Laporan PKL Kriya Batik SMK 2 Jepara
Laporan PKL Kriya Batik SMK 2 Jepara
Disusun oleh:
Febri Rizkiyatul Haleli / 11
Kelas XII Tekstil 1
Program Keahlian Kriya Kreatif Batik dan Tekstil
Laporan ini telah di setujui dan di sahkan sebagai salah satu syarat selesainya Praktik Kerja
Lapangan.
Disahkan oleh:
ii
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur saya ucapkan kepada Allah SWT. Yang telah melimpahkan rahmat
serta hidayah-Nya, sehingga penyusunan Laporan Praktik Kerja Lapangan ini dapat
terselesaikan dengan baik dan tepat pada waktunya.
Dalam rangka menyempurnakan kegiatan belajar saya di SMK Negeri 2 Jepara, serta
untuk memperluas pengetahuan saya mengenai dunia kerja, saya melaksanakan Praktek Kerja
Lapangan di Industri Sekar Batik Jepara mulai dari tanggal 22 Juni – 15 Desember 2022.
Pada kesempatan kali ini, saya selaku penyusun laporan ini ingin berterima kasih
kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi, baik dukungan secara moral maupun materi,
karena tanpa dukungan dari berbagai pihak, saya tidak akan bisa menjalankan praktek kerja
lapangan ini dengan sangat baik dan menyelesaikan laporan dengan tepat waktu.
Ucapan terima kasih saya ucapkan kepada:
Bapak Drs. Muh. Zainudin Azis, [Link], selaku kepala SMK Negeri 2 Jepara.
Ibu Utsiyah Puji Rahayu, [Link], selaku wali kelas yang selalu meberikan dukungan.
Ibu Masyitha Cahya Putri, [Link], selaku pembimbing yang memonitoring.
Ibu Dewi Irawati [Link], selaku pemilik Industri Sekar Batik Jepara yang telah menerima saya
dan membimbing untuk belajar lebih dalam mengenai dunia industri.
Serta semua pihak yang berkontribusi.
Saya berharap semoga laporan ini dapat diterima sebagai pemenuhan tugas dan syarat
yang telah diberikan, saya juga menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari kata sempurna,
karena itu saya memohon maaf apabila terdapat kesalahan dalam laporan ini, dan dari hal
itulah saya mengharap kritik dan saran yang dapat membangun motivasi agar lebih baik dan
maju untuk masa yang akan datang.
Terimakasih...
iii
DAFTAR ISI
Daftar Lampiran
iv
Lampiran 1: kegiatan ngelorod kain, kegiatan nge-waterglass, kegiatan ngunci
warna alam.
Lampiran 2: kegiatan nyelup warna alam, kegiatan menyiapkan warna alam, kegiatan
outing nyolet warna.
Lampiran 3: kegiatan nge-waterglass, kegiatan breafing pagi, kegiatan nyolet.
Lampiran 4: kegiatan nyanting, kegiatan monitoring guru pendamping, kegiatan foto
bersama awal pkl.
Lampiran 5: kegiatan memotong kain, kegiatan isen-isen kain, kegiatan makan
bersama.
Lampiran 6: kegiatan outing, kegiatan jaga stand pameran.
Lampiran 7: kegiatan karnaval 17an Agustus, kegiatan foto produk sendiri, kegiatan
nyolet warna.
Lampiran 8: kegiatan tilawah, kegiatan nembok, kegiatan ngecap kain.
Lampiran 9: kegiatan membuat sabun, kegiatan foto sabun sudah jadi, kegiatan
mewarna kain serat.
Lampiran 10: hasil karya pribadi (kain batik tulis, taplak meja batik tulis,kain batik
cap, warna alam, mukena motif warna serat kayu.
v
BAB I
PENDAHULUAN
1
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2
membatik sebagai salah satu cara untuk menjadikan kain memiliki nilai lebih.
Berdasarkan wawancara dengan salah satu tokoh pemerhati dan praktisi batik di
Jepara, yaitu Suyanti Sudjatmiko, beliau menyebutkan bahwa salah satu jenis kain
yang terkenal di Jepara pada masa Ratu Kalinyamat adalah kain yang disebut dengan
kalyaga. Menurut cerita tutur, kain kalyaga bermotif persemaian (semen) itu dibuat
oleh Ratu Kalinyamat untuk diberikan kepada Joko Tingkir sebagai hadiah.
Demikian jejak-jejak batik di Jepara sebelum era Kartini. Informasi yang
diperoleh masih sangat kabur. Kemungkinan hal ini terjadi karena batik di Jepara
hanya dibuat untuk memenuhi kebutuhan dalam lingkup keluarga, bukan menjadi
salah satu komoditas perdagangan, sehingga tidak dianggap penting serta tidak ada
informasi yang merekam jejak keberadaan batik di Jepara sebelum era Kartini.
Meskipun demikian, beberapa bukti yang sedikit itu menujukkan bahwa batik Jepara
itu ada.
b. Batik Masa R.A Kartini
Pada masa Hindia Belanda, minimal pada akhir abad ke-19, di Jepara telah
berkembang seni batik. Keberadaan batik pada saat itu terlacak berkat kontribusi
Kartini yang mengajarkan pelajaran membatik kepada murid-muridnya. Hasil dari
karya membatik tersebut dibawa pada pameran untuk karya wanita di Den Haag pada
tahun 1898. Kartini belajar membatik dari ibundanya sendiri yaitu R.A. Ngasirah, dan
dari Mbok Dullah, dan Mbok Kardumah.
Sebagai daerah pesisir, Jepara jauh sebelum masa Kartini, yaitu pada abad ke-
16 pelabuhan yang memungkinkan berinteraksi dengan orang asing baik interinsuler
maupun internasional. Interaksi dengan para para pedagang turut mewarnai hasil
kebudayaan Jepara, khususnya berkaitan dengan batik. Salah satu tokoh yang gigih
memperjuangkan potensi kerajinan di Jepara adalah R.A. Kartini. Keberadaan batik
Jepara secara luas diperkenalkan oleh R.A. Kartini. Beliaulah yang telah mengenalkan
batik Jepara ke dunia luar, tidak hanya di luar komunitas masyarakat Jawa, tetapi juga
di dunia internasional. Menurut Rouffaer, seni membatik di Indonesia dijadikan
sebagai a court art, yaitu sebagai seni keraton.
Ketrampilan membatik telah dipelajari R.A. Kartini sejak ia berumur 12 tahun,
sejak ia meninggalkan bangku sekolah ELS (Eropasch Lagere School) dan kemudian
memasuki masa pingitan. Mbok Dullah, pegawai Kabupaten Jepara adalah tetap guru
membatiknya. Ia dan adik-adiknya sangat terampil membatik dan sering mengenakan
sarung batik buatan mereka untuk bepergian atau untuk dihadiahkan pada sahabat
sahabatnya. Ny. Abendanon, adalah salah satu sahabat yang pernah diberi kain sarung
batik buatannya. Oleh Mr. J.H. Abendanon, sarung itu dipotret dan direproduksi untuk
sampul buku Door Duisternis tot Licht, kumpulan surat-surat R.A. Kartini dan sahabat
sahabatnya.
R.A. Kartini yang terpelajar pernah membuat penelitian tentang batik. Ia
membuat berbagai catatan mengenai batik, memotret berbagai motif batik, memotret
dan mencatat pembatik-pembatik yang bekerja di kabupaten seperti Kamsiah, Minah,
dan Kardumah. Berdasarkan bahan bahan yang telah dikumpulkannya itulah ia
membuat karya tulis tentang batik, salah satu cabang seni rakyat yang sangat
dibanggakannya, karya tulis itulah yang ia kirim ke Den Haag.
3
Selain itu, beliau juga mengajarkan kepandaian membatik dan berbagai
ketrampilan di sekolah perempuan yang diselenggarakannya di serambi pendopo
Kabupaten Jepara. Berikut ini gambar Kartini dan kedua adiknya yang sedang
membatik di lingkungan rumahnya di Kabupaten Jepara.
4
Batik Jepara, ia yang merupakan seorang pecinta batik kembali mengembangkan
batik dengan motif yang sangat beragam.
Ciri khas motif batik Jepara adalah motif batik seni ukir, menggunakan
gambar-gambar atau motif-motif ukiran khas Jepara. Batik Jepara yang mendapat
inspirasi dari corak ukir Jepara misalnya;
1. Motif Parang Poro: Parang Poro (singkatan dari "Parang Jeporo", yang artinya
"Parang Jepara"). Motif batik ini disusun miring dan berupa stilisasi ranting dan
dedaunan yang saling berkaitan yang digali dari corak ukir Jepara. Makna motif ini
adalah hidup saling membutuhkan.
2. Motif Lung-Lungan. Motif ini terinspirasi dari motif relief ukir Jepara yang ada di
Desa Senenan.
3. Motif Kembang Setaman. Motif ini berupa motif ulir yang dihiasi bunga aneka
warna dan kupu-kupu, yang menggambarkan harmoni keindahan taman bunga.
4. Motif Elung Bimo Kurdo. Motif ini berupa bentuk lung yang besar-besar,
pewayangan motif batik dari tokoh yang diilhami Bima, serta menunjukkan karakter
agung, kokoh, dan wibawa.
5. Motif Sido Arum. Motif ini merupakan motif yang diilhami dari motif-motif klasik
yang sudah ada seperti Sido Mukti, Sido Pangkat, dan semacamnya. Motif ini
mengandung pesan agar derajat pangkat bermanfaat bagi kehidupan.
6. Motif Sekar Jagat Bumi Kartini. Motif ini terinspirasi dari motif Sekar Jagat yang
sudah ada namun terdapat nuansa yang berbeda pada garis pembatasnya berupa
stilisasi bunga melati. Harapan simboliknya, batik yang ada di Jepara ini aromanya
akan menyebar ke seluruh penjuru negeri.
b. Pengertian Batik
Batik adalah kain Indonesia (khususnya Jawa) bergambar yang pembuatannya secara
khusus dengan menuliskan atau menorehkan malam pada kain itu, kemudian pengolahannya
diproses dengan cara tertentu yang memiliki kekhasan.
Secara etimologi, istilah "batik" berasal dari bahasa Jawa: ꦲꦩ꧀ꦧꦛꦶꦏ꧀ (ambathik)
yang dihasilkan dari lakuran kata ꦲꦩ꧀ꦧ (amba) yang berarti "lebar" atau "luas", dan
ꦤꦶꦛꦶꦏ꧀ (nithik) yang berarti "membuat titik" dan kemudian berkembang menjadi istilah
bahasa Jawa: ꦧꦛꦶꦏ꧀ (bathik), yang berarti menghubungkan titik-titik menjadi gambar
tertentu pada kain yang luas atau lebar. Kata dalam bahasa Jawa: ꦧꦛꦶꦏꦤ꧀ (bathikan) juga
dapat bermakna sebagai "menggambar" atau "menulis". Istilah bathik kemudian diserap
kedalam bahasa Indonesia menjadi "batik" dengan menggantikan bunyi huruf "-th" sebagai "-
t" dikarenakan orang non-Jawa tidak bisa melafalkannya dengan mudah.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, "batik" didefinisikan sebagai kain bergambar
yang pembuatannya secara khusus dengan menuliskan atau menerakan lilin (atau dalam
bahasa Jawa: ꦩꦭꦩ꧀, malam) pada kain itu, yang kemudian pengolahannya melalui proses
tertentu. Jadi, dapat disimpulkan bahwa "batik" dapat merujuk kepada sebuah proses maupun
hasil jadi (bersifat bendawi) dari proses tersebut.
Sebagai keseluruhan teknik, teknologi, serta pengembangan motif dan budaya yang
terkait, oleh UNESCO telah ditetapkan sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan
dan Nonbendawi (Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity) sejak 2
Oktober 2009. Sejak saat itu, 2 Oktober ditetapkan sebagai Hari Batik Nasional.
5
Batik dianggap sebagai ikon budaya penting di Indonesia. Masyarakat Indonesia
mengenakan batik sebagai busana kasual dan formal yang dapat digunakan dalam beragam
acara.
6
2.2. Fungsi Batik
Berikut adalah beberapa fungsi batik yang perlu diketahui:
1. Fungsi praktis
Fungsi praktis dari kain batik tidak lain adalah sebagai produk yang dapat digunakan dalam
kehidupan sehari-hari. Dalam hal ini, kain batik dapat digunakan sebagai bahan untuk
membuat sandang atau pakaian. Baik pakaian yang digunakan sehari-hari maupun pakaian
untuk acara-acara tertentu, seperti batik untuk pakaian kebaya maupun baju pernikahan adat
Jawa. Selain itu kain batik juga bisa digunakan sebagai sarung, jarik, selendang, kerudung,
dan sebagainya, baru-baru ini batik dijadikan sebagai model fashion yang menarik dunia
internasional.
2. Fungsi estetis
Fungsi batik berikutnya yaitu fungsi estetis, yaitu batik yang digunakan sebagai hiasan. Kain
batik yang digunakan sebagai hiasan tidak lain karena batik memiliki keindahan dalam setiap
motif yang digambar, setiap pola yang terdapat dalam batik setiap daerah berbeda,
mencerminkan makna batik itu sendiri bagi masyarakat sekitar. Dalam hal ini, kain batik
dapat digunakan sebagai aksesoris seperti taplak meja, gorden, hiasan dinding, hingga tas.
3. Fungsi simbol sosial
Sebagai simbol sosial, kain batik dibuat dengan berbagai macam teknik dan tingkat kesulitan.
Semakin rumit dan memiliki tingkat kesulitan yang tinggi dalam proses pembuatannya, maka
kain batik tersebut mempunyai nilai yang lebih tinggi. Tidak jarang, batik-batik tulis yang
dibuat dengan proses yang rumit mempunyai harga yang cenderung mahal.
7
2.3. Teori Batik
Pada umumnya, dasar pengetahuan tentang batik banyak yang harus diketahui, karena
tidak hanya canting dan malam saja yang biasanya terbesit dalam fikiran saat mendengar
proses membatik, berikut saya jabarkan sekilas mengenai apa saja yang digunakan dalam
kegiatan membatik.
a. Alat – alat
Alat yang digunakan untuk membuat batik ada beberapa jenis, masing-masing alat
memiliki jenis dan fungsinya sendiri. Beberapa jenis alat untuk membatik antara lain:
1. Canting tulis: untuk menorehkan malam diatas kain.
8
4. Tebok: sebagai alas kompor untuk mencanting.
5. Kompor dan gas: untuk mendidihkan air saat proses melorod kain.
7. Ember dan drum: sebagai wadah air dan tempat untuk mencuci kain yang dilorod.
9
8. Cup plastik: sebagai wadah cairan warna batik.
11. Kuas: untuk menembok kain batik dan membuat batik abstrak.
10
12. ATK (Pensil, penghapus, rautan, spidol, penggaris, kertas HVS): untuk membuat
gambar batik (mal).
14. Tali rafia dan bambu: untuk menjemur kain setelah di warna, dan sebagainya.
15. Penjepit jemuran, karet dan peniti: untuk mengaitkan kain ke gantungan.
11
16. Timbangan: untuk mengukur bahan yang akan digunakan.
17. Meja dan alas: sebagai alas untuk membuat batik cap.
12
20. Scrap: untuk membersihkan malam yang menetes pada lantai.
b. Bahan - bahan
Bahan yang digunakan untuk membuat batik ada beberapa jenis, masing-masing
bahan juga memiliki jenis dan fungsinya sendiri. Berikut beberapa jenis bahan untuk
membatik antara lain:
1. Malam tulis: untuk mencanting batik tulis, warnanya cenderung lebih muda dan
teksturnya sedikit lembek.
2. Malam tembok: untuk menembok/menutup kain yang tidak ingin diwarna, dapat
digunakan untuk membuat batik cap, warnanya lebih pekat dan teksturnya keras.
13
3. Waterglass: untuk mengunci warna pada kain batik.
6. Soda abu/soda ash/Na2CO3: untuk memberikan kesan warna yang khas pada
kain batik.
14
7. Parafin: untuk memberikan kesan retak pada kain batik.
15
c. Prosedur Pengerjaan
1. Batik Tulis
a. Persiapan: menyiapkan bahan dan alat yang akan digunakan untuk membuat kain
batik tulis.
Bahan yang digunakan:
Kain (2 meter)
Malam tulis
Pewarna
Waterglass
Alat yang digunakan:
Canting (klowong, isen-isen)
Kompor dan wajan
Gawangan
ATK
Ember/bak
Sarung tangan
Cup/wadah
Jegul dan cottonbud
Panci
Kompor gas
b. Langkah kerja: dilaksanakan dengan mengenakan pakaian kerja dan
memperhatikan keselamatan kerja.
1) Membuat desain batik pada kertas.
2) Memola desain yang telah dibuat diatas kain (nge-mal).
3) Mencanting pola yang telah dibuat menggunakan canting, sebelum
mencanting pastikan malam/lilin sudah mencair dengan baik.
4) Apabila sudah tercanting semua, bentangkan kain diatas gawangan untuk
selanjutnya di warna.
5) Siapkan warna yang ingin digunakan dalam wadah, coletkan warna diatas
kain sesuai dengan keinginan.
6) Tunggu hingga kering, kemudian siapkan waterglass.
7) Jika sudah kering celupkan kain pada waterglass hingga merata, angkat
kain dan biarkan dengan waktu minimal 5 jam.
8) Setelah itu, siapkan air mendidih, masukkan kain agar malam/lilin tidak
lagi menempel pada kain (nglorod), selanjutnya bilas berulang kali dengan
air bersih.
9) Keringkan kain, dan kain batik tulis dapat digunakan.
2. Batik Cap
a. Persiapan: menyiapkan bahan dan alat yang akan digunakan untuk membuat kain
batik tulis.
Bahan yang digunakan:
Kain (2 meter)
Malam/lilin batik cap
Pewarna
16
Waterglass
Alat yang digunakan:
Tembaga/canting cap
Meja cap
Kompor
Wajan cap
b. Langkah kerja:
1) Pastikan malam/lilin pada wajan sudah panas sempurna, begitupun dengan
tembaga/alat capnya.
2) Bentangkan kain diatas meja cap.
3) Mulailah mengecap kain hingga selesai dan sesuai dengan rencana.
4) Jika sudah siapkan warna, apabila menghendaki 1 warna maka tidak perlu
dicolet, melainkan langsung dicelup.
5) Selanjutnya keringkan kain, dan dilanjutkan dengan pencelupan waterglass.
6) Celupkan kain pada waterglass hingga merata, angkat kain dan biarkan dengan
waktu minimal 5 jam.
7) Setelah itu, siapkan air mendidih, masukkan kain agar malam/lilin tidak lagi
menempel pada kain (nglorod), selanjutnya bilas berulang kali dengan air
bersih.
8) Setelah kain kering, kain batik cap sudah dapat digunakan.
17
3) Apabila kain sudah dicanting sesuai dengan rencana, selanjutnya dapat di
cap dengan tembaga/canting cap.
4) Jika sudah, selanjutnya adalah proses pewarnaan, apabila ingin di colet
pasangkan kain diatas gawangan dan coletkan warna yang dikehendaki.
5) Tunggu hingga kering, kemudian siapkan waterglass.
6) Jika sudah kering celupkan kain pada waterglass hingga merata, angkat
kain dan biarkan dengan waktu minimal 5 jam.
7) Setelah itu, siapkan air mendidih, masukkan kain agar malam/lilin tidak
lagi menempel pada kain (nglorod), selanjutnya bilas berulang kali dengan
air bersih.
8) Keringkan kain, setelahnya kain batik kombinasi tulis dan cap dapat
digunakan.
4. Batik Abstrak
a. Persiapan: menyiapkan bahan dan alat yang digunakan untuk membuat batik
abstrak.
Bahan yang digunakan:
Kain (2 meter)
Malam/lilin (tulis dan tembok)
Pewarna
Waterglass
Alat yang digunakan:
Canting (klowong, isen-isen)
Kuas (besar/kecil)
Kompor dan wajan
Gawangan
Ember/bak
Sarung tangan
Cup/wadah
Jegul dan cottonbud
Panci
Kompor gas
b. Langkah kerja:
1) Siapkan malam dan panaskan, ambil gawangan pasangkan kain diatasnya.
2) Sebelum menyoretkan motif diatas kain, pastikan malam/lilin sudah
mencair dengan baik, dan letakkan kuas didalamnya agar tidak kaku.
3) Apabila kain sudah dicoreti malam sesuai dengan rencana menggunakan
kuas maupun canting selanjutnya dapat diwarna, langsung dicelup maupun
dicolet.
4) Tunggu hingga kering, kemudian siapkan waterglass.
5) Jika sudah kering celupkan kain pada waterglass hingga merata, angkat
kain dan biarkan dengan waktu minimal 5 jam.
6) Setelah itu, siapkan air mendidih, masukkan kain agar malam/lilin tidak
lagi menempel pada kain (nglorod), selanjutnya bilas berulang kali dengan
air bersih.
7) Keringkan kain, setelahnya kain batik abstrak dapat digunakan.
18
2.4. Motif – motif Batik
Motif batik yang dihasilkan oleh Ibu Ira (Sekar Batik Jepara) begitu beragam,
terkadang beberapa motif dibawah ini digabungkan dalam satu kain sehingga emenarik
perhatian konsumen, terdapat 19 motif batik yang sudah tercantum dalam sebuah buku resmi
Batik Jepara, berikut adalah motif – motif batik tersebut beserta penjelaasannya;
1. Motif Batik Wijayakusuma
Batik Wijayakusuma adalah sebuah
karya dari Ibu Ira yang diciptakan
pada tahun 2011. Pembuatan batik
terinspirasi dari pohon kangkung
yang menjalar dan juga dari motif
Lung Lungan ciri khas Jepara. Makna
dari motif ini adalah Lung Lungan
yang menggambarkan selalu
memberikan kebaikan kemanapun.
Motif yang ada di gambar tersebut adalah Lung Lungan, buah Wuni, dan daun
jumbai. Pewarnaan batik dilakukan dengan pewarna sintetis.
19
4. Motif Batik Buketan Gebyok
Batik Buketan Gebyog adalah
mahakarya dari Ibu Ira, yang
diciptakan pada tahun 2017.
Pembuatan batik terinspirasi dari
motif ukiran halus pada Gebyog
Jepara. Makna dari batik adalah jika
mengembara kemana saja harus
selalu ingat dengan daerah asal
Jepara dan hasil yang diperoleh
diperantauan diharapkan bisa mengharumkan nama Jepara. Motif yang ada pada batik
berupa motif Lung Lungan, motif Buah Wuni, dan Motif Daun Jumbai. Pewarnaan
batik menggunakan pewarna sintetis.
20
tumbuh disekitar rumah pengrajin. Batik
memiliki makna bahwa keberadaan kita
hendaknya selalu memberikan kebaikan
kepada orang lain. Motif yang ada di batik
ialah
motif Lung Lungan, motif Daun Jumbai,
dan motif Bunga Liar. Pewarnaan batik
menggunakan pewarna sintetis.
8. Motif Batik Kembang Mawar
Batik Kembang Mawar adalah
mahakarya dari Ibu Ira, yang
diciptakan pada tahun 2014. Batik
terinspirasi dari seni ukir khas
Jepara yang terpasang sebagai
ornamen pintu di rumah pengrajin.
Batik ini memiliki makna bahwa
bunga mawar melambangkan
sebagai kehidupan yang bisa
bermanfaat bagi orang lain. Motif yang ada dalam batik berupa motif Ukir Khas
Jepara. Pewarnaan batik menggunakan pewarna sintetis.
21
11. Motif Batik Buket Kembang Sepatu
22
Batik bermakna sebagai bunga yang memiliki keindahan. Motif yang terdapat dalam
batik adalah motif Lung Lungan, motif Daun Jumbai, dan motif Kembang Kamboja.
Pewarnaan batik menggunakan pewarna sintetis.
23
mars Jepara yaitu dengan adanya kata "Jepara Mendunia". Makna dari batik ini yaitu
terus berkaryalah agar Jepara menyinari dunia dan karya-karya orang Jepara
menyinari dunia (mendunia). Motif yang ada di batik terdiri dari motif Lung Lungan,
motif Buah Wuni, motif Daun Jumbai, dan motif Bintang. Pewarnaan batik
menggunakan pewarna sintetis.
Kesimpulan yang saya ambil dengan adanya Praktik Kerja Lapangan ini adalah, saya
menjadi lebih tau tentang gambaran dunia kerja kedepannya, saya juga menjadi terbiasa
untuk bekerja sesuai dengan jurusan saya yakni Kriya Kreatif Batik dan Tekstil, karena hal
ini pula saya tidak akan terkejut dan takut saat memasuki dunia kerja nanti.
Selain itu juga saya merasa dapat menghasilkan karya-karya yang berkualitas dan
layak untuk dipasarkan, saya dapat mengamati dan menganaisis selera konsumen yang datang
untuk membeli.
Tentu saja, saya juga mengerti bahwa saya tidak boleh mencari pengetahuan dan ilmu
sampai hanya disini saja, karena saya menyadari bahwa dunia kerja sendiri sangatlah luas,
saya akan berusaha untuk beradaptasi dan mencari ilmu dengan pihak-pihak lain.
Terimakasih...
24
DAFTAR PUSTAKA
25
LAMPIRAN
Lampiran 1
26
Lampiran 2
27
Lampiran 3
28
Lampiran 4
29
Lampiran 5
Lampiran 6
30
31
Lampiran 7
32
Lampiran 8
33
Lampiran 9
34
Lampiran 10
35