MAKALAH
ASPEK ETIK DAN LEGAL
KEPERAWATAN GERONTIK DAN IMPLEMENTASINYA
Dosen Pengampu
Ns. Netha Damayantie,[Link]
Disusun Oleh
Fesya Husna Salsabila ( PO71201200003)
Tiara Widiyawati ( PO71201200011)
Wahyu Fitria Anggraini ( PO71201200023)
Dini Agustina ( PO71201200037)
PROGRAM STUDI D-IV KEPERAWATAN
POLTEKKES KEMENKES JAMBI
2022/2023
1
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga s
aya dapat menyelesaikan tugas makalah yang berjudul“ konsep aspek legal dan etik
keperawatan gerontik dan implementasinya “ ini tepat pada waktunya.
Adapun tujuan dari penulisan dari makalah ini adalah untuk memenuhi tugas Ibu Ns. Netha
Damayantie,[Link] pada bidang studi Keperawatan Gerontik . Selain itu, makalah ini juga b
ertujuan untuk menambah wawasan tentang konsep aspek legal etik keperawatan gerontik
dan implementasinya bagi para pembaca dan juga bagi penulis.
Saya mengucapkan terima kasih kepada Ibu Ns. Netha Damayantie,[Link], selaku Dosen Pe
mbimbing mata kuliah Keperawatan Gerontik yang telah memberikan tugas ini sehingga dap
at menambah pengetahuan dan wawasan.
Saya juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membagi sebagian peng
etahuannya sehingga saya dapat menyelesaikan makalah ini.
Saya menyadari, makalah yang saya tulis ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu,
kritik dan saran yang membangun akan saya nantikan demi kesempurnaan makalah ini.
Jambi, 12 februari 2023
Kelompok
2
Daftar isi
Cover ..................................................................................................................................... 1
Kata penghantar .................................................................................................................... 2
Daftar isi ............................................................................................................................... 3
Bab I. Pendahuluan
1.1 Latarbelakang ............................................................................................... 4
1.2 Rumusan masalah ......................................................................................... 5
1.3 Tujuan............................................................................................................ 5
Bab II. Isi
2.1 Konsep legal etik ?........................................................................................ 6
2.2 prinsip- prinsip legal dan etik ....................................................................... 7
2.3 Masalah legal dalam keperawatan ................................................................ 9
2.4 Landasan aspek legal keperawatan ............................................................... 10
2.5 Aplikasi aspek legal dalam keperawatan ...................................................... 11
Bab III. Penutup
3.1 Kesimpulan ................................................................................................... 13
3.2 Saran ............................................................................................................. 13
Daftar pustaka ...................................................................................................................... 14
3
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 . Latar Belakang
Kesadaran masyarakat terhadap hak-hak mereka dalam pelayanan kesehatan dant
indakan yang manusiawi semakin meningkat, sehingga diharapkan adanya pemberi pelay
anan kesehatan dapat memberi pelayanan yang aman, efektif dan ramah terhadap mereka
Jika harapan ini tidak terpenuhi, maka masyarakat akan menempuh jalur hukum untuk
membela hak-haknya.
Kebijakan yang ada dalam institusi menetapkan prosedur yang tepat untuk menda
patkan persetujuan klien terhadap tindakan pengobatan yang dilaksanakan. Institusi telah
membentuk berbagai komite etik untuk meninjau praktik profesional dan memberi pedo
man bila hak-hak klien terancam. Perhatian lebih juga diberikan pada advokasi klien
sehingga pemberi pelayanan kesehatan bersungguh-sungguh untuk memberikan
informasih kepada klien dan keluarganya bertanggung jawab atas tindakan yang
dilakukan .
Selain dari pada itu penyelenggaraan praktik keperawatan didasarkan pada kewen
angan yang diberikan karena keahlian yang dikembangkan sesuai dengan kebutuhan kese
hatan masyarakat, perkembangan ilmu pengetahuan dan tuntutan [Link]
pergeseran paradigma dalam pemberian pelayanan kesehatan dari model medikal yang m
enitik beratkan pelayanan pada diagnosis penyakit dan pengobatan ke paradgima sehat y
anglebih holistic yang melihat penyakit dan gejala sebagai informasi dan bukan sebagai f
ocus pelayanan (Cohen, 1996), maka perawat berada pada posisi kunci dalam reformasi
kesehatanini. Hal ini ditopang oleh kenyataan bahwa 40%-75% pelayanan di rumah sakit
merupakan pelayanan keperawatan (Gillies, 1994), Swansburg dan Swansburg, 1999) da
n hampir semua pelayanan kesehatan dan pencegahan penyakit baik dirumah sakit
maupun ditatanan pelayanan kesehatan ini dilakukan oleh perawat.
Hasil penelitian Direktorat Keperawatan dan PPNI tentang kegiatan perawat diPu
skesmas, ternyata lebih dari 75% dari seluruh kegiatan pelayanan adalah kegiatan pelaya
nan keperawatan (Depkes, 2005) dan 60% tenaga kesehatan adalah perawat yang be
kerja pada berbagai sarana/tatanan pelayanan kesehatan dengan pelayanan 24 jam sehari,
7hari seminggu, merupakan kontak pertama dengan sistem klien
4
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa itu legal etik ?
2. Bagaimana prinsip legal dan etis
3. Masalah legal dalam keperawatan
4. Landasan aspek legal keperawatan
5. Aplikasi aspek legal dalam keperawatan
1.3 Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui apa itu legal etik
2. Untuk mengetahui prinsip prinsip legal etis
3. Untuk mengetahui masalah legal dalam keperawatan
4. Untuk mengetahui landasan aspek legal keperawatan
5. Untuk mengetahui aplikasi aspek legal dalam keperawatan
BAB II
5
PEMBAHASAN
2.1 Konsep Legal Etik
Etika keperawatan (nursing ethic) merupakan bentuk ekspresi bagaimana perawat seharus
nya mengatur diri sendiri, dan etika keperawatan diatur dalam kode etik keperawatan. Aspek
legal etik keperawatan adalah aspek aturan keperawatan dalam memberikan asuhan keperawa
tan sesuai lingkup wewenang dan tanggung jawabnya pada berbagai tatanan pelayanan, terma
suk hak dan kewajibannya yang diatur dalam undang-undang keperawatan.
Keperawatan adalah suatu bentuk pelayanan profesional yang merupakan bagian integral d
ari pelayanan kesehatan, didasarkan pada ilmu dan kiat keperawatan ditujukan kepada individ
u, keluarga, kelompok, dan masyarakat baik sehat maupun sakit yang mencakup seluruh pros
es kehidupan manusia. Perawat sebagai profesi dan bagian integral dari pelayanan kesehatan t
idak saja membutuhkan kesabaran. Kemampuannya untuk ikut mengatasi masalah-masalah k
esehatan tentu harus juga bisa diandalkan.
International Council of Nurses (ICN) mengeluarkan kerangka kerja kompetensi bagi pera
wat yang mencakup tiga bidang, yaitu bidang Professional, Ethical and Legal Practice, bidan
g Care Provision and Management dan bidang Professional Development "Setiap profesi pad
a dasarnya memiliki tiga syarat utama, yaitu kompetensi yang diperoleh melalui pelatihan ya
ng ekstensif, komponen intelektual yang bermakna dalam melakukan tugasnya, dan memberi
kan pela- yanan yang penting kepada masyarakat". (Budi Sampurna, 2006).
Praktik keperawatan khususnya praktek keperawatan gerontic yang aman memerlukan pe
mahaman tentang batasan legal yang ada dalam praktik perawat. Sama dengan semua aspek k
eperawatan, pemahaman tentang implikasi hukum dapat mendukung pemikiran kristis perawa
t. Perawat perlu memahami hukum untuk melindungi hak kliennya dan dirinya sendiri dari m
asalah. Perawat tidak perlu takut hukum, tetapi lebih melihat hukum sebagai dasar pemahama
n terhadap apa yang masyarakat harapkan dari penyelenggara pela- yanan keperawatan yang
profesional.
2.2 Prinsip" Legal Dan Etis
6
Ada beberapa prinsip legal dan etis dalam praktek keperawatan, yaitu :
A. Autonomi (Otonomi)
Prinsip otonomi didasarkan pada keyakinan bahwa individu mampu berpikir logis dan mamp
u membuat keputusan sendiri. Orang dewasa dianggap kompeten dan memiliki kekuatan me
mbuat sendiri, memilih dan memiliki berbagai keputusan atau pilihan yang harus dihargai ole
h orang lain. Prinsip otonomi merupakan bentuk respek terhadap seseorang, atau dipandang s
ebagai persetujuan tidak memaksa dan bertindak secara rasional. Otonomi merupakan hak ke
mandirian dan kebebasan individu yang menuntut pembedaan diri. Praktek profesional merefl
eksikan otonomi saat perawat menghargai hak-hak klien dalam membuat keputusan tentang p
erawatan dirinya. Contoh: perawat dalam memberikan asuhan keperawatan kepada lansia, me
nghargai bahwa lansia juga butuh rasa aman dan nyaman selama dilakukan perawatan.
B. Beneficience (Berbuat Baik)
Beneficience berarti hanya melakukan sesuatu yang baik. Kebaikan, memerlukan pencegahan
dari kesalahan atau kejahatan, penghapusan kesalahan atau kejahatan dan peningkatan kebaik
an oleh diri dan orang lain. Terkadang, dalam situasi pelayanan kesehatan, terjadi konflik ant
ara prinsip ini dengan otonomi. Contohnya: perawatdalam memberikan asuhan keperawatan
dilakukan dengan sungguh- sungguh dan professional semata-mata untuk kesembuhan pasien.
C. Justice (Keadilan)
Prinsip keadilan dibutuhkan untuk tercapai yang sama dan adil terhadap orang lain yang menj
unjung prinsip-prinsip moral, legal dan kemanusiaan. Nilai ini direfleksikan dalam praktek pr
ofessional ketika perawat bekerja untuk terapi yang benar sesuai hukum, standar praktek dan
keyakinan yang benar untuk memperoleh kualitas pela- yanan kesehatan. Contoh: saat memb
erikan asuhan keperawatan pada pasien lansia, perawat secara adil memberikan asuhan tanpa
membeda-bedakan status sosial pasien yang menjadi tanggung jawabnya.
D. Non Maleficience (Tidak Merugikan)
7
Prinsip ini berarti tidak menimbulkan bahaya/cedera fisik dan psikologis pada klien. Contoh:
dalam memberikan asuhan kepera- watan pada lansia, tidak menimbulkan bahaya atau cedera
fisik pada pasien lansia yang menjadi tanggung jawabnya.
E. Veracity (Kejujuran)
Prinsip ini berarti penuh dengan kebenaran. Nilai diperlukan oleh pemberi pelayanan kesehat
an untuk menyampaikan kebenaran pada setiap klien dan untuk meyakinkan bahwa klien san
gat mengerti. Prinsip ini berhubungan dengan kemampuan seseorang untuk mengatakan kebe
naran. Contoh: dalam memberikan asuhan keperawatan pada lansia, perawat mengatakan den
gan jujur dan menggunakan bahasa yang mudah dimengerti oleh pasien.
F. Fidellity (Menepati Janji)
Prinsip ini dibutuhkan individu untuk menghargai janji dan komit- mennya terhadap orang lai
n. Perawat setia pada komitmennya dan menepati janji serta menyimpan rahasia pasien. Cont
oh: saat mem- berikan asuhnan keperawatan pada lansia, dan di akhir kegiatan perawat memb
uat kontrak bahwa besok akan bertemu jam 08.00 ditempat yang sama, maka diupayakan janj
i itu ditepati karena selain akan membuat kecewa pasien bila tidak ditepati juga akan mengga
nggu dalam pemberian asuhan dan komunikasi nantinya.
G. Confidentiality (Kerahasiaan)
Aturan dalam prinsip kerahasiaan adalah informasi tentang klien harus dijaga privasi klien. S
egala sesuatu yarng terdapat dalam dokumen catatan kesehatan klien hanya boleh dibaca dala
m rangka pengobatan klien. Contoh: Selama memberikan asuhan keperawatan pada lansia, di
upayakan perawat selalu menjaga rahasia pasien dan sepanjang tidak mendapat izin dari lansi
a, maka jangan sekali-kaoli perawat membuka rahasia pasien.
H. Accountability (Akuntabilitas)
Akuntabilitas merupakan standar yang pasti bahwa Tindakan seorang professional dapat dinil
ai dalam situasi yang tidak jelas atau tanpa terkecuali. Contoh: dalam memberikan asuhan ke
perawatan pada lansia, perawat menggunakan standar yang sudah baku di tempat pelayanan
Kesehatan tersebut.
I. Informed Consent
8
"informed Consent" terdiri dari dua kata yaitu "informed" yang berarti telah mendapat penjel
asan atau keterangan (informasi), dan "consent' yang berarti persetujuan atau memberi izin. J
adi "informed consent" mengandung pengertian suatu persetujuan yang diberikan setelah men
dapat informasi. Dengan demikian "informed consent" dapat didefinisikan sebagai persetujua
n yang diberikan oleh pasien dan atau keluarganya atas dasar penjelasan mengenai tindakan
medis yang akan dilakukan terhadap dirinya serta risiko yang berkaitan dengannya.
2.3 Masalah Legal Dalam Keperawatan
Hukum dikeluarkan oleh badan pemerintah dan harus dipatuhi oleh warga negara. Seti
ap orang yang tidak mematuhi hukun akan terikat secara hukum untuk menanggung denda at
au hukuman pen- jara. Beberapa situasi yang perlu dihindari seorang perawat :
A. Kelalaian
Seorang perawat bersalah karena kelalaian jika mencederai pasien dengan cara tidak melakuk
an pekerjaan sesuai dengan yang diharapkan ataupun tidak melakukan tugas dengan hati-hati
sehingga mengakibatkan pasien jatuh dan cedera.
B. Pencurian
Mengambil sesuatu yang bukan milik anda membuat anda ber- salah karena mencuri. Jika an
da tertangkap, anda akan dihukum. Mengambil barang yang tidak berharga sekalipun dapat di
anggap sebagai pencurian.
C. Fitnah
Jika anda membuat pernyataan palsu tentang seseorang dan me- rugikan orang tersebut, anda
bersalah karena melakukan fitnah. Hal ini benar jika anda menyatakan secara verbal atau tert
ulis.
D. False Imprisonment
Menahan tindakan seseorang tanpa otorisasi yang tepat meru- pakan pelanggaran hukum atau
false imprisonment. Meng- gunakan restrein fisik atau bahkan mengancam akan melakukann
ya agar pasien mau bekerja sama bisa juga termasuk dalam false imprisonment. Penyokong d
an restrein harus digunakan sesuai dengan perintah dokter
E. Penyerangan dan pemukulan
9
Penyerangan artinya dengan sengaja berusahan untuk menyentuh tubuh orang lain atau bahka
n mengancam untuk melakukannya. Pemukulan berarti secara nyata menyentuh orang lain ta
npa ijin. Perawatan yang kita berikan selalu atas ijin pasien atau informed consent. Ini berarti
pasien harus mengetahui dan menyetujui apa yang kita rencanakan dan kita lakukan.
F. Pelanggaran privasi
Pasien mempunyai hak atas kerahasiaan dirinya dan urusan pribadinya. Pelanggaran terhadap
kerahasiaan adalah pelanggaran privasi dan itu adalah tindakan yang melawan hukum.
G. Penganiayaan
Menganiaya pasien tentunya melanggar prinsip-prinsip etik dan membuat perawat terikat sec
ara hukum untuk menanggung tuntutan hukum. Standar etik meminta perawat untuk tidak me
lakukan sesuatu yang membahayakan pasien. Setiap orang dapat teraniaya, tetapi hanya oran
g tua dan anak-anaklah yang paling rentan. Biasanya, pemberi layanan atau keluargalah yang
bertanggung jawab terhadap penganiayaan ini. Mungkin sulit dimengerti mengapa seseorang
menganiaya ornag lain yang lemah atau rapuh, tetapi hal ini terjadi. Beberapa orang merasa p
uas bisa mengendalikan orang lain. Tetapi hampir semua penganiayaan berawal dari perasaan
frustasi dan kelelahan dan sebagai seorang perawat perlu menjaga keamanan dan kese- lamat
an pasiennya.
2.4 Landasan Aspek Legal Keperawatan
Landasan aspek legal keperawatan adalah undang-undang keperawatan Aspek legal Keper
awatan pada kewenangan formalnya adalah izin yang memberikan kewenangan kepada pener
imanya untuk melakukan praktik profesi perawat yaitu Surat ljin Kerja (SIK) bila bekerja di
dalam suatu institusi dan Surat ljin Praktik Perawat (SIPP) bila bekerja secara perorangan ata
u berkelompok.
Kewenangan itu, hanya diberikan kepada mereka yang memiliki kemampuan. Namun, me
miliki kemampuan tidak berarti memiliki kewenangan. Seperti juga kemampuan yang didapat
secara berjen- jang, kewenangan yang diberikan juga berjenjang.
Kompetensi dalam keperawatan berarti kemampuan khusus perawat dalam bidang tertentu
yang memiliki tingkat minimal yang harus dilampaui. Dalam profesi kesehatan hanya kewena
ngan yang bersifat umum saja yang diatur oleh Departemen Kesehatan sebagai penguasa sega
10
la keprofesian di bidang kesehatan dan kedokteran. Sementara itu, kewenangan yang bersifat
khusus dalam arti Tindakan kedokteran atau kesehatan tertentu diserahkan kepada profesi ma
sing-masing.
2.5 Aplikasi Aspek Legal Dalam Keperawatan
Hukum mengatur perilaku hubungan antar manusia sebagai subjek hukum yang melahirka
n hak dan kewajiban. Dalam kehidupan manusia, baik secara perorangan maupun berkelomp
ok, hukum mengatur perilaku hubungan baik antara manusia yang satu dengan yang lain, anta
r kelompok manusia, maupun antara manusia dengan kelompok manusia. Hukum dalam inter
aksi manusia merupakan suatu keniscayaan (Praptianingsih, S., 2006).
Berhubungan dengan pasal 1 ayat 6 UU no 36/2009 tentang kese- hatan berbunyi: "Tenaga
kesehatan adalah setiap orang yang mengabdikan diri dalam bidang kesehatan serta memiliki
pengetahuan dan/atau keterampilan melalui pendidikan i bidang kesehatan yang untuk jenis t
ertentu memerlukan kewenangan untuk melakukan upaya kesehatan."
Begitupun dalam pasal 63 ayat 4 UU no 36/2009 berbunyi "Pelaksanaan pengobatan dan/a
tau perawatan berdasarkan ilmu kedokteran atau ilmu keperawatan hanya dapat dilakukan ole
h tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan kewenangan untuk itu". Yang mana berdas
arkan pasal ini keperawatan merupakan salah satu profesi/tenaga. kesehatan yang bertugas un
tuk memberikan pelayanan kepada pasien yang membutuhkan Pelayanan keperawatan di rum
ah sakit meliputi: proses pemberian asuhan keperawatan, penelitian dan pendidikan berkelanj
utan. Dalam hal ini proses pemberian asuhan keperawatan sebagai inti dari kegiatan yang dila
kukan dan dilanjutkan dengan pelaksanaan penelitian-penelitian yang menunjang terhadap as
uhan keperawatan, juga peningkatan pengetahuan dan keterampilan serta sikap yang diperole
h melalui pendidikan dimana hal ini semua bertujuan untuk keamanaan pemberian asuhan ba
gi pemberi pelayanan dan juga pasien selaku penerima asuhan.
Berdasarkan Kepmenkes 1239 Tahun 2001 tentang Registrasi dan Praktik Perawat dan Per
menkes No. HK.02.02/Menkes/148/\/2010 tentang izin dan penyelenggaraan praktik perawat,
terdapat beberapa hal yang berhubungan dengan kegiatan keperawatan. Adapun kegiatan yan
g secara langsung dapat berhubungan dengan aspek legalisasi keperawatan :
A. Proses Keperawatan
B. Tindakan keperawatan
11
C. Informed Consent
Untuk melindungi tenaga perawat akan adanya tuntutan dari klien/pasien perlu ditetapkan
dengan jelas apa hak, kewajiban serta kewenangan perawat agar tidak terjadi kesalahan dala
m melakukan tugasnya serta memberikan suatu kepastian hukum, perlindungan tenaga peraw
at. Hak dan kewajiban perawat ditentukan dalam Kepmenkes 1239/2001 dan Keputusan Dire
ktur Jenderal Pelayanan Medik Nomor Y.M.[Link].956.
BAB III
PENUTUP
12
3.1 Kesimpulan
Dibandingkan dengan keadaan negara maju, hukum perundang-undangan terhadap lanjut
usia di Indonesia masih memiliki banyak kekurangan, antara lain belum adanya undang-
undang tentang lanjut usia (Senior Citizen's Act), pelayanan berkelanjutan bagi lanjut usia
Continuum of Care), tunjangan pelayanan dan perawatan terhadap lanjut usia (Medicare).
Hak penghuni panti (Charter of Resident's Right) dan pelayanan lanjut usia di
masyarakat. Keadaaan in menimbulkan berbagai permasalahan. Undang-undang Nomor 13
tahun 1998 baru mengatur tentang kesejahteran lanjut usia yang merupakan langkah awal
guna meningkatkan perhatian pemerintah dan masyarakat kepada lanjut usia, sehingga perlu
dipertimbangkan diterbitkannya undang-undang lainnya yang dapat mengatasi permasalahan
lanjut usia secara spesifik. Selain faktor produk hukum, faktor penyebab permasalahan yang
masih terdapat pada lanjut usia dari aspek hukum dan etika adalah keterbatasan prasarana dan
keterbatasan sumberdaya manusia yang mengakibatkan para lanjut usia tak dapat diberi
pelayanan sedini mungkin dan upaya mengatasi secara benar oleh tenaga yang berkompeten
sering dilakukan terlambat dan permasalahan sudah berlarut
3.2 Saran
1. Perlu kehati hatian seseorang terntunya keperawatan dalam melakukan sesuatu
tindakan agar tidak terjadi sesuatu yang dapat menyebabkan kejadian yang fatal
akibatnya 2. Adanya berbagai pendekatan yang bersifat persuasif, konsultatif dan pa
rtisipatif semua pihak(Stake Holder) yang terkait dalam penyelenggaran Praktik Kep
erawatan berorientasi kepada pelayanan yang bermutu.
3. Perlu adanya peraturan perundang-undangan dibidang keperawatan yang
diselenggarakan oleh tenaga keperawatan dapat mengayomi dan bersikap mendidik
sekaligus bersifat menghukum yang mudah dipahami dan dilaksanakan, karena
penyelenggaraan praktik keperawatan meyangkut berbagai pihak sehingga yang
terkait hendaknya bersifat proaktif dalam melaksanakan peraturan perundang-
undangan tersebut.
4. Setelah mengatahui perkembangan UU yang mengatur tentang praktek keperawa
tan,sebagai calon perawat atau mahasiswa keperawatan harus meningkatkan mutu b
elajar agar memiliki kemampuan berpikir rasional dalam menyalankan tugas sebagai
perawat profesional.
13
DAFTAR PUSTAKA
Ruswadi,indra.2020. KEPERAWATAN GERONTIK pengetahuan praktis bagi perawat dan
mahasiswa [Link]: [Link] abimata
Finda laeni nengseh. 2018. Makalah Keperawatan Legal Etik dan Kasus. Univ Pahlawan
Tuanku Tambusai: Riau
Nofridawati. 2020. Aspek Legal Etik Dalam Keperawatan Gerontik.
Cici Rosnita. 2013. Sintesis Jurnal Aspek Legal Keperawatan Gerontik. STIKES Almata :
14
Jogyakarta
Yana Mulyadi. 2018. Makalah Konsep Keperawatan Gerontik. STIKES Karsa Husada: Garut
15