0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
48 tayangan7 halaman

Agama sebagai Jalan Menuju Kebahagiaan

Dokumen tersebut membahas tentang konsep kebahagiaan dalam agama Islam dan bagaimana agama dapat membahagiakan manusia. Agama Islam menawarkan konsep kebahagiaan sejati di akhirat dan mengajarkan beberapa cara untuk mencapai kebahagiaan di dunia seperti beriman, beramal saleh, dan bersyukur atas nikmat Allah. Agama juga penting karena menanamkan moralitas dan memberi kekuatan untuk menghadapi penderita
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
48 tayangan7 halaman

Agama sebagai Jalan Menuju Kebahagiaan

Dokumen tersebut membahas tentang konsep kebahagiaan dalam agama Islam dan bagaimana agama dapat membahagiakan manusia. Agama Islam menawarkan konsep kebahagiaan sejati di akhirat dan mengajarkan beberapa cara untuk mencapai kebahagiaan di dunia seperti beriman, beramal saleh, dan bersyukur atas nikmat Allah. Agama juga penting karena menanamkan moralitas dan memberi kekuatan untuk menghadapi penderita
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Nama : Nadia Raihana

NIM : 64211330
Kelas : 64.2A.11
MatKul : Pendidikan Agama Islam

Resume Perkuliahan Pertemuan 3


Agama Dan Kebahagiaan Manusia

A. Konsep dan Karakteristik Agama Sebagai Jalan Menuju Tuhan dan Kebahagiaan

Manusia dimanapun ia berada dan kapanpun ia hidup, senantiasa mencari


kebahagiaan. Tidak ada satupun manusia yang dalam hidupnya mencari
kesengsaraan dan juga keterperukan, karena hal tersebut adalah hal yang sangat
menyakitkan atau membuat kedukaan manusia.

Tentu saja, dalam hal mencari kebahagiaan, islam memiliki konsep tersendiri.
Islam menawarkan konsep kebahagiaan sejati, yang tidak mungkin bisa didapatkan
di dunia saja. Di dunia ini bagi islam, dan memang kenyataannya sangatlah semu.
Sangat mudah orang mendapatkan kedukaan, kesakitan, kebangkrutan,
kehilangan, dan lain sebagainya. Untuk itu, berikut adalah konsep bahagia dalam
islam, menurut dalil Al-Quran.

Kebahagiaan Sejati Menurut Islam adalah di Akhirat. Pernyataan tentang


kebahagiaan yang sesungguhnya nanti di akhirat kelak sebagaimana firman Allah
SWT dalam surat Al-Qashash ayat 77.

‫س ن َِص ْيبَ َك ِمنَ ال ُّد ْنيَا‬ ٰ ْ ‫َّار‬


َ ‫اْل ِخ َرة َ َو َْل ت َ ْن‬ َ ‫ىك اللّٰهُ الد‬ َ ‫َوا ْبت َ ِغ فِ ْي َما ٓ ٰا ٰت‬
‫ض ۗاِ َّن‬ ِ ‫سا َد فِى ْاْلَ ْر‬ َ َ‫سنَ اللّٰهُ اِلَي َْك َو َْل تَب ِْغ ْالف‬ َ ‫َواَ ْح ِس ْن َك َما ٓ ا َ ْح‬
َ‫ب ْال ُم ْف ِس ِديْن‬ُّ ‫اللّٰهَ َْل يُ ِح‬
Artinya: Dan carilah pada apa yang Telah dianugerahkan Allah kepadamu
(kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari
(kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah
Telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka)
bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.
(QS: Al-Qashash: 77).
Dalam konsep islam, kebahagiaan dunia adalah semu dan fana. Sewaktu-waktu
manusia bisa mendapatkan kebahagiaan, sewaktu-waktu manusia juga bisa
mendapatkan kedukaan. Antara susah, senang, dan rasa biasa saja (netral) silih
berganti. Untuk itu, ketika manusia mencari kebahagiaan sejati di dunia hal itu
mustahil ditemukan.

Banyak jalan diciptakan manusia untuk meraih kebahagiaan. Sebagian mereka


beranggapan bahwa kebahagiaan bisa diraih dengan banyaknya harta, kedudukan
yang terpandang, dan popularitas. Tak heran bila manusia berlomba-lomba
mendapatkan itu semua, termasuk dengan menggunakan segala cara.

Sepertinya semua orang hampir sepakat bahwa bahagia tidak sepenuhnya


diperoleh dengan harta dan kekayaan karena berapa banyak orang yang hidup
bergelimang harta namun mereka tidak bahagia. Terkadang malah mereka belajar
tentang kebahagiaan dari orang yang tidak berpunya.

Sebenarnya kebahagiaan hidup yang hakiki dan ketenangan hanya didapatkan


dalam agama Islam yang mulia ini. Oleh karena itu, yang dapat hidup bahagia dalam
arti yang sebenarnya hanyalah orang-orang yang berpegang teguh dengan agama
ini. Ada beberapa cara yang diajarkan agama ini untuk dapat mencapai hidup
bahagia, di antaranya disebutkan oleh asy- Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-
Sa’di rahimahullah dalam kitabnya alWasailul Mufidah lil Hayatis Sa‘idah :
1. Beriman dan beramal saleh
2. Banyak mengingat Allah subhanahu wa ta’ala (berzikir)
3. Bersandar kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan tawakal kepada-Nya, yakin
dan percaya kepada-Nya, serta bersemangat untuk meraih keutamaan-Nya.
4. Berbuat baik kepada makhluk dalam bentuk ucapan maupun perbuatan dengan
ikhlas kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan mengharapkan pahala-Nya
5. Menyibukkan diri dengan mempelajari ilmu yang bermanfaat
6. Mencurahkan perhatian dengan apa yang sedang dihadapi disertai permintaan
tolong kepada Allah subhanahu wa ta’ala, tanpa banyak berangan-angan
(terhadap perkara dunia) untuk masa yang akan datang karena akan berbuah
kegelisahan disebabkan takut/khawatir menghadapi masa depan (di dunia) dan
juga tanpa terus meratapi kegagalan dan kepahitan masa lalu karena apa yang
telah berlalu tidak mungkin dapat dikembalikan dan diraih
7. Senantiasa mengingat dan menyebut nikmat yang telah diberikan Allah
subhanahu wa ta’ala, baik nikmat lahir maupun batin.
8. Selalu melihat orang yang di bawah dari sisi kehidupan dunia misalnya dalam
masalah rezeki karena dengan begitu kita tidak akan meremehkan nikmat Allah
Swt yang diberikan-Nya kepada kita
9. Ketika melakukan sesuatu untuk manusia, jangan mengharapkan ucapan
terima kasih ataupun balasan dari mereka namun berharaplah hanya kepada
Allah subhanahu wa ta’ala. Engkau tidak peduli mereka mau berterima kasih
atau tidak dengan apa yang telah engkau lakukan.

B. Alasan Manusia harus beragama dan bagaimana agama dapat membahagiakan


umat manusia

1. Agama dan Manusia


Umat manusia secara umum meyakini adanya Tuhan yang menciptakan
alam dan wajib untuk dipuja dan disembah. Keyakinan yang demikian itu
merupakan asas dan pokok dari sebuah agama. Manusia merupakan
makhluk ciptaan Allah yang bukan tercipta secara kebetulan. Manusia
digambarkan dengan menggunakan berbagai pensifatan; mulai dari
makhluk terbaik dan mulia, berakal dan kreatif, hingga makhluk lemah
tetapi sombong, serta ceroboh sekaligus juga bodoh.

Islam berpandangan bahwa hakikat manusia adalah perkaitan antara badan


dan ruh. Badan dan ruh merupakan substansi yang berdiri sendiri, yang
tidak tergantung adanya oleh yang lain. Islam secara tegas mengatakan
bahwa kedua substansi adalah substansi alam. Sedang alam adalah
makhluk. Maka keduanya juga makhluk yang diciptakan oleh Allah Swt,
sebagaimana firman-Nya dalam Qs. Al-mu’minun ayat 12-14:

QS. al-Mu’minun ini menerangkan tentang proses penciptaan manusia yang


sangat unik. Proses penciptaan manusia diuraikan mulai unsur pertamanya,
proses perkembangan dan pertumbuhannya di dalam rahim, sehingga
menjadi makhluk yang sempurna dan siap lahir menjadi seorang anak
manusia. .( ُ Selanjutnya, pada ayat 13, dengan kekuasaan-Nya saripati yang
berasal dari tanah itu dijadikan-Nya menjadi nuthfah (air mani). Dalam
istilah biologi, air mani seorang laki-laki disebut sel sperma dan air mani
wanita disebut sel telur (ovum). Ketika keduanya bertemu dalam proses
konsepsi atau pembuahan, maka kemudian tersimpan dalam tempat yang
kokoh yaitu rahim seorang wanita.

Selanjutnya, pada ayat 14 dijelaskan ketika berada di dalam rahim seorang


wanita tersebut, selama kurun waktu tertentu (40 hari) nuthfah tersebut
berkembang menjadi ’alaqah (segumpal darah), kemudian dalam kurun
waktu tertentu pula (40 hari) ’alaqah berubah menjadi mudghah (segumpal
daging), lalu selama kurun waktu tertentu (40 hari) berubah menjadi
tulangbelulang yang terbungkus daging, dan akhirnya tumbuh dan
berkembang menjadi anak manusia, sebagaimana disebutkan dalam ayat
tersebut”kemudian Kami menjadikan dia makhluk yang berbentuk lain”

Dalam teori biologi, dijelaskan bahwa manusia berasal dari pertemuan


antara sperma seorang laki-laki dengan sel telur (ovum) seorang wanita
yang berlangsung di dalam saluran oviduc pada saat ovulasi pada tubuh
seorang wanita yang kemudian disebut dengan pembuahan.

Kemudian akan dihasilkan zygot yang bergerak ke dalam rahim lalu


menempel pada dinding rahim. Di dalam rahim, zygot akan berkembang
menjadi embrio kemudian menjadi janin. Dalam perkembangan berikutnya,
janin siap lahir setelah melalui masa tertentu. Selama di dalam rahim
sampai lahir, asupan makanan diperoleh melalui saluran yang menempel
pada dinding rahim yang disebut plasenta. Gambaran yang demikian telah
dijelaskan dalam ayat-ayat tersebut.

Yang menjadi sangat menakjubkan adalah bahwa ketika al-Qur’an


diturunkan, pemahaman manusia terhadap proses kejadian manusia masih
belum sampai pada penggambaran yang sangat detail seperti yang
digambarkan ayat-ayat tersebut. Namun, al-Qur’an menggambarkannya
dengan sedemikian detail dan gamblang.

Bentuk dan pola peran seseorang, secara garis besar, dapat dilihat dari
kedudukan yang ditempatinya. Untuk mengetahui hal itu, perlu dirujuk
kepada penamaan yang disandangnya. Demikian pula akan halnya manusia.
Peran ini dapat dirujuk antara lain dari berbagai sebutan yang diberikan
kepada manusia. Selaku makhluk ciptaan, manusia dianugerahi pencipta-
Nya dengan sejumlah nama atau sebutan. Secara lebih terperinci,
pentingnya peran agama dalam kehidupan manusia dapat dipahami dalam
poin-poin berikut:
1. Agama menghidupkan nilai luhur [Link] agama
kepada manusia mempunyai agenda menghidupkan moralitas dalam
rangka mengatur kehidupan manusia. Agama amat mendukung nilai
luhur yang menyeru kepada prinsip kebaikan, seperti keadilan,
kejujuran, toleransi, dan tolong-menolong.
Agama mensyarakatkan moralitas sebagai bagian iman secara
keseluruhan. Tak ayal, moralitas yang ditekankan agama bersifat
mengikat kepada setiap [Link] Qosim Al-Khu’i menegaskan,
tanpa bantuan agama, dapat dipastikan bahwa nilai-nilai kebajikan atau
moralitas tersebut niscaya akan kehilangan maknanya dan akan
menjelma menjadi serangkaian nasihat belaka yang bersifat tidak
mengikat.
2. Agama memberi kekuatan dalam menanggung penderitaan hidup.
Agama menghidupkan kekuatan dalam diri manusia untuk mampu
menghadapi pelbagai penderitaan hidup dan berperan sebagai benteng
kokoh yang melindunginya dari serangan keputusasaan dan hilangnya
harapan. selain peran iman sebagai kekuatan pendorong/motivasi, tetapi
juga merupakan faktor yang memungkinkan manusia sanggup
menghadapi dan menanggung cobaan hidup dengan penuh ketegaran
dan menyelamatkannya dari kepahitan akibat kegagalan dan
kekecewaan yang alami.
3. Agama menjadi pegangan dan pedoman hidup. Al-Qur’an merupakan
pedoman hidup yang tidak pernah berubah setiap zaman. Pada faktanya,
manusia tidak dapat hidup tanpa adanya pegangan atau pedoman yang
menjadi acuan dalam hidup. Karenya, ia akan cenderung berusaha
mengisi hidupnya dengan cara dan jenis pedoman hidup apapun, meski
pedoman tersebut beserta nilai-nilai yang dikandungnya itu keliru dan
menyesatkan.
4. Agama mendorong kemajuan ilmu pengetahuan. Selain memberikan
pedoman hidup yang bersifat spiritual, agama juga mendorong kemajuan
ilmu pengetahuan. Proses terbentuknya kehidupan manusia sepanjang
sejarah hingga saat ini, tidak dapat dilepaskan dari peran agama. Dengan
keimanan, agama telah mampu mengarahkan kehidupan manusia
kepada kehidupan yang baik, berkemajuan dan keharmonisan.

C. Tauhidullah sebagai Satu-satunya Model beragama yang benar.

Tauhid merupakan kewajiban utama dan pertama yang diperintahkan Alloh


kepada setiap hamba-Nya. tauhid inilah yang merupakan dasar agama kita yang
mulia ini. Oleh karena itu sangatlah urgen bagi kita kaum muslimin untuk
mengerti hakekat dan kedudukan tauhid. Hakekat tauhid adalah mengesakan
Allah. Bentuk pengesaan ini terbagi menjadi tiga, berikut penjelasannya:
a. Mengesakan Allah dalam Rububiyah-Nya
Maksudnya adalah kita meyakini keesaan Alloh dalam perbuatanperbuatan
yang hanya dapat dilakukan oleh Allah, seperti mencipta dan mengatur
seluruh alam semesta beserta isinya, memberi rezeki, memberikan
manfaat, menolak mudharat dan lainnya yang merupakan kekhususan bagi
Allah. Hal yang seperti ini diakui oleh seluruh manusia, tidak ada seorang
pun yang mengingkarinya. Namun pengakuan seseorang terhadap Tauhid
Rububiyah ini tidaklah menjadikan seseorang beragama Islam karena
sesungguhnya orangorang musyrikin Quraisy yang diperangi Rosululloh
mengakui dan meyakini jenis tauhid ini.

b. Mengesakan Allah Dalam Uluhiyah-Nya


Maksudnya adalah kita mengesakan Allah dalam segala macam ibadah yang
kita lakukan. Seperti shalat, doa, nadzar, menyembelih, tawakkal, taubat,
harap, cinta, takut dan berbagai macam ibadah lainnya. Dimana kita harus
memaksudkan tujuan dari kesemua ibadah itu hanya kepada Allah semata.
Tauhid inilah yang merupakan inti dakwah para rosul dan merupakan tauhid
yang diingkari oleh kaum musyrikin Quraisy.
c. Mengesakan Allah Dalam Nama dan Sifat-Nya
Tauhid memiliki kedudukan yang sangat tinggi di dalam agama ini. Pada
kesempatan kali ini kami akan membawakan tentang kedudukan Tauhid
Uluhiyah(ibadah), karena hal inilah yang banyak sekali dilanggar oleh
mereka-mereka yang mengaku diri mereka sebagai seorang muslim namun
pada kenyataannya mereka menujukan sebagian bentuk ibadah mereka
kepada selain Alloh, baik itu kepada wali, orang shaleh, nabi, malaikat, jin
dan sebagainya. Mengesakan Allah Dalam Nama dan Sifat-Nya. Maksudnya
adalah kita beriman kepada nama-nama dan sifat-sifat Alloh yang
diterangkan dalam Al-Qur’an dan Sunnah Rosululloh. Dan kita juga meyakini
bahwa hanya Alloh-lah yang pantas untuk memiliki namanama terindah
yang disebutkan di Al-Qur’an dan Hadits tersebut (yang dikenal dengan
Asmaul Husna).

Common questions

Didukung oleh AI

Religion provides strength to endure life’s hardships by serving as a source of hope and resilience. It motivates individuals to persevere through difficult times by offering assurance of divine support and the prospect of spiritual rewards. Faith acts as an impetus, enabling believers to confront adversities with fortitude, while safeguarding them against despair and hopelessness. Thus, religion functions as a protective fortress against the challenging vicissitudes of life by instilling a sense of purpose and confidence in divine justice and assistance .

Religion, particularly Islam, promotes the pursuit of knowledge and scientific advancement by aligning spiritual and intellectual growth. The Quran encourages learning as a form of worship and seeks to inspire believers to explore the world and comprehend the divine workings within it. Such religious encouragement has historically driven scientific endeavors, as faith in divine order and purpose propels inquiries into the natural world. Consequently, religion creates a framework wherein scientific exploration is not opposed to faith but complementary, fostering progress and harmony .

In Islam, true happiness is perceived as being attainable in the afterlife rather than in this world. According to Islamic teachings, the happiness associated with this world is considered temporary and illusory, as it is often marred by the potential for sorrow, pain, and loss. Real contentment and peace can only be achieved by adhering to Islamic values and practices. This notion is supported by the Quranic verse in Al-Qashash, which advises believers to seek happiness in the afterlife while also enjoying worldly pleasures without causing harm. Thus, while worldly possessions and status might temporarily bring joy, true and lasting happiness is found through spiritual and religious fulfillment in the afterlife .

Religion plays a crucial role in instilling moral values by reinforcing noble characteristics such as justice, honesty, tolerance, and cooperation. Islam emphasizes that moral virtues become integral to one's faith, thereby binding followers morally and ethically. Without religion, these virtues risk being reduced to mere advice lacking in firm commitment. Abul Qosim Al-Khu’i argues that religion is vital in preserving the meaningfulness of moral values, preventing them from becoming unbinding suggestions .

The Quran describes human creation through a detailed process starting from the mingling of sperm and ovum, leading to fertilization, forming a zygote that settles in the womb. It then develops into a 'alaqah (a leech-like structure), followed by a 'mudghah' (chewed-like lump), before becoming bones clothed with flesh. Modern science parallels these stages, describing human development from conception, embryo-to-fetus transition, and eventual birth. This alignment between the Quranic descriptions and biological sciences underscores the intricacy and accuracy of the Quranic narrative from a period when such scientific understanding was absent .

Islam suggests several ways to achieve true happiness, which include having faith and performing good deeds, constantly remembering Allah through zikr, relying on Allah and having trust in Him, doing good to others sincerely for Allah’s sake, engaging in beneficial knowledge, focusing on current tasks while asking for Allah's help without excessive worry about the future or dwelling on past failures, remembering Allah's blessings, and doing for others without expecting their gratitude, instead seeking reward from Allah .

The primary arguments for the necessity of religion in human life include its role in upholding moral values, providing strength and hope during hardships, offering a comprehensive guide for living, and promoting scientific and intellectual progress. Religion is presented as essential for instilling and maintaining moral virtues, equipping individuals with the resilience needed to face life's challenges, and providing a stable foundation for understanding and interpreting life's complexities. Additionally, the encouragement of knowledge and acceptance of scientific progress are rooted in the religious tradition, making it indispensable for overall human development .

The concept of Tauhid in Islam addresses misconceptions about divinity and worship by strictly asserting the oneness and uniqueness of Allah in three aspects: Rububiyah, Uluhiyah, and Asma wa Sifat. Through Tauhid Rububiyah, Islam clarifies that only Allah has the power of creation and sustenance, dismissing myths about other beings having divine attributes. With Tauhid Uluhiyah, it negates any form of idolatry or the worship of other entities, emphasizing that all acts of worship are due solely to Allah. Tauhid Asma wa Sifat purifies the understanding of divine attributes, maintaining that the names and traits of Allah in the Quran are absolute and not comparable to human qualities. This comprehensive view corrects any polytheistic or anthropomorphic misconceptions about God and worship .

Islam is considered the only true model of religion because of the emphasis on Tauhidullah, or the belief in the oneness of God. This is divided into three parts: (1) Tauhid Rububiyah pertains to recognizing Allah’s sole divinity in His actions such as creation and governance of the universe, (2) Tauhid Uluhiyah involves dedicating all acts of worship to Allah alone, and (3) Tauhid Asma wa Sifat involves belief in the unique characteristics and names of Allah as stated in the Quran and Hadith. Tauhidullah underpins Islamic faith, and acknowledging any deficiency or misattribution in these dimensions compromises one’s adherence to true Islam .

Islam advocates for a balanced approach to worldly life and spiritual pursuits as outlined in Al-Quran. The guidance is not to forsake worldly pleasures but to seek them in alignment with spiritual obligations. This is evidenced by the Quranic exhortation to strive for the afterlife while enjoying permissible worldly benefits without creating harm or corruption. The integration of worldly experiences with a focus on spiritual growth is vital for holistic well-being, promoting both individual contentment and social harmony .

Anda mungkin juga menyukai