0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4K tayangan7 halaman

Definisi Islam: Etimologi dan Terminologi

Dokumen tersebut memberikan penjelasan mengenai pengertian Islam secara etimologis dan terminologis. Secara etimologis, Islam berarti menyerahkan diri, ketundukan, ketaatan, dan kepatuhan kepada Tuhan. Secara terminologis, Islam didefinisikan sebagai agama wahyu berintikan tauhid yang diturunkan kepada Nabi Muhammad sebagai penyempurnaan agama sebelumnya dan meliputi seluruh aspek kehidupan.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
  • What are the key steps in creating a documentary film?

    Documentary film is a nonfiction genre that presents real-world subjects, events, and people, aiming to inform, interpret, or evoke insight on social, cultural, political, or historical topics. Unlike narrative fiction, documentaries rely on actual footage or interviews rather than scripted performances, and they often seek to balance storytelling with factual accuracy. The term “documentary” is commonly traced to early 20th-century filmmakers; for example, critic John Grierson famously described Robert Flaherty’s 1926 film <i>Moana</i> as a “creative treatment of actuality”. Early documentaries ranged from anthropological studies of remote cultures to newsreels capturing current events, illustrating the wide scope of the form. Whether exploring global issues, intimate personal stories, or artistic expressions, documentaries generally follow a series of creative and production steps similar to fictional films of comparable length, progressing from an initial concept through research, shooting, editing, and finally to exhibition. Each stage must accommodate the particular challenges of real-life subjects, including the unpredictable nature of non-fiction footage and the ethical responsibility toward participants. The process of making a documentary thus involves both artistic vision and meticulous practical planning.

  • What are the main periods and movements in British literature?

    British literature spans a vast historical range from the early medieval period to the present day. In its broadest sense it encompasses works produced in the British Isles, in languages including Old English, Middle English, and later modern English (as well as Welsh, Scots, and Irish Gaelic traditions in some contexts). Scholars typically divide this long history into periods or movements named for cultural, historical, or literary characteristics.

  • How did humans evolve from earlier animals over millions of years?

    Human evolution is the lengthy process through which modern humans (<i>Homo sapiens</i>) have emerged from ancestral animal populations over millions of years.

0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4K tayangan7 halaman

Definisi Islam: Etimologi dan Terminologi

Dokumen tersebut memberikan penjelasan mengenai pengertian Islam secara etimologis dan terminologis. Secara etimologis, Islam berarti menyerahkan diri, ketundukan, ketaatan, dan kepatuhan kepada Tuhan. Secara terminologis, Islam didefinisikan sebagai agama wahyu berintikan tauhid yang diturunkan kepada Nabi Muhammad sebagai penyempurnaan agama sebelumnya dan meliputi seluruh aspek kehidupan.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
  • What are the key steps in creating a documentary film?

    Documentary film is a nonfiction genre that presents real-world subjects, events, and people, aiming to inform, interpret, or evoke insight on social, cultural, political, or historical topics. Unlike narrative fiction, documentaries rely on actual footage or interviews rather than scripted performances, and they often seek to balance storytelling with factual accuracy. The term “documentary” is commonly traced to early 20th-century filmmakers; for example, critic John Grierson famously described Robert Flaherty’s 1926 film <i>Moana</i> as a “creative treatment of actuality”. Early documentaries ranged from anthropological studies of remote cultures to newsreels capturing current events, illustrating the wide scope of the form. Whether exploring global issues, intimate personal stories, or artistic expressions, documentaries generally follow a series of creative and production steps similar to fictional films of comparable length, progressing from an initial concept through research, shooting, editing, and finally to exhibition. Each stage must accommodate the particular challenges of real-life subjects, including the unpredictable nature of non-fiction footage and the ethical responsibility toward participants. The process of making a documentary thus involves both artistic vision and meticulous practical planning.

  • What are the main periods and movements in British literature?

    British literature spans a vast historical range from the early medieval period to the present day. In its broadest sense it encompasses works produced in the British Isles, in languages including Old English, Middle English, and later modern English (as well as Welsh, Scots, and Irish Gaelic traditions in some contexts). Scholars typically divide this long history into periods or movements named for cultural, historical, or literary characteristics.

  • How did humans evolve from earlier animals over millions of years?

    Human evolution is the lengthy process through which modern humans (<i>Homo sapiens</i>) have emerged from ancestral animal populations over millions of years.

Nama :M.

Rizki Putra Pratama

NIM : 2220901075

Semester :1

Mata Kuliah : Studi Keislaman

Dosen Pengampu : Drs. Abu Mansur, [Link].I

Pengertian Islam Secara Etimologi dan Terminologi

1. Pengertian Islam Secara Etimologis

Pengertian Islam dari bahasa berasal dari beberapa kata yang mempunyai arti yang
berbeda – beda, diantaranya: Islam berasal dari kata aslama yang merupakan turunan (derivasi)
dari kata assalmu, assalamatu yang artinya bersih dan selamat dari kecacatan lahir batin. Dari
asal kata ini dapat diartikan bahwa dalam islam terkandung makna suci, bersih tanpa cacat atau
sempurna. Kata Islam juga dapat diambil dari kata assilmu dan assalmu yang berarti perdamaian
dan keamanan. Kata Islam tersebut berasal dari salima yang berarti selamat, sentosa, aman dan
damai. Secara antropologis kata Islam telah tergambarkan kodrat manusia sebagai makhluk
yang patuh dan tunduk pada Tuhan.

Secara etimologis kata “Islam” berasal dari Bahasa Arab salima yang artinya selamat.
Dari kata itu terbentuk aslama yang artinya menyerahkan diri atau tunduk dan patuh.
Sebagimana firman Allah SWT, “Bahkan, barangsiapa aslama (menyerahkan diri) kepada Allah,
sedang ia berbuat kebaikan, maka baginya pahala di sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran
terhadap mereka dan tidak pula bersedih hati” (Q.S. 2:112). Dari kata aslama itulah terbentuk
kata Islam. Pemeluknya disebut Muslim. Orang yang memeluk Islam berarti menyerahkan diri
kepada Allah dan siap patuh pada ajaran-Nya.

Hal senada dikemukakan Hammudah Abdalati. Menurutnya, kata “Islam” berasal dari
akar kata Arab, SLM (Sin, Lam, Mim) yang berarti kedamaian, kesucian, penyerahan diri, dan
ketundukkan. Dalam pengertian religious, menurut Abdalati, Islam berarti “Penyerahan diri
kepada kehendak Tuhan dan ketundukkan atas hukum-Nya.” Hubungan antara pengertian asli
dan pengertian religious dari kata Islam adalah erat dan jelas. Hanya melalui penyerahan diri
kepada kehendak Allah SWT dari ketundukkan atas hukum-Nya, maka seseorang dapat
mencapai kedamaian sejati dan menikmati kesucian abadi.

Ada juga pendapat, akar kata yang membetuk kata “Islam” setidaknya ada empat yang
berkaitan satu sama lain.

1. Aslama. Artinya menyerahkan diri. Orang yang masuk Islam berarti menyerahkan
diri kepada Allah SWT. Ia siap mematuhi ajaran-Nya.
2. Salima. Artinya selamat. Orang yang memeluk Islam, hidupnya akan selamat.
3. Sallama. Artinya menyelamatkan orang lain. Seseorang pemeluk Islam tidak hanya
menyelamatkan diri sendiri, tetapi juga harus menyelamatkan orang lain (tugas
dakwah atau ‘amar ma’ruf nahyi mungkar).
4. Salam. Aman, damai, Sentosa. Kehidupan yang damai Sentosa akan tercipta jika
pemeluk Islam melaksanakan asalama dan sallama.

Kata Islam maknanya dekat dengan kata din, yang berarti menguasai, menundukkan,
patuh, hutang, balasan, dan kebiasaan (Nasution, 1985). Biasanya dalam bahasa Indonesia kata
din diartikan agama (Nasution, 1985; Suma, 2001) dan dalam bahasa Inggris diistilahkan dengan
kata religi (Nasution, 1985:10) padahal makna masing-masing berbeda dengan makna din.
Kedekatan makna tersebut karena keduanya, baik Islam maupun din membawa peraturan-
peraturan yang harus dipatuhi. Keduanya menguasai diri manusia dan membuatnya tunduk
kepada Tuhan dengan menjalankan ajaran-ajaran agama. Keduanya membawa kewajiban-
kewajiban yang kalau tidak dilaksanakan menjadi hutang bagi yang bersangkutan. Paham
kewajiban dan kepatuhan Islam maupun din membawa pula kepada paham balasan. Yang
menjalankan dan patuh kepada Islam maupun din akan mendapat balasan baik dari Tuhan dan
begitu juga sebaliknya.

Dari uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa secara etimologis kata Islam yang paling
tepat adalah apa yang dikatakan oleh Ali bin Abi Thalib saudara dan sekaligus menantu Nabi
Muhammad SAW, yaitu al-Islam huwa al-taslim Islam ialah penyerahan diri (Abi Thalib, 1991),
dan beberapa arti yaitu menyerahkan diri, ketundukan, ketaatan, dan kepatuhan. Hal ini sesuai
dengan fitrah manusia sebagai makhluk yang beragama, al-Qur’an menjelaskan: “Maka
hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah
menciptakan manusia atas fitrah itu. Tidak ada perubahan atas fitrah Allah. Itulah agama yang
lurus, tatapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS al-Rum/30: 30).

Yang dimaksud fitrah tersebut adalah Islam yaitu menyerahkan diri, ketundukan,
ketaatan, dan kepatuhan. Sikap tersebut bukan saja merupakan ajaran Tuhan kepada hamba-
hamba-Nya, tetapi ia diajarkan oleh-Nya dengan dihubungkan kepada alam manusia itu sendiri.
Dengan kata lain, ia juga diajarkan sebagai pemenuhan alam manusia, sehingga pertumbuhan
perwujudannya pada manusia selalu bersifat dari dalam, tidak tumbuh, apalagi dipaksakan dari
luar, karena cara yang demikian menyebabkan Islam tidak autentik, karena kehilangan
dimensinya yang paling mendasar dan mendalam, yaitu kemurnian dan keikhlasan. Karena
Tuhan telah menganugrahkan fitrah tersebut, maka manusia pun dapat kembali memahaminya.
Sehubungan dengan hal tersebut, Haji Abdul Malik Karim Amarullah (Buya Hamka),
menjelaskan “Sebab itu maka agama manusia yang mula-mula itulah agama fithrah. Setelah
manusia menerawang, berfikir, merenung, membanding, mengukur, menjangka, pendeknya
memfilosofi, akhirnya sampailah dia diujung perjalanan. Di dinding yang tak tersebrangi itu.
Segala macam telah dicobanya. Akhirnya yakinlah dia memang ada sesuatu itu. Dialah Yang
Maha Mutlak, Dialah Yang Maha Kuasa, Dialah puncak dari puncaknya ideal (kata Plato).
Dialah Tao yang tak dapat diberi nama (kata Lao Tze). Maka insyaflah manusia akan kelemahan
dirinya, dan insyaf akan Maha Besarnya Yang Ada itu. Maka menyerahlah dia dengan rela hati.
Penyerahan yang demikian dalam bahasa Arab dinamai Islam.” (Hamka, 1989).

Selain itu, sikap Islam tersebut, tidak hanya ada pada manusia, tetapi dimiliki juga oleh
segala sesuatu, bahkan ia pun ada sejak alam ini diciptakan oleh Tuhan. Ali menambahkan
bahwa ketundukkan dan kepatuhan segala sesuatu kepada undang-undang Allah tersebut secara
tak sadar dapat disaksikan di alam semesta ini (Ali, 1980). Tidak jauh berbeda dengan Ali, Taha,
seorang intelektual Muslim asal Sudan, menjelaskan bahwa Islam adalah sebuah kehidupan
praktis, sikap, dan prilaku, cara atau petunjuk; hal ini berarti bahwa Allah menunjukkan kepada
makhluk-Nya untuk patuh dan tunduk, yang merupakan esensi dari segala sesuatu (Taha, 1996).
Penyerahan diri, ketundukan, ketaatan, dan kepatuhan, secara tulus ikhlas kepada Tuhan
Pencipta semesta, itulah Islam sejati yang merupakan esensi dari setiap agama yang diajarkan
oleh para nabi dan rasul, begitu juga Islam yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW.

2. Pengertian Islam Secara Terminologis

Secara terminologis (istilah, maknawi) dapat dikatakan Islam adalah agama wahyu
berintikan tauhid atau keesaan Tuhan yang diturunkan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad
Saw sebagai utusan-Nya yang terakhir dan berlaku bagi seluruh manusia, di mana pun dan kapan
pun, yang ajarannya meliputi seluruh aspek kehidupan manusia. Wahyu yang diurunkan oleh
Allah SWT kepada Rasul-Nya untuk disampaikan kepada segenap umat manusia sepanjang masa
dan setiap persada. Suatu sistem keyakinan dan tata-ketentuan yang mengatur segala
perikehidupan dan penghidupan asasi manusia dalam berbagai hubungan dengan Tuhan, sesama
manusia, dan alam lainnya. Bertujuan: keridhaan Allah, rahmat bagi segenap alam, kebahagiaan
di dunia dan akhirat. Pada garis besarnya terdiri atas akidah, syariat dan akhlak. Bersumberkan
Kitab Suci Al-Quran yang merupakan kodifikasi wahyu Allah SWT sebagai penyempurna
wahyu-wahyu sebelumnya yang ditafsirkan oleh Sunnah Rasulullah Saw. Terminologi Islam
secara bahasa (secara lafaz) memiliki beberapa makna. Makna-makna tersebut ada kaitannya
dengan sumber kata dari "Islam" itu sendiri. Islam terdiri dari huruf dasar (dalam bahasa Arab):
"Sin", "Lam", dan "Mim". Beberapa kata dalam bahasa Arab yang memiliki huruf dasar yang
sama dengan "Islam", memiliki kaitan makna dengan Islam. Dari situlah kita bisa mengetahui
makna Islam secara bahasa. Jadi, makna-makna Islam secara bahasa antara lain: Al istislam
(berserah diri), As salamah (suci bersih), As Salam (selamat dan sejahtera), As Silmu
(perdamaian), dan Sullam (tangga, bertahap, atau taddaruj).

Cukup banyak ahli dan ulama yang berusaha merumuskan definisi Islam secara
terminologis. KH Endang Saifuddin Anshari mengemukakan, setelah mempelajari sejumlah
rumusan tentang agama Islam, lalu menganalisisnya, ia merumuskan dan menyimpulkan bahwa
agama Islam adalah:

 Wahyu yang diturunkan oleh Allah SWT kepada Rasul-Nya untuk disampaikan
kepada segenap umat manusia sepanjang masa dan setiap persada.
 Suatu system keyakinan dan tata-ketentuan yang mengatur segala perikehidupan
dan penghidupan asasi manusia dalam berbagai hubungan dengan Tuhan, sesama
manusia, dan alam lainnya.
 Bertujuan untuk keridhaan Allah, rahmat bagi segenap alam, kebahagiaan di
dunia dan akhirat
 Pada garis besarnya terdiri atas akidah, syariat dan akhlak.
 Bersumberkan Kitab Suci Al-Qur;an yang merupakan kodifikasi wahyu Allah
SWT sebagai penyempurna wahyu-wahyu sebelumnya yang ditafsirkan oleh
Sunnah Rasulullah Saw.

Pengertian Islam secara terminologis diungkapkan Ahmad Abdullah Almasdoosi (1962)


bahwa Islam adalah kaidah hidup yang diturunkan kepada manusia sejak manusia digelarkan ke
muka bumi, dan terbina dalam bentuknya yang terakhir dan sempurna dalam al-Qur’an yang suci
yang diwahyukan tuhan kepada Nabi-Nya yang terakhir, yakni nabi Muhammad ibn Abdullah,
satu kaidah hidup yang memuat tuntunan yang jelas dan lengkap mengenai aspek hidup manusia,
baik spiritual maupun material. Dari definisi itu dapat disimpulkan bahwa Islam adalah agama
yang diturunkan Allah ta’ala kepada manusia melalui rasul-rasul-Nya, berisi hukum-hukum yang
mengatur hubungan manusia dengan Allah ta’ala, manusia dengan manusia, dan manusia dengan
alam semesta. Agama yang diturunkan Allah ta’ala ke muka bumi sejak Nabi Adam sampai Nabi
Muhammad saw adalah agama Islam.

Adapun pengertian Islam secara terminologis dapat dilihat dari definisi-definisi yang
dikemukakan oleh beberapa tokoh. Hamka, misalnya, memberikan pengertian Islam sebagai
agama yang diwahyukan oleh Tuhan kepada Nabi Muhammad SAW dengan perantaraan
Malaikat Jibril, termaktub di dalam Kitab Suci al-Qur’an dan ditafsirkan oleh Sunnah Nabi
Muhammad SAW (Hamka,1986). Tidak berbeda dengan Hamka, Nasution (1985)
mendefinisikan Islam sebagai agama yang ajaran-ajarannya diwahyukan oleh Tuhan kepada
masyarakat manusia melalui Nabi Muhammad SAW sebagai rasul. Selain kedua tokoh tersebut,
Sjadzali (menyorotinya dari fungsi Islam) menjelaskan bahwa Islam yang dibawa oleh nabi besar
Muhammad SAW dulu adalah betul-betul rahmatan li al-‘alamin (kasih sayang bagi semesta);
pemberi petunjuk kepada mereka yang sesat jalan (yang memuja bendabenda hasil karya tangan
mereka sendiri), penegak keadilan, pembela mereka yang lemah, pelopor peningkatan martabat
kaum wanita, pemberi perdamaian kepada mereka yang selama ini saling bermusuhan, dan
pendorong pencarian kebenaran lewat peningkatan ilmu pengetahuan (Sjadzali, 1997).
Selanjutnya Rahman, berdasarkan QS al-Zumar/39: 22 dan al-Maidah/5: 125 menjelaskan bahwa
Islam memiliki pengertian baik “menyerah kepada hukum Tuhan” maupun agama formal yang
disebut Islam, meskipun nama ini tidak diberikan secara formal hingga periode Madinah (dalam
Kamal 1993).

Sedangkan Yahudi dan Nashrani tidak lagi masuk dalam katagori Islam ataupun hanif,
Islam Inklusif (Zain Abidin) 1277 karena mereka tidak lagi memiliki kepercayaan monoteisme
sebagaimana nabi-nabi sebelumnya. Mereka telah mendistorsikan ajaran-ajaran asli, dan mudah
terjerumus dalam perbuatan syirik (Kamal 1993: 100). Selain para tokoh tersebut, Taha
mendefinisikan Islam agak unik dan sedikit berbeda dengan tokoh-tokoh yang lain, yaitu suatu
proses intelektual seorang hamba berproses dalam penghambaannya di suatu jenjang yang terdiri
dari tujuh tahapan, yaitu al-islam, al-iman, al-ihsan, ‘ilm al-yaqin, ‘ilm ‘ain al-yaqin, ‘ilm haqq
al-yaqin, dan al-islam. Pada tahap awal, al-islam hanyalah kepatuhan eksternal atau yang
nampak luarnya saja, yang berhubungan dengan ucapan dan tindakan, sementara al-islam pada
tahapan akhir merupakan penyerahan dan kepatuhan intelegensia serta penerimaan atas Allah,
baik secara pribadi maupun umum, dan merupakan kepatuhan eksternal dan internal sekaligus
(Taha, 1996). Inilah Islam yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW, sebagai penyempurna
ajaran-ajaran sebelumnya, tegas Taha (1996).

Dari berbagai pengertian tersebut, maka pengertian Islam menurut istilah mengacu
kepada agama yang bersumber dari wahyu Allah SWT yang disampaikan kepada Nabi
Muhammad SAW dengan tujuan untuk kesejahteraan dan kebahagiaan hidup umat manusia di
dunia dan akhirat (Islam dalam pengertian ini mempergunakan huruf kapital I [Islam]). Kata
Islam dalam tiga tataran makna yang saling terkait, yaitu: Pertama, Islam sebagai sebuah agama
yang memberikan sebuah kredo, seperangkat doktrin, suatu ritus praktis ibadah, dan sikap moral
spiritual. Kedua, Islam sebagai sebuah fenomena historis yang memberikan identitas kultural
nasional dan rasa keberagamaan lintas kebangsaan bagi para pengikutnya. Ketiga, Islam sebagai
suatu kekuatan peradaban yang terus membentuk respons kaum Muslim terhadap realitas sosial
politik dan terhadap konteks-konteks masa kini, sehingga kaum Muslim dapat terus beradaptasi
dalam suatu masyarakat global yang beragam.

Secara terminologis (istilah, maknawi) dapat dikatakan Islam adalah agama wahyu
berintikan tauhid atau keesaan Tuhan yang diturunkan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad
Saw sebagai utusan-Nya yang terakhir dan berlaku bagi seluruh manusia, di mana pun dan kapan
pun, yang ajarannya meliputi seluruh aspek kehidupan manusia. Wahyu yang diurunkan oleh
Allah SWT kepada Rasul-Nya untuk disampaikan kepada segenap umat manusia sepanjang masa
dan setiap persada. Suatu sistem keyakinan dan tata-ketentuan yang mengatur segala
perikehidupan dan penghidupan asasi manusia dalam pelbagai hubungan: dengan Tuhan, sesama
manusia, dan alam lainnya. Bertujuan: keridhaan Allah, rahmat bagi segenap alam, kebahagiaan
di dunia dan akhirat. Pada garis besarnya terdiri atas akidah, syariat dan akhlak. Bersumberkan
Kitab Suci Al-Quran yang merupakan kodifikasi wahyu Allah SWT sebagai penyempurna
wahyu-wahyu sebelumnya yang ditafsirkan oleh Sunnah Rasulullah Saw.

Common questions

Didukung oleh AI

Secara etimologis, Islam berasal dari kata 'aslama', yang artinya menyerahkan diri atau patuh. Ini mengandung makna suci dan aman seperti yang diungkapkan oleh Hammudah Abdalati, yang menyatakan kedamaian dan ketundukkan sebagai esensi dari Islam . Secara terminologis, Islam dipahami sebagai agama tauhid yang mencakup semua aspek kehidupan, bersumber dari wahyu yang disampaikan melalui Nabi Muhammad . Hubungan keduanya terletak pada konsep penyerahan diri secara millah atau fitrah, sebagaimana manusia yang tunduk kepada hukum Tuhan melalui keikhlasan dan kesadaran .

Taha mendefinisikan Islam sebagai proses intelektual yang berjenjang melalui beberapa tahapan: al-islam, al-iman, al-ihsan, hingga penerimaan penuh terhadap Tuhan. Perspektif ini berbeda dari definisi tradisional yang lebih fokus pada aspek ritual dan doktrin, dengan Taha menekankan evolusi pemahaman dan penerimaan intelektual terhadap ajaran Islam .

Fitrah manusia dalam QS al-Rum/30:30 dinyatakan sebagai kecenderungan natural manusia untuk menuju dan tunduk kepada agama Allah. Pengakuan fitrah ini menunjukkan bahwa penyerahan diri kepada Tuhan adalah bagian dari hakikat manusia, dan fitrah tersebut seharusnya dijaga agar manusia tetap dalam jalurnya yang lurus, tanpa perubahan yang menyimpang dari tujuan penciptaan .

KH Endang Saifuddin Anshari menyatakan bahwa Islam adalah suatu sistem keyakinan dan tata-ketentuan yang mengatur perikehidupan manusia, hubungannya dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam lainnya, dengan tujuan mencapai keridhaan Allah dan kebahagiaan di dunia serta akhirat. Islam dalam pandangannya terdiri dari aspek akidah, syariat, dan akhlak .

Menurut Ahmad Abdullah Almasdoosi, Al-Qur'an adalah kodifikasi wahyu Allah SWT yang merupakan dasar utama dalam pembentukan hukum Islam yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhan, antar manusia, dan dengan alam semesta . Ia menegaskan bahwa dengan wahyu ini, Islam menawarkan tuntunan yang jelas dan lengkap dalam semua aspek kehidupan .

Sjadzali menjelaskan bahwa Islam sebagai rahmatan li al-'alamin berarti Islam adalah sumber keadilan, pelestarian martabat manusia, pemberi perlindungan, dan dorongan untuk peningkatan ilmu pengetahuan. Ini menandakan bahwa Islam berperan signifikan dalam memajukan keadilan sosial, meningkatkan hak-hak wanita, dan memupuk perdamaian serta ilmu .

Buya Hamka menjelaskan bahwa fitrah manusia adalah penyerahan diri kepada Yang Maha Mutlak, yang identik dengan konsep Islam. Ia menekankan bahwa kesadaran akan kebesaran Tuhan dan kelemahan manusia memimpin pada penyerahan tulus, inti dari ajaran Islam . Fitrah ini tidak dipaksakan tetapi merupakan realisasi dari potensi internal manusia .

Islam sebagai kekuatan peradaban mengacu pada kemampuannya memberikan identitas kultural dan spiritual bersifat global. Tantangan dalam era globalisasi antara lain adalah menjaga otentisitas ajaran dalam menghadapi masyarakat beragam dan memastikan adaptasi yang tetap sesuai dengan prinsip dasar Islam sambil membentuk respon terhadap konteks sosio-politik modern .

Syariat dalam Islam berfungsi sebagai sistem hukum dan aturan yang berlandaskan Al-Qur'an dan Sunnah, yang mengatur semua aspek kehidupan manusia, termasuk ibadah, hubungan sosial, dan interaksi ekonomi. Fungsinya mencakup memelihara ketertiban masyarakat, menjaga keadilan, dan mendorong kesejahteraan komunal dalam kerangka patuh terhadap ketuhanan .

Hamka menyatakan bahwa Islam adalah agama yang diajarkan melalui wahyu Allah yang tertulis dalam Al-Qur'an dan diperjelas dengan Sunnah Nabi Muhammad SAW. Kedua sumber ini saling melengkapi, dengan Al-Qur'an sebagai naskah pokok dan Sunnah sebagai penafsir dan pelengkap dalam mempraktikkan ajaran Islam .

  • What are the key steps in creating a documentary film?

    Documentary film is a nonfiction genre that presents real-world subjects, events, and people, aiming to inform, interpret, or evoke insight on social, cultural, political, or historical topics. Unlike narrative fiction, documentaries rely on actual footage or interviews rather than scripted performances, and they often seek to balance storytelling with factual accuracy. The term “documentary” is commonly traced to early 20th-century filmmakers; for example, critic John Grierson famously described Robert Flaherty’s 1926 film <i>Moana</i> as a “creative treatment of actuality”. Early documentaries ranged from anthropological studies of remote cultures to newsreels capturing current events, illustrating the wide scope of the form. Whether exploring global issues, intimate personal stories, or artistic expressions, documentaries generally follow a series of creative and production steps similar to fictional films of comparable length, progressing from an initial concept through research, shooting, editing, and finally to exhibition. Each stage must accommodate the particular challenges of real-life subjects, including the unpredictable nature of non-fiction footage and the ethical responsibility toward participants. The process of making a documentary thus involves both artistic vision and meticulous practical planning.

  • What are the main periods and movements in British literature?

    British literature spans a vast historical range from the early medieval period to the present day. In its broadest sense it encompasses works produced in the British Isles, in languages including Old English, Middle English, and later modern English (as well as Welsh, Scots, and Irish Gaelic traditions in some contexts). Scholars typically divide this long history into periods or movements named for cultural, historical, or literary characteristics.

  • How did humans evolve from earlier animals over millions of years?

    Human evolution is the lengthy process through which modern humans (<i>Homo sapiens</i>) have emerged from ancestral animal populations over millions of years.

Anda mungkin juga menyukai