MAKALAH
Pengertian Antonim beserta pembagiannya
Dosen Pengampu : Dr.H. Fathur Rohim, M. Ag.
Disusun Oleh :
Chusnul Chotimah ( 03020121039 )
Lailatul Istiqlaliyah ( 03020121048 )
Putri Nur Azizah ( 03040121116 )
PROGRAM STUDI BAHASA DAN SASTRA ARAB
FAKULTAS ADAB DAN HUMANIORA
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL SURABAYA
2022
KATA PENGANTAR
Syukur Alhamdulillah tetap senantiasa kami panjatkan atas kehadirat
Allah SWT yang mana telah melimpahkan rahmat dan juga karunia-Nya, sehingga kami
dapat menyelesaikan makalah ini guna memenuhi tugas kelompok untuk mata kuliah
semantik, dengan judul “ Pengertian Antonim dan pembagiannya”
Kami menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini tidak terlepas dari bantuan
banyak pihak yang mana dengan tulus memberikan doa, saran dan juga kritik sehingga
makalah ini dapat terselesaikan.
Kami menyadari sepenuhnya bahwa makalah ini jauh dari kata sempurna
dikarenakan terbatasnya pengalaman juga pengetahuan yang mana kami miliki. Maka
dari itu, kami mengharapkan segala bentuk saran maupun kritik yang mana akan
membangun dari berbagai pihak agar menjadi lebih baik. Maka, kami berharap semoga
makalah ini dapat memberikan sedikit banyak manfaat untuk perkembangan dunia
pendidikan.
Sidoarjo, 19 november 2022
Penulis
i
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR..............................................................................................i
DAFTAR ISI ...........................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN ....................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang ............................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah .......................................................................................... 1
1.3 Tujuan ............................................................................................................ 2
BAB II PEMBAHASAN ......................................................................................... 3
2.1 Pengertian Antonim ....................................................................................... 3
2.2 Pembagian Antonim ...................................................................................... 4
2.3 Sebab – sebab Antonim ................................................................................. 5
BAB III PENUTUP ................................................................................................. 7
KESIMPULAN ....................................................................................................... 7
DAFTAR PUSTAKA .............................................................................................. 8
ii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Perkembangan dalam bidang ilmu dan kemajuan dalam bidang teknologi dapat
menyebabkan terjadinya perubahan makna sebuah kata. Di sinilah sebuah kata secara
perlahan mengalami degradasi yang disebabkan oleh suatu pandangan baru. Makna dalam
sebuah kalimat tidak terlepas dari peran bahasa di dalamnya. Bahasa berfungsi sebagai media
komunikasi. Makna sebagai unsur bahasa merupakan salah satu unsur yang memiliki potensi
untuk berubah karena makna berkaitan dengan konsep-konsep dan pikiran manusia yang
tidak berhenti.
Hal ini berarti bahwa bahasa mengandung makna yang bisa dipahami. Oleh karena
itu, dalam mempelajari bahasa khususnya Bahasa Arab maka terdapat banyak cabang-cabang
disiplin ilmu, salah satunya adalah ilmu yang mempelajari tentang makna yang disebut
semantik atau dalam bahasa arab biasa disebut dengan علم الداللة. Pada konteks tatanan hierarki
kebahasaan, makna kata yang saling berhubungan disebut relasi makna. Relasi makna dapat
berwujud bermacam-macam. Dalam setiap bahasa termasuk bahasa Indonesia, seringkali kita
temukan adanya hubungan kemaknaan atau relasi semantik antara sebuah kata atau satuan
bahasa lainnya. Hubungan atau relasi terkait makna memiliki banyak ragam, maka fokus
kajian makna yang dikaji diantaranya yaitu kesamaan makna (sinonim), kebalikan makna
(antonim), makna ganda (polisemi), ketercakupan makna (hiponimi) dan makna bertingkat
(homonimi). Pada makalah ini, kami akan membahas tentang kebalikan makna atau biasa
disebut dengan antonim,
1.2 Rumusan Masalah
Setelah mengidentifikasi antonim sebagai bagian dari kajian semantik, maka
ditemukan masalah yang perlu dirumuskan sebagai berikut:
1. Apa pengertian dari Antonim?
2. Apa saja pembagian Antonim?
3. Apa saja sebab – sebab Antonim?
1
1.3 Tujuan
Secara singkat, semantik merupakan istilah teknis yang mengacu pada studi
tentang makna. Makna yang dimaksud disini adalah makna bahasa, baik dalam bentuk
morfem, kata, atau kalimat.
Analisis ini difokuskan pada makna kata pada bahasa Arab yang dituturkan oleh
penutur asli bahasa Arab dan tuturan yang dihasilkan oleh penutur bahasa Indonesia
selaku pembelajar bahasa Arab. Secara rinci tujuan dalam penelitian ini adalah sebagai
berikut:
1. Mendeskripsikan definisi dari Antonim.
2. Mendeskripsikan pembagian Antonim.
3. Mendeskripsikan sebab – sebab Antonim.
2
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Antonim ()التضاد
Menurut bahasa Arab Idhdhad (Antonim) berasal dari kata ضد يضد ضدyang berarti
menolak, berlawanan atau kontradiksi. Sedangkan kata Antonimi (bahasa indonesia)
merupakan kata serapan dari bahasa Inggris, yaitu antonymy. Menurut Verhaar (1978),
kata antonymy sendiri berasal dari bahasa Yunani Kuno, yaitu: “anoma” artinya “nama”
dan “anti” artinya “melawan”. Jadi arti harfiyanya adalah “Nama lain untuk benda lain”.
(Verhaar, 1978:133) atau lebih sering disebut dengan lawan kata. Secara semantik,
Verhaar (1978) mendefinisikan sebagai Ungkapan (biasanya berupa kata, tetapi dapat
pula dalam bentuk frase atau kalimat) yang maknanya dianggap kebalikan dari makna
ungkapan lain.
Secara mudah dapat dikatakan, antonim adalah kata-kata yang maknanya
berlawanan. Misalnya dengan kata bagus adalah berantonimi dengan kata buruk; kata
besar adalah berantonimi dengan kata kecil; dan kata membeli berantonim dengan kata
menjual.
Dalam Bahasa Arab, Taufiqurrochman (2008) menyebutkan dalam bukunya,
bahwa antonim disebut dengan التضادyaitu:
كلمنت فاكثرلذا داللة متضادة
ٌ هو عبارة عن وجود:التضاد
Artinya: Antonim ( ) التضادadalah dua buah kata atau lebih yang maknanya “dianggap”
berlawanan.
Sedangkan Ahmad Mukhtar Umar (1998:191) mengartikannya sebagai berikut:
معنن متضادمين
ٌ االضاد او التضاد هو اللفظ الدستعمل يف
Artinya: Antonim adalah lafadz yang digunakan dalam dua makna yang berlawanan.
Lebih lanjut menurut Ilmuan Bahasa Modern menyatakan bahwa:
لفظن خيتلفاف نطقاويتضاداف يف الدعن
ٌ االضاد او التضاد يعين وجود
Artinya: Antonim yaitu adanya dua lafadz yang berbeda dalam pelafalan dan berbeda
dalam makna.
3
Al-Tadhad dalam bahasa Arab dapat dibagi menjadi beberapa jenis, yaitu:
1. Al-Tadhad al-Had atau antonimi tidak berjenjang. seperti: حي - ميت dan متزوج-أغزب
2. Al-Tadhad al-Mutadarrij atau antonimi berjenjang seperti: ساخن-ابرد karena hangat
dan dingin memiliki ukuran tertentu.
3. Al-Tadhad al – ‘Aks atau antonim berpasangan seperti: ابع- اشرتىdan دفع-أخذ
dan lain-lain.
4. Al-Tadhad al-Ittijahi, atau antonim arah seperti فوؽ- حتت, أعلى- سفلdan lain-lain.
Kridalaksana (1993) mendefinisikan antonim sebagai oposisi makna dalam
pasangan leksikal yang dapat dijenjangkan (Kridalaksana, 1993:15). Hal ini yaitu
beberapa pasangan kata yang mempunyai arti yang berlawanan. Dalam bahasa Indonesia
kita kenal kata-kata besar-kecil, tinggi-rendah, jauh-dekat, rajin-malas, takut-berani,
gembira-sedih, sakit-senang, panas-dingin, dan lain-lain.
Sama halnya dengan sinonim, antonim pun terdapat pada semua tataran bahasa: tataran
morfem, tataran kata, tataran frase, dan tataran kalimat. Hanya barangkali mencari
contohnya dalam setiap bahasa tidak mudah.
Dari uraian di atas dapat dilihat bahwa antonim pun, sama halnya dengan sinonim,
tidak bersifat mutlak. Itulah sebabnya barangkali dalam batasan di atas, Verhaar (1978)
menyatakan "...yang maknanya dianggap kebalikan dari makna ungkapan lain". Jadi,
hanya dianggap kebalikan. Bukan mutlak berlawanan.
2.2 Pembagian Antonim ()التضاد
Idhdhad (Antonim) terdiri dari:
1. Perlawanan makna binary (pasangan)
a. ( موتkematian) yang berlawanan dengan ( حياةkehidupan)
b. ( رجلlaki-laki) yang berlawanan makna dengan ( مرأةwanita)
c. ( ظلمgelap) yang berlawanan makna dengan ( نورcahaya)
4
2. Perlawanan makna bertingkat (gradable)
a. كب
( نbesar) yang berlawanan dengan ( متوسطsedang) صغن
( نkecil)
b. ( جففmusim kemarau) yang berlawanan dengan ( امطارmusim hujan) ( ربيعmusim
gugur) ( شتاءmusim dingin) ( صيفmusim panas)
3. Perlawanan makna timbal balik (converse)
a. ( زوجsuami) yang berlawanan dengan ( زوجةistri)
b. ( طبيبdokter) yang berlawanan dengan ( مريضpasien)
c. ( أستاذguru) yang berlawanan dengan ( تلميذmurid)
4. Perlawanan makna berhubungan dengan gerak dan arah (reverse)
a. ( فوؽatas) yang berlawanan dengan ( حتتbawah)
b. ( ييمنkanan) yang berlawanan dengan ( مشاؿkiri)
ٌ
c. ( خورجkeluar) yang berlawanan dengan ( دخوؿmasuk)
2.3 Sebab – sebab Antonim ()التضاد
Haidar (2005:152-156) menyebutkan terdapat banyak hal yang menyebabkan
terjadinya antonim. Hal-hal tersebut kemudian diklasifikasikannya kedalam tiga faktor
besar:
1. Faktor Eskternal
a. Perbedaan dialek, misalnya kata السدفةyang dapat bermakna الظلمة
“gelap” dan “ الضوعterang”
b. Pinjaman bahasa asing, misalnya kata حللyang bermakna “ كريmulia”
dan حقن
“ نhina”.
5
c. Motivasi sosial, misalnya sebagai kata yang menunjukkan rasa optimisme,
pesimisme, ejekan, atau bahkan juga sebagai tata krama.
2. Faktor Internal
a. Motivasi relasi makna, misalnya sebagai kata yang menunjukkan perluasan
makna, majas, penegasan, atau pun untuk menggeneralisasikan makna aslinya.
b. Motivasi relasi lafadz, misalnya perbedaan akar kata, substitusi konsonan akar
kata, atau pun perubahan tempat konsonan akar kata.
3. Faktor Historis
a. Peninggalan masa lalu, seperti yang diungkapkan Giese kontranimi merupakan
ungkapan manusia yang berupa pemikiran orang-orang di masa lampau.
b. keadaan asasi kata, maksudnya adalah ungkapan yang menjadik kontranimi sejak
awal memang sudah begitu adanya. Namun, pendapat
c. demikian ditentang oleh Ibnu Sayyid yang mengatakan bahwa tidak dibenarkan
memberikan dua makna bertentangan pada satu kata dalam waktu yang bersamaan
6
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Perkembangan dalam bidang ilmu dan kemajuan dalam bidang teknologi dapat
menyebabkan terjadinya perubahan makna sebuah kata. Di sinilah sebuah kata secara perlahan
mengalami degradasi yang disebabkan oleh suatu pandangan baru. Makna dalam sebuah kalimat
tidak terlepas dari peran bahasa di dalamnya. Bahasa berfungsi sebagai media komunikasi. Makna
sebagai unsur bahasa merupakan salah satu unsur yang memiliki potensi untuk berubah karena
makna berkaitan dengan konsep-konsep dan pikiran manusia yang tidak berhenti.
Menurut bahasa Arab Idhdhad (Antonim) berasal dari kata ضد يضد ضدyang berarti
menolak, berlawanan atau kontradiksi. Sedangkan kata Antonimi (bahasa indonesia)
merupakan kata serapan dari bahasa Inggris, yaitu antonymy. Menurut Verhaar (1978),
kata antonymy sendiri berasal dari bahasa Yunani Kuno, yaitu: “anoma” artinya “nama”
dan “anti” artinya “melawan”. Jadi arti harfiyanya adalah “Nama lain untuk benda lain”.
(Verhaar, 1978:133) atau lebih sering disebut dengan lawan kata. Secara semantik,
Verhaar (1978) mendefinisikan sebagai Ungkapan (biasanya berupa kata, tetapi dapat
pula dalam bentuk frase atau kalimat) yang maknanya dianggap kebalikan dari makna
ungkapan lain.
7
DAFTAR PUSTAKA
Nasution, Sahkholid. 2017. Pengantar Linguistik Bahasa Arab. Sidoarjo: CV. Lisan
Arabi
Chaer, Abdullah. 1995. Pengantar Semantik Bahasa Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta.
Sumarsono. 2007. Pengantar Semantik. Cet.I (diadaptasi Sterphen Ullman) Pustaka
Pelajar: Yogyakarta.
Achmad., Alek Abdullah. 2012. Linguistik Umum. Jakarta: Gelora Aksara Pratama
Mulyana. 2005. Kajian Wacana: Teori, Metode dan Aplikasi, Prinsip-Prinsip, Analisa
Wacana. Tiara Wacana: Yogyakarta.
Bagus, Lorens. 2002. Kamus Filsafat. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Fawaid, Ahmad. 2013. ” Semantik al-Qu’ran : Pendekatan Teori Dilalat al-Alfaz
terhadap Kata Zalal dalam al-Quran”, Jurnal Muttawatir,Vol.2: Surabaya
Dagun, Save M. 2006. Kamus Besar Ilmu Pengetahuan. Jakarta: LPKN.
Djajasudarma, Fatimah. 2012. Semantik 1: Makna Leksikal dan Gramatikal. Bandung:
PT Refika Aditama.
Haidar, Farid. 2005. Awid. Ilm al-Dilalah. Kairo: Maktabah al-Adab.
Mukhtar, Ahmad . 1998. Ilmu ad-dilalah. Kairo: Alam al-Kutub
Taufiqurrochman. 2008. Leksiokologi Bahasa Arab. Malang: UIN-Malang Press.
.