0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
237 tayangan38 halaman

Perencanaan Jaringan Air Tanjungsari

Proposal ini membahas perencanaan jaringan distribusi air bersih di Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Gunungkidul selama 20 tahun ke depan. Tujuannya adalah memenuhi kebutuhan air bersih bagi penduduk yang belum terlayani dengan merencanakan jumlah penduduk, kebutuhan air, kapasitas reservoir, dan anggaran proyek. Perencanaan ini menggunakan landasan teori tentang proyeksi penduduk, kebutuhan air, dan k

Diunggah oleh

Meme's Stealer
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
237 tayangan38 halaman

Perencanaan Jaringan Air Tanjungsari

Proposal ini membahas perencanaan jaringan distribusi air bersih di Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Gunungkidul selama 20 tahun ke depan. Tujuannya adalah memenuhi kebutuhan air bersih bagi penduduk yang belum terlayani dengan merencanakan jumlah penduduk, kebutuhan air, kapasitas reservoir, dan anggaran proyek. Perencanaan ini menggunakan landasan teori tentang proyeksi penduduk, kebutuhan air, dan k

Diunggah oleh

Meme's Stealer
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

UNIVERSITAS GUNADARMA

FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN

PROPOSAL TUGAS AKHIR

PERENCANAAN JARINGAN DISTRIBUSI AIR BAKU DI

KECAMATAN TANJUNGSARI GUNUNGKIDUL

Oleh:

Nama : Bayu Gilang Nugraha


NPM : 11316355
Jurusan : Teknik Sipil
Dosen Pembimbing : Tati Novianti, ST., MT.

Diajukan Guna Melengkapi Sebagian Syarat


Dalam Mencapai Gelar Sarjana Strata Satu (S1)

JAKARTA

2022

i
PERSETUJUAN

Proposal Tugas Akhir Sarjana Strata Satu (S1)


Dengan Topik

PERENCANAAN JARINGAN DISTRIBUSI AIR BAKU DI


KECAMATAN TANJUNGSARI GUNUNGKIDUL

Oleh:
Nama : Bayu Gilang Nugraha
NPM : 11316355

Telah Diperiksa dan Disetujui untuk Disidangkan dalam Sidang Preview 1

Depok, ………….2022

Menyetujui

Dosen Pembimbing Tugas Akhir

(Tati Novianti, ST., MT.)

Mengetahui,

Ketua Jurusan Teknik Sipil Koordinator Tugas Akhir

(Dr. Heri Suprapto, MT.) (Ellysa, ST., MT.)

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ...................................................................................... i

LEMBAR PERSETUJUAN.......................................................................... ii

DAFTAR ISI ................................................................................................ iii

DAFTAR TABEL ......................................................................................... v

DAFTAR GAMBAR ................................................................................... vi

DAFTAR LAMPIRAN .............................................................................. vii

1. LATAR BELAKANG ......................................................................... 1

2. TUJUAN PENULISAN TUGAS AKHIR .......................................... 2

3. BATASAN PENULISAN TUGAS AKHIR ....................................... 3

4. SISTEMATIKA PENULISAN ........................................................... 3

5. LANDASAN TEORI........................................................................... 5

6. METODOLOGI PERENCANAAN .................................................. 26

6.1 URAIAN UMUM ........................................................... 26

6.2 LANGKAH-LANGKAH PERENCANAAN ................. 26

6.3 DIAGRAM ALIR PERENCANAAN ............................ 27

7. JADWAL PELAKSANAAN TUGAS AKHIR ................................. 29

8. KEBUTUHAN DATA SKRIPSI ..................................................... 30

9. DAFTAR PUSTAKA ....................................................................... 31

iii
DAFTAR TABEL

Tabel 5.1 Parameter Fisik dalam Standar Baku Mutu Kesehatan

Lingkungan untuk Media Air untuk Keperluan Higiene

Sanitasi .............................................................................. 9

Tabel 5.2 Parameter Biologi dalam Standar Baku Mutu Kesehatan

Lingkungan untuk Media Air untuk Keperluan Higiene

Sanitasi .............................................................................. 9

Tabel 5.3 Parameter Kimia dalam Standar Baku Mutu Kesehatan

Lingkungan untuk Media Air untuk Keperluan Higiene

Sanitasi ............................................................................ 10

Tabel 5.4 Kriteria Perencanaan Air Bersih ..................................... 13

Tabel 5.5 Kebutuhan Air Non Domestik Untuk Kategori

5 (Desa) ........................................................................... 15

Tabel 5.6 Kebutuhan Air Non Domestik Untuk Kota

Kategori 1,2,3,dan 4........................................................ 16

Tabel 5.7 Kebutuhan Air Non Domestik Untuk Kategori Lain ...... 16

Tabel 5.8 Kriteria Pipa Transmisi dan Distribusi ........................... 18

v
DAFTAR GAMBAR

Gambar 6.1 Diagram Alir Perencanaaan Jaringan Distribusi

Air Baku.......................................................................... 28

vi
DAFTAR LAMPIRAN

vii
PERENCANAAN JARINGAN DISTRIBUSI AIR BAKU DI

KECAMATAN TANJUNGSARI GUNUNGKIDUL

1. Latar Belakang

Kebutuhan air merupakan salah satu kebutuhan dasar bagi makhluk hidup.

Tanaman, hewan, dan manusia sangat bergantung pada ketersediaan air untuk

keberlangsungan hidupnya. Ketersediaan air khususnya air bersih dibutuhkan bagi

manusia untuk menciptakan perilaku hidup bersih dan sehat baik untuk dikonsumsi

atau digunakan dengan lain hal.

Seiring berjalannya waktu, dengan bertambahnya penduduk, kebutuhan

manusia akan air bersih juga terus meningkat. Dibutuhkan berbagai perencanaan

pada distribusi air bersih guna terus menjaga ketersediaan air bersih bagi kebutuhan

manusia.

Kabupaten Gunungkidul terletak di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta,

memiliki jumlah penduduk sebanyak 768.523 jiwa yang tersebar di 18 Kecamatan.

Kabupaten Gunungkidul memiliki luas 1.485,36 km2 atau setara dengan 46,63%

luas Provinsi, menjadikan Kabupaten Gunungkidul sebagai kabupaten terluas di

Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Luas wilayah tersebut memiliki topografi

perbukitan karst (kapur) yang hampir mencakup semua wilayah di Kabupaten.

Kabupaten Gunungkidul sering terjadi kekeringan setiap tahunnya. Pada tahun

2020, lebih dari 15% penduduk Kabupaten Gunungkidul yang tersebar di 15

Kecamatan terdampak kekeringan.

1
Sebagian besar penduduk Kabupaten Gunungkidul masih menggunakan

penampungan tadah hujan ataupun sumur bor untuk memenuhi kebutuhan air

bersih. Menurut data PDAM, hanya sekitar 52 ribu rumah di 15 Kecamatan yang

baru terlayani jaringan air bersih PDAM Tirta Handayani Kabupaten Gunungkidul.

Kecamatan Tanjungsari memiliki luas wilayah 71,45 km2 dan jumlah

penduduk 29.469 jiwa. Menurut data Perusahaan Daerah Air Minum Tirta

Handayani Kabupaten Gunungkidul, Kecamatan Tanjungsari baru memiliki

Sambungan Rumah (SR) yaitu sebanyak 3.327 unit.

Pada tugas akhir ini dilakukan perencanaan jaringan distribusi air baku

Kecamatan Tanjungsari Kabupaten Gunungkidul guna untuk memenuhi kebutuhan

air bersih bagi penduduk yang belum terlayani.

2. Tujuan Penulisan Tugas Akhir

Tujuan penulisan Tugas Akhir yang ingin dicapai dari penulisan ini yaitu:

1. Mendapatkan jumlah penduduk di Kecamatan Tanjungsari selama 20 tahun

periode perencanaan dari tahun 2021 hingga tahun 2040.

2. Mendapat kebutuhan air baku Kecamatan Tanjungsari selama 20 tahun

periode perencanaan dari tahun 2021 hingga tahun 2040.

3. Mendapat kapasitas dan dimensi reservoir distribusi untuk kebutuhan air

bersih di Kecamatan Tanjungsari pada periode akhir perencanaan.

4. Menghitung Rencana Anggaran Biaya pipa distribusi air bersih.

2
3. Batasan Penulisan Tugas Akhir

Batasan penulisan Tugas Akhir ini mengacu pada latar belakang penulisan,

yang kemudian akan dibatasi oleh ketentuan sebagai berikut:

1. Daerah yang dibahas pada perencanaan ini adalah Kecamatan Tanjungsari

Kabupaten Gunungkidul periode perencanaan tahun 2021 hingga tahun 2040.

2. Proyeksi jumlah penduduk dihitung selama rentang waktu 20 tahun, sejak

tahun 2021 hingga tahun akhir perencanaan, tahun 2040.

3. Kebutuhan air minum yang direncanakan hanya untuk rumah penduduk di

Kecamatan Tanjungsari yang belum terlayani.

4. Perhitungan dimensi perpipaan dan simulasi hidrolis menggunakan aplikasi

Epanet 2.0.

4. Sistematika Penulisan

Garis besar sistematika penulisan untuk Tugas Akhir ini adalah sebagai

berikut:

BAB 1 PENDAHULUAN

Berisi latar belakang, rumusan masalah, tujuan penulisan Tugas Akhir,

Batasan penulisan Tugas Akhir, dan sistematika penulisan.

BAB 2 LANDASAN TEORI

Berisi uraian teori tentang Tugas Akhir, penelitian, atau tulisan-tulisan lain

yang berhubungan dengan Tugas Akhir yang dilakukan.

3
BAB 3 METODE PERENCANAAN

Berisi tentang penjabaran metode perencanaan, cara pengumpulan data, dan

cara menganalisisnya.

BAB 4 DATA PERENCANAAN

Berisi tentang data-data yang didapat untuk perencanaan jaringan distribusi

air bersih.

BAB 5 PERHITUNGAN DAN ANALISIS DATA

Berisi tentang bagaimana melakukan perhitungan data yang didapat serta

menganalisis hasil perhitungan data tersebut.

BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN

Berisi tentang kesimpulan dan saran yang didapat dari hasil pembahasan pada

bab-bab sebelumnya, sehinggan mendapat rangkaian sistematis yang mudah

dipahami.

4
5 Landasan Teori

5.1 Proyeksi Penduduk

Perencanaan suatu sistem distribusi air minum, diperlukan beberapa kriteria

sebagai dasar perencanaan distribusi jaringan air. Kebutuhan air bersih semakin

meningkat seiring bertambahnya jumlah penduduk dimasa datang. Proyeksi

penduduk walaupun bersifat perkiraan, masih bisa diterima jika proyeksi tersebut

menggunakan metoda-metoda yang sudah ditentukan dalam perencanaan.

Beberapa metoda yang bisa digunakan dalam perencanaan proyeksi

penduduk, yaitu:

1. Metoda Arimatika

2. Metoda Geometri

3. Metoda Least Square

5.1.1 Metoda Arimatika

Metoda ini sesuai untuk daerah dengan perkembangan penduduk yang selalu

meningkat/ bertambah secara konstan. Secara garis besar, jumlah proyeksi

penduduk pada metoda inidapat diperoleh berdasarkan data jumlah penduduk pada

awal tahun dasar, rata-rata pertambahan penduduk, dan jangka waktu proyeksi.

Perhitungan dengan metoda arimatika adalah sebagai berikut:

Pn = Po + r .............................................................................................. (5.1)

(Po−Pt)
r= × n ........................................................................................ (5.2)
t

dimana:

Pn = Jumlah penduduk n tahun yang akan datang

5
Po = Jumlah penduduk pada akhir tahun data

Pt = Jumlah penduduk pada awal tahun data

n = Jangka waktu tahun proyeksi

t = Jangka waktu tahun data

r = Koefisien tahun proyeksi

5.1.2 Metoda Geometri

Proyeksi pertumbuhan penduduk metode geometri digunakan apabila

pertumbuhan penduduk bertambah secara eksponensial atau menunjukan

peningkatan pesat dari tahun ke tahun lainnya. Metoda ini mengganggap bahwa

perkembangan penduduk otomatis berganda dengan pertambahan penduduk di

tahun sebelumnya. Metoda ini tidak memperhatikan adanya suatu penurunan

penduduk akibat kepadatan penduduk yang mendekati nilai maksimum. Metode ini

banyak digunakan karena mudah dan mendekati kebenaran.

Perhitungan dengan metoda geometri adalah sebagai berikut:

Pn = Po(1 + r)𝑛 ...................................................................................... (5.3)

Po 1
r = ( Pt )T − 1 .......................................................................................... (5.4)

dimana:

Pn = Jumlah penduduk n tahun yang akan datang

Po = Jumlah penduduk pada akhir tahun data

Pt = Jumlah penduduk pada awal tahun data

n = Jangka waktu tahun proyeksi

T = Jumlah waktu tahun data

6
5.1.3 Metoda Least Square

Metoda ini dapat digunakan untu daerah dengan perkembangan penduduk

yang mempunyai kecenderungan garis linear meskipun perkembangan penduduk

tidak selalu bertambah.

Perhitungan dengan metoda Least Square adalah sebagai berikut:

Pn = a + (b × X) ..................................................................................... (5.5)

(∑ P)(∑ X2 )−(∑ X)(∑ PX2 )


a= 2 ........................................................................ (5.6)
N(∑ X2 )−(∑ X)

N(∑ PX)−(∑ X)(∑ P)


b= 2 ............................................................................... (5.7)
N(∑ X2 )−(∑ X)

dimana:

∑P = Jumlah penduduk data

∑X = Jumlah urutan tahun data

N = Jumlah tahun data

X = Jangka waktu tahun proyeksi

5.1.4 Pemilihan Metode Perhitungan

Metoda-metoda tersebut tentu memiliki kelebihan dan kekurangannya

masing-masing. Dari ketiga metoda tersebut, metoda dengan kesalahan standar

deviasi terkecil nantinya akan digunakan sebagai metoda untuk menentukan jumlah

proyeksi penduduk waktu rencana. Besar kecilnya kesalahan standar deviasi dapat

dihitung dengan cara:

∑(𝑃𝑜 −𝑃𝑛 )
SD = √ ....................................................................................... (5.8)
𝑛

dimana:

7
SD = Standar deviasi

Po = Jumlah data rill penduduk

Pn = Jumlah perkiraan penduduk pada tahun lampau

n = Jumlah data

5.2 Standar Penyediaan Air

Kebutuhan air merupakan jumlah air yang diperlukan bagi kebutuhan dasar

suatu unit konsumsi air. Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia

tentang standar baku mutu Kesehatan lingkungan dan persyaratan Kesehatan air

untuk keperluan higiene sanitasi, kolam renang, solus per aqua, dan pemandian

umum nomor 32 tahun 2017, air untuk keperluan higiene sanitasi adalah air dengan

kualitas tertentu yang digunakan untuk keperluan sehari-hari yang kualitasnya

berbeda dengan kualitas air minum.

Standar air baku untuk keperluan higiene sanitasi meliputi parameter fisik,

biologi, dan kimia yang dapat berupa parameter wajib dan parameter tambahan bagi

penyelenggara penyedia air untuk masyarakat. Parameter wajib merupakan

parameter yang harus diperiksa secara berkala sesuai dengan peraturan perundang-

undangan, sedangkan parameter tambahan hanya diwajibkan untuk diperiksa jika

ada kondisi yang mengindikasikan adanya potensi pencemaran terkait dengan

parameter tambahan.

Air untuk kebutuhan higiene sanitasi digunakan untuk pemeliharaan

kebersihan perorangan seperti mandi serta keperluan cuci bahan pangan, peralatan

8
makanm dan pakaian. Selain itu air untuk keperluan higiene sanitasi dapat

digunakan sebagai air baku minum

Tabel 5.1 Parameter Fisik dalam Standar Baku Mutu Kesehatan Lingkungan

untuk Media Air untuk Keperluan Higiene Sanitasi

Standar Baku Mutu


No. Parameter Wajib Unit
(Kadar Maksimum)
1. Kekeruhan NTU 25
2. Warna TCU 50
Zat padat terlarut
3. Mg/l 1.000
(Total Dissolved Solid)
4. Suhu ˚C Suhu udara ± 3
5. Rasa Tidak berasa
6. Bau Tidak berbau
(Sumber: PMK No 32 Tahun 2017)

Tabel 5.2 Parameter Biologi dalam Standar Baku Mutu Kesehatan Lingkungan

untuk Media Air untuk Keperluan Higiene Sanitasi

Standar Baku Mutu


No. Parameter Wajib Unit
(Kadar Maksimum)
1. Total coliform CFU/100ml 50
2. E. coli CFU/100ml 25
(Sumber: PMK No 32 Tahun 2017)

9
Tabel 5.3 Parameter Kimia dalam Standar Baku Mutu Kesehatan Lingkungan

untuk Media Air untuk Keperluan Higiene Sanitasi

Standar Baku Mutu


No. Parameter Wajib Unit
(Kadar Maksimum)
Wajib
1. Ph mg/l 6,5 – 8,5
2. Besi mg/l 1
3. Fluorida mg/l 1,5
4. Kesadahan (CaCO3) mg/l 500
5. Mangan mg/l 0,5
6. Nitrat, Sebagai N mg/l 10
7. Nitrit, Sebagai N mg/l 1
8. Sianida mg/l 0,1
9. Deterjen mg/l 0,05
10. Pestisida total mg/l 0,1
Tambahan
1. Air raksa mg/l 0,001
2. Arsen mg/l 0,05
3. Kadmium mg/l 0,005
4. Kromium (valensi 6) mg/l 0,05
5. Selenium mg/l 0,01
6. Seng mg/l 15
7. Sulfat mg/l 400
8. Timbal mg/l 0,05
(Sumber: PMK No 32 Tahun 2017)

10
5.3 Ketersediaan Air

Ketersediaan air merupakan hal yang sangat penting dalam penyediaan air

baku. Ketersediaan air berhubungan dengan jumlah, kualitas, waktu ketersediaan,

energi, keberlanjutan, lokasi, elevasi, dan fluktuasi yang termasuk dalam sumber

daya air. Sumber daya air menurut kamus besar Bahasa Indonesia adalah potensi

air yang dapat dikembangkan untuk proses produksi. Dalam hal ini untuk

memenuhi kebutuhan kehidupan dan lingkungan.

Besarnya air yang digunakan untuk berbagai jenis penggunaan dikenal

dengan pemakaian air. Besarnya konsumsi air yang digunakan dipengaruhi oleh

beberapa faktor, yaitu:

1. Ketersediaan air dari segi kualitas, kuantitas, dan kontiunitas.

2. Kebiasaaan penduduk setempat.

3. Pola dan tingkat kehidupan.

4. Harga air.

5. Teknis ketersediaan air seperti fasilitas distribusi, fasilitas pembuangan

limbah yang dapat mempengaruhi kualitas air bersih dan kemudahan dalam

mendapatkannya.

6. Keadaan sosial ekonomi penduduk setempat.

5.3.1 Standar penyediaan Air Domestik

Standar penyediaan air domestic ditentukan oleh jumlah konsumen domestik

yang diketahui dari data penduduk. Standar penyediaan domestik meliputi minum,

mandi, masak, dan lain-lain. Kecenderungan meningkatnya kebutuhan dasar air

11
ditentukan oleh kebiasaan pola hidup masyarakat setempat dan didukung oleh

kondisi sosial ekonomi.

Dengan demikian, untuk mengetahui kebutuhan air pada masa yang akan

datang, maka perlu mengetahui jumlah penduduk pada masa yang akan datang, data

yang dibutuhkan yaitu:

1. Jumlah penduduk saat ini.

2. Jumlah kenaikan penduduk.

Dari data tersebut, maka dapat dihitung/perkirakan jumlah penduduk pada

masa yang akan datang, sehingga kita dapat mengetahui kebutuhan air pada masa

yang akan datang.

Sementara untuk kebutuhan air domestik untuk kota dibagi dalam beberaa

kategori, yaitu:

1. Kota kategori 1 (Metropolitan)

2. Kota kategori 2 (Kota Besar)

3. Kota kategori 3 (Kota Sedang)

4. Kota kategori 4 (Kota Kecil)

5. Kota karegori 5 (Desa)

Untuk mengetahui kriteria perencanaan air bersih pada tiap-tiap kategori

tersebut, dapat dilihat pada table berikut:

12
Tabel 5.4 Kriteria Perencanaan Air Bersih

Kategori Kota Berdasarkan Jumlah Penduduk (Jiwa)


500.000 100.000 20.000
>1.000.000 s/d s/d s/d <20.000
No. Uraian
1.000.000 500.000 100.000
Kota Kota Kota Kota
Desa
Metropolitan Besar Sedang Kecil
Konsumsi
Unit
1. Sambungan 190 170 130 100 80
Rumah (SR)
(liter/org/hari)
Konsumsi
Unit Hidran
2. 30 30 30 30 30
(HU)
(liter/org/hari)
Konsumsi
3. unit non 20 – 30 20 – 30 20 – 30 20 – 30 20 – 30
domestik
Kehilangan
4. 20 – 30 20 – 30 20 – 30 20 – 30 20 – 30
Air (%)
(Sumber: Ditjen Cipta Karya PU, 1996)

13
Tabel 5.4 (Lanjutan) Kriteria Perencanaan Air Bersih

Faktor Hari
5. 1,1 1,1 1,1 1,1 1,1
Maksimum
Faktor Jam
6. 1,5 1,5 1,5 1,5 1,5
Puncak
Jumlah Jiwa
7. 5 5 5 5 5
per SR (jiwa)
Jumlah jiwa 100 –
8. 100 100 100 200
per HU (jiwa) 200
Sisa tekan Di
penyediaan
9. 10 10 10 10 10
distribusi
(Meter)
Jam Operasi
10. 24 24 24 24 24
(jam)
Volume
Reservoir (%
11. 20 20 20 20 20
Max Day
Demand)
50 : 50
50 : 50 s/d
12. SR : HU s/d 80 : 20 70 : 30 70 : 30
80 : 20
80 : 20
Cakupan
13. Pelayanan *)90 90 90 90 **)70
(%)
(Sumber: Ditjen Cipta Karya PU, 2000) *)60% perpipaan, 30% non perpipaan

**)25% perpipaan, 45% non perpipaan

14
5.3.2 Standar Penyediaan Air Non Domestik

Standar penyediaan air non domestic ditentukan oleh banyaknya konsumen

non domestik yang meliputi berbagai fasilitas seperti perkantoran, kesehatan,

industri, komersial, umum, dan lainnya. Konsumsi non domestic terbagi menjadi

beberapa kategori yaitu:

1. Umum, meliputi: tempat ibadah, rumah sakit, sekolah, terminal, kantor, dan

lain sebagainya.

2. Komersil, meliputi: hotel, pasar, pertokoan, rumah makan, dan sebagainya.

3. Industri, meliputi: peternakan, industri, dan sebagainya.

Untuk Memprediksi perkembangan kebutuhan air non domestik perlu

diketahui rencana pengembangan kota serta aktifitasnya. Apabila tidak dikeahui,

maka prediksi dapat didasarkan pada suatu ekivalen penduduk, dimana konsumen

non domestik dapat dihitung mengikuti perkembangan standar penyediaan air

domestic. Kebutuhan air non domestik menurut kriteria perencanaan terdapat pada

table berikut:

Tabel 5.5 Kebutuhan Air Non Domestik Untuk Kategori 5 (Desa)

Sektor Nilai Satuan


Sekolah 10 liter/murid/hari
Rumah Sakit 200 liter/bed/hari
Puskesmas 1.200 liter/unit/hari
Masjid 3.000 liter/unit/hari
Mushola 2.000 liter/unit/hari
Pasar 12.000 liter/hektar/hari
Komersial / Industri 10 liter/hari
(Sumber: Ditjen Cipta Karya PU, 1996)

15
Tabel 5.6 Kebutuhan Air Non Domestik Untuk Kota Kategori 1,2,3,dan 4

Sektor Nilai Satuan


Sekolah 10 liter/murid/hari
Rumah Sakit 200 liter/bed/hari
Puskesmas 2.000 liter/unit/hari
Masjid 3.000 liter/unit/hari
Kantor 10 liter/pegawai/hari
Pasar 12.000 liter/hektar/hari
Hotel 150 liter/bed/hari
Rumah Makan 100 liter/tempat duduk/hari
Komplek Militer 60 liter/orang/hari
Kawasan Industri 0,2 – 0,8 liter/detik/hari
Kawasan Pariwisata 0,1 – 0,3 liter/detik/hari
(Sumber: Ditjen Cipta Karya PU, 1996)

Tabel 5.7 Kebutuhan Air Non Domestik Untuk Kategori Lain

Sektor Nilai Satuan


Lapangan terbang 10 liter/orang/detik
Pelabuhan 50 liter/orang/detik
Stasiun KA dan Terminal 10 liter/orang/detik
Kawasan industri 0,75 liter/detik/hektar
(Sumber: Ditjen Cipta Karya PU, 1996)

Dari tabel diatas, maka data yang perlu diketahui jenisnya dan jumlah sarana,

yaitu:

1. Jenis dan jumlah sarana pada saat ini.

2. Perkiraan perkembangan jenis dan jumlah sarana pada masa yang akan

datang.

16
5.4 Jaringan Pipa Transmisi dan Distribusi

Pipa merupakan komponen utama dalam jaringan perpipaan yang saling

berhubungan. Saluran pipa adalah saluran bertekanan yang berarti bahwa air di

dalam saluran tersebut memiliki tekanan yang melebihi tekanan di luar pipa.

Jaringan perpipaan dapat diklasifikasikan menjadi jaringan transmisi dan distribusi.

Jaringan transmisi umumnya menghubungkan antara sumber air dengan suatu

daerah yang dekat dengan daerah distribusi. Panjang jaringan pipa transmisi

bergantung pada jarak sumber air dengan daerah distribusi. Sepanjang pipa

transmisi, dipasang katup pengontrol aliran. Pada saluran pipa, kadang diperlukan

bak Pelepas tekanan atau katup pereduksi tekanan sepanjang pipa transmisi. Bak

Pelepas tekanan tersebut digunakan apabila tekanan yang tersimpan didalam pipa

terlalu besar sehingga dikhawatirkan pipa akan pecah.

Sementara jaringan distribusi merupakan jaringan pipa bertekanan yang bisa

berupa jaringan bercabang(terbuka) maupun jaringan tertutup (loop). Jaringan

distribusi menghubungkan jaringan transmisi ke daerah pelayanan. Jaringan ini

meliputi unsur-unsur sistem perpipaan dan perlengkapannya.

Secara ringkas, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat

mensyaratkan tentang pipa transmisi dan distribusi, yaitu:

17
Tabel 5.8 Kriteria Pipa Transmisi dan Distribusi

Kriteria Pipa Kriteria Pipa


No. Uraian
Transmisi Distribusi
Fmax x Qrata-
1. Debit perencanaan (Qmax) Fmax x Qrata-rata
rata
2. Faktor harian maksimum (Fmax) 1,10 – 1,50 1,15 – 3
Pipa atau saluran
3. Jenis saluran
terbuka (air baku)
Kecepatan aliran dalam pipa
a. Kecepatan minimum (Vmin) 0,3 – 0,6 m/det 0,3 – 0,6 m/det
4. b. Kecepatan Maksimum (Vmax)
PVC 3,0 – 4,5 m/det 3,0 – 4,5 m/det
DCIP 6,0 m/det 6,0 m/det
Tekanan air dalam pipa
a. Tekanan air minimum (Hmin) 1 atm 0,5 - 1 atm
b. Tekanan air Maksimum (Hmax)
5. Pipa PVC 6-8 atm 6-8 atm
Pipa DCIP 10 atm 10 atm
Pipa PE 100 12,4 Mpa 12,4 Mpa
Pipa PE 80 9,0 Mpa 9,0 Mpa
Kecepatan saluran terbuka
6. a. Kecepatan minimum (Vmin) 0,6 m/det
b. Kecepatan Maksimum (Vmax) 1,5 m/det
7. Kemiringan saluran terbuka (S) (0,5 – 1) 0/00
8. Tinggi bebas saluran terbuka (Hw) 15 cm(minimum)
Kemiringan tebing terhadap dasar 45 ˚ (untuk
9.
saluran bentuk trapezium)
(Sumber: KepMenPU no 18, 2007)

18
Penentuan dimensi perpipaan transmisi dan distribusi dapat menggunakan

rumus:

Q = V × A .............................................................................................. (5.9)

A = 0,785 D2 ........................................................................................ (5.10)

dimana:

Q = Debit (m3/detik)

V = Kecepatan pengaliran (m/detik)

A = Luas penampang pipa (m2)

D = Diameter pipa (m)

5.5 Jenis Pipa

Jenis pipa sangan berpengaruh pada layanan jaringan, keawetan, biaya

pemeliharaan, dan juga biaya operasionalnya. Selain hal tersebut, jenis pipa juga

menentukan tekanan air dalam pipa yang bisa di tahan. Pemilihan jenis pipa,

tergantung pada kebutuhan. Aspek-aspek yang mempengaruhi terkait dengan

tekanan, kualitas,air, reaksi kimia, pengaruh sinar matahari, pencurian, dan

keamanan tekanan dari luar pipa, dan lainnya.

Beberapa jenis pipa diantaranya adalah berjenis pipa bambu, pipa PVC, pipa

HDPE, dan pipa baja. jenis pipa memiliki kekurangan dan keunggulannya masing-

masing, misalnya pipa PVC memiliki keuntungan ringan, pemasangan relative

mudah, dan tidak bereaksi dengan air, sementara kekurangannya adalah hanya

mampu menahan aliran air dengan tekanan rendah. Sementara pipa baja

19
keuntungannya adalah dapat menahan aliran air tekanan tinggi, serta tahan terhadap

berbagai cuaca, tetapi memiliki kekurangan, yaitu lebih berat dan lebih mahal.

5.5.1 Sambungan Pipa

Sambungan pipa berkaitan dengan teknologi pembuatan pipa dan transportasi

pipa itu sendiri. Panjang pipa pada umumnya hanya 6 meter. Dengan begitu, sistem

jaringan perpipaan pastinya memiliki sambungan yang menjamin kualitasnya untuk

mengurangi resiko akan kebocoran akibat tekanan dalam, maupun tekanan luar

pipa.

Sambungan pipa dapat dilakukan dengan las, sambungan flange, atau pun

sambungan lainnya tergantung jenis dan kebutuhan pipa. Sementara sambungan

pipa biasanya berbentung sambungan pipa lurus, belokan, maupun percabangan,

sesuai dengan kebutuhan jaringan perpipaan.

Pada setiap sambungan perpipaan, baik sambungan pipa lurus, belokan, atau

percabangan, selalu terjadi kehilangan energi. Meskipun demikian, besarnya

kehilangan energi tidak selalu berbanding lurus dengan panjang dan jenis

sambungan pipa.

5.5.2 Dukungan Pipa

Berat pipa dan berat air didalam pipa sangan membahayakan pipa apabila

tidak didukung dengan dukungan pipa pada jarak tertentu. Dukungan pipa sangat

bergantung pada tebal dinding pipa dan kualitas pipa. Dukungan pipa bisa dengan

cara membuat dudukan beton dibawah pipa, berbentuk jembatan jika pipa melalui

20
topografi daerah tertentu seperti sungai atau pun jalan, ataupun menentukan

kedalaman pipa dari permukaan tanah untuk melindungi pipa dari tekanan luar pipa

seperti tekanan kendaraan.

Dukungan pipa umumnya terbagi menjadi dua jenis, yaitu dukungan pipa

lurus dan dukungan pada pipa berkelok. Jarak maksimum pada pipa lurus biasanya

mengikuti panjang pipa itu sendiri, sementara dukungan pipa berkelok agak

berbeda dengan dukungan pipa lurus, dikarenakan adanya perubahan momentum.

Perubahan momentum per satuan waktu adalah gaya, sehingga pipa berkelok akan

terjadi gaya yang bisa melepaskan sambungan pipa atau menggeser sambungan

pipa. Maka dari itu, dukungan pipa berkelok secara vertikal maupun horizontal

diperlukan blok penahan gaya untuk menahan gaya momentum tersebut.

5.6 Katup

Katup merupakan elemen yang diperlukan dalam jaringan pipa, fungsi katup

sendiri antara lain:

1. Mengatur debit atau aliran dalam pipa.

2. Mengatur tekanan di hulu maupun hilir katup dan daerah lain yang dapat

dipengaruhi.

3. Menutup pipa sementara.

4. Menutup dan menjaga agar tidak ada aliran balik.

5. Mengurangi tenaga atau tekanan yang berlebihan.

21
Letak dari katup sangat bergantung pada fungsi katup itu sendiri. Katup yang

paling banyak dikenal adalah jenis katup untuk mengatur debit ke hilir. Katup ini

beroperasi dengan cara menutup sebagian atau seluruh diameter pipa.

5.7 Kebocoran Pipa

Kebocoran pipa pada jaringan distribusi air harus tetap diperhitungkan. Hal-

hal yang menyebabkan kebocoran pipa dikarenakan kualitas pipa yang tidak sesuai

dengan tekanan air, terjadi water hammer yang sebelumnya tidak diperhitungkan

dalam perencanaan, sambungan pipa yang kurang sempurnya, dan sebagainya.

Menurut Direktoran Jendral Cipta Karya Departemen Pekerjaan Umum dan

Perumaha Rakat (1998) kehilangan air harus ditekan hingga dibawah 20%,

walaupun begitu. Kewajiban penanganan kebocoran akan baru dilakukan jika

kehilangan air diatas 25% pada kota besar atau 30% pada kota kecil.

5.8 Pompa

Pompa adalah alat yang digunakan untuk menaikkan tekanan atau energi

potensial air, sehingga jangkauan aliran air akan semakin jauh. Jika pompa dipasang

pada aliran, maka pompa akan berfungsi sebagai alat untuk menambah debit dan

tekanan air.

Karakteristik kinerja pompa ditunjukan dengan debit yang dihasilkan, dan

juga tenaga yang diberikan. Titik operasional pompa dan kekuatan pompa dapat

direncanakan tergantung kebutuhan produsen dan konsumen jaringan distribusi air.

22
Selain hal tersebut, elevasi juga mempengaruhi kekuatan yang dibutuhkan pompa

unuk mengaliri air didalam pipa secara maksimal.

5.9 Reservoir

Reservoir adalah elemen dalam jaringan pipa yang berfungsi sebagai

penyimpanan air sementara sebelum didistribusikan kepada pelanggan atau

konsumen, Reservoir memiliki tempat air yang terbatas yang muka airnya

berfluktuasi secara signifikan tergantung pengambilan dan pengisian debit air.

Fluktuasi muka air ini menyebabkan berubahnya tekanan yang dibutuhkan pompa

untuk mengisi reservoir.

5.10 Simulasi Hidrolis

Pada perencanaan sebuah sistem distribusi air baku, diperlukan perencanaan

untuk menghindari kesalahan pada perenanaan sistem. Perhitungan kebutuhan air

baku, akan dilanjutkan dengan perhitungan analisis sistem jaringan distribusi air

baku yang akan direncanakan. Analisis tersebut terkait dengan menghitung dimensi

perpipaan.

5.10.1 Aplikasi Epanet 2.0

Aplikasi epanet 2.0 adalah perangkat lunak pemodelan jaringan pipa yang

dikembangkan oleh U.S Environmental Protection Agency yang bersifat public

domain atau bebas penggunaan karena tidak dilindungi hak cipta secara eksklusif.

23
Epanet berguna untuk mensimulasikan perilaku hidraulika pada jaringan pipa.

Yang nantinya akan digunakan untuk menganalisa jaringan sistem distribusi.

Komponen penting pada aplikasi epanet adalah pipa, node, junction,

reservoir, pompa, dan tangka. Output yang akan dihasilkan pada aplikasi epanet

diantaranya debit yang mengalir pada pipa, tekanan air pada titik atau node atau

junction yang nantinya digunakan untuk menganalisa dan menentukan operasi

instalasi, pompa, dan reservoir.

5.11 Rencana Anggaran Biaya

Rencana anggaran biaya adalah perkiraan biaya yang diperlukan untuk bahan,

alat,upah, serta biaya lainnya yang berhubungan dengan pelaksanaan suatu

pekerjaan atau proyek. Perhitungan tersebut digunakan sebagai patokan biaya yang

dikeluarkan oleh pemilik bangunan dan dilakukan sebelum proses pekerjaan

dimulai.

Fungsi dari rencana anggaran biaya diantaranya adalah sebagai pedoman

dalam perjanjian kontrak kerja konstruksi, menghitung perkiraan kebutuhan

material, alat, serta upah, pada suatu pekerjaan konstruksi, dan untuk memantau

kegiatan pekerjaan konstruksi.

Langkah-langkah untuk menghitung rencana anggaran biaya diantaranya,

menyiapkan shop drawing atau gambar serta spesifikasi teknis, menghitung volume

pekerjaan, membuat AHS atau Analisa Harga Satuan, serta membuat AHSP atau

Analisa Harga Satuan Pekerjaan yang berisi daftar akumulasi perhitungan masing-

masing pekerjaan.

24
Penentuan Rencana Anggaran Biaya dapat menggunakan rumus:

AHS = V × HS ..................................................................................... (5.11)

AHSP = ∑ AHS ..................................................................................... (5.12)

dimana:

AHSP = Analisis Harga Satuan Pekerjaan

AHS = Analisis Harga Satuan

V = Volume Pekerjaan

HS = Harga Satuan

25
6. Metodologi Perencanaan

6.1 Uraian Umum

Metologi perencanaan adalah uraian tentang cara yang digunakan untuk

melaksanakan suatu rancangan agar tercapai sesuai yang dikehendaki. Langkah-

langkah yang harus ditempuh untuk memecahkan permasalahan pada penulisan

tugas akhir.

Perencanaan jaringan distribusi air baku membutuhkan berbagai metode

tahapan yang berguna untuk memperoleh hasil akhir perencanaan secara optimal.

Pada bab ini, membahas tentang metode perencanaan, pengumpulan data, serta cara

menganalisisnya yang dinyatakan dengan bentuk diagram alir.

6.2 Langkah-Langkah Perencanaan

Langkah-langkah yang dilakukan pada penulisan tugas akhir ini, adalah:

1. Pengumpulan Data

Pengumpulan data yang diperlukan, antara lain data jumlah penduduk, jumlah

sambungan rumah (SR), keadaaan sumber air, dan sebagainya.

2. Analisis Data

Setelah proses pengumpulan data, data-data tersebut akan dianalisis untuk

menghasilkan sebuah rancangan, Adapun tahaupannya adalah:

a. Menghitung proyeksi pertumbuhan penduduk sampai dengan 20 tahun.

b. Menentukan kebutuhan air bersih sampai dengan 20 tahun.

26
c. Menghitung dimensi tangki, spesifikasi pipa serta jaringan distribusi

perpipaan.

d. Menghitung rencana anggaran biaya.

6.3 Diagram Alir Perencanaan

Diagram alir atau biasa dikenal dengan flowchart adalah tahapan-tahapan

analisis sistematis yang digunakan untuk menyelesaikan suatu perencanaan. Pada

perencanaan sistem air baku, diagram alir adalah sebagai berikut:

27
Gambar 6.1 Diagram Alir Perencanaaan Jaringan Distribusi Air Baku

28
JADWAL PELAKSANAAN TUGAS AKHIR

Nama Waktu
Kegiatan Mei Juni Juli Agustus September Oktober
Penyusunan
Proposal
Sidang Preview 1
Pencarian Data
Analisis Data
Penyusunan
Tugas Akhir
Sidang Preview 2
Revisi
Sidang Akhir

29
KEBUTUHAN DATA SKRIPSI

Ketersediaan
No. Nama Data Keterangan
Data

Jumlah Pelanggan PDAM


PDAM Tirta
1. (SR) Kecamatan Tersedia
Handayani
Tanjungsari.

Penggunaan Air/jam PDAM Tirta


2. Tersedia
Kecamatan Tanjungsari. Handayani

Data Pipa Eksisting PDAM PDAM Tirta


3. Belum Tersedia
Kecamatan Tanjungsari. Handayani

Peta Sistem Jaringan Pipa


PDAM Tirta
4. PDAM Kecamatan Belum Tersedia
Handayani
Tanjungsari.

Debit Air Sungai Bawah PDAM Tirta


5. Tersedua
Tanah Baron. Handayani

Peta Topografi Kecamatan PEMKAB


6. Belum Tersedia
Tanjungsari. Gunungkidul

Kebutuhan Air Bersih


BPS (Tanjungsari
7. Domestik dan Non Domestik Tersedia
Dalam Angka)
(Fasos/Fasum).

Proyeksi Penduduk BPS (Tanjungsari


8. Tersedia
Kecamatan Tanjungsari. Dalam Angka)

30
DAFTAR PUSTAKA

Radianta Triatmaja, Teknik Penyediaan Air Minum Perpipaan, Gadjah Mada

University Press, Yogyakarta, 2016

Yermia Kumaat Tumanan, Alex Binilang, dan Isri R. Mangangka,”Pengembangan

Sistem Penyediaan Air Bersih Di Desa Uuwan Dumoga Barat Kabupaten

Bolaang Mongondow,Jurnal Sipil Statik, Vol. 5 No.4, pp. 227 – 229, 2017

Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 18/PRT/M/2007, Penyelenggaraan

Pengembangan Sistem Penyedia Air Minum, Kemementerian Pekerjaan

Umum, Jakarta, 2007

31
LEMBAR BIMBINGAN TUGAS AKHIR
Jurusan Teknik Sipil
Universitas Gunadarma

Nama Mahasiswa : Bayu Gilang Nugraha


NPM : 11316355
Judul Tugas Akhir : Perencanaan Jaringan Distribusi Air Baku Di
PKecamatan Tanjungsari Gunungkidul
Nama Dosen Pembimbing : Dr. Diyanti, S.T., M.T.

PROSES PEMBIMBINGAN
No. Tanggal Catatan Paraf Dosen

-Asistensi Judul Skripsi


-Asistensi Bab 1(Revisi latar
1. 16 Maret 2021
belakang, Batasan penulisan, dan
periode perencanaan dibuat 20
tahun)

-Asistensi Bab 1

2. 22 Mei 2021 -Asistensi Bab 2 (Urutan


penulisan sesuai 1.2, tambahkan
rumus pipa, dan sub bab RAB

-Asistensi Bab 1 (Diterima)

22 Juni 2021 -Asistensi Bab 3 (Diterima)


3.
-Asistensi Bab 2 (Revisi
tambahkan rumus RAB)

4. 04 Agustus 2021 Acc preview 1

Anda mungkin juga menyukai