0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
112 tayangan11 halaman

Sampling Audit untuk Pengujian Transaksi

Makalah ini membahas tentang sampling audit untuk pengujian pengendalian internal dan pengujian substantif atas transaksi. Terdapat beberapa poin pembahasan utama yaitu tentang sampel representatif, perbedaan sampling statistik dan nonstatistik serta pemilihan sampel probabilistik dan nonprobabilistik, metode pemilihan sampel, sampling untuk menentukan tingkat kesalahan, aplikasi sampling audit nonstatistik dan statistik, serta distribusi sampling.

Diunggah oleh

1DFatimah
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
112 tayangan11 halaman

Sampling Audit untuk Pengujian Transaksi

Makalah ini membahas tentang sampling audit untuk pengujian pengendalian internal dan pengujian substantif atas transaksi. Terdapat beberapa poin pembahasan utama yaitu tentang sampel representatif, perbedaan sampling statistik dan nonstatistik serta pemilihan sampel probabilistik dan nonprobabilistik, metode pemilihan sampel, sampling untuk menentukan tingkat kesalahan, aplikasi sampling audit nonstatistik dan statistik, serta distribusi sampling.

Diunggah oleh

1DFatimah
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

MAKALAH

SAMPLING AUDIT UNTUK PENGUJIAN PENGENDALIAN DAN


PENGUJIAN SUBSTANTIF ATAS TRANSAKSI
Dosen pengampun : Dev Ananda SE.,AK.,CA

Disusun Oleh :
1. Tendi Yanuar 121040067
2. Evi Sofiatul Laeliyah 121040186
3. Fatimah 121040076
4. Hilda Ridayanti 121040074

PROGRAM STUDI AKUNTANSI


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS SWADAYA GUNUNG JATI
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT, yang atas rahmat-Nya dan karunianya
kami dapat menyelesaikan makalah ini dengen tepat pada waktunya. Adapun judul dari
makalah ini adalah “SAMPLING AUDIT UNTUK PENGUJIAN PENGENDALIAN DAN
PENGUJIAN SUBSTANTIF ATAS TRANSAKSI”.
Pada kesempatan ini kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada
dosen mata kuliah Audit II yang telah memberikan tugas kepada kami. Kami juga ingin
mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang turut membantu dalam pembuatan
makalah ini.
Kami jauh dari kata sempurna. Dan ini merupakan Langkah yang baik dari studi yang
sesungguhnya. Oleh karena itu, keterbatasan waktu dan kemampuan kami, maka kritik dan
saran yang membangun senantiasa kami harapkan semoga makalah ini dapat berguna bagi
saya pada khususnya dan pihak lain yang berkepentingan pada umumnya.

Cirebon, 4 Maret 2023

Penulis
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.................................................................................................................................2
DAFTAR ISI.............................................................................................................................................3
BAB 1.....................................................................................................................................................4
PENDAHULUAN.....................................................................................................................................4
1.1 LATAR BELAKANG..................................................................................................................4
1.2 RUMUSAN MASALAH.............................................................................................................4
1.3 TUJUAN MASALAH.................................................................................................................4
BAB II.....................................................................................................................................................5
PEMBAHASAN.......................................................................................................................................5
A. SAMPEL REPRESENTIF................................................................................................................5
B. SAMPLING STATISTIK VARSUS SAMPLING NONSTATISTIK DAN PEMILIHAN SAMPEL
PROBABILISTIK VARSUS NONPROBABILISTRIK...................................................................................6
C. METODE PEMILIHAN SAMPLE PROBABILISTRIK DAN NONPROBABILISTRIK..............................6
D. SAMPLING UNTUK TINGKAT PENGECUALIAN............................................................................7
E. APLIKASI SAMPLING AUDIT NONSTATISTIK...............................................................................8
F. SAMPLING AUDIT STATISTIK......................................................................................................9
G. DISTRIBUSI SAMPLING...............................................................................................................9
BAB III..................................................................................................................................................10
PENUTUP.............................................................................................................................................10
KESIMPULAN.......................................................................................................................................10
DAFTAR PUSTAKA................................................................................................................................11
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Ketika memilih sampel dari populasi auditor berusaha memperoleh sampel yang
representatif, yaitu sampel yang karakteristinya hampir sama dengan yang dimiliki oleh
populasi. Ini berarti item- item yang dipilih yang dijadikan smpel populasi serupa dengan
item- item yang dijadikan [Link] memilih sampel dari popuasi, auditor berusaha
untuk memperoleh sampel yang
representatif. Sampel representatif (representative sample) adalah sampelyang
karakteristiknya hampir sama dengan yang dimiliki oleh [Link] berarti item item
yang dijadikan sampel populasi serupa dengan item item yang tidak dijadikan sampel.
Sedangkan Dalam praktek ,auditor tidak pernah mengetahuai apakah suatu
sampel bersifat representative atau tidak. Salah satu cara adalah dengan melakukan audit
lebih lanjut atas populasi secara keseluruhan. Akan tetpi auditor dapatmeningkatkan
sampel dianggap representatif dengan menggunakan secara cermatketika merancang
proses sampling, pemilihan sampel dan evaluasi sampel. Hasil sampel dapat
nonrepresentatif akibat kesalahan nonsampling atau
kesalahan sampling. Risiko dari kedua jenis kesalahan yang terjaditersebut disebut
sebagai risiko nonsampling dan risiko sampling. Keduanyadapat dikendalikan.
 Auditor yang akan melakukan pengujian harus menentukan ukuran sampeldan item
sampel yang akan dipilih dari populasi untuk setiap sampel proseduraudit. Banyaknya
persentase dari jumlah populasi yang akan dipilh auditor bagi pengujian untuk membuat
kesimpulan mengenai populasi tersebut disebut sebagaisampling audit.

1.2 RUMUSAN MASALAH


a. Apa yang dimaksud sample representatif ?
b. Apa yang dimaksud sampling statistik versus nonstatistik dan pemilihan sample
probabilistik versus nonprobabilistrik ?
c. Apa yang dimaksud metode pemilihan sample probabilistik dan nonprobabilistrik ?
d. Apa yang dimaksud sampling untuk tingkat pengecualian ?
e. Apa yang dimaksud aplikasi sampling audit nonstatistik ?
f. Apa yang dimaksud sampling audit statistik ?
g. Apayang dimaksud distibusi sampling ?

1.3 TUJUAN MASALAH


Untuk mempelajari dan memahami poin-poin yang terdapat dalam rumusan masalah.

 
BAB II
PEMBAHASAN

A. SAMPEL REPRESENTIF
Sample representif (representative sample) adalah semple yang karakteristiknya
hampir sama dengan yang dimiliki oleh [Link] berarti bahwa item-item yang
dijadikan sample serupa dengan item-item yang tidak dijadikan sample.
Dalam praktek,auditor tidak pernah mengetahui apakah suatu semplel bersifat
representatif , bahkan setelah sema pengujian selesai dilakukan.(cara untuk
mengetahui apakah suatu sample bersifat representatif adalah dengan melakikan audit
lebih lanjut atas populasi secara keseluruhan).Sedangkan sampel nonrepresentatif
adalah sampel yang memiliki kesalahan nonsampling atau kesalahan sampling. Kedua
kesalahan tersebut dapat mengakibatkan sampel menjadi tidak representatif.
Risiko dari kedua jenis kesalahan yang terjadi disebut dengan risiko nonsampling dan
risiko sampling.
1. Risiko sampling ( Sampling Risk ) : adalah risiko bahwa auditor mencapai
kesimpulan yang salah karena sampel populasi tidak representatif.  Risiko
sampling adalah bagian yang melekat akibat menguji lebih sedikit dari populasi
secara keseluruhan.  Jika populasi sebenarnya memiliki tingkat pengecualian,
auditor menerima populai yang salah karena sampel tidak cukup meawakili
populasi.
2. Risiko nonsampling ( Nonsampling Risk ) : adalah risiko bahwa pengujian
audit tidak menemukan pengecualian yang ada dalam sampel. Penyebab risiko
nonsampling adalah kegagalan auditor unuk mengenali pengecualian dan
prosedur audit yang tidak sesuai atau tidak efektif.
Dan Auditor memiliki dua cara untuk mengendalikan Risiko sampling :
1. Menyesuikan ukuran sempel
Meningkatkan ukuran sample dapat mengurangi risiko sampling,dan
[Link] suatu ekstrem, sample dari semua item populasi tidak memiliki
[Link] pada ekstrem lainnya,sample sebanyak satu atau dua item
memiliki risiko sampling yag sangat tinggi.
2. Menggunakan metode pemilihan item sample yang tepat dari populasi
Penggunaan metode pemilihan sample yang sesuai dapat menngkatkan
kemungkinan ketrwakilan sample bersangkutan. Hal ini tidak menghilangkan atau
bahkan mengurangi resiko sampling,tetapi memeungkinkan auditor untuk
mengukur risiko yang berkaitan dengan ukuran sample tertentu jika metode
pemilihan sample dan evaluasi statistik digunakan.
B. SAMPLING STATISTIK VARSUS SAMPLING NONSTATISTIK DAN
PEMILIHAN SAMPEL PROBABILISTIK VARSUS NONPROBABILISTRIK
Metode sampling audit dapat dibagi menjadi dua katagori utama : sampling statistik
dan sampling [Link] tersebut serupa karena keduannya melibatkan tiga
tahap :
1. Perencanaan sample
2. Pemilihan sample dan pelaksanaan pengujiaan
3. Pengevaluasian hasil
Tujuan dari perencanaan sampel adalah memastikan bahwa pengujian audit dilakukan
dengan cara yang memberikan risiko sampling yang diinginkan dan meminimalkan
kemungkinan kesalahan nonsampling. Pemilihan sampel melibatkan keputusan
bagaimana sampel dipilih dari populasi.
Sampling statistik (statistical sampling)  menerapkan aturan matematika,
auditor dapat mengkuantifikasi (mengukur) risiko sampling dalam merencanakan
sampel dan dalam mengevaluasi hasil.
Dalam sampling nonstatistik (nonstatistical sampling) auditor memilih item
sampel yang diyakini akan memberikan informasi yang paling bermanfaat,
dalam situasi tertentu, dan mencapai kesimpulan mengenai populasi atas dasar
pertimbangan.
Dalam pemilihan sampel probabilistik (probabiistic sampel selection) auditor
memlih secara acak item-item sehingga setiap item populasi memiliki item
probabilitas yang sama untuk dimasukkan dalam sampel. Proses ini memerlukan
ketelitian yang sangat tinggi dan menggunaan salah satu dari beberapa metode yang
telah dibahas secara singkat. 
Sedangkan dalam pemilihan sampel nonprobabilistik (nonprobabilistik sample
selection), auditor memilih item sampel dengan menggunakan pertimbangan yang
profesional dan bukan metode probabilistik. Auditor dapat menggunakan salah  satu
dari beberapa metode pemilihan sampel nonprobabilistik.

C. METODE PEMILIHAN SAMPLE PROBABILISTRIK DAN


NONPROBABILISTRIK
Metode pemeliharaan sample probabilistrik
1. Pemilihan sampel acak sederhana
Dalam sampel acak (random sample) sederhana,setiap kombinasi dari item
populasi yang mungkin memiliki kesempatan yang sama untuk dimasukkan dalam
[Link] menggunakan sempel apabila tidak ada kebutuhan untuk
menekankkan satu atau lebih item populasi.
Jika auditor memperoleh sample acak sederhana,mereka harus menggunakan
metode yang akan memastikan bahwa semua item dalam populasi memiliki
kesempatan yang sama untuk dipilih.
2. Pemilihan sampel sistematis (sistematic sample selection) auditor menghitung
suatu interval dan kemudian memilih item item yang akan dijadikan sampel
berdasarkan ukuran interval tersebut. Interval ditentukan dengan membagi ukuran
populasi dengan ukuran sampel yang diinginkan. Keunggulan dari pemilihan
sistematis adalah lebih mudah digunakan. Dalam sebagian besar populasi, sampel
sistematis dapat diambil dengan cepat dan pendekatannya secara otomatis akan
menempatkan nomor lain dalam urutan, yang membuatnya lebih mudah dalam
mengembangkan dokumentasi yang sesuai.
3. Pemilihan sampel probabilitas yang proposional dengan ukuran dan bertahap
Ada 2 cara untuk memperoleh sampel yang menekankan item- item populasi
dengan jumlah yang tercatatat yang lebih besar :
 Mengambil sampel dimana probabilitas pemilihan setiap item populasi
individual bersifat proporsional dengan jumlah tercatatnya.
 Membagi populasi ke dalam subpopulasi.

Metode pemilihan sampel nonprobabilistrik


1. Pemilihan sampel sembarangan
Pemilihan sampel sembarang (haphazard sample selection) adalah pemilihan
sampel item atau pos tanpa bias yang disengaja oleh [Link]
pemilihan sampel sembarangan yang paling serius adalah sulitnya menjaga agar
tetap tidak bias dalam melakukan pemilihan. Karena pelatihan auditor dan bias
yang tidak disengaja, item populasi tertentu akan lebih besar
kemungkinannya untuk dimasukkan dalam sempel ketimbang yang lainnya.
2. Pemilihan sampel blok
Dalam pemilihan sampel blok (block sample selection), auditor memilih pos
pertama dalam satu blok, dan sisanya dipilih secara berurutan. Biasanya
penggunaan sampel blok hanya dapat diterima jika jumlah blok yang digunakan
masuk akal. Jika hanya segelintir blok yang digunakan probabilitas memperoleh
sampel nonpresentatif  sangatlah besar, dengan menggunakan kemungkinan
perputaran karyawan, perubahan sistem akuntansi dan sifat musimandari
sejumlah jenis.

D. SAMPLING UNTUK TINGKAT PENGECUALIAN


Auditor menggunakan sampling pada pengujian pengendalian dan pengujian
substantif atas transaksi untuk mengestimasi persentase item- item populasi yang
memiliki karakteristik atau atribut kepentingan.
jenis pengecualian dalam populasi data akuntansi yang harus diperhatikan :
1) Penyimpangan atau deviasi dari pengendalian yang ditetapkan klien.
2) Salah saji moneter dalam populasi data transaksi.
3) Salah saji moneter dalam populasi rincian saldo akun.
Tingkat pengecualian dalam suatu sampel akan digunakan untuk mengestimsi
tingkat pengecualian dalam populasi yang merupakan “estimasi terbaik” auditor atas
tingkat pengecualian populasi. Istilah pengecualian (exception) harus dipahami
sebagai mengacu pada deviasi dari prosedur pengendalian klien maupun jumlah yang
salah secara moneter, apakah hal itudisebabkan oleh kesalahan akuntansi yang tidak
disengaja atau penyebab lainnya. Istilah deviasi (deviation)terutama mengacu pada
penyimpangan dari pengendalian yang telah digariskan.
Karena tingkat pengecualian didasarkan pada sampel, kemungkinan besar tingkat
pengecualian akan berbeda dari tingkat pengecualian populasi aktual. Perbedaan ini
disebut sebagai kesalahan sampling (sampling error).
Dalam menggunakan sampling audit untuk menentukan tingkat pengecualian,
auditor ingin mengetahui seberapa besar tingkat pengecualian itu, dan bukan lebar
interval keyakinannya. Karena itu auditor berfokus pada batas estimasi interval, yang
disebut tingkat pengecualian atas yang dihitung (computed upper exception rate =
CUER) atau yang diestimasi dalam melakukan pengujian pengendalian dan pengujian
supstantif atas transaksi.

E. APLIKASI SAMPLING AUDIT NONSTATISTIK


Auditor menggunakan 14 langkah yang dirancang dengan baik untuk menerapkan
sampling audit pada pengujian pengendalian dan pengujian substantif atas
transaksi. Auditor harus mengikuti langkah langkat tersebut dengan cermat untuk
memastikan diterapkannya persyaratan audit maupun sampling dengan benar.
Merencanakan sampel
1) Menyatakan tujuan pengujian audit.

2) Memutuskan apakah sampling audit dapat diterapkan.

3) Mendifinisikan atribut dan kondisi pengecualian.

4) Mendefinisikan populasi.

5) Mendefinisikan unit sampling.

6) Menetapkan tingkat pengecualian yang dapat ditoleransi.

7) Menetapkan risiko yang dapat diterima atas penentuan risiko penilaian


yang terlalu rendah.

8) Mengestimasi tingkat pengecualian populasi.

9) Menentukan ukuran sampel awal

Memilih sampel dan melaksanakan prosedur audit

10) Memilih sampel


11) Melaksanakan prosedur audit

Mengvaluasi hasil

12) Menggenaralisasi dari sampel kepopulasi

13) Menganalisis pengecualian

14) Memutuskan akseptabilitas populasi

F. SAMPLING AUDIT STATISTIK


Metode sampling statistik yang paling sering digunakan untuk pengujian
pengendalian dan pengujian substantif atas transaksi adalah sampling atribut (atribute
sampling). Sampling nonstatistik juga memiliki atribut, yang merupakan karakteristik
yang sedang diuji dalam populasi, tetapi sampling atribut merupakan metode statistik.
Sampling atribut merupakan metode sampling statistik yang paling sering digunakan
untuk menguji pengendalian dan pengujian substantif atas transaksi, dalam pengujian
dan pengendalian hampir sama dengan sampling nonstatistik, hanya saja perhitungan
ukuran sampel awal menggunakan tabel dikembangkan dari ditribusi probabilitas
statistik.

G. DISTRIBUSI SAMPLING
Distribusi sampling merupakan ditribusi frekuensi dari semua sampel berukuran
khusus yang diperoleh dari beberapa populasi yang memiliki karakteristik tertentu.
Dimana sampling atribusi didasarkan pada distribusi binomial yang mana setiap
sampel dalam populasi memiliki satu dari dua nilai mungkin, seperti ya/tidak.
BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN
Tujuan audit memilih sampel suatu populasi, adalah untuk mendapatkan
sampel yang representatif. Sampel representatif adalah sampel yang memiliki
karakteristik yang sama dengan populasi. Artinya item populasi yang dimasukan
dalam sampel sama dengan item yang tidak dimasukkan dalam sampel. Dalam
praktik, auditor tidak dapat mengetahui apakah suatu sampel representatif atau tidak,
bahkan setelah semua pengujian telah selesai. Namun auditor dapat
meningkatkan kemungkinan suatu sampel menjadi representatif dengan
melakukan langkah-langkah sampling audit dengan benar. Adapun langkah-
langkah dari sampling audit yaitu
(1) merencanakan sampel,
(2) memilih sampel,
(3) melaksanakan pengujian, dan
(4) mengevaluasi hasil.
Dua hal yang dapat menjadikan hasil sampel menjadi tidak representatif
yaitu kekeliruan nonsampling dan kekeliruan sampling.
DAFTAR PUSTAKA

Alvin A. Arens, Randal J. Elder, dan Mark S. Beasley. 2008. Auditing dan Jasa Assurance.
Jakarta: Erlangga.

Anda mungkin juga menyukai