bentuk tabulasi dan foto. Jenis-jenis
serangga yang ditemukan pada Kebun Mentimun di Desa Tirta Mulya
Kecamatan Makarti jaya Kabupaten Banyuasin II. Berikut tabel data dalam
penelitian ini:
Tabel 2. Spesies ordo Coleoptera yang ditemukan pada tanaman mentimun.
No Subordo Famili Genus Spesies Nama Lokal
F. Prosedur Penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan beberapa tahapan yaitu:
1. Menentukan lokasi penelitian
Penentuan lokasi pengambilan data di areal perkebunan mentimun di
Desa Tirta Mulya Kecamatan Makarti jaya Kabupaten Banyuasin II.
2. Pengamatan Langsung
37
Pengamatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pengamatan
langsung ke lapangan (observasi), dengan mengambil sampel serangga
yang ada pada lokasi tanaman mentimun dan mengambil serangga ordo
Coleoptera pada bagian tanaman, yaitu pada bagian daun.
3. Prosedur Penangkapan
Pengambilan sampel dilapangan dengan empat cara yaitu, dengan
menggunakan jaring serangga atau sweeping net, yellow pan, pit fall trap,
dan Light trap pada tiga rentang waktu yang berbeda, yakni dari pukul
07.00 s/d 13.00 siang, kemudian dilanjutkan kembali pada pukul 13.00
siang hingga pukul 18.00 sore, dan pukul 18:00 hingga pukul 06.00 .
a. Insekting Net
Perangkap ini terbuat dari bahan yang ringan dan kuat seperti kain kasa,
yang muda diayunkan dan serangga yang tertangkap dapat terlihat dengan
jelas. Perangkap ini digunakan dengan cara mengayunkan dan
menyapukannya diatas permukaan tanaman mentimun. Serangga yang
diperoleh, dikumpulkan dan dipisahkan lalu dimasukkan ke dalam toples
yang berisi formalin 4% dan kapas yang sudah dibasahi alkohol yang
kemudian dibawa ke Laboratorium untuk di identifikasi selanjutnya
ditampilkan dalam bentuk tabulasi dan foto (Hadikastowo dan Simanjuntak,
1996).
38
50 m
Gambar: 15. Daerah pengambilan sampel serangga pada metode Isekting Net
b. Pit fall Trap
Bagi serangga yang aktif di permukaan tanah penangkapan dengan
menggunakan pitfall trap, pemasangan perangkap dilakukan dengan cara
membagi petakan besar 50 x 10 (250m2 = ¼ hektar) lalu menjadi petakan-
petakan kecil sebanyak 10 petakan, dengan ukuran 2 m x 2 m. Menurut
Hashimoto dan Homathevi (2003) bahwa Setelah lokasi dipilih kemudian
survei dimulai dengan menandai titik, sudut-sudut dan pusat dipasang transek
atau plot. Misalnya, dalam ¼ hektar plot, pasak kayu diletakkan dengan jarak
masing-masing plot 2m. Semua kuadrat tersebut berukuran 2m x 2m.
Kemudian dari 10 petakan tersebut hanya 5 petakan yang dipilih dengan
cara diundi, bahwa Penentuan pengambilan sampel dilakukan dengan quadrat
sampling yaitu unit pengambilan sampel berbentuk persegi empat atau
rectangular yang diletakkan di dalam zona sensus. Zona sensus itu dapat
dianggap sebagai papan pengecekan (cheker-board) dan kuadrat yang dicari
39
dapat ditentukan dengan membuat penomoran secara acak. Masing-masing
plot dibatasi dengan menggunakan tali rafia.
50 m
50 m
Gambar: 16. Daerah pengambilan sampel serangga pada metode Pit fall Trap.
c. Light Trap
Light trap ini digunakan pada malam hari, penyinaran yang kuat yang
bertentangan dengan lingkungan gelap mempengaruhi orientasi fotik
serangga-serangga. Light trap dipasang pada tanaman lalu serangga-serangga
yang ditangkap dalam jerat dapat tertahan hidup atau dikumpulkan pada
wadah pembunuh (Michael: 1995). Sesuai dengan penjelasan Michael
tersebut, maka pada tanaman mentimun umur 2,4 minggu, 6 minggu, dan 8
minggu masing-masing hanya dipasang 1 Light trap, hal ini dilakukan untuk
mencegah penyinaran lampu yang bercampur dengan penyinaran lampu
lainnya karena dapat mempengaruhi orientasi fotik serangga.
40
50 m
♦ ♦ ♦
♦ ♦ ♦ 50 m
♦ ♦ ♦
Gambar: 17. Daerah pengambilan sampel serangga pada metode Light Trap.
41
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil
Hasil dari penelitian jenis-jenis spesies Serangga Ordo Coleoptera yang
terdapat pada tanaman mentimun di Desa Tirta Mulya Kecamatan Makarti
Jaya Kabupaten Banyuasin II.
Tabel 3. Jenis-jenis serangga ordo coleptera pada tanaman mentimun.
No Subordo Famili Genus Spesies Nama local
1 Polyphaga Coccinellidae Cocinella Cocinella repanda Kumbang koksi
Thunberg
2 Polyphaga Coccinellidae Curinus Curinus coeruleus Mulsant Kumbang kubah
hitam
3 Polyphaga Coccinellidae Coelophora Coelophora inaequalis Kumbang kubah
Fabricius spot
4 Polyphaga Coccinellidae Micraspis discolor Kumbang kubah
Micraspis Fabricius coklat
5 Polyphaga Coccinellidae Micraspis Miscraspis vincta Gorham Kumbang kubah
bulan sabit
6 Polyphaga Scarabacidae Oryctes Oryctes rhinoceros Kumbang kelapa
Linnaeus
7 Polyphaga Chrysomelidae Aulacophora Aulacophora similis Oliver Kumbang daun
B. Pembahasan
1. Spesies kumbang yang ditemukan
Deskripsi morfologi jenis-jenis Serangga dari Ordo Coleoptera yang
ditemukan pada tanaman mentimun dari umur 1 bulan sampai masa panen di
Desa Tirta Mulya Kecamatan Makarti Jaya Kabupaten Banyuasin II .
42
1. Kumbang koksi (Cocinella repanda Thunberg)
(a) (b)
Gambar 18. Familia Coccinellidae: Cocinella repanda T (a) kepala,
(b) tampak dorsal (Sumber: Doc. Pribadi, 2014)
a. Klasifikasi:
Kingdom : Animalia
Filum : Arthropoda
Kelas : Insecta
Ordo : Coleoptera
Sub ordo : Polyphaga
Famili : Coccinellidae
Genus : Coccinella
Spesies :Coccinella repanda Thunberg
b. Deskripsi
Berdasarkan gambar ukuran tubuh 0,5 cm. Coccinella repanda Thunberg
merupakan jenis kumbang koksi yang banyak terdapat di halaman belakang
rumah dan kebun, mempunyai bentuk badan tertentu seperti diskus, oval
(lonjong) sampai bulat, dorsal badan cembung. Badan umumnya kekar dan
mengalami pengerasan (sklerotisasi) pada hampir seluruh permukaan
43
badannya. Sayapnya keras dan mengkilat. Pada bagian permukaan atas
(dorsal) badan kumbang ini berwarna cerah kuning, oranye, kemerahan
dengan bercak-bercak hitam, ada pula yang berwarna hitam dan permukaan
bawah (ventral) badan rata dan pada umumnya berwarna pucat.
2. Kumbang kubah hitam (Curinus coeruleus Fabricius)
(a) (b)
Gambar 19. Familia Coccinellidae: Curinus coeruleus Mulsant (a) kepala,
(b) tampak dorsal (Sumber: Doc. Pribadi, 2014)
a. Klasifikasi
Kingdom : Animalia
Filum : Arthropoda
Kelas : Insecta
Ordo : Coleoptera
Sub ordo : Polyphaga
Famili : Cocinellidae
Genus : Curinus
Spesies :Curinus coeruleus Mulsant
44
b. Deskripsi
Berdasarkan gambar ukuran tubuh Curinus coerules 0,5 cm. Curinus
coerules biasanya sering terdapat di kebun dan halaman rumah. Warna
tubuhnya berwarna hitam metalik. Badan umumnya kekar dan mengalami
pengerasan (sklerotisasi) pada hampir seluruh permukaan badannya.
Sayapnya keras dan mengkilat.
Tipe hama yang berhasil dikendalikan oleh predator adalah jenis hama
yang relatif pasif (sessile) dan tidak migrasi seperti kutu perisai, telur wereng
dan dompolan. Atribut predator impor yang berhasil antara lain multivoltin
(tidak berdiapause), monofagus atau oligofagus, efisiensi daya carinya tinggi
dengan umur imago yang panjang, dan sesuai dengan kondisi habitat
mangsanya. Contoh: kumbang Vedalia (Rodolia cardinalis Mulsant) untuk
pengendalian kutu jeruk Icerya purchasi Maskell, Cryptognatha nodiceps
untuk pengendalian kutu perisai kelapa, kumbang kubah Curinus coeruleus
Mulsant untuk pengendalian kutu loncat lamtoro Heteropsylla cubana.
3. Kumbang kubah spot (Coelophora inaequalis Fabricius)
(a) (b)
Gambar 20. Familia Coccinellidae: Coelophora inaequalis F (a) tampak dorsal,
(b) kepala (Sumber: Doc. Pribadi, 2014)
45
a. Klasifikasi
Kingdom : Animalia
Filum : Arthropoda
Kelas : Insecta
Ordo : Coleoptera
Sub ordo : Polyphaga
Famili : Cocinellidae
Genus : Coelophora
Spesies :Coelophora inaequalis Fabricius
b. Deskripsi
Berdasarkan gambar ukuran tubuh Coelophora inaequalis Fabricius 0,5
cm. tubuh lebar oval mendekati bulat, kepala sebagian atau seluruhnya
tersembunyi dibawah pronotum, Sayapnya keras dan mengkilat, antena
pendek, 3-6 ruas; tarsi 4-4-4. Curinus coerules biasanya sering terdapat di
kebun dan halaman rumah. Warna tubuhnya berwarna oranye kecoklat-
coklatan. Badan umumnya kekar dan mengalami pengerasan (sklerotisasi)
pada hampir seluruh permukaan badannya dan pada tubuhnya terdapat spot
hitam. Larva berwarna gelap, ada yang berbecak-becak kuning kemerahan.
Umumnya dijumpai disetengah bagian atas tajuk tanaman baik di habitat
basah maupun kering. Aktif sepanjang hari, yang dewasa akan menjatuhkan
diri dari tanaman dengan cepat atau akan terbang bila merasa terganggu.
Telur diletakan dipermukaan daun dengan posisi berdiri, warna kuning.
Kawin terjadi segera setelah dewasa muncul. Siklus hidup 1-2 minggu dan
mampu menghasilkan 150-200 keturunan dalam 6-10 minggu.
46
4. Kumbang kubah coklat(Micraspis discolor Fabricius)
(a) (b)
Gambar 21. Familia Coccinellidae: Micraspis discolor Fabricius
(a) tampak dorsal, (b) kepala (Sumber: Doc. Pribadi, 2014)
a. Klasifikasi
Kingdom : Animalia
Filum : Arthropoda
Kelas : Insecta
Ordo : Coleoptera
Sub ordo : Polyphaga
Famili : Cocinellidae
Genus : Micraspis
Spesies : Micraspis discolor Fabricius
b. Deskripsi
Berdasarkan gambar di atas ukuran tubuh Micraspis discolor Fabricius
0,5 cm. Tidak ada jalur tibia pada semua kaki. Elytral epipleura lebar, cekung
dan menurun keluar. Warna tubuhnya berwarna coklat muda. Badan
umumnya kekar dan mengalami pengerasan (sklerotisasi) pada hampir
seluruh permukaan badannya. Sebagian besar sebagai predator, memangsa
47
hama fase telur-dewasa; larva biasanya lebih rakus dari dewasa. Ada yang
bertindak sebagai hama tanaman. Biasanya menyerang daun dengan
meninggalkan mesofil daun dan lubang (jendela-jendela kecil), setengah
daun-daun rusak kemungkinan akan menyerang tangkai daun.
5. Kumbang kubah bulan sabit (Verenia sp.)
(a) (b)
Gambar 22. Familia Coccinellidae: Verenia sp. (a) tampak dorsal, (b) kepala
(Sumber: Doc. Pribadi, 2014)
a. Klasifikasi
Kingdom : Animalia
Filum : Arthropoda
Kelas : Insecta
Ordo : Coleoptera
Sub ordo : Polyphaga
Famili : Cocinellidae
Genus : Micraspis
Spesies : Micraspis vincta
48
c. Deskripsi
Berdasarkan gambar di atas ukuran tubuh Micraspis vincta 0,5 cm.
Tubuhnya berwarna oranye dan mempunyai garis hitam berbentuk bulan
sabit. Kumbang kubah bulan sabit (Micraspis vincta) berperan sebagai
predator wereng. Micraspis vincta adalah coccinellidae predator untuk kutu
daun, kutu sisik dan serangga kecil lannya. Bagian tubuhnya terdiri atas
antena, kepala, thorax, abdomen dan kaki. Pada umumnya predator dari
famili Coccinellidae sangat efektif untuk memberantas tungau (Amir, 2002).
6. Kumbang kelapa (Oryctes rhinoceros L)
(a) (b)
(c)
Gambar 23. Familia Scarabacidae: Oryctes rhinoceros L (a) tampak dorsal,
(b) sayap tertutup, kaki Platypus (c) kepala (Sumber: Doc. Pribadi, 2014)
49
a. Klasifikasi
Kingdom : Animalia
Filum : Arthropoda
Kelas : Insecta
Ordo : Coleoptera
Sub ordo : Polyphaga
Famili : Scarabacidae
Genus : Oryctes
Spesies : Oryctes rhinoceros L
b. Deskripsi
Berdasarkan gambar di atas ukuran tubuh 2 cm. dengan panjang thorax
0,7 cm dan abdomen 1,3. Tubuhnya berwarna hitam dengan struktur tubuh
keras. tidak memiliki bulu-bulu halus di tubuh belakang (posterior) bagian
bawah, peranannya sebagai serangga pengganggu yang dapat menyebabkan
kematian tanaman, terutama tanaman muda (TBM).
7. Kumbang daun (Aulacophora similis Oliver)
(a) (b)
50
(c)
Gambar 24. Familia Chrysomelidae: Aulacophora similis (a) tampak dorsal,
(b) sayap tertutup, (c) kepala koksa terbuka,sungut Harpalus
(Sumber: Doc. Pribadi, 2014)
a. Klasifikasi
Kingdom : Animalia
Filum : Arthropoda
Kelas : Insecta
Ordo : Coleoptera
Sub ordo : Polyphaga
Famili : Chrysomelidae
Genus : Aulacophora
Spesies : Aulacophora similis Oliver
b. Deskripsi
Imago Aulacophora similis Oliver memiliki tubuh yang relative kecil,
pendek, dan gemuk. Panjang serangga dewasa sekitar 0,7 cm, punggung
berwarna kuning kecoklatan dan mempunyai mesothorax serta metathorax
yang kehitam-hitaman (Chanthy, 2010). Secara keseluruhan serangga dewasa
tampak memiliki warna yang cerah dan mengkilap polos, kepala tidak
51
memanjang menjadi suatu moncong, ujung abdomen tertutup elitra dan
memiliki antena pendek, kurang dari setengah panjang tubuhnya. Bila ada
yang mengganggu imago sering menjatuhkan diri dari tanaman seolah-olah
mati (Tarno, 2003).
Aulacophora similis terbang disekitar tanaman mentimun secara
berkelompok baik pada daun muda maupun tua. Pada pertanaman sekala kecil
serangga dewasa dengan mudah di pagi hari . Serangga ini lebih sedikit aktif
pada siang hari daripada pagi hari. Imago jantan berukuran lebih kecil dengan
warna elitra jingga cerah. Imago betina berukuran lebih besar dan memiliki
warna elitra kuning kecoklatan. Karena elitra serangga ini berwarna kuning
maka serangga ini sering disebut dengan Yellow Cucumber Beetle.
2. Komposisi Jenis Kumbang Ordo Coleoptera
Dari hasil pengamatan, jenis-jenis kumbang ordo Coleoptera yang
ditemukan pada tanaman mentimun dari umur 1 bulan sampai masa panen di
Desa Tirta Mulya Kecamatan Makarti Jaya Kabupaten Banyuasin II sebanyak
3 famili dengan 7 spesies dengan menggunakan 3 perangkap (Insekting net,
Fit fall trap dan Light trap). Berikut tabel komposisi kumbang ordo
Coleoptera yang ditemukan pada tanaman mentimun dari umur 1 bulan
sampai masa panen di Desa Tirta Mulya Kecamatan Makarti Jaya Kabupaten
Banyuasin. Menurut waktu pengambilan dan perangkap yang digunakan.
52
Tabel 4. Komposisi kumbang ordo Coleoptera dari umur 1 bulan sampai
masa panen.
Desa Tirta Mulya Kecamatan Makarti Jaya Kabupaten Banyuasin
Ordo/Famili/Spesies Pagi Sore Malam Jumlah
PT LT SN PT LT SN PT LT SN individu
Coccinelidae
Cocinella repanda 7 - 7 2 - 4 5 3 5 33
Curinus Coeruleus 4 - 4 3 - 7 2 5 3 28
Coelophora inaequalis 7 - 3 5 - - 1 2 - 18
Micraspis discolor 2 - 2 2 1 - 2 2 - 11
Micraspis vincta - - 3 - - 2 - 2 - 7
Scarabacidae
Oryctes rhinoceros - - 2 - 1 - 1 - - 4
Chrysomelidae
Aulacophora similis 5 - 5 2 - - - - - 12
Total 25 - 26 14 2 13 11 14 8 113
Keterangan:
PT : Pitfall Trap
LT : Light Trap
SN : Insekting Net
Berdasarkan tabel 6 jumlah yang didapat menurut waktu pengambilan
sampel. Pengambilan sampel kumbang yang terperangkap di dalam Pitfall
trap dan Light trap dan Insekting net dilakukan pada pagi hari yang dipasang
pada pukul 07.00 WIB sampai pukul 09.00 WIB. Jumlah kumbang yang
didapat 51 individu, 7 individu dari spesies Cocinella repanda, 4 individu
dari spesies Curinus coeruleus, 7 individu dari spesies Coelophora
inaequalis, 2 Individu dari spesies Micraspis discolor dan 5 Individu dari
spesies Aulacophora similis yang terdapat pada perangkap Pit fall trap pada
perangkap. Kemudian pengambilan sampel dengan menggunakan Insekting
net didapat 7 individu dari spesies Cocinella repanda, 4 Individu dari spesies
Curinus coeruleus, 3 Individu dari spesies Coelophora inaequalis, 2 Individu
dari spesies Micraspis discolor, 3 Individu dari spesies Micraspis vincta, 2
Individu dari spesies Oryctes rhinoceros dan 5 Individu dari spesies
Aulacophora similis.
53
Sore harinya pengambilan sampel dilakukan kembali pada pukul 15.00
WIB sampai pukul 17.00 WIB, jumlah yang didapat 29 individu. 2 individu
dari spesies Cocinella repanda, 3 Individu dari spesies Curinus coeruleus, 5
Individu dari spesies Coelophora inaequalis, 2 Individu dari spesies
Micraspis discolor, dan 2 Individu dari spesies Aulacophora similis yang
ditemukan pada perangkap Pitfall trap. 1 Individu dari spesies Micraspis
discolor dan 1 Individu dari spesies Oryctes rhinoceros yang ditemukan pada
perangkap Light trap. 4 individu dari spesies Cocinella repanda, 2 Individu
dari spesies Curinus coeruleus dan 3 Individu dari spesies Micraspis vincta
yang didapatkan dengan menggunakan perangkap Insekting Net.
Malam harinya pengambilan sampel yang dipasang dari pukul 18.00
WIB sampai pukul 06.00 WIB, jumlah yang didapat 33 Individu. 5 individu
dari spesies Cocinella repanda, 2 Individu dari spesies Curinus coeruleus, 1
Individu dari spesies Coelophora inaequalis, 2 Individu dari spesies
Micraspis discolor dan 1 Individu dari spesies Oryctes rhinoceros yang
ditemukan pada perangkap Pitfall trap. 3 individu dari spesies Cocinella
repanda, 5 Individu dari spesies Curinus Coeruleus, 2 Individu dari spesies
Coelophora inaequalis, 2 Individu dari spesies Micraspis discolor, 2 Individu
dari spesies Micraspis vincta yang ditemukan pada perangkap Light trap. 5
individu dari spesies Cocinella repanda, 3 Individu dari spesies Curinus
Coeruleus yang ditemukan dengan menggunakan perangkap Insekting net.
Dari ketiga tempat tersebut banyak serangga yang terjerat pada waktu pagi,
siang dan sore hari, karena banyak Serangga ordo Coleoptera memiliki
kebiasaan makan pada waktu tersebut, dalam ayat al-Qur’an dijelaskan:
54
َوھُ َ ا ﱠ ِ ي َ َ َ َ ُ ُ ا ﱠ ْ َ ِ َ ً َوا ﱠ ْ َم ُ َ ً َو َ َ َ ا ﱠ َ َر ُ ُ رًا
Artinya:“Dialah yang menjadikan untukmu malam (sebagai) pakaian, dan
tidur untuk istirahat, dan Dia menjadikan siang untuk bangun berusaha.”
(QS. Al-Furqaan: 47).
Dalam tafsir Ibnu Katsier dijelaskan di antara nikmat-nikmat yang
diberikan kepada makhluknya, ialah penggantian waktu malam dan siang
yang menjadi kebutuhan vital bagi kehidupan, sehingga andaikata Allah
menjadikan waktu malam itu terus-menerus tanpa diselingi oleh siang hari,
niscaya akan membawa mudharat dan akan menjemukan serta membosankan
dan sebaliknya jika seandainya Allah menjadikan siang itu terus menerus
tanpa diselingi malam hari, juga akan membawa mudharat, karena tubuh akan
menjadi capek dan lemas dari gerak yang tidak hentinya tanpa beristirahat.
Karenanya Allah berfirman bahwa karena rahmat-Nya kepada hamba-hamba-
nyalah Allah menjadikan malam dan siang silih berganti; malam hari untuk
beristirahat dan siang hari untuk berusaha dan bergerak mencari nafkah dan
rezki yang Allah mengkaruniakan bagi hamba-hamba-Nya (Ibnu Katsier,
2003).
Dari ayat Al-Qur’an dan tafsir tersebut dapat diketahui bahwa tidak
hanya manusia yang memiliki waktu perputaran untuk mencari nafkah dan
untuk beristirahat, tetapi demikian halnya berlaku pada seluruh makhluk
hidup seperti serangga yang beristirahat pada sore hari atau malam dan
mencari makan pada siang hari untuk memenuhi kebutuhan nutrisinya,
sehingga keseimbangan antara gerak dan istirahat dapat terjaga dengan baik.
Dari hasil penjelasan tabel di atas jumlah keseluruhan kumbang lebih
banyak didapatkan pada saat penanaman timun sampai sebelum masa panen.
55
Sedangkan pada saat pasca panen kumbang sangat sedikit sekali
ditemukan di lokasi penelitian, hal ini disebabkan karena tidak adanya
perantara kumbang untuk mendekat yaitu tanaman timun. Kumbang yang
didapatkan pada saat penelitian itu banyak sekali dari jenis serangga predator.
Serangga predator bukanlah hama melainkan membantu petani timun untuk
membasmi hama yang ada pada tanaman timun.
3. Cara Penyerangan Hama dan Penyakit pada Tanaman Mentimun
Kumbang daun (Aulacophora similis Oliver, family Chrysomelidae)
hama ini berukuran kecil, lebih kurang 1 cm dengan elitron (sayap depan
yang mengalami modifikasi seperti seludang) berwarna kuning polos dan
mengkilap. Serangga hama ini dicirikan dengan daun berlubang atau hanya
tinggal tulang daun saja dengan cara merusak dan memakan daging daun.
Bila serangan hama ini cukup berat, semua jaringan daun habis dimakan.
Larva kumbang daun dapat juga menggerek akar dan batang (Zulkarnain,
2013).
(a) (b)
Gambar. 25 Cara penyerangan hama pada daun mentimun
(Sumber: Doc. Pribadi, 2014)
56
4. Keadaan Ekologi pada Tanaman Mentimun
Tanaman mentimun umur 1 bulan sampai pasca panen memiliki kawasan
yang sama, keadaan ekologi daerah tanaman mentimun itu sendiri
mempengaruhi keberadaan serangga yang terdapat pada daerah tersebut,
selain itu, jika dibandingkan dengan hewan lainnya serangga sangat
berpengaruh dengan keadaan suhu, kelembaban/hujan, cahaya, dan angin. Hal
ini berkaitan dengan penjelasan Jumar (2000) bahwa faktor lingkungan lebih
banyak berpengaruh terhadap serangga dibanding terhadap binatang lainnya.
Faktor tersebut seperti suhu, kelembaban/hujan, cahaya, angin, dan tofografi.
Kondisi tanaman mentimun seperti pH tanah dapat diukur secara langsung
sedangkan untuk suhu, kelembaban, curah hujan, dan penyinaran matahari
pengambilan data melalui Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika
(BMKG).
Tabel 5. Data kondisi Lingkungan pada Tanaman Mentimun Bulan Oktober
dan Bulan November 2014.
UNSUR IKLIM
Umur Hujan Temperatur Udara
Tanaman CM HH Rata2 Maks Min Kelembaban Lama
Mentimun (mm) (hari) Udara (%) Penyinaran
Matahari
(%)
1 Bulan 0 0 28,7 34,8 24,3 73 34
2 Bulan 214 11 27,8 34 24,2 79 46
Keterangan:
CH = Curah hujan
HH = Hari hujan
Berdasarkan tabel 7, rata-rata temperatur suhu pada umur tanaman
mentimum 1-2 bulan yaitu 28,70C artinya aktifitas kumbang mencapai tingkat
57
optimum. Karena kumbang mulai beraktifitas pada temperatur 150C dan
aktifitas optimumnya pada temperatur 28,70C. Sedangkan kelembaban
berbanding terbalik dengan temperatur. Kumbang sangat sensitif terhadap
angin yang kencang, sehingga kurang aktif untuk keluar mencari makanan
pada waktu kecepatan angin tinggi. Berdasarkan tabel 7 kelembaban udara
dari umur mentimun 1 bulan yaitu 73% dengan 0 HH, sedangkan kelembaban
udara pada umur tanaman mentimun mencapai 2 bulan yaitu 79% dengan 11
HH. Hal itu berarti pada bulan Oktober termasuk kedalam musim kemarau,
sedangkan pada bulan November termasuk kedalam musim hujan.
Penyinaran, kumbang merupakan serangga yang bersifat fototropik yaitu
menyukai cahaya. Efek sinar pada kumbang tergantung pada temperatur dan
kelembaban. Jumlah kumbang akan meningkat pada temperatur 200C-250C
dan akan berkurang jumlahnya pada temperatur <100C atau >490C serta
kelembaban yang optimum 90%.
5. Peranan Ordo Coleoptera Pada Tanaman Mentimun
Berdasarkan ciri dari masing-masing spesies yang memiliki perbedaan
pada morfologi, maka spesies dari ordo Coleoptera dibedakan berdasarkan
peranan yang ditimbulkan pada lokasi tanaman mentimun yaitu sebagai
predator, parasit, dan hama. Peranan dari spesies-spesies ordo Coleoptera
pada tanaman mentimun saat penanaman timun sampai sebelum masa panen
dapat dilihat pada tabel berikut ini:
58
Tabel 6. Peranan Ordo Coleoptera Pada Tanaman Mentimun
Tanaman Mentimun Umur 1 Bulan Sampai Pasca Panen
Ordo/Famili/Spesies
Predator Hama Parasit Penyerbuk
Coccinelidae
Cocinella repanda
Thunberg
Curinus Coeruleus
Coelophora inaequalis
Micraspis discolor
Micraspis vincta
Scarabacidae
Oryctes rhinoceros
Chrysomelidae
Aulacophora similis
Total 5 2
a. Ordo Coleoptera Sebagai Predator
Predator adalah binatang atau serangga yang memangsa serangga lain
untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Predator biasanya hidup bebas dengan
memangsa binatang atau serangga lain ( Price, 1984 dalam Jumar, 2000).
Famili Coccinelidae berperan sebagai predator dari spesies Cocinella repanda
Thunberg, Curinus Coeruleus, Coelophora inaequalis, Micraspis discolor,
Micraspis vincta.
Para petani mentimun hendaknya dapat memanfaatkan keberadaan
kumbang predator untuk kepentingan perkebunan, karena dapat menjaga
keseimbangan ekosistem dan dapat membantu membasmi keberadaan
serangga pengganggu perkebunan mentimun. Selain itu dapat mengurangi
penggunaan pestisida yang berakibat rusaknya ekosistem tanaman mentimun,
karena serangga yang bertindak sebagai predator akan mati, sedangkan
pertumbuhan serangga hama akan terus meningkat. Hal ini telah tertera dalam
firman Allah sebagai berikut :
59
ِ& ُ ا0َ ا ﱠ ِ ي1ْ ِ أَ ْ! ِ ي ا ﱠ#
َ 'َ ْ ُ َ2! ِ ُ ِ س ْ َ $َ %َ &َ ِ' (ِ ْ)َ ْ ا ْ َ ﱢ( َوا+ِ, ُد$َ َ.ْ ظ َ َ( ا
َ
ََ َ ﱠ ُ ْ !َ(ْ ِ ُ ن
Artinya: “Telah Nampak kerusakan di darat dan di laut di sebabkan karena
perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka
sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan
yang benar)” (Al Qur'an surat Ar Rum: 41).
Dari ayat tersebut dapat disimpulkan bahwa sebagian manusialah
penyebab kerusakan yang ada dimuka bumi, termasuk salah satunya
kerusakan ekosistem yang diakibatkan oleh pencemaran lingkungan yang
berasal dari bahan-bahan kimia berbahaya yang digunakan misalnya
pestisida. Allah menciptakan hewan predator sebagai penyeimbang
ekosistem, dengan menjaga hewan predator dalam populasi stabil maka sama
saja dengan menjaga keseimbagan ekosistem karena dapat menghindari
terjadinya kerusakan alam.
b. Ordo Coleoptera Sebagai Hama
Hama merupakan hewan atau serangga yang mengganggu produksi
pertanian dan perkebunan, serta mampu mendatangkan kerusakan pada
tanaman. Serangga ordo Coleoptera yang mengganggu tanaman mentimun
berasal dari famili Scarabacidae, Chrysomelidae spesies Oryctes rhinoceros,
Aulacophora similis (Zulkarnain, 2013).
c. Ordo Coleoptera Sebagai Parasit
Parasitoid adalah serangga yang memarasitkan serangga atau binatang
arthropoda lainnya. Parasitoid bersifat parasit pada fase pradewasa,
sedangkan dewasannya hidup bebas dan tidak terikat pada inangnya.
Parasitoid hidup menumpang pada atau di dalam tubuh inangnya dengan
menghisap cairan tubuh inangnya guna memenuhi kebutuhan hidupnya
(Jumar, 2000).
60
C. Sumbangan Penelitian Terhadap Pendidikan Biologi
Pada hasil penelitian ini telah dibahas mengenai identifikasi dari ordo
Coleoptera yang ada pada tanaman mentimun di Desa Tirta Mulya
Kecamatan Makarti Jaya Kabupaten Banyuasin II, adapun sumbangsih
penelitian yang telah dilakukan ini dengan proses pembelajaran dalam bidang
biologi yaitu:
a. Sebagai Materi Pengayaan
Pada materi biologi pada bab keanekaragaman hayati di kelas X
MA/SMA,terdapat kompetensi dasar tentang mengklasifikasikan
keanekaragaman hayati. Pada bab ini mempelajari bagaimana cara pemberian
nama spesies dengan prinsip binomial nomenklatur, dalam kompetensi dasar
ini juga dipelajari tentang identifikasi hewan dan tumbuhan, kedua materi ini
berkaitan erat dengan proses dan hasil penelitian yang telah dilakukan. Jika
pada materi pembelajaran hanya mencapai pengamatan hewan sampai kelas,
dengan adanya materi pengayaan maka tingkatan taksonomi dapat mencapai
spesies khususnya untuk ordo Coleoptera. Siswa di harapkan mampu
memahami sekaligus bisa mengaplikasikan teori-teori taksonomi yang telah
dipelajari.
b. Sebagai Media Pembelajaran
Serangga yang telah diidentifikasi dalam penelitian ini dapat digunakan
sebagai media pembelajaran. Serangga yang telah dikeringkan dan telah di
pining ditunjukkan pada siswa saat pembelajaran materi identifikasi, karena
dengan melihat dan mengamati hewan yang diidentifikasi secara langsung,
diharapkan dapat meningkatkan minat belajar siswa dan mudah dipahami.
61
c. Sebagai Bahan Eksperimen
Penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan eksperimen bagi
pengidentifikasian serangga dimasa yang akan datang, jika nantinya
ditemukan genus atau spesies baru dari ordo Coleoptera. Temuan-temuan
terbaru dan tersebut diharapkan dapat memberikan kontribusi besar terhadap
perkembangan teori-teori ilmu biologi yang berkaitan dengan serangga, dan
dapat dijadikan sebagai materi pembelajaran spesies serangga.
62
BAB V
SIMPULAN DAN SARAN
A. Simpulan
Berdasarkan data yang diperoleh dan hasil identifikasi serangga ordo
coleptera sebanyak 3 famili yaitu: famili Coccinalidae, Scarabacidae dan
Chrysomelidae dengan 7 spesies yaitu: Cocinella repanda, Curinus
Coeruleus, Coelophora inaequalis, Micraspis discolor, Micraspis vincta,
Oryctes rhinoceros dan Aulacophora similis dan Peranan serangga ordo
coleoptera pada umumnya predator dari famili Coccinellidae untuk
memberantas tungau sedangkan dari family Scarabacidae dan Chrysomelidae
adalah hama pengganggu yang menyerang pada tanaman mentimun sehingga
dapat menyebabkan kematian pada tanaman terutama tanaman muda.
B. Saran
Dari penelitian diatas terdapat beberapa saran yaitu:
1. Diperlukan penelitian lebih lanjut mengenai perbedaan jenis-jenis
kumbang antara musim kemarau dan musim hujan pada tanaman
mentimun dari umur 1 bulan sampai masa panen di Desa Tirta Mulya
Kecamatan Makarti Jaya Kabupaten Banyuasin II.
2. Para petani dan masyarakat sekitar untuk selalu waspada terhadap bahaya
yang ditimbulkan oleh hama pengganggu yang yang dapat menyebabkan
kematian pada tanaman muda.
63
DAFTAR PUSTAKA
Al-Quran dan Terjemah. 2008. Al-Hikmah. Bandung. CV Diponegoro.
Amir. 2002. Serangga taman nasional gunung halimu. jawa bagian barat.
Biodiversity conservation project.
Anggela, R. 2012. Indetifikasi Jenis-Jenis Serangga pada Kebun Jeruk Nipis
(Citrus aurantifolia). Skripsi. Fakultas Matematika dan Ilmu Pngetahuan
Alam. Jurusan Biologi. Universitas PGRI Palembang.
Borror, T dan Johnson. 1992. Pengenalan Pelajaran Serangga. Yogyakarta:
Universitas Gadjah Mada.
Campbell, Neil A. 2003. Biologi. Jakarta: Erlangga.
Hadikastowo dan Simanjuntak, R.H. 1996. Mengumpulkan dan Mengawetkan
Serangga. Jakarta: Bhratara.
Hadi, Mochamad dkk. 2009. Biologi Insekta Entomologi. Yogyakarta: Graha
Ilmu.
Hashimoto, Y & Rahman, H. 2003. Inventory & Collection. Sabah Malaysia :
Reseach and Education Component BBEC Programme.
Jasin, Maskoeri. 1989. Sistematika Hewan. Sinar Wijaya. Surabaya. Julindawati
,2012. Invetarisasi Dan Identifikasi Serangga Pada Tanaman Kacang
Tanah (Arachis Hypogeae L) Pgri Palembang.
Jumar. 2000. Entomologi Pertanian. Jakarta: Rineka Cipta.
Koneri, R. 2010. Keanekaragaman Kumbang Lucanid (Coleoptera:Lucanidae)
Pada Berbagai Ketinggian Tempat Di Hutan Konsensi Unocal Gunung
Salak. Universitas Sam Ratulangi. Manado
Katsier, Ibnu. 2003. Tafsir Ibnu Katsier. Terjemahan Salim Bahreisy dan Said
Bahreisy. Kuala Lumpur: Victor Agencie.
Lilies, Christina. S, ed. 1991. Kunci Determinasi Serangga. Kanesius, Jakarta.
Natawigena, H. 1991. Entomologi Pertanian. Ghalia Indonesi. Jakarta.
Nasir. 1983. Dalam Mahmud,Taufiq. 2006 . Identifikasi Serangga di Sekitar
Tumbuhan Kangkungan (Ipomoeas crassicaulis RooB). Universitas Islam
Negeri Malang.
64
Pracaya. 1992. Hama Dan Penyakit Tanaman. Penerbit PT. Penebar Swadaya.
Jakarta.
Purwanto, H. 1995. Sayuran Jepang. Penebar Swadaya. Jakarta.
Padmiarso, M.W. 2012. Budi Daya Mentimun. Pustaka Argo Indonesia. Jakarta
Rismunandar. 1983, Pertanian Sayuran Terate. Bandung.
Rukmana, R. 1994. Budidaya Mentimun. Kanesius. Yogyakarta.
Sastrodihardjo, Soelaksono. 1984. Pengantar Etomologi Terapan. Institue
Teknologi Bndung.
Sunarjono, Hendro. 2003. Bertanam 30 Jenis Sayur. Swadaya. Jakarta.
Saraswati, B.D. 2010. Inventarisa Serangga Pada Pertanaman Buncis (Phaseolus
Vulgaris. L) Pgri Palembang.
Sunjaya. 1994. Pengantar Ekologi Serangga Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Sumadi, Ananda. 1978. Teknik Budidaya Mentimun Hibrida. Kanesius.
Yogyakarta.
Sastrodihardjo. 1979. Pengantar Entomologi Terapan. Bandung: ITB.
Sumpena, U. 2001. Budidaya Mentimun Intensif Dengan Mulsa secara tumpang
gilir. Penerbit Swadaya. Jakarta.
Said, A. 2007. Budidaya Mentimun dan Tanaman Musim Secara Hidroponik.
Azka Press. Jakarta.
Soewito. D. S. 1990. Bercocok Tanam Mentimun. CV. Titik Terang. Jakarta.
Soewito, 1999. Memanfaatkan Lahan Bercocok Tanam Timun. Cv titik terang.
Jakarta.
Suleha. 2012. Inventarisasi dan identifikasi serangga pada tanaman kacang
panjang ( Vigna cylindrical L.) Skripsi. Fakultas Matematika dan Ilmu
Pngetahuan Alam. Jurusan Biologi. Universitas PGRI Palembang.
Sarwono, B. 2001. Lebah Madu. Jakarta: Agro Media Pustaka.
Tjahjadi. 1989. Hama dan Penyakit Tanaman. Kanesius. Jakarta
Tarumingkeng, R.C. 1994. Dinamika Populasi. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan
dan Universitas Kristen Krida Wacana.
65
Tjahjadi, Nur. 2001. Hama dan Penyakit Tanaman. Yogyakarta: Kanisius.
Van Mele, P. dan Cuc, N.T.T. 2004. Semut Sahabat Petani. Terjemahan Subekti
Rahayu, CABI Bioscience.
Wijoyo, P. 2012. Budidaya Mentimun. Pustaka Agro. Jakarta.
Yanti, Fitri. 2012. Invetarisasi dan Identifikasi Serangga pada Lahan Tanaman
Ubi Jalan (Ipomoea batatas L.). Skripsi. Fakultas Matematika dan Ilmu
Pngetahuan Alam. Jurusan Biologi. Universitas PGRI Palembang.
Zulkarnain. 2013. Budidaya Sayuran Tropis. Bumi Aksara. Jakarta.
66
LAMPIRAN KUNCI DETERMINASI
Kunci Dari Ordo Coleoptera Menuju Famili
1. a. Bentuk seperti kumbang terdapat elytra........................................................ 2
b. Bentuk seperti larva, elytra dan sayap-sayap belakang tidak ada ................11
2. a. Koksa-koksa belakang meluas menjadi keping-keping yang besar dan
tersembunyi hampir di seluruh abdomen, sungut 11 ruas dan berbentuk
seperti rambut, kumbang-kumbang air yang kecil panjangnya 5mm atau
kurang……………………………………………………………...Haliplidae
b. Koksa-koksa belakang tidak begitu meluas; ciri-ciri lain bervariasi ............ 3
3 a. Sternum abdomen yang pertama terlihat terbagi oleh koksa-koksa belkang,
batas posterior sternum tidak meluas secara sempurna melalui abdomen;
trokanter-trokanter belakang besar dan timbul menuju garis tengah, femora
hampir menyentuh koksa-koksa dengan sutura-sutura notopleura, tarsi
hampir selalu 5-5-5, sungut biasanya filiform (Subordo Polypagha)
....................................................................................................................... 4
b. Sternum abdomen yang pertama tidak terbagi oleh koksa-koksa belakang,
batas posterior sternum meluas secara sempurna melalui abdomen,
trokanter-trokanter belakang kecil, protoraks biasanya tanpa sutura-sutura
notopleura, tarsi sungut bervariasi .............................................................. 12
4 a. Kumbang-kumbang akuatik, tungkai-tungkai belakang berumbai dengan
rambut-rambut dan agak gepeng, cocok untuk berenang, metasternum tanpa
sutura transversal di muks koksa-koksa belakang ........................................ 5
b. Biasanya kumbng-kumbang darat, tumgkai-tungkai belakang tidak
berumbai atau mengalami modifikasi untuk berenang, metasternum
67
biasanya dengan sutura transversal, tepat di depan koksa-koksa belakang
.................................................. 8
8 a. Metasternum dengan sutura transversal di muka koksa-koksa belakang,
sungut biasanya ramping, kebanyakan ruas-ruas sangat lebih panjang
daripada lebar ............................. 9
b. Metasernum tanpa sutura transversal di muka koksa-koksa belakang sangat
pendek dan tebal atau berbentuk merjan .................................................... 13
9 a. Sungut timbul dari depan kepala diatas mandibel, mandibel panjang
berbentuk seperti sabit, bergerigi; elytra biasanya tanpa lekuk-lekuk atau
barisan lubang –lubang ............................................................. Coccinellidae
b. sungut timbul agak di sebelah lateral pada sisi-sisi kepala antara mata dan
mandibel, klipeus tidak timbul secara lateral di belakang dasar-dasar sungut,
mandibel tidak seperti di atas ..................................................................... 10
10 a. Tubuhnya berwarna hitam dengan struktur tubuh keras. tidak memiliki bulu-
bulu halus di tubuh belakang (posterior) bagian bawah........... Scarabacidae
b. Punggung berwarna kuning kecoklatan dan mempunyai mesothorax serta
metathorax yang kehitam-hitaman, ujung abdomen tertutup elitra dan memiliki
antena pendek, kurang dari setengah panjang tubuhnya .................. Chrysomelidae
Kunci Menuju Sub Famili, Genus dan Spesies
1 a. Dengan tiga perbedaan bagian tubuh- kepala, thorax dan abdomen yang
bersegmen; 6 kaki yang bersayap (serangga) tanpa sayap ……………….. 2
68
c. Dengan hanya dua bagian tubuh – chepalothorax (kepala yang terpadu pada
thorax) dan abdomen yang tak bersegmen; 8 kaki; tak memiliki sayap (laba-
laba)………………………………………………….…………………….45
2 a. Dengan sayap (dengan sedikit pembuluh darah atau dikembangkan dengan
baik) ……………………………………………………………………….. 3
b. Tanpa sayap ………..…………………………………………………….. 46
3 a. Dengan hanya sepasang sayap ………..…………………………………… 4
b. Dengan 2 pasang sayap ………………….…….………………………….. 7
7 a. Pronotum dengan cabang cuping samping turun sebesar punggung di atas
abdomen, kaki belakang dengan tulang belakang yang besar coxae (segmen
pertama dari kaki serangga) yang kecil dan terpisah dengan baik, antenna
yang pendek hingga panjang, kaki depan yang normal atau telah berubah
(lebar dan seperti sekop pada Gryllotalpidae); belalang, jangkrik dan
tonggeret (ORTOPTHERA) ……………….……………………………….8
7 b. Pronotum dan kaki tidak seperti di atas ….………………………………...9
9 a. kecil biasanya serangga ramping dengan bagian mulut yang secara asimetris
kasar dan tajam; sayap yang pendek dan sempit, dengan system syaraf yang
kurang, fringe (bagian rambut depan yang menggantung melampaui kepala
bagian depan; batas alami dari rambut, pada hewan atau tanaman) yang
marginal, tarsi dengan kandung kemih yang apikal yang dapat dibalik,
abdomen yang bulat, titik ovipositor ventral yang mengenai sirip perut yang
69
sempit secara apikal 6 hingga 9 antena yang bersegmen, thrips (hama kayu)
Thripidae ………………………………………………………………… 10
9 b. tidak dengan kombinasi diatas ……………………………………………11
11 a. kedua pasang membrane sayap terpasang secara luas dengan skala yang
overlapping, bagian mulut dalam golongan proboscis, antenna dengan
segmen yang banyak, ngengat, kupu-kupu (LEPIDOPTERA) …………12
11 b. Tidak seperti yang disebutkan di atas ……….………………………….13
13 a. Paruh muncul dari depan atau bagian belakang kepala; sayap depan yang
tebal pada dasar dan bermembran pada ujung, ujung yang overlapping
pada yang lainnya (HEMIPTERA)………………………………………14
13 b. Bagian mulut tidak seperti paruh, biasanya mandibula ………………….15
15 a. Cerci Seletorized, tidak bersegmen dan berubah menjadi forcep, akhir
sayap depan yang berkurang menjadi tegmina kecil, sayap belakang yang
lebar, bermembran, semicircular, dan seperti kipas; abdomen yang panjang
dan bebas digerakkan , kaki yang pendek dan cursorial dengan tiga tarsus
yang bersegmen (DERMAPTERA……….……………………………...16
15 b. Cerci yang normal, sayap dan abdomen tidak seperti di atas ……………19
19 a. Dua pasang sayap tidak seimbang; sterma II dan III pejantan dengan
aksesori genital yang kompleks (ODONATA) ………………………….20
19 b. Sayap yang tidak seimbang …………………………..………………….21
70
21 a. Pembuluh darah sayap dengan cabang yang marginal, sayap yang melebar
dengan tumpul sehungga sedikit berombak dan rangkaian dari gradasi dua
sayap ditutupi dengan Rs, sub costa dan radius sayap belakang pejantan
digabungkan dengan stigma, stigma pejantan dengan cepat dikembangkan,
sempit pada sayap bagaian depan, dan melebar dan sering berwarna coklat
berpigmen, tidak pernah tergabung dengan radius sayap belakang, yang
dewasa berwarna hijau dengan belang berwarna oranye, setengah
kekuningan yang mencolok pada dorsal, larva pengangkut sampah, kepala
dengan 6 warna coklat belang kemerah-merahan mencolok, 4 bagian
tengah membentuk Y, badan dengan tiga belang kecoklat-coklatayang
membujur (NEUROPTERA) Chrysopidae……....Chrysopa basalis Walker
21 b. Pembuluh darah pada sayap tanpa cabang marginal, bukan larva
pengangkut sampa…………………………………………………..……22
22 a. Sayap depan membentuk kitin, yang sebenr-benrnya atau tidak terlipat
seara kasar, plat yang kaku yang disebut elytra (COLEOPTERA)………23
22 b. Sayap depan membrane yang memanjang tanpa hamuli dan melepaskan
sutura basal atau sayap depan dan sayap belakang diganungkan secara
hamuli selama terbang, beberapa spesies tidak memiliki karakteristik
dengan sayap berbentuk tonjol…………………………………………...24
23 a. Tidak ada sutura notopleural pada prothorax, sayap tanpa oblongum, koksa
belakang yang mudah digerakkan, terpisah dari meta sternum dan tidak
pernah membagi tulang dada, abdominal basal menjadi 2 cuping yang
bercabang ……………..………………………………………………….25
71
23 b. Terdapat sutura notoplural, sayap dengan oblongum, koksa belakang
tergabung pada meta sternum membagi sternit abdominal menjadi 2
cuping yang bercabang ………. ……………...………………………… 26
26 a. Kepala yang diperpanjang menjadi paruh atau moncong yang berbeda;
segmen basal antena genikulat biasanya diterima pada alur dalam
moncong, tak ada labrum, tarsus 4-4-4; tibia depan biasanya tanpa
serangkaian gigi eksternal atau terpisah secara panjang kedalam cabang
yang keras, ukuran dan bentuk variabel (Curculionidae) ..........................27
26 b. Tidak dengan karakter kombinasi yang disebutkan diatas ………...…… 28
28 a. Antena lamella, dengan sepuluh atau beberapa segmen, koksa depan yang
mencolok, phygidium yang tidak dimiliki pada sebagian besar spesies
(Scarabacidae) ………...............................................................................29
28 b. Tidak brantena lamella …………………………………………………. 30
29 a. Tubuh berwarna hitam mengkilat, tubuh berukuran 2 cm………….
Oryctes rhinoceros Linnaeus
29 b. Tubuh berwarna kecoklat-coklatan dan tidak mengkilat ……………….
Leuchopolis sp.
30 a. Serangga air, maxillary palpi seperti antena, panjang, sepanjang atau lebih
panjang dari antenna pendek; vertex dengan bentuk yang berkesan seperti
garis, antenna cupula yang didahului oleh 5 segmen, rongga koksal depan
terbuka dibelakang, prokoksa tidak menyembunyikan prosternum,
72
segmentasi tarsal 5-5-5, dengan atau tanpa bagian belakang pembuluh
tulang dada (Hydropilidae) …………..……….………………………… 31
30 b. Serangga terestrial, maxilla palpi yang pendex, vertex tidak terkesan
berbentuk Y, antenna 11-8 bersegmen tanpa cupula, variabel pronotum
yang juga hexagonal (bersegi enam), ditarik pada akhir kedua atau melebar
hingga membelut pada bagian tengah,kepala yang subglobular hingga
benar-benar melintang, segmentasi tarsal 4-4-4, 5-5-4 atau 5-5-5 ………32
32 a. Formula tarsal 5-5-4, heteromerus dengan cakar yang terdiri dari dua;
proses sklerosa seperti pisau dibawah setiap cakar, tubuh yang silindris
dan cukup lembut, mata yang hamper melintang dengan membatasi batas
dekat antenna (Moloidae) ………………………………………………..33
32 b. Variabel formula tarsal 5-5-5, 5-5-4, 4-4-4, namun tanpa cakar seperti
tersebut ……. …………………………………………………………....34
34 a. Segmentasi tarsal 3-3-3 yang padat dibawahnya, kedua menghasilkan
cuping yang panjang, kepala tang benar-benar tenggelam kedalam
prothorax, tubuh yang oval melebar dan sangat cembung, keseluruhan
abdomen tersusun atas elytra, 5-6 adalah sternum yang nampak, sternit
basal dengan garis femoral lengkung yang menuju kebagian belakang dari
dalam koksa akhir, antena 8-11 bersegmen batang (Coccinellidae)……..35
34 b. Segmentasi tarsal 5-5-5 atau 5-5-4, bentuk tubuh biasanya panjang, tidak
begitu cembung dan kepala tidak benar-benar tenggelam kedalam
prothorax …………………….………………………………………… .36
73
35 a. Clypeus meluas secara lateral, antena 8 bersegmen, garis postkoksal
(koksa akhir) yang lengkap, cakar tarsal yang sederhana, benar-benar tebal
pada dasarnya; tubuh yang oval hingga bulat telur dan cukup cembung di
atas elytra dengan tiga longitudinal ………………….………………… 37
35 b. Clypeus tidak meluas secara lateral, sudut anterolateral clypeus dihasilkan
maju; antena 11 bersegmen, garis postkoksal tidak lengkap, cakar tarsal
biasanya berbentuk cuping, genae meluas hingga mata, mandibula (rahang
bawah) dipisahkan oleh cuping menjadi dua bagian pada apex, tubuh yang
bulat melebar hingga oval panjang dengan atau tanpa titik longitudinal
yang melebar ……………………………….…………………………... 38
38 a. Tidak ada jalur tibia pada semua kaki ………………….……..…………39
38 b. Tibia II dengan III dengan jalur ……………………………………… 40
39 a. Elytral epipleura lebar, cekung dan menurun keluar …………..………. 41
39 b. Elytral epipleura sedang, cekung dan lemah hamper semua horizontal,
tubuh yang melebar oval dan sedikit memanjang ………………
Harmonia octomaculata (Fabricius)
40 a. Elytral dengan tiga cuping hitam atau marking subhumeral sedikit
berbentuk Y, pita postmedian hitam berbentuk dan menyatu dengan batas
sutural, titik subquadrat hitam pada tiga perempat batas eksternal dan satu
titik hitam pada tiap akhir batas sutural, setiap elytron dengan 5 bintik,
prosternum dengan sepasang carina yang meluas, benar-benar meluas di
luar level koksa depan, garis abdominal berbentuk garpu V seperti pada
74
bagian eksternal, tibia III dengan perbedaan jalur apical………..
Coccinella repanda Thunberg
40 b. Bintik elytral globuilar dan subglobular dan terpisah dengan baik dari yang
lain kecuali hampir bintik yang berdampingan dibelakang skutellum
…………………..Coccinella septempunctata Linnaeus
41 a. Elytral dengan lapisan longitudinal; pronotum dengan tanda hitam …… 42
41 b. Elytra keseluruhan kuning hingga kuning kemerahan tanpa tanda
hitam………………..43
42 a. Relatif melengkung dan lebih pendek daripada M. Hirashima dan M.
Yasumatsui, paramere subglobular nyata pada setengah apikal, apex
cuping bagian tengah memotong…………... Micraspis discolor Fabricius
42 b. Sutural dan pita discal mencolok …………………………………...…... 44
44 a. Pita discal yang melebar dan melengkung 2/3 kali melebar daripada
sutural, dan tidak mencapai distal dan akhir proximal elytra, separuh
pronotum posterior hitam dan separuh apikal kuning, warna umum coklat
kekuningan ………………………Micraspis inops Mulsant
44 b. Pita discal yang lebih sempit dari pita sutural area median, kedua pita lebih
sempit dari latar belakang elytra kuning kemerahan, mencapai akhir
proximal elytra, pronotum kehitaman kecuali batas kuning lateral, warna
umum kuning kemeraha………………………Micraspis vincta Gorham
75
LEMBAR KERJA SISWA
IDENTIFIKASI KUMBANG
A. Tujuan : Untuk mengetahui ciri-ciri spesies kumbang
B. Alat dan Bahan
a. Alat
1. Sweeping net
2. Pil fall trap
3. ling trap
4. Pinset
5. Cawan petri
6. Kaca preparat
7. Mikroskop cahaya
8. Kunci determinasi
b. Bahan
1. Alkohol 70%
2. Formalin
3. Aqua des
4. Kumbang
C. Langkah Kerja
1. Kumbang ditangkap menggunakan Sweeping net, Pil fall trap, Ling trap.
2. Kumbang yang sudah ditangkap dimasukan kedalam botol sampel yang
sudah diberi larutan alcohol 70%.
3. Amati kumbang dibawah mikroskop cahaya, kumbang yang berada
didalam botol sampel diambil dengan menggunakan pinset, kemudian
76
diletakan diatas kaca preparat dan selanjutnya diamati dengan
menggunakan mikroskop cahaya.
D. Tabel Hasil Pengamatan
Ciri-Ciri
Jenis Kumbang
No Kepala Abdomen Toraks Mata
E. Pertanyaan
1. Apakah ada persamaan diantara spesies kumbang yang di identifikasi?
Jelaskan!
2. Dapatkah kalian menyebutkan ciri-ciri spesies kumbang? Sebutkan!
77
78
RENCARANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)
Nama Sekolah : SMAN/MAN
Mata Pelajaran : Biologi
Kelas/semester : X/II
Standar Kompetensi : 3. Memahami manfaat keanekaragaman hayati
Kompetensi Dasar : 3. Mendeskripsikan keanekaragaman hayati gen, jenis,
ekosistem melalui kegiatan pengamatan
I. Indikator
Menjelaskan berbagai tingkat keanekaragaman di lingkungan sekitar.
II. Tujuan Pembelajaran
1. Menjelaskan pengertian keanekaragaman.
2. Menyebutkan sbagian-bagian dari keanekaragaman serangga pada
perkebunan mentimu .
3. Menjelaskan peranan serangga ordo coleoptera.
III. Materi Pembelajaran
Keanekaragaman hayati
IV. Metode Pembelajaran
1. Diskusi kelompok
2. Tanya jawab
3. Eksperimen
V. Kegiatan Pembelajaran
1 x Pertemuan (2 jam pelajaran (2 x 45 menit)
Tahap Kegiatan Alokasi
Kegiatan awal Pendahuluan 10 Menit
a. Apersepsi
Guru memberi salam kepada siswa
Guru mengabsen siswa
b. Motivasi
Apa yang kalian ketahui tentang serangga?
Apa perbedaan tumbuhan dan tanaman?
79
Kegiatan Inti Elaborasi 75 Menit
Guru menuliskan tujuan pembelajaran di
papan tulis dan membuat peta konsep
Guru mempersiapkan alat peraga
(insectarium).
Guru menjelaskan mengenai keanekaragaman
kumbang pada perkebunan mentimun.
Elaborasi
Siswa bersama teman sebangkunya
mendiskusikan jenis-jenis kumbang pada
tanaman mentimun.
Beberapa siswa diminta maju untuk
mempersentasikan hasil diskusi mereka
dengan bantuan alat peraga.
Konfirmasi
Siswa dibimbing guru bertanya jawab tentang
keanekaragaman kumbang pada tanaman
mentimun.
Guru menanyaka hal-hal yang belum
dipahami tentang yang telah dipelajari
Kegiatan akhir Siswa bersama guru menyimpulkan 10 Menit
pelajaran keanekaragaman kumbang pada
tanaman mentimun.
Guru mengahiri pelajaran dengan
mengucapkan salam
VI. Sumber Belajar
Hasil penelitian Identifikasi Serangga Ordo Coleoptera pada Tanamna
Mentimun (Cucumis Sativus L) di Desa Tirta Mulya Kecamatan
Makarti Jaya Kabupaten Banyuasin dan Sumbangsihnya pada Materi
Keanekaragaman Hayati di MA/SMA Kelas X. (Skripsi)
80
VII. Media Pembelajaran
Alat/bahan : Insectarium kumbang pada Kebun Mentimun.
VIII. Penilaian hasil belajar (terlampir)
a. Kognitif: Bentuk Esai
Indikator Soal Kunci jawaban Score
Mengidentifikasi 1. Apa yang dimaksud 1. Yaitu proses pengenalan 20
insectarium dengan identifikasi? takson biologi dengan cara
dengan kunci membandingkan atau
determinasi menyamakan dengan
contoh yang sebelumnya
2. Bagaimanakah cara 2. Adapun cara 20
pengidentifikasian dengan pengidentifikasian dengan
gambar? gambar yaitu dengan
membandingkan kumbang
yang ingin diketahui
dengan gambar di dalam
buku yang sudah diketahui
identitasnya.
Pengelompokan 3. Apakah yang dimaksud 3. Adapun yang dimaksud 20
serangga dengan serangga dengan predator adalah
predator, hama, Pengganggu? binatang atau serangga yang
memangsa serangga lain
parasit, dan
untuk memenuhi kebutuhan
penyerbuk
hidupnya .
4. Bagaimana cara yang 4. Dengan melihat jenis alat 20
dilakukan untuk mulutnya yang memliki
membedakan hewan mandible untuk menggigit
penyerbuk? bahan padat dengan
maksila dan labium yang
dimodifikasi untuk
menjilat cairan.
Menjelaskan 5. Tuliskan ayat yang
َ ْ ا ْ َ ﱢ( َوا+ِ, ُد$َ َ.ْ ظ َ َ( ا
&َ 'ِ 5 َ 20
81
peranan serangga menerangkan peranan 1ْ ِ أَ ْ! ِ ي ا ﱠ#
َ َ ' ْ ُ َ 2! ِ ُ ِ س ْ َ $َ %َ
sebagai ciptaan serangga pada tanaman
mentimun? َ ِ& ُ ا َ َ ﱠ ُ ْ !َ(ْ ِ ُ ن0َ ا ﱠ ِ ي
Allah
Artinya:
“Telah Nampak kerusakan di
darat dan di laut di sebabkan
karena perbuatan tangan
manusia, supaya Allah
merasakan kepada mereka
sebagian dari (akibat)
perbuatan mereka, agar
mereka kembali (ke jalan
yang benar)”
(Al Qur'an surat Ar Rum:
41).
b. psikomotor bentuk skala/ ceklis
No Nama Siswa Aspek yang dinilai
Akhlak keaktifan ketertiban kepatuhan kerajinan
Palembang..................................2015
Mengetahui
Kepal Sekolah Guru Biologi
Esse Mawar
______________________ __________________
NIM. 10 22 2013
82
MATERI PENGAYAAN
Identifikasi Serangga Ordo Coleoptera pada Tanaman Mentimun (Cucumis
Sativus L.) di Desa Tirta Mulya Kecamatan Makarti Jaya Kabupaten
Banyuasin II dan Sumbangsihnya pada Materi Keanekaragaman Hayati di
MA/SMA Kelas X.
Insekta atau serangga merupakan spesies hewan yang jumlahnya paling
dominan diantara spesies hewan lainnya dalam Filim Arthropoda. Arthropoda
yang berarti hewan yang kakinya bersendi-sendi atau beruas. Adapun ciri-ciri
umum Arthropoda adalah mempunyai appendage atau alat tambahan yang beruas,
tubuhnya bilateral simetri yang terdiri dari sejumlah ruas, tubuh terbungkus oleh
zat khitin sehingga merupakan eksoskleton.
Pada kelas insekta, terdapat ciri-ciri khas antara lain: mengalami
metamorfosa, kerangka luar tubuh berupa integument yang keras atau eksoskleton
yang tersusun dari lapisan khitin dan protein; tubuh yang beruas-ruas tergolong
kelompok Filum Arthropoda; tubuh terdiri dari tiga segmen, yaitu caput, thorax,
dan abdomen; thorax terdiri dari tiga ruas yaitu prothoras, mesothoras, dan
metathoras; pada serangga dewasa terdapat dua pasang sayap yang masing-masing
terdapat pada mesothorax dan metathorax; pada ruas thorax masing-masing
terdapat satu pasang kaki. Salah satu kelompok Filim Arthropoda yang tergolong
ke dalam ordo Coleoptera adalah kumbang.
Nama Coleoptera berasal dari kata “Koleos” yang artinya perisae dan “ptera”
yang artinya sayap. Sayap depan ordo ini (elytra) mengeras dan berfungsi
melindungi tubuh serta sayap belakang yang terlipat dibawah sayap depan pada
83
saat hinggap. Pada sayap hinggap kedua sayap depan membentuk satu garis lurus
(Borror, 1992).
Memiliki alat mulut pengigit pengunyah, ada yang mulutnya muncul di ujung
moncong yang memanjang. Tarsus terdiri atas 2-5 segmen. Sayap belakang
membraneus dan terlihat dibawah sayap depan pada saat serangga ini istirahat.
Sayap belakang ini umumnya lebih panjang dari pada sayap depan dan digunakan
untuk terbang (Jumar, 2000).
Secara keseluruhan jenis-jenis kumbang yang ditemukan pada tanaman
mentimun dari umur 1 bulan sampai masa panen di Desa Tirta Mulya Kecamatan
Makarti Jaya Kabupaten Banyuasin sebanyak 3 famili yaitu: famili Coccinalidae,
Scarabacidae dan Chrysomelidae dengan 7 spesies yaitu: Cocinella repanda,
Curinus Coeruleus, Coelophora inaequalis, Micraspis discolor, Micraspis vincta,
Oryctes rhinoceros dan Aulacophora similis.
Peranan jenis-jenis kumbang yang ditemukan pada tanaman mentimun dari
umur 1 bulan sampai masa panen di Desa Tirta Mulya Kecamatan Makarti Jaya
Kabupaten Banyuasin. Pada umumnya predator dari famili Coccinellidae sangat
efektif untuk memberantas tungau sedangkan dari family Scarabacidae dan
Chrysomelidae adalah hama pengganggu yang menyerang pada tanaman
mentimun sehingga dapat menyebabkan kematian pada tanaman terutama
tanaman muda.
Dari hasil penelitian yang telah dilakukan, jenis-jenis kumbang yang terdapat
pada perkebunan Tanaman Mentimun di Desa Tirta Mulya Kecamatan Makarti
Jaya Kabupaten Banyuasin yaitu.
84
1. Kumbang koksi (Cocinella repanda Thunberg)
(a) (b)
Karakteristik:
Berdasarkan gambar ukuran tubuh 0,5 cm. Coccinella repanda Thunberg
merupakan jenis kumbang koksi yang banyak terdapat di halaman belakang
rumah dan kebun, mempunyai bentuk badan tertentu seperti diskus, oval
(lonjong) sampai bulat, dorsal badan cembung. Badan umumnya kekar dan
mengalami pengerasan (sklerotisasi) pada hampir seluruh permukaan
badannya. Sayapnya keras dan mengkilat. Pada bagian permukaan atas
(dorsal) badan kumbang ini berwarna cerah kuning, oranye, kemerahan
dengan bercak-bercak hitam, ada pula yang berwarna hitam dan permukaan
bawah (ventral) badan rata dan pada umumnya berwarna pucat.
2. Kumbang kubah hitam (Curinus coeruleus Fabricius)
(a) (b)
85
Karakteristik:
Berdasarkan gambar ukuran tubuh Curinus coerules 0,5 cm. Curinus
coerules biasanya sering terdapat di kebun dan halaman rumah. Warna
tubuhnya berwarna hitam metalik. . Badan umumnya kekar dan mengalami
pengerasan (sklerotisasi) pada hampir seluruh permukaan badannya.
Sayapnya keras dan mengkilat.
Tipe hama yang berhasil dikendalikan oleh predator adalah jenis hama
yang relatif pasif (sessile), tidak berdiapause dan tidak migrasi seperti kutu
perisai, telur wereng dan kutu dompolan. Atribut predator impor yang
berhasil antara lain multivoltin (tidak berdiapause), monofagus atau
oligofagus, efisiensi daya carinya tinggi dengan umur imago yang panjang,
dan sesuai dengan kondisi habitat mangsanya. Contoh: kumbang Vedalia
(Rodolia cardinalis Mulsant) untuk pengendalian kutu jeruk Icerya purchasi
Maskell, Cryptognatha nodiceps untuk pengendalian kutu perisai kelapa,
kumbang kubah Curinus coeruleus Mulsant untuk pengendalian kutu loncat
lamtoro Heteropsylla cubana.
3. Kumbang kubah spot (Coelophora inaequalis Fabricius)
(a) (b)
86
Karakteristik:
Berdasarkan gambar ukuran tubuh Coelophora inaequalis Fabricius 0,5
cm. Curinus coerules biasanya sering terdapat di kebun dan halaman rumah.
Warna tubuhnya berwarna oranye kecoklat-coklatan. Badan umumnya kekar
dan mengalami pengerasan (sklerotisasi) pada hampir seluruh permukaan
badannya dan pada tubuhnya terdapat spot hitam. Sayapnya keras dan
mengkilat.
4. Kumbang kubah coklat (Micraspis discolor Fabricius)
(a) (b)
Karakteristik:
Berdasarkan gambar di atas ukuran tubuh Micraspis discolor Fabricius
0,5 cm. Tidak ada jalur tibia pada semua kaki. Elytral epipleura lebar, cekung
dan menurun keluar. Warna tubuhnya berwarna coklat muda. Badan
umumnya kekar dan mengalami pengerasan (sklerotisasi) pada hampir
seluruh permukaan badannya.
87
5. Kumbang kubah bulan sabit (Verenia sp.)
(a) (b)
Karakteristik:
Berdasarkan gambar di atas ukuran tubuh Micraspis vincta 0,5 cm.
Tubuhnya berwarna oranye dan mempunyai garis hitam berbentuk bulan
sabit. Kumbang kubah bulan sabit (Micraspis vincta) berperan sebagai
predator wereng. Micraspis vincta adalah coccinellidae predator untuk kutu
daun, kutu sisik dan serangga kecil lannya. Bagian tubuhnya terdiri atas
antena, kepala, thorax, abdomen dan kaki. Pada umumnya predator dari
famili Coccinellidae sangat efektif untuk memberantas tungau (Amir, 2002).
6. Kumbang kelapa (Oryctes rhinoceros L)
(a) (b)
88
Karakteristik:
Berdasarkan gambar di atas ukuran tubuh 2 cm. dengan panjang thorax
0,7 cm dan abdomen 1,3. Tubuhnya berwarna hitam dengan struktur tubuh
keras. tidak memiliki bulu-bulu halus di tubuh belakang (posterior) bagian
bawah, peranannya sebagai serangga pengganggu yang dapat menyebabkan
kematian tanaman, terutama tanaman muda (TBM).
7. Kumbang daun (Aulacophora similis Oliver)
(a) (b)
(c)
Karakteristik:
Imago Aulacophora similis Oliver memiliki tubuh yang relative kecil,
pendek, dan gemuk. Panjang serangga dewasa sekitar 0,7 cm, punggung
89
berwarna kuning kecoklatan dan mempunyai mesothorax serta metathorax
yang kehitam-hitaman (Campbell, 2003). Secara keseluruhan serangga
dewasa tampak memiliki warna yang cerah dan mengkilap polos, kepala tidak
memanjang menjadi suatu moncong, ujung abdomen tertutup elitra dan
memiliki antena pendek, kurang dari setengah panjang tubuhnya. Bila ada
yang mengganggu imago sering menjatuhkan diri dari tanaman seolah-olah
mati (Tarumingkeng, 1994).
Aulacophora similis terbang disekitar tanaman mentimun secara
berkelompok baik pada daun muda maupun tua. Pada pertanaman skala kecil
serangga dewasa dengan mudah di pagi hari . Serangga ini lebih sedikit aktif
pada siang hari daripada pagi hari. Imago jantan berukuran lebih kecil dengan
warna elitra jingga cerah. Imago betina berukuran lebih besar dan memiliki
warna elitra kuning kecoklatan. Karena elitra serangga ini berwarna kuning
maka serangga ini sering disebut dengan Yellow Cucumber Beetle.
90
Lokasi Penelitian di Areal Desa Tirta Mulya Kecamatan
Makarti jaya Kabupaten Banyuasin II
Sweeping Net Sweeping Net
Light Trap Light Trap
Pit Fal Trap Pit Fal Trap
91
Transek Garis Tanaman Mentimun
Identifikasi Identifikasi
Insectarium
92
Dokumentasi Alat dan Bahan
GPS Mikroskop Cahaya
Alkohol 70% Kaca preparat
Cawan Petri Pinset
93