LAPORAN PENDAHULUAN
RHEUMATOID ARTHRITIS PADA LANSIA
ARIESTA ARISUSENI
(NIM: PO.[Link].044)
TINGKAT 3A
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES PALEMBANG
JURUSAN KEPERAWATAN PROGRAM STUDI
D-III KEPERAWATAN PALEMBANG
TAHUN 2022 - 2023
BAB II
TUJUAN PUSTAKA
2.1. Konsep Penyakit
2.1.1 Definisi Rheumatoid Arthritis
Rheumatoid Arthritis (RA) adalah peradangan kronis, autoimun,
sistemik, penyakit progresif tanpa diketahui etiologi yang menyebabkan
kerusakan progresif pada musculoskeletal system, yang melibatkan sendi
kecil, besar dan terkemuka untuk rasa sakit, kelainan bentuk dan bahkan
tulang rawan yang tidak dapat dipulihkan. (Nursing Arts, [Link], Nomor 1,
Juni 2020)
Rheumatoid Arthritis (RA) merupakan gangguan peradangan kronis
aotoimun atau respon autoimun, dimana imun seseorang bisa terganggu dan
turun yang menyebabkan hancurnya organ sendi dari lapisan pada synovial,
terutama pada tangan, kaki, dan lutut (Sakti & Muhlisin, 2019: Masruroh &
Muhlisin, 2020).
2.1.2 Etiologi Rheumatoid Arthritis
Hingga saat ini penyebab pasti Rheumatoid arthritis belum
diketahui. Ada yang mengatakan bahwa RA disebabkan oleh mikroplasma,
virus, dan sebagainya, tetapi hal itu belum terbukti karena ada beragam
faktor lain yang turut mempengaruhinya, termasuk kecendrungan genetika,
yang bias mempengaruhi reaksi autoimun. Pada RA, Peradangan
berlangsung terus menerus dan menyebar ke struktur struktur sendi
disekitarnya, termasuk tulang rawan sendi dan kapsul fibrosa sendi.
Akhirnya, ligamentum dan tendon ikut meradang. Peradangan oleh
penimbunan sel darah putih (leukosit), pengaktifan complement, fagositosis
ekstensif, dan pembentukan jaringan parut. Pada peradangan kronik,
membrane synovial mengalami pembesaran (hipertropi) dan penebalan
sehingga terjadi hambatan aliran darah yang menyebabkan kematian
(nekrosis) sel. Sinoval yang menebal kemudian dilapisi oleh jaringan
granular yang disebut panus. Panus dapat menyebar keseluruh sendi
sehingga semakin merangsang peradangan dan pembentukan jaringan parut.
Secara perlahan, proses ini akan merusak sendi dan menimbulkan nyeri
hebat serta deformitas (kelainan bentuk).Dr. Iskandar. J, 2013
2.1.3 Faktor yang mempengaruhi terjadinya Rheumatoid Arthitis
Menurut Ayumar & Andi (2016) faktor faktor yang mempengaruhi
terjadinya rheumatoid arthritis pada lansia yaitu umur, genetik, prilaku
kesehatan, dan pengetahuan. Umur, semakin bertambahnya umur semakin
tinggi resiko terjadi rheumatoid arthritis. Setelah berusia 60 tahun keatas,
resiko terjadi rheumatoid arthritis sangat mudah terkena. Rheumatoid
arthritis yang di duga dipengaruhi oleh proses degeneratif. Jurnal Kesmas
Asclepius, Volume 2, Nomor 1, Juni 2020.
2.1.4 Manifestasi Klinik
RA pada umumnya sering ditangan, sendi siku, kaki, pergelangan kaki
dan lutut. Nyeri dan bengkak pada sendi dapat berlangsung dalam waktu
terus menerus dan semakin lama gejalakeluhanya akan semakin berat.
Keadaan tertentu, gejala hanya berlangsung selama beberapa hari dan
kemudian sembuh dengan melakukan pengobatan. (Tobon et al.,2010)
Volume 3, Nomor 1 2016).
Rasa nyeri pada persendian berupa pembekkan, panas, eritema dan
gangguan fungsi merupakan gambaran klinis yang klasik untuk
rheumatoid arthritis. Persendian dapat teraba hangat , bengkak, kaku pada
pagi hari berlangsung selama lebih dari 30 menit. Pola karakteristik dari
persendian yang terkena adalah : mulai pada persendian kecil di tangan ,
pergelangan, dan kaki. Secara progresif mengenai persendian, lutut,
bahu,pinggul,siku, pergelangan kaki, tulang belakang serviks, dan
temporomandibular.
Adapun tanda dan gejala yang umum ditemukan atau sangat serius
terjadi pada lanjut usia menurut Buffer (2010), yaitu :
Sendi terasa kaku pada pagi hari, dan kekakuan pada daerah
lutut,bahu,siku,pergelangan tangan dan kaki, juga pada jari jari, mulai
terlihat bengkak setelah beberapa bulan, bila diraba akan terasa hangat,
terjadi kemerahan dan terasa sakit/nyeri, bila sudah tidak tertahan dapat
menyebabkan demam dan terjadi berulang dapat terjadi berulang. (Volume
3, Nomor 1 2016).
2.1.5 Patofisiologi Rheumatoid Arthitis
Rheumatoid arthritis akibat reaksi autoimun dalam jaringan synovial
yang melibatkan preses fagositosis. Dalam prosesnya, dihasilkan enzim
enzim dalam sendi. Enzim enzim tersebut selanjutnya akan memecah
kolagen sehingga terjadi edema, proliferasi membrane synovial dan
akhirnya terjadi pembentukan pannus. Panus akan menghancurkan tulang
rawan dan menimbulkan erosi tulang. Akibatnya adalah menghilangnya
permukaan sendi yang akan mengganggu gerak sendi . Otot akan
merasakan nyeri akibat serabut otot mengalami perubahan denegeratif
dengan menghilangnya kemampuan elastisitaspada otot dan kekuatan
kontraksi otot (Smeltzer & Bare, 2002), volume 3, Nomor 1 (2016).
2.1.6 Pathway
Hambatan mobilitas
Resiko faktor R dengan Kekakuan sendi
fisik
antibody, faktor
metabolic, infeksi
dengan kecendrungan
virus Reaksi peradangan
Nyeri
Synovial menebalReaksi peradangan Pannus
Kurangnya informasi
tentang proses penyakit
Nodul Infiltrasi dalam Defisiensi pengetahuan
[Link] Ansietas
Hambatan nutrisi pada kartilago
Deformitas sendi Kartilago nekrosis
Gangguan body image Kerusakan kartilago dan Erosi kartilago
tulang
Mudah luksasi dan Tendon dan legamen Adhesi pada permukaan
subluksasi sendi
Resiko cidera Hilangnya kekuatan otot Ankilosis fibrosa
Keterbatasan gerak sendi Kekuatan sendi
Ankilosis tulang
Defisit perawatan diri Hambatan mobilitas fisik
(Nurarif & kusuma,2015).
2.1.7 Komplikasi Penyakit
Dapat terbentuk nodus rheumatoid ekstra sinovium dikatup jantung,
paru, mata, atau limpa. Fungsi pernafasan atau jantung dapat terganggu.
Dapat timbul glaucoma, vaskulitis (peradangan sistem vaskuler) dapat
menyebabkan thrombosis dan infark. (Dr. Iskandar J, 2013)
2.1.8 Pemeriksaan Penunjang Rheumatoid Arthritis
• Pemeriksaan darah
• Sembilan dari 10 penderita Rheumatoid Arthritis memiliki laju Endap
darah (LED) eritrosit (sel darah merah) yang meningkat.
• Sebagian besar menderita anemia, karena inlamasi kronis.
• Pada hitung jenis leukosit, persentase sel polimorfonuklear lebih
tinggi.
• kreatif protein biasanya positif.
• Sering terdapat leukositosis, tanda adanya infeksi.
• Kadar albumin serum turun dan globulin naik.
• Tujuh dari 10 memiliki antibody yang disebut faktor rheumatoid (FR).
Biasanya, semakin tinggi kadar FR dalam darah, semakin berat
penyakitnya dan semakin jelek prognosanya. Terjadi peningkatan FR
pada 80% kasus RA, terutama jika penyakitnya masih aktif. Meski
demikian, perlu ditegaskan disini bahwa FR positif tidak serta-merta
berarti mengidap RA, karena FR positif juga terjadi pada sekitar 20%
penderita lepra, TBC, penyakit hati, endokarditis bakterialis, penyakit
kolagen, dan [Link] antibody ini bias menurun jika
peradangan sendi berkurang, dan akan meningkat jika terjadi serangan.
• Pemeriksaan cairan sendi. Aspirasi cairan sendi/ sinovium mungkin
memperlihatkan adanya sel sel darah putih dalam cairan yang steril.
• Biopsi nodul
• Rotgen (atau sinar-X) bias menunjukan adanya perubahan yang khas
pada sendi , tanda tanda dekalsifikasi, minimal pada sendi yang
terserang.(Dr. Iskandar J, 2013).
2.1.9 Penatalaksanaan Rheumatoid Arthritis
Tujuan utama penatalaksanaan pada RA adalah mencegah kerusakan
sendi, mencegah hilangnya fungsi sendi, mengurangi nyeri pada sendi,
mencapai remisi secepat mungkin pada sendi yang terserang RA, dan
upayakan agar pasien tetap bisa bekerja dan hidup pada sedia kala. Pada
prinsipnya, terapi yang dilakukan adalah mengistirahatkan sendi yang
meradang karena penggunaan sendi yang terserang RA secara berlebihan
akan memperburuk peradangan. Adapun cara mengistirahatkan sendi
yang terserang RA, antara lain : Mengompres sendi dengan air panas dan
air dingin secara bergantian,Memberikan obat nyeri, obat anti-inflamasi
non-steroid, steroid sistemik, , melakukan pembedahan untuk
mengeluarkan membran sinovium atau memperbaiki [Link]-obat
utama yang digunakan untuk mengatasi RA adalah obat antiperadangan
non-steroid (NSAIDs), obat slow-acting, kortikosteroid, dan obat
imunosupresif .(Dr. Iskandar J, 2013)
• Terapi Obat
Jika diagnosis RA telah ditetapkan, terapi obat ditunjukan untuk
mencegah kerusakan sendi lebih lanjut serta mengurangi disabilitas dan
kecacatan. Terapi obat untuk RA kerap kali merupakan kombinasi
antara obat golongan NSAIDs dan obat golongan DMARDs atau
golongan kortikosteroid. Terapi obat RA dikelompokkan sebagai
berikut :
• Gejala obat yang hanya mempengaruhi gejala (sistomatik) Analgesik
sederhana, seperti : parasetamol, aminopirin,asetofenetidin.
• Golongan obat yang mempengaruhi perjalanan penyakit (remitif)
• Cytostatic agent (obat sitostatika)
• Immunosupresant (obat penekan kekebalan tubuh)
• Obat NSAIDs (obat antiperadangan non-steroid)
Pengobatan awal RA dengan menggunakan salisat dan NSAIDs dimaksud untuk
mengurangi nyeri, pembengkakkan, dan memperbaiki fungsi sendi. NSAIDs hanya
berfungsi untuk menghilangkan gejala nyeri dan demam . Golongan NSAIDs yang
paling banyak digunakan adalah :
• Aspirin : Dosis awal aspirin adalah 4 kali 2 tablet (@325 mg/tab sehari.
• Ibuprofen
• Glukokortikoid
Glukokortikoid adalah salah satu obat golongan kortikosteroid yang jika
digunakan dalam dosis oral rendah, misalnya 10mg prednisone sehari,
dan injeksi local sangat efektif untuk menghilangkan gejala nyeri dan
radang pada RA yang aktif.
• Obat DMARDs (Disease Modifying Antirhematic Drugs) DMARDs
adalah obat yang selalu digunakan pada pasien RA. Obat ini berpotensi
mengurangi dan mencegah kerusakan sendi, menjaga fungsi dan
keutuhan sendi, serta mengurangi erosi tulang. Terapi DMARDs
sebaiknya digunakan paling lambat 3 bulan setelah diagnosis RA
ditegakkan untuk mencegah atau memperlambat kerusakan sendi lebih
lanjut.
• Hydroxycloroquine (HCG)
HCG digunakan untuk mengobati rheumatoid arthritis ringan. Dosis
awal HCG adalah 6,4 mg/ kgBB/hari : tidak boleh lebih dari 400 mg
sehari . Jika perbaikan klinis telah tercapai, dosis dapat dikurangi hingga
200 mg sehari.
• Sulfasalazine (SSZ)
Dosis awal : 1 x 1 tablet (500 mg) sehari, diminum malam hari pada
minggu pertama; lalu dinaikkan secara bertahap menjadi 2 x 1 tablet
sehari; dan perbaikan biasanya terjadi dalam 3 bulan.
tablet @ 50 mg) diberikan sekaligus pada malam hari, seminggu sekali
selama 2-4 bulan.
• Imunosupresif
Obat Imunosupresif termasuk dalam golongan DMARDs, seperti
metotreksatb(MTX), azatioprin dan cyclophosphamide. Leflunomide
terbukti efektif untuk mengatasi RA yang berat. Obat ini bekerja dengan
cara menekan peradangan, sehingga pemakaian kortikosteroid bias
dihindari atau diberikan dengan dosis rendah.
• Metotreksat (MTX)
MTX biasanya digunakan untuk mengobati RA yang aktif, karena di
anggap sebagai salah satu DMARDs yang paling efektif. MTX diberikan
per-oral (ditelan) 1 kali seminggu. MTX efektif untuk mengobati RA
stadium awal, sehingga kemungkinan efek sampingnya kecil dan jarang
terjadi.
• Leflunomide
Leflunomide adalah obat alternatif pengganti MTX sebagai monoterapi,
terutama bagi penderita RA yang tidak toleran dengan MTX. Dalam hal
mengurangi aktivitas RA dan menghambat progresivitas penyakit RA,
hasil yang diperoleh leflunomide sama dengan MTX. Pemberian
leflunomide juga dapat dikombinasikan dengan MTX jika tidak
berespons klinik pada pemberian MTX dosis tinggi.
• Terapi Non-obat, Fisioterapi, dan Rehabilitasi
Tata laksana RA mencakup beberapa hal mendasar, yaitu
penegakkan diagnosis, evaluasi berdasarkan kondisi pasien, dan
perkiraan perjalan penyakit kedepan (prognosis). Setelah itu, pasien
diajak untuk terlibat secara aktif untuk meminimalkan kemungkinan
yang akan terjadi dan aktif terlibat dalam melakukan rehabilitas. Untuk
mendapatkan hasil yang optimal, bersamaan dengan pemberian obat
untuk mengurangi peradangan sendi dapat dilakukan terapi non-obat,
seperti seplemen (CELJOY, Elken win166), latihan fisik, pemanasan
pada sendi yang meradang, hingga tindakan pembedahan.
• Fisioterapi
Sendi yang meradang harus dilatih secara lembut dan perlahan
agar tidak terjadi kekakuan atau cidera. Setelah peradangan mereda, bias
dilakukan latihan yang lebih aktif secara rutin, tetapi jangan sampai
berlebihan supaya tidak terlalu lelah. Biasanya,latihan akan lebih mudah
jika dilakukan di dalam air, yaitu dengan berendam. Untuk mengobati
persendian yang kaku, lakukan latihan yang intensif. Terkadang,
pembidaian digunakan untuk meregangkan sendi secara perlahan.
• Terapi rehabilitas
• Edukasi :
Pasien diberikan informasi yang lengkap dan benar tentang pengobatan
dan perjalan penyakitnya ke depan. Pasien diminta untuk berperan aktif
dalam pengobatanya, bekerja sama dengan tim yang menanganinya.
• Fisioterapi :
Pasien diajak untuk melakukan beragam aktivitas latihan yang
diperlukan untuk mendapatkan gerak sendi yang baik dan optimal agar
massa otot tetap dan stabil. Dengan malakukan fisioterapi, kekakuan
dan nyeri pada sendi juga dapat diatasi atau dikurangi. Selain latihan
gerak, teknik fisioterapi yang dapat dilakukan, antara lain: Terapi listrik,
pemanasan atau pendinginan, dan pelindung sendi, seperti penggunaan
bingkai dan splint (papan penahan tungkai atau sendi). (Dr. Iskandar J,
2013).
2.2 Asuhan Keperawatan
2.2.1 Pengkajian Rheumatoid Arthritis
Pengkajian adalah proses pengumpulan data secara sistematis yang
bertujuan untuk menentukan status kesehatan dan fungsional klien pada
saat ini dan dan riwayat sebelumnya (Potter, 2013 dalam Lestari, 2016) .
Pengkajian keperawatan terdiri dari 2 tahap yaitu, Mengumpulkan dan
verifikasi datadari sumber primer dan skunder, dan yang kedua adalah
menganalisis seluruh data sebagai dasar untuk menegakkan diagnosis
keperawatan. Pada asuhan keperawatan gerontik, pengkajian menjadi hal
komponen yang esensial dan kompleks dalam proses keperawatan (Miller,
2012 dalam Lestari, 2016). Pengkajian geriatri pada lansia menjadi khas
pada pengkajian keperawatan gerontik. Status kesehatan pada lansia dikaji
secara komperensif, akurat, dan sistematis . Informasi yang dikumpulkan
selama pengkajian harus dapat dipahami dan di diskusikan dengan
anggota tim, keluarga klien, dan pemberi pelayanan interdisipliner. Tujuan
melakukan pegkajian adalah menentukan kemampuan klien dalam
memelihara diri sendiri, melengkapi data dasar untuk membuat rencana
keperawatan, serta member waktu pada klien untuk berkomunikasi.
Pengkajian ini meliputi aspek, fisik, psikis, dan spiritual dengan
melakukan pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan
pemeriksaan (GCA comperehensive Geriatric assessment). Pengkajian
pada lansia yang ada dikeluarga, dilakukan dengan melibatkan keluarga
klien sebagai orang terdekat yang mengetahui masalah kesehatan lansia.
Sedangkan, pengkajian pada kelompok lansia dipanti ataupun di msyarakat
dilakukan dengan melibatkan penanggung jawab kelompok lansia,
cultural, tokoh masyarakat, serta petugas kesehatan.
Untuk itu, format pengkajian yang digunakan adalah format
pengkajian pada lansia yang dikembangkan minimal terdiri atas : Data
dasar (identitas, alamat, usia, pendidikan, pekerjaan, agama, dan suku
bangsa), data biopsikososial spritualkultural, lingkungan, status fungsional,
fasilitas penunjang kesehatan yang ada serta pemeriksaan fisik (Sunaryo,
2016).
a. Identitas
Nama, umur, jenis kelamin, status, alamat, pekerjaan, penanggung
jawab. Data dasar pengkajian penerima manfaat tergantung pada
keparahan dan keterlibatan organ-organ lainya (misalnya mata, jantung,
paru paru, ginjal), tahapan misalnya ekaserbasi akut atau remisi dan
keberadaan bersama bentuk bentuk arthritis lain nya.
b. Keluhan utama
Keluhan utama yang sering ditemukan pada klien rheumatoid arthritis
adalah klien mengeluh nyeri.
c. Riwayat penyakit sekarang
Berupa uraian tentang mengenal penyakit yang di derita oleh klien dari
mulai timbul keluhan yang dirasakan.
d. Riwayat penyakit dahulu
Riwayat penyakit kesehatan yang dulu seperti riwayat penyakit
kesehatan musculoskaletal sebelumnya.
e. Riwayat penyakit keluarga
Yang perlu dikaji adalah apakah di dalam keluarga ada yang menderita
penyakit yang sama.
f. Pemeriksaan fisik
1) Keadaan umum
Keadaan umum lansia yang mengalami gangguan musculokaletal
biasanya lemah.
2) Kesadaran
Melakukan pemeriksaan kesadaran . Biasanya kesadaran pada
lansia composmentis dan apatis.
3) Tanda tanda vital
a) Suhu
b) Nadi
c) Tekanan darah
d) Pernafasan
g. Pemeriksaan Riview Of System
1) Sistem pernafasan (B1 : Breathing)
Dapat ditemukan peningkatan frekuensi nafas atau masih dalam
batas normal
2) Sistem sirkulasi (B2 : Bleeding)
Kaji adanya penyakit jantung, frekuensi nadi apika ; sirkulasi
perifer, warna dan kehangatan.
3) Sistem pernafasan (B3 : Brain)
Kaji adanya hilang gerakan/ sensasi, spasme otot, terlihat
kelemahan/ hilang fungsi, pergerakan mata kejelasan melihat
dilatasi pupil.
4) Sistem perkemihan (B4 : Bleder)
Perubahn pola perkemihan seperti disuria, distensi kandung kemih,
warna, dan bau urin.
5) Sistem pencernaan (B5 : Bowel)
Konstipasi, konsistensi feses, frekuensi eliminasi, auskustasi bising
usus, anoreksia, adanya distensi abdomen, nyeri tekan abdomen.
6) Sistem musculoskeletal (B6 : Bone)
Kaji adanya nyeri berat tiba tiba/mungkin, terlokasi pada area
jaringan, dapat berkurang pada imobilisasi, kekuatan, otot,
kontraktur, atrofi otot, laserasi kulit, dan perubahan warna.
h. Pola fungsi kesehatan
1) Pola persepsi dan tata laksana pola hidup sehat
2) Pola nutrisi
Menggambarkan masukan nutrisi, balance cairan, nafsu makan,
pola makan, diet, kesulitan menelan, mual/muntah dan makanan
kesukaan.
3) Pola eliminasi
Menggambarkan pola fungsi eksresi, kandung kemih, defekasi, ada
tidaknya masalah defekasi, masalah nutrisi.
4) Pola istirahat tidur
Menggambarkan pola tidur, istirahat dan persepsi terhadap energy,
jumlah tidur malam dan siang serta masalah tidur.
5) Pola hubungan dan peran
Menggambarkan dan mengetahui hubungan peran klien terhadap
anggota keluarga dan masyarakat tempat tinggal, pekerjaan ,tidak
punya rumah, masalah keuangan,. Pengkajian AFGAR keluarga.
6) Pola sensori kognitif
Menjelaskan persepsi sensori dan kognitif. Pola sensori meliputi
pengkajian penglihatan, pendengaranm perasaan, pembau.
Pengkajian status mental menggunakan Table Short Portable
mental status Quesionare (SPMSQ).
7) Pola persepsi dan konsep diri
Menggambarkan sikap tentang diri sendiri dan persepsi terhadap
kemampuan konsep diri. Konsep diri menggambarkan gambaran
diri, harga diri, peran, identitas diri. Manusia sebagai system
terbuka dan mahluk bio-psiko-sosio-kultural-spiritual, kecemasan,
ketakutan, dan dampak terhadap sakit. Pengkajian tingkat depresi
menggunakan Tabel inentaris Depkse Back.
8) Pola seksual dan reproduksi
Menggambarkan kepuasan masalah terhadap seksualitas
9) Pola mekanisme koping
Menggambarkan kemampuan untuk menangani stress
10) Pola tata nilai dan kepercayaan
Menggambarkan dan menjelaskan pola nilai keyakinan termasuk
spiritual (Aspiani, 2014).
2.2.2 Diagnosa Rheumatoid Arthritis
Diagnosa keperawatan merupakan penilaian klinis tentang pengalaman
atau respon individu, keluarga, dan komunitas terhadap masalah kesehatan,
Pada resiko masalah kesehatan atau proses kehidupan. Diagnosis
keperawatan adalah bagian vital dalam menentukan asuhan keperawatan
yang sesuai untuk membantu klien mencapai kesehatan yang optimal. (Tim
Pokja SDKI DPP PPNI).
a. Nyeri akut atau kronis berhubungan Agen pencedera distensi jaringan
oleh akumulasi cairan atau proses inflamasi distruksi sendi (Kushariyadi,
2010).
2.2.3 Intervensi Rheumatoid Arthritis
Intervensi keperawatan merupakan segala bentuk terapi yang dikerjakan
oleh perawat yang didasarkan pada pengetahuan dan penilaian klinis untuk
mencapai peningkatan, pencegahan, dan pemulihan kesehatan klien
individu, keluara dan komunitas. Beberapa diantaranya diuraikan dalam
pasal 30 Undan Undang No.38 tahun 2014 tentang keperawatan bahwa
dalam menjalankan tugas sebagai pemberi asuhan keperawatan, perawat
berwenang merencanakan dan melaksanakan tindakan keperawatan.
a. Nyeri akut atau kronis berhubungan Agen pencedera distensi jaringan
oleh akumulasi cairan atau proses inflamasi distruksi sendi (Kushariyadi,
2010).
Kriteria Hasil
1) Menunjukan nyeri hilang/ terkontrol
2) Terlihat rileks, dapat tidur/ beristirahat dan berpartisipasi dalam
aktivitas sesuai dengan kemampuan.
3) Mengikuti program farmakologis yang diresepkan.
4) Menghbungkan keterampilan relaksasi dan aktivitas hiburan ke
dalam program kontrol nyeri.
Intervensi Keperawatan:
1) Kaji nyeri, catat lokasi dan intensitas (skala 0-10). Catat faktor-
faktor yang mempercepat dan tanda tanda rasa sakit non verbal.
2) Berikan matras/kasur kasar, bantal kecil, tinggikan linen tempat tidur
sesuai kebutuhan.
3) Tempatkan atau pantau penggunaan bantal, karung pasir, gulungan
trokhander, bebat, brace.
4) Dorong untuk mengubah posisi, bantu untuk bergerak di tempat
tidur, sokong sendi yang sakit diatas dan di bawah, hindari gerakan
yang menyentak.
5) Anjurkan pasien untk terapi air hangat pada waktu bangun tidur.
Sediakan waslap hangat untuk mengompres sendi sendi yang sakit
beberapa kali sehari. Pantau suhu air kompres, air mandi, dan
sebagainya. (Kushariyadi, 2010).
Rasionalisasi
1) Membantu dalam menentukan kebutuhan manajemen nyari dan
keefektifan program.
2) Matras yang lembut atau empuk, bantal yang besar akan memelihara
kesejajaran tubuh yang tepat, menempatkan stress pada sendi yang
sakit. Peninggi linen tempat tidur menurunkan tekanan pada sendi
yang nyeri.
3) Mengistirahatkan sendi sendi yang yang sakit dan mempertahankan
posisi netral. Penggunaan brace dapat menurunkan nyeri dan dapat
mengurangi kerusakan sendi.
4) Mencegah terjadinya kelelahan umum dan kekakuan sendi,
menstabilkan sendi, mengurangi gerakan/ rasa sakit pada sendi.
5) Panas meningkatkan relaksasi pada otot, dan mobilita, menurunkan
rasa sakit, dan melepaskan kekakuan di pagi hari. Sensitivitas pada
panas dapat dihilangkan dan luka dermar dapat disembuhkan.
(Kushariyadi, 2010).
2.2.4 Implentasi Rheumatoid Arthritis
Implementasi keperawatan merupakan tahap keempat proses
keperawatan yang dimulai setelah perawat menyusun rencana keperawatan
(Potter, 2013 dalam Lestari, 2016). Pada tahap ini perawat
akan mengimplementasikan intervensi yang telah di rencanakan
berdasarkan hasil pengkajian dan penegakan diagnosis keperawatan.
Implementasi dari rencana keperawatan yang dibuat berdasarkan diagnosis
yang tepat diharapkan dapat mencapai tujuan dan hasil yang sesuai dengan
yang di inginkan untuk mendukung dan meningkatkan status kesehatan
klien . Perawat memberikan pelayanan kesehatan yang memelihara
kemampuan fungsional lansia dan mencegah komplikasi serta
meningkatkan ketidakmampuan (Sunaryo, 2016).
2.2.5 Evaluasi Rheumatoid Arthritis
Evaluasi merupakan tahap kelima dari proses keperawatan. Tahap
ini sangat penting untuk menentukan adanya perbaikan kondisi atau
kesejahteraan klien (Potter, 2013 dalam Lestari, 2016). Hal yang perlu di
ingat adalah evaluasi merupakan proses kontinu yang terjadi saat perawat
melakukan kontak dengan klien. Selama proses evaluasi perawat membuat
keputusan-keputusan klinis dan secara terus menerus mengarah kembali ke
asuahan keperawatan. Tujuan asuhan keperawatan adalah membantu klien
menyelesaikan masalah kesehatan actual, mencegah terjadinya masalah
resiko, dan mempertahankan status kesehatan sejahtera. Proses evaluasi
menentukan keefektivitasan asuhan keperawatan yang diberikan.
DAFTAR PUSTAKA
Aklima, N., Safrida, S., & Husin, M. D. (2017). Pengetahuandan Sikap Manula
Tentang Penyakit Rematik di Kemungkiman Lamlhom Kecamatan
Lhoknga Kabupaten Aceh Besar. Jurnal Ilmiah Mahasiswa Fakultas
Keguruan dan Ilmu Pendidikan Unsyiah, 2(3), 20-25.
Andi, J., Karmila, R., Padila, P., Harsismanto, J., & Sartika, A. (2019). Pengaruh
Terapi Aktivitas Senam Ergonomis terhadap Peningkatan
KemampuanFungsional Lansia. Journal of Telenursing (JOTING), 1(2),
304-313. https:/[Link]/https//[Link]/10.315 39/joting.v1i2.933
Dr. dr. Rudy Hidayat, SpPD, K-R. FINASIM. (2021). Diagnosis dan Pengelolaan
ARTHRITIS RHEUMATOID. Perhimpunan Rheumatologi Indonesia .
[Link] J. 2013. Buku Rematik & Asam Urat (Edisi Revisi). Jakarta : PT
Bhuana Ilmu Populer
Lutfhi Chabib,Buffer (2010) & Zullies Ikawati, Ronny Martien, Hilda Ismail
(2016). Program Studi Farmasi FMIPA Universitas Gadjah Mada,
Yogyakarta : Curcumin Research Centre. Jurnal Pharmascience Vol 3,
No.1, Februari 2016, hal:10-18. [Link]
Fatima, F. (2010). Merawat Manusia Usia Lanjut. Jakarta : Transinfo Media
Padila, P (2013). Buku Ajar Keperawatan Gerontik. Yogyakarta : Nuha
MedikaPadila,P. (2012). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah.
Yogyakarta: Nuha Medika . Potter & Lestari (2016) . keperawatan (Miller,
2012 dalam Lestari, 2016).
Mjdah, Z., & Ramli, N. (2016). Penanganan Rematik Dengan Pemeriksaan LED,
(May), 31-48
Nursing Arts. Vol XIV, No 01, Juni 2020. ISSN : 1978-6298 (Print), ISSN : 2686-
133X ) (Online).
R. Siti Maryam, [Link].; Ns. Mia Fatma Ekasari, [Link].; Rosidawati, S.K.M.;
Ahmad Jubaedi, S.K.M.; & Irwan Batubara, [Link]. (2012). Mengenal Usia
Lanjut dan Perawatannya. Jakarta : Selemba Medika.
Rikesdas. (2018). Hasil Utama Riset Kesehatan Dasar (RIKESDAS) (Vol. 44,
Issue 8). [Link]
Tim Pokja SDKI DPP PPNI, (2017) . Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia
(SDKI) . Jakarta : Dewan Pengurus Pusat Persatuan Perawat Nasional
Indonesia.
Silaban, N. Y. (2016). Gambaran Pengetahuan Penderita Rematik tentang
Perawatan Nyeri Sendi di Dusun 1 Desa Sungal Kanan Kecamatan Sunggal
Kabupaten Deli Serdang Tahun 2015. Jurnal Ilmiah Keperawatan Imelda,
2(1), 46-55. https:/[Link]/10.2411/jikeperawatan.v2il.235
Sitomorang, S., & Paskah, R. (2017). Gambaran faktor-faktor yang
mempengaruhi Pengetahuan Lansia Terhadap Upaya Pencegahan
Rheumatoid [Link] Ilmiah Keperawatan, 3(1).
[Link]/[Link]/jilki/article/view/80
Sakti, N. P. R., & Muhlisin, A (2019). Pengaruh Terapi Komplementer Mediasi
terhadap Respon Nyeri Pada Penderita Rheumatoid Arthritis . The 9th
University Research Colloqium (Urecol), 9(112)
(Smeltzer & Bare, 2002), volume 3, Nomor 1 (2016).Buku Ajar Keperawatan
Medikal Bedah Brenner dan Suddarth Ed.8 EGC, Jakarta . Jurnal
Pharmascience
Tobon G.J., P. Youinou, A. Saraux. 2010, The Environment, Geo-Epidemiology,
and Autoimune Disiase : Rheumatoid Arthritis . J Autoimun 35:10-4
Tim Pokja SDKI DPP PPNI, (2017) . Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia
(SDKI) . Jakarta : Dewan Pengurus Pusat Persatuan Perawat Nasional
Indonesia.