Pengaruh Price Earning Ratio terhadap Return
Pengaruh Price Earning Ratio terhadap Return
Analisis Pengaruh Price Earning Ratio dan Earning Per Share terhadap Return
Saham pada Sub Sektor Property and Real Estate yang Terdaftar di BEI
Imam Mustofa1*, Mursidah Nurfadillah2
1,2
Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur, Samarinda, Indonesia.
*Kontak Email: Imammustofa208@[Link]
Abstrak
Tujuan studi: Dalam penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah Price Earning Ratio dan Earning Per Share
berpengaruh cukup besar terhadap return saham pada sub sektor Property and Real Estate yang terdaftar di Bursa Efek
Indonesia.
Metodologi: Dalam penelitian ini metode pengumpulan sampel melalui metode purposive sampling dan didapatkan 10
sampel perusahaan. Analisa dalam penelitian ini menggunakan analisis regresi linier berganda serta menggunakan software
IBM SPSS 25 dalam pengolahan data.
Hasil: Dalam penelitian ini secara parsial Price Earning Ratio menunjukan tidak ada berpengaruh yang signifikan, pada
return saham sedangkan secara parsial Earning Per Share menunjukan adanya pengaruh yang cukup signifikan pada return
saham. Hasil penelitian secara bersama-sama Price Earning Ratio dan Earning Per Share menunjukan adanya pengaruh
yang signifikan terhadap return saham.
Manfaat: Diharapkan hasil penelitian ini dapat dimanfaatkan sebagai salah satu opsi analisa sebelum memulai berinvestasi,
serta sebagai bahan acuan perusahaan dalam mengevaluasi kinerja perusahaan agar lebih meningkat.
Abstract
Purpose of study: This study aims to determine whether the Price Earning Ratio and Earning Per Share are large enough
for stock returns in the property and real estate sub-sector listed on the Indonesia Stock Exchange.
Methodology: In this study the sample research method was purposive sampling and obtained 10 sample companies. The
analysis in this study uses multiple linear regression analysis and uses the IBM SPSS 25 software in data processing.
Result: Partially Price Earnings Ratio shows no significant effect on stock returns while partially Income Per Share shows
a significant effect on stock returns. Price Earning Ratio and Earning Per Share show a significant effect on stock returns.
Applications: It is hoped that the results of this study can be used as an analysis option before starting, as well as as a
reference for the company in improving the company's performance.
Kata kunci: Price Earning Ratio, Earning Per Share and Return Saham
1. PENDAHULUAN
Pada masa ini,banyak negara-negara berkembang yang tertarik untuk melakukan bisnis dan investasi saham karena memiliki
peluang meningkatkan perputaran ekonomi suatu negara .Pasar modal memperdagangkan beberapa jenis sekuritas dengan
tingkat risiko berbeda. Risiko tinggi terlihat dari ketidak jelasan return yang akan diterima oleh investor pada masa yang
akan datang. Semakin tinggi expected return maka risiko yang timbul akan semakin besar juga. Kegiatan berinvestasi yaitu
kegiatan mempunyai berbagai risiko dan ketidakjelasan sulit diprediksi oleh investor. Untuk mengurangi terjadinya risiko
dan ketidakpastian yang mungkin terjadi, investor membutuhkan banyak informasi dari suatu kinerja perusahaan.
Pengertian dari return saham yaitu keuntungan pengembalian jumlah saham dari kegiatan investasi pada suatu emiten dalam
rentan waktu tertentu,tanpa adanya harapan akan mendapat keuntungan akan kecil kemungkinan seorang investor mau
menanamkan modalnya dalam jumlah tertentu pada suatu perusahaan. Return saham yang bernilai tinggi menandakan bahwa
saham tersebut masih aktif diperdagangkan. Saham memiliki karakter high risk, high return yang berarti saham adalah surat
berharga yang dapat memberikan keuntungan tinggi namun juga dapat beresiko tinggi. Saham berpeluang memperoleh return
atau capital gain dalam jumlah besar dengan waktu yang singkat. Namun,dengan naik turunya harga saham, akan membuat
pemodal mengalami kerugian dalam waktu yang singkat namun jika tepat dalam menganalisa dalam berinvestasi maka untuk
memperoleh return yang di harapkan atas investasinya maka setiap investor harus mempertimbangkan beberapa aspek
penting perusahaan dimana investor menanamkan modal, baik keuangan maupun non keuangan yang dapat mempengaruhi
besar kecilnya tingkat perolehan return. Selain dapat memberikan return, sebagai instrumen investasi, saham juga memiliki
risiko, antara lain capital loss dan risiko likuidasi. Capital loss terjadi ketika harga jual (harga sekarang) lebih rendah dari
harga pembeliannya (harga sebelumnya). Terdapat banyak jenis rasio keuangan yang mengukur kinerja keuangan perusahaan
yang berkaitan dengan return saham.
Return dapat dibagi menjadi dua kriteria yaitu capital gain/loss serta yield. Yield adalah bagian return yang menggambarkan
aliran kas atau pendapatan yang didapat dengan suatu investasi. Capital gain dan capital loss sebagai komponen kedua return
adalah kenaikan atau penurunan harga pada surat berharga yang bisa memberikan keuntungan atau kerugian bagi investor.
BSR 1460
Borneo Student Research
eISSN: 2721-5725, Vol 2, No 2, 2021
Investor akan menganalisa return saham sebelum memulai berinvestasi karena tingkat return merupakan hasil yang diperoleh
dari investasi (Hartono, 2013). Menurut Tandelilin (2010) sumber-sumber return saham terdiri dari dua komponen utama,
yaitu yield dan capital gain (loss). Menurut Gunawan et al ( 2013) investor memiliki tujuan untuk meningkatkan nilai
kekayaan dengan memaksimalkan nilai return tanpa mengabaikan risiko yang akan dihadapinya. Return saham yang bernilai
tinggi menandakan bahwa saham tersebut masih aktif diperdagangkan. Saham memiliki karakter high risk, high return yang
berarti saham adalah surat berharga yang dapat memberikan keuntungan tinggi namun juga dapat beresiko tinggi. Saham
berpeluang memperoleh return atau capital gain dalam jumlah besar dengan waktu yang singkat. Namun,dengan naik
turunya harga saham, akan membuat pemodal mengalami kerugian dalam waktu yang singkat.
Rumus :
Dt+( Pt−Pt−1)
𝑅𝑖 = Pt−1
(1)
Keterangan:
Dt = Dividen kas dibayarkan pada periode t
Pt = Harga penutupan saham i pada periode t
Pt-1 = Harga penutupan saham i periode sebelumnya
PER (Price Earning Ratio) adalah nilai harga per lembar saham yang telah di implementasikan dalam sebuah laporan
keuangan, dan akan menjadi standar laporan keuangan bagi perusahaan Price Earning Ratio (PER) menggambarkan apresiasi
besarnya pasar terhadap kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba. Model penelitian Price Earning Ratio sering kali
disebut sebagai pendekatan multiplier merujuk pada rasio harga pasar saham terhadap earning. Semakin besar nilai PER
menggambarkan prospek harga saham dianggap semakin tinggi oleh investor terhadap pendapatan perlembar sahamnya,
sehingga PER yang semakin tinggi juga menunjukkan semakin mahal saham tersebut terhadap pendapatan per lembar
sahamnya. Price Earning Ratio (PER) dalam menggambarkan apresiasi pasar terhadap kemampuan perusahaan dalam
menghasilkan laba (Darmadji & Fakhruddin, 2011). Oleh karena itu, rasio ini menggambarkan kesediaan investor membayar
suatu jumlah tertentu untuk setiap perolehan laba perusahaan PER dan dapat dihitung dengan rumus:
Harga saham
PER = (2)
EPS
Keterangan:
Harga = Harga saham penutupan akhir tahun
EPS = Earning Per Share
Rasio EPS yaitu ukuran rasio yang berperan penting bagi suatu perusahaan karena mampu menganalisis kinerja operasional
perusahaan dan membantu membentuk opini mengenai potensi perusahaan dimasa depan. Earning Per Share (EPS) pada
suatu perusahaan mengambarkan besarnya laba bersih perusahaan yang siap dibagikan kepada seluruh pemegang saham
perusahaan. Jika EPS perusahaan tinggi, akan semakin banyak mendatangkan para investor yang ingin membeli saham
tersebut. Variabel EPS merupakan hasil bagi laba per saham perusahaan yang diharapkan dapat memberikan gambaran
ivestor tentang bagian keuntungan yang akan didapat dalam satu periode. Seorang investor dapat membeli saham di suatu
perusahaan dengan mengharapkan mendapatkan bagian deviden. Semakin tinggi nilai EPS tentu saja akan menjadi kabar
gembira bagi investor karena akan semakin besar laba yang disediakan perusahaan maka jumlah deviden yang diterima akan
meningkat pula.
Variabel EPS merupakan hasil bagi laba per saham perusahaan yang diharapkan dapat memberikan gambaran ivestor tentang
bagian keuntungan yang akan didapat dalam satu periode. Seorang investor dapat membeli saham di suatu perusahaan dengan
mengharapkan mendapatkan bagian deviden. Secara matematis EPS dapat dirumuskan sebagai berikut (Kurniawan, 2013).
Semakin tinggi nilai EPS tentu saja akan menjadi kabar gembira bagi investor karena makin besar laba yang disediakan
perusahaan maka jumlah deviden yang diterima akan meningkat pula (Darmadji and Fakhruddin, 2012) oleh karena itu
investor akan cenderung memilih saham dengan Earning Per Share yang memiliki nilai tinggi dibanding saham yang
memiliki nilai Earning Per Share rendah (Nurrohman & Zulaikha, 2013).
BSR 1461
Borneo Student Research
eISSN: 2721-5725, Vol 2, No 2, 2021
3. Mengetahui dan menganalisis secara simultan pengaruh signifikan Price Earning Ratio (PER) dan Earning Per Share
(EPS) terhadap return saham pada sub sektor Property and Real Estate yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.
2. METODOLOGI
Penelitian yang dilakukan oleh Mayuni & Suarjaya (2018) memberikan hasil secara parsial menunjukan (ROA) & (EPS)
memiliki pengaruh yang signifikan pada return saham, sedangkan Firm Size dan (PER) tidak berpengaruh signifikan terhadap
return saham sedangkan penelitian Sodikin & Wulandi (2017) menunjukan PER & EPS secara simultan memiliki pengaruh
yang signifikan terhadap return saham dan PER secara parsial memiliki pengaruh yang signifikan terhadap return saham
berbeda dengan EPS yang tidak memiliki pengaruh yang signifikan pada return saham.
Hasil penelitian lainnya menghasilkan Return On Equity, Earning Per Share,Economic Value Added, dan Market Value
Added secara parsial memiliki pengaruh yang signifikan terhadap return saham, sedangkan ROE, EPS, nilai tambah
ekonomi, dan nilai pasar secara simultan atau bersama-sama memiliki pengaruh yang signifikan terhadap return saham
(Hidajat, 2018) sedangkan penelitian yang dilakukan.
Dividen Yield dan Return On Equity secara signifikan berpengaruh terhadap return saham. namun laba per saham,
pendapatan harga dan ekuitas utang tidak berpengaruh signifikan terhadap return saham (Banarjee, 2019). Hasil penelitian
menunjukkan bahwa Economic Value Added (EVA) berpengaruh positif signifikan terhadap return saham, sedangkan
Earning Per Share (EPS) juga berpengaruh signifikan terhadap return saham (Amyulianthy & Ritonga, 2016). Peneliti lain
menyatakan bahwa rasio earning per share berpengaruh pada harga pasar (Kumar, 2017). Peneliti lain menyatakan variabel
ROE dan DPR berpengaruh positif dan signifikan pada return saham, sedangkan variabel PER tidak berpengaruh pada return
saham (Carlo,2014).
PER (X1)
Return Saham
(Y)
EPS (X2)
Menurut (Sugiyono, 2011) hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian, dimana rumusan
penelitian telah dinyatakan dalam bentuk kalimat pernyataan, dikatakan sementara karena jawaban yang diberikan baru
didasarkan pada teori yang relevan, belum berdasarkan fakta-fakta empiris yang diperoleh melalui pengumpulan data, jadi
hipotesis juga dinyatakan sebagai jawaban teoritis terhadap rumusan masalah penelitian. Berdasarkan kerangka pemikiran
pada Gambar 1 diatas maka dapat dibuat perumusan hipotesis sebagai berikut:
H1: Price earning ratio memiliki pengaruh yang signifikan terhadap return saham perusahaan di sub sektor Property and
Real Estate di Bursa Efek Indonesia.
H2: Earning per share memiliki pengaruh yang signifikan terhadap return saham perusahaan di sub sektor Property and Real
Estate di Bursa Efek Indonesia.
H3: Price earning ratio dan earning per share memiliki pengaruh yang signifikan terhadap return saham perusahaan di sub
sektor Property and Real Estate di Bursa Efek Indonesia.
BSR 1462
Borneo Student Research
eISSN: 2721-5725, Vol 2, No 2, 2021
c) Uji Normalitas
Uji normalitas bertujuan untuk mengetahui apakah data yang akan dianalisis memiliki distribusi normal atau tidak. Uji
normalitas dalam data penelitian ini menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov. Dasar pengambilan keputusan ditentukan jika
signifikansi (α) < 5% maka data tersebut dikatakan tidak berdistribusi secara normal, sebaliknya jika signifikansi (α) > 5%
maka data tersebut dikatakan berdistribusi [Link] alternatif lain dari uji normalitas yaitu dengan menggunakan
metode monte carlo dengan menggunakan pengembangan yang sistematis dengan memanfaatkan bilangan acak. Tujuan
dilakukan nya monte carlo adalah untuk melihat data berdistribusi normal atau tidak dari data yang telah diuji dari sampel
yang bernilai acak atau terlalu extream nilainya.
d) Uji Multikolinearitas
Uji multikolinearitas diukur melalui nilai toleran dan Varian Inflation Factor (VIF). Variabel ini melihat setiap variabel
independen manakah yang dijelaskan oleh variabel lainnya. Tolerance mengukur variabel independen yang terpilih yang
tidak dijelaskan oleh variabel independen. Nilai tolerance yang rendah sama dengan VIF tinggi (karena VIF = 1/ Tolerance)
nilai cotoff dipakai untuk menunjukkan adanya multikolonieritas adalah nilai tolerance <0,10 atau sama dengan nilai VIF
>10. Berikut adalah dasar pengambilan keputusan uji multikolonieritas.
e) Uji Heteroskedastisitas
Uji Heteroskedastisitas menguji model regresi apakah terjadi ketidaksamaan varian dari residual satu penelitian ke penelitian
yang lain. Jika varian residual suatu penelitian tetap maka disebut homoskedastisitas dan jika berbeda disebut
heteroskedastisitas. Regresi yang baik adalah yang terjadi homoskedastisitas atau tidak terjadi heteroskedastisias.
f) Uji Autokorelasi
Pengujian ini bertujuan melihat sebuah model regresi linear ada korelasi antara kesalahan penggangu pada periode t dengan
kesalahan pengganggu pada periode t-1 (periode sebelumnya).
h) Pengujian Hipotetis
Pengujian hipotetis koefisien regresi bertujuan untuk memastikan apakah variabel bebas yang terdapat dalam persamaan
regresi secara individual atau secara bersama-sama berpengaruh terhadap nilai variabel terikat.
BSR 1463
Borneo Student Research
eISSN: 2721-5725, Vol 2, No 2, 2021
(Sumber: [Link])
Tabel 2: Hasil Statistik Deskriptif
Descriptive Statistics
Unstandardize
d Residual
N 50
BSR 1464
Borneo Student Research
eISSN: 2721-5725, Vol 2, No 2, 2021
Positive ,156
Negative -,088
Dari Tabel 3, [Link] (2-tailed) menunjukan niali 0,004 < 0,05. Dari hasil tersebut data tidak berdistribusi normal, sehingga
penelitian ini mengunakan opsi lain, yaitu dengan metode Monte Carlo. Setelah melakukan uji normalitas dengan model
Monte Carlo Sig. (2-tailed) nilai menunjukan 0,167 >0,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa residual atau data penelitian
berdistribusi normal.
Tolerance VIF
1 (Constant)
Tabel 4 menunjukkan bahwa semua variabel bebas mempunyai nilai tolerance di atas 0,1 dan nilai VIF di bawah 10, sehingga
dapat disimpulkan bahwa model regresi pada penelitian ini tidak terjadi multikolinearitas.
Tabel 5: Hasil Uji Autokorelasi
Change Statistics
Std. R
R Error Squar F Durbi
Sq Adjuste of the e Ch n-
Mod uar dR Estim Chan an d Watso
el R e Square ate ge ge f1 df2 n
Tabel 5 diatas didapat nilai Durbin Watson (DW) sebesar 2,408 dan (DU ) sebesar 1,6283 dengan dasar pengambilan
keputusan DW>DU hal ini menunjukkan tidak ada autokorelasi.
BSR 1465
Borneo Student Research
eISSN: 2721-5725, Vol 2, No 2, 2021
Berdasarkan Tabel 6 maka dapat dituliskan persamaan regresinya adalah sebagai berikut:
a) Nilai konstanta sebesar 3,283, artinya jika kedua variabel bebas (PER dan EPS) memiliki nilai 0, maka nilai return saham
sebesar 3,283.
b) Koefisien regresi variabel PER sebesar 0,036, artinya jika variabel independen lain nilainya tetap dan PER mengalami
kenaikan satu satuan maka return saham akan mengalami peningkatan sebesar 0,036. Koefisien bernilai positif artinya
terjadi pengaruh searah antara PER dengan return saham, semakin meningkat PER maka semakin meningkat return
saham.
c) Koefisien regresi variabel EPS sebesar -0,380, artinya jika variabel independen lain nilainya tetap dan EPS mengalami
kenaikan satu satuan maka return saham akan mengalami penurunan sebesar 0,380. Koefisien bernilai negatif artinya
pengaruh berlawanan antara EPS dengan return saham, semakin meningkat EPS maka semakin menurun return saham.
7: Hasil Uji t
B Std. Beta
Error
TOTAL 74,242 49
Berdasarkan Tabel 8 diperoleh nilai Fhitung sebesar 3,252 lebih besar dari Ftabel 3,19 sedangkan nilai signifikansinya sebesar
0.048 lebih kecil dari 0,05 hal itu menandakan bahwa variabel bebas secara simultan atau bersama-sama memiliki pengaruh
yang signifikan terhadap variabel terikat/dependen.
Tabel 9 : Hasil koefisien determinasi
Berdasarkan Tabel 9 diperoleh niai R Square sebesar 0,122 atau sama dengan 12,2% hal tersebut menunjukan bahwa return
saham dipengaruhi oleh PER dan EPS sebesar 12,2% sedangkan sisanya sebesar 87,8% dipengaruhi oleh variabel lain yang
tidak diteliti dalam penelitian ini.
4. KESIMPULAN
Berdasarkan penelitian yang di buat, di dapat kesimpulan bahwa price earning ratio tidak memiliki pengaruh terhadap
return saham berbeda dengan earning per share yang memiliki pengaruh yang signifikan terhadap return saham. Hasil secara
bersama-sama (simultan) price earning ratio dan earning per share menunjukan adanya pengaruh yang signifikan terhadap
return saham pada perusahaan di sub sektor Property and Real Estate di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2014-2018.
BSR 1467
Borneo Student Research
eISSN: 2721-5725, Vol 2, No 2, 2021
BSR 1468