MENULIS TEKS CERPEN DENGAN MODEL
PEMBELAJARAN EXPERIENTAL LEARNING
DI MTs. MIFTAHUL KHAIR LOA JANAN
Best Practice
Oleh
JUBAIDAH (1705076020)
PROGRAM MAGISTER PENDIDIKAN BAHASA INDONESIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MULAWARMAN
SAMARINDA
2018
MENULIS TEKS CERPEN DENGAN MODEL
PEMBELAJARAN EXPERIENTAL LEARNING
DI MTs. MIFTAHUL KHAIR LOA JANAN
A. Pengantar
Puji syukur atas kehadirat Allah SWT yang telah memberikan
rahmat, taufik, dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyusun best
practice yang berjudul “Menulis Teks Cerpen Dengan Model
Pembelajaran Experiental Learning di MTs. Miftahul Khair Loa Janan” ini
dengan baik..
Best Practice ini disusun dalam rangka memenuhi tugas mata kuliah
Pengembangan Pembelajaran Kemahiran Berbahasa Tulis.
Dalam penyusunan best practice ini penulis banyak menerima
bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak. Oleh karena itu penulis
mengucapkan rasa terima kasih kepada
1. Dr. Widyatmike G.M., [Link]. selaku dosen pengampu mata kuliah
Pengembangan Pembelajaran Kemahiran Berbahasa Tulis.
2. Kepala MTs. Miftahul Khair Loa Janan yang telah memberi izin,
kesempatan dan kepercayaan kepada penulis untuk mengadakan
penelitian ini.
3. Semua rekan mahasiswa magister pendidikan Bahasa Indonesia
Universitas Mulawarman angkatan 2017, yang telah memberikan
dukungan selama proses penelitian sampai dengan terwujud dalam
bentuk best practice ini.
4. Semua pihak yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu yang
telah memberikan bantuan berupa apapun dalam menyelesaikan
best practice ini.
Penulis menyadari bahwa karya ini masih jauh dari sempurna. Oleh
karena itu, kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan
demi perbaikan karya ini.
1
B. Masalah
a. Latar Belakang Masalah
Menulis merupakan keterampilan dasar yang harus dimiliki setiap
orang. Seringkali seseorang memiliki ide yang bagus tetapi tidak dapat
mengungkapkannya secara tertulis. Oleh karena itu, menulis menjadi
suatu keterampilan yang penting. Ide yang sudah ada di dalam pikiran
dapat dituangkan ke dalam sebuah tulisan. Dengan demikian, menulis
dapat dikatakan sebagai kegiatan untuk menyampaikan maksud dan
tujuan dari sebuah ide.
Sejauh ini perhatian terhadap keterampilan menulis memang lebih
rendah dibandingkan dengan keterampilan membaca. Hal ini menjadikan
tinggi rendahnya kemampuan membaca sebagai indikator penentu
keberhasilan suatu bangsa. Namun, seringkali masyarakat lupa
bahwa menulis pun memiliki kedudukan yang sama pentingnya dengan
membaca. Menulis mampu mengembangkan daya imajinasi seseorang
melalui kata-kata. Seperti halnya membaca, menulis pun harus dijadikan
suatu kebiasaan.
Dalam penerapan kurikulum 2013, salah satu kompetensi menulis
dalam kegiatan pembelajaran bahasa Indonesia adalah memproduksi teks
cerita pendek (cerpen). Hal ini telah diatur dalam lampiran Permendikbud
No. 24 tahun 2016 tentang kurikulum mata pelajaran bahasa Indonesia di
tingkat sekolah pertama (SMP). Menulis cerita pendek adalah
menuangkan kisahan atau mengisahkan satu peristiwa kehidupan yang
dialami tokoh. Hal ini sejalan dengan pendapat Nursisto (2000:15), yang
mengungkapkan bahwa cerpen merupakan cerita yang di dalamnya
terdapat pergolakan jiwa pada diri pelakunya, sehingga
secarakeseluruhan cerita bisa menyentuh nurani pembaca yang dapat
dikategorikan sebagai buah dari cerita pendek. Menulis cerita pendek
merupakan kegiatan ekspresi sastra yang perlu diajarkan kepada siswa.
Menulis cerita pendek bermanfaat sebagai kegiatan untuk melatih siswa
dalam menuangkan gagasan dan dapat mengembangkan kreativitas
imajinasi siswa ke dalam sebuah tulisan. Namun, pembelajaran yang
2
dilakukan belum mampu membuat siswa menguasai keterampilan menulis
cerpen dengan baik. Masih ada siswa yang bahkan belum dapat
menuangkan gagasannya ke dalam sebuah tulisan khususnya dalam
keterampilan menulis cerita pendek.
Berdasarkan pengamatan penulis secara langsung di kelas IX MTs
Miftahul Khair pembelajaran menulis teks cerpen sering mengalami
kendala, mulai dari kesulitan siswa dalam menemukan dan
mengembangkan ide dalam menulis, keterbatasan model pembelajaran,
hingga keadaan ruang kelas yang panas menyebabkan antusiasme siswa
sangat rendah dalam mengikuti pembelajaran menulis teks cerpen.
Bertolak dari permasalahan di atas, penulis berinisiatif untuk
menggunakan model pembelajaran yang dapat membantu siswa dalam
menemukan dan mengembangkan ide untuk materi menulis teks cerpen.
Model pembelajaran yang penulis gunakan yaitu model pembelajaran
berbasis pengalaman (Experiental Learning).
Model pembelajaran berbasis pengalaman (Experiental Learning)
adalah model pembelajaran yang mengaktifkan pembelajar untuk
membangun pengetahuan dan keterampilan melalui tindakan (Cahyani,
2000: 1). Keunggulan dari model pembelajaran ini adalah dapat
meningkatkan semangat belajar siswa, membantu terciptanya suasana
belajar yang kondusif karena pembelajaran dinamis dan terbuka dari
berbagai arah, serta mendorong siswa berpikir kreatif karena
pembelajaran menjadi partisipatif. Penggunaan model pembelajaran ini
diharapkan dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam menulis teks
cerpen.
b. Permasalahan
Berdasarkan Latar Belakang masalah yang telah dipaparkan di
atas maka rumusan masalahnya adalah:
1. Bagaimana penerapan model pembelajaran experiental learning
dalam menulis teks cerpen di MTs. Miftahul Khair Loa Janan?
3
2. Bagaimana hasil yang dicapai siswa dalam penerapan model
pembelejaran experiental learning dalam menulis teks cerpen di
MTs. Miftahul Khair Loa Janan?
c. Strategi Pemecahan Masalah
1. Deskripsi Strategi Pemecahan Masalah
Menurut Kolb (1984: 25) ada 4 tahap dalam model Pembelajaran
Expriental Learning yaitu: experience, reflective observation, abstract
conceptualization dan experiment. Berikut ini merupakan penjelasan dari
empat tahap siklus experiential learning.
Experience (pengalaman nyata), pada tahap ini siswa disediakan
aktivitas yang mendorong mereka melakukan aktivitas. Aktivitas ini bisa
dari suatu pengalaman yang pernah dialami sebelumnya baik secara
formal maupun informal. Aktivitas yang disediakan bisa di dalam atau di
luar kelas dan dikerjakan secara individu atau kelompok. Pada tahap ini
lebih mengutamakan interaksi dengan lingkungan, serta menghasilkan
informasi yang melibatkan perasaan. Berikut contoh kegiatannya:
permainan, manipulasi objek simbolis, melakukan percobaan, membuat
model, membuat objek seni, membuat produk, menulis, studi kasus,
menonton film, bermain peran, simulasi, proyek, wawancara, observasi
lapangan, darmawisata, pengalaman kerja.
Reflective observation (refleksi observasi), pada tahap ini siswa
mengingat apa yang dialami, mengamati pengalaman dan melaporkan
segala sesuatu yang mereka lihat dengan menggunakan panca indera
maupun dengan bantuan alat peraga. Selanjutnya siswa merefleksikan
pengalamannya dan dari hasil refleksi ini mereka menarik pelajaran.
Dalam hal ini proses refleksi akan terjadi bila guru mampu mendorong
siswa untuk mendeskripsikan kembali pengalaman yang diperolehnya,
mengkomunikasikan kembali dan belajar dari pengalaman tersebut.
Pengamatan dan reaksi dapat direkam dalam beberapa cara yaitu:
laporan tertulis, posting di kertas atau papan tulis, laporan lisan, laporan di
email atau halaman web, sebuah diskusi bebas atau dengan wawancara.
4
Abstract conceptualization (konseptualisasi abstrak) tahap ini melibatkan
data sharing dari tahap kedua, data hasil sharing ini harus diolah dan
harus sistematis. Pada tahap konseptualisasi abstrak siswa mulai mencari
alasan, hubungan timbal balik dari pengalaman yang diperolehnya. Siswa
mulai mengkonseptualisasikan pengalaman yang diperolehnya dengan
materi atau teori yang sudah dipelajari. Pada tahap ini siswa sudah harus
mampu menyimpulkan apa saja yang sudah didiskusikan oleh kelompok.
Menjawab pertanyaan yang muncul selama pembelajaran berlangsung.
Pada tahap inilah siswa bekerjasama secara kelompok menemukan ide
dan gagasan yang tepat berdasarkan pengalaman yang sudah dianalisis.
Teknik yang dapat digunakan seperti: mencari tema-tema umum,
mengelompokkan pengalaman, menyesuaikan kuisioner, menemukan
istilah kunci, atau menemukan pola-pola peristiwa atau perilaku. Intinya
bukan hasil yang dicari akan tetapi responnya yang dicari.
Experiment (eksperimen aktif), pada tahap ini siswa mencoba
merencanakan bagaimana menguji keampuhan model atau teori untuk
menjelaskan pengalaman baru yang akan diperoleh selanjutnya. Pada
tahap eksperimen aktif akan terjadi proses belajar bermakna karena
pengalaman yang diperoleh siswa sebelumnya dapat diterapkan pada
pengalaman atau situasi problematika yang baru.
2. Penjelasan Tahap Operasional Pelaksanaan
Berikut adalah langkah-langkah penerapan model pembelajaran
experiental learning dalam menulis teks cerpen.
1) Guru menjelaskan dulu tahapan-tahapan model experiental
learning
2) Guru mengarahkan siswa untuk mengingat berbagai pengalaman
menarik yang pernah mereka alami
3) Guru meminta siswa untuk menuliskan minimal 5 judul pengalaman
menarik di kertas
4) Guru meminta masing-masing siswa maju ke depan kelas untuk
menceritakan secara singkat pengalaman mereka berdasarkan
judul yang mereka tulis di kertas tadi.
5
5) Setelah selesai guru meminta siswa untuk memilih satu judul yang
mereka anggap paling menarik untuk di tulis menjadi teks cerpen
6) Guru meminta siswa menulis teks cerpen berdasarkan pengalaman
yang mereka anggap paling menarik tadi.
7) Setelah selesai, teks cerpen kembali dibacakan dan diberikan
komentar, serta saran untuk perbaikan dalam penulisannya oleh
teman-temannya dan guru.
C. Pembahasan dan Solusi
a. Alasan Pemilihan Strategi Pemecahan Masalah
Best Practice yang berjudul Menulis Teks Cerpen dengan Model
Pembelajaran Experinetal Learning ini memiliki alasan pemilihan
strategi pemecahan masalah, yakni sebagai berikut.
1) Model pembelajaran experintal learning akan mampu
meningkatkan kemampuan siswa dalam menulis teks cerpen
terutama kemampuan mereka menemukan dan
mengembangkan cerita karena ide diambil langsung dari
pengalaman
2) Model pembelajaran experintal learning akan mampu
meningkatkan kepercayaan diri siswa karena sebelum proses
penulisan teks cerpen siswa diminta untuk menceritakan dulu
pengalaman pribadi yang mereka anggap menarik
3) Model pembelajaran experintal learning akan memberikan
kesempatan kepada seluruh siswa untuk bersama-sama
berkolaborasi, saling memberikan masukan untuk
meningkatkan kualitas dalam menulis teks cerpen
b. Implementasi Strategi Pemecahan Masalah
Implementasi model pembelajaran experiental learning dalam
menulis teks cerpen adalah berupa penugasan kepada siswa untuk
menulis cerpen berdasarkan pengalaman menarik yang dialami
dengan tujuan untuk meningkatkan keterampilan menulis cerpen.
Proses penulisan cerpen meliputi tahap-tahap sebagai berikut.
6
1) Siswa dan guru bertanya jawab tentang materi, struktur, serta
unsur-unsur yang terkandung dalam teks cerpen yang telah
dijelaskan pada pertemuan sebelumnya.
2) Guru menjelaskan langkah-langkah menulis teks cerpen dengan
model experiental learning. Kemudian guru meminta masing-
masing siswa untuk menuliskan minimal 5 judul pengalaman
yang mereka anggap menarik di kertas. Temanya dibebaskan
agar tidak membebani siswa dalam mengembangkan ide
karena siswa terpaku pada tema. Asal tidak boleh menceritakan
sesuatu yang tabu atau menceritakan kejelekan orang lain.
Gambar 1 siswa mendapatkan pengarahan dari guru
3) Siswa mulai menuliskan judul pengalaman sambil mengingat-
ngingat pengalaman yang mereka anggap paling menarik dan
layak diceritakan
4) Siswa diminta maju menceritakan pengalaman secara singkat
berdasarkan judul yang telah mereka tulis
7
Gambar 2 siswa menceritakan pengalaman
5) Setelah kegiatan menceritakan pengalaman selesai, guru
meminta siswa untuk menuangkan cerita yang diceritakan tadi
dalam bentuk teks cerpen, sesuai dengan unsur dan struktur
teks cerpen. Cerita boleh saja dikembangkan sesuai keinginan
siswa, tetapi idenya berasal dari pengalaman yang sudah
diceritakan tadi
Gambar 3 siswa menulis teks cerpen
8
6) Setelah kegiatan menuangkan pengalaman ke dalam teks
selesai, siswa diminta maju satu persatu untuk membacakan
teks cerpen lengkap tadi. Siswa diminta mendengarkan sambil
memberikan masukan apa yang harus diperbaiki disertai
bimbingan guru.
Gambar 4 siswa membacakan teks cerpen
7) Guru menginstruksikan siswa untuk mengumpulkan teks
cerpen.
Gambar 5 hasil teks cerpen
9
c. Hasil yang Dicapai
Pelaksanaan pembelajaran menulis teks cerpen dengan
menerapkan model experiental learning pada siswa kelas IX MTs
Miftahul Khair Loa Janan mengalami peningkatan baik proses
maupun hasil. Peningkatan proses dilihat dari meningkatnya nilai
sikap siswa. Peningkatan pertama yaitu pada aspek proses
pembelajaran yang lebih menarik dan menyenangkan, dibuktikan
dengan semangat siswa dalam proses pembelajaran. Siswa terlihat
lebih antusias, apalagi saat siswa lainnya tampil menceritakan
pengalaman lucu dan menarik yang mereka alami. Peningkatan
kedua pada aspek keaktifan siswa, dibuktikan dengan keberanian
siswa dalam berbicara di depan kelas untuk menceritakan
pengalaman mereka. Siswa yang lain juga lebih aktif bertanya dan
mengungkapkan pendapat. Peningkatan ketiga terjadi pada aspek
minat siswa dalam mengikuti pembelajaran. Dibuktikan dengan sikap
siswa yang lebih memperhatikan guru ketika menjelaskan materi.
Hasil menulis teks cerpen dengan menerapkan model
pembelajaran experiental learning pada siswa kelas IX MTs. Miftahul
Khair Loa Janan juga mengalami peningkatan hasil. Peningkatan
hasil dilihat dari meningkatnya kemampuan menulis siswa.
Peningkatan kualitas produk dilihat dari peningkatan setiap
aspeknya.
d. Kendala-Kendala yang Dihadapi
Dalam penerapan model pembelajaran experiental learning pada
siswa kelas IX di MTs. Miftahul Khair Loa Janan juga mengalami
beberapa kendala antara lain sebagai berikut.
1. Siswa masih kesulitan menentukan diksi untuk merangkai cerita.
Walapun cerita sudah ada di kepala mereka, mereka susah
untuk menuangkannya dalam bentuk tulisan.
2. Siswa masih kesuitan mengembangkan cerita, dan menyusun
teks cerpen menyesuaikan unsur dan struktur teks cerpen
10
3. Imajinasi siswa masih dangkal. Banyak siswa yang menyatakan
tidak memiliki pengalaman menarik yang patut diceritakan.
e. Faktor-Faktor Pendukung
Faktor-faktor yang mendukung peningkatan keterampilan menulis
teks cerpen melalui model pembelajaran experiental learning adalah:
1. Siswa-siswi MTs. Miftahul Khair memiliki minat dan komitmen
tinggi untuk menulis teks cerpen sehingga dapat menyelesaikan
tugas dengan baik.
2. Guru melakukan proses pembimbingan intensif pada tahap
persiapan, pelaksanaan, dan akhir penulisan teks cerpen
sehingga dapat melaksanakan penulisan teks cerpen.
3. Komitmen Kepala Sekolah yang tinggi terhadap program guru.
Kepala sekolah memberikan keleluasaan kepada guru untuk
berinovasi dalam pembelajaran, selalu memberikan semangat,
motivasi, dan fasilitas yang diperlukan guru.
f. Alternatif Pengembangan
Alternatif pengembangan dari model pembelajaran experiental
learning adalah guru memberikan motivasi kepada siswa agar
menulis teks cerpen mereka dengan baik. Cerita mereka bisa posting
di akun wattap atau di blog masing-masing. Penulis memberikan
contoh salah satu penulis Raditya Dika yang berhasil membukukan
kumpulan cerita dari blognya. Selain itu Siswa juga dapat memajang
karya mereka mading sekolah.
D. Kesimpulan dan Harapan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang dilakukan maka
diperoleh simpulan sebagai berikut.
1. Pelaksanaan pembelajaran menulis teks cerpen dengan
menerapkan model experiental learning pada siswa kelas IX MTs
Miftahul Khair Loa Janan mengalami peningkatan baik proses
maupun hasil. Peningkatan proses dilihat dari meningkatnya nilai
sikap siswa. Peningkatan pertama yaitu pada aspek proses
pembelajaran yang lebih menarik dan menyenangkan, dibuktikan
11
dengan semangat siswa dalam proses pembelajaran. Siswa
terlihat lebih antusias, apalagi saat siswa lainnya tampil
menceritakan pengalaman lucu dan menarik yang mereka alami.
Peningkatan kedua pada aspek keaktifan siswa, dibuktikan
dengan keberanian siswa dalam berbicara di depan kelas untuk
menceritakan pengalaman mereka. Siswa yang lain juga lebih
aktif bertanya dan mengungkapkan pendapat. Peningkatan ketiga
terjadi pada aspek minat siswa dalam mengikuti pembelajaran.
Dibuktikan dengan sikap siswa yang lebih memperhatikan guru
ketika menjelaskan materi.
2. Hasil menulis teks cerpen dengan menerapkan model
pembelajaran experiental learning pada siswa kelas IX MTs.
Miftahul Khair Loa Janan juga mengalami peningkatan hasil.
Peningkatan hasil dilihat dari meningkatnya kemampuan menulis
siswa. Peningkatan kualitas produk dilihat dari peningkatan setiap
aspeknya.
3. Bagi pihak sekolah dan guru diharapkan agar model pembelajaran
experiental learning dapat menjadi model pembelajaran alternatif
yang digunakan di MTs. Miftahul Khair Loa Janan karena model
ini dapat membantu siswa dalam menentukan ide dan
mengembangkan kemampuan menulis teks cerpen. Bagi teman
sejawat dan guru lain, dapat melakukan penelitian lebih lanjut
mengenai model pembelajaran experiental learning ini. Model
pembelajaran ini tidak hanya bisa diterapkan pada mata pelajaran
bahasa Indonesia, tapi juga bisa diterapkan pada mata pelajaran
lain.
12
DAFTAR PUSTAKA
Achsin, Amir. 1984. Belajar Melalui Pengalaman (Experiential Learning).
Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
Cahyani, I. 2012. Pembelajaran Menulis Berbasis Karakter dengan
Pendekatan Experiential Learning. Jakarta: Dwitama
Asrimedia.
Dwi Haendarini, Andhita. 2016. Peningkatan Keterampilan Menulis Cerita
Pendek Dengan Menggunakan Model Pembelajaran Berbasis
Pengalaman Pada Siswa Kelas X SMA. Tesis.
[Link] Diakses pada tanggal 06
Desember 2018
Efendi, Sutrisno. 2017. Peningkatan Keterampilan Menulis Teks Cerita
Pendek Dengan Menggunakan Model Pembelajaran Berbasis
Pengalaman Pada Siswa Kelas Xi SMA Pancasila Ambulu
Jember. Jurnal.
[Link]
[Link] diakses tanggal 06 Desember 2018
Hamdani. 2011. Strategi Belajar Mengajar. Bandung: Pustaka Setia.
Kolb, David A. 1984. Experiential Learn ing: Experience as The Source of
Learning and Development. New J ersey: Prentice Hall.
13