0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
59 tayangan163 halaman

Komunikasi Organisasi FKAR Bandar Lampung

Skripsi ini membahas tentang komunikasi organisasi dalam kepemimpinan Forum Kerjasama Alumni Rohis (FKAR) untuk membina Rohis se-Kota Bandar Lampung. FKAR adalah organisasi yang telah bergerak di bidang dakwah selama 15 tahun dan telah membina banyak ekskul rohis di sekolah-sekolah. Untuk mencapai tujuan organisasi, diperlukan koordinasi yang efektif antara pemimpin dan anggota organisasi."

Diunggah oleh

Daud Pisz
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
59 tayangan163 halaman

Komunikasi Organisasi FKAR Bandar Lampung

Skripsi ini membahas tentang komunikasi organisasi dalam kepemimpinan Forum Kerjasama Alumni Rohis (FKAR) untuk membina Rohis se-Kota Bandar Lampung. FKAR adalah organisasi yang telah bergerak di bidang dakwah selama 15 tahun dan telah membina banyak ekskul rohis di sekolah-sekolah. Untuk mencapai tujuan organisasi, diperlukan koordinasi yang efektif antara pemimpin dan anggota organisasi."

Diunggah oleh

Daud Pisz
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

KOMUNIKASI ORGANISASI DALAM KEPEMIMPINAN

FORUM KERJASAMA ALUMNI ROHIS ( FKAR) UNTUK


MEMBINA ROHIS SE-KOTA BANDAR LAMPUNG

Skripsi
Diajukan Untuk Melengkapi Tugas-tugas dan Memenuhi Syarat-syarat Guna
Memperoleh Gelar Sarjana Komunikasi Islam ([Link])
Dalam Ilmu Komunikasi

Oleh :
NYI AYU LARAS PUTRI LESTARI
NPM: 1341010032

Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam

FAKULTAS DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI


INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI RADEN INTAN
LAMPUNG
1438 H / 2017 M
KOMUNIKASI ORGANISASI DALAM KEPEMIMPINAN
FORUM KERJASAMA ALUMNI ROHIS ( FKAR) UNTUK
MEMBINA ROHIS SE-KOTA BANDAR LAMPUNG

SKRIPSI
Diajukan Untuk Melengkapi Tugas-tugas dan Memenuhi Syarat-syarat Guna
Memperoleh Gelar Sarjana Komunikasi Islam ([Link])
Dalam Ilmu Komunikasi

Oleh :
NYI AYU LARAS PUTRI LESTARI
NPM: 1341010032

Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam

Pembimbing I : [Link], [Link]


Pembimbing II : Bambang Budiwiranto, [Link], MA(AS)Ph.D

FAKULTAS DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI


INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI RADEN INTAN
LAMPUNG
1438 H / 2017 M
ABSTRAK
KOMUNIKASI ORGANISASI DALAM KEPEMIMPINAN FORUM
KERJASAMA ALUMNI ROHIS (FKAR)
UNTUK MEMBINA ROHIS SE-KOTA BANDAR LAMPUNG

Oleh
Nyi Ayu Laras Putri Lestari

Pemimpin merupakan unsur terpenting dalam suatu organisasi, karena maju


mundurnya organisasi ada di tangan pemimpin. Komunikasi yang baik sangat penting
bagi efektivitas kelompok atau organisasi apapun, karena riset yang ada
mengindikasikan bahwa komunikasi yang buruk paling sering disebut-sebut sebagai
sumber konflik antar personal. Tanpa komunikasi, fungsi organisasi tidak akan
berjalan sebagaimana mestinya, sehingga apa yang menjadi tujuan dari organisasi
tidak dapat tercapai secara maksimal sesuai dengan yang diinginkan. Forum
Kerjasama Alumni Rohis yang biasa di kenal dengan FKAR merupakan organisasi
yang sudah 15 tahun bergerak di bidang dakwah sekolah sudah banyak sekolah
terkuhus ekskul rohis yang dibina oleh FKAR. Dibalik organisasi yang terus tumbuh
maju dengan segala prestasi yang membanggakan pasti ada koordinasi yang efektif
antara pemimpin dan bawahan sehingga tujuan organisasi dapat tercapai.

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses dan keberhasilan


komunikasi yang dilakukan Forum Kerjasama Alumni Rohis (FKAR) dalam
membina Rohis se-Kota Bandar Lampung, tipe kepemimpinan yang ada dalam
organisasi tersebut serta hasil dari proses pembinaan melalui kegiatan-kegiatan
keislaman yang terdapat di FKAR. Di dalam organisasi FKAR tepatnya pada
Departemen pembinaan pelajar (DPP) dan Departemen pengembangan dan
reqruitment (DPR) memiliki beberapa unit kerja yang butuh koordinasi maksimal
untuk mencapai tujuan organisasi.

Penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif, dengan mengambil latar di


Forum Kerjasama Alumni Rohis (FKAR) dan Rohis di Kota Bandar Lampung.
Metode pengumpulan data yang penulis gunakan dalam penelitian ini adalah metode
observasi sebagai metode pokok, dengan ditunjang metode interview dan metode
dokumentasi serta menggunakan metode deskriptif analisis. Metode deskriptif
analisis digunakan untuk menghimpun data aktual. Kegiatan yang dilakukan dengan
pengumpulan data dengan menggambarkan keadaan yang sebenarnya terjadi.

ii
MOTTO

        

            

   


“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang
baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu
Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan
Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”
(Q.S An-Nahl :125)

v
RIWAYAT HIDUP

Penulis bernama Nyi Ayu laras Putri Lestari dilahirkan di Bandar Lampung

Pada tanggal 27 Juli 1995. Anak ke dua dari tiga bersaudara dari pasangan Papa

Cek’man. SH dan Mama Nurdiana, SH

Riwayat pendidikan yang penulis tempuh yaitu Sekolah Dasar Negeri/ SDN 2

Teladan Rawa Laut tahun 2003- 2008, kemudian dilanjutkan di SMP 23 Bandar

Lampung tahun 2008- 2010, penulis meneruskan pendidikan Madrasah Aliyah

Negeri/ MAN 2 Bandar Lampung tahun 2010- 2013.

Selanjutnya atas izin Allah Pada tahun 2013 melanjutkan studi di Universitas

Islam Negeri (UIN) Raden Intan Lampung, Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi

dengan konsentrasi Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI).

Selain sebagai mahasiswa penulis juga menggali dan mengembangkan

potensinya di lembaga organisasi baik intra maupun ekstra kampus. Adapun

organisasi yang penah penulis ikuti adalah sebagai berikut:

1. Unit kegiatan Mahasiswa Fakultas Rohani Belia Bina Islam (UKM- F

RABBANI) Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi tahun 2013 sebagai

kader, tahun 2014- 2015 sebagai staff bidang Dana Usha Oranisasi

(DUO), tahun 2015- 2016 sebagai ketua bidang Dana Usha Oranisasi

(DUO), tahun 2016- sekarang sebagai MPMF- Fakultas Dakwah dan Ilmu

Komunikasi.

iii
2. Unit kegiatan Mahasiswa Bidang Pembinaan Dakwah (UKM BAPINDA)

tahun 2013- sekarang sebagai kader.

3. Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Komusariat IAIN

Raden Intan Lampung, tahun 2013- sekarang sebagai kader.

iv
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarokatuh

Puji Syukur Kehadirat Allah SWT, atas segala rahmat dan hidayah-Nya

karena, sehingga skripsi ini dengan Judul “Komunikasi Organisasi Dalam

Kepemimpinan Forum Kerjasama Alumni Rohis (FKAR) Untuk Membina Rohis

Se- Kota Bandar Lampung” dapat diselesaikan. Sholawat dan salam selalu

tercurahkan kepada tauladan terbaik sekaligus manusia paling berpengaruh di dunia

Nabi Muhammad SAW. Semoga shalawat dan salam juga tersampaikan kepada

keluarga, sahabat dan para pengikutnya yang senantiasa menjalankan dan menjaga

sunah- sunahnnya yang beliau contohkan dalam hidupnya.

Pada kesempatan ini, penulis menyampaikan rasa hormat dan banyak

terimakasih sebesar- besarnya kepada semua pihak yang telah membantu dan

membimbing dalam proses penulisan skripsi ini, antara lain:

1. Bapak Prof. Dr. H Khomsahrial [Link] selaku Dekan Fakultas Dakwah dan

Ilmu Komunikasi Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Raden Intan

Lampung;

2. Bapak Bambang Budi Wiranto,[Link],MA(AS)Ph.D, selaku Ketua Jurusan

Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI), yang telah memberikan

masukan-masukan tentang kejurusan sehingga memudahkan penulis

dalam menyelesaikan study di Strata satu;

ix
3. Bapak Prof Dr. H. M. Nasor,[Link] selaku pembimbing I dan Bapak

Bambang Budi Wiranto, [Link],MA(AS)Ph.D selaku pembimbing II yang

telah meluangkan waktu dan memotivasi penulis untuk melanjutkan study

yang lebih tinggi serta memimbing penulis dalam menyelesaikan skripsi

ini; serta Bapak Dr. Mawardi,MA yang telah menguji skripsi penulis

semoga Allah merahmati;

4. Muarif, [Link] selaku ketua Forum Kerjasama Alumni Rohis yang telah

membantu penulis dalam melakukan penelitian di organisasi FKAR.

5. Bapak Prof Dr. H Afif Ansori selaku kepala perpustakaan Institut Agama

Islam Negeri (IAIN) Raden Intan Lampung;

6. Seluruh Dosen Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi, khususnya Bapak

dan Ibu Dosen Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) yang telah

membekali dengan berbagai ilmu yang bermanfaat kepada penulis selama

menempuh pendidikan di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Raden

Intan Lampung;

7. Seluruh karyawan di lingkungan Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi

IAIN Raden Intan Lampung, terutama di Bidang Akademik dan

Kemahasiswaan;

8. Teman- teman di Jurusan Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI)

angkatan 2013. Terimakasih untuk seluruh perhatian yang kalian berikan.

You are the best classmates that i ever had;

x
9. Kader- Kader Terbaik UKM-F Rabbani Fakultas Dakwah dan Ilmu

Komunikasi IAIN Raden Intan Lampung yang senantiasa mendo’akan

penulis;

10. Kader demisioner bidang Dana Usaha Organisasi tahun 2016, Andana,

Meirisa, Melsani, Nur Kholis, Amin, Iqbal, Heri. Terimakasih atas

perjuangan kalian bersama penulis selama kepengurusan.

11. Murobbiyah- murobbiyah yang membimbing penulis sehingga menjadi

muslim yang paham tentang Islam serta memberi nasihat-nasihat yang

menguatkan penulis;

Semoga kebaikan yang telah diberikan mendapat balasan terbaik dari Allah

SWT, dan semoga skripsi ini dapat bermanfaat dan mampu memberikan kontribusi

intelektual bagi kemajuan pemikiran mahasiswa Fakultas Dakwah dan Ilmu

Komunikasi khususnya dan masyarakat pada umumnya. Aamiin.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Bandar Lampung, 7 Maret 2017


Penulis,

Nyi Ayu Laras Putri Lestari

xi
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL.......................................................................................i
ABSTRAK......................................................................................................ii
HALAMAN PERSETUJUAN.....................................................................iii
HALAMAN PENGESAHAN.......................................................................iv
MOTTO..........................................................................................................v
PERSEMBAHAN.........................................................................................vi
RIWAYAT HIDUP......................................................................................vii
KATA PENGANTAR...................................................................................ix
DAFTAR ISI.................................................................................................xii
DAFTAR GAMBAR....................................................................................xv
DAFTAR TABEL........................................................................................xvi
DAFTAR LAMPIRAN...............................................................................xvii

BAB I PENDAHULUAN
A. Penegasan Judul.................................................................................1
B. Alasan Memilih Judul........................................................................6
C. Latar Belakang Masalah.................................................................... 7
D. Rumusan Masalah............................................................................12
E. Tujuan Penelitian..............................................................................13
F. Metode Penelitian.............................................................................13
G. Tinjauan Pustaka...............................................................................22

BAB II KOMUNIKASI ORGANISASI DAN KEPEMIMPINAN TINJAUAN


TEORITIS
A. Komunikasi .................................................................................... 24
1. Pengertian Komunikasi.................................................................. 24
2. Unsur-Unsur Komunikasi ............................................................. 25
[Link] .............................................................................. 25
[Link] .......................................................................................... 26
[Link].......................................................................................... 28
[Link] .................................................................................... 29
[Link].............................................................................................29
B. Komunikasi Bersifat Prosesual, Dinamis dan Transaksional..........30
C. Komunikasi Bersifat Nonsekuensial...............................................31
C. Organisasi ........................................................................................ 33
1. Pengertian Organisasi ................................................................... 33
2. Kekuasaan Dalam Organisasi........................................................35

xii
D. Komunikasi Organisasi ................................................................... 37
1. Pengertian Komunikasi Organisasi ............................................... 37
2. Fungsi Komunikasi dalam Organisasi .......................................... 39
3. Arus Komunikasi dalam Organisasi ............................................. 41
E. Kepemimpinan ................................................................................ 43
1. Pengertian Kepemimpinan ............................................................ 43
2. Tipe-tipe Kepemimpinan...............................................................46
3. Kepemimpinan Dalam Islam.........................................................51
F. Ciri Dasar dan Prinsip Pembinaan Keaagamaan..............................53
G. Strategi Pembinaan Keagamaan.......................................................55
H. Tujuan Pembinaan Keagamaan........................................................56
I. Indikator Keberhasilan Pembinaan Keagamaan...............................57

BAB III GAMBARAN UMUM FORUM KERJASAMA ALUMNI ROHIS DAN


ROHIS
A. Sejarah Berdirinya FKAR.................................................................60
B. Struktur Organisasi FKAR................................................................66
C. Stuktur Organisasi Rohis..................................................................69
D. Visi dan Misi FKAR.........................................................................72
E. Ruang Lingkup Organisasi FKAR....................................................72
F. Program Kerja FKAR.......................................................................75
G. Prestasi atau penghargaan.................................................................81
H. Kondisi Keagamaan Pengurus FKAR...............................................84
I. Kondisi Keagamaan Pengurus Rohis………………………………86
J. Visi Misi Rohis..................................…………................................87
K. Proses Membina Rohis………..........................................................88
L. Program Kerja Rohis SMAN 8.........................................................90
M. Program Kerja Rohis SMKN 3.........................................................94
N. Komunikasi Organisasi FKAR dan Rohis........................................95
1. Komunikator...............................................................................95
2. Pesan...........................................................................................97
3. Media........................................................................................100
4. Penerima...................................................................................101
5. Efek atau Feedback...................................................................101
6. Proses Komunikasi FKAR Bersifat Prosesual, Dinamis,
Dan Tidak Transaksional..........................................................103
7. Proses Komunikasi FKAR Bersifat Nonsekuensial Sirkuler....104
8. Komunikasi Vertikal.................................................................105
9. Komunikasi Horizontal.............................................................108

xiii
BAB IV PELAKSANAAN KOMUNIKASI ORGANISASI KEPEMIMPINAN
FORUM KERJASAMA ALUMNI ROHIS
A. Beberapa Temuan...................................………............................113
B. Perbandingan Temuan Dengan Teori.............................................117
1. Proses Komunikasi Organisasi Dalam Kepemimpinan FKAR
Untuk Membina Rohis Se-Kota Bandar Lampung...................117
2. Keberhasilan Pembinaan Rohis Yang Dilakukan FKAR......... 123

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN


A. Kesimpulan.....................................................................................125
B. Saran...............................................................................................126
C. Penutup...........................................................................................127

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

xiv
DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman

1. Komponen-Komponen Analisis Data..............................................................21


2. Struktur Organisasi FKAR Bandar Lampung................................................. 68
3. Struktur Pengurus Rohis SMAN 8 Bandar Lampung......................................70
4. Struktur Pengurus Rohis SMKN 3 Bandar Lampung......................................71
5. Ruang Lingkup Organisasi FKAR.................................................................74

xvii
DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

1. Nama Sekolah Atau Rohis Tertangani FKAR...............................................64


2. Nama Sekolah Atau Rohis Belum Tertangani FKAR....................................65
3. Program Kerja Rohis SMKN 3 Bandar Lampung Tahun 2014-2015............94

xviii
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 : Pedoman Wawancara.


Lampiran 2 : AD dan ART FKAR.
Lampiran 3 : Surat Keputusan Organisasi Rohis SMAN 8 dan Susunan
Kepengurusan.
Lampiran 4 : Daftar Hadir Jalsah Bidang Syiar Islam.
Lampiran 5 : Program Kerja Rohis SMAN 8 Bandar Lampung Tahun 2017.
Lampiran 6 : Program Kerja Rohis SMKN 3 Bandar Lampung Tahun 2015.
Lampiran 7 : Brosur Profil FKAR.
Lampiran 8 : Berita FKAR Bersinergi dengan TKS Di [Link].
Lampiran 9 : Berita FKAR Pawai Ramadhan Di [Link].
Lampiran 10: Berita FKAR tentang BBQ Ala FKAR Di [Link].
Lampiran 11: Berita Rohis SMAN 8 Peraih Penghargaan FKAR Di [Link].
Lampiran 12: Foto Kegiatan FKAR Dan Rohis.
Lampiran 13 : Surat Keputusan Dekan FDIK tentang Penetapan dan
Penunjukkan Pembimbing Skripsi Mahasiswa.
Lampiran 14 : Surat Rekomendasi Penelitian/Survey dari Kesbangpol Provinsi.
Lampiran 15 : Surat Rekomendasi Penelitian/Survey dari Kesbangpol Kota.
Lampiran 16 : Surat Keterangan Selesai Penelitian.

xix
1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Penegasan Judul

Judul merupakan hal yang sangat penting dari karya ilmiah, karena judul

ini akan memberikan gambaran tentang keseluruhan isi skripsi. Adapun judul

karya ilmiah yang penulis bahas dalam skripsi ini adalah:” Komunikasi

Organisasi Dalam Kepemimpinan FKAR (Forum Kerjasama Alumni Rohis)

Untuk Membina Rohis ( Rohani Islam) Se-Kota Bandar Lampung”.

Terlebih dahulu penulis akan menguraikan beberapa istilah pokok yang

terkandung dalam judul agar tidak terjadi salah pengertian dalam memahami

maksud judul tersebut. Hal ini selain dimaksudkan untuk lebih mempermudah

pemahaman, juga untuk mengarahkan pada pengertian yang jelas sesuai dengan

yang dikehendaki penulis. Berikut ini dapat dijelaskan beberapa istilah yang

terkandung dalam judul.

Komunikasi organisasi terdiri dari kata komunikasi dan organisasi yang

memiliki penjabaran yang luas. Untuk memahami komunikasi perlu kiranya

membahas tentang konsep dasar komunikasi. Komunikasi menurut Hovlan, Janis

dan Kelley yang dikutip oleh Roudhonah dalam buku ilmu komunikasi yaitu : “

proses melalui mana seorang komunikator yang menyampaikan stimulus yang

tujuannya untuk mengubah atau membentuk perilaku orang lainnya (khalayak).1

Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa dalam proses komunikasi

ada pengirim ( komunikator) dan penerima pesan ( komunikan) yang saling

1
Roudhonah , Ilmu Komunikasi (Jakarta : Ilmu Jaya, 2007) , h. 21.
2

berhubungan, pesan tersebut dapat mengubah persepsi bahkan tingkah laku

(behavior) komunikan.

Sedangkan organisasi adalah “ sistem yang mapan dari orang-orang yang

bekerja sama dalam mencapai tujuan bersama, melalui suatu jenjang kepangkatan

dan pembagian kerja”.2 Selain itu juga “ organisasi telah dibentuk sejak manusia

berada dimuka bumi, didorong oleh tiga motif unsur dasar yaitu orang-orang

(sekelompok orang), kerjasama dan tujuan yang akan dicapai”.3 Tiga motif

organisasi saling ketergantungan satu sama lain, dan penghubung itu semua

adalah komunikasi.

Komunikasi Organisasi ialah membagi informasi , memberi peluang

kepada seluruh aparatur organisasi untuk memberi makna yang sama atas visi,

misi, tugas pokok, sub organisasi, individu, maupun kelompok kerja dalam

organisasi.4 Sedangkan komunikasi organisasi menurut R. Wayne dan Don F.

Faules adalah sebagai pertunjukan dan penafsiran pesan diantara unit-unit

komunikasi yang merupakan bagian dari suatu organisasi tertentu.5

Adapun komunikasi organisasi yang dimaksud dalam penelitian ini ialah

komunikasi organisasi FKAR (Forum Kerjasama Alumni Rohis) dalam usahanya

melakukan pembinaan Rohis (Rohani Islam) se-kota Bandar Lampung sesuai visi,

misi kerja organisasi yang sudah dibentuk.

2
Soleh Soemirat , dkk, Komunikasi Organisasional ( Jakarta :Universitas Terbuka,
2009), h. 15.
3
Yayat Hayati Djatmiko, Perilaku Organisasi (Bandung : Alfabeta, 2005), h. 2.
4
Alo Liliweri, Sosiologi dan Komunikasi Organisasi (Jakarta:[Link] Aksara,2014), h.
373.
5
[Link] Pace dan Don [Link], Komunikasi Organisasi (Bandung : [Link]
Rosdakarya, 2001), Edisi Terjemahan, h. 31.
3

Kepemimpinan adalah proses memengaruhi dalam menentukan tujuan

organisasi, memotivasi perilaku pengikut untuk mencapai tujuan, memengaruhi

untuk memperbaiki kelompok dan budayanya. Selain itu juga memengaruhi

interpretasi mengenai peristiwa-peristiwa para pengikutnya, pengorganisasian dan

aktivitas-aktivitas untuk mencapai sasaran, memelihara hubungan kerjasama dan

kerja kelompok, perolehan dukungan dan kerja sama dari orang-orang diluar

kelompok atau organisasi.6

Kepemimpinan secara etimologi berasal dari kata “pemimpin”

ditambahkan awalan “ke” dan akhiran “an”, maka kepemimpinan dapat dibagi

menjadi beberapa bagian yaitu : a) orang atau sekelompok orang yang memimpin;

b) usaha memimpin;c) kemampuan atau kemahiran seorang untuk memimpin; d)

wibawa sang pemimpin.7

Sedangkan menurut Setyowati dalam buku organisasi dan kepemimpinan

modern mengatakan bahwa kepemimpinan melibatkan ditribusi yang tidak merata

dari kekuasaan diantara pemimpin dan anggota kelompok. Pemimpin mempunyai

wewenang untuk mengarahkan beberapa dari kegiatan anggota kelompok, yang

tidak dapat secara serupa mengarahkan kegiatan pemimpin.8

Dari penjabaran tersebut dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan bukan

hanya kegiatan memimpin namun juga kemampuan menjalankan usaha tersebut

dan adanya wibawa seseorang dianggap mampu memimpin. Dengan kemampuan

yang dimiliki pemimpin diharapkan dapat mengantisipasi perubahan yang tiba-

6
Veithzal Rivai dan Deddy Mulyadi, Kepemimpinan dan Perilaku Organisasi
(Jakarta:Rajawali Pers,2012), h. 2.
7
[Link], Dasar- dasar Kepemimpinan ( Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya,1992) , h. 1-2.
8
Setyowati, Organisasi dan Kepemimpinan Modern ( Yogyakarta:Graha Ilmu, 2013), h.
104.
4

tiba, dapat mengoreksi kelemahan-kelemahan, dan sanggup membawa organisasi

pada sasaran dalam jangka waktu yang sudah ditetapkan. Ringkasnya, pemimpin

dapat membawa usahanya untuk maju pesat atau bahkan mundur jika ia salah

dalam bertindak atau tidak bijaksana.

Adapun kepemimpinan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah proses

memengaruhi dan memberi contoh dari FKAR (Forum Kerjasama Alumni Rohis)

kepada anak-anak pelajar khususnya yang mengikuti Ekstrakulikuler Rohis

(Rohani Islam) untuk mencapai apa yang diharapkan bersama. Dalam hal ini

adalah akhlak dan prestasi anak-anak muslim pelajar di kota Bandar Lampung.

FKAR (Forum Kerjasama Alumni Rohis) adalah lembaga yang bergerak

di bidang dakwah sekolah , anggota FKAR biasa disebut ADS ( Aktivis Dakwah

Sekolah). Mereka menaungi rohis-rohis SMP dan SMA se-Kota Bandar

Lampung. Membina keislaman, keimanan dan ketaqwaan pelajar muslim Bandar

Lampung.9

Membina menurut KBBI (kamus besar bahasa indonesia) adalah

mengusahakan dengan keras supaya lebih baik (maju dan sempurna), sedangkan

pembinaan merupakan proses, cara perbuatan membina negara dan sebagainya,

usaha tindakan dan kegiatan yang dilakukan secara efisien dan efektif untuk hasil

yang lebih baik.10

Rohis menurut Koesmarwanti dan Nugroho Widiyantoro, kata “kerohanian

Islam” ini sering disebut dengan istilah “Rohis” yang berarti sebagai suatu wadah

9
[Link] (21 Oktober 2016).
10
Departemen Pendidikan Nasional, KBBI ( Jakarta: Balai Pustaka, 2010), h. 152.
5

besar yang dimiliki oleh siswa untuk menjalankan aktivitas dakwah disekolah.11

Kerohanian Islam berasal dari kata dasar “Rohani” yang mendapat awalan ke- dan

akhiran –an yang berarti hal-hal tentang rohani, dan “Islam” adalah mengikrarkan

dengan lidah dan membenarkan dengan hati serta mengerjakan dengan sempurna

oleh anggota tubuh dan menyerahkan diri kepada Allah SWT.12

Membina Rohis ( Rohani Islam) adalah sebuah upaya pendidikan non

formal yang dilaksanakan secara sadar, terencana, terarah, dan bertanggung jawab

serta berkesinambungan atau terus –menerus, dalam rangka memperkenalkan

keislaman dan membangun potensi agar sasaran pembinaan yaitu pelajar muslim

Bandar Lampung mampu menjadi anak- anak rohis yang memiliki kepribadian

yang islami, kemampuan ilmiah dan dakwah, keterampilan individu dan kolektif,

serta kemampuan bermasyarakat. Menuntun anak-anak remaja dalam rangka

memelihara dan meningkatkan kualitas keagamaannya baik ibadah mahdhah

maupun ghairu mahdhah serta menyalurkan bakat dan minat.

Dengan penegasan judul tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa yang

dimaksud dengan judul skripsi ini adalah suatu penelitian yang membahas tentang

proses komunikasi sebuah organisasi dalam penyampaian pesan, informasi, ide-

ide atau gagasan diantara para pelajar muslim upaya melakukan pembinaan

karakter keagamaan, pembinaan sikap dan nilai serta kepribadian yang pada

akhirnya bermuara pada penerapan akhlak mulia pelajar muslim yang mengikuti

Rohis di Bandar Lampung.

11
Koesmarwanti, Nugroho Widiyantoro, Dakwah Sekolah di Era Baru (Solo:Era Inter
Media,2000), h. 124.
12
Hasbi Al-Shiddieqy, Al-Islam (Jakarta:Bulan Bintang, 1977), h. 34.
6

B. Alasan Memilih Judul

Adapun hal-hal menarik atau alasan-alasan penulis dalam memilih judul

skripsi ini adalah sebagai berikut :

1. Keberlangsungan organisasi bergantung kepada bagaimana berkomunikasi

didalamnya. Pemimpin dan komunikasi mempunyai peran sentral dalam

menjalan organisasi. Mengingat bahwa komunikasi dan kepemimpinan dalam

organisasi merupakan suatu hal yang sangat penting dan menjadi sarana utama

yang dibutuhkan dalam proses pencapaian tujuan organisasi. Maka dipandang

penting untuk melakukan kegiatan penelitian terhadap bentuk komunikasi

organisasi kepemimpinan FKAR ( Forum Kerjasama Alumni Rohis) dalam

upaya membina pelajar muslim khususnya yang berada di Rohis ( Rohani

Islam) agar memiliki keseimbangan emosional dan spiritual.

2. FKAR ( Forum Kerjasama Alumni Rohis ) Lembaga sosial kemasyarakatan

yang membantu pemerintah untuk mengembangkan potensi pelajar Bandar

Lampung khususnya dalam spiritual, emosional dan intelektual. Maka

dipandang penting untuk dilakukan penelitian terhadap organisasi Fkar ini

guna mengetahui sejauh mana efektivitas dalam upaya pencapaian pembinaan

bagi kaum muda sebagai generasi penerus bangsa.

3. Sejak SMP (Sekolah Menengah Pertama) penulis aktif mengikuti

ekstrakulikuler rohis, penulis merasa banyak perubahan hidup setelah aktif

dalam kegiatan rohis dalam hal akhlak, potensi akademik maupun non

akademik meningkat. Hal ini yang membuat penulis ingin meneliti pembinaan

FKAR terhadap rohis-rohis yang ada di Bandar Lampung. Penelitian ini dapat
7

FKAR terhadap rohis-rohis yang ada di Bandar Lampung. Penelitian ini dapat

dilakukan dalam waktu yang telah direncanakan , karena mengingat sasaran,

sarana, prasarana, dana, waktu dan tempat yang mudah dijangkau serta data-

data yang dibutuhkan tersedia.

C. Latar Belakang Masalah

Komunikasi dalam sebuah organisasi merupakan proses yang penting

dalam menjalankan semua tujuan yang ingin dicapai oleh organisasi. Pemimpin

dan organisasi tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Organisasi tanpa pemimpin

tidak akan berjalan dengan baik, dan sebaliknya pemimpin tanpa organisasi tidak

ada gunanya. Pemimpin adalah ujung tombak dari segalanya. Baik buruknya

perusahaan tergantung dari pemimpin.

Pemimpin yang baik dapat mempengaruhi anak buahnya untuk bekerja

semaksimal mungkin. Pemimpin juga harus menyatu dengan bawahan ,

mendengar keluh kesah mereka dan memberikan solusi terbaik untuk mereka.

Maka dengan sendirinya bawahan akan termotivasi untuk bekerja lebih baik lagi.

Selain harus memiliki kemampuan, pemimpin juga harus memiliki sifat

kemanusiaan, demokratis, dan mencintai bawahannya. Sebagaimana firman Allah

SWT dalam surat Al-imran ayat 159 :

               

              

   


8

Artinya: “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu Berlaku lemah


lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi
berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari
sekelilingmu. karena itu ma'afkanlah mereka, mohonkanlah
ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka
dalam urusan itu kemudian apabila kamu telah membulatkan
tekad, Maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah
menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya”. (Q.S Al-
Imran [3] : 159).13

Dari ayat tersebut jelas bahwa pemimpin harus bertingkah laku lemah

lembut namun tegas. Dalam menjalankan tugasnya pemimpin harus banyak

berkomunikasi dengan bawahan, klien ataupun teman sejawat. Komunikasi sangat

penting untuk meningkatkan kinerja suatu perusahaan. Menurut W.G Scott dan

T.R Mitchell yang dikutip oleh Stephen P. Robbins dalam buku perilaku

menyatakan “ komunikasi menjalankan empat fungsi utama didalam suatu

kelompok atau organisasi yaitu kendali (kontrol), motivasi, pengungkapan

emosional dan informasi.14

Agar komunikasi berlangsung efektif dan informasi yang disampaikan

oleh seorang pemimpin dapat diterima, dan dipahami oleh anggotanya maka

seorang pimpinan harus menerapkan pola komuniksi yang baik pula. Pengetahuan

dasar tentang komunikasi saja belumlah cukup untuk memahami komunikasi

organisasi.

Komunikasi organisasi dapat dilakukan baik secara formal maupun non

formal. Secara formal misalnya dengan diadakan rapat atasan dan bawahan, surat

memo dan lain-lain. Sedangkan non formal misalnya grapevine .Grapevine

13
Al-Qur’an Terjemah Mushaf Marwah (Bandung :Hilal).
14
Stephen [Link], Perilaku Organisasi ( Jakarta : PT. Prenhallindo, 1996) , Edisi
Bahasa Indonesia, h. 5.
9

merupakan desas desus yang terjadi diorganisasi. Seperti dikemukakan oleh Arni

Muhammad dalam buku organisasional :

Grapevine adalah sebagai metode menyampaikan rahasia dari orang ke


orang yang tidak dapat diperoleh melalui jaringan komunikasi formal.
Komunikasi informal cenderung berisi laporan mengenai orang dan
kejadian-kejadian yang tidak mengalir secara resmi. Informasi yang
diperoleh dari desas-desus adalah berkenaan dengan apa yang didengar
atau apa yang dikatakan orang dan bukan apa yang diumumkan oleh orang
yang berkuasa.15

Dalam segala lini kehidupan baik di sekolah, negara, perusahaan,

organisasi, agama dan lain-lain, penerapan komunikasi organisasi yang efektif

sangat penting. Karena komunikasi organisasi mencakup segala hal bentuk

komunikasi. Misalnya komunikasi interpersonal, komunikasi formal, komunikasi

informal, komunikasi kelompok, komunikasi publik, dan lain-lain.

Komunikasi dalam organisasi merupakan hal yang mengikat kesatuan

organisasi. Komunikasi membantu anggota-anggota organisasi mencapai tujuan

individu dan juga organisasi, merespon dan mengemplementasikan perubahan

organisasi, mengoordinasikan aktivitas organisasi dan ikut memainkan peran.

Suatu organisasi adalah suatu sistem terbuka yang dinamis yang menciptakan dan

saling menukar pesan diantara anggotanya. Untuk berkomunikasi seorang harus

sanggup menyusun suatu gambaran mental,memberi gambaran itu nama dan

mengembangkan suatu perasaan terhadapnya. Komunikasi tersebut efektif kalau

15
Arni Muhammad, Komunikasi Organisasi (Jakarta : Bumi Aksara, 2009), h. 125.
10

pesan yang dikirimkan itu diartikan sama dengan apa yang dimaksudkan oleh si

pengirim.16

Komunikasi yang efektif dapat membentuk iklim organisasi yang baik

pula. Mudah berkomunikasi dengan sesama rekan kerja atau dengan atasan akan

membuat suasana diorganisasi menjadi hangat dan terbuka. Keterbukaan adalah

faktor penting dalam membangun kinerja anggota. Dengan terbuka dengan atasan

mengenai apa saja yang menjadi kendala dalam organisasi, akan sedikit

mengurangi beban. Setidaknya atasan mengetahui kendala para anggota dalam

bekerja. Disinilah pentingnya komunikasi, atasan dapat memberikan koreksi,

motivasi, pemberian tugas, memberikan solusi dan lain-lain sehingga anggota

merasa dihargai. Selain itu bawahan dapat memberikan suatu ide, gagasan, atau

bahkan kritikan untuk organisasi. Hal ini senada dengan pendapat Toto Tasmara

dalam buku komunikasi dakwah :

Komunikasi organisasi dapat membantu atasan dan bawahan dalam


menjalankan tugas masing-masing. Dengan adanya komunikasi informasi
dapat dengan mudah disampaikan. Interaksi harmonis antara para anggota
dalam suatu organisasi akan membuat roda organisasi bejalan sesuai
kearah tujuan, namun bila terjadi sebaliknya justru akan terjadi konflik
antar sesama anggota. Maka dari itu komunikasi pimpinan dan anggotanya
harus berjalan secara proporsional.17

Dalam kaitannya dengan penelitian komunikasi organisasi, penulis

memilih FKAR ( Forum Kerjasama Alumni Rohis), karena organisasi tersebut

adalah salah satu organisasi dakwah yang mengayomi kegiatan ekstrakulikuler

Rohis (Rohani Islam) yang ada di Bandar Lampung. Dibalik organisasi yang

16
Khomsahrial Romli, Komunikasi Organisasi Lengkap (Jakarta: [Link], 2011), h.
7.
17
Toto Tasmara,Komunikasi Dakwah (Jakarta: Gaya Media Pratama,1997), h. 22.
11

sudah lama dan besar ini dengan pemimpin yang ahli pada bidangnya. Dalam

setiap kegiatan tersebut, komunikasi sangat diperlukan sekali untuk mengatur dan

mengorganisir anggota.

FKAR yang merupakan organisasi dakwah sekolah telah banyak

melakukan kegiatan-kegiatan pembinaan untuk para pelajar Bandar Lampung.

Dengan kiprahnya FKAR telah membantu pemerintah dengan berbagai program

dalam pembentukan akhlak para pelajar. FKAR melihat bahwa pelajar atau remaja

adalah elemen masyarakat yang memiliki jumlah besar dan rentan dengan

masalah, maka dakwah dikalangan pelajar adalah suatu keniscayaaan. Sangat naif

untuk tidak terjun didunia dakwah remaja dalam kondisi jaman yang semakin

tidak menentu ini.

Pada organisasi ini ada beberapa departeman yang disesuaikan dengan

kebutuhan organisasi. Departemen tersebut diantaranya Departemen Pembinaan

Pelajar (DPP), Departemen pengembangan dan reqruitment (DPR), Departemen

Humas (DH), dan Presdium.

Dalam skripsi ini penulis membatasi objek penelitian dan fokus hanya

pada Departemen Pembinaan Pelajar (DPP) , Departemen Pengembangan dan

Reqruitment (DPR) yang berkedudukan di Jalan Badak Gang Scorpio kelurahan

Sidodadi kecamatan Kedaton Kota Bandar Lampung. Karena menurut penulis

departemen ini merupakan visi misi dari organisasi tersebut dalam melakukan

pembinaan terhadap pelajar untuk mencetak generasi penerus yang Rabbani.

Kerja keras departemen ini khusunya pada Departemen Pengembangan

dan Requitment (DPR) dapat terlihat dari banyaknya pelajar yang direkrut untuk
12

mengikuti Ekskul Rohis di sekolah-sekolah SMP dan SMA di Kota Bandar

Lampung pada setiap tahunnya . Pada tahun 2016, FKAR berhasil merekrut 1500

siswa-siswi se-kota Bandar Lampung.

Keberhasilan ini tidak semata-mata karena anggota yang kerja total dan

loyal, namun ada yang berperan penting yaitu pemimpin. Pemimpinlah yang

berperan penting dalam kinerja anggotanya. Bagaimana cara pemimpin

memberikan instruksi tugas dan motivasi kepada anggotanya, berimbas besar pada

kinerja anggotanya.

Dengan upaya pengorganisasian yang sudah tersistem dengan baik, tidak

dipungkiri bahwa komunikasi didalam organisasi tersebut dapat dikendalikan

sesuai dengan tujuannya. Dengan latar belakang inilah yang membuat penulis

tertarik mengambil judul “ Komunikasi Organisasi Dalam Kepemimpinan

FKAR (Forum Kerjasama Alumni Rohis) Untuk Membina Rohis ( Rohani

Islam) se-kota Bandar Lampung”

D. Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalahnya adalah :

1. Bagaimana proses komunikasi organisasi dalam kepemimpinan FKAR

(forum kerjasama alumni rohis) untuk membina Rohis (rohani Islam) se-

kota Bandar Lampung?

2. Bagaimana keberhasilan pembinaan rohis yang dilakukan oleh FKAR?


13

E. Tujuan Masalah

Adapun tujuan masalahnya adalah :

1. Untuk mengetahui proses komunikasi organisasi kepemimpinan yang

dilakukan FKAR dalam membina Rohis se-kota bandar lampung

2. Untuk mengetahui keberhasilan pembinaan rohis yang dilakukan oleh

FKAR.

F. Metode Penelitian

Metode adalah “cara yang tepat untuk melakukan sesuatu dengan

menggunakan pikiran secara seksama untuk mencapai tujuan”. Sedangkan

penelitian adalah “suatu proses mencari sesuatu secara sistematik dalam waktu

yang lama dengan menggunakan metode ilmiah serta aturan-aturan yang

berlaku”.18 Untuk mendapatkan data yang diinginkan, agar dapat mendukung

kesempurnaan penelitian ini, penulis menggunakan metode sebagai berikut:

1. Pendekatan Penelitian

Menurut Jonh W. Creswell ada tiga pendekatan penelitian yaitu

pendekatan Kualitatif, Kuantitatif, dan Mixed Methods (mengasosiasikan bentuk

kualitatif dan kuantitatif). Dalam penelitian ini, penulis menggunakan pendekatan

penelitian Kualitatif. Penelitian kualitatif yaitu penelitian eksploratif yang

mempunyai proses yang lain dari pada penelitian kuantitatif. Kalau penelitian

kuantitatif dapat memberikan gambaran tentang populasi secara umum, maka

18
[Link], Metode Penelitian (Jakarta:Ghalia Indonesia,1988), h. 99.
14

penelitian kualitatif dapat memberikan gambaran khusus terhadap suatu kasus

secara mendalam yang jelas tidak diberikan oleh hasil penelitian dengan metode

kuantitatif.19

Menurut Banister penelitian kualitatif sebagai satu cara sederhana, sangat

longgar, yaitu suatu penelitian interpretatif terhadap suatu masalah dimana peniliti

merupakan sentral dari pengertian yang dibuat mengenai masalah itu. Dalam

penelitian kualitatif data merupakan sumber teori atau teori berdasarkan data,

dikembangkan oleh peneliti di lapangan. Data lapangan dapat dimanfaatkan untuk

verifikasi teori yang timbul di lapangan dan terus disempurnakan selama

penelitian. Dalam penelitian kualitatif cenderung mengumpulkan data melalui

kontak terus menerus dalam orang-orang dalam setting alamiah dan rutinitas

sehari-hari. Metode pengambilan data yang paling mewakili karakteristik

pendekatan kualitatif adalah observasi partisipan dan in-depth interview.20

Dalam hal ini, penulis dalam mengumpulkan data langsung ke lokasi

penelitian yaitu pada pengurus utama FKAR di Kedaton Bandar Lampung, Rohis

SMAN 8 Bandar Lampung, dan Rohis SMKN 3 Bandar Lampung. Penulis

mengumpulkan data dengan mendapatkan dari berbagai sumber, penulis

menganalisis tulisan-tulisan dokumen dan penemuan dilapangan, penulis

membuat berkas primer dan sekunder jika relevan dengan wawancara , maka bisa

untuk melengkapi dokumen dari penelitiannya.

19
Farouk Muhammad,Djaali, Pengantar Metode Penelitian( Jakarta: Ghalia
Indonesia,2003), h. 100.
20
Ibid, h. 100.
15

2. Desain Penelitian

Desain penelitian adalah “logika pengaitan antara data yang harus

dikumpulkan (dan kesimpulan-kesimpulan yang akan dihasilkan)”. Dalam bahasa

sehari-hari, desain penelitian adalah “suatu rencana tindakan untuk berangkat dari

sini ke sana, dimana “di sini” bisa diartikan sebagai rangkaian pertanyaan awal

yang harus dijawab, dan “di sana” merupakan serangkaian konklusi (jawaban)

tentang pertanyaan-pertanyaan tersebut.21

Dalam penelitian ini penulis menggunakan strategi penelitian studi kasus

(case study), studi kasus merupakan strategi yang lebih cocok bila pokok

pertanyaan suatu penelitian berkenaan dengan ”how” atau “why”, bila peneliti

hanya memiliki sedikit peluang untuk mengontrol peristiwa-peristiwa yang akan

diselidiki, dan bilamana fokus penelitiannya terletak pada fenomena kontemporer

(masa kini) di dalam konteks kehidupan nyata. 22

Penelitian ini bersifat kualitatif dilakukan dalam situasi yang wajar

(natural setting) dan data yang dikumpulkan umumnya bersifat kualitatif.

Sementara penelitian ini deskriptif analisis yaitu berupa mendeskripsikan/

menggambarkan masalah secara sistematis, faktual, dan akurat mengenai fakta-

fakta dan sifat-sifat populasi tertentu.23 Kasus yang akan diangkat dalam

penelitian ini adalah tentang komunikasi organisasi dalam kepemimpinan FKAR

membina Rohis Se-Kota Bandar Lampung.

21
Robert [Link], Studi Kasus (Jakarta:[Link] Grafindo Persada, 1996), Edisi terjemahan
[Link] Mudzakir, h. 27.
22
Ibid, h. 1.
23
Usman Rianse, Abdi, Metodologi Penelitian Sosial dan Ekonomi; Teori dan Aplikasi
(Bandung:Alfabeta,2009), h. 30.
16

a. Seleksi Pemilihan Kasus

Adapun yang menjadi subjek dalam penelitian ini adalah Pengurus FKAR

dan ekstrakulikuler Rohis yang berada di Sekolah Menengah Pertama (SMP) se-

derajat dan Sekolah Menengah Atas (SMA) se-derajat kota Bandar Lampung.

Dalam penelitian ini, teknik sampling yang digunakan adalah teknik purposive

sampling yaitu teknik pengambilan sampel sumber data dengan pertimbangan

tertentu.

Sampel penelitian ini ditetapkan dengan cara purposive sampling,yaitu

segenap anggota sampel yang akan di interview terlebih dahulu dengan kriteria

yaitu:

1) Pengurus FKAR (Forum Kerjasama Alumni Rohis)

a) Ketua Umum, Seketaris Umum, Bendahara Umum FKAR

(Forum Kerjasama Alumni Rohis).

Berdasarkan kriteria tersebut penulis menentukan 3 orang yang juga

sebagai informan kunci yaitu: Ketua, seketaris dan bendahara FKAR ( Forum

Kerjasama Alumni Rohis) Kota Bandar Lampung.

2) Sekolah dengan ekstrakulikuler Rohis Aktif

a) Rohis yang aktif dalam mengadakan acara dan mengikuti acara

FKAR.

b) Rohis yang memiliki prestasi dalam ajang perlombaan.

c) Rohis yang mengalami peningkatan jumlah anggota setiap

tahunnya.

d) Rohis yang pembinaan rohaninya rutin.


17

3) Sekolah dengan ekstrakulikuler Rohis kurang aktif

a) Rohis yang kurang aktif dalam mengadakan acara dan

mengikuti acara FKAR.

b) Rohis yang kurang berprestasi dalam ajang perlombaan.

c) Rohis yang tidak mengalami peningkatan jumlah anggota setiap

tahunnya.

d) Rohis yang pembinaan rohaninya tidak rutin.

Berdasarkan kriteria tersebut penulis menentukan sampel untuk mewakili

Ekstrakulikuler Rohis, sebagaimana kriteria diatas , dari populasi sebanyak 45

sekolah terdiri dari 15 Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan 30 Sekolah

Menengah Atas (SMA), penulis menentukan 2 sekolah yang dijadikan sampel

penelitian yaitu Rohis SMAN 8 Bandar Lampung dan SMKN 3 Bandar Lampung.

3. Metode Pengumpulan Data

Dalam penelitian ini, penulis menggunakan beberapa metode untuk

mengumpulkan data. Adapun tahapan-tahapan pengumpulan data, penulis

menggunakan metode sebagai berikut :

a. Metode Observasi

Penulis melakukan pengamatan dan pencatatan terhadap fenomena yang

diselidiki. Dalam hal ini penulis melakukan pengamatan secara langsung ke

FKAR (Forum Kerjasama Alumni Rohis) di Jalan Badak Gang Scorpio kelurahan

Sidodadi Kecamatan Kedaton Bandar Lampung dan Rohis yang menjadi sampel
18

dalam penelitian ini. Hal ini dilakukan sebagai upaya memperkecil kemungkinan

yang dapat menghambat dalam pelaksanaan penelitian.

b. Metode Wawancara (Interview)

Wawancara/Interview dapat dipandang sebagai metode pengumpulan data

dengan jalan tanya jawab sepihak yang dikerjakan secara sistematik dan

berlandasan pada tujuan penyelidikan.24 Metode pengumpulan data yang

digunakan dalam penelitian kualitatif lebih menekankan pada jenis metode

wawancara, khususnya wawancara mendalam (deep interview). Dalam proses

wawancara penulis menggunakan beberapa media pendukung, yaitu tape recorder,

alat tulis, foto digital, dan lain-lain.

Dalam proses wawancara terhadap pengurus penulis memberikan

pertanyaan terkait pembinaan terhadap rohis-rohis di sekolah, bagaimana proses

pembinaan yang sudah berjalan di rohis, seberapa besar tingkat keaktifan anak-

anak rohis dalam mengikuti pembinaan dan kegiatan yang diselenggarakan

FKAR, Efek yang muncul kepada anak- anak rohis setelah mengikuti pembinaan

FKAR.

Selanjutnya, penulis melakukan interview kepada Anak- Anak Rohis

SMAN 8 Bandar Lampung dan SMKN 3 Bandar Lampung terkait komunikasi

dalam membina rohis, bagaimana keterlibatan ekskul Rohis dalam setiap

program yang diselenggarakan, apa saja perubahan yang terjadi dalam diri setelah

24
Sutrisno Hadi, Metodologi Research (Yogyakarta:Andi Offset, 2004), h. 193.
19

mengkuti Rohis ,apa saja yang ingin diharapkan kedepannya terhadap organisasi

FKAR .

c. Metode Dokumentasi

Metode dokumentasi merupakan cara mengumpulkan data yang tidak

langsung ditujukan pada subjek penelitian, namun melalui dokumen, berupa buku,

surat, laporan, notulen rapat dan dokumen lainnya.25 Untuk mendapatkan data

penulis mengumpulkan dokumen-dokumen organisasi, liputan berita , dan analisa

tentang FKAR dan Rohis dari berbagai media massa.

d. Metode Analisis Data

Analisis data pada penelitian ini lebih bersifat deskriptif kualitatif, yaitu

setelah data diklasifikasikan sesuai aspek data yang terkumpul lalu

diinterpretasikan secara logis. Dengan demikian akan tergambar sejauh manakah

alat komunikasi dalam pengembangan kepemimpinan, dengan melihat data-data

yang diperoleh melalui observasi dan wawancara, setelah itu dianalisis yang

kemudian disusun dalam laporan penelitian.

Analisis data ini terdiri dari tiga alur kegiatan yang terjadi secara

bersamaan yaitu: reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan/verifikasi.

1) Reduksi Data

Reduksi data diartikan sebagai proses pemilihan, pemusatan

perhatian pada penyederhanaan, pengabstrakan, dan transformasi data “kasar”

25
[Link] Hasan, [Link], h. 87.
20

yang muncul dari catatan-catatan tertulis di lapangan. Selama pengumpulan data

berlangsung, terjadilah tahapan reduksi selanjutnya (membuat ringkasan,

mengkode, menelusur tema, membuat gugus-gugus, membuat partisi, menulis

memo). Reduksi data merupakan suatu bentuk analisis yang menajamkan,

menggolongkan, mengarahkan, membuang yang tidak perlu, dan mengorganisasi

data dengan cara sedemikian hingga kesimpulan finalnya dapat ditarik.

2) Penyajian Data

Alur penting yang kedua dari kegiatan analisis adalah penyajian

data. Penyajian-penyajian yang dibahas meliputi berbagai jenis matriks, grafik,

jaringan dan bagan. Semua dirancang guna menggabungkan informasi yang

tersusun dalam suatu bentuk yang padu dan mudah diraih. Dengan demikian,

penulis dapat melihat apa yang sedang terjadi, dan menentukan apakah menarik

kesimpulan yang benar ataukah terus melangkah melakukan analisis.

3) Menarik Kesimpulan/Verifikasi

Kegiatan analisis ketiga yang penting adalah menarik kesimpulan

dan verifikasi. Kesimpulan-kesimpulan “final” mungkin tidak muncul sampai

pengumpulan data terakhir, tergantung pada besarnya kumpulan-kumpulan

catatan lapangan, pengkodeannya, penyimpanan, dan metode pencarian ulang

yang digunakan, dan kecakapan peneliti. Kesimpulan-kesimpulan juga

diverifikasi selama penelitian berlangsung.

Verifikasi itu mungkin sesingkat pemikiran kembali yang melintas

dalam pikiran penulis, suatu tinjauan ulang pada catatan-catatan lapangan. Makna-

makna yang muncul daridata harus diuji kebenarannya, kekokohannya, dan


21

kecocokannya, yakni yang merupakan validitasnya. Jika tidak demikian, yang kita

miliki adalah cita-cita yang menarik menganai suatu yang terjadi dan tidak jelas

kebenarannya dan kegunaannya.26

Pengumpulan
Data Penyajian
Data

Reduksi
Data
Kesimpulan-
kesimpulan :
Penarikan/ Verifikasi

Gambar 1. komponen-komponen analisis data

26
Mattew [Link], Analisis Data Kualitatif (Jakarta: Universitas Indonesia, 1992), h. 16-
20.
22

G. Tinjauan Pustaka

Dalam penulisan skripsi ini penulis merujuk pada buku, serta skripsi-

skripsi yang pernah membahas seputar pola komunikasi organisasi. Buku-buku

yang digunakan diantaranya Ilmu Komununikasi Teori dan Praktek karya Onong

Uchayana Efendi, Komunikasi Organisasi Lengkap karya Khomsahrial Romli,

Kepemimpinan dan Pelaku Organisasi karya Veithzal Rivai, dan lain-lain.

Adapun skripsi-skripsi yang pernah membahas seputar komunikasi organisasi

diantaranya :

Komunikasi Organisasi Persatuan TIONGHOA INDONESIA (PITI)

Dewan Pimpinan Wilayah Jakarta Dalam Berdakwah. Penulis Farah Nurul Hikam

Agustin. Fokus masalah yang diteliti mengenai pola komunikasi antara pengurus

dengan pengurus PITI, pengurus dengan jamaah PITI, dan jamaah dengan jamaah

lainnya.

Komunikasi Organisasi Dalam Meningkatkan Produktivitas Kerja

Karyawan Muslim di [Link] Indonesia Pahoman Kota Bandar Lampung. Penulis

Rohman. Fokus masalah yang diteliti mengenai efektivitas komunikasi organisasi

yang dilakukan di [Link] Indonesia Bandar Lampung terutama berkaitan dengan

peningkatan kerja karyawan muslim.

Kepemimpinan Perempuan Dalam Peningkatan Kinerja Organisasi Pada

Kopri (Korps PMII Putri) Wilayah Lampung. Penulis Siti Wuryan. Fokus masalah

yang diteliti mengenai pola kepemimpinan perempuan dalam mengurus organisasi

Kopri wilayah Lampung dan pola pengawasan kepada para anggota perempuan.
23

Dari penjelasan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa skripsi yang

penulis ajukan tidak sama dengan ke tiga skripsi di atas. Pada skripsi ini penulis

meneliti komunikasi organisasi kepemimpinan FKAR untuk mengetahui proses

komunikasi organisasi kepemimpinan dalam membina Rohis se-kota Bandar

Lampung, selain itu perbedaanya terletak pada tempat penelitian, pada skripsi ini

penulis meneliti FKAR, Rohis SMAN 8 dan SMKN 3 Bandar Lampung yang

berbeda dengan tempat-tempat penelitian pada skripsi di atas.


24

BAB II

KOMUNIKASI ORGANISASI

DAN KEPEMIMPINAN TINJAUAN TEORITIS

A. Komunikasi

1. Pengertian Komunikasi

Dalam kehidupan kita sehari-hari, komunikasi merupakan suatu

tindakan yang memungkinkan kita mampu menerima dan memberikan informasi

atau pesan sesuai dengan apa yang kita butuhkan. Komunikasi berasal dari bahasa

latin „communis‟ atau „common‟ dalam bahasa inggris yang berarti sama.

Berkomunikasi berarti kita sedang berusaha untuk mencapai kesamaan makna,

„commonness‟. Atau dengan ungkapan lain, melalui komunikasi kita mencoba

berbagi informasi,gagasan atau sikap kita dengan partisipan lainnya.1

Selain itu menurut Cherry dalam Stuart dikutip oleh Hafied Cangara

dalam buku Pengantar Ilmu Komunikasi bahwa “ Istilah komunikasi berpangkal

atau membangun kebersamaan antara dua orang atau lebih. Komunikasi juga

berasal dari akar kata dalam bahasa Latin Communico yang artinya membagi.2

Dari pengertian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa komunikasi adalah terjadi

antara dua orang atau lebih yang mencoba berbagi informasi, gagasan dengan

partisipan lain.

Sedangkan menurut „terminologi‟ ada banyak ahli yang mencoba

mendefinisikan diantaranya Everett [Link] seorang pakar Sosiologi Pedesaan

1
[Link] Sendjaya,Teori Komunikasi ( Jakarta:Univ Terbuka,1994), h. 131.
2
Hafied Cangara, Pengantar Ilmu Komunikasi (Jakarta:Rajawali Pers,2012), h. 20.
25

Amerika yang telah banyak memberi perhatian pada studi riset komunikasi,

khususnya membuat definisi bahwa “ komunikasi adalah proses dimana suatu ide

dialihkan dari sumber kepada satu penerima atau lebih, dengan maksud untuk

mengubah tingkah laku mereka.”3

[Link] Pace dan Don F. Faules dalam buku Komunikasi Organisasi

lebih merinci definisi komunikasi yaitu “Komunikasi merupakan suatu proses, di

dalamnya terdapat dua bentuk umum tindakan yang terjadi yaitu pertunjukkan

pesan dan penafsiran pesan. Pertunjukkan pesan berarti menyebarkan sesuatu

sehingga dapat terlibat secara lengkap dan menyenangkan. Sedangkan penafsiran

pesan yaitu menguraikan atau memahami sesuatu.4

Dari pengertian diatas dapat dirangkum bahwa komunikasi ialah suatu

proses antara komunikator dan komunikan dalam menyampaikan pesan,informasi,

gagasan dan ide melalui media tertentu dimana efek dari penyampaian ini adalah

untuk mempengaruhi kognitif, afektif dan behavioralnya.

1. Unsur-unsur Komunikasi

a. Komunikator

Semua peristiwa komunikasi akan melibatkan sumber sebagai pembuat

atau pengirim informasi. Dalam komunikasi antarmanusia, sumber bisa terdiri

dari satu orang, tetapi bisa juga dalam bentuk kelompok misalnya partai,

3
Ibid, h. 22.
4
[Link] Pace dan Don [Link], Komunikasi Organisasi ( Bandung,
Rosdakarya,2006), h. 26-28.
26

organisasi atau lembaga. Sumber sering disebut pengirim, komunikator atau

dalam bahasa inggrisnya disebut source, sender, atau encoder.5

Komunikator adalah individu ataupun kelompok yang mengambil

prakarsa ataupun yang sedang mengadakan komunikasi dengan individu ataupun

kelompok(sasaran) yang lain.6

Persamaan makna dalam proses komunikasi sangat bergantung pada

komunikator, maka dari itu terdapat syarat-syarat yang diperlukan oleh

komunikator, diantaranya :

1) Memiliki kredibilitas yang tinggi bagi komunikannya

2) Kemampuan berkomunikasi

3) Mempunyai pengetahuan yang luas

4) Sikap

5) Memiliki daya tarik,dalam arti memiliki kemampuan untuk melakukan

perubahan sikap atau perubahan pengetahuan pada diri komunikan.7

b. Pesan

Pesan yang dimaksud dalam proses komunikasi adalah suatu yang

disampaikan pengirim kepada penerima. Pesan dapat disampaikan dengan cara

tatap muka atau melalui media komunikasi. Isinya bisa berupa imu pengetahuan,

hiburan, informasi, nasihat atau propaganda. Dalam bahasa inggris pesan biasanya

diterjemahkan dengan kata message,content, atau information.8

5
Hafied Cangara,[Link] , h. 27.
6
Astrid, Komunikasi Dalam Teori Dan Praktek (Jakarta: Binacipta,1974), h. 2.
7
Effendy, Kepemimpinan dan Komunikasi (Yogyakarta: Al-Amin Press, 1996) , h. 59.
8
Hafied Cangara,[Link] , h. 27.
27

Di dalam hidup manusia maka informasi mempunyai peranan yang

penting, 90% kegiatan manusia dilakukan dengan berkomunikasi. Definisi

informasi dijelaskan oleh Norbert Wiener bahwa informasi adalah nama untuk

kegiatan pengawasan terhadap apa yang ditukar-menukarkan dengan dunia luar,

sehingga kita dapat menyesuaikan diri terhadapnya dan berdasarkan informasi

tersebut memang merasakan bahwa penyesuaian terjadi karenanya.9

Pengklasifikasian pesan menurut bahasa dapat pula dibedakan atas

pesan verbal dan nonverbal. Pesan verbal dalam organisasi misalnya seperti surat,

memo,pidato, percakapan. Sedangkan pesan nonverbal dalam organisasi terutama

sekali yang tidak diucapkan atau tidak ditulis seperti, bahasa gerakan

badan,sentuhan, nada suara, ekspresi wajah, dan sebagainya.

Klasifikasi pesan menurut penerima yang diharapkan dapat pula

dibedakan atas pesan internal dan eksternal. Pesan internal khusus dipakai

karyawan dalam organisasi misalnya memo, buletin, dan rapat-rapat. Sedangkan

pesan eksternal adalah untuk memenuhi kebutuhan organisasi sebagai sistem

terbuka yang berkaitan dengan lingkungan dan masyarkat umum. Pesan eksternal

ini misalnya iklan, usaha hubungan dengan masyarakat, usaha mengenai

penjualan atau pelayanan.

Para ahli Goldhaber (1986) menggunakan klasifikasi pesan yang baru

yaitu inovasi. Pesan inovasi ini adalah sangat penting bagi organisasi untuk

menyesuaikan diri dengan lingkungan yang selalu berubah-ubah. Pesan inovsi ini

9
Astrid, Opcit, h. 2.
28

misalnya rencana baru organisasi, kegiatan baru, program baru atau pengarahan

yang membangkitkan pemecahan masalah.10

c. Media

Para ahli Assegaff mengemukakan media bahwa peranan media dalam

kehidupan manusia untuk menyampaikan informasi pada akhir-akhir ini tidak

dapat diragukan lagi. Sejak ditemukannya radio dan televisi digunakannya media

tadi dalam kampanye pemilu di Amerika pada tahun tiga puluhan, sehingga ada

tanggapan bahwa calon kontestan pemilu yang dapat menguasai media tadi akan

keluar menjadi pemenangnya. Potensi media sebagai alat untuk memengaruhi

keputusan pada setiap individu menjadi demikian terpercaya.11

Ada yang menilai bahwa media bisa bermacam-macam bentuknya,

misalnya dalam komunikasi antarpribadi pancaindra dianggap sebagai media

komunikasi. Selain indra manusia, ada juga saluran komunikasi seperti telepon,

surat, telegram yang digolongkan sebagai media komunikasi antarpribadi.

Dalam komunikasi massa, media adalah alat yang dapat menghubungkan

antara sumber dan penerima yang sifatnya terbuka,dimana setiap orang dapat

melihat, membaca, dan mendengarnya. Media dalam komunikasi massa dapat

dibedakan atas dua macam, yakni media cetak dan media elektronik. Media cetak

seperti halnya surat kabar, majalah, buku, leaflet, brosur, stiker, buletin, hand out,

poster, spanduk , dan sebagainya. Sementara itu, media elektronik antara lain:

10
Khomsahrial Romli, Komunikasi Organisasi Lengkap (Jakarta: Grasindo,2014), h. 14-
15.
11
[Link], Studi Ilmu Komunikasi ([Link]: FDIK Raden Intan Lampung,2009), h.
24.
29

radio, film, televisi, video recording, komputer, elektronik board, audio casette

dan semacamnya.12

d. Penerima

Penerima adalah pihak yang menjadi sasaran pesan yang dikirim oleh

sumber. Penerima bisa terdiri satu orang atau lebih, bisa dalam bentuk kelompok,

partai atau negara. Penerima bisa disebut dengan berbagai macam istilah , seperti

khalayak, sasaran, komunikan, atau dalam bahasa Inggris disebut Audience atau

receiver. Dalam proses komunikasi telah dipahami bahwa keberadaan penerima

adalah akibat karena adanya sumber. Tidak ada penerima jika tidak ada sumber.

Penerima adalah elemen penting dalam proses komunikasi, karena

dialah yang menjadi sasaran dari komunikasi. Jika pesan tidak diterima oleh

penerima, akan menimbulkan berbagai macam masalah yang sering kali menuntut

perubahan, apakah pada sumber, pesan, atau saluran.13

e. Efek

Pengaruh atau efek adalah perbedaan antara apa yang dipikirkan,

dirasakan, dan dilakukan oleh penerima sebelum dan sesudah menerima pesan.

Pengaruh ini bisa terjadi pada pengetahuan, sikap dan tingkah laku seseorang.

Oleh karena itu, pengaruh bisa juga diartikan perubahan atau penguatan keyakinan

pada pengetahuan, sikap, dan tindakan seseorang sebagai akibat penerimaan

pesan.14

12
Hafied Cangara,Pengantar Ilmu Komunikasi (Jakarta:Rajawali Pers,2012), h. 28.
13
Ibid, h. 29.
14
Ibid, h. 29.`
30

B. Komunikasi Bersifat Prosesual, Dinamis, dan Transaksional

Komunikasi sebagai proses ini dapat dianalogikan dengan apa yang dikatakan

Heraclitus enam abad sebelum Masehi bahwa “seseorang manusia tidak akan

pernah melangkah di sungai yang sama dua kali”. Pada saat yang kedua itu,

manusia itu berbeda, dan begitu juga sungainya. Ketika kita menyeberangi sungai

untuk kedua kali, ketiga kali dan seterusnya pada hari yang lain, maka

sesungguhnya penyeberangan itu bukanlah fenomena yang sama. Kita sendiri

sudah berubah, dari segi usia lebih tua, dari pengalaman juga lebih meningkat.15

Berdasarkan teori tersebut bahwa komunikasi bersifat prosesual para peserta

komunikasi saling memengaruhi, seberapa kecil pun pengaruh itu baik lewat

komunikasi verbal ataupun lewat komunikasi nonverbal. Komunikasi terjadi

sekali waktu dan kemudian menjadi bagian dari sejarah kita.

Implikasi dari komunikasi sebagai proses yang dinamis dan transaksional

adalah bahwa para peserta komunikasi berubah (dari sekedar berubah

pengetahuan hingga berubah pandangan dunia dan perilakunya). Ada orang yang

perubahannya sedikit demi sedikit dari waktu ke waktu, tetapi perubahan akhirnya

(secara kumulatif) cukup besar. Namun ada juga orang yang berubah secara tiba-

tiba, misalnya cuci otak atau konversi agama. Misalnya dari seorang nasionalis

menjadi komunis, atau dari seorang Hindu menjadi seorang Kristen atau Muslim.

Implikasi dalam proses komunikasi sebagai transaksi ini adalah proses

penyandian ( encoding ) dan penyandian-balik ( decoding ). Kedua proses itu,

meskipun secara teoritis dapat dipisahkan, sebenarnya terjadi serempak, bukan

15
Deddy Mulyana, Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar (Bandung : [Link]
Rosdakarya,2001), h. 110.
31

bergantian. Keserempakan inilah yang menandai komunikasi sebagai transaksi.

Jadi, kita tidak menyandi pesan, lalu menunggu untuk menyandi balik respons

orang lain. Hal tersebut dilakukan pada saat yang hampir bersamaan ketika

berkomunikasi.

Berdasarkan teori tersebut pandangan dinamis dan transaksional memberi

penekanan bahwa mengalami perubahan sebagai hasil terjadinya komunikasi.

Komunikasi dengan sifat dinamis ini menggambarkan proses komunikasi dengan

komunikan yaitu komunikasi berubah, peserta komunikasi mengalami perubahan

pengetahuan hingga perubahan perilaku. Sedangkan komunikasi dengan sifat

transaksional ini menggambarkan adanya umpan balik yang dilakukan

komunikator yang kemudian langsung menerima respons.

C. Komunikasi Bersifat Nonsekuensial

Ketika seseorang berbicara kepada seseorang lainnya, atau kepada

sekelompok orang seperti dalam rapat atau kuliah, sebenarnya komunikasi itu

berjalan dua-arah, karena orang-orang yang kita anggap sebagai pendengar atau

penerima pesan sebenarnya juga menjadi pembicara atau pemberi pesan pada saat

yang sama, yaitu lewat perilaku nonverbal mereka.16

Beberapa pakar komunikasi mengakui sifat sirkuler atau dua arah

komunikasi ini, misalnya Tubbs. Komunikasi sirkuler ditandai dengan beberapa

hal berikut:17

16
Ibid, h.107-108.
17
Stewart [Link] dan Sylvia Moss, Human Communication, Edisi ke-7. Newyork:
McGraw-Hill, 1994
32

1. Orang-orang yang berkomunikasi dianggap setara, misalnya

komunikator A dan komunikator B, komunikator 1 dan komunikator 2,

bukan pengirim (sender) dan penerima (receiver), sumber (source) dan

sasaran (destination), atau yang sejenisnya. Dengan kata lain, mereka

mengirim dan menerima pesan pada saat yang sama.

2. Proses komunikasi berjalan timbal balik ( dua-arah), karena itu

modelnya pun tidak lagi ditandai dengan suatu garis lurus bersifat linier

(satu-arah).

3. Dalam praktiknya, kita tidak lagi membedakan pesan dengan umpan

balik, karena pesan komunikator A sekaligus umpan balik bagi

komunikator B dan sebaliknya umpan balik B sekaligus merupakan

pesan B, begitu seterusnya.

4. Komunikasi yang terjadi sebenarnya jauh lebih rumit, misalnya

komunikasi antara dua orang juga sebenarnya secara simultan

melibatkan komunikasi dengan diri sendiri (berpikir) sebagai

mekanisme untuk menanggapi pihak lainnya. Seperti yang dikatakan

Samovar dan Porter, sapaan “Halo” kepada seseorang kawan saja

misalnya melibatkan komponen-komponen yang beroperasi hampir pada

saat yang sama, mulai dari proses kimiawi dalam otak kita hingga

gerakan bibir kita untuk mengeluarkan bunyi.

Meskipun sifat sirkuler digunakan untuk menandai proses komunikasi,

unsur-unsur proses komunikasi sebenarnya tidak terpola secara kaku. Pada

dasarnya, unsur-unsur tersebut tidak berada dalam susunan tatanan yang bersifat
33

linier, sirkuler, helikal atau tatanan lainnya. Unsur-unsur proses komunikasi boleh

jadi beroperasi dalam suatu tatanan tadi, tetapi mungkin pula setidaknya sebagian

dalam suatu tatanan yang acak. Oleh karena itu, sifat nonsekuensial alih-alih

sirkuler tampaknya lebih tepat digunakan untuk menandai proses komunikasi. 18

D. Organisasi

1. Pengertian Organisasi

Dalam usaha memenuhi kebutuhan hidupnya manusia memerlukan

manusia lain. Usaha untuk mempermudah pemenuhan kebutuhan tersebut dengan

membentuk hubungan kerja sama dan selanjutnya membentuk kelompok-

kelompok. Tujuan dari usaha manusia akan lebih mudah diperoleh dengan cara

bersama-sama. Organisasi adalah wadah yang memungkinkan masyarakat dapat

meraih hasil yang sebelumnya tidak dapat dicapai oleh individu secara sendiri-

sendiri. Organisasi merupakan suatu unit terkoordinasi yang terdiri setidaknya dua

orang, berfunngsi mencapai satu sasaran tertentu atau serangkaian sasaran.19

Sebagaimana firman Allah yang menerangkan tentang organisasi dalam

buku Kepemimpinan dan Pelaku Organisasi oleh Veithzal Rivai, Surat An-nisa

ayat 71 :

          

18
Bert [Link], Fundamentals of Speech Communication: The Credibility of Ideas, (
Dubuque: [Link], 1981), h. 5-6.
19
Veithzal Rivai,Kepeminpinan dan Perilaku Organisasi (Jakarta :
[Link],2012), h. 169.
34

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, bersiap siagalah kamu, dan


majulah (ke medan pertempuran) berkelompok-kelompok, atau
majulah bersama-sama!” (Q.S An-nisa [4] : 71).

Organisasi sebagai sistem kerjasama adalah suatu sistem mengenai

pekerjaan-pekerjaan yang dirumuskan dengan baik, dan masing-masing pekerjaan

mengandung wewenang, tugas dan tanggung jawab tertentu yang memungkinkan

orang-orang dari suatu organisasi dapat bekerjasama secara efektif dalam usaha

mencapai tujuan bersama.20

Organisasi sebagai sistem tata hubungan kerja adalah suatu sistem tata

hubungan kerja yang sangat rumit tetapi sistematis sehingga dapat menimbulkan

suatu bentuk kerjasama yang baik dan serasi diantara para anggota atau unit

satuan kerja yang ada sebagai usaha untuk mencapai tujuan bersama.21

Dari ketiga penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa organisasi

merupakan suatu unit yang terkoordinasi dengan dua orang untuk mencapai suatu

sasaran atau kebutuhan yang dilakukan secara bersama-sama. Organisasi juga

merupakan sistem kerjasama dan sistem tata hubungan kerja dimana sistem kerja

dirumuskan dengan baik yang kemudian dipertanggung jawabkan secara bersama

untuk mencapai tujuan, sedangkan sistem tata hubungan kerja menjalin hubungan

baik kerjasama bersama para anggota untuk mencapai tujuan. Misalnya dalam

perusahaan manager harus mengkoordinasikan kegiatan karyawan-karyawannya

sehingga pekerjaan masing-masing berjalan lancar.

Weick dalam buku komunikasi organisasi lengkap menyatakan bahwa

“kata organisasi adalah kata benda, kata ini juga merupakan suatu mitos”. Bila

20
Wursanto,Dasar-dasar Ilmu Organisasi (Yogya :[Link] Offset,2003), h. 44.
21
Ibid, h. 46.
35

anda mencari organisasi, anda tidak akan menemukannya. Yang akan anda

temukan adalah sejumlah peristiwa yang terjalin bersama-sama, yang berlangsung

dalam kawasan nyata, jalur-jalurnya dan pengaturan temponya merupakan bentuk-

bentuk yang seringkali kita nyatakan secara tidak tepat bila kita membicarakan

organisasi. Fokusnya jelas, yaitu pengorganisasian alih-alih organisasi.

Penekananya terletak pada aktivitas dan proses. Organisasi adalah suatu sistem

yang menyesuaikan dan menopang dirinya dengan mengurangi ketidakpastian

yang dihadapinya. Ini merupakan suatu sistem mengenai “perilaku-perilaku yang

bertautan”, dan ini merupakan kunci bagi berfungsinya organisasi tersebut.

Perilaku-perilaku dikatakan saling bertautan bila seseorang bergantung kepada

perilaku orang lain.22

2. Kekuasaan dalam Organisasi

Orang-orang yang berada pada puncak pimpinan suatu organisasi

seperti direktur, manajer, kepala bagian dan sebagainya, memiliki kekuasaan

(power) dalam konteks mempengaruhi perilaku orang-orang yang secara

struktural organisatoris berada di bawahnya. Sebagian pemimpin menggunakan

kekuasaan dengan efektif, sehingga mampu menumbuhkan motivasi bawahan

untuk bekerja dan melaksanakan tugas dengan lebih baik.

Dalam pengertiannya, kekuasaan adalah kualitas yang melekat dalam

satu interaksi antara dua atau lebih individu (a quality inherent in an interaction

between two or more individuals). Jika setiap individu mengadakan interaksi

22
Khomsahrial Romli, Komunikasi Organisasi Lengkap (Jakarta: Grasindo,2014), h. 37-
38.
36

untuk mempengaruhi tindakan satu sama lain, maka muncul dalam interaksi

tersebut adalah pertukaran kekuasaan.

Menurut French dan Raven, ada lima tipe kekuasaan, yaitu: reward,

coercive, referent, expert, dan legitimate power.

[Link] Power

Tipe kekuasaan ini memusatkan perhatian pada kemampuan untuk

memberi ganjaran atau imbalan atas pekerjaan atau tugas yang dilakukan orang

lain. Kekuasaan ini akan terwujud melalui suatu kejadian atau situasi yang

memungkinkan orang lain menemukan kepuasan.

[Link] Power

Kekuasaan yang bertipe paksaan ini, lebih memusatkan pandangan

kemampuan untuk memberi hukuman kepada orang lain. Tipe koersif ini berlaku

jika bawahan merasakan bahwa atasannya mempunyai lisensi untuk menghukum

dengan tugas-tugas sulit, mencaki-maki sampai memotong gaji karyawan.

[Link] Power

Tipe kekuasaan ini didasarkan pada suatu hubungan „kesukaan‟

atau liking, dalam arti ketika seseorang mengidentifikasi orang lain yang

mempunyai kualitas atau persyaratan seperti yang diinginkannya. Dalam uraian

yang lebih konkret, seorang pimpinan akan mempunyai referensi terhadap

bawahannya yang mampu melaksanakan pekerjaan dan bertanggung jawab atas

pekerjaan yang diberikan atasannya.


37

[Link] Power

Kekuasaan yang berdasar pada keahlian ini, memfokuskan diri pada

suatu keyakinan bahwa seseorang yang mempunyai kekuasaan, pastilah ia

memiliki pengetahuan, keahlian dan informasi yang lebih banyak dalam suatu

persoalan tertentu. Seorang atasan akan dianggap memiliki pengetahuan tentang

pemecahan suatu persoalan, kalau bawahannya selalu berkonsultasi dan menerima

jalan pemecahan yang diberikan pimpinan.

[Link] Power

Kekuasaan yang sah adalah kekuasaan yang sebenarnya (actual

power), ketika seseorang melalui suatu persetujuan dan kesepakatan diberi hak

untuk mengatur dan menentukan perilaku orang lain dalam suatu organisasi. Tipe

kekuasaan ini masih bersandar pada struktur sosial dalam suatu organisasi, dan

terutama pada nilai-nilai kultural.23

E. Komunikasi Organisasi

1. Pengertian Komunikasi Organisasi

Dalam buku Komunikasi Organisasi karya Khomsahrial mengutip

perkataan Wiryanto (2005) menjabarkan bahwa definisi komunikasi organisasi

adalah pengiriman dan penerimaan berbagai pesan organisasi di dalam kelompok

formal maupun informal dari suatu organisasi. Komunikasi formal adalah

komunikasi yang disetujui oleh organisasi itu sendiri dan sifatnya berorientasi

kepentingan organisasi. Isinya berupa cara kerja di dalam organisasi,

23
Syaiful Rohim, Teori Komunikasi Perspektif, Ragam, dan Aplikasi ( Jakarta:Rineka
Cipta,2009) , h. 118-120.
38

produktivitas, dan berbagai pekerjaan yang harus dilakukan dalam organisasi.

Misalnya : memo, kebijakan, pertanyaan, jumpa pers, dan surat-surat resmi.

Adapun komunikasi informal adalah komunikasi yang disetujui secara sosial.24

Jika Wiryanto (2005) memandang komunikasi organisasi dibagi atas

komunikasi formal dan informal, lain halnya dengan persepsi Redding dan

Sanborn yang dikutip oleh Arni Muhammad dalam buku Teori Komunikasi,

mereka mengatakan bahwa komunikasi organisasi adalah pengiriman dan

penerimaan informasi dalam organisasi yang kompleks. Yang termasuk dengan

bidang ini adalah komunikasi internal, hubungan manusia, hubungan persatuan

pengelola, komunikasi downward, komunikasi upward dan lain-lain.25

Berbeda dengan Thayer mengatakan bahwa komunikasi organisasi

merupakan arus data yang akan melayani komunikasi organisasi dan proses

interkomunikasi dalam beberapa cara. Dia memperkenalkan tiga sistem

komunikasi dalam organisasi yaitu pertama, berkenaan dengan kerja organisasi

seperti data mengenai tugas-tugas atau beroperasinya organisasi; kedua,

berkenaan dengan pengaturan organisasi seperti perintah, aturan dan petunjuk;

ketiga, berkenaan dengan pemeliharaan dan pengembangan organisasi seperti

hubungan dengan personal dan masyarakat dan pihak eksternal lainnya.

Dalam hal ini [Link] Pace dan Don F. Faules dalam buku komunikasi

organisasi memiliki sudut pandang yang lain mengenai komunikasi organisasi

menjabarkan bahwa definisi komunikasi organisasi dapat dilihat dari dua sudut

24
Khomsahrial Romli, [Link], h. 2.
25
Syaiful Rohim, Teori Komunikasi Perspektif, Ragam dan Aplikasi ( Jakarta:Rineka
Cipta,2009) , h. 110.
39

pandang yaitu definisi subjektif dan definisi objektif. Keduanya memiliki ciri khas

masing-masing.

Komunikasi organisasi dalam perspektif subjektif adalah „ perilaku


pengorganisasian‟ yang terjadi dan bagaimana mereka yang terlibat dalam
proses itu berinteraksi dan memberi makna atas apa yang terjadi. Pada
prespektif ini yang ditekankan adalah proses penciptaan makna atas
interaksi yang menciptakan, memelihara, dan mengubah organisasi.
Sedangkan dalam definisi objektif adalah komunikasi organisasi sebagai
pertunjukkan dan penafsiran pesan diantara unit-unit komunikasi yang
merupakan bagian dari suatu organisasi tersebut.26

Dari keempat pengertian diatas maka dapat disimpulkan bahwa

komunikasi organisasi adalah suatu proses komunikasi yang berada di dalam

organisasi , dimana komunikasi ini merupakan proses penerimaan dan pengiriman

informasi organisasi secara kompleks. Komunikasi tersebut memberikan makna

atas apa yang terjadi antara hubungan dengan personal dan masyarakat.

2. Fungsi Komunikasi dalam Organisasi

Ada dua fungsi komunikasi organisasi, yakni fungsi umum dan fungsi

khusus :

a. Fungsi umum

1) To tell. Komunikasi berfungsi untuk menceritakan informasi

terkini mengenai sebagian atau keseluruhan hal yang berkaitan dengan pekerjaan.

Terkadang komunikasi merupakan proses pemberian informasi mengenai

bagaimana seorang atau sekelompok orang harus mengerjakan satu tugas tertentu.

Contohnya, job description.

26
[Link] Pace dan Don F. Faules, Komunikasi Organisasi (Bandung:Rosdakarya,
2006) , h. 33.
40

2) To sell. Komunikasi berfungsi untuk “menjual” gagasan dan ide,

pendapat, fakta, termasuk menjual sikap organisasi dan sikap tentang sesuatu yang

merupakan subjek layanan. Contohnya, public relations (humas), pameran, ekspo,

dan lain-lain.

3) To learn. Komunikasi berfungsi untuk meningkatkan kemampuan

para karyawan agar mereka bisa belajar dari orang lain (internal), belajar tentang

apa yang dipikirkan, dirasakan, dan dikerjakan orang lain, tentang apa yang

“dijual” atau yang diceritakan oleh orang lain tentang organisasi.

4) To decide. Komunikasi berfungsi untuk menentukan apa dan

bagaimana organisasi membagi pekerjaan, atau siapa yang menjadi atasan dan

siapa yang menjadi bawahan, besaran kekuasaan dan kewenangan, menentukan

bagaimana menangani sejumlah orang, bagaimana memanfaatkan sumber daya,

serta mengalokasikan manusia, mesin, metode, dan teknik dalam organisasi.27

b. Fungsi khusus

1) Membuat para karyawan melibatkan diri kedalam isu-isu organisasi,

lalu menerjemahkannya kedalam tindakan tertentu dibawah sebuah komando.

2) Membuat para karyawan menciptakan dan menangani relasi

antarsesama bagi peningkatan produk organisasi.

3) Membuat para karyawan memiliki kemampuan untuk menangani

atau mengambil keputusan-keputusan dalam suasana yang ambigu dan tidak

pasti.28

27
Alo Liliweri, Sosiologi dan Komunikasi Organisasi ( Jakarta: [Link] Aksara,2014),
h. 373.
28
Ibid, h. 374.
41

3. Arus Komunikasi dalam Organisasi

Komunikasi dalam organisasi atau lembaga adalah unsur penting.

Karena dalam komunikasi ada interaksi sosial yang ditandai adanya pertukaran

makna untuk menyatukan perilaku atau tindakan setiap individu. Dengan adanya

komunikasi akan memudahkan pimpinan dalam menyampaikan informasi kepada

anggotanya untuk mencapai tujuan utama organisasi.

Dalam berkomunikasi terdapat arus informasi yang diperhatikan,

bahwa arus komunikasi dalam organisasi meliputi komunikasi vertikal dan

komunikasi horizontal. Masing-masing arus komunikasi tersebut mempunyai

perbedaan fungsi yang sangat jelas. Adler dan George Rodman dalam buku

Understanding Human Communication, mencoba menguraikan fungsi masing-

masing arus komunikasi dalam organisasi tersebut.

a. Komunikasi Vertikal

Komunikasi vertikal adalah arus komunikasi yang terjadi dari

atas ke bawah (downward communication) dan dari bawah ke atas ( upward

communication ). Komunikasi ini berlangsung ketika orang-orang yang berada

pada tataran manajemen mengirimkan pesan kepada bawahannya. Alur ini

memiliki fungsi sebagai berikut :

1) Pemberian atau penyampaian instruksi kerja (job instruction).

2) Penjelasan dari pimpinan tentang mengapa suatu tugas perlu

untuk dilaksanakan (job rationale).


42

3) Penyampaian informasi mengenai peraturan-peraturan yang

berlaku (procedures and practices).

4) Pemberian motivasi kepada karyawan untuk bekerja lebih baik.

Selain di atas, komunikasi juga mengalir dari bawahan ke atasan

atau upward communication. Metode yang digunakan dalam penyampaian

informasi bisa dengan lisan, tulisan, gambar, skema, atau kombinasi diantara

semuanya. Metode upward communication memiliki beberapa fungsi, yaitu :

1) Penyampaian informasi tentang pekerjaan ataupun tugas yang

sudah dilaksanakan.

2) Penyampaian informasi tentang persoalan-persoalan pekerjaan

ataupun tugas yang tidak dapat diselesaikan oleh bawahan.

3) Penyampaian saran-saran perbaikan dari bawahan.

4) Penyampaian keluhan dari bawahan tentang dirinya sendiri

maupun pekerjaannya.

b. Komunikasi Horizontal

Komunikasi Horizontal adalah arus informasi yang terjadi secara

mendatar atau sejajar diantara para karyawan ataupun bagian yang memiliki

kedudukan yang setara. Fungsi arus komunikasi horizontal ini adalah :

1) Memperbaiki koordinasi tugas.

2) Upaya pemecahan masalah.

3) Saling berbagi informasi.

4) Upaya memecahkan konflik.


43

5) Membina hubungan melalui kegiatan bersama.29

D. Kepemimpinan

1. Pengertian Kepemimpinan

Dalam organisasi formal dan non formal selalu ada seseorang yang

dianggap lebih dari yang lain. Seseorang yang memiliki kemampuan lebih

tersebut kemudian diangkat atau ditunjuk sebagai orang yang dipercayakan untuk

mengatur orang lainnya. Biasanya orang yang seperti itu disebut pemimpin.

Sedangkan pengertian kepemimpinan menurut istilah, dalam hal ini

para ahli banyak berpendapat, Veithzal Rivai dalam buku Kepemimpinan dan

perilaku organisasi yang mengatakan bahwa “ kepemimpinan adalah proses untuk

mempengaruhi orang lain, baik di dalam organisasi maupun di luar organisasi

untuk mencapai tujuan yang diinginkan dalam suatu situasi dan kondisi tertentu.

Proses mempengaruhi tersebut sering melibatkan berbagai kekuasaan seperti

ancaman, penghargaan, otoritas, maupun bujukan.30

Menurut Khomsahrial Romli dalam buku Komunikasi organisasi

lengkap, mengatakan bahwa “ kepemimpinan adalah suatu proses kegiatan

seseorang untuk menggerakkan orang lain dengan memimpin, membimbing,

memengaruhi orang lain, untuk melakukan sesuatu agar dicapai hasil yang

diharapkan. Kemauan seorang pemimpin merupakan suatu sarana untuk mencapai

29
[Link] ,dkk,Teori Komunikasi (Jakarta: Universitas Terbuka, 1994), h. 133.
30
Veithzal Rivai,Kepeminpinan dan Perilaku Organisasi (Jakarta :
[Link],2012) , h. 2.
44

tujuan. Hal ini berarti bawahan dalam memenuhi kebutuhannya tergantung pada

keterampilan dan kemampuan pemimpin.31

Selain itu, Ordway Tead seperti yang dikutip Wursanto dalam bukunya

Dasar-dasar ilmu organisasi mendefinisikan kepemimpinan adalah kemampuan

untuk memengaruhi pihak lain bekerjasama guna mencapai tujuan tertentu untuk

melalui komunikasi baik langsung maupun tidak langsung.32

Dari ketiga pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan

adalah seni mempengaruhi orang lain dalam suatu situasi tertentu. Kepemimpinan

merupakan aktivitas atau kegiatan yang bersifat dinamis dilakukan oleh seorang

pemimpin atau leader. Dimana aktivitas seorang pemimpin yakni memimpin,

membimbing dan memengaruhi orang lain guna mencapai visi misi tertentu.

Ada empat teori terkenal yang menganalisa timbulnya seorang

pemimpin yaitu: teori kelebihan, teori sifat, teori sosial dan teori kharismatis.

a. Teori kelebihan

Teori ini beranggapan bahwa seseorang akan menjadi pemimpin

apabila ia memiliki kelebihan dari para pengikutnya. Pada dasarnya kelebihan

yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin mencakup 3 (tiga) hal, yaitu:

kelebihan ratio, kelebihan rohaniah, dan kelebihan badaniah.

1) Kelebihan ratio ialah kelebihan dalam menggunakan pikiran,

kelebihan dalam pengetahuan tentang hakikat tujuan dari organisasi, dan

kelebihan dalam memiliki pengetahuan tentang cara-cara menggerakkan

organisasi, serta dalam pegambilan keputusan yang cepat dan tepat.

31
Khomsahrial Romli, Komunikasi Organisasi Lengkap (Jakarta: Grasindo,2014), h. 92.
32
Wursanto,Dasar-dasar Ilmu Organisasi (Yogya:[Link] Offset,2003), h. 196.
45

2) Kelebihan rohaniah berarti seorang pemimpin harus mampu

menunjukkan keluhuran budi pekertinya kepada para bawahan. Seorang

pemimpin harus mempunyai moral yang tinggi karena pada dasarnya pemimpin

merupakan panutan para pengikutnya.

3) Kelebihan badaniah berarti seorang pemimpin hendaknya

memiliki kesehatan badaniah yang lebih dari para pengikutnya sehingga

memungkinkannya untuk bertindak dengan cepat. Akan tetapi masalah kelebihan

badaniah ini bukan merupakan faktor pokok atau faktor yang menentukan.

b. Teori sifat

Teori ini menyatakan bahwa seseorang dapat menjadi pemimpin

yang baik apabila memiliki sifat-sifat yang lebih daripada yang dipimpin.

Hendaknya seorang pemimpin mempunyai sifat-sifat yang positif sehingga para

pengikutnya dapat menjadi pengikut yang baik, dan memberikan dukungan

kepada pemimpinnya. Sifat-sifat kepemimpinan yang umum, misalnya bersifat

adil, suka melindungi, penuh percaya diri, penuh inisiatif, mempunyai daya tarik,

energik, persuasif, komunikatif, dan kreatif.

c. Teori Sosial

Teori sosial beranggapan bahwa pada dasarnya setiap orang dapat

menjadi pemimpin. Setiap orang mempunyai bakat untuk menjadi pemimpin asal

dia diberi kesempatan. Setiap orang dapat dididik menjadi pemimpin karena

masalah kepemimpinan dapat dipelajari. Yang menjadi masalah adalah apakah

orang yang bersangkutan mendapat kesempatan atau tidak. Banyak orang yang

mempunyai potensi untuk menjadi pemimpin, tetapi kesempatan tidak pernah


46

diberikan kepadanya. Apabila seseorang menjalankan kepemimpinan tidak mau

mempelajari ilmu kepemimpinan atau ilmu manajemen, maka dalam memimpin

organisasi ia pasti mengalami berbagai hambatan. Dengan mempelajari ilmu

kepemimpinan atau ilmu manajemen maka ia akan memperoleh cara-cara

mempengaruhi orang lain dan bagaimana teknik-teknik kepemimpinan yang baik.

d. Teori Kharismatis

Teori kharismatis menyatakan bahwa seseorang menjadi

pemimpin karena orang tersebut mempunyai kharisma (pengaruh) yang sangat

besar. Kharisma itu diperoleh dari Kekuatan Yang Maha Kuasa. Pemimpin yang

bertipe kharismatis biasanya memiliki daya tarik, kewibawaan dan pengaruh yang

sangat besar.33

2. Tipe-Tipe Kepemimpinan

Menurut Sutarto (2002) yang dikutip Khomsahrial Romli dalam

bukunya Komunikasi Organisasi Lengkap mendefinisikan tipe kepemimpinan

atau gaya pemimpin bahwa keberhasilan atau kegagalan pemimpin ditentukan

oleh gaya bersikap dan bertindak seorang pemimpin yang bersangkutan. Gaya

bersikap dan bertindak akan tampak dari cara memberi perintah, cara memberi

tugas, cara berkomunikasi, cara memberikan bimbingan, dan cara menegur

kesalahan bawahan.34

Selain itu, Veithzal Rivai dan Deddy Mulyadi dalam bukunya

Kepemimpinan dan perilaku organisasi mendefinisikan gaya kepemimpinan

adalah pola menyeluruh dari tindakan seorang pemimpin, baik yang tampak

33
Ibid, h. 197-200.
34
Khomsahrial Romli, [Link], h. 100.
47

maupun yang tidak tampak oleh bawahannya. Gaya kepemimpinan yang

menunjukkan secara langsung maupun tidak langsung, tentang keyakinan seorang

pimpinan terhadap kemampuan bawahannya. Artinya gaya kepemimpinan adalah

perilaku dan strategi, sebagai hasil kombinasi dari falsafah, keterampilan, sifat,

sikap, yang sering diterapkan seorang pemimpin ketika ia mencoba

mempengaruhi kinerja bawahannya.35

Ada enam berbagai tipe kepemimpinan antara lain: tipe otokratis, tipe

laisser faire, tipe paternalistik, tipe militeristik, tipe demokratis, dan tipe open

leadership.

a. Type Otokratis

Otokratis berasal dari kata otokrat, dari kata autos dan kratos.

Autos berarti sendiri, dan kratos berarti kekuatan atau kekuasaan (power). Jadi,

kepemimpinan otokratis adalah kepemimpinan yang mendasarkan kepada suatu

kekuasaan, kekuatan yang melekat pada dirinya.

Ciri-ciri kepemimpinan yang bertipe otokratis antara lain:

1) Mengandalkan kepada kekuatan atau kekuasaan yang melekat

pada dirinya.

2) Menganggap dirinya yang paling berkuasa (kuasa tunggal).

3) Menganggap dirinya paling mengetahui segala macam

persoalan, orang lain dianggap tidak tahu.

35
Veithzal Rivai,Kepeminpinan dan Perilaku Organisasi ( Jakarta :
[Link],2012), h. 42.
48

4) Keputusan-keputusan yang diambil secara sepihak, tidak

mengenal kompromi, sehingga ia tidak mau menerima saran dari

bawahan.

5) Keras dalam mempertahankan prinsip.

6) Jauh dari bawahan.

7) Perintah-perintah diberikan secara paksa.

8) Pengawasan dilakukan secara ketat agar perintah benar-benar

dilaksanakan.

b. Type Laisser Faire

Tipe Laisser faire pada umumnya dijalankan oleh pemimpin

yang tidak mempunyai keahlian teknis. Tipe laisser mempunyai ciri-ciri antara

lain:

1) Memberikan kebebasan sepenuhnya kepada para bawahan

untuk melakukan tindakan yang dianggap perlu sesuai dengan

bidang tugas masing-masing.

2) Pimpinan tidak terlibat dalam kegiatan sehingga pemimpin

tidak ikut berpartisipasi aktif dalam kegiatan kelompok.

3) Semua pekerjaan dan tanggungjawab dilimpahkan kepada

bawahan.

4) Tidak mampu mengadakan koordinasi dan pengawasan yang

baik.

5) Tidak mempunyai wibawa sehingga ia tidak ditakuti apalagi

disegani oleh bawahan.


49

6) Secara praktis pemimpin tidak menjalankan kepemimpinan

sehingga ia hanya merupakan simbol belaka.

Berdasarkan ciri-ciri di atas, pemimpin dengan tipe laisser faire

bukanlah pemimpin dalam arti yang sesungguhnya. Seorang pemimpin dengan

cara apapun diharapkan dapat menggerakkan bawahan sehingga organisasi dapat

tercapai.

c. Tipe Paternalistik

Tipe ini adalah tipe kepemimpinan yang bersifat kebapakan.

Pemimpin bertindak sebagai seorang bapak yang selalu memberikan perlindungan

kepada para bawahan dalam batas-batas kewajaran.

Ciri-ciri tipe paternalistik antara lain:

1) Pemimpin bertindak sebagai seorang bapak.

2) Memperlakukan bawahan sebagai orang yang belum

dewasa.

3) Selalu memberikan perlindungan kepada para bawahan

yang kadang-kadang terlalu berlebihan.

4) Keputusan ada di tangan pemimpin, bukan karena

pemimpin ingin bertindak otoriter, tetapi karena keinginan

dari pihak pimpinan yang ingin selalu memberi kemudahan

kepada bawahan.

5) Karena keputusan ada ditangan pimpinan, maka pimpinan

menganggap dirinya yang paling mengetahui segala macam

persoalan.
50

d. Tipe Militeristis

Tipe ini tidak hanya terdapat didalam kalangan militer saja,

tetapi banyak pemimpin instansi non-militer (sipil) yang menerapkan

kepemimpinan dengan tipe militeristis. Tipe militeristis mempunyai ciri-ciri:

1) Dalam mengadakan komunikasi, lebih banyak

mempergunakan saluran formal.

2) Dalam menggerakkan bawahan lebih banyak menggunakan

sistem komando/perintah, baik perintah itu secara lisan

maupun secara tertulis.

3) Segala sesuatu bersifat formal.

4) Disiplin yang tinggi, kadang-kadang bersifat kaku.

5) Karena segala sesuatunya melalui perintah, maka

komunikasi berlangsung hanya satu arah sehingga bawahan

tidak diberi kesempatan untuk mengemukakan pendapat.

6) Pimpinan menghendaki bawahan patuh terhadap semua

perintah yang diberikannya.

e. Tipe Demokratis

Pemimpin demokratis selalu berada di tengah-tengah para

bawahan sehingga ia terlibat dan berpartisipasi aktif dalam kegiatan organisasi.

Ciri-ciri tipe demokratis adalah:

1) Berpartisipasi aktif dalam kegiatan organisasi.

2) Bersifat terbuka.
51

3) Bawahan diberi kesempatan untuk memberikan saran-

saran, ide-ide baru.

4) Dalam mengambil keputusan lebih mengutamakan

musyawarah untuk mufakat.

5) Menghargai potensi setiap individu.

6) Pimpinan sering turba (turun kebawah melakukan

pembinaan dan penyuluhan, yang sekaligus melakukan

pengamatan terhadap hasil yang telah dicapai.

f. Tipe Open Leadership

Sebenarnya tipe open leadsership hampir sama dengan tipe

demokratis, perbedaannya hanya terletak dalam hal pengambilan keputusan.

Pimpinan memang memberikan kesempatan kepada para bawahan untuk

memberikan ssaran, tetapi keputusan tetap ada ditangan pimpinan. Apakah saran-

saran dari bawahan itu diterima dan dipakai atau tidak, hal itu tergantung kepada

pimpinan.36

3. Kepemimpinan dalam Islam

Pemimpin memang dibutuhkan oleh umat, baik masyarakat kecil,

apalagi masyarakat besar karena dengan adanya pemimpin umat akan lebih teratur

dan menjadi [Link], tanpa pemimpin akan terjadi keresahan, kekacauan

dan kehancuran. Oleh sebab itu Islam selalu membimbing pemeluknya agar hidup

bersama pemimpin, misalnya imam shalat, imam safar, amil zakat, pemimpin haji,

pemimpin rumah tangga, pemimpin perang dan negara.

36
Wursanto, [Link], h. 201-204.
52

Dalilnya sebagaimana disebutkan dan hadits Rasulullah shallallahu

„alaihi wa sallam, sabdanya "Setiap kalian adalah pemimpin. Dan setiap kalian

akan dimintai pertanggungjawaban terhadap yang dipimpinnya. Seorang Amir

adalah pemimpin. Seorang suami juga pemimpin atas keluarganya. Seorang

wanita juga pemimpin atas rumah suaminya dan anak-anaknya. Maka setiap

kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas

yang dipimpinnya." (HR. Bukhari)37

Pemimpin ideal yang memiliki ciri kepemimpinan Islam merupakan

dambaan bagi setiap orang. Sebab pemimpin itulah yang akan membawa maju-

mundurnya suatu organisasi, lembaga, negara dan bangsa. Oleh karenanya,

pemimpin mutlak dibutuhkan demi tercapainya kemaslahatan umat.

Imam Al-Mawardi dalam Al-Ahkam Al-Sulthoniyah menyinggung

mengenai hukum dan tujuan menegakkan kepemimpinan. Beliau mengatakan

bahwa menegakkan kepemimpinan dalam pandangan Islam adalah sebuah

keharusan dalam kehidupan bermasyarakat. Lebih lanjut, beliau mengatakan

bahwa keberadaan pemimpin dalam kepemimpinannya sangat penting. Artinya

antara lain karena kepemimpinan mempunyai dua tujuan:

a. Likhilafati an-Nubuwwah fi-Harosati ad-Din, yakni sebagai pengganti

misi kenabian untuk menjaga agama.

b. Wa Siyasati ad-Dun-yaa, untuk memimpin atau mengatur urusan

dunia.

37
Nawawi Hadari, Kepemimpinan Menurut Islam, (Yogyakarta: Gama University Press,
1993), h. 20.
53

Dengan kata lain bahwa tujuan suatu kepemimpinan dalam Islam

adalah untuk menciptakan rasa aman, keadilan, kemasylahatan, menegakkan amar

ma'ruf nahi munkar, mengayomi rakyat, mengatur dan menyelesaikan problem-

problem yang dihadapi masyarakat. Berbicara masalah hukum dalam

kepemimpinan islam, Al-Mawardi menulis bahwa kepemimpinan hukumnya

wajib.

F. Ciri Dasar dan Prinsip Pembinaan Keagamaan.

Menurut Omar Mohammad Al-Toumy Al-Syaibani bahwa ciri dasar

pembinaan keagamaan memiliki kriteria sebagai berikut:

a. Menonjolkan tujuan Agama dan akhlak mulia (karakter religius) pada

berbagai tujuannya. Kandungan, metode, alat dan tekniknya bercorak

keagamaan.

b. Meluaskan cangkupannya dan menyeluruh kandungannya, yaitu pola

pembinaan yang benar-benar mencerminkan semangat, pemikiran dan ajaran

Islam yang menyeluruh. Pembinaan memperhatikan pengembangan terhadap

segala aspek pribadi sasaran dari segi intelektual, psikologis, sosial dan

spritiual .

c. Bersikap seimbang diantara berbagai ilmu yang dikandung dalam materi

pembinaan yang akan diimplementasikan. Selain itu, juga seimbang antara

pengetahuan bagi pengembangan individual dan pengembangan sosial.

d. Bersifat menyeluruh dalam menata seluruh materi pembinaan yang

dibutuhkan oleh sasaran atau peserta didik.


54

e. Pola dan teknik pembinaan yang dirancang selalu disesuaikan dengan minat

dan bakat saran atau peserta didik atas dasar nilai-nilai luhur Agama.38

Selain memiliki ciri-ciri dasar sebagaimana tersebut diatas pembinaan

keagamaan juga harus memiliki tujuh prinsip sebagai berikut:

a. Sesuai dengan fitrah manusia sebagai makhluk yang mempercayai adanya

Tuhan. ( prinsip dasar keagamaan; religiousitas )

b. Sesuai dengan perkembangan kejiwaan, bakat dan kecerdasan peserta didik. (

prinsip dasar psikologis )

c. Meletakkan dasar-dasar kearah pengembangan sikap, pengetahuan,

keterampilan dan daya cipta yang diperlukan manusia untuk hidup

dilingkungan masyarakat.( prinsip dasar sosiologis )

d. Memberikan bekal atau kemampuan mengembangkan diri sesuai minat dan

bakat untuk memasuki jenjang kehidupan selanjutnya, menuju kearah masa

depan.( prinsip dasar pedagogis dan kesinambungan )

e. Memberikan bekal kemampuan dan keterampilan mempergunakan produk

ilmu pengetahuan dan teknologi. ( prinsip dasar Iptek )

f. Memberikan pemahaman, penghayatan dan pengamalan nilai-nilai budaya

bangsa yang berkembang di tengah-tengah masyarakat. ( prinsip dasar

nasionalisme dan kultural )39

38
Omar Mohammad al-Toumy al-Syaibani, Falsafah Pendidikan Islam, (terj.) Hasan
Langgulung, Falsafah al-Tarbiyah al-Islamiyah, ( Jakarta: Bulan Bintang, 1979), h. 490-512.
39
Bustami [Link] dan Salim Bahri, Dasar-dasar Pokok Pendidikan Karakter Islam,
(Jakarta: Bulan Bintang, 1987), h. 173-174.
55

G. Strategi Pembinaan Keagamaan

Strategi pembinaan keagamaan menurut Al-Qur‟an dan Hadist

menggunakan seluruh peluang dan kemungkinan yang sejalan dengan fitrah

manusia, yaitu memadukan antara teori (kognitif), penghayatan (afektif) dan

pengamalan ( psikomotorik); menggunakan pilar rumah tangga, sekolah dan

masyarakat. Dan diaktualisasikan atas dasar aspek ajaran Islam yakni meliputi,

akidah, ibadah, mu‟amalah, sejarah dan lain sebagainya, dengan menggunakan

pendekatan pembiasaan, bimbingan dan suri tauladan yang baik.40

Selanjutnya strategi pembinaan keagamaan yang sesuai dengan

petunjuk Al-Qur‟an telah berhasil dicontohkan oleh Nabi Muhammad Saw.

Sejarah mencatat bahwa Nabi Muhammad Saw adalah sebagai Nabi yang bisa

dikatakan paling berhasil sebagai penyempurna akhlak mulia. Adapun strategi

atas keberhasilan Nabi Muhammad Saw dalam membentuk akhlak mulia manusia

adalah dilakukan dengan cara sebagai berikut:

a. Mengubah pola pikir (mindset) umat manusia yang bertumpu pada keharusan

mempercayai dan mengikuti perintah Tuhan dalam arti yang seluas-luasnya.

b. Memberikan contoh-contoh konkret, mempraktikkan dan membiasakan

mengikuti perintah Tuhan tersebut dalam hubunganNya dengan berbuat baik

kepada sesama manusia, dan dengan alam jagad raya.41

c. Melalukan proses seleksi, akomodasi dan reintegrasi dengan nilai-nilai dan

adat istiadat („uruf) yang sesuai dan relevan.

40
Ibid, h.38.
41
Contoh dan pembiasaan akhlak mulia ini misalnya Rasulullah tunjukkan dalam hal
berumah tangga, berbuat baik kepada sahabat dan sesama, berjual beli, bergaul dengan komunitas
yang berbeda Agama, berdiplomasi, berperang dan memimpin Negara.
56

d. Melakukan perubahan, modifikasi, difusi, pembatalan dan penghapusan

terhadap akhlak masa lalu yang tidak baik dengan cara evolutif.

e. Berpijak pada konsep fitrah manusia sebagai makhluk yang mencintai

kebaikan (etika), keindahan (estetika), dan kebenaran ( logika).

f. Memberikan reward dan funishmen secara bijaksana terhadap setiap orang

yang melakukan pelanggaran terhadap ajaran Tuhan. 42

H. Tujuan Pembinaan Keagamaan

Tujuan pembinaan keagamaan menurut Al-Qur‟an dan Hadist bukan hanya

sekedar mengajarkan atau memberikan pengetahuan tentang baik dan buruk.

Melainkan upaya praktik dalam pembiasaan, menanamkan, mendarah dagingkan,

internalisasi dan transformasi nilai-nilai yang baik menurut ajaran Islam kedalam

diri seseorang secara utuh, terpadu dan seimbang.43Melalui pembinaan keagamaan

seseorang diharapkan mampu secara mandiri meningkatkan dan menggunakan

pengetahuannya, mengkaji dan menginternalisasikan serta mempersonalisasikan

nilai-nilai karakter keagamaan dan akhlak mulia sehingga terwujud dalam

perilaku sehari-hari.44

Pembinaan keagamaan pada satuan pendidikan atau organisasi mengarah

pada pembentukan budaya sekolah atau perguruan tinggi, yaitu nilai-nilai yang

melandasi perilaku, tradisi, kebiasaan sehari-hari, serta simbol-simbol yang

dipraktikkan oleh semua warga sekolah atau perguruan tinggi dan masyarakat

42
Abu Laila, Apa Kerugian Dunia Akibat Kemerosotan Umat Islam, (Jakarta:
Rajagrafindo, 1992), h. 126-137.
43
Bustami [Link] dan Salim Bahri,[Link]. h. 112.
44
E. Mulyasa, Manajemen Pendidikan Karakter ( Jakarta: PT Bumi Aksara, 2013 ), h. 9.
57

sekitarnya. Budaya sekolah atau perguruan tinggi merupakan ciri khas, karakter

atau watak dan citra sekolah atau perguruan tinggi tersebut dimata masyarakat

luas.45

Dari tujuan pembinaan keagamaan tersebut dapat disimpulkan bahwa Al-

Qur‟an dan Hadist bukan sekedar mengajarkan hal yang baik atau buruk

melainkan prakik menjadikan seseorang terbiasa menanamkan nilai-nilai ajaran

Islam, dan berakhlak mulia kedalam kehidupan sehari-hari.

I. Indikator Keberhasilan Pembinaan Keagamaan

Indikator keberhasilan pembinaan keagamaan dapat diketahui dari pribadi

peserta didik secara utuh dalam berbagai perwujudan perilaku sehari-hari yang

tampak dalam setiap aktivitas dan sebagai berikut:

1. Mengamalkan ajaran Agama yang dianut sesuai dengan tahap perkembangan

peserta didik.

2. Memahami kekurangan dan kelebihan diri sendiri.

3. Menunjukan sikap percaya diri.

4. Mematuhi aturan-aturan sosial yang berlaku dalam lingkungan yang lebih luas.

5. Menghargai kebergaman agama, budaya, suku, ras, dan golongan sosial

ekonomi dalam lingkungan nasional.

6. Mencari dan menerapkan informasi dari lingkungan sekitar dan sumber-sumber

lain secara logis, kritis, dan kreatif.

7. Menunjukkan kemampuan berfikir logis, kritis, kreatif dan inovatif.

45
Ibid, h. 10.
58

8. Menunjukkan kemampuan belajar secara mandiri sesuai dengan potensi yang

dimilikinya.

9. Menunjukkan kemampuan menganalisis dan memecahkan masalah dalam

kehidupan sehari-hari.

10. Mampu mendeskripsikan gejala alam dan sosial.

11. Memanfaatkan lingkungan secara bertanggung jawab.

12. Menerapkan nilai-nilai kebersamaan dalam kehidupan bermasyarakat, bangsa

dan bernegara demi terwujudnya persatuan dan kesatuan Republik Indonesia.

13. Menghargai karya seni dan budaya nasional.

14. Menghargai tugas pekerjaan dan memiliki kemampuan untuk berkarya.

15. Menerapkan hidup bersih dan sehat serta mampu memanfaatkan waktu luang

dengan baik.

16. Mampu berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif dan santun.

17. Memahami hak dan kewajiban diri sendiri dan orang lain dalam pergaulan di

masyarakat serta menghargai adanya perbedaan pendapat.

18. Menunjukkan keterampilan dalam menyimak, membaca, dan berbicara serta

menulis.

19. Menguasai pengetahuan yang cukup untuk mengikuti pendidikan kejenjang

yang lebih tinggi.46

Berdasarkan indikator keberhasilan dalam pembinaan keagamaan tersebut

jelas diketahui akan tampak wujud tingkah laku dari yang dibina didalam

kehidupan sehari-hari. Mulai dari pengamalan agama yang sudah diajarkan,

46
Ibid, h. 12.
59

tumbuhnya rasa percaya diri dan tanggung jawab, menunjukkan kemampuan

berfikir secara logis, kreatif sampai dapat mengetahui pengetahuan yang lebih

untuk pendidikan yang lebih tinggi.


60

BAB III

GAMBARAN UMUM

FORUM KERJASAMA ALUMNI ROHIS DAN ROHIS

A. Forum Kerjasama Alumni Rohis (FKAR)

1. Sejarah dan Perkembangan Forum Kerjasama Alumni Rohis (FKAR)

Atas dasar pemahaman bahwa pelajar atau remaja adalah elemen

masyarakat yang memiliki jumlah besar dan rentan dengan masalah, maka dakwah di

kalangan pelajar adalah suatu keniscayaan. Sangat naif untuk tidak terjun di dunia

dakwah remaja dalam kondisi jaman yang semakin tidak menentu ini. Pertengahan

1998, beberapa alumni yang rata-rata ketika di SMA-nya aktif di Rohis, sepakat

untuk membuat organisasi yang mewadahi semua sumberdaya alumni Rohis yang ada

untuk berdakwah di almamaternya masing-masing.

Perasaan itu demikian kuat ketika menyaksikan dekadensi moral pelajar

yang semakin menjadi-jadi serta belum nampaknya kekuatan kebaikan sebagai

penyeimbang kekuatan kebatilan yang dari hari ke hari makin kuat menancapkan

kuku pengaruhnya di benak remaja muslim. Pertemuan yang digagas itu pertengahan

1998 itu akhirnya membuahkan hasil. Nama Forum Kerjasama Alumni Rohis SMA-

SMK se-Lampung akhirnya resmi dipilih sebagai cover organisasi yang menaungi

semua sumberdaya alumni Rohis.

Sengaja mengambil skup Lampung supaya space dakwah semakin luas dan

bisa menjadi trigger bagi daerah lain. Saat itu pula motto FKAR diluncurkan ke
61

tengah khalayak. Laboratorium Dakwah Remaja yang masih relevan sampai dengan

saat ini. Saat itu AD/ART belum ada, termasuk pedoman keorganisasian masih

meraba-raba. Tetapi, berhubung semuanya mantan aktivis Rohis, panduan tertulis

seperti itu tidak terlalu dibutuhkan. Karena pada saat itu, FKAR langsung dihadapkan

pada sejumlah kebutuhan di lapangan dimana Rohis harus dibina dan diberdayakan

secara lebih baik.

November 2001, FKAR mengadakan Musyawarah Besar (Mubes) yang

perdana. Beberapa hal strategis coba untuk diwujudkan. Notulensi-notulensi rapat

menjadi bukti bagaimana keseriusan itu demikian nampak untuk lebih fight

berdakwah di kalangan pelajar. Sekian ide dan gagasan coba untuk dirumuskan. Dari

sekian hal strategis itu menghasilkan keputusan bahwa wilayah kerja FKAR

“dipersempit” hanya untuk wilayah kota Bandar Lampung. Ini mengingat fokus kerja

di kota yang belum maksimal sepanjang FKAR berdiri. Dan mulai saat itu, FKAR

lebih memprioritaskan pada pembinaan dan pengembangan Rohis di kota Bandar

Lampung.

Senin, 5 November 2001, hari yang bersejarah bagi FKAR, karena pada saat

itulah, laboratorium dakwah remaja ini resmi menjadi organisasi. Lengkapnya

Organisasi Forum Kerjasama Alumni Rohis SMU-SMK se-Bandar Lampung. Dan

mulai saat itu, FKAR menjalani kehidupannya layaknya organisasi yang menuju ke

arah yang lebih modern.1

1
FKAR, Kenalkan nama kami FKAR (Lampung: FBI Press,2004), h. 3.
62

Beberapa kalangan bertanya mengapa FKAR hanya terfokus pada kerja di

Rohis. Bukankah masalah pelajar atau remaja adalah masalah yang spacenya luas dan

tidak hanya untuk mereka yang berada di Rohis? Pertanyaan itu memang sangat kritis

untuk dijawab secara bijaksana. FKAR memandang bahwa Islam adalah sebuah

sistem (manhaj) bagi semua manusia. Oleh karenanya standar yang dipakai adalah

nilai serta norma dalam Islam.

Dalam skup organisasi, FKAR menganggap bahwa Rohis adalah kendaraan

yang paling pas untuk mengimpelementasikan nilai-nilai dakwah di kalangan pelajar.

Ini mengingat bahwa Rohis itu adalah milik semua, bukan hanya milik segelintir

pengurus atau pelajar yang eksklusif yang asing di tengah lingkungan sekolah.

Bahwa Rohis adalah organisasi Islam itu adalah mutlak. Karena dia Islam, maka dia

terbuka untuk semua orang. Lagipula, yang akan diraup dengan daya jangkau dakwah

Rohis adalah semua kalangan pelajar dan bukan dari kalangan tertentu saja.

FKAR sebagai wadah bernaung semua alumnus Rohis tentunya tidak akan

berdaya kalau bekerja hanya pada tataran konsep. Perlu ada yang langsung terjun

menangani serta bersentuhan langsung dengan obyek dakwah yang dalam hal ini

adalah siswa atau pelajar. Untuk itulah sebagai ujung tombak FKAR di tiap sekolah,

ada tim yang akrab disebut Tim Kerja Sekolah atau yang biasa dikenal dengan TKS.

TKS ini diangkat resmi dan bertanggung jawab kepada FKAR.

TKS inilah yang paling banyak berperan dalam memajukan kegiatan Rohis

dan membina kepribadian siswa di sekolah. TKS biasanya diambil dari alumni Rohis

yang bersangkutan. Tetapi, untuk beberapa sekolah yang sumberdaya alumninya


63

sedikit, FKAR meminta kepada beberapa personal untuk membantu di beberapa

sekolah. Maka tidak heran kalau banyak diantara TKS yang berasal dari luar alumni

sekolah tersebut, bahkan banyak yang berasal dari luar Bandar Lampung, misalnya

dari Jakarta.

Hanya saja sayangnya, karena kurangnya informasi dan silaturahmi, TKS

sering terusik oleh kecurigaan pihak sekolah. Pihak sekolah sering merasa khawatir

kalau-kalau alumni yang datang mengajarkan hal yang membahayakan Rohis apalagi

sekolah. Untuk memecahkan problem tersebut diperlukan hubungan yang harmonis

serta komunikasi yang lebih intens dengan pihak sekolah. Dari beberapa pengalaman

seperti kasus di SMA YP Unila dan SMAN 8 (kepala sekolahnya beragama Nasrani)

kecurigaan pihak sekolah menjadi hilang ketika momen silaturahmi dengan pihak

sekolah sudah dilaksanakan.

Secara umum, TKS bertugas untuk membantu keorganisasian Rohis. Sebagai

alumni yang punya banyak pengalaman, mereka akan memberikan bekal keislaman,

keorganisasian serta skill lainnya untuk kemajuan dakwah di sekolahnya masing-

masing. Efek positifnya memang sangat banyak, yang paling terasa adalah hubungan

dengan pihak sekolah terutama guru dan kepala sekolah terjalin dengan hangat.

Bahkan para alumni sudah menganggap guru di sekolah sebagai orang tua mereka

sendiri. Sungguh keindahan ukhuwah yang tiada bandingannya. Seperti pendapat

tokoh pendidikan Bandar Lampung oleh Drs. Hi. Merayu Sukma Hasyim,M.M:

“Namun dalam era globalisasi ini mencari sosok pemuda yang dapat
mengemban amanah pahlawan untuk meneruskan cita-cita proklamasi
tidaklah mudah namun juga tidak sulit. Perlu keuletan dan semangat yang
64

kontinyu dalam membina mental generasi muda pemuda Indonesia. FKAR


Bandar Lampung adalah salah satu dari sekian banyak LSM yang fokus
mewujudkan generasi siap meneruskan cita-cita luhur itu. Karena mereka
mempunyai program-program yang berkualitas dengan berlandaskan Al-
Qur‟an dan As-Sunnah. Dengan menerapkan sistem pembinaan rutin, banyak
generasi muda khususnya para pelajar Bandar Lampung yang menemukan jati
dirinya untuk meneruskan estafet cerita kepahlawanan”.

Berikut ini jumlah sekolah atau Rohis yang sudah tertangani oleh FKAR di

Bandar Lampung antara lain :

TABEL 1 . NAMA SEKOLAH ATAU ROHIS

TERTANGANI FKAR

NO NAMA SEKOLAH ALAMAT


1 SMAN 13 BANDAR LAMPUNG JL. Padat Karya Sinar Harapan
2 SMAN 15 BANDAR LAMPUNG JL. Turi Raya
3 SMA AL-KAUTSAR JL. Soekarno-Hatta
4 SMA DARMA BANGSA JL. Zainal Abidin Pagar Alam
5 SMA MUHAMMADIYAH 2 JL. ZA. Pagar Alam N0. 14
6 SMA/SMK GAJAHMADA JL. SOEKARNO-HATTA
7 SMA BINA MULYA JL. BADAK NO. 335 A
8 SMKN 2 BANDAR LAMPUNG JL. Prof. Sumantri Brojonegoro
9 SMK 2 MEI JL. ABDUL MUIS NO. 18
10 SMAN 5 BANDAR LAMPUNG JL. SOEKARNO-HATTA
11 SMAN 12 BANDAR LAMPUNG JL. Hendro Suratmin
12 SMA AL-AZHAR 3 JL. GN. Tanggamus Raya
13 MAN 1 BANDAR LAMPUNG JL. Letkol Endro Suratmin
14 AL-HIKMAH JL. Slt. Agung Gg. Rd. Saleh
15 SMKN 1 BANDAR LAMPUNG JL. Prof. M. Yamin No. 39
16 SMAN 8 BANDAR LAMPUNG [Link] Malahayati No.27
65

17 SMKN 5 BANDAR LAMPUNG JL. Pangeran Tirtayasa


18 SMAN 4 BANDAR LAMPUNG JL. Dr. Cipto Mangunkusumo
19 MAN 2 BANDAR LAMPUNG Jl. Gatot Subroto No. 30
20 SMKN 3 BANDAR LAMPUNG JL. Cut Mutia No. 21
21 SMKN 4 BANDAR LAMPUNG JL. Hos. Cokroaminoto No. 102
22 SMAN 2 BANDAR LAMPUNG [Link] Hamzah Gotong Ryg
23 SMAN 3 BANDAR LAMPUNG JL. Khairil Anwar Palapa
24 SMAN 7 BANDAR LAMPUNG JL. Cik Ditiro No. 2
25 SMAN 9 BANDAR LAMPUNG JL. Panglima Polim No. 18
26 SMAN 14 BANDAR LAMPUNG Sumberejo Kemiling
27 SMAN 16 BANDAR LAMPUNG Perum Bilabong
28 SMA PERINTIS 1 JL. Cut Nyak Dien No. 4
29 SMA PERINTIS 2 JL. Cut Nyak Dien
30 SMA YP UNILA JL. Jend. Suprapto

Berikut jumlah sekolah atau Rohis yang belum tertangani oleh FKAR

anatara lain:

TABEL 2. NAMA SEKOLAH ATAU ROHIS

BELUM TERTANGANI FKAR

NO NAMA SEKOLAH ALAMAT


1 SMAN 1 BANDAR LAMPUNG JL. Jend. Sudirman No. 41
2 SMAN 6 BANDAR LAMPUNG JL. KH. Agus Anang No.
35
5 SMAN 10 BANDAR LAMPUNG JL. Gatot Subroto No. 81
6 SMA TAMAN SISWA JL. WR. Supratman No. 74
9 SMA PERSADA JL. Imam Bonjol
11 SMA BAKTI UTAMA JL. Panglima Polim
12 SMK FIKRI JL. Imam Bonjol
66

Dengan jumlah sekolah yang demikian banyak, tentunya membutuhkan

sumber daya manusia dalam jumlah banyak. Tetapi, inilah kendala klasik di

lapangan, jumlah permintaan selalu lebih besar daripada jumlah penawaran. Artinya,

jumlah sekolah yang harus ditangani jauh lebih banyak dibandingkan sumber daya

manusia yang tersedia. Belum lagi kalau beberapa sekolah meminta agar kegiatan

pengajian (tutorial) di sekolah tersebut diwajibkan. Jelas, butuh banyak tutor atau

mentor untuk menangani itu semua. Lagi-lagi FKAR ditantang untuk menyelesaikan

semua kendala di lapangan tersebut dan berpacu dengan waktu yang terasa begitu

kebut dalam berjalan.2

B. Struktur Organisasi FKAR

Sebagaimana sebuah organisasi, maka FKAR sebagai organisasi sosial

keagamaan yang membina anak-anak remaja dalam ekskul Rohis di sekolah-sekolah

formal. Salah satu wujud dari hal tersebut adalah dengan jalan menyusun struktur

organisasi yang terdiri dari perangkat pengurus beserta tugas-tugas yang harus

diembannya. Sebuah struktur organisasi merupakan pola formal dari aktivitas dan

hubungan antar berbagai subunit dari organisasi.3

Personalia pengurus FKAR saat ini terdiri dari : Ketua umum, wakil ketua

umum I, wakil ketua umum II, sekretaris umum, bendahara umum dan empat

departemen dan dilengkapi dengan ketua departemen serta staff departemen,

2
Ibid, h.5-7.
3
John [Link], Robert Konopaske, Perilaku dan Manajemen Organisasi ( Jakarta, PT.
Gelora Aksara Pratama,2006), h.21.
67

personalia pengurus FKAR Bandar Lampung yang berjumlah 36 orang.4 Badan

pengurus harian FKAR Bandar Lampung melaksanakan masa jabatan selama satu

periode terhitung sejak tanggal pelantikan. Dalam keadaan tertentu dapat diadakan

perubahan kepengurusan FKAR Bandar Lampung.5

Berikut ini adalah sebuah bagan organisasi yang menunjukkan struktur

kepengurusan FKAR Bandar Lampung. Dalam bagan tersebut terlihat , bahwa

hubungan antara dewan pembina dengan ketua umum, wakil ketua I, dan wakil ketua

II bersifat koordinatif dan konsultatif sedangkan hubungan antara ketua umum dan

dua orang wakil ketua dengan seketaris, bendahara, departemen beserta staff bersifat

instruktif.

4
Pasal 18 ayat 1 dan 2 , AD FKAR Bandar Lampung.
5
Pasal 17 ayat 3 dan 4 , AD FKAR Bandar Lampung.
68

SUSUNAN KEPENGURUSAN

FORUM KERJASAMA ALUMNI ROHIS (FKAR) BANDAR LAMPUNG

PERIODE TAHUN 2016-2017

Dewan
Penasihat

Ketua Umum

Wakil Ketua Wakil Ketua


Umum 1 Umum 2

Sekretaris Bendahara
Umum Umum

Departemen Departemen Departeme


t DPP t DPR Departemen nt
(Departeme (Departeme t Humas Manageme
n nPengemba n Rohis
Pembinaan ngan dan
Pelajar) Requietmen
t) Staff Ahli Staff Ahli
Humas MR
Staff Ahli Staff Ahli
DPP DPR

( Gambar 2. Struktur Organisasi FKAR Bandar Lampung )


69

C. Struktur Organisasi Rohis

Sebagaimana organisasi yang ideal didalamnya mempunyai struktur

kepengurusan, adanya struktur ini membuat organisasi akan berjalan dengan baik dan

terstruktur. Dalam hal ini struktur organisasi rohis yang akan diuraikan adalah rohis

SMAN 8 Bandar Lampung dan rohis SMKN 3 Bandar Lampung. Personalia

pengurus rohis saat ini terdiri dari: ketua umum, wakil ketua umum, seketaris umum,

bendahara umum dan koordinator bidang-bidang.

Berikut ini adalah sebuah bagan organisasi yang menunjukkan struktur

kepengurusan Rohis SMAN 8 Bandar Lampung dan SMKN 3 Bandar Lampung.

Dalam bagan tersebut terlihat , bahwa hubungan antara pembina rohis dengan TKS,

ketua umum, wakil ketua umum, sekretaris umum dan bendahara umum bersifat

koordinatif dan konsultatif sedangkan hubungan antara ketua umum, wakil ketua

umum dengan seketaris umum, bendahara umum, bidang-bidang beserta anggota

bersifat instruktif.

Untuk periode tahun ini, Rohis SMKN 3 Bandar Lampung belum melakukan

reorganisasi kepengurusan dikarenakan beberapa faktor sebagai berikut:

“Untuk tahun ini hambatan belum adanya reorganisasi yang pertama adalah
jadwal PKL yang tidak sama seperti biasanya dan dari kondisi anak-
anaknya yang kurang aktif, dikarenakan pembinaan di ikhwan kelas
sebelas kurang aktif jadi TKS sulit menentukan pengurusnya selain itu
jadwal praktik yang lebih padat dari pada tahun sebelumnya sehingga
untuk berorganisasi kurang ada waktu”6

6
Dwi ayu, Tim Kerja Sekolah Di SMKN 3 Bandar Lampung, Wawancara, 26 Januari 2017,
Di Musolla SMKN 3 Bandar Lampung.
70

SUSUNAN KEPENGURUSAN

ROHIS SMAN 8 BANDAR LAMPUNG

PERIODE TAHUN 2016-2017

Pembina Rohis
SMAN 8

Ketua
KetuaUmum
Umum TKS Rohis
SMAN 8

Wakil Ketua
Umum

Seketaris Bendahara
Umum Umum

Bidang Bidang Bidang Bidang Bidang Bidang


PSDM Danus Syiar Kominf musola Keputr
Islam o ian

Anggot Anggot Anggot Anggot Anggot Anggot


a a Danus a Syiar Kominf a a
PSDM Islam o Musolla Keputri

( Gambar 3. Struktur pengurus rohis SMAN 8 )


71

SUSUNAN KEPENGURUSAN

ROHIS SMKN 3 BANDAR LAMPUNG

PERIODE TAHUN 2014-2015

Pembina Rohis
SMKN 3

Ketua Umum TKS Rohis


SMKN 3

Wakil Ketua
Umum

Seketaris Bendahara
Umum Umum

Dept Dept Dept Dept Dept


Kaderis Danus Simas Keputri Kesekr
asi an etariat

Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota


Kaderisa Danus Simas Keputria Kesekret
si n ariat

( Gambar 4. Struktur pengurus rohis SMKN 3 )


72

D. Visi dan Misi FKAR

1. Visi

Menjadi lembaga dakwah sekolah yang kokoh dan mandiri, membangun

jati diri dan mengembangkan potensi pelajar Bandar Lampung.

2. Misi

a. Membina keislaman, keimanan dan ketaqwaan pelajar muslim Bandar

Lampung.

b. Memfasilitasi pelajar muslim Bandar Lampung untuk mempelajari Islam

melalui program yang sistematis, terarah efektif dan efisien.

c. Mempersiapkan sdm yang handal (spiritual, emosional, dan intelektual)

sebagai penggerak dakwah di Bandar Lampung.

d. Membuka lahan dakwah dan optimalisasi pengelolaan dakwah di SMP

dan SMA Bandar Lampung.

e. Memberi pelatihan skill untuk aktivis dakwah sekolah.

f. Ikut berperan serta dalam berkembangnya ormas pelajar Muslim Bandar

Lampung.

g. Membentuk dan mengelola sarana yang kreatif dan inovatif dalam syi‟ar

dakwah dikalangan pelajar Bandar Lampung.

h. Menjadi lembaga yang mandiri dalam hal finansial.

i. Membangun jaringan kerjasama dengan instansi-instansi yang memiliki

visi yang sama dengan organisasi.


73

j. Membangun opini dan menyikapi isu-isu terkait masalah remaja,

pendidikan dan agama.

k. Meningkatkan kompetensi aktivis dakwah sekolah di bidang kehumasan

dan jurnalistik.

l. Mewujudkan pengadaan dan pengelolaan sarana dan prasarana

organisasi.

m. Melakukan penertiban dan pengelolaan administrasi organisasi yang rapi

dan profesional.7

E. Ruang Lingkup Organisasi FKAR

Dengan berorientasi dan merujuk kepada program kegiatan FKAR Bandar

Lampung, maka misi program kerja sebagai organisasi yang secara integral dan

simultan haruslah dapat mewujudkan diri sebagai gerakan dakwah, organisasi

pembinaan moral dan wahana komunikasi alumni rohis se-Bandar Lampung

karenanya program kerja FKAR Bandar Lampung memiliki ruang lingkup program

sebagai berikut:

1. Mengembangkan sumber daya manusia (sdm) dalam memperteguh akhlak

ummat dengan sasaran program terciptanya kualitas pelajar dan pemuda

Indonesia yang beriman, bertaqwa, berakhlak mulia, tangguh, cerdas,

kreatif, berbudaya, produktif, mandiri serta berfungsinya sistem

pembinaan kader dakwah secara berkesinambungan.


7
Dokumentasi, Profil FKAR Bandar Lampung.
74

2. Meningkatkan kinerja dakwah ke-islaman sesuai Al-qur‟an dan Sunnah

dengan sasaran program mengembangkan serta memantapkan peran

pengabdian keluarga besar FKAR dalam menjawab tantangan dakwah,

menghadapi permasalahan ummat, bangsa dan negara khususnya.

3. Meningkatkan pembinaan moralitas pelajar khususnya di kota Bandar

Lampung dengan tujuan membangun serta meningkatkan partisipasi

pelajar Bandar Lampung dalam pengembangan dan pembinaan moral

pelajar ( akhlak Islami) yang selalu berinteraksi dengan Al-Qur‟an.

4. Memantapkan program unggulan dengan sasaran program: menggagas,

mewujudkan, mengembangkan, serta memantapkan program-program

unggulan yang diperuntukkan bagi kemaslahatan ummat, bangsa dan

negara.8

HUMAN
DAKWAH RESOURCE
KEISLAMAN DEVELOPMENT

PEMBINAAN PROGRAM
MORAL KERJA

Gambar 5. Ruang Lingkup Organisasi FKAR

8
Dokumentasi, Profil FKAR Bandar Lampung.
75

F. Program Kerja FKAR

1. Pembinaan Pelajar

Program ini direalisasikan melalui pembinaan Rohani Islam (Rohis) yang

telah berdiri di berbagai sekolah se-Bandar Lampung sebagai kegiatan

ekstrakurikuler. Kegiatan-kegiatan yang dimaksud adalah mentoring keagamaan dan

pembinaan keorganisasian. Program ini dijalankan oleh beberapa orang yang disebut

dengan TKS (Tim Kerja Sekolah), yang jumlahnya mencapai lebih dari 200 orang

dan tersebar di hampir 45 sekolah se- Bandar Lampung. Semuanya terdiri atas para

sarjana dan mahasiswa.9

Berikut ini program kerja pembinaan pelajar dibagi menjadi dua yakni unit

SMP dan unit SMA :

Program kerja Unit SMP ada dua yakni “Young Generation Top (Yogurt)”

dan “Kajian keremajaan menjadi remaja yang tangguh” . Yogurt ini program yang

dikemas seperti kemah pelajar dimana tujuannya adalah terwujudnya kebugaran

kekuatan fisik, menumbuhkan kedisiplinan, ketaatan, kesiap-siagaan, serta melatih

sifat-sifat keprajuritan dan kemimpinan. Kajian keremajaan ini agar lebih menarik

dibentuk acara talkshow yang tujuannya membentuk remaja yang dapat membentengi

diri dari godaan di era layar serta memiliki kecerdasan dalam pemanfaatan IPTEK.

Program kerja Unit SMA ada tiga yakni “ Dauroh thulabi”, “Majalah

( Mabit dan Jalsah) Akbar” dan “Rohis Camp”. Dauroh thulabi ini dibuat menjadi 3

tahap ada dauroh thulabi satu sampai tiga dimana tujuan program kerja ini adalah
9
AD dan ART. Bab 2 Azas, sifat, tujuan, kegiatan
76

pemenuhan dan peningkatan skill serta tsaqofah kader pelajar dalam pengelolaan diri

dan jama‟i serta pembentukan kader pelajar andalan dalam aspek keorganisasian dan

dakwah. Dihadiri oleh 81 peserta dari berbagai sekolah di Bandar Lampung

Mabit dan jalsah akbar agenda ini diperuntukkan untuk seluruh sekolah

menengah atas yang ada di Bandar Lampung dimana bentuk kegiatan ini adalah

menginap satu hari satu malam dengan berbagai kegiatan didalamnya seperti kajian

keislaman, sholat tahajud berjama‟ah dan sebagainya dengan tujuan menguatnya

hubungan dengan Allah ta‟ala dan kecintaan kepada Rasulullah SAW baik secara

ruhi, fikri maupun „amali, terteladaninya pola hidup Rasulullah SAW dan

memperkuat ukhuwah.10

Rohis Camp ini adalah bentuk kegiatan kemah anak rohis yang diperuntukkan

untuk sekolah menengah atas di Provinsi Lampung tujuan dari program kerja ini

yakni terwujudnya kebugaran, kekuatan dan keterampilan fisik kader, menumbuhkan

kedisiplinan, ketaatan, kesiap-siagaan, melatih sifat-sifat keprajuritan, kepemimpinan,

kemampuan bersabar dalam kesulitan, meningkatkan dan memelihara semangat

perjuangan dan pengorbanan serta memelihara meningkatkan ruhul ukhuwah dan

„amal jama‟i. Dihadiri 480 orang peserta dari sekolah menengah atas se-provinsi

Lampung.11

10
Dokumentasi, Program Kerja Pengurus FKAR Bandar Lampung periode 2016-2017.
11
Observasi, Pelaksanaan Rohis Camp oleh FKAR Bandar Lampug, 19-21 Desember 2016,
Di wira garden Batu Putu Lampung.
77

2. Skill Training

Kebutuhan pelajar akan beberapa skill, seperti public speaking,

entrepreneurship, dan lain sebagainya membuat wilayah ini turut menjadi konsentrasi

FKAR. Tidak hanya itu, kebutuhan pelajar non-Rohis juga harus bisa di handle

dengan baik, seperti motivasi belajar ujian Nasional, tips sukses, motivasi, dan lain

sebagainya serta kebutuhan skill TKS harus tetap diarahkan oleh FKAR.

Berikut ini beberapa program kerja yang berkaitan dengan skill training

yang di rancang oleh FKAR :

Delta (Development Training) program ini dibuat dengan sasarannya TKS

PGB (Tim Kerja Sekolah Pengembangan) dengan tujuan menyamakan suhu TKS

PGB dalam peningkatan kafaah TKS, sarana silaturahim antar TKS PGB,

memberikan pembekalan ilmu terkait rekrutmen dan dakwah fardhiyah. Smart

Comunity program ini dibuat untuk anak rohis dan non rohis dikumpulkan dan

dibentuk komunitas dengan tujuan mengumpulkan dan fasilitator pengembangan

kemampuan rohis maupun non rohis secara akademik maupun non akademik serta

branding rohis.

PPK (Pembekalan Persiapan Kelulusan) SMP dan SMA program kerja ini

dirancang guna pemenuhan dan peningkatan skill serta tsaqofah kader pelajar dalam

pengelolaan diri dan jama‟i dan pembentukan kader pelajar andalan dalam aspek

keorganisasian dan dakwah dengan sasaran kader rohis dan non rohis. Sekolah SC (
78

Senior Commite ) merupakan program pelatihan dengan tujuan memberikan ilmu-

ilmu untuk bekal menjadi SC satu tahun kedepan.12

3. Networking dan Media

Untuk menyosialisasikan segala kelebihan program FKAR pada

masyarakat dan sebagai sarana untuk memudahkan informasi yang dibutuhkan

masyarakat dari organisasi ini, maka di tahun 2010 FKAR mengembangkan dua

media massa yang sesuai dengan kebutuhan pelajar, media online dan media cetak.

Media online yang dimaksud adalah jaringan resmi situs personal [Link],

blog, facebook, friendster, dan beberapa situs jejaring sosial yang banyak digunakan.

Berikut ini beberapa program yang berkaitan dengan media online serta

media dakwah FKAR sebagai berikut:

Medali (Media Dakwah Online) program ini dibuat untuk optimalisasi

publikasi info kegiatan FKAR/Sekolah update per hari. [Link] dan [Link]

program ini bertujuan terbentuknya produk Web sebagai majalah online untuk

menyebarkan isu-isu dan fikroh islam untuk remaja, sarana publikasi yang memuat

opini, dan isu terkait sebagai majalah dakwah online FKAR.13

SMS Gateway program kerja ini dalam bentuk sms dan taujih memiliki

arah kebijakan untuk membangun jaringan informasi internal mendapatkan dan

menyebarkan informasi kegiatan dakwah sekolah yang ada di Bandar Lampung,

12
Dokumentasi, Lokakarya dan LPJ FKAR Bandar Lampung.
13
Observasi, Pelaksanaan Media Online FKAR Bandar Lampung, 2 Januari 2017.
79

tujuan program ini terpublikasinya kegiatan FKAR ke TKS dan Rohis serta sarana

penghubung informasi dari FKAR ke instansi terkait, TKS dan Rohis.

4. Penelitian dan Pengembangan

Memiliki jargon Laboratorium Dakwah Remaja, membuat FKAR harus

berbicara sesuai dengan realita. Kebutuhan data dan penelitian tidak bisa dihindarkan.

Oleh karena itu, tahun 2010 FKAR telah membentuk sebuah lembaga penelitian

khusus pelajar yang di handle langsung oleh para sarjana dan dibantu oleh lembaga

penelitian yang sudah memiliki kapabalitas di bidangnya.

Berikut ini program penelitian dan pengembangan yang dihandle oleh

presedium FKAR yakni:

Orientasi pengurus FKAR program kerja ini bertujuan untuk upgrade

ruhiyah, jasadiyah dan fikriyah pengurus, meningkatkan skill keorganisasian, good

team building, outbond, meng-upgrade semangat dan menyatukan langkah kerja.

Adanya rapat pleno, rapat pimpinan dan rapat rutin semua itu dilaksanakan dengan

tujuan perencanaan persiapan kerja departemen, sarana silaturrahim pengurus, ajang

kreativitas dan forum ukhuwah.

Back to nature atau refresh FKAR program ini dibuat untuk pengembangan

kerja FKAR, konsolidasi pengurus FKAR Bandar Lampung, merefresh ruhiyah,

jasadiyah dan fikriyah. Program ini dihadiri sebanyak 27 pengurus bertempat di


80

pantai kalianda. Road to school program ini dengan bentuk silahturahim bertujuan

untuk konsolidasi dan koordinasi TKS sekolah.14

Grand launching amar ( Anggota muda rohis) di rancang sebagai sarana

pengukuhan amar, sarana silaturahim rohis Se Bandar Lampung dan syiar rohis.

Acara ini dihadiri sebanyak 1500 peserta anak rohis terdiri dari sekolah menengah

pertama atau se derajat dan sekolah menengah atas atau se-derajat.15

5. Ormas Pelajar dan Komunitas

Untuk mewujudkan kondisi pelajar yang ideal sesuai dengan yang

dicita-citakan membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Banyaknya hambatan serta

minimnya sumber dana amat memungkinkan terealisasinya dalam jangka waktu yang

panjang. Oleh karena itu, sebagai katalis FKAR pun berusaha mengelola pelajar-

pelajar dalam bentuk ormas yang mencakup seluruh pelajar se-Bandar Lampung dan

memperluas sayap pembinaan ke komunitas-komunitas pelajar yang sudah

terbentuk.16

Berikut ini beberapa program kerja ormas pelajar dan komunitas yang

di handle oleh departemen manajemen rohis yakni:

Re-Or FORKAPMI (Forum Kerjasama Pelajar Muslim) dengan tujuan

untuk mendapatkan pengurus forkapmi yang baru. Forum ini dibuat untuk

14
Dokumentasi, Program Kerja FKAR Bandar Lampung Tahun 2016-2017.
15
Observasi, Pelaksanaan Grand Launching Anggota Muda Rohis, 25 September 2016, Di
Gedung serba guna IAIN Raden Intan Lampung.
16
AD dan ART, Bab 2 Azas, sifat, tujuan, kegiatan .
81

menjembatani FKAR dengan pelajar yang ada di Bandar Lampung dimana mereka

nantinya akan membantu program-program kerja FKAR di lapangan, selain itu juga

sebagai wadah pembelajaran pelajar agar mengerti mengenai organisasi. Pengurus

Forkapmi tahun 2017 ini sudah dikukuhkan dan dilaksanakan pada tanggal 12

februari 2017 pada pukul 13.00 bertempat di SMP Wiyatama, FKAR telah melantik

50 pengurus hasil seleksi tes wawancara dan tulis untuk SMA se-derajat.17 Sarasehan

SC (Senior Commite) dirancang untuk menjalin tali silaturahmi SC dengan alumni

SC dan untuk mendapatkan informasi atau masukan – masukan terkait ke

FORKAPMI-an.18

G. Prestasi atau Penghargaan

Penghargaan dalam sebuah organisasi bertujuan untuk menarik orang yang

memiliki kualifikasi untuk bergabung dengan organisasi, mempertahankan karyawan

agar terus datang bekerja dan memotivasi karyawan untuk mencapai tingkat kinerja

yang tinggi. Memberikan motivasi untuk menghasilkan usaha tidaklah cukup

memancing kinerja yang diinginkan.19

Prestasi dan penghargaan yang di raih oleh FKAR Bandar Lampung sebagai

berikut:

17
Observasi, Pelaksanaan Reor Pengurus Forkapmi Periode 2017, 12 Februari 2017, Di SMP
Wiyatama Bandar Lampung.
18
Dokumentasi, Program Kerja Pengurus FKAR Bandar Lampung periode 2016-2017.
19
John [Link], Robert Konopaske, Perilaku dan Manajemen Organisasi ( Jakarta, PT.
Gelora Aksara Pratama,2006), h.226.
82

1. FKAR Live On TVRI

Salah satu penghargaan FKAR dapat suatu kehormatan untuk

diundang talkshow di stasiun lokal yakni TVRI dalam rangka usai

menggelar pawai simpatik ramadhan yang diikuti oleh seribuan pelajar

Bandar Lampung. Ketua FKAR mengatakan dalam talkshow ini FKAR dan

FORKAPMI akan memperkenalkan profil organisasi dan pengurus.20

2. FKAR Diberi Penghargaan Oleh PKPU Lampung

Fkar mendapatkan penghargaan yang diberikan oleh PKPU Lampung

atas partisipasi dalam penggalangan bantuan banjir bandang yang berada di

Garut, Jawa Barat. Penggalangan ini diberikan pada tanggal 23 Oktober

2016 oleh kepala cabang PKPU Lampung Sefrizal Permana.21

3. FKAR Raih Juara 1 Dalam Pembuatan Film Pendek

Dalam acara “ Semarak Kreativitas Pemuda” yang diadakan oleh

Duta Pemuda Kreatif bekerjasama dengan Kemenpora di UPT

perpustakaan Unila. Pengurus FKAR khususnya wanita ada enam orang ini

telah berhasil meraih juara satu dalam kompetisi ini. Aspek penilaian

sendiri terdiri dari lima macam: bobot pesan yang disampaikan,

20
Dokumentasi, [Link], diakses pada tanggal 23 Mei 2016.
21
Dokumentasi, Penghargaan FKAR Bandar Lampung.
83

kemenarikan, komunikatif, inspiratif, dan juga teknis pengambilan

gambar.22

Prestasi dan penghargaan yang raih Rohis SMAN 8 Bandar Lampung

sebagai berikut:

1. The Best Requitment 2016

FKAR memberikan penghargaan kepada Rohis SMAN 8 Bandar

Lampung atas kerja keras nya dalam merekrut anggota rohis terbanyak di

tahun 2016. Penghargaan ini diberikan untuk memotivasi rohis sekolah-

sekolah lain untuk terus aktif dalam organisasi rohis dan mengajak teman-

temannya untuk ikut dalam organisasi rohis.

2. Penghargaan Rohis Terkece

Penghargaan ini diberikan kepada Rohis SMAN 8 Bandar lampung

dilihat dari keaktifan rohis dalam mengikuti kegiatan yang diadakan oleh

FKAR. Rohis SMAN 8 Bandar Lampung ini adalah rohis yang paling

sering mengikuti kegiatan serta mengirim peserta terbanyak dalam setiap

kegiatan FKAR. Salah satu contoh kegiatan besar tahunan FKAR adalah

Rohis Camp, rohis SMAN 8 terbanyak 20 peserta mengirim anggotanya

dalam kegiatan rohis camp 2016.

22
Dokumentasi, [Link], diakses pada tanggal 1 Februari 2017.
84

3. Juara 3 Lomba Mading

Rohis SMAN 8 Bandar Lampung meraih juara 3 kategori mading

dalam acara SIGER II se-Lampung yang diadakan di kampus IBI

Darmajaya dengan tema “Satukan semangat Islami untuk Indonesia yang

mandiri” pada tanggal 24-26 Maret 2015.

4. Juara Harapan 1 Lomba LCCI

Rohis SMAN 8 Bandar Lampung meraih juara harapan 1 kategori

lomba cerdas cermat dalam acara SIGER II se-Lampung yang diadakan

kampus IBI Darmajaya dengan tema “ Satukan semangat Islami untuk

Indonesia yang mandiri” pada tanggal 24-26 Maret 2015.23

H. Kondisi Keagamaan Pengurus FKAR

Komitmen seorang muslim dilihat dari makna syahadat yang sering

diucapkan saat beribadah sholat lima waktu dalam sehari. Syahadat sendiri secara

bahasa berarti pernyataan, janji, dan sekaligus sumpah untuk beriman kepada Allah

dan RosulNya dengan membenarkan dengan hati, mengikrarkan dengan lisan serta

membuktikan dengan perbuatan (amal) anggota tubuh maka lahir keistiqomahan

(konsisten) dalam diri seorang muslim untuk mengerjakan apa yang sudah menjadi

kewajiban seorang muslim kepada PenciptaNya dan melaksanakan sunnah-sunnah

Rosul sebagai Nabi utusan Allah.


23
Dokumentasi, Prestasi Rohis SMAN 8 Bandar Lampung.
85

Dalam rutinitas kehidupan sehari-hari pengurus FKAR ada yang bekerja dan

ada pula yang sebagai mahasiswa. Namun, dengan kesibukan-kesibukan yang mereka

jalankan untuk keduniaan karena sudah tertanam kokoh aqidah dan akhlak yang kuat

sebagai pondasi diri, ditengah-tengah kesibukan mereka tidak melupakan komitmen

dan kewajibannya kepada Sang Pencipta yaitu menunaikan sholat tepat waktu dan

memenuhi kebutuhan ruhani dengan mengaji diwaktu-waktu tertentu seperti setelah

sholat subuh dan magrib.

Selain ada yang bekerja di berbagai elemen seperti guru dan karyawan serta

kuliah di berbagai universitas, seluruh pengurus FKAR tidak melupakan kewajiban

dan tanggung jawabnya untuk membina di berbagai sekolahnya masing-masing

bahkan sampai ada dua kelompok yang dibina yang dilakukan seminggu sekali.

Semua dilakukan dengan seimbang, ibarat teko yang berisi air ketika membina

diibaratkan kita menuangkan air itu dari dalam teko ke sebuah gelas dan untuk

mengisi kembali air itu kedalam teko, pengurus FKAR mempunyai rutinitas untuk

menambah wawasan keislaman dengan mengikuti kajian-kajian keislaman di

pengajian. Semua itu dilakukan agar selalu berkesinambungan agar teko tersebut

tidak luber atau tidak kosong.

Tidak jarang ada pengurus FKAR mempunyai kegiatan pengabdian

masyarakat sebagai fasilitator program keagamaan di karang taruna seperti

mengadakan program pesantren kilat di bulan ramadhan. Hal ini beririsan dengan

program FKAR, pengurus biasanya bekerjasama dengan memfasilitasi pemateri

untuk program pesantren kilat tersebut. Rata-rata pengurus FKAR menggunakan


86

waktunya untuk hal-hal kebaikan dan bermasyrakat. Dalam sepekan pengurus FKAR

mempunyai kegiatan-kegiatan yang sudah direncanakan dan kegiatan rutin yang

sudah dijadwalkan.

I. Kondisi Keagamaan Pengurus Rohis

Untuk melihat kondisi keagamaan pengurus rohis maka tidak bisa dilepaskan

dari konteks bahwa mereka sudah mengikuti ekskul rohis selama kurang lebih satu

tahun. Dalam melaksanakan kewajiban ibadah kepada Tuhan-Nya mereka tidak

diragukan lagi seperti melaksanakan sholat wajib lima waktu di awal waktu tidak

jarang mereka melakukan sholat sunnah sebagaimana yang Rosul contohkan, seperti

sholat sunnah dhuha, sholat tahajud serta puasa sunnah senin kamis. Selain itu,

kewajiban ibadah selain sholat wajib lima waktu Allah memerintahkan kepada

hamba-hambaNya untuk membaca Al-Qur‟an dengan sungguh-sungguh, mengimani,

mengajarkan serta mengamalkannya.

Menurut Anang Mukhlas mengajarkan Al-qur‟an kepada adik dan membaca

Al-Qur‟an secara bersama-sama sudah menjadi rutinitas dikeluarga setelah sholat

maghrib. Tidak jarang anang mengikuti pengajian yang biasa diselenggarakan di

masjid Al-Furqon. Tidak ada rasa puas dalam belajar agama itu dirasakan oleh

pengurus rohis, mereka sering mengikuti kegiatan-kegiatan kajian keislaman yang

diadakan oleh FKAR, BBQ ( belajar baca Qur‟an) di waktu sekolah dan masih belajar

Qur‟an lagi setelah dirumah.


87

Kondisi semacam ini merupakan habbluminaAllah (urusan kepada Allah)

sedangkan habbluminannas (urusan kepada manusia) pengurus rohis tidak melupakan

seperti membantu orang tua menyelesaikan pekerjaan rumah, membantu kerabat

terdekat dirumah, belajar tambahan diluar sekolah, bahkan melakukan pendekatan

kepada anggota rohis yang sudah jarang kumpul untuk kembali aktif mengikuti

kegiatan rohis.

J. Visi dan Misi Rohis

1. Visi dan Misi Rohis SMAN 8 Bandar Lampunng.

a. Visi

Bismillah membangun generasi Rabbani.

b. Misi

1) Membumi dakwahkan Islam di SMA Negeri 8 Bandar Lampung.

2) Mencetak kader yang cerdas dan bertaqwa.

3) Meningkatkan ukhuwah Islamiyah dikalangan keluarga besar SMA

Negeri 8 Bandar Lampung.24

2. Visi dan Misi Rohis SMKN 3 Bandar Lampung.

a. Visi

Merintis terbentuknya pelajar muslim ideal.

b. Misi

1) Mempunyai IPTEK untuk bekal hidup.


24
Dokumentasi, Handout Pengurus Rohis SMAN 8 Bandar Lampung.
88

2) Memiliki serta memahami kepribadian Islam yang baik.

3) Membina silahturahim dan ukhuwah dikalangan pelajar.25

K. Proses Membina Rohis

Forum Kerjasama Alumni Rohis ( FKAR ) Bandar Lampung menggelar

pengajian untuk buta huruf Al-Qur‟an rutin setiap minggu. Setiap pekan FKAR

mengadakan pengajian ini untuk adik-adik Rohis buta huruf Al-Qur‟an, FKAR

menamakannya dengan mentoring atau bimbingan belajar Qur‟an (BBQ). Selain

bimbingan baca Qur‟an, FKAR juga mengajarkan tentang kecakapan hidup dan

bagaimana cara bergaul laki-laki dan perempuan.26 Sebagaimana keterangan sebagai

berikut:

“Proses pembinaannya itu dia melalui mentoring atau yang disebut dengan
BBQ, nah dirohis itu ada BBQ itu wajib diikuti oleh seluruh anggota rohis
setiap minggunya seminggu sekali. Disitu salah satu sarana tarbiyahnya salah
satu sarana untuk belajar anak rohis tidak hanya belajar baca Qur‟an tapi ada
juga pembahasan materi, belajar menjadi MC, tilawah tahsinnya diperbaiki
disitu sarana untuk pembinaannya. Tidak hanya BBQ ada juga tasqif, jalsah
dan mabit.”27

Adapun gambaran Ketua FKAR Bandar Lampung terkait proses pembinaan

Rohis se-Bandar Lampung yang sudah berjalan sebagai berikut:

“FKAR hanya mengevaluasi para TKS bagaimana kinerja mereka dalam


pembinaan pelajar Bandar Lampung, seandainya ada masalah, FKAR
memfasilitasi seperti kekurangan SDM dan program-program kerja Rohis

25
Dokumentasi, Bulletin Pengurus Rohis SMKN 3 Bandar Lampung.
26
Dokumentasi, [Link] diakses pada tanggal 17 Juli 2016.
27
Desliyani, Seketaris Umum FKAR Bandar Lampung periode 2016-2017, Wawancara, 22
Januari 2017, Di Musolla Darul Hikmah Bandar Lampung.
89

yang kurang optimal. Secara tahun ini program pembinaan Rohis se-Bandar
Lampung alhamdulillah berjalan dengan lancar terlihat dari rekrutmen yang
dari tahun ke tahun tidak jauh dari targetan yang FKAR targetkan.”28

Adapun gambaran TKS Rohis SMAN 8 Bandar Lampung terkait proses

pembinaan yang sudah berjalan sebagai berikut:

“Untuk keaktifan anak-anak Rohis SMAN 8 Bandar Lampung dalam


mengikuti pembinaan sekitar 70% aktif namun semuanya itu terkadang ada
kendala dan hambatan seperti ganti nomor tidak konfirmasi dengan Tutornya
sehingga untuk menginfokan atau memberi kabar itu susah kemudian sudah di
usahakan menghubungi temannya tapi tidak direspon terkadang mereka juga
tidak ada pulsa dan lain-lain.” 29

Menurut Dwi ayu terkait proses pembinaan yang sudah berjalan di Rohis

SMKN 3 Bandar Lampung berjalan namun tidak semua berjalan terkhusus yang laki-

laki dikelas sepuluh disebabkan waktu masuk sekolah yang tidak serempak maupun

pulang sekolah, ditahun ini jadwal sekolah SMKN 3 Bandar Lampung kelas 11 dan

12 masuk sekolah pagi sedangkan kelas 10 masuk sekolah siang. Hal ini yang

menyulitkan TKS dan pengurus rohis untuk intensif melakukan pembinaan di tahun

ini.

L. Program Kerja Rohis SMAN 8 Bandar Lampung Tahun 2016-2017

1. Bidang Syiar Islam

Mabit (Malam Bina dan Taqwa) ikhwan program kerja ini dikhususkan

untuk anggota rohis yang laki-laki. Dalam mabit ikhwan ini mereka menginap di

28
Muarif, Ketua FKAR Bandar Lampung, Wawancara, 5 Februari 2017, Di Musolla SMAN
8 Bandar Lampung.
29
Masdiana, Tim Kerja Sekolah Di SMAN 8 Bandar Lampung, Wawancara, 20 Januari
2017, Di Musolla SMAN 8 Bandar Lampung.
90

masjid sekolah dimana rangkaian acara dalam mabit ini guna mendekatkan diri

kepada Allah SWT. Kajian keislaman yang dipandu oleh para TKS ikhwan, sholat

wajib berjama‟ah, sholat tahajud berjama‟ah sampai olah raga untuk kebugaran fisik

anak rohis. Program kerja mabit ikhwan ini di selenggarakan 2x dalam satu bulan.

Jumbara ( Jum‟at Barakah ) dalam program kerja ini anak-anak rohis

SMAN 8 yang mahir dalam berdakwah dipersilahkan untuk menyampaikan

tausiyahnya di hari jumat pagi dikelas-kelas secara bergantian. Program ini bertujuan

untuk mengajak , menyeru dalam kebaikan serta ber amar ma‟ruf nahi munkar.

Kuljum dilaksanakan dalam frekuensi 1x dalam dua minggu.

Tasqif Akbar program kerja ini dalam bentuk kajian keislaman yang

dihadiri oleh anak-anak rohis yang berada di Bandar Lampung. Dengan tasqif ini

dibuat bertujuan untuk mempererat tali silahturahim antar anak rohis dari sekolah

lain, menambah wawasan keislaman yang berefek kepada kepribadian anak-anak

rohis. Tasqif akbar diselenggarakan dalam frekuensi 1x dalam satu periode

kepengurusan.30

2. Bidang Musolla/ Kesekretarian

Bidang ini bergerak untuk membantu seketaris umum dalam hal

administrasi serta bertanggung jawab menjaga musolla di SMAN 8 Bandar Lampung.

Beberapa program kerja di bidang musolla/ kesekretarian yakni BBM ( Bersih-

bersih Musolla) program kerja ini dibuat untuk menjaga kebersihan dan kenyamanan
30
Dokumentasi, Program Kerja Kepengurusan Rohis SMAN 8 Bandar Lampung Tahun 2017.
91

musolla, mengingat berbagai kegiatan rohis sebagian besar di laksanakan di dalam

musolla. Kegiatan bersih-bersih musollah ini para anggota rohis diberi tugas

bergantian untuk mencuci alat sholat perempuan dan laki-laki. Frekuensi bersih-

bersih musolla dilaksanakan setiap pulang sekolah secara bergilir.

Selain itu bidang musolla/ kesekretarian bertanggung jawab atas infaq jumat,

anak-anak rohis bertugas untuk mengambil infaq murid-murid yang ada di SMAN 8

dari kelas ke kelas. Infaq yang terkumpul di peruntukkan untuk kebersihan musolla

dan kegiatan-kegiatan keislaman yang rohis selenggarakan. Infaq jumat yang rohis

koordinir ini sudah disetujui oleh pihak sekolah, sehingga tidak ada kecemburuan

dengan organisasi lainnya.31

3. Bidang PSDM ( Pengembangan Sumber Daya Manusia)

Dalam bidang PSDM anak-anak rohis dilatih sesuai dengan minat dan

bakat yang ada. Bakat yang sudah terlihat di anak-anak rohis SMAN 8 yakni dalam

bidang nasyid, hadroh, qosidah serta dai. Frekuensi latihan dimasing-masing bakat

satu kali dalam seminggu. Dengan pelatih kakak tingkat yang sudah mahir dalam

bidangnya.

Obor ( Olah raga bareng anak rohis) program kerja ini dibuat dengan

tujuan kebugaran fisik anak-anak rohis, menambah spirit dalam kegiatan, dan

mempererat kekompakan serta ukhuwah. Olah raga yang diselenggarakan seperti

31
Dokumentasi, Program Kerja Kepengurusan Rohis SMAN 8 Bandar Lampung Tahun 2017.
92

sepak bola, senam, dan bulu tangkis. Frekuensi program kerja ini dilaksanakan satu

bulan sekali selama kepengurusan. 32

4. Bidang Dana Usaha

Program kerja dalam bidang dana usaha semuanya dalam bentuk mencari

dana untuk membantu disetiap agenda yang dilaksanakan rohis SMAN 8 Bandar

Lampung. Program rutin yang dilaksanakan setiap hari yakni “Jualan Keliling”

anggota dana usaha bekerjasama dengan produsen makanan ringan untuk dijualkan

kembali dengan untung beberapa persen, makanan ini dijual kepada murid-murid

SMAN 8 Bandar Lampung.

Bazar Ka‟ros (Kantin Rohis) program ini diselenggrakan ketika ada

moment besar seperti perlombaan atau agenda besar lainnya. Program ini dibuat

untuk mencari tambahan dana dan melatih jiwa kewirausahaan dalam diri anak-anak

rohis. Frekuensi yang dilaksanakan 5x dalam satu periode kepengurusan.33

5. Bidang Kominfo

Arahan kerja bidang ini adalah untuk memperluas jaringan hubungan rohis

SMAN 8 dengan rohis-rohis sekolah lainnya. Bentuk nyata program kerjanya yakni

STAR ( Silahturahim antar Rohis) program ini dibuat untuk saling tukar fikiran untuk

kemajuan rohis serta mempererat ukhuwah islamiyah. Dalam agenda ini rohis SMAN

32
Dokumentasi, Program Kerja Kepengurusan Rohis SMAN 8 Bandar Lampung Tahun 2017.
33
Dokumentasi, Program Kerja Kepengurusan Rohis SMAN 8 Bandar Lampung Tahun 2017.
93

8 mengundang beberapa rohis dari sekolah lain untuk hadir dalam Star. Pada tanggal

5 februari 2016 agenda star dilaksanakan dengan 29 orang yang hadir. Frekuensi

program ini dilaksanakan 2x dalam satu periode kepengurusan.34

Metis ( mading rutin Rohis ) program kerja ini diadakan rutin perbulan

untuk memberikan informasi seputar kegiatan rohis, kata-kata motivasi, wawasan

keislaman dan sebagainya. Mading ini khusus dibuat oleh anggota rohis sebagai

media komunikasi tertulis selain itu melatih kreativitas anak-anak rohis dalam

pembuatan mading yang menarik.35

6. Bidang Keputrian

Program-program yang dibuat diperuntukkan khusus anak-anak rohis

wanita diantaranya “Jalsah Akbar”, “Muslimah on Road”, “Hari Ibu”, dan

“Perpustakaan”. Jalsah akbar merupakan kegiatan dalam bentuk kajian keislaman

tentang kewanitaan, fiqih wanita dan lain sebagainya. Jalsah akbar dihadiri oleh

beberapa rohis dari sekolah lain di Bandar Lampung. Hari Ibu , bidang keputrian

membuat program ini dengan kreasi membuat bunga dan dibagikan kepada ibu-ibu

yang ada disekitar sekolah.36

34
Observasi, Pelaksanaan Silahturahim Antar Rohis, 5 Februari 2017, Di Musolla SMAN 8
Bandar Lampung.
35
Dokumentasi, Program Kerja Kepengurusan Rohis SMAN 8 Bandar Lampung Tahun 2017.
36
Dokumentasi, Program Kerja Kepengurusan Rohis SMAN 8 Bandar Lampung Tahun
2017.
94

M. Program Kerja Rohis SMKN 3 Bandar Lampung Tahun 2014-2015

TABEL 3. PROGRAM KERJA ROHIS SMKN 3

BANDAR LAMPUNG TAHUN 2014-2015

No Nama Kegiatan Bentuk Kegiatan Waktu Keterangan

1 BBQ ( Belajar Tahsin Qur‟an 12 Februari Terlaksana


Qur‟an Bareng)
2014

2 Dauroh Motivasi Training 23 April 2014 Terlaksana

3 Nobar Nonton Bareng 4 Mei 2014 Terlaksana

4 Rihlah Jalan-jalan 9 Juli 2014 Terlaksana

5 Bubar (Buka Iftor jama‟i 13 Juli 2014 Terlaksana


bersama)
6 Songsong Iftor + Mabit 1 Agustus Terlaksana
Ramadhan
2014

7 Rohis Media Sebagai media 20 September Terlaksana


Centere pelatihan dalam
2014
pembuatan
buletin dan
mading
95

N. Komunikasi Organisasi FKAR Dan Rohis

1. Komunikator

Persamaan makna dalam proses komunikasi sangat bergantung kepada

komunikator dalam hal ini TKS (Tim Kerja Sekolah) sebagai komunikator sekaligus

seorang Da‟i dalam membina anak-anak Rohis. Yang harus diperhatikan oleh TKS

sebagai Da‟i di sekolah-sekolah khususnya ekskul rohis agar dakwahnya mencapai

target yang maksimal diperlukan komponen-komponen yang saling terkait, yaitu:

kredibilitas komunikator, sikap, pengetahuan yang luas, dan kemampuan

berkomunikasi.

Menurut Desliyani bahwa kredibilitas seorang TKS itu sangat penting

dikarenakan TKS berhubungan langsung baik dengan kepala sekolah ataupun guru

terlebih kepada adik-adik rohis. Salah satunya kepada kepala sekolah atau guru harus

mempunyai sopan santun dan akhlak yang baik karena TKS posisi nya bukan lagi

warga inti sekolah jadi untuk keluar masuknya ke sekolah harus memperoleh

perizinan dari pihak sekolah ketika kepribadian TKS sudah dikenal baik oleh pihak

sekolah maka pihak sekolah akan menerima dengan baik TKS untuk membina

sedangkan untuk komunikan atau anak-anak rohis, mereka melihat TKS ketika TKS

nya itu bagus mereka akan mencontoh kalaupun tidak bagus juga akan dicontoh jadi

TKS sebagai seorang Da‟i harus pintar bersikap yang baik karena pada dasarnya

harus memberikan contoh yang baik.

Mengomentari masalah kredibilitas atau integritas seorang TKS ini Muarif

sebagai ketua FKAR menjelaskan sebagai berikut:


96

“Untuk kredibilitas TKS kita ketahui bahwasannya TKS itu sebagai sosok
pembina di sekolah masing-masing sehingga tentu ada pembeda antara
seorang TKS dengan yang dibina. Khususnya kita di bagian pembinaan
pelajar otomatis yang harus dimiliki seorang TKS yaitu terkait kemampuan
dalam menyampaikan sesuatu baik itu terkait keagamaan maupun terkait
psikologis yang dibina. Untuk TKS itu sendiri diharapkan memang perlu
adanya tambahan-tambahan muatan yang dimiliki misalnya pengetahuan
keagamaannya, pengetahuan terkait psikologis pelajar oleh karena itu, TKS
diharapkan mampu mencari muatan-muatan atau ilmu-ilmu seperti
mengikuti kajian-kajian dari FKAR Bandar Lampung maupun dari
beberapa pengajian yang lain kemudian bisa melalui referensi buku bacaan
dan lain sebagainya.”37

Di Forum Kerjasama Alumni Rohis, mereka yang menjadi TKS ( penyaji

materi serta membina di ekskul rohis) seluruhnya merupakan orang-orang alumni

rohis yang sekarang berada di universitas Islam dan Universitas Negeri atau berada

di lembaga keislaman. Di antara mereka adalah Riska Aprilia, mahasiswi yang duduk

di Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung dan merupakan alumni rohis

SMKN 3 Bandar Lampung.

Selain itu, Muarif, [Link] adalah ketua FKAR yang merupakan karyawan

[Link]. Prima Kalianda Team Research and Probiotic, alumni rohis SMAN 8

Bandar Lampung ditahun 2009 dan alumni kader FOSSI ( rohisnya kampus) tingkat

fakultas di Universitas Lampung serta fasilitator program keagamaan di karang taruna

pengabdian masyarakat.

Kemudian Desliyani Natalia, seorang mahasiswi semester akhir di

Universtas Islam Negeri Raden Intan Lampung, pernah menjabat sebagai ketua

bidang keputrian di Unit kegiatan mahasiswa badan pembinaan dakwah UIN Raden

37
Muarif, Ketua FKAR Bandar Lampung, Wawancara, 1 maret 2017, lewat handphone.
97

Intan Lampung. Selanjutnya Dwi ayu seorang TKS SMKN 3 Bandar Lampung,

dimana mereka yang membina di rohis sekolahnya masing-masing, disamping

memiliki akhlak yang baik tercermin dari tingkah laku sehari-hari serta memiliki

intelektual dan pengetahuan yang berada di atas anak- anak rohis.

2. Pesan

Pesan dalam hal ini adalah materi-materi yang diberikan oleh TKS atau

FKAR dalam membina rohis dipilih sedemikian rupa agar pesan yang disampaikan

tepat sasaran dan mudah diterima. Hal ini mengingat psikologis remaja berbeda

dengan orang dewasa. Mereka tergolong baru mencari jati dirinya lewat pembinaan

ini FKAR mampu membantu anak-anak rohis yang tergolong remaja ini agar

menemukan jati diri kearah yang baik dan membentuk kepribadian yang berbudi

luhur.

Bagi TKS dan FKAR sendiri, membangun pondasi keimanan seseorang itu

harus diutamakan dan mendapat perhatian khusus. Apalagi anak-anak rohis yang

latar belakang orangtua nya yang awam tentang agama. Sudah menjadi kewajiban

TKS untuk membina, memberikan asupan tentang keimanan kedalam diri anak-anak

rohis. Jika pondasi ini rapuh karena ajaran yang diterima dan diamalkannya berasal

dari sumber yang salah, maka bangunan itu akan runtuh secara keseluruhan.

Sebaliknya jika pondasi ini kokoh kuat maka akan membentengi keimanan anak-anak

rohis ini.

Untuk itu TKS memberikan materi-materi dasar dan inti yang sudah

dirancang secara khusus. Sumber dan cara yang dijalankan oleh TKS dan FKAR ini
98

adalah berdasarkan pada kitab suci Al-Qur‟an dan Al-Hadist, tidak jarang muatan-

muatan materi ini didapat melalui kajian-kajian keislaman yang diselenggarakan oleh

FKAR untuk para TKS yang mengundang ustadz-ustadz berpengalaman seperti

ustadz Trimulyono,Lc dan sebagainya.

Materi-materi tersebut meliputi Aqidah seperti Ta‟riful Qur‟an,

syahadatain, ma‟rifatullah, tauhidullah. Kemudian Akhlak seperti birrul walidain,

akhlak kepada kaum muslim, fastabiqul khoirot dan lain-lain. Selanjutnya materi

keislaman seperti dzikrul maut, keutamaan sabar, siroh nabawiyah dan lain-lain.

Adapun materi-materi tersebut adalah:

a) Aqidah

Materi aqidah dimaksudkan agar hubungan antara anak-anak rohis

dan Allah benar-benar baik dan sesuai syariat. Dalam materi aqidah ini dibagi lagi

seperti ta‟riful Qur‟an yakni pengenalan Qur‟an dimaksudkan bahwa TKS

mengetahui bacaan Qur‟an binaan dengan benar ketika bacaan Qur‟an sudah

dibenarkan maka itu termasuk salah satu pondasi sudah mantap.

Selain itu, menurut mereka aqidah dapat berpengaruh memberikan

ketenangan dan ketentraman jiwa dengan aqidah memberikan jawaban yang pasti

sehingga kebutuhan ruhaniyahnya dapat terpenuhi. Setelah anak-anak rohis sudah

paham tentang bacaan Qur‟an yang benar maka selanjutnya harus diyakini oleh

makna syahadat didalam hidupnya sebagai orang yang beragama Islam. Dijelaskan

bahwa kandungan dan makna syahadat adalah sebuah pernyataan, janji dan sumpah

sebagai umat muslim untuk beribadah hanya kepada Allah dan mengikuti sunnah-
99

sunnah Nabi utusan Allah. Kemudian materi dilanjutkan dengan ma‟rifatullah,

tauhidullah dan lain-lain seputar aqidah.

b) Akhlak

Materi ini dimaksudkan agar anak-anak rohis mampu menjaga

dirinya dari perbuatan yang dilarang Sang PenciptaNya dan berusaha menghias

dirinya dengan sifat-sifat yang telah digariskan agama dalam kehidupan

kesehariannya. Dengan berpegangan dengan akhlak yang Islami, anak-anak rohis

akan terhindar dari pergaulan modern ala kebaratan yang tidak sesuai dengan aturan

yang digariskan oleh Al-Qur‟an dan Hadist.

Jika anak-anak rohis yang mayoritas umurnya masih dalam keadaan

labil mencari jati dirinya tanpa dibentengi dengan pengetahuan akhlak yang Islami

maka mereka akan terbawa arus jaman yang serba modern ala kebarat-baratan.

Seperti akhlak nabi yaitu akhlakul karimah yang menjadi percontohan dalam setiap

materi yang disampaikan dalam membina anak-anak rohis. Materi akhlak itu

meliputi: Birrul walidain, akhlak kepada Allah, akhlak, akhlak kepada rasul, akhlak

kepada kaum muslim, fastabiqul khoirot, dan ukhuwah Islamiyah.

c) Keislaman

Materi keislaman yang dimaksudkan disini adalah tentang sikap

batin sebagai seorang muslim dan mengetahui tentang sejarah-sejarah kenabian.

Sesuai dengan definisi Islam yang menunjuk kepada penyerahan diri, baik lahir

maupun batin kepada Allah SWT. Menurut Masdiana motivasi yang sering diberikan
100

kepada pengurus rohis adalah lebih semangat dalam berorganisasi terus yang sabar

terkadang mereka ada beda pendapat dan pendapatnya itu harus diikutin jadi

motivasi yang saya berikan semua keputusan harus dilakukan dengan musyawarah

dan bersabar.”38

Materi keislaman itu meliputi: dzikrul maut, keutamaan sabar, siroh

nabawiyah, sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga, taubat. Materi-materi ini

diperuntukkan untuk anak-anak rohis agar mereka memperbanyak kebaikan sehingga

mereka mengetahui konsekuen terhadap agamanya.

3. Media

Peranan media dalam kehidupan manusia sangat berperan penting untuk

menyampaikan sebuah informasi dikhalayak. Media merupakan alat untuk

komunikator menyampaikan suatu pesan dan informasi. Dalam hal ini TKS

menggunakan media dengan komunikasi pancaindra. Dimana TKS dan anak-anak

rohis bertemu tatap muka melakukan pembinaan. Menurut Masdiana media dalam

membina anak-anak rohis agar lebih menarik yaitu dengan media menonton film,

lewat media menonton ini pesan atau materi yang disampaikan akan lebih cepat

ditangkap oleh binaannya.

Tidak jarang FKAR menggunakan media internet seperti sosial media

dalam menyebarkan informasi terkait kegiatan-kegiatan dan pesan-pesan dakwah

yang ingin FKAR sampaikan kepada anak-anak rohis. Hal ini disebabkan dengan

38
Masdiana, Tim Kerja Sekolah Di SMAN 8 Bandar Lampung, Wawancara, 20 Januari
2017, Di Musolla SMAN 8 Bandar Lampung.
101

penyesuaian jaman yang semakin meluas di teknologi sehingga tanpa melakukan itu

semua maka pesan-pesan dakwah kurang tepat sasaran.

4. Penerima

Penerima bisa disebut komunikan atau bisa disebut audiens dan mad‟u,

dalam hal ini komunikan FKAR adalah anak-anak rohis sebagai binaan pelajar di

Bandar Lampung. Anak-anak rohis merupakan sasaran yang tepat sebagai penerima

pesan dari komunikator dalam hal ini adalah TKS. Dalam membina, TKS membagi

kelompok dengan tujuan agar pesan yang disampaikan kepada penerima

tersampaikan dengan efektif. Satu kelompok diisi oleh 8- 10 orang dengan satu TKS

sebagai komunikator.

5. Efek atau Feedback

Setelah pesan disampaikan oleh komunikator untuk penerima melalui

berbagai media, maka yang diharapkan seorang TKS sebagai komunikator adalah

efek atau feedback, timbal balik dan pengaruh pesan yang disampaikan terhadap diri

penerima dalam hal ini adalah anak-anak rohis. Tujuan pembinaan keagamaan

menurut Al-Qur‟an dan Hadist bukan hanya sekedar mengajarkan atau memberikan

pengetahuan tentang baik dan buruk.

Menurut [Link] Mukhlas bahwa setelah mengikuti rohis terkhusus

pembinaan, merasa malu jika tidak sholat berjama‟ah dimasjid walaupun tidak ada

yang menegur dirinya sekalipun. Lewat kegiatan malam bina taqwa dengan teman-
102

teman rohis, ibadahnya pun tidak pernah terlalaikan lagi.39 Selanjutnya Marni

bendahara umum Rohis SMAN 8 Bandar Lampung mengungkapkan bahwa dirinya

sudah mulai mengenakan hijab syar‟i kemudian tidak lagi meninggalkan sholat wajib

dan belajar menunaikan sholat sunnah.40

Pengaruh efek dari pembinaan ini dirasakan juga oleh pengurus rohis SMKN

3 Bandar Lampung, menurut titik bahwa ada semangat tersendiri menjadi anak rohis

untuk tidak meninggalkan sholat wajib, dalam mengaji lebih banyak memperbaiki

serta berpakaian menjadi lebih rapih.41 Lain halnya dengan saras dirinya merasa lebih

menekuni agama dan lebih bertanggung jawab untuk agama.42

Tidak hanya berpengaruh untuk anak-anak rohis namun dalam membina ini

FKAR mendapatkan feedback sebagaimana keterangan yang disampaikan sebagai

berikut:

“Alhamdulillah sekarang FKAR sudah banyak bekerjasama dengan sekolah-


sekolah yang tadinya hanya ruang lingkup SMA sekarang SMP pun udah
mulai berkembang sehingga sekolah-sekolah itu sudah percaya dengan
FKAR untuk terkait tutor-tutor yang mengisi BBQ bahkan sekarang tidak
hanya anak rohis yang BBQ karena banyak sekolah-sekolah yang
menerapkan pembinaan tadi sehingga ada BBQ wajib dan itu untuk pelajar
kelas satu biasanya jadi disitu gak hanya anak rohis, dari situ kita bisa
melihat ada dampak positif yang selama ini sudah dijalankan. Berupa infaq

39
[Link] Mukhlas, Ketua Umum Rohis periode 2016-2017 Di SMAN 8 Bandar Lampung,
Wawancara, 21 Januari 2017, Di Ruang Kelas SMAN 8 Bandar Lampung.
40
Sumarni, Bendahara Rohis periode 2016-2017 Di SMAN 8 Bandar Lampung, Wawancara,
21 Januari 2017, Di Ruang Kelas SMAN 8 Bandar Lampung.
41
Titik, Seketaris Umum Rohis periode 2014-2015 Di SMKN 3 Bandar Lampung,
Wawancara, 26 Januari 2017, Di Kantin SMKN 3 Bandar Lampung.
42
Saras, Seketaris Bidang Dana Usaha Rohis periode 2014-2015 Di SMKN 3 Bandar
Lampung, Wawancara, 26 Januari 2017, Di Kantin SMKN 3 Bandar Lampung.
103

pernah kita terima dari instansi atau sekolah ataupun nama pribadi tidak
membawa nama sekolah saat kita mengadakan agenda besar.”43

Selanjutnya, FKAR pada prinsipnya melakukan pembinaan di sekolah-

sekolah guna mendapatkan kader-kader yang unggul di masing-masing sekolah

sehingga kedepannya FKAR tidak lagi kesulitan mencari kader-kader pengganti

FKAR nantinya.

6. Proses Komunikasi FKAR Bersifat Prosesual, Dinamis, Dan Tidak

Transaksional

FKAR dalam melakukan komunikasi pertemuan tatap muka kepada

pengurus rohis dilakukan secara rutin seminggu sekali. Tidak dipungkiri selain

komunikasi secara langsung FKAR sering melakukan komunikasi lewat media

komunikasi yaitu handphone kepada pengurus rohis agar terjalin komunikasi yang

intensif.

Implikasi dari proses komunikasi dinamis yang dilakukan FKAR dalam

membina rohis adalah anak-anak rohis berubah bukan sedekar berubah dari ilmu

pengetahuan yang semakin bertambah namun akhlak yang baik seperti yang

diharapkan oleh FKAR dapat terwujud.

Dalam implementasinya, pengurus rohis wanita yaitu bendahara umum

rohis SMAN 8 mengungkapkan bahwa dirinya sudah mulai mengenakan hijab syar‟i

kemudian tidak lagi meninggalkan sholat wajib dan belajar menunaikan sholat

43
Desliyani, Seketaris Umum FKAR Bandar Lampung periode 2016-2017, Wawancara, 22
Januari 2017, Di Musolla Darul Hikmah Bandar Lampung.
104

sunnah.44 Sedangkan menurut seketaris umum rohis SMKN 3 mengakui bahwa ada

semangat tersendiri menjadi anak rohis untuk tidak meninggalkan sholat wajib, dalam

mengaji lebih banyak memperbaiki serta berpakaian menjadi lebih rapih.45

Dalam membina rohis FKAR memberikan materi lewat program BBQ

(bimbingan belajar Qur‟an), sebagai komunikator menyampaikan pesan kepada

penerima. Jalannya BBQ pada anak rohis SMAN 8 Bandar Lampung adanya proses

encoding dan decoding, namun proses decoding (penyandian-balik) berjalan tidak

serempak. Penerima pesan yaitu anak rohis tidak merespons dengan cepat. Ketika

TKS memberikan berupa pertanyaan diantara mereka tidak langsung merespon

menjawab pertanyaan. Masih terlihat kebingungan diraut wajah anak-anak rohis, pada

akhirnya TKS memperjelas kembali materi yang disampaikan. 46

7. Proses Komunikasi FKAR Bersifat Nonsekuensial Sirkuler

Komunikasi FKAR dalam hal ini melibatkan TKS untuk membina rohis

di sekolah masing-masing. Komunikasi TKS dengan binaan juga bersifat

nonsekuensial itu berjalan dua-arah, karena anak-anak rohis yang kita anggap sebagai

pendengar atau penerima pesan sebenarnya juga menjadi pembicara atau pemberi

pesan pada saat yang sama, yaitu lewat perilaku nonverbal mereka dengan ditandai

beberapa sirkuler.

44
Sumarni, Bendahara Rohis periode 2016-2017 Di SMAN 8 Bandar Lampung, Wawancara,
21 Januari 2017, Di Ruang Kelas SMAN 8 Bandar Lampung.
45
Titik, Seketaris Umum Rohis periode 2014-2015 Di SMKN 3 Bandar Lampung,
Wawancara, 26 Januari 2017, Di Kantin SMKN 3 Bandar Lampung.
46
Observasi, Pelaksanaan BBQ, 27 Januari 2017, Di Musolla SMAN 8 Bandar Lampung.
105

TKS sebagai pembicara yang menyampaikan pesan kepada binaan nya

yaitu anak-anak rohis, TKS sering menerima perilaku nonverbal dari mereka berupa

tatapan mata yang tidak bersemangat, ada yang menahan rasa kantuk, bahkan

ekspresi yang seakan mereka sedang dilanda banyak masalah. Secara tidak sadar

anak-anak rohis pemberi pesan nonverbal mereka pada saat TKS memberi materi.

Adanya umpan balik saat pemberian materi tersebut, menyadari pesan nonverbal

yang diterima TKS pun kembali mensiasati kondisi tersebut dengan diselingi games

kecil untuk mengembalikan kefokusan anak-anak binaan rohis.47

8. Komunikasi Vertikal

Dalam hal ini komunikasi antara pengurus FKAR dengan pengurus Rohis

disebut dengan komunikasi vertikal. Komunikasi yang terjadi selama kepengurusan

FKAR dengan anggota rohis terkhusus pengurus rohis SMAN 8 Bandar Lampung

berjalan baik sebagaimana yang diungkapkan oleh ketua rohis SMAN 8 Bandar

Lampung:

“Alhamdulillah kalau dari ikhwan karena saya ikhwan komunikasi


dengan TKS dan FKAR berjalan dengan baik”.48

Hal tersebut tergambar dalam hal memberikan solusi atau pemecahan

masalah internal yang ada didalam rohis SMAN 8 sebagaimana keterangan sebagai

berikut:

“Saat kepengurusan saya TKS sering memberikan solusi ketika saya


memberi tahu masalahnya apa tapi untuk yang langsung menyelesaikan

47
Masdiana, TKS SMAN 8 Bandar Lampung, Wawancara, 24 Maret 2017.
48
M. Anang Mukhlas, Ketua Rohis periode 2016-2017 Di SMAN 8 Bandar Lampung,
Wawancara, 20 Januari 2017, Di Musolla SMAN 8 Bandar Lampung.
106

itu pernah Cuma saya belum tau tiba-tiba sudah selesai kemungkinan itu
karena TKS, masalah pemahaman itu TKS yang turun langsung”.49

Dalam keorganisasian sering mengalami kendala dalam SDM yang

kurang aktif di kegiatan-kegiatan rohis hal ini TKS memberikan solusi dan nasihat

kepada pengurus-pengurus rohis SMAN 8 Bandar Lampung sebagaimana yang

diungkapkan oleh bendahara umum rohis SMAN 8 Bandar Lampung:

“Setiap ada masalah pasti kita cerita ke TKS nya dan TKS memberikan
solusi dan nasihat seperti ada beberapa pengurus yang kurang aktif kita
kasih ke mereka supaya aktif lagi sebelum itu TKS sudah memberikan
nasihat bahwa nanti ketika kepengurusan kalian akan ada masalah-
masalah, anggotanya kayak gini kayak gitu yang penting kalian tetep
istiqomah”. 50

Dalam melakukan komunikasi dengan bawahan pasti akan ada bentuk

kerjasama atau kesepakatan. Adapun komunikasi lain yang dilakukan pengurus

FKAR dengan pengurus rohis SMAN 8 Bandar Lampung adalah memberikan

peraturan-peraturan yang bersifat komunikasi keorganisasian sebagaimana

keterangan sebagai berikut:

“Peraturannya itu sebenarnya ada beberapa yang pertama dilarang


berduan berkhalwat, jamal (jam malam) berhenti jarkoman, berhenti
SMS, berhenti status dan comentnan jam 9 malam, untuk yang akhwat
(perempuan) tidak boleh memasang foto profil di medsos yang
membuka aurat, dan jika syuro (rapat) diusahakan memakai hijab jika
tidak ada maka harus menjaga pandangan”.51

49
M. Anang Mukhlas, Ketua Rohis periode 2016-2017 Di SMAN 8 Bandar Lampung,
Wawancara, 20 Januari 2017, Di Musolla SMAN 8 Bandar Lampung.
50
Sumarni, Bendahara Rohis periode 2016-2017 Di SMAN 8 Bandar Lampung, Wawancara,
21 Januari 2017, Di Ruang Kelas SMAN 8 Bandar Lampung.
51
M. Anang Mukhlas, Ketua Rohis periode 2016-2017 Di SMAN 8 Bandar Lampung,
Wawancara, 20 Januari 2017, Di Musolla SMAN 8 Bandar Lampung.
107

Salah satu unsur – unsur komunikasi yaitu efek atau feedback dimana

pengirim pesan komunikasi menerima timbal balik atau pengaruh dari penerima

pesan komunikasi tersebut. Sebagaimana keterangan sebagai berikut:

“Disini TKS sama sekali tidak dapat fee dari sekolah ataupun FKAR,
kalau untuk feedback dari ade-adenya alhmdulillah bukan karena kita ya
memang semua di gerakkan sama Allah ya tadi ada yang awalnya belum
pakai jilbab sekarang pakai jilbab setelah jadi pengurus, yang tadinya
jilbabnya agak kecil sekarang sudah lebar menutup dada itu untuk yang
perempuan. Kalau untuk yang laki-laki berubah jadi lebih tanggung jawab
dengan ibadah dan progja-progja mereka.”52

Sedangkan komunikasi pengurus FKAR dengan pengurus rohis SMKN 3

Bandar Lampung pada tahun ini berjalan baik menurut Titik bahwa setiap minggu

rutin BBQ dengan TKS hal ini yang membuat rohis terpantau serta jalannya

silahturahim.53 Adapun komunikasi lain yang dilakukan pengururus FKAR atau TKS

adalah dalam bentuk kerjasama antara pengurus rohis SMKN 3 Bandar Lampung

sebagaimna keterangan sebagai berikut:

“Sering banget melakukan kerjasama seperti acara untuk adik kelas acara
rujak party, games, outbond dan lain-lain mba. Ada juga rihlah tapi ini
belum terlaksana karena masalah waktu dengan adik-adik yang belum
ketemu.”54

Sebuah organisasi membutuhkan perencanaan disetiap agendanya, bentuk

komunikasi lainnya yang dilakukan pengurus FKAR atau TKS kepada rohis SMKN 3

Bandar Lampung adalah dengan cara melakukan musyawarah disetiap masalah yang

52
Masdiana, Tim Kerja Sekolah Di SMAN 8 Bandar Lampung, Wawancara, 20 Januari
2017, Di Musolla SMAN 8 Bandar Lampung.
53
Titik, Seketaris Rohis periode 2014-2015 Di SMKN 3 Bandar Lampung, Wawancara, 26
Januari 2017, Di Kantin SMKN 3 Bandar Lampung.
54
Saras, Seketaris Bidang Dana Usaha periode 2014-2015 Di SMKN 3 Bandar Lampung,
Wawancara, 26 Januari 2017, Di Kantin SMKN 3 Bandar Lampung.
108

dihadapi atau agenda yang ingin dilaksanakan. Sebagaimana keterangan sebagai

berikut:

“Sering mba waktu kita bener-bener ada masalah kita langsung ke TKS
bilang kak kita ada masalah ini gimana cara menyelesaikannya kami
sama-sama sharing masalah rohis ini gimana kedepannya”.

Hambatan dan kendala di sebuah organisasi pasti ada begitu pun kendala

saat pembinaan atau berkomunikasi tatap muka dengan para TKS, sebagaimana

keterangan sebagai berikut:

“Kendala untuk mentoring mungkin di waktu karena di SMKN 3 itu


sekarang waktunya itu tidak serempak ada yang masuk duluan, untuk
kelas 10 masuk siang kelas 11 dan 12 nya masuk pagi masuknya juga gak
serempak kayak kuliah gitu jadi agak sulit menyatukan waktunya karena
di mentoring ini kan kita gak sekelas-sekelas tapi beberapa kelas
dijadikan satu. Kendala untuk TKS untuk datang rutin ke sekolah
mungkin karena jadwalnya ada yang kuliah, ada yang kerja jadi
jadwalnya ganti-ganti.”55

9. Komunikasi Horizontal

Dalam hal ini ketua FKAR merupakan seseorang yang menggerakkan,

membimbing, dan mempengaruhi bawahannya untuk mencapai tujuan kerja. Untuk

mencapai tujuan kerja yang sesuai dengan bidang nya masing-masing, ketua FKAR

memberikan intruksi kerja kepada pengurus FKAR sebagaimana keterangan sebagai

berikut:

“Setiap bulan kita ada program rapat pimpinan ya itu untuk kepala
bidang- kepala bidang sedangkan untuk pengurus secara keseluruhan
biasanya kita laksanakan 2 bulan sampai 3 bulan sekali sedangkan untuk
kepala bidang sebulan sekali. Secara struktur itu ada intruksi dari saya

55
Dwi Ayu, Tim Kerja Sekolah Di SMKN 3 Bandar Lampung, Wawancara, 26 Januari 2017,
Di Musolla SMKN 3 Bandar Lampung.
109

untuk sebulan sekali tapi secara koordinasi tidak mesti sebulan sekali ya
bisa 2 minggu sekali atau 3 minggu sekali bahkan jika dibutuhkan untuk
koordinasi mendadak itu kita lakukan ya atau memang seandainya ada
program kerja yang akan dilaksanakan dekat-dekat hari ini maka kita
akan melakukan koordinasi itu”.56

Disisi lain, setiap organisasi memiliki sistem pengaturan organisasinya

sendiri seperti teori Thayer mengatakan bahwa komunikasi organisasi merupakan

arus data yang akan melayani komunikasi organisasi dan proses interkomunikasi

dalam beberapa cara. Dia memperkenalkan tiga sistem komunikasi dalam organisasi

yaitu pertama, berkenaan dengan kerja organisasi seperti data mengenai tugas-tugas

atau beroperasinya organisasi; kedua, berkenaan dengan pengaturan organisasi seperti

perintah, aturan dan petunjuk; ketiga, berkenaan dengan pemeliharaan dan

pengembangan organisasi seperti hubungan dengan personal dan masyarakat dan

pihak eksternal lainnya. Sebagaimana keterangan sebagai berikut:

“Karena kita sudah ada program kerja otomatis kita ada pembahasan
terkait untuk melaksanakan program kerja itu, kita ada rapat pimpinan
yang dilaksanakan sebulan itu dua kali ada juga rapat pleno yang dihadiri
oleh seluruh pengurus FKAR itu dilaksanakan sebulan sekali selebihnya
masing-masing departemen maupun presedium dia melaksanakan rapat
merancang kinerja-kinerja nya itu selama sepekan sekali, hal tersebut
bukan bentuk perintah namun merupakan kewajiban agar memaksimalkan
kerjanya jadi memang harus dipersiapkan.”57

Tidak hanya itu saja, pimpinan FKAR periode 2016-2018 bernama

Muarif mengadakan pelatihan kepemimpinan yang ditujukan langsung untuk para

pengurus FKAR guna menambah keahlian, wawasan, dan tanggung jawab atas

56
Muarif, Ketua FKAR Bandar Lampung, Wawancara, 5 Februari 2017, Di Musolla SMAN
8 Bandar Lampung.
57
Desliyani, Seketaris Umum FKAR Bandar Lampung periode 2016-2017, Wawancara, 22
Januari 2017, Di Musolla Darul Hikmah Bandar Lampung.
110

amanah yang diemban selama kepengurusan di FKAR ini. Hal ini biasa dilakukan

setelah pergantian kepengurusan yang lama kepada kepengurusan yang baru.

Sebagaimana keterangan sebagai berikut:

“Untuk FKAR sendiri pada prinsipnya tetap ada pelatihan biasanya kita
sebut orientasi pengurus ya baik itu di indoor maupun di outdoor, jadi
biasanya setelah pelantikan kita adakan orientasi pengurus yang mana
pesertanya itu seluruh pengurus FKAR termasuk presedium, kepala
bidang-kepala bidang dan anggotanya biasanya kita adakan 2 hari di akhir
pekan sabtu minggu karena kondisinya dihari itu mereka libur bekerja dan
kuliah. Dan sedangkan untuk ada beberapa bidang juga yang mengadakan
pelatihan sendiri internal bidang sewaktu ketika mereka membutuhkan
contohnya seperti departemen humas ya, humas itu kita berikan pelatihan
tersendiri khusus untuk bidang humas seperti pelatihan tentang
kemediaan, jurnalistik dan sebagainya. Begitu pun dengan bidang lain
jika memungkinkan kita untuk training untuk bekal bidangnya sendiri
maka kita laksanakan.”58

Berjalannya kepengurusan selama kurang lebih satu tahun ini dalam

berkomunikasi ketua FKAR dan pengurus terkadang mengalami beberapa hambatan

atau kendala, mengingat semua pengurus FKAR terdiri dari banyak elemen seperti

yang sudah bekerja dan yang masih kuliah. Sebagaimana keterangan sebagai berikut:

“Kalau hambatan jelas ada ya dalam sebuah organisasi, nah karena


kebetulan FKAR sendiri semua pengurusnya dari berbagai elemen dalam
artian ada yang mahasiswa, ada yang bekerja, ada yang mahasiswa
sekaligus bekerja, ada yang memang mengurusi di sekolahnya juga
sehingga mungkin problem terbesar dalam kepengurusan FKAR adalah
masalah di waktu ya dalam kita bekerja tapi ya kita satu organisasi saling
menutupi lah ya seandainya memang kita butuh ketua bidang dan ketua
bidang tidak bisa maka kita kondisikan untuk anggotanya yang
berkoordinasi, karena memang semua personil FKAR itu harus membagi
waktu antara dunia kerjanya, dunia kuliahnya sama yang pasti kewajiban
mereka disekolahnya masing-masing gitu ya seperti mengisi BBQ wajib,
mengisi mentoring-mentoring disekolahnya karena sebagian besar

58
Muarif, Ketua FKAR Bandar Lampung periode 2016-2017, Wawancara, 5 Februari 2017,
Di Musolla SMAN 8 Bandar Lampung.
111

pengurus FKAR itu membina ke sekolah-sekolah dan itu tidak hanya satu
kelompok ada yang dua sampai tiga kelompok. Tapi itu semua bisa
dikondisikan di pengurusan FKAR.”59

Di era teknologi yang canggih, FKAR dalam menghadapi hambatan dan

kendala tersebut mulai dari masalah waktu dikarenakan profesi masing-masing

pengurus yang berbeda-beda, semua ini ternyata FKAR punya cara untuk

mengantisipasinya agar komunikasi berjalan dengan lancar yaitu dengan sosial

media. Sebagaimana keterangan sebagai berikut:

“Kesulitan pasti ada yang sulit untuk mengatur jadwal rapat rutin atau
yang hadir semua dalam setiap agenda itu pasti ada karena ya tadi mereka
punya kewajiban tersendiri yang mahasiswa mungkin dengan tugasnya
sebagai seorang mahasiswa, yang pegawai mungkin bisa ada waktu nya di
weekend tapi kita mengantisipasinya dengan sosial media ya kita
mempergunakan itu kita punya whatsApp, ada grup pengurus, nah
mungkin sering lebih berkoordinasinya disitu.”60

Dalam hal mengambil suatu keputusan dalam sebuah organisasi semua

berpengaruh kepada pimpinan baik itu diserahkan oleh bawahan atau diputuskan

secara sepihak , banyak tipe kepemimpinan dalam sebuah organisasi. Dalam hal ini

ketua FKAR melibatkan pengurus yang lain untuk memutuskan suatu keputusan yaitu

dengan musyawarah atau mufakat, sebagaimana keterangan sebagai berikut:

“Jelas untuk berorganisasi dalam memutuskan sesuatu kita menggunakan


mekanisme musyawarah atau rapat gitu ya, tapi itu tergantung dari apa
yang mau dimusyawarahkan kalau keputusannya menyangkut bidang
internal bidang cukup disampaikan di dalam bidangnya di rapatkan di
bidangnya tapi kalau itu membutuhkan keputusan yang sangat besar maka

59
Muarif, Ketua FKAR Bandar Lampung periode 2016-2017, Wawancara, 5 Februari 2017,
Di Musolla SMAN 8 Bandar Lampung.
60
Desliyani, Seketaris Umum FKAR Bandar Lampung periode 2016-2017, Wawancara, 22
Januari 2017, Di Musolla Darul Hikmah Bandar Lampung.
112

kita akan undang semua kepala bidang atau biasa kita sebut kepala
departemen.”61

Dalam sebuah organisasi akan ada pembagian kerja semua itu akan

bekerja sesuai dengan apa yang dibidangnya. Pimpinan mempunyai arahan kerja yang

berbeda dengan yang lainnya, begitu pun bidang satu dengan yang lain mempunyai

arahan kerja masing-masing. Menurut Muarif pembagian kerja sudah ditentukan

masing-masing, ketua dan presedium FKAR cenderung hanya sebagai monitoring

pekerjaan masing-masing bidang karena di awal kepengurusan sudah ada arah

kebijakan bahwa ada yang harus dilaksanakan dan ada yang tidak boleh sehingga

jarang dari pengurus FKAR yang melakukan diluar instruksi pimpinan FKAR.62

61
Muarif, Ketua FKAR Bandar Lampung periode 2016-2017, Wawancara, 5 Februari 2017,
Di Musolla SMAN 8 Bandar Lampung.
62
Muarif, Ketua FKAR Bandar Lampung periode 2016-2017, Wawancara, 5 Februari 2017,
Di Musolla SMAN 8 Bandar Lampung.
113

BAB IV

KOMUNIKASI ORGANISASI DALAM KEPEMIMPINAN FORUM

KERJASAMA ALUMNI ROHIS UNTUK MEMBINA ROHIS

SE-KOTA BANDAR LAMPUNG

Pada bab ini akan menjelaskan mengenai bab sebelumnya. Pada bagian

pertama akan mencoba mendiskusikan tentang bagaimanakah proses komunikasi

organisasi dalam kepemimpinan Forum Kerjasama Alumni Rohis untuk membina

Rohis se-Kota Bandar Lampung. Kedua, akan mendiskusikan bagaimana

keberhasilan pembinaan rohis yang dilakukan Forum Kerjasama Alumni Rohis

(FKAR).

A. Beberapa Temuan

Dari penelitian yang berjudul Komunikasi Organisasi Dalam Kepemimpinan

Forum Kerjasama Alumni Rohis (FKAR) Untuk Membina Rohis Se-Kota Bandar

Lampung. Dapat dikemukakan beberapa temuan, yaitu:

1. Adanya pembinaan pelajar diawali dengan masalah dekadensi moral di kalangan

pelajar yang dilatarbelakangi oleh realita remaja Indonesia khususnya remaja sang

bumi ruwa jurai yang semakin memperhatinkan dari hari ke hari, demoralisasi

akhlak yang lekat terjadi di setiap lini jenjang pendidikan menghancurkan pemuda

bangsa tidak hanya pelajar SMA, dan SMP namun juga kepada pelajar SD. Sebuah

fenomena yang seharusnya tidak terjadi di Negara yang menjadikan pemuda


114

sebagai generasi penerus peradaban, terlebih lagi untuk negeri yang berpenduduk

mayoritas muslim.

Dengan tujuan membina pelajar tersebut agar Bandar Lampung memiliki

pelajar yang bermoral sehingga dapat menjadi penggerak pembangunan,

pertemuan yang digagas itu pertengahan 1998 itu akhirnya membuahkan hasil.

Nama Forum Kerjasama Alumni Rohis SMA-SMK se-Lampung akhirnya resmi

dipilih sebagai cover organisasi yang menaungi semua sumberdaya alumni Rohis.

Dalam skup organisasi, FKAR menganggap bahwa Rohis adalah wadah yang

relevan untuk mengimpelementasikan nilai-nilai dakwah di kalangan pelajar.

Dilihat dari visi FKAR yang menjadikan lembaga dakwah sekolah yang kokoh dan

mandiri, membangun jati diri dan mengembangkan potensi pelajar Bandar

Lampung. FKAR pun membentuk departemen yaitu departemen humas,

departemen pengembangan dan rekrutmen, departemen pembinaan pelajar dan

departemen manajemen rohis.

2. Setelah dibuat berbagai departemen tidak lupa pula FKAR memilih nahkoda untuk

menjalankan organisasi ini, kepemimpinan yang di nahkodai oleh Muarif untuk

tahun ini membawa FKAR kearah peningkatan. Departemen pembinaan pelajar

dan departemen pengembangan rekrutmen pada tahun ini mendekati target tujuan

FKAR dalam muatan banyaknya anak rohis yang sudah direkrut dan sekolah-

sekolah yang sudah tertangani pembinaan rohisnya. Banyak program-program

yang dirancang oleh departemen pembinaan pelajar salah satunya adalah BBQ (

Bimbingan Baca Qur’an), yang didalamnya belajar membaca Qur’an dengan


115

makhroj dan tajwid yang benar dan mengajarkan tentang kecakapan hidup dan

bagaimana cara bergaul laki-laki dan perempuan.

3. Melihat kondisi program BBQ yang dilaksanakan oleh FKAR maka alumni rohis

dari masing-masing sekolah terjun langsung untuk kembali mengajarkan anak-

anak rohis, FKAR menyebutnya dengan TKS ( Tim kerja Sekolah). Dimana TKS

ini merupakan komunikator pembawa dan penyampai pesan-pesan dakwah kepada

anak-anak rohis. Oleh karena itu penting diperhatikan tentang syarat-syarat

penyampaian materi seperti kredibilitas seorang TKS yang menjadi contoh yang

baik, memiliki pengetahuan yang luas tentang keislaman dan sikap yang lemah

lembut dalam penyampaian materi.

Tim Kerja Sekolah ( TKS ) dalam menyampaikan materi melihat

kepentingan psikologis anak-anak rohis dimana umur mereka yang rata-rata masih

remaja. Materi pokok yang disampaikan TKS menyangkut aspek aqidah, akhlak

dan keislaman. Metode penyampaian materi selain dengan BBQ, FKAR juga

mengadakan kegiatan-kegiatan seperti malam bina taqwa (mabit), jalsah ruhiyah,

serta tasqif akbar. Dalam kegiatan-kegiatan tersebut diundang pemateri-pemateri

dari luar yang memang berkompeten dalam menyampaikan materi yang berkaitan

tentang remaja Islam.

4. Proses komunikasi yang dilakukan FKAR bersifat prosesual dimana pertemuan

tatap muka kepada pengurus rohis dilakukan secara rutin seminggu sekali. FKAR

sering melakukan komunikasi lewat media komunikasi yaitu handphone kepada

pengurus rohis agar terjalin komunikasi yang intensif.


116

5. Proses komunikasi yang dilakukan FKAR bersifat dinamis dimana dalam

membina rohis, FKAR dapat merubah anak-anak rohis melalui komunikasi bukan

sedekar berubah dari ilmu pengetahuan yang semakin bertambah namun akhlak

yang baik seperti yang diharapkan oleh FKAR dapat terwujud.

6. Proses komunikasi yang dilakukan FKAR tidak transaksional dilihat dalam

melakukan pembinaan proses decoding (penyandian-balik) berjalan tidak

serempak. Penerima pesan yaitu anak rohis tidak merespons dengan cepat.

7. Proses komunikasi yang dilakukan FKAR bersifat nonsekuensial sirkuler, pada

point ini komunikasi TKS dengan anak-anak rohis berjalan dua arah. Dimana

anak-anak rohis bukan sedekar pendengar atau penerima pesan namun mereka

juga termasuk pemberi pesan kepada TKS. Dalam kondisi anak-anak rohis merasa

kantuk, tidak fokus itu merupakan perilaku nonverbal yang memberi isyarat pesan

kepada TKS bahwa mereka belum siap menerima materi, sehingga TKS

menangkap pesan itu kemudian menanggapi dengan mensiasati permainan disela-

sela materi agar anak-anak rohis kembali fokus.

8. Upaya dakwah Forum Kerjasama Alumni Rohis (FKAR) yang dilakukan melalui

membina rohis se-Kota Bandar Lampung tersebut, menghasilkan generasi penerus

yang menjaga aqidah dan memelihara akhlaknya agar semakin kokoh dan mampu

menghadapi setiap godaan yang terus menghampiri dari luar dirinya. Terlebih dari

kemajuan teknologi yang semakin modern serta memiliki link dalam mensuport

agenda besar.
117

B. Perbandingan Temuan Dengan Teori

1. Proses Komunikasi Organisasi Dalam Kepemimpinan FKAR Untuk

Membina Rohis

Dalam interpretasi ini ada suatu konsekuensi untuk membandingkan

temuan yang didapat dengan teori yang relevan, agar diperoleh kesimpulan yang

benar. Dilihat dari sasaran dakwah yang menjadi studi kasus dalam penelitian ini

yaitu Membina Rohis se- Kota Bandar Lampung memiliki beberapa strategi

komunikasi organisasi dalam kepemimpinan FKAR untuk membina Rohis yaitu

dengan cara merumuskan program kerja dengan baik, dan program kerja tersebut

memiliki tanggung jawab untuk mengikutsertakan pengurus-pengurus FKAR

bekerjasama secara efektif dalam mencapai keberhasilan membina. Program-program

kerja yang mereka lakukan seperti: BBQ ( Bimbingan Baca Qur’an), jalsah ruhiyah,

tasqif dan mabit ( malam bina taqwa).

Berdasarkan wawancara penulis dengan salah satu pengurus Forum

Kerjasama Alumni Rohis ( FKAR), proses membina rohis di sekolah-sekolah melalui

beberapa program kerja. Program kerja tersebut dirancang oleh departemen

pembinaan pelajar (DPP), departemen pengembangan dan rekrutment (DPR) dengan

mengikutsertakan rohis disekolah-sekolah se-Kota Bandar Lampung dalam kegiatan

membina rohis. Hal ini sesuai dengan teori Organisasi sebagai sistem kerjasama yaitu

suatu sistem mengenai pekerjaan-pekerjaan yang dirumuskan dengan baik, dan

masing-masing pekerjaan mengandung wewenang, tugas dan tanggung jawab tertentu


118

yang memungkinkan orang-orang dari suatu organisasi dapat bekerjasama secara

efektif dalam usaha mencapai tujuan bersama (lihat Bab II hal.34).

Jika dilihat latar belakang didirikannya Forum Kerjasama Alumni Rohis

(FKAR) sebelumnya sebagaimana yang telah penulis paparkan pada BAB III bahwa

organisasi ini melakukan pembinaan pelajar dengan melihat masalah dekadensi moral

di kalangan pelajar yang realitanya remaja Indonesia khususnya remaja sang bumi

ruwa jurai yang semakin memperhatinkan dari hari ke hari. Sehingga para alumnus-

alumnus rohis yang mengadakan musyawarah besar dan tercetus untuk membuat

wadah pembinaan pelajar. Dan mulai saat itu, FKAR lebih memprioritaskan pada

pembinaan dan pengembangan Rohis di kota Bandar Lampung.

Upaya yang dilakukan oleh FKAR dalam membina rohis se-Kota

Bandar Lampung yakni memberikan pelayanan jasa para alumni-alumni rohis ke

sekolah masing-masing biasa disebut TKS ( Tim Kerja Sekolah) dengan membina

anak-anak rohis dengan bekal pengetahuan keislaman yang sudah matang didapat

dari pembekalan yang dilakukan FKAR berupa kajian keislaman, dan referensi buku.

Bimbingan belajar Qur’an merupakan upaya untuk memperteguh akhlak

ummat dengan sasaran program terciptanya kualitas pelajar dan pemuda Indonesia

yang beriman, bertaqwa, berakhlak mulia, tangguh, cerdas, kreatif, berbudaya,

produktif, mandiri serta berfungsinya sistem pembinaan kader dakwah secara

berkesinambungan serta sarana komunikasi yang dilakukan TKS dengan anak-anak

rohis.
119

FKAR dalam membina rohis sudah memberikan perubahan kepada

anak-anak rohis bukan sedekar berubah dari ilmu pengetahuan yang semakin

bertambah namun akhlak yang baik seperti yang dialami oleh bendahara umum rohis

SMAN 8 dan seketaris umum rohis SMKN 3 Bandar Lampung bahwa mereka sudah

mulai mengenakan pakaian menurut aurat dengan hijab syar’i, tidak lagi

meninggalkan sholat wajib dan menambah sholat sunnah serta meruntinkan dalam hal

mengaji (lihat Bab III hal.103).

Selain itu, pada pelaksanaan membina komunikasi TKS dengan binaan

itu berjalan dua-arah, anak-anak rohis yang kita anggap sebagai pendengar atau

penerima pesan sebenarnya juga menjadi pembicara atau pemberi pesan pada saat

yang sama, yaitu lewat perilaku nonverbal mereka dengan ditandai adanya umpan

balik saat pemberian materi dimana TKS sering menerima perilaku dari mereka

berupa tatapan mata yang tidak bersemangat, ada yang menahan rasa kantuk, bahkan

ekspresi yang seakan mereka sedang dilanda banyak masalah.

Secara tidak sadar anak-anak rohis pemberi pesan nonverbal mereka

pada saat TKS memberi materi, sehingga TKS memahami dan kemudian memberikan

selingan permainan yang membuat binaan kembali fokus (lihat Bab III hal.105). Saat

pertanyaan dilontarkan kepada binaan, ada kalanya mereka tidak bisa menjawab atau

merespons berbagai pertanyaan tersebut. Oleh karena itu, tidak jarang TKS kembali

mengulang dan memperjelas materi yang disampaikan (lihat Bab III hal. 104).

Berdasarkan argument diatas, mengenai proses komunikasi organisasi

dalam kepemimpinan FKAR untuk membina rohis ada beberapa yang sejalan dengan
120

teori yang dinyatakan oleh Deddy Mulyana, yaitu terdapat 3 (tiga) sifat dalam proses

komunikasi, sifat penting ini diantaranya :

1. Proses komunikasi bersifat prosesual, komunikasi sebagai proses ini dapat

dianalogikan dengan apa yang dikatakan Heraclitus enam abad sebelum

Masehi bahwa “seseorang manusia tidak akan pernah melangkah di sungai

yang sama dua kali”. Ketika kita menyeberangi sungai untuk kedua kali,

ketiga kali dan seterusnya pada hari yang lain, maka sesungguhnya

penyeberangan itu bukanlah fenomena yang sama. Kita sendiri sudah berubah,

dari segi usia lebih tua, dari pengalaman juga lebih meningkat.

2. Proses komunikasi bersifat dinamis, para peserta komunikasi berubah (dari

sekedar berubah pengetahuan hingga berubah pandangan dunia dan

perilakunya). Ada orang yang perubahannya sedikit demi sedikit dari waktu

ke waktu, tetapi perubahan akhirnya (secara kumulatif) cukup besar. Namun

ada juga orang yang berubah secara tiba-tiba, misalnya cuci otak atau

konversi agama.

3. Proses komunikasi bersifat nonsekuensial sirkuler, seseorang berbicara

kepada seseorang lainnya atau kepada sekelompok orang seperti dalam rapat

atau kuliah, sebenarnya komunikasi itu berjalan dua-arah, karena orang-orang

yang kita anggap sebagai pendengar atau penerima pesan sebenarnya juga

menjadi pembicara atau pemberi pesan pada saat yang sama, yaitu lewat

perilaku nonverbal mereka.


121

Dalam hal ini ada satu teori yang tidak sejalan dalam proses komunikasi

organisasi dalam kepemimpinan FKAR untuk membina rohis se-kota Bandar

Lampung yaitu proses komunikasi bersifat transaksional. Dimana ada proses

penyandian ( encoding ) dan penyandian-balik ( decoding ), proses itu terjadi

serempak keserempakan inilah yang menandai komunikasi sebagai transaksi. Jadi,

kita tidak menyandi pesan, lalu menunggu untuk menyandi balik respons orang lain.

Hal tersebut dilakukan pada saat yang hampir bersamaan ketika berkomunikasi.

Jadi menurut analisa data yang penulis peroleh, adapun proses

komunikasi organisasi FKAR dalam membina rohis se-Kota Bandar Lampung

sebagaimana diungkapkan dalam teori di Bab II. Pertama, membina yang dilakukan

oleh para TKS sebagai komunikator dalam meningkatkan pengetahuan Islam dan

akhlak anak-anak rohis se-Kota Bandar Lampung. Sebagaimana data yang penulis

dapatkan bahwa dalam membina, TKS memerlukan kredibilitas yang tinggi guna

untuk memberikan contoh yang baik kepada anak-anak rohis dan membangun

kepercayaan kepada pihak sekolah. Kedua, proses komunikasi membina bersifat

prosesual yang dilakukan secara rutin dalam seminggu sekali. Ketiga, berjalannya

pembinaan yang dilakukan adanya perubahan sedikit demi sedikit dari binaan

berdasarkan wawancara pada Bab III bukan hanya perubahan pengetahuan terlebih

lagi perilaku ini dinamakan proses komunikasi dinamis.

Selain itu, proses komunikasi yang keempat yaitu proses komunikasi

nonsekuensial sirkuler komunikasi itu berjalan dua-arah karena orang-orang yang kita

anggap sebagai pendengar atau penerima pesan sebenarnya juga menjadi pembicara
122

atau pemberi pesan pada saat yang sama, yaitu lewat perilaku nonverbal mereka.

Berdasarkan wawancara (lihat Bab III hal.105) TKS sebagai pemberi pesan menerima

pesan dari binaan lewat perilaku berupa ekspresi kantuk, tidak fokus dan lainnya.

Sehingga hal tersebut membuat TKS mencoba memahami dengan cara menyelingi

permainan di sela-sela materi agar kembali fokus.

Kemudian, diketahui di Bab II bahwa proses komunikasi bersifat

transaksional tetapi ternyata tidak dipenuhi dalam proses komunikasi organisasi

dalam kepemimpinan FKAR untuk membina rohis. Berdasarkan observasi penulis

melihat belum adanya keserempakan dalam komunikasi yang ditandai dengan

encoding dan decoding. Proses decoding ini tidak berjalan baik yang seharusnya

dapat direspon dengan cepat oleh binaan namun TKS kembali memperjelas materi

yang binaan belum pahami.

Proses membina selanjutnya agar rohis disekolah-sekolah berkarya lebih

baik maka pimpinan FKAR menggunakan kekuasaan nya dengan efektif sehingga

menumbuhkan motivasi dari bawahan seperti pengurus FKAR ataupun rohis-rohis di

sekolah untuk bekerja dan berkarya lebih baik melalui reward power sebagaimana

teori yang terdapat pada BAB II halaman 35 terlihat dari FKAR memberikan

nominasi rohis terkece kepada SMAN 8 Bandar Lampung.

Berdasarkan wawancara kepada pengurus FKAR bahwa kegiatan

membina berjalan lancar dilihat rekrutmen yang dari tahun ke tahun tidak jauh dari

targetan yang FKAR targetkan. FKAR hanya mengevaluasi para TKS bagaimana

kinerja mereka dalam pembinaan pelajar Bandar Lampung, seandainya ada masalah,
123

FKAR memfasilitasi seperti kekurangan SDM dan program-program kerja Rohis

yang kurang optimal.

2. Keberhasilan Pembinaan Rohis Yang Dilakukan FKAR

Dari hasil yang telah dikonfirmasikan dengan teori yang relevan, maka

disimpulkan bahwa berdasarkan teori yang ada penulis pahami bahwa keberhasilan

membina bisa dilihat dari menonjolnya tujuan Agama dan akhlak mulia serta

pengembangan terhadap segala aspek pribadi sasaran dari segi intelektual, psikologis,

sosial dan spritiual dari anak-anak rohis.

Selanjutnya, keberhasilan pembinaan rohis yang dilakukan FKAR

dapat dilihat dari misi organisasi FKAR yang pertama (lihat Bab III hal. 72) tentang

membina keislaman, keimanan dan ketaqwaan pelajar muslim Bandar Lampung,

merujuk pada teori pada Bab II hal. 56 bahwasanya tujuan pembinaan keagamaan

menurut Al-Qur’an dan Hadist bukan hanya sekedar mengajarkan atau memberikan

pengetahuan tentang baik dan buruk. Melainkan upaya praktik dalam pembiasaan,

menanamkan, mendarah dagingkan, internalisasi dan transformasi nilai-nilai yang

baik menurut ajaran Islam kedalam diri seseorang secara utuh, terpadu dan seimbang

dan tentang unsur-unsur komunikasi salah satunya yaitu efek adalah perbedaan antara

apa yang dipikirkan, dirasakan, dan dilakukan oleh penerima sebelum dan sesudah

menerima pesan. Pengaruh ini bisa terjadi pada pengetahuan, sikap dan tingkah laku

seseorang (lihat Bab II hal. 29).

Setelah mengikuti rohis mayoritas anak –anak rohis sekarang

mengutamakan ibadah yang sebelumnya mereka masih belum bertanggung jawab


124

atas kewajiban beribadah. Diantara mereka malu jika tidak melakukan sholat

berjama’ah di masjid. Dan berdasarkan data salah satu dari pengurus rohis mengaku

sudah belajar mengenakan jilbab syar’i (lihat Bab III hal. 102).

Kemudian, FKAR mendapatkan bentuk keberhasilan berupa kerjasama

di banyak sekolah dan berupa kepercayaan pihak sekolah kepada FKAR terkait TKS

yang mengisi BBQ di ekskul rohis serta sering kali FKAR mendapatkan bantuan dana

infaq dari instansi atau sekolah ketika mengadakan agenda-agenda besar ( lihat Bab

III hal.102).

Dapat disimpulkan berdasarkan data di Bab III halaman 102 mengenai

hasil yang dicapai sesuai dengan teori pada Bab II halaman 56 yaitu mengamalkan

ajaran Agama yang dianut sesuai dengan tahap perkembangan peserta didik dan

menunjukan sikap percaya diri dan memahami hak dan kewajiban diri sendiri serta

orang lain dalam pergaulan di masyarakat serta menghargai adanya perbedaan

pendapat.

Dengan demikian penulis memahami bahwa dengan adanya proses

membina di sekolah-sekolah akan terpantau akhlak remaja di kota Bandar Lampung

dengan terus memberi materi-materi keislaman yang akan diamalkan di kehidupan

sehari-hari.
125
125

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Mengacu kepada hasil penelitian yang telah dikombinasikan dengan teori

yang relevan, maka peneliti bermaksud mengajukan beberapa kesimpulan sebagai

berikut:

1. Komunikasi organisasi dalam kepemimpinan Forum Kerjasama Alumni Rohis

(FKAR) untuk membina Rohis se-Kota Bandar Lampung berjalan sesuai teori

proses komunikasi. Dilihat dari proses komunikasi dalam membina rohis ada

beberapa yang diketahui bahwa FKAR melakukan proses komunikasi bersifat

prosesual dimana komunikasi pembinaan dilakukan secara rutin setiap

minggunya. Adanya komunikator yaitu TKS yang memiliki kredibitas, pesan

yaitu materi dakwah seperti akidah, akhlak dan keislaman. Selanjutnya, proses

komunikasi yang dilakukan FKAR bersifat dinamis yaitu pembinaan yang

dilakukan terlihat perubahan sedikit demi sedikit dari binaan bukan hanya

perubahan pengetahuan terlebih lagi perilaku yang baik. Kemudian, proses

komunikasi dalam membina yang dilakukan FKAR bersifat nonsekuensial

sirkuler komunikasi berjalan dua-arah karena binaan yang kita anggap sebagai

pendengar atau penerima pesan sebenarnya juga menjadi pembicara atau

pemberi pesan pada saat yang sama, yaitu lewat perilaku nonverbal mereka.

Berikutnya teori yang tidak relevan dengan kenyataan yang ada yaitu proses
126

komunikasi bersifat transaksional. Sifat komunikasi transaksional ini terjadi

secara serempak dalam encoding dan decoding, namun komunikasi dalam

membina yang dilakukan FKAR terhadap anak-anak rohis tidak serempak

dimana decoding terjadi tidak serempak. Dalam hal ini anak-anak rohis tidak

merespon dengan cepat materi yang diberikan TKS saat diajukan pertanyaan.

Sehingga TKS kembali mengulangi materi yang diberikan. FKAR

menggunakan kekuasaan nya dengan efektif sehingga menumbuhkan motivasi

dari bawahan seperti pengurus FKAR ataupun rohis-rohis di sekolah untuk

bekerja dan berkarya lebih baik melalui reward power dengan memberikan

nominasi rohis terkece kepada SMAN 8 Bandar Lampung.

2. Keberhasilan pembinaan rohis yang dilakukan FKAR Bandar Lampung yaitu

dilihat dari pengamalan ajaran Agama yang diterapkan anak-anak rohis mulai

dari ibadah dan akhlak serta memiliki sebuah kepercayaan dalam membina di

sekolah-sekolah.

B. Saran

Saran-saran yang diajukan, khususnya untuk Forum Kerjasama Alumni Rohis

( FKAR ) Bandar Lampung meliputi:

1. Perlu bagi Forum kerjasama alumni rohis dibuat departement dana usaha untuk

lebih memudahkan mencari dana melihat banyak agenda-agenda FKAR yang

menghabiskan dana yang tidak sedikit, harapannya departement dana usaha ini

juga mampu bekerjasama dengan rohis-rohis di sekolah sehingga anak-anak rohis


127

pun memiliki jiwa kemandirian agar agenda-agenda rohis disekolah berjalan

dengan lancar tanpa terkendala oleh dana yang sedikit.

2. Perlu bagi FKAR untuk memfasilitasi anak-anak rohis pelatihan rutin tentang

minat bakat mereka seperti kaligrafi, dai –daiyah, tilawah Qur’an, dan nasyid

sehingga potensi non akademik bisa terlihat bahkan anak-anak rohis mampu

berkompetisi di ajang nasional dan internasional.

3. Kegiatan-kegiatan yang diadakan oleh FKAR harus lebih banyak lagi yang

difokuskan untuk anak-anak rohis SMP karena diumur belia saat SMP ini lah

jiwa keislaman mudah dibentuk dan diarahkan. Dengan demikian anak-anak

rohis yang berada di SMP saat melanjut ke sekolah menengah atas tidak ragu lagi

untuk berada di ekskul rohis.

C. Penutup

Puji Syukur kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan rahmat dan

hidayahnya sehingga dapat menyelesaikan skripsi ini. Penulis menyadari bahwa

tulisan ini belum sempurna dan penulis berharap tulisan ini dapat bermanfaat bagi

semua, saran dan kritik yang bersifat konstuksif dari pembaca dapat menjadikan

tulisan ini lebih baik.

Akhirnya penulis berharap tulisan ini dapat bermanfaat bagi penulis

khususnya dan pembaca pada umumnya. Atas kesalahan yang penulis lakukan mohon

di ma’afkan dan kepada Allah SWT penulis mohon ampun. Semoga kita selalu dalam

lindungan-Nya.
DAFTAR PUSTAKA

Abdi Rianse Usman. Metodologi Penelitian Sosial dan Ekonomi; Teori dan Aplikasi.
Bandung: Alfabeta,2009.

Abdul Muis. Komunikasi Islam. Bandung: [Link] Rosdakarya, 2001.

Abu Laila. Apa Kerugian Dunia Akibat Kemerosotan Umat Islam. Jakarta:
Rajagrafindo, 1992.

Astrid. Komunikasi Dalam Teori Dan Praktek. Jakarta: Binacipta, 1974.

Bustami [Link] dan Salim Bahri. Dasar-dasar Pokok Pendidikan Karakter Islam.
Jakarta: Bulan Bintang, 1987.

Djatmiko Hayati Yayat. Perilaku Organisasi. Bandung: Alfabeta, 2005.

Effendy. Kepemimpinan dan Komunikasi. Yogyakarta: Al-Amin Press, 1996.

[Link] pendidikan Karakter. Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2013.

Hadi Sutrisno. Metodologi Research. Yogyakarta: Andi Offset, 2004.

Hafied Canggara. Pengantar Ilmu Komunikasi. Jakarta: [Link] Grafindo, 2012.

J. Riberu. Dasar- dasar Kepemimpinan. Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 1992.

Liliweri Alo. Sosiologi dan Komunikasi Organisasi (cet.I). Jakarta: Bumi Aksara,
2014.

Miles B. Matthew. Analisis Data Kualitatif. Jakarta: Universitas Indonesia (UI-


Press), 1992.

M. Nasor. Studi Ilmu Komunikasi. Bandar Lampung: FDIK IAIN Raden Intan
Lampung, 2009.

Muhammad Arni. Komunikasi Organisasi. Jakarta: Bumi Aksara, 2009.

[Link] Hasan. Pokok-pokok Materi Metodologi Penelitian dan Aplikasinya. Bogor:


Ghalia Indonesia, 2002.
Omar Mohammad al-Toumy al-Syaibani. Falsafah Pendidikan Islam, (terj.) Hasan
Langgulung. Falsafah al-Tarbiyah al-Islamiyah. Jakarta: Bulan Bintang, 1979.

[Link] Pace dan Don [Link]. Komunikasi Organisasi. Bandung:


Rosdakarya,1974.

Robbins [Link]. Perilaku Organisasi (Edisi Bahasa Indonesia).Jakarta : PT.


Prenhallindo, 1996.

Robert Konopaske dan John [Link]. Perilaku dan Manajemen Organisasi.


Jakarta: [Link] Aksara Pratama, 2006.

Romli Khomsahrial. Komunikasi Organisasi Lengkap. Jakarta: Grasindo, 2014.


2006.

Roudhonah. Ilmu Komunikasi. Jakarta: Ilmu Jaya, 2007.

Sendjya S. Djuarsa. Teori Komunikasi (cet.I). Jakarta: Univ terbuka, 1994.

Setyowati. Organisasi dan Kepemimpinan Modern. Yogyakarta: Graha Ilmu, 2013.

Siagian [Link]. Teori Pengembangan Organisasi. Jakarta: [Link] Aksara,


2012

Soemirat Soleh , dkk. Komunikasi Organisasional. Jakarta: Universitas Terbuka,


2009.

Susanto Phil Astrid. Komunikasi Dalam Teori Dan Praktek. Jakarta: Bina Cipta,
2014.

Syaiful Rohim. Teori Komunikasi; perspektif, ragam, dan aplikasi (cet.I). Jakarta:
Rineka Cipta, 2009.

Tasmara Toto. Komunikasi Dakwah. Jakarta: Gaya Media Pratama, 1997.

Veithzal Rivai. Kepemimpinan dan Perilaku Organisasi. Jakarta: [Link] Grafindo,


2012.

Wursanto. Dasar-dasar Ilmu Organisasi, Yogyakarta: [Link] Offset, 2003.

Yin K. Robert. Studi Kasus. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1998.
Sumber dari Internet :

[Link] (21 Oktober 2016).

Lppsm, “Fungsi Organisasi” tersedia di: http:// [Link] ( 8 November


2016 )

[Link] htm ( 16 Januari 2017).


PEDOMAN WAWANCARA
Pedoman Wawancara Kepada Pengurus FKAR
Tahap Kegiatan Pertanyaan Wawancara
1. Adakah komunikasi berupa penyampaian
instruksi kerja kepada pengurus FKAR?
2. Adakah hambatan atau kendala dalam
Proses Komunikasi berkomunikasi dengan antar pengurus?
Kepada Pengurus FKAR 3. Adakah pelatihan kepemimpinan yang
diadakan FKAR untuk pengurus FKAR ?
4. Apakah dalam mengadakan komunikasi
lebih banyak menggunakan saluran formal?
Terkesan kaku?
5. Adakah pelatihan kepemimpinan yang
Proses Komunikasi diadakan FKAR untuk pengurus Rohis ?
Kepada Pengurus Rohis 6. Bagaimana proses pembinaan yang sudah
berjalan di Rohis selama ini?
7. Bagaimana sistem pengaturan organisasi
FKAR? Seperti adanya perintah, aturan atau
petunjuk?
Sistem Kepemimpinan 8. Apakah dalam mengambil sebuah keputusan
FKAR dilakukan secara musyawarah atau sepihak?
9. Apakah semua pekerjaan dan tanggung
jawab dilimpahkan kepada bawahan?
10. Dalam persoalan mengambil keputusan
apakah pimpinan FKAR memberikan
kesempatan kepada bawahan untuk
memberikan saran?
Lain-lain 11. Bisa dijelaskan rutinitas kehidupan sehari-
hari mulai dari bangun tidur ?

Pedoman Wawancara Kepada Pengurus Rohis


Tahap Kegiatan Pertanyaan Wawancara
1. Apakah komunikasi antara TKS FKAR
dengan pengurus Rohis berjalan baik?
2. Apakah TKS FKAR dan pengurus Rohis
sering melakukan kerjasama? Contoh?
Proses Komunikasi 3. Apa pesan yang diberikan TKS dalam
Kepada TKS pembinaan kepada anak rohis?
4. Apakah TKS FKAR pernah menuntaskan
masalah yang ada di internal Rohis?
Jelaskan?
5. Siapa yang memilih ketua Rohis atau
pengurus Rohis? Setelah dilakukan re-or itu
apakah FKAR memberikan penyampaian
instruksi kerja?
Kepemimpinan FKAR 6. Adakah peraturan yang dibuat TKS untuk
pengurus?
7. Bagaimana tanggapan mengenai program-
program kerja FKAR?
8. Adakah perubahan didalam diri setelah
mengikuti pembinaan oleh FKAR?Jelaskan?
Efek dan Evaluasi 9. Apa saja yang diharapkan oleh pengurus
Rohis kepada FKAR untuk kedepannya?
Lain-Lain 10. Bisa dijelaskan rutinitas kehidupan sehari-
hari mulai dari bangun tidur ?

Pedoman Wawancara Kepada TKS ( Tim Kerja Sekolah)


Tahap Kegiatan Pertanyaan Wawancara
1. Bagaimana proses pembinaan yang sudah
berjalan dirohis selama ini?
2. Motivasi apa yang sering diberikan kepada
pengurus rohis?
Proses Komunikasi 3. Adakah hambatan atau kendala dalam
Kepada Pengurus Rohis berkomunikasi dengan anak-anak rohis
dalam pembinaan? Jika ada sebutkan
4. Adakah perlakuan khusus yang diberikan
TKS kepada pengurus rohis dalam hal
komunikasi dan pembinaan?
5. Media apa yang sering digunakan FKAR
dalam proses pembinaan?
6. Seberapa besar tingkat keaktifan anak-anak
Presentase Keaktifan Rohis dalam mengikuti pembinaan dan
kegiatan yang diselenggarakan FKAR?
Efek 7. Apa feedback yang diterima TKS setelah
melakukan pembinaan di Rohis?
PEDOMAN OBSERVASI

Tahap Kegiatan Kegiatan Observasi


1. Mengamati program kerja yang
dilaksanakan oleh FKAR.
Pelaksanaan 2. Mengamati kegiatan-kegiatan yang
dilaksanakan oleh Rohis SMAN 8 dan
SMKN 3 Bandar Lampung.
Proses Komunikasi 3. Mengamati dan memantau proses
Dan Efek Pembinaan pembinaan yang dilakukan FKAR.
4. Mengamati dan Memantau anak-anak
rohis bagaimana efek dari pembinaan
yang dilakukan FKAR.
Lain-lain 5. Mengamati kondisi Keagamaan pengurus
FKAR.
6. Mengamati kondisi Keagamaan pengurus
Rohis.
PEDOMAN DOKUMENTASI

1. Dokumen sejarah terbentuknya FKAR, data organisasi FKAR, data


organisasi Rohis, data nama sekolah yang sudah tertangani dan belum
tertangani, berita terkait FKAR, dan prestasi yang diraih.
2. Dokumentasi pelaksanaan kegiatan, meliputi:
a. Rohis Camp 2016
b. Grand Launching Anggota Muda Rohis 2016
c. Tasqif Akbar Pelajar
d. Kegiatan Olah Raga Bareng Anak Rohis SMAN 8 Bandar Lampung
e. Kegiatan Marawis Rohis SMAN 8 Bandar Lampung
f. Kegiatan Pelatihan Kepemimpinan Rohis SMKN 3 Bandar Lampung
3. AD-ART Forum Kerjasama Alumni Rohis
4. Surat Melakukan Kegiatan Penelitian
PROGRAM KERJA FORUM KERJASAMA ALUMNI ROHIS

A. Kegiatan Rohis Camp 2016 yang diselenggarakan FKAR


B. Grand Launching Anggota Muda Rohis 2016
C. Jong Islamieten Festival 2014 diselenggarakan oleh FKAR
D. One Day With Al-Qur’an diselenggaran oleh FKAR

E. Tasqif Akbar Pelajar diselenggaran oleh FKAR


F. Bakti Sosial diselenggarakan oleh FKAR
G. FKAR on Live TVRI
PROGRAM KERJA ROHIS SMAN 8 BANDAR LAMPUNG

A. Kegiatan Tasqif Akbar Antar Rohis

B. Kegiatan Olah Raga Bareng Anak Rohis


C. Kegiatan Marawis Akhwat

D. Kegiatan Silahturahim Antar Rohis


PROGRAM KERJA ROHIS SMKN 3 BANDAR LAMPUNG

A. Kegiatan Pelatihan Kepemimpinan 2015

B. Kegiatan Hijab Day 2016


C. Kegiatan Kajian Keislaman

D. Kegiatan Dauroh Motivasi

Anda mungkin juga menyukai