BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Landasan Teori
1. Pengertian Pelatihan
Pengertian pelatihan secara sederhana didefinisikan oleh Pramudyo (2017)
sebagai: “Proses pembelajaran yang dirancang untuk mengubah kinerjaorang dalam
melakukan pekerjaannya”. Yang dimaksud dalam hal ini adalah adanya empat hal
yang harus diperhatikan. Yaitu, proses pelatihan, peserta pelatihan, kinerja, dan
pekerjaan. Harus dipahami bahwa proses pelatihan mengacu kepada suatu
perubahan yang harus terjadi pada peserta pelatihan.
Proses dalam pelatihan, kinerja yang kurang baik dibenahi sedemikian rupa
sehingga menjadi lebih baik. Sehingga sekumpulan tugas-tugas yang telah menanti
dapat dikerjakan dengan baik oleh pekerja yang telah mengikuti pelatihan. Seperti
yang dinyatakan oleh Sutrisno (2019) bahwa pelatihan ditujukan untuk melengkapi
keterampilan dalam melakukan pekerjaan, serta mampu menggunakan peralatan
kerja dengan tepat.
Rachmawati (2018) menjelaskan bahwa: "Pelatihan adalah sebuah wadah
lingkungan bagi karyawan, dimana mereka memperoleh atau mempelajari sikap
serta proses mengajarkan pengetahuan dan keahlian tertentu, agar karyawan
semakin terampil dan mampu melaksanakan tanggung jawab dengan semakin baik,
sesuai dengan standar yang dibutuhkan". Proses kegiatan pelatihan adakalanya
diberikan setelah karyawan tersebutditempatkan dan ditugaskan sesuai dengan
bidangnya masing-masing.
9
10
a. Manfaat Pelatihan
Edison (2010) menyatakan bahwa manfaat program pelatihan bagi
perusahaan adalah sebagai berikut:
1. Mampu meningkatkan kompetensi pelayanan, sehingga karyawan
mampu menguasai pekerjaan yang memang sesuai bidangnya.
2. Mampu mengoptimumkan tingkat produktifitas kerja, sehingga
karyawan tersebut bisa menghasilkan output yang lebih baik.
3. Mampu meningkatkan kerjasama antar karyawan, sehingga bisa
menciptakan sinergisitas antar karyawan yang lebih baik.
4. Mampu meregenerasi karyawan yang lebih siap dan handal dalam
menghadapi tantangan di masa mendatang.
5. Mampu memperbaiki moral karyawan
6. Mampu menemukan kekurangan dan kelemahan karyawan.
7. Membantu karyawan agar bisaa menyesuaikan diri dengan perusahaan.
Sedangkan manfaat pelatihan bagi karyawan sebagai berikut:
1. Mampu meningkatkan kualitas dan kemampuan individual dalam
menangani tugas serta paham akan pemecahan masalah.
2. Mampu memperbaiki komunikasi antar karyawan atau kelompok.
3. Mampu membekali karyawan dalam peningkatan potensi dirinya guna
menjadi pelengkap dalam meniti karier internal maupun eksternal
nantinya.
Bisa disimpulkan bahwa pelatihan tersebut bisa memiliki dua manfaat,
yaitu: untuk perusahaan dan juga untuk karyawan. Bagi perusahaan sangat banyak
manfaatnya salah satunya adalah meningkatnya produktifitas perusahaan sehingga
11
menghasilkan output yang lebih baik. Bagi karyawan itu sendiri salah satunya
adalah meningkatkan kemampuan dan potensi diri dalam menangani tugas-tugas
dan pemecahan masalahnya.
b. Metode Pelatihan
Setiap perusahaan yang menjalankan pelatihan, membutuhkan metode
yangtepat agar isi pelatihan tersebut dapat dengan mudah diserap oleh para
karyawan yangmenjadi peserta pelatihan. Program pelatihan ini bertujuan untuk
meningkatkan prestasi kerja serta mengurangi perputaran karyawan guna
melaksanakan pekerjaan dengan lebih baik lagi. Tehnik-tehnik pelatihan dibagi
menjadi:
1. Metode Pekerjaan (On The Job Training).
Metode On The Job Training (OJT) adalah pelatihan yang mempelajari
bidang pekerjaan sambil benar-benar mengerjakannya. Metode ini memiki
kelebihan tersendiri karena cukup flaksibel, baik dalam hal lokasi maupun situasi
organisasi. Bentuknya pun dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan berkaitan
langsung dengan pekerjaan karyawan. Menurut Beberapa bentuk pelatihan OJT
antara lain:
a) Bimbingan (Couching/understudy), Bentuk pelatihan ini dilakukan
ditempat kerja oleh atasan atau karyawan yang sudah memiliki pengalaman.
Hal ini bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada karyawan terhadap
semua bentuk pekerjaan yang nantinya akan ia lakukan di perusahaan
tersebut. Seperti penyelesaian masalah, kerja tim, pola komunikasi serta
hubungan dengan teman kerja dan atasan.
12
b) Rotasi Jabatan, dimana karyawan dari satu pekerjaan dipindah ke pekerjaan
yang lain dalam jangka waktu yang ditentukan. Hal ini bertujuan untuk
menambah wawasan dan keterampilan karyawaan di lingkungan kerja yang
baru.
c) Penugasan sementara, dimana karyawan dituntut untuk belajar mengenai
hal-hal baru tentang pemecahan masalah dalam dunia kerja secara aktual.
Hal ini bertujuan untuk memberikan pengalaman bagi karyawan dalam
strategi pemecahan masalah dan analisisnya.
d) Instruksi pekerjaan, merupakan proses belajar karyawan akan langkah-
langkah pengerjaan yang diberikan secara langsung. Hal ini bertujuan untuk
memberikan pemahaman tentang cara pelaksanaan pekerjaan mereka
sekarang.
e) Pelatihan magang (Appreinticeship training), Pelatihan yang
mengombinasikan antara teori yang didapat oleh karyawan dengan praktik
kerja ditempat kerja. Hal ini bertujuan untuk memberikan ruang ruang untuk
karyawan menyalurkan kemampuan dan nkreatifitasnya dalam
menyelasaikan tugas-tugasnya di perusahaan.
2. Pelatihan diluar kerja (Off The Job Training)
Metode Off The Job Training ini adalah pelatihan yang dilakukan diluar tempat
kerja dengan menggunakan beberapa simulasi dan contoh sesuai situasi
pekerjaanya, baik menggunakan materi, alat praga, dan lain sebagainya. Beberapa
bentuk pelatihan Off The Job Training antara lain:
a) Metode kuliah (Lecture), metode ini sama dengan perkuliahan yang
memakai tehnik persentasi atau ceramah yang diberikan oleh penyelia atau
13
seorang tutor pada kelompok karyawan yang mengikuti pelatihan tersebut.
Dilanjutkan dengan komunikasi dua arah. Hal ini bertujuan untuk
memberikan pemahaman pengetahuan umum serta memberikan waktu
kepada peserta untuk ikut aktif dalam pelatihan tersebut.
b) Metode Presentasi dengan video, metode ini menggunakan media video,
atau televisi sebagai sarana presentasi tentang pengetahuan atau cara-cara
melakukan tugas yang sesuai pekerjaannya. Hal ini bertujuan untuk
memberikan pemahaman kepada karyawan agar ia bisa melaksanakan
tugas-tugasnya dengan baik dan benar.
c) Metode Balai (Vestibule), metode ini dilakukan di tempat yang sesuai
dengan pekerjaan sesungguhnya dan dilengkapi dengan fasilitas peralatan
yang sama. Hal ini bertujuan untuk memberikan waktu bagi karyawan utuk
memahami dan beradaptasi pada pekerjaannya.
d) Metode Bermain Peran (Role Playing), metode ini mamakai sistem simulasi
dimana semua peserta memerankan jabatan atau posisi tertentu untuk
bertindak dalam situasi yang khusus, bisa saja menjadi pelanggan, karyawan
dan juga menjadi manajer. Hal ini bertujuan untuk memberikan pemahaman
dalam membaca situasi lapangan, pola komunikasi dan interaksi satu sama
lain dalam dunia kerja.
e) Metode Studi Kasus, metode ini dilakukan dengan pemberian sebuah atau
beberapa kasus manajemen untuk dipecahkan oleh karyawan dan
didiskusikan secara kelompok dimana tim yang satu dengan tim yang lain
dituntut untuk saling berinteraksi satu sama lain. Hal ini bertujuan untuk
14
peningkatan daya analisis dan setrategi pemecahan masalah bagi individu
karyawan maupun secara kelompok.
f) Metode Pembelejaran Sendiri (Self Study), metode ini dilakukan dengan
teknik pembelajaran sendiri oleh peserta dimana peserta dituntut untuk
proaktif melalui bacaan, materi, video, kaset dan lain-lain. Hal ini
dikarenakan terbatasnya biaya perusahaan dan frekuensi pertemuan yang
dipengaruhi oleh jarak dan keadaan.
g) Metode Pembelajaran, metode ini sama seperti halnya Self Study, namun
dari pemebelajaran tersebut peserta ditutut untuk membuat serangkaian
pertanyaan dan jawaban sesuai materi yang dipelajari, sehingga dalam
pertemuan berikutnya bisa disampaikan ke penyelia atau pengajar untuk
diberikan umpan balik.
Jadi menurut penjelasan diatas teknik pelatihan terbagi manjadi dua yaitu,
pelatihan yang dilakukan ditempat kerja (On The Job Training) dan pelatihan yang
dilakukan diluar tempat kerja (Off The Job Training). Seluruh metode pelatihan ini
dapat menggunakan alat bantu berupa visual dan lain-lain. Pelatihan yang dilakukan
ditempat kerja salah satunya dengan cara melakukan bimbingan langsung sesuai
pekerjaannya. Sedangkan pelatihan yang dilakukan diluar tempat kerja seperti
melakukan studi kasus dan simulasi yang disertai dengan contoh-contoh nyata.
c. Indikator pelatihan
Mangkunegara (2013) menyatakan bahwa hal-hal yang digunakan untuk
mengukur sejauh mana efektifitas pelatihan yang diberikan perusahaan pada
karyawan adalah sebagai berikut:
15
1) Jenis Pelatihan, berdasarkan analisis kebutuhan akan program pelatiahan
tersebut, maka perlu dilakukan pelatihan peningkatan kinerja, produktifitas
pegawai dan etika kerja bagi tingkat bawah dan menengah.
2) Tujuan pelatihan, pelatihan yang digunakan harus sesuai kebutuhan dan
bertujuan untuk meningkatkan keterampilan kerja agar peserta mampu
mencapai kinerja secara maksimal dan paham terhadap etika kerja yang
diterapkan.
3) Materi, materi pelatihan dapat berupa: pengelolaan (manajemen), tata
naskah, psikologis kerja, komunikasi kerja, disiplin dan etika kerja,
kepemimpinan dan pelaporan kerja.
4) Metode yang digunakan, dalam hal ini seharusnya menggunakan teknik
partisipatif dimana peserta juga ikut serta dan aktif dalam kegiatan pelatihan
tersebut. Seperti, diskusi kelompok, konferensi, simulasi, bermain peran
(demonstrasi) dan game. Latihan dalam kelas, test, kerja tim dan study visit
(studi banding).
5) Kulifikasi peserta, dalam hal ini adalah karyawan yang memang
membutuhkan pelatihan dan peningkatan produktifitas kerja, seperti:
karyawan tetap, karyawan yang baru rotasi jabatan dan karyawan yang
memang mendapat rekomendasi pimpinan.
6) Kualifikasi pelatih, dalam hal ini pelatih atau instruktur harus memiliki
kualifikasi dan benar-benar orang yang memiliki kemampuan untuk
mengisi kegaitan pelatihan serta mampu memberikan motivasi kapada
peserta sehingga peserta benar-benar paham akan materi dan kegiatan
pelatihan yang dilaksanakan.
16
7) Waktu, dalam hal ini pelatihan membutuhkan banyak waktu untuk benar-
benar maksimal dalam pelaksanaanya. Semakin sering karyawan mendapat
pelatihan, maka cenderung kemampuan dan keterampilan karyawan
tersebut akan meningkat.
Jadi menurut penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa untuk mengukur
efektifitas pelatihan dapat dilakukan dengan menganalisis jenis pelatihan,
tujuan, metode dan materi yang diberikan, kualifikasi peserta dan pelatih serta
waktu yang dibutuhkan dalam pelakasanaan kegiatan pelatihan.
2. Pengembangan Karyawan
Wahjono (2015) menyatakan bahwa pengembangan sumber daya manusia
berbeda dengan pelatihan, dimana pengembangan ini bertujuan dan memiliki
perspektif jangka panjang yang nantinya akan mengurangi ketergantungan akan
kebutuhan tenaga kerja baru. Dalam hal ini akan mengurangi rekrutmen yang
berulang-ulang.
Tjeng et al. (2013) menyatakan bahwa Pengembangan adalah sistem
pembalajaran yang dilakukan untuk membantu para karyawan mengembangkan
potensi dirinya, sehingga mampu memperbaiki kinerja karyawan pada
pekerjaannya dan memperbaiki posisi karyawan tersebut dimasa yang akan datang.
Ardana et al. (2012) menyatakan bahwa pengembangan adalah suatu proses
peningkatan teknis, teoritis, konseptual dan moral karyawan sesuai dengan
kebutuhan pekerjaan atau jabatan melalui pendidikan dan latihan. Dimana
pendidikan ini bertujuan untuk memberikan peningkatan keahlian teoritis,
17
konseptual dan moral. Sedangkan latihan lebih pada peningkatan teknis
pelaksanaan pekerjaan karyawan.
Andrew E. Skula (2012), menyatakan bahwa pengembangan adalah suatu
proses pendidikan jangka panjang yang memanfaatkan prosedur sistematis dan
terorganisir, dimana para manajerial mempelajari pengetahuan konseptual dan
teoritis yang dalam hal ini bertujuan untuk mengetahui sesuatu yang umum.
Sehingga bisa dimanfaatkan pada keadaan dan situasi yang dibutuhkan.
Bisa disimpulkan bahwa pengembangan merupakan suatu proses atau upaya
peningkatan kualitas dan pengetahuan karyawan melalui keterampilan sikap untuk
memegang tanggung jawab yang lebih besar di masa yang akan datang.
Pengembangan ini lebih pada karyawan yang mempelajari pengetahuan kopseptual
dan teoritis sehingga ia mampu memahami dan mengatasi masalah-masalah yang
akan datang. Pengembangan juga memiliki tujuan untuk meningkatkan
kemampuan teknis, teoritis, konseptual dan moral karyawan agar kinerjanya makin
baik dan mencapai hasil yang benar-benar optimal.
a. Tujuan Pengembangan Karyawan
Tujuan pengembangan sumber daya manusia hakikatnya menyangkut hal-hal
berikut:
1) Produktivitas Kerja. Dengan pengembangan maka karyawan
akansemakin baik tehnikal skill, human skill dan managerial skill-nya
sehingga itu dapat meningkatkan produktivitas dan kualitas serta
kuantitas produknya semakin baik.
2) Efisiensi. Salah satu tujuan Pengembangan adalah untuk meningkatkan
efisiensi karyawan baik dalam hal tenaga, waktu, bahan baku dan
18
mengurangi pemborosan pemakaian alat-alat dan mesin. Sehingga
biaya relatif murah dan daya saing perusahaan semakin besar.
3) Karier. Pengembangan bertujuan untuk memberikan peluang dan
kesempatan karieryang besar bagi karyawan yang sudah memiliki
keahlian, keterampilan dan prestasi yang baik. Karena hal itu juga
menjadi tolak ukur dalam promosi ilmiah.
4) Kepemimpinan. Dengan pengembanganpola kepemimpinan seorang
manajer dapat lebih baik, human relations lebih luwes, motivasinya
lebih terarah sehingga pemibinaan kerjasama antar atasan dan bawahan
semakin harmonis.
5) Balas Jasa. Dengan pengembangan balas jasa (gaji, upah, insentif dan
benafit) karyawan akan meningkat karena prestasi kerja yang semakin
baik.
6) Pelayanan. Pengembangan pelayanan ini bertujuan untuk memberikan
peningkatan pelayanan yang lebih baik kepada nasabah atau konsumen
produk, karena bentuk pelayanan yang bisa meberikan daya tarik
tersendiri bagi konsumen dan rekanan perusahaan yang bersangkutan.
7) Konseptual. Dengan pengembangan, manajer semakin cakap dan cepat
dalam mengambil keputusan yang lebih baik, karena technical skill,
human skill dan manajerial skill-nya sudah terlatiah dan lebih baik.
8) Moral. Dengan pengembangan maka moral karyawan akan lebih baik
karena keahlian dan keterampilan sesuai dengan pekerjaannya
sehingga mereka antusias untuk menyelesaikan dengan baik.
19
9) Kerusakan. Pengembangan bertujuan untuk mengurangi kerusakan-
kerusakan yang terjadi di perusahaan, baik kerusakan barang ataupun
mesin sehingga karyawan benar-benar bisa terampil dalam
melaksanakan semua pekerjaan.
10) Kecelakaan. Pengembangan bertujuan untuk mengurangi resiko
kecelakaan yang terjadi pada karyawan, sehingga jumlah biaya
pengobatan yang dikeluarkan oleh perusahaan berkurang.
11) Konsumen. Pengembangan karyawan akanmemberikan manfaat dan
dampak yang baik bagi masyarakat konsumen karena mereka
memperoleh pelayanan yang sangat baik dan barang yang lebih
bermutu.
12) Pengembangan sangat perlu dilakukan oleh suatu perusahaan karena
akan memberikan manfaat bagi perusahaan, karyawan dan masyarakat
konsumen.
Berdasarkan penjelasan diatas bahwa tujuan dari pengembangan adalah untuk
meningkatkan produkstivitas kerja, efisiensi, meminimalisir kerusakan dan
kecelakaan, memperbaiki moral dan pelayanan serta memberikan pembelajaran
konseptual dan memiliki jiwa kepemimpinan.
b. Manfaat Pengembangan Karyawan
Choyimah (2015) manfaat pengembangan bagi karyawan adalah sebagai
berikut:
1) Menambah pengatahuan, terutama penemuan-penemuan terakhir dalam
bidang ilmu pengetahuan.
20
2) Menambah dan memperbaiki keahlian dibidang tertentu sekaligus
memperbaiki cara-cara pelaksanaan yang lama.
3) Merubah sikap.
4) Memperbaiki atau menambah imbalan atau balas jasa yang diperoleh dari
organisasi tempat bekerja
Sedangkan pengembangan bagi organisasi atau perusahaan adalah sebagai
berikut:
1) Menaikkan produktifitas pegawai.
2) Menurunkan biaya.
3) Mengurangi pergantian pegawai.
4) Memungkinkan untuk memperoleh laba yang lebih besar.
5) Memperbaiki image organisasi.
Menurut wahjono (2015) karyawan yang sudah melalui proses pengembangan
akan mempunyai loyalitas yang tinggi dan merasa ikut memiliki terhadap
organisasi atau perusahaan tersebut. Dalam artian upaya pengembangan karyawan
itu adalah sebagai berikut:
1. Meningkatkan kemampuan karyawan. Dalam hal ini pengetahuan, keahlian
dan keterampilan karyawan.
2. Meningkatkan pembelajaran. Pembelajaran dimaksudkan untuk beradaptasi
terhadap perubahan lingkungan eksternal dan internal perusahaan.
3. Promosi dan rotasi. Dalam hal ini agar karyawan memiliki tantangan dalam
peningkatan tugas, wewenang dan tanggung jawab yang merupakan sarana
pengembangan untuk meningkatkan kualitas individu karyawan.
21
Jadi menurut penjelasan diatas bahwa manfaat pengembangan bagi karyawan
adalah untuk menambah pengetahuan, memperbaiki keahlian, merubah sikap dan
memperbaiki atau menambah imbalan atau balas jasa oleh perusahaan dimana ia
tempat bekerja. Sedangkan bagi organisasi adalah untuk menaikkan produktivitas,
menurunkan biaya, mengurangi pergantian karyawan, memperbaiki nama baik dan
memungkinkan perusahaan untuk memperoleh laba yang lebih besar.
c. Indikator Pengembangan Karyawan
Menurut Rivai (2018) hal-hal yang digunakan untuk mengukur efektifitas
pengembangan karyawan adalah sebagai berikut:
1) Perencanaan karier. Karyawan harus merencanakan kariernya untuk masa
yang akan datang, terutama mengenai persiapan yang harus dipenuhi
seorang karyawan untuk mencapai tujuan karier tertentu.
2) Pengembangan karier individu. Karyawan harus mengetahui sejak awal
prospek karier karyawan tersebut di masa depan, serta menentukan langkah-
langkah yang perlu diambil agar tujuan karier tersebut dapat dicapai secara
efektif dan efisien.
3) Pengembangan karier yang didukung oleh depertemen SDM.
Pengembangan karyawan itu tidak hanya bergantung pada karyawan itu
sendiri, malainkan harus ada dukungan dari manajer dan depertemen SDM.
4) Peranan umpan balik terhadap kinerja. Tanpa menyangkut upaya-upaya
pengembangan karier maka relatif sulit bagi karyawan untuk menyiapkan
persiapan yang kadang dibutuhkan untuk mencapai tujuan-tujuan
pengembangan karier. Dalam hal ini terdapat beberapa sasaran:
22
Untuk menjamin karyawan yang gagal menduduki suatu posisi dalam
rangka pengembangan kariernya bagi mereka yang memenuhi syarat
masih akan dipertimbangkan lagi untuk promosi yang akan datang.
Untuk menjelaskan kepada karyawan yang gagal kenapa mereka tidak
dipilih.
Untuk mengidentifikasi tindakan-tindakan apa yang perlu dilakukan
untuk pengembangan karier yang lebih spesifik.
Jadi menurut penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa cara mengukur
efektifitas pengembangan adalah dengan cara perencanaan karier, pengembangan
karier individu dan pengembangan karier yang didukung oleh depertemen SDM,
serta peranan umpan balik terhadap kinerja karyawan.
3. Definisi Kinerja Karyawan
Rivai (2015) menjelaskan bahwa kinerja merupakan perilaku yang nyata
ditampilkan setiap orang sebagai prestasi kerja yang dihasilkan oleh karyawan
sesuai dengan perannya dalam perusahaan. Sementara menurut Wibowo (2007)
menjelaskan bahwa kinerja merupakan hasil pekerjaan yang mempunyai hubungan
kuat dengan strategis organisasi, kepuasan konsumen dan memberikan kontribusi
pada ekonomi. Menurut Mangkunegara (2014) mengemukakan bahwa kinerja
merupakan hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai sumber daya
manusia persatuan periode waktu dalam melaksanakan tugas kerjanya sesuai
dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya.
Bisa disimpulkan bahwa kinerja merupakan hasil kerja secara kualitas dan
kuantitas yang secara nyata dilakukan oleh karyawan untuk memenuhi tanggung
23
jawabnya dalam melaksanakan kerjanya. Dalam hal ini untuk memberikan
pelayanan terbaik bagi perusahaan sekaligus kepuasan bagi konsumen.
a. Faktor-faktor yang memengaruhi kinerja
Mangkunegara (2014) mengemukakan bahwa ada beberapa faktor yang
memengaruhi pencapaian kinerja, yaitu:
a) Faktor kemampuan (ability), dalam hal ini bisa kita lihat dari kapasitas
seseorang dalam melakukan berbagai tugas dalam satu pekerjaan.
b) Faktor Motivasi, dalam hal ini adalah sebuah dorongan yang disebabkan
oleh internal atau eksternal seseorang dalam mencapai tujuannya.
Jadi bisa disimpulkan bahwa pencapaian kinerja dapat didukung oleh
kemampuan dan motivasi karyawan dalam meningkatkan kinerjanya.
b. Metode-metode penilaian kerja
Penialaian sebuah kinerja dapat dilakukan oleh sebuah perusahaan dan
berdasarkan standart kinerja yang sudah ditetapkan oleh perusahaan tersebut.
Beberapa metode yang dapat digunakan sebagai instrumen penilaian kinerja adalah
sebagai berikut:
a) Metode penialaian yang berorientasi pada masa lalu
Terdapat beberapa kelebihan dan kekurangan dalam penerapan metode ini,
dimana kelebihan yang dimiliki adalah dalam hal perlakuan terhadap kinerja yang
telah terjadi yang sampai derajat tertentu dapat diukur. Sedangkan kekurangannya
adalah dalam hal kinerja pada masa lalu tidak dapat dirubah. Tetapi masih bisa
dievaluasi sebagai upaya-upaya untuk perbaikan-perbaikan kinerja dimasa lalu.
Teknik-teknik penilaian tersebut mencakup antara lain seabagai berikut:
24
1. Rating scale. Pada metode ini, evaluasi subjektif dilakukan oleh penilai
terhadap prestasi kerja karyawan dengan skala tertentu dari rendah sampai
tinggi.
2. Cheklist. Metode ini dimaksudkan untuk menggambarkan kinerja dan
karakteristik karyawan melalui nilai dan bobot yang diberikan. Pemberian
bobot ini memungkinkan penialaian dapat dikuantifikasi sehingga skor total
dapat ditentukan.
3. Metode peristiwa kritis (ritical incident method) merupakan metode
penilian yang mendasarkan catatan-catatan penilai yang menggambarkan
perilaku karyawan sangat baik atau sangat jelek dalam pelaksanaan
kerjanya. Catatan-catatan ini disebut peristiwa-peristiwa kritis. Sehingga
berbagai peristiwa tersebut dicatat oleh penilai selama periode tertentu
untuk mengevaluasi terhadap setiap karyawan.
4. Metode peninjauan lapangan (fieled review method) metode ini diharapkan
bisa lebih terstandarisasi dalam melakukan sebuah penilaian, dimana wakil
ahli depertemen personalia turun lapangan dan membantu penyelia dalam
memberikan penialaian sekaligus menemukan informasi langsung dari
karyawan yang bersangkutan. Sehingga melalui informasi itu wakil ahli
tersebut dapat menyiapkan evaluasi yang kemudian dikirim kepada penyelia
untuk di review, mengenai perubahan, persetujuandan pembahasan lanjut
mengenai kinerja dengan karyawan yang dinilai.
5. Test dan observasi prestasi kerja. Bila pekrjaan terbatas, penilain prestasi
kerja dapat didasarkan pada tes pengetahuan dan keterampilan.
25
6. Metode evaluasi kelompok. Metode ini diupayakan dapat memilah dan
memilih karyawan yang memang memiliki kompetensi lebih diantara yang
lain dan dapat menghasilkan rangking karyawan dari yang terbaik sampai
yang terjelek, penialaian ini sangat berguna untuk pengambilan keputusan
kenaikan upah, promosi jabatan dan berbagai bentuk penghargaan
organisasional lainnya.
b) Metode penilaian berorientasi masa depan
Dalam metode ini dipusatkan pada penilaian kinerja yang dilakukan melalui
potensi karyawan atau penetapan sasaran prestasi kerja dimasa yang akan datang.
Teknik-teknik yang digunakan adalah sebagai berikut:
1. Penilaian diri (self-appraisals). Teknik ini berguna bila tujuan evaluasi
adalah untuk melanjutkan pengembangan diri. Bila seorang karyawan
mampu menilai dirinya, berati dia tidak akan defensip dan cenderung untuk
mengupayakan perbaikan pada dirinya.
2. Penilaian psikologis (psychologcal appraisals). Penialaian ini dilakukan
untuk mengetahui karakter dari seorang karyawan dan biasanya ini
dilakukan oleh atasan melalui tes-tes psikologi, diskusi maupun wawancara
mendalam mengenai potensi yang dimiliki oleh karyawan. Baik dari segi
sifat, mental, emosi dan intelektual yang dimiliki oleh karyawan tersebut.
Dari kegiatan tersebut dapat dijadikan penilaian sekaligus referensi oleh
atasan untuk mengevaluasi kinerja karyawan sekaligus memetakan
pekerjaan melalui potensi-potensi yang ia miliki dalam pengembangan diri
di perusahaan yang akan datang. Akurasi penilaian sepenuhnya tergantung
pada keterampilan para psikolog.
26
3. Pendekatan manajement by objectives (MBO). Melalui pendekatan ini
penyelia dan karyawan sama-sama menetapkan tujuan dan sasaran kegiatan
yang akan dilakukan dimasa mendatang. Kemudian melalui cara-cara
tersebut penilaian prestasi kerja dapat dilakukan secara bersama-sama.
4. Teknik penilaian terpusat. Metode ini digunakan untuk membantu
identifikasi talenta manajemen pada waktu yang akan datang. Banyak
perushaan memiliki pusat-pusat penilaian yang memang khusus melakukan
kajian evaluasi kinerja. Seperti Assesment Centers yang mengelola bentuk-
bentuk penilaian karyawan yang distandarkan pada tipe-tipe penilian yang
sudah ditetapkan oleh perusahaan tersebut.
c. Indikator Kinerja
Menurut sutrisno (2014) hal-hal yang digunakan untuk mengukur efektivitas
prestasi kerja adalah sebagai berikut:
1. Hasil kerja. Tingkat kualitas dan kuantitas yang telah dihasilkan dan sejauh
mana pengawasan dihasilkan.
2. Pengetahuan pekerjaan. Dalam hal ini tolak ukurnya sejauh mana tingkat
pengetahuan terkait tugas dan pekerjaan yang akan berpengaruh terhadap
kualitas dan kuantitas dari hasil kerja.
3. Inisiatif. Dalam hal ini karyawan memiliki kemampuan dan tingkat inisiatif
selama melaksanakan tugas pekerjaan khususnya dalam penanganan-
penanganan masalah yang ada.
4. Kecekatan mental. Tingkat kemampuan dan kecepatan dalam menerima
instruksi kerja dan menyelesaikan pekerjaan itu dengan baik.
27
5. Sikap. Tingkat semangat serta sikap positif dalam melaksanakan tugas
pekerjaan.
6. Disiplin waktu dan absensi. Tingkatan ketepatan waktu dan tingkat
kehadiran.
Jadi cara mengukur efektivitas prestasi kerja karyawan adalah dengan
mengukur hasil kerja, tingkat pengetahuan akan pekerjaan, inisiatif, kecekatan
mental, sikap, dan disiplin waktu serta absensi.
d. Perbedaan pelatihan dan pengembangan
Menurut Ike (2018) pelatihan dan pengembangan ditujukan untuk
mempertahankan dan meningkatakan prestasi kerja karyawan. Pelatihan itu sendiri
ditujukan untuk meningkatkan prestasi saat ini, semenatara pengembangan
ditujukan untuk pengembangan saat ini dan masa yang kan datang. Menurut
Wahjono et al. (2019) pelatihan dan pengembangan memiliki pemahaman yang
hampir sama, karena tujuannya untuk meningkatkan keahlian, keterampilan dan
kemampuan karyawan dalam melaksanakan tugas-tugasnya serta agar mencapai
tujuan individual sekaligus mencapai tujuan organisasi.
Tebel 2.1: perbedaan pelatihan dan pengembangan
Pelatihan Pengembangan
Fokus Pekerjaan saat ini Pekerjaan saat ini dan
yang akan datang
Ruang Lingkup Karyawan secara individual Kelompok kerja atau
organisasi
Kerangka Waktu Segera/jangka pendek Jangka panjang
28
Sasaran Memperbaiki kekurangan Mempersiapkan
kemampuan saat ini tuntutan kerja di masa
yang akan datang
Aktivitas Menunjukkan/memperlihatkan pembelajaran
Sumber. Kuswan (2012)
Pelatihan merupakan wadah lingkungan bagi karyawan, dimana mereka
memperoleh atau mempelajari sikap, kemampuan, keahlian pengetahuan dan
perilaku spesifik yang berkaitan dengan pekerjaan. Sementara pengembangan
didasarkan pada kebutuhan akan pengetahuan, keahlian, dan kemampuan yang
berkembang untuk bekerja lebih baik dalam suksesi posisi yang ada dalam
rekrutmen.
Tabel 2.2: Perbedaan Pelatihan dan Pengembangan
Dimension Training development
who Non-managers managers
what Technical-mechanical Theoritical-coceptual
operastions ideas
range Specific job-related General knowledge
purpose
time Short term Long run
Sumber: Jones & George (2014)
Peserta pelatihan umumnya diikuti oleh karyawan non-manajer sedangkan
pengembangan biasanya diikuti oleh manajer. Dari segi materi, pelatihan yang
diberikan adalah tentang teknikal dan mekanikal untuk menunjang kelancaran
operasi perusahaan, sedangkan pengembangan lebih pada teoritis dan konsep dalam
29
pembentukan gagasan. Dari segi cakupan materi, pelatihan untuk tujuan-tujuan
yang secara khusus berhubungan dengan pekerjaan saat ini. Sedangkan
pengembangan lebih pada pembelajaran yang bersifat umum baik dari segi ilmu
maupun pengeatahuan. Dari segi kurun waktu, pelatihan jangka waktu pendek,
sementara pengembangan untuk jangka panjang.
Berdasarkan pernyataan diatas dapat disimpulkan bahwa perbedaan pelatihan
dan pengembangan terdiri dari pola kegiatan, materi dan jangka waktu dalam tujuan
pelaksanaan pelatihan dan pengembangan. Pelatihan lebih fokus pada pemberian
pengetahuan, keterampilan, dan teknik-teknik tertentu pada saat ini. Sedangkan
pengembangan aktivitas pemberian pengetahuan, kemampuan, sikap dan efisiensi
untuk saat ini dan masa yang akan datang.
B. Penelitian Terdahulu
Wahed (2017) dengan judul “Pengaruh pelatihan dan pengembangan karyawan
terhadap prestasi kerja karyawan pada bank Jawa Timur cabang Dr. Soetomo
Surabaya” penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pelatihan dan
pengembangan karyawan secara simultan tehadap prestasi kerja dan variabel
manakah anatara pelatihan dan pengembangan karyawan yang paling dominan
berpengaruh terhadap prestasi kerja. Populasi dalam penelitian ini adalah sebanyak
91 orang. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan rumus slovin yang
didapat hasil sampelnya ada 48 orang. Metode pengambilan data primer yang
digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis regresi liniear berganda. Hasil
dari pengujian hipotesis dalam penelitian ini menunjukkan bahwa pelatihan dan
pengembangan karyawan berpengaruh secara simultan terhadap prestasi kerja
30
denagn nilai f hitung (55,168) lebih besar dari f tabel (2,42) serta nilai signifikan
kesalahan model yang di uji adalah 0,000 yang berarti lebih kecil dari nilai
signifikan 0,1 variabel paling dominan antara pelatihan dan pengembangan
karyawan adalah pengembangan karyawan dengan nilai t hitunguntuk variabel
pengembangan karyawan adalah 8,134 lebih besar dari t tabel yaitu 1,678 dengan
nilai signifikan kesalahan 0,000 < 0,1. Sedangkan koefisien determinasi (R2)
sebesar 0,710 atau 71%. Artinya variabel bebas pelatihan dan pengembangan
karyawan memengaruhi variabel prestasi kerja karyawan sebesar 0,710 atau sebesar
71% prestasi kerja karyawan dapat dijelaskan oleh variabel pelatihan dan
pengembangan karyawan. Sedangkan sisanya sebesar 29% dipengaruhi oleh
variabel lain diluar penelitian.
Kandou (2015) dengan judul ”Pengaruh pelatihan dan pengembangan karyawan
terhadap produktivitas kerja karyawan (studi pada PT. Air Manado)”. Penelitian
ini bertjuan untuk mengetahui seberapa pengaruh pelatihan dan pengembangan
karyawan terhadap produktivitas kerja pada karyawan PT. Air Manado. Penelitian
ini memakai metode kuantitatif dengan pendekatan korelasi dan regresi. Yang mana
hasilnya terdapat hubungan positif antara pelatihan dan pengembangan dengan
produktivitas kerja karyawan PT. Air Manado. Hal ini dilihat dari hasil analisis
korelasi sederhana sebesar 0,86. Angka tersebut mendekati angka satu yang dapat
dikatakan baahwa hubungan antara kedua variabel adalah positif dan signifikan
dibuktikan dengan dengan uji t hitung lebih dari pengembangan yang dilakukan PT.
Air Manado memberikan dampak cukup tinggi pada produktivitas kerja karyawan.
Hasil analsis regresi sederhana menunjukkan pelatihan dan pengembangan
karyawan PT. Air Manado memberikan pengaruh cukup signifikan terhadap
31
produktivitas kerja karyawan sebesar 74%. Sedangkan sisanya ditentukan oleh
faktor-faktor lainnya.
Elaine et al. (2013) dengan judul “Pengaruh program pelatihan dan
pengembangan terhadap kinerja karyawan pada PT. Bank Central Asia, TBK (Studi
pada frontliner bakti BCA KCU Banjarmasin)”. Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui dan menganalisis pengaruh program pelatihan (XI) dan pengembangan
(X2) sebagai variabel independen baik secara parsial maupun simultan terhadap
kinerja karyawan (Y) sebagai variabel dependen pada PT. Bank Central Asia, Tbk
(BCA KCU Banjarmasin). Metode penelitian ini menggunakan kuesioner dengan
65 orang Frontliner Bakti BCA KCU Banjarmasin sebagai sampel. Pengukuran
variabel menggunakan teknik skala likert dengan 6 tingkat persetujuan. Untuk
mengetahui pengaruh variabel XI dan X2 terhadap Y digunakan teknik statistik
regresi linear berganda dan untuk menguji signifikansi menggunakan uji F dan uji
t dengan program SPSS. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa secara parsial
dari kedua variabel independen, hanya program pelatihan yang memiliki pengaruh
signifikan terhadap kinerja karyawan. Tidak ada pengaruh signifikan dari kedua
variabel independen secara simultan terhadap variabel kinerja kayawan.
Lumintang, dkk. (2016) dengan judul “Pengaruh Pelatihan dan Pengembangan
Sumber Daya Manusia Terhadap Kinerja Karyawan Pada PT. Berlian Kharisma
Pasifik Manado”. Pelatihan dan pengembangan mempunyai peran penting untuk
meningkatkan kinerja para karyawan untuk meningkatkan SDM yang lebih
bermutu. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh pelatihan dan
pengembangan SDM secara simultan dan persial terhadap kinerja karyawan pada
PT. Berlian Kharisma Pasifik Manado. Penelitian ini merupakan penelitian
32
asosiatif, lokasi pada PT. Berlian Kharisma Pasifik Manado. Populasi dan sampel
penelitian adalah seluruh karyawan pada PT. Berlian Kharisma Pasifik Manado.
Teknik analisis menggunakan regresi liniear berganda. Hasil penelitian
menunjukkan pelatihan SDM dan Pengembangan SDM secara simultan
berpengaruh siginifikan terhadap kinerja karyawan di PT. Berlian Kharisma Pasifik
Manado. Pelatihan SDM merupakan variabel yang pengaruhnya terhadap kinerja
karyawan, pengembangan SDM secara parsial berpengaruh positif dan signifikan
terhadap kinerja karyawan. Manajemen perusahaan sebaiknya memperhatikan
SDM agar kedepan kinerja para karyawan lebih meningkat.
33
C. Kerangka Konseptual
PELATIHAN (X1)
H2
KINERJA KARYAWAN (Y)
H3
PENGEMBANGAN (X2)
H1
Parsial =
Simultan =
D. Hipotesis
H1: Diduga pelatihan dan pengembangan karyawan berpengaruh secara
simultan terhadap kinerja karyawan di Airlangga University Press
(AUP) Surabaya.
H2: Diduga pelatihan karyawan berpengaruh terhadap kinerja karyawan di
Airlangga University Press (AUP) Surabaya.
H3: Diduga pengembangan karyawan berpengaruh terhadap kinerja
karyawan di Airlangga University Press (AUP) Surabaya.