Desain Saluran Irigasi Pertanian
Desain Saluran Irigasi Pertanian
ABSTRAK
Air merupakan benda yang sangat dibutuhkan oleh semua mahluk hidup di
permukaan bumi ini. Oleh manusia, air digunakan untuk keperluan sehari-hari seperti untuk
memasak dan minum, mencuci, pembersihan, pengairan dan irigasi, industri, sarana
transportasi dan lain-lain. Oleh karena itu perlu pengelolaan sumber daya air, agar
bermanfaat yang sebesar besarnya serta tidak membawa dampak yang merugikan bagi
kepentingan mahluk hidup lainnya. Salah satu bentuk pengelolaan sumber daya air adalah
pemanfaatannya secara teknis untuk keperluan pengairan atau irigasi, yaitu dengan suatu
usaha untuk mendatangkan air dengan membuat bangunan-bangunan dan saluran-saluran
untuk mengalirkan air guna keperluan pertanian, membagi-bagi air ke sawah-sawah atau
ladang-ladang dengan cara teratur dan jumlah yang cukup, kemudian membuang air yang
tidak diperlukan lagi. Pekerjaan yang harus dilakukan untuk usaha tersebut di atas adalah
perencanaan saluran irigasi yang meliputi perencanaan saluran induk atau saluran primer,
saluran sekunder, saluran tersier dan saluran kuarter. Perencanaan saluran yang dimaksud
antara lain untuk mendimensi saluran dan kemiringan dasar saluran dengan model
pendekatan-pendekatan. Dalam tulisan ini, untuk merencanakan saluran yang dimaksud
digunakan standar dari Direktorat Jenderal Pengairan Kementerian Pekerjaan Umum dalam
buku Pedoman Kriteria Perencanaan Teknik Irigasi, Edisi Agustus 1980. Kata kunci: disain,
saluran, debit, irigasi, Manning.
1
BAB I
PENDAHULUAN
1.2 Tujuan
Mengetahui jenis-jenis irigasi, sistem irigasi dan bangunan-bangunannya
Mengetahui cara mendesain saluran irigasi
Mengetahui cara menghitung dimensi saluran irigasi
2
BAB II
LANDASAN TEORI
3
- Terdapat banyak pengendapan yang memerlukan lebih banyak biaya dari
penduduk karena tiap desa membuat jaringan dan pengambilan sendiri-sendiri.
- Karena bangunan penangkap air bukan bangunan tetap/permanen, maka
umurya pendek.
b. Jaringan Irigasi Semi Teknis
Pada jaringan irigasi semi teknis, bangunan bendungnya terletak di sungai lengkap
dengan pintu pengambilan tanpa bangunan pengukur di bagian hilirnya. Beberapa
bangunan permanen biasanya juga sudah dibangun di jaringan saluran. Sistim
pembagian air biasanya serupa dengan jaringan sederhana. Bangunan pengambilan
dipakai untuk melayani/mengairi daerah yang lebih luas dari pada daerah layanan
jaringan sederhana.
c. Jaringan Irigasi Teknis
Salah satu prinsip pada jaringan irigasi teknis adalah pemisahan antara saluran
irigasi/pembawa dan saluran pembuangan. Ini berarti bahwa baik saluran pembawa
maupun saluran pembuang bekerja sesuai dengan fungsinya masing-masing.
Saluran pembawa mengalirkan air irigasi ke sawah-sawah dan saluran pembuang
mengalirkan kelebihan air dari sawah- sawah ke saluran pembuang. Petak tersier
menduduki fungsi sentral dalam jaringan irigasi teknis. Sebuah petak tersier terdiri
dari sejumlah sawah dengan luas keseluruhan yang umumnya berkisar antara 50 -
100 ha kadang-kadang sampai 150 ha. Jaringan saluran tersier dan kuarter
mengalirkan air ke sawah. Kelebihan air ditampung didalam suatu jaringan saluran
pembuang tersier dan kuarter dan selanjutnya dialirkan ke jaringan pembuang
sekunder dan kuarter.
Jaringan irigasi teknis yang didasarkan pada prinsip-prinsi di atas adalah cara
pembagian air yang paling efisien dengan mempertimbangkan waktu- waktu merosotnya
persediaan air serta kebutuhan petani. Jaringan irigasi teknis memungkinkan dilakukannya
pengukuran aliran, pembagian air irigasi dan pembuangan air lebih secara [Link] petak
tersier hanya memperoleh air pada satu tempat saja dari jaringan utama, hal ini akan
memerlukan jumlah bangunan yang lebih sedikit di saluran primer, ekspoitasi yang lebih
baik dan pemeliharaan yang lebih murah. Kesalahan dalam pengelolaan air di petak-petak
tersier juga tidak akan mempengaruhi pembagian air di jaringan utama.
4
a. Saluran Primer
Saluran primer adalah saluran yang membawa air dari jaringan utama ke saluran
sekunder dan ke petak-petak tersier yang akan diairi. Petak tersier adalah kumpulan
petak-petak kuarter, tiap petak kuarter memiliki memiliki luas kurang lebih 8 s.d. 15
ha. Sedangkan petak tersier memiliki luas antara 50 s.d. 150 ha.
b. Saluran Sekunder
Saluran sekunder adalah saluran yang membawa air dari saluran primer ke petak-
petak tersier yang dilayani oleh saluran sekunder tersebut.
c. Saluran Tersier
Saluran tersier adalah saluran yang membawa air dari bangunan sadap tersier dari
jaringan utama ke dalam petak tersier saluran kuarter. Saluran kuarter membawa air
dari boks bagi kuarter melalui bangunan sadap tersier atau parit sawah ke petak-
petak sawah. (Herliyani at al, 2012)
Lahan sawah dengan irigasi teknis yaitu jaringan irigasi dimana saluran pemberi
terpisah dari saluran pembuang agar penyediaan dan pembagian air ke dalam lahan sawah
tersebut dapat sepenuhnya diatur dan diukur dengan mudah. Biasanya lahan sawah irigasi
teknis mempunyai jaringan irigasi yang terdiri dari saluran primer, sekunder dan tersier serta
bangunannya dibangun dan dipelihara oleh pemerintah. Ciri-ciri irigasi teknis: Air dapat
diatur dan diukur sampai dengan saluran tersier serta bangunan permanennya. Lahan
sawah yang memperoleh pengairan dari sistem irigasi, baik yang bangunan penyadap dan
jaringan-jaringannya diatur dan dikuasai dinas pengairan PU maupun dikelola sendiri oleh
masyarakat.
5
bangunan pengelak, peredam energi, bangunan pengambilan, bangunan
pembilas , kantong lumpur dan tanggul banjir.
b. Pengambilan Bebas
Pengambilan bebas adalah bangunan yang dibuat di tepi sungai yang
mengalirkan air sungai ke dalam jaringan irigasi, tanpa mengatur tinggi muka air
di sungai. Dalam keadaan demikian, jelas bahwa muka air di sungai harus lebih
tinggi dari daerah yang diairi dan jumlah air yang dibelokkan harus dapat dijamin
cukup.
c. Pengambilan Dari Waduk
Waduk (reservoir) digunakan untuk menampung air irigasi pada waktu terjadi
surplus air di sungai agar dapat dipakai sewaktuwaktu terjadi kekurangan air.
Jadi, fungsi utama waduk adalah untuk mengatur aliran sungai.
d. Stasiun Pompa
lrigasi dengan pompa bisa dipertimbangkan apabila pengambilan secara gravitasi
tenyata tidak layak dilihat dari segi teknis maupun ekonomis.
B. Bangunan Pembawa
Bangunan pernbawa mempunyai fungsi mernbawa / mengalirkan air dari
surnbemya menuju petak irigasi. Bangunan pernbawa meliputi saluran primer, saluran
sekunder, saluran tersier dan saluran kwarter. Termasuk dalam bangunan pernbawa
adalah talang, gorong gorong, siphon, tedunan dan got miring. Saluran primer
biasanya dinamakan sesuai dengan daerah irigasi yang dilayaninya. Sedangkan
saluran sekunder sering dinamakan sesuai dengan nama desa yang terletak pada
petak sekunder tersebut.
- Saluran primer membawa air dari bangunan sadap menuju saluran sekunder dan
ke Petak petak tersier yang diairi. Batas ujung saluran primer adalah pada
bangunan bagi yang terakhir.
- Saluran sekunder membawa air dari bangunan yang menyadap dari saluran primer
menuju petakpetak tersier yang dilayani oleh saluran sekunder tersebut. batas akhir
dari saluran sekunder adalah bangunan sadap terakhir.
- Saluran tersier membawa air dari bangunan yang menyadap dari saluran sekunder
menuju petak petak kuarter yang dilayani oleh saluran sekunder tersebut. batas
akhir dari saluran sekunder adalah bangunan boks tersier terkahir,
- Saluran kuarter mernbawa air dari bangunan yang menyadap dari boks tersier
menuju petak petak sawah yang dilayani oleh saluran sekunder tersebut. Batas
akhir dari saluran sekunder adalah bangunan boks kuarter terkahir.
6
C. Bangunan Bagi Sadap
Bangunan bagi merupakan bangunan yang terletak pada saluran primer,
sekunder dan tersier yang berfungsi untuk membagi air yang dibawa oleh saluran
yang bersangkutan. Bangunan bagi pada saluransaluran besar pada umumnya
mempunyai 3 (tiga) bagian utama, yaitu :
a. Alat pembendung, bermaksud untuk mengatur elevasi muka air sesuai dengan
tinggi pelayanan yang direncanakan
b. Perlengkapan jalan air melintasi tanggul, jalan atau bangunan lain menuju saluran
cabang. Konstruksinya dapat berupa saluran terbuka ataupun goronggorong.
Bangunan ini dilengkapi dengan pintu pengatur agar debit yang masuk
salurandapat diatur.
c. Bangunan ukur debit, yaitu suatu bangunan yang dimaksudkan untuk mengukur
besarnya debit yang mengalir.
E. Bangunan Lindung
Diperlukan untuk melindungi saluran baik dari dalam maupun dari [Link] luar
bangunan itu memberikan perlindungan terhadap limpasan air buangan yang
berlebihan dan dari dalam terhadap aliran saluran yang berlebihan akibat kesalahan
eksploitasi atau akibat masuknya air dari luar saluran. Beberapa bangunan yang
termasuk bangunan lindung adalah Bangunan Pembuang Silang, Pelimpah (Spillway),
Bangunan Penggelontor Sedimen (Sediment Excluder), Bangunan Penguras
(Wasteway), Saluran Pembuang Samping dan Saluran Gendong.
F. Bangunan Drainase
Bangunan drainase dimaksudkan untuk membuang kelebihan air di petak sawah
maupun saluran. Kelebihan air di petak sawah dibuang melalui saluran pernbuang,
sedangkan kelebihan air disaluran dibuang melalui bengunan pelimpah. Terdapat
beberapa jenis saluran pembuang, yaitu saluran pembuang kuerter, saluran
7
pernbuang tersier, saluran pernbuang sekunder dan saluran pernbuang primer.
Jaringan pembuang tersier dimaksudkan untuk :
a. Mengeringkan sawah
b. Mernbuang kelebihan air hujan
c. Mernbuang kelebihan air irigasi
G. Bangunan Pelengkap
Sebagaimana namanya, bangunan pelengkap berfungsi sebagai pelengkap
bangunan bangunan irigasi yang telah disebutkan sebelumnya. Bangunan pelengkap
berfungsi sebagai untuk memperlancar para petugas dalam eksploitasi dan
pemeliharaan. Bangunan pelengkap dapat juga dimanfaatkan untuk pelayanan umum.
Jenis jenis bangunan pelengkap antara lain jalan inspeksi, tanggul, jernbatan
penyebrangan, tangga mandi manusia, sarana mandi hewan, serta bangunan lainnya
8
BAB III
PERENCANAAN
1. Perencanaan Saluran
Di dalam perencanaan saluran-saluran irigasi, akan dijumpai perhitungan dimensi
dan kemiringan dasar saluran dengan cara pendekatan-pendekatan. Tujuannya adalah
untuk mendapatkan bentuk saluran yang stabil, murah dan memenuhi persyaratan hidrolis.
Rumus-rumus pendekatan didasarkan atas percobaan ataupun penelitian dalam jangka
waktu yang lama. Sebagai contoh, salah satu penelitian untuk mendapatkan kecepatan
aliran yang optimum, telah dilakukan oleh Steevensz dengan rumus V = 0,45 Q 0,225, dimana
Q = debit aliran dalam m3/detik (Chouw, 1992). Fortier dan Scobey juga membuat daftar
kecepatan maksimal untuk berbagai jenis tanah / lahan dengan debit yang direncanakan.
Ada lagi pendekatan lain, dengan membatasi kecepatan aliran tidak lebih dari 0,75
m/detik agar rumput-rumput tidak tumbuh, atau kecepatan aliran tidak lebih dari 0,40 m/detik
agar nyamuk-nyamuk tidak berkembang (Robert Ch., 1992). Di Indonesia pendekatan-
pendekatan telah dibuat sebagai standar perencanaan yang dikeluarkan oleh Direktorat
Jenderal Pengairan, Kementerian Pekerjaan Umum dalam buku Pedoman Kriteria
Perencanaan Teknis Irigasi, 1980.
2. Standar Perencanaan
Standar perencanaan yang digunakan dalam merencanakan saluran irigasi adalah
standar irigasi yang dikeluarkan Direktorat Jenderal Pengairan Kementerian Pekerjaan
Umum, dalam buku Pedoman Kriteria Perencanaan Teknis Irigasi, edisi Agustus 1980.
Selain dari pada itu juga digunakan kriteria dari sumber-sumber lain yang terdapat dalam
literaturliteratur. Berikut ini kriteria perencanaan untuk saluran primer, skunder, tersier dan
kuarter berdasarkan buku standar diatas.
A. Saluran Primer dan Sekunder
a) Bentuk Penampang
Pada prinsipnya bentuk penampang saluran direncanakan sebagai saluran
terbuka (open channel) yang berbentuk trapesium, tanpa lapisan pelindung. Bentuk
penampang melintang saluran dipilih sebagai berikut.
Untuk daerah timbunan
9
Untuk daerah galian
10
c) Kemiringan lereng atau talud (m, Nc, Ne)
Kemiringan lereng atau talud adalah perbandingan antara panjang garis
vertikal yang melalui puncak saluran dan panjang garis horisontal yang melalui
tumit saluran. Kemiringan lereng atau talud juga tergantung dari jenis bahan atau
materialsaluran yang digunakan. Dalam hal ini besar kohesi tanah c dan sudut
geser dalam tanah (f) yang dapat menjaga kesetabilan lereng saluran. Tinggi
timbunan juga mempengaruhi terhadap stabilitas saluran, sehingga dalam
menentukan besar kemiringan talud perlu dievaluasi terhadap stabilitas
kelongsoran lereng. Untuk kondisi normal, standar irigasi memberikan harga
kemiringan lereng seperti pada Tabel 2.
Bila kedalaman galian lebih dalam dari tinggi saluran, maka diperlukan
kemiringan dalam (Nc) dan kemiringan lereng luar (Ne).
11
Tinggi Timbunan (m) Tanpa lapisan pelindung
< 1,0 1.0
1,0 - 2,0 1.5
2,0 - 3,0 1.8
3,0 - 5,0 2.0
12
a) Rumus Pengaliran
Aliran yang terjadi di dalam saluran dianggap sebagai aliran seragam (uniform
flow). Untuk menghitung kecepatan aliran dan kemiringan saluran (gradien hidrolis),
dipakai rumus Manning.
1 2 /3 1/ 2
V= R S
n
Dimana :
V = kecepatan rata-rata aliran, m/det
n = nilai koefisien kekasaran Manning
R = jari-jari hidrolis, m
S = kemiringan atau gradien hidrolis
Debit yang mengalir di dalam saluran, dapat dihitung menurut rumus kontinuitas.
Q = A.V
Dimana:
Q = debit air yang mengalir, m3/det.
A = luas penampang basah saluran, m2.
V = kecepatan rata-rata aliran, m/det.
13
Sumber: Pedoman Kriteria Perencanaan Teknis Irigasi.
14
Sumber: Pedoman Kriteria Perencanaan Teknis Irigasi.
d) Dimensi saluran
= h(B + m.h)
P = keliling basah, m
= B + 2h 1 + m 2
R = jari-jari hidrolis, m
=A:P
= {h (B + m.h)} : {(B + 2h 1 + m2 )}
= V.A
15
Langkah-langkah untuk mendimensi saluran:
(1) Bila debit rencana sudah ditetapkan, dengan rumus :
C . NFR . A
Q=
e
(2) Pilih nilai kekasaran Manning (n), perbandingan (b/h), talud (m) dan kecepatan
standar, lihat Tabel 7, Tabel 1, Tabel 2 dan Tabel 9.
(3) Menghitung luas penampang basah, A.
Q Rencana
Dari rumus Q = V.A, maka: V standar Q rencana A =
V Standar
(4) Dari hubungan (b/h) seperti pada Tabel 1 dan luas penampang basah
A=h(b+m.h), maka tinggi air (h) dapat ditentukan dan dilihat pula nilai lebar
dasar saluran (b).
(5) Tentukan nilai lebar dasar saluran baru (bb) yang sesuai, agar praktis. Hal ini
dilakukan karena sering didapat nilai B dalam bentuk bilangan yang tidak bulat,
sehingga susah nantinya dilaksanakan di lapangan. Dengan nilai lebar dasar
saluran baru Bb, maka dari persamaan A = h(Bb + m.h) di dapat nilai tinggi air
yang baru, hb.
(6) Dari rumus Manning, dapat ditentukan gradient hidraulik saluran.
V = k . R2 /3 . I 1/ 2
Dimana:
I = gradien hidrolis / kemiringan.
V = kecepatan aliran standar, m/det.
k = nilai koefisien kekasaran Manning.
R = jari-jari hidrolis, m.
(7) Tambahkan tinggi jagaan dari Tabel 5 yang sesuai dengan debit rencana,
maka diperoleh tinggi total saluran.
(8) Untuk tujuan praktis, maka dibuat dimensi dimensi standar sehingga dimensi
saluran yang direncanakan tidak terlalu banyak tipe.
16
BAB IV
PEMBAHASAN
Dari nilai b/h = 2,5, maka b = 2,5h, dan m = 1,5. Dicari tinggi muka air perkiraan
Sehingga A’ = h(b + m.h)
2,8897 = h(2,5h +1,5h)
= 4.h2
h' = √ (2,8897/4)
= 0,8500 m.
b' = 2,5h
= (2,5)(0,8500) = 2,1249 m.
Ambil lebar dasar saluran baru untuk mendimesi saluran rencana dengan pembulatan
keatas, b = 2,13 m, dan h = 0,85 maka luas penampang basah rencana Adalah
A = h(b + m.h)
= 0,85 (2,13 +(1,5).(0,85))
17
= 2,8943 m2
Tinggi jagaan, fb = 0,50 m (lihat Tabel 5).
Tinggi saluran H = h +fb
= 0,85 + 0,50
= 1,35 m.
V
=[ ]²
1/ 2
I
k . R 2/ 3 .
0,5991
I =[ ]²
40 . 0,55722/ 3 .
= 0,000493
= 0,0493 %.
2. Saluran Sekunder
Luas Area : A = 213 Ha
Kita tentukan NFR = 1,75 ltr/dtk/ha
Maka :
C . NFR . A
Debit rencana, Q =
e
1. x 1,75 x 213
= 0,72
18
= 517,7 ltr/dtk
Q = 0,5177 m3/det.
Kecepatan standar, V = 0,50 m/det (lihat Tabel 9).
Perbandingan, b/h = 2 (lihat Tabel 1).
Talud = 1 ; k = 35 (lihat Tabel 2),
Luas penampang basah perkiraan
A’ = Q / V
= 0,5177 / 0,50
= 1,0354 m2.
Ambil lebar dasar saluran baru untuk mendimesi saluran rencana dengan pembulatan
keatas, b = 1,18 m, dan h = 0,59 maka luas penampang basah rencana Adalah
A = h(b + m.h)
= 0,59 (1,18 +(1).(0,59))
= 1,0443 m2
19
= 0,4957 m/dtk
Jari-jari hidrolika :
R =A/p
= 1,0443 / 2,8488
= 0,3666 m
1/ 2
V
I =
k . R 2/ 3 .
0,4957
I = 2/ 3
35 .0,3666 .
= 0,000765
= 0,0765 %.
20
21
PETA LOKASI
22
PETA LOKASI
23
SKEMA JARINGAN IRIGASI
24
25
KESIMPULAN
1. Air oleh manusia digunakan untuk keperluan sehari-hari seperti untuk memasak dan
minum, mencuci, pembersihan, irigasi, industri, sarana transportasi dan lain-lain.
2. Salah satu usaha dari pemerintah untuk meningkatkan hasil-hasil pertanian adalah
pemanfaatan air untuk irigasi guna peningkatan produksi pangan.
3. Pada umumnya bentuk saluran irigasi (saluran primer, sekunder, tersier dan kuarter)
adalah saluran terbuka (open channel) berbentuk trapesium tanpa lapisan pelindung
(lining).
4. Dalam merencanakan saluran irigasi, yaitu dalam menentukan dimensi saluran,
kemiringan dasar saluran, kecepatan aliran, serta menghitung debit aliran pada saluran,
dilakukan dengan pendekatan pendekatan.
5. Di Indonesia untuk merencanakan saluran irigasi, digunakan standar dari Direktorat
Jenderal Pengairan, Departemen Pekerjaan Umum, dalam buku Pedoman Kriteria
Pernencanaan Teknis Irigasi, Agustus 1980.
26
DAFTAR PUSTAKA
- Chouw, V.T. & Nensi Rosalina, 1992. Hidrolika Saluran Terbuka. Penerbit Erlangga,
Jakarta.
- Robert Ch., 1992. Konstruksi Saluran Irigasi pada Tanah Gambut. Fakultas Teknik
Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin.
- Anonim, 2006. Peraturan Pemerintah No.20 Tahun 2006 Tentang Irigasi. Direktorat
Jenderal Pengairan, 1986. Standar Perencanaan Irigasi (KP. 0105).
27