Pengaruh Abu Bambu pada Kuat Tekan Beton
Pengaruh Abu Bambu pada Kuat Tekan Beton
1,2,3
Program StudI Teknik Sipil, Universitas Siliwangi, Tasikmalaya
e-mail: taufikfh12@[Link]
Abstrak
Indonesia merupakan negara yang sangat kaya dengan sumber daya alam yang potensial, didukung dengan
keadaan geografisnya. Salah satu sumber daya alam yang ada di Indonesia adalah bambu, merupakan
komoditas lokal masyarakat sejak dulu. Bambu merupakan tanaman yang mudah ditemui di Indonesia.
Secara tradisional bambu telah banyak digunakan sebagai bahan bangunan. Penggunaan bambu secara luas
adalah untuk keperluan industri baik kertas, kayu lapis, kerajinan, kesenian, dan bahan makanan. Dengan
banyaknya manfaat dari bambu yang dapat digunakan, begitupun dengan limbah dari sisa penggunaan bambu.
Limbah bisa berupa sisa potongan, daun dan akar, maka perlu dilakukan pemanfaatan dari limbah bambu
tersebut. Penelitian ini memanfaatkan limbah bambu dengan cara dibakar kemudian sisa pembakaran yang
berupa abu akan digunakan sebagai bahan campuran beton, yang mana kandungan silika yang merupakan
pengikat agregat yang baik terdapat dalam abu bambu. Penelitian ini menggunakan abu arang bambu pada
beton dengan persentase 2%,4%,8% dari volume total penggunan agregat halus dan sebagai pembanding
digunakan beton normal F’c 20 Mpa dengan pengujian kuat tekan dilakukan pada umur umur 7,14 dan 28
hari. Dimana hasil pengujian kuat tekan menyatakan penambahan abu bambu sangat mempengaruhi kuat
tekan dimana pada persentase 8% abu bambu mengalami over strength dan paling optimal dalam penelitian
ini.
Abstract
Indonesia is a country with a lot of potential natural resources, which is aided by its geographic location.
Bamboo, which has been a local product for the community for a long time, is one of Indonesia's natural
resources. Bamboo is an easy-to-find plant in Indonesia. Bamboo has traditionally been a popular building
material. Bamboo has traditionally been a popular building material. Bamboo is widely employed in a variety
of industries, including paper, plywood, crafts, arts, and [Link] the various benefits of bamboo that can be
employed, as well as the waste generated by the rest of the bamboo use. Scraps, leaves, and roots can all be
considered waste, thus bamboo waste must be utilized. This study uses bamboo waste by burning it, with the
resulting combustion in the form of ash being used as a concrete mixture. Bamboo ash contains silica, which
is an excellent aggregate binder. In this study, bamboo charcoal ash was utilized in concrete at a percentage
of 2 percent, 4 percent, and 8% of the total volume of fine aggregate, and regular concrete F’c 20 Mpa was
used as a control, with compressive strength tests carried out at 7, 14, and 28 days. The findings of the
compressive strength test showed that adding bamboo ash to the mix had a significant impact on compressive
strength, with 8 percent of bamboo ash experiencing excess strength and being the most ideal in this study.
81
Akselerasi: Jurnal Ilmiah Teknik Sipil
Volume 3, No. 1, Agustus 2021
E-ISSN: 2715-7296
I. PENDAHULUAN maksimal untuk bahan campuran beton yang
Indonesia merupakan negara yang sangat dapat meningkatkan kuat tekan beton itu sendiri.
kaya dengan sumber daya alam yang potensial, Dengan data diatas penulis memanfaatkan
didukung dengan keadaan geografisnya. Salah limbah bambu dengan cara dibakar kemudian sisa
satu sumber daya alam yang ada di Indonesia pembakaran yang berupa abu akan digunakan
adalah bambu, merupakan komoditas lokal sebagai bahan campuran beton. Abu arang bambu
masyarakat sejak dulu. Bambu merupakan adalah hasil perubahan secara kimia dari
kekayaan hasil hutan non kayu yang merupakan pembakaran bambu. Abu arang bambu
bagian dari sumber daya hutan Indonesia. Bambu mengandung silika yang merupakan pengikat
merupakan tanaman yang mudah ditemui di agregat yang baik, hal itu sama dengan fungsi
Indonesia terutama di Jawa, Bali, Sulawesi semen dalam suatu campuran beton. Abu ini
Selatan, dan Sumatera [1] pun dapat digunakan sebagai bahan campuran
Secara tradisional bambu telah banyak atau tambahan pada pembuatan beton yang
digunakan sebagai bahan bangunan daerah tropis reaktif dan berpotensi untuk digunakan sebagai
maupun sub tropis. Penggunaan bambu secara bahan baku beton alternatif.
luas adalah untuk keperluan industri baik kertas,
kayu lapis, kerajinan, kesenian, dan bahan II. METODOLOGI PENELITIAN
makanan. Pemanfaatan bambu di Indonesia sudah Beton merupakan suatu elemen struktur
menjadi bagian dari kehidupan masyarakat, yang terdiri dari partikel-partikel agregat yang
terutama di daerah pedesaan. Selain sebagai bahan dilekatkan oleh pasta yang terbuat dari semen
bangunan rumah, juga dimanfaatkan sebagai Portland dan air. Pasta itu mengisi ruang-ruang
peralatan rumah tangga, pagar, jembatan, alat kosong diantara partikel-partikel agregat dan
angkutan (rakit bambu), saluran air, dan alat setelah beton segar dicorkan, ia akan mengeras
musik. sebagai akibat dari reaksi-reaksi kimia eksotermis
Dengan banyaknya manfaat dari bambu antara semen dan air sehingga membentuk suatu
yang dapat digunakan, begitupun dengan limbah bahan struktuir yang padat dan dapat tahan lama.
dari sisa penggunaan bambu tersebut. Limbah
tersebut bisa berupa sisa potongan bambu, daun A. Material Pembentuk Beton
dan akar , untuk mengurangi limbah tersebut Kualitas beton sangat dipengaruhi
perlunya pengolahan supaya dapat dimanfaatkan. oleh bahan penyusunnya, disini dijelaskan
Dengan data diatas penulis memanfaatkan limbah secara singkat mengenai bahan penyusunnya.
bambu dengan cara dibakar kemudian sisa
pembakaran yang berupa abu akan digunakan B. Semen Portland
sebagai bahan campuran beton. Abu arang bambu Fungsi semen ialah untuk mengikat
adalah hasil perubahan secara kimia dari butir-butir agregat hingga membentuk suatu
pembakaran bambu. Abu arang bambu massa padat dan mengisi rongga-rongga udara
mengandung silika yang merupakan pengikat di antara butiran agregat. Bahan dasar semen
agregat yang baik, hal itu sama dengan fungsi portland terdiri dari bahan-bahan yang
semen dalam suatu campuran beton. Abu ini mengandung kapur, silika, alumunia, dan
pun dapat digunakan sebagai bahan campuran oksidasi besi, sebagaimana dapat dilihat pada
atau tambahan pada pembuatan beton yang tabel 1.
reaktif dan berpotensi untuk digunakan sebagai
bahan baku beton alternatif. Tabel 1. Susunan Unsur Semen Portland
Dengan optimalisasi pemanfaatan limbah
abu arang bambu ini diharapkan akan mengurangi Oksida Kandungan
limbah yang mencemari ekosistem alam.
Berdasarkan uraian diatas maka dilakukan Kapur (CaO) 60-65
penelitian tentang “Pengaruh Penambahan Abu Silika (SiO2) 17-25
Arang bambu Sebagai Bahan Tambah Pada Alumina (A12O3) 3-8
Semen Terhadap Kuat Tekan Beton Normal”. Besi (Fe2O3) 0.5-6
Dengan adanya hasil penelitian ini diharapkan Magnesium (MgO) 0.5-4
abu arang bambu dapat dimanfaatkan dengan Sulfir (SO3) 1-2
Soda/Potash (Na2O + 0.5-1
82
Akselerasi: Jurnal Ilmiah Teknik Sipil
Volume 3, No. 1, Agustus 2021
E-ISSN: 2715-7296
K2O) karena memiliki kandungan CaO yang lebih
Sumber: Kardiyono Tjokrodimuljo, 1996 dari 10% sehingga dapat digunakan sebagai
pengganti sebagian semen.
C. Agregat
Agregat ialah butiran mineral alami F. Jenis Penelitian
yang berfungsi sebagai bahan pengisi dalam Jenis penelitian adalah pengaruh pada
campuran mortar atau beton (Kardiyono penambahan abu arang bambu dengan
Tjokrodimuljo, 1992). Agregat yang butir- presentase 0%, 2%, 4% dan 8% diumur 7, 14,
butirnya lebih besar dari 4,80 mm disebut dan 28 hari terhadap berat semen untuk
agregat kasar, dan agregat yang butir-butirnya mengetahui kuat tekan beton normal.
lebih kecil dari 4,80 mm disebut agregat
halus. Agregat harus bergradasi sedemikian G. Tempat dan Waktu Penelitian
rupa sehingga seluruh massa beton dapat Untuk mendapatkan penelitian yang
berfungsi sebagai benda yang utuh, homogen, baik dengan tujuan untuk mendapatkan hasil
dan rapat, dimana agregat yang berukuran pengujian kuat tekan beton, maka penelitian
kecil befungsi sebagai pengisi celah yang ada ini dilaksanakan ditempat yang direncanakan.
diantara agregat berukuran besar [12] Selain itu didukung oleh tempat penelitian/uji
Kegiatan dalam penelitian ini mulai dari
D. Air penyiapan, pengelolaan dan pembuatan benda
SNI 03-2847-2002 (2002:14) uji serta pengujian kuat tekan dilakukan di
menerangkan bahwa: Laboratorium PT. AZKA SEJAHTERA.
1. Air yang digunakan pada campuran beton
harus bersih dan bebas dari bahan- bahan
merusak yang mengandung oli, alkali,
garam, bahan organik, atau bahan-bahan
lainnya yang merugikan terhadap beton
atau tulangan.
2. Air pencampur yang digunakan pada
beton yang didalamnya tertanam logam
alumunium, termasuk air bebas yang
terkandung didalam agregat, tidak boleh
mengandung ion klorida dalam jumlah
yang membahayakan.
3. Air yang tidak dapat diminum tidak boleh
digunakan dalam beton.
Gambar 1. Peta lokasi Laboratorium PT. Azka
E. Abu Arang Bambu sebagai Bahan Tambah Sejahtera
Pada penelitian ini adalah
berdasarkan penilitan yang dilakukan oleh Penelitian yang dilakukan dari awal
Dwivedi et al. (2006) yang menyebutkan hingga akhir dapat dilihat pada diagram alir
bahwa abu bambu memiliki sifat pozzoland. sebagai berikut:
Amu & Adetuberu (2010) juga menyebutkan
dengan pembakaran daun abu bambu pada
suhu 600ᴼC selama 2 jam menghasilkan silika
sebesar 75.9%. Kandungan kimia yang
terdapat pada abu bambu yaitu 70,7% Si;
15,1% Ca; 7,735% K; 2,74% Fe; 1,6%
S;0,86% Ni; 0,32% Ti; 0,27% Mn; 0,2% Re;
0,18% Cu; 0,17% Zn; 0,1% Ba; 0,074% Cr;
0,07% Eu. Abu bambu ini dapat digolongkan
ke dalam kelas C menurut ASTM C-618
83
Akselerasi: Jurnal Ilmiah Teknik Sipil
Volume 3, No. 1, Agustus 2021
E-ISSN: 2715-7296
III. HASIL DAN PEMBAHASAN Tabel 4. Hasil Pengujian Berat Jenis dan Penyerapan
Pasir
Data berikut ini merupakan hasil Rata-
No I II Rata
pengujian bahan penyusun beton yang di peroleh
dari hasil pemeriksaan di laboratorium PT. AZKA Berat Contoh Kering
A 500,00 500,00
SEJAHTERA selama penelitian. Permukaan
B Berat Contoh Kering Over 496,00 496,00
Pengujian Kadar Air
C Berat Piknometer++Air 710,00 713,00
Kadar air agregat agregat adalah besarnya
perbandingan antara berat air yang dikandung Berat Contoh +
D 1026,00 2017,00
Piknometer+Air
agregat dengan agregat dalam keadaan kering dan 2,68
dinyatakan dalam persen, nilai kadar air ini E Berat Jenis BULK 2,70 2,67
digunakan untuk koreksi takaran air untuk adukan F Berat Jenis SSD 2,72 2,69
2,70
beton yang disesuaikan dengan kondisi agregat 2,74
diapangan. G Berat Jenis SEMU 2,76 2,73
0,81
H Penyerapan Air 0,81 0,81
84
Akselerasi: Jurnal Ilmiah Teknik Sipil
Volume 3, No. 1, Agustus 2021
E-ISSN: 2715-7296
Pengujian Analisis Saringan perhitungan bahan campuran beton apabila jumlah
Analisa saringan adalah pengelompokan bahan ditakar dengan ukuran volume serta dapat
besar butir analisa agregat kasar dan agregat halus mengetahui sifat-sifat fisik, mekanik serta
menjadi komposisi gabungan yang ditinjau pengaruhnya terhadap beton dengan benar.
berdasarkan saringan, hasil analisis saringan Berat isi atau disebut juga sebagai berat
agregat halus dan agregat kasar dilakukan untuk satuan agregat adalah rasio antara berat agregat
mengetahui batas gradasi agregat tersebut. dan isi/volume, berat isi agregat diperlukan dalam
perhitungan bahan campuran beton apabila jumlah
bahan ditakar dengan ukuran volume serta dapat
mengetahui sifat-sifat fisik, mekanik serta
pengaruhnya terhadap beton dengan benar.
85
Akselerasi: Jurnal Ilmiah Teknik Sipil
Volume 3, No. 1, Agustus 2021
E-ISSN: 2715-7296
detail menjelaskan langkah-langkah perhitungan 1. Penambahan abu bambu dari variasi
kebutuhan campuran beton. campuran 0%, 2%, 4%, 8%, ada pengaruh
yang signifikan terhadap kuat tekan beton.
Pembahasan Penelitian Artinya variasi campuran abu bambu
yang digunakan mempunyai pengaruh
Tabel 7. Nilai Rata-Rata Kuat Tekan yang simultan terhadap kuat tekan beton.
Bisa terlihat dalam grafik 4.7 dan grafik
Persentase Abu Bambu dan Kuat 4.8 mengalami peningkatan seiring
Tekan Rata-rata (Mpa) bertambah nya persentase.
Umur
2. Besar presentase penambahan abu bambu
0% 2% 4% 8% untuk mencapai kuat tekan beton optimal
7 13,40 13,97 16,98 21,33 yaitu pada beton dengan variasi 8%,
dengan kuat tekan pada umur 7 hari kuat
14 18,12 18,78 22,08 26,99 tekan rata-rata 20,48 MPa, umur 14 hari
28 20,85 21,89 26,61 31,89 25,38 MPa dan pada umur 28 hari 30,95
MPa. Sedangkan abu bambu pada variasi
2% hampir tidak ada pengaruhnya atau
kuat tekannya hampir sama dengan beton
normal.
Saran
1. Kesalahan yang terjadi dalam pengujian
sangat wajar, namun setiap hasil
pengujian harus dilaporkan apa adanya,
ketelitian dan kehati-hatian dalam
pengujian sangatlah penting agar hasil
yang diperoleh dapat dipertanggung
jawabkan.
2. Abu bambu sebaiknya diproses sampai
halus agar memperoleh hasil yang
maksimal.
3. Dalam proses pembuatan campuran beton
terutama pada saat pencampuran bahan
beton harus benar-benar homogen, karena
Gambat 5. Grafik Perbandingan Rata-rata Kuat Tekan sangat mempengaruhi kualitas beton yang
Berdasarkan Umur dihasilkan.
4. Dalam proses perrcetakan sebaiknya
Berdasarkan data di atas nilai kuat tekan dilakukan dengan benar dengan
beton pada penambahan abu bambu lebih unggul komposisi yang pas sehingga tidak terlalu
dengan persentase 8%, hal ini dikarenakan abu banyak pasta sedikit batunya dan
bambu memiliki manfaat yang mengandung silika sebaliknya, dan juga dalam meratakan
(SiO2) yang tinggi dan mempunyai sifat reaktif cetakan harus serata mungkin karena
yang dapat bereaksi menjadi bahan yang keras mempengaruhi saat tes kuat tekannya.
dan kaku. Dapat disimpulkan dalam penelitian ini 5. Perlu penelitian lebih lanjut mengenai
penambahan abu bambu dalam beton sangat peningkatan kuat tekan beton dengan
mempengaruhi kuat tekan beton. melakukan pemeriksaan abu arang bambu
sebelum melakukan pembuatan benda uji.
IV. KESIMPULAN
Penelitian ini menunjukkan efek DAFTAR PUSTAKA
penambahan Abu Bambu terhadap kuat tekan [1] Dransfield; E.A. Widjaya.: Plant Resources
beton beberapa hal yang dapat diambil dari of South–East Asia no.7, Bamboos, Buku,
penelitian ini adalah sebagai berikut : Prosea, Bogor
86
Akselerasi: Jurnal Ilmiah Teknik Sipil
Volume 3, No. 1, Agustus 2021
E-ISSN: 2715-7296
[2] Anonim (1990), SNI 03-1971-1990 Tentang
Metode Pengujian Kadar Air Agregat,
Badan Standar Nasional.
[3] Anonim (1990), SNI 03-1970-1990 Tentang
Metode Pengujian Berat Jenis dan
Penyerapan Air Agregat Halus. Pusjatan –
Balitbang PU.
[4] Anonim (1998), SNI 03-4804-1998 Tentang
Metode Pengujian Bobot Isi dan Rongga
Udara dalam Agregat,Pusjatan – Balitbang
PU.
[5] Anonim.,(1991). SNI T-15-1990-03. Tata
Cara Rencana Pembuatan Campuran Beton
Normal, Departemen Pekerjaan Umum,
Yayasan Lembaga Penyelidikan Masalah
Bangunan, Bandung.
[6] Anonim,(2000).SNI 03-2834-2000, Tata
cara pembuatan rencana campuran beton
normal, Badan Standardisasi Nasional.
[7] Dwivedi, V. N., Singh, N. P., Das, S. S.,
&Singh, N. B. (2006). A new pozzolanic
material for cement industry: Bamboo leaf
ash. International Journal of Physical
Science, 1(3), 106–111.
[8] Tjokrodimuljo K (2007) , Teknologi Beton.
(Edisi Pertama.) Yogyakarta : KMTS FT
UGM.
[9] Amu, O., & Adetuberu, A. (2010).
Characteristics of Bamboo Leaf Ash
Stabilization on Lateritic Soil in Highway
Construction. International Journal of
Engineering and Technology. Obafemi
Awolowo University.
[10] Nawy, (1990), Beton Bertulang - Suatu
Pendekatan Dasar, Penerbit Erlangga.
Jakarta.
87