0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
29 tayangan9 halaman

Pola Penggunaan Obat Diare Akut Pada Balita Di Rumah Sakit: Journal Syifa Sciences and Clinical Research (JSSCR)

Diunggah oleh

Monica Rumahorbo
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
29 tayangan9 halaman

Pola Penggunaan Obat Diare Akut Pada Balita Di Rumah Sakit: Journal Syifa Sciences and Clinical Research (JSSCR)

Diunggah oleh

Monica Rumahorbo
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Journal Syifa Sciences and Clinical Research (JSSCR)

Volume 4 Nomor 3
Journal Homepage: [Link] E-ISSN: 2656-9612 P-ISSN:2656-8187
DOI : [Link]

Pola Penggunaan Obat Diare Akut Pada Balita di Rumah


Sakit
Sofia Futria Wulandari1, Muhammad Akib Yuswar1*, Nera Umilia Purwanti1
1Jurusan Farmasi, Fakultas Kedokteran, Universitas Tanjungpura,

Jl. Prof. Dr. Hadari Nawawi, Pontianak, Kalimantan Barat, 78124, Indonesia

* Penulis Korespondensi. Email: [Link]@[Link]

ABSTRAK

Prevalensi diare di Indonesia berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan mencapai 6,8%


pada tahun 2018. Umumnya diare menyerang balita di usia dibawah 5 tahun karena daya
tahan tubuh balita yang masih dalam kategori lemah, sehingga lebih rentan terhadap paparan
bakteri penyebab diare. Kasus diare terbanyak di Indonesia adalah kasus diare akut. Penelitian
ini bertujuan untuk mengetahui pola penggunaan obat diare akut pada balita di RSUD Sultan
Syarif Mohamad Alkadrie Pontianak tahun 2020. Penelitian ini menggunakan metode
observasional deskriptif dengan rancangan penelitian yang digunakan adalah cross-sectional.
Pengambilan data secara retrospektif dengan menggunakan metode purposive sampling.
Hasil penenelitian menunjukkan karakteristik pasien berdasarkan jenis kelamin yang paling
banyak menderita diare cair akut adalah perempuan yaitu sebesar (55%), kelompok usia
terbanyak adalah 0-<1 tahun sebesar (30%), jenis diare terbanyak yang diderita adalah diare
cair akut tanpa dehidrasi sebesar (51,25%) dan gejala klinis yang paling banyak dirasakan
adalah BAB cair dan demam yaitu sebesar (44,20% dan 20,99%). Obat yang paling banyak
diresepkan untuk mengatasi diare cair akut adalah zink sebesar (27,97%). Kesimpulan pada
penelitian ini adalah obat yang paling banyak diresepkan untuk mengatasi penyakit diare cair
akut pada balita adalah zink.
Kata Kunci:
Balita, Diare Cair Akut, Pola Penggunaan, Zink
Diterima: Disetujui: Online:
03-06-2022 23-07-2022 01-09-2022

ABSTRACT

The prevalence of diarrhea in Indonesia based on the diagnosis of health workers reached 6.8% in 2018.
Generally attacks toddlers under the age of 5 years because the toddler's immune system is still in the
weak category, making them more susceptible to exposure to bacteria that cause diarrhea. The most cases
of diarrhea in Indonesia are cases of acute diarrhea. This study aims to determine the pattern of use of
acute diarrhea medication in toddlers at Sultan Syarif Mohamad Alkadrie Hospital Pontianak in 2020.
This study used a descriptive observational method with a cross-sectional research design. Retrospective
data collection using purposive sampling method. The results showed that the characteristics of patients
by gender who suffered the most from acute diarrhea were women (55%), the most age group was 0-<1
year (30%), the type of diarrhea that most suffered was acute diarrhea without dehydration (51, 25%)
and the most felt clinical symptoms were liquid defecation and fever (44.20% and 20.99%). The most
widely prescribed drug to treat acute watery diarrhea was zinc (27.97%). The conclusion in this study
is that the most widely prescribed drug to treat acute diarrheal disease in toddlers is zinc.
Copyright © 2022 Jsscr. All rights reserved.
Keywords:

600
Journal Syifa Sciences and Clinical Research. 3(4): 600-608

Toddler, Acute Watery Diarrhe, Usage Pattern, Zinc


Received: Accepted: Online:
2022 -06-03 2022 -07-23 2022-09-01

1. Pendahuluan
Penyakit diare merupakan penyakit endemis potensial Kejadiaan Luar Biasa
(KLB) yang menjadi masalah kesehatan di Indonesia [1]. Diare merupakan kondisi
dimana individu mengalami buang air besar dengan frekuensi sebanyak 3 kali atau lebih
dalam sehari dengan konsistensi tinja yang cair [2]. Prevalensi diare di Indonesia
berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan mencapai 6,8% pada tahun 2018 [3].Diare
umumnya menyerang balita dengan usia di bawah 5 tahun karena daya tahan tubuh
balita yang masih dalam kategori lemah, sehingga balita lebih rentan terhadap paparan
bakteri penyebab diare [4]. Menurut Profil Kesehatan indonesia tahun 2020 diare masih
merupakan salah satu penyebab utama kematian pada balita, dimana pada usia 29 hari
-11 bulan mencapai 9,8% dan pada usia 12-59 bulan mencapai 4,55%. [5].
Penatalaksanaan diare menurut Kemenkesi RI tahun 2011 adalah dengan
LINTAS DIARE (Lima Langkah Tuntaskan Diare), yaitu dengan pemberian oralit,
pemberian zink selama 10 hari berturut-turut, meneruskan ASI-makan, pemberian
antibiotik selektif dan memberikan nasihat pada ibu/keluarga [6]. Penyebab utama
kematian pada diare adalah dehidrasi yang disebabkan oleh hilangnya cairan maupun
elektrolit melalui feses. Kelompok usia anak-anak merupakan kelompok usia yang
paling menderita disebabkan oleh daya tahan tubuh anak-anak yang masih lemah.
Anak-anak yang memilik kondisi gizi kurang sering menderita diare, kondisi tersebut
jika disertai dengan menurunnya nafsu makan dan keadaan tubuh yang lemah akan
sangat membahayakan kesehatan anak [7].
Penyakit diare pada anak tidak langsung menyebabkan kematian, namum jika
penaganannya tidak tepat makan akan berakibat fatal seperti mengalami dehidrasi
sehingga diperlukan penaganan medis segera [8]. Penggunaan obat pada diare akut
memerlukan pertimbangan klinis karena jika oabt-obat yang diberkan tidak tepat akan
mengakibatkan penyakit diare tidak sembuh dan akan memperparah keadaa [9].

Berdasarkan uraian diatas peneliti merasa perlu dilakukannya penelitian


mengenai pola penggunaan obat diare akut pada balita di RSUD Sultan Syarif Mohamad
Alkadrie. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pola penggunaan obat
diare akut pada balita.

2. Metode
Penelitian ini merupakan penelitian observasional deskriptif dengan rancangan
penelitian cross-sectional. Pengambilan data dilakukan secara retrospektif melalui
penelusuran data rekam medis di RSUD Sultan Syarif Mohamad Alkadrie Pontianak
pada periode Januari-Desember 2020. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini
adalah teknik non-probability dengan jenis purposive sampling. Populasi dalam penelitian
ini adalah seluruh data rekam medis pasien di poli anak. Sampel dalam penelitian ini
adalah pasien balita yang memenuhi kriteria yaitu adalah pasien yang didiagnosa diare
cair akut yang berusia 0-5 tahun.

Analisis Data
Analisis data dilakukan secara deskriptif dan diolah kedalaman program
Microsoft Excel untuk mendapatkan gambaran jumlah dan persentasenya.

601
P-ISSN: 2656-8187, E-ISSN: 2656-9612

3. Hasil dan Pembahasan


Karakteristik Subjek Penelitian
Karakteristik pasien berdasarkan jenis kelamin menunjukkan bahwa pasien
balita dengan jenis kelamin perempuan memiliki persentase lebih banyak yaitu sebesar
(55%) (Gambar 1). Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh
Adhiningsih,dkk yang menyatakan bahwa balita dengan diare akut yang berjenis
kelamin perempuan lebih banyak yaitu sebanyak 59 pasien (50,9%) dibanding laki-laki
yaitu sebanyak 57 (49,1%) [10].

80

70

60
44
Jumlah Sampel

50 (55%)
36
40 (45%) Laki-laki
Perempuan
30

20

10

0
Frekuensi

Gambar 1. Karakteristik jenis kelamin

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Gultom,dkk daya tahan tubuh yang
dimiliki anak perempuan lebih rendah dibandingkan daya tahan tubuh anak laki-laki
[11]. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Fitriani,dkk menyatakan bahwa tidak ada
hubungan yang bermakna antara jenis kelamin anak dengan kejadian diare pada balita.
Hal ini disebabkan oleh diare yang dapat menyerang siapa saja baik laki-laki maupun
perempuan tergantung pada beberapa faktor seperti faktor gizi, faktor makanan, faktor
ekonomi dan faktor lingkungan [4].

Karakteristik Pasien Berdasarkan Usia


Karakteristik pasien menunjukkan bahwa usia 0-< 1 tahun merupakan kelompok
usia dengan persentase kasus terbanyak yaitu sebesar (30%) (Gambar 2). Hasil penelitian
ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Hakim,dkk dimana kelompok usia 0-
<1 tahun memiliki persentase tertinggi yaitu sebesar (36,1%) [12].

602
Journal Syifa Sciences and Clinical Research. 3(4): 600-608

80

70

60

50 0-<1 th
Jumlah Sampel

1-<2 th
40
2-<3 th

30 24 3-<4 th
(30%)
15 16 4-5 th
20 (18,75%)(20%) 12 13
(15%)(16,25%)
10

0
Frekuensi

Grafik 2. Karakteristik usia

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Fitriani,dkk menyatakan bahwa


terdapat hubungan yang bermakna antara usia dengan kejadian diare pada balita
dimana semakin muda usia balita maka semakin besar kecenderungan terkena diare.
Tingginya prevalensi diare pada usia 0-1 tahun juga dapat disebabkan oleh pemberian
MP-ASI yang terkontaminasi, anak mulai merangkak pada usia ini dan resiko menelan
makanan dan minuman yang terkontaminasi [13].

80
70
Diare cair akut tanpa
60 dehidrasi (Rawat
Jalan)
Jumlah Sampel

50 41
(52,25%) 36 Diare cair akut
40 (45%) dehidrasi
ringan/sedang
30 (Rawat Inap)
20 Diare cair akut
dehidrasi berat
3
10 (3,75%) (Rawat Inap)

0
Frekuensi

Gambar 3. Karakteristik jenis diare

Gambar 3 menunjukkan bahwa jenis diare cair akut yang diderita oleh balita di
RSUD Sultan Syarif Mohamad Alkadrie adalah diare cair akut tanpa dehidrasi sebesar
(51.25%) di rawat jalan, disusul oleh diare cair akut dengan dehidrasi ringan/ sedang
sebesar (45%) dan diare cair akut dehidrasi berat sebesar (3,75%) di rawat inap. Menurut

603
P-ISSN: 2656-8187, E-ISSN: 2656-9612

penelitian yang dilakukan oleh Zubaidah,dkk di puskesmas kasus terbanyak diare pada
balita adalah tanpa dehidrasi yaitu sebesar (58%) [14]. Menurut penelitian yang
dilakukan Yusuf,dkk pada rawat inap ditemukan kasus terbanyak adalah dengan
dehidrasi ringan/sedang yaitu sebesar (62,5%) [15].

80
80 (44,20%)

70

60
BAB Cair
50
Jumlah Sampel

Demam
38 37
(20,99) (20,44%) BAB Berlendir
40
BAB Berdarah
30
19 Mual
(10,50%)
20 Muntah

10 3 4
(1,66%) (2,21%)

0
Frekuensi

*Pasien dapat memiliki lebih dari satu gejala

Gambar 4. Karakteristik Gejala Klinis

Karakteristik gejala klinis pasien menunjukkan bahwa gejala yang paling banyak
dialami oleh pasien yang menderita diare cair akut di RSUD Sultan Syarif Mohamad
Alkadrie adalah BAB cair sebanyak 120 pasien (44,20%) dan demam sebanyak 61 pasien
(20,99%) (Gambar 4). Menurut penelitian yang dilakukan Miyarso,dkk gejala diare yang
tampak pada balita adalah demam, mual dan muntah, BAB cair dan BAB berlendir atau
berdarah [16].
Berdasarkan hasil distribusi pola penggunaan obat diare yang ditunujukan pada
gambar 5 diperoleh zink merupakan obat yang paling banyak digunakan yaitu sebesar
(27,97%). Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh
Kunaedi,dkk dan Dewi,dkk dimana jenis obat untuk mengatasi diare yang paling
banyak digunakan adalah zink [8,17]. Hasil penelitian ini berbeda dengan penelitian
yang dilakukan oleh Ariastuti,dkk dimana obat yang paling banyak digunakan adalah
oralit [18]. Penggunaan oralit Penanganan diare pada balita umumnya adalah dengan
pemberian oralit, zink dan antibiotik selektif. Oralit merupakan campuran garam
elektrolit seperti natrium klorida (NaCl), kalium klorida (KCl), trisodium sitrat hidrat
dan glukosa anhidrat. Tujuan pemberian oralit adalah untuk mencegah terjadinya
dehidrasi dengan mengganti cairan dan elektrolit yang terbuang saat diare. Campuran
garam dan glukosa yang ada dalam elektrolit mampu diserap dengan baik oleh usus
penderita diare. Terapi rehidrasi oral merupakan terapi pilihan untuk untuk
menggantikan cairan dan elektrolit yang hilang pada anak dengan diare cair akut tanpa
dehidrasi dan dengan dehidrasi ringan/ sedang, sedangkan pada kasus dehidrasi berat
dapat diberikan cairan intravena seperti ringer laktat [19]. Ringer laktat merupakan
cairan garam fisiologis steril yang memiliki kandungan asam dan basa yang menyerupai

604
Journal Syifa Sciences and Clinical Research. 3(4): 600-608

cairan plasma darah. Ringer laktat memiliki kandungan seperti NaCl, KCl, CaCl2, dan
Natrium Laktat dalam setiap 1 liter. Fungsi dari pemberian ringer laktat adalah
mengembalikan osmolaritas dan elektrolit secara cepat melalui intravena [20].

80 73
(27,97%)
70 60
Oralit
(22,99%) Infus RL
60
Infus Asering
50
Jumlah Sampel

Zink
41
38
(14,56%)
(15,71%) Cefixime
40
Ceftriaxone
25
30 Cefotaxime
(9,58%)
Metronidazole
20
7 8 Liprolac®
10 3 (2,68%) (3,07%)2
3 1 Interlac®
(1,15%) (0,77%)
(1,15%) (0,38%)
0 Lacto-B®

Frekuensi

*cefixime dan metronidazole pada rawat inap adalah obat yang diresepkan saat pulang

Grafik 5. Distribusi pola penggunaan obat diare

Zink merupakan mikronutrisi yang sangat penting untuk sintesa protein,


diferensiasi sel dan pertumbuhan. Zink harus ada didalam tubuh walaupun hanya
sedikit, hal tersebut disebabkan oleh zink yang tidak bisa digantikan oleh zat gizi lain
[21]. Rekomendasi pemberian zink pada diare yaitu selama 10-14 hari, karena terbukti
dapat menurunkan tingkat keparahan, durasi diare dan menurunkan resiko terkena
diare kembali pada 2 -3 bulan setelah diare. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh
Ulfah,dkk juga menyatakan bahwa zink efektif dalam mengatasi diare akut pada balita,
dengan cara mengurangi frekuensi defekasi dan durasi diare [22].

Antibiotik yang digunakan adalah antibiotik golongan sefalosporin seperti


cefixime, ceftriaxone dan cefotaxime dan metronidazole. Hal ini sejalan dengan
penelitian yang dilakukan oleh Rokhma,dkk dimana dalam penelitiannya antibiotik
yang digunakan untuk diare akut adalah antibiotik golongan sefalosporin generasi
ketiga dan metronidazole. Antibiotik golongan sefalosporin merupakan antibiotik yang
aktif terhadap bakteri gram positif-negatif spektrum luas [23]. Mekanisme kerja
antibiotik golongan sefalosporin adalah dengan menghambat sintesis dinding sel
bakteri. Antibiotik golongan sefalosporin ini akan merusak peptidoglikan yang
menyusun dinding sel bakteri gram negatif dan gram positif, sehingga tekanan osmotik
dalam sel bakteri lebih besar dibanding luar sel. Hal ini menyebabkan kerusakan
dinding sel bakteri dan akan menyebabkan terjadinya lisis [24].

605
P-ISSN: 2656-8187, E-ISSN: 2656-9612

Metronidazole merupakan antiprotozoa spektrum luas yang efektif melawan


protozoa dan bakteri patogen anaerob, metronidazole juga merupakan salah satu
pilihan untuk diare [25]. Metronidazole adalah obat pilihan utama untuk menangani
diare yang disebabkan oleh amuba dan giardiasis yang disebabkan oleh protozoa [26].
Mekanisme kerja dari antibiotik metronidazole adalah dengan cara menghambat sintesa
DNA bakteri dan merusak DNA dengan melalui oksidasi yang menyebabkan putusnya
rantai DNA serta menyebabkan bakteri mati [24].

Probiotik merupakan mikroorganisme yang hidup dalam tubuh host dengan


jumlah yang memadai yang akan memberikan manfaat kesehatan yang baik bagi host.
Bakteri probiotik akan membantu proses absorpsi nutrisi dan menjaga gangguan dalam
penyerapan air, yang akan berpengaruh pada perbaikan konsistensi feses. Probiotik
akan menghasilkan ion hidrogen yang akan menurunkan pH usus dengan cara
memproduksi asam laktat, sehingga suasana asam yang dihasilkan tersebut akan dapat
menghambat pertumbuhan bakteri pathogen [27]. Menurut penelitian yang dilakukan
oleh Shinta, probiotik tunggal seperti [Link] maupun kombinasi [Link]-LGG
efektif dalam menurunkan frekuensi dan durasi pada diare akut, pemberian probiotik
tersebut dapat dijadikan sebagai prosedur tetap dalam penanganan diare akut pada
anak [28].

4. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa obat
yang paling banyak diresepkan di RSUD Sultan Syarif Mohamad Alkadrie Pontianak
tahun 2020 adalah zink sebesar (27,97%).

Referensi
[1] Kementerian Kesehatan RI. Profil Kesehatan Indonesia 2019. Kementerian
Kesehatan RI; 2020.
[2] Sumampouw OJ, Soemarno, Andarini S, Sriwahyuni E. Diare Balita: Suatu
Tinjauan dari Bidang Kesehatan Masyarakat. Yogyakarta: Deepublish; 2017.
[3] Kementerian Kesehatan RI. Laporan Nasional Riskesdas 2018. Jakarta: Badan
Penelitian dan Pengembangan Kesehatan; 2019.
[4] Fitriani N, Darmawan A, Puspasari A. Analisis Faktor Risiko Terjadinya Diare
Pada Balita Di Wilayah Kerja Puskesmas Pakuan Baru Kota Jambi. Medical
Dedication (medic) : Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat FKIK UNJA.
2021;4(1):154–64.
[5] Kementerian Kesehatan RI. Profil Kesehatan Indonesia 2020. Jakarta:
Kementerian Kesehatan RI; 2021.
[6] Kementerian Kesehatan RI. Buku Saku Petugas Kesehatan : Lintas Diare (Lima
Langkah Tuntaskan Diare). Jakarta: Kementerian Kesehatan RI; 2011.
[7] Andreas A., Astuti T, Fatonah S. Perilaku Ibu dalam Mengasuh Balita dengan
Kejadian Diare. Jurnal Keperawatan. 2013;9(2):164–9.
[8] Dewi NP, Alaydrus S, Pratiwi P. Pola Pengobatan Penyakit Diare pada Pasie
Pediatrik di RSU Anutapura Palu Tahun 2019. Pharmaceutical Journal of Islamic
Pharmacy. 2019;4(1):1–8.
[9] Korompis F, Tjitrosantoso H, Goenawi LR. Studi Penggunaan Obat pada
Penderita Diare Akut di Instalasi Rawat Inap BLU RSUP Prof. DrR. R. D. Kandou
Manado Periode Januari-Juni 2012. Pharmacon Jurnal Ilmiah Farmasi - UNSRAT.
2013;2(1):42–51.

606
Journal Syifa Sciences and Clinical Research. 3(4): 600-608

[10] Adhiningsih YR, Athiyyah AF, Juniastuti. Diare Akut pada Balita di Puskesmas
Tanah Kali Kedinding Surabaya. Jurnal Ilmiah Kesehatan (JIKA). 2019;1(2):96–
101.
[11] Gultom R, Khairani. Evaluasi Kepatuhan Pasien Anak Penderita Diare Terhadap
Penggunaan Antibiotik di Rumah Sakit (RSU) Karya Bakti Ujung Bandar
Rantauprapat. Jurnal Ilmiah Farmasi Imelda. 2021;4(2):37–42.
[12] Hakim R, Manoppo JIC, Mantik MFJ. Profil Diare Berdarah Di Bagian Ilmu
Kesehatan Anak [Link]. Prof. Dr.R.D Kandou Manado Periode 2008-2011.
Jurnal e-Biomedik. 2013;1(1):6–11.
[13]. Getachew A, Guadu T, Tadie A, Gizaw Z, Gebrehiwot M, Cherkos DH, et al.
Diarrhea Prevalence and Sociodemographic Factors among Under-Five Children
in Rural Areas of North Gondar Zone , Northwest Ethiopia. International Journal
of Pediatrics. 2018;1–8.
[14] Zubaidah Z, Insana M. Hubungan Penatalaksanaan Pemberian Cairan Dirumah
Dengan Tingkat Dehidrasi Pada Balita Yang Mengalami Diare. Jurnal
Keperawatan Suaka Insan (JKSI). 2020;5(1):121–6.
[15] Yusuf S. Profil Diare di Ruang Rawat Inap Anak. Sari Pediatri. 2016;13(4):265–70.
[16] Miyarso C, Khuluq H. Rasionalitas Penggunaan Obat pada Kasus Diare Pasien
Balta di RSU PKU Muhammadiyah Gombong Periode Juli-Desember 2017. Jurnal
Kesehatan: Warta Bhakti Husada Mulia. 2018;5(2).
[17] Kunaedi A, Hidayati NR, Hasanah AN. Profil Penggunaan Obat Antidiare Pada
Balita Di Puskesmas Lurah Cirebon Periode Bulan Januari – Desember 2019.
Journal of Pharmacopolium. 2021;4(1):1–5.
[18] Ariastuti R, Kusumawati D. Gambaran Pengobatan Diare Akut Anak di
Puskesmas Jiwan Madiun. Cerata Jurnal Ilmu Farmasi. 2020;11(1):35–42.
[19] Amaliah N, Kautsar AM Al, Syatirah. Manajemen Asuhan Kebidanan pada Balita
dengan Diare Akut Disertai dengan Dehidrasi Berat (Literatur Review). Jurnal
Midwifery. 2021;3(1):1–15.
[20] Siswidiasari A, Astuti KW, Yowani SC. Profil Terapi Obat pada Pasien Rawat Inap
dengan Diare Akut pada Anak di Rumah Sakit Umum Negara. Jurnal Kimia.
2014;8(2):183–90.
[21] Muhammad F, Nurhajjah S, Revilla G. Pengaruh Pemberian Suplemen Zink
Terhadap Status Gizi Anak Sekokah Dasar. Jurnal Kesehatan Andalas.
2018;7(2):285–90.
[22] Ulfah M, Rustina Y, Wanda D. Zink Efektif Mengatasi Diare Akut pada Balita.
Jurnal Keperawatan Indonesia. 2012;15(2):137–42.
[23] Rokhmah NN, Manuel YGP, Kusuma ENP, Nurdin NM. The Rationality of
Antibiotics Use on Acute Diarrhea to Pediatric Inpatients in the Fatmawati
Hospital for 2018-2019 period. Jurnal Farmasi Galenika. 2022;8(1):10–21.
[24] Meila O. Analisis Hubungan Penggunaan Antibiotik dengan Lama Perawatan
pada Pasien Anak Diare Di RSUP Persahabatan. Social Clinical Pharmacy
Indonesia Journal. 2016;1(1):21–30.
[25] Pujiastuti E, Ardini ARAW. Study Deskriptif Kerasionalan Penggunaan
Metronidazol Tablet pada Pasien Diare di Instalasi Rawat Inap RSUD dr.
Loekmono Hadi Kudus. Jurnal Keperawatan dan Kesehatan Masyarakat.
2016;1(5):73–86.
[26] World Gastroenterology Organisation. Acute diarrhea in adults and children: A
global perspective. World Gastroenterology Organisation Global Guidelines.
2012.

607
P-ISSN: 2656-8187, E-ISSN: 2656-9612

[27] Dewi R, Siregar UE, Aristantia O. Evaluasi Penggunaan Kombinasi Zink dan
Probiotik pada Penanggulangan Pasien Diare Anak Di Instalasi Rawat Inap RSUD
H . Abdul Manap Jambi Tahun 2020. Pharma Xplore. 2021;6(2):55–63.
[28] Shinta K, Hartantyo, Wijayahadi N. Pengaruh Probiotik pada Diare Akut:
penelitian dengan 3 preparat probiotik. Sari Pediatri. 2011;13(2):89–95.

608

Anda mungkin juga menyukai