Layanan Bimbingan dan Konseling di SMA
Layanan Bimbingan dan Konseling di SMA
menjalankan tugas-tugas perkembangannya yang mencakup aspek pribadi, sosial, belajar, dan
karier secara utuh dan optimal sehungga terbentuk pelajar pancasilais.
Tujuan khusus layanan bimbingan dan konseling adalah membantu peserta didik agar mampu:
(1) memahami dan menerima diri dan lingkungannya; (2) merencanakan kegiatan penyelesaian
studi, perkembangan karier, dan kehidupannya pada masa yang akan datang; (3)
mengembangkan potensinya
seoptimal mungkin; (4) menyesuaikan diri dengan lingkungannya; (5) mengatasi hambatan atau
kesulitan yang dihadapi dalam kehidupannya, dan (6) mengaktualisasikan dirinya secara
bertanggung jawab. Tujuan bimbingan dan konseling telah dirumuskan dalam standar
kompetensi kemandirian peserta didik (SKKPD) yang kemudian dirumuskan menjadi capaian
layanan bimbingan dan konseling (CL Bimbingan dan Konseling) berdasarkan fase E dan fase F.
Perkembangan individu pada setiap masa memiliki ciri khas pada setiap generasinya, peserta
didik merupakan individu yang terus menerus berkembang. Perubahan ini pun berdampak pada
perubahan kondisi sosial, ekonomi, politik, dan teknologi. Pandangan terkini tentang generasi
masa depan didasari oleh perubahan teknologi yang sangat pesat yang mempengaruhi
karakteristik peserta didik.
Guru BK sudah selayaknya memahami karakteristisk peserta didik yang menjadi sasaran layanan
bimbingan dan konseling. Peserta didik yang akan menjadi subjek layanan bimbingan dan
konseling masa depan adalah generasi Z (lahir pada tahun 1995–2010) dan Alpha (lahir tahun
2010--2024). Kedua generasi ini memiliki karakteristik khas yang belum dibahas pada teori
perkembangan yang ada. Generasi Z biasanya disebut dengan generasi internet atau i-
generation. Mereka lahir pada
masa transisi perkembangan teknologi. Sejak dini, generasi ini sudah banyak dikenalkan oleh
teknologi dan sangat akrab dengan telepon pintar yang menyebabkan generasi Z menyukai hal-
hal instan dalam proses bekerja. Hal tersebut berpengaruh terhadap pola pikir dan cara
kerjanya. Generasi ini juga
senang bersosialisasi melalui media sosial dan mementingkan popularitas dengan melakukan
hal-hal yang penuh sensasi. Karakteristik generasi ini adalah (1) lebih
menyukai kegiatan sosial jika dibandingkan dengan generasi sebelumnya, (2) multi- tasking, (3)
sangat menyukai teknologi, (4) ahli dalam mengoperasikan teknologi tersebut, dan peduli
terhadap lingkungan (Mark McCrindle, 2020) Generasi Z merupakan generasi yang up-ageing
karena mereka tumbuh lebih cepat.
The World Health Organisation (WHO) memperkirakan bahwa anak memulai pubertas tiga bulan
lebih cepat pada setiap dekade. Mereka juga masuk sekolah lebih cepat, terekspos pasar lebih
muda sehingga mereka merupakan konsumen terbesar jika dibandingkan dengan anak
sebelumnya. Generasi Z merupakan generasi yang memiliki literasi digital yang baik, dapat
pindah tugas dengan cepat (multi-tasking) mereka hanya memahami wireless, hyperlinked,
user-generated world dan menggunakan klik untuk memperoleh teknologi.
Dari uraian diatas tampak jelas bahwa betapa penting kedudukan bimbingan dan konseling
dalam sistem persekolahan, sehingga diperlukan personel yang dapat menyelenggarakan
layanan secara kompeten dan profesional, yang memenuhi standar kompetensi dan kualifikasi
konselor, seperti yang tertuang dalam Permendiknas No. 27 Tahun 2008 tentang kompetensi
yang dibutuhkan dalam melaksanakan tugas-tugas sebagai konselor di sekolah. Kompetensi dan
tugas-tugas profesional tersebut adalah:
Upaya mencapai tujuan program bimbingan dan konseling perlu direalisasikan melalui
implementasi tahapan kegiatan secara sistematis dan komprehensif agar program bimbingan
dan konseling dapat terselenggara dengan baik. Upaya tersebut dimulai dengan perencanaan
program layanan bimbingan dan konseling dalam dua tahap.
1. Persiapan Perencanaan Program
Tahap pertama dalam perencanaan layanan bimbingan dan konseling adalah persiapan
(preparing). Pada tahap ini guru bimbingan dan konseling atau konselor mempersiapkan
berbagai hal yang menjadi dasar penyusunan (designing) layanan bimbingan dan konseling.
a. Melakukan Asesmen dan Analisis Kebutuhan Asesmen dan analisis kebutuhan
merupakan proses mengumpulkan, menganalisis, dan menginterpretasikan data atau
informasi tentang peserta didik dan lingkungannya, serta mendapat gambaran berbagai
kondisi individu sebagai dasar penyusunan perencanaan program layanan bimbingan
dan konseling.
Asesmen yang akan dilaksanakan perlu dikembangkan berdasarkan capaian layanan (CL)
bimbingan dan konseling di SMA yang berfokus pada lulusan yakni melanjutkan
pendidikan, bekerja ataupun berwirausaha. Tahap persiapan dalam perencanaan
layanan bimbingan dan konseling
diawali dengan upaya guru bimbingan dan konseling untuk mendapatkan dukungan dari
berbagai unsur lingkungan sekolah. Upaya mendapatkan dukungan dilakukan dalam
bentuk kegiatan konsultasi. Kegiatan konsultasi ini berupa pertemuan antar guru
bimbingan dan konseling dengan Kepala Sekolah dan staf sekolah. Proses komunikasi
antara guru bimbingan dan konseling/konselor dengan staf sekolah bertujuan untuk
menyamakan persepsi mengenai visi, misi, dan tujuan sekolah sehingga dapat dibentuk
visi, misi dan tujuan bimbingan dan konseling yang searah dengan tujuan sekolah.
Konsultasi dengan staf sekolah dapat dilakukan melalui rapat, diskusi, konsultasi
individual, dan konsultasi khusus melalui mediasi khusus. Dalam proses konsultasi guru
bimbingan dan konseling dapat menginformasikan layanan bimbingan dan konseling
yang telah dilaksanakan sebelumnya dan rencana layanan bimbingan dan konseling
yang akan dilaksanakan selanjutnya. Tujuan memberikan informasi mengenai layanan
bimbingan konseling yang telah dilakukan agar staf sekolah dapat memberikan penilaian
ataupun memberikan umpan balik yang dapat memperkaya pelaksanaan layanan
bimbingan konseling selanjutnya.
b. Menentukan Dasar Rasional Perencanaan Layanan
Layanan bimbingan dan konseling adalah seperangkat kegiatan yang diselenggarakan
untuk mencapai suatu tujuan pada periode tertentu. Penetapan tujuan layanan
bimbingan dan konseling merupakan kegiatan yang sangat dipengaruhi oleh berbagai
faktor salah satunya factor karakteristik sekolah. Nilai-nilai yang berkembang di sekolah
termasuk yang berbasis agama akan mempengaruhi perilaku apa yang dianggap penting
untuk dimiliki peserta didik akan mempengaruhi rumusan tujuan layanan bimbingan dan
konseling.
2. Tahap Penyusunan (Designing)
Tahap penyusunan (designing) terdiri atas dua kegiatan utama, yaitu penyusunan program
tahunan dan penyusunan program semesteran. Setiap kegiatan diuraikan pada bagian berikut;
a. Penyusunan Program Tahunan Bimbingan dan Konseling Berdasarkan Permendikbud
Nomor 111 Tahun 2014 tentang Bimbingan dan Konseling pada Pendidikan dasar dan
Menengah disebutkan bahwa dokumen perencanaan program bimbingan dan konseling
berikut.
1) Merumuskan Rasional
Uraian dalam rasional merupakan latar belakang yang melandasi program bimbingan
dan konseling yang akan diselenggarakan. Beberapa aspek yang perlu diuraikan dalam
rasional meliputi:
a) urgensi layanan bimbingan dan konseling di Sekolah Menengah Kejuruan;
b) kondisi objektif di sekolah masing-masing berupa permasalahan, hambatan,
kebutuhan, budaya sekolah, profil tamatan yang diharapkan sekaligus potensi-potensi
keunggulan yang dimiliki oleh peserta didik;
c) kondisi objektif yang ada di lingkungan masyarakat yang menunjukkan daya dukung
lingkungan dan ancaman-ancaman yang mungkin berpengaruh terhadap perkembangan
peserta didik; dan
d) harapan yang ingin dicapai dari layanan bimbingan dan konseling.
2) Merumuskan visi dan misi
Rumusan visi dan misi layanan bimbingan dan konseling harus sesuai dengan visi dan
misi sekolah. Oleh karena itu, sebelum menetapkan visi dan misi program layanan
bimbingan dan konseling, perlu terlebih dahulu menelaah visi dan misi sekolah,
selanjutnya merumuskan visi dan misi program layanan bimbingan dan konseling. Visi
adalah gambaran masa depan yang ingin diwujudkan pada kurun waktu tertentu. Sesuai
dengan definisi tersebut maka visi bimbingan dan konseling adalah memfasilitasi
perkembangan dan memandirikan peserta didik baik pada aspek pribadi, sosial, belajar
dan karier agar mencapai kemaslahatan hidup.
Adapun misi merupakan upaya untuk mencapai visi dan memastikan target yang ada
pada visi dapat dicapai. Misi bimbingan dan konseling meliputi:
a) memberikan layanan dasar yang berorientasi pada pencegahan (preventive) dan
pengembangan (development);
b) layanan peminatan dan perencanaan individual yang berorientasi pada pencegahan
(preventive) dan pengembangan (development);
c) memberikan layanan responsif berorientasi pemulihan (curative); dan
d) mengembangkan dukungan sistem untuk membentuk manajemen layanan
bimbingan dan konseling yang baik dan akuntabel, serta pengembangan profesionalitas
konselor secara berkelanjutan.
3) Mengidentifikasi Capaian Layanan Bimbingan dan Konseling
Peserta didik memiliki tugas perkembangan dan dirumuskan dalam bentuk kalimat
pernyataan merujuk pada kompetensi yang ada pada Standar Kompetensi Kemandirian
Peserta Didik (SKKPD). SKKPD selanjutnya tertuang dalam bentuk Capaian Layanan
bimbingan dan konseling dan menjadi acuan dalam bentuk model layanan BK yang akan
diberikan kepada peserta didik.
1. Layanan dasar
Layanan dasar merupakan layanan yang diberikan secara terstruktur, terprogram, dan
terintegrasi dengan program bimbingan dan konseling. Layanan dasar bertujuan
mengembangkan perilaku jangka panjang sesuai dengan tahap dan tugas perkembangan
peserta didik yang diperlukan untuk mengembangkan kemampuan memilih dan mengambil
keputusan dalam kehidupan. Layanan dasar yang ditujukan bagi semua peserta didik bersifat
preventive dan developmental. Strategi layanan dasar yang dapat dilaksanakan, antara lain,
adalah klasikal, kelas besar/lintas kelas, kelompok dan menggunakan media tertentu. Materi
layanan dasar dapat dirumuskan atas dasar hasil asesmen kebutuhan, asumsi teoretis yang
diyakini berkontribusi terhadap kemandirian, dan kebijakan pendidikan yang harus diketahui
oleh peserta didik. Secara terperinci, tujuan pelayanan ini dapat dirumuskan sebagai upaya
untuk membantu konseli agar:
a) memiliki kesadaran (pemahaman) tentang diri dan lingkungannya (pendidikan,
pekerjaan, sosial budaya dan agama);
b) mampu mengembangkan keterampilan untuk mengidentifikasi tanggung jawab atau
seperangkat tingkah laku yang layak bagi penyesuaian diri dengan lingkungannya;
c) mampu memenuhi kebutuhan dirinya dan mampu mengatasi masalahnya sendiri; dan
d) mampu mengembangkan dirinya dalam rangka mencapai tujuan hidupnya.
3. Layanan responsif
Adalah layanan yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan peserta didik yang memerlukan
penanganan mendesak dan segera. Kegiatan layanan responsif terdiri atas konseling individual,
konseling kelompok, dan konseling krisis serta ditunjang oleh kegiatan konsultasi, referal,
mediasi, dan informasi. Tujuan layanan ini ialah memberikan:
a) layanan intervensi terhadap peserta didik yang mengalami krisis, peserta didik yang
telah membuat pilihan yang tidak bijaksana atau peserta didik yang membutuhkan
bantuan penanganan dalam bidang kelemahan yang spesifik dan
b) layanan pencegahan bagi peserta didik yang berada di ambang pembuatan pilihan
yang tidak bijaksana. Isi dari layanan responsif ini, antara lain, berkaitan dengan
penanganan masalah-masalah pribadi, sosial, belajar, dan karier .
4. Dukungan sistem
Merupakan komponen pelayanan dan kegiatan manajemen, tata kerja infrastruktur, dan
pengembangan profesionalisme guru BK atau konselor secara berkelanjutan. Komponen ini,
secara tidak langsung, memberikan bantuan kepada peserta didik atau memfasilitasi kelancaran
perkembangan peserta didik. Aktivitas yang dilakukan dalam dukungan sistem antara lain
a) administrasi yang di dalamnya termasuk melaksanakan dan menindaklanjuti kegiatan
asesmen, mengunjungi tempat tinggal peserta didik, menyusun dan melaporkan
program bimbingan dan konseling, membuat evaluasi, dan melaksanakan administrasi
dan mekanisme bimbingan dan konseling, serta
b) kegiatan tambahan dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah dan
pengembangan profesi bimbingan dan konseling.
Kurikulum paradigma baru pada sekolah penggerak merupakan penerus dari proses peningkatan
kualitas pembelajaran yang telah diinisiasi kurikulum sebelumnya yaitu Kurikulum Berbasis
Kompetensi. Pada kurikulum ini tercakup tujuan pembelajaran secara umum yang akan dicapai
pada aspek pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang dirangkai sebagai satu kesatuan proses
yang berkelanjutan sehingga akan membangun kompetensi yang utuh yang dinyatakan sebagai
Capaian Pembelajaran (CP). Dalam layanan bimbingan dan konseling tujuan pencapaian
kompetensi ini ini disebut Capaian Layanan (CL) yang dikembangkan dari SKKPD. Capaian
Pembelajaran disusun dalam fase E dan F sehingga peserta
didik memiliki kesempatan untuk belajar sesuai dengan tingkat pencapaian, kebutuhan,
kecepatan, dan gaya belajarnya. Muatan atau konten dikurangi agar peserta didik memiliki
waktu yang memadai untuk menguasai kompetensi yang ditargetkan.
1. Arah Kurikulum di Kelas 10
a. Pada Fase E di kelas 10 semua peserta didik mengikuti semua mata pelajaran dalam
kelompok mata pelajaran umum yang disediakan.
b. Peserta didik kelas 10 menyiapkan diri untuk menentukan pilihan mata pelajaran di
kelas 11 yang tentunya harus terkait juga dengan arah pilihan jurusan studi lanjut
peserta didik. Peserta didik kelas 10 sudah diarahkan untuk menggali informasi tentang
karakteristik mata pelajaran dan prasyarat jurusan dari studi lanjut yang menjadi arah
karirnya. Guru BK harus memiliki
pengetahuan yang luas serta informasi yang tepat mengenai berbagai jurusan dan studi
lanjut agar dapat memberikan saran pilihan kepada peserta didik sesuai dengan potensi,
bakat, dan minatnya.
c. Mata pelajaran kelas 10 terdiri atas: 1) kelompok IPA (Fisika, Kimia dan Biologi, total 6
JP) dan 2) kelompok IPS (Ekonomi, Sosiologi, Sejarah dan Geografi, total 8 JP), masing-
masig 2JP /minggu
d. Mata pelajaran Sejarah Indonesia dan Sejarah Dunia, digabung menjadi Sejarah
e. Minimal 25% jam pelajaran dari setiap mata pelajaran wajib dialokasikan untuk projek
kokurikuler, kurikulum ini menuntut tidak hanya kemapuan akademik saja namun
peserta didik juga diharapkan memiliki project dalam bentuk kokurikuler. Guru BK
berkolaborasi dengan guru mata pelajaran untuk dapat menggali potensi peserta didik.
f. Sekolah dapat menentukan pengorganisasian IPA dan IPS berdasarkan sumber daya
yang tersedia.
1) Sistem blok-team teaching dalam perencanaan namun guru Fisika, Kimia, Biologi
mengajar bergantian, begitu juga guru Ekonomi, Sosiologi dan Geografi.
2) Sebagai mata pelajaran berdiri sendiri-sendiri.
3) Terintegrasi-team teaching dalam perencanaan dan pembelajaran.
g. Setiap tengah dan akhir semester ada unit inquiry yang mengintegrasikan mata
pelajaran dalam masing-masing IPA dan IPS
h. Peserta didik diwajibkan untuk menulis essai sebagai salah satu syarat kelulusan.
Partisipasi dalam berbagai kegiatan pembelajaran diharapkan memberi inspirasi terkait
topik yang dipilih.
2. Arah Kurikulum di Kelas 11 dan 12 (Fase F)
a. Peserta didik kelas 11 memilih mata pelajaran yang diminati dari minimal 2 kelompok
pilihan, hingga syarat minimal jam pelajaran terpenuhi, yaitu total JP : 40/ minggu; JP
mapel pilihan: 22 JP/Minggu
b. Guru BK memberikan alternatif pilihan mata pelajaran berdasarkan hasil analisis
potensi diri, harapan orangtua, peluang dan arah karir peserta didik dan rekomendasi
guru mata pelajaran.
c. Kolaborasi guru BK, wali kelas dan guru mata pelajaran akan membantu peserta didik
dalam mengambil keputusan memilih mata pelajaran. Ada 5 kelompok mata pelajaran.
1) Kelompok mata pelajaran umum: semua peserta didik harus mengukuti seluruh mata
pelajaran pada kelompok ini.
2) Kelompok mata pelajaran MIPA: Fisika, Kimia, Biologi, Informatika, dan
Matematika tingkat lanjut. Satuan Pendidikan wajib menyediakan minimal 3 (tiga) mata
pelajaran.
3) Kelompok mata pelajaran IPS: Ekonomi, Sosiologi, Geografi, dan Antropologi. Satuan
Pendidikan wajib menyediakan minimal 3 (tiga) mata pelajaran
4) Kelompok mata pelajaran Bahasa dan Budaya: Bahasa dan sastra Indonesia, bahasa
dan sastra Inggris, dan Bahasa asing lainnya. Kelompok mata pelajaran ini dibuka sesuai
dengan sumberdaya yang tersedia di satuan Pendidikan.
5) Kelompok mata pelajaran Vokasi dan Prakarya: Membatik, servis elektronik, desain
grafis, dsb disesuaikan dengan sumberdaya yang tersedia. Satuan Pendidikan bekerja
sama dengan pemangku kepentingan dan disesuaikan dengan potensi dan kebutuhan
sumberdaya yang ada. Sedangkan capaian pembelajaran mata pelajaran Prakarya
dikembangkan oleh pemerintah pusat dan dapat dikembangkan sesuai potensi dan
sumber daya atuan Pendidikan. Khusus untuk sekolah yang ditetapkan pemerinrah,
terdapat kelompok mata pelajaran Seni dan Olahraga yang dibuka sesuai dengan
sumber daya yang tersedia di SMA.
d. Sekolah membuka minimal 2 kelompok mata pelajaran. Apabila sumberdaya
memungkinkan, sekolah dapat membuka lebih dari dua kelompok mata pelajaran.